Anda di halaman 1dari 33

PRESENTASI KASUS

TUMOR MATA
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Program Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Mata
Badan Rumah Sakit Daerah Wonosobo

Disusun Oleh:
Wahid Nur Arifin
20100310193
Diajukan Kepada:
dr. M. Faisal Lutfi, Sp.M
BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
RSUD KRT SETJONEGORO WONOSOBO
PROGRAM PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015
HALAMAN PENGESAHAN
PRESENTASI KASUS
TUMOR MATA

Telah dipresentasikan pada tanggal:


Agustus 2015
Bertempat di RSUD Setjonegoro Wonosobo

Disusun oleh:
Wahid Nur Arifin
20100310193

Disahkan dan disetujui oleh:


Dokter Pembimbing Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Mata
RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo

dr. M. Faisal Lutfi, Sp.M

ii

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat,
petunjuk dan kemudahan yang telah diberikan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan presentasi kasus Tumor Mata.
Presentasi kasus ini terwujud atas bimbingan serta pengarahan dari
berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa
terima kasih yang tak ternilai kepada:
1. dr. M. Faisal Lutfi, Sp.M selaku dosen pembimbing bagian Ilmu
Kesehatan Mata RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo yang telah
mengarahkan dan membimbing dalam menjalani stase Ilmu Kesehatan
Mata serta dalam penyusunan presentasi kasus ini.
2. Perawat bagian poliklinik mata RSUD Setjonegoro Wonosobo.
3. Rekan-rekan Co-Assistensi atas bantuan dan kerjasamanya.
4. Dan seluruh pihak-pihak terkait yang membantu penyelesaian
presentasi kasus ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Dalam penyusunan presentasi kasus ini, penulis menyadari masih terdapat
banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran membangun
demi kesempurnaan penyusunan presus di masa yang akan datang.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Wonosobo, 5 Agustus 2015

Wahid Nur Arifin

iii

DAFTAR ISI
PRESENTASI KASUS.............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN................................................................................ii
KATA PENGANTAR.............................................................................................iii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. LATAR BELAKANG...................................................................................1
B. TUJUAN PENULISAN................................................................................2
C. MANFAAT PENULISAN............................................................................2
BAB II......................................................................................................................3
LAPORAN KASUS.................................................................................................3
A. Identitas Pasien.............................................................................................3
B. Anamnesis.....................................................................................................3
C. Pemeriksaan Fisik.........................................................................................4
D. Diferensial Diagnosis....................................................................................5
E. Diagnosis......................................................................................................6
F. Penatalaksanaan...........................................................................................6
G. Prognosis.......................................................................................................6
BAB III....................................................................................................................7
TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................................7
A. Anatomi dan Fisiologi Mata.......................................................................7
B. Etiologi..........................................................................................................9
C. Patofisiologi................................................................................................10
D. Jenis-jenis tumor mata................................................................................10
BAB IV..................................................................................................................26
PEMBAHASAN....................................................................................................26
BAB V....................................................................................................................27
KESIMPULAN......................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................28

iv

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kanker (tumor ganas) merupakan penyakit penyebab kematian kedua yang
memberikan kontribusi 13% kematian dari 22% kematian akibat penyakit tidak
menular utama di dunia. Dampak penyakit tidak menular khususnya penyakit
kanker terhadap ketahanan sumber daya manusia sangat besar karena selain
merupakan penyebab kematian dan kesakitan juga menurunkan produktivitas.
Angka kesakitan dan kematian tersebut sebagian besar terjadi pada penduduk
dengan sosial ekonomi menengah ke bawah5.
Di Indonesia, penyakit kanker merupakan urutan ke 8 dari pola penyakit
nasional. Pada tahun 2008 di rumah sakit seluruh Indonesia, penyakit kanker
menyebabkan 4.332 pasien mati dengan Case Fatality Rate (CFR) 4,70%. Setiap
tahunnya 100 kasus baru terjadi diantara 100.000 penduduk. Meningkatnya
pengguna rokok (57 juta orang), konsumsi alkohol, kegemukan atau obesitas dan
kurangnya aktifitas fisik/olahraga juga berperan dalam peningkatan angka
kejadian kanker di Indonesia 5,6.
Tumor dari seluruh tubuh manusia menurut penelitian Oemiati et al tahun 2011,
tumor pada mata, otak, dan Sistem Saraf Pusat (SSP) mempunyai odds ratio
(OR)

sedang, yaitu (4,6) dengan 95%C I sebesar 3,8-5,5. Sedangkan tumor

ovarium dan tumor saluran pernapasan mempunyai OR terbesar dan terendah,


yaitu (19,3) dengan 95%C I sebesar 17,8-20,9 dan (0,6) dengan 95%C I sebesar
(0,4-0,9)5.
Tumor mata merupakan penyakit dengan multifactor yang terbentuk dalam
jangka waktu lama dan mengalami kemajuan melalui stadium berbeda-beda.
Faktor nutrisi merupakan satu aspek yang sangat penting, komplek, dan sangat
dikaitkan dengan proses patologis tumor. Secara umum, total asupan berbagai
lemak (tipe yang berbeda-beda dari berbagai lemak) bisa dihubungkan dengan

peningkatan insiden tumor mata5. Infeksi virus seperti pada Papilloma dan
neoplasia intraepitel pada konjungtiva juga merupakan penyebab utama. Selain itu
radiasi sinar UV juga menyebabkan terjadinya tumor pada bagian tertentu di
mata2.
Tiga jenis tumor mata yang sering terjadi pada anak-anak adalah kista
dermoid, hemangioma, dan rabdomiosarkoma. Sedangkan 3 jenis tumor mata
yang sering terjadi pada dewasa adalah tumor limfoid, hemangioma kavernosa,
dan meningioma. Apabila diagnosis dini dapat ditegakkan, maka angka kejadian
dan mortalitas pada kasus tumor mata dapat diturunkan7.
B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Presentasi Kasus ini diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat
dalam mengikuti pendidikan profesi dokter dibagian Ilmu Kesehatan
Mata.
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tumor mata sehingga dapat
menegakkan diagnosis dan manajemen secara komprehensif.
C. MANFAAT PENULISAN
Presentasi kasus ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi
penulis maupun bagi pembaca dalam memahami tumor mata, mulai dari
diagnosis, sampai terapi tumor mata.

