Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Trauma abdomen merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas pasien
secara signifikan. Sebagian besar kasus trauma abdomen merupakan trauma
tumpul. National Pediatric Trauma Registry (NPTR) melaporkan 80% trauma abdomen
pada pediatri merupakan trauma tumpul. Sumber lain menunjukkan 67% kasus trauma
abdomen pada dewasa terjadi karena trauma tumpul. Angka kematian trauma tumpul

abdomen di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara maju. Di


Malang angka mortalitasnya sebesar 16%, di Surabaya sebesar 20%, dan di Denpasar
sebesar 19%. Angka kematian yang rendah didapatkan di Jerman yakni 9% dan di

Australia sebvesar 6 %.1

Diagram 1.1. Angka Mortalitas Trauma Tumpul Abdomen


Laki laki lebih banyak mengalami trauma abdomen dibanding wanita.
Data dari RSUD dr Soetomo mencatat perbandingan insiden trauma abdomen
pada laki laki dan wanita sebesar 84 : 15.1 Trauma tumpul abdomen lebih sering
disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dan lebih sering merupakan bagian dari
multitrauma.

Angka kematian pada trauma abdomen berkaitan dengan waktu penanganan


yang cepat, tindakan yang tepat, dan kondisi awal pasien.1 Keterlambatan
penegakan diagnosa dan pemberian terapi meningkatkan angka morbiditas dan
mortalitas penderita trauma abdomen.2

Diagram 1.2. Insiden Trauma Tumpul Abdomen di Surabaya

1.2. Tujuan Penulisan


1. Mempelajari definisi, anatomi, dan patofisiologi terjadinya trauma abdomen.
2. Mempelajari temuan klinis dan penegakan diagnosis trauma abdomen.
3. Mempelajari komplikasi dan penatalaksanaan trauma abdomen.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Trauma Abdomen


Trauma adalah keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera. 3 Luka
adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. 4 Luka juga dapat
didefinisikan sebagai kerusakan anatomi dan diskontinuitas oleh karena proses
dari luar tubuh.5 Cedera merupakan keadaan yang terjadi akibat stimulus yang
mempengaruhi fungsi suaru organ, jaringan atau sel melampaui batas kemampuan
adaptasinya.4
Trauma abdomen merupakan keadaan luka atau cedera yang terjadi pada
abdomen, baik mengenai dinding abdomen maupun organ organ di dalam
cavum abdomen.

2.2. Anatomi Abdomen


Abdomen terbagi dalam 2 bagian besar yakni abdomen luar atau dinding
abdomen dan abdomen dalam atau cavum abdomen.6
2.2.1. Dinding Abdomen
Dinding abdomen mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang
kompleks. Dibagian belakang struktur ini melekat pada vertebra sebelah
atas pada vertebra torakalis, dan di bagian bawah vertebra lumosakral.
Dinding abdomen ini terdiri dari berbagai lapis yakni lapisan kulit, lapisan
otot, dan lapisan dalam.7
Vaskularisasi dinding abdomen berasal dari beberapa arah. Dari
kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang aa. intercostalis VI XII dan
a. epigastrika superior. Dari kaudal terdapat a. sircumfleksa superfisialis, a.
3

pudenda eksterna dan a. epigastrika inferior. Kekayaan vaskularisasi ini


memungkinkan insisi abdomen secara horizontal maupun vertikal tidak
akan menimbulkan gangguan vascularisasi daerah di sekitarnya. Inervasi
dinding abdomen berasal dari n. thorakalis VI XII dan n. lumbalis I.6
Secara praktis, dinding abdomen dapat dibagi menjadi 3 bagian
berdasarkan letaknya yakni :
1. Abdomen depan
Pada bagian atas berbatasan dengan toraks bawah, maka batas
cranial abdomen atas ialah setinggi garis antar papila mama. Batas
kaudal ialah ligamentum inguinalis dan simfisis ossis pubis. Batas
lateral garis aksilaris anterior. Sekitar 40% dinding depan abdomen
dibentuk oleh otot.8

Gambar 2.1. Lapisan Dinding Depan Abdomen.


Lapisan kulit terdiri dari lapisan cutan dan jaringan subcutan
yang berisi jaringan lemak dan dibatasi oleh facies superfisial
(facies skarpa) terhadap lapisan otot di bawahnya. Pada lapisan otot
4

terdapat m. obliquus abdominis eksterna, m. obliquus abdominis


internus, m. transversum abdominis, dan m. rektus abdominis.
Lapisan dalam terdiri dari lapisan preperitonial dan lapisan
peritonial. Fascia transversalis dan jaringan lemak di bawahnya
membentuk lapisan preperitonial. Profundus dari lapisan tersebut
terdapat peritonium.7

Gambar 2.2. Potongan M. Rektus Abdominis di Atas Linea


Arcuata.

Gambar 2.3. Potongan M. Rektus Abdominis di Bawah Linea


Arcuata.
M. rektus abdominis diliputi oleh aponeurosis obliqus
abdominis eksterna, m. obliqus abdominis internus dan m.
transversum abdominis dari arah anterior dan posterior di bagian
superior. Sedangkan di bagian inferior dari linea arcuata,
5

aponeurosis hanya melapisi m. rektus abdominis pada bagian


anterior saja.6
Dinding abdomen membentuk cavum abdomen yang
melindungi organ organ di dalamnya. Integritas lapisan muskuloaponeurosis dinding abdomen sangat penting untuk mencegah
terjadilah herniasi. Fungsi lain otot otot dinding abdomen adalah
pada pernafasan dan proses miksi maupun defekasi dengan
meninggikan tekanan intra abdominal.6
2. Pinggang (flank area)
Daerah antara garis aksilaris anterior dan aksilaris posterior
dari ruang interkosta 6 di kranial dan krista iliaka di kaudal. Dinding
ini disusun oleh otot yang lebih tebal dibanding abdomen depan.
Sehingga merupakan pelindung pada trauma tusuk abdomen.8
3. Abdomen belakang
Daerah di poterior garis aksilaris posterior dari ujung skapula
sampai Krista iliaka. Otot punggung dan paraspinal sangat tebal dan
menjadi penghambat laju luka tusuk.8
2.2.2. Cavum Abdomen
Cavum abdomen dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Cavum
peritoneum, cavum pelvis dan retroperitoneum
1. Cavum peritoneum
Merupakan rongga yang

dikelilingi oleh peritonium

parietalis. Berdasarkan ketinggiannya kavum peritoneum dibagi


menjadi bagian atas dan bawah. Bagian atas dilindungi oleh bagian
bawah toraks yang berupa diafragma, sternum, 6 kosta terbawah,
dan kolumna vertebralis. Berisi hepar, lien, gaster, colon
transversum. Karena diafragma dapat naik sampai ruang interkostal
4 saat ekspirasi maksimal, maka fraktur / luka tembus pada daerah
ini harus dipikirkan terjadinya cidera organ intra abdomen.
Abdomen bawah berisi usus halus dan kolon sigmoid. 4, 6

Gambar 2.4. Tulang Tulang Pelindung Abdomen


2. Cavum pelvis
Dikelilingi tulang pelvis yang berada di kaudal lipatan
peritoneum. Menutupi rektum, vesika urinaria, dan genitalia interna
wanita. Sama seperti daerah torakoabdominal, pemeriksaan untuk
mengetahui cedera pada struktur pelvis dipersulit oleh tulang-tulang
diatasnya.4,6
3. Retroperitoneum
Merupakan rongga areolar di belakang peritoneum parietalis
yang dibatasi oleh peritoneum parietalis, kolumna vertebralis,
diafragma, otot pelvis. Berisi organ padat seperti ren, glandula
suprarenalis, pankreas, dan organ berongga retroperitoneal seperti
duodenum pars II -III, rektum, kolon askenden dan kolon desenden.
4, 6

Gambar 2.5. Pembagian Zona Retroperitoneal


Pembagian lain menurut regio ada sembilan regio sembilan
regio, seperti terlihat pada Gambar 2.6, di bawah ini.

