Anda di halaman 1dari 5

NAMA: RISMA HALIM

USERNAME : 19081384010118
JAWABAN FORUM DISKUSI M3 KB4

1. Jelaskan dengan pendekatan teori humanisme ,tentang guru (sebagai pendidik), siswa, dan
tujuan pendidikan.
2. Jelaskan secara komprehensif pemikiran Arthur Combs tentang pendidikan
3. Jelaskan tentang piramida kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow
4. Apa yang harus dilakukan oleh guru jika hendak menerapkan teori humanistik dalam proses
pembelajaran
5. Jelaskan perbedaan antara teori konstruktivistik dengan teori humanistik

JAWAB:
1. Peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah menjadi fasilitator bagi para peserta
didiknya dengan cara memberikan motivasi dan memfasilitasi pengalaman belajar, dengan ,
menerapkan strategi pembelajaran yang membuat peserta didik aktif, serta menyampaikan
materinya pembelajaran yang sistematis (Sadulloh; 2008). Peran guru sebagai fasilitator adalah.

a. Memberi perhatian pada penciptaan suasana awal pembelajaran,

b. Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan sehingga meningkatkan peserta didik


untuk mengikuti pembelajaran dengan cara menerapakan metode pembalajaran yang
bervariasi,

c. Mengatur peserta didik agar bisa berkomunikasi secara langsung secara aktif dengan antar
teman selama proses pembelajaran,

d. Mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang palin luas dan
mudah dimanfaatkan para peserta didik untuk membantu mencapai tujuan mereka,

e. Menempatkan diri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan peserta
didik baik secara individu maupun kelompok (guru dijadikan tempat untuk bertanya
peserta didik tanpa peserta didik merasa takut),

f. Menanggapi dengan baik ungkapan-ungkapan didalam kelompok kelas dan menerima


baik isi yang bersifat intelektual (tidak penuh dengan kritikan sehingga memotifasi peserta
didik untuk mengekspresikan diri),

g. Bersikap hangat dan berusaha memahami perasaan peserta didik ( berempati) dan
meluruskan dianggap kurang relevan dengan cara yang santun,

h. Dalam pembelajaran secara kelompok , dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam
kelompok dan mencoba mengungkapkan perasaan serta pikirannya dengan tidak
menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh
saja digunakan atau ditolak oleh peserta didik,

i. Sebagai seorang manusia yang tidak selalu sempurna , guru mau mengenali, mengakui dan
menerima keterbatasan-keterbatasan diri dengan cara mau dan senang hati menerima
pandangan yang lebih baik dari peserta didik.

Siswa dalam pembelajaran humanisme berperan sebagai pelaku utama (student center) yang
memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri (Salahudin; 2011). Diharapkan siswa memahami
potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang
bersifat negatif.
Sedangkan Tujuan pembelajaran dalam pembelajaran humanisme lebih kepada proses
belajarnya daripada hasil belajar. Atau dapat juga diartikan dengan memanusiakan manusia.
Menurut Sadulloh adapun proses yang umumnya dilalui dalam teori Humanisme adalah.
a. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
b. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan
positif.
c. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif
sendiri
d. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
e. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri,
melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
f. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai
secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko
perbuatan atau proses belajarnya.
g. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai
secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko
perbuatan atau proses belajarnya.
h. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
i. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.

2. Pemikiran Arthur Combs tentang pendidikan


Teori belajar humanistik berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang
pelakunya. Salah satu tokoh yang ikut menyumbangkan pemikirannya dalam teori ini adalah
Arthur Combs. Ia bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mencurahkan banyak perhatian
pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan.
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu, guru tidak bisa mamaksakan materi yang tidak
disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah
bukan karena bodoh tetapi karena mereka tidak mau dan terpaksa serta merasa sebenarnya tidak
ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sesungguhnya tidak lain
hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan
kepuasan baginya.
Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan
kehidupan siswa. Guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia
persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha
merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.
Arthur Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi
bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana
mestinya. Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti 2 lingkaran
yang bertitik pusat satu: Lingkaran kecil adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan
besar. Lingkaran besar adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi
diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit
hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan. Jadi jelaslah mengapa banyak hal yang
dipelajari oleh murid segera dilupakan, karena sedikit sekali kaitannya dengan dirinya.
Arthur Combs menjelaskan untuk mengerti tingkah laku manusia, yang penting adalah
mengerti bagaimana dunia ini dilihat dari sudut pandangnya. Pernyataan ini adalah salah satu
dari pandangan humanistik mengenai perasaan, persepsi, kepercayaan, dan tujuan tingkah laku
inner (dari dalam) yang membuat orang berbeda dengan orang lain. Untuk mengerti orang lain,
yang penting adalah melihat dunia sebagai yang dia lihat, dan untuk menentukan bagaimana
orang berpikir, merasa tentang dia atau tentang dunianya. Combs menyatakan bahwa tingkah
laku menyimpang adalah “akibat yang tidak ingin dilakukan, tetapi dia tahu bahwa dia harus
melakukan”.
Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif
dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Meaning lah yang ditekankan dalam teori Arthur Combs ini. Belajar terjadi bila
mempunyai arti bagi individu, guru tidak bisa mamaksakan materi yang tidak disukai atau tidak
relevan dengan kehidupan mereka. Di sini guru harus peka terhadap siswanya. Kemudian guru
dituntut untuk mampu memotivasi dan memberikan atau bahkan mengubah pandangan siswanya
bahwa suatu pelajaran itu, yang semisal tidak disenangi siswa, akan memberikan manfaat
untuknya kelak. Dengan begitu diharapkan pada diri siswa akan muncul dorongan instrinsik
untuk belajar. Siswa bersedia belajar karena kesadaran dari dalam dirinya sendiri. Ia pun akan
menjadi siswa yang orientasinya tidak hanya sekedar pada nilai (skor) tetapi lebih kepada ilmu
pengetahuannya. Ia akan mampu memahami materi suatu pelajaran secara baik dan mendalam.
Karena meaning yang ditekankan dalam teori Arthur Combs, maka ini akan menjadi sulit
untuk diterapkan dalam semua jenjang pendidikan. Untuk jenjang SD misalnya, akan sulit untuk
diberi pandangan mengenai kebermanfaatan dari suatu pelajaran yang tidak disukainya. Ini akan
lebih mudah untuk diterapkan di jenjang sekolah menengah (terutama SMA) karena siswa pada
jenjang ini telah mampu untuk berpikir ke depan. Siwa tingkat sekolah menengah telah mampu
untuk memahami isi suatu materi pelajaran, sedangkan tingkat SD cenderung dengan model
hafalan dan belum mampu memahami isi secara mendalam.
Teori ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, (misal untuk pembelajaran Pendidikan Karakter) dan
analisis terhadap fenomena sosial (misal Sosiologi).
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajar daripada hasil belajarnya. Karena lebih
menitikberatkan pada prosesnya, maka siswa akan mampu memahami secara mendalam tentang
materi yang ia peroleh dari suatu pembelajaran. Artinya, ia akan benar-benar mendapatkan
ilmunya, orientasi utamanya adalah ilmu pengetahuan dan bukan hanya sekedar nilai.

