Anda di halaman 1dari 22

Wrap-up Problem Based Learning Skenario 1 Blok Panca Indera

MATA MERAH
Di susun oleh :

ANGGI PRASETYO 1102009031

Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Jakarta Semester VI

SKENARIO 1 MATA MERAH


Amir 26 tahun mengeluh mata kiri merah dan pandangan kabur. Gejala ini dirasakan sejak 1 minggu yang lalu setelah membantu orangtuanya panen padi. Semula, mata hanya tampak merah dan terasa lengket saat bangun pagi, semakin lama bertambah berat dengan munculnya bercak putih di media refrakta bagian kornea disertai fotophobi, foreign body sensation, dan lakrimasi. Pada pemeriksaan ophtalmology: Mata kanan : VOD 6/6, lain-lain dalam batas normal Mata kiri : tampak kotor dan banyak sekret VOS 6/40 pinhole tak maju - Palpebra : spasme - Konjungtiva : hyperemia, terdapat konjungtiva injeksi dan prekonjungtiva injeksi/injeksi siliar - Kornea : tampak lesi putih keabu-abuan, permukaan kasar, batas tidak tegas, bentuk satelit COA tidak ada kelainan, pupil/iris tidak ada kelainan, lensa tidak ada kelainan. Setelah mendapatkan terapi, pasien diminta untuk kontrol rutin dan menjaga serta memelihara kesehatan mata sesuai tuntunan ajaran Islam.

SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan menjelaskan anatomi mata 1.1. Menjelaskan makroanatomi mata 1.2. Menjelaskan mikroanatomi (histologi) mata (media refrakter) 2. Memahami dan menjelaskan fisiologi mata 2.1. Menjelaskan fungsi komponen mata 2.2. Menjelaskan proses penglihatan
3. Memahami dan menjelaskan mata merah

3.1. Menjelaskan mata merah dengan visus normal 3.2. Menjelaskan mata merah dengan visus menurun 4. Memahami dan menjelaskan konjungtivitis dan keratitis 4.1. Menjelaskan konjungtivitis 4.2. Menjelaskan keratitis 5. Memahami dan menjelaskan ajaran Islam tentang indera mata

1. ANATOMI MATA 1.1. Makroanatomi Mata Mata tertanam di dalam korpus adiposum orbital, tetapi dipisahkan dari korpus adiposum ini oleh selubung fascial bola mata. Bola mata terdiri atas tiga lapisan, dari luar ke dalam: tunika fibrosa, tunika vaskulosa (uvea) yang berpigmen, dan tunika nervosa. Isi bola mata adalah media refraksi: humor aquosus, korpus vitreum, dan lensa.

Gambar 1.1 Anatomi bola mata, potongan horizontal 4

a. Humor aquosus adalah cairan bening yang mengisi kamera anterior dan kamera posterior bulbi. Diduga cairan ini merupakan sekret dari prosesus siliaris, dari sini mengalir ke dalam kamera anterior melalui pupil dan mengalir keluar melalui celah yang ada di angulus iridokornealis masul ke dalam kanalis Schlemmi. Hambatan aliran keluar humor aquosus mengakibatkan peningkatan tekanan intraokular, yang disebut glaukoma. Keadaan ini dapat menimbulkan kerusakan degeneratif pada retina, yang berakibat kebutaan. Fungsi humor aquosus ini adalah untuk menyokong dinding bola mata dengan memberi tekanan dari dalam, sehingga menjaga bentuk bola matanya. Cairan ini juga memberi makanan pada kornea dan lensa dan mengangkut hasil-hasil metabolisme. Fungsi ini penting karena kornea dan lensa tidak mempunyai pembuluh darah. b. Korpus vitreum mengisi bola mata di belakang lensa dan merupakan gel yang transparan. Kanalis hyaloideus adalah saluran sempit yang berjalan melalui korpus vitreum dari diskus nervi optici ke permukaan posterior lensa. Pada janin, saluran ini berisi arteri hyaloidea, yang menghilang beberapa saat sebelum lahir. Fungsi korpus vitreum adalah sedikit menambah daya pembesaran mata, juga menyokong permukaan posterior lensa dan membantu meletakkan pars nervosa retina ke pars pigmentosa retina. c. Lensa adalah struktur bikonveks yang transparan, yang dibungkus oleh kapsula transparan. Lensa terletak di belakang iris dan di depan korpus vitreum, serta dikelilingi prosesus siliaris. Lensa terdiri atas (1) kapsula elastis, yang membungkus struktur; (2) epitel kuboid, yang terbatas pada permukaan anterior lensa; dan (3) fibrae lentis, yang dibetuk oleh epitel kuboid pada equator lentis. Fibrae lentis menyusun bagian terbesar lensa. Untuk mengakomodasikan mata pada objek yang dekat, m. siliaris berkontraksi dan menarik korpus siliaris ke depan dan dalam, sehingga serabut-serabut radial ligamentum suspensorium menjadi relaksasi. Keadaan ini memungkinkan lensa yang elastis menjadi lebih bulat.
1.2. Mikroanatomi (Histologi) Mata (Media Refrakter)

Isi bola mata adalah media refraksi: kornea, aquos humor, lensa, dan korpus vitreus. Sklera Sklera terdiri atas jaringan fibrosa padat dan mempertahankan bentuk ukuran bola mata. Berkas serat kolagen yang gepeng pada sklera sebagian besar terletak sejajar permukaan, tetapi berkas saling menyilang di segala arah, dengan jaring-jaring halus serat elastik di antara berkas, juga sejumlah substansi dasar, dan sejumlah kecil fibroblas yang gepeng/pipih dan bercabang-cabang. Lapisan paling luar, jaringan episkleralis, merupakan cabang fibroelastik jarang yang di luar melanjutkan diri dengan jaringan fibrosa padat kapsula Tenon, dengan dibatasi oleh jaringan longgar (ruang Tenon). Tendo otot ekstraokular berjalan melalui kapsula untuk berinsersi ke sklera. Bola mata dapat berputar oleh karena ruang ini dan karena lemak orbital.
5