Gambar 2.6 Pembagian Abdomen Berdasarkan Regio


Kelainan retroperitoneal sangat sulit mendeteksinya. Karena
problem diatas retroperitoneal dibagi menjadi 3 zona. Zona I disebut
centromedial retroperitoneal, suatu daerah sentral antara hiatus
diafragmatika sampai promontorium. Struktur yang penting ialah
aorta, vena kava inferior, vena renalis proksimal, vena porta,
pankreas dan duodenum. Zone II disebut flank retroperitoneal,
meliputi flank kiri dan kanan berisi ren kiri dan kanan, ureter
suprapelvis, dan kolon askenden dan deskenden. Zone III disebut
8

pelvic retroperitoneal meliputi daerah pelvis yang berisi rektum,


buli-buli, ureter distal dan organ reproduksi wanita. Inervasi dinding
abdomen oleh nervi (nn). torakalis ke- 812. Nervus torakalis ke- 8
setinggi margo kostalis, n. torakalis ke-10 setinggi umbilikus, n.
torakalis ke-12 setinggi suprainguinal. ). 4,6
Insisi yang dibuat hendaknya mempertimbangkan arah
paralel jalan saraf. Peritoneum parietalis yang menutup dinding
abdomen depan sangat kaya saraf somatik sementara peritoneum
yang menutup pelvis sangat sedikit saraf somatik sehingga iritasi
peritoneum pelvis pasien sulit menentukan lokalisasi nyeri.
Peritoneum diafragmatika pars sentralis disarafi n. spinalis C5
sehingga iritasi pars sentralis diafragma mempunyai nyeri alih di
bahu ( kehr sign). 4.6
2.3. Patofisiologi Trauma Abdomen
Trauma terbagi menjadi trauma tumpul dan tembus. Keduanya mempunyai
patofisiologi dan manifestasi klinis yang berbeda sehingga penatalaksanaannya
juga berbeda.
2.3.1. Trauma Tumpul
Lebih dari 50% kasus trauma tumpul abdomen terjadi akibat
kecelakaan lalu lintas yakni pada pejalan kaki yang ditabrak oleh mobil
ataupun sepeda motor. Selain itu trauma tumpul juga dapat disebabkan
oleh serangan benda tumpul secara sengaja, pukulan tangan maupun
tendangan kaki, olah raga,

jatuh dari

ketinggian dan ledakan. Pada

peristiwa tersebut bekerja suatu gaya penekanan dan gaya potong yang
mengakibatkan terjadinya luka maupun cedera.1
Trauma tumpul terkadang tidak memberikan kelainan yang jelas
pada permukaan tubuh, tetapi mengakibatkan kontusi atau laserasi
jaringan atau organ di bawahnya.4
a. Penekanan (compression)
Pada peristiwa benturan, pukulan, dan ledakan, gaya yang
terjadi berupa gaya kompresi atau penekanan. Bila penderita
terlempar, selain gaya kompresi dapat juga timbul gaya akselerasi
9

dan deselerasi mendadak. 1,4


Organ intra abdomen terjepit diantara 2 benda keras, yakni
vertebra atau benda lain yang menimbulkan tahanan di posterior
dan benda penyebab trauma di anterior seperti stang sepeda, setir
mobil, dan sabuk pengaman. Organ yang sering terkena menjadi
remuk (crush) seperti duodenum, ginjal, dan pankreas yang secara
anatomis berada di anterior vertebra.1
b. Gaya potong (Shearing force)
Cedera

akibat

gaya

deselerasi

sering

terjadi

pada

kecelakaan lalu lintas oleh karena setelah tabrakan badan masih


melaju hingga kemudian tertahan benda keras. Organ atau bagian
tubuh yang berada pada batas antara kondisi mobil dan terfiksir
akan terus bergerak dan menyebabkan terjadinya robekan pada
hilus organ tersebut.
Organ organ yang sering terkena adalah aorta, pole bawah
ginjal, lien, ligamentum Treitz, dan iliocoecal junction. 4
Tabel 2.1. Kemungkinan Cedera Organ pada Trauma Tumpul
Area Trauma
Kemungkinan Cedera Organ
Fraktur kosta kanan
Cidera hepar
Fraktur kosta kiri
Cidera lien
Kontusio midepigastrium
Perforasi duodenum, cidera pankreas
Fraktur prosessus transversalis Cidera ren
lumbal
Fraktur pelvis
Ruptur buli, cidera uretra
2.3.2. Patofisiologi Trauma Tembus Abdomen
Trauma tembus dapat berupa luka tembak (shotgunwound) dan
luka tusuk (stabwound) yang menimbulkan pola kerusakan berbeda.
Insiden tersering adalah tembakan dengan perbandingan 4 :1.1
1.

Luka Tusuk
Luka tusuk menyebabkan cedera pada jaringan yang secara

langsung dilewati oleh benda tajam tersebut. Lokasi anatomi, jumlah, tipe,
ukuran dan arah tusukan sangat penting untuk memprediksi kemungkinan
organ yang terkena dan beratnya cedera. Organ tersering yang terkena
10

trauma tembus benda tajam adalah intestinum tenue (29%), hepar (28%),
dan colon (23%).1,8

Diagram 2.1. Kerusakan Organ pada Trauma Tembus Abdomen


Pola cedera trauma tembus mengikuti alur benda dan melibatkan
struktur yang berdekatan, seperti terlihat pada tabel 2.2. Kerusakan
jaringan hanya sebesar diameter benda yang menembus. Organ yang
cidera tergantung alur yang dilewati sesuai anatomi. 1,8
Tabel 2.2. Pola Cedera Organ pada Luka Tusuk
Organ yang terkena
Hepar
Vena porta
Arteri mesenterika superior
Lien
Gaster
Duodenum
Rektum
2.

