Anda di halaman 1dari 36

MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK

SEJARAH

Museum Seni Rupa dan Keramik terletak di Jalan Pos Kota No 2, Kotamadya Jakarta
Barat, Provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Museum yang tepatnya berada di seberang Museum
Sejarah Jakarta itu memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era
Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia. Gedung yang
diresmikanpada 12 Januari 1870 ituawalnyadigunakanolehPemerintahHindiaBelandauntuk
Kantor DewanKehakimanpadaBenteng Batavia (OrdinarisRaad van JustitieBinnen Het
Kasteel Batavia). SaatpendudukanJepangdanperjuangankemerdekaansekitartahun 1944,
tempatitudimanfaatkanolehtentara KNIL danselanjutnyauntukasramamiliter TNI.Pada 10
Januari 1972, gedungdengandelapantiangbesar di
bagiandepanitudijadikanbangunanbersejarahsertacagarbudaya yang dilindungi. Tahun 1967-
1973, gedungtersebutdigunakanuntuk Kantor Walikota Jakarta Barat.[1] Dan tahun 1976
diresmikanolehPresiden (saatitu) SoehartosebagaiBalaiSeniRupa Jakarta.Pada 1990
bangunanituakhirnyadigunakansebagai Museum SeniRupadanKeramik yang
dirawatolehDinasKebudayaandanPermuseuman DKI Jakarta.Padaawalnya, nama yang
digunakanuntukgedunginiadalahBalaiSeniRupadanKeramik yang kemudianberubahmenjadi
Museum SeniRupadanKeramik. Museum ini menyajikan koleksi dari hasil karya seniman-
seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an hingga saat sekarang. Koleksi Seni Lukis
Indonesia dibagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan periodisasi yaitu:

1. Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 - 1890)


2. Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an)
3. Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an)
4. Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 - 1945)
5. Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 - 1950)
6. Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an)
7. Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 - sekarang)
8. Untuk Koleksi seni rupa menampilkan patung-patung sepeti Totem Asmat dan lain-lain.
DENAH MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK
MENGANALISA BANGUNAN MUSEUM

SENI RUPA DAN KERAMIK

A. TERBENTUKNYA RUANGAN

Ruang diartikan sebagai sesuatu yang tertutup atau mampunyai batas yang jelas seperti lantai,
dinding, plafon dan lain sebagainya yang dapat melindungi dan menutup berbagai kegiatan
yang terjadi di dalamnya. Di lain sisi, ruang ternyata tidak lagi dipersepsikan sebagai sesuatu
yang tertutup.Ruang terbentuk oleh unsur horizontal dan unsur vertikal.

Unsur-unsur Horizontal :

1. Bidang dasar
2. Bidang dasar yang diangkat
3. Bidang dasar yang diturunkan
4. Bidang yang melayang

Unsur-unsur Vertikal :
1. Unsur-unsur Vertikal Linear
2. Suatu Bidang Vertikal
3. Suatu Bidang yang Berbentuk “ L“
4. Bidang – Bidang Sejajar
5. Bidang Membentuk “U”

Unsur horizontal

Unsur vertikal

Unsur horizontal
B. HUBUNGAN DAN SIRKULASI RUANG

1. Hubungan-hubungan Ruang

a. Ruang Dalam Ruang

Sebuah ruang yang besar dapat membungkus sebuah ruang yang lebih kecil di dalam
volumenya. Kemenerusan visual tersebut dapat dengan mudah dipenuhi, namun ruang
yang lebih kecil, yang ruang dalamnya tergantung pada ruang yang lebih besar, akan
membungkus ruang demi menjalin hubungan dengan lingkungan eksteriornya.