BAB II
LAPORAN KASUS
A. Identitas Pasien
Nama
Alamat
Umur
Pekerjaan
Nomor CM
Tanggal periksa

: Tn. K
: Sumberwulan, Selomerto
: 65 tahun
: Buruh
: 429182
: 30 Juli 2015

B. Anamnesis
Keluhan utama
:
Benjolan atau massa pada mata kiri.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Seorang laki-laki berusia 65 tahun datang ke poliklinik mata RSUD KRT
Setjonegoro dengan keluhan terdapat benjolan kurang lebih sebesar bola
pingong pada mata kiri, keluhan disertai dengan hilangnya penglihatan. Tidak
ada nyeri. Keluhan dirasakan sejak + 5 bulan yang lalu. Pasien belum
melakukan pengobatan sebelumnya.
Pasien mengaku awalnya benjolan kecil seperti tahi lalat kemudian
berkembang menjadi besar selam kurang lebih 5 bulan disertai dengan
hialngnya penglihatan.
Riwayat Penyaki Dahulu
:
Pasien belum pernah mengalami gejala serupa sebelumnya. Riwayat penyakit
kehanasan disangkal. Riwayat penyakit kronis seperti Diabetes Mellitus, dan
Hipertensi disangkal. Riwayat Alergi dan Asma disangkal oleh pasien.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama seperti
pasien. Riwayat penyakit keganasan pada keluarga disangkal oleh pasien.
Resume Anamnesis
Seorang laki-laki berusia 64 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan
kurang lebih sebesar boal pingpong pada mata kiri disertai dengan hilangnya
penglihatan. Tidak ada keluhan nyeri. Keluhan ini dirasakan sejak kurang
lebih 5 bulan yang lalu.

C. Pemeriksaan Fisik
Kesadaran
: Compos Mentis.
Tanda Vital
TD
: 140/80 mmHg
N
: 72
RR
: 20
t
: 36,8
Pemeriksaan Subyektif :
Pemeriksaan
Visus jauh

OD

OS

1/

1/

Pemeriksaan Obyektif :
Pemeriksaan

OD

Sekitar Mata
Supercilia dan cilia
Palpebra
Gerakan
Margo sup dan inf
Gerakan Bola Mata
Konjungtiva
K palpebra sup et inf
K bulbi
Sklera
Warna
Kornea
Kejernihan
Sikatrik
Arcus senilis
COA
Pupil
Iris
Lensa
Tekanan Bola Mata
(digital)
Laboratorium
:

OS

Simetris, distribusi
merata

(-)

Normal
Edema (-)
N

()

Hiperemi (-)
Hiperemi (-)
Jar. Fibrovaskular (-)

(-)

Putih

(-)

Jernih
Tidak ada
Tidak ada
Sedang
Bulat, d = 3 mm,
Reflek Cahaya (+)
N
Keruh
N

(-)

Laboratorium darah
Hemoglobin
: 15,5

(13,2- 17,3) g/dL


4

(-)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Lekosit
Eusinofil
Basofil
Netrofil
Limfosit
Monosit
Hematokrit
Eritrosit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
Kimia Klinik
GDS
Ureum
Creatinin
Sero Imunologi
HbsAg

: 10,2
: 2,00
: 0,10
: 55,00
: 27,40
: 16,40
: 45
: 5,2
: 187
: 87
: 30
: 35

(3,8 10,6) 10^3 /uL


(2,00 4,00) %
(0 1) %
(50 70) %
(25 40) %
(2 8) %
(40 - 52) %
(4,40 5,90) 10^6 /uL
(150 400) 10^3 / uL
(80 100) fl
(26 34) pg
(32 36) g/dL

: 88
: 21,1
: 1,10

(70-150) mg/dL
(< 50) mg/dL
(0,60 1,10) mg/dL H

: Negatif

Negatif

D. Diferensial Diagnosis
Tumor Mata susp. Melanoma Maligna
Large nevus
Melanositoma
Pigmented conjungtival carcinoma
Hemangioma Koroid
E. Diagnosis
OS

: Tumor Mata susp. Melanoma Maligna

F. Penatalaksanaan
OS

: Pro Operatif

G. Prognosis
Quo ad vitam
Quo ad sanationam
Quo ad functionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: malam

Dilakukan operasi pada tanggal 29 Juli 2015


Sebelum Operasi

Sesudah Operasi

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi Mata
Regio orbita adalah sepasang rongga di tulang yang berisi bola mata, otot,
saraf, pembuluh darah, dan sebagian besar apparatus lakrimalis. Lubang orbita
dilindungi oleh dua lipatan tipis yang dapat bergerak, yaitu kelopak mata
(palpebra)1,3.
Palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata serta mengeluarkan
sekresi kelenjar yang membentuk film air mata di depan kornea. Pada palpebra
terdapat bagian-bagian: kelenjar sebasea, kelenjar

Moll, kelenjar

Zeis pada

pangkal rambut, dan kelenjar Meibom pada tarsus. Otot seperti: Muskulus
orbikularis okuli untuk menutup bola mata yang dipersarafi Nervus Fasial. M.
levator palpebra yang dipersarafi N. III yang berfungsi untuk membuka mata.
Pembuluh darah yang mempedarahinya adalah arteri palpebra. Persarafan sensorik
kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal N. V, sedang kelopak mata bawah
oleh cabang ke II saraf ke V1,3.

Gambar 2.14

Apparatus lakrimalis terdiri dari glandula lakrimalis, laku, pungta,


kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus lakrimalis. Persarafan sekretomotorik
parasimpatis berasal dari nukleus lakrimalis.

Glandula lakrimalis akan

menghasilkan air mata dan mengalir ke lakus lakrimal dan masuk ke kanalikuli
melalui pungta. Kanalikuli berjalan ke medial dan bermuara ke sakus lakrimalis
dan dan terus berlanjut ke duktus lakrimalis1,3.
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak
bagian belakang. Bermacam-macam

obat dapat diserap melalui konjungtiva.