Antara skleranya sendiri dengan koroid terdapat suatu lapisan tipis, lamina fuska (lapis gelap), dengan berkas kolagen kecil, sejumlah besar serat elastik, dan melanosit. Di posterior, sklera ditembusi serat-serat saraf optik pada lamina kribrosa. Sklera mengandung pembuluh darah, terutama pada limbus, dan beberapa serat saraf elastis. Kornea Kornea jernih dan tembus cahaya dengan permukaan yang licin, tetapi tidak melengkung secara uniform/seragam. Daya refraksi kornea, yang merupakan hasil indeks refraksi dan radius lengkung kornea lebih besar daripada daya refraksi lensa. Secara anatomis, kornea mempunyai dua bagian: kornea asli dan limbus (suatu daerah peralihan dengan lebar sekitar 1 mm pada tepi kornea). Sementara kornea asli bersifat avaskular, limbus mempunyai pembuluh darah dan limf. Kornea asli, secara histologik, terdiri dari lima lapisan: Epitel. Pada permukaan luar terdapat epitel, yaitu suatu epiles berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk, dengan lima hingga enam lapisan sel. Lapisan basal silindris rendah, kemudian tiga atau empat lapisan sel polihedral (sel sayap), dan satu atau dua lapisan sel permukaan yang gepeng. Epitel ini sangat sensitif, dengan banyak akhir saraf bebas, dan mempunyai daya regenerasi istimewa/sangat baik, mitosis hanya terjadi dalam lapisan basal. Membran Bowman. Di bawah epitel terdapat membran Bowman, dengan tebal 8 m, tak berbentuk dan tak mengandung sel, dibentuk oleh perpadatan substansi antar sel dengan serabut kolagen halus yang tersebar tak beraturan. Membran ini berakhir dengan tegas/mendadak pada limbus. Substansi propria. Substansi propria membentuk massa kornea (90% ketebalannya), bersifat tembus cahaya, dan terdiri dari lamel kolagen dengan sel. Lamel merupakan serat lebar, seperti pita, serabut dalam setiap lamel sejajar, dengan lamel pada sudutsudut yang berbeda. Lamel saling melekat karena adanya pertukaran serabut antara lamel yang berdampingan. Fibroblas berbentuk bintang, gepeng dengan cabang yang ramping, terletak antara lamel. Membran Descemet. Membran Descemet, tampak homogen, terletak sebelah dalam substansi propria. Dengan mikroskop elektron, tampak membran ini mengandung serabut kecil dengan periodisitas 100 nm yang tersusun dalam pola heksagona yang amat teratur. Secara kimiawi, materinya adalah kolagen. Endotel. Membran Descemet adalah membrana basal untuk endotel, merupakan satu lapis sel kuboid yang melapisi permukaan dalam kornea. Sel menunjukkan kompleks tautan, permukaan antar sel yang tak teratur, dan sejumlah besar vesikula pinositotik. Vesikula ini mentransportasikan cairan dan larutan. Kornea bersifat avaskular (tak berpembuluh darah), mendapatkan nutrisi dan difusi pembuluh perifer dalam limbus dan dari humor aqueus di bagian tengah. Limbus kornea merupakan zona peralihan atau zona pertemuan, dengan tebal hanya 1 mm, antara kornea dan sklera. Di sini, epitel kornea menebal sampai 10 atau lebih lapisan dan melanjutkan diri dengan konjungtiva, membran Bowman berhenti dengan tiba-tiba, membran Descemet menipis dan memecah dan melanjutkan diri menjadi trabekula ligamen pektinata, dan stroma kornea menjadi kurang teratur dan secara bertahap susunannya berubah dari susunan lamelar yang khas menjadi kurang teratur seperti yang ditemukan pada sklera. Limbus memiliki vaskularisasi yang baik.
6

Lensa Lensa kristalina bentuknya bikonveks, permukaan posterior lebih melengkung daripada anterior. Di bagian tengah pada kedua permukaannya terdapat kutub anterior dan kutub posterior. Garis yang menghubungkan keduanya, axis, dan batas sekelilingnya adalah ekuator. Pada orang muda, lensa bersifat elastik, dan akan bertambah keras dan sklerotik dengan bertambahnya usia. Lensa cenderung menjadi bulat, tetapi daya ini ditahan (dan lensa menggepeng) karena tegangan pada zonula. Secara struktural, terdapat tiga komponen: Kapsul lensa. Kapsul lensa meliputi lensa. Tebalnya sekitar 10 m pada permukaan anterior, tetapi hanya 5-6 m pada permukaan posteriornya. Kapsul ini homogen, agaknya merupakan membran yang tak berbentuk, bersifat elastik, dan mengandung glikoprotein dan kolagen tipe IV. Padanya melekat serat zonula, yang berjalan ke badan siliar sebagai ligamen suspensorium/penyokong. Epitel subkapsular. Hanya pada permukaan anterior, di bawah kapsula, terdapat epitel subkapsular, merupakan satu lapisan sel kuboid. Bagian dasar sel ini terletak di luar dalam hubungan dengan kapsula. Apeksnya terletak di dalam dan membentuk kompleks jungsional dengan serat lensa. Ke arah ekuator, sel ini bertambah tinggi dan beralih menjadi serat lensa, lensa tumbuh sepanjang kehidupan dengan penambahan serat ini. Dengan memanjangnya sel kapsul pada ekuator, ujung anteriornya bergeser di bawah epitel lensa dengan ujung posterior di bawah kapsul di bagian posterior. Substansi lensa. Substansi lensa terdiri dari serat lensa, yang masing-masing berbentuk sebagai prisma heksagonal. Sebagian besar serat tersusun secara konsentris dan sejajar permukaan lensa. Di permukaan, pada korteks, serat yang lebih muda mengandung inti dan beberapa organel. Di bagian tengah, dalam inti lensa, serat yang lebih tua telah kehilangan inti dan tampak homogen. Serat yang berdampingan menunjukkan suatu kompleks yang terdiri dari juluran sitoplasma yang saling mengunci dengan banyak tautan celah dan desmosom bercak. Lensa sama sekali tanpa pembuluh darah, karenanya mendapatkan nutrisi dari humor aqueus dan badan vitreus. Lensa bersifat tumbuh cahaya, dan membran plasma serat lensanya sangat tidak permeabel. Lensa dipertahankan pada tempatnya oleh ligamen suspensorium, disebut zonula, yang terdiri dari lembaran (serat zonular) terdiri dari materi fibrilar yang berjalan dari badan siliar ke ekuator lensa, sehingga meliputi lensa. Pada perlekatannya ke lensa, serat zonular memecah menjadi serat yang lebih halus yang menyatu dengan kapsul lensa. Korpus Vitreus Korpus vitreus merupakan suatu agar-agar yang jernih dan tembus cahaya yang memenuhi ruang antara retina dan lensa. Oleh karenanya bentuknya sferoid/bundar dengan lekukan pada bagian anterior untuk menyesuaikan dengan lensa. Bagian ini melekat pada epitel siliar, terutama sekeliling diskus optik dan ora serrata. Badan siliar mengandung glikosaminoglikans yang terhidrasi, khususnya asam hialuronat, dan serabut kolagen dalam bentuk jalinan halus. Serabut ini lebih padat pada bagian perifer dan sekeliling saluran berbentuk tabung yang berisi cairan dan berjalan anteroposterior.
7

