Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM HISTOLOGI

SISTEM GENITALIA MASKULINA dan FEMINA

BLOK UROREPRO I

Nama : Atiya Fasya

NIM : 018.06.0009

Kelas :B

Kelompok : 1 (satu)

Modul : Urorepro I

Dosen : Rusmiatik, S.Si., M.Biomed.

dr. Rizki Mulianti, S.Ked.


LABORATORIUM TERPADU 1

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM AL-AZHAR

MATARAM

2018/2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Salah satu ciri makhluk hidup adalah berkembang biak, atau melakukan
reproduksi. Reproduksi melibatkan suatu sistem dalam tubuh, yaitu sistem
reproduksi. Sistem reproduksi melibatkan organ reproduksi. Tujuan utama makhluk
hidup melakukan reproduksi adalah untuk melestarikan jenisnya agar tidak punah.
Apa yang akan terjadi dengan manusia misalnya, jika tidak bisa melakukan
reproduksi? Tentu lama kelamaan manusia akan punah.

Kemampuan reproduksi tergantung pada hubungan antara hypothalamus,


hipofisis bagian anterior, organ reproduksi, dan sel target hormon. Proses biologis
dasar termasuk perilaku seksual dipengaruhi oleh faktor emosi dan sosiokultural
masyarakat. Di sini, yang akan difokuskan adalah fungsi dasar seksual sistem
reproduksi di bawah kontrol syaraf dan hormon.

Sistem reproduksi meliputi kelenjar (gonad) dan saluran reproduksi. Organ


reproduksi primer atau gonad terdiri dari sepasang testes pada pria dan sepasang
ovarium pada wanita. Gonad yang matang berfungsi menghasilkan gamet
(gametogenesis) dan menghasilkan hormon seks, khususnya testosteron pada pria dan
estrogen & progesteron pada wanita. Setelah gamet diproduksi oleh gonad, ia akan
melalui saluran reproduksi (sistem duktus). Pada wanita juga terdapat payudara yang
termasuk organ pelengkap reproduksi. Bagian eksternal sistem reproduksi sering juga
disebut genitalia eksternal.

Seiring perkembangan teknologi dan zaman, reproduksi juga merupakan objek


utama untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sebagai contoh, manusia
mengembangkan teknologi reproduksi berupa bayi tabung untuk mengatasi masalah
pasangan suami istri yang tidak memiliki anak dan juga inseminasi buatan pada
hewan untuk memperoleh keturunan hewan yang diinginkan. Selain perkembangan
teknologi, kita juga sering mendengar atau membaca informasi mengenai berbagai
penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi. Berbagai penyakit sistem
reproduksi ini tentunya harus kita cegah agar manusia tetap dapat memperoleh
keturunan. Satu hal yang penting bagi generasi muda adalah menjaga kesehatan
reproduksi agar tidak terkena penyakit pada sistem reproduksi.

1.2 TUJUAN

a. Mahasiswa mampu mengetahui jaringan pada sistem genitalia maskulina.

b. Mahasiswa mampu mengetahui struktur-struktur jaringan pada sistem genitalia


maskulina.

c. Mahasiswa mampu mengetahui jaringan pada sistem genitalia femina.

d. Mahasiswa mampu mengetahui struktur-struktur jaringan pada sistem genitalia


femina.

1.3 MANFAAT
a. Memahami jaringan pada sistem genitalia maskulina.

b. Memahami struktur-struktur jaringan pada sistem genitalia maskulina.

c. Memahami jaringan pada sistem genitalia femina.

d. Memahami struktur-struktur jaringan pada sistem genitalia femina.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 GENITALIA MASKULINA

Sistem reproduksi pria terdiri atas sepasang testis, banyak duktus eksretorius, dan
berbagai kelenjar tambahan yang menghasilkan berbagai macam sekresi yang
ditambahkan ke sperma untuk membentuk semen. Testis mengandung sel induk
spermatogenik yang secara terus menerus membelah untuk menghasilkan generasi sel
baru yang akhirnya berubah menjadi spermatozoa, atau sperma (spermatozoon). Dari
testis, sperma bergerak melalui duktus ekskretorius menuju epididimis untuk
disimpan dan dimatangkan. Selama rangsangan seksual dan ejakulasi, sperma
meninggalkan epididimis melalui duktus (vas) deferens dan keluar dari sistem
reproduksi melalui uretra penis. Kelenjar tambahan terdiri dari prostat, vesikula
seminalis, dan kelenjar bulbouretra.

2.1.1 Testis

Setiap testis dikelilingi oleh simpai tebal jaringan ikat kolagen, yaitu tunica
albuginea. Tunica albuginea menebal pada permukaan posterior testis dan
membentuk mediastinum testis, tempat septa fibrosa mempenetrasi organ tersebut
dan membagi kelenjar menjadi sekitar 250 kompartemen piramid atau lobulus
testis. Septa ini tidak kontinu, dan sering terbentuk hubungan antar lobulus.
Setiap lobulus dihuni oleh satu sampai empat tubulus seminiferus yang dikelilingi
jaringan ikat longgar interstisial yang banyak mengandung pembuluh darah dan
limfe, saraf, dan sel interstisial (sel Leydig) endokrin yang menyekresi
testosteron. Tubulus seminiferus menghasilkan sel reproduksi pria, yaitu
spermatozoa, sedangkan sel interstisial menyekresikan androgen testis. Testis
berkembang secara retroperitoneal pada dinding dorsal rongga abdomen
embrional. Testis bergerak selama perkembangan fetus dan akhirnya tertahan di
kedua sisi skrotum pada ujung funiculus spermaticus. Karena bermigrasi dari
rongga abdomen, setiap testis membawa serta suatu kantong serosa, yakni tunica
vaginalis, yang berasal dari peritoneum. Tunika ini terdiri atas lapisan parietal di
luar dan lapisan viseral di sebelah dalam, yang membungkus tunica albuginea
pada sisi anterior dan lateral testis.

