Anda di halaman 1dari 77

Status Faali.

laporan praktikum fisiologi ternak


PENDAHULUAN
Ilmu Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tata kerja dari berbagai
sistem dan peran dari fungsi tubuh keseluruhannya. Ilmu fisiologi ternak secara khusus
mempelajari fisiologi dari beberapa ternak, yaitu sapi, ayam, kambing, domba, kelinci,
dan jenis burung melalui percobaan status faali, thermoregulasi, saccus pneumaticus,
sel darah merah, sistem digesti, pembekuan darah, kadar haemoglobin dalam darah,
tekanan darah, dan waktu pendarahan pada manusia.
Percobaan status faali bertujuan untuk mengetahui data-data fisiologi yaitu
temperatur rektal, pulsus, dan frekuensi respirasi pada sapi, kambing, domba, kelinci,
dan ayam. Percobaan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan
ternak. Hal tersebut dapat menguntungkan karena semakin dini diketahui kelainan pada
seekor ternak maka penanggulangannya akan semakin mudah untuk diatasi.
Selain melalui status faali, berdasarkan jumlah sel darah merah ternak, dapat
diketahui kondisi kesehatannya dengan melihat/ mengamati dan mengukur jumlah sel
darah merah dan membandingkannya dengan kisaran normal dari jenis ternak tertentu.
Praktikum ini juga mempelajari dan mengetahui fungsi-fungsi dari suatu organ tubuh
ternak yang penting untuk diketahui. Misalnya adalah sistem digesti yaitu mempelajari
organ-organ tubuh ternak yang membantu proses digesti dan kelenjar pencernaan
ruminansia dan non ruminansia yang berfungsi dalam sistem pencernaaannya.
Demikianlah sekilas tentang acara praktikum Dasar Fisiologi Ternak, setiap acara
akan dijelaskan dan diulas pada bab berikutnya.

ACARA I
STATUS FAALI
Tinjauan Pustaka
Sistem faali yang meliputi respirasi, pulsus, dan temperatur rektal merupakan
suatu parameter yang digunakan untuk mengetahui kondisi atau keadaan kesehatan
suatu ternak yang dapat dilakukan dengan percobaan langsung (Galem et. al., 2012).
Kondisi status faali ternak merupakan indikasi dari kesehatan dan adaptasi ternak
terhadap lingkungannya. Ternak akan selalu beradaptasi dengan lingkungan tempat
hidupnya, apabila lingkungan dengan suhu dan kelembapan yang tinggi dapat
menyebabkan stress (cekaman) karena sistem pengaturan panas tubuh dengan
lingkungannya menjadi tidak seimbang. Ternak domba termasuk hewan homoitherm
yang memiliki kemampuan untuk mempertahankan suhu tubuhnya agar tetap stabil,
sehingga terjadi keseimbangan antara panas yang diproduksi dengan panas yang
dikeluarkan kesekelilingnya (Gates et. al., 1999).
Respirasi
Respirasi adalah suatu proses dimana pertukaran zat metabolisme dan gas asam
arang atau oksigen yang diambil dari udara oleh parusampaiparu dan mengalami
proses kimia dalam jaringan tubuh yang dilepaskan dalam bentuk karbon dioksida
(CO2). Respirasi memiliki dua proses, yaitu respirsi eksternal dan respirasi internal.
Terjadinya pergerakan karbon dioksida ke dalam alveolar ini disebut respirasi eksternal.
Respirasi internal dapat terjadi apabila oksigen berdifusi ke dalam darah (Campbell,
2001).
Respirasi berfungsi sebagai parameter yang dapat digunakan sebagai pedoman
untuk mengetahui fungsi organsampaiorgan tubuh bekerja secara normal. Fungsi
utama pada respirasi yaitu menyediakan oksigen bagi darah dan mengambil
karbondioksida dari darah. Pengukuran terhadap parameter fisiologis bisa dilakukan
dengan pengukuran respirasi, detak jantung dan temperatur tubuh (Schmidt, 1997).
Kisaran normal respirasi beberapa ternak dapat dilihat pada tabel 1.1 dibawah ini:
Tabel 1.1. Kisaran normal respirasi beberapa ternak
Spesies
Kisaran respirasi (kali per menit)
Sapi
24-42

Kambing
Domba
Kelinci
Ayam
(Frandson, 1996).

26-54
26-32
25-27
18-23

Pulsus
Frekuensi pulsus atau denyut jantung dikendalikan oleh sistem organ jantung
yang dipengaruhi oleh sistem saraf. Jantung merupakan dua pompa yang menerima
darah dalam arteri dan memompakan darah dari ventrikel menuju jaringan kemudian
kembali lagi. Sistem ini bekerja dengan kombinasi tertentu dan fungsional. Misalnya
saraf efferens, saraf cardial anhibitory, dan saraf accelerate sedangkan kecepatan
denyut jantung dapat dipengaruhi oleh temperatur lingkungan, aktivitas tubuh, suhu
tubuh, latak geografis, penyakit dan stress (Dukes, 1995).
Frekuensi denyut jantung yang ekstrim pada ternak menandakan kondisi
fisiologis ternak pada saat itu tidak nyaman. Pada ternak besar seperti sapi, pulsus atau
denyut jantung dapat dirasakan dari arteri fasial yang terdapat disekitar femur horizontal
dari mandibula atau dapat juga dirasakan pada arteri caudalis. Arteri femural pada sisi
medial, mudah diraba untuk hewan ternak seperti kucing, domba, dan kambing. Pada
ayam dan kelinci, pulsus dapat diraba disekitar dada (Frandson, 1996). Kisaran normal
pulus beberapa ternak dapat dilihat pada tabel 1.2 dibawah ini:

Tabel 1.2. Kisaran denyut jantung normal untuk berbagai jenis ternak
Spesies
Kuda
Babi
Kambing
Kucing
Sapi
Domba
Anjing

Kisaran denyut jantung ( kali per menit)


23-70
55-86
70-135
110-140
60-70
60-120
100-130
(Frandson, 1996).

Temperatur Rektal
Temperatur tubuh merupakan hasil keseimbangan antara produksi panas dan
pelepas panas tubuh. Indeks temperatur dalam tubuh hewan dapat dilakukan dengan
memasukkan termometer rektal ke dalam rektum. Faktor-faktor yang mempengaruhi
temperatur tubuh antara lain bangsa ternak, aktivitas ternak, kondisi kesehatan ternak,
dan kondisi lingkungan ternak (Frandson, 1996).
Temperatur domba berkisar antara 37,5 oC sampai 40,5 oC (Blight, 1999). Pada
domba temperatur rektal mulai naik di atas normal pada suhu udara 32

C dan

terengah-engah pada temperatur 41 oC (Swenson, 1997). Ternak dapat bergerak


karena kontraksi otot rangka, kontraksi otot terjadi akibat perubahan energi kimia yang
menjadi energi mekanis. Hal ini menyebabkan pelepasan kalor tubuh sehingga terjadi
peningkatan temperatur tubuh (Ganong, 2003).
Perbedaan temperatur tubuh disebabkan oleh kondisi eksternal dan aktivitas. Kita
dapat memperkirakan atau mengatakan bahwa sebagian besar burung temperaturnya
40 2 oC, eutherian mamals 38 2 oC, manotherms 31 2 oC. Burung dengan ukuran
kecil memiliki temperatur tubuh lebih tinggi daripada burung dengan ukuran tubuh lebih
besar. Tetapi ukuran mamalia tidak ada hubungannya dengan temperatur tubuh
(Schmidt,1997).
Temperatur tubuh pada unggas berkisar antara 39

C sampai 41

C.

Pembuangan panas tubuh dilakukan ayam pada suhu kurang dari 80 oC dengan
radiasi, konveksi, dan konduksi dari seluruh permukaan tubuh ayam. Ayam adalah
hewan homoiterm yaitu hewan yang mempunyai pengatur panas tubuh konstant,
meskipun hewan tersebut hidup pada temperatur lebih rendah atau lebih tinggi dari
temperatur tubuhnnya, sebaliknya apabila penguapan air lewat saluran pernapasan
yang dilakukan secara cepat (Yuwanta, 2000). Kisaran normal temperatur rektal
beberapa ternak dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini:
Tabel 1.3. Kisarannya normal temperatur rektal ternak
Hewan
Kelinci
Kambing
Sapi perah
Sapi potong
Ayam (siang hari)

Rata-irata temperatur (C)


39,5
39,4
38,6
38,3
41,5

Kisaran (C)
38,0-40,1
38,5-40,0
38,0-39,0
36,7-39,1
40,6-43,0

(Frandson, 1996)

Materi dan Metode


Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum status faali ini adalah termometer
rektal, termometer batang, stetoskop, counter, dan arloji.
Bahan. bahan yang digunakan dalam praktikum status faali ini adalah ternak
sebagai probandus, diantaranya ialah ayam jantan, ayam betina, kelinci jantan, kelinci
betina, domba jantan, domba betina, dan sapi jantan.
Metode
Respirasi
Pengambilan data fisiologis berupa respirasi dilakukan dengan mendekatkan
punggung tangan pada hidung ternak sehingga terasa hembusan napasnya, ini

dilakukan pada sapi dan domba. Pada kelinci dan ayam dilakukan dengan mengamati
kembang kempis pada daerah perut. Perlakuan tersebut dilakukakn selama satu menit
dan diulangi sebanyak tiga kali, kemudian data yang diperoleh dirata-ratakan.
Pulsus
Pengukuran pulsus pada ayam dan kelinci dilakukan dengan meletakkan atau
menempelkan stetoskop pada bagian dada sehingga terdengar detak jantungnya. Pada
sapi, pengukuran pulsus dilakukan dengan meraba bagian pangkal ekornya sehingga
terasa denyut arteri caudalisnya sedangkan pada kambing pengukuran pulsus
dilakukan denga meraba bagian pangkal paha sehingga terasa denyut arteri
femuralisnya. Perlakuan tersebut dilalkukan selama satu menit dan diulangi sebanyak
tiga kali, hasil yang diperoleh kemudian dirata-ratakan.
Temperatur rektal
Pengukuran temperatur rektal pada kelinci, sapi dan domba dilakukan dengan
cara memasukan termometer rektal kedalam rektum hingga sepertiga bagiannya. Pada
ayam pengukuran temperatur dilakukan dengan memasukkan termometer batang
kedalam tektum. Perlakuan tersebut dilakukan selama satu menit dan diulangi
sebanyak tiga kali, kemudian hasil yang diperoleh dirata-ratakan.

Hasil dan Pembahasan


Hasil
Dari percobaan yang telah dilakukan dan berdasarkan pengamatan diperoleh
hasil sebagai berikut:
Respirasi
Probandus
rata
Sapi jantan
Domba jantan
Domba betina
Kelinci jantan
132
Kelinci betina
129
Ayam jantan
Ayam betina

Tabel 1.4. Hasil pengukuran respirasi


Pengukuran (kali per menit)
I
II
III
Rata
37 46
42
42
147
140
122
136
69
63
70
67
141
133
123
103
26
36

24
42

141
23
33

143
24
37

Pulsus
Probandus
rata
Sapi jantan
Domba jantan
Domba betina
Kelinci jantan
Kelinci betina
Ayam jantan
Ayam betina
Temperatur Rektal
Probandus
Sapi jantan
Domba jantan
Domba betina
Kelinci jantan
38,2
Kelinci betina
Ayam jantan
Ayam betina

Tabel 1.5. Hasil pengukuran pulsus


Pengukuran (kali per menit)
I
II
III
66
85
89

82
80
91
162
98

143
169

152
169

80
84
99
113
103
146
178

Rata76
83
93

126
114

134
105
147
172

Tabel 1.6. Hasil pengukuran temperatur rektal


Pengukuran (oC)
I
II
III
Ratarata
39,4
38,3
38,5
39
40,5
40,5
40,5
39
39
39,2
39,2
39
36,6
38
36,8
40
40

36,6
37
40
40
40
40
Pembahasan

36,8

38,8
40
40

Respirasi
Berdasarkan percobaan dan pengamatan yang dilakukan pada praktikum status
faali ini, diperoleh hasil pengukuran rata-rata respirasi pada sapi jantan adalah 42 kali
per menit. Menurut Frandson (1996), kisaran normal respirasi pada sapi adalah 24
sampai 42 kali per menit. Rata-irata respirasi pada domba jantan adalah 136 kali per
menit dan betina 69 kali per menit. Menurut Fransond (1996), kisaran respirasi normal
pada domba 26 sampai 32 kali per menit. Rata-rata respirasi pada kelinci jantan adalah
132 kali per menit dan betina 129 kali per menit. Menurut Frandson (1996), kisaran
normal respirasi kelinci adalah 25 sampai 27 kali per menit. Hasil yang diperoleh dalam
praktikum sangat jauh berbeda dengan kisaran normal, hal tersebut terjadi pada domba
dan kelinci. Selanjutnya hasil rata-rata respirasi pada ayam jantan adalah 24 kali per
menit dan betina 37 kali per menit. Menurut Frandson (1996), kisaran normal respirasi
pada ayam adalah 18 sampai 23 kali per menit.