Konjungtiva mempunyai kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin
bersifat membasahi bola mata terutama kornea. Konjungtiva terdiri atas 3 bagian,
yaitu: konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva bulbi yang menutupi
sklera, dan konjungtiva forniks1,3.
Bola mata berbentuk bulat dengan diameter anteroposterior 24 mm. Bola
mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu: sklera, jaringan uvea (yang terdiri
dari iris, badan siliar, dan koroid yang diperdarahi oleh arteri siliaris anterior dan
posterior, sedangkan persarafannya dari ganglion siliar dan retina). Pada iris
didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke
dalam mata. Badan siliar menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor) yang
dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas kornea
dan sklera. Badan kaca mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat gelatin
yang hanya menempel papil saraf optik, makula, dan pars plana. Lensa terletak di
belakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya pada badan siliar melalui
Zonula Zinn. Terdapat 6 otot penggerak bola mata, yaitu : oblik inferior, rektus
inferior, rektus medius, dan rektus superior yang dipersarafi N. III, kemudian
oblik superior dan rektus lateral yang dipersarafi N. IV dan N. VI1,3.
Sklera terdiri atas jaringan fibrosa padat dan berwarna putih. Di posterior,
sklera ditembus oleh N. II dan menyatu dengan selubung dura saraf ini. Lamina
kribosa adalah daerah sklera yang ditembus oleh serabut-serabut N. II. Merupakan
area yang relativ lemah dan dapat menonjol ke dalam bola mata oleh peningkatan

tekanan cairan serebrospinal di dalam tonjolan subaraknoid yang terdapat di


sekeliling N. II. Bila tekanan intraokular meningkat, lamina kribosa akan
menonjol keluar dan menyebabkan diskus menjadi cekung1,3.
Kornea (latin cornum= seperti tanduk) adalah selaput bening mata yag
dapat memantulkan cahaya yang masuk ke mata. Terdiri atas 5 lapisan: epitel,
membran bowman, stroma, membran desemen, dan endotel. Kornea dipersarafi
oleh saraf siliar longus cabang N. V dan saraf nasosiliar. Pembiasan sinar terkuat
dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk
ke kornea1,3.
Lensa mata di dalam bola mata terletak di belakang iris yang terdiri dari
zat tembus cahaya berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis
pada saat terjadinya akomodasi. Secara patologik, lensa dapat kaku pada orang
dewasa yang akan mengakibatkan presbiopia, keruh atau yang disebut katarak,
dan tidak berada di tempatnya (subluksasi dan dislokasi)1,3.
Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung
reseptor yang menerima rangsangan cahaya. Retina terdiri atas lapisan:
fotoreseptor (terdiri atas sel batang dan sel kerucut), membran limitan eksterna,
lapis nukleus luar, lapis pleksiform luar, lapis nukleus dalam, lapis pleksiform
dalam, lapis sel ganglion, lapis serabut saraf, dan membran limitan interna1,3.
B. Etiologi
Penyebab dari tumor mata adalah faktor genetik, contohnya pada
retinoblastoma (tumor ganas pada retina) terjadi karena mutasi kromosom 13.
Penyebab lain dari tumor mata adalah faktor nutrisi, secara umum total asupan
berbagai lemak (tipe yang berbeda-beda dari

makanan yang berlemak) bisa

dihubungkan dengan peningkatan insiden tumor mata. Disamping itu obesitas


juga meningkatkan risiko tumor dan aktivitas fisik merupakan determinan utama
dari pengeluaran energi untuk menurunkan risiko tumor mata. Faktor gaya hidup
antara lain merokok, diet, konsumsi alkohol diduga sebagai kontributor utama

dalam pertumbuhan tumor mata. Dari kajian literatur didapatkan bahwa asupan
lemak jenuh dan alkohol akan meningkatkan kejadian penyakit tumor5,8.
Faktor lain yang mempengaruhi tumor mata adalah kesehatan mental.
Orang dengan mental disorder (khususnya yang berkaitan dengan mood seperti
depresi klinis dan bipolar) akan meningkatkan risiko kejadian tumor pada usia
muda. Pada wanita 43% dengan mental disorder akan menjadi sakit kurang dari 2
tahun setelah didiagnosa menderita masalah dengan mood5.
C. Patofisiologi

Bagan 2.2 Patofisiologi tumor mata


D. Jenis-jenis tumor mata
Tumor mata bisa terjadi di semua bagian mata yang mengalami
pembelahan sel abnormal dan kematian sel yang menurun. Berdasarkan posisinya,
tumor mata dikelompokkan sebagai berikut9:
1. Tumor eksternal, yaitu tumor yang tumbuh di bagian luar mata seperti
tumor palpebra dan tumor konjungtiva
2. Tumor intraokuler, yaitu tumor yang tumbuh di dalam bola mata
3. Tumor retrobulbar, yaitu tumor yang tumbuh di belakang bola mata
10

Tumor eksternal
Tumor palpebra
Kalazion
Kalazion merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang
tersumbat. Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan infeksi
ringan yang mengakibatkan peradangan kronis kelenjar tersebut. Kalazion akan
memberikan gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak hiperemi, tidak ada nyeri
tekan, dan adanya pseudoptosis1,2.
Kelenjar preaurikuler tidak membesar. Kadang- kadang mengakibatkan
perubahan bentuk bola mata akibat tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi
pada mata tersebut1.
Pengobatan pada kalazion dengan melakukan kompres hangat, antibiotik
setempat dan sistemik. Untuk mengurangi gejala dilakukan eksklokleasi isi abses
dari dalamnya atau dilakukan ekstirpasi kalazion tersebut. Insisi dilakukan sama
seperti pada hordeolum interna. Bila tidak membaik bisa berkomplikasi menjadi
granuloma1,2.
Karsinoma sel basal
Karsinoma sel basal adalah tumor ganas

yg terjadi pada palpebra.

Sembilan puluh persen kasus tumor palpebra adalah karsinoma sel basal. Daerah
palpebra yang sering terjadi adalah palpebra inferior (70%), diikuti kantus medial,
palpebra superior, dan kantus lateral. Tumor ini bisa kambuh kembali pada tempat
semula tumbuhnya, tidak bermetastasis ke kelenjar limfe dan organ yang jauh.
Terlihat adanya nodul

dengan ulserasi di tengahnya serta telangiektasis.

Pengobatan dengan eksisi17.