Suhu sangat penting pada pengaturan spermatogenesis, yang hanya terjadi di


bawah suhu tubuh inti sebesar 37'C. Suhu testis sekitar 34'C dipertahankan dalam
kantong testis melalui berbagai mekanisme. Setiap a. testicularis dipertahankan
oleh pleksus vena pampiniformis dengan darah dingin dari testis yang menarik
panas dari darah arteri melalui suatu sistem pertukaran panas ba1ik. Evaporasi
keringat dari skrotum juga berkontribusi pada pengeluaran panas. Relaksasi atau
kontraksi m. dartos skrofum dan m. cremaster funiculus spermaticus, masing-
masing, menggerakkan testis menjauhi atau mendekati tubuh, yang
memungkinkan pengaturan suhu tubuh lebih lanjut.

2.1.2 Tubulus Seminiferus

Sperma dihasilkan dalam tubulus seminiferus dengan laju sekitar 2 x 108 per
hari pada pria dewasa. Setiap testis memiliki 250-1000 tubulus seminiferus di
lobulusnya, dengan setiap tubulus seminiferus yang berdiameter sekitar 150-250
µm dan panjang 30-70 cm. Panjang gabungan seluruh tubulus pada satu testis
mencapai sekitar 250 m. Setiap tubulus ini merupakan suatu gelung berkelok
yang dihubungkan oleh suatu segmen pendek dan sempit, yaitu tubulus rektus,
dengan rete testis, yakni suatu labirin saluran berlapis-epitel yang tertanam di
mediastinum testis. Sepuluh hingga dua puluh ductulus efferen menghubungkan
rete testis dengan caput epididymidis.

Setiap tubulus seminiferus dilapisi oleh suatu epitel berlapis khusus dan
kompleks yang disebut epitel germinal atau epitel seminiferus. Membran basal
epitel ini dilapisi oleh jaringan ikat fibrosa, dengan suatu lapisan terdalam yang
mengandung sel-sel mioid gepeng dan menyerupai otot polos yang
memungkinkan kontraksi lemah tubulus Sel-sel interstisial berada pada iaringan
ikat di antara tubuli seminiferus.

Epitel tubulus seminiferus terdiri atas dua jenis sel: sel penyokong atau
sustentakular (sel Sertoli) dan sel-sel proliferatif dari garis keturunan
spermatogenik. Sel-sel turunan spermatogenik membentuk empat sampai delapan
lapisan konsentris sel dan fungsinya adalah menghasilkan sel yang menjadi
sperma. Bagian produksi sperma yang mencakup pembelahan sel melalui mitosis
dan meiosis disebut spermatogenesis. Diferensiasi akhir sel benih pria haploid
disebut spermiogenesis.

a. Spermatogenesis
Spermatogenesis dimulai saat pubertas dengan se1 benih primitif, yaitu
spermatogonium (Yun. sperma + gone, generasi), relatif merupakan sel bulat
kecil dengan diameter sekitar 12 µm. Sel ini berada di bagian basal epitel dekat
membran basal dan berbagai tahap perkembangannya dikenali terutama dari
bentuk dan sifat pulasan intinya. Pada saat terjadinya pematangan sistem
kelamin, sel ini mulai mengalami mitosis, dan menghasilkan generasi sel-sel
yang baru. Spermatogonia dengan inti ovoid dan gelap bertindak sebagai sel
punca, yang tidak sering membelah dan membentuk sel punca baru dan se1
dengan inti ovoid yang terpulas lebih pucat, yang membelah lebih cepat sebagai
sel transit (progenitor) penguat. Spermatogonia tipe A masing-masing mengalami
sejumlah pembelahan klonal khusus yang tetap saling terhubung sebagai suatu
syncytium, dan membentuk spermatogonia tipe B yang memiliki inti pucat yang
lebih sferis.

Setiap spermatogonium tipe B mengalami pembelahan mitosis akhir dan


membentuk dua sel yang ukurannya bertambah dan menjadi spermatosit primer,
yang merupakan sel sferis dengan inti eukromatik. Spermatosit primer
mereplikasi DNAnya sehingga setiap kromosom terdiri atas kromatid ganda dan
mengalami mitosis dan selama mitosis ini, kromosom homolog berkumpul
bersama dalam sinaps, rekombinasi DNA terjadi dan dua pembelahan se1 cepat
menghasilkan sel haploid; spermatosit primer memiliki 46 kromosom (44+XY),
jumlah diploid dan kandungan DNA sebesar 4N. (N menunjukkan susunan
haploid kromosom sebanyak 23 pada manusia atau jumlah DNA dalam susunan
ini). Segera setelah terbentuk, sel-sel ini memasuki tahap profase meiosis pertama
yang berlangsung sekitar 22 hari. Kebanyakan spermatosit primer yang terlihat
pada potongan ini berada pada tahap meiosis. Spermatosit primer merupakan sel
terbesar pada garis keturunan spermatogenik dan ditandai dengan keberadaan
kromosom yang mengalami kondensasi parsial dalam berbagai tahap sinapsis dan
rekombinasi.

