Anda di halaman 1dari 15

5.

AKUNTANSI DI INDONESIA

Akuntansi di Indonesia mengalami pasang surut perkembangan. Ada


berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi di Indonesia. Faktor
tersebut antara lain lingkungan politik dan ekonomi serta organisasi profesi.

Seperti diketahui Indonesia telah mengalami peruubahan dalam


lingkungan politik dengan ditandai pergantian kepemimpinan yang memiliki
karakter berbeda. Perbedaan karakter kepemimpinan ini pada akhirnya akan
mempengaruhi model ekonomi Negara serta mempengaruhi praktik akuntansi.

Pembahasan pertama akan dimulai dengan menggambarkan sejarah


perkembangan akuntansi di Indonesia. Pada bagian berikutnya akan dibahas
kerangka institusional dan legislative yang mempengaruhi praktik akuntansi.
Pembahasan berikutnya berturut-turut berisi tentang pelaporan keuangan dan
persyaratan pengungkapan, kualitas pelaporan keuangan dan transparansi,
perkembangan organisasi profesi, struktur IAI dan standar akuntansi di Indonesia.

5.1 SEJARAH PERKEMBANGAN AKUNTANSI DI INDONESIA

Praktik ini baru diketahui pertama kali pada tahun 1747 di saat Amphioen
Societeit melakukan pembukuan. Dalam era ini, kolonial Belanda menggunakan
sistem pembukuan berganda atau dikenal juga dengan tipe Double Entry
Bookkeeping. Bukan hanya Amphioen Society saja, Perusahaan VOC juga dikenal
memegang peranan penting dalam praktik bisnis yang berjalan di atas bumi
pertiwi sebagai organisasi komersial utama.

Kegiatan ekonomi yang berjalan relatif cepat pada rentang waktu tahun
1800-an hingga awal 1900. Hal ini ditandai dengan penghapusan sistem kerja
tanam paksa dan mulai banyaknya investor Belanda yang mempercayakan dana
mereka dalam bentuk saham di Indonesia. Hal ini menuntut permintaan tenaga
kerja khususnya akuntan dan juru pembukuan yang sudah terlatih dan siap kerja.
Sekitar tahun 1907, akibat desakan kondisi, fungsi auditing mulai dikenalkan.
Sayang, kesempatan ini justru diraih oleh akuntan asal Belanda dan Inggris yang
masuk ke Indonesia.
Kehadiran auditor kala itu, Van Schagen, adalah poin dibangunnya
Jawatan Akuntan Negara atau Government Accountant Dienst pada tahun 1915.
Pendirian komunitas ini kemudian menyulut pendirian kantor-kantor akuntan
lainnya seperti kantor akuntan H. Y. Voerens yang berdiri pada tahun 1920. Hal
ini juga tolak balik berdirinya Jawatan Akuntan Pajak atau Belasting Accountant
Dientst. Sayangnya, saat akuntansi sedang menjadi primadona yang dibutuhkan,
tak satu pun orang asli Indonesia yang bekerja dalam bidang akuntansi publik.
Hingga 29 tahun kemudian, tepatnya tanggal 21 September, JD Massie sebagai
orang Indonesia asli diangkat sebagai pemegang buku pada Jawatan Akuntansi
Pajak.

Pengangkatan JD Massie akhirnya mendongkrak kesempatan bagi para


akuntan lokal untuk berkarya pada bidang yang sama. Bersamaan dengan dipukul
mundurnya Belanda dari Indonesia, profesi akuntansi mulai dilirik. Meski begitu,
sistem pendidikan dan pelatihan akuntansi yang digunakan didominasi oleh sistem
Belanda. Sayangnya, karena kondisi ini, Indonesia juga menghadapi masalah
kelangkaan akuntan dan tenaga ahli yang merupakan warga negara Indonesia asli.

Kelangkaan akuntan dan pengusungan sistem akuntansi gaya Belanda


menjadikan kita berpindah ke teknik akuntansi ala Amerika, yang ternyata mampu
berbaur dengan model akuntansi Belanda. Di saat bersamaan, jumlah instituti
pendidikan tinggi di Indonesia juga menawarkan program studi yang berkaitan
dengan akuntansi. Sebut saja pembukaan Jurusan Akuntansi Universitas Indonesia
pada tahun 1952 atau di UGM pada tahun 1964. Bukan hanya tingkat universitas,
institusi pendidikan setingkat yang menawarkan program akuntansi juga mulai
merebak seperti berdirinya Institut Ilmu Keuangan (yang kini berganti nama
menjadi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara atau STAN) pada tahun 1990.

