Anda di halaman 1dari 37

Laporan Praktikum

Farmasetika Dasar

SUSPENSI

OLEH Kelompok V Arifin Oputu Astin Basalama Dessi N .F Tahir Nurfa tmawati A. H Fatmawati Maspeke : 821412081 : 821412121 : 821412059 : 821412052 : 821412066

Asisten : Chusnul Hikmah Djibran, S.Farm

LABORATORIUM FARMASETIKA DASAR JURUSAN FARMASETIKA FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN DAN KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 2013

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Dalam bidang industri farmasi, perkembangan tekhnologi farmasi sangat berperan aktif dalam peningkatan kualitas produksi obat-obatan. Hal ini banyak ditunjukkan dengan banyaknya sediaan obat-obatan yang

disesuaikan dengan karakteristik dari zat aktif obat, kondisi pasien dan peningkatan kualitas obat dengan meminimalkan efek samping obat tanpa harus mengurangi atau mengganggu dari efek farmakologis zat aktif obat. Suspensi merupakan salah satu contoh dari bentuk sediaan cair, yang secara umum dapat diartikan sebagai suatu sistem dispersi kasar yang terdiri atas bahan padat tidak larut tetapi terdispersi merata ke dalam pembawanya. Bentuk suspensi yang di pasarkan ada 2 macam, yaitu suspensi siap pakai atau suspensi cair yang langsung bisa diminum, dan suspensi yang dilarutkan terlebih dahulu ke dalam cairan pembawanya, suspensi bentuk ini digunakan untuk zat aktif yang kestabilannya dalam akhir kurang baik dan sebagai pembawa dari suspensi yaitu berupa air dan minyak. Ada beberapa alasan pembuatan suspensi . salah satu adalah karena obatobat tertentu tidak stabil secara kimia bila ada dalam larutan tapi stabil dalam disuspensi. Dalam hal seperti ini suspensi oral menjamin stabilitas kimia dan memungkinkan terapi dengan cairan. Untuk banyak pasien, bentuk cair lebih disukai ketimabang bentuk padat (tablet atau kapsul dari obat yang sama), karena mudahnya menelan cairan dan keluwesan dalam pemberian dosis, pemberian

lebih mudah serta lebih mudah untuk memberikan dosis yang relatif sangat besar, aman, mudah diberikan untuk anak-anak, juga mudah diatur penyesuaian dosisnya untuk anak. Sediaan dalam bentuk suspensi diterima baik oleh para konsumen dikarenakan penampilan baik itu dari segi warna ataupun bentuk wadahnya.

I.2. Maksud dan Tujuan Percobaan I.2.1. Maksud Percobaan 1. Untuk mempelajari dan memahami teori suspensi secara umum. 2. Untuk memahami dan membuat sediaan obat berbentuk suspensi dengan pemilihan suspending agent yang sesuai. 3. Untuk mempelajari bahan-bahan pembuatan sediaan suspensi yang baik. I.2.2. Tujuan Percobaan 1. Praktikkan mampu mempelajari dan memahami teori suspensi secara umum. 2. Praktikkan mampu memahami metode-metode dalam pembuatan obat sediaan suspensi 3. Praktikkan mampu menganalisis zat aktif yang terdapat dalam resep sediaan suspensi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKAN II.1. Teori Umum II.1.1. Pengertian Suspensi Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung obat padat, tidak melarut dan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa atau sediaan padat terdiri dari obat dalam bentuk serbuk sangat halus, dengan atau tanpa zat tambahan, yang akan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa yang di tetapkan (Fornas, 333). Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel tidak larut dalam bentuk halus yang terdispersi kedalam fase cair (Ires, 135). Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dengan cairan pembawa (FI III, 32). Suspensi adalah sediaan obat yang terbagi dengan halus yang ditahan dalam suspensi dengan menggunakan pembawa yang sesuai (Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, 97). Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair (FI IV, 17). II.1.2. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Suspensi II.I.2.1. Keuntungan Bentuk Sediaan Suspensi Suspensi merupakan sediaan yang menjamin stabilitas kimia dan memungkinkan terapi dengan cairan.