Saluran ini disebut kanal hyaloidea, yang semula mengandung arteri hyaloidea pada masa janin. Beberapa sel ditemukan di sini, khususnya pada bagian tepi, dan merupakan makrofag dan sel (hialosit) berperan dalam sintesis dan pemeliharaan kolagen dan asam hialuronat. Di bagian tepi, badan vitreus melekat pada membran limitans interna. Badan vitreus juga memelihara bentuk dan kekenyalan bola mata. 2. FISIOLOGI MATA 2.1. Fungsi Komponen Mata a. Lapisan terluar yang keras pada bola mata adalah tunika fibrosa. Bagian posterior tunika fibrosa adalah sklera opaque yang berisi jaringan ikat fibrosa putih. Sklera memberi bentuk pada bola mata dan memberikan tempat perlekatan untuk otot ekstrinsik Kornea adalah perpanjangan anterior yang transparan pada sklera di bagian depan mata. Bagian ini mentransmisi cahaya dan memfokuskan berkas cahaya.
b. Lapisan tengah bola mata disebut tunika vaskular (uvea), dan tersusun atas

koroid, badan siliaris, dan iris. Lapisan koroid adalah bagian yang sangat terpigmentasi untuk mencegah refleksi internal berkas cahaya. Bagian ini juga sangat tervaskularisasi untuk memberikan nutrisi pada mata, dan elastik sehingga dapat menarik ligamentum suspensori. Badan siliaris, suatu penebalan di bagian anterior lapisan koroid, mengandung pembuluh darah dan otot siliaris. Otot melekat pada ligamentum suspensori, tempat perlekatan lensa. Otot ini penting dalam akomodasi penglihatan, atau kemampuan untuk mengubah fokus dari objek berjarak jauh ke objek berjarak dekat di depan mata. Iris, perpanjangan dari sisi anterior koroid, merupakan bagian mata yang berwarna bening. Bagian ini terdiri dari jaringan ikat dan otot radialis serta sirkularis, yang berfungsi untuk mengendalikan diameter pupil. Pupil adalah ruang terbuka yang bulat pada iris yang harus dilalui cahaya untuk dapat masuk ke interior mata.
c. Lensa adalah struktur bikonveks yang bening tepat di belakang pupil. Elastisitasnya

sangat tinggi, suatu sifat yang akan menurun seiring proses penuaan.
d. Rongga mata. Lensa memisahkan interior mata menjadi dua rongga: rongga

anterior dan rongga posterior. Rongga anterior terbagi menjadi dua ruang. - Ruang anterior terletak di belakang kornea dan di depan iris; ruang posterior terletak di depan lensa dan di belakang iris. - Ruang tersebut berisi aqueous humor, suatu cairan bening yang diproduksi oleh prosesus siliaris untuk mencukupi kebutuhan nutrisi lensa dan kornea. Aqueous humor mengalir ke saluran Schlemm dan masuk ke sirkulasi darah vena.

- Tekanan intraokular pada aqueous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata.

Jika aliran aqueous humor terhambat, tekanan akan meningkat dan mengakibatkan kerusakan penglihatan, suatu kondisi yang disebut glaukoma. Rongga posterior terletak di antara lensa dan retina dan berisi vitreus humor, semacam gel transparan yang juga berperan untuk mempertahankan bentuk bola mata dan mempertahankan posisi retina terhadap kornea.
e. Retina, lapisan terdalam mata, adalah lapisan tipis dan transparan. Lapisan ini

terdiri dari lapisan terpigmentasi luar, dan lapisan jaringan saraf dalam. Lapisan terpigmentasi luar pada retina melekat pada lapisan koroid. Lapisan ini adalah lapisan tunggal sel epitel kuboid yang mengandung pigmen melanin dan berfungsi untuk menyerap cahaya berlebih dan mencegah refleksi internal berkas cahaya yang melalui bola mata. Lapisan ini juga menyimpan vitamin A. Lapisan jaringan saraf dalam (optikal), yang terletak bersebelahan dengan lapisan terpigmentasi, adalah struktur kompleks yang terdiri dari berbagai jenis neuron yang tersusun dalam sedikitnya sepuluh lapisan terpisah. Sel batang dan kerucut adalah reseptor fotosensitif yang terletak berdekatan dengan lapisan terpigmentasi. Neuron bipolar membentuk lapisan tengah dan menghubungkan sel batang dan sel kerucut ke sel-sel ganglion. Sel ganglion mengandung akson yang bergabung pada regia khusus dalam retina untuk membentuk saraf optik. Sel horizontal dan sel amakrin merupakan sel lain yang ditemukan dalam retina, sel ini berperan menghubungkan sinaps-sinaps lateral. Cahaya masuk melalui lapisan ganglion, lapisan bipolar, dan badan sel batang dan kerucut untuk menstimulasi prosesus dendrit dan memicu impuls saraf. Kemudian impuls saraf menjalar dengan arah terbalik melalui kedua lapisan sel saraf. Bintik buta (diskus optik) adalah titik keluar saraf optik. Karena tidak ada fotoreseptor pada area ini, maka tidak ada sensasi penglihatan yang terjadi pada saat cahaya jatuh ke area ini. Lutea makula adalah area kekuningan yang terletak agak lateral terhadap pusat. Fovea adalah pelekukan sentral makula lutea yang tidak memiliki sel batang dan hanya mengandung sel kerucut. Bagian ini adalah pusat visual mata; bayangan yang terfokus di sini akan diinterpretasikan dengan jelas dan tajam oleh otak.

