Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Agresi
Jika kita berfikir tentang agresi maka hal yang pertama melintas di pikiran
kita adalah kejahatan yang yang di lakukan seseorang untuk melukai atau menyakiti.
Pada permulaan tahun 1980-an, di Amerika Serikat terjadi lebih dari 20.000
pembunuhan, lebih dari 75.000 pemerkosaan dan 600.000 jenis penyerangan dari
berbagai jenis motif kejahatan.
Agresi dalam arti sederhana “agresi” dalam pendekatan behavioristik atau
belajar adalah bahwa agresi adalah setiap tindakan yang menyakiti atau melukai
orang lain (Geen, 1998). Tetapi definisi ini mengabaikan niat orang yang melakukan
tindakan, dan faktor ini sangatlah penting. Jika kita mengabaikan niat, beberapa niat
yang di niatkan untuk menyakiti orang lain mungkin tidak disebut sebagai agresi
karena tindakan itu tidak membahayakan. Istilah agresif digunakan untuk
menggambarkan perilaku siswa, bentuk dari luka fisik terhadap makhluk lain yang
secara otomatis terdapat di dalam fikiran (Zirpoli, 2008: 440). Agresif merupakan
perilaku serius yang tidak seharusnya dan menimbulkan konsekuensi yang serius
baik untuk siswa maupun untuk orang lain yang ada di lingkungannya. Salah satu
bentuk emosi anak adalah marah yang diekspresikan melalui agresi (Seagal, 2010:
97). Menurut Buss dan Perry (Umaroh, 2017) perilaku agresi mencakup aspek emosi
(amarah), kognitif (kebencian) serta perilaku yang terdiri dari perilaku agresi fisik
dan perilaku agresi verbal. Perilaku agresi, menurut Baron dan Byrne (2014),
Hanurawan (2010), dan Nashori (2008), adalah perilaku yang diniatkan untuk
melukai dan mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan adanya tindakan
tersebut. Scheneiders (1955) mengartikan perilaku agresif sebagai luapan emosi atas
reaksi terhadap kegagalan individu yang ditunjukkan dalam bentuk perusakan
terhadap orang atau benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan
kata-kata (verbal) dan perilaku non-verbal. Sars (1985) beranggapan bahwa agresi
merupakan setiap perilaku yang bertujuan menyakiti orang lain, atau adanya perasaan
ingin menyakiti orang lain yang ada dalam diri seseorang. Sedangkan Moore dan

Perilaku Agresi Page 3


Fine (dalam Koeswara, 1988) memandang perilaku agresif sebagai tingkah laku
kekerasan atau objek-objek lain.
Dapat penulis simpulkan bahwa agresi adalah segala bentuk perilaku yang
disengaja kepada mahluk lain dengan tujuan menyakiti dan pihak yang disakiti itu
berusaha untuk menghindar.
Jadi kita perlu membedakan prilaku menyakiti dan niat menyakiti , perilaku
menyakiti yaitu perilaku yang tampak atau perilaku yang sudah dilakukan untuk
menyakiti atau melukai fisik maupun psikis orang lain, sedangkan niat menyakiti
yaitu keingin atau hasrat yang ada dalam diri untuk menyakiti orang lain tetapi belum
terlaksana.
Menurut penelitian nasional (Straus, Gelles, dan Steinmetz, 1981), 16 persen
pasangan menikah, setiap tahunnya melakukan kekerasan fisik tehadap pasangannya,
meulai dari melemparkan suatu barang sampai menggunakan senjata api. Sejumlah
besar orag tua melakukan kekerasan dengan tingkat yang mengejutkan terhadap
anak-anaknya. Penelitian yang sama menunjukan bahwa 13 persen orang tua
memukul anaknya yang masuh kecil dengan suatu benda, 58 persen menampar atau
memukul anaknya, dan 3 persen yang mengancam anaknya dengan pisau atau senjata
api.

B. Bagaimana Terjadinya Agresi


Sumber amarah merupakan penyebab utama terjadinya prilaku agresi, tentu
kita semua pernah marah, dan pernah menyakiti orng lain. Dari beberapa penelitan
mengatakan bahwa kebanyakan orang pernah merasa marah sekali atau sedikit
marah beberapa kali dalam satu minggu (Averil, 1983). Ada dua faktor yang
menimbulkan rasa amarah yaitu: serangan orang lain dan frustasi :
1. Serangan
Serangan menjadi salah satu hal yang paling umum yang menimbulkan rasa
marah, sering kali orang bereaksi terhadap serangan dengan pembalasan
dengan cara “mata ganti mata” (Baron, 1977). Hal ini di perlihatkan dengan
jelas dalam eksperimen yang dilakukan oleh Greenwell dan dengering
(1973). Beberapa mahasiswa diberi tugas bersaing dengan lawan imajinatif.