Suspensi untuk banyak pasien, bentuk cair lebih disukai ketimbang bentuk padat (tablet atau kapsul dari obat yang sama), karena mudahnya menelan cairan dan keluwesan dalam pemberian dosis.

Suspensi pemberiannya lebih mudah serta lebih mudah untuk memberikan dosis yang relatif sangat besar.

Suspensi merupakan sediaan yang lebih aman, mudah diberikan untuk anak-anak, juga mudah diatur penyesuaian dosisnya untuk anak (Ansel, 335).

II.I.2.2. Kerugian Bentuk Sediaan Suspensi Suspensi memiliki kestabilan yang rendah (pertumbuhan kristal jika jenuh , degradasi, dll) Jika membentuk caking akan sulit terdispersi kembali sehingga homogenitasnya akan turun Aliran yang terlalu kental menyebabkan sediaan sukar dituang Ketepatan dosis lebih rendah dari pada bentuk sediaan larutan Pada saat penyimpanan kemungkinan terjadi perubahan sistem dispersi (cacking, flokulasi-deflokulasi) terutama jika terjadi fluktuasi/ perubahan suhu Sediaan suspensi harus dikocok terlebih dahulu untuk memperoleh dosis yang diinginkan (Ansel, 356 ; Syamsuni, 136).

II.1.3. Macam-macam Suspensi a. Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan bahan pengaroma yang sesuai yang ditujukan untuk penggunaan oral. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori ini. Beberapa suspensi dapat langsung digunakan, sedangkan yang lain berupa campuran padat dalam bentuk halus yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai, segera sebelum digunakan. Sediaan ini di sebut Untuk suspensi oral. b. Suspensi topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit. Losion eksternal harus mudah menyebar didaerah pemakaian, tidak mudah mengalir dari daerah pemakaian, dan cepat kering membentuk lapisan film pelindung. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai lotio termasuk dalam kategori ini. c. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikelpartikel halus yang ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar. d. Suspensi oftalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel sangat halus yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada

kornea. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan jika terdapat massa yang mengeras atau terjadi penggumpalan. e. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan cair steril berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak boleh menyumbat jarum suntiknya (syringe ability) serta tidak disuntikkan secara intravena atau kedalam larutan spinal. f. Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah

penambahan bahan pembawa yang sesuai. II.1.4. Stabilitas Suspensi Salah satu masalah yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas partikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah: a. Ukuran partikel Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan ke atas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan keatas terdapat hubungan linier. Artinya semakin kecil ukuran partikel semakin besar luas penampangnya (dalam volume yang sama). Sedangkan semakin besar luas penampang partikel, daya tekan keatas

cairan akan semakin besar , akibatnya memperlambat gerakan partikel untuk mengendap sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel. b. Kekentalan (Viskositas) Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, semakin kental suatu cairan, kecepatan alirannya semakin turun atau semakin kecil. Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan memengaruhi pula gerakan turun partikel yang terdapat didalamnya. Dengan demikian, dengan menambah kekentalan atau viskositas cairan, gerakan turun partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan tuang. c. Jumlah Partikel (konsentrasi) Jika didalam suatu ruangan terdapat partikel dalam jumlah besar, maka partikel akan sulit melakukan gerakan bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut. Oleh benturan ini akan menyebabkan terbentuknya endapan zat tersebut, oleh karena itu semakin makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinannya terjadi endapan partikel dalam waktu yang singkat. II.1.5. Bahan Pensuspensi dari Alam Bahan alam dari jenis gom sering disebut gom atau hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk muchilago atau lendir. Dengan terbentuknya muchilago, viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah

stabilitas suspensi. Kekentalan muchilago sangat dipengaruhi oleh panas, PH, dan proses fermentasi bakteri. II.1.5.1 Golongan gom meliputi a. Akasia (pulvis Gummi Arabic) Bahan ini diperoleh dari eksudat tanaman Acasia sp., dapat larut dalaam air, tidak larut dalam alcohol, dan bersifat asam. Viskositas optimum muchilagonya adalah antara PH 59. Jika ada suatu zat yang menyebabkan PH tersebut

menjadi diluar PH 5-9 akan menyebabkan penurunan viskositas yang nyata. Muchilago Gom Arab dengan kadar 35% memiliki kekentalan kira-kira sama dengan gliserin. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam suspensi harus ditambahkan zat pengawet (preservalive). a) Chondrus Diperoleh dari tanaman Chondrus crispus atau Gigartina mamilosa, dapat larut dalam air, tidak larut dalam alcohol, dan bersifat basa. Ekstrak dari Chondrus disebut karagen, yang banyak dipakai oleh industry makanan. Karagen merupakan derivat dari sakarida sehingga mudah dirusak oleh bakteri dan memerlukan penambahan pengawet untuk suspensi tersebut. b) Tragakan Merupakan eksudat dari tanaman Astragalus gummifera. Tragakan sangat lambat mengalami hidrasi

sehingga untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan. Muchilago tragakan lebih kental dari pada muchilago dari Gom Arab. Muchilago tragakan hanya baik sebagai stabilisator suspensi, tetapi bukan sebagai emulgator. c) Algin Diperoleh dari beberapa spesies ganggang laut. Di perdagangan terdapat dalam bentuk garamnya, yaitu natrium alginat. Algin merupakan senyawa organik yang mudah mengalami fermentasi bakteri sehingga suspensi dengan algin memerlukan bahan pengawet. Kadar yang dipakai sebagai bahan pensuspensi umumnya 1-2%. II.1.5.2. Bahan Pensuspensi Alam Bukan Gom Suspending agent alam yang bukan gom adalah tanah liat. Tanah liat yang sering digunakan untuk tujuan menambah stabilitas suspensi ada 3 macam yaitu bentonit, hectorite, dan vegum. Jika tanah liat dimasukkan kedalam air, mereka akan mengembang dan mudah bergerak jika dilakukan pengocokkan. Peristiwa ini disebut tiksotrofi. Karena peristiwa tersebut, kekentalan cairan akan bertambah sehingga stabilitas suspensi menjadi lebih baik. Ketiga tanah liat tersebut bersifat tidak larut dalam air sehingga penambahan bahan tersebut kedalam suspensi adalah dengan menaburkan pada campuran suspensi. Keuntungan

10

penggunaan bahan suspensi dari tanah liat adalah tidak dipengaruhi oleh suhu atau panas dan fermentasi dari bakteri, karena bahan-bahan tersebut merupakan senyawa anorganik, bukan golongan karbohidrat. II.1.6. Bahan Pensuspensi Sintesis a. Derivat selulosa Termasuk kedalam golongan ini adalah metil selulosa (methosol, tylose), karboksimetil selulosa (CMC), hidroksimetil selulosa. Di belakang nama tersebut biasanya terdapat angka atau nomor, misalnya methosol 1500. Angka ini menunjukkan kemampuan cairan pelarut untuk meningkatkan viskositasnya. Semakin besar angkanya, kemampuan semakin tinggi. Golongan ini tidak di absorpsi oleh usus halus dan tidak beracun sehingga banyak dipakai dalam produksi makanan. Dalam farmasi selain untuk bahan pensuspensi juga digunakan sebagai laksansia dan bahan penghancur atau disintegrator dalam pembuatan tablet. b. Golongan organik primer Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah carbophol 934 (nama dagang suatu pabrik). Organik polimer berupa serbuk putih, bereaksi asam, sedikit larut dalam air, tidak beracun dan tidak mengiritasi kulit, serta sedikit pemakaiannya sehingga bahan tersebut bannyak digunakan sebagai bahan pensuspensi. Untuk memperoleh viskositas yang baik diperlukan kadar 1%. Carbophol sangat peka