Dalam perjalanannya, dilakukan reformasi terhadap ekonomi dan


akuntansi agar lebih kompetitif. Hal ini diusung oleh sekelompok teknokrat yang
mendapat dukungan dari investor asing dan lembaga internasional. 10 tahun
kemudian, atau sekitar tahun 1990, muncul tekanan perbaikan kualitas laporan
bersamaan dengan berbagai skandal yang akhirnya menuntut pemerintah untuk
mengeluarkan kebijakan yang berkaitan dengan pelaporan keuangan. Saat inilah
mulai dikenal standar akutansi keuangan PSAK, pelaksanaan proyek
Pengembangan Akuntansi, dan undang-undang yang melandasi.

Faktor Lingkungan dan Praktik Akuntansi

PERKEMBANGAN PERKEMBANGAN PERKEMBANGAN


POLITIK DAN SOSIAL EKONOMI AKUNTANSI
ERA KOLONIAL BELANDA Perusahaan Hindia Belanda Belanda mengenalkan
(1595 – 1945): (VOC) menguasai akuntansi di Indoensia.
 Belanda menguasai Jawa perdagangan di Indonesia. Regulasi akuntansi yang
dan kepulauan lain Keterlibatan dan aktifitas pertama dikeluarkan tahun
 Islam menjadi agama pribumi di perdagangan 1642 oleh Gubernur Jendral
mayoritas dibatasi dengan ketat. Etnis HIndia Belanda. Regulasi
China diberi hak khusus di tersebut mengatur
bidang perdagangan dan administrasi kas dan Piutang
transportasi air. (Abdoelkadir 1982)
ERA SOEKARNO (1945-1966): Dominasi perdagangan oleh Akademisi lulusan Amerika
Indonesia memperoleh Belanda dan Cina mengisi kekosongan posisi
kemerdekaan kepemimpinan mendorong munculnya akuntan dan system akuntansi
Presiden Soekarno dekat dengan ketidakadilan di masyarakat. auditing Amerika dikenalkan
Pemerintah Cina (RRC). Tahun Akhirnya, Indonesia memilih di Indonesia. Baik akuntansi
1965 terjadi usaha kudeta oleh pendekatan sosialis dalam model Belanda maupun
komunis yang berhasil digagalkan pembangunan yang ditandai Amerika digunakan secara
dan mendorong peran militer dengan dominasi peran bersama. Ikatan Akuntan
negara. Tahun 1958, semua Indonesia didirikan tahun
perusahaan milik Belanda 1957 untuk memebri
dinasionalisasi dan warga pedoman dan untuk
Negara Belanda keluar dari mengkoordinasi aktivitas
Indonesia. akuntan
ERA SETELAH SUHARTO Di bawah kepemimpinan Terjadi transfer pengetahuan
(1966 - 1998): Suharto, pembangunan dan keahlian akuntansi secara
Suharto menjadi presiden tahun ekonomi didasarkan pada langsung dari Kantor Pusat
1966 dengan pendekatan pendekatan kapitalis. perusahaan asing kepada
kebijakan ekonomi dan politik Investasi asing didorong dan karyawan Indonesia dan
yang konservatif tahun 1967 dikeluarkan secara tidak langsung
Undang-Undang Penanaman mempengaruhi aktivitas bisnis
Modal Asing yang
menghasilkan munculnya Tahun 1973, IAI mengadopsi
perusahaan asing seperangkat prinsip akuntansi
dan standar auditing serta
Tahun 1997-1998 Krisis professional code of conduct.
Keuangan Asia menimpa Prinsip-prinsip akuntansi
Indonesia dan banyak didasarkan pada pedoman
perusahaan yang bangkrut akuntansi yang dipublikasikan
AICPA tahun 1965

Satndar akuntansi
internasional diadopsi tahun
1995
ERA SETELAH SUHARTO Indonesia berjuang dari Regulasi diperketat untuk
(SETELAH 1998): kesulitan ekonomi dan memperbaiki pengungkapan
Suharto dipaksa mengundurkan stabilitas sosial informasi
diri pada tahun 1998