Organ yang mungkin terkait


Diafragma
CBD, arteri hepatika
Pankreas, a. renalis sinistra, aorta
abdome
Diafragma, gaster
Pankreas, lien
Pankreas, vena kava, CBD
Buli-buli

Luka Tembak
Cedera organ pada luka tembak berbeda dengan cedera akibat luka

tusuk. Peluru dengan kecepatan tinggi mengakibatkan terbentuknya


kavitas temporer dan merusak jaringan yang lebih luas sehingga
mengakibatkan cedera yang lebih berat dibanding luka tusuk yang hanya
merusak pada alur benda saja. Dapat mengenai intestinum tenue (50%),
colon (40%), hepar (30%), dan vaskuler intra abdomen (25%).1,8

11

Diagram 2.2. Kerusakan Organ pada Trauma Tembak Abdomen


Biomekanika kerusakan jaringan akibat tembakan tidak terlepas
dari hukum energi. Besar kerusakan jaringan dipengaruhi oleh besar energi
kinetik dari proyektil, karakteristik jaringan dan bagaimana energi diserap
oleh jaringan. Luka tembak dibagi menjadi 2 macam, yaitu peluru
kecepatan tinggi / energi besar yaitu berkecepatan di atas 2000 feet/
second (600 m/detik) dan peluru kecepatan rendah/energi kecil (dibawah
kecepatan 2000 feet/second). Proyektil menembus jaringan akan
menimbulkan laserasi, terputus atau kontusio.1,8
Luka akibat peluru dijelaskan dengan menerangkan terjadinya
kavitas. Luka tembak selain seluas diameter peluru, juga ditambah
diameter putaran sehingga menimbulkan suatu kavitas. Ada 2 macam
kavitas yaitu kavitas permanen dan kavitas temporer. Kavitas permanen
disebabkan diameter peluru. Kavitas temporer

disebabkan pergeseran

sentrifugal dinding kavitas akibat serapan energi ke jaringan. Kavitas ini


berada di area efek ledakan (blast effect).1,8

2.4. Manifestasi Klinis


b.4.1. Trauma Vascular
Kerusakan

organ

akan

menentukan

gejala

yang

muncul.

Perdarahan didefinisikan kehilangan akut volume darah akibat terbukanya


vasa baik pembuluh darah yang terdapat pada suatu organ maupun
12

pembuluh darah aorta abdominalis dan vena cava inferior beserta cabang cabangnya.1
Bila vena yang terkena maka jaringan sekitar sering menjadi
tampon. Bila ruptur parsial dinding arteri perdarahan akan terus menerus.
Sementara ruptur total arteri perdarahan sering berhenti sendiri.1
Kompensasi

utama

berupa

peningkatan

aktivitas

simpatis,

pelepasan hormon stres, mobilisasi cairan, dan konservasi cairan dan


elektrolit oleh ginjal. Respon terhadap hipovolemik sangat rumit karena
melibatkan pergeseran cairan antar kompartemen. Respon fisiologis tubuh
ditujukan untuk mempertahankan perfusi dan oksigenasi ke serebral dan
jantung.1
Bila tubuh tidak mampu kompensasi maka akan jatuh ke dalam
shock. Perdarahan masif menimbulkan syok hipovolumik. Kegagalan
mekanisme kompensasi menyebabkan kematian. Tanpa intervensi akan
muncul trimodal peak death time. Puncak kematian pada awal trauma bila
terjadi perdarahan hebat, puncak kedua terjadi terjadi pada satu sampai
beberapa jam karena dekompensasi progresif, dan puncak ketiga terjadi
beberapa hari sampai minggu karena sepsis dan gagal organ.1
Volume darah dewasa 7% dari berat badan sedang anak 8-9% berat
badan. Prosentase kehilangan darah ini digunakan untuk klasifikasi
perdarahan seperti terlihat dalam tabel 2.3.1
Tabel 2.3. Gradasi Perdarahan Pada Dewasa (Estimasi Berat Badan 70 Kg)
Grade
I
II
III
IV
Kehilangan darah
< 750
750-1500
1500-2000 >2000
(ml)
Kehilangan vol
< 15%
15% - 30% 30% - 40% >40%
darah (%)
Nadi
<100
>100
>120
>140
Tekanan darah
normal
normal
menurun
menurun
Tekanan nadi
normal/naik menurun
menurun
menurun
Frekuensi
14-20
20-30
30-40
>40
Pernapasan
Produksi urine
>30
20-30
1-15
tidak
(ml/jam)
berarti
CNS/Status mental
sedikit
agak cemas cemas/bing bingung,
cemas
ung
lesu
13

Rehidrasi

Kristaloid

kristaloid

kristaloid
darah
3:1

lethargic
kristaloid
darah
3:1

b.4.2. Hepar dan Lien


Hepar merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh dengan berat rata
rata 1.500 gram. Permukaan hepar diliputi oleh peritoneum visceralis
kecuali pada bagian posterior yang melekat langsung pada diafragma. Di
bawah peritoneum terdapat jaringan ikat padat yang disebut sebagai
kapsula glisson yang meliputi seluruh permukaan hepar.
Hepar memiliki kapasitas cadangan yang besar dan hanya
membutuhkan 10% jaringan yang berfungsi untuk tetap mempertahankan
fungsinya. Proses regenerasi memerlukan waktu 5 minggu.
Setiap menit 1.500 ml darah melewati hati melalui system hepatic
maupun sistem portal. Hepar kaya akan pembuluh darah oleh karena
fungsinya sampai pada sinusoid yang berhubungan dengan hepatosit.9
Tabel 2.4. Liver Injury Scale
Grade
I
Hematoma
Laceration
II
Hematoma
Laceration
III
Hematoma
Laceration
IV
Hematoma
Laceration
V
Laceration
Vascular

Injury Description
Subcapsular, non expanding, <10% surface area
Capsular tear, nonbleeding, <1 cm parenchymal depth
Subcapsular, nonexpanding, <2 cm in diameter
Capsular tear, active bleeding, 1-3 cm parenchymal depth
which does not involve a trabecular vessels
Subcapsular, >50% surface area or expanding; ruptured
subcapsular
hematoma
with
active
bleeding;
intraparenchymal hematoma <2 cm or expanding
Ruptured intraparenchymal hematoma with active bleeding
Major devascularization (>25% of spleen)
Completely shaterred spleen
Hilar vasculary injury which devascularizies spleen

Tabel 2.5. Splenic Injury Scale


Grade
I

Injury Description
Subcapsular, non expanding, <10% surface area
14

Hematoma
Laceration
II
Hematoma
Laceration
III
Hematoma
Laceration
IV
Hematoma
Laceration
V
Laceration
Vascular
VI
Vascular

Capsular tear, nonbleeding, <1 cm parenchymal depth


Subcapsular,
nonexpanding,
hematoma
10-50%;
intraparenchymal, nonexpanding, <2 cm in diameter
< 3 cm parenchymal depth, < 10 cm length
Subcapsular, >50% surface area or expanding; ruptured
subcapsular
hematoma
with
active
bleeding;
intraparenchymal hematoma >2 cm
> 3 cm parenchymal depth
Ruptured central hematoma
Parenchymal destruction involving 25-75 % of hepatic lobe
Parenchymal destruction 75% of hepatic lobe
Juxtahepatic venous injuries (retrohepatic cava/ major
hepatic vains
Hepatic avulsion

b.4.3. Gastro Intestinal


Robek pada duodenum biasanya ditemukan pada pengemudi yang
tidak menggunakan sabuk pengaman dan terlibat dalam tabrakan.
Kendaraan bermotor secara frontal atau penderita yang terkena pukulan
langsung diperut misalnya dari pegangan sepeda. Cairan gaster yang
mengandung darah atau udara retroperitoneum pada foto polos abdomen
harus menimbulkan kecurigaan adanya cedera ini.
Cedera pancreas paling sering akibat trauma langsung di
epigastrium yang menekan organ ini kearah belakang. Serum amilase yang
normal bukan berarti tidak ada trauma pancreas. Bila ada kecurigaan
setelah CT scan yang meragukan, ERCP (endoscopic retrograde
cholangiopancreatography) sito mungkin dapat membantu.
Cedera tumpul pada usus umumnya terjadi akibat deselerasi
mendadak dengan robekan dekat titik fiksasi, terutama bila sabuk
pengaman dipakai dengan tidak tepat. Munculnya diskolorisasi melintang
bergaris di dinding abdomen (tanda sabuk pengaman) atau adanya patah
distraksi panggul dipemeriksaan rontgen harus waspada terhadap
kemungkinan adanya cedera pada usus.
b.4.4. Ginjal10
15