2.2. Proses Penglihatan

Berkas-berkas cahaya dari separuh kiri lapangan pandang jatuh di separuh kanan retina kedua mata. Demikian sebaliknya, berkas-berkas cahaya dari separuh kanan lapangan pandang jatuh di separuh kiri retina kedua mata. Tiap-tiap saraf optikus keluar dari retina membawa informasi dari kedua belahan retina yang dipersarafi. Informasi ini dipisahkan sewaktu kedua saraf optikus tersebut bertemu di kiasma optikus. Di dalam kiasma optikus, serat-serat dari separuh medial kedua retina bersilangan ke sisi yang berlawanan, tetapi serat-serat yang dari separuh lateral tetap di sisi yang sama. Berkasberkas serat yang telah direorganisasi dan Gambar 2.1 Traktus optikus meninggalkan kiasma optikus dikenal sebagai traktus optikus. Tiap-tiap traktus optikus membawa informasi dari separuh lateral salah satu retina dan separuh medial retina yang lain. Dengan demikian, persilangan parsial ini menyatukan serat-serat dari kedua mata yang yang membawa informasi dari separuh lapangan pandang yang sama. Tiap-tiap traktus optikus menyampaikan ke belahan otak di sisi yang sama informasi mengenai separuh lapangan pandang dari sisi yang berlawanan. Perhentian pertama di otak untuk informasi dalam jalur penglihatan adalah nukleus genikulatus lateralis di thalamus. Di korpus atau nucleus genikulatum, serat-serat dari bagian nasal retina dan temporal retina yang lain bersinaps di sel-sel yang axonnya membentuk traktus genikulokalkarina. Traktus ini menuju ke lobus oksipitalis korteks serebrum (area Brodmann 17). 3. MATA MERAH 3.1. Mata Merah dengan Visus Normal Mata Merah dengan Penglihatan Normal dan Tidak Kotor/Belek a. Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pteregium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian
10

b.

c.

d.

e.

sentral atau di daerah kornea. Pterigium mudah meradang, dan bila terjadi iritasi, maka bagian pterigium akan berwarna merah. Pterigium dapat mengenai kedua mata. Pterigium diduga disebabkan oleh iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara yang panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma, radang, dan degenerasi. Pinguekula merupakan benjolan pada konjungtiva bulbi yang ditemukan pada orang tua, terutama yang matanya sering mendapat rangsangan sinar matahari, debu, dan angin panas. Letak bercak ini pada celah kelopak mata terutama di bagian nasal. Pinguekula merupakan degenerasi hialin jaringan submukosa konjungtiva. Hematoma subkonjungtiva dapat terjadi pada keadaan dimana pembuluh darah rapuh (umur, hipertensi, arteriosklerosis, konjungtivitis hemoragik, anemia, pemakaian antikoagulan, dan batuk rejan). Dapat juga terjadi akibat trauma langsung atau tidak langsung, yang kadang-kadang menutup perforasi jaringan bola mata yang terjadi. Episkleritis merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskular yang terletak antara konjungtiva dan permukaan sklera. Radang episklera dan sklera mungkin disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap penyakit sistemik, seperti tuberkulosis, reumatoid artritis, lues, SLE, dan lainnya. Merupakan suatu reaksi toksik, alergik, atau bagian dari infeksi. Dapat saja kelainan ini terjadi secara spontan dan idiopatik. Episkleritis umumnya mengenai satu mata dan terutama perempuan usia pertengahan dengan bawaan penyakit reumatik. Skleritis biasanya disebabkan oleh kelainan atau penyakit sistemik. Lebih sering disebabkan oleh penyakit jaringan ikat, pasca herpes, sifilis, dan gout. Kadangkadang disebabkan oleh tuberkulosis, bakteri (pseudomonas), sarkoidosis, hipertensi, benda asing, dan pasca bedah. Skleritis biasanya terlihat bilateral dan juga sering terdapat pada perempuan.

Mata Merah dengan Penglihatan Normal dan Kotor atau Belek Gejala khusus pada kelainan konjungtiva adalah terbentuknya sekret. Sekret merupakan produk kelenjar, yang pada konjungtiva bulbi dikeluarkan oleh sel goblet. Sekret konjungtivitis dapat bersifat: Air, kemungkinan disebabkan oleh infeksi virus atau alergi Purulen, oleh bakteria atau klamidia Hiperpurulen, disebabkan oleh gonokok atau meningokok Lengket, oleh alergi atau vernal Seros, oleh adenovirus Bila pada sekret konjungtiva bulbi dilakukan pemeriksaan sitologik dengan pewarnaan Giemsa, maka akan didapat dugaan kemungkinan penyebab sekret seperti terdapatnya: Limfositmonositsel berisi nukleus sedikit plasma, maka infeksi mungkin disebabkan oleh virus Neutrofil oleh bakteri Eosinofil oleh alergi Sel epitel dengan badan inklusi basofil sitoplasma oleh klamidia Sel raksasa multinuklear oleh herpes
11