11

terhadap panas dan elektrolit. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan viskositas larutannya. II.1.7. Cara Mengerjakan Obat dalam Suspensi Suspensi dapat dibuat dengan metode sebagai berikut. a. Metode dispersi Metode ini dilakukan dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam muchilago yang telah terbentuk, kemudian baru diencerkan. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang terjadi kesukaran pada saat mendispersikan serbuk kedalam pembawa. Hal tersebut karena adanya udara, lemak, atau kontaminan ada serbuk. Serbuk yang sangat halus mudah termasuki udara sehingga sukar dibasahi. Mudah dan sukarnya serbuk dibasahi tergantung pada besarnya sudut kontak antara zat terdispersi dengan medium. Jika sudut kontak 90 , serbuk akan mengambang diatas cairan. Serbuk yang demikian disebut memiliki sifat hidrofob. Untuk menurunkan tegangan permukaan antar apartikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent. b. Metode Presipitasi Zat yang hendak didispersikan dilarutkan dahulu kedalam pelarut organik yang hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organik, larutan zat ini kemudian diencerkan dengan larutan pensuspensi dalam air sehingga akan terjadi endapan halus tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Cairan organik tersebut adalah etanol, propilen glikol, dan polietilen glikol.

12

II.1.8. Sistem Pembentukan Suspensi a. Sistem flokulasi Dalam sistem flokulasi, partikel flokulasi terikat lemah, cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali. b. Sistem deflokulasi Partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen, akan terjadi agregasi, dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. Secara umum sifat partikel flokulasi dan deflokulasi adalah a) Deflokulasi 1. Partikel suspensi dalam keadaan terpisah atau dengan yang lainnya 2. Sedimentasi yang terjadi lambat, masing-masing partikel mengendap terpisah dan partikel berada dalam ukuran paling kecil. 3. Sedimen terbentuk lambat 4. Akhirnya sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi kembali 5. Wujud suspensi bagus karena zat tersuspensi dalam waktu relatif lama. Terlihat bahwa ada endapan dan cairan atas terkabut. b) Flokulasi 1. Partikel merupakan agregat yang bebas.

13

2. Sedimentasi terjadi cepat 3. Sedimen terbentuk cepat 4. Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi kembali seperti semula 5. Wujud suspensi kurang bagus sebab sedimentasi terjadi cepat dan diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih dan nyata. II.1.9. Formulasi Suspensi Untuk membuat suspensi stabil secara fisik ada dua cara, yaitu: 1. Penggunaan structured vehicle untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi. Structured vehicle adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain 2. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok,

meskipun cepat terjadi pengendapan, tetapi dengan pengocokkan ringan mudah disuspensikan kembali. Pembuatan suspensi sistem flokulasi : 1. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium. 2. Setelah itu ditambahkan zat pemflokulasi, biasanya larutan elektrolit, surfaktan, atau polimer 3. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir 4. Jika dikehendaki, agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah structured vehicle. 5. Produk akhir yang diperoleh adalah suspensi flokulasi dalam structured vehicle.

14

Bahan pemflokulasi yang dipergunakan dapat berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Untuk partikel yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif, dan sebaliknya. Contohnya, untuk suspensi bismuth subnitrat yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif yaitu kalium fosfat monobasi. Untuk suspensi sulfonamida yang bermuatan negatif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan positif yaitu (aluminium triklorida). II.1.10. Bahan Pengawet Penambahan bahan lain dapat pula dilakukan untuk menambah stabilitas suspensi, antara lain dengan penambahan bahan pengawet. Bahan ini sangat diperlukan terutama untuk suspensi yang menggunakan hidrokoloid alam, karena bahan ini sangat mudah dirusak oleh bakteri. Sebagai bahan pengawet dapat digunakan butil parabenzoat (1:1250), etil parabenzoat (1:500), propel parabenzoat (1:4000), nipasol, nipagin 1%. Disamping itu, banyak pula digunakan garam kompleks merkuri sebagai pengawet, karena hanya diperlukan jumlah yang kecil, tidak toksis, dan tidak iritasi. Misalnya fenil merkuri nitrat, fenil merkuri klorida, fenil merkuri asetat.