Ginjal terletak di rongga retroperitoneum dan terlindung oleh otototot punggung disebelah posterior dan oleh organ-organ intraperitoneal di
sebelah anteriornya, karena itu cedera ginjal tak jarang diikuti oleh cedera
organ-organ yang mengitarinya. Trauma ginjal merupakan trauma
terbanyak pada sistem urogenitalia. Sekitar 10 % dari trauma pada
abdomen mencederai ginjal.
Cedera ginjal dapat dipermudah jika sebelumnya sudah ada
kelainan pada ginjal, antara lain hidronefrosis, kista ginjal, atau tumor
ginjal. Trauma ginjal pada anak mudah terjadi dibandingkan dengan orang
dewasa oleh karena proteksi daerah sekitar ginjal tidak sebaik pada orang
dewasa dan ukuran ginjal relatif lebih besar. Laki-laki lebih sering
dibanding wanita.
Jenis cedera yang mengenai ginjal dapat merupakan trauma
tumpul, luka tusuk, atau luka tembak. Cedera ginjal dapat terjadi secara
langsung akibat benturan yang mengenai daerah pinggang dan secara tidak
langsung yaitu merupakan cedera deselerasi akibat pergerakan ginjal
secara tiba-tiba di dalam rongga retroperitoneum.
Goncangan ginjal di dalam rongga peritoneum menyebabkan
regangan pedikel ginjal sehingga menimbulkan robekan tunika intima
arteri renalis. Robekan ini akan memacu terbentuknya bekuan-bekuan
darah yang selanjutnya dapat menimbukan trombosis arteri renalis beserta
cabangnya. Ginjal yang relatif mobile dapat bergerak mengenai costae atau
corpus vertebrae, baik karena trauma langsung ataupun tidak langsung
akibat deselerasi. Trauma yang demikian dapat menyebabkan peningkatan
tekanan subcortical dan intracaliceal yang cepat sehingga mengakibatkan
terjadinya ruptur.

16

Gambar 2.7. Mekanisme Trauma Ginjal


Trauma tumpul ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak
langsung. Trauma langsung biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu
lintas, olah raga, kerja atau perkelahian. Trauma ginjal biasanya menyertai
trauma berat yang juga mengenai organ organ lain. Trauma tidak langsung
misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan pergerakan ginjal secara
tiba tiba di dalam rongga peritoneum. Kejadian ini dapat menyebabkan
avulsi pedikel ginjal atau robekan tunika intima arteri renalis yang
menimbulkan trombosis.
Trauma tajam seperti tembakan dan tikaman pada abdomen bagian
atas atau pinggang merupakan 10 20 % penyebab trauma pada ginjal di
Indonesia. Trauma iatrogenik pada ginjal dapat disebabkan oleh tindakan
operasi atau radiologi intervensi, dimana di dalamnya termasuk retrograde
pyelography, percutaneous nephrostomy, dan percutaneous lithotripsy.
Dengan semakin meningkatnya popularitas dari teknik di atas, insidens
trauma iatrogenik semakin meningkat , tetapi kemudian menurun setelah
diperkenalkan ESWL.

Biopsi ginjal juga dapat menyebabkan trauma

ginjal.
Patut dicurigai adanya cedera pada ginjal jika terdapat :
1. Trauma di daerah pinggang, punggung, dada disebelah bawah, dan
perut dibagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan jejas pada
daerah itu.
2. Hematuria
3. Fraktur kosta sebelah bawah (T8-12) atau fraktur prosesus spinosus
vertebra
4. Trauma tembuh pada daerah abdomen dan pinggang
5. Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau
17

kecelakaan lalu lintas.


Gambaran klinis yang ditunjukkan oleh pasien trauma ginjal sangat
bervariasi tergantung pada derajat trauma dan ada atau tidaknya trauma
pada organ lain yang menyertainya. Perlu ditanyakan mekanisme
cederanya untuk memperkirakan luas kerusakan yang terjadi.
Pada trauma derajat ringan mungkin hanya didapatkan nyeri di
daerah pinggang, terlihat jejas berupa ekimosis, dan terdapat hematuria
makroskopik ataupun mikroskopik. Pada trauma major atau ruptur pedikel
sering kali pasien datang dalam keadaan syok berat dan terdapat hematoma
di daerah pinggang yang makin lama makin membesar. Dalam keadaan ini
mungkin pasien tidak sempat menjalani pemeriksaan PIV karena usaha
untuk memperbaiki hemodinamik seringkali tidak membuahkan hasil
akibat perdarahan yang keluar dari ginjal cukup deras. Untuk itu harus
segera dilakukan eksplorasi laparotomi untuk menghentikan perdarahan.10
Menurut derajat berat ringannya kerusakan pada ginjal, trauma
ginjal dibedakan menjadi :
1.

Cedera minor

2.

Cedera major

3.

Cedera pada pedikel atau pembuluh darah ginjal.


American Association for Surgery of Trauma membagi sesuai
dengan skala cedera organ (organ injury scale) cedera ginjal dibagi dalam
5 derajat sesuai dengan penemuan pada pemeriksaan pencitraan maupun
hasil eksplorasi ginjal. Sebagian besar (85%) trauma ginjal merupakan
cedera minor (derajat I dan II), 15 % termasuk cedera major (derajat III
dan IV) dan 1 % termasuk cedera pedikel ginjal.

18

Gambar 2.8. Trauma Ginjal Derajat I, II, dan III


Tabel 2.6. Derajat Kerusakan Ginjal
Derajat

Jenis kerusakan

Derajat I

Kontusio ginjal / hematoma perirenal, Terjadi lebih


kurang 85% dari trauma ginjal. Didapatkan hematoma
ginjal, tapi kapsul ginjal masih utuh.

Derajat II

Laserasi ginjal terbatas pada korteks.

Derajat III

Laserasi ginjal sampai pada medulla ginjal,


mungkin terdapat trombosis arteri segmental

Derajat IV

Laserasi mengenai sistem kalises ginjal

Derajat V

Avulsi pedikel ginjal, mungkin terjadi trombosis


arteri renalis
Ginjal terbelah

Jika tidak mendapatkan perawatan yang cepat dan tepat, trauma


major dan trauma pedikel sering menimbulkan perdarahan yang hebat dan
berakhir dengan kematian. Selain itu kebocoran sistem kaliks dapat
menimbulkan ekstrvasasi urine hingga menimbulkan urinoma, abses
perirenal, urosepsis, dan kadang menimbulkan fistula renokutan.
Dikemudian hari pasca cedera ginjal dapat menimbulkan penyulit berupa
hipertensi, hidronefrosis, urolitiasis, atau pielonefritis kronis.

b.5.

Penegakan Diagnosa Trauma Abdomen


Diagnosis trauma tembus dan tumpul abdomen pada prinsipnya berbeda.