Pada sapi, hasil percobaan dengan kisaran normal menunjukkan bahwa sapi
dalam keadaan sehat. Kemudian pada domba baik jantan maupun betina, hasil
percobaan menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan dengan kisaran normal. Hal
tersebut dikarenakan probandus dalam keadaan stress atau takut karena perlakuan
dari praktikan. Menurut Frandson (1996), kondisi lingkungan dan kesehatan ternak
dapat mempengaruhi frekuensi denyut jantung dan pernapasan. Apabila ternak berada
dalam keadaan yang terancam atau tidak nyaman maka ternak akan beradaptasi
dengan cepat atau akan mengalami stress. Hal yang sama juga terjadi pada kelinci dan
ayam, pada saat pengambilan data, perlakuan terhadap probandus sedikit kasar karena
adanya perlawanan. Perlakuan tersebut menyebabkan ternak terus bergerak dan
dengan aktivitas tubuh yang demikian menyebabkan frekuensi respirasi meningkat.
Menurut Frandson (1996), besar kecilnya frekuensi denyut jantung, respirasi, dan
temperatur rektal dipengaruhi oleh beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas
tubuh, ukuran tubuh, spesies, dan kondisi kesehatan ternak.
Pulsus
Pulsus merupakan denyut jantung, berdasarkan praktikum yang dilakukan
diperoleh hasil pengukuran pulsus sapi jantan adalah 76 kali per menit. Menurut Blight
(1999), kisaran normal pulsus sapi adalah 60 sampai 70 kali per menit. Hasil
pengamatan berbeda dengan kisaran normal, hal ini dikarenakan sapi dalam keadaan
stress pada saat praktikan melakukan pengambilan data. Keadaan yang dirasa
mengganggu bagi ternak dapat mengakibatkan stress atau kegelisahan (Ganong,
2003). Pada domba jantan, hasil perhitungan pulsusnya adalah 83 kali per menit dan
betina 93 kali per menit. Menurut Blight (1999), kisaran normalnya adalah 60 sampai
120 kali per menit. Hasil percobaan menunjukkan kesesuaian dengan kisaran normal,
hal ini menunjukkan bahwa baik domba jantan maupun domba betina dalam keadaan
sehat atau normal.
Pada kelinci, menurut Blight (1999), kisaran normalnya adalah 123 sampai 300
kali per menit. Menurut hasil percobaan jumlah pulsus pada sapi jantan adalah 134 kali
per menit dan betina 105 kali per menit. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa kelinci
jantan dalam keadaan sehat atau normal sedangkan kelinci betina dalam kondisi tidak
normal atau dalam keadaan stress karena perlakuan praktikan selama proses

pengambilan data. Menurut Blight (1999), besar kecilnya pulsus, intensitas respirasi,
dan temperatur rektal dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya ialah kegiatan fisik
atau tubuh, kondisi kesehatan ternak, jenis ternak, dan ukuran dan berat tubuh.
Pada ayam jantan diperoleh hasil perhitungan pulsus sebanyak 147 kali per
menit dan betina 172 kali per menit. Menurut Frandson (1996), kisaran pulsus ayam
adalah 250 sampai 470 kali per menit. Hasil tersebut berada jauh di bawah kisaran
normalnya, sehingga dapat dikatakan bahwa ayam jantan dan betina dalam keadaan
sakit atau stress, hal ini dapat disebabkan karena kondisi lingkungan dan probandus
merasa terganggu atau terancam dengan kehadiran serta perlakuan dari praktikan.
Keadaan yang yang dirasa mengganggu bagi ternak dapat mengakibatkan stress atau
kegelisahan (Ganong, 2003). Kirsaran pulsus pada hewan besar lebih kecil jika
dibandingkan dengan kisaran pulsus pada hewan kecil, karena metabolisme pada
hewan yang bertubuh kecil semakin tinggi. Faktor yang mempengaruhi pulsus adalah
temperatur lingkungan, pakan, aktivitas latihan otot, dan tidur (Ganong, 2003).
Temperatur rektal
Temperatur rektal digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan yang dapat
dilihat dari suhu tubuh probandus. Menurut Dukes (1995), bahwa kisaran normal
temperatur rektal pada sapi adalah 37,2 sampai 39

C. Sapi jantan dapat dikatakan

dalam keadaan sehat atau normal dengan hasil pengukuran suhu rektal 38,7 oC yang
masih berada dalam kisaran normal. Pada domba jantan dan betina, menurut Dukes
(1995), kisaran normal temperaturnya adalah 38 sampai 40 oC. Domba jantan memiliki
temperatur rektal 39,1 oC yang menunjukkan domba jantan dalam keadaan sehat atau
normal sedangkan domba betina memiliki suhu rektal 40,5 oC yang memilki sedikit
perbedaan dengan kisaran normalnya, tetapi meskipun demikian diasumsikan domba
betina dalam keadaan stress. Pada kelinci jantan suhunya adalah 37,13 oC dan betina
36,8 oC. Keadaan ini menunjukkan bahwa kelinci jantan dan betina dalam keadaan
kurang sehat atau stress, karena suhu hasil pengukuran berada di bawah kisaran
normal. Menurut Dukes (1995), kisaran normalnya adalah 39 sampai 40,3 oC. Pada
ayam jantan kisaran normalnya adalah 41,5 sampai 41,9

C. Hasil percobaan

menunjukkan pada ayam jantan dan betina memiliki suhu rektal 40

C. Hasil

menunjukkan bahwa ayam jantan dan betina dalam keadaan stress, karena beberapa

faktor eksternal seperti kondisi lingkungan maupun faktor internal seperki kondisi
kesehatan. Menurut Dukes (1995), bahwa temperatur rektal pada terbak dipengaruhi
beberapa faktor yaitu temperatur lingkungan, aktivitas, pakan, minuman dan
pencernaan. Produksi panas oleh tubuh secara tidak langsung tergantung pada
makanan yang diperolehnya dan banyaknya persediaan makanan dalam saluran
pencernaan.
Dalam percobaan yang dilakukan, suhu lingkungan ternak, kelembaban udara,
dan tekanan dari praktikan memilki pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi
ternak. Suhu dan kelembaban udara yang tinggi akan menyebabkan stress pada ternak
sehingga suhu tubuh, respirasi, dan denyut jantung meningkat, serta konsumsi pakan
menurun akhirnya produktivitas ternak menurun. Ternak akan selalu beradaptasi
dengan lingkungan tempat hidupnnya. Apabila terjadi perubahan, maka ternak akan
mengalami stress. Jadi, lingkungan sangat memegang peranan penting dalam hal
kondisi kesehatan ternak (Swenson, 1997).

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa setiap
probandus memiliki kisaran data fisiologis berbeda meliputi jumlah respirasi, pulsus,
dan temperatur rektal. Pengujian status faali memberi informasi sehingga keadaan
ternak dapat diketahui apakah dalam kondisi sehat atau tidak. Faktor-faktor yang
mempengaruhi antara lain keadaan temperatur lingkungan, kelembaban, ketinggian
tempat, stress dan penyakit. Dari data yang diperoleh, sapi jantan, domba jantan dan
domba betina dalam keadaan sehat sedangkan kelinci jantan, kelinci betina, ayam
jantan dan ayam betina dalam keadan stress atau sakit.

Daftar Pustaka
Blight, D.B., R.A. Meece., and A. Thomas. 1999. Animal and Sciences Aplication. Alpha
Publishing. Co. California.
Campbell, N.A., L.G. Mitchell, J.B. Reece.2001. Biology. Singapore: The Benyaminper
Cummings Publishing. Co. California.
Dukes. 1995. Phisology of Domestic Animal. Camel: Comstok Publishing New York
University Collage.
Frandson, R.D. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak.
Press.

Yogyakarta: Gadjah Mada University

Ganong. 2003. Receive of Logical Phisology. California: Large Medical Publishing.


Ghalem, S., N. Khebichat, K. Nekkaz. 2012. The Physology of Animal Respiration: Study of
Domestic Animal. Article ID 737271, 8 pages. doi: 11. 1133per2012per7372721.
Schmict, K., and Neilsen. 1997. Animal Phisology 5th edition. Cambridge University Press.
Swenson. 1997. Dukes Physology of Domestic Animal. Comstok Publishing Co. Lnc Pert
Conectial.
Yuwanta, T. 2000. Dasar Ternak Unggas.Yogyakarta

ACARA II

THERMOREGULASI
Tinjauan Pustaka
Thermoregulasi merupakan proses homestatis untuk menjaga agar suhu tubuh
suatu hewan agar tetap dalam keadaan stabil dengan cara mengatur dan mengontrol
keseimbangan antar banyak energi (panas) yang diproduksi dengan energi yang
dilepaskan. Menurut pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua
golongan yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh
lingkungan, sehingga suhu tubuhnya dapat berubah ubah. Hewan homoiterm memiliki
suhu tubuh yang stabil dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan (Dukes, 1995).
Pengaturan suhu tubuh dilakukan oleh system pengaturan suhu tubuh yang pada
dasarnya tersusun atas 3 komponen yaitu thermoregulasi dan syaraf aferen,
hypothalamus, syaraf aferen dan efektor thermoregulasi. Sistem mempunyai fungsi
utama untuk menjaga supaya suhu selalu berada dalam zona thermoneutral dan
hypothalamus sebagai pusat kontrolnya. Ketika hypothalamus terganggu maka
mekanisme pengaturan suhu tubuh juga akan terganggu dan mempengaruhi thermostat
tubuh manusia (Frandson, 1992).
Keseimbangan suhu tubuh dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor yang
mempengaruhi produksi panas dan faktor yang mempengaruhi pengeluaran panas.
Panas tersebut berasal dari aktivitas metabolik dengan jalan pemecahan karbohidrat,
lemak dan protein. Aktivitas otot juga merupakan salah satu usaha didalam
penambahan produksi panas, dimana lebih dari 80% panas tubuh diproduksi daidalam
otot skelet selama terjadi aktivitas otot, tetapi gambaran tersebut jauh lebih rendah
apabila sedang istirahat (Sturkie, 1992).
Pada hewan homoiterm suhunya lebih stabil dan dapat menjaga suhu tubuhnya,
pada suhu suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan
sekitarnya. Hal ini dikarenakan adanya reseptor dalam otaknya sehingga dapat
mengatur suhu. Hewan homoiterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan
yang berbeda akibat dari kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm
mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor
kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang siang dan malam serta faktor makanan yang

dikonsumsi. Contoh hewan berdarah panas adalah bangsa burung atau aves serta
mamalia (Swenson, 1997).
Hewan poikiloterm atau ektotermik adalah hewan berdarah dingin yang dapat
menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu lingkungan. Hewan poikiloterm menaikkan
suhu tubuhnya dengan cara menyerap panas dari sekelilingnya dan jumlah panas yang
dihasilkan dari metabolisme. Contoh hewan poikiloterm adalah pisces, amphibi dan
reptilian (Campbell, 2004).
Suhu tubuh bergantung pada neraca keseimbangan antara panas

yang

diproduksi atau diabsorbsi dengan pans yang hilang. Panas yang hilang dapat
berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi, dan evaporasi. Radiasi adalah transfer
energi secara elektromagnetik ,tidak memerlukan medium untuk merambat dengan
kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua
materi padat yang berhubungan langsung tanpa ada transfer panas molekul. Panas
yang menjalar dari suhu tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah.
Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya
konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan
konveksi dari zar cair menjadi uap air ,besarnya laju konveksi kehilangan panas karena
evaporasi (Martini, 1998).

Materi dan Metode


Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum thermoregulasi adalah thermometer,
penjepit katak, arloji (stopwatch), kendi, beaker glass dan kapas.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum thermoregulasi adalah katak, air
es, air panas, dan probandus (manusia).

Metode
Pengukuran Suhu Tubuh
Pengukuran pada mulut. Pertama-tama skala thermometer diturunkan sampai 0
o

C, lalu ujung thermometer dibersihkan. Kemudian dimasukkan kedalam mulut

diletakkan dibawah lidah dan mulut ditutup rapat. Setelah sepuluh menit skala dibaca
dan dicatat. Dengan cara yang sama dilakukan pada mulut terbuka. Kemudian
probandus berkumur dengan air es selama satu menit dan dengan cara yang sama
dilakukan pengukuran seperti diatas.
Pengukuran pada axillaries. Pertama-tama skala thermometer diturunkan
sampai 0 oC, Ujung thermometer disisipkan pada fase axillaris dengan pangkal lengan
dihimpitkan, setelah sepuluh menit skala dibaca dan dicatat.
Proses Pelepasan Panas
Pelepasan panas pada katak. Pertama katak direntangkan pada papan dan
diikat. Suhu tubuh katak diukur melalui oesofagus selama lima menit. Kemudian katak
dimasukkan kedalam air es selama lima menit dan diukur suhu tubuhnya melalui
oesofagus. Selanjutnya katak dimasukkan kedalam air panas 40 oC selama lima menit
dan diukur suhu tubuhnya.
Pelepasan panas pada kendi. Disiapkan dua kendi yang satu dicat dan yang
satu tidak. Masing-masing kendi diisi dengan air panas 70 oC dengan jumlah yang
sama lalu diukur suhunya dengan thermometer tiap lima menit dicatat suhunya. Proses
ini dilakukan sebanyak enam kali.

Hasil dan Pembahasan

Hasil
Dari percobaan yang telah dilakukan didapat hasil yang disajikan dalam tabel,
sebagai berikut:
Probandus
Nama
Sugeng prayogi
Faras yulia

Tabel 2.1. Nama Probandus


Umur
Jenis Kelamin
18
Laki-laki
18
perempuan

A. Pengukuran suhu (oC) pada mulut dan axillaris

Tabel 2.2. Hasil Pengukuran Temperatur (oC) pada Mulut dan Axillaris
Perlakuan
Probandus I
Probandus II
o
Mulut tertutup
37,3 C
37,5 oC
o
Mulut terbuka
37,2 C
37,4 oC
Berkumur air es
Mulut terbuka
36,5 oC
37,3 oC
Mulut tertutup
37 oC
37,1 oC
o
Axillaris
37 C
37,5 oC
B. Pengukuran suhu (oC) tubuh katak
Tabel 2.3. Hasil Pengukuran Temperatur (oC) Tubuh Katak
Perlakuan
Suhu (oC)
Suhu Katak (oC)
o
Keadaan biasa
29 C
28 oC
Dalam air es
12 oC
23 oC
o
Dalam air panas
40 C
32 oC
C. Proses pelepasan panas menggunakan kendi
Tabel 2.4. Hasil Pengukuran Temperatur (oC) Tubuh Katak
Kendi
Bercat
Tidak bercat

Suhu (oC)
Awal

II

III

IV

VI

70 oC
70 oC

60 oC
59 oC

57 oC
55 oC

54 oC
53 oC

50 oC
48 oC

48 oC
47 oC

47 oC
45 oC

Pembahasan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan pada kedua probandus memiliki
hasil yang berbeda. Probandus I suhu didalam mulut yang tertutup adalah 37,3 oC dan
mulut terbuka adalah 37,2 oC, sedangkan untuk pronamdus II suhu didalam mulut
tertutup 37,5 oC dan mulut terbuka 37,4 oC . Mulut tertutup suhu yang tercatat lebih
tinggi dibanding suhu tubuh saat mulut terbuka. Hal ini disebabkan karena tidak
adanya sirkulasi udara pada mulut tertutup sehingga suhu yang terukur secara
keeluruhan. Saat mulut terbuka, udara didalam tubuh suhunya menjadi tinggi karena
metabolisme dalam tubuh akan bercampur dengan udara yang bersuhu rendah
sehingga akan tercapai keseimbangan diluar maupun didalam (Dukes,1995).
Percobaan berikutnya probandus I dan II berkumur dengan air es dan dilakukan
pengukuran suhu tubuh dengan mulut tertutup dan terbuka. Probandus I sihu untuk

mulut tertutup dan terbuka adalah 36,5 0C dan 37 oC, sedangkan probandus II adalah
37,3 oC dan 37 oC. Perbedaan suhu yang terjadi dalam percobaan ini disebabkan oleh
beberapa faktor seperti faktor umur, kelamin, lingkungan, panjang waktu siang dan
malam, makanan yang dikonsumsi serta aktivitas (Swenson, 1997)
Percobaan axillaris juga didapatkan hasil yang berbeda pada kedua probandus.
Probandus I memiliki suhu axillaris 37 oC dan probandus II adalah 37,5 oC. Perubahan
suhu yang terjadi pada kedua probandus menujukkan bahwa manusia tergolong
homoiterm atau berdarah panas yang mampu mengatur suhu tubuhnya agar tetap
konstan. Homoiterm mampu mempertahankan suhu tubuhnya agar tidak dipengaruhi
oleh lingkungan sekitar (Swenson, 1997).
Percobaan yang dilakukan pada katak menujukkan hasil bahwa suhu tubuh pada
katak akan berubah dan menyesuaikan suhu pada lingkungannya. Ketika katak berada
dalam suhu 29 oC maka suhu tubuhnya menjadi 28 oC dan suhu katak pada air es 13 oC
kemudian dalam air panas adalah 32 oC. Katak merupakan hewan amphibi yang
tergolong dalam hewan poikilotherm atau hewan berdarah dingin. Hewan poikiloterm ini
dapat menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu lingkungan yang berubah-ubah.
Hewan poikilotherm menyesuaikan diri pada lingkungan dingin dengan menurunkan
suhu tubuhnya. Demikian pula pada keadaan panas hewan pokilotherm akan
meningkatkan suhu tubuhnya dengan melakukan aktivitas (Dukes, 1995)
Percobaan proses pelepasan panas digunakan dua macam kendi yaitu bercat dan
tidak bercat.percobaan menggunakan kendi bercat dan tidak bercat terdapat hasil yang
berbeda. Kendi yang bercat mampu mempertahankan panasnya lebih lama. Hal ini
dikarenakan pada kendi yang bercat pori-pori tertutup oleh lapisan cat. Sedangkan
pada kendi yang tidak bercat ,proses pelepasan panas terjadi dengan cepat. Kendi
yang tidak bercat ,pada lapisan dindingnya tidak tertutup oleh lapisan cat sehungga
proses pel
epasam panas terjadi tanpa adanya hambatan. Cat pada percobaan ini berfungsi
sebagai isolator untuk mengahambat proses pelepasan panas. Proses pelepasan yang
terjadi pada pecobaan tersebut terjadi secara konveksi dan evaporasi. Konveksi adalah
suatu perambatan panas melalui cairan atau gas. Evaporasi atau penguapan
merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap (Martini, 1998).

Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa makhluk
hidup dapat dibedakan menjadi poikilotherm dan homoitherm berdasarkan antara
hubungan suhu tubuh dengan lingkungannya. Suhu tubuh pada makhluk hidup
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan,
faktor panjang siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi serta aktivitas yang
dilakukannya. Pengaturan suhu tubuh dilakukan oleh system pengaturan suhu tubuh
yang pada dasarnya tersusun atas 3 komponen yaitu thermoregulasi dan syaraf aferen,
hypothalamus, syaraf aferen dan efektor thermoregulasi. Suhu tubuh bergantung pada
neraca keseimbangan antara panas yang diproduksi atau diabsorbsi dengan pans
yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi,
dan evaporasi.

Daftar Pustaka
Campbell,N.A. Jane.B.Reece dan Lawrence.G.Mitchell.2004. Biology . Edisi V . Jilid
3.Jakarta : Erlangga.
Frandson R.D, 1992, Anatomi dan Fisiologi Ternak, Edisi IV, Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta.
Duke, N.H. 1995. The physiologis of Domestic Animal. Comstock Publishing:New York.
Martini. 1998. Fundamentals of Anatomy and Physiology, 4thed. Prentice Hall International, Inc.
New Jersey.
Sturkie, P.D., 1992 Avian Physiology, 3rd, Spingers-Verlag New York, Heidelberg, Berlin.
Swenson, G. M. 1997. Dukes Physiology or Domestic Animals. Publishing Co. Inc. USA.

ACARA III
SEL DARAH MERAH
Tinjauan pustaka
Erytrocyte atau sel darah merah membawa haemoglobin dalam sirkulasi sel darah
merah berbentuk piring yang biconcave. Pada mamalia sel darah merah tidak
bernukleus kecuali pada awal dan pada hewan-hewan tertentu. Sel darah merah pada
unggas mempunyai nukleus dan berbentuk elips. Sel darah merah ini terdiri dari air
(65%), Hb (33%), dan sisanya terdiri dari sel stroma, lemak, mineral, vitamin, dan
bahan organik lainnya dan ion K (Kusumawati, 2004).
Sel darah merah berwarna merah kekuningan. Warna merah itu berasal dari
haemoglobin, sel darah merah dapat mengikat oksigen karena adanya haemoglobin.
Sel darah merah mengkatalis reaksi antara CO 2 dan air, karena SDM mengandung
anhidrase karbonat dalam jumlahbesar. Reaksi ini memungkinkan darah bereaksi
dengan sejumlah besar CO2 dan mengangjutnya dari jaringan ke paru-paru (Pratiwi,
2000).
Darah merupakan cairan yang berfungsi mengirimkan zat-zat nutrient dan oksigen
yang dibutuhkan oleh tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan
mengambil limbah dari sel ke jaringan untuk dibuang melalui paru-paru dan ginjal
(Soeharsono, 2010).
Pada hewan volume darah sangat dipengaruhi oleh umur, ukuran fisik, derajat
aktivitas fisik, kesehatan, makanan, laktasi, dan bunting dan faktor fisiologi seperti
ketinggian tempat. Di dalam darah terdapat sistem pengaturan darah, yaitu oleh Ca

dengan air, konstanta, ion natrium dan keseimbangan antara plasma dengan cairan
dalam ruang jaringan serta perubahan dari masa eritrosit yang disebabkan oleh aksi
hormon eritroprotein dalam sumsum tulang belakang (Ganong, 1998).

Tabel 3.1 Kisaran normal jumlah sel darah merah pada beberapa spesies
Spesies
Sapi
Kambing
Kuda
Domba
Babi

Kisaran normal
Jumlah SDM/mm3.106
7-8
8-18
8-14
8-16
5-8

Apabila jumlah sel-sel darah merah yang fungsional atau jumlah hemoglobin
berkurang jauh di bawah keadaan normal, maka dapat menyebabkan anemia. Anemia
terjadi karena pembentukan darah yang kurang memadai dar igizi yang tidak baik.
Selainitu juga, disebabkan hilangnya darah oleh karena pendarahan dari luka ataupun
parasit cacing perut atau kutu. Anemia juga terjadi apabila sel-sel darah merah
mengalami hemolisis yang lebih cepat dibandingkan dengan pembentukannya yang
baru, sedangkan bila jumlah sel-sel darah merah yang fungsional atau kadar
hemoglobin melebihi jauh di atas normal maka dapat menyebabkan polisitemia.
Polisitemia adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah sel darah merah
akibat pembentukan seldarah merah yang berlebihan oleh sum-sum tulang (Ganong,
1998).

Materi dan Metode


Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain mikroskop, pipet
haemocytometer, kamar hitung Neubauer.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum ini anatara lain larutan hayem dan
darah.
Metode
Disiapkan sampel darah yang akan dipakai atau diperiksa. Dihisap smpel darah
dengan haemocytometer sampai skala 0,5. Dibersihkan ujung pipet dengan kapas.
Dihisap larutan hayem dengan pipet sampai skala 101. Ditutup ujung pipet dengan
ujung jari, sedang ujung pipet lain dengan jari tengah, dikocok kurang lebih tiga menit.
Dibuang cairan yang tidak mengandung SDM beberapa tetes. Diteteskan larutan SDM
kedalam kamar hitung Neubauer yang sudah ada kaca penutupnya. Kemudian
diperiksa dengan mikroskop, perbesaran obyektif 10x, kemudian 40x. Cara untuk
menghitung jumlah sel darah merah yaitu dengan rumus:
Jumlah sel Darah Merah/ mm3 adalah: x. 400/80. 200/0,1
= x. 5. 2000
= x. 10.000/mm3
Keterangan :
x

: jumlah sel darah merah pada kelima bilik (kiri atas, kiri bawah, kanan atas, kanan
bawah, dan tengah)
400 : jumlah seluruh bilik kecil
80

: jumlah bilik kecil dari kelima bilik

200 : pengenceran

0,1

: volume bilik-bilik kecil (1 mm x 1mm x 1mm)

Hasil dan Pembahasan


Hasil
Berdasarkan percobaaan yang dilakukan, diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 3.2. Hasil perhitungan sel darah merah
Letak

Banyak SDM
Bilik kiri atas
37
Bilik kanan atas
18
Bilik kanan bawah
63
Bilik kiri bawah
48
Bilik tengah
161
Jumlah
327
3
Jumlah sel darah merah/mm adalah= x.400/80. 200/0,1
=x. 5. 2000
=x. 10000/ mm3
=327. 10000/mm3
= 3270000/ mm3
Pembahasan
Menurut Ganong (1998), jumlah SDM pada domba 8 sampai 16 juta/ mm 3. Pada
percobaan kali ini menunjukkan hasil yang kecil, yaitu 3.270.000/ mm 3. Hasil yang
diperoleh ini berdasarkan percobaan pada sampel darah domba yang diamati dengan
perbesaran 40x10, terlihat sel darah pada setiap bilik.Berdasarkan hasil percobaan dan
perhitungan yang telah dilakukan menunjukkan domba yang menjadi sampel darah,
jumlah sel darah merahnya berada dibawah kisaran normal. Menurut Guyton (1994),
kisaran normal jumlah sel darah merah pada domba sekitar 8-16/mm 3.
Kandungan sel darah merah dalam berbagai spesies sangat bervariasi. Beberapa
faktor yang mempengaruhi, yaitu umur, jenis kelamin, keja otot, ketinggian tempat,
makanan dan iklim (Ganong, 1998). Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukkan

bahwa domba dalam keadaan kurang sehat, salah satu penyebabnya yaitu karena
pakan yang belum maksimal, probandus domba berjenis kelamin jantan dan iklim yang
menyebabkan domba membutuhkan kemampuan beradaptasi.
Kondisi hewan ternak yang kurang sehat dapat disebabkan pemberian nutrisi
yang kurang dan faktor lingkungan yang buruk. Sel darah merah yang kurang dari
kisaran normal dapat menebabkan anemia, sedangkan kelebihan sel darah merah
diatas kisaran normal disebut polisetamia. Apabila terjadi anemia, maka jumlah oksigen
dalam jaringan menjadi berkurang dan denyut jantung berkurang menyebabkan
frekuensi pernapasan pun menjadi naik (Frandson, 1995). Erytrosite adalah sel darah
merah berfungsi untuk mengangkut oksigen. Didalam sel darah merah terdapat
hemoglobin. Hemoglobin dalam darah dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, pakan,
keadaan fisik, cuaca dan penyakit. Hemoglobin mengikat O 2 secara maksimal yang
dibawa dari paru-paru menuju jaringan tubuh, mengangkut CO 2 dari jaringan tubuh ke
paru-paru, menjaga keseimbangan asam, basa, dan merupakan sumber bilirubin
(Pratiwi, 2000).

Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahawa jumlah sel


darah merah tiap mm3 pada ternakberbeda-beda. Jumlh sel darah merah dipengaruhi
oleh ketnggian tempat, latihan otot dan keadaan emosi, dan temperatur lingkungan
yang meningkat. Banyak atau sedikitnya sel darah merah yang terdapat dalam ternak
akan mempengaruhi kesehatan ternak tersebut. Jika jumlah sel darah merah dibawah
kisaran normal, maka dapat menyebabkan penyakit anemia, sedangkan jika kelebihan
sel darah merah disebut polisetamia. Berdasarkan hasil yang diperoleh jumlah sel
darah merah pada domba yaitu 3.270.000/mm 3. Jumlah ini menunjukkan bahwa sel
darah merah pada domba dibawah kisaran normal, yaitu 8 sampai 16/mm 3. 107. Hal ini
disebabkan kondisi domba yang kurang sehat.

Daftar Pustaka
Ganong. WP. 1998. Review of Medical Physiologi. Long Medical
California.

Publishing Las Atos.

Kusumawati, Diah. 2004. Bersahabat dengan Hewan Coba. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Pratiwi, R.A, Sriyanti P.R, dan budiarjo S. 2000. Biologi Umum. Erlangga. Jakarta.
Soharsono. 2010. Fisiologi Ternak. Widya Padjajaran. Bandung.

ACARA IV
SISTEM DIGESTI

Tinjauan Pustaka
Hewan memakan suatu makanan mempunyai tujuan yaitu (1) untuk mendapatkan
energi, memelihara kehidupannya, mempertahankan proses hidup, kontraksi alat dan
berbagai

proses

lain.

(2)

sebagai

material

kasar

untuk

membangun

dan

mempertahankan sel serta metabolisme alat-alat tubuh. (3) untuk tumbuh dan
bereproduksi. Semua zat yang berasal dari tumbuhan maupun hewan yang dimakan
oleh seekor hewan tidak langsung dapat dimanfaatkan. Bahan makanan tersebut harus
mengalami pemecahan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil agar dapat diserap dan
dimanfaatkan oleh tubuh (Tillman, 1998).
Sistem digesti pada ternak secara umum dibedakan menjadi dua, yaitu
monogastrik dan poligastrik. Saluran pencernaan hewan monogastrik meliputi mulut,
oesophagus, stomach (lambung), small intestinum, coecum, large intestinum, rectum,
anus. Hewan poligastrik memiliki lambung dengan 4 bagian yaitu rumen, retikulum,
omasum dan abomasum (Swenson, 1997). Menurut Tilman (1998) hewan dapat
dibedakan menjadi karnivora, herbivora dan omnivora berdasarkan jenis pakannya.
Herbivora merupakan hewan pemakan tumbuhan, karnivora pemakan daging dan
omnivora adalah pemakan segala.
Sistem pencernaan (tractus digestifus) terdiri atas suatu saluran muskulo
membranosa yang terentang dari mulut sampai ke anus. Fungsinya adalah
memasukkan

makanan,

menggiling,

mencerna,

dan

menyerap

makan,

serta

mengeluarkan buangannya yang berwujud padat. Sistem pencernaan mengubah zatzat hara yang terdapat dalam makan menjadi senyawa yang lebih sederhana hingga
dapat diserap dan digunakan sebagai energi, membangun senyawa-senyawa lain untuk
kepentingan metabolisme (Frandson, 1992).
Langkah-langkah dalam sistem meliputi mekanis, biologis, dan enzimatis. Secara
mekanis dilakukan dengan prehension, reinsalivasi, dan remastikasi serta redeglutisi.
Didalam rumen terdapat mikroflora rumen yang berfungsi untuk mencerna selulose dan
hemiselulose menjadi VFH + CO2 + CH4 + energi panas. Fungsi lain dari organisme
rumen adalah sebagai sumber energi, sumber asam amino, dan sintesis vitamin B.
Terdapat pula kelenjar tambahan yang meliputi glandula saliva, pankreas dan hati
(Tillman, 1998).