Kromosom homolog berpisah pada pembelahan meiosis pertama dan


menghasilkan sel berukuran lebih kecil yang disebut spermatosit sekunder
dengan hanya 23 kromosom (22 + X atau 22 + Y ), tetapi masing-masing terdiri
atas dua kromatid sehingga jumlah DNA menjadi 2N. Spermatosit sekunder
jarang diamati dalam sediaan testis karena merupakan sel berumur-pendek yang
berada dalam tahap interfase yang sangat singkat dan dengan cepat memasuki
pembelahan meiosis kedua. Pembelahan setiap spermatosit sekunder memisahkan
kromatid di setiap kromosom dan menghasilkan dua sel haploid yang disebut
spermatid, yang masing-masing mengandung 23 kromosom. Karena tidak ada
fase-S (replikasi DNA) yang terjadi antara pembelahan meiosis pertama dan
kedua, jumlah DNA per sel berkurang setengah ketika kromatid berpisah dan sel
yang terbentuk bersifat haploid (1N). Dengan fertilisasi, ovum dan sperma
haploid yang dihasilkan oleh meiosis bersatu dan jumlah diploid normal untuk
spesies dipertahankan.

b. Spermiogenesis

Spermiogenesis merupakan tahap akhir produksi sperma dan merupakan


proses transformasi spermatid menjadi spermatozoa, yaitu sel yang sangat
dikhususkan untuk menyampaikan DNA pria kepada ovum. Tidak terjadi
pembelahan sel selama proses ini berlangsung. Spermatid dapat dikenali dari
ukurannya yang kecil (diameter 7-8 µm), inti haploid dengan daerah kromatin
padat dan posisinya berada dekat dengan lumen tubulus seminiferus.
Spermiogenesis mencakup pembentukan akrosom (Yun. akron, ekstremitas, +
soma, tubuh), kondensasi dan pemanjangan inti, pembentukan flagelum, dan
hilangnya sebagian besar sitoplasma. Hasil akhirnya adalah spermatozoa matang,
yang kemudian dilepaskan ke dalam lumen tubulus seminiferus. Spermiogenesis
dapat dibagi menjadi tiga fase :

 Selama fase Golgi awal, sitoplasma spermatid mengandung apparatus


Golgi yang mencolok di dekat inti, mitokondria, sepasang sentriol,
ribosom bebas dan tubulus RE halus. Vesikel proakrosom kecil
berkumpul dalam apparatus Golgi kemudian menyatu membentuk satu
tudung akrosom berbatas-membran yang berada dekat dengan satu ujung
inti. Sentriol bermigrasi ke posisi di dekat permukaan sel dan berhadapan
dengan akrosom yang sedang terbentuk. Satu sentriol bertindak sebagai
suatu badan basal, yang berperan menyusun aksonema berflagelum
dengan struktur yang serupa dengan struktur silium.
 Selama fase akrosom, tudung akrosom, atau akrosom, menyebar untuk
menutupi belahan anterior inti yang memadat. Akrosom adalah suatu tipe
khusus lisosom yang mengandung sejumlah enzim hidrolitik, termasuk
hialuronidase, neuraminidase, fosfatase asam, dan suatu protease yang
mirip-tripsin yang disebut akrosin. Enzim-enzim ini dilepaskan ketika
spermatozoa bertemu dengan oosit dan membran luar akrosom menyafu
dengan membran plasma sperma. Enzim ini menguraikan sel corona
radiata dan mencerna zona pellucida, kedua struktur yang menyelubungi
sel telur. Proses ini, yakni reaksi akrosom, adalah salah satu langkah awal
dalam pembuahan.
Juga selama fase spermiogenesis ini, inti spermatid akan terorientasi ke
arah basis sel Sertoli dan aksonema terjulur ke dalam lumen tubulus.
Selain itu, inti menjadi lebih panjang dan lebih padat, dengan histon yang
nukleosom yang digantikan oleh peptida basa kecil yang disebut
protamin. Pertumbuhan flagela berlanjut dan mitokondria berkumpul di
sekitar bagian proksimal flagelum, dan membentuk bagian tebal yang
dikenal sebagai bagian tengah, yaitu tempat pembentukan ATP untuk
membangkitkan pergerakan flagela spermatozoa. Seperti pada silia,
pergerakan flagela timbul dari interaksi mikrotubulus, ATR dan dinein,
suatu protein dengan aktivitas ATPase.
 Selarna fase maturasi akhir spermiogenesis, sitoplasma yang tidak
diperlukan dibuang sebagai suatu badan residu dari setiap spermatozoa
dan difagositosis oleh sel Sertoli. Spermatozoa matang lalu dilepaskan ke
dalam lumen tubulus.

2.1.3 Ductus Intratesticularis


Duktus genital intratestis adalah tubulus lurus (tubuli recti), rete testis,
dan ductuli efferentes. Duktus-duktus tersebut membawa spermatozoa dan cairan
dari tubulus seminiferus ke ductus epididymidis.
Kebanyakan tubulus seminiferus terdapat dalam bentuk lengkungan, dan
kedua ujungnya berhubungan dengan rete testis oleh tubulus rektus yang pendek.
Tubulus ini dikenali oleh hilangnya sel spermatogenik secara berangsur, dengan
bagian awal dengan dinding yang hanya dilapisi sel Sertoli, yang diikuti ruas
utama yang terdiri atas epitel kuboid yang ditunjang oleh selubung jaringan ikat
padat. Semua tubulus rekfus mencurahkan isinya ke dalam rete testis, suatu
jalinan saluran yang saling terhubung dan dilapisi epitel kuboid. Saluran di rete
testis terbenam dalam jaringan ikat mediastinum. Rete testis bermuara ke dalam
sekitar 20 ductuli efferentes. Ductuli efferentes dilapisi epitel khas dengan
kelompok sel kuboid tak bersilia yang diselingi sel bersilia yang lebih tinggi. Hal
ini memberikan epitel tersebut gambaran bergelombang yang khas. Sel tak
bersilia mengabsorpsi sebagian besar cairan yang disekresikan oleh tubulus
seminiferus. Aktivitas sel bersilia dan absorpsi cairan menimbulkan aliran cairan
yang menyapu sperma ke arah epididimis. Suatu lapisan tipis sel otot polos
sirkular tampak di luar lamina basal epitel yang membantu pergerakan sperma.
Ductuli efferentes bermuara ke dalam ductus epididymidis.