RUANG DALAM
RUANG

RUANG
b. Ruang Saling Berkaitan

Hubungan spasial yang saling berkaitan dihasilakan melalui penumpukan dua area
spasial serta munculnya zona ruang yang dibagi. Ketika dua buah ruang saling
mengunci volumenya melalui cara ini, maka masing-masing ruang akan
mempertahankan identitas serta definisinya sebagai sebuah ruang. Namun konfigurasi
yang dihasilkan oleh kedua ruang yang salin mengunci itu bisa memiliki interpretasi
yang berbeda-beda.
RUANG SALING BERKAITAN

c. Ruang Bersebelahan

Dua ruang yang berdekatan, bersampingan yang dipisahkan atau dibatasi dengan
tembok dan biasanya fungsinya sama tetapi digunakan oleh pengguna yang berbeda.

RUANG BERSEBELAHAN
d. Ruang dihubungkan oleh ruang lain

Dua buah ruang yang terpisah dapat dihubungkan atau dikaitkan satu sama lain oleh
sebuah ruang ketiga sebagai perantaranya. Kaitan visual dan spasial antara kedua ruang
tersebut tergantung pada karakter ruang ketiga tempat mereka membagi ikatan. Ruang
perantara ini dapat dibuat berbeda bentuk dan orientasinya dari kedua ruang yang
dihubungkan agar dapat mengekspresikan fungsinya sebagai penghubung.

Ruang dihubungkan oleh


ruang lain
2. Jenis Sirkulasi Penghubung Ruang
a. Melewati Ruang

Sirkulasi melewati ruang adalah keadaan suatu sirkulasi yang hanya melewati suatu
ruangan, akan tetapi udara tersebut tidak berhenti disisi/ruangan tersebut.

MELEWATI RUANG
b. Menembus Ruang

Sirkulasi menembus ruang yaitu sirkulasi udara yang dapat menembus antar ruangan-
ruangan. Maksudnya, dalam metode ini udara yang dibutuhkan tidak hanya untuk satu
ruangan, akan tetapi lebih dari satu ruangan.

MENEMBUS RUANG

b. Sirkulasi Berakhir Dalam Ruang

Sirkulasi dalam ruang, berarti aliran udara yang tidak lagi menembus ataupun melewati
suatu ruangan, akan tetapi udara tersebut hanya berputar-putar didalamnya.
BERAKHIR DALAM
RUANG

3. Pola-pola Sirkulasi

a. Linear

Semua jalan pada dasarnya linear, yang dimaksud disini adalah jalan lurus yang dapat
menjadi unsur pembentuk utama deretan ruang.

LINEAR
b. Radial

Pola radial memiliki jalan yang berkembang dari atau menuju sebuah pusat. Tipe ruang
radial merupakan perkembangan dari tipe pertamam, hanya saja pada tipe ini punggu
saling berhadapan sehingga muka mengarah keluar dan tidak ada akses untuk masuk ke
dalam.

Di dalam Museum seni rupa dan keramik, tidak memiliki pola sirkulasi ruang.

c. Spiral

Pola spiral adalah suatu jalan menerus yang berasal dari titik pusat, berputar
mengelilinginya dan bertambah jauh darinya.

Museum seni rupa dan keramik tidak menggunakan pola spiral di dalam bangunannya.

d. Network

Pola network (jaringan) terdiri dari beberapa jalan yang menghubungkan titik-titik
terpadu dalam ruang.

Museum seni rupa dan keramik tidak menggunakan pola network di dalam
bangunannya.

e. Campuran

Suatu bangunan biasanya memiliki suatu kombinasi dari pola-pola diatas. Untuk
menghindari terbentuknya orientasi yang membangunkan, dibentuk aturan urutan utama
dalam sirkulasi tersebut.

Museum seni rupa dan keramik tidak menggunakan pola campuran di dalam
bangunannya.
4. Pencapaian ke Bangunan

Maksud dari pencapaian ke bangunan ialah suatu proses perjalanan (pendekatan)


menuju suatu bangunan melalui akses jalan yang disediakan atau sudah ada.

a. Langsung (Frontal)

Suatu pencapaian yang mengarah langsung ke suatu tempat melalui sebuah jalan yang
merupakan sumbu lurus. Tujuan visual dalam pengakhiran pencapaian terlihat jelas,
dapat merupakan fasade muka keseluruhan banguan atau tempat masuk.