Sistem pencernaan pada ternak ruminansia dan non ruminansia sangatlah


berbeda. Ternak ruminansia mempunyai lambung sejati yang disebut abomasum dan
mempunyai lambung yang membesar yang mempunyai tiga ruangan, yaitu rumen,
retikulum, omasum (Tillman, 1998). Menurut Swenson (1997) rumen dapat dibagi
menjadi dua bagian yaitu dorsal dan ventral. Bagian dorsal mempunyai lubang kedepan
yang berhubungan dengan oesophagus dan retikulum. Bagian dorsal dan ventral
dipisahkan oleh sekat cranial dan caudal yang merupakan ketinggian musculus yang
kuat dari dinding rumen. Bagian ventral pada rumen mempunyai tonjolan-tonjolan yang
disebut papila rumen. Retikulum terletak di belakang diafragma dan dihubungkan
dengan omasum oleh lubang yang disebut orifium reticulo omasal. Dinding dalam
omasum mempunyai bentuk lembaran-lembaran dengan panjang yang tidak sama.
Abomasum merupakan perut kelenjar yang mempunyai bagian fundis (dinding berlipatlipat) dan bagian antrum pyloric yang berotot.
Perut pada hewan non ruminansia terletak persis di belakangan sisi kiri
diafragma (Frandson, 1992). Unggas (non ruminansia) tidak memiliki gigi untuk
mengunyah, tetapi memiliki lidah kaku yang dapat digunakan untuk menelan
makanannya. Perut unggas mempunyai keistimewaan yaitu terdapat pencernaan
mekanik yang dibantu oleh batu-batu kecil di gizzard (Swenson, 1997).
Pola pencernaan pada unggas umumnya mengikuti sistem pencernaan pada
non ruminansia. Akan tetapi unggas memiliki usus besar yang sedikit dibandingkan
hewan non ruminansia. Di usus besar terjadi aktivitas jasad renik tetapi sangat rendah
dibandingkan dengan ternak non ruminansia lain (Tillman, 1998).
Organ pencernaan pada unggas mempunyai sistem yang khas dengan adanya
crop atau tembolok yang merupakan pembesaran oesophagus. Crop berfungsi untuk
menyimpan makanan sementara sebelum masuk ke proventriculus. Sistem pencernaan
unggas juga memiliki bakteri aktif yang dapat menghasilkan asam organik yang berupa
asam asetat dan asam laktat. Saluran pencernaan unggas terdiri dari mulut,
oesophagus, crop, proventrikulus, gizzard, usus halus, coecum, usus besar, rectum,
dan cloaca. Organ tambahan dalam pencernaan pada unggas adalah limpa, hati dan
pankreas (Frandson, 1992).

Kelinci memiliki sistem pencernaan yang amat rumit, dan mereka tidak dapat
mencerna semua makanan dengan cara yang sama baiknya. Kelinci dewasa menyerap
protein (sampai 90%) di usus halus mereka, namun tergantung pada sumbernya.
Protein dari alfalfa, sebagai contohnya, tidak dapat dicerna oleh kelinci. Kelinci sangat
sulit dalam hal mencerna selulosa (Fraga, 1990) hal. Daya cerna yang lemah terhadap
serat dan kecepatan pencernaan kelinci untuk menyingkirkan semua partikel yang sulit
dicerna menyebabkan kelinci membutuhkan jumlah makanan yang besar (Sakaguchi
1992).
Kuda merupakan ternak non ruminansia. Kuda memiliki kemampuan untuk
memanfaatkan hijauan dalam jumlah yang cukup dengan proses fermentatif di bagian
coecum. Saluran pencernaan kuda memiliki ciri khusus yaitu ukuran kapasitas saluran
pencernaan bagian belakang lebih besar di bandingkan bagian belakang. Alat
pencernaan adalah organ-organ yang langsung berhubungan dengan penerimaan,
pencernaan bahan pakan dan pengeluaran sisa pencernaan atau metabolisme (Blakely,
1991).

Materi dan Metode


Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum sistem digesti adalah mistar dan
meteran sebagai alat ukur.
Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum sistem digesti adalah organorgan dalam sistem pencernaan kambing, domba, dan ayam yang lengkap.
Metode
Sistem pencernaan pada domba/ kambing dan ayam diamati. Setiap organ
pencernaan mulai dari mulut sampai anus atau cloaca diukur dengan mistar atau
meteran. Bagian yang diukur adalah panjang dan lebar setiap organ. Hasil pengukuran
ditulis pada lembar kerja yang telah disediakan.

Hasil dan Pembahasan


Hasil
Dari percobaan yang telah dilakukan dan berdasarkan pengamatan diperoleh
hasil sebagai berikut:
Sistem digesti ruminansia (Kambing)
Tabel 4.1. Bagian-bagian dan ukuran organ digesti pada ruminansia.
Organ Pencernaan
Oesophagus
Lambung :
Rumen
Retikulum

Omasum

Abomasum

Small Intestinum
Coecum
Large Intestinum
Rectum
Anus

Ukuran
Panjang (cm)
31

Lebar (cm)
1,5

30
10
9
22
1080
17
312
15
10

21
10
6
6
1
2,5
1,5
2
1,5

Sistem digesti unggas (Ayam)


Tabel 4.2. Bagian-bagian dan ukuran organ digesti pada unggas.
Organ Pencernaan
Oesophagus
Crop
Proventrikulus
Gizzard
Small Intestinum
Coecum
Coecum kiri
Coecum kanan
Large Intestinum
Rectum
Cloaca

Ukuran
Panjang (cm)
17
4
3,3
5,3
106,2

Lebar (cm)
1,1
5
2,6
5
1

13,6
11,6
2,6
5
4

0,7
1
0,9
1,5
1,3

Pembahasan
Sistem digesti ruminansia
Berdasarkan

hasil

pengamatan

diatas

dapat

diketahui,

bahwa

saluran

pencernaan pada kambing adalah oesophagus dengan ukuran 31 cm, rumen 30 cm,
reticulum 10 cm, omasum 9 cm, abomasum 22 cm, usus halus 1080 cm, coecum 17
cm, usus besar 312 cm, rectum 15 cm, dan anus 10 cm. Menurut Pound (1995),
panjang small intestinum pada rumunansia kambing atau domba ialah 21 cm, panjang,
panjang coecum 2 cm, panjang colon dan rectum 10 cm dan dengan panjang perut
keseluruhan 67 cm. Berdasarkan perbandingan antara hasil pengukuran dan literatur
diperoleh hasil yang kurang sesuai. Ukuran dari setiap bagian dari saluran pencernaan
berbeda-beda itu disebabkan karena beberapa faktor diantaranya ialah organ-organ
tersebut sudah diawetkan sehingga mengalami pengerutan, umur ternak yang masih
muda, penyambungan organ-organ pencernaan tersebut sudah ada yang putus.
Organ pertama dalam sistem pencernaan adalah mulut. Pencernaan yang
terjadi didalam mulut adalah pencernaan secara mekanik yaitu dengan mengunyah
makanan menjadi partikel yang lebih kecil dan mencampurnya dengan saliva agar
mudah ditelan. Saliva dihasilkan oleh tiga pasang kelenjar saliva dalam mulut, yaitu (1)
kelenjar submaxillaris, (2) kelenjar parotis, dan (3) sublingualis (Kamal, 1994).
Frandson (1992) menyatakan bahwa mulut yang digunakan untuk menggiling
makanan dan mencampurnya dengan saliva, tetapi juga dapat berperan dalam
mekanisme prehensil dan juga sebagai defensif maupun ofensif. Peran rongga mulut
serta struktur-struktur yang terkait meliputi prehensil, mastikasi, insalivasi dan
pembentukan bolus.
Proses memakan diawali dengan prehensi atau gerakan mengantarkan makanan
masuk kedalam mulut. Organ yang digunakan untuk prehensi pada setiap hewan
berbeda-beda. Mastikasi (pengunyahan) akan mengikuti proses prehensi. Setiap hewan
mempunyai jenis gigi, susunan dan kebiasaan mengunyah yang berbeda-beda.
Pengunyahan dapat dilakukan/ dikontrol sesuai volunter, tetapi akan menjadi gerakan
refleks jika ada makanan didalam mulut. Adanya makanan juga dapat merangsang
keluarnya saliva. Saliva pada ruminansia berfungsi untuk mempertahankan konsistensi

cairan dari isi rumen, membantu menetralkan asam-asam yang dibentuk oleh
mikroorganisme dan dapat pula mencegah timbulnya buih (Frandson, 1992).
Makanan dari mulut akan masuk ke faring yang akan didorong ke dalam
oesophagus melalui kontraksi otot-otot faringeal. Faring merupakan saluran umum
sebagai saluran lewatnya udara maupun makanan, sedangkan oesophagus merupakan
kelanjutan langsung dari faring yang berupa suatu saluran muskular yang merentang
dari faring menuju ke kardia dan perut, persis pada posisi caudal dan diafragma.
Dinding muskular oesophagus terdiri dari 2 lapis yang melintas miring, kemudian spiral,
dan membentuk suatu lapis sirkuler dalam. Otot oesophagus pada ruminansia berupa
otot serat lintang (Frandson, 1992).
Perut sejati pada ruminansia diawali oleh perut depan yang terdiri dari rumen,
retikulum, dan omasum. Rumen berupa suatu kantong muskular yang besar. Rumen
terlentang dari diafragma menuju pelvis dan hampir menempati sisi kiri ruang
abdominal. Rumen dibagi menjadi kantong-kantong oleh pilar-pilar muskuler (Frandson,
1992). Rumen berisi air sebanyak 85-93% dan sering terbagi menjadi dua bagian yaitu
bagian bawah yang cair dengan partikel-partikel pakan yang larut dan bagian atas yang
masih mengandung partikel kasar (Kamal, 1994).
Retikulum merupakan kompartemen perut yang paling kranial. Bagian dalam
retikulum diselaputi membrana mukosa yang mengandung intersekting ridge yang
membagi permukaan retikulum seperti sarang lebah (Frandson, 1992). Rumen dan
retikulum sering disebut fermentation vat karena didalamnya terdapat mikroorganisme
yang dapat memecah selulosa dan hemiselulosa dalam keadaan anaerob menjadi VFH
+ CH4 + energi panas (Swenson, 1997).
Ruminansia

melakukan

proses

ruminasi

yang

merupakan

proses

yang

memungkinkan seekor hewan merumput, makan tepat, dan kemudian mengunyahnya.


Proses ruminasi menyangkut regurgitasi, remastikasi, reinsalivasi dan redeglutisi.
Regurgitasi merupakan proses kembalinya makanan kedalam mulut. Remastikasi atau
penguyahan kembali berjalan lebih santai dibandingkan dengan penguyahan inisial.
Reinsalivasi merupakan proses pencampuran kembali makanan dengan saliva. Bolus
yang telah mengalami regurgitasi dan remastikasi akan ditelan kembali (redeglutisi)

yang akan masuk kedalam rumen (Frandson, 1992). Proses regurgitasi diawali dari
retikulum (Wiwi, 2006).
Omasum merupakan bagian saluran pencernaan yang berisi lamina-lamina yang
dikelilingi oleh membran mukosa (Swenson, 1997). Omasum selalu hampir penuh
dengan bahan hijauan yang agak kering. Abomasum merupakan perut sejati yang
aktivitasnya tergantung sampai batas tertentu pada isi duodenum (Frandson, 1992).
Usus halus dibagi menjadi 3 bagian, yaitu duodenum, jejunum, dan illeum.
Duodenum merupakan bagian pertama usus halus. Duktus yang berasal dari pankreas
dan hati masuk kebagian pertama dari duodenum. Jejunum dapat dipisahkan dengan
duodenum. Akan tetapi antara jejunum dan illeum tidak mempunyai batas yang jelas.
Persambungan illeum dengan usus besar adalah pada osteon illale (Frandson, 1992).
Usus besar terdiri atas cecum yang merupakan kantung buntu dan kolon yang
terdiri atas bagian-bagian yang naik, mendatar, dan turun. Usus besar pada ruminansia
terdiri atas coecum, kolon,dan rectum (Frandson, 1992). Rectum merupakan bagian
dari usus besar yang mengembang dan menampung feses. Anus merupakan tempat
keluarnya feses (Kamal, 1994).
Setiap organ mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Berikut ini adalah tabel
perbandingan sistem digesti pada ternak yang dinyatakan Pound (1995).

Tabel 4.3 Perbandingan kapasitas sistem digesti pada ternak


Hewan
Sapi
Kambing/Domb
a
Kuda

Perut

Usus kecil

Coecum

Kolon dan
Rectum

Intestinal:
Panjang Tubuh

18

20:1

10

27:1
12:1

90
67
9

21
30

2
16

45
(Pound, 1995)

Sistem digesti unggas

Berdasarkan hasil pengukuran pada organ pencernaan unggas diperoleh hasil


sebagai berikut, oesophagus pada unggas memiliki panjang 17 cm dan lebar 1,1 cm,
crop memiliki panjang 4 cm dan lebar 5 cm. Panjang dan lebar proventrikulus pada
unggas masing-masing adalah 3,3 cm dan 2,6 cm, Gizzard pada unggas memiliki
panjang 5,3 cm dan lebar 5 cm. small Intestinum pada unggas memiliki panjang dan
lebar masing-masing 106,2 cm dan 1 cm. Unggas memiliki dua coecum, yaitu bagian
kiri dan bagian kanan. Coecum kiri memiliki panjang 13,6 cm dan lebar 0,7 cm
sedangkan coecum kanan memiliki panjang 11,6 cm dan lebar 1 cm. Large Intestinum
pada unggas memiliki panjang 2,6 cm dan lebar 0,9 cm, panjang Rectum pada unggas
ialah 5 cm dan lebar 1,5 cm. Cloaca unggas memiliki panjang dan lebar masing-masing
4 cm dan 1,3 cm. Menurut Swenson (1993), panjang seluruh organ pencernaan pada
ayam ialah 85 cm dengan panjang crop 7,5 cm, proventrikulus 11,5 cm, small
intestinum 61 cm, coecum 5 cm serta rectum dan cloaca 4 cm.
Berdasarkan perbandingan antara hasil pengukuran dan literatur diperoleh hasil
yang kurang sesuai. Ukuran dari setiap bagian dari saluran pencernaan berbeda-beda
itu disebabkan karena beberapa faktor diantaranya ialah organ-organ tersebut sudah
diawetkan sehingga mengalami pengerutan, umur ternak yang masih muda,
penyambungan organ-organ pencernaan tersebut sudah ada yang putus.
Sistem

digesti pada unggas diawali dengan mulut. Mulut unggas tidak

mempunyai bibir, pipi, dan gigi. Makanan yang telah berada dalam mulut langsung
ditelan masuk menuju tembolok. Tembolok merupakan pembesaran oesophagus.
Makanan didalam crop disimpan sementara dan terjadinya pelunakan oleh bakteri
(Kamal, 1994).
Proventrikulus merupakan lambung ayam yang didalamnya terdapat proses
bercampurnya pakan dengan getah lambung. Pakan yang telah melewati proventrikulus
kemudian masuk ke dalam gizzard. Gizzard menghancurkan pakan dengan kontraksi
otot gizzard dan dengan bantuan grit (Kamal, 1994). Usus halus mempunyai gerakan
peristaltik yang mendorong makanan menuju coecum dan rectum (Tillman, 1992).
Coecum merupakan usus buntu. Unggas memiliki dua buah coecum (Kamal,
1994). Usus besar unggas sangat pendek jika dibanding dengan yang lain. Terdapat
aktivitas jasad renik dalam usus besar tetapi sangat rendah dibandingkan dengan

hewan non ruminansia lain (Tillman, 1992). Ekskreta unggas dikeluarkan melalui
cloaca.
Pengukuran yang diperoleh dalam mengukur organ pencernaan unggas tidak
terlalu menyimpang. Berikut ini adalah tabel panjang pencernaan ayam menurut
Swenson (1997).
Tabel 4.4 Panjang Saluran Pencernaan Pada Ayam
Organ Pencernaan
Panjang
seluruh
saluran pencernaan
Crop
Proventrikulus
Duodenum (seluruh
usus kecil)
Ileum dan Jejunum
Coecum
Rectum dan cloaca

Pada umur 20 hari


(cm)

Pada umur 1,5 th (cm)

85
7,5
11,5
12

210
20
35
20

49
5
4

120
17,5
11,25
(Swenson, 1993)

Kesimpulan
Kambing atau domba yang merupaka hewan poligastrik dan tergolong ruminansia
melakukan ruminasi pada sitem pencernaannya. Sistem pencernaan pada poligastrik
terdiri dari mulut, oesophagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, small
intestinum, coecum, large intestinum, rectum, anus. Rumen, retikulum, dan omasum
disebut sebagai perut depan, sedangkan abomasum disebut sebagai perut sejati.
Ayam (Unggas) merupakan monogastrik yang hanya memiliki satu bagian
lambung. Urutan sistem digesti ayam (unggas) yang tergolong hewan monogastrik
adalah mulut, oesophagsu, crop, proventrikulus, gizzard, small intestinum, coecum,
large intestinum, rectum, dan cloaca. Cloaca merupakan lubang pada unggas dalam
sistem pembuangan ekskreta, urin, sekaligus sistem reproduksi.