2.1.2 Ductus Genital Ekretorik


Duktus genital ekskretorik mencakup ductus epididymidis, ductus
deferens (vas deferens), dan uretra. Saluran-saluran tersebut mengangkut sperma
dari epididimis ke penis selama ejakulasi.
Ductus epididymidis adalah saluran tunggal yang sangat berkelok dengan
panjang sekitar 4-5 m. Bersama dengan simpai jaringan ikat dan pembuluh darah
di sekitarnya, saluran panjang ini membentuk caput, corpus, dan cauda
epididymidis, yang berjalan di sepanjang sisi superior dan posterior setiap testis.
Sperma disimpan pada epididimis dan memperoleh karakteristik akhirnya di
tempat tersebut termasuk motilitas, reseptor membran untuk protein zona
pellucida; pematangan akrosom, dan kemampuan membuahi. Ductuli efferentes
bergabung dengan duktus pada caput epididymidis dan bermuara ke dalam ductus
(vas) deferens di cauda. Ductus epididymidis dilapisi epitel kolumnar bertingkat
yang terdiri atas sel basal bulat dan sel kolumnar dengan mikrovili panjang
iregular bercabang yang disebut stereosilia. Sel epitel ductus epididymidis
menyerap air dan berperan pada ambilan dan pencernaan badan residu yang
dihasilkan selama spermiogenesis. Sel-sel ini ditunjang pada lamina basal yang
dikelilingi oleh sel otot polos, dengan kontraksi peristalsisnya mengerakkan
sperma di sepanjang duktus tersebut, dan oleh jaringan ikat longgar yang kaya
akan kapiler.
Dari epididimis, ductus (vas) deferens, suatu tubulus lurus panjang
berdinding otot tebaf berlanjut ke arah urethra pars prostatica dan bermuara ke
dalamnya. Ductus deferens ditandai dengan lumen yang sempit dan lapisan otot
polos tebal. Mukosanya terlipat memanjang dan sebagian besar dilapisi epitel
bertingkat kolumnar dengan sebaran stereosilia. Lamina propria banyak
mengandung serat elastin dan lapisan muscularis yang terdiri atas lapisan
longitudinal luar dan dalam dan lapisan sirkular. Selama ejakulasi otot-otot
menghasilkan kontraksi peristaltik kuat yang secara cepat menggerakkan sperma
di sepanjang duktus ini dari epididimis. Ductus deferens membentuk bagian
funiculus spermaticus, yang mencakup a. testicularis, plexus pampiniformis, dan
saraf. Setelah melalui kandung kemih, ductus deferens melebar membentuk
ampula, dengan epitel yang lebih tebal dan terlipat-lipat. Di bagian akhir ampula
ini, vesicula seminalis bergabung dengan duktus. Dari tempat ini, ductus deferens
memasuki kelenjar prostat dan bermuara ke dalam urethra prostatica. Segmen
yang memasuki prostat disebut ductus ejaculatorius. Mukosa ductus deferens
berlanjut melalui ductus ejaculatorius, tetapi lapisan otot menghilang di belakang
ampula.