Karsinoma sel skuamos
Karsinoma sel skuamos adalah tumor ganas yang terjadi pada palpebra.
Jarang terjadi, tetapi lebih agresif dari karsinoma sel basal karena dapat
11

bermetastasis ke kelenjar limfe dan organ yang jauh. Biasanya terjadi pada daerah
yang terpajan sinar matahari dan lesi yang pernah terjadi sebelumya. Gejalanya
adalah adanya lesi dan masa yang bewarna merah dan terbelah-belah. Ada
beberapa staging dari karsinoma sel skuamos menurut Americant Joint Committee
on Cancer (AJCC)17:
T: menjelaskan ukuran tumor primer dan penyebarannya
TX: tumor primer tidak bisa dinilai
T0: tidak ada bukti adanya tumor primer
Tis: karsinoma insitu
T1: tumor berukuran < 5 mm, belum menyebar ke bagian tarsal
T2a: tumor berukuran 5-10 mm, sudah menyebar ke bagian tarsal dan
margo palpebra
T2b: tumor berukuran 10-20 mm, sudah menyebar ke seluruh palpebra
T3a: tumor berukuran > 20 mm, sudah menyebar ke bagian bola mata
T3b: tumor sudah bisa dilakukan enukleasi atau reseksi tulang
T4: tumor sudah menyebar ke ekstra-orbita
N: menjelaskan ada atau tidak penyebaran ke kelenjar limfe
NX: Kelenjar limfe regional tidak bisa dinilai
N0(c): tidak ada penyebaran ke kelenjar limfe regional berdasarkan
pemeriksaan radiologi
N0(p): tidak ada penyebaran ke kelenjar limfe regional berdasarkan
pemeriksaan biopsi
N1: sudah menyebar ke kelenjar limfe regional

12

M: menjelaskan ada atau tidaknya penyebaran ke organ yang lain


M0: tidak ada penyebaran ke organ yang lain
M1: ada penyebaran ke organ yang lain
Pengobatannya adalah dengan eksisi, jika tumor tidak bisa diangkat maka
dilakukan radioterapi. Apabila memungkinkan dilakukan tindakan pengangkatan
tumor dan rekonstruksi jaringan jika tumor sudah menyebar ke bagian bola mata
dan sinus18.
Hemangioma
Hemangioma adalah tumor jinak yang terjadi pada palpebra karena
pigmen yang berlebihan. Biasanya dapat didiagnosis pada saat berumur 6 bulan,
mengenai satu sisi mata, lesi bewarna merah berada di palpebra superior. Biasanya
dengan proptosis pada 38% kasus, ada masa yang rata. Komplikasi yang sering
terjadi adalah gangguan visus, ambliopia, anisometropia, dan strabismus.
Pengobatannya adalah dengan pemberian kortikosteroi salep, topikal, infus sub
tenon, sistemik, injeksi interferon,terapi laser, embolisasi selektif pada arteri, dan
pembedahan19.
Tumor pada konjungtiva
Nevus
Nevus adalah tumor jinak pada konjungtiva yang disebabkan oleh
pewarnaan yang berlebihan dari melanosit. Biasanya terjadi pada saat lahir dan
berkembang selama 2 dekade setelah kelahiran. Pada ras kaukasia, kasusnya
meningkat. Nevus hampir tidak mempunyai gejala. Gejalanya adalah gangguan
pada pertumbuhan pembuluh darah, silau, gangguan penglihatan, dan bisa
menyebabkan ablasio retina. Nevus bisa menjadi bentuk ganas, sehingga
pemeriksaan rutin sangat diperlukan untuk mencegahnya. Pada nevus tidak perlu
dilakukan operasi, tetapi jika ada alasan kosmetik maka boleh dilakukan tindakan
eksisi2.

13

Papilloma
Papilloma di konjungtiva terjadi karena infeksi Human Papilloma Virus
(HPV). Bisa terjadi pada semua umur, biasanya terjadi pada orang yang berumur
dibawah 20 tahun. Papilloma bisa bersifat jinak dan bersifat ganas. Papiloma
berdasarkan klinisnya bisa dibagi menjadi 2, yaitu bentuk pedunkel dan bentuk
sesil. Gejalanya bisa terjadi pada satu atau dua mata, pada bentuk pedunkel
biasanya bilateral, bisa dengan atau tanpa gangguan visus. Penatalaksanaan
tergantung besar lesi, jika lesi kecil bisa sembuh spontan, jika lesinya besar bisa
dieksisi. Apabila penyakitnya kambuh lagi, maka diberikan alpha-interferon atau
simetidin oral10.
Dermolipoma
Dermolipoma adalah tumor yang terjadi pada saat lahir, lesinya bisa
meluas atau tidak tergantung perkembangannya. Gejalanya asimptomatik, bila
menimbulkan gejala dapat berupa kantus yang bewarna merah jambu, lembut, dan
dapat digerakkan, dan ada masa di subkonjungtiva. Terjadi pada satu sisi mata .
Pengobatannya adalah observasi dan tindakan operasi untuk tujuan kosmetik2.
Granuloma piogenik
Granuloma piogenik adalah tumor jinak pada konjungtiva yang terjadi
pada hemangioma yang tidak aktif. Tidak ada pus, tidak ada giant sel. Bisa terjadi
karena

trauma minor, kalazion yang parah, post operasi jaringan granulasi.

Adanya pedunkel yang bewarna merah, dan lesi yang halus. Pengobatannya
adalah kortikosteroid topikal dan eksisi2.
Primary Acquired Melanosis (PAM)
Primary Acquired Melanosis (PAM) adalah peningkatan pigmen
kecoklatan pada konjungtiva

dengan penimbunan melanosit pada epitel.

Penyebabnya tidak diketahui. Bisa terjadi pada semua umur, pada PAM dengan
atipia terjadi pada orang yang berusia diatas 45 tahun. Gejalanya adalah
konjungtiva bewarna coklat,

lesi datar yang


14

ireguler

di konjungtiva.

