Anda di halaman 1dari 37

1.

Jadi Tersangka Korupsi, Kejari Tahan Kadis Kominfo

DaerahHukum &
KriminalLamongan 20:52 ,5 September 2018 Koran Memo

Lamongan, koranmemo.com – Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo)


Kabupaten Lamongan, Erfan akhirnya mengenakan rompi orange (tahanan) Kejaksaan
Negeri Lamongan dan digiring ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Lamongan, Rabu
(5/9) sore.
Tim Pidsus akhirnya menetapkan sebagai tersangka setelah dilakukan pemeriksaan mulai
pagi hingga sore hari. Sebelumnya, pihak tim pidana khusus sudah melakukan beberapa
pemeriksaan saksi hingga penetapan tersangka lalu dilakukan penahanan.”Kami sudah
memiliki 2 alat bukti yang cukup untuk menetapkan sebagai tersangka dan melakukan
penahanan,” ujar Kasi Pidsus Kejari Lamongan, Yugo Susandi, SH.
Alasan melakukan penahanan, Yugo mengatakan, selain sudah memeriksa 14 orang sebagai
saksi, pihaknya juga sudah mengumpulkan alat bukti lain yaitu berkas surat-surat.
Kemudian mengenai alat bukti lain berupa rekening yang digunakan tersangka, pihaknya
bakal meminta kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan serta bisa juga
dimintakan langsung kepada penasehat hukum tersangka.
“Dasar penahanan pada pasal 21 KUHP untuk mempercepat proses agar tersangka tidak lari
dan menghilangkan barang bukti. Kerugiannya Rp 100 juta lebih,” tambah Yugo yang baru
menjabat ini.
Pasal yang digunakan untuk tersangka adalah Undang Undang Tipikor yang diatur dalam UU
no. 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang no 20 tahun 2001.
Semantara, penasihat hukum tersangka Sholahudin Serba Bagus, SH.,MH dalam
keterangannya mengatakan jika pihaknya tetap mengajukan penangguhan penahanan. “Untuk
hasil dari penangguhan itu tergantung dari Kejaksaan,” jelasnya kepada awak media.
Sekedar diketahui, kasus dugaan korupsi terkait dana pengembalian anggaran belanja dari
PT. Telkom Cabang Lamongan, yang melibatkan Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi
(Kominfo) Lamongan, Erfan, tersebut masuk Kejari Lamongan sekitar 5 bulan yang lalu.
Dari situ, Kejari Lamongan, melakukan pendalaman dengan status dari Sie Intel dinaikkan ke
Sie Pidana Khusus. “Kasus gratifikasi Telkom dan Diskominfo, lanjut dan pendalaman oleh
Pidsus,” terangnya Kasi Intel, Dino kepada awak media saat itu.
Erfan telah dilaporkan oleh salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ke Kejari
Lamongan (28/03) lalu, atas dugaan kasus korupsi dana pengembalian anggaran belanja dari
Telkom cabang Lamongan senilai Rp. 150.000.000,- pada tahun 2015-2016 yang pada saat
itu sebagai Kepala Dinas Kantor Pengelolaan Data Elektronik (KPDE) sebelum berganti
nama menjadi Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo).
Reporter: Fariz Fahyu
Editor Achmad Saichu

2. Kades Gintungan Diduga Korupsi DD, Warga Datangi Kejaksaan


Tuntut Kasus Diusut
Senin, 30 Juli 2018 14:37 WIB
Editor: Abdurrahman Ubaidah
Wartawan: Nur Qomar Hadi

Warga Desa Gintungan saat melakukan demo di Kejaksaan Negeri Lamongan.


LAMONGAN, BANGSAONLINE.com - Sedikitnya 70 orang warga Desa Gintungan
Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, menggelar aksi demo di Kejaksaan Negeri
setempat. Mereka mendesak agar Kejaksaan mengusut tuntas dugaan korupsi Dana Desa
(DD) yang dilakukan Tarno, Kepala Desa setempat.
Kedatangan massa dengan menggunakan tiga truk tersebut cukup menarik perhatian
pengguna Jalan Veteran, Lamongan.
Selain berorasi, warga juga membentangkan sejumlah poster yang bertuliskan desakan agar
Kejaksaan mengusut dugaan korupsi sang kades. Setelah melakukan orasi bergiliran,
sejumlah perwakilan warga akhirnya dipersilakan masuk untuk dialog dengan pihak
kejaksaan, perwakilan Inspektorat, serta Bakesbanglinmas Lamongan.
“Di antara dugaan penyalahgunaan Dana Desa (DD) tersebut adalah terkait pembangunan
jalan desa yang seharusnya dirabat beton, tapi dibangun rendemix,” kata Kepala Dusun
Gintungan, Yusro Susanto dalam pertemuan tersebut, Senin (30/7).
Dugaan korupsi lainnya, lanjut Yusro Susanto, yakni proyek pembangunan Tembok Penahan
Tanah (TPT). “Intinya kami berharap agar dugaan tersebut diusut tuntas. Demi pembangunan
di desa,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Suwaji selaku perwakilan dari Inpektorat menyatakan bahwa
pihaknya tengah memproses dugaan penyalahgunaan anggaran dalam pembangunan di
Dusun Gitungan.
“Dari proses audit tersebut, ditemukan anggaran yang harus dikembalikan oleh Kades Tarno
ke kas negara, sebesar Rp 20 juta. Dan hal ini sudah dilakukan oleh kepala desa tersebut,”
ungkap, Suwaji.
Di sisi lain, Kasi Intel Kejari Dino Kriesmiardi meminta warga agar membuat laporan
pengaduan apabila memang menemukan adanya penyalahgunaan DD.
“Saya kira dugaan penyalahgunaan dalam pembangunan jalan desa sudah diproses di
Inspektorat. Tapi kalau ada dugaan lainnya, maka kami berharap warga melakukan laporan
pengaduan lagi,“ kata Dino.
Setelah mendapatkan penjelasan dari pihak kejaksaan, Inspektorat dan Bakesbanglinmas
Lamongan, puluhan warga langsung membubarkan diri. (qom/dur)
3. Oknum Jaksa Lamongan Diduga Hamili Eks Napi

Jaksa Agung Muda Pengawas Marwan Effendy. ( Foto: Antara )


Kamis, 24 November 2011 | 22:34 WIB
Akan dilakukan tes DNA untuk membuktikan tindakan penyimpangan ini.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Lamongan Hari Soetopo diduga menghamili
Martha seorang mantan narapidana kasus penggelapan.

Jaksa Agung Muda Pengawasan Marwan Effendy menyebut adanya perbuatan menyimpang
yang dilakukan Hari.

"Laporannya sementara memang ada indikasi perbuatan yang menyimpang. Tapi kami belum
lihat hasilnya. Nanti kalau terbukti dia yang menghamili Marta. Ya mau tidak mau akan
diberhentikan," kata Marwan di Kejaksaan Agung, Kamis (24/11).

Marwan mengatakan status Hari masih jaksa aktif tapi untuk sementara tidak diberikan tugas
hingga proses pemeriksaannya selesai.

