Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN RESPONSI Foto 3x4 cm

MEKANISASI PERTANIAN
“IDENTIFIKASI DAN KALIBRASI ALAT TANAM”

Disusun oleh:

NAMA : HATTA GUMILANG


NIM : 1950402011112001
KELOMPOK : J3
ASISTEN : 1. FAZAR DWIRYA A.
2. RUT JUNIAR NAINGGOLAN
3. SRI MARNELA

LABORATORIUM DAYA DAN MESIN PERTANIAN

JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2020
MATERI
IDENTIFIKASI DAN KALIBRASI ALAT TANAM

1. TUJUAN
Tujuan dari pelaksanaan praktikum ini diantaranya yakni meliputi:
1. Untuk mengenalkan peralatan mekanis yang digunakan sebagai alat tanam beberapa
biji-bijian.
2. Untuk mengetahui karakteristik serta menghitung efisiensi alat tanam
3. Untuk memprediksi biji yang dibutuhkan untuk penanaman pada suatu lahan

2. DASAR TEORI
a. Pengertian Penanaman (3 Sitasi)
Menurut Aini & Ichwan (2017), penanaman merupakan usaha penempatan biji atau
benih di dalam tanah pada kedalaman tertentu atau menyebarkan biji diatas permukaan
tanah atau menanamkan didalam tanah. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan
perkecambahan serta pertumbuhan biji yang baik.
Menurut Maryudi & Ani (2018), penanaman merupakan kegiatan yang dilakukan
pada lahan-lahan kosong yang secara ekonomis menguntungkan untuk ditanami tanaman
perkayuan, terutama tanaman unggulan lokal.
Menurut Kadirman (2017), penanaman merupakan kegiatan penempatan benih atau
biji yang ada didalam tanah dengan memperhitungkan kedalaman tertentu atau
menyebarkan biji pada permukaan tanah dan menanamkan benih kedalam tanah. Hal ini
dimaksudkan untuk mendapatkan perkecambahan biji yang sempurna.

b. Pengertian Alat dan Mesin Penanam (2 sitasi)


Menurut Kadirman (2017), alat penanaman merupakan alat yang mengatur dan
mempengaruhi penempatan benih di dalam tanah yaitu berpengaruh pada kedalama
tanaman, jumlah benih per lubang, jarak antar lubang dalam baris dan jarak antar baris.
Serta yang dimaksud mesin penanam yaitu mesin yang digunakan untuk membantu petani
dalam memudahkan proses penanaman sehingga dapat menghasilkan kinerja efektif dan
efisien dengan keuntungan yang lebih besar pula.
Sedangkan menurrut Inskandar et al. (2017), alat tanam merupakan suatu alat yang
digunakan untuk menempatkan benih tanaman yaitu biji-bijian, bibit, batang atau sebagian
tubuh tanaman lain diatas atau dibawah permukaan tanah. Alat tanam didesain memiliki
fungsi untuk mempercepat proses penanaman pada lahan jagung dan mempermudah serta
tidak memakan waktu yang lama.

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


c. Sebutkan dan Jelaskan Jenis Alat Tanam berdasarkan Sumber Tenaga Penggerak (2
Sitasi)
- Sumber Tenaga Manusia
Menurut Siswanto (2015), alat penanaman dengan sumber tenaga manusia
digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. Alat penanaman tradisional, Alat penanaman tradisional yang sering digunakan adalah
tugal. Tugal merupakan alat yang paling sederhana yang dapat digerakkan dengan tangan
dan cocok untuk menanam benih dengan jarak tanam lebar. Tugal memiliki berbagai macam
bentuk, tergantung daerahnya.
2. Alat penanaman semi-mekanis, sebagai contoh tugal semi mekanis yang menggunakan
pegas, pada saat mata tugal masuk kedalam tanah, pengatur pengeluaran benih tertekan
keatas oleh permukaan tanah. Kemudian pengatur pengeluaran mendorong tangkai pegas,
sehingga lubang beih terbuka dan benih terjatuh kebawah. Ketika tugal diangkat ke atas,
pengatur pengeluaran kembali menutup dan pada posisi semula.