5.2 PERKEMBANGAN ORGANISASI PROFESI AKUTANSI

Sampai dengan tahun 1950an, di Indonesia belum ada profesi akutansi


lulusan universitas lokal. Hampir semua akutan memiliki kualifikasi professional
yang berasal dari Belanda. Munculnya Undang-Undang No. 34/1954 tentang
Pemakaian gelar akuntan merupakan fondasi lahirnya akuntan yang berasal dari
universitas lokal. Pada tahun 1957, kelompok pertama mahasiswa akuntansi
lulusan dari universitas Indonesia.

Kemajuan selanjutnya dapat dilihat pada tahun 1990an ketika Bank Dunia
mensponsori Proyek pengembangan Akuntan (PPA). Melalui proyek ini, berbagai
standar akuntansi dan auditing dikembangkang, standar profesi diperkuat dan
Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) mulai dikenal. Ujian Sertifikasi
Akuntan Publik bersetandar internasional diberlakukan sebagai syarat wajib bagi
akuntan Publik yang berpraktik sejak tahun 1997 (akuntan yang sudah berpraktik
sebagai akuntan publik sebelum 1997 tidak wajib mengikuti USAP).

Empat puluh lima tahun setelah pendirian, IAI berkembang menjadi


organisasi profesi yang diakui keberadaannya di Indonesia. Lebih dari 65%
anggotanya bertempat tinggal di Indonesia dan berprofesi sebagai akuntan publik,
akuntan manajemen, akuntan pendidik dan akuntan pemerintah.
Profesi akuntansi menjadi sorotan public ketika terjadi krisis keuangan di
Asia pada tahun 1997 yang ditandai dengan bangkrutnya berbagai perusahaan dan
bank di Indonesia. Hal ini disebabkan perusahaan yang mengalami kebangkrutan
tersebut, banyak yang mendapat opini wajar tanpa pengecualian (unqualified
audit opinions) dari akuntan publik. Pada bulan Juni 1998 Asian Development
Bank (ADB) menyetujui Financial Governance Reform Sector Development
Program (FGRSDP) untuk mendukung usaha pemerintah mempromosikan dan
memperkuat proses pengelolaan perusahaan (governance) di sektor publik dan
keuangan. Kebijakan FGRSDP yang disetujui pemerintah adalah usaha untuk
menyusun peraturan yang membuat: (1) auditor bertanggung jawab atas kelalaian
dalam melaksanakan audit, dan (2) direktur bertanggung jawab atas informasi
yang salah dalam laporan keuangan dan informasi publik lainnya.
Tahun 2001, Departemen Keuangan mengeluarkan Draft Akademik
tentang Rancangan Undang-Undang Akuntan Publik (RUU AP) yang membahas
isu berkaitan Undang-Undang Akuntan Publik yang baru. Dalam draft ini
disebutkan bahwa tujuan dibentuknya UU akuntan Publik adalah:
a) Melindungi kepercayaan publik yang diberikan kepada akuntan publik
b) Memberikan kerangka hukum yang lebih jelas bagi akuntan publik
c) Mendukung pembangunan ekonomi nasional dan menyiapkan akuntan
dalam menyongsong era liberlisasi jasa akuntan publik
Hal terpenting dalam RUU AP ini adalah ketentuan yang menyebutkan bahwa
akuntan publik dan kantor akuntan publik dapat dituntut dengan sanksi pidana.

5.3 STRUKTUR ORGANISASI IAI


Sejak didirikan pada tahun 1957, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah
menyelenggarakan Kongres sebanyak 8 kali. Kongres merupakan pemegang
kedaulatan tertinggi dalam organisasi IAI dan pada awalnya diadakan dalam
periode waktu yang tidak tentu. Sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, Kongres
memiliki wewenang sebagai berikut:
a) Menetapkan Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga, pedoman pokok,
garis besar haluan dan program kerja IAI
b) Memberikan penelitian atas setuju tidaknya pertanggungjawaban pengurus
pusat, dewan pertimbangan profesi, dan dewan penasehat tentang amanat
yang diberikan oleh Kongres sebelumnya
c) Memilih dan mengangkat ketua umum pengurus pusat
d) Mengangkat seluruh anggota Dewan Pertimbangan Profesi dan Dewan
Penasehat
e) Menetapkan auditor independen untuk mengaudit laporan keuangan
kepengurusan periode berikutnya