"Sejak dua hari lalu, saya perintahkan kepada Kajati untuk menarik (Hari) ke Kejaksaan
Tinggi Jawa Timur. Jadi ditarik dari Lamongan ke Jawa Timur," katanya.

Menurut Marwan pihaknya akan menyerahkan Hari ke Kepolisian jika hasil pemeriksaan
menyebutkan terjadi tindak pidana asusila.

Marwan mengatakan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur akan melakukan tes uji DNA terhadap
anaknya Marta. Hal itu dilakukan jika kesulitan menemukan bukti maupun saksi yang pernah
melihat Hari dan Marta di sebuah penginapan.
"Tapi kalau (Hari) akhirnya tidak terbukti, kami juga harus memperbaiki namanya. Jangan-
jangan karena difitnah terkait karena perkara ini. Memang rentan juga jaksa itu dalam
menangani perkara. Apalagi kalau terdakwanya cantik," jelas Marwan.
4. Kejaksaan Bidik Pokmas Penerima Bansos Sapi

Senin, 21 Januari 2013 — 14:16 WIB

SURABAYA (Pos Kota)-Kejaksaan Negeri Lamongan kini membidik program bantuan


sosial(Bansos) sapi dari Dinas Peternakan Propinsi 2012 lalu.Diduga bantuan bibit sapi betina
untuk Kelompok Masyarakat(Pokmas) di Desa Kedungkumpul, Kecamatan Sarirejo dan Desa
Balongwangi, Kecamatan Tikung yang masing-masing menerima Rp 500 juta itu
penerimanya diduga fiktif.

Menurut keterangan yang diperoleh wartawan menyebutkan, dana Rp 500 juta itu turun pada
akhir Desember 2012 lalu. “Saya tahu persis berapa kali turunya dana dan bagaimana
pengadaannya,tentu tidak masuk akal termin pertama Rp 200 juta sudah bisa beli 62 sapi
sekaligus,uangnya siapa kalau tidak beli sapi bohong-bohongan ” ujar sumber terpercaya
yang enggan dikutip namanya.

Sementara kata sumber lagi, dana termin kedua dan ketiga tidak digunakan untuk pembelian
sama sekali. “Ini belum dana pakan atau konsentrat yang nilainya mencapai Rp 25 juta dan
anak kandang,juga tidak ada yang diberikan,”ujarnya seraya mengatakan tentu tidak ada
pencairan, diberikan kepada siapa kan penerima banyak yang tidak merawat sapi.

Yang menjengkelkan kata sumber, ketika penerima sapi yang ada didaftar nama
penerima,ketika dilakukan pengecekan ternyata sapinya milik orang lain yang telinganya
sudah di beri tanda kode marking.

Data yang diperoleh wartawan menyebutkan daftar penerima yang mendapatkan jatah sapi
lebih dari dua yakni, Sat,Kas,Suk, untuk nama yang terakhir menjabat sebagai Ketua.
Sementara Kas sebagai sekretaris kelompok,sedangkan Sat, seorang kerabat Kepala desa
Kedungkumpul Kecamatan Sarirejo.

Begitu juga kelompok di Desa Balongwangi Kecamatan Tikung, HM ketuanya dan Us


masing-masing mendapatkan jatah 4 ekor.
Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Lamongan, Joko Prawoto,SH ketika
dikonfirmasi terkait adanya dugaan kasus bansos sapi tersebut mengatakan pihaknya akan
selalu menerima laporan masyarakat. Kalau memang ada pelanggaran dan ada alat bukti yang
cukup akan serius dilanjutkan “Asal ada alat bukti akan kita lakukan penyelidikan terlebih
dahulu sebelum dilanjutkan ke tingkat selanjutnya,”ujarnya.

Ditambahkan Joko, sekecil apapun nilai korupsi akan kita apresiasi apalagi terkait bantuan
kepada masyarakat.”Bantuan masyarakat jangan main-main, apalagi untuk kepentingan
pribadi, “ujarnya,Senin (21/1).

(nurqomar/sir)
5. Mainkan Biaya Dinas, Anggota DPRD Lamongan Masuk Bui
Penulis: M YakubPada: Rabu, 03 Feb 2016, 22:50 WIB NUSANTARA


Ilustrasi

KEJAKSAAN Negeri (Kejari) Lamongan, Jawa Timur menjebloskan dua anggota DPRD
Lamongan ke Lembaga Pemasyarakatan setempat, Rabu (3/2). Penahanan terhadap wakil rakyat
itu dilakukan setelah keduanya menjalani pemeriksaan sebagai tersangka sekitar 5 jam di kantor
Kejari Lamongan.

Keduanya, Sutardjo Syafe'i dan Nipbianto, terjerat kasus dugaan korupsi perjalanan dinas
(perdin) 2012 DPRD Lamongan senilai Rp4.2 miliar. Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari
Lamongan, Edy Subhan membenarkan pihak Kejari Lamongan telah kedua anggota DPRD
Lamongan itu.
Menurut dia, penahanan terhadap keduanya dilakukan setelah menjalani pemeriksaan. “Ya,
keduanya langsung kita kirim ke tahanan," tegas Edy.

Edy mengakui, sebelum melakukan penahanan terhadap 2 anggota DPRD Lamongan ini,
lembaganya menerima surat penangguhan penahanan dari
pengacara tersangka. "Kami menghormati adanya surat permohonan penangguhan penahanan
dari pengacara," terangnya.

Penasehat hukum kedua tersangka, Agus Happy Fajariyanto membenarkan, kliennya kini ditahan.
Selama pemeriksaan, terang Agus, kliennya dicecar dengan lebih kurang 80 pertanyaan dengan
fokus utama peran yang disangkakan ke kliennya.

Beberapa waktu yang lalu Pengadilan Tipikor Surabaya juga menahan 3 eks anggota DPRD
Lamongan dan 1 orang rekanan dalam kasus dugaan korupsi Perjalanan Dinas (Perdin) tahun
2012. Ketiga orang yang telah lebih dahulu dijebloskan ke tahanan tersebut adalah Jimmy
Harianto, eks Ketua Komisi A, Fatchur, eks Ketua Komisi B dan Sulaiman, eks Ketua Komisi D
DPRD Lamongan serta Muniroh selaku rekanan penyedia jasa perjalanan dinas.
6. Modus Korupsi Dana BOS Kepala Kacab Dindik Jatim di Lamongan
Hukum Rabu, 9 Agustus 2017 | 21:51 WIB Jurnalis: Saiful Arief