1. Alat Tugal Tradisional


Alat penanam tradisional yang umum digunakan adalah alat yang disebut tugal. Tugal
merupakan alat yang paling sederhana yang dapat digerakkan dengan tangan dan cocok
untuk menanam benih dengan jarak tanam lebar (Rachmawati, 2013). Tugal bentuknya
bermacam-macam sesuai dengan modifikasi suatudaerah atau negara. Bentuk tugal di
Indonesia merupakan bentuk tugal yang paling sederhana, karena pada tugal tersebut tidak
terdapat bentuk mekanisme pengeluaran benih. Disini benih dimasukkan kedalam tanah
secara terpisah, artinya memerlukan bantuan orang lagi (Rachmawati, 2013).

2. Kentheng
Kata kentheng berasal dari bahasa Jawa artinya tali atau tambang yang dibentangkan.
Kentheng dibuat dari bahan baku kayu atau bambu yang bagian bawahnya dihubungkan
dengan tambang, yang terbuat dari pintalan serat kulit pohon waru (lulub). Pada proses
pertanian padi tradisional di Kabupaten Magetan, kentheng digunakan ketika penanaman,
fungsinya untuk pedoman agar padi yang ditanam lurus dan patokan untuk mengatur larikan
padi yang ditanam (Gayatri, 2012). Kentheng Bagian dari kentheng yang digunakan untuk
pedoman agar padi yang ditanam lurus adalah bagian pathok kayu (acir). Ujung bawah acir

- Sumber Tenaga Traktor


Menurut Siswanto (2015), alat penanaman dengan sumber tenaga dari traktor
digolongkan menjadi 3, yaitu:
1. Alat penanaman sistem baris lebar, alat baris penanaman sisreem baris lebar ini dirancang
untuk menempatkan benih-benih dalam tanah dengan jarak baris tanam satu dengan yang
lain cukup lebar, sehingga akan mungkin dilakukan penyiangan dan meningkatkan efisiensi
pemanenan. Berdasarkan cara penempatan benih dalam tanah, maka alat penanam sistem
baris lebar dapat dibagi dalam tipe drill dan hill-drop. Sedangkan untuk penempatan alat
pananam pada traktor dapat dibagi dalam golongan, trailing dan mounted.
2. Alat penaman sistem baris sempit, alat penanam tipe ini adalah dirancang khusus untuk
menanam benih-benih kecil atau rumput-rumputan dalam baris dan alur yang sempit serta
kedalaman yang seragam. Alat penanam sistem baris yang sempit ada yang mempunyai
corong pemasukan yang hanya untuk benih saja dan ada pula yang mempunyai corong yang
cukup luas namun terbagi menjadi dua bagian, satu bagian menjadi tempat benih dan bagian
lain menjadi tempat pupuk.
3. Alat penanaman sistem sebar, Penanaman sistem sebar merupakan cara penanaman
yang paling lama dan sederhana. Penebaran benih dengan mengunakan mesin lebih teliti

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


dan cepat bila dibandingkan penebaran dengan tangan. Penanaman sistem sebar ini
memerlukan adanya pembuka alur, maka dari itu harus disiapkan dengan pengolahan tanah
yang menggunakan peralatan seperti garu piring. Dan juga sistem ini tidak memerlukan
penutupan. Penutupan kemudian dapat dilakukan dengan garu paku atau yang lainnya. Alat
penanaman sistem sebar terdapat 3 sistem alat, yaitu: Tipe sentrifugal atau endgate, Tipe
pesawat terbang, dan penebar rumput-rumputan.

d. Hubungan Jarak Tanam Dan Pertumbuhan Tanaman (Minimal 2 Sitasi)