Kongres IAI diselenggarakan setiap empat tahun, Kongres ini memilih


Pengurus Pusat IAI , yang terdiri dari 150 anggota dan dipimpin oleh seorang
Ketua Umum. IAI memiliki empat kompartemen dan dua dewan. Direktur
Eksekutif memimpin 30 staf full-time. Empat kompartemen tersebut adalah:
1. Kompartemen Akuntan Akademisi (IAI-KAA)
Kompartemen ini bertugas memberikan saran tentang perbaikan kurikulum
pendidikan akuntansi. IAI-KAA juga berfungsi untuk menyiapkan ujian
sertifikasi akuntan publik.
2. Kompartemen Akuntan Manajemen (IAI-KAM)
IAI-KAM bertugas untuk menyiapkan dan mengimplementasikan proposal
tentang standar kompetensi akuntan manajemen. Kompartemen ini juga
bertugas untuk mengembangkan kualifikasi bagi akuntan manajemen.
3. Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP)
Kompartemen Akuntan Publik bertugas untuk mengatur perizinan kantor
akuntan publik, membuat standar profesi, mereview pelanggaran disiplin
dan memberikan sanksi kepada akuntan publik.
4. Kompartemen Akuntan Sektor Publik (IAI-KASP)
Kompartemen ini bertugas mengeluarkan peraturan dalam bentuk
exposure draft akuntansi sektor publik dan persyaratan pelaporan
keuangan.

Struktur organisasi IAI dapat dilihat pada tampilan 5.1


1. Aktivitas IAI
Selama ini IAI memiliki berbagai aktivitas mulai dari penentuan standar
sampai dengan lobi politik. Dalam merumuskan standar, IAI memiliki komitmen
yang tinggi untuk melakukan harmonisasi standar akuntansi internasional. IAI
mengembangkan dan mengeluarkan standar akuntansi, standar auditing, standar
atestasi, standar penjamin mutu, dan standar jasa konsultasi.
Selain itu, IAI juga menyelenggarakan training. Selama ini Akuntan PUblik
disyaratkan untuk mengambil pendidikan profesi berkelanjutan (PPB) minimum
30 kredit (jam) per tahun dan 120 jam PPB setiap periode tiga tahunan. IAI
menyelenggarakan dua sampai tiga pelatihan PPB setiap minggunya termasuk
seminar dan workshop. Kegiatan ini juga terbuka untuk umum.
IAI juga menyelenggarakan Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) bagi
akuntan yang berkeinginan memiliki gelar Bersertifikat Akuntan Publik (BAP).
Ujian ini biasanya diselenggarakan dua kali dalam setahun.
Kegiatan lain yang diselenggarakan IAI antara lain melakukan publikasi
kegiatan dan hasil penelitian bidang akuntansi (Media Akuntansi, Jurnal Riset
Akuntansi Indonesia, dan Jurnal Riset Akuntansi Sektor Publik) dan memberikan
pelatihan dan konsultasi bagi usaha kecil dan menengah. IAI juga melakukan lobi
politik dari waktu ke waktu berkaitan dengan isu-isu profesi dan masyarakat
umum.
Struktur Organisasi IAI

2. Keanggotaan IAI dan Afiliasi


Secara yuridis, keanggotaan IAI dapat diklasifikasikan ke dalam tiga
kelompok, (1) anggota biasa, yaitu anggota yang memiliki nomor register, (2)
anggota luar biasa, yaitu anggota yang memiliki gelar Sarjana Ekonmi Jurusan
(Program Studi) Akuntansi atau yang serupa sesuai peraturan perundangan-
undangan yang berlaku, atau perusahaan pengguna jasa profesi akuntan, atau
organisasi lain yang terkait dengan profesi akuntan; dan (3) anggota kehormatan,
yaitu Warga Negara Indonesia yang telah berjasa bagi perkembangan profesi
Akuntansi di Indonesia.
Dari kegiatan afiliasi, IAI selama ini sudah menjalin hubungan kerjasama
dengan organisasi dunia, misalnya menjadi anggota Asean Federation of
Accountants (AFA), Confederation Asian Pacific of Accountants (CAPA),
International Federation of Accountants (IFAC) dan International Accounting
Standard Committee (IASC). Namun demikian, pada tahun 1999, karena alasan
keterbatasan dana, IAI mengundurkan diri dari keanggotaan CAPA (ADB 2003).