15

II.2. Resep Dr. Indrianti Madina, SP.PD SIK: 821/FM/GTO/111 Jl. Gorontalo No. 1 Telp. 0435-786457 Gorontalo, 04-02-2012 R/ Chloramphenicol Na CMC Polysorbatum 80 Propilenglikol Sirup Simplex Aqua Destilata 125 mg 50 mg 10 mg 0,5 18 ad 5 mL

m.f. susp. da in fl 30 mL No. 1 t d.d I Cth p.c

Pro

: Bunga

Umur : 18 tahun

II.2.1. Uraian Bahan 1. Chloramphenicol (FI ed. III, 143) Nama resmi Sinonim Berat molekul : Chloramphenicolum : Kloramfenikol : 323,13

16

Rumus kimia Struktur kimia

: C11H12CI2N2O3 :

Pemerian

: Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang, putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan, larutan praktis netral terhadap lakmus P, stabil dalam larutan netral atau larutan agak asam.

Kelarutan

: Sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, dalam propilenglikol, dalam aseton dan etil asetat.

Khasiat

: Antibiotikum

(zat

yang

mematikan

atau

menghambat pembuluh bakteri). Kegunaan Penyimpanan : Zat aktif. : Dalam wadah tertutup rapat.

2. Na CMC (FI ed. III, 401) Nama resmi Sinonim Berat molekul Rumus kimia Struktur kimia : Natrii Carboxymethilcellulosum : Natrium Karbosimetil Selulosa : 200 : C2H2ONa :

17

Pemerian

: Serbuk atau butiran; putih atau putih gading; tidak berbau atau hampir tidak berbau;

higroskopis Kelarutan : Mudah mendispersi dalam air, membentuk suspensi koloid; tidak larut dalam etanol. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup rapat : Zat tambahan

3. Polysorbat-80 (FI ed. III, 509) Nama resmi Sinonim Berat molekul Rumus molekul Struktur kimia : Polysorbatum-80 : Twen 80 : 1310 : C64H124O26 :

Pemerian Kelarutan

: Cairan agak kental seperti minyak, jernih, kuning, bau khas. : Mudah larut dalam air, etanol (95%) P,dalam asetat P dan dalam methanol P; Sukar larut

dalam methanol P dan dalam minyak biji kapas P. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup rapat : Zat tambahan

4. Gliserin (FI ed. III, 271) Nama resmi Sinonim : Glycerolum : Gliserol, Gliserin

18

Berat molekul Rumus molekul Struktur kimia

: 92,10 : C2H8O3 :

Pemerian

: Cairan seperti sirup; jernih, tidak berwarna; tidak berbau; manis diikuti rasa hangat higroskopis.

Kelarutan

: Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) praktis, tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam minyak lemak

Penyimpanan Kegunaana

: Dalam wadah tertutup baik : Zat Tambahan

5. Sirup Simplex, mengandung: Glukosa (FI ed. III, 268) Nama resmi Sinonim Berat molekul : Glucosum : Glukosa, Gula : 198,17

Rumus molekul : C6H12O6 . H2O Struktur kimia :

Pemerian

: Hablur tidak berwarna, serbuk hablur atatu cairan putih; tidak berbau; rasa manis.

19

Kelarutan

: Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam etanol

(95%) P mendidih, sukar larut dalam etanol (95%) P. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup baik. : Kalorigenikum (penambah energi).