Menurut Nur dkk. (2018), jarak tanam sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman
karena setelah diteliti pada jarak tanam yang lebar tidak terjadi persaingan antar tanaman
dalam menyerap air, intensitas cahaya matahari, dan unsur hara. Sehingga energi
pertumbuhan vegetatif tanaman juga besar, yang mengakibaykan laju pertumbuhan
tanaman juga relatif besar. Sedangkan pada jarak tanam yang sempit pertumbuhan tanaman
terhambat karena selalu bersaing dalam mendapatkan intensitas cahaya, menyerap air, dan
unsur hara. Yang menyebabkan tanaman tumbuh lambat.
Menurut Silaban (2013) menyatakan bahwa jarak tanam pada tanaman jagung
berhubungan dengan luas atau ruang tumbuh yang ditempatinya dalam penyediaan unsur
hara, air dan cahaya. Jarak tanam yang terlalu lebar kurang efisien dalam pemanfaatan
lahan, bila terlalu sempit akan terjadi persaingan yang tinggi yang mengakibatkan
produktivitas rendah. Pengaturan kepadatan populasi tanaman dan pengaturan jarak tanam
pada tanaman budidaya dimaksudkan untuk menekan kompetisi antara tanaman. Setiap
jenis tanaman mempunyai kepadatan populasi tanaman yang optimum untuk mendapatkan
produksi yang maksimum. Apabila tingkat kesuburan tanah dan air tersedia cukup, maka
kepadatan populasi tanaman yang optimum ditentukan oleh kompetisi di atas tanah daripada
di dalam tanah atau sebaliknya.

e. Definisi Transplanter dan Jelaskan Prinsip Kerja Alat tanam Transplanter (2 sitasi)

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


Menurut Aini & Ichwan (2017), Indo Jarwo transplanter adalah mesin modern untuk
menanam bibit padi dengan sistem penanaman serentak 4 baris. Penggunaan mesin ini
relatif mudah dimana garpu penanam (picker) mengambil bibit padi kemudian ditancapkan
pada lahan yang kondisinya rata.
Menurut Suhendrata (2013), rice transplanter adalah mesin penanam padi yang
dipergunakan untuk menanam bibit padi yang telah disemaikan pada areal khusus
(menggunakan tray/dapog) dengan umur atau ketinggian tertentu, pada areal tanah sawah
kondisi siap tanam, dan mesin dirancang untuk bekerja pada lahan berlumpur (puddle)
dengan kedalaman kurang dari 40 cm.

f. Sebutkan dan Jelaskan Kelebihan dan Kekurangan Transplanter (2 Sitasi)


Menurut Umar et al. (2017) kelebihan Indo Jarwo Transplanter antara lain:
1. Mendukung sistem jajar legowo 2:1 dengan jumlah baris tanam 4 baris. Jarak tanam
antar barisnya 20 cm, jarak tanam legowo 40 cm.
2. Kapasitas tanam cukup tinggi 6 jam/ha.
3. Jarak tanam dalam barisan dapat diatur dengan ukuran 10 - 18cm.
4. Penanaman yang presisi (akurat).
5. Tingkat kedalaman tanam yang dapat diatrur.
6. Jumlah tanaman dalam satu lubang berkisar 2 – 4 tanaman per lubang.
7. Jarak dan kedalaman tanam seragam sehingga pertumbuhan dapat optimal dan
seragam.
Kekurangan Indo Jarwo Transplanter antara lain:
1. Lebar antar barisan (20 cm) tidak dapat diubah.
2. Tidak bisa dioperasikan pada kedalaman sawah lebih dari 40 cm.
3. Diperlukan alat angkut untuk membawa mesin ke sawah atau ketempat lain.
4. Perlu bibit dengan persyaratan khusus.
5. Harga masih relatif mahal sehingga tidak terjangkau petani.

Menurut Suhendrata (2013) keunggulan rice transplanter diantaranya (1)


produktivitas tanam cukup tinggi 6 jam/ha, (2) jarak tanam dalam barisan dapat diatur
dengan ukuran 12, 14, 16, 18, 21 cm, (3) penanaman yang presisi (akurat), (4) tingkat
kedalaman tanam dapat diatur dari 0,7-3,7 cm (5 level kedalaman), (5) jumlah tanaman
dalam satu lubang berkisar 2 – 4 tanaman per lubang dan (6) jarak dan kedalaman tanam
seragam sehingga pertumbuhan dapat optimal dan seragam. Disamping keunggulan, rice
transplanter mempunyai beberapa kelemahan diantaranya (1) jarak antar barisan
(gawangan 30 cm) tidak dapat diubah, (2) tidak bisa dioperasionalkan pada kedalaman
sawah lebih dari 40 cm,

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


3. WAKTU DAN TEMPAT RESPONSI

Pelaksanaan praktikum dilakukan secara daring pada hari Minggu pukul 13.00 –
14.40. Dilaksanakan di rumah praktikan masing-masing.