Sel Lebermakrofag raksasa oleh trakoma Keratinisasi dengan filamen oleh pemfigus atau dry eye Badan Guarneri eosinofilik oleh vaksinia 3.2. Mata Merah dengan Visus Menurun a. Keratitis. Radang kornea biasanya diklasifikasikan dalam lapis kornea yang terkena, seperti keratitis superfisial dan interstisial/profunda. Keratitis dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti kurangnya air mata, keracunan obat, reaksi alergi terhadap yang diberi topikal, dan reaksi terhadap konjungtivitis menahun. Keratitis akan memberikan gejala mata merah, rasa silau, dan merasa kelilipan. b. Keratokonjungtivitis sika adalah suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva. Kelainan ini dapat terjadi pada penyakit yang mengakibatkan defisiensi komponen lemak air mata, defisiensi kelenjar air mata, defisiensi komponen musin, akibat penguapan yang berlebihan, atau karena parut pada kornea atau menghilangnya mikrovil kornea. Pasien akan mengeluh mata gatal, seperti berpasir, silau, penglihatan kabur. Pada mata didapatkan sekresi mukus yang berlebihan. Sukar menggerakkan kelopak mata. Mata kering karena dengan erosi kornea. c. Tukak (ulkus) kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang. Tukak kornea perifer dapat disebabkan oleh reaksi toksik, alergi, autoimun, dan infeksi. Infeksi pada kornea perifer biasanya oleh kuman Staphylococcus aureus, H. influenzae, dan M. lacunata. d. Ulkus Mooren adalah suatu ulkus menahun superfisial yang dimulai dari tepi kornea dengan bagian tepinya tergaung dan berjalan progresif tanpa kecenderungan perforasi. Lambat laun ulkus ini mengenai seluruh kornea. Penyebab ulkus Mooren sampai sekarang belum diketahui. Banyak teori yang diajukan dan diduga penyebabnya hipersensitivitas terhadap protein tuberkulosis, virus, autoimun, dan alergi terhadap toksin ankilostoma. Penyakit ini lebih sering terdapat pada wanita usia pertengahan. e. Glaukoma akut. Mata merah dengan penglihatan turun mendadak biasanya merupakan glaukoma sudut tertutup. Pada glaukoma sudut tertutup akut, tekanan intraokular meningkat mendadak. Terjadi pada pasien dengan sudut bilik mata sempit. Cairan mata yang berada di belakang iris tidak dapat mengalir melalui pupil, sehingga mendorong iris ke depan, mencegah keluarnya cairan mata melalui sudut bilik mata (mekanisme blokade pupil). Biasanya terjadi pada usia lebih daripada 40 tahun. Pada glaukoma primer sudut tertutup akut, terdapat anamnesa yang khas sekali berupa nyeri pada mata yang mendapat serangan yang berlangsung beberapa jam dan hilang setelah tidur sebentar. Melihat palangi (halo) sekitar lampu dan keadaan ini merupakan stadium prodromal. Terdapat gejala gastrointestinal berupa enek dan muntah yang kadang-kadang mengaburkan gejala daripada serangan glaukoma akut.

12

Tabel 3.1 Mata merah dengan visus normal ataupun turun Gejala Konjungtivitis akut Iritis akut Sakit Nihil Sedang Pegal Tidak Mencolok Fotofobia Ringan Hebat Visus Tak dipengaruhi, kecuali Berkurang sedikit (<N) bentuk sekresi pada permukaan kornea (N) Sakit Membakar & gatal; tak Cukup hebat pada mata & sakit sungguh-sungguh; cabang pertama n. V rasa benda asing Serangan Perlahan Biasanya perlahan Tanda Absen Ringan konstitusional muntah Sekret (+) (-) Kotoran Jernih, mukous, atau Berair mukopurulen Purulen Pembesaran umum Merah di sekeliling kornea konjungtiva Kongesti siliar Kongesti superfisial sirkumkorneal dalam konjungtiva merah pucat transparan Injeksi Superfisial berkurang ke Siliar dalam mengitari arah kornea kornea berkurang ke arah fornik Kornea Jernih; tapi dapat berwarna Deposit pada endotel dengan fluoresin bila kornea (keratik presipitat) epitel kornea didapat hadir Tak terlibat Dapat terisi sel-sel, Bilik depan kekeruhan yang melayang, eksudat Suar/fler -/+ Iris Tak dikenal Gambaran iris tak tegas atau muddy; mungkin terdapat sinekia posterior bengkak, suram warna berubah Pupil Normal Mengecil; iregular sinekia posterior Visus Baik, kecuali tertutup Sedang, kabur kotoran (belek) Tensi Normal Biasanya normal atau renda Tidak terkena (pegal), normal sedikit Penyulit sistemik Nihil Sedikit

Glaukoma akut Sangat hebat Mencolok Sedang Berkurang mencolok (<< N) Hebat pada mata & sepanjang seluruh n. V Mendadak Mual dan muntah (-) Refleks air Menebal di sekeliling kornea Kongesti siliar, episkleral, dan konjungtival kemotik Siliar dalam Suram & tak sensitif Edema epitel Dangkal ++ -/+ Kongesti, terdorong ke depan, abu-abu-hijau warna berubah Dilatasi; kadang lonjong, sinekia imobil Buruk Tinggi sangat keras (sangat pegal) Lemah dan muntah

13

Tabel 3.2 Perbandingan keadaan umum pada tiap-tiap kondisi mata merah Kondisi Sakit Fotofobia Visus 1 Konjungtivitis Ringan/sedang Tak ada; ringan Suram ringan karna kotoran 2 Episkleritis Sedang Tak ada Normal

Injeksi Kelopak dan mata Pembuluhpembuluh dalam sklera, sering lokal Difus Ringan-sedang Sedang

5 6 7 8

a. Ulkus kornea karena bakteri/jamur b. Ulkus kornea karena virus Luka bakar kornea nonalkali (UV atau lain-lain) Uveitis Glaukoma akut Selulitis orbita Endoftalmitis

Tak ada sampai hebat Rasa benda asing Sedang

Bervariasi Sedang Hebat

Biasanya menurun sering Menurun ringan Menurun

Ringan-sedang Hebat atau ringan Tak ada hebat Hebat

Ringan-sedang Hebat atau ringan Tak ada hebat Sedang-mencolok

Normal atau menurun sedang Menurun karena edema kornea Normal atau menurun Menurun secara mendadak

Dekat limbus Difus Difus dengan kemosis Hebat

Tabel 3.3 Diagnosis banding mata merah Gejala Glaukoma Uveitis akut Keratitis subyektif akut 1. * Visus +++ +/++ +++ 2. * Rasa nyeri ++/+++ ++ ++ 3. * Fotofobia + +++ +++ 4. * Halo ++ -5. Eksudat -/+++ 6. Gatal 7. Demam * Gejala subyektif berat dan harut diobati oleh dokter ahli mata.