5.4 STANDAR AKUNTANSI DI INDONESIA


Sebelum tahun 1973, persyaratan pelaporan keungan didasarkan pada

pedoman-pedoman yang dikeluarkan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yang

hanya menghendaki adanya system pembukan yang cukup. Orientasi penyusunan

standar didasarkan pada prinsip akuntansi yang berterima umum (generally

accepted accounting principles-GAAP) yang berlaku di Amerika. IAI membentuk

Komite ad hoc, untuk mengembangkan prinsip akuntansi Indonesia. Komite

tersebut mengadaopsi prinsip akuntansi Amerika-Inventory of Generally Accepted

Accounting Principles for Business Enterprises yang dikembangkan oleh Paul

Grady pada tahun 1965. Pada bulan Desember 1973, IAI mengadopsi

rekomendasi yang diberikan oleh Komite tersebut dan mengeluarkan Prinsip

Akuntansi Indonesia (PAI). PAI ini berisi prinsip dasar, praktik, metode dan

teknik akuntansi. Dalam menjalankan kegiatanya, IAI juga berkerja sama dengan
Direktorat Jendral Pajak dan Bapepan untuk memastikan bahwa IAI memperoleh

dukungan resmi dari lembaga tersebut. IAI kemudian membent (KAPAI) pada

tahun 1974 yang bertugas untuk menyusun standar akuntansi.

Untuk merespon reformasi ekonomi dan deregulasi pasar, pada tahun

1984 KPAI mengeluarkan prinsip akuntansi yang telah direvisi yang kemudian

diberi nama Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) 1984. Meskipun sudah ada

beberapa perbaikan, PAI 1984 tidak mampu mengatasi praktik akuntansi untuk

industry khusus (seperti perbankan, asuransi dan pertambangan) dan cenderung

berorientasi sempit (mengabaikan konsolidasi). Ruang lingkup standar akuntansi

yang sempit dan kurangnya dukungan yuridis (legal), membuat perusahaan

memiliki kesempatan untuk memilih model pelaporan keuang seperti yang mereka

inginkan.

Sampai awal tahun 1990an, lebih dari 200 perusahaan terdaftar di pasar

modal. Permintaan investor, kreditor dan pemberi pinjaman terhadap standar

akuntansi yang berkualitas dan komprehensif mewarnai pertumbuhan perusahaan

yang cepat tersebut. Akibatnya, pada tahun 1994, IAI mengadopsi Framework for

the Preparation and Presentation of Financial Statement yang dikeluarkan oleh

International Accounting Standard Committee (IASC). Pada waktu yang

bersamaan, IAI juga mengadopsi standar akuntansi internasional (International

Accounting Standards atau IAS)-yang diberi nama Peryataan Standar Akuntansi

Kuangan (PSAK). Dalam Kongres IAI ke-7, diputuskan bahwa IAI menggunakan

IAS sebagai dasar pelaporan keungan domestik dan menyetujui bebrapa PSAK

yang baru.
Selama tiga dekade, pelaporan keungan di Indonesia telah berkembang

secara substansial. Indonesi telah melakukan berbagai perubahan dalam

mengadopsi standar akuntansi keuangan dan sekarang ini mengadopsi standar

akuntansi internasional (international financial reporting standard-IFRS) yang

dikeluarkan International Accounting Standard Board (IASB).

Standar Akuntansi Keungan di Indonesia (PSAK) cenderung

dikembangkan dengen pendekatan principle-based standards bukannya US rule-

based standards (ADB 2003). Dalam principle-based standards, standar akuntansi

memberikan pedoman yang sifatnya umum. Sebaliknya, dalam rule-based

standards, berusaha untuk mengatur setiap situsai bisnia. Aturan (rules)

menggantikan professional judgment sehingga mementingkan bentuk hokum

(legal form) dan mengabaikan substansi ekonominya (economic substance). Yang

menarik beberapa PSAK lebih maju dibandingkan IAS mampu US GAAP (ADB

2003). Misalnya PSAK 53 tentang Akuntansi untuk Kompensasi Saham

diberlakukan wajib (mandatory), sementara SFAS 123 di Amerika bersifat

optimal atau pilihan (karena adanya tekanan lobi).