2.1.2 Kelenjar Tambahan


Kelenjar tambahan saluran reproduksi pria menghasilkan sekret yang
ditambahkan ke dalam sperma selama ejakulasi untuk menghasilkan semen dan
penting untuk reproduksi. Kelenjar genital tambahan meliputi vesicula seminalis,
kelenjar prostat, dan kelenjar bulbouretra.
Kedua vesicula seminalis terdiri atas saluran sepanjang sekitar 15 cm
yang sangat berkelok. Mukosa khas memperlihatkan sejumlah besar lipatan tipis
kompleks yang mengisi sebagian besar lumen. Lipatan ini dilapisi oleh selapis
epitel kolumnar atau epitel kolumnar bertingkat yang banyak memiliki granula
sekretoris. Lamina propria mengandung serat elastin dan dikelilingi otot polos
dengan lapisan sirkular dalam dan longitudinal luar. Vesicula seminalis
merupakan kelenjar eksokrin yang memproduksi sekret kental kekuningan yang
mengandung fruktosa, sitrat, inositol, prostaglandin, fibrinogen, serta enzim dan
protein lain. Komponen semen tersebut, yang biasanya membentuk sekitar 70%
ejakulat, memberikan sumber energi nutrien untuk sperma/ mengkoagulasikan
semen setelah ejakulasi, dan memengaruhi aktivitas saluran reproduksi wanita.
Tinggi sel epitel vesicula seminalis dan derajat aktivitas sekresinya bergantung
pada kadar testosteron yang adekuat.
Kelenjar prostat merupakan suatu organ padat yang mengelilingi urethra
di bawah kandung kemih. Kelenjar ini berukuran sekitar 2 cm x 3 cm x 4 cm dan
berat sekitar 20 g. Prostat merupakan suatu kumpulan 30-50 kelenjar
tubuloalveolar yang bercabang, yang kesemuanya dikelilingi oteh stroma
fibromuskular padat yang dilapisi oleh suatu simpai. Kelenjar tersebut tersusun
berupa lapisan konsentris di sekitar urethra: lapisan internal kelenjar mukosa,
lapisan intermedia kelenjar submukosa, dan lapisan perifer dengan kelenjar
utama prosta. Duktus dari setiap kelenjar dapat bersatu tetapi kesemuanya
bermuara langsung ke dalam urethra pars prostatica, yang menembus bagian
pusat prostat. Prostat mempunyai tiga zona yang sesuai dengan lapisan kelenjar:
 Zona transisi menempati sekitar 5% volume prostat, mengelilingi
urethra prostatica, dan memiliki kelenjar mukosa yang bermuara
langsung ke dalam urethra.
 Zona sentral menempati 25% volume kelenjar dan memiliki kelenjar
submukosa dengan duktus yang lebih panjang.
 Zona perifer menempati sekitar 70ok prostat dan memiliki kelenjar
utama dengan duktus yang lebih panjang. Kelenjar area ini
merupakan tempat tersering timbulnya peradangan dan kanker.
Kelenjar tubuloalveolar prostat dibentuk oleh selapis epitel silindris atau
epitel bertingkat silindris. Getah kelenjar prostat mengandung berbagai
glikoprotein dan enzim dan menyimpan getah ini untuk dikeluarkan selama
ejakulasi. Sejumlah besar stroma fibromuskular mengelilingi kelenjar tersebut.
Prostat dikelilingi oleh suatu simpai fibroelastis. Septa dari simpai ini
mempenetrasi kelenjar dan bercabang menjadi lobuslobus tersendiri. Seperti
vesicula seminalis, struktur dan fungsi prostat bergantun[ pada kadar testosteron.
Badan sferis kecil yang berdiameter 0,2-2 mm dan sering mengalami kalsifikasi,
sering dijumpai dalam lumen kelenjar prostat. Badan bulat ini disebut corpora
amylaceum atau konkremen prostat darr terutama mengandung deposit
glikoprotein dan glikosaminoglikan sulfat (GAG), terutama keratan sulfat.
Jumlahnya meningkat seiring pertambahan usia tetapi tampaknya tidak memiliki
makna fisiologis atau klinis. Pasangan kelenjar bulbouretra (kelenjar Cowper)
yang berdiameter 3-5 mm, terletak pada diafragma urogenital dan bermuara ke
dalam bagian proksimal urethra penis. Setiap kelenjar memiliki sejumlah lobulus
dengan unit sekretoris tubuloalveolar yang dilapisi oleh epitei kolumnar selapis
penyekresi-mukus yang bergantung pada testosteron. Septa di antara lobulus
mengandung sel otot polos. Selama ereksi, kelenjar bulbourethra, serta sejumlah
besar kelenjar urethra kecil yang serupa di sepanjang urethra, melepaskan sekret
jernih yang menyerupai mukus dan mengandung berbagai karbohidrat kecil yang
menyelubungi dan melumasi lapisan urethra sebagai persiapan pasase sperma
sum-terletak di urethra dan mengelilingi urethra. Corpus spongiosum urethra
melebar di bagian ujung, yang membentuk glans penis. Sebagian besar urethra
penis dilapisi oleh epitel bertingkat silindris. Pada glans, epitel ini menjadi epitel
berlapis gepeng dan bersambung dengan epitel epidermis tipis yang melapisi
glans. Kelenjar urethra kecil penyekresi-mukus (kelenjar Littre) terdapat di
sepanjang urethra penis. Pada pria yang tidak disunat, permukaan glans dilapisi
oleh prepusium, suatu lipatan retraktil kulit tipis dengan kelenjar sebasea pada
lipatan internal. Corpora cavernosa dibungkus oleh lapisan jaringan ikat padat
kuat yaitu tunica albuginea. Corpora cavernosa dan corpus spongiosum terdiri
atas jaringan erektil, yang mengandung sejumlah besar ruang kavernosa bervena
yang dilapisi sel-sel endotel dan dipisahkan oleh trabekula yang terdiri atas serat
jaringan ikat dan sel otot polos. Pendarahan arteri penis diperoleh dari a. pudenda
interna, yang membenfuk asal a. profunda dan a. dorsalis penis. Arteria profunda
bercabang membenfuk arteri nutritif ke trabekula dan aa. helicinae bergelung,
yang bermuara langsung ke dalam ruang-ruang kavernosa pada jaringan erektil.
Terdapat pirau arteriovenosa di antara aa. helicinae dan v. dorsalis profunda.
Ereksi penis melibatkan pengisian ruang kavernosa di corpora cavernosa dan
corpus spongiosum dengan darah. Hal ini dimulai dengan rangsang eksternal ke
SSP dan diatur oleh input saraf autonom ke otot polos pada dinding vaskular
penis. Stimulasi parasimpatis melemaskan otot di trabekula dan melebarkan aa.
helicinae yang menimbulkan peningkatan aliran darah ke dalam ruang kavernosa.
Ruang yang terisi menekan venula dan vena ke tunica albuginea yang padat
sehingga menghambat aliran darah dan menimbulkan pembengkakan dan
kekakuan pada batangiaringan erektil. Dimulai dengan ejakulasi, pelepasan saraf
simpatis merangsang konstriksi aa. helicinae, yang mengurangi aliran darah ke
dalam ruang tersebut dan menurunkan tekanan di tempat ini dan memungkinkan
pembukaan vena dan mengalirkan sebagian besar darah dari jaringan erektil.