Kantor Kejaksaan Negeri Lamongan. FaktualNews.co/dok/

LAMONGAN, FaktualNews.co – Ternyata praktek korupsi dana Bantuan Operasional


Sekolah (BOS) tahun 2012-2016 yang dilakukan Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan
Provinsi Jatim di Lamongan, Sun’ah, terbilang cukup rapi.
Dugaan korupsi itu dilakukan tersangka saat menjabat sebagai Kepala Bidang Perencanaan
Evaluasi dan Pelaporan (PEP) di Dindik Lamongan selama lima tahun.
Dari informasi yang diperoleh redaksi FaktaualNews.co, dari keterangan penyidik Kejari
Lamongan yang menangani kasus dugaan korupsi ini. Ada dua cara yang kemungkinan
dilakukan oleh tersangka.
Pertama, meminta bagian uang setiap kali ada pencairan, dua kali dalam setahun per UPT
dengan nilai bervariasi. Hal ini terungkap dari keterangan saksi yang diperiksa penyidik.
“Besaran nilai yang dipotong per UPT tidak sama,” ungkap salah satu penyidik, kepada awak
media di Lamongan, Rabu (9/8/2017).
Tersangka dugaan korupsi dana BOS, Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan (Disdik)
Propinsi Jawa Timur wilayah Kabupaten Lamongan, Sun’ah. (Facebook)
Uang jatah itu langsung diterimakan ke tangan Sun’ah setelah dana cair dan masuk ke
rekening sekolah.
Saat pencairan dana BOS tertulis di rekening dana itu diterimakan seratus persen. Tapi
setelah itu harus ada ‘kewajiban’ untuk menyerahkan uang bagian kepada tersangka.
Sedangkan modus kedua adalah dimintai Rp 100,- persiswa penerima Dana BOS. Dan ini
diberlakukan pada semua SD se- Kabupaten Lamongan kurun waktu lima tahun, dari 2012
hingga 2016.
“Dan uang jatah itu semuanya diterima tersangka sendiri,” kata penyidik.
Kasi Intel Kejari Lamongan, Budiyanto, mengatakan penetapan Sun’ah sebagai tersangka
tindak pidana korupsi setelah penyidik memegang dua barang bukti dan alat bukti.
Untuk kerugian negara akibat perbuatan tersangka ini, sampai saat ini tim penyidik masih
intens menghitung. Dan kerugian itu sekitar Rp 1 miliar.
7. Mantan Kepala UPT Ngimbang Lamongan Dijebloskan Ke Penjara
August 10, 2017

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAM; Kejaksaan Negeri Lamongan menahan


Mantan Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Ngimbang terkait dugaan korupsi
pemotongan dan BOS, sertifikasi dan gaji guru, pada Selasa sore (9/8/2017) pukul 17.30 Wib.

Usai dilakukan pemeriksaan tertutup diruangan Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Lamongan.
Tersangka AS, mantan kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Dinas Pendidikan Kecamatan
Ngimbang, Lamongan, langsung digiring ke mobil tahanan untuk dikirim ke Lembaga
Pemasyarakatan (LP).

AS ditahan karena telah melakukan dugaan korupsi pemotongan dana Bantuan Operasional
Sekolah (BOS), dan pemotongan dan Tunjangan Profesi Pendidik (Sertifikasi) serta
pemotongan dana gaji Guru.

“Tersangka AS melakukan dugaan korupsi pemotongN dana BOS, dan pemotongan


sertifikasi serta pemotongan dana gaji guru,” kata Hary Purwanto Kasi Pidsus Kejaksaan
Negeri Lamongan.
Menurut Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Lamongan, Hery Purwanto,
tersangka langsung dijebloskan ke Lapas terkait dugaan korupsi tahun anggaran 2012 hingga
2016. Tersangka sudah merugikan negara mencapai Rp 300 juta.

“Tersangka sudah merugikan negara sebesar Rp 300 juta. Barang bukti kejaksaan sudah
lengkap dan kami langsung menahan tersangka, dan dikirim LP,” sebut Hery.

Hery juga menyatakan, saat ini kejaksaan masih menetapkan satu tersangka terkait dugaan
Kasus Korupsi di lingkup UPT yang ada di Lamongan.

“Kami baru menetapkan satu tersangka. Dan ada kemungkinan kami menangkap tersangka
lagi yang di UPT lainnya,” tegas Hery.

Tersangka saat ini dikenakan Pasal 12 Huruf E dan Pasal 11 Undang Undang Tindak Pidana
Korupsi dengan ancaman minimal 4 Tahun Penjara. (Fer)
8. Memeras Kades di Lamongan, Dua Anggota LSM Ditangkap
Eko Sudjarwo - detikNews

Foto:
Eko Sudjarwo

Lamongan - Berdalih melaporkan kasus Prona (Proyek Operasi


Nasional Agraria), dua anggota LSM terpaksa berurusan dengan
polisi. Mereka ditangkap karena diduga memeras kepala desa di
Lamongan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, penangkapan 2 anggota LSM


itu berawal dari informasi Nurul Azis, seorang Kades Tambak
Menjangan, Kecamatan Sarirejo. Dua LSM itu berinisial SH warga
Desa Tawangrejo, Kecamatan Turi dan AS warga Brondong.
Keduanya ditangkap saat bertransaksi dengan korban di sebuah
warung di Lamongan kota.

KBO Reskrim Polres Lamongan, Iptu Suprianto mengatakan, Kades


Nurul merasa diperas pelaku. Saat itu, para pelaku meminta uang
sebesar Rp 25 juta kepada korban dan mengancam akan
melaporkan korban ke kepolisian dan kejaksaan.

"Mereka meminta uang Rp 25 juta sebagai uang pengamanan kasus


Prona dengan ancaman kalau tidak dikasih akan melaporkan
penyelewengan Prona di desa korban ke Polisi dan Jaksa. Mereka
juga mengancam akan memuat kasus tersebut di media," kata Iptu
Supriyanto kepada wartawan di mapolres, Jumat (8/10/2017).

Karena takut, lanjut Iptu Supriyanto, korban menuruti kemauan


pelaku. Namun sebelum menyerahkan uang, korban melaporkan apa
yang dialaminya ke polisi.

"Dua pelaku ini kami tangkap saat bertransaksi dengan korban di


sebuah rumah makan yang ada di Jalan Soewoko Lamongan,"
katanya.

Kades Nurul Azis membenarkan apa yang telah dialami. Dia


mengaku, terpaksa memenuhi ancaman dan menyerahkan uang Rp
25 juta kepada pelaku. "Tapi sebelum menyerahkan saya lapor ke
polisi," terangnya.

Hingga kini, petugas masih melakukan pengejaran 2 pelaku lain


yang terlibat dalam pemerasan ini. Dua pelaku yang belum
diamankan saat ini, terlibat dalam pemerasan namun saat transaksi
keduanya tidak ikut. "Kami masih mendalami kasus ini," terang
Supriyanto.
(fat/fat)
9. Calo SIM di Polres Lamongan Masih Gentayangan, Ini Buktinya
Eko Sudjarwo - detikNews

Foto: Eko Sudjarwo

Lamongan - Calo pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) masih


beroperasi di Polres Lamongan. Polisi pun berhasil meringkus 2 calo
yang kepergok mencari mangsa.

Informasi yang dihimpun detikcom, kedua calo yang diringkus


berinisial IZ (35), warga Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung dan AI
(37), warga Jalan Soewoko, Kecamatan Lamongan.

"Mereka beroperasi di belakang warung kopi Jalan Suwoko dan kami


berhasil menangkap berkat informasi dari masyarakat kalau ada
praktek Calo SIM di wilayah hukum Polres Lamongan," terang Waka
Polres Lamongan Kompol Imara Utama kepada wartawan di
mapolres, Senin (10/9/2018).

Saat ditangkap, kata Imara, kedua calo itu sedang bertransaksi


dengan pemohon SIM. Kedua pelaku menyanggupi korban bisa
menguruskan SIM A baru.