Pada trauma tembus peritoneum kemungkinan cidera organ mencapai lebih dari
90%. Trauma tembus abdomen depan mudah diperiksa, sementara trauma tembus
regio flank/back sulit dievaluasi apakah tembus peritoneum karena tebalnya
jaringan antara kulit dan peritoneum. 1
Hal pertama yang dilakukan saat menghadapi pasien trauma dengan sebab
apapun ialah melakukan primary survey dalam rangka menyelamatkan pasien dari
ancaman jiwa segera. Semua tindakan pemeriksaan dilakukan sesederhana
19

mungkin dalam memastikan kondisi airway, breathing, dan circulation. Primary


survey dilakukan seitar 1-2 menit. Setelah primary survey selesai baru dilakukan
secondary survey berupa anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang yang
lengkap. 4,11
1. Anamnesis
Hal yang perlu diungkap dari pasien, keluarga, pengantar atau petugas
perujuk meliputi mekanisme trauma, waktu kejadian, kondisi ditempat
kejadian: kesadaran, tanda shock, dan kondisi terakhir sebelum dikirim. Juga
diungkap faktor yang mempengaruhi penyakit atau tindakan. Meliputi riwayat
alergi (allergies), obat yang biasa dipakai atau diberikan sebelumnya
(medication),

riwayat

penyakit

sebelumnya

(past

medical

history),

makan/minum terakhir (last meal / other intake), dan hal-hal yang


mempengaruhi kondisi pasien seperti lingkungan dingin (Event and enviroment
leading to presentation). Untuk memudahkan dapat disingkat AMPLE. 1,11
2. Pemeriksaan fisik
Trauma abdomen harus dianggap bagian dari multi trauma dan
pemeriksaannya tidak boleh terpaku pada abdomennya saja. Setelah menilai
keadaan umum penderita maka dilakukan pemeriksaan fisik :
a. Inspeksi
Dilihat apakah ada jejas. Jejas dikanan memberikan kewaspadaan
pada ruptur hepar. Jejas dikiri akan memberikan kewaspadaan akan ruptur
lien. Jejas ditengah memberikan kewaspadaan ruptur usus-lambung.
Periksalah dinding abdomen anterior dan posterior, pinggang, dada bawah,
pantat, penis, perineum dan vagina. Lihat contusio, abrasi, laserasi, dan luka
tusuk. 1,12
b. Palpasi
Adakah nyeri, defans mukular. Darah didalam kavum abdomen
akan merangsang peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri. Menilai
stabilitas pelvis untuk mengetahui adanya fraktur pelvis dan pemeriksaan
rektum (colok dubur) untuk menilai respon tonus sphinter, posisi prostat
dan untuk menentukan apakah ada tulang panggul yang patah. 1,12
c. Perkusi
20

Untuk mengetahui adakah cairan bebas dan apakah redup hati


menghilang atau berkurang. 1,12
d. Auskultasi
Mendengarkan bising usus. Baik pada perdarahan maupun pada
peritonitis bising usus akan melemah. Cedera pada struktur berdekatan
seperti tulang iga, tulang belakang atau panggul juga dapat menyebabkan
bising usus melemah, sehingga tidak adanya bising usus bukan berarti
pasti ada cedera intra abdomen. 1,12
3. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Darah dan Urin
Darah diambil dari salah satu vena dan dikirim untuk golongan
darah dan pemeriksaan laboratorium rutin untuk penderita yang
hemodinamiknya normal atau golongan darah dan crossmatch pada
penderita dengan hemodinamik abnormal dan juga untuk pemeriksaan
laboratorium khusus seperti pemeriksaan darah lengkap, potassium,
glukosa, amilase, tingkat alcohol, dan B-HCG untuk menentukan
kehamilan. Contoh urin dikirim untuk analisa urin, kadar obat diurin bila
dianggap perlu dan tes kehamilan (bila tidak dapat dilakukan pemeriksaan
darah). 8
2. Diagnostik Peritoneal Lavage
Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL) merupakan tes diagnostik
yang cepat dan akurat. DPL dilakukan untuk mengetahui lokasi perdarahan
intra abdomen. Pemeriksaan DPL dilakukan melalui anus, jika terdapt
darah segar dalam BAB atau sekitar anus berarti trauma non-penetrasi
(trauma tumpul) mengenai kolon atau usus besar, dan apabila darah hitam
terdapat pada BAB atau sekitar anus berarti trauma non-penetrasi (trauma
tumpul) usus halus atau lambung. Apabila telah diketahui hasil Diagnostic
Peritoneal Lavage (DPL), seperti adanya darah pada rektum atau pada saat
BAB.9
Perdarahan dinyatakan positif bila ditemukan sel darah merah lebih
dari 100.000 sel/mm3 dan lekosit sebanyak 500 sel/mm3, atau amilase 20
IU/L.9
21

Indikasi :
Trauma tumpul abdomen
i.

Penurunan sensorik, nyeri atau perubahan respon nyeri yang bisa


menimbulkan false negatif pada pemeriksaan fisik diagnostik
seperti trauma kepala, penyalahgunaan obat dan spinal cord injury.

ii.

Terjadi hypovolemia, hipotensi dan takikardi

iii.

Ditemukan tanda jejas di abdomen seperti fraktur kosta bagian


bawah, fraktur pelvis dan fraktur lumbal.

iv.

Tanda nyeri abdomen yang jelas dari peritonitis dengan local


tenderness.

v.

Penderita dalam keadaan general anastesi dicurigai ada trauma


abdomen, diperlukan DPL untuk diagnosa pasti.

vi.

Fraktur costa bagian bawah, terutama pada sisi kiri.

Luka Tusuk
i.

Indikasi bila hemodinamik penderita stabil tanpa tanda peritoneal


iritasi.

Luka Tembak
i.

DPL jarang dilakukan, mungkin dikerjakan bila penderita stabil


dengan trauma tembak kaliber peluru kecepatan rendah untuk
meyakinkan apakah luka tembak tersebut menembus cavum
peritoneum. (7)

Kontra indikasi :
i.

Ada indikasi jelas untuk laparotomi.

ii.

Kehamilan.

iii.

Riwayat laparotomi.

iv.

Secara teknik sulit untuk dilakukan misalnya pada obesitas.

v.

Didapatkan tanda tanda koagulopati.

c. Rontgen Foto
Pada kecurigaan adanya perforasi usus atau peritonitis dapat dibuat
foto BOF untuk melihat adanya udara bebas dibawah diafragma. BOF juga
dapat dibuat untuk menentukan jalan peluru pada trauma tembak.
Pemeriksaan foto cervical, thorax, dan pelvis adalah pemeriksaan yang
22

harus dilakukan pada penderita dengan multi trauma.13


Pencitraan pada trauma ginjal, jenis pencitraan yang diperiksa
tergantung pada keadaan klinis dan fasilitas yang dimiliki oleh fasilitas
kesehatan yang bersangkutan. Pemeriksaan IVP dapat dilakukan untuk
menilai fungsi ekskresi ginjal dan anatomis saluran kencing hingga uretra.9
dan 10

Pembuatan IVP dikerjakan jika diduga ada :


1.

Luka tusuk atau luka tembak yang mengenai ginjal.

2.

Cedera tumpul ginjal yang memberikan tanda-tanda hematuria


makroskopik.

3.