2.2 GENITALIA FEMINA

Sistem reproduksi wanita terdiri dari sepasang ovarium, sepasang tuba uterina
(fallopiian tube), dan satu uterus. Di sebelah inferior dari uterus dan dipisahkan oleh
serviks yaitu vagina. Selama masa subur, organ reproduksi wanita memperlihatkan
perubahan siklis bulanan dalam struktur dan fungsinya. Perubahan-perubahan ini
membentuk daur haid (siklus menstruasi). Munculnya daur haid pertama pada wanita
yang beranjak dewasa disebut menarke. Ketika siklus menjadi tidak teratur dan
akhirnya berhenti, fase ini disebut menopause. Daur haid terutama dikontrol oleh dua
hormon yang disekresi oleh adenohipofisis di kelenjar pituitaria, follicle-stimulating
hormone (FSH) dan luteinizing honnone (LH), dan oleh dua hormon steroid ovarium,
estrogen dan progesteron. Pengeluaran FSH dan LH dari kelenjar hipofisis dikontrol
oleh hormon pelepas yang disekresi oleh neuron-neuron di hipotalamus. Masing-
masing organ sistem reproduksi wanita melakukan banyak fungsi penting, meliputi
pengeluaran hormon seks wanita (estrogen dan progesteron) untuk perkembangan
karakteristik seks wanita, pembentukan oosit, penyesuaian lingkungan untuk
pembuahan oosit di tuba uterina, pengangkutan embrio ke uterus dan implantasinya,
nutrisi dan perkembangan janin selama kehamilan, dan nutrisi bayi baru lahir. Pada
manusia, folikel ovarium matang mengeluarkan sel telur imatur yang disebut oosit ke
dalam tuba uterina kira-kira setiap 28 hari. Oosit tetap hidup di dalam saluran
reproduksi wanita sekitar 24 jam, yang oosit selanjutnya mengalami degenerasi jika
tidak dibuahi. Perubahan atau pematangan oosit imatur menjadi sel telur matang atau
ovum terjadi pada saat pembuahan, ketika sperma menembus oosit.

2.1.1 Ovarium

Ovarium adalah struktur lonjong yang rata berada jauh di dalam rongga
panggul. Satu bagian ovarium melekat pada ligamentum latum uteri melalui
lipatan peritoneum yang disebut mesovarium dan bagian lainnya ke dinding
uterus melalui ligamentum ovarii proprium. Permukaan ovarium dilapisi oleh
satu lapisan sel yaitu epitel germinal yang terletak di atas jaringan ikat padat tidak
teratur tunika albuginea. Di bawah tunika albuginea terdapat korteks ovarium.
Jauh di dalam korteks yaitu bagian tengah jaringan ikat ovarium dengan banyak
pembuluh darah, medula. Tidak terdapat batas yang jelas antara korteks dan
medula, dan kedua bagian ini menyatu.

Selama perkembangan embrionik, sel germinalis menempati gonadal ridge,


berdiferensiasi menjadi oogonia, membelah secara mitosis, dan kemudian masuk
ke fase pertama pembelahan meiosis tanpa menuntaskannya. Sel-sel ini terhenti
pada tahap perkembangan ini dan sekarang disebut oosit primer (oocytus
primarius). Folikel primordial (folliculus primordialis) juga terbentuk selama
kehidupan janin dan terdiri dari satu oosit primer yang dikelilingi oleh satu
lapisan sel folikular gepeng. Dimulai saat pubertas dan di bawah pengaruh
hormon hipofisis, folikel primordial tumbuh dan membesar untuk menjadi folikel
primer (folliculus primarius), sekunder (folliculus secundarius), dan matur
(folliculus maturus), yang dapat tersebar di korteks dan meluas jauh ke dalam
medula ovarium. Korteks ovarium biasanya berisi banyak folikel ovarium dalam
berbagai tahap perkembangan.

Selain itu, ovarium mengandung korpus luteum yang besar dari folikel yang
mengalami ovulasi dan korpus albikans dari korpus luteum yang mengalami
degenerasi. Folikel ovarium dalam berbagai tahap perkembangan (primordial,
primer, sekunder, dan matur) juga dapat mengalami suatu proses degenerasi yang
disebut atresia, dan sel degeneratif atretik kemudian ditelan oleh makrofag.
Atresia folikel terjadi sebelum lahir dan berlanjut selama masa subur.

2.1.2 Tuba Uterina (Fallapian fube)

Masing-masing tuba uterina memiliki panjang sekitar 12 cm dan terbentang


dari ovarium ke uterus. Salah satu ujung tuba uterina menembus dan terbuka ke
dalam uterus; ujung yang lain terbuka ke dalam rongga peritoneum dekat
ovarium. Tuba uterina biasanya dibagi menjadi empat regio yang kontinu. Bagian
yang paling dekat dengan ovarium adalah infundibulum bentuk-corong. Dari
infundibulum terjulur prosesus kecil mirip-jari yaitu fimbriae (tunggal, fimbria)
yang berada dekat dengan ovarium. Infundibulum bersambungan dengan regio
kedua, ampulla, bagian terlebar dan terpanjang. Ismus (isthmus) sempit dan
pendek, dan menghubungkan setiap tuba uterina ke uterus. Bagian akhir tuba
uterina adalah pars uterina (intramural region). Bagian ini menembus dinding
tebal uterus dan bermuara ke dalam rongga uterus.

2.1.3 Uterus

Uterus manusia adalah organ berbentuk-buah pir dengan dinding berotot


tebal. Badan atau korpus membentuk bagian utama uterus. Bagian atas uterus
yang membulat dan terletak di atas pintu masuk tuba uterina disebut fundus.
Bagian bawah uterus yang lebih sempit dan terletak di bawah korpus adalah
serviks (cervix). Serviks menonjol dan bermuara ke dalam vagina.

Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan: perimetrium di sebelah luar yang
dilapisi oleh serosa atau adventisia; lapisan otot polos yang tebal yaitu
miometrium (myometrium); dan endometrium di sebelah dalam. Endometrium
dilapisi oleh epitel selapis yang turun ke dalam lamina propria untuk membentuk
banyak keleniar uterus (glandulae uterinae).