"Pelaku IZ dan Al ini melakukan praktek calo SIM dengan cara


menerima titipan pembuatan SIM A yang dibuat di luar wilayah
Lamongan," paparnya.
Tarif yang dipasang kedua pelaku, menurut Imara, tergolong cukup
tinggi. Setiap pemohon SIM A diminta membayar Rp 600-800 ribu.

"Mereka mengaku sudah melakukan praktik calo SIM selama 2


bulan dan sudah menghasilkan kurang lebih 40 SIM," ungkapnya.

Selain pelaku, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti.


Diantaranya fotokopi KTP pemohon, fotokopi SIM, pas foto pemohon,
print out SIM, sejumlah telepon genggam dan juga sejumlah uang
tunai.

"Kami akan terus memberantas per-calo-an semacam ini,"


tandasnya.
(fat/fat)
10. Forum Santri Demo PN Lamongan, Tuntut Kasek Terdakwa
Pencabulan Dibebaskan
Senin, 5 Maret 2018 15:03

surya/hanif manshuri
Massa FSGM gelar demo dengan cara Istighosah dan tausiyah di depan PN Lamongan di jalan Veteran, Senin
(5/3/2018).

SURYA.co.id | LAMONGAN - Massa yang tergabung di Forum Santri Guru dan


Masyarakat (FSGM) menggelar istighosah dan audiensi di Pengadilan
Negeri Lamongan Jawa Timur, Senin (5/3/2018).
Aksi yang digelar dihadiri ratusan orang perwakilan santri, murid, orang tua murid,
mantan santri dan masyarakat umum ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan
support terhadap kasus yang sedang dihadapi sang Kepala Sekolah SMK, Alief
Abdul Haris yang juga membawahi salah satu Ponpes di Made Lamongan.
"Ini aksi solidaritas unguk Gus Haris," kata Koordinator Forum, Syaiful Aziz.
Menurutnya aksi solidaritas ini diisi dua kegiatan, yakni istighosah dan audiensi
dengan PN. Tiga ustadz, bergantian memberi tausiyah di sela-sela istighosah.
Dalam isi tausiyah itu sebagian di antaranya, berisi tentang kewajiban melindungi
hak beragama, jiwa dan ancaman termasuk yang bersifat fitnah.
"Semoga Gus Haris bisa menjalani proses ini dengan baik dan bebas dari segala
fitnahan," kata Ustadz Halili dalam tausiyahnya.
Bersamaan digelarnya istighosah, Ketua Forum, Aziz didampingi salah satu peserta
aksi menemui petugas Pengadilan Negeri (PN) Lamongan untuk menyampaikan
surat dari FSGM yang isinya berharap kepada majelis hakim untuk mengedepankan
hati nurani dan membebaskan terdakwa Alief Abdul Haris.
"Intinya kami berharap Gus Haris diputus bebas. Masyarakat masih banyak yang
membutuhkannya," tandas Aziz.
Mengetahui koordinatornya berhasil menemui petugas PN, massa akhirnya
membubarkan diri setelah perwakilan massa, Ketua Forum FSGM berhasil
menyampiakan surat ke PN.
Sekedar diketahui, aksi massa FSGM ini dipicu Alief Abdul Haris (33) sang Kepala
SMK swasta di jalan Mastrip Gang Made Sebalong Kecamatan Lamongan Jawa
Timur yang dituntut 15 tahun JPU karena dugaan telah menyetubuhi calon siswanya
pada 12 Juli 2017 di ruang piano yang berada di dalam ruangan guru SMK yang
dipimpinnya.
Pada persidangan kelima dengan agenda tuntutan, Haris dituntut 15 tahun penjara
oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Andika Nugraha T, Kamis (22/2/2018) lalu.
Persidangan tertutup ini dipimpin oleh Hakim Ketua PN Lamongan, Nova Flory
Bunda. Tuntutan begitu tinggi dan memberatkan didasarkan lantaran pelakunya
seorang tenaga pendidik, alias guru.
Terdakwa dijerat Pasal 81 Ayat (3) Jo Pasal 76 D Undang -Undang RI Nomor
35/2014 tentang Perubahan Undang-Undang RI Nomor 23/2002 tentang
Perlindungan Anak.
Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Forum Santri Demo PN
Lamongan, Tuntut Kasek Terdakwa Pencabulan
Dibebaskan, http://surabaya.tribunnews.com/2018/03/05/forum-santri-demo-pn-
lamongan-tuntut-kasek-terdakwa-pencabulan-dibebaskan.
Penulis: Hanif Manshuri
Editor: irwan sy
11. Hajar Anak, Istri, Saudara dan Mertua Sendiri, Pria di Lamongan ini Malah
Umbar Senyuman
Kamis, 16 Agustus 2018 12:31

SURYA/HANIF MANSHURI
Tersangka Suryo Winardi, warga Dusun Ngasem Desa Lemahbang Kecamatan Ngimbang saat dilimpahkan ke
JPU Kejaksaan Negeri Lamongan, Kamis (16/8/2018).

TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Gara-gara mabuk dan terpengaruh minuman keras,


Suryo Winardi (30), warga Dusun Ngasem Desa Lemahbang, Kecamatan
Ngimbang, Kabupaten Lamongan harus meninggalkan istri dan anaknya untuk beberapa
waktu.
Pengaruh miras yang ditenggaknya, Suryo sampai tega menghajar anak, istri dan mertuanya.
Sejak sehari setelah peristiwa KDRT, tersangka sudah langsung ditahan oleh penyidik Unit
Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Lamongan.
Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terhadap tersangka dinyatakan lengkap oleh JPU Kejaksaan
Negeri Lamongan dan masuk tahap dua.

Artikel ini telah tayang di Tribunjatim.com dengan judul Hajar Anak, Istri, Saudara dan
Mertua Sendiri, Pria di Lamongan ini Malah Umbar
Senyuman, http://jatim.tribunnews.com/2018/08/16/hajar-anak-istri-saudara-dan-mertua-
sendiri-pria-di-lamongan-ini-malah-umbar-senyuman.
Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Mujib Anwar
12. Lakukan Order Fiktif, Tiga Sopir "Tuyul" Taksi Online di Lamongan
Ditangkap Polisi