Daftar Pustaka
Blakely, James and David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan edisi IV. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Fraga, M. 1990. Effect of type of fibre on the rate of passage and on the contribution of soft
feces to nutrient intake of finishing rabbits. Journal of Animal Science 69:1566-74.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta. Gadjah Mada University
Press.
Isnaeni, wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Kamal, Muhammad. 1994. Nutrisi Ternak 1. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas
Peternakan. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Pound, W.G. 1995. Basic Animal Nutrition and Feeding. viii + 615 pp. Chichester: John Wiley
& Sons (1995). 19.50 (paperback). ISBN 0 471 30864 1.
Sakaguchi, E. 1992. Fibre digestion and digesta retention from different physical forms of the
feed in the rabbit. Comparative Biochemistry and Physiology 102A, no. 3: 559-63.
Swenson, M.J. 1997. Dukes Physiology of Domestic Animal. USA. Cornell University Press.
Tillman, A.D. Hartadi, Hari Reksohadiprojo, Soedomo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar.
Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

ACARA V
SACCUS PNEUMATICUS
Tinjauan Pustaka
Aves merupakan kelas tersendiri dalam kingdom animalia, aves atau burung
memiliki ciri umum yaitu berbulu dan kebanyakan diantara mereka bisa terbang. Kelas

aves merupakan satu-satunya kelompok hewan yang memiliki bulu. Salah satu contoh
dari aves tersebut adalah Columba livia. Columbia livia merupakan spesies hewan
bertulang belakang (vertebrata) dari kelas aves yang mempunyai bulu dan dapat
terbang ( Soman et al., 2005).
Dilihat secara keseluruhan bagian eksternal dari Columba livia memiliki tubuh
yang terdiri atas caput (kepala), cervix ( leher), truncus (badan), caudal (ekor), dan
extrimitas (alat gerak). Selain itu, Columba livia memiliki bulu-bulu dengan bagianbagiannya. Pada bagian caput Columba livia ini memiliki paruh yang tidak bergigi yang
dibentuk oleh maxilla dan mandibula. Selain itu juga terdapat nares (lubang hidung),
cera, organon visus, dan porus acusticus externus. Nares terdapat pada bagian lateral
rostrum bagian atas. Cera merupakan tonjolan kulit yang lemah pada basis rostrum
bagian atas. Organon visus dikelilingi oleh kulit yang berwarna kuning kemerahmerahan, selain itu terdiri dari pupil dan membrane nicyitan yang terdapat pada sudut
medial mata. Porus acusticus externus terletak disebelah dorsal-caudal mata dan
membrane tympani terdapat di sebelah dalamnya berguna untuk menangkap getaran
suara ( Radiopoetra , 1995).
Sistema respiratoria pada burung terdiri dari lubang hidung, nares posterior
(lubang pada palatum), glottis, larynx, trakhea, pulmo dan syrinx (Dukes, 1995).
Menurut Fradson (1992), dua fungsi utama dari sistem respirasi adalah untuk
menyediakan O2 untuk darah dan mengambil CO 2 dari dalam darah. Fungsi-fungsi yang
bersifat sekunder meliputi membantu dalam regulasi keasaman cairan ekstraseluler
dalam tubuh, membantu pengendalian suhu, eliminasi air dan fonasi (pembentukan
suara). Sistem respirasi terdiri dari paru dan saluran-saluran yang memungkinkan atau
meninggalkan paru-paru. Saluran tersebut mencakup nostril (lubang hidung), rongga
hidung, farynx, larynx dan trachea.
Alat pernapasan burung adalah paru-paru. Ukuran paru-paru relatif kecil
dibandingkan ukuran tubuh burung. Paru-paru burung terbentuk oleh bronkus primer,
bronkus sekunder dan pembuluh bronkiolus. Bronkus primer berhubungan dengan
mesobronkus. Mesobronkus merupakan bronkiolus terbesar. Mesobronkus bercabang
menjadi dua set bronkus sekunder anterior dan posterior, yang disebut ventrobronkus

dan darsobronkus. Ventrobronkus dan darsobronkus dihubungkan oleh parabronkus


(Pratiwi, 2007).
Paru-paru pada burung mempunyai hubungan dengan kantong udara yang
disebut saccus pneumaticus, yaitu sebuah kantong yang berisi udara. Saccus
Pneumaticus terjadi karena perluasan atau dilatasi oleh selaput mukosa bronkus
(Radiopoetra, 1995). Menurut Kant (2001), selain paru-paru, burung biasanya memiliki
4 pasang perluasan paru-paru yang disebut pundi-pundi hawa atau kantung udara
(saccus pneumaticus) yang menyebar sampai ke perut, leher, dan sayap. Kantungkantung udara ini terdapat pada pangkal leher (saccus cervicalis), rongga dada (saccus
thoracalis anterior dan posterior), antara tulang selangka atau korakoid (saccus
interclavicularis), ketiak (saccus axillaris), dan di antara lipatan usus atau rongga perut
(saccus abdominalis). Kantung udara berhubungan dengan paru-paru, berselaput tipis,
tetapi tidak terjadi difusi udara pernapasan. Adanya kantung udara mengakibatkan,
pernapasan pada burung menjadi efisien.
Pernafasan pada burung memiliki mekanisme yang dibedakan atas pernafasan
pada waktu istirahat dan pernafasan pada waktu terbang. Pernafasan pada waktu
istirahat terdiri dari fase inspiratio dan expiratio. Pada fase inspiratio, costac bergerak
ke arah cavum sehingga thoracalis membesar, pulmo mengembang dan udara masuk
kedalam pulmo. Pernafasan pada waktu terbang dipengaruhi oleh fungsi saccus
pneumaticus yang berupa saccus interclavicularis dan saccus axillaris (Radiopetra,
1995).
Saccus pneumaticus merupakan suatu organ pada ungags yang berfungsi untuk
melindungi alat-alat dalam dengan rongga udara sehingga dapat bertahan pada suhu
yang dingin, membantu pernafasan terutama pada saat burung sedang terbang,
mencegah hilangnya panas badan yang berlebihan, mempengaruhi berat jenis badan
dengan mengembang kempiskan saccus pada burung yang terbang serta membantu
memperkeras suara (syrinx) (Pratiwi, 2007).
Hipotesis lain yang dapat diterima mengenai fungsi dari saccus pneumaticus
adalah saccus pneumaticus dapat membantu dalam proses masuk dan keluarnya
udara ketika proses inspirasi dimulai. Terdapat tekanan yang serentak terhadap udara
agar masuk kedalam saccus cranial dan caudal, itu berarti selama proses inspirasi

udara mengalir kedalam semua saccus namun tidak semua saccus diisi udara dari luar,
selama tekanan uap udara mengalir maka keluar kembali (Schmidt dan Nielsen, 1997).
Semua saccus terisi oleh udara pada waktu inspirasi. Saccus thoracalis posterior
terisi udara yang banyak mengandung oksigen yang datang dari bronki utama,
sedangkan saccus thoracalis anterior terisi udara yang sudah melewati kapiler dan
paru-paru sehingga kandungan oksigennya rendah. Udara dari saccus thoracalis
anterior akan keluar dari bronki utama pada saat respirasi dan udara dari saccus
thoracalis posterior akan melewati kapiler paru-paru. Setiap saccus pneumaticus
dihubungkan dengan paru-paru dan hubungan ini merupakan bagian spesifik dari paruparu aves. Jadi baik saat inspirasi maupun ekspirasi paru-paru aves disuplai dengan
udara yang segar, yaitu datang langsung dari bronki (saat inspirasi) dan datang dari
saccus thoracalis posterior (saat ekspirasi) (Everelt and Olusonya, 1998).
Materi dan Metode
Materi
Alat. Alat-alat yang digunakan adalah penjepit, selang, suntikan, dan pinset untuk
menunjukan bagian-bagian saccus pada preparat burung merpati.
Bahan. Bahan yang digunakan adalah preparat Columba livia.
Metode
Metode praktikum yang dilakukan adalah dengan melihat secara langsung organorgan respirasi (saccus pneumaticus) yang dimiliki oleh burung merpati dan mekanisme
pernafasannya, sehingga praktikan dapat mengetahui letak, bentuk, fungsi dan
mekanisme kerja dari masing-masing saccus pneumaticus.

Hasil dan pembahasan


Hasil yang diperoleh dari praktikum acara saccus pneumaticus adalah dapat
diketahui berbagai macam bentuk, letak, dan fungsi saccus pneumaticus terutama pada
burung Columba livia. Sacuus yang diamati adalah saccus cervicalis berjumlah
sepasang dan terdapat dipangkal leher, saccus interclavicularis berjumlah tunggal dan
terdapat diantara coracoid dan bercabang, saccus axillaris berjumlah sepasang dan
terdapat pada pangkal sayap, saccus thoracalis anterior berjumlah sepasang dan
terdapat pada rongga dada depan, saccus thoracalis posterior berjumlah sepasang
terdapat di rongga dada belakang, dan saccus abdominlis berjumlah sepasang dan
dikelilingi intestinum. Menurut Duke (985), saccus pneumaticus pada itik, ayam, dan
merpati memiliki sembilan bagian yang terdiri dari saccus cervicallis (sepasang),
saccus interclavicularis (tunggal), saccus axillaris (sepasang), saccus thoracalis
anterior (sepasang), saccus thoracalis posterior (sepasang), saccus abdominlis
(sepasang).
Fungsi dari Saccus pneumaticus adalah untuk membantu pernapasan burung,
terutama pada saat terbang. Pernafasan burung mempunyai mekanisme yang berbeda
antara pernafasan waktu istirahat dan pernafasan pada waktu terbang. Pada waktu
istirahat terdiri dari fase inspratio dan expiratio. Pada waktu inspiratio costae bergerak
kearah cranio ventral sehingga cavum thorax mengembang, pulmo membesar dan

udara masuk ke pulmo. Inspirasi membutuhkan intercostalis externus. Pada fase


expiratio costae kembali ke kedudukan semula. Otot yang bekerja yaitu intercostalis
internus, obliquus abdominis internus, m.rectus abdominis, tranversus abdominis
(Soewasono, 2007). Pada waktu terbang, inspirasi dan ekspirasi dilakukan oleh
kantung-kantung udara. Waktu sayap diangkat ke atas, kantung udara di ketiak
mengembang, sedang kantung udara di tulang korakoid terjepit, sehingga terjadi
inspirasi (O2 pada tempat itu masuk ke paru-paru). Bila sayap diturunkan, kantung
udara di ketiak terjepit, sedang kantung udara di tulang korakoid mengembang,
sehingga terjadi ekspirasi (O2 pada tempat itu keluar). Makin tinggi burung terbang,
makin cepat burung mengepakkan sayapnya untuk mendapatkan oksigen yang cukup
banyak. Udara luar yang masuk, sebagian kecil tetap berada di paru-paru, dan
sebagian besar akan diteruskan ke kantung udara sebagai udara cadangan. Udara
pada kantung udara dimanfaatkan hanya pada saat udara (O2) di paru-paru berkurang,
yakni saat burung sedang mengepakkan sayapnya. Menurut Radiopoetra (1995),
pernafasan pada burung memiliki mekanisme yang dibedakan atas pernafasan pada
waktu istirahat dan pernafasan pada waktu terbang. Pernafasan pada waktu istirahat
terdiri dari fase inspiratio dan expiratio. Pada fase inspiratio, costac bergerak ke arah
carnio ventral cavum sehingga thoracalis membesar, pulmo mengembang dan udara
masuk ke dalam pulmo, sedangkan pernafasan pada waktu terbang dipengaruhi oleh
fungsi saccus Pneumaticus yang berupa saccus interclavicularis dan saccus axillaris.
Fungsi selanjutnya yaitu untuk melindungi alat-alat dalam dari berbagai macam
benturan, menjaga supaya kehilangan panas dari tubuh tidak berlebihan, memperbesar
atau memperkecil berat jenis tubuh karena pada saat terbang saccus pneumaticus
akan mengembang, sehingga berat jenis akan menjadi ringan, dan fungsi yang terakhir
yaitu untuk memperbesar syrinx (memperkeras suara). Menurut Gibson (2003), fungsi
dari saccus pneumaticus antara lain membantu alat pernapasan (menampung udara
pernapasan yang masuk pertama kali), mengatur pertukaran udara, mengatur suhu
tubuh atau thermoregulator (kenaikan suhu karena gerakan otot ketika terbang),
pendingin gonad (saccus abdominalis dekat dengan gonad), membantu proses
spermatogenesis, menghasilkan suara, dan mengurangi gravitasi pada waktu terbang.

Gambar 5.1. Sistema


respiratoria pada burung
(anonim, 2010)
Berdasarkan gambar diatas, dapat diketahui sistema respiratoria pada burung
dimulai dari lubang hidung, nares pasteriores, glottis, larynx, trakhea, pulmo dan syrinx.
Menurut Dukes (1995), sistema respiratoria pada burung adalah lubang hidung, nares
posterior (lubang pada palatum), glottis, larynx, trakhea dan syrinx.
Systema respiratoria menurut Everelt dan Olusonya (1998) aves terdiri dari Nares
anteriores nares posteriors larynx trakhea syrink- Bronkus pulmo.
Nares anteriores. Nares anteriores atau lubang hidung yang terletak dipangkal
rostun bagian dorsal. Jumlahnya sepasang. Nares posteriores merupakan lubang pada
palatum.
Larynx. Larynx terdiri dari tulang rawan, ada yang membatasi dengan suatu
ruangan yang disebut glottis, sedangkan larynx dihubungkan dengan mulut dengan
celah perantara yang disebut Rima Glottidis.
Trakhea. Trakhea berupa pipa ada cincing tulang rawan yang disebut annulus
trakhealis yang tesusun sepanjang trakhea kearah percabangan bifurcation trakhealis
yang memisahkan bronchus menjadi dua yaitu dexter dan sinister.

