Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup dan menjalankan

seluruh aktivitasnya sebagai individu dalam kelompok sosial, komunitas,

organisasi maupun masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap

manusia berinteraksi dengan sesamanya. Oleh karena itu, manusia tidak

dapat menghindari dari suatu tindakan yang disebut komunikasi. Disadari

atau tidak, komunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia itu

sendiri.

Di sisi lain, untuk menjalin rasa kemanusiaan yang akrab, diperlukan

saling pengertian diantara sesama anggota masyarakat. Dalam hal ini

komunikasi memainkan peranan penting, apalagi bagi manusia modern.

Manusia modern adalah manusia yang cara berpikirnya berdasarkan

logika dan rasional atau penalaran dalam menjalankan segala

aktivitasnya. Keseluruhan aktivitas itu akan terselenggara dengan baik

melalui komunikasi antar pribadi.

Komunikasi merupakan suatu proses dua arah yang menghasilkan

pertukaran informasi dan pengertian antara masing-masing individu yang

terlibat. Komunikasi merupakan dasar dari seluruh interaksi antar

manusia. Komunikasi merupakan kebutuhan hakiki dalam kehidupan

manusia untuk saling tukar menukar informasi. Karena tanpa komunikasi,


interaksi antar manusia baik yang dilakukan secara perorangan, kelompok

maupun organisasi tidak akan mungkin terjadi. Manusia memerlukan

kehidupan sosial, yaitu kehidupan bermasyarakat. Sebagian besar

interaksi manusia berlangsung dalam situasi komunikasi interpersonal

(komunikasi antar pribadi).

Komunikasi antar pribadi sangat penting dilakukan untuk mendukung

kelancaran komunikasi dalam organisasi. Sistem komunikasi serta

hubungan antar pribadi yang baik akan meminimalisir kesenjangan antara

berbagai pihak dalam organisasi dan meminimalisir rasa saling tidak

percaya serta kecurigaan di lingkungan kerja. Komunikasi yang baik

merupakan mediator dalam proses kerjasama dan transformasi informasi

dalam mendukung kemajuan organisasi. Komunikasi yang baik

senantiasa menimbulkan iklim keterbukaan, demokratis, rasa tanggung

jawab, kebersamaan dan rasa memiliki organisasi.

Mampu melakukan interaksi merupakan anugerah yang tidak ternilai

harganya yang dimiliki setiap manusia, meski dalam kenyataanya banyak

kendala yang akan dihadapi tiap-tiap individu dalam melakukan interaksi

melalui komunikasi. Proses komunikasi yang berlangsung secara tatap

muka, sehingga memungkinkan pesertanya dapat menangkap reaksi yang

ditimbulkan. Hal ini yang sering menjadi permasalahan saat dua individu

atau lebih yang memiliki kepribadian dan karakter berbeda saling

melakukan interaksi, terkadang ada hal-hal yang ditimbulkan dan

menjadikan situasi menjadi tidak nyaman.


Setiap individu memiliki cara berfikir yang berbeda, terutama dalam

menyelesaikan suatu permasalahan. Ada yang bersikap santai, ada yang

bersikap cuek seperti tidak memiliki masalah, bahkan ada yang mensikapi

sesuatu dengan emosi. Hal ini di pengaruhi karena masing-masing

individu memiliki karakteristik yang berbeda, cara berkomunikasi yang

berbeda, dan terkadang semua itu menjadi masalah dalam kehidupan

sehari hari. Hal ini sering menjadi penghambat dalam menciptakan

komunikasi yang efektif, sikap emosional yang berlebihan bagi masing-

masing individu saat menghadapi situasi tertentu dapat memperburuk

proses komunikasi. Suatu ketika terdapat sedikit masalah yang

sebenarnya sepele, dan mestinya bisa diselesaikan dengan baik. Akan

tetapi jika disikapi dengan emosional, maka hal itu akan menjadi

bumerang dan akan memperkuat ego dari individu tersebut yang akan

berdampak pada terhambatnya proses komunikasi yang efektif.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi interpersonal ?
2. Apa sajakah tujuan dari komunikasi interpersonal?
3. Bagaimana model-model komunikasi interpersonal?
4. Bagaiman caranya melakukan komunikasi interpersonal yang efektif?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian dari komunikasi interpersonal
2. Memahami tujuan komunikasi interpersonal
3. Menjelaskan model-model komunikasi interpersonal
4. Mengetahui cara melakukan komunikasi interpersonal yang efektif

D. Manfaat Penulisan
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan manfaat baik

secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis makalah ini berguna

sebagai pengembangan konsep Interpersonal Employee Relation


mengenai Komunikasi Interpersonal. Secara praktis makalah ini

diharapkan bermanfaat bagi :


1. Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep

keilmuan
khususnya tentang konsep Interpersonal Employee Relation.
2. Pembaca, sebagai media informasi tentang konsep Interpersonal
Employee Relation mengenai Komunikasi Interpersonal.