Metil Paraben (FI ed. III, 378) Nama resmi Sinonim Berat molekul : Methylis Parabenum : Metil Paraben, Nipagin M : 152,15

Rumus molekul : C8H8O3 Struktur kimia :

Pemerian

: Serbuk hablur halus, hampir tidak berbau, tidak mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.

Kelarutan

: Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95 %) P dan dalam 3 bagian aseton P; mudah larut dala eter P dan dalam larutan alkali hidroksida; larut dalam 60 bagian gliserol P panas, dan dalam 40 bagian

20

minyak lemak nabati panas, jika didinginkan larutan tetap jernih. Kegunaan Penyimpanan : Zat tambahan; zat pengawet. : Dalam wadah tertutup baik.

Aqua Destillata (FI edisi III, 96) Nama resmi Sinonim Berat molekul : Aqua destillata : Air Suling : 18,02

Rumus molekul : H2O Struktur kimia : H O Pemerian : Cairan jenuh tidak berwarna, tidak mempunyai rasa. Kegunaan Penyimpanan : Zat pelarut. : Dalam wadah tertutup baik. H

II.2.2. Farmakologi Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi kloramfenikol kadang-kadang bersifat bakterisid terhadap kumankuman tertentu. Kloramfenikol bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman. Obat ini terikat pada ribosom subunit 50 s dan menghambat enzim peptidil tranferase sehingga ikatan peptida tidak terbentuk pada proses sintesis protein kuman. Efek taksik kloramfenikol pada sistem hemopoetik

21

sel mamalia diduga berhubungan dengan mekanisme kerja obat ini (Farmakologi dan Terapi, 700). II.2.3. Nama Latin 1 10 125 20 30 5 50 ad da in eth fl m.f mg mL no p.c pro R/ td.d : unum : decem : centum viginti quingue : viginti : triginta : quingue : quinguaqinta : ad : da in : cochlear theae : flacon : misce fac : milligramma : milliliter : numero : post coenam : pro : recipe : signa : terde die : satu : sepuluh : seratus dua puluh lima : dua puluh : tiga puluh : lima : lima puluh : sampai, pada : masukkan kedalam : sendok teh : botol : campur,buat : miligram : mililiter : sebanyak : sesudah makan : untuk : ambillah : tandai : tiga kali sehari

22

Dalam Latin Recipe Chloramphenicol 125 mg, Na CMC 50 mg, Twen 80 10 mg, Propilenglikol 0,5 g, Sirup Simplex 18 g, Aqua destilata ad 5 mL Misce fac Suspensiones da in flacon 30 mL numero unum Signa ter de die unum cochlear tea post coenam Pro Bunga Dalam Indonesia Ambillah Chloramphenicol 125 mg, Na CMC 50 mg, Twen-80 10 mg, Propilenglikol 0,5 g, Sirup Simplex 18 mL, Aqua destilata ad 5 mL Campur dan buatlah suspensi berikan dalam botol dengan takaran 30 mL sebanyak satu Tandai tiga kali sehari satu sendok teh sesudah makan Untuk Bunga

23

BAB III METODE KERJA III.1. Alat dan Bahan III.1.1. Alat-alat yang digunakan Alu Batang Pengaduk Cawan Porselin Gelas Ukur Kaca Arloji Lap Halus Lap Kasar Lumpang Neraca Analitik Pipet tetes Sendok Tanduk Sudip Water Bath

III.1.2. Bahan-Bahan yang digunakan Alkohol 70 % Aqua destilata Botol kalibrasi 30 mL Chloramphenicol 750 mg Gliserin 3 g Na CMC 300 mg