Pengobatannya adalah tergantung besar lesinya, jika lesi kecil dilakukan eksisi,
jika lesinya besar dilakukan sitototerapi atau mitomisin topikal11.
Melanoma Maligna
Melanoma maligna adalah kanker yang berkembang dari sel-sel
melanosit. Melanosit adalah sel yang menghasilkan pigmen melanin berwarna
gelap, yang bertanggung jawab untuk warna kulit.2
Pada mata, melanoma dapat berkembang dalam beberapa tempat.
Melanoma malignan uvea adalah melanoma dari traktus uvea. Uvea merupakan
lapisan berpigmen dari bola mata yang termasuk didalamnya iris, badan siliaris
dan koroid. Iris memberikan warna mata. sedangkan melanosit adalah sel
penghasil pigmen dari traktus uvea. Jumlah melanin bervariasi tergantung ras dan
ciri khas keluarga. Iris berfungsi sebagai diafragma, secara konstan menjaga
ukuran pupil sesuai intensitas cahaya. Badan siliaris adalah kelanjutan dari iris.
Fungsinya termasuk sekresi cairan bola mata dan perubahan bentuk lensa untuk
tuiuan memfokuskan penglihatan. Dibelakangnya adalah koroid berfungsi untuk
mensuplai oksigen dan makanan bagi lapisan retina. Melanoma uveal adalah tipe
yang paling umum dari melanoma mata. Semua struktur ini diwarnai dengan
melanin.1,2
Melanoma juga dapat terjadi padan konjungtiva atau pada kelopak mata,
tetapi ini jarang terjadi. Melanoma konjungtiva merupakan neoplasma invasif
yang timbul dari melanosit konjungtiva dan dapat meluas secara lokal dan
metastase secara regional atau ke tempat jauh lainnya.3

15

Melanoma mata3

Melanoma dapat timbul berupa lesi pigmen atau non pigmen pada dewasa.
Dapat timbul sebelumnya pada daerah yang tidak berpigmen % kasus, dari nevus
yang timbul sebelumnya 20% kasus, dari penyebaran primary acquired melanosis
(PAM) 70% kasus.3
Gejala Klinis Melanoma Maligna
Melanoma konjungtiva dapat timbul pada konjungtiva palpebral, namun
paling banyak ditemukan di konjungtiva bulbi atau limbus. Derajat pigmentasi
bervariasi. Karena banyak vaskularisasi, tumor ini sangat mudah berdarah.

16

Tumbuh sebagai nodul dan dapat menyebar ke bola mata atau orbita. Melanoma
konjungtiva bulbi tampak nodul berwarna hitam atau abu-abu dengan pembuluh
darah yang melebar dan dapat melekat pada episklera. Menurut tempatnya
melanoma konjungtiva bulbar lebih baik prognosanya dibanding melanoma pada
konjungtiva palpebra atau forniks. Melanoma konjungtiva dapat bermetastase
melalui limfnode-regional, otak atau tempat lainnya. 1,5

Melanoma Konjungtiva berpigmen4

Primary Acquired Melonosis (PAM) tampak sebagai bintik kecil rata


unilateral, atau gabungan bintik kecil dari pigmentasi abu-abu emas dengan batas
ireguler. Kebanyakan terjadi pada usia pertengahan. Lesi dapat bertambah besar
sedikit demi sedikit atau tumbuh dengan lambat tanpa remisi selama lebih dari l0
tahun. Sulit untuk memprediksi pasien PAM yang mungkin akan menjadi
melanoma maligna hanya berdasarkan penampakan klinis. Walaupun begitu
gambaran histologis dapat di identifikasi pada pasien dengan resiko tinggi
keganasan.1,4
Melanoma iris tampak sebagai nodul berpigmen atau tidak berpigmen
dengan diameter 3 mm dan tebal 1 mm. Biasanya berlokasi pada setengah bagian
bawah iris dan sering memiliki pembuluh darah di permukaannya. 1,4

17

Melanoma iris3

Melanoma badan siliar, % dari seluruh melanoma uvea, awalnya dapat


tanpa gejala, sebab posisinya tersembunyi dibelakang iris, saat terdeteksi
ukurannya sudah besar. Bila ada keluhan paling sering keluhan kehilangan
penglihatan, fotopsia dan perobahan lapangan pandang. Melanoma badan siliar
tidak selalu terlihat sampai pupil betul-betul lebar. Beberapa diantaranya mengikis
akar iris sampai berada di bilik mata depan dan akhirnya terlihat pada
pemeriksaan luar atau dengan gonioskopi. Tumor yang lain meluas secara
langsung melalui sklera pada zona siliaris, menimbulkan gambaran masa gelap
epibulbar. Gejala awal dari melanoma badan siliaris dapat berupa pelebaran
pembuluh darah sentinel episklera pada kwadran tumor berada. Tumor dapat
menjadi besar dan menekan lensa, menimbulkan astigmat, katarak sektoral atau
difus, subluksasi lensa, glaukoma sekunder, ablasio retina, uveitis anterior dan
bahkan neovaskularisasi iris. Pada kasus yang jarang, melanoma badan siliaris
menujukan pertumbuhan yang difus dan meluas 180-360 derajat pada badan
siliaris. Melanoma tipe ini dikenal sebagai ring melanoma.1,4,5
Sebanyak 85 % dari melanoma uveal adalah melanoma koroid dengan ciri
khasnya coklat, menonjol, masa sub retina seperti gambaran kumbah ( Dome
Shape). Derajat pigmentasi mempunyai rentang dari coklat gelap sampai total

18

amelanotik. Sesuai dengan waktu, banyak tumor menembus membrana Bruch dan
menunjukan gambaran kumbah pada potongan melintang.4,6

Melanoma koroid9

Ablasio retina serosa sekunder dipinggir tumor sering tejadi, yang


bertanggung jawab atau berpengaruh terhadap kehilangan penglihatan, walaupun
tumor tidak melibatkan lapisan koroid submakula secara langsung. Dapat terjadi
degenerasi retina dengan perubahan pigmentasi pada puncak tumor. Permukaan
beberapa melanoma menunjukan gambaran bercak pigmen orange, yang secara
ultrastruktur berupa lipofusin dalam makropage dan pigmen epitelial retina, suatu
keadaan yang dijumpai pada sel yang mengalami ketuaan. Gumpalan yang
menonjol dari pigmen warna orange pada level Retinal Pigment Epithelium (RPE)
bisa tampak menutupi permukaan atas tumor. Retina yang melingkupi tumor
menunjukan gambaran

perubahan degeneratif, adakalanya menuju penipisan

dengan perforasi tumor kedalam vitreous. Sel-sel yang terlepas akan perploriferasi
didalam vitrerus atau sepanjang permukaan retina, menimbulkan bercak-bercak
pigmentasi menyerupai retinitis pigmentosa.4,7,8

19

Jika ablasio retina sangat luas, terjadi pergeseran kedepan diafragma lensa
iris dan menimbulkan glaukoma sekunder sudut tertutup. Glaukoma sekunder
dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Jika tumor meluas melalui retina atau
tumbuh pada badan siliar atau iris, sel-sel yang terlepas akan berkumpul pada
jaringan trabekula dan menghalangi outflow aqueous.