Bakteri +++ -

Konjungtivitis Virus ++ -/++

Alergi + ++ -

14

4. KONJUNGTIVITIS & KERATITIS 4.1. Konjungtivitis Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Konjungtivitis dibedakan bentuk akut dan kronis. Konjungtivitis dapat disebabkan bakteri seperti konjungtivitis gonokok, virus, klamidia, alergi toksik, dan molluscum contagiosum. Gambaran klinis yang terlihat pada konjungtivitis dapat berupa hiperemi konjungtiva bulbi (injeksi konjungtiva), lakrimasi, eksudat dengan sekret yang lebih nyata di pagi hari, pseudoptosis akibat kelopak membengkak, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membran, pseudomembran, granulasi, flikten, mata terasa seperti adanya benda asing, dan adenopati preaurikular. Biasanya sebagai reaksi konjungtivitis akibat virus berupa terbentuknya folikel pada konjungtiva. Bilik mata dan pupil dalam bentuk yang normal. Konjungtivitis Bakteri Pasien datang dengan keluhan mata merah, sekret mata, dan iritasi mata. Organisme penyebab tersering adalah Staphylococcus, Streptococcus, Pneumococcus, dan Haemophilus. Kondisi ini biasanya sembuh sendiri meski obat tetes mata antibiotik spektrum luas akan mempercepat kesembuhan. Apusan konjungtiva untuk kultur diindikasikan bila keadaan ini tidak menyembuh. Oftalmia neonatorum, yaitu konjungtivitis yang terjadi pada 28 hari pertama kehidupan neonatus, merupakan penyakit yang mudah dikenali. Apusan untuk kultur harus dilakukan. Selain itu, penting untuk memeriksa kornea untuk menyingkirkan ulserasi. Organisme penyebab tersering adalah: Konjungtivitis bakteri (biasanya Gram positif). Neisseria gonorrhoea. Pada kasus berat dapat menyebabkan perforasi kornea. Penisilin topikal dan sistemik masing-masing diberikan untuk mengobati penyakit lokal dan sistemik. Herpes simpleks, yang dapat menyebabkan parut kornea. Antivirus topikal digunakan untuk mengobati keadaan ini. Klamidia. Penyakit ini dapat menyebabkan konjungtivitis kronis dan parut kornea yang dapat mengancam penglihatan. Salep tetrasiklin topikal dan eritromisin sistemik masing-masing digunakan untuk mengobati penyakit lokal dan sistemik. Konjungtivitis Virus Konjungtivitis ini dibedakan dari konjungtivitis bakteri berdasarkan: Sekret berair dan purulen terbatas; Adanya folikel konjungtiva dan pembesaran kelenjar getah bening preaurikular; Selain itu mungkin juga terdapat edema kelopak dan lakrimasi berlebih. Konjungtivitis ini merupakan penyakit yang sembuh sendiri namun sangat menular. Organisme penyebab tersering adalah adenovirus dan, yang lebih jarang, Coxsackie dan pikornavirus. Adenovirus juga dapat menyebabkan konjungtivitis yang berhubungan dengan pembentukan pseudomembran pada konjungtiva. Serotipe adenovirus tertentu juga menyebabkan keratitis pungtata yang menyulitkan. Terapi
15

untuk konjungtivitis ini tidak diperlukan, kecuali terdapat infeksi bakteri sekunder. Pasien harus diberikan instruksi higiene untuk meminimalkan penyebaran infeksi (misal menggunakan handuk yang berbeda). Terapi keratitis masih kontroversial. Penggunaan steroid mengurangi gejala dan menyebabkan hilangnya opasitas kornea, namun inflamasi ulangan (rebound inflammation) sering terjadi ketika steroid dihentikan. Infeksi Klamidia Berbagai serotipe Chlamydia trachomatis yang merupakan organisme intraselular obligat menyebabkan dua bentuk infeksi mata. a. Keratokonjungtivitis inklusi. Penyakit ini merupakan penyakit yang ditularkan secara seksual dan dapat berlangsung kronis (hingga 18 bulan), kecuali diterapi dengan adekuat. Pasien datang dengan konjungtivitis folikular mukopurulen dan terjadi mikropanus (vaskularisasi dan parut kornea superfisial perifer) yang berhubungan dengan parut subepitel. Uretritis dan servisitis sering terjadi. Diagnosis dikonfirmasi dengan deteksi antigen klamidia, menggunakan immunofluoresensi atau dengan identifikasi badan inklusi khas dari apusan konjungtiva atau spesimen kerokan dengan pewarnaan Giemsa. Konjungtivitis inklusi diobati dengan tetrasiklin topikal dan sistemik. Pasien harus dirujuk ke klinik penyakit menular seksual. b. Trakoma merupakan penyebab infektif kebutaan tersering di dunia, meski tidak sering terjadi di negara maju. Lalat rumah merupakan vektor penyakit ini dan penyakit mudah berkembang dengan higiene yang buruk dan penduduk yang padat di iklim kering dan panas. Tanda penting penyakit ini adalah fibrosis subkonjungtiva yang disebabkan oleh reinfeksi yang sering terjadi pada kondisi tidak higienis. Kebutaan dapat terjadi karena parut kornea akibat keratitis dan trikiasis berulang. Trakoma diobati dengan tetrasiklin atau eritromisin oral atau topikal. Azitromisin, sebagai alternatif, hanya memerlukan sekali pemakaian. Entropion dan trikiasis membutuhkan koreksi bedah. Konjungtivitis Alergi Konjungtivitis alergi dapat dibagi menjadi akut dan kronis: a. Akut (konjungtivitis demam hay). Merupakan suatu bentuk reaksi akut yang diperantarai IgE terhadap alergen yang tersebar di udara (biasanya serbuk sari). Gejala dan tanda antara lain: rasa gatal, injeksi dan pembengkakan konjungtiva (kemosis), serta lakrimasi. b. Konjungtivitis vernal (kataral musim semi) juga diperantarai oleh IgE. Sering mengenai anak laki-laki dengan riwayat atopi. Dapat timbul sepanjang tahun. Gejala dan tanda antara lain: rasa gatal, fotofobia, lakrimasi, konjungtivitis papilar pada lempeng tarsal atas (papila dapat bersatu untuk membentuk cobblestone raksasa), folikel dan bintik putih pada limbus, lesi pungtata pada epitel kornea, plak oval opak yang pada penyakit parah plak ini menggantikan zona bagian atas epitel kornea. 4.2. Keratitis
16

