Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

KONSELING GIZI

KONSELING GIZI UNTUK IBU MENYUSUI

AMARUL ILMA TAKATSURI


18220007

PRODI D3 GIZI
POLITEKNIK KESEHATAN TNI AU ADISUTJIPTO
YAYASAN ADI UPAYA
TAHUN 2020

1
HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini saya Amarul Ilma Takatsuri


menyatakan bahwa laporan akhir praktikum Konseling Gizi dengan judul
“Konseling Gizi Untuk Ibu Menyusui” adalah pekerjaan saya sendiri dan di
dalamnya tidak terdapat karya orang lain. Apabila dikemudian hari ditemukan
karya orang lain dalam pekerjaan saya, maka saya siap menerima sanksi yang
berlaku.

Yogyakarta, 22 Maret 2020

Amarul Ilma Takatsuri

2
DAFTAR ISI

JUDUL ........................................................................................................ 1
HALAMAN PERNYATAAN .................................................................... 2
DAFTAR ISI ............................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 4
1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 4
1.2. Tujuan ................................................................................................... 4
1.3. Sasaran .................................................................................................. 4
1.4. Manfaat ................................................................................................. 5
BAB II DASAR TEORI .............................................................................. 6
2.1. Konseling Gizi Ibu Menyusui ............................................................... 6
2.2. Air Susu Ibu (ASI) ................................................................................ 6
2.3. Masalah-Masalah Dalam Menyusui ..................................................... 7
2.4. Bingung Puting ..................................................................................... 8
BAB III DESKRIPSI KASUS ..................................................................... 9
BAB IV DIALOG ....................................................................................... 10
BAB V PENUTUP....................................................................................... 14
5.1. Simpulan ............................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 15
LAMPIRAN ................................................................................................ 16

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Konseling gizi merupakan salah satu bagian dari pendidikan gizi yang
bertujuan membantu masyarakat, kelompok atau individu untuk menyadari
dan mampu mengatasi masalah kesehatan dan gizi yang dialaminya. Dengan
demikian Konseling gizi adalah suatu proses memberi bantuan kepada orang
lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah
melalui pemahaman fakta-fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan klien
(Sukraniti, dkk., 2018).
Semua golongan terutama golongan rawan gizi, perlu mendapatkan
edukasi yang baik terkait masalah gizi. Adapun yang dimaksud golongan
rawan gizi menurut Putri (2011) yaitu bayi, anak balita, anak sekolah,
remaja, ibu hamil, ibu menyusui, dan lanjut usia. Untuk golongan ibu
menyusui, konseling gizi penting dilakukan karena menyangkut tumbuh
kembang bayinya juga. Tumbuh kembang anak sangat tergantung pada 1000
HPK yang salah satunya adalah fase menyusui. Dengan 1000 HPK yang
baik, maka diharapkan tumbuh kembang anak juga ikut baik.

1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah:
a. Untuk mengetahui contoh kasus konseling gizi pada ibu hamil.
b. Untuk mengetahui cara memberikan dan menyampaikan konseling yang
baik bagi ibu hamil.

1.3. Sasaran
Sasaran dari praktikum konseling gizi ini ialah pada ibu hamil. Kasus
yang dialami yaitu bayi bingung puting, ASI tidak eksklusif, dan risiko gizi
lebih pada bayi.

4
1.4. Manfaat
Laporan ini memiliki manfaat yaitu sebagai evaluasi dari praktikum
konseling gizi yang akan dilakukan.

5
BAB II
DASAR TEORI

2.1. Konseling Gizi Ibu Menyusui


Berdasarkan Depkes (2007) yang dikutip oleh Sukraniti dkk (2018),
konseling menyusui adalah segala daya upaya yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan (konselor) untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam
menyusui bayinya. Dengan demikian, konseling gizi ibu menyusui dapat
diartikan sebagai cara dan usaha yang dilakukan oleh konselor (ahli gizi)
dalam membantu ibu mendapat alternatif solusi dari masalah dan memberi
edukasi terkait menyusui supaya masalahnya dapat mengatasi dengan
mengambil keputusan yang dirasa sesuai oleh ibu menyusui tersebut.