KONTRIBUTOR GRESIK, HAMZAH ARFAH Kompas.com - 29/03/2018, 19:24 WIB


Kapolres (kanan) dan Kasatreskrim Polres Lamongan (kiri) saat mendampingi ketiga pelaku
saat dirilis di Mapolres Lamongan.(KOMPAS.com/Hamzah) LAMONGAN, KOMPAS.com
– Tiga orang yang tercatat sebagai mitra GrabCar di Lamongan, Jawa Timur,
menyalahgunakan sistem aplikasi taksi online Grab saat menjalankan aktivitasnya. Para
pelaku yang berinisial LHS (31), warga Petemon III, Kecamatan Sawahan, Surabaya; FT
(30), warga Petemon Barat, Kecamatan Sawahan, Surabaya; serta APU (19), warga
Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, itu harus berurusan dengan
kepolisian lantaran order palsu. “Para pelaku menyiapkan lebih dari satu akun yang
digunakan sebagai akun sopir Grab. Mereka kemudian memanipulasi data transaksi demi
mengejar insentif dari sistem Grab,” ujar Kasat Reskrim Polres Lamongan AKP Yadwivana
Jumbo Qantasson, Kamis (29/3/2018). Yadwivana menjelaskan, para sopir bakal
mendapatkan insentif Rp 100.000 dari pihak Grab untuk setiap 10 perjalanan yang dilakukan.
Namun, perjalanan itu tidak pernah dilakukan oleh para pelaku karena mereka hanya
mengakali sistem yang ada. “Untuk satu akun, para pelaku menginformasikan kepada sistem
telah menyelesaikan 10 perjalanan dengan jarak tempuh dekat, berkisar satu hingga dua
kilometer saja demi mendapatkan insentif itu. Tapi, sebenarnya tidak pernah dilakukan, hanya
order fiktif,” ujar Yadwivana. Baca juga: Diduga gara-gara Batalkan Order, Calon
Penumpang Dikeroyok Sopir Taksi Online Pihak Grab yang merasa curiga atas perilaku
ketiga sopir tersebut dan merasa dirugikan akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada
Polres Lamongan. Tindakan para sopir itu lantas ditelusuri dengan penyisiran di lapangan.
“Diasumsikan satu mobil memiliki empat sampai lima akun, maka setiap kali insentif
diberikan dari 10 kali perjalanan itu berkisar Rp 400.000 hingga Rp 500.000 setiap hari. Tapi
ini kan enggak hanya satu mobil, tapi ada beberapa mobil, sehingga pihak Grab merasa
dirugikan senilai Rp 18 juta lebih,” ucap dia. Atas perilaku yang dilakukan, ketiga pelaku
tersebut diancam Pasal 51 juncto Pasal 35 Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang
perubahan Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
(ITE), serta Pasal 378 KUHP tentang Penggelapan dan Penipuan, dengan ancaman 12 tahun
penjara. “Kami juga berhasil mengamankan beberapa barang bukti, di antaranya satu unit
mobil Daihatsu Xenia, 17 handphone berbagai merek, 11 kartu perdana, empat unit modem,
dan satu kartu ATM,” pungkasnya. Baca juga: Pembunuh Sopir Taksi Online di Bogor Sudah
Merencanakan Aksi Kejahatannya

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lakukan Order Fiktif, Tiga Sopir
"Tuyul" Taksi Online di Lamongan Ditangkap
Polisi", https://regional.kompas.com/read/2018/03/29/19241521/lakukan-order-fiktif-tiga-
sopir-tuyul-taksi-online-di-lamongan-ditangkap.
Penulis : Kontributor Gresik, Hamzah Arfah
Editor : Erwin Hutapea
13. Berkedok Dukun, Janda Muda di Lamongan Perdayai Artis Dangdut
Eko Sudjarwo - detikNews

F
oto: Eko Sudjarwo

Lamongan - Berkedok sebagai dukun pengasihan, seorang janda muda di Lamongan


terpaksa berurusan dengan polisi. Janda dua anak ini menipu korbannya dengan modus bisa
memberikan ajian pengasihan dengan syarat-syarat tertentu. Bahkan, salah seorang
korbannya adalah penyanyi dangdut asal Lamongan.

Informasi yang dihimpun detikcom, pelaku yakni janda berinisial NH (34) warga Desa
Sidodadi, Kecamatan Kota Lamongan.

"Tersangka NH mengaku sebagai peramal yang bisa membaca hati seseorang, serta dapat
menyelesaikan apapun permasalahan pengasihan, bahkan tersangka juga mengaku bisa
mengembalikan kekasih yang telah pergi dengan media kartu remi," kata Kapolres
Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung kepada wartawan di mapolres, Selasa (6/2/2018).

Menurut Feby, dengan menggunakan media kartu remi dan keris kecil yang terbuat dari
tembaga dan minyak wangi tertentu, tersangka meyakinkan dapat memenuhi dan
menyelesaikan permasalahan pengasihan yang menimpa korban.

"Sebagai imbalan, tersangka kemudian meminta sejumlah uang dengan alasan membeli
peralatan yang digunakan untuk ritual dan salah satu korbannya ada yang dimintai uang
hingga Rp 30 juta," ungkap Feby.
Feby menuturkan, terungkapnya dugaan penipuan yang dilakukan NH berawal saat petugas
mendapat laporan dari salah satu korbannya, penyanyi dangdut asal Desa Sungelebak,
Kecamatan Karanggeneng.

"Korban datang ke rumah tersangka dengan maksud meminta bantuan permasalahan


perjodohan dan tersangka sanggup menolong korban dengan meminta sejumlah uang dengan
alasan untuk ritual," terang Feby yang menyebut pelaku beberapa kali menyerahkan uang
yang jika ditotal bisa mencapai Rp 30 juta.

Dari hasil ritual sang dukun ini, korban diberi batu merah delima dan Rajah. Tapi, lanjut
Feby, setelah diberi merah delima dan rajah ini ternyata hubungan percintaan korban malah
putus dan tidak ada hasilnya sampai sekarang.

"Kejadian ini dilaporkan ke polisi dan akhirnya petugas berhasil mengamankan tersangka di
sebuah cafe di Lamongan," jelas Feby.

Setelah dilakukan pengembangan, lanjut Feby, ternyata ada korban lain yang terdeteksi dan
melapor ke polisi. Kini, tersangka pun harus menjalani proses hukum di kepolisian.

"Tersangka akan dijerat dengan pasal 378 KUHP dan atau 372 KUHP dengan ancaman 4
tahun kurungan penjara," tegas Feby.
(fat/fat)
14. Pekerja Asing di Lamongan Dirazia, Temukan 24 Kitas Kedaluwarsa
Eko Sudjarwo - detikNews

Pek
erja asing sedang didata (Foto: Eko Sudjarwo)

Lamongan - Tak ingin kecolongan keberadaan Tenaga Kerja Asing (TKA) di Lamongan,
Tim Pengawasan Orang Asing (Tim Pora) Lamongan kembali melakukan razia pekerja asing
di sejumlah perusahaan di Lamongan. Dalam razia kali ini, Tim Pora memusatkannya di
kawasan industri yang ada di wilayah pantura Lamongan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, razia Tim Pora Lamongan ini dilakukan di
perusahaan galangan kapal, Lamongan Marine Industri (LMI), yang berada di Desa
Kemantren, Kecamatan Paciran. Dari razia ini, meski tak ditemukan adanya TKA ilegal,
namun setidaknya Tim Pora Lamongan menemukan 24 WNA yang Kartu Izin Tinggal
Terbatas (Kitas) nya kedaluwarsa.

Tim Pora Lamongan yang melakukan razia sendiri merupakan gabungan sejumlah petugas,
diantaranya Kesbangpol Linmas, Imigrasi Tanjung Perak Surabaya, Disnakertran,
Disdukcapil, Kejaksaan, Polres, dan Kodim 0812 Lamongan.