Bentuk gloukoma ini

disebut gloukoma melanomatik. Melanoma nekrotik juga dapat melepaskan sel


sehat dan nekrotik tanpa pigmen dan dengan pigmen yang dimuati makropag,
dengan demikian menimbulkan kondisi yang serupa. Tumor dari badan siliar dan
iris khususnya yang luas juga dapat melibatkan secara langsung jaringan
trabekula.5,8
Neovaskularisasi iris dapat timbul pada mata tersebut dan perdarahan
spontan ke ruang subretina dapat terjadi. Perdarahan vitreous biasanya hanya
terlihat pada kasus dimana melanoma telah menembus membrana Bruch. Secara
teoritis ini terjadi karena aliran vena dalam tumor yang berlokasi di membrana
Bruch terhalang oleh adanya efek konstriksi dari membaran tersebut.6,7
Diagnosis Melanoma Maligna
Evaluasi klinis terhadap semua sangkaan melanoma harus mencakup
riwayat penyakit, penilaian optalmoskopi dan pemeriksaan penyokong untuk
menetapkan hasil diagnosa secara tepat. Pengamatan perubahan perilaku suspek
tumor secara klinis akan dapat membantu dalam menegakkan diagnosa yang
tepat.4,6
Lesi yang tidak khas dapat ditentukan dengan pemeriksaan biopsi berupa
biopsi eksisional atau Biopsi Aspirasi Jarum Halus (FNAB). Biopsi eksisional
dilakukan pada suspek lesi epibulbar berpigmen. Eksisi konjungtiva yang
dilakukan adalah 4 mm dari batas tumor.7,8
Pada tumor intra okuli, optalmoskopi binokular indirek adalah
pemeriksaan standar, memberikan gambaran stereoptosis dan lapangan pandang
yang luas dan memungkinkan pengamatan terhadap fundus perifer, terlebih lagi
bila digunakan dengan tehnik depresi sklera. Pemeriksaan ini memungkinkan

20

penilaian klinis yang akurat terhadap luas dasar dan puncak tumor. Namun tehnik
ini tidak berguna pada media yang keruh, sehingga dibutuhkan pemeriksaan yang
lain seperti transiluminasi, Ultrasonografi (USG), Computer Tomoghrapy (CT).
dan atau Magnetic Resonans Imaging (MRI).8,9
Slit lamp biomikroskopi dikombinasi bersama gonioskopi rnerupakan
metoda yang terbaik untuk menentukan adanya lesi dan penyebaran yang
melibatkan bagian anterior badan siliaris. Sebagai tambahan, adanya katarak
sektoral. keterlibatan sudut mata sekunder atau bentuk pernbuluh darah sentinel
menjadi tanda untuk melanoma badan siliar. Lensa fundus Hruby, Goldman dan
lainnya dapat digunakan dengan slit lamp untuk mengevaluasi lesi pada fundus
posterior dengan pembesaran tinggi. Pemeriksaan ini dapat menggambarkan
ablasio neurosensori retina, pigmen orange, ruptur membrana Bruch, penyebaran
tumor intra retina dan keterlibatan vitreous. Biomikroskopi fundus dengan lensa
kontak threemirror/triplemirror berguna untuk menilai lesi dilokasi perifer
fundus.1,5,6
Transiluminasi sering dapat membantu dalam evaluasi kasus dengan
sangkaan melanoma badan siliar dan koroid. Sangat berguna untuk mengukur
derajat pigmentasi tumor dan menentukan diameter basal tumor anterior.
Bayangan tumor dapat terlihat dengan cahaya transiluminasi, dianjurkan dengan
memakai serat optik intensitas tinggi, ditempatkan pada permukaan yang
berhadapan dengan lesi atau juga melalui cornea dengan memakai cap kornea
khusus. Transiluminasi dapat juga dipakai dengan indirek optalmoskopi. Tingkat
cahaya yang terhalang oleh lesi dapat diukur dengan kaliper. Pada kasus dengan
lepasnya segmen siliokoroidal jenis serosa dan tumor amelanotik biasanya
memberikan gambaran terang. sehingga pemeriksaan ini tidak efektif.5,7
Pemakaian

fotografi

dalam

hal

ini

tidak

membantu

karena

ketidakmampuannya menilai lesi fundus perifer pada melanoma badan siliaris.


Bila posisinya tidak diperifer maka fotografi fundus dapat dipakai untuk
pemeriksaan serial fundus dan dapat dicatat hubungan lesi dengan struktur

21

intraokular. Sebagai marker perubahan ukuran tumor dapat diperhatikan posisi


pembuluh darah retina. Cara ini membutuhkan tekhnik fotografi yang baik.2,
Angiografi fluorosensi memberikan informasi mengenai suplai darah
tumor, sehingga dapat membedakan apakah lokasinya di koroid atau retina.
Sangat membantu menyingkirkan lesi yang menyerupai melanoma koroid.
Melanoma koroid akan menunjukan florosensi pembuluh darah intralesi pada fase
arteriol dan arteriovenosa. Angiografi fluorosensi dapat memberikan bukti
tambahan dalam menegakkan diagnosa melanoma. Sekitar 2/3 kasus dapat
menunjukan adanya pola sirkulasi ganda", khas pada melanoma yang telah
menembus membrana Bruch, berupa gambaran pengisian pembuluh darah retina
yang menutupi permukaan tumor, sebagai lapisan atas dari pembuluh darah
internal tumor yng dilatasi. RPE sering rusak dan memberikan gambaran hot
spots, akibat adanya kebocoran. Sayangnya tidak ada gambaran fluorosensi yang
patognomonik untuk satu jenis tumor intraokuli. Idiocyanin hijau angiografi
adalah alternatif untuk membuat gambaran perdarahan koroid, gambaran detail
dari pembuluh darah koroid lebih efektif dibang fluorosensi.4,6
Pemeriksaan USG sangat membantu sebagai pemeriksaan tambahan. Ascan maupun B-scan menunjukan melano dengan internal refleksi yang rendah
sampai sedang, kadang disebut hallo akustik. A scan USG memberikan gambaran
tumor yang solid, dengan low internal refleksi, kadang dapat dijumpai pulsasi
vaskular spontan pada beberapa kasus. B-scan USG menyediakan informasi
ukuran relatif berupa tinggi dan diameter basal, bentuk dan posisi tumor. B scan
dapat dipakai pada media yang keruh. Karena kesulitan pengamatan lokasi perifer
maka USG kurang berguna pada kasus tumor badan siliaris. USG tiga dimensi
mungkin dapat memecahkan permasalahan tersebut.5