Cedera tumpul ginjal yang memberikan tanda-tanda hematuria


mikroskopik dengan disertai syok.10
Pada beberapa klinik, dugaan cedera tumpul pada ginjal yang

menunjukkan tanda hematuria mikroskopik tanpa disertai syok melakukan


pemeriksaan ultrasonografi sebagai pemeriksaan penyaring. Pemeriksaan
USG ini diharapkan dapat menemukan adanya kontusio parenkim ginjal
atau hematoma subkapsuler. Dengan pemeriksaan ini dapat pula
diperhatikan adanya robekan kapsul ginjal.9,10
Jika IVP belum dapat menerangkan keadaan ginjal, misalkan pada
ginjal non visualized, perlu dilakukan pemeriksaan CT scan atau
arteriografi. Pemeriksaan IVP pada kontusio renis sering menunjukkan
gambaran sistem pelvikalises normal. Dalam keadaan ini pemeriksaan
ultrasonografi abdomen dapat menunjukkan adanya hematoma parenkim
ginjal yang terbatas pada subkapsuler dan dengan kapsul ginjal yang masih
utuh. Kadang kala kontusio renis yang cukup luas menyebabkan
hematoma dan edema parenkim yang hebat sehingga memberikan
gambaran sistem pelvikalises yang spastik atau bahkan tak tampak (non
visualized). Sistem pelvikalises yang tak tampak pada IVP dapat pula
terjadi pada ruptur pedikel atau pasien yang dalam keadaan syok berat
pada saat menjalani pemeriksaan IVP.9,10
Pada derajat IV tampak adanya extravasasi kontras, hal ini karena
terobeknya sistem pelvikalises ginjal. Ekstravasasi ini akan tampak
23

semakin luas pada ginjal yang mengalami fragmentasi (terbelah) pada


derajat V.9,10
Di fasilitas pelayanan kesehatan yang telah maju, peranan IVP
sebagai alat diagnosis dan penentu derajat trauma ginjal mulai digantikan
oleh CT scan. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya robekan
jaringan ginjal, ekstravasasi kontras yang luas, dan adanya nekrosis
jaringan ginjal. Selain itu pemeriksaan ini dapat mendeteksi adanya trauma
pada organ lain.9,10
d. Ultrasonografi (USG)
Sangat berguna untuk mendeteksi secara cepat pada pasien dengan
hemodinamik tidak stabil, yairu dengan teknik focused assesment forthe
sonographic examination of trauma (FAST). FAST memeriksa adanya
cairan abnormal di bagian terendah dari rongga peritoneum. Dilakukan
pemeriksaan pada 4 tempat yaitu epigatrium, flank kanan dan kiri, dan
suprasimfisis. .2, 9,14
Pada epigastrium FAST dapat mendeteksi cairan subdiafragma dan
hemoperikardium. Pada flank kanan dapat dideteksi cairan di Morisson
pouch (resesus hepatorenalis) yang terlihat sebagai garis hitam ( black strip
sign ), juga dapat menilai ren kanan dan hepar. Pada flank kiri dapat
mendeteksi cairan di resesus lienorenalis, lien dan ren kiri. Pada
suprasimfisis dapat mendeteksi cairan di kavum pelvis yaitu kavum
Douglass

(ekskavasio

rektouterina)

rektovesikalis pada pria.2, 9,14

24

pada

wanita

dan

ekskavasio

Gambar 2.9. teknik focused assesment forthe sonographic examination of


trauma (FAST)
Keuntungan USG meliputi aman, tidak nyeri, mudah didapat, cepat
dipersiapkan, non radiasi, multiplanar, gambaran bisa terlihat langsung,
tidak memerlukan preparasi pasien. Kelemahan USG tidak dapat
memvisualisasi organ dibalik tulang, gas (udara), juga dependent operator.
Gelombang USG hanya berasal dari satu arah sehingga bila ada 2 obyek
sama besar tetapi berbeda jarak dari tansduser maka akan berbeda ukuran. 1
Pemeriksaan USG bergantung pada keterampilan operator sehingga
memerlukan training. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan untuk penderita
dengan hemodinamik tidak stabil dan bisa memfollow up tentang
bertambahnya cairan (darah). Indikasi sama dengan DPL. Menilai adanya
cairan dlm rongga abdomen dengan jumlah cairan minimum 200 cc.
keunggulan USG memiliki sensitivitas tinggi, non invasive, dan dapat
dilakukan bedside2
e. CT Scan Abdomen

Dengan triple contrast menjadi populer pada kasus trauma tembus


regio flank / back. CT scan dapat mendeteksi ruptur organ padat, cairan
bebas intra abdomen, dan cairan retroperitoneum. Mempunyai sensitivitas
100% dan spesifisitas 96%, akurasi 97%, nilai prediksi negatif 100%. Juga
dapat menentukan alur tusukan /tembakan. Ginzer mendapatkan spesifisitas
54% nilai prediksi negatif 100%, dan akurasi 71% untuk kasus trauma
tembus abdomen depan dan spesifisitas 98%, nilai prediksi negatif 100%,
dan akurasi 98% untuk daerah flank. 1,8
Indikasi dilakukan CT scan adalah keadaan Delayed presentation
yakni gejala muncul lebih dari 24 jam setelah trauma, hasil DPL yang
meragukan, kecurigaan trauma retroperitoneal seperti adanya hematuria
tanpa trauma urethra atau buli-buli.2
Pemeriksaan

CT

scan

merupakan
25

pemeriksaan

non-invasif.

Hemodinamik

harus

stabil

dan memerlukan

transport

ke tempat

pemeriksaan. Biaya pemeriksaan cukup tinggi. Sensitivitas tinggi untuk


cairan dan darah dalam rongga intra dan retroperitoneal. Spesivisitas tinggi
untuk organ solid (hepar dan lien). Pada keadaan tertentu memerlukan
kontras untuk pemeriksaan. Dapat menjelaskan adanya perforasi usus.2
f. Laparotomi Eksplorasi
Pelaksanaan laparotomi eksplorasi memerlukan operator yang
berkompeten yang memerlukan anestesi. Laparotomi eksplorasi dapat
untuk mengevaluasi trauma hepar ringan dan perdarahan dalam cavum
abdomen sudah berhenti atau belum sehingga dapat mencegah laparotomi
yg tidak perlu.2
2.4.

Penatalaksanaan

1. Hal pertama yang dilakukan saat menghadapi pasien trauma dengan sebab
apapun ialah melakukan primary survey dalam rangka menyelamatkan pasien
dari ancaman jiwa segera. Semua tindakan pemeriksaan dilakukan
sesederhana mungkin dalam memastikan kondisi airway, breathing, dan
circulation (ABC). (1)
2. Pemasangan gastric tube untuk mengurangi dilatasi gastric yang akut,
dekompresi abdomen, sebelum melakukan diagnostic peritoneal lavage dan
mengeluarkan isi abdomen sehingga mengurangi resiko aspirasi. (3)
3. Pemasangan kateter kandung kencing untuk mengatasi retensi urin,
dekompresi kandung kemih sebelum melakukan DPL dan pemantauan
produksi urin sebagai indeks perfusi jaringan. Hati-hati pada keadaan patah
panggul yang tidak stabil, darah pada meatus, hematom pada skrotum,
diskolorisasi pada perineum atau prostat yang tinggi pada pemeriksaan rectal,
harus dilakukan uretrogram terlebih dahulu untuk memastikan uretra yang
utuh sebelum pemasangan kateter. (3) (5)
4. Bila jelas diketahui ada perdarahan di dalam abdomen yang didapat dalam
pemeriksaan umum (anemia shock gelisah, ada cairan bebas dalam cavum
abdomen) maka tindakannya adalah resusitasi cairan, tranfusi dan melakukan