Endometrium umumnya dibagi menjadi dua lapisan fungsional, stratum


functionale di luminal dan stratum basale di basal. Pada wani yang tidak hamil,
stratum functionale superfisial dengan kelenjar uterus dan pembuluh darah
terlepas atau terkelupas selama menstruasi, meninggalkan stratum basale yang
utuh dengan sisa-sisa kelenjar uterus di basal-sumber sel untuk regenerasi stratum
functionale yang baru. Arteri yang mendarahi endometrium berperan penting
selama fase haid pada siklus menstruasi.

Arteri uterina di ligamentum latum membentuk arteri arkuata. Arteri ini


menembus dan berjalan melingkar di miometrium uterus. Pembuluh arkuata
membentuk arteri lurus (arteriae rectae) dan spiralis yang mendarahi
endometrium. Arteri lurus adalah arteri yang pendek dan mendarahi stratum
basale endometrii, sedangkan arteri spiralis adalah arteri yang panjang dan
bergelung dan mendarahi permukaan atau stratum functionale endometrii.
Berbeda dari arteri lurus, arteri spiralis sangat peka terhadap perubahan hormon
dalam darah. Penurunan kadar hormon ovarium estrogen dan progesteron dalam
darah sewaktu daur haid menyebabkan degenerasi dan terlepasnya stratum
functionale, menimbulkan menstruasi.

2.1.4 Kelenjar payudara

Kelenjar payudara terbentuk secara embriologis sebagai invaginasi ektoderm


permukaan di sepanjang garis ventral, garis laktasi, dari aksila hingga
selangkangan. pada manusia, satu set kelenjar yang menyerupai kelenjar keringat
apokrin yang termodifikasi menetap di setiap sisi dada. Setiap kelenjar payudara
terdiri atas 15-25 lobus dari jenis tubuloalveolar kompleks, yang berfungsi
menyekresi air susu untuk memberi nutrisi neonatus. Setiap lobus, yang
dipisahkan satu sama lain oleh jaringan ikat padat dan banyak jaringan adiposa,
merupakan suatu kelenjar tersendiri dengan ductus lactiferi ekskretorisnya
sendiri. Duktus ini, dengan panjang 2-4,5 cm, berkumpul secara terpisah di papila
mammae yang memiliki 15-25 muara masing-masing berdiameter 0,5 mm.
Struktur histologi kelenjar payudara bervariasi sesuai dengan jenis kelamin, usia,
dan status fisiologis.
a. Perkembangan Payudara Selama pubertas

Sebelum pubertas, kelenjar mammae pada kedua jenis kelamin terdiri atas sinus
lactiferi di dekat puting, dengan cabang duktus kecil dari sinus ini. Pada gadis yang
mengalami pubertas dan kadar estrogen sirkulasi yang lebih besar, payudara membesar
akibat akumulasi adiposit di jaringan ikat dan meningkatnya pertumbuhan dan
percabangan sistem duktus. Puting membesar seiring pertumbuhan sinus lactiferi.

Pada wanita dewasa yang tidak hamil, struktur parenkim khas pada kelenjar, lobus,
terdiri atas banyak lobulus, yang terkadang disebut unit lobular ductus terminalis. Setiap
lobulus memiliki sejumlah duktus bercabang kecil tetapi unit sekretoris yang melekat
berukuran kecil dan rudimenter. Sistem duktus terbenam dalam jaringan ikat vaskular
longgar dan jaringan ikat padat yang lebih sedikit mengandung sel dan memisahkan
lobus. Sinus lactiferi dilapisi oleh epitel kuboid berlapis dan lapisan ductus lactiferi dan
ductus terminalis adalah epitel kuboid selapis yang dilapisi oleh sel mioepitel yang
berhimpitan erat. Sebaran serat otot polos juga mengelilingi duktus yang lebih besar. Sel
epitel duktus menjadi sedikit lebih kolumnar pada saat kadar estrogen mencapai puncak
di sekitar ovulasi dan pada fase pramenstruasi siklus, jaringan ikat payudara menjadi agak
edematosa, yang membuat payudara agak lebih besar.

Kulit yang melapisi puting membentuk areola dan merupakan kulit yang cukup tipis
dengan kelenjar sebasea. Epidermis berlanjut dengan lapisan sinus lactiferi. Areola
mengandung lebih banyak melanin ketimbang kulit di bagian lain payudara dan
bertambah gelap selama kehamilan. Kulit puting banyak disuplai ujung saraf sensorik.
Jaringan ikat puting kaya akan serabut otot polos yang berjalan sejajar dengan sinus
lactiferi dan menimbulkan ereksi puting ketika berkontraksi.

b. Payudara Selama Kehamilan & Laktasi

Kelenjar payudara mengalami pertumbuhan selama kehamilan sebagai akibat kerja


sinergis beberapa hormon, terutama estrogery progesteron, prolaktin, dan laktogen
plasenta manusia. Salah satu efek hormon ini adalah proliferasi alveoli sekretoris di ujung
ductus intralobularis. Alveoli sferis terdiri atas epitel kuboid dengan sel mioepitel stelata
di antara sel-sel sekretoris dan lamina basal. Derajat perkembangan kelenjar bervariasi
antar lobulus dan bahkan di dalam setiap lobulus.
Ketika alveoli dan sistem duktus tumbuh dan berkembang selama kehamilan sebagai
persiapan untuk laktasi, stroma menjadi kurang mencolok. Jaringan ikat longgar dalam
lobulus terinfiltrasi oleh limfosit dan sel plasma; sel plasma menjadi lebih banyak pada
kehamilan lanjut ketika sel-sel ini mulai memproduksi imunoglobulin (IgA sekretoris).

Pada kehamilan lanjut, alveoli dan duktus kelenjar melebar oleh tumpukan
kolostrum, suatu cairan yang kaya akan protein, vitamin A, dan elektrolit tertentu yang
dihasilkan dalam pengaruh prolaktin. Antibodi disintesis dalam jumlah banyak oleh sel
plasma dan diangkut ke dalam kolostrum; dari kolostrum ini, neonatus yang menyusui
memperoleh kekebalan pasif.