Perilaku Agresi Page 4


Setiap orang boleh memberikan kejutan listri kepada yang lain. Mereka
memperoleh informasi, yang di anggap berasal dari orang ini, yang
menunjukan bahwa: (1) lawan mereka dengan sengaja menaikan tingkat
kejutan yang di berikan selama percobaan terebut, atau (2) dia sengaja
mempertahan pada kondisi yang konstan, yaitu pada tingkat menengah.
Hasil dari percobaan itu menjelaskan bahwa persepsi atau pandang
kita terhadap sesuatu itu berbeda-beda tergantung dari penerima serangan
tersebut, apakah akan menyerang balik atau menghindarinya/menangkisnya.
Pada umumnya manusia memiliki mekanisme perthanan diri dimana
seseorang akan mempertahankan diri atas sesuatu yang mengancam dirinya.
Sehingga agresi bisa juga disebut sebagai dampak atau akibat dari serangan.
2. Frustasi
Frustasi adalah gangguan atau kegagalan untuk mencapai suatu
tujuan. Salah satu prinsip dasar psikologi adalah bahwa frustasi cendrung
membangkitkan perasaan agresi. Pengaruh frustasi terhadap perilaku
diperlihatkan dalam penelitian klasik yang dilakukan oleh Barker, Denrbo ,
dan Lewin (1941). Kepada anak ditunjukan ruangan yang berisi dengan
mainan yang menarik, tetapi mereka tidak perbolehkan untuk masuk kedalam
ruangan itu. Mereka berdiri di luar, memperhatikan mainan itu dan sangat
ingin sekali memainkannya, tetapi tidak dapat meraihnya. Sesudah
menunggu beberapa saat, mereka di perbolehkan untuk memainkan mainan
tersebut.Anak-anak yang mengalami frustasi membanting mainan kelantai,
melemparnya ke dinding, dan pada umumnya menampilkan prilaku yang
merusak.
Frustasi paling sering terjadi dalam suatu hubungan, misalnya
hubungan pernikahan atau keluarga, biasanya terjadi karena perbedaan
pendapat dan faktor ekonomi. Konflik dan kekersann paling sering terjadi
pada keluarga buruh dan kepala keluarga pengangguran, di banding keluarga
kelas menengah.

Perilaku Agresi Page 5


C. Faktor Faktor Agresi
Sikap agresif merupakan penggunaan hak sendiri dengan cara melanggar hak
orang lain. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku agresi, diantaranya:
1. Frustasi
2. Media kekerasan
3. Faktor lingkungan fisik
4. Social Modeling (Observational Learning)
5. Arousal yang bersifat umum

Baron & Byrne (1997) menerangkan, penyebab dasar perilaku agresi


dikelompokkan menjadi tiga pendekatan: pendekatan biologis, pendekatan eksternal
dan pendekatan belajar.

1. Pendekatan biologis adalah pendekatan yang mengatakan bahwa tingkah laku


organisme, termasuk di dalamnya tingkah laku agresif, bersumber atau
ditentukan oleh faktor bawaan yang sifatnya biologis (Koesworo, 1988).
Maccoby & Jacklin (1974) mengatakan bahwa perbedaan seks secara biologis
merupakan salah satu yang menjadi penyebab munculnya agresivitas. Agresi
bersumber dari semangat bertempur (fighting spirit) yang dimiliki oleh manusia
seperti juga spesies atau binatang lainnya.
2. Pendekatan kognitif. Pikiran negatif dapat menstimulasi munculnya perilaku
agresif. Semin & Fiedler (1996) mengatakan bahwa ada perantara antara
frustrasi dan agresi, yakni penilaian kognitif terhadap frustrasi, frustasi
menimbulkan agresivitas jika terjadi penilaian kognitif yang negatif. Beck
(1967) mengatakan bahwa pikiran negatif merupakan penyimpangan berpikir
(distorsi kognitif), satu diantaranya adalah berfikir ekstrim. Agresi diakibatkan
karena adanya kegagalan, kekurangan atau ketidakmampuan anak dalam
memproses informasi sosial.
3. Pendekatan emosional. Peristiwa emosional adalah berbagai peristiwa atau
pengalaman yang telah lalu, yang mempengaruhi kondisi dan perasaan
seseorang, yang berefek pada perilakunya. Peristiwa emosional dalam
kehidupan cenderung diingat dengan jelas meskipun kadang mengalami

Perilaku Agresi Page 6


penyimpangan dari keadaan yang sebenarnya, peristiwa-peristiwa tersebut dapat
berpengaruh terhadap reaksi emosi dan perilakunya dalam menghadapi
stimulasi. Seseorang yang kehilangan kebutuhan afeksional (loss of love object)
dapat jatuh dalam ketidaktentraman. Pemenuhan kebutuhan afeksional bagi
perkembangan jiwa amatlah penting, khususnya pada masa perkembangan awal.
Seorang anak yang tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhan afeksi (emotional
deprivation) dalam perkembangannya, dimungkinkan memunculkan gangguan
kepribadian (personality disorder), satu diantaranya adalah kepribadian agresif
(Hawari, 1999). Emosi dapat meninggalkan jejak memori yang tidak
terhapuskan walau dalam perkembangannya mengalami bias atau distorsi.
Huesmann (1984) mengatakan, bahwa perilaku sosial dikontrol oleh perilaku
yang dibentuk semenjak masa awal perkembangan seseorang. Cinta merupakan
sesuatu yang penting bagi manusia, karena kekurangan cinta pada seseorang
berpengaruh buruk terhadap perkembangan kepribadian dan hubungan sosialnya
(Walsh, 1992). Masa awal perkembangan yang negatif, seperti pemberian kasih
sayang yang tidak baik memiliki pengaruh terhadap perilaku sosial serta
kepribadian.
4. Pendekatan eksternal. Baron & Byrne (1997) menerangkan bahwa penyebab
timbulnya perilaku agresi, adalah faktor eksternal, faktor tersebut merupakan
faktor penting dalam pembentukan perilaku agresi. Ada beberapa faktor
eksternal yang mendasari munculnya perilaku agresif tersebut antara lain
frustrasi adalah kekecewaan karena hambatan yang dihadapi individu dalam
mencapai suatu tujuan. Dollard dkk (Semin & Fiedler, 1996) mengatakan,
frustrasi dapat menjadi penyebab munculnya agresi, hal ini disebabkan karena
individu mengalami kegagalan dalam memenuhi kebutuhannya. Frustrasi
mengakibatkan agresi bila frustrasi mendatangkan kemarahan (anger) yang
membawa pada perilaku agresi. Dorongan untuk melakukan agresi dipengaruhi
oleh kuat dan lemahnya respon yang dihadapi individu, intensitas frustrasi yang
dialami individu, dan kondisi lingkungan.
5. Pendekatan belajar. Pendekatan belajar mengatakan bahwa perilaku terbentuk
karena faktor pembelajaran dari lingkungan sekitarnya, melalui pengalaman