Museum seni rupa dan keramik tidak menggunakan pencapaian langsung di dalam
bangunannya.

b. Tersamar (Oblique)

Oblique adalah suatu proyeksi miring. Pencapaian secara oblique ialah suatu pola
perjalanan menuju sebuah banguan melalui yang dapat diubah arahnya sehingga dapat
menimbulkan kesan perspektif pada akses jalan. Akses jalan biasanya bisa
memperpendek dan memperpanjang untuk sampai ke bangunan dan ruang yang dituju,
mempunyai banyak cabang.
RADIAL

c. Berputar (spiral)

Pencapaian secara spiral ialah suatu pola perjalanan menuju ke sebuah bangunan dan
ruang dengan cara memutar. Biasanya pola ini digunakan untuk mengurangi gaya
gravitasi bumi pada kontur tanah yang curam dan dipergunakan di lahan yang sempit.

Museum seni rupa dan keramik tidak menggunakan pola spiral di dalam bangunannya.
C. BENTUK

1. PERUBAHAN BENTUK

Semua bentuk dapat dipahami sebagai hasil dari perubahan benda pejal utama, melalui
variasi-variasi yang timbul akibat manipulasi dimensinya, atau akibat penambahan maupun
pengurangan elemen-elemennya.

a. Perubahan Dimensi

Suatu bentuk dapat diubah dengan mengganti salah satu atau beberapa dimensi-
dimensinya dan tetap mempertahankan identitasnya sebagai anggota bagain dari suatu
bentuk. Sebuah kubus misalnya, dapat diubah menjadi bentuk-bentuk prisma serupa
dengan mengubah ukuran tinggi, lebar atau panjangnya.

Bangunan Museum seni rupa dan keramik, tidak mengalami perubahan dimensi.

b. Perubahan dengan Pengurangan

Suatu bentuk dapat diubah dengan mengurangi sebagian dari volumnya. Tergantung
dari banyaknya pengurangan, suatu bentuk mampu mempertahankan identitas asalnya
atau diubah menjadi suatu bentuk yang lain sama sekali.

Bangunan Museum seni rupa dan keramik, juga tidak mengalami perubahan dengan
pengurangan.

c. Perubahan dengan Penambahan

Suatu bentuk dapat diubah dengan menambah unsure-unsur tertentu kepada volume
bendanya. Sifat proses penambahan serta jumlah dan ukuran relative unsure yang
ditambahkan akan menentukan apakah identitas bentuk asal dapat dipertahankan atau
berubah.
Bangunan Museum seni rupa dan keramik, juga tidak
mengalami perubahan dengan pengurangan.

2. PENGGABUNGAN BENTUK

Penggabungan bentuk ialah “ penayatuan dua atau lebih jenis bentukdan bisa terjadi
pada bentukkan yang sama ataupun bentuk yang berbeda”.Penggabungan bentuk ini
dibagi 4 jenis :

a. Spatial Tension

Spatial ( Hubungan ruang renggang ) dan Tension ( Tegangan ), yang berarti hubungan
ruang renggang tetapi terlihat saling berkaitan tanpa kedua benda tersebut saling
bersentuhan dan kedua bentuk secara relative berdekatan atau memiliki kesamaan
visual.
Museum seni rupa dan keramik tidak memiliki hubungan spatial tension.

b. Edge To Edge Contact

Edge to edge contact yang berarti pinggir ke pinggir bentuk saling bersinggungan atau
saling bertemu ( antara kedua ujung bentuk bertemu ) dan dua buah bentuk satu sisi
bersamaan dan dapat berporos pada sisi lainnya.
Museum senirupa dan keramik juga tidak memiliki penggabungan edge to edge contact.

c. Face To Face Contact

Face to face contact yang berarti bidang datar kedua bentuk saling bertemu dan Dua
buah bentuk dimana bidang – bidang datar pada bentuk – bentuk bisa juga terletak
sejajar.
Pada Museum seni ruppa dan keramik terdapat face to face contact.