Setelah kelahiran, kadar estrogen dan progesteron dalam darah menurun dan alveoli
kelenjar payudara menjadi sangat aktif memproduksi air susu, yang terutama dipengaruhi
oleh prolaktin dari hipofisis anterior. Sel epitel alveoli membesar dan berperan aktif pada
sintesis protein dan lipid untuk disekresi. Sejumlah besar protein dibentuk dalam RE
kasar, yang diproses melalui apparatus Golgi dan dikemas ke dalam vesikel sekretoris,
yang mengalami eksositosis selama sekresi merokrin ke dalam lumen. Droplet lipid
sferis, yang terutama mengandung trigliserida netral dan kolesterol, terbentuk di
sitoplasma sel alveolar, tumbuh pesat melalui pertambahan lipid, dan akhirnya
menghantarkan sel ke dalam lumen melalui proses sekresi apokrin; selama sekresi ini,
droplet menjadi terselubungi oleh sebagian membran sel apikal.

Selama laktasi, sekresi protein, droplet lipid terikat membran dan komponen lain
berlangsung dengan produk yang menumpuk sebagai air susu di lumen sistem duktus.
Protein normalnya membentuk sekitar 1,5% air susu manusia dan mencakup berbagai
kasein yang menggumpal sebagai misel, dan B-laktoglobulin serta a-laktoalbumin yang
larut; kesemuanya dicerna sebagai sumber asam amino oleh bayi. Protein yang lebih
sedikit dalam air susu mencakup protein yang membantu pencernaan dan kegunaan
nutrien air susu lain imunoglobulin dan sejumlah protein dengan aktivitas antimikroba,
dan berbagai faktor pertumbuhan mitogenik. Lipid normalnya membentuk sekitar 4% air
susu manusia, sementara gula utama, laktosa, membentuk sebanyak 7-8% dan merupakan
sumber utama
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Terpadu I, Universitas Islam


Al-Azhar, Mataram. Waktu yang digunakan dalam praktikum histologi genitalia
maskulina pada hari Rabu, tanggal, 27 Maret 2019, pukul 13:00 sampai dengan
14.40 WITA. Dan praktikum histologi genitalia femina pada pada hari Sabtu,
tanggal, 04 Mei 2019, pukul 08:00 sampai dengan 09.40 WITA.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

 Mikroskop Cahaya

3.2.2 Bahan

 Sediaan preparat
Genitalia Maskulina
a. Penis
b. Bulbouretralis
c. Epididimis
d. Testis
e. Glandula prostat
f. Ampula vas deferens
g. Glandula vasiculosa
h. Kelenjar seminalis
Genitalia Femina
i. Glandula mamae inaktif
j. Glandula mamae gravid
k. Glandula mamae laktasi
l. Tuba fallopi
m. Ovarium
n. Uterus activate
o. Vagina
p. Mamae active
 Pensil warna
 Jangka
3.3 Cara Kerja
1. Siapkan mikroskop cahaya.
2. Siapkan masing-masing preparat yang akan diamatai dibawah mikroskop
sesuai caranya.
3. Amati bentuk, struktur, dan jenis jaringan.
4. Gambar hasil pengamatan.
5. Lengkapi gambar dengan keterangan yang jelas.
6. Buat pembahasan hasil pengamatan serta kesimpulannya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL

No.
GAMBAR
KETERANGAN
GENITALIA MASCULINA 1. Lumen uretra penis
1. Penis 2. Coerpus spongiosum
3. Kelenjar uretralis
4. Epitel silindris
5. Lamina propria
6. Sinus cavernosum
2. Bulbouretralis

3. Glandula prostat

4. Vas deferens
5. Ampula

6. Glandula vesiculosa 1. Epitel


2. Lamina propria
3. Plica mucosa
4. Lapisan otot polos

7. Epididimis 1. Epitel bertingkat semu


2. Otot polos
3. Jaringan ikat
4. Stereosilia
8. Testis 1. Tubuli seminifer
2. Sepum
3. Epitel germinal
4. Sel interstisial (Sel
Leydig)

9. GENITALIA FEMINA 1. Sel lutein granulosa


2. Korpus luteum
Ovarium 3. Sel lutein teka
4. Oosit primer dan folikel
primer
5. Oosit primer dan folikel
sekunder

10. Tuba Fallopii 1. Laplsan otot sirkular dalam


2. Epitel
3. Lumen tuba uterina
4. Plica mucosae
5. Lamina propria

11. Uterus activate 1. Epitel


2. Lamina propria
3. Arteri spiralis
4. Kelenjar uterus
5. Stratum funcionale
6. Stratum basale
12. Vagina 1. Plica mucosa
2. Epitel berlapis gepeng
3. Papila laringan ikat
4. Lamina propria
5. Jaringan ikat interstisial
6. Adventisia
7. Otot polos:
a. Berkas longitudinal
b. Berkas transversal

13. Mamae active 1.


14. Glandula Mamae inaktif 2. Duktus ekskretorius
interlobularia
3. Alveoli
4. Ductus lactiferus
5. Jaringan ikat
interlobular

15. Glandula Mamae gravid 1. Alveoli


2. Jaringan ikat
interlobular
3. Sel adiposa
4. Pembuluh darsh

16. Glandula Mamae laktasi 5.


4.1 PEMBAHASAN
BAB V

PENUTUP

1.1 KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Eroschenko, VP. (2010). Atlas Histologi diFiore dengan Korelasi Fungsional .


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Mescher, AL. (2011). Histologi Dasar Junqueira: Teks & Atlas. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.