Perilaku Agresi Page 7


langsung atau mengamati perilaku orang lain, dan agresi merupakan perilaku
yang terbentuk karena faktor tersebut. Menurut Bringham (1991), ada tiga faktor
yang mempengaruhi agresi, yaitu: (1) Proses belajar; (2) Penguatan
(reinforcement). Penguatan dalam pembelajaran sama halnya dengan operan
kondisioning. Menurut Thorndike (Gatchel & Mears, 1982) bahwa suatu
perilaku apabila memberikan efek positif cenderung diulang, dan sebaliknya jika
memberikan efek negatif ditinggalkannya. Sears, dkk. (1988) mengatakan,
tindakan agresif biasanya merupakan reaksi yang dipelajari karena adanya
reinforcement. Perilaku dapat terbentuk karena pembelajaran melalui imbalan
dan ganjaran. Tindakan agresif biasanya merupakan reaksi yang dipelajari,
sementara reinforcement atau penguat merupakan penunjang utama agresi.
Agresi merupakan perilaku yang terbentuk karena adanya penguatan, jika efek
dari perilaku adalah negatif maka menimbulkan penurunan terhadap perilaku
tersebut, dan sebaliknya. (3) Imitasi. Imitasi adalah proses peniruan terhadap
model menjadi dari semua jenis perilakunya (modeling). Proses modeling
menjelaskan bahwa anak mempunyai kecenderungan kuat untuk berimitasi,
mudah melakukan imitasi terhadap figur tertentu, misalnya tokoh yang terkenal,
orang-orang sukses, orang yang punya kekuasaan dan orang yang sangat akrab
serta sering mereka temui, misalnya guru dan orang tua. Figur yang paling
mungkin menjadi model bagi anak adalah orang tuanya sendiri, oleh sebab itu
perilaku agresif anak sangat tergantung pada cara orang tua memperlakukan
mereka dan diri mereka sendiri (Sears, 1988).

D. Tipe Tipe Agresi


Pembagian agresi diajukan oleh Moyer (dalam Sarwono, 1988) yang merinci
agresi menjadi ke dalam tujuh tipe agresi, sebagai berikut :
1. Agresi predatori : Agresi yang dibangkitkan oleh kehadiran objek
alamiah(mangsa). Biasanya terdapat pada organisme atau spesies hewan
yang menjadikan hewan dari spesies lain sebagai mangsanya.
2. Agresi antar jantan : Agresi yang secara tipikal dibangkitkan oleh
kehadiran sesama jantan pada suatu spesies.

Perilaku Agresi Page 8


3. Agresi ketakutan : Agresi yang dibangkitkan oleh tertutupnya
kesempatan untuk menghindar dari ancaman
4. Agresi tersinggung : Agresi yang dibangkitkan oleh perasaan
tersinggung atau kemarahan, respon menyerang muncul terhadap
stimulus yang luas (tanpa memilih sasaran), baik berupa objek-objek
hidup maupun objek-objek mati
5. Agresi pertahanan : Agresi yang dilakukan oleh organisme dalam rangka
mempertahankan melindungi anak-anaknya dari berbagai ancaman.
6. Agresi maternal : Agresi yang spesifik pada spesies atau organisme
betina (induk) yang dilakukan dalam upaya melindungi anak-anaknya
dari berbagai ancaman.
7. Agresi instrumental : Agresi yang dipelajari, diperkuat (reinforced) dan
dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

E. Bentuk Bentuk Agresi


Menurut Buss dan Perry (1992) membagi perilaku agresi kedalam empat
macam, yaitu:
1. Agresi verbal yaitu suatu tindakan dalam bentuk ucapan yang dapat
menyakiti atau melukai orang lain. Perilaku verbal bisa berupa menghina,
mengancam, memaki, menjelekkan – jelekkan orang lain.
2. Agresi fisik yaitu suatu perilaku dalam bentuk tindakan fisik yang dapat
merugikan, merusak, dan melukai orang lain. Perbuatan tersebut dapat
berupa menendang, memukul, meludahi, dan sebagainya.
3. Agresi kemarahan yaitu suatu bentuk agresi yang sifatnya tersembunyi dalam
perasaan seseorang tapi efeknya juga dapat menyakiti orang lain
4. Agresi pemusnahan yaitu suatu bentuk agresi berupa perasaan negatif
terhadap orang lainyang muncul karena perasaan tertentu misalnya, emburu,
dengki, dan sebagainya.