4. ALAT BAHAN DAN FUNGSI

1. Sakelar berfungsi untuk mengalirkan arus listrik


2. Control berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan mesin
3. Hopper pasir berfungsi untuk menampung pasir kuarsa
4. Pasir kuarsa berfungsi sebagai media jatuhnya biji
5. Keran berfungsi untuk membuka dan menutup Hopper pasir
6. Metering device berfungsi untuk mengatur keluaran biji
7. Mulut mekanis berfungsi sebagai tempat keluarnya biji
8. Roller berfungsi untuk menggerakkan pulley
9. Pulley berfungsi untuk menggerakan metering device
10. V belt berfungsi untuk mentransmisikan daya dari roller ke metering device
11. Belt konveyor berfungsi sebagai tempat jatuhnya pasir dan biji
12. Bak penampung berfungsi untuk menampung biji dan pasir
13. Filter berfungsi untuk memisahkan pasir dan biji
14. Motor berfungsi untuk menggerakan mesin
15. Penyangga berfungsi untuk menyangga alat
16. Jagung berfungsi sebagai bahan perlakuan
17. Rpm berfungsi untuk mengatur jarak antar biji
18. Penggaris berfungsi untuk mengukur jarak antar biji
19. Stopwatch berfungsi untuk menghitung waktu

5. CARA KERJA (Flow Chart)

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


6. yang dibutuhkan
Persiapkan alat dan bahan

Ukur panjang belt konveyor

Memasukkan pasir ke dalam hopper pasir

Membuka kran pasir hingga setengah

Menyambungkan saklar ke arus listrik

Menyalakan kontrol (rpm) di angka 1 hingga pasir berada di bawah mulut mekanis

Memasang metering device

Memasukkan biji ke hopper biji

Kontrol (Rpm) dinyalakan di angka 1 bersamaan dengan stopwatch hingga pasir dan
biji berada di ujung konveyor

Matikan stopwatch bersamaan dengan kontrol

Ukur dan catat jarak antar biji

Diulang untuk ukuran meter individu yang berbeda dan catat hasil

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


6. GAMBAR ALAT

- Gambar Tangan

- Gambar literatur

7. PEMBAHASAN

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


a. Data Hasil Praktikum
Metering Device : 13 mm, Biji kedelai (J2 & J4)
Ulangan 1 Ulangan 2
No
JT (cm) JB JT (cm) JB

1 0 0 0 3

2 20 3 19 3

3 18 3 20 3

4 16 3 19 3

5 12.5 2 16.5 2

6 19 2 32 2

7 16 2 35 3

8 23 2 18.5 2

9 18 3 15 3

10 21 3 21 2

11 31 3 32 2

12 17.5 2 17 2

13 22.5 2 27 2

14 20 3 35 2

15 15 2 23 3

16 18 2 25 3

17 29 3 10 2

18 17 2 14 2

19 15.5 3 18 3

20 23 2 21 2

21 27 3 19 2

22 29 2 17 2

23 23 2 27 3

24 21 3 24 3

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


25 31 3 18 3

26 20 2

27 29.5 2

RR 20.463 2.37 20.92 2.48

T1 : 26.2 detik T2 : 27.3 detik

RR t : 26.75 detik

Metering Device 8 mm, Biji kedelai (J1 & J3)

Ulangan 1 Ulangan 2
No
JT (cm) JB JT (cm) JB

1 0 2 0 2

2 48 2 19 2

3 20 1 20 1

4 16 1 19 1

5 12.5 2 16.5 1

6 16 2 25 2

7 23 1 35 1

8 15 1 18.5 2

9 14 1 23 1

10 16 2 25 2

11 35 2 28 2

12 17.5 1 17 1

13 22.5 1 20 1

14 20 1 30 2

15 15 1 23 1

16 18 2 28 1

17 24 2 24 2

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


18 17 1 35 2

19 31 1 26 1

20 27 1 23 2

21 29 1 34 1

22 23 2

23 19 1

24 27 1

RR 21.0625 1.375 23.286 1.476

T1 : 28 detik T2 : 28.3 detik

RR t : 28.15 detik

Note :
JT ; Jarak Tanam
JB ; Jumlah Biji
RR; Rata-rata
T1 & T2 ; Waktu
RR t ; Rata-rata waktu