2.2. Air Susu Ibu (ASI)


ASI adalah cairan yang diciptakan khusus yang keluar langsung dari
payudara seorang ibu untuk bayi. ASI merupakan makanan bayi yang
sempurna, praktis, murah dan bersih karena langsung diminum dari
payudara ibu. ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan
bayi untuk memenuhi kebutuhan gizi di 6 bulan pertamanya. Jenis ASI
terbagi menjadi 3 yaitu kolostrum, ASI masa peralihan dan ASI mature
(Walyani, 2015).
ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi, tanpa tambahan
cairan lain seperti susu formula, air jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa
tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur
nasi dan tim, selama 6 bulan (Mufdlilah dkk, 2017). Hal ini dikarenakan
ukuran lambung bayi masih kecil dan baru sedang berkembang.
Air Susu Ibu utamanya diberikan pada bayi dengan menyusui. Menyusui
adalah proses memberi susu pada bayi atau anak kecil dengan ASI dari
payudara ibu. Bayi menggunakan refleks menghisap untuk mendapat dan
menelan susu. Menyusui memiliki berbagai macam manfaat yang bisa

6
dirasakan oleh ibu dan bayi. Adapun manfaat menyusui menurut Sukraniti
dkk (2018) adalah sebagai berikut:
a. Bagi bayi
1) ASI mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan bayi dengan tepat.
2) ASI mudah dicerna dan secara efisien digunakan oleh tubuh bayi.
3) ASI melindungi bayi terhadap infeksi, yang sangat penting bagi bayi
baru lahir.
4) ASI berdampak pada kesehatan jangka panjang, seperti mengurangi
risiko obesitas dan alergi.
b. Bagi ibu
1) Membantu ibu dan bayi untuk bonding, yaitu mengembangkan
hubungan yang dekat dan penuh kasih.
2) Membantu perkembangan bayi.
3) Dapat menunda kehamilan baru.
4) Melindungi kesehatan ibu dengan beberapa cara.
5) Membantu rahim kembali ke ukuran semula. Hal ini mengurangi
perdarahan, dan dapat membantu mencegah anemia.
6) Mengurangi risiko kanker payudara, kanker ovarium, dan diabetes
tipe 2.
7) Menyusui lebih murah dibandingkan makanan buatan, termasuk
lebih sedikit biaya untuk perawatan kesehatan.
8) Tidak menghasilkan limbah, sehingga lebih baik bagi lingkungan.

2.3. Masalah-Masalah Dalam Menyusui


Menyusui tidak selalu bisa dilakukan dengan lancar. Menurut Widiasih
(2008), masalah-masalah dalam menyusui yaitu:
1. Masalah menyusui masa antenatal, contohnya adalah kurang atau salah
informasi dan puting susu terbenam (retracted) atau putting susu datar.
2. Masalah menyusui pada masa pasca persalinan dini, contohnya adalah
puting susu lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat, dan
mastitis atau abses.

7
3. Masalah menyusui pada masa pasca persalinan lanjut, contohnya adalah
sindrom ASI kurang dan ibu yang bekerja.
4. Masalah menyusui pada keadaan khusus, contohnya adalah ibu
melahirkan dengan bedah caesar, ibu sakit, dan ibu hamil.
5. Masalah pada bayi, contohnya adalah bayi sering menangis, bayi
bingung puting, bayi prematur, bayi kuning, bayi kembar, bayi sakit,
bayi sumbing, bayi dengan lidah pendek (lingual frenulum), dan bayi
yang memerlukan perawatan.

2.4. Bingung Puting


Berdasarkan website IDAI atau Ikatan Dokter Anak Indonesia (2013),
bingung puting adalah keadaan yang terjadi karena bayi mendapat susu
formula dengan botol selagi bergantian dengan menyusu pada ibu. Bingung
puting terjadi karena mekanisme menyusu dari ibu berbeda dengan menyusu
melalui botol dan dot.
Menyusu pada ibu memerlukan koordinasi lidah, langit-langit, gusi dan
otot-otot pipi sedangkan menyusu dari botol lebih bersifat pasif tergantung
pada kemiringan botol, besarnya lubang dan ketebalan karet dot. Menyusu
dari botol terlihat lebih mudah, tetapi penelitian membuktikan bahwa
menyusu dari botol memerlukan energi yang lebih banyak karena juga
menahan agar jangan sampai bayi tersedak.
Tanda-tanda bayi dengan bingung putting:
a. Bayi menolak menyusu dari ibu.
b. Bila menyusu mulutnya mencucu seperti minum dari dot.
c. Waktu menyusu bayi sebentar-sebentar melepas hisapannya.
Penatalaksanaan pada bayi bingung puting:
a. Usahakan tidak memberi bayi susu formula atau PASI (Pengganti Air
Susu Ibu) lainnya.
b. Bila oleh sesuatu hal bayi tidak dapat menyusu maka berikan bayi ASI
perah, lalu jika ASI tidak keluar maka terpaksa diberi susu formula atau
PASI. Pemberiannya dengan menggunakan cangkir atau sendok.

