Anda di halaman 1dari 16

Resusitasi Cairan Pada

PasienTrauma: Berapa
Banyak CairanYang
Diperlukan Untuk
Pasien?
Aini Muthmainnah Pembimbing
dr. Imai Indra, Sp.An
 Topik resusitasi sebagai Damage-control
resuscitation menjadi semakin populer
selama beberapa tahun terakhir .
 Konsep hipotensi permisif (resusitasi
cairan restriktif) merupakan strategi
Pendahuluan yang membatasi penggunaan cairan
sebelum perdarahan yang dikendalikan
untuk menghindari kehilangan darah
yang berlebihan.
The Advanced Trauma Life Support dan
Jepang Advanced Trauma Evaluation and Care
guidelines merekomendasikan infus cairan
awal cepat (1-2 L) sebagai prosedur diagnostik
untuk pasien yang mengalami trauma atau
perdarahan.

TUJUAN PENELITIAN
“Untuk menentukan volume cairan infus yang
optimal selama resusitasi awal pasien yang
mengalami trauma dan hipotensi.”
METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif


prospektif 3 tahun (2008–2011) yang mengevaluasi
pasien berusia ≥ 16 tahun dengan trauma tumpul dan
tekanan darah sistolik (SBP) ≤ 90 mm Hg saat masuk.
Peneliti mengeluarkan pasien yang telah menerima
cairan apapun sebelum masuk.
Parameter hemodinamik pasien dicatat setelah
resusitasi cairan 1 L dan 2 L. Non-respon
didefinisikan sebagai hipotensi berkelanjutan (SBP
≤ 90 mm Hg) atau takikardi berkepanjangan ( HR ≥
120 kali per menit) setelah resusitasi cairan.
Tindakan pembedahan atau radiologi intervensi
digunakan untuk mengontrol perdarahan telah
ditinjau dan di evaluasi.
HASIL
Peneliti memasukkan 69 pasien
yang memiliki usia rata-rata 50,3
± 20,7 tahun dan skor keparahan
cedera rata-rata 29,9 ± 13,9.”
Dua puluh sembilan
pasien membutuhkan
intervensi dan 40
pasien tidak
memerlukan intervensi
untuk mengontrol
perdarahan
Kelompok yang
membutuhkan intervensi
menunjukkan skor
keparahan cedera yang
tidak signifikan lebih tinggi
dibandingkan dengan
kelompok yang tidak
memerlukan intervensi
Setelah resusitasi,
kelompok intervensi
menunjukkan
frekuensi takikardia
yang lebih tinggi
dengan SBP yang
menurun
• Jumlah cairan rata-rata untuk resusitasi 1L adalah
64 ± 28 mL / menit

• Keadaaan Non-respon setelah


. 1 L resusitasi cairan
memberikan nilai prediksi positif 86,3% untuk
memprediksi intervensi, dan nilai prediksi negatif
59,5% untuk memprediksi tidak ada intervensi
Beberapa pasien
memberikan respon
terhadap 2L cairan
dan intervensi
dengan SBP yang
meningkat dan
penurunan HR
 Jumlah cairan rata-rata untuk resusitasi 2L adalah 62,0
± 29,0 mL / menit
 Keadaan Non-respon setelah 2L resusitasi cairan
memberikan nilai prediksi 80,0% untuk memprediksi
intervensi, yang lebih rendah dari nilai prediktif positif
non-respon setelah 1 L resusitasi cairan
 Nilai prediktif negatif resusitasi 2L adalah 52,6% untuk
memprediksi tidak adanya intervensi dan nilai ini juga
lebih rendah daripada nilai untuk resusitasi cairan 1 L
PEMBAHASAN
“Prinsip dasar manajemen trauma
adalah menghentikan pendarahan dan
mengganti volume yang hilang. Dengan
demikian, resusitasi cairan dapat
digunakan untuk menilai respon pasien
dan memberikan bukti perfusi dan
oksigenasi akhir yang adekuat.”
• Pemberian cairan intravena tidak meningkatkan kelangsungan
dan mungkin sebenarnya berbahaya dalam kasus-kasus
tertentu
• Hal Ini karena resusitasi cairan.dan pencegahan peningkatan
tekanan darah berpotensi dapat menggantikan pembekuan
yang sudah terbentuk dan menyebabkan kekambuhan
pendarahan.
• Terdapat argumen kuat bahwa pemberian cairan berlebihan
dapat memperburuk kegagalan organ dan cairan tambahan
tidak boleh diberikan kecuali untuk memperbaiki hipotensi
KESIMPULAN
Temuan Peneliti menunjukkan
peningkatan volume resusitasi
tidak menunjukkan hasil yang
lebih baik untuk memprediksi
perlunya intervensi.
THANK YOU
2018