26

laparotomi. Pada laparotomi akan dilakukan eksplorasi dengan prioritas organ


padat yaitu hepar dan lien, kemudian tempat lain.
a. Hepar
Bila didapatkan ruptur hepar maka dilakukan debridement dan
penjahitan. Pada kerusakan yang berat kita dapat melakukan reseksi
hepar. Penanganannya meliputi Pringle manuver (klem porta hepatis
sampai 60 menit), ligasi arteri hepatika.
b. Lien
Pada ruptur lien diusahakan melakukan penjahitan terutama pada anak
karena lien masih diperlukan dalam system kekebalan. Namun bila
kerusakan berat maka dapat dilakukan partial splenektomi atau
splenektomy.
c. Ginjal
Hampir semua trauma tumpul pada ginjal ditangani secara konservatif.
Indikasi untuk eksplorasi termasuk ekspanding perirenal hematoma,
persistent renal derived hemorrhage, dan perdarahan pembuluh darah
besar renal
Pada setiap trauma tajam yang diduga mengenai ginjal harus difikirkan
untuk melakukan tindakan eksplorasi, tetapi pada trauma tumpul,
sebagian besar tidak memerlukan operasi. Terapi yang dikerjakan pada
trauma ginjal adalah :
1. Konservatif
Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor. Pada
keadaan ini dilakukan observasi tanda-tanda vital (tensi, nadi, dan
suhu tubuh), kemungkinan adanya penambahan massa dipinggang,
adanya penambahan lingkar perut, penurunan kadar hemoglobin
darah, dan perubahan warna urineObservasi
pada pemeriksaan urine serial.
Jika selama observasi Didapatkan
didapatkan adanya tanda-tanda
perdarahan atau Tanda
kebocoran
urine yang menimbulkan suhu
infeksi,
harus
vital terganggu
tubuh naik
segera dilakukan tindakan operasi.

Massa dipinggang membesar

massa dipinggang

membesar
HB turun, Urine > pekat

27

Merupakan Tanda perdarahan > hebat


dari kebocoran

Segera eksplorasi

merupakan tanda

drainase

Bagan 2.1. Observasi Trauma Ginjal


2. Operasi
Operasi ditujukan pada trauma ginjal major dengan tujuan
untuk segera menghentikan perdarahan. Selanjutnya mungkin perlu
dilakukan debridement, reparasi ginjal (berupa renorafi atau
penyambungan vaskuler) atau tidak jarang harus dilakukan
nefroktomi parsial bahkan nefroktomi total karena kerusakan ginjal
yang berat.9
a. Pancreas
Trauma pada pancreas

yang tidak mengenai duktus ,

lakukan drainage yang adequate dengan atau tanpa penjahitan.


Bila mengenai duktus , lakukan distal pancreatectomy bila
trauma mengenai corpus atau tail, diperbolehkan melakukan
drainage roux en Y atau repair duktus. Bila trauma mengenai
caput hanya dengan drainage.
b. Duodenum

Duodenal hematome
Bila ditemukan pada saat explorasi, mobilisasi duodenum,
evacuasi hematome, lakukan hemostasis, carilah perforasi
mucosa.

Trauma duodenum

28

Kebanyakan dilakukan repair primer dengan atau tanpa


duodenostomy tube. Pada trauma lebih berat diperlukan
reseksi, patching serosa.
c. Usus halus
Pada perforasi usus dilakukan penjahitan primer, kecuali
bila usus tidak diharapkan hidup, misalnya robeknya pembuluh
darah mesenterika yang menyebabkan usus kebiruan karena
kekurangan darah, pada keadaan ini harus dilakukan reseksi
dan anastomose usus.
d. Colon
Pada kebanyakan trauma dilakukan repair primer atau
reseksi dan anastomosis. Kolostomi selalu dilakukan pada
trauma colon kiri dengan kontaminasi fecal, diikuti trauma lain,
adanya shock atau keterlambatan terapi. 14
Indikasi explorasi laparotomi :
i.

Adanya tanda-tanda rangsangan peritoneal

ii.

Diagnostik peritoneal lavage didapatkan :

Darah > 5 cc
RBC>100.000/mm3(blunt),>10.000/mm3 (penetrating)
WBC >500/mm3
Fecal contamination
Amylase > serum amylase
Lavage, fluid of chest tube atau bladder catheher

2.7.

iii.

Ruptur diapragma

iv.

Trauma vesica urinaria intra peritoneal. 14

Komplikasi
Komplikasi bedah yang terjadi antara lain:
1. Perdarahan lokal yang membutuhkan evakuasi
2. Perdarahan dalam yang membutuhkan reeksplorasi
3. Infeksi paru-paru dengan bukti kultur sputum positif dengan atau tanpa
pireksi atau perubahan gambaran foto rongten paru;
29

4. Luka infeksi: selulitis, discharge purulent luka operasi


5. Infeksi saluran kencing
6. Infeksi intraabdominal: konfirmasi klinik dengan pemeriksaan penunjang
7. Septikemia: kultur darah positif
8. Demam tanpa kausa yang jelas
9. Dehisensi luka operasi
10. Deep venous thrombosis
11. Emboli paru
12. Gagal jantung
13. Gagal napas yang membutuhkan ventilator
14. Gangguan fungsi ginjal: peningkatan urea post operasi di atas 5 mmol/L
15. Leakage anastomisis. 1
2.8.

Prognosis
Mortalitas dipengaruhi besar cidera, organ yang terkena dan penanganan

yang diberikan. Pada trauma hepar mortalitas akibat trauma tumpul 2530 %,
trauma tembakan 9% dan trauma tusuk 6%. Trauma hepar disertai reseksi hepar
mortalitasnya sampai 57%, bila disertai cidera vena hepatika lebih dari 70%
sedang isolated liver injury hanya 5%. Sementara mortalitas peritonitis bilus
karena trauma hepar 85%. Cidera lien tanpa penanganan pembedahan
mengakibatkan mortalitas sampai 80%, sedang bila dilakukan pembedahan
mortalitasnya hanya 1%. Keterlambatan diagnosis atau delayed ruptur
meningkatkan mortalitas 10%. Sedang mortalitas karena overwheelming post
spleenectomy infection (OPSI) pada anak hanya 2 % sedang pada dewasa 1%. 1
Cidera kolon mempunyai mortalitas sampai 10%, sedang survival cidera
ileum/jejunum sangat bagus (excelent). Cidera pada duodenum bila dilakukan
penanganan kurang 24 jam mortalitasnya 5%, tetapi bila lewat 24 jam 65%.
Cidera pankreas akibat trauma tajam mortalitasnya 25%, sedang akibat trauma
tumpul 50%. Keterlambatan diagnosis mortalitasnya 75%. Penanganan sebelum
12 jam mortalitasnya di bawah 10%.1
Mortalitas akibat ruptur aorta mencapai 7590%, ruptur vena kava 25%,
vena hepatika mencapai 80% dan vena porta 67%. Mortalitas akibat cidera ginjal
30

mencapai 3345 %. Secara umum sebagian besar ahli menyebut dengan


penanganan yang baik besarnya mortalitas yang timbul antara 5 9%. 1

BAB III
RESPONSI ILMU BEDAH
RSU HAJI SURABAYA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Pembimbing

: Dr.dr. Koernia Swa Oetomo, Sp. B FINACS (K) TRAUMA.


FICS

Oleh
I.