Kasubdit Pengawasan Keimigirasian Kantor Imigrasi Tanjung Perak Surabaya, Antonius


Parlindungan Sihombing mengatakan, dari perusahaan ini ditemukan setidaknya 34 tenaga
asing,
24 TKA ternyata Surat Keterangan Tempat Tinggal (SKTT) yang dikeluarkan oleh
Disdukcapil tidak berlaku lagi atau kedaluwarsa. Selain itu, ditemukan juga 9 TKA yang kitas
nya masih berlaku dan sisanya adalah tambahan kedatangan TKA baru.

"Kedatangan Timpora sempat membuat para pekerja asing kaget, karena dirazia di tengah
jam kerja untuk memeriksa kelengkapan dokumen para TKA," tutur Anton kepada wartawan,
Selasa (5/9/2017).

Saat diperiksa, sambung Anton, para pekerja asing itu mampu menunjukkan kelengkapan
dokumen, sehingga tak satupun dari mereka yang diamankan. Usai diperiksa, kata Anton,
para pekerja ini diperkenankan untuk melanjutkan pekerjaannya.

"Dari 24 tenaga asing yang kitasnya kedaluwarsa ini masih mengurus kitas di keimigrasian,"
terangnya.

Sementara itu, Kepala Kesbangpol Dalam razia yang dilakukan untuk mendeteksi sekaligus
menindak apabila ada pelanggaran imigrasi yang biasanya dilakukan oleh pekerja asing,
petugas gabungan memperoleh beberapa temuan. Sudjito menjelaskan, razia ini merupakan
operasi rutin pengawasan TKA yang bekerja di wilayah Lamongan.

Dikatakan Djito, berdasarkan data 31 Agustus lalu ada sekitar 24 TKA yang bekerja di LMI
yang masa berlaku kitas nya habis. "Sehingga kita pun perlu cek and croscek di lapangan,"
tuturnya.

Menurut Jito, setelah dilakukan pengecekan di lapangan, kitas mereka masih dalam proses
pengurusan di kantor imigrasi Tanjung Perak Surabaya. Razia kedua ini, lanjut Djito, juga
menyasar keberadaan tenaga pendamping TKI.

"Karena aturan dari ketenagakerjaan setiap TKA harus ada satu pendamping TKI-nya untuk
mentransfer keahliannya," jelasnya.
(iwd/iwd)
15. Ditangkap di Surabaya, Pengedar Ganja Lamongan Hendak Barter Pil

Koplo
Kamis :30 Agustus 2018 : 13:26:19
Editor: Arif ArdiantoNarendra Bakrie / Reporter:

Dua tersangka saat di Mapolsek Wonocolo

jatimnow.com - Setelah berhasil menangkap 6 pemuda asal Lamongan yang masuk dalam
jaringan pengedar ganja. Unit Reskrim Polsek Wonocolo, Surabaya menemukan fakta
mengejutkan dari 2 tersangka yang ditangkap lebih dulu di Surabaya.

Dua tersangka yang ditangkap lebih dulu tersebut yaitu Faroid alias Bendol (20) warga
Dusun Beton, Desa Tritunggal, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan dan Amar Maruf
Wahyudi (21) warga Desa Sungelebak, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan.

"Keduanya kami sergap di Jalam Raya Menanggal, Surabaya dekat kantor Bank BNI saat
hendak bertransaksi," tutur Kanit Reskrim Polsek Wonocolo, Ipda Mujiani, Kamis
(30/8/2018).

Penangkapan itu dilakukan Selasa (21/8/2018) sekitar pukul 23.30 Wib. Bersama kedua
tersangka disita ganja kering siap edar seberat 2,68 gram yang dibungkus dengan koran
bekas.

"Setelah kami interogasi, terungkap mengapa mereka datang ke Surabaya," beber Muji.

Fakta yang terungkap yaitu, keduanya ke Surabaya ternyata hendak menemui seseorang
dengan maksud untuk barter (tukar barang dengan barang). Ganja yang mereka bawa ternyata
hendak ditukar dengan pil double L atau pil koplo.

Ganja seberat 2,68 gram yang mereka bawa dari Lamongan, akan ditukar dengan dua box pil
koplo yang berisi 200 butir.
"Mereka barter ganja dengan pil koplo bukan pertama kali ini saja. Tapi kami menduga sudah
lebih dari 5 kali," beber Muji.

Dari pengakuan kedua tersangka, pertama mereka melakukan barter di seputar Mal Cito.
Dimana ganja seberat itu ditukar dengan 1 box pil koplo (100 butir). Yang kedua, mereka
barter lagi di Jalan A Yani Surabaya dengan jumlah barter yang sama.

"Nah untuk yang ketiga, berhasil kami gagalkan," tegas Muji.

Setelah menangkap keduanya, Muji dan timnya akhirnya berhasil menangkap 4 pemuda lagi
di Lamongan. Keenam pemuda yang saat ini mendekam di sel tahanan Polsek Wonocolo
Surabaya tersebut, merupakan satu jaringan pengedar ganja yang selama ini beroperasi di
Lamongan.

"Kami juga tengah memburu pengedar pil koplo yang biasa melakukan barter dengan
tersangka," tandas Muji.

Reporter : Narendra Bakrie


Editor: Arif Ardianto
16. Densus 88 Tangkap 3 Terduga Teroris di Lamongan KONTRIBUTOR
GRESIK, HAMZAH ARFAH Kompas.com - 07/04/2017, 15:07 WIB Salah satu
TKP penangkapan terduga teroris di Lamongan pasca operasi dilakukan, Jumat
(7/4/2017).(Kontributor Gresik, Hamzah) LAMONGAN, KOMPAS.com – Tiga
orang yang diduga anggota teroris, diamankan oleh pihak kepolisian dari dua
tempat kejadian perkara (TKP) yang ada di Lamongan, Jawa Timur, Jumat
(7/4/2017) siang. Mereka bertiga kemudian diketahui bernama Zainal Anshori,
Hendis Efendi, dan Hasan. Ketiganya langsung diamankan oleh personel
Detasemen Khusus (Densus) 88 dengan dukungan penuh dari jajaran Polres
Lamongan. “Pengamanan tadi langsung dilakukan oleh sekitar 15 anggota
Densus 88. Kami hanya mem-back up, seperti untuk keperluan identifikasi
maupun olah TKP. Jadi secara pastinya, Densus yang lebih tahu,” ungkap
Kapolres Lamongan AKBP Juda Nusa Putra, Jumat (7/4/2017). Baca juga:
Kepala BNPT Ingatkan Bahaya Rekrutmen Teroris Via "Online" Operasi
penangkapan ketiga terduga teroris tersebut juga bisa dibilang berlangsung
cukup singkat. Pihak kepolisian mengamankan dua terduga teroris Zainal Anshori
dan Hendis Efendi di depan SMP Negeri 1 Paciran, Kelurahan Blimbing,
Kecamatan Paciran, Lamongan, sekitar pukul 09.30 WIB. Mereka berdua
diamankan oleh polisi saat sedang melintas di area tersebut dengan
berboncengan sepeda motor. Selepas dari TKP tersebut, polisi lantas
mengembangkan kasus dengan menyambangi Dusun Jetak, yang berada di
Desa dan Kecamatan Paciran, Lamongan. Sekitar pukul 10.00 WIB, polisi
berhasil mengamankan satu terduga lain yang kemudian diketahui bernama
Hasan. Zainal diketahui merupakan warga Lingkungan Gowah, RT3/RW5,
Kelurahan Blimbing, Kecamatan Paciran, Lamongan. Sementara Hendis Efendi
adalah warga Lingkungan Semangu RT6/RW6, Kelurahan Blimbing, Kecamatan
Paciran, Lamongan. Sementara Hasan, identitas lengkapnya masih belum
diketahui. “Mungkin nanti pihak Densus yang akan memberikan keterangan lebih
detailnya. Begitu juga salah seorang terduga yang diketahui bernama Hasan.
Karena dalam operasi tadi, yang melakukan semuanya Densus, kami hanya
mem-back up saja,” terangnya. Baca juga: Diungkap, "Bom Laptop" Teroris
Mampu Lewati Pemindai di Bandara Sekitar pukul 10.30 WIB, ketiga terduga
teroris yang diamankan dari dua TKP di Lamongan tersebut akhirnya dibawa oleh
anggota Densus 88 menuju Mapolda Jawa Timur.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Densus 88 Tangkap 3