Buss (Morgan, 1987 dalam Fuad, 2008: 100) mengklasifikasikan perilaku


agresi secara lebih lengkap, yaitu perilaku agresi secara fisik atau verbal, secara aktif

Perilaku Agresi Page 9


atau pasif, dan secara langsung atau tidak langsung. Tiga klasifikasi tersebut masing-
masing akan saling berinteraksi, sehingga akan menghasilkan delapan bentuk perilaku
agresi, yaitu:

1. Perilaku agresi fisik aktif yang dilakukan secara langsung, misalnya


menusuk, menembak, memukul orang lain.
2. Perilaku agresi fisik aktif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya
membuat jebakan untuk mencelakakan orang lain.
3. Perilaku agresi fisik pasif yang dilakukan secara langsung, misalnya tidak
memberikan jalan kepada orang lain.
4. Perilaku agresi fisik pasif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya
menolak untuk melakukan sesuatu, menolak mengerjakan perintah orang
lain.
5. Perilaku agresi verbal aktif yang dilakukan secara langsung, misalnya
memaki-maki orang.
6. Perilaku agresi verbal aktif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya
menyebar gosip tentang orang lain.
7. Perilaku agresi verbal pasif yang dilakukan secara langsung, misalnya
menolak untuk berbicara dengan orang lain, menolak untuk menjawab
pertanyaan orang lain atau menolak untuk memberikan perhatian pada suatu
pembicaraan.
8. Perilaku agresi verbal pasif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya
tidak setuju dengan pendapat orang lain tetapi tidak mau mengatakan
(memboikot), tidak mau menjawab pertanyaan orang lain.

F. Jenis Jenis Agresi


Secara umum Myers (1996) membagi agresi dalam dua jenis, yaitu :
1. Agresi Instrumental (Instrumental Aggression) Agresi instrumental adalah
agresi yang dilakukan oleh organisme atau individu sebagai alat atau cara
untuk mencapaitujuan tertentu.
2. Agresi Benci (Hostile Aggression) Agresi benci adalah agresi yang
dilakukan semata-matasebagai pelampiasan keinginan untuk melukai atau

Perilaku Agresi Page 10


menyakiti,atau agresi tanpa tujuan selain untuk menimbulkan efek
kerusakan, kesakitan atau kematian pada sasaran atau korban.

G. Dampak Agresi
Agresi yang dilakukan berturut-turut dalam jangka lama, apalagi jika terjadi
pada anak-anak atau sejak masa kanak-kanak, dapat mempunyai dampak pada
perkembangan kepribadian. Misalnya, wanita yang pada masa kanak-kanaknya
mengalami perlakuan agresi fisik dan atau seksual, pada masa dewasanya (18-44
tahun) akan menjadi depresif, mempunyai harga diri yang rendah, sering menjadi
depresi, mempunyai harga diri yang rendah, sering menjadi korban serangan seksual,
terlibat dalam peyalahgunaan obat, atau mempunyai pacar yang terlibatdalam
penyalahgunaan obat, atau (Fox & gilbert,1994). Demikian pula, walau tidak
mengalami agresivitas dalam jangka lama, pelajar-pelajar wanita di amerika serikat
yang pernah mengalami pelecehan seksual menderita berbagai gangguan, seperti
tidak mau sekolah, tidak mau bicara dikelas, tidak dapat berkonsentrasi di kelas,
membolos sekolah, nilai ulangannya jelek, dan nilai rapornya turun (Bryant,1995).
Bahkan, dalam suatu eksperimen, melihat rekaman video tentang agresivitas terhadap
wanita yang melihatnya (Reid & Finchilescu, 1995).
Dampak dari perang yang berkepanjangan antara lain tampak di anggota
keluarga. Anak-anak yang langsung mengalami perang (di angola selatan) jauh lebih
banyak mengalami stess pascatrauma daripada anak-anak yang tinggal di daerah
pengungsian (Angola utara) atau yang sudah lebih lama pindah ke daerah aman
Portugal (Mendonea & Ventura,1996). Stess pascatrauma yang serius juga dialami
oleh wanita-wanita korban perkosaan di Bosnia (Oruc & Bell, 1995). Sebaliknya,
perang itu sendiri dapat menimbulkan kecenderungan untuk represi (menyimpan
dalam bawah sadar) pengalaman-pengalaman traumatik dari perang (Fischman,
1996). Agresi itu pun dapat berlanjut dari generasi ke generasi. Ibu yang agresif
cenderung mempunyai anak yang agresif terhadap anaknya pula (Cappell & Heiner,
1990).
Families and Work Institute and The Colorado trust yang dikutip dari
Soetjiningsih (dalam Rina, 2011), melakukan penelitian dengan mengumpulkan data-