Keratitis adalah peradangan pada kornea, membran transparan yang menyelimuti bagian berwarna dari mata (iris) dan pupil. Keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Bakteri pada umumnya tidak dapat menyerang kornea yang sehat, namun beberapa kondisi dapat menyebabkan infeksi bakteri terjadi. Contohnya, luka atau trauma pada mata dapat menyebabkan kornea terinfeksi. Mata yang sangat kering juga dapat menurunkan mekanisme pertahanan kornea. Penyebab keratitis bermacam-macam. Bakteri, virus, dan jamur dapat menyebabkan keratitis. Penyebab paling sering adalah virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1). Selain itu, penyebab lain adalah kekeringan pada mata, pajanan terhadap cahaya yang sangat terang, benda asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau mata yang terlalu sensitif terhadap kosmetik mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain, kekurangan vitamin A, dan penggunaan lensa kontak yang kurang. Gejala keratitis antara lain: keluar air mata yang berlebihan, nyeri, penurunan tajam penglihatan, radang pada kelopak mata (bengkak, merah), mata merah, sensitif terhadap cahaya (fotofobia). Pengobatan antibiotik, anti-jamur, dan antivirus dapat digunakan tergantung mikroorganisme penyebab. Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secepatnya, tapi bila hasil laboratorium sudah menentukan organisme penyebab, pengobatan dapat diganti. Terkadang, diperlukan lebih dari satu macam pengobatan. Terapi bedah laser terkadang dilakukan untuk menghancurkan sel yang tidak sehat, dan infeksi berat membutuhkan transplantasi kornea. Obat tetes mata atau salep mata antibiotik, antijamur, dan antivirus biasanya diberikan untuk menyembuhkan keratitis, tapi obat-obat ini hanya boleh diberikan dengan resep dokter. Pengobatan yang tidak baik atau salah dapat menyebabkan perburukan gejala. Obat kortikosteroid topikal dapat menyebabkan perburukan kornea pada pasien dengan keratitis akibat HSV. Pasien dengan keratitis dapat menggunakan tutup mata untuk melindungi mata dari cahaya terang, benda asing, dan bahan iritatif lainnya. Kontrol yang baik ke dokter mata dapat membantu mengetahui perbaikan dari mata. Pencegahan. Pemakaian lensa kontak harus menggunakan cairan disinfektan pembersih yang steril untuk membersihkan lensa kontak. Air keran tidak steril dan tidak boleh digunakan untuk membersihkan lensa kontak. Pemeriksaan mata rutin ke dokter mata disarankan karena kerusakan kecil di kornea dapat terjadi tanpa sepengetahuan kita. Jangan terlalu sering memakai lensa kontak. Lepas lensa kontak bila mata menjadi merah atau iritasi. Ganti lensa kontak bila sudah waktunya untuk diganti. Cuci tempat lensa kontak dengan air panas, dan ganti tempat lensa kontak tiap 3 bulan karena organisme dapat terbentuk di tempat kontak lensa itu. Makan makanan bergizi dan memakai kacamata pelindung ketika bekerja atau bermain di tempat yang potensial berbahaya bagi mata dapat mengurangi risiko terjadinya keratitis. Kacamata dengan lapisan anti-ultraviolet dapat membantu menahan kerusakan mata dari sinar UV.

Keratitis Superfisial Bentuk-bentuk klinik keratitis superfisial antara lain adalah:


17

a. Keratitis pungtata superfisialis adalah suatu keadaan dimana sel-sel pada

permukaan kornea mati. Penyebabnya bisa berupa infeksi virus, bakteri, mata kering, sinar ultraviolet (sinar matahari, sinar lampu, sinar dari las listrik), iritasi akibat pemakaian lensa kontak jangka panjang, iritasi atau alergi terhadap obat tetes mata, efek samping obat tertentu (misalnya vidabirin). Gejala yang ditimbulkan dapat berupa mata yang terasa nyeri, berair, merah, peka terhadap cahaya (fotofobia), dan penglihatan menjadi sedikit kabur. Jika penyebabnya adalah sinar UV, maka gejala-gejala biasanya muncul agak lambat dan berlangsung selama 1-2 hari. Jika penyebabnya virus, maka kelenjar getah bening di depan telinga akan membengkak dan nyeri bila ditekan. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan adalah mata terasa perih, gatal, dan mengeluarkan kotoran. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan mata. Pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan ketajaman penglihatan, tes refraksi, tes air mata, pemeriksaan slit-lamp, respon refleks pupi, keratometri (pengukuran kornea), pewarnaan fluoresensi kornea. Pengobatan. Keratitis pungtata superfisialis biasanya berakhir dengan penyembuhan sempurna. Jika penyebabnya virus, tidak perlu diberikan pengobatan khusus dan penyembuhan biasanya terjadi dalam waktu 3 minggu. Jika penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik. Jika penyebabnya adalah mata kering, diberikan salep dan air mata buatan. Jika penyebabnya adalah sinar UV atau lensa kontak, diberikan salep antibiotik dan obat untuk melebarkan pupil. Jika penyebabnya adalah reaksi obat-obatan, maka sebaiknya pemakaian obat dihentikan. b. Keratitis pungtata superfisial. Membuktikan gambaran seperti infiltrat halus bertitik-titik pada permukaan kornea. Merupakan cacat halus kornea superfisial berwarna hijau bila diwarnai fluoresense. c. Keratitis pungtata subepitel. Keratitis yang terkumpul di daerah membran Bowman. Pada keratitis ini biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya kelainan konjungtiva ataupun tanda akut. Keratitis Intersitisial Keratitis ini ditemukan pada jaringan kornea yang lebih dalam. Keratitis interstisial dapat terjadi akibat alergi atau infeksi Spirochaeta ke dalam stroma kornea. Keratitis interstisial merupakan keratitis nonsupuratif profunda disertai dengan neovaskularisasi, disebut juga sebagai keratitis parenkimatosa. Biasanya akan memberi keluhan sebagai fotofobia, lakrimasi, dan penurunan visus. Pada keratitis ini, keluhan akan bertahan seumur hidup. Seluruh kornea keruh sehingga iris sukar dilihat. Permukaan kornea seperti permukaan kaca. Terdapat injeksi siliar disertai dengan sebukan pembuluh darah ke dalam, sehingga memberi gambaran merah kusam yang disebut sebagai salmon patch. Keratitis Profunda