FACE TO FACE
CONTACT

d. Interlocking Relationship

Mempersambungkan satu sama lain antara bentuk satu dengan bentuk lainnya dan
kedua bentuk saling menerus kedalam masing – masing volume ruangnya ( melalui
pencoakkan untuk menyambungkan bentuk – bentuk ).
Pada Museum seni rupa dan keramik tidak memilik penggabungan Interlocking
Relatonship di bangunannya.

3. PERSENYAWAAN BENTUK GEOMETRI


Terciptanya persenyawaan bentuk dikarenakan tiap bangun geometri mempunyai
karakter tersendiri. Persenyawaan bentuk geometri adalah Penggabungan bentuk –
bentuk geomertri ( Bersudut )hingga menciptakan bentukkan baru hasil gabungan ke
dua bentuk geometri atau lebih. Persenyawaan bentuk geometri dibagi menjadi 4 tipe,
yaitu :

a. Tipe penyerapan Identitas dan Penyatuan Bentuk

Yaitu dua bentuk geometri menghilangkan karakter – karakter mereka dan menciptakan
karakter baru dari penggabungan tersebut.

Museum seni rupa dan keramik tidak menggunakan tipe penyerapan identitas dan
penyatuan bentuk.
b. Tipe Menerima Identitas didalam Bentuk lainnya

Yaitu dua bentuk geometri yang mempunyai karakter masing – masing dan saling
memperlihatkannya tanpa saling menghilangkan karakter bentuk geometri didalamnya.

Museum seni rupa dan keramik juga tidak menggunakan tipe menerima identitas
didalam bentuk lainnya.

c. Tipe Mempertahankan Identitas dengan Volume Saling Berkaitan

Yaitu dua bentuk geometri yang mempunyai karakter masing – masing dan saling
memperlihatkannya tanpa saling menghilangkan walaupun keduanya mempunyai
volume yang sama ( Saling Berkaitan ).

Museum seni rupa dan keramik juga tidak menggunakan tipe mempertahankan identitas
dengan volume saling berkaitan dibangunannya.

d. Tipe Terpisah dan Dihubungkan Oleh bentuk Ke – 3

Yaitu Kedua bentuk geometri yang tidak saling berkaitan / dipisahkan oleh jarak namun
dihubungkan oleh bentuk ketiga dimana bentuk ketiga menyerupai salah satu bentuk
dari kedua bentuk geometri tersebut.
Museum seni rupa dan keramik juga tidak menggunakan tipe terpisah dan
dihubungkan oleh bentuk ke – 3 dibangunannya.
D. ORGANISASI RUANG

1. ORGANISASI TERPUSAT

Organisasi terpusat merupakan komposisi terpusat dan stabil yang terdiri dari sejumlah
ruang sekunder, dikelompokkan mengeIiIingi sebuah ruang pusat yang luas dan
dominan.Ruang pemersatu terpusat pada umumnya berbentuk teratur dan ukurannya cukup
besar untuk menggabungkan sejumlah ruang sekunder di sekelilingnya.

Pada Museum seni rupa dan keramik tidak menggunakan organisasi terpusat di dalam
bangunannya.

2. ORGANISASI LINEAR

Organisasi linier pada dasarnya terdiri dari sederetan ruang. Ruang-ruang ini dapat
berhubungan secara langsung satu dengan yang lain atau dihubungkan melalui ruang linier
yang berbeda dan terpisah.Organisasi linier biasanya terdiri dan ruang-ruang yang
berulang, serupa dalam ukuran, bentuk, dan fungsi.