8
9
BAB III
DESKRIPSI KASUS

Sepasang suami istri memutuskan untuk melakukan konseling gizi. Hal


tersebut dikarenakan bayi yang berjenis kelamin laku-laki, belakangan ini sering
tidak mau menyusu langsung. Data yang diperoleh konselor gizi yaitu Ibu Suri (S)
berusia 24 tahun bekerja sebagai pegawai TU di SMA. Ibu S bekerja 5 hari/
minggu (sudah masuk kerja, masa cutinya sudah habis). Sedangkan suaminya,
yaitu Bapak Joni (J), berusia 29 tahun sebagai pemilik distro rumahan. Jadi yang
lebih banyak mengurus bayi pada hari kerja saat di rumah adalah Bapak J. Bayi
mereka lahir pada 23 November 2019. Usia bayi 4 bulan 3 minggu. Setelah Ibu S
mulai masuk kerja, anak bayinya sering tidak mau menyusu langsung dan lebih
memilih menyusu dari botol. Untuk mengakalinya, sang bayi diberi ASI perah
dan susu formula melalui botol dot. Lalu sang bayi juga diberi bubur pisang yang
saring oleh Bapak J supaya tetap ada makanan yang masuk. BB bayi saat ini 8,2
kg dengan PB 65,1 cm.

10
BAB IV
DIALOG

Firman : Bapak Joni


Ilma : Ibu Suri
Farah : Konselor Disty

Joni : Assalamualaikum, izin masuk.


Disty : Waalaikumussalam, silakan masuk.
Suri : Baik Bu, terima kasih.
Disty : Ya, sebelumnya perkenalkan saya merupakan ahli gizi di RS ini, nama
saya Disty. Boleh saya tahu data diri Ibu dan Bapak?
Joni : Nama saya Joni, umur 29 tahun, pekerjaan saya pemilik distro rumahan.
Suri : Nama saya Suri, umur 24 tahun, saya pegawai TU di SMA.
Disty : Oh, baik Bapak Joni dan Ibu Suri, ada yang bisa saya bantu terkait
masalah yang sedang dialami?
Suri : Begini Bu Disty, bayi laki-laki saya yang berusia 4 bulan 3 minggu
belakangan ini jarang mau nyusu langsung dari saya. Padahal saya
sudah masuk kerja dan baru di rumah sekitar jam 4 sore. Jadi sebelum
kerja, saya sudah siap ASI perah sama susu formula untuk pasokan bayi
saya di rumah. Soalnya di rumah ada suami yang jaga.
Joni : Benar itu Bu, saya kan jaga distro di rumah, jadi saya juga yang ngurus
anak pas istri saya kerja. Tapi pas saya coba kasih susu lewat botol itu,
kadang dia nolak kayak ngga mau. Jadi saya kasih bubur pisang yang
disaring biar ada makanan yang masuk.
Disty : Kalau boleh tau, jumlah ASI Ibu Suri yang keluar bagaimana?
Suri : Alhamdulillah lancar Bu, waktu saya perah keluarnya juga normal,
ngga banyak ngga sedikit.
Disty : Baik, kalau dari anak Ibu Suri sendiri apa ada kejadian yang tidak biasa
saat dicoba untuk disusui?