E. Metode Penulisan
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Melalui metode

ini penulis akan menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas

dan komprehensif. Data teoritis dalam makalah ini dikumpulkan dengan

menggunakan studi pustaka, artinya penulis mengambil data melalui

media pustaka dalam penyusunan makalah ini dan ditambah referensi dari

media internet. Dengan meyebutkan berbagai sumber untuk penulisan

makalah ini, selain itu juga penulis menggunakan metode kepustakaan

untuk mendapatkan data yang mendukung makalah ini.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Komunikasi Interpersonal

Kamus Psikologi (Rakhmat, 2001) mendefinisikan komunikasi sebagai

penyampaian energi, gelombang suara dan tanda di antara tempat sebagai

proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang bermakna sebagai

paduan pikiran dan perasaan berupa ide, informasi, kepercayaan, harapan,

imbauan, dan sebagainya, yang dilakukan seseorang kepada orang lain, baik

langsung secara tatap muka maupun tidak langsung melalui media dengan
tujuan mengubah sikap, pandangan atau perilaku. Kata komunikasi ini

sendiri berasal dari bahasa Latin communicatio yang berarti pergaulan,

persatuan, peran serta, dan kerjasama. Kata komunikasi bersumber dari

istilah communis yang berarti sama makna.[1]

Komunikasi sebagai suatu proses pengiriman dan penyampaian pesan

baik berupa verbal (kata-kata) maupun non verbal (gerakan) oleh seseorang

kepada orang lain untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung

secara lisan, maupun tidak langsung melalui media. Komunikasi yang baik harus

disertai dengan adanya jalinan pengertian antara kedua belah pihak (pengirim

dan penerima), sehingga yang dikomunikasikan dapat dimengerti dan

dilaksanakan.

Secara konstektual, komunikasi interpersonal digambarkan sebagai suatu

komunikasi antara dua individu atau sedikit individu, yang mana saling

berinteraksi, saling memberikan umpan balik satu sama lain. Namun,

memberikan definisi konstektual saja tidak cukup untuk menggambarkan

komunikasi interpersonal karena setiap interaksi antara satu individu dengan

individu lain berbeda-beda.

Arni Muhammad menyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah

proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang

lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui

balikannya.[2]
Menurut Mulyana, komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang

hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid

dan sebagainya.[3]

Effendi mengemukakan, komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar

komunikator dengan komunikan, komunikasi jenis ini dianggap paling efektif

dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena

sifatnya yang dialogis berupa percakapan. Arus balik bersifat langsung,

komunikator mengetahui tanggapan komunikan ketika itu juga.[4]

Komunikasi interpersonal menurut Joseph A. Devito dalam bukunya The

Interpersonal Communication Book adalah The process of sending and

receiving messages between two persons, or among a small group of persons,

with some effect and some immediate feedback.[5] Proses pengiriman dan

penerimaan pesan-pesan antara dua orang, atau diantara sekelompok kecil

orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika.

Menurut M. Ghojali Bagus A.P, S.Psi. dalam Buku Ajar Psikologi

Komunikasi, komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan kepada

pihak lain untuk mendapatkan umpan balik, baik secara langsung (face to face)

maupun dengan media.[6]

Miller dan Steinberg, Komunikasi interpersonal adalah Communication

That occurs within interpersonal relationship.[7] Komunikasi terjadi dalam

hubungan interpersonal yang maksudnya adalah proses komunikasi yang terjadi


saat melakukan hubungan interpersonal yaitu hubungan antara dua orang atau

lebih dalam menyampaikan pesan, ide, gagasan, cerita, dan sebagainya yang

tujuannya melakukan komunikasi atau percakapan yang efektif.

Dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal merupakan proses

penyampaian informasi, pikiran dan sikap tertentu antara dua orang atau lebih

yang terjadi pergantian pesan baik sebagai komunikan maupun komunikator

dengan tujuan untuk mencapai saling pengertian, mengenai masalah yang akan

dibicarakan yang akhirnya diharapkan terjadi perubahan perilaku.

Dari pengertian komunikasi interpersonal yang telah diuraikan di atas,

dapat diidentifikasikan beberapa komponen yang harus ada dalam komunikasi

interpersonal. Menurut Suranto A.W, komponen-komponen komunikasi

interpersonal yaitu:[8]

1) Sumber / komunikator

Merupakan orang yang mempunyai kebutuhan untuk

berkomunikasi, yakni keinginan untuk membagi keadaan internal sendiri,

baik yang bersifat emosional maupun informasional dengan orang lain.