ORGANISASI LINEAR
3.ORGANISASI RADIAL

Organisasi ruang radial memadukan unsur-unsur organisasi


terpusat dan linier. Organisasi ini terdiri dari ruang pusat yang
dominan di mana sejumlah organisasi linier berkembang
menurut arah jari-jarinya. Apabila suatu organisasi terpusat
adalah sebuah bentuk yang introvert yang memusatkan
pandangannya ke dalam ruang pusatnya, maka sebuah
organisasi radial adalah sebuah bentuk yang ekstrovert yang
mengembang keluar Iingkupnya.

ORGANISASI RADIAL

4. ORGANISASI CLUSTER

Organisasi dalam bentuk kelompok atau “cluster” mempertimbangkan pendekatan fisik


untuk menghubungkan suatu ruang terhadap ruang lainnya. Sering kali organisasi ini
terdiri dart ruang-ruang yang berulang yang memiliki fungsi-fungsi sejenis dan memiliki
sifat visual yang umum seperti wujud dan orientasi.

Museum seni rupa dan keramik tidak memiliki organisasi cluster di dalam bangunannya.
5. ORGANISASI GRID

Organisasi grid terdiri dan bentuk-bentuk dan ruang-


ruang di mana posisinya dalam ruang dan hubungan
antar ruang diatur oleh pola atau bidang grid tiga
dimensi.

Sebuah grid diciptakan oleh dua pasang garis sejajar


yang tegak lurus yang membentuk sebuah pola titik-
titik teratur pada pertemuannya. Apabila diproyeksikan
dalam dimensi-ketiga, maka pola grid berubah menjadi
satu set unit ruang modular berulang.

ORGANISASI GRID

E. PRINSIP-PRINSIP PENATAAN
1. SUMBU/AKSIS
Sebuah garis yang terbentuk oleh dua buah titik dalam ruang
dimana terhadap garis tersebut, bentuk-bentuk dan ruang-ruang
dapat disusun.
Sumbu merupakan garis yang terbentuk oleh dua buah titik di dalam ruang dan terhadap
bentuk-bentuk dan ruang-ruang dapat disusun menurut cara yang teratur atau tidak teratur.

Pada Museum seni rupa dan keramik terdapat sumbu/aksis di bangunannya.


SUMBU

2. SIMETRI

Prinsip penataan sumbu dapat ada tanpa keadaan simetris yang terus menerus sedangkan
kondisi simetris tidak dapat ada tanpa adanya suatu sumbu. Suatu sumbu dibentuk oleh 2
titik, sedangkan suatu kondisi simetris menentukan susunan yang seimbang dari pola
bentuk dan ruang terhadap suau garis bersama (sumbu) atau titik (pusat).

SIMETRIS
3. HIRARKI

Penekanan suatu hal yang penting atau menyolok dari suatu bentuk ruang
menurut besarnya, bentuk, atau penempatan secara relatif terhadap
bentuk atau ruang lain dari suatu organisasi.

HIRARKI
4. PENGULANGAN/REPETISI

Penggunaan pola-pola yang sama dengan suatu irama untuk


mengorganisir suatu susunan bentuk-bentuk atau ruang yang
serupa.

REPETISI

5. DATUM/DATA

Sebuah garis, bidang, atau ruang yang oleh karena


keseimbangan dan keteraturannya berfungsi untuk
mengumpulkan, mengelompokkan dan mengoranisir suatu pola
bentuk dan ruang.

DATUM
6. TRANSFORMASI

Prinsip-prinsip tentang konsep arsitektur atau


organisasi yang dapat dipertahankan, diperkuat dan
dibangun melalui sederetan manipulasi dan
transformasi.
Museum seni rupa dan keramik tidak mengalami transformasi pada
bangunannya.

F. PENATAAN RUANG LUAR DAN GUBAHAN MASSA

Penataan ruang luar dan gubahan massa adalah penyusunan tatanan ruang luar dan
pengolahan komposisi beberapa bangunan dalam satu tapak.