11
Suri : Belakangan ini bayi saya biasnya kalo lagi mau nyusu langsung itu suka
mengisap puting seperti menghisap dot terus menghisapnya juga
terbutus-putus dan sebentar.
Disty : Oh baik, boleh saya tau BB dan PB anak Bapak Ibu?
Joni : Terakhir saya cek di posyandu itu, BB-nya 8,2 kg dan PB-nya 65,1 cm.
Disty : Baik Bapak Joni dan Ibu Suri, mohon ditunggu sebentar. Saya akan
menghitung status gizi dari anak Bapak Ibu.
Joni : Iya Bu Disty.
Disty : Selagi saya menghitung, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan.
Suri : Iya Bu, silakan.
Disty : Jadi sebelumnya saya mohon maaf Bapak Joni dan Ibu Suri, dilihat dari
hal-hal yang sebelumnya sudah disampaikan, ada kemungkinan bahwa
anak Bapak dan Ibu ini mengalami bingung puting. Selain itu, karena
umur anak masih 5 bulanan dan sudah diberi makanan selain ASI,
mohon maaf lagi Bapak Ibu, ASI-nya tidak eksklusif.
Joni : Iya sih Bu, sebenarnya kami tau kalau seharusnya bayi itu mendapat
ASI eksklusif selama minimal 6 bulan, tapi ya itu Bu Disty, karena
belakangan ini dia kadang ngga mau nyusu, kami jadinya ngasih dia
bubur pisang saring.
Suri : Iya Bu Disty, kami bingung. Terus gimana Bu hasil perhitungan status
gizi anak kami? Dan tentang bingung puting itu bagaimana ya Bu?
Disty : Setelah saya hitung, mohon maaf lagi Bapak Ibu, status gizi anak Bapak
Joni dan Ibu Suri ini masuk ke risiko gizi lebih. Untuk bingung puting
sendiri, itu sebenarnya keadaan yang terjadi karena bayi mendapat susu
formula dengan botol selagi bergantian dengan menyusu pada ibu.
Joni : Astagfirullah, ternyata begitu ya Bu. Terus baiknya kami gimana Bu
Disty?
Disty : Iya Bapak Joni, jadi bingung puting bisa terjadi karena mekanisme
menyusu langsung dari ibu berbeda dengan menyusu melalui botol dot.
Mudahnya, bayi jadi mulai nyaman menghisap susu dengan dot, dan
saat menyusu langsung malah bingung mencari “dot”nya yang

12
berakibat bayi kadang tidak mau menyusu di puting Ibu. Untuk
solusinya, mungkin Bapak Joni dan Ibu Suri bisa mulai mengurangi
penggunaan botol dot bila memungkinkan. Untuk Ibu Suri, yang
semangat ya Bu. Anaknya bisa dicoba terus untuk menyusu langsung
pada Ibu. Semoga bisa secepatnya tidak bingung puting lagi.
Suri : Baik Bu Disty, akan saya usahakan. Aamiin Bu, terima kasih. Tapi
kalau semisal anak saya benar-benar sedang tidak mau menyusu
langsung, terus saya kasih susunya lewat sendok boleh tidak Bu?
Disty : Wah, sangat boleh Ibu Suri. Memang alternatifnya itu kalau tidak bisa
menyusu langsung bisa memberi ASI-nya dengan menggunakan
cangkir atau sendok. Di samping itu, saya pesan juga untuk Bapak Joni,
selalu dukung Ibu Suri ya Bapak, supaya tidak jenuh saat berusaha
menyusui anak Bapak dan Ibu.
Joni : Iya Bu, pasti bakal saya dukung sepenuh hati istri saya. Terus cara
supaya status gizi anak kami bisa kembali normal bagaimana ya Bu
Disty?
Disty : Tentang itu, mungkin Bapak dan Ibu bisa mulai mengurangi atau lebih
baiknya mulai tidak memberi makanan selain ASI pada anak Bapak
Joni dan Ibu Suri ini. Supaya bisa ASI eksklusif begitu. Soalnya
sebenarnya ASI itu sudah memiliki kandungan yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan gizi anak bayi.
Suri : Baik Bu Disty, kami akan berusaha sedikit demi sedikit mengubah pola
makan anak kami. Mumpung ASI saya juga masih lancar keluarnya.
Sayang kalau ngga dipakai maksimal.
Disty : Nah itu, saya suka semangat Ibu. Saya doakan semoga ASI-nya lancar
terus ya Ibu Suri.
Suri : Iya Bu Disty, terima kasih. Aamiin Bu, aamiin.saya izin pamit ya.
Assalamualaikum.
Joni : Aamiin, terima kasih doanya Bu Disty.
Disty : Sama-sama Bapak Joni dan Ibu Suri. Apa masih ada hal lain yang ingin
disampaikan mungkin?