Kebutuhan ini dapat berupa keinginan untuk memperoleh pengakuan sosial

sampai pada keinginan untuk mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang

lain. Dalam konteks komunikasi interpersonal komunikator adalah individu yang

menciptakan, memformulasikan, dan menyampaikan pesan.

2) Encoding
Encoding adalah suatu aktifitas internal pada komunikator dalam

menciptakan pesan melalui pemilihan simbol-simbol verbal dan non verbal,

yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata bahasa, serta disesuaikan

dengan karakteristik komunikan.

3) Pesan

Merupakan hasil encoding. Pesan adalah seperangkat simbol-simbol

baik verbal maupun non verbal, atau gabungan keduanya, yang mewakili

keadaan khusus komunikator untuk disampaikan kepada pihak lain.

Dalam aktivitas komunikasi, pesan merupakan unsur yang sangat

penting. Pesan itulah disampaikan oleh komunikator untuk diterima dan

diinterpretasi oleh komunikan.

4) Saluran

Merupakan sarana fisik penyampaian pesan dari sumber ke penerima

atau yang menghubungkan orang ke orang lain secara umum. Dalam

konteks komunikasi interpersonal, penggunaan saluran atau media

semata-mata karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan dilakukan

komunikasi secara tatap muka.

5) Penerima/ komunikan

Adalah seseorang yang menerima, memahami, dan menginterpretasi

pesan. Dalam proses komunikasi interpersonal, penerima bersifat aktif,

selain menerima pesan melakukan pula proses interpretasi dan memberikan

umpan balik. Berdasarkan umpan balik dari komunikan inilah seorang

komunikator akan dapat mengetahui keefektifan komunikasi yang telah

dilakukan, apakah makna pesan dapat dipahami secara bersama oleh kedua

belah pihak yakni komunikator dan komunikan.


6) Decoding

Decoding merupakan kegiatan lain secara umum. Pentafsiran si

penerima pesan (komunikan) ketika mendapatkan pesan dari (komunikator).

7) Respon

Yakni apa yang telah diputuskan oleh penerima untuk dijadikan sebagai

sebuah tanggapan terhadap pesan. Respon dapat bersifat positif, netral,

maupun negatif. Respon positif apabila sesuai dengan yang dikehendaki

komunikator. Netral berarti respon itu tidak menerima ataupun menolak

keinginan komunikator. Dikatakan respon negatif apabila tanggapan yang

diberikan bertentangan dengan yang diinginkan oleh komunikator.

8) Gangguan (noise)

Gangguan atau noise atau barier beraneka ragam, untuk itu harus

didefinisikan dan dianalisis. Noise dapat terjadi di dalam komponen-

komponen manapun dari sistem komunikasi. Noise merupakan apa saja

yang mengganggu atau membuat kacau penyampaian dan penerimaan pesan,

termasuk yang bersifat fisik dan psikis.

9) Konteks komunikasi

Komunikasi selalu terjadi dalam suatu konteks tertentu, paling tidak ada

tiga dimensi yaitu ruang, waktu, dan nilai. Konteks ruang menunjuk pada

lingkungan konkrit dan nyata tempat terjadinya komunikasi, seperti

ruangan, halaman dan jalanan. Konteks waktu menunjuk pada waktu

kapan komunikasi tersebut dilaksanakan, misalnya: pagi, siang, sore, malam.

Konteks nilai, meliputi nilai sosial dan budaya yang mempengaruhi suasana

komunikasi, seperti: adat istiadat, situasi rumah, norma pergaulan, etika,

tata krama, dan sebagainya.


Komunikasi interpersonal merupakan suatu proses pertukaran makna

antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Orang yang saling berkomunikasi

tersebut adalah sumber dan penerima. Sumber melakukan encoding untuk

menciptakan dan memformulasikan menggunakan saluran. Penerima melakukan

decoding untuk memahami pesan, dan selanjutnya menyampaikan respon atau

umpan balik. Tidak dapat dihindarkan bahwa proses komunikasi senantiasa

terkait dengan konteks tertentu, misalnya konteks waktu. Hambatan dapat terjadi

pada sumber, encoding, pesan, saluran, decoding, maupun pada diri penerima.

Prosesnya adalah sebagai berikut : Terdapat seorang komunikator yang ingin

menyampaikan pesannya (message). Pesan tersebut diekspresikan (encoded)

melalui berbagai lambang dalam bahasa. Bahasa tersebut mungkin berupa

simbol kata-kata, simbol-simbol matematik, diagram, sentuhan dan seterusnya.

Pesan disampaikan melalui perantaraan. Berbagai media komunikasi digunakan

dalam organisasi meliputi: percakapan tatap muka, percakapan telepon, memo-

memo tertulis, sistem alamat umum, serta banyak media lainnya. Terdapat satu

atau lebih penerima pesan (recipients). Bilamana seorang penerima menerima

pesan, maka pesannya ditafsirkan (