1. SKALA RUANG LUAR (RASIO JARAK KETINGGIAN

Skala ruang luar (rasio jarak ketinggian) adalah perbandingan jarak dan ketinggian sebuah
bangunan terhadap ukuran sebenarnya yang dapat dilihat oleh panca indera manusia dan
dapat memberikan kesan secara pisikologis.

Sudut pandang manusia secara normal pada bidang vertikal


adalah 60° tetapi bila ia melihat secara intensif maka sudut
pandangannya menjadi 1°

Bila seorang melihat lurus kedepan, maka bidang pandangan vertical diatas bidang
pandangan horizontal mempunyai sudut 40°.
Orang dapat melihat keseluruhan bila sudut pandangnya 27° atau dalam perbandingan
jarak bangunan : tinggi bangunan = 2 ( D/H = 2 )
D/H adalah Distance (Jarak) : High (Tinggi)

Hubungan D/H dalam arsitektur :

D/H = 1 : Ruang terasa seimbangan dalam perbandingan jarak dan ketinggian bangunan.
D/H < 1 : Ruang yang terbentuk terlalu sempit hingga terasa tertekan
D/H > 1 : Ruang terasa agak besar
D/H > 4 : Pengaruh ruang sudah terasa

D/H=1 D/H<1 D/H>4 D/H<1 D/H=1


D/H<1 D/H>1

D/H=1 D/H>4

2. PENATAAN RUANG LUAR


Ruang merupakan suatu wadah yang tidak nyata tetapi dapat dirasakan oleh manusia
dengan persepsi masing-masing individu melalui panca indra dan penafsirannya.

Jenis Ruang Dalam Arsitektur :


a. Ruang dalam ( Interior )
Ruang yang dibatasi oleh lantai, dinding dan plafon.
Berikut ini adalah ruang interior yang terdapat pada bangunan Museum seni rupa dan
keramik :

\\

b. Ruang luar ( Eksterior )

Ruang yang terjadi dengan dibatasi alam hanya pada bidang alas (lantai dan dindingnya,
sedangkan atapnya dapat dikatakan tidak terbatas.
Berikut ini adalah ruang eksterior yang terdapat pada bangunan Museum seni rupa dan
keramik :
Ruang positif dan negative :

1 . Ruang positif

Suatu ruang terbuka yang diolah dengan perletakan


massa bangunan atau obyek tertentu yang melingkupinya
akan bersifat positif. Biasanya terkandung kepentingan
dan kehendak manusia.
2. Ruang negatif
Ruang terbuka yang menyebar dan tidak berfungsi
dengan jelas bersifat negatif. Biasanya terjadi secara
spontan tanpa kegiatan tertentu.

RUANG NEGATIF RUANG POSITIF

Ruang Hidup dan Ruang Mati :


1. Ruang Hidup

 Merupakan ruang dengan bentuk yang benar dalam


hubungannya dengan ruangruangyang bermutu untuk
berkomposisi dengan struktur yang direncanakan denganbaik
 Harus ada hubungan dengan karakter, massa dan fungsi.
2. Ruang Mati

 Ruang yang terbentuk dengan tidak direncanakan, tidak


terlingkup dan tidak dapatdigunakan dengan baik.
 Merupakan ruang sisa.
Berikut ini adalah ruang hidup dan ruang mati pada museum seni rupa dan keramik :

RUANG MATI

RUANG HIDUP

RUANG MATI RUANG HIDUP


HIDUHIDUP

3. RESPONS DESAIN TERHADAP LOKASI / POSISI SITE


a. Satu muka bangunan

 Hanya dapat mengolahsatu tampak,karenahanyamemilikisatu muka site.