Perilaku Agresi Page 11


data dari remaja mengenai penyebab mengapa mereka melakukan tindak kekerasan.
Sebagian besar dari mereka mengaku mengalami kekerasan emosional dan fisik. 575
remaja merasakan dirinya diejek, diolok-olok atau dibicarakan hal-hal negatif oleh
orang lain. Pengalaman ini sering dialami mereka dilingkungan sekolahnya sehingga
hampir sekitar 90% kekerasan terjadi di sekolah. Sedangkan sekitar 46% remaja
pernah dipukuli atau dilukai. Hanya masing-masing 85 yang pernah diserang dengan
senjata dan mengalami perkosaan seksual. Ternyata 35% remaja yang mengalami
kekerasan dengan senjata atau serangan lainnya, akan melakukan tindak kekerasan
juga terhadap orang lain. Artikel Tempo (2014) memuat fakta bahwa tindak
kekerasan saat ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa. Remaja dan bahkan
anak-anak saat ini sudah banyak dilaporkan telah melakukan tindak kekerasan.
Artikel tersebut menunjukkan fakta dan data sekitar 2.879 anak telah melakukan
tindakan kekerasan dan harus berhadapan dengan hukum.

H. Teori Teori Agresi


Ada beberapa perspektif teori yang menerangkan tentang perilaku agresi
diantaranya adalah perspektif teori bawaan atau bakat, teori kepribadian, dan teori
lingkungan.
1. Teori Bawaan
Teori bawaan atau bakat terdiri atas teori naluri dan teori biologi.
a) Teori Naluri
Freud dalam teori psikoanalisis klasiknya mengemukakan bahwa
agresi adalah satu dari dua naluri dasar manusia. Jika naluri seks berfungsi
untuk melanjutkan keturunan, naluri agresi berfungsi mempertahankan jenis.
Kedua naluri tersebut berada dalam alam ketidaksadaran, khususnya pada
bagian dari kepribadian yang disebut id yang pada prinsipnya selaku ingin
agar kemauannya dituruti (prinsip kesenangan atau pleasure principle). Akan
tetapi, tidak semua keinginan id dapat terpenuhi. Kendalinya terletak pada
bagian lain dari kepribadian yang dinamakan superego yang mewakili
norma-norma yang ada dalam masyarakat dan ego yang berhadapan dengan
kenyataan. Karena dinamika kepribadian seperti itulah, sebagian besar naluri

Perilaku Agresi Page 12


agresi manusia diredam (repressed) dalam alam ketidaksadaran dan tidak
muncul sebagai perilaku yang nyata. Akan tetapi, bahwa agresivitas
merupakan ciri bawaan manusia terbukti dalam berbagai mitologi. Bahkan
kisah-kisah kitab suci pun (perjanjian lama) penuh dengan cerita bernada
agresif (kain membunuh Abel, Sodom dan Gomorah, Nabi Ibrahim yang
memotong leher nabi Ismail, kisah banjir besar yang menenggelamkan
seluruh umat kecuali yang ikut di kapal nabi Nuh, dan sebagainnya). Teori
naruli lainnya adalah antara lain dikemukakan oleh K.Lorenz (1976). Dari
pengamatannya terhadap berbagai jenis hewan, Lorenz menyimpulkan
bahwa agresi merupakan bagian dari naluri hewan yang diperlukan untuk
survival (bertahan) dalam proses evolusi. Agresi yang bersifat survival ini,
menuru Lorenz, bersifat adaptif (menyesuaikan diri terhadap lingkungan) ,
bukan destruktif (merusak lingkungan). Kritik terhadap teori naluri ini datang
dari orang-orang yang meragukan konsep naluri itu sendiri. Barash (1979)
adalah salah satu diantaranya. Ia mengumpulkan berbagai buku yang terbit di
sekitar tahun 1924 dan menemukan sekitar 6.000 macam naluri yang disebut-
sebut dalam buku-buku itu. Tampaknya ada kecenderungan pada waktu itu
memberi label naluri pada setiap perilaku. Jadi, tidah hanya naluri agresi dan
seks yang ada, tetapi juga ada naluri keibuan, makan, tidur, naluri bekerja,
berkumpul, menyusui, dan sebagainya. Kritik lain datang dari para pakar
yang berorientasi budaya. Mereka antara lain mengatakan bahwa kalau agresi
adalah naluri, agresi harus sama saja kapan pun, di mana pun dan
dilingkungan budaya apa pun. Nyatanya, agresivitas berbeda beda antara satu
negara dan negara yang lain. Di Norwegia, misalnya angka pertumbuhan
sangat rendah, yaitu tidak sampai1 dalam 100.000 dan di Muangthai
mencapai 14 dalam 100.000. (data tahun 1970, dikutip dari Archer &
Gartner,1984).
b) Teori Biologi
Moyer (dalam Sarwono, 1997) berpendapat bahwa perilakuagresi
ditentukan oleh proses tertentu yang terjadi di otak dan susunan syaraf
termasuk juga gen, dan hormon. Penelitian menunjukkan bahwa gen