Evaluasi

perimetri

dapat menunjukan adanya skotoma absolut pada lokasi tumor dan berhubungan
dengan skotoma relatif pada kasus ablasio retina serosa. Pemeriksaan lain colourcoded dopler, CT dan MRI dapat digunakan dalam mengidentifikasi tumor pada
media keruh dan pada kasus adanya penyebaran ekstrasklera dan keterlibatan
organ lain. MRI dapat membedakan lesi vaskutar atipikal dari tumor melanositik.6

22

Neoplasia intraepitel pada konjungtiva


Neoplasia intraepitel pada konjungtiva adalah tumor ganas pada
konjungtiva yang terjadi karena

infeksi HPV tipe 16, sinar UV, AIDS, dan

xeroderma. Kasus terbanyak terjadi pada pasien AIDS. Gejalanya adalah inflamasi
ringan, abnormal vaskularisasi, mata silau, masa yang bewarna merah jambu .
Pengobatannya adalah eksisi, krioterapi atau kemoterapi topikal12.
Karsinoma sel skuamos
Karsinoma sel skuamos pada konjungtiva adalah tumor ganas pada
konjungtiva yang terjadi karena radisai sinar

UV, infeksi virus, dan faktor

genetik. Biasanya gejalanya lebih agresif pada pasien HIV dan pasien dengan
xeroderma. Gejalanya adalah lesi yang luas di dekat limbus, bisa terjadi
leukoplakia, jarang meluas ke sklera, warna gelap pada daerah pigmentasi, invasi
lokal dan bisa bermetastase. Pengobatannya adalah eksisi lokal, krioterapi, pada
penyebaran yang luas bisa dilakukan terapi radiasi12.
Kaposi sarkoma
Kaposi sarkoma adalah tumor

ganas yang terjadi pada konjungtiva

(endotel pembuluh darah), bisa mengenai kulit, membran mukosa, dan organ
dalam bola mata. Penyebabnya adalah infeksi HHV-8 dan AIDS. Gejalanya adalah
lesi besar yang bewarna merah, edem palpebra dan edem konjungtiva, dan adanya
nodul. Pengobatannya adalah radioterapi atau eksisi12.
Tumor intraokuler
Iris nevus
Iris nevus adalah tumor jinak berupa pigmen kecoklatan yang melewati
iris, bisa berupa daerah yang datar atau daerah yang menonjol. Nevus yang
terbentuk bisa satu atau banyak, dan bisa menjadi nevus yang menyebar yang
disebut Cogan-Reese syndrome. Nevus bisa merusak margin pupil dan merusak
permukaan iris. Ada 6 hal yang membedakan iris nevus dengan iris melanoma13:

23

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ukurannya kurang dari 3 mm diameter iris


Tebal, ukurannya kurang dari 1 mm diameter iris
Tidak ada vaskularisasi permukaan
Tidak ada katarak
Tidak ada glaukoma sekunder
Tidak berkembang menjadi ganas

Pada iris nevus tidak ada pengobatan, hanya dilakukan observasi visus.
Iris melanoma
Iris melanoma adalah tumor jinak yang mengenai iris dan mempunyai
prosentase 5% dari melanoma uvea. Rata-rata terjadi pada usia 50-an dan pada
orang kaukasia. Kejadiannya tidak dipengaruhi oleh sinar UV dan faktor
lingkungan. Iris melanoma diawali dari penyakit nevus, adanya pigmen coklat
kehitaman di iris, bentuknya bervariasi dan tajam. Ukurannya lebih dari 3 mm
diameter iris, ada vaskularisasi permukaan, bisa dengan penyakit penyerta, seperti
katarak dan glaukoma. Pengobatannya adalah iridektomi untuk tumor yang kecil,
iridosilektomi, radioterapi untuk tumor yang difus, jika tidak cukup dengan
radioterapi maka bisa dilakukan enukleasi15.
Iris metastasis
Iris metastasis adalah gangguan pada iris karena metastasis tumor dari
tempat lain. Iris metastasis bisa bewarna merah jambu, kekuningan, masa yang
tumbuh dengan cepat dan bisa dengan uveitis berupa hifema. Bentuk yang kecil
dan banyak, jarang dijumpai. Tidak ada pengobatan pada iris metastasis2.
Iris xantogranuloma
Iris xantogranuloma adalah

tumor

jinak pada iris yang jarang

dijumpai. Penyebabnya tidak diketahui, melibatkan proliferasi histiosit nonlangerhans. Adanya lesi bewarna kekuningan yang difus, bisa dengan hifema,
uveitis anterior, dan glaukoma. Pengobatannya dengan steroid topikal2.
Tumor retrobulbar

24

Retinoblastoma
Retinoblastoma adalah tumor ganas pada retina yang sering terjadi pada
anak-anak. Kasus retinoblastoma meningkat dalam 60 tahun terakhir. Ada 1 kasus
dari 15.000 kelahiran bayi. Dua ratus lima puluh sampai 350 kasus baru setiap
tahun terjadi di Amerika Serikat, dimana 90% kasus terjadi pada anak dibawah 5
tahun. Retinoblastoma terjadi pada sel multipoten, mutasi dari kromosom 13 yang
berkembang menjadi bagian dalam dan luar retina. Pada kasus baru,
retinoblastoma dapat didiagnosis pada saat anak berumur dibawah 5 tahun. Pada
anak dengan retinoblastoma bilateral biasanya dapat didiagnosa rata-rata pada
umur 13 sampai 15 bulan, sedangkan pada anak dengan retinoblastoma unilateral
biasanya dapat didiagnosa rata-rata pada umur 24 bulan. Tidak ada predileksi
jenis kelamin dan ras. Enam puluh persen kasus terjadi pada bilateral, 40% kasus
terjadi unilateral15,16.