5.5 PENYUSUNAN STANDAR AKUNTANSI DI INDONESIA


Proses penyusunan standar akuntansi yang baik harus memiliki lima
tahapan (ADB 2003):
1. Design: aspek khusus akuntansi tertentu diidentifikasi dan diteliti dan
exposure draft disiapkan.
2. Approval: draft tersebut direview dan jika layak akan disetujui sebagai
standar.
3. Education: Penjelasan kepada penyusun dan pemakai laporan keuangan
tentang pengaruh dan implementasi standar yang baru.
4. Implementation: Ketentuan dalam standar tersebut diaplikasikan dalam
perusahaan
5. Enforcement: Pengawasan dan pemberian sanksi bagi yang tidak
menerapkan.
Penyusunan standar akuntansi di Indonesia pada dasarnya mengacu pada model
Amerika dengan sedikit modifikasi. Menurut aturan yang disebut Dewan Standar
Akuntansi Keuangan, proses penyusunan standar akuntansi keuangan melibatkan
delapan tahap berikut ini (ADB 2003):
a. Issues Identification
b. Preliminary Consideration
c. Preparation of Accounting Discussion Paper
d. Preparation of Exposure Draft (ED)
e. Publication of ED
f. Public Hearings
g. PSAK Preparation
h. Approval and Promulgation
Penyusunan standar di Indonesia dapat dikategorikan kedalam dua periode
sebelum Kongres VIII Ikatan Akuntansi Indonesia September 1998. Periode
setelah Kongres diputuskan perubahan mendasar dalam proses penyusunan
standar akuntansi.

A. Periode Sebelum Kongres VIII


1. Organisasi dan Dana
Anggota komite Standar Akuntansi Keuangan (SAK) terdiri dari 17 orang
dipimpin oleh ketua dan wakil ketua dan sekretaris. Komite SAK
bertanggungjawab terhadap pengurusan pusat IAI. Komite SAK dipilih
setelah tahun 1994 dan berakhir menjelang kongres 1998. Dana yang
digunakan untuk proses penyusunan SAK diperoleh dari sumbangan,
kerjasama dengan organisasi pemerintah, perusahaan dan proyek Bank
Dunia/Depkeu. Sebagian besar dana digunakan untuk akomodasi tempat rapat
dan public hearing.

2. Due Process Procedures


Penyusunan SAK dimulai dari penyusunan agenda topik SAP. Beberapa
topik berasal dari usulan anggota biasanya berkaitan dengan kebutuhan
pelaporan keuangan karena transaksi tertentu. Beberapa topik berasal dari
kerjasama dengan organisasi atau perusahaan tertentu dan beberapa topik
lainnya kerjasama dengan Bank Dunia dan Departemen Keuangan. Topik
yang sudah disepakati masuk ke agenda dan dibahas untuk menjadi exposure
draft. Pembahasan ini bisa dibantu oleh pakar yang berasal dari luar komite.
Bantuan ini ada yang hanya sekedar masukan saja yang kemudian diolah oleh
komite menjadi draft lengkap, ada juga yang sudah menjadi draft gabungan
dengan pihak lain diluar komite, misalnya ketika menyusun draft SAK
Asuransi Jiwa dan Asuransi Kerugian. Kemungkinan lain adalah menerima
draft lengkap yang sudah dikerjakan oleh pihak lain, misalnya topik SAK
yang dapat bantuan Depkeu/Bank Dunia, draft dibuat oleh konsultan mereka.
Exposure draft yang telah disetujui oleh kuorum anggota diperbanyak dan
disebarkan ke publik sebulan sebelum diadakan public hearing. public
hearingdiselenggarakan untuk memperoleh masukan baik lisan maupun
tertulis. Setelah public hearing, komite mengadakan beberapa kali pertemuan
untuk membahas dan menyetujui draft SAK final. Dalam proses pembahasan
ini komite kadang-kadang melakukan limited hearing untuk mendengarkan
pendapat pakar atau konsituen tertentu. Draft SAK final kemudian dikirim ke
pengurus pusat untuk disahkan. Pengurus pusat kemudian mengadakan rapat
pengesahan SAK. Hasil komite periode 1994 – 1998 adalah diterbitkannya 22
SAK baru, 3 revisi SAK, 4 interpretasi SAK dan review 35 SAK IAI
berbahasa inggris.