Perilaku Agresi Page 13


berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku
agresi. Penelitian yang dilakukan pada binatang, mulai dari yang sulit sampai
yang paling mudah dipancing amarahnya, faktor keturunan tampaknya
membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah
dibandingkan betinanya. Marah juga bisa dihambat atau ditingkatkan dengan
merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada
manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan
kekejaman. Orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit
melakukan agresi dibanding orang yang tidak pernah mengalami
kesenangan, kegembiraan atau santai. Menurut perspektif biologis, perilaku
agresi disebabkan juga oleh meningkatnya hormon testosteron, 17-estradiol
dan estrone.Dalam suatu eksperimen, ilmuwan menyuntikkan hormone
testosteron pada tikus dan beberapa hewan lain. Tikus-tikus tersebut
berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosterone dikurangi
hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak
banteng jantan yang sudah dikebiri (dipotong alat kelaminnya) akan menjadi
jinak. Peningkatan hormon testosterone saja ternyata tidak mampu
memunculkan perilaku agresi secara langsung. Hormon testosteron dalam hal
mi bertindak sebagai anteseden, sehingga perlu ada pemicu dari luar. Hasil
penelitian mengenai peningkatan hormon testosteron terhadap meningkatnya
perilaku agresi ini tidak konsisten. Pada anak laki-laki memang meningkat
perilaku agresinya, hal ini tidak ditemukan pada anak perempuan.
2. Teori Kepribadian
Dalam mempelajari perilaku agresi perlu kita kaji pula bagaimana pengaruh
tipe kepribadian manusia itu sendiri terhadap munculnya perilaku agresi.
Menurut Friedman dan Rosenman (dalam Gibson, dkk, 1996). Salah satu teori
sifat (trait) menunjukkan bahwa orang-orang dengan tipe kepribadian A lebih
cepat menjadi agresi daripada orang dengan tipe kepribadian B. Berikut
klasifikasi dari masing-masing kedua tipe kepribadian yang bisa dilihat dari table
dibawah ini.
Tabel 1.1

Perilaku Agresi Page 14


Perbedaan kepribadian tipe A dan tipe B

Kepribadian Tipe A Kepribadian Tipe B


1. Gaya bicara tajam dan 1. Ambisinya tidak tinggi
sangat agresi dan sudah puas dengan
2. Selalu makan, berbicara dan keadaannya yang sekarang,
berjalan cepat 2. Tidak mudah tersinggung
3. Tidak sabar terhadap orang 3. Mempunyai karakter yang
yang lamban, lebih tenang, tidak grusah-
4. suka memotong grusuh
pembicaraam orang lain 4. Mudah menyesuaikan diri.
5. Sering mengerjakan banyak 5. Gaya bicara lamban dan
hal dalam waktu yang santai bebicara dan berjalan
bersamaan (polyphasic) dengan santai
6. Egois, hanya tertarik pada 6. Sabar
pembicaraan yang 7. Mengerjakan sesuatu
berhubungan dengan dirinya pekerjaan satu persatu
dan mencoba mengarahkan 8. Lebih bisa memahami
pembicaraan sesuai dengan orang lain
kehendaknya 9. Bisa santai setelah selesai
7. Merasa bersalah bila santai bekerja
dan sulit tenang setelah selesai 10. Mengarah pada hal-hal
bekerja yang memang patut dihargai
8. Tidak ada perhatian dan 11. Selalu mengerjakan
tidak bisa mengingat rincian sesuatu tanpa memaksakan
suatu ruang. diri
9. Bila disaingi tipe A lainnya 12. Melakukan permainan
akan terjadi keributan untuk
10. Percaya bahwa kesenangan, bukan
keberhasilan dicapai dengan kemenangan
mengerjakan segala sesuatu 13. Sulit untuk terus terang

Perilaku Agresi Page 15


lebih cepat, kerena takut menyakiti hati
11. Selalu buru-buru, tidak orang lain
sabaran
12. Ambisius
13. Cepat tersinggung,
14. Suka berbicara secara
Meledak-ledak,
15. Berkecenderungan untuk
Menantang dan bersaiang
Dengan orang lain,

3. Teori Lingkungan
Inti dari teori ini adalah bahwa perilaku agresi merupakan reaksi
terhadap peristiwa atau stimulasi yang terjadi di lingkungan.
a) Teori Frustasi-Agresi Klasik
Teori yang dikemukakan oleh Dollard dkk. dan Miller (dalam Sarwono,
1988) ini intinya berpendapat bahwa agresi dipicu oleh frustasi. Frustasi itu
sendiri artinya adalah hambatan terhadap pencapaian suatu tujuan. Dengan
demikian, agresi merupakan pelampiasan dari perasaan frustasi. Misalnya,
anda sangat kehausan dan kehabisan koin untuk membeli minuman dari
mesin minuman yang ada di dekat situ. Untungnya ada teman yang mau
meminjamkan koin dan dengan penuh harap andamemasukkan koin itu ke
dalam mesin. Akan tetapi, ternyata mesin mesin itu macet. Minuman dingin
tidak mau keluar dankoin pun tertinggal di dalam. Anda tetap kehausaan dan
tetap tidak mempunyai uang, bahkan sekarang berhutang kepada temananda.
Dalam keadaan frustasi seperti ini, dapat dijelaskan mengapa kemudian anda
memukuli atau menendangi mesin minuman “celaka” itu. Perilaku agresi
terhadap mesin minuman itu hanya dapat dilakukan jika tidak ada ancaman
dari pihak lain. Seandainya di dekat situ ada satpam (kumisan dan badannya
besar) yang mengamati perilaku anda atau ada ibu-ibu cerewet yang akan
menegur anda, anda tidak jadi melakukan perilaku yang tidak diharapkan