25

BAB IV
PEMBAHASAN

Diagnosis tumor mata ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Pada kasus Tn. K ini mempunyai keluhan
mata kiri terdapat benjolan kurang lebih sebesar bola pingpong keluhan disertai
dengan hilangnya penglihatan. Tidak ada nyeri. Keluhan dirasakan sejak + 5 bulan
yang lalu. Pasien belum melakukan pengobatan sebelumnya.
Pasien mengaku awalnya benjolan kecil seperti tahi lalat kemudian
berkembang menjadi besar selama kurang lebih 5 bulan disertai dengan hialngnya
penglihatan. Pada pemeriksaan fisik mata, didapatkan bahwa visus mata pasien
sudah tidak dapat melihat baik gerakan ataupun cahaya.
Dari manifestasi klinis, pemeriksaan fisik mata dan dari segi progresifitas
yang didapatkan bahwa pasien Tn. K ini menderita tumor mata yang mengarah
kepada keganasan dan diagnosis dengan tumor mata suspect melanoma maligna.
Pilihan pengobatan tumor mata tergantung pada ukuran, jenis sel dan
lokasi tumor, dan faktor-faktor lain seperti kesehatan umum pasien, usia dan
tingkat penglihatan pada kedua mata. Pengobatan yang dilakukan antara lain
eksisi dengan cryoterapi, radiasi, brachyterapi, kemoterapi, transpupillary
thermoterapi,

enukleasi

dan

eksenterasi.

Sedangkan

pada

pasien

ini

penatalaksanaan yang diberikan adalah eksisi tumor.


Beberapa faktor prognostik yang membuat tumor mempunyai prognosa
yang jelek antara lain: Secara histologi banyaknya sel epithelod, gambaran
vaskuler loops dan infiltrasi limfosit, besar tumor karena makin besar tumor
prognosa makin jelek, abnormalitas kromosom melanoma, adanya metastase ke
tempat lain, lokasi tumor yang tersembunyi memiliki prognosa jelek,
pertumbuhan yang difus, tumor dengan tingkat pigmentasi kuat, usia penderita
diatas 50 tahun.

26

BAB V
KESIMPULAN

Tumor mata adalah pertumbuhan jaringan tubuh pada mata yang abnormal
dimana proses apoptosis terganggu, sehingga proliferasi menjadi tidak terkontrol.
Banyak faktor yang menjadi etiologi dari tumor mata diantaranya adalah
faktor genetik, infeksi, radiasi, faktor nutrisi, obesitas, faktor gaya hidup, dan
kesehatan mental.
Pilihan pengobatan tumor mata tergantung pada ukuran, jenis sel dan
lokasi tumor, dan faktor-faktor lain seperti kesehatan umum pasien, usia dan
tingkat penglihatan pada kedua mata. Pengobatan yang dilakukan antara lain
eksisi dengan cryoterapi, radiasi, brachyterapi, kemoterapi, transpupillary
thermoterapi, enukleasi dan eksenterasi.
Prognosa tumor berbeda-beda tergantung pada antara lain jenis sel tumor,
besar tumor, lokasi tumor, pertumbuhan tumor, adanya metastase ke tempat lain
dan usia penderita

27

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S, Sri RY. Ilmu Penyakit Mata Edisi keempat. 2012. Badan Penerbit
FKUI. Jakarta
2. Kanski JJ. Clinical Ophtalmologi A Sinopsis. 2009. Elsevier. UK
3. Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi Keenam.
2006. EGC. Jakarta
4. Ishihara S. The series of Plates designed As a test for colour deficiency.
2005. Kanehara Trading Inc. Tokyo
5. Oemiati R, Ekowati R, Antonius YK. Prevalensi tumor dan beberapa
faktor yang mempengaruhi di Indonesia. 2011. Badan Penelitian
Pengembangan Kesehatan. Jakarta
6. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2008. 2009. Depkes RI. Jakarta
7. Mercandetti M. Orbital tumors. http:/emedicine.medscape com/ article/
1222849-follow up#showall diakses pada tgl. 14 Desember 2012
8. Isidro
MA.
Retinoblastoma
clinical
presentation.
http:/emedicine.medscape com/ article/ 1222849-follow up#showall
diakses pada tgl. 14 Desember 2012
9. Klinik mata nusantara. Tumor mata. http/ Klinik mata nusantara com
file/8591. pdf
diakses pada tgl. 14 Desember 2012
10. Eyewiki org. Conjunctival Papilloma. http:/ eyewiki.aao.org/conjunctival
papilloma diakses pada tgl. 14 Desember 2012
11. Forsionusa org. Primary acquired melanosis (PAM). http:/www.images.
mission forsionusa.org/anatomy/2006/03/what is primary-acquiredmelanosis of html diakses pada tanggal 16 Desember 2012
12. Virasch V. Neoplastic disorder of the conjunctiva. 2006. Department of
ophthalmology. UK
13. Eyewiki org. Iris nevus. http:/www.online-eye0info.com/iris-nevus.html
diakses pada tanggal 16 Desember 2012
14. Eye
cancer
org.
Iris
melanoma.
http:/www.eye
cancer.com/patient/condition.asp?nid=28category diakses pada tanggal
16 Desember 2012

28

15. Aventura M, Kaiser KP. Retinoblastoma clinical presentation.


http:/emedicin.medscape.com diakses pada tanggal 16 Desember 2012
16.

Joan
MO,
Timothy
M.
What
is
http:/www.djo.harvard.edu/sitephp?url=patient/pi/436

retinoblastoma.

17.

American Joint Committee on Cancer. Cancers of the eyelid.


http://www.mdanderson.org/patient-and-cancer-information/cancerinformation/cancer-types/eye-cancer/eyelid-cancers.html diakses pada
tanggal 20 Desember 2012

18. Eye
Cancer
org.
Squamous
Carcinoma
of
the
Eyelid.
http://www.eyecancer.com/patient/Condition.aspx?
nID=54&Category=Eyelid+Tumors&Condition=Squamous+Carcinoma+o
f+the+Eyelid diakses pada tanggal 20 Desember 2012
19. Oculist org. Infantile capillary hemangioma.
http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v2/v2c037.
html diakses pada tanggal 20 Desember 2012

29