Syrinx. Syrinx terdiri atas sepasang annulus trachealis caudal dan sepasang
annulus bronchialis cranial, terdapat pada bifurcatio tracheae,membatasi ruangan yang
agak

melebar

tymphany. Dalam

siring

terdapat

otot

sternotrakealis

yang

menghubungkan tulang dada dan trakea, serta berfungsi untuk menimbulkan suara.
Selain itu terdapat juga otot siringialis yang menghubungkan siring dengan dinding
trakhea sebelah dalam. Dalam rongga siring terdapat selaput yang mudah bergetar.
Getaran selaput suara tergantung besar kecilnya ruangan siring yang diatur oleh otot
sternotrakealis dan otot siringalis.
Bronkus.

Bronkus

ekstrapulmonalis,

bronkus

intrapulmonalis

(bronkus

primer,mesobronkus), bronkus sekunder, brokus tersier atau parabronkus. Parabronkus


berupa tabung - tabung kecil. Di parabronkus bermuara banyak kapiler sehingga
memungkinkan udara berdifusi, vesikel udara (atria), kapiler udara.
Pulmo. Pulmo Letak dari pulmo ini biasanya di menempel pada dinding dorsal
thoak diantara costae, dan dibungkus oleh selaput yang dinamakn pleura. Pulmo ini
sepasang dan berbentuk spons. Pada burung columbivia dan gallus pulmonya ini
mempunyai

hubungan

dengan

kantong-kantong

hawa

yang

disebut

saccus

pneumaticus (Everelt and Olusonya, 1998).


Paru-paru dan saccus pneumaticus tidak dapat dipisahkan pada sistem respirasi
burung. Hubungan paru-paru (pulmo) dengan saccus pneumaticus ada 4 macam yaitu
inhalasi 1 adalah proses ketika udara (O 2) masuk langsung ke trakhea lalu ke paruparu (pulmo) lalu masuk ke saccus posterior dan terjadi proses Ekshalasi 1. Ekshalasi 1
adalah proses lanjut dari inhalasi 1 yaitu dari saccus posterior menuju kembali ke
pulmo. Selanjutnya adalah inhalasi 2 yaitu dari pulmo ke anterior. Terakhir adalah
ekshalasi 2 yaitu dari anterior udara keluar menuju trakhea lewat lubang hidung dan
udara keluar. Menurut Everelt and Olusonya (1998), Semua saccus terisi oleh udara
pada waktu inspirasi. Saccus thoracalis posterior terisi udara yang banyak mengandung
oksigen yang datang dari bronki utama, sedangkan saccus thoracalis anterior terisi
udara yang sudah melewati kapiler dan paru-paru sehingga kandungan oksigennya
rendah. Udara dari saccus thoracalis anterior akan keluar dari bronki utama pada saat
respirasi dan udara dari saccus thoracalis posterior akan melewati kapiler paru-paru.
Setiap saccus pneumaticus dihubungkan dengan paru-paru dan hubungan ini

merupakan bagian spesifik dari paru-paru aves. Jadi baik saat inspirasi maupun
ekspirasi paru-paru aves disuplai dengan udara yang segar, yaitu datang langsung dari
bronki (saat inspirasi) dan datang dari saccus thoracalis posterior (saat ekspirasi).
Tidak semua hewan mempunya sistem pernafasan yang sama. Seperti yang
diketahui bahwa di alam ini hewan terbagi menjadi beberapa jenis, seperti aves, reptil,
amfibi, mamalia, dan lain-lain. Semua hewan ini mempunya sistem pernafasan yang
berbeda, berikut adalah alat pernafasan pada berbagai jenis hewan :
Reptile. Reptile bernafas dengan paru-paru udara masuk melalui hidung.
Kemudian menuju batang tenggorokan, lalu ke paru-paru. Didalam paru-paru oksigen di
serap sedangkan karbon dioksida dikeluarkan, reptile yang sering berkubang di air,
misalnya buaya, lubang hidungnya dapat ditutup sewaktu menyelam. Tujuannya agar
air tidak masuk ke dalam paru-paru. Contoh reptile adalah ular, buaya, kadal, cecak
dan biawak ( Soman, 2005).
Amfibi. Katak dapat hidup di dua alam yaitu di darat dan di air. Oleh karena itu,
katak disebut hewan amfibi. Tahap perkembangan katak dimulai dari telur, berudu
(hidup di air), katak muda dan katak dewasa (hidup di darat). Berudu bernafas dengan
tiga pasang insang luar yang terdapat di kepala bagian belakang. Insang luar disebut
terdiri dari lembaran-lembran kulit luar yang halus dan mengandung kapiler darah.
Setelah umur 9 hari, berudu bernafas dengan insang dalam. Selanjunya berudu terus
tumbuh menjadi katak muda. Kemudian katak muda menjadi katak dewasa. Katak
dewasa bernafas dengan paru-paru kanan dan paru-paru kiri. Di dalam paru-paru
terdapat banyak gelembung udara. Gelembung udara tersebut sangat tipis dan
berselaput, penuh dengan kapiler darah. Di dalam gelembung udara terjadi pertukaran
gas. Gas oksigen diserap, sedangkan karbon dioksida di keluarkan. Katak juga
bernafas dengan kulit. Oleh karena itu kulit katak selalu basah. Melalui kulit yang basah
itu katak mengikat oksigen ( Soman, 2005).
Pisces. Ikan bernafas dengan insang yang berjumlah 4 pasang. Insang yang
terletak di sebelah kanan dan kiri kepala. Insang dilindungi oleh tutup insang. Saat
mulut terbuka, air masuk ke rongga mulut sementara tutup insang menutup, kemudian
oksigen yang terkandung dalam air di ikat oleh kapiler darah. Sebaliknya karbon
dioksida dikeluarkan melalui insang. Ikan memiliki gelembung renang. Gelembung

renang itu berguna untuk menyimpan oksigen dan mengatur gerak naik-turun. Ikan
yang hidup di tempt kurang air, misalnya lumpur mempunyai lipatan-lipatan pada
insang. Lipatan-lipatan itu di sebut labirin. Labirun juga mempunyai cadangan oksigen,
jenis ikan yang biasa hidup di lumpur antara lain ikan betook,lele, gabus,dan gurami
( Soman, 2005).
Serangga. Serangga bernafas dengan Trakhea. Trakhea adalah pembulu
pembulu halus yang bercabang yang memenuhi seluruh bagian tubuh serangga dan
bermuara pada stigma.stigma ialah lubang (corong) yang terletak di sisi tubuh bagian
kanan dan kiri. Stigma berfungsi sebagai jalan keluar masuknya udara. Oksigen tidak
diedarkan melalui darah, tetapi diedarkan melalui darah, tetapi diedarkan oleh sistim
trakhea. Keluar dan masuknya udara disebabkan oleh gerakan otot tubuh yang teratur.
Contoh serangga adalah nyamuik, belalang,lalat, rayap dan kupu-kupu. ( Soman,
2005).
Mamalia. Hewan yang termasuk hewan mamalia adalah hewan yang menyusui
anaknya. Contoh kucing,harimau ,sapi, kelinci tikus dan lumba-lumba. Mamalia ada
yang hidup di darat dan ada yang hidup di air. Alat pernafasan mamalia sama dengan
manusia. Mamalia bernafas dengan paru-paru. Mamalia air seperti paus dan lumbalumba, juga bernafas dengan paru-paru. Pada paus dan lumba-lumba, udara ke luar
dan masuk melalui lubang hidung khusus terletak di atas kepala. Lubang itu akan
membuka ketika mereka naik ke permukaan air dan menutup ketika menyelam. Saat
lubang hidung membuka paus dan lumba-lumba menghembuskan udara lembab dan
hangat dari paru-paru, kemudian mengisi kembali dengan oksigen . Ketika paus
menghembuskan udara hangat dari paru-par. Tampak seperti berbentuk air mencur di
atas kepalanya. Sebenarnya air itu adalah udara hangat dari paru-paru yang bertemu
dengan udara lautan yang dingin. Peristiwa itu disebut Kondensasi. Hal ini mirip saat
kita bernafas pada saat udara dingin. Tampak keluar asap (kabut ) ketika kita
menghembuskan nafas melalui hidung ( Soman, 2005).

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada acara saccus pneumaticus ini
dapat disimpulkan bahwa saccus pneumaticus pada Columba livia terdiri dari saccus
cervicalis yang terletak pada pangkal leher, saccus interclavicularis terletak diantara
curacoid, saccus axillaris terletak pada pangkal sayap, saccus thoracalis posterior dan
saccus thoracalis anterior masing masing terletak pada rongga dada bagian depan
dan belakang, dan yang terakhir saccus abdominalis yang dikelilingi oleh intestinum.
Adapun mekanisme kerja dari saccus pneumaticus yang selalu berkaitan dengan paruparu karena peran keduanya sangat penting. Saccus juga mempunyai fungsi,
diantaranya untuk membantu pernapasan pada burung terutama pada saat terbang,
melindungi alat-alat dalam, menjaga supaya kehilangan panas dalam tubuh tidak
berlebihan, membantu memperbesar atau memperkecil berat jenis tubuh dan
memperbesar syrinx (memperkeras suara).

Daftar Pustaka
Dukes, H.N. 1995. The Physiology of Domestic Animals. Comstock Publishing. Co.
York.

New

Everelt, H.N and Olusonya, S. 1998. Anatomi and Physiology of tropical


Edition. Logman. Singapore Publisher. Pte ltd. Singapore.

First

Livestock.

Fradson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta. Gadjah


Mada University
Press.
Gibson, J. 2003. Fisiologi dan Anatomi Modern edisi 2. Jakarta. Penerbit buku Kedokteran
EGC.
Kant, G. C., R. K. Carr.2001. Comparative of the Anatomy Vertebrates Ninth Edition. Mc
Graw Hill Companies Inc.New York.
Pratiwi, D.A, dkk. 2007. Biologi. Jakarta. Erlangga.
Radiopoetra. 1995. Petunjuk praktikum Zoologi. Fakultas Biologi
Yogyakarta.

Universitas Gadjah mada

Soman, Arya, Tyson L. Hedrick and Andrew A. Biewener. 2005. Regional Patterns of
Pectoralis.

ACARA VI
DARAH
Waktu Pendarahan
Tinjauan Pustaka
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali
tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang
dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme,
dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang
berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari
bahasa Yunani haima yang berarti darah. Darah merupakan cairan tubuh yang terdapat
dalam jantung dan pembuluh darah. Darah terdiri dari unsur plasma, seperti air 91-92%,
protein, glukosa, enzim, hormone, dan unsur seluler, seperti eritrosit, leukosit, dan
trombosit (Nurcahyo, 1998).
Pada kebanyakan hewan mamalia sel darah merahnya tidak mempunyai inti,
bentuknya bulan dan bikonkaf. Sel darah merah pada kebanyakan vertebrata yang lain
berbentuk lonjong, berinti dan bikonfeks. Pada umumnya sel darah merah yang tak
berinti mempunyai bentuk dan ukuran yang lebih kecil jika dibandingkan dengan sel
darah merah yang berinti. Sel darah merah yang paling besar terdapat pada amphibia.
Dari lahir sampai tua sel darah merah dibuat di sumsum tulang. Jumlah sumsum tulang
pada tubuh manusia berkisar antara 1,5 sampai 3,5 kg. Ada dua macam sumsum
tulang yaitu sumsum tulang kuning dan sumsum tulang merah. Sumsum tulang kuning
mengandung beberapa subtansi, diantaranya adalah sel lemak, pembuluh darah
(Nurcahyo, 1998).
Sistem peredaran darah mempunyai fungsi mengangkut zat makanan (nutrien)
dari usus keseluruh jaringan tubuh, mengangkut zat ampas dari jaringan tubuh ke alat

pembuangan, mengangkut O2 dari paru-paru atau insang keseluruh jaringan tubuh,


mengangkut CO2 dari seluruh jaringan tubuh ke paru-paru atau insang, mengangkut
hormon dari kelenjar endokrin ke tempat saluran, mendistribusiksan dari sumbernya ke
seluruh bagian tubuh. Dalam peredarannya, darah mempunyai banyak tekanan agar
mampu dipompakan keseluruh tubuh. Tekanan tersebut ditentukan oleh 3 faktor, yaitu
jumlah darah yang ada di dalam peredaran yang dapat membesarkan pembuluh darah,
aktivitas memompa jantung yaitu mendorong darah sepanjang pembuluh darah dan
tahanan terhadap aliran darah. Cairan darah atau sering disebut darah pada
avertebrata mengandung sedikit dalam plasma darahnya. Unsur seluler darah terdiri
dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit (platelets) dan zat-zat terlarut lainnya,
misal protein plasma (albumin, fibrinogen, dan globin) (Nurcahyo, 1998).
Keping darah (platelet) akan bereaksi jika terjadi luka pada pembuluh. Dengan
cara menempel pada dinding pembuluh yang terluka, platelet membentuk hereostatik
plug, yang membentuk trombus dan akhirnya dapat menutup bukaan luka pada
pembuluh tersebut. Waktu pendarahan adalah waktu pada saat darah keluar hingga
berhenti keluar. Darah yang keluar biasanya mempunyai selang waktu antara 15-20
detik. Biasanya setelah terjadi pendarahan akan terjadi koagulasi darah, jadi waktu
pendarahan sangat berkaitan dengan proses koagulasi darah (Swenson, 1997).

Materi dan Metode


Materi

Alat. Alat yang digunakan pada praktikum waktu pendarahan antara lain lanset,
arloji (stopwatch), kertas filter, dan kapas.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum waktu pendarahan adalah alkohol
70%.
Metode
Jari dibersihkan dengan kapas yang telah dibasahi dengan alkohol, kemudian jari
ditusuk dengan lanset steril dan dicatat waktunya saat darah keluar. Setiap 30 detik,
kertas filter ditempelkan pada darah yang keluar pada pembuluh darah, kertas filter
tidak boleh mengenai luka. Bila pendarahan telah berhenti, waktu dicatat. Waktu
pendarahan ditentukan saat darah keluar sampai pendarahan berhenti.

Hasil dan Pembahasan


Hasil

Dari percobaan yang telah dilakukan dan berdasarkan pengamatan diperoleh hasil
sebagai berikut:
Tabel 6.1. Hasil Pengukuran Waktu Pendarahan
Nama Probandus
Imran Satriadi
Resti

Umur
18
19

Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan

Waktu Pendarahan
51 Detik
51 Detik

Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut, waktu
pendarahan probandus laki-laki berumur 18 tahun adalah 51 detik dan waktu
pendarahan probandus perempuan berumur 19 tahun adalah 51 detik. Kisaran waktu
pendarahan normal adalah 15 sampai 120 detik. Dalam hal ini, probandus laki-laki dan
perempuan masih normal. Waktu pendarahan adalah interval waktu mulai timbulnya
tetes darah dari pembuluh darah yang luka sampai darah berhenti mengalir keluar dari
pembuluh darah. Penghentian pembuluh darah ini disebabkan terbentuknya agregat
yang menutupi celah pembuluh darah yang rusak. Faktor-faktor yang mempengaruhi
waktu pendarahan yaitu besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya
tubuh dan aktivitas kadar hemoglobin dalam darah. Faktor-faktor yang menyebabkan
pendarahan antara lain pendarahan karena defisiensi vitamin, hemofilia dan
trombositopenia (Frandson, 1993).