24

Polysorbatum-80 60 mg Sirup Simplex 18 mL

III.2. Cara Kerja a. Pembuatan Sirup Simplex 1. Disiapkan alat dan bahan. 2. Dibersihkan alat menggunakan kapas yang telah dibasahi alcohol 70 %. 3. Ditimbang metil paraben 0,25 gr dan sukrosa 65 gr menggunakan neraca analitik. 4. Dipanaskan air pada waterbath. 5. Setelah air panas, dimasukkan metil paraben dan diaduk terus menerussampai metil paraben larut dalam air. 6. Ditambahkan sukrosa dan diaduk sampai mengental. b. Pembuatan Suspensi Chloramphenicol 1. Disiapkan alat dan bahan. 2. Dibersihkan alat menggunakan kapas yang telah dibasahi dengan alkohol 70%. 3. Botol dikalibrasi 30 mL. 4. Ditimbang masing-masing bahan yang akan digunakan, chloramphenicol 750 mg, Na CMC 300 mg, polysorbatum-80 60 mg, Gliserin 3 g, 5. Diukur Sirup Simplex 18 mL. 6. Dipanaskan air hingga mendidih menggunakan waterbath. 7. Dibuat muchilago dengan cara memasukan Na CMC ke dalam lumpang 1 dan digerus hingga halus.

25

8. Ditambahkan air panas sedikit demi sedikit air panas kedalam lumpang dan digerus searah secara terus-menerus. 9. Dimasukkan Chloramphenicol kedalam lumpang 2, digerus hingga halus. 10. Dimasukkan muchilago yang telah dibuat di lumpang 1, ke dalam lumpang 2. 11. Ditambahkan polysorbatum-80 dan gliserin ke dalam lumpang 2, dan digerus searah secara terus menerus hingga homogen. 12. Ditambahkan sirup simplex dan digerus kembali secara terus-menerus hingga campuran menjadi homogen. 13. Dimasukkan ke dalam botol. 14. Ditambahkan air sampai batas kalibrasi 30 mL. 15. Dikocok sampai homogen. 16. Diberi etiket putih.

26

BAB IV HASIL PEMBAHASAN IV.1. Hasil Percobaan IV.1.1. Perhitungan Bahan Chloramphenicolum 30 5 125 50 10 = 750 = 300 = 60 = 0,75 = 0,3 = 0,06

Na CMC 30 5 30 5

Polysorbatum-80

Sirup Simplex = 18 mL

IV.1.2. Perhitungan Dosis Chloramphenicolum memiliki DL = 250 mg-500 mg/1 gr-2 gr Sekali 20 = 18 500 20 = 450

% sekali 125 450

Jadi, pemakaian sekali tidak over dosis Sehari 20 = 18 2 20 = 1,8 = 1800

100% = 27,72 %

% sehari

27

Jadi, pemakaian sehari tidak over dosis. IV.2. Pembahasan IV.2.1. Informasi Obat a. Cara Pemakaian Adapun cara pemakaian obat ini adalah secara oral, dikocok terlebih dahulu, dan diminum secara rutin sebanyak tiga kali sehari satu sendok teh sesudah makan sampai habis. b. Cara Penyimpanan Obat ini disimpan pada tempat yang sejuk pada suhu 80-150 C, dan pada wadah tertutup rapat atau dalam botol. c. Jangka Waktu Pemakaian Dalam 1 botol terdapat 30 mL, sekali pemakaian 5 mL, dalam sehari 3 kali pemakaian. Maka obat akan habis dalam jangka waktu: 30 =6 5 6 =2 3

3 125 1800

100% = 20,8 %

Jadi, obat ini akan habis dalam 2 hari. Jika dalam waktu 2 hari

belum mengalami penyembuhan, maka pasien perlu berkonsultasi kembali dengan dokter untuk mendapatkan resep yang sejenis, sampai pasien itu sembuh. IV.2.2. Interaksi Obat Kloramfenikol (Cloromycetin, Mychel) adalah antibiotika yang hanya digunakan untuk infeksi serius yang tak dapat ditanggulangi oleh antibiotika lain yang kurang toksik. Kloramfenikol diberikan untuk