Perilaku Agresi Page 16


oleh orang lain tersebut. Sebagai gantinya anda akan menyalurkan agresivitas
anda ke sasaran lain (menendang kaleng atau membentak tukang becak yang
kebetulan lewat) atau kepada diri sendiri (memukuli dahi sendiri, dan
sebagainya).
b) Teori Frustasi-Agresi Baru
Dalam perkembangannya kemudian terjadi beberapa modifikasi terhadap
teori Frustasi – Agresi yang klasik. Salah satu modifikasi adalah dari
Burnstein & Worchel (1962) yang membedakan antara frustasi dengan
iritasi. Jika suatu hambatan terhadap pencapaian tujuan dapat dimengerti
alasannya, yang terjadi adalah iritasi (gelisah, sebal), bukan frustasi (kecewa,
putus asa). Kegagalan mesin minuman dalam contoh diatas adalah frustasi,
karena mestinya mesin itu tidak gagal dan tidak dapat dimengerti mengapa
mesin itu rusak. Semua itu membuat anda agresif. Akan tetapi, kalau
sebelum memasukkan uang anda sudah melihat tulisan “mesin ini rusak”,
anda mengerti mengapa anda tidak dapat membeli minuman dari mesin itu
dan anda tidak menjadi agresif walaupun anda tetap kehausan. Frustasi lebih
memicu agresi daripada iritasi. Selanjutnya, Berkowitz (1978,1989)
mengatakan bahwa frustasi menimbulkan kemarahan dan emosi marah inilah
yang memicu agresi. Marah itu sendiri baru timbul jika sumber frustasi
dinilai mempunyai alternatif perilaku lain daripada perilaku yang
menimbulkan frustasi itu. Anda marah karena ada orang menginjak kaki
anda, padahal tempat di busmasih luas. Anda juga marah karena mesin
minuman macet, padahal sebetulnya dapat diberi tanda bahwa mesin itu
rusak agar orang tidak usah kehilangan uangnya. Akan tetapi, kalau sumber
frustasi dinilai tidak mempunyai pilihan lain (terpaksa melakukan hal
tersebut), frustasi itu tidak menimbulkan kemarahan sehingga juga
tidakmemicu agresi. Demikian pula jika kaki anda terinjak di bus yang penuh
sesak atau mesin minuman mencantumkan tanda “rusak”. Dengan demikian,
teori Frustrasiagresi hanya untuk menerangkan agresi dengan emosi benci
(hostile aggression), tidak dapat menerangkan gejala agresi instrumental.
Agresi beremosi benci itu pun tidak terjadi begitu saja. Kemarahan

Perilaku Agresi Page 17


memerlukan pancingan (cue) tertentu untuk dapat menjadi perilaku agresi
yang nyata (Berkowitz & Le Page, 1967). Sebuah pistol, misalnya, yang ada
di dekat seseorang, dapat memancing kemarahan orang itu menjadi perilaku
agresi yang sesungguhnya (menembak sumber frustasi) yang tidak akan
terjadi jika pistol itu tidak ada di situ. Menurut penelitian, setengah dari
pembunuhan di Amerika serikat dilakukan dengan senjata api, sementara di
Inggris hanya seperempat, karena Amerika Serikat mengizinkan pemilikan
senjata api dan Inggris tidak (Berkowitz,1968,1981,1995). Penelitian lain
juga menunjukkan bahwa pembunuhan dengan senjata api di Vancouver
(Canada) hanya seperlima dari Seatle (Amerika Serikat) walaupun kedua
kota itu mempunyai kepadatan penduduk, budaya, dan cuaca yang hampir
sama. Alasannya adalah karena adanya larangan pemilikan senjata api di
kanada, sementara di Amerika Serikat diizinkan (Sloan dkk, 1988).Hal lain
yang perlu diketahui tentang hubungan antara frustasi dan agresi ini adalah
bahwa tidak selalu agresi berhenti atau tercegah dengan sendirinya jika
hambatan terhadap tujuan sudah teratasi. Seorang istri, misalnya, marah
kepada suaminya karena suaminya tidak membelikan baju seperti yang
dipakai istri tetangga. Setelah suami membelikan baju, istri tetap saja marah
karena ternyata istri tetangga itu dibelikan juga sepatu oleh suaminya. Oleh
karena itu, sang istri marah lagi dan agresif lagi untuk minta sepatu. Dengan
demikian, frustasi ternyata lebih disebabkan oleh keadaan subjektif daripada
kondisi objektif. Oleh Berkowitz (1972), keadaan subjektif ini disebut
deprivasi (kekurangan), yaitu adanya kesenjangan antara harapan dan
kenyataan sehingga orang yang bersangkutan merasa kekurangan.karena
harapan itu pada umumnya tidak menetap, tetapi meningkat sesuai dengan
peningkatan kondisi objektif, deprivasi ini juga berubah yang tadinya tidak
menimbulkan frustasi pada saat brikutnya dapat menimbulkan frustasi karena
adanya perubahan deprivasi ini. Dalam contoh tentang istri yang frustasi
karena melikah istri tetangga dibelikan sepatu oleh suaminya, deprivasi itu
terjadi karena perbandingan dengan orang lain.
c) Teori Belajar Sosial