 Kalau tapaknya agak tebar dapat dibuat jarak yang cukup dari bangunan sekitaruntuk
mengurangi kesan "terjepit"
SATU MUKA
SATU MUKA

SATU MUKA

b. Dua muka bangunan


 Dapat diolah dua tampak bangunan, karena berada di sudut maka
pengolahanbangunan agak leluasa.
 Bangunan harus merespons dengan baik kondisi lingkungan (pertigaan/perempatan)

DUA MUKA
DUA MUKA
c. Tiga muka bangunan
 Pengolahan bangunan dapat lebih leluasa dan lebih lengkap.
 Dengan memiliki dua muka maka seolah-olah kita menjadi kepala dari sederetan
bangunan dibelakangnya

TIGA MUKA

d. Empat muka bangunan


 Karena letak site dikelilingijalan maka mendapatkan empat muka bangunan
 Pengolahan tampak harus mencerminkan keutuhan bangunan keseluruhan

Museum seni rupa dan keramik tidak memiliki bangunan atau ruang yang empat
muka/tampak.

e. Site yang sangat luas

 Karena ukuran tapak yang sangat luas maka kita mendapatkan empat
mukabangunan.
 Untuk hal ini kita perlu menciptakan ruang luar yang lebar terutama pada sisi
yangberbatasan dengan bangunan lain.

Museum seni rupa dan keramik tidak memiliki bangunan atau ruang yang sitenya sangat
luas.
4. HUBUNGAN PENATAAN MASSA DENGAN RUANG KOTA

Hubungan penataan massa dengan ruang kota adalah hubungan penataan letak/posisi
massa bangunan terhadap bangunan-bangunan yang ada pada kota/ruang kota.

Pada Museum seni rupa dan keramik terdapat hubungan penataan massa yaitu :

CONTINOUS SPACE

5. PENATAAN DAN GUBAHAN MASSA YANG BERORIENTASI PADAPOTENSI


LINGKUNGAN

Penataan dan gubahan massa yang berorientasi pada potensi lingkungan adalahpenataan
dan gubahan massa pada suatu tempat yang memiliki potensi tinggi sebagai objek icon dan
dapat mengandung filosofi tertentu.

Pada Museum seni rupa dan keramik tidak terdapat gubahan massa.
G. BAHASA GAMBAR

Bahasa gambar merupakan bahasa yang terdapat seperangkat kaidah yang menghubungkan
lambang dengan lambang untuk menyatakan makna yang lebih luas.

Bahasa Lisan

 Lambang bahasa terutama terbatas pada kata-kata.


 Tersusun berurutan, ada awal, tengah dan akhir.

Bahasa Gambar

 Lambang bahasa meliputi sketsa, tanda, angka, dan kata.


 Bersifat serempak, semua lambang dan pertaliannya dapat diperhatikan dalam saat
yang sama.

1. GRAMATIKA

a. Kedudukan
 Imajinasi kedudukan dipakai untuk membentuk hubungan antar identitas.
 Keteraturan yang diperoleh sering mempermudah pembacaan diagram.

b. Kedekatan
 Keeratan hubungan identitas ditunjukkan oleh jarak antara identitas.
 Jarak yang jauh menunjukkan hubungan tidak ada.

c. Kesamaan
 Identitas dikelompokkan berdasarkan sifat-sifat yang sama.
d. Gabungan
 Ketiga gramtika di atas digabung menjadi satu, tetapi ketaatan azas harus
dipertahankan.
 Untuk menghindari kekacauan informasi, jangan melibatkan lebih dari 6 kelompok
masalah sekaligus

Ruang dikelompokkan berdasar


kesamaannya, yaitu ruang
pameran.

Jarak antara ruang pameran


dan ruang kantor menunjukan
bahwa tidak ada hubungan pada
keduanya.
2. PERUBAHAN DARI PROGRAM KE RANCANGAN TERBAGAN

a. Hubungan Dasar Antar Fungsi

PUBLIK

SEMI PUBLIK

b. Kedudukan Dan Orientasi

Kedudukan atau posisi : adalah letak relatif suatu bentuk terhadap suatu lingkungan atau
medan visual.