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


b. Analisa Data Hasil Praktikum

Berdasarkan data hasil praktikum pada percobaan seed table dengan metering
device 8 mm dan 13 mm, didapatkan perbedaan terhadap besaran jarak tanam dan jumlah
biji yang keluar pada masing-masing percobaan. Pada metering device 13 mm, jumlah biji
yang keluar jumlahnya 2-3 biji baik pada ulangan 1 dan ulangan 2. Untuk mendapatkan nilai
jarak tanam, caranya dengan mengukur masing-masing jarak dari tempat biji jatuh. Pada
ulangan 1, jarak tanam terpendek adalah 15 cm dan jarak tanam terpanjangnya adalah 31
cm. sedangkan pada ulangan 2, jarak tanam terpendek adalah 10 cm dan jarak tanam
terpanjangnya adalah 35 cm. Waktu rata-rata pada ulangan 1 adalah 26,2 detik dan waktu
rata-rata pada ulangan 2 adalah 27.3 detik, maka didapatkan rata-rata waktu ulangan 1 dan
ulangan 2 yaitu 26,75 detik.

Pada percobaan dengan metering device 8 mm, jumlah biji yang keluar jumlahnya
1-2 biji baik pada ulangan 1 dan ulangan 2. Jarak tanam terpendek pada ulangan 1 adalah
12,5 cm dengan jumlah biji 2 dan pada ulangan 2 adalah 16,5 cm dengan jumlah biji 1.
Jarak tanam terpanjang pada ulangan 1 adalah 48 cm dengan jumlah biji 2 dan pada
ulangan 2 sebesar 35 cm dengan jumlah biji 1 dan 2. Waktu rata-rata yang didapat pada
ulangan 1 adalah 28 detik dan waktu rata-rata pada ulangan 2 adalah 28,3 detik, maka
didapatkan rata-rata waktu pada ulangan 1 dan ulangan 2 yaitu 28,15 detik.

c. Data Hasil Perhitungan

Metering Devuce 13 mm, Biji kedelai (J2 & J4)

1. Efisiensi kerja
Kecepatan maju alat tanam (V)
𝑆
V = 𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑟𝑎𝑡𝑎
6,27 𝑚
= = 0,2344 m/s
26,75 𝑠
Jarak konvenyor dalam 1 menit (SC)
SC = V x 60 s
= 0,2344 x 60 = 14,064 m
Putaran roda alat tanam teoritis (PRT)
𝑆𝐶
PRT = 𝐾
14,064 𝑚
= = 12,9826 m
1,0833 𝑚
Putaran roda alat tanam actual (PRA)
60
PRA = 𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑟𝑎𝑡𝑎
60
= 26,75 = 2,243 m
Efisiensi (Ef)
𝑃𝑅𝐴
Ef = 𝑃𝑅𝑇 𝑥 100%
2,243
= 12,9826 𝑥 100% = 17,277 %
Kapasitas kerja efektif (KKE)
KKE = LK x V x Ef
= 0,2 x 0,2344 x 17,277 = 0,80994576 m2/s
2. Kebutuhan biji
Jarak rata-rata antar lubang (X)
𝑋1+𝑋2 0,20463 +0,2092
X= 2 = 2
= 0,206915 m

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


Jumlah biji rata-rata perlubang (g)
𝑔1+𝑔2 2,37+2,48
g= 2 = 2
= 2,425
Jumlah lubang permeter alur (h)
𝑠
( ) 6,27/0,206915
h= 𝑥
𝑠
= 6,27
= 4,83 lubang
Panjang alur lahan total (Rtot)
1 1
Rtot = 𝐿𝐾 𝑥 𝑃 = 20 x 5,84 = 0,292 m
Jumlah lubang total (Htot)
Htot = h x Rtot
= 4,83 x 0,292 = 1,41036 lubang
Kebutuhan biji total (Gtot)
Gtot = g x Htot
= 2,425 x 1,41036 = 3,420 biji
Kebutuhan massa biji total (Mtot)
𝐺𝑡𝑜𝑡
Mtot = 100
𝑥𝑀
3,420
= 𝑥 0,0153 = 0,00052326 kg
100