13
Suri : Sepertinya sudah hanya itu saja Bu.
Disty : Baik, jadi saya tutup ya Bapak Joni dan Ibu Suri sesi konseling kita hari
ini. Kalau berkenan, mungkin minggu depan kita bisa ketemu lagi
untuk melakukan evaluasi dari yang sudah kita diskusikan dan sepakati
hari ini?
Suri : Iya Bu Disty, kami berkenan kok Bu. Untuk jamnya, gimana Mas?
Joni : Kalau minggu depan jamnya sama seperti hari ini bisa tidak ya Bu?
Disty : Tentu bisa Bapak Joni.
Joni : Baik Bu Disty, kalau begitu kami juga pamit pulang dulu ya Bu. Terima
kasih. Assalamualaikum.
Suri : Iya Bu Disty, terima kasih atas hari ini ya Bu.
Disty : Waalaikumussalam. Iya Bapak Joni, Ibu Suri, sama-sama. Saya tunggu
kunjungannya minggu depan ya.
Joni : Iya Bu, Insyaa Allah.

14
BAB V
PENUTUP

5.1. Simpulan
Diketahui salah satu contoh dari kasus konseling gizi bagi ibu menyusui
dengan masalah yaitu bayi bingung puting, ASI tidak eksklusif, dan risiko
gizi lebih pada bayi. Untuk intervensinya, konselor dan klien sepakat supaya
mengurangi penggunaan botol dot, jika benar-benar susah menyusu baru
memberi ASI dengan cangkir atau sendok, dan mulai mengurangi atau
diusahakan menghentikan memberi makanan selain ASI pada bayi.

15
DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2013). Bayi Bingung Puting.


http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/bayi-bingung-puting (diakses
pada 22 Maret 2020, pukul 13.17 WIB)

Mufdlilah, dkk. (2017). Buku Pedoman Pemberdayaan Ibu Menyusui Pada


Program ASI Eksklusif. Yogyakarta.

Putri, Usi Rahmadhani. (2011). Kelompok Rentan Gizi. Universitas Andalas.


Padang.

Sukraniti, Desak Putu, dkk. (2018). Konseling Gizi. Jakarta: Kementrian


Kesehatan Republik Indonesia.

Walyani, E. S. (2015). Perawatan Kehamilan dan Menyusui Anak Pertama agar


Bayi Lahir dan Tumbuh Sehat. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Widiasih, Restuning. (2008). Makalah Seminar Managemen Laktasi “Masalah-


Masalah Dalam Menyusui”. Fakultas Ilmu Keperawatan. Universitas
Padjadjaran.

16
LAMPIRAN

Berdasarkan deskripsi kasus pada Bab III dan dialog pada Bab IV, dapat
disusun A-D-I-ME untuk memudahkan saat konseling gizi. Adapun susunannya
adalah sebagai berikut:

1. Asesmen
a. BB bayi saat ini 8,2 kg.
b. PB bayi saat ini 65,1 cm.
c. Status gizi berisiko gizi lebih (IMT/U = 1,12).
d. Usia bayi 4 bulan 3 minggu.
e. Bayi tidak mau menyusu langsung.
f. Bayi diberi makanan lain seperti susu formula dan bubur pisang saring.
g. Bayi mengisap puting seperti menghisap dot
h. Benghisap terbutus-putus dan sebentar
i. Bayi diberi susu formula dan bubur pisang saring.
j. ASI ibu lancar.

2. Diagnosis
Problem Bayi bingung puting ASI tidak eksklusif Risiko gizi lebih
Pemberian dot Bayi terkadang Pemberian
terlalu dini karena tidak mau menyusu makanan selain
Etiologi
ibu bekerja. langsung. ASI yang sedikit
berlebih.
Mengisap puting Bayi sudah diberi Z-score dari
seperti menghisap tambahan makanan indikator IMT/U
Signs &
dot, menghisap berupa bubur = 1,12.
sumptom
terbutus-putus dan pisang saring dan
s
sebentar, bayi sering susu formula.
menolak menyusu.

3. Intervensi

17
ASI tidak eksklusif
Bayi bingung puting
dan risiko gizi lebih
- Mengurangi penggunaan botol - Mulai mengurangi atau bisa
dot. menghentikan memberi bayi
- Kalau benar-benar susah makanan selain ASI.
menyusu, bisa memberi ASI
dengan cangkir atau sendok.

4. Monitoring & Evaluasi


Menanyakan pada pasutri apakah bersedia untuk menjadwalkan konseling
selanjutnya untuk memonitor dan evaluasi yang sudah dibahas dan disepakati
saat konseling.

18