Kesimpulan
Waktu pendarahan adalah waktu pada saat darah keluar dari pembuluh darah
sampai pendarahan berhenti. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa probandus dalam keadaan normal dengan waktu pendarahan
diantara 15 sampai 120 detik.

Daftar Pustaka
Frandson, R. D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi Keempat. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
Nurcahyo, Heru. 1998. Anatomi dan Fisiologi Hewan. Yogyakarta : UNY.
Swenson, M.J. 1997. Dukes Physiology of Domestic Animal.
Publ. Co. Inc.

Comstock. New York :

Pembekuan Darah (Koagulasi Darah)


Tinjauan Pustaka
Teori koagulasi darah menurut Morowitz adalah sebagai berikut terjadi kontak
pada pembuluh darah sehingga rusak atau pecah. Jaringan yang robek ini
menyebabkan trombosit pecah dan membebaskan tromboplastin dengan bantuan ion
Ca akan mengaktifkan protrombin menjadi trombin. Trombin akan mempengaruhi

fibrinogen menjadi anyaman benang-benang fibrin sehingga akan menutup jaringan


yang rusak dan darah akan terperangkap. Secara alamiah, trombin juga tidak ada
dalam darah dalam bentuknya yang aktif atau wujud koagulasi (gumpalan) dalam
sirkulasi yang normal. Trombin mempunyai bentuk prekursor di dalam darah yang
disebut protrombin. Selama proses koagulasi protrombin dirangsang oleh suatu
kompleks yang disebut aktivator protrombin yang memecah atau memisahkan enzim
trombin dari protrombin. Waktu koagulasi adalah lamanya waktu dari saat pengambilan
darah sampai terjadinya koagulasi (Frandson, 1992).
Koagulasi darah adalah suatu fungsi penting dari darah untuk mencegah
banyaknya darah yang hilang dari pembuluh darah yang rusak (terluka). Bagian dari
darah yang sangat berperan dalam proses koagulasi adalah trombosit atau keping
darah. Trombosit berasal dari sistem sel di sumsum tulang yaitu mengakarosit yang
berkembang menjadi trombosit (Nurcahyo, 1998).
Adapun faktor dalam pembekuan darah meliputi ion Ca 2+, tromboplastin, akselator
trombosit, konvertin, faktor anti hemofilik. Pembekuan atau penggumpalan darah
disebut juga koagulasi darah. Dari situ akan terjadi suatu masa yang menyerupai jeli
yang kemudian menjadi massa yang memadat dengan meninggalkan cairan jernih
disebut serum (Poedjiadi, 1994).

Materi dan Metode


Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum waktu pendarahan antara lain lanset,
arloji (stopwatch), kertas filter, dan kapas.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum waktu pendarahan adalah alkohol
70%.
Metode

Jari tempat pengambilan darah dibersihkan, kemudian diusap dengan kapas


beralkohol. Jari ditusuk dengan lanset yang steril, dan dicatat pada saat darah keluar.
Satu sampai dua tetes darah dengan cepat dipindahkan ke dalam gelas arloji. Dengan
menggunakan kepala jarum pentul, ke dalam darah ditusukkan kemudian diangkat.
Dilakukan setiap 30 detik sampai ada benang fibrin terlihat dan dicatat waktunya. Waktu
mulai darah keluar dan pembuluh darah sampai terbentuknya benang fibrin disebut
dengan waktu beku darah.

Hasil dan Pembahasan


Hasil
Tabel 6.2. Hasil Pengukuran Waktu Beku Darah
Nama Probandus
Imran Satriadi
Resti

Umur

Jenis Kelamin

Waktu Pendarahan

18
19

Laki-laki
Perempuan

7 Menit 43 Detik
9 Menit 6 Detik

Pembahasan
Berdasarkan praktikum pembekuan darah yang telah dilakukan, diperoleh hasil
waktu beku darah probandus laki-laki berumur 18 tahun adalah 7 menit 43 detik dan
waktu beku darah probandus perempuan berumur 19 tahun adalah 9 menit 6 detik.

Umumnya, koagulasi berakhir dalam waktu 5 menit, sehingga dapat dinyatakan tidak
terserang defisiensi vitamin K, penyebabnya adalah rendahnya penyerapan lemak dari
dalam usus. Koagulasi juga dipengaruhi oleh cara atau teknik pengambilan darah
sehingga di dapat variasi dalam waktu beku darah (Frandson, 1993).
Menurut Poedjiadi (1994), mekanisme pembekuan darah yaitu pertama, jaringan
mengalami cedera, trombosit yang mengalami lisis kemudian terjadi pelepasan
prekursor tromboplastin bereaksi dengan faktor antihemofilik (plasma) dengan
komponen tromboplastin membentuk tromboplastin. Kedua, Prokonvertin diubah
menjadi konvertin oleh ion Ca. Ketiga, protrombin dengan bantuan ion Ca, konvertin,
dan tromboplastin akan diubah menjadi trombin. Keempat, akselerator globulin plasma
in-aktif diaktifkan menjadi akselerator globulin serum aktif oleh trombin. Kelima,
protrombin diubah menjadi trombin. Terakhir, fibrinogen diubah menjadi fibrin dengan
bantuan trombin. Hemoglobin(Hb) terdapat di dalam sel darah merah dan memiliki
fungsi dalam pengangkutan O2. Kadar hemoglobin di dalam darah dipengaruhi oleh
beberapa faktor antara lain umur, pakan, dan kondisi kesehatan ternak. Faktor-faktor
yang mempengaruhi pembekuan darah antara lain :
1. Faktor I
Fibrinogen: sebuah faktor koagulasi yang tinggi berat molekul protein plasma dan
diubah menjadi fibrin melalui aksi trombin. Kekurangan faktor ini menyebabkan masalah
pembekuan darah afibrinogenemia atau hypofibrinogenemia.
2. Faktor II
Prothrombin: sebuah faktor koagulasi yang merupakan protein plasma dan diubah
menjadi bentuk aktif trombin (faktor IIa) oleh pembelahan dengan mengaktifkan faktor X
(Xa) di jalur umum dari pembekuan. Fibrinogen trombin kemudian memotong ke bentuk
aktif fibrin. Kekurangan faktor menyebabkan hypoprothrombinemia.
3. Faktor III
Jaringan Tromboplastin: koagulasi faktor yang berasal dari beberapa sumber yang
berbeda dalam tubuh, seperti otak dan paru-paru; Jaringan Tromboplastin penting
dalam pembentukan prothrombin ekstrinsik yang mengkonversi prinsip di Jalur
koagulasi ekstrinsik. Disebut juga faktor jaringan.
4. Faktor IV

Kalsium: sebuah faktor koagulasi diperlukan dalam berbagai fase pembekuan


darah.
5. Faktor V
Proaccelerin: sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif labil dan panas,
yang hadir dalam plasma, tetapi tidak dalam serum, dan fungsi baik di intrinsik dan
ekstrinsik koagulasi jalur. Proaccelerin mengkatalisis pembelahan protrombin trombin
yang

aktif.

Kekurangan

faktor

ini,

sifat

resesif

autosomal,

mengarah

pada

kecenderungan berdarah yang langka yang disebut parahemophilia, dengan berbagai


derajat keparahan. Disebut juga akselerator globulin.

6. Faktor VI
Sebuah faktor koagulasi sebelumnya dianggap suatu bentuk aktif faktor V, tetapi
tidak lagi dianggap dalam skema hemostasis.
7. Faktor VII
Prokonvertin: sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif stabil dan panas
dan berpartisipasi dalam Jalur koagulasi ekstrinsik. Hal ini diaktifkan oleh kontak
dengan kalsium, dan bersama dengan mengaktifkan faktor III itu faktor X. Defisiensi
faktor prokonvertin, yang mungkin herediter (autosomal resesif) atau diperoleh (yang
berhubungan dengan kekurangan vitamin K), hasil dalam kecenderungan perdarahan.
Disebut juga serum protrombin konversi faktor akselerator dan stabil.
8. Faktor VIII
Antihemophilic faktor, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif labil dan
berpartisipasi dalam jalur intrinsik dari koagulasi, bertindak (dalam konser dengan faktor
von Willebrand) sebagai kofaktor dalam aktivasi faktor X. Defisiensi, sebuah resesif
terkait-X sifat, penyebab hemofilia A. Disebut juga antihemophilic globulin dan faktor
antihemophilic A.
9. Faktor IX
Tromboplastin Plasma komponen, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang
relatif stabil dan terlibat dalam jalur intrinsik dari pembekuan. Setelah aktivasi, diaktifkan
Defisiensi faktor X. hasil di hemofilia B. Disebut juga faktor Natal dan faktor
antihemophilic B.
10. Faktor X

Stuart faktor, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif stabil dan
berpartisipasi dalam baik intrinsik dan ekstrinsik jalur koagulasi, menyatukan mereka
untuk memulai jalur umum dari pembekuan. Setelah diaktifkan, membentuk kompleks
dengan kalsium, fosfolipid, dan faktor V, yang disebut prothrombinase; hal ini dapat
membelah dan mengaktifkan prothrombin untuk trombin. Kekurangan faktor ini dapat
menyebabkan gangguan koagulasi sistemik, disebut juga Prower Stuart-faktor. Bentuk
yang diaktifkan disebut juga thrombokinase.
11. Faktor XI
Tromboplastin plasma yg di atas, faktor koagulasi yang stabil yang terlibat dalam
jalur intrinsik dari koagulasi; sekali diaktifkan, itu mengaktifkan faktor IX. Lihat juga
kekurangan faktor XI. Disebut juga faktor antihemophilic C.
12. Faktor XII
Hageman faktor: faktor koagulasi yang stabil yang diaktifkan oleh kontak dengan
kaca atau permukaan asing lainnya dan memulai jalur intrinsik dari koagulasi dengan
mengaktifkan faktor XI. Kekurangan faktor ini menghasilkan kecenderungan trombosis.
13. Faktor XIII
Fibrin-faktor yang menstabilkan, sebuah faktor koagulasi yang merubah fibrin
monomer untuk polimer sehingga mereka menjadi stabil dan tidak larut dalam urea,
fibrin yang memungkinkan untuk membentuk pembekuan darah. Kekurangan faktor ini
memberikan kecenderungan seseorang hemorrhagic. Disebut juga fibrinase dan
protransglutaminase. Bentuk yang diaktifkan juga disebut transglutaminase.

Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil waktu beku darah
pada probandus laki-laki yaitu 7 menit 43 detik, dan pada probandus perempuan yaitu 9
menit 6 detik. Hasil tersebut jauh dari kisaran normal, yaitu sekitar 5 menit.

Daftar Pustaka

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
Frandson, R. D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi Keempat. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
Nurcahyo, Heru. 1998. Anatomi dan Fisiologi Hewan. Yogyakarta : UNY.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Kadar Hemoglobin dalam Darah (Metode Sahli)

Tinjauan Pustaka
Haemoglobin (Hb) tersusun atas protein globular. Tiap rantai Hb terdiri atas empat
rantai polipeptida, rantai ini terdiri dari dua rantai alfa. Tiap rantai mengandung 141
asam amino, sedangkan pada rantai beta tiap rantainya mengandung asam amino
sebanyak 146 (Kimball, 1998).
Apabila jumlah Hb atau sel darah merah yang fungsional berkurang jauh di bawah
normal maka akan terjadi anemia. Penyebab anemia antara lain defisiensi zat besi, Ca,
vitamin dan asam amino dalam makanan, dan gizi makanan kurang (Dukes, 1993).
Kelebihan haemoglobin disebut policitaemia. Penyebabnya karena kelebihan olahraga
orang yang tinggal di daerah tinggi. Policitaemia mengakibatkan naiknya viscositas
darah, terkadang sampai lima kali lipat dan memberatkan kerja jantung. Di dalam darah
mamalia, haemoglobin bertanggung jawab terhadap semua proses pengangkutan
oksigen dalam darah dengan presentasi sel darah merah meningkat sekitar 20 ml
oksigen per 100 ml darah (Poedjiadi, 1994).
Setiap atom Fe (ada empat Fe) pada haeme dapat mengikat oksigen secara
reversabel. Hb teroksigenasi atau disebut HbO 2 (oksi Hb) mengandung empat mol
oksigen, Hb juga dapat berikatan dengan karbondioksida pada gugus asam aminonya
membentuk karbomino (Hb CO2), juga dengan Na membentuk Hb. Met Hb dapat
diproduksi menjadi Hb oleh dithionit (Na 2Na2O4). Met Hb dapat beraksi dengan anion
pada pH basa dan pada pH asam (Nurcahyo, 1998).

Materi dan Metode


Materi

Alat. Alat yang digunakan pada praktikum kadar hemoglobin dalam darah antara
lain hemoglobinometer Sahli dan kapas.
Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum kadar hemoglobin dalam darah
adalah HCl 0,1 N, aquadestilata, sampel darah ternak, dan alkohol 70%.
Metode
Tabung Sahli diisi dengan HCl 0,1 N sampai angka 10. Sampel darah disiapkan
dan darah dihisap secara perlahan-lahan dengan menggunakan pipet Sahli dengan
aspioratornya sampai batas 0,02 ml. Ujung pipet dibersihkan dan segera dimasukkan
ke dalam tabung Sahli. Tabung Sahli diletakkan antara kedua bagian standar warna
dalam hemoglobinometer. Dibiarkan selama 3 menit sampai terbentuk asam hematin.
Dengan menggunakan pipet tetes, aquadestilata ditambahkan ke dalam tabung setetes
demi setetes sambil diaduk sampai warna sama dengan warna standar. Tinggi
permukaan cairan pada tabung Sahli dibaca dengan melihat skala jalur 95%, yang
berarti banyaknya hemoglobin dalam gram per 100 ml darah. Jalur skala lainnya pada
tabung Sahli, kalau ada penunjukkan hemoglobin terhadap nilai hemoglobin normal
15,6% atau nilai normal lainnya yang tertera pada alat hemoglobinometer.

Hasil dan Pembahasan


Hasil
Absolute Hb Consentration
Perhitungan kadar Hb

: 16,2 g/ml
: 109,2 g/100ml
Pembahasan

Pada praktikum pengukuran kadar hemoglobin dalam darah digunakan metode


Sahli.