18

Bentuk-bentuk klinis keratitis profunda antara lain: (1) keratitis interstisialis leutik atau keratitis sifilis kongenital, (2) keratitis sklerotikans. Berdasarkan penyebab, dapat dibedakan antara lain: a. Keratitis bakterial. Spesies bakteri seperti Staphylococcus, Streptococcus, Pseudomonas, dan Enterobactericeae dapat menyebabkan keratitis bakterial. b. Keratitis jamur. Biasanya dimulai dari suatu rudapaksa pada kornea oleh ranting pohon. Jamur pada keratitis ini adalah Fusarium, Curvularia, Cephalocheparium. Keluhan baru akan timbul 5 hari sampai 3 minggu. Pada mata akan terlihat infiltrat dengan hifa dan satelit bila terletak di dalam stroma, biasanya disertai dengan cincin endotel dan plaque hipopion. c. Keratitis herpes simpleks dibagi dalam 2 bentuk: Keratitis dendritik merupakan keratitis superfisial yang membentuk infiltrat pada permukaan kornea yang kemudian membentuk cabang. Disebabkan HSV yang biasa bermanifestasi dalam bentuk keratitis dengan gejala ringan disertai sensibilitas kornea yang hipoestesi. Keratitis diskiformis mempunyai kekeruhan infiltrat bulat dan lonjong di dalam jaringan kornea. Merupakan keratitis profunda superfisial yang terjadi karena infeksi HSV. d. Keratitis herpes zoster memberi gambaran pada ganglion Gaseri V. Bila yang terkena cabang oftalmik, maka akan terlihat gejala herpes zoster pada mata. Gejala tidak akan melampaui garis meridian kepala. Biasanya mengenai orang tua. e. Keratokonjungtivitis epidemi disebabkan oleh reaksi alergi terhadap adenovirus tipe 8. Ditemukan edema kelopak dan folikel konjungtiva, pseudomembran pada konjungtiva tarsal yang dapat membuat jaringan parut. f. Keratitis dimmer/numularis. Biasanya keratitis dengan ditemukan infiltrat yang bundar di tepinya berbatas tegas sehingga memberi gambaran halo pada petani sawah. Keratitis Alergika a. Keratokonjungtivitis flikten merupakan radang pada kornea dan konjungtiva yang merupakan reaksi imun yang mungkin cell-mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen. Gambaran karakteristiknya adalah terbentuk papul pada kornea ataupun konjungtiva. Pada mata terdapat flikten pada kornea yang berupa benjolan berbatas tegas berwarna putih keabu-abuan dengan atau tanpa neovaskularisasi yang menuju benjolan tersebut. b. Keratitis fasikularis. Keratitis dengan pembentukan pita pembuluh darah yang menjalar dari limbus ke arah kornea. Biasanya berupa tukak kornea akibat flikten yang menjalar ke daerah sentral disertai fasikulus pembuluh darah. c. Keratokonjungtivitis vernal merupakan penyakit rekuren dengan peradangan tarsus dan konjungtiva bilateral. Penyebabnya tidak diketahui secara pasti, akan tetapi didapatkan pada musim panas. Pada kelopak yang dikenai terutama kelopak atas sedang konjungtiva pada daerah limbus berupa hipertrofi yang kadang berbentuk coble stone. d. Keratitis lagoftalmus terjadi akibat kelopak mata tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga terdapat kekeringan kornea.
19

e. Keratitis neuroparalitik merupakan keratitis karena kelainan saraf trigeminus,

sehingga terdapat kekeruhan kornea yang tidak sensitif disertai kekeringan kornea. Keratitis Ulserativa Perifer Keratitis ulserativa perifer adalah suatu peradangan dan ulserasi (pembentukan ulkus) pada kornea yang sering kali terjadi pada penderita penyakit jaringan ikat (misalnya artritis reumatoid). Penyebab keratitis ulserativa perifer biasanya disebabkan oleh: penyakit non-infeksi: artritis reumatoid, lupus eritematosus sistemik, sarkoidosis, rosasea, arteritis sel raksasa, penyakit peradangan saluran pencernaan, kelainan metabolisme, blefaritis, keratitis marginalis, pemakaian lensa kontak, cedera mata karena bahan kimia, trauma, ataupun pembedahan; penyakit infeksi: tuberkulosis, sifilis, hepatitis, disentri basiler keratitis (karena virus, bakteri, jamur, maupun akantamoeba). Faktor risiko utama terjadinya penyakit ini adalah penyakit jaringan ikat dan penyakit pembuluh darah. Gejala yang timbul dapat berupa gangguan penglihatan, peka terhadap cahaya (fotofobia), dan penderita merasa ada benda asing di matanya. Gejala lainnya adalah mata berair, peradangan konjungtiva dan episklera. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata serta pemeriksaan fisik. Pengobatan lokal bertujuan untuk mencegah/mengurangi kerusakan kornea, sedangkan pengobatan sistemik diberikan untuk mengatasi penyebabnya. Untuk mengatasi penyebabnya, diberikan steroid sistemik dan obat penekan sistem kekebalan (immunosupresan); obat tersebut juga efektif dalam mengontrol peradangan mata dan sistemik. Immunosupresan yang diberikan biasanya adalag siklofosfamid. Jika diduga penyebabnya adalah penyakit infeksi, maka diberikan antibiotik. Beberapa teknik pembedahan yang dilakukan untuk mengatasi keratitis ulserativa perifer: Perekat jaringan (misalnya lem sianoakrilat) digunakan pada ancaman perforasi yang berukuran kurang dari 1-2 mm. Prosedur tektonik, yaitu keratoplasti, keratoplasti penetrasi, dan pencangkokan bercak korneoskleral. 5. AJARAN ISLAM TENTANG INDERA MATA Allah Subhanahu wa Taala berfirman dalam Al-Qur`an: Katakanlah kepada laki-laki yang beriman (kaum mukminin): Hendaklah mereka menundukkan sebagian dari pandangan mereka dan hendaklah mereka menjaga kemaluan mereka. (An-Nur: 30) Sekalipun wanita itu terbuka wajahnya, tidaklah berarti boleh memandang wajahnya. Karena terdapat perintah untuk menundukkan pandangan. Laki-laki menundukkan pandangannya dari melihat wanita. Demikian pula sebaliknya, wanita diperintahkan menundukkan pandangannya dari melihat laki-laki.
20

Allah juga melanjutan firmannya yang menganjurkan para wanita untuk menjaga paandangannya yaitu: Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menundukkan sebagian dari pandangan mereka. (An-Nur: 31)

-oOo-

21

DAFTAR PUSTAKA Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 20. Jakarta: EGC Ilyas, Sidarta. 2006. Ilmu Penyakit Mata, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI James, Bruce. 2005. Lecture Notes: Oftalmologi, Edisi Kesembilan. Jakarta: Erlangga Leeson, C. Roland. 1996. Buku Ajar Histologi. Jakarta: EGC Netter, Frank H. & Carlos A.G. Machado. 2003. Interactive Atlas of Human Anatomy, Version 3.0. New York: Icon Learning Systems LLC Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran, Edisi 6. Jakarta: EGC

22