Terduga Teroris di
Lamongan", https://regional.kompas.com/read/2017/04/07/15075171/densus.88.t
angkap.3.terduga.teroris.di.lamongan.
Penulis : Kontributor Gresik, Hamzah Arfah
17. Tersandung Kasus Korupsi, Tiga Oknum PNS Pemkab Lamongan Bakal
Ngaplo Dipecat, Kapok!!!

LAMONGAN – Tiga oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Lamongan
terancam dipecat. Pasalnya ketiga abdi negara tersebut terbukti melakukan tindak pidana
korupsi dan sudah menjalani proses hukum bahkan sudah mempunyai kekuatan hukum tetap
(inkracht). Ke-tiga oknum PNS tersebut antara lain, Rd (Mantan Camat Mantup), Khamim
dan Eddy Suryono.

Berdasarkan data yang diperoleh wartawan menyebutkan, Rd terlibat kasus pungutan liar
(Pungli) pengadaan sertifikat program Prona sebanyak 2000 pemohon di mana setiap
pemohonnya dikenakan biaya sebesar Rp 800 ribu, tetapi yang bersangkutan tidak bisa
mempertanggungjawabkan. Ia kemudian menjalani proses persidangan di Pengadilan Tipikor
Surabaya dan menjalani vonis kurungan selama 1,2 bulan dan sekarang sudah bebas.

Sementara Khamim dan Eddy Suryono, dua PNS Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan ini
terlibat kasus pungli penetapan Angka Kredit (PAK) guru pada tahun 2010-2013 dan diputus
oleh Pengadilan Tipikor selama 1 tahun penjara, kini masih proses banding. Keduanya
disangka melanggar pasal 5 ayat 2 UU Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tipikor.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lamongan, H, Yuhronur Efendi ketika dikonfirmasi wartawan,


Kamis (26/11/2015) mengatakan bahwa PNS yang terlibat korupsi akan diancam dengan
pemberhentian atau pemecatan.

“Dalam UU ASN, jika PNS menyalahgunakan wewenang dalam jabatan dan kerugikan
negara dan melakukan tindak pidana korupsi, maka akan dipecat,” ujarnya.

Menurutnya, Undang-Undang Aparatur Sipil Negera (ASN) No. 5 Tahun 2014, resmi berlaku
setelah ditandatangani Presiden SBY, 15 Januari 2014 silam. Dengan berlakunya UU
tersebut, PNS yang terlibat korupsi dan penyagunaan wewenang akan dipecat.
Namun tambahnya, sanksi pemecatan hanya diberikan kepada PNS yang terlibat korupsi,
setelah adanya penetapan UU ASN. Sedangkan, bagi PNS yang terlibat korupsi dan terdapat
putusan tetap, dan menjalani sebelum UU ASN diberlakukan, maka tidak dapat dipecat.

Masih kata Yuhrunor,”UU ASN tidak berlaku surut, dan hanya berlaku setelah ditetapkan
hingga UU tersebut dicabut. “Jadi PNS yang terlibat penyalahgunaan wewenang dan korupsi,
sebelum adanya UU ASN, tidak bisa dipecat. Bagi mereka (Oknum PNS) yang terlibat
korupsi setelah adanya UU ASN, pastinya dipecat dan tidak bisa ditolerir. Ini perintah UU,”
jelasnya.

“Terkait adanya beberapa PNS yang tersandung perkara korupsi baik yang masih menjalani
proses hukum maupun yang sudah bebas, sudah pernah dibahas atau dirapatkan. “Karena
aturanya tegas dan harus ada pemecatan, kami tidak bisa berbuat banyak,tinggal menunggu
surat dari BKD setempat,” pungkas Yuhrunor.

(ali mustofa/imam arifin)


18. e-KTP di Lamongan Semerawut

Jumat, 20 Januari 2012 — 8:32 WIB

SURABAYA (Pos Kota)-Meski program e-KTP di Lamongan sudah di lounching, Namun


Pendataan e-KTP yang di mulai dengan surat pemberitahuan dari Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Lamongan masih semrawut. Pasalnya, dalam surat
pemberitahuan yang mencantumkan daftar anggota keluarga tersebut banyak kekeliruan.
Mulai dari kesalahan penulisan nama, tanggal lahir, bahkan ada anggota keluarga yang tak
masuk dalam daftar.

Heru Kuswandi, warga Desa Wanar Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan mengaku,
dalam surat pemberitahuan yang dikirimkan Disdukcapil terdapat beberapa kekeliruan.
Antara lain, kesalahan penulisan tanggal lahir dirinya. “Selain itu, anak saya yang
sebelumnya sudah masuk Kartu Keluarga (KK), ternyata dalam surat pemberitahuan justru
tidak masuk,” ujarnya, Jumat (20/1/2012).

Menurut Heru, kesalahan tersebut ternyata tak hanya terjadi pada surat pemberitahuan
Disdukcapil yang ia terima. Di desanya, ada ratusan warga lain yang mengeluhkan hal
serupa. Dimana, kesalahan pada surat pemberitahuan itu bukan hanya untuk satu anggota
keluarga. “Rata-rata, setiap KK terdapat tiga hingga lima kesalahan penulisan untuk anggota
keluarga mereka.”

Hal yang sama diungkapkan Komari. Menurut dia, dari tiga anggota keluarganya, dua
diantaranya terdapat kekeliruan penulisan tanggal lahir. Padahal, dalam KK yang diterbitkan
Disdukcapil sebelumnya data yang ada sudah benar. “Bukankah yang menerbitkan KK
maupun surat pemberitahuan itu adalah Disdukcapil Lamongan. Mengapa bisa berbeda?,”
tanya pria asal Desa Kemlagigede Kecamatan Turi ini.

Menurut Komari, yang membuat warga geram bukan hanya soal kesalahan-kesalahan dalam
surat pemberitahuan tersebut. Akibat kesalahan itu, lanjut dia, warga harus mengisi formulir
perbaikan dengan menempelkan materai Rp 6 ribu. Padahal, dalam satu keluarga, jumlah
kesalahan rata-rata lebih dari satu anggota keluarga.