Perilaku Agresi Page 18


Berbeda dari teori bawaan dan teori frustasi-agresi yang menekankan
faktor-faktor dorongan dari dalam, teori belajar sosial lebih memperhatikan
faktor tarikan dari luar. Petterson, Littman & Bricker (1967) menemukan bahwa
pada anak-anak kecil, agresivitas yang membuahkan hasil yang berupa
peningkatan frekuensi perilaku agresif itu sendiri. Rubin (1986) mengemukakan
bahwa aksi terorisme yang tidak mendapattanggapan dari media massa tidak
akan berlanjut. Jadi, ganjaran yang diperoleh dari perilaku agresi tersebut.
Demikian pula White & Humphrey (1994) mendapatkan bahwa wanita wanita
yang agresif telah mengalami sendiri perlakuan agresif terhadap dirinya, baik
yang diperolehnya dari orang tuanya, teman prianya, maupun pacarnya.Dengan
demikian, berdasarkan pengalaman masa lalu mereka dan kebudayaan dimana
mereka tinggal, individu mempelajari: (1) berbagai cara untuk menyakiti yang
lain, (2) kelompok mana yang tepat untuk target agresi, (3) tindakan apa yang
dibenarkan sebagai tindakan balas dendam, (4) situasi atau konteks apa yang
mengizinkan seseorang untuk berperilaku agresi. Singkatnya, teori social
learning ini berusaha menjelaskan bahwa kecenderungan seseorang untuk
berperilaku agresi tergantung pada banyak faktor situasional, yaitu: pengalaman
masa lalu orang tersebut, rewards yang diasosiasikan dengan tindakan agresi
pada masa lalu atau saat ini, dan sikap serta nilai yang membentuk pemikiran
orang tersebut mengenai perilaku agresi.

Perilaku Agresi Page 19


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Agresi adalah segala bentuk perilaku yang disengaja kepada mahluk lain
dengan tujuan menyakiti dan pihak yang disakiti itu berusaha untuk menghindar.
Sumber amarah merupakan sumber utama agresi, sumber amarah dapat disebabkan
oleh dua faktor yaitu serangan dari orang lain dan frustasi. Faktor faktor agresi
lainnya antara lain frustasi, media kekerasan, faktor lingkungan fisik, social modeling
(observational learning) dan arousal yang bersifat umum. Tipe tipe agresi yaitu agresi
predatori, agresi antar jantan, agresi ketakutan, agresi tersinggung, agresi pertahanan,
agresi maternal, dan agresi instrumental. Bentuk bentuk agresi yaitu agresi verbal,
agresi fisik, agresi kemarahan, dan agresi kemusnahan. Jenis jenis agresi yaitu fisik,
aktif, langsung ; fisik, aktif, tidak langsung ; fisik, pasif, langsung ; fisik, pasif, tidak
langsung ;verbal, aktif, langsung ; verbal, aktif, tidak langsung ; verbal, pasif,
langsung ; verbal, pasif, tidak langsung. Dampak dampak agresi antara lain luka
secara fisik dan batin, dan bagi pelanggar serius dapat langsung berhadapan dengan
hukum. Terakhir, terdapat tiga teori agresi yaitu teori bawaan, teori lingkungan, dan
teori kepribadian.

B. Saran
Hendaknya, kita semua manusia, agar mempunyai kemampuan regulasi diri
yang baik sehingga mampu mengatur segala tindakan dan tidak mudah terpancing
emosi negative yang dapat menimbulkan perlaku agresi yang dapat membahayakan
orang lain. Ada baiknya, segala bentuk emosi negative kita lampiaskan ke perilaku
postif atau paling tidak ke perilaku netral .

Perilaku Agresi Page 20


DAFTAR PUSTAKA

Ariani, Farrah. 2014. Perilaku Agresif Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Usia Dini. Vol. 2
Edisi 8, Hlm 271-272.

Aziz, Rahmat, R Magestutii. 2006. “Tiga Jenis Kecerdasan Dan Agresifitas Mahasiswa”.
Psikologika; Jurnal Pemikiran Dan Penelitian 11 (21), 64-77. 2006

Baron, Robert A. 2004.Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh Jilid Dua. Jakarta : Erlangga.

Merdekasari, Arif. (2017). Perbedaan Perilaku Agresi Antara Siswa Laki Laki Dan Siswa
Perempuan Di SMPN 1 Ngasremen Ngawi. Jurnal Psikologi Pendidikan Dan
Konseling. Vol. 3 No. 1, Hlm 54

Mu’arifah, Alif. 2005. “Hubungan Kecemasan Dan Agresivitas” Dalam Humanitas.


Indonesian Psychological Journal .Vol. 2 No. 2 Hlm 102-105.

Ritung, O.P . (2017). Hubungan Antara Penerimaan Diri Dengan Perilaku Agresi Pada
Remaja Di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, Dan
Seni. Vol. 1, No. 2, Hlm 24-31.
Sears, David O. Dkk. 2001. Psikologi Sosial Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Susantyo, Badrun. (2011). Memahami Perilaku Agresif : Sebuah Tinjauan Konseptual.
Informasi. Vol. 16 No. 03, Hlm 190-191.
Taylor, Shelley E. Dkk. 2001. Psikologi Sosial Edisi Keduabelas. Jakarta :Bukubeta.
Wibowo, N.E. (2017). Self Regulation And Aggressive Behavior On Male Adolescence. Vol.
8, No. 1, Hlm 48-59.

Perilaku Agresi Page 21