28

mengobati infeksi berbahaya yang tidak efektif antibiotik yang kurang efektif. (Interaksi Obat, 42)

bila diobati dengan

29

BAB V PENUTUP V.1. Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung obat padat, tidak melarut dan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa. 2. Dalam pembuatan suspensi, digunakan 2 metode yakni: Metode dispersi dan Metode Presipitasi. 3. Dalam resep ini, bahan aktif yang digunakan adalah Kloramfenikol, dimana Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatik. V.2. Saran 1. Untuk laboratorium diharapkan agar dapat melengkapi fasilitasnya berupa alat-alat dan bahan-bahan yang menunjang dalam proses praktikum, agar praktikum yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar. 2. Untuk praktikan, diharapkan agar lebih mengasah lagi kemampuannya dalam membuat sediaan suspensi, dimana sediaan suspensi merupakan sediaan yang membutuhkan ketelitian dalam peracikannya.

30

DAFTAR PUSTAKA Badan POM RI. 2008. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Sagung Seto: Jakarta Dirjen POM. 1978. Formularium Nasional edisi II. Departemen Kesehatan RI: Jakarta Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan RI: Jakarta Harkness, R. 2010. Interaksi Obat. ITB Press: Bandung Ikatan Apoteker Indonesia. 2009. Informasi Spesialite Obat. ISFI: Jakarta Mardjono, Mahar. 1972. Farmakologi dan Terapi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. Buku Kedokteran EGC: Jakarta

31

LAMPIRAN Lampiran 1 Skema Kerja Na CMC 300 - mg Dimasukkan ke dalam lumpang 1 Digerus hingga halus Chloramphenicol 750 mg + polysorbatum80 6 mg + gliserin 3 g - dimasukkan chloramphenicolum ke dalam lumpang 2, digerus Hingga halus. - Ditambahkan polysorbatum-80 dan gliserin. - Digerus searah secara terusmenerus hingga homogen. Campuran homogen

Muchilago

Dimasukkan muchilago ke dalam lumpang 2. Di masukkan sirup simplex 20 mL. Digerus kembali secara terus-menerus hingga campuran homogen.

Campura homogen

Dimasukkan ke dalam botol yang telah dikalibrasi 30 mL Dikocok hingga homogen.

Sediaan Suspensi

32

Lampiran 2 Etiket APOTEK CITRA FARMA Jl. Andalas No.45 telp. 821412052 PA : Nur Fatmawati S.farm.Apt SIPA : 21/SIP-FM/GTO/I/2013 tgl: 04-02-2012 Nama Pasien : Bunga
No: 01

3 sehari 1 sendok teh Sesudah Makan Kocok terlebih dahulu

33

Copy Resep

Apotek CITRA FARMA Alamat : Jl. Andalas No.45 Telp. : (0435) 821412052 Apoteker : Nurfatmawati A.H, S.Farm, Apt SIPA : 21/SIP-FM/GTO/I/2013
No. 01 Tgl : 04-02-2012

SALINAN RESEP
Resep untuk : Bunga Resep dari dokter : Dr. Indriati Madina, Sp. PD Tanggal Resep : 04-02-2012 Nomor Resep : 01 Tanggal copy resep : 04-12-2012

R/ Chloramphenicol
Na CMC Polysorbatum 80 Propilenglikol Sirup Simplex \ Aqua Destilata m.f. susp. da in fl 30 mL No. 1 t d.d I Cth p.c

125 mg 50 mg 10 mg 0,5 18 ad 5 mL

did
Cap apotek

P.C.C
Paraf Apoteker

34

Lampiran 3 Foto Sediaan Alat dan Bahan Alat

Lumpang dan Alu

Gelas Ukur

Sendok Tanduk

Sudip

35

Pipet tetes Bahan

Propilenglikol

Kloramfenikol

Na-CMC 36

Twen 80

37