3. piramida kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow

Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam menjaga
keseimbangan baik secara fisiologis maupun psikologis yang bertujuan untuk mempertahankan
kehidupan dan kesehatan.

Teori Hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow menyatakan bahwa setiap
manusia memiliki lima kebutuhan dasar, yaitu :

1. Kebutuhan Fisiologis, yang merupakan kebutuhan paling dasar pada manusia. Antara lain ;
pemenuhan kebutuhan oksigen dan pertukaran gas, cairan (minuman), nutrisi (makanan),
eliminasi, istirahat dan tidur, aktivitas, keseimbangan suhu tubuh, serta seksual.

2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan, dibagi menjadi perlindungan fisik dan perlindungan
psikologis. Perlindungan fisik, meliputi perlindungan dari ancaman terhadap tubuh dan
kehidupan seperti kecelakaan, penyakit, bahaya lingkungan, dll. Perlindungan psikologis,
perlindungan dari ancaman peristiwa atau pengalaman baru atau asing yang dapat
mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang.

3. Kebutuhan rasa cinta, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, memberi dan menerima
kasih sayang, kehangatan, persahabatan, dan kekeluargaan.

4. Kebutuhan akan harga diri dan perasaan dihargai oleh orang lain serta pengakuan dari orang
lain.
5. Kebutuhan aktualisasi diri, ini merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, yang
berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain atau lingkungan serta mencapai potensi
diri sepenuhnya.

4. Penerapan teori humanistik oleh guru dalam proses pembelajaran


Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada
dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan dalam konteks manapun akan
selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori humanistik ini masih
sukar diterjemahkan ke dalam langkah-langkah pembelajaran yang praktis dan operasional,
namun sumbangan teori ni amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan
yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakekat
kejiwaan manusia. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menentukan komponen-
komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan, penentuan materi, pemilihan strategi
pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi, ke arah pembentukan manusia yang dicita-
citakan tersebut.
Kegiatan pembelajaran yang dirancang secara sistematis, tahap demi tahap secara ketat,
sebagai mana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan secara eksplisit dan dapat
diukur, kondisi belajar yang dapat diatur dan ditentukan, serta pengalaman-pengalaman belajar
yang dipilih untuk siswa, mungkin saja berguna bagi guru tetapi tidak berarti bagi siswa (Rogers
dalam Snelbecker, 1974). Hal tersebut tidak sejalan dengan teori humanistik. Menurut teori ini,
agr belajar bermakna bagi siswa, diperlukan insiatif dan keterlibatan penuh dari siswa sendiri.
Maka siswa akan mengalami belajar eksperiensial (experiential learning).
Dalam prakteknya teori humanistik ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir
induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam
proses belajar. Oleh sebab itu, walaupun secara ekspilsit belum ada pedman baku tantang
langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan humanistik, namun paling tidak langkah-
langkah pembelajaran dengan pendekatan humanistik, namun paling tidak langkah-langkah
pembelajaran yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digumakan
sebagi acuan. Langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagi berikut :

a. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.


b. Menentukan materi pembelajaran.
c. Mengidentifikasi kemampuan awal (entri behvior) siswa.
d. Mengidentifikasi topik-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan
diri atau mengalami dalam belajar.
e. Merancang fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran.
f. Membimbing siswa belajar secara aktif.
g. Membimbing siswa untuk memahami hakikat makna dari pengalaman belajarnya.
h. Membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya.
i. Membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru ke situasi nyata.
j. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

5. perbedaan antara teori konstruktivistik dengan teori humanistik


Teori Konsrtuktivisme
Teori kontruktivisme adalah sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan
mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Salah satu teori atau pandangan yang sangat
terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental
Piaget yang merupakan bagian dari teori kognitif juga. Piaget menegaskan bahwa penekanan
teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari
realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai
fasilitator atau moderator. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih
mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan
akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya.

Teori humanisme
Teori humanisme merupakaan konsep belajar yang lebih melihat pada sisi perkembangan
kepribadian manusia. Berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan
kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Teori humanisme
ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, daan analisis terhadap fenomena social.
Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.