Orientasi : adalah posisi relatif suatu bentuk terhadap bidang dasar, arah mata angin atau
terhadap pandangan seseorang yang melihatnya.

c. Skala, Bentuk Ruang, dan Sirkulasi

Skala : menunjukkan perbandingan antara elemen atau ruang dengan suatu elemen yang
ukurannya sesuai dengan manusia.

d. Pelingkup Dan Konstruksi

Pelingkup : merupakan elemen-elemen pembentuk ruang yaitu lantai, dinding dan langit-
langit atau atap.

Konstruksi : merupakan susunan (model,tata letak) suatu bangunan (jembatan, rumah dan
lain sebagainya.
H. PENGOLAHAN GAMBAR DESAIN

1. GAMBAR TERBUKA

 Suatu sketsa yang kabur dan tak lengkap yang menyarankan berbagai persepsi atau
tafsiran.
 Gambar yang mengandung banyak makna sehingga perancang dapat befikir luwes dan
dalam garis besar tertentu.

2. TRANSFORMASI GAMBAR

Tujuan :

 Memberikan perubahan yang khas pada bentuk gambar.


 Membebaskan perancang dari keterikatan sebelumnya, sehingga dia mampu melihat
persoalan dengan pandangan baru.
 Mengubah cara pandang atau persepsi, sehingga yang semula tampak lazim menjadi
asing.

3. ALAT BANTU MENGATUR GAMBAR

a. Pola Geometris

Pengertian :

Pemakaian sarana pengatur pola geometris untuk menciptakan hubungan buatan untuk
membuat tanggapan gambar baru.

b. Titik dan Garis

Titik dan garis dapat dipakai pada gambar untuk mengatur fungsi atau ruang yang
mengubah informasi menjadi bentuk baru.

c. Matriks Massa
Studi massa bangunan dapat dipakai sebagai alat bantu untuk menerapkan susuan pada
pengolahan gambar.

I. PRINSIP METODE DAN MENATA


1 Azaz merancang merupakan bagian dari azaz mengatur.
2 Azas mengatur akan diterapkan pada azas merancang arsitektur
3 Seseorang harus sadar akan azas mengatur.
4 Keteraturan meliputi tiga pokok : unsur, kwalitas, dan kriteria.
5 Mengatur memerlukan unsur yang akan diatur, kwalitas unsur sebagai dasar
pengaturan dan kriteria untuk mengubah kwalitas.
6 Perancang harus memahami pertalian antar unsur, kwalitas, dan kriteria.
Menata ruang pameran,
tata letak lukisan nya.

1. UNSUR
Kenali dengan seksama unsur yang hendak diatur. Untuk membentuk suatu pertalian
diperlukan 2 unsur atau lebih. Sebuah unsur dapat berupa bagian dari satu keseutuhan, satu
keseutuhan sendiri, atau kelompok keseutuhan.

UNSUR
2. KWALITAS

Kwalitas adalah dasar untuk mengatur unsur. Kwalitas harus cukup khas sehingga
perbedaanya dapat dikenali untuk dijadikan dasar pengatur. Sebuah unsur mempunyai
masing-masing dapat dipakai sebagai dasar pengaturan.

Mengatur letak lukisan sesuai


dengan jenis ruangannya, misalnya
ruang pameran sejarah bangunan,
ruang lukisan tradisional, dll.

3. KRITERIA

Kriteria mentukan cara mengatur unsur. Kedudukan dalam waktu, kedudukan dalam ruang,
dan kedudukan dalam nilai. Kriteria menyatakan pertalian antar unsur menurut kedudukan
unsur terhadap satu sama lain.

Peletakan posisi lukisan


yang tepat. Misalnya,
meletakan lukisan
tradisional pada ruang
lukisan tradisional.
4. ELEMEN-ELEMEN DALAM PEMETAAN

Unsur, kwalitas dan kriteria yang terpilih harus digabungkan menjadi sebuah
bangunan. Unsur, kwalitas dan kriteria dapat dikelompokkan dalam 5 elemen tata atur
yaitu, fungsi, ruang, geometri tautan, dan pelingkup.