: Moh Rezki Widiansyah


IDENTITAS PASIEN
31

(201320401011088)

Nama

: An. Yusuf Andrean

Umur

: 9 Tahun 11 Bulan

Berat badan

: 25 kg

Tinggi badan

: 140 cm

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Panjang Jiwo II-A/25 Surabaya

Pekerjaan

: Siswa

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Waktu Kejadian : 22 Januari 2014 pukul 13.30


Datang ke UGD : 23 Januari 2014 pukul 10.00

II.

MRS

: 23 Januari 2014 pukul 12.50 (1C- D2)

No.Registrasi

: 684256

ANAMNESA
1. Keluhan Utama : Nyeri perut
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke UGD dengan keluhan nyeri perut. Nyeri dirasakan
sejak tanggal 22 januari 2014 sewaktu pulang dari sekolah. Nyeri
dirasakan terus menerus di semua bagian perut. Saat ditanya oleh kedua
orang tuanya, pasien mengaku habis jatuh saat bermain disekolah.
Keesokan harinya tepat tanggal 23 januari 2013 jam 07.00 pagi orang
tua pasien diberitahu oleh teman pasien kalau pasien kemarin pada
waktu pulang sekolah terjatuh dari sepeda pancal, saat terjatuh perut
pasien mengenai bagian setir sepada. Pasien saat itu dalam kondisi sadar
namun mengeluh kesakitan didaerah perut. lalu sekitar jam 10.00 pasien
dibawa kedua orang tua ke UGD RSU Haji Surabaya, pasien nampak
pucat setelah ditanya oleh petugas yang ada di ugd pasien hanya
mengaku nyeri pada seluruh bagian perut, mual (+), muntah (+)
sebanyak 2x saat malam dan pagi hari muntah berupa cairan, darah (-),
muntah sebanyak setengah gelas kecil, bab (-), terakhir kali bab sebelum
jatuh (-), Kentut (-), nafsu makan/minum menurun.
32

3. Riwayat Penyakit Dahulu :


HT disangkal, DM disangkal, tidak pernah menderita sakit seperti
ini sebelumnya
4. Riwayat Penyakit Keluarga : Keluarga tidak ada yang sakit seperti ini
5. Riwayat Penyakit Sosial :
Merokok (-), alkohol (-), obat-obatan (-)
III. HASIL PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Umum
Keadaan umum

: lemas

Kesadaran / GCS : compos mentis / 4-5-6


Vital sign

: Tensi : 100/70 mmHg


Nadi

: 150x/menit

RR : 40x/menit
Tax : 37,8C

Status Generalis
Kepala/wajah

: A/I/C/D +/-/-/-

Leher

: Pembesaran KGB dan kelenjar Thyroid (-)

Thorax

: Gerak nafas simetris, retraksi (-)


Jantung : S1S2 tunggal, Murmur (-), Gallop (-)
Pulmo : Rh -/-, Wh -/-

Abdomen

I : simetris
P : supel, nyeri tekan (+) di seluruh abdomen, H/L/R

ttb
P : pekak R. Hipogastrica
A : BU (+) meningkat , Defans Muscular (+),
Ekstremitas

: Akral hangat (+), Oedem (-), CRT < 2 detik

Status Lokalis:
- I : simetris
- P : supel, nyeri tekan (+) diseluruh regio abdomen, H/L/R ttb
- P : pekak R. Hipogastrica
- A : BU (+) meningkat
IV. DIAGNOSIS :
33

V.

Trauma tumpul abdomen

PENATALAKSANAAN
Tx : pro operasi Laparotomi dengan resiko tinggi (tanggal 24 januari 2014)

VII. PLANNING
Dx :

- DL
- UL
- RFT
- GDP, GD2JPP
- BOF
- USG urologi + prostat

Tx :

- MRS
- Infus DS NS 100ml/24 jam
- Kalbamin 250 ml/24 jam
Antrain 4x250mg iv
Ondancetron 2x2 mg iv ampul
Neurosanbe 1x1/2 ampul drip
- Pro Laparotomi

Monitoring :
- Keluhan
- Vital sign (setiap 15 menit)
- Produksi urin
Edukasi :
- menjelaskan tentang penyakit dan prognosanya
- puasa
- NGT terbuka
- menjelaskan tentang tindakan yang akan dilakukan dan
komplikasi yang mungkin terjadi setelah op.
- aktifitas post op, tidak boleh terlalu keras
VI. KOMPLIKASI
Pada kasus ini tidak didapatkan komplikasi.

VII. PROGNOSIS
Dubia ad bonam
34

VIII. LAMPIRAN

Gambar : pasien setelah dilakukan operasi laparotomi pada tanggal 26 Januari


2014 didapatkan adanya trauma abdomen e.c ruptur jejunum

DAFTAR PUSTAKA
1. Simeone AA, Frankel HL, Velmahos G. Abdominal Injury. In: Peitzman AB,
Rhodes M, Schwab CW, Yealy DM, Fabian TC. Third Edition, The Trauma
Manual: Trauma And Acute Care Surgery. Philadelphia. Lippincott Williams &
Wilkins; 2008:243-271.
2. Oetomo, Koernia S. Bedah Gawat Darurat. Surabaya, Rumah Sakit Umum Haji.
2009:25-34.
3. Mansjoer, arif dkk. Trauma Abdomen. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga,
jilid 2.Media Aesculapius FKUI. Jakarta .2000. hal 313-317

35

4. Cigdem MK, Onen A, Siga M, Otcu S. Selective nonoperative management of


penetrating abdominal injuries in children. J Trauma. Dec 2009;67(6):1284-6;
discussion 1287.
5. IKABI. 2004. Advanced Trauma Life Support Program Untuk dokter.First
Inpression United State Of America. Diterjemahkan dan dicetak oleh Komisi
Trauma IKABI.
6. Soewandi, S. Akut Abdomen Pada Alat Pencernaan orang dewasa. Diambil
dari :http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/11_. Diakses tanggal 11 Juli 2011
7. Warsinggih, dr. Trauma Abdomen. Sub Bagian Bedah Digestif FK UNHAS.
Diambil

dari

http://zagirmim.blogspot.com/2009/11/trauma-

tumpul-abdomen.html. diakses tanggal 11 Juli 2011


8. Erfandi.

2009.

http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/23/traumaabdomen. diakses tanggal 11 Juli 2011


9. Qauliyah,

Asta.

2009.

http://astaqauliyah.com/2010/03/referat-

kedokteran-pemilihan-cairan-pengganti-pada-perdarahan-akut/.
Diakses tanggal 10 Juli 2011
10. Wyatt, Jonathon; Illingworth, RN. Graham, CA. Clancy, MJ. Robertson,
CE (2006). Oxford Handbook of Emergency Medicine. Oxford University
Press. p. 346. ISBN 978-0-19-920607-0.

11. Jong, Wim De, dkk. 2005. Trauma dan Bencana Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah.
Edisi 2. Jakarta: EGC.
12. Mattox L,Kenneth. Trauma Sixth Edition, 2008, Department of Surgery
Baylor College of Medicine Chief of Staff Chief of Surgery Ben Taub
General Hospital Houston, Texas

13. Pramugyono, 2004. Penerapan Possum / P-Possum Pada

Pasien Trauma

Abdomen Yang Dilakukan Laparotomi Eksplorasi. SMF bedah, Universitas


Gajahmada;

Yogjakarta.

http://puspasca.ugm.ac.id/files/(2634-H-2004).pdf

(diakses 06 November 2009)


36

14. Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Proses Penyakit, Jakarta,
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

37