Metering Device 8 mm, Biji kedelai (J1 & J3)

1. Efisensi Kerja
Kecepatan Maju Alat Tanam (v)
𝑆
v =𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎
6,27 𝑚
= = 0,2398 m/s
26,15 𝑠
Jarak konveyor dalam 1 menit (SC)
SC = v x 60 s
= 0,2398 x 60 = 14,388 m
Putaran roda alat tanam teoritis (PRT)
𝑆𝐶
PRT =
𝐾
14,388
= 1,0833 = 13,2816 m
Putaran roda alat tanam aktual (PRA)
60
PRA =
𝑅𝑅𝑇
60
= 26,15 = 2,2944 m
Efisiensi (Ef)
𝑃𝑅𝐴
Ef = 𝑃𝑅𝑇 x 100 %
2,2944
= 13,2816 x 100 % = 17,275 %
Kapasitas kerja efektif (KKE)
KKE = LK x v x Ef
= 0,2 x 0,2398 x 17,275 = 0,8285 m2/s

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


2. Kebutuhan Biji
Jarak rata-rata antar lubang
𝑥1+𝑥2 0,21065+0,23286
x= 2 = 2
= 0,2217425
Jumlah biji rata-rata perlubang
𝑔1+𝑔2 1,375+1,476
g= 2 = 2
=1,4255
Jumlah lubang permeter alur (h)
𝑠/𝑥 6,27/0,22174
h= = = 4,53147 lubang
𝑠 6,27
Panjang alur lahan total (Rtot)
𝐿 0,22
Rtot = 𝐿𝑘 𝑥𝑃 = 0,2
𝑥5,84 = 6,424 m
Jumlah lubang total (Htot)
Htot = h × Rtot
= 4,53147 × 6,424 = 29,11016 lubang
Kebutuhan biji total (Gtot)
Gtot = g × Htot
= 1,4255 × 29,11016 = 41,49653 biji
Kebutuhan masa biji total (Mtot)
𝐺𝑡𝑜𝑡
Mtot = 𝑥𝑀
100
41,49653
= 100
𝑥0,015 = 0,00634 kg

d. Analisa Perhitungan
Berdasarkan data hasil perhitungan metering device di atas, dapat diketahui bahwa
pada metering device 13 mm diperoleh kecepatan maju alat tanam (v) yaitu 0,2344 m/s
dengan jarak konveyor 14,064 m, putaran roda alat tanam teoritis nya (PRT) yaitu 12,9826
m dan putaran roda alat tanam actual (PRA) yaitu 2,243 m. Sehingga dapat diketahui
efisiensi dari penggunaan alat ini yaitu sebesar 17,277% dan kapasitas kerja efektif (KKE)
0, 80994576 m2/s. Serta dapat diketahui kebutuhan biji total menggunakan metering device
13 mm yaitu sebanyak 3,420 biji dengan massa biji total seberat 0,00052326 kg dan jumlah
lubang total sebanyak 1,41036 lubang.

Adapun pada metering device 8 mm diperoleh kecepatan maju alat tanam (v) yaitu
0,2398 m/s dengan jarak konveyor 14,388 m, sedangkan putaran roda alat tanam teoritis
nya (PRT) yaitu 13,2816 m dan putaran roda alat tanam aktual (PRA) yaitu 2,2944 m.
Sehingga dapat diketahui efisiensi dari penggunaan alat ini yang hampir sama dengan
metering device 13 mm yaitu sebesar 17,275% dan kapasitas kerja efektif (KKE) 0,8285
m2/s. Serta dapat diketahui kebutuhan biji total menggunakan metering device 8 mm yaitu
sebanyak 41,49653 biji dengan massa biji total seberat 0, 00634 kg dan jumlah lubang total
sebanyak 29,11016 lubang.