“Coba Anda hitung, jika dalam satu KK kesalahannya ada dua, maka mereka harus membeli
dua materai dengan harga Rp 12 ribu. Jika kesalahan ini merata di Kabupaten Lamongan,
sudah berapa kerugian warga Lamongan,” urainya. “Kesalahan ini kan murni dari
Disdukcapil Lamongan, mengapa warga yang harus menanggung akibatnya,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Disdukcapil Kabupaten Lamongan Mursyid saat dikonfirmasi melalui
Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lamongan Anang Taufiq mengaku belum mengetahui
adanya polemik tersebut. Namun, ia berjanji bakal mengecek ke lapangan. “Saya belum tahu,
Mas. Biar saya cari informasi dan mengkonfirmasinya terlebih dahulu,” katanya.

HARUS BAYAR

Selain itu,pengurusan KTP di Lamongan, Kecamatan Sukodadi tepatnya Desa Madulegi


menggelisahkan warga.Pasalnya,warga yang hendak membuat KTP harus mengeluarkan
uang. Untuk pengambilan blanko di kantor desa Rp 7.000,-/per lembar dan di kantor
kecamatan Rp 3.000,-. Belum lagi, kalau mengurus KTP nitip sekretaris desa atau beberapa
pejabat desa. Saya tidak merasa keberatan mengeluarkan uang sebesar Rp 10.000,- tetapi
bukankah KTP adalah fasilitas dari pemerintah, mestinya gratis. Jangan-jangan nanti e-KTP
yang diterapkan di daerah ini harganya lebih mahal.

Bukan hanya pengurusan KTP, hampir setiap blanko yang disediakan oleh kantor kepala desa
harus mengeluarkan uang. Memang, warga di desa Madulegi tidak pernah protes dengan
peristiwa ini. Namun, hamper setiap warga yang sempat saya tanyai mereka menceritakan
biaya pembuatan KTP, ada yang dikenai biaya 25rb, 30rb, 35rb, dan macem-macem.
Tergantung siapa yang mengurusnya.

(nurqomar/sir)
19. Bapak Setrum Anak Sudah 4 Tahun Lakukan Penyetruman

Eko Sujarwo - detikNews

I
wan mengaku hanya sekali menyetrum, tapi polisi tak percaya itu (Foto: Eko
Sujarwo)

Lamongan - Iwan Kurniawan, pelaku penyetruman kepada anak dan istrinya, mengaku
hanya sekali melakukan perbuatannya itu. Namun istri Iwan menyangkal pengakuan itu.
Berapa kali Iwan melakukan penyetruman kepada anak dan istrinya?

"Tersangka mengaku hanya sekali melakukan perbuatan itu. Tetapi berdasarkan pengakuan
korban, aksi setrum ke istri dan anaknya ini sudah berlangsung lama, yaitu hampir 4 tahun,"
kata Kapolres Lamongan AKBP Feby DP Hutagalung kepada wartawan, Kamis (29/3/2018).

Dalam kurun waktu 4 tahun itu, kata Feby, korban tidak bisa memastikan jumlahnya. Yang
pasti, Iwan melakukan penyetruman saat emosinya sedang meluap-luap atau saat ia sedang
marah-marah.

"Berdasarkan pengakuan istri korban, ia sering disetrum kalau Iwan sedang marah-marah dan
selama 4 tahun memang kerap marah tanpa alasan yang jelas," kata Feby.

Rabu (28/3/2018) malam adalah puncaknya. Iwan yang merupakan PNS di Badan Pusat
Statistik (BPS) Lamongan menyetrum istri dan anaknya. Bahkan pria 41 tahun itu
menelanjangi anaknya sebelum disetrum.
Peristiwa Rabu malam itu menjadi pemicu istri Iwan untuk melaporkan kelakuan suaminya
ke polisi. Polisi pun merespon laporan itu dengan menangkap Iwan di tempat kerjanya.
20. 4 Siswa Jadi Tersangka Kasus Pengeroyokan Siswa MTS di Lamongan
Senin, 2 Mei 2016 14:55

shutterstock
Ilustrasi Aniaya

SURYA.co.id | LAMONGAN - Empat siswa Madrasah Tsanawiyah Sunan Drajad Sugio di

Kabupaten Lamongan selaku penganiaya Muhammad Ananda Prasetyo (15) statusnya

ditingkatkan sebagai tersangka.

Penetapan 4 tersangka, yakni Na'im, Ega, Firman dan Budi setelah penyidik memeriksa

beberapa siswa dan palaku.

"Hanya saja para tersangka tidak harus ditahan. Meski sudah ditetapkan

sebagai tersangka,"ungkap Paur Subbag Humas, Ipda Raksan, Senin (2/5/2016).

Meski sudah ada tersangka, penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Senin hari ini

masih mimintai keterangan beberapa saksi lagi, yakni siswa MTs.

Pemeriksaan terhadap saksi itu sebagai tambahan keterangan saja. Para siswa tidak datang

sendirian, mereka diantar salah satu pengajar.

Ditetapkannya 4 siswa sebagai tersangka karena ada bukti dan pengakuan telah menganiaya

korban.

Akibatnya korban terluka parah di bagian dalam organ tubuhnya dan harus dioperasi dengan

beberapa jahitan di tiga titik perutnya.

Ia selama ini memang sering dikompas dan dimintai uang oleh para pelaku.
Nah, pada kejadian terakhir, keempat kakak kelasnya itu kembali meminta uang, namun

korban menolak.

Sugio ini mengaku takut dengan perilaku para pelaku. Kalau minta uang dan tidak diberi,

kakak kelasnya itu selalu memukul.

Terkadang menendang kaki, menempeleng dan juga memukul semaunya.

Saat jam istirahat, korban langsung digelandang ke kelas yang sedang kosong karena semua

siswa keluar menikmati jam istirahat.

Ada teman korban, yakni saksi Zainal, Inarudin, Sahrul dan Doni diusir para pelaku untuk

keluar kelas.

Begitu para saksi keluar semua, korban diminta berdiri dengan kedua tangannya diangkat dan

dipegangi Na'im dan Ega.

Kemudian Firman dan Budi yang terus menghajar dengan menjadikan perut korban seperti

sansak petinju.

Ananda mengaku tidak pernah berani melawan para pelaku, karena mereka main keroyok dan

selalu melakukan kekerasan saat permintaannya tidak dikabulkan.

Yang jelas, dia sering menjadi korban tindakan kekerasan 4 teman kakak kelasnya itu, seperti

diberitakan Surya sebelumnya.

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul 4 Siswa Jadi Tersangka Kasus
Pengeroyokan Siswa MTS di Lamongan, http://surabaya.tribunnews.com/2016/05/02/4-
siswa-jadi-tersangka-kasus-pengeroyokan-siswa-mts-di-lamongan?page=2.
Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Yoni

Artikel ini telah tayang di surya.co.iddengan judul 4 Siswa Jadi Tersangka Kasus
Pengeroyokan Siswa MTS di Lamongan, http://surabaya.tribunnews.com/2016/05/02/4-
siswa-jadi-tersangka-kasus-pengeroyokan-siswa-mts-di-lamongan.
Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Yoni