Keuntungan

metode

Sahli

jika

dibandingakan

dengan

metode

cyanomethemoglobin adalah metode Sahli lebih mudah dan murah, alat yang
digunakan sederhana, dan masih dapat digunakan di sarana kesehatan yang belum
terdapat fotokalorimeter. Namun, hasil yang diperoleh jika menggunakan metode
cyanomethemoglobin akan lebih teliti daripada menggunakan metode Sahli. Menurut
hasil percobaan terhadap sampel darah ternak yaitu darah domba, diperoleh hasil
Absolute Hb consentration adalah 16,2 g/dl dan perhitungan kadar Hb sebesar 109,2
g/100ml. Menurut Frandson (1993), kadar hemoglobin normal pada domba sekitar 1113 g/100 ml. Jadi, kadar hemoglobin sampel darah ternak (darah domba) tidak sesuai
dengan kadar hemoglobin normal.
Menurut Poedjiadi (1994), kadar Hb normal pada manusia dewasa laki-laki 13,5
sampai 18,0 g/dl, perempuan 11,5 sampai 16,5 g/dl (pada ibu hamil 11,0 sampai 16,5
g/dl), bayi 13,6 sampai 19,6 g/dl, bayi 3 bulan 9,5 sampai 12,5 g/dl, balita satu tahun
11,0 sampai 13,8 g/dl, anak 10 sampai 12 tahun 11,5 sampai 14,8 g/dl. Pada darah
mamalia haemoglobin bertanggung jawab terhadap semua proses pengangkutan
oksigen dalam darah dengan presentasi sel darah merah meningkat sekitar 20 ml
oksigen per 100 ml darah.

Kesimpulan
Dari hasil percobaan dengan menggunakan sampel darah kambing dapat
diketahui bahwa kadar hemoglobin yang terdapat dalam darah probandus yaitu 109,2
g/100ml.

Daftar Pustaka
Dukes, H.N. 1993. The Physiology of Domestic Animal. New York :
University College.
Kimball, J.W. 1998. Biologi. Edisi IV. Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Nurcahyo, Heru. 1998. Anatomi Fisiologi Hewan. Jurusan
Yogyakarta.

Pendidikan Biologi UNY.

Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Pengukuran Tekanan Darah secara Tidak Langsung


Tinjauan Pustaka
Jumlah darah didalam tubuh, sekurang-kurangnya adalah 7% dari berat badan
dari segala keseluruhan. Tekanan darah dapat diartikan sebagai tekanan terhadap
dinding pembuluh. Tekanan awal yang dihasilkan oleh konsentrasi ventrikel jantung dan
merupakan tekanan sistolik. Darah didorong masuk kedalam arteri besar yang bersifat
elastis, merenggangkan dindingnya dan karena dindingnya mengalami dilatasi. Ketika
ventrikel berada dalam keadaan relaks, tertutupnya katup-katup semilunar mencegah
baliknya darah dari arteri ke jantung dan ateriol-ateriol kecil akan meneruskan aliran ke
kapiler. Tekanan yang ditimbulkan oleh dinding arteri yang elastis itu digunakan untuk
mempertahankan tekanan (tekanan diastolik) didalam arteri dan akan tetap mengalir

darah

dengan

lancar

kedalam

kapiler,

pada

saat

ventrikel

sedang

relaks

(Frandson,1993).
Faktor yang mempertahankan tekanan darah antara lain kekuatan memompa
jantung, banyaknya darah yang beredar, viskositas (kekentalan) darah, elastisitas
pembuluh darah dan tahanan tepi (Evelyn, 1995). Menurut Poedjiadi (1994), diastole
jantung terjadi selama pengisian bilik, hal ini dapat terjadi pada kedua bilik kanan dan
kiri atau diastole ventricular kanan atau kiri. Sistole menunjukkan kontraksi bilik jantung
dalam proses pengosongan parsial bilik tersebut. Sehingga terjadi sistole atrial kanan
atau kiri maupun sistole ventricular kanan atau kiri.

Materi dan Metode


Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum pengukuran tekanan darah secara tidak
langsung antara lain spygnomanometer, stetoskop, arloji (stopwatch), dan probandus
(manusia).

Metode
Manset spynomanometer dililitkan pada lengan atas subyek di atas persendian
siku. Manset dipasang lebih kurang setinggi jantung. Lengan subyek yang diperikasa
harus diletakkan dengan baik dengan siku hampir lurus. Udara dipompakan ke dalam
manset dampai kira-kira 180mmHg. Kemudian tekanan diturunkan perlahan-lahan,
darah yang mengalir melalui pembuluh darah yang terjepit dan dindingnya hampir

tertutup itu akan menimbulkan getaran-getaran pada dinding pembuluh, ini dapat
terdengar melalui stetoskop yang terpasang pada arteri abrasialis di daerah fosa
antekubital. Desiran-desiran mula-mula akan terdengar jika tekanan udara kantong
manset mulai lebih rendah dari tekanan sistole (desiran korotkoff). Pada waktu aliran
sudah menajdi kontinu, maka desiran terdengar dengan jelas dan sama sekali akan
hilang jika tekanan dalam amnset lebih kecil dari tekanan diastole, dengan cara ini
orang dapat membedakan tekanan sistole dan diastole.

Hasil dan Pembahasan


Hasil
Tabel 6.3. Hasil Pengukuran Tekanan Darah
Probandus
Sujiyanto
Dita A.D

Umur Jenis Kelamin Sistole (mmHg) Diastole (mmHg)


18
19

Laki-laki
Perempuan

110
110

80
90

Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, tekanan darah sistole probandus
laki-laki berumur 19 tahun adalah 110 mmHg dan diastole 80 mmHg. Tekanan darah
sistole probandus perempuan berumur 19 tahun adalah 110 mmHg dan diastole 90
mmHg. Tekanan darah normal manusia adalah 120 mmHg untuk sistole dan 80 mmHg
untuk diastole.
Menurut Sherwood (2002), siklus jantung terdiri dari periode sistol (kontraksi dan
pengosongan isi) dan diastole (relaksasi dan pengisian jantung). Atrium dan ventrikel
mengalami siklus sistol dan diastole yang terpisah. Kontraksi terjadi akibat penyebaran

eksitasi ke seluruh jantung, sedangkan relaksasi timbul satelah repolarisasi otot


jantung. Selama diastole ventrikel dini, atrium juga masih berada dalam keadaan
diastole. Karena aliran darah masuk secara kontinu dari sistem vena ke dalam atrium,
tekanan atrium sedikit melebihi tekanan ventrikel walaupun kedua bilik tersebut
melemas. Karena perbedaan tekanan ini, katup AV terbuka, dan darah mengalir
mengalir langsung dari atrium ke dalam ventrikel selama diastole ventrikel. Akibatnya,
volume ventrikel perlahan-lahan meningkat bahkan sebelum atrium berkontraksi.
Pada akhir diastol ventrikel, nodus SA mencapai ambang dan membentuk
potensial aksi. Impuls menyebar keseluruh atrium. Depolarisasi atrium menimbulkan
kontraksi atrium, yang memeras lebih banyak darah ke dalam ventrikel, sehingga terjadi
peningkatan kurva tekanan atrium. Peningkatan tekanan ventrikel yang menyertai
berlangsung bersamaan dengan peningkatan tekanan atrium disebabkan oleh
penambahan volume darah ke ventrikel oleh kontraksi atrium. Selama kontraksi atrium,
tekanan atrium tetap sedikit lebih tinggi daripada tekanan ventrikel, sehingga katup AV
tetap terbuka. Diastol ventrikel berakhir pada awal kontraksi ventrikel. Pada saat ini,
kontraksi atrium dan pengisian ventrikel telah selesai (Sherwood, 2002).
Menurut Sherwood (2002), volume darah di ventrikel pada akhir diastol dikenal
sebagai volume diastolik akhir (end diastolic volume atau EDV), yang besarnya sekitar
135 ml. Selama siklus ini tidak ada lagi darah yang ditambahkan ke ventrikel. Dengan
demikian, volume diastolik akhir adalah jumlah darah maksimum yang akan dikandung
ventrikel selama siklus ini. Setelah eksitasi atrium, impuls berjalan melalui nodus AV
dan sistem penghantar khusus untuk merangsang ventrikel. Secara simultan, terjadi
kontraksi atrium. Pada saat pengaktifan ventrikel terjadi, kontraksi atrium telah selesai.
Ketika kontraksi ventrikel dimulai, tekanan ventrikel segera melebihi tekanan atrium.
Perbedaan yang terbalik ini mendorong katup AV ini menutup. Setelah tekanan ventrikel
melebihi tekanan atrium dan katup AV telah tertutup,tekanan ventrikel harus terus
meningkat sebelum tekanan tersebut dapat melebihi tekanan aorta. Dengan demikian,
terdapat periode waktu singkat antara penutupan katup AV dan pembukaan katup aorta
pada saat ventrikel menjadi bilik tertutup. Karena semua katup tertutup, tidak ada darah
yang masuk atau keluar ventrikel selama waktu ini. Interval waktu ini disebut sebagai
kontraksi ventrikel isovolumetrik (isovolumetric berarti volume dan panjang konstan).

Karena tidak ada darah yang masuk atau keluar ventrikel, volume bilik ventrikel tetap
dan panjang serat-serat otot juga tetap.
Selama periode kontraksi ventrikel isovolumetrik, tekanan ventrikel terus
meningkat karena volume tetap. Pada saat tekanan ventrikel melebihi tekanan aorta,
katup aorta dipaksa membuka dan darah mulai menyemprot. Kurva tekanan aorta
meningkat darah dipaksa berpindah dari ventrikel ke dalam aorta lebih cepat daripada
darah mengalir pembuluh-pembuluh yang lebih kecil. Volume ventrikel berkurang
secara drastis sewaktu darah dengan cepat dipompa keluar. Sistol ventrikel mencakup
periode kontraksi isovolumetrik dan fase ejeksi (penyemprotan) ventrikel. Ventrikel tidak
mengosongkan diri secara sempurna selam penyemprotan. Dalam keadaan normal
hanya sekitar separuh dari jumlah darah yang terkandung di dalam ventrikel pada akhir
diastol dipompa keluar selama sistol. Jumlah darah yang tersisa di ventrikel pada akhir
sistol ketika fase ejeksi usai disebut volume sistolik akhir (end sistolik volume atau
ESV), yang jumlah besarnya sekitar 65 ml. Ini adalah jumlah darah paling sedikit yang
terdapat di dalam ventrikel selama siklus ini (Sherwood, 2002).
Jumlah darah yang dipompa keluar dari setiap ventrikel pada setiap kontraksi
dikenal sebagai volume sekuncup (stroke volume atau SV), SV setara dengan volume
diastolik akhir dikurangi volume sistolik akhir; dengan kata lain perbedaan antara
volume darah di ventrikel sebelum kontraksi dan setelah kontraksi adalah jumlah darah
yang disemprotkan selama kontraksi. Ketika ventrikel mulai berelaksasi karena
repolarisasi, tekanan ventrikel turun dibawah tekanan aorta dan katup aorta menutup.
Penutupan katup aorta menimbulkan gangguan atau takik pada kurva tekanan aorta
yang dikenal sebagai takik dikrotik (dikrotik notch). Tidak ada lagi darah yang keluar dari
ventrikel selama siklus ini karena katup aorta telah tertutup. Namun katup AV belum
terbuka karena tekanan ventrikel masih lebih tinggi dari daripada tekanan atrium.
Dengan demikian semua katup sekali lagi tertutup dalam waktu singkat yang disebut
relaksasi ventrikel isovolumetrik. Panjang serat otot dan volume bilik tidak berubah.
Tidak ada darah yang masuk atau keluar seiring dengan relaksasi ventrikel dan tekanan
terus turun. Ketika tekanan ventrikel turun dibawah tekanan atrium, katup AV membuka
dan pengisian ventrikel terjadi kembali. Diastol ventrikel mencakup periode ralaksasi
isovolumetrik dan fase pengisian ventrikel (Sherwood, 2002).

Repolarisasi atrium dan depolarisasi ventrikel terjadi secara bersamaan, sehingga


atrium berada dalam diastol sepanjang sistol ventrikel. Darah terus mengalir dari vena
pulmonalis ke dalam atrium kiri. Karena darah yang masuk ini terkumpul dalam atrium,
tekanan atrium terus meningkat. Ketika katup AV terbuka pada akhir sisi ventrikel, darah
yang terkumpul di atrium selama sistol ventrikel dengan cepat mengalir ke ventrikel.
Dengan

demikian,

mula-mula

pengisian

ventrikel

berlangsung

cepat

karena

peningkatan tekanan atrium akibat penimbunan darah di atrium. Kemudian pengisian


ventrikel melambat karena darah yang tertimbun tersebut telah disalurkan ke ventrikel,
dan tekanan atrium mulai turun. Selama periode penurunan pengisian ini, darah terus
mengalir dari vena-vena pulmonalis ke dalam atrium kiri dan melalui katup AV yang
terbuka ke dalam ventrikel kiri. Selama diastol ventrikel tahap akhir, sewaktu pengisian
ventrikel berlangsung lambat, nodus SA kembali mengeluarkan potensial aksi dan
siklus jantung dimulai kembali (Sherwood L, 2002).

Gambar 6.1.Siklus denyut jantung

Menurut Sherwood (2002), kelainan pada sistem peredaran darah yaitu :


Arteriosklerosis, yaitu pengerasan pembuluh nadi karena endapan lemak berbentuk
plak (kerak) yaitu jaringan ikat berserat dan sel-sel otot polos yang di infiltrasi oleh lipid
(lemak).
Ambolus, yaitu tersumbatnya pembuluh darah karena benda yang bergerak.
Anemia atau biasa disebut penyakit kurang darah, yaitu rendahnya kadar hemoglobin
dalam darah atau berkurangnya jumlah eritrosit dalam darah.

Varises, yaitu pelebaran pembuluh darah di betis.


Trombus, yaitu tersumbatnya pembuluh darah karena benda yang tidak bergerak.
Hemofili, yaitu kelainan darah yang menyebabkan darah sukar membeku (diturunkan
secara hereditas).
Leukemia (kanker darah), yaitu peningkatan jumlah eritrosit secara tidak terkendali.
Erithroblastosis fetalis, yaitu rusaknya eritrosit bayi/janin akibat aglutinasi dari antibodi
yang berasal dari ibu.
Thalasemia, yaitu anemia yang diakibatkan oleh rusaknya gen pembentuk hemoglobin
yang bersifat menurun.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi akibat arteriosklerosis.
Hemeroid (ambeien), yaitu pelebaran pembuluh darah di sekitar dubur.
Jantung koroner, yaitu penyakit yang menyerang pembuluh darah dan bisa
menyebabkan serangan jantung. Hal ini diakibatkan oleh pembuluh arteri yang
tersumbat sehingga menghambat penyaluran oksigen dan nutrisi ke jantung.

Gambar 6.2. Sistem kardiovaskuler

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, tekanan darah probandus dalam
kondisi normal, yaitu 110 mmHg pada sistole dan 80 mmHg pada diastole (laki-laki),
110 mmHg pada sistole dan 90 mmHg pada diastole (perempuan), karena tekanan
darah normal pada kisaran 120 mmHg pada sistole dan 80 mmHg pada diastole.

Daftar Pustaka
Evelyn, C. Pearce. 1995. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia.
Frandson, R. D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
Sherwood L, 2002. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Ed 2. Jakarta: EGC.