e. Grafik

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


Metering Device 13 mm, Biji kedelai (J2 & J4)

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


Metering Device 8 mm, Biji kedelai (J1 & J3)

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


f. Analisa Grafik (minimal 2 sitasi)
Berdasarkan grafik yang diperoleh dari hasil praktikum yang telah dilakukan,
didapatkan grafik pada metering device 13 mm yang cenderung lebih memiliki bentuk
yang fluktuatif dibandingkan dengan metering device 8 mm. Dapat dilihat bahwa pada
metering device 13 mm, jarak tanaman cenderung agak lebih dekat dibandingkan dengan
metering device 8 mm. Hal ini dikarenakan biji memiliki diameter yang beragam.
Sehingga diameter metering device juga harus disesuaikan. Seperti halnya yang
dikatakan Huda (2016) bahwa diameter metering device harus sesuai dengan ukuran biji
agar jatuhnya biji tidak berlebihan. Selain itu ada faktor lain yang dapat menghambat
keluarnya biji yaitu seperti yang dikemukakan Rachmawati (2013) bahwa jika terdapat
gesekan antar benih dan alat maka mengakibatkan tidak lancarnya sistem penjatuhan
benih.

g. Hubungan Antara Diameter Metering Device Terhadap Jumlah Biji yang Keluar
Dibandingkan Dengan Literature (2 Sitasi)
Hubungan antara diameter metering device terhadap jumlah biji yang keluar yaitu
apabila biji yang dikeluarkan memiliki ukuran yang lebih kecil daripada ukuran metering
devicenya maka biji yang keluar akan semakin banyak begitu pun sebaliknya, apabila biji
memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan metering devicenya maka biji sulit untuk
keluar. Hal ini diperkuat dengan pendapatnya Ahmad (2015) yang mengatakan semakin
besar ukuran diameter maka jumlah biji yang keluar akan semakin banyak. Sedangkan
menurut Mu’min (2018) metering device dirancang untuk mengatur jumlah benih yang
akan jatuh pada lubang tanam serta jarak tanam yang seragam untuk memaksimalkan
pembudidayaan tanaman. Ukuran diameter metering device juga dapat mempengaruhi
jumlah biji yang keluar.

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


h. Jika rpm dipercepat apa yang akan terjadi terhadap jarak, waktu, dan jumlah biji yang
keluar? (minimal 1 sitasi)
Jika rpm dipercepat tentu akan berpengaruh terhadap kinerja mesin yang nantinya
mempengaruhi hasil keluarannya. Dengan meningkatnya kerja mesin maka waktu yang
diperlukan pun semakin sedikit tetapi tidak mempengaruhi jumlah biji yang keluar. Hal ini
didukung oleh pendapat Suhendrata (2013) bahwa penambahan kecepatan putar sudut
(rpm), yang lebih cepat dapat mempercepat waktu untuk pengeluaran biji di mulut
mekanis, namun tidak akan mempengaruhi jumlah biji yang keluar dan jarak tanam.

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


8.PENUTUP
a. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum online identifikasi dan kalibrasi alat tanam kali ini dapat
disimpulkan bahwa jarak tanam sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena jika
pada jarak tanam yang sempit maka tanaman akan bersaing dalam mendapatkan unsur
hara dan cahaya begitu pun sebaliknya. Dan juga pada jarak tanam yang sesuai tanaman
akan lebih ternutrisi karena mendapatkan serapan cahaya dan kelembaban tanah yang
proporsional sehingga energi untuk pertumbuhan generatif dan vegetatif besar dan dapat
mendapatkan hasil produksi yang maksimal.
Selain itu dengan adanya alat tanam yang digerakkan oleh mesin, dapat
mempersingkat waktu dalam kegiatan menanam. Kemudian jumlah benih yang keluar
dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu diameter metering device. Diameter metering
device ini berpengaruh jika ukuran diameter metering device rapat maka pengeluaran
benih akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan kerapatan diameter metering device
yang lebar. Rpm yang dipercepat juga dapat mempersingkat waktu dalam penanaman
dan tidak mempengaruhi jumlah dari biji yang keluar.

b. Saran

Praktikum online sudah berjalan dengan cukup baik, mudah-mudahan


kedepannya nanti praktikum dapat dilakukan secara langsung atau tatap muka.