B. Periode Setelah Kongres VIII

1. Organisasi dan Dana


Setelah Kongres VIII, Komite menjadi lebih kecil dengan mengurangi
jumlah anggota menjadi 7 dan 9 orang. Hasil Kongres lainnya adalah
dibentuknya Consultative Body / Advisory Council yang mewakili konstituen
dengan anggota sebanyak 25 sampai 30 orang. Disamping itu juga dibentuk
teknis yang bekerja penuh waktu dengan kompensasi memadai, dipimpin oleh
direktur riset dengan jumlah tim disesuaikan dengan kekuatan pendanaan IAI.
Komposisi anggota harus mencermikan konstituen yaitu: pembuat
laporan,auditor, pemakai laporan, pemerintah dan akademisi. Anggota komite
harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a) Pengetahuan mengenai akuntansi dan pelaporn keuangan
b) Tingkat intelektual, integritas, dan disiplin yang tinggi.
c) Temparemen judisial.
d) Kemampuan untuk bekerja dengan suasana kolegial.
e) Kemampuan komunikasi.
f) Pemahaman lingkungan bisnis dan pelaporan keuangan.
g) Komitmen pada misi Komite SAK dan IAI.
h) Komitmen untuk mencurahkan waktu pada pekerjaan komite SAK
dengan sukarela.

Dengan adanya tim teknis yang bekerja penuh, komite cukup mempunyai
ketua yang mempunyai tanggungjawab tambahan yaitu memimpin rapat- rapat
komite dan pertemuan lain, pengembangan dan pengawasan kebijakan
administrative, bekerjasama dengan pengurus dalam membuat anggaran komite,
melakukan kontak dengan konstituen dan pengurus pusat IAI.

Advisory Council merupakan perwakilan konstituen yang mempunyai


fungsi untuk memberikan arahan dan prioritas penyusun standar. Fungsi lain
adalah memberikan pendapat pada posisi yang diambil oleh komite untuk masalah
penting dalam standar akuntansi. Council juga mempunyai fungsi membantu
pengurus pusat dalam pendanaan komite maupun tim teknis. Anggota komite
tidak lagi dipilih atau diganti setiap kali Kongres. Agar terjadi kesinambungan
kerja, masing – masing anggota komite dipilih dan diberhentikan pada waktu
yang berbeda dengan selang waktu yang memadai. Anggota komite dipilih untuk
masa kerja 4 tahun yang kedua.

Ketua dan anggota komite SAK harus dibebaskan dari usaha mencari dana
penyususn standar akuntansi keuangan. Tim teknis membuat anggaran biaya
komite setiap tahun. Pengurus pusat dengan bantuan Advisory Council
mempunyai tanggungjawab untuk menyediakan dana yang anggarannya telah
disetujui Bersama antara pengurus pusat, Advisory Council dan Komite SAK.

2. Due Process Procedure


Meskipun dipilih dan bertanggungjawab kepada IAI, komite baru
merupakan Lembaga otonom yang mempunyai wewenang tertinggi dalam
menentukan standar. Ada beberapa perubahan yang dilakukan IAI, misalkan SAK
dikembangkan dan disahkan oleh komite dan perlunya perbaikan dalam due
process. Masa komentar terhadap exposutre draft diperpanjang dari minimal satu
bulan menjadi paling tidak enam bulan. Publik harus diberi kesempatan untuk
memberikan komentar tertulis lebih banyak.
Kesempatan untuk memberikan testimony pada public hearing secara
bertahap harus diubah menjadi hanya untuk public yang telah memberikan
komentar tertulis. Kualitas Bahasa exposure draft harus ditingkatkan sehingga
public akan memberikan komentar lebih banyak pada isu pokok standar. Rapat
komite harus dirancang menjadi terbuka untuk public sebagai pengamat.
Penyebaran hasil tertulis baik hasil antaramaupun final diperbanyak dan diperluas
dengan menggunakan media yang tersedia (leaflet, brosur, koran, majalah).