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, A.R., 2015. Desain dan Kinerja Roda Penggerak Matering Device Mesin
Penanaman Kedelai. Fakultas Teknologi Pertanian Bogor. IPB
Aini, N.F. & Ichwan M.Y., 2017. Mesin Penanaman dan Alat Penanaman Tradisional.
Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik.
Gayatri, K.W., 2012. Peralatan Pertanian Padi Tradisional Di Kabupaten Magetan (Kajian
Semantik). Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. Jurusan Pendidikan
Bahasa Daerah. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Negeri
Yogyakarta. Yogyakarta.
Huda, M.S., 2016. Desain dan Kinerja Unit Penjatah Benih Kedelai Tipe Vacuum Bertenaga
Traktor Roda Dua. Skripsi Departemen Teknik Mesin dan Biosistem. Institut
Pertanian Bogor
Iskandar, M., Mustaqimah, M., & Syafriandi, S., 2017. Desain dan Pengujian Alat Tanam
Benih Jagung. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, 2(1), 314-319.
Kadirman, 2017. Mengoperasikan Alat Mesin Budidaya Tanaman, Pemeliharaan Tanaman,
Dan Pasca Panen. Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal
Guru Dan Tenaga Kependidikan.
Maryudi, A., & Ani A., 2018. Hutan Rakyat di Simpang Jalan. Yogyakarta: UGM Press
Mu'minin, M.A., Caronge, M.W., & Kadirman, K., 2018. Modifikasi Alat Tanam Tipe Dorong
Untuk Memaksimalkan Pembudidayaan Wortel (Daucus carrota). Jurnal Pendidikan
Teknologi Pertanian, 4, 21-26.
Nur, M., Asrul, & Rafiuddin, 2018. Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan
Hasil Jagung (Zea mayz. L) Pada Tingkat Umur Kelapa Sawit (Elaeis guineensis
Jacq)[The Effect Spacing of Growth and Yield Corn (Zea mayz. L) of The Palm Oil
(Elaeis guineensis Jacq) Grade Aged]. Buletin Palma, 19(2), 127-146.
Rachmawati, A., 2013. Pengenalan Alat Penanaman. Laporan Praktikum Mekanisasi
Pertanian. Laboratorium Hama Dan Penyakit Tanaman. Lampung: Universitas
Lampung
Silaban, E.T., Purba, E., & Ginting, J., 2013. Pertumbuhan Dan Produksi Jagung Manis
(Zea mays sacaratha Sturt. L) Pada Berbagai Jarak Tanam Dan Waktu Olah
Tanah. Jurnal Agroekoteknologi, 1(3).
Siswanto, E.P., 2015. Alat Mesin Budidaya Tanaman. Kementerian Pendidikan
danKebudayaan Republik Indonesia
Suhendrata, T., 2013. Prospek Pengembangan Mesin Tanam Pindah Bibit Padi Dalam
Rangka Mengatasi Kelangkaan Tenaga Kerja Tanam Bibit Padi. SEPA: Jurnal
Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 10(1), 97-102.
Umar, S., Hidayat, A.R., & Pangaribuan, S., 2017. Pengujian Mesin Tanam Padi Sistim
Jajar Legowo (Jarwo Transplanter) Di Lahan Rawa Pasang Surut. Jurnal Teknik
Pertanian Lampung 6(1) : 66-67

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


LAMPIRAN

1. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


2. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


3. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


4. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


5. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


6. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


7. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


8. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


9. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


10. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


11. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


12. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


13. Lampiran Bukti Sitasi

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


2. Lampiran DHP Metering Device 13 mm, (J2 & J4)

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


2. Lampiran DHP

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


2. Lampiran DHP

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


2. Lampiran DHP Metering Device 8 mm, (J1 & J3)

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


2. Lampiran DHP

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020


2. Lampiran DHP

Identifikasi dan Kalibrasi Alat Tanam – Responsi Mekanisasi Pertanian 2019/2020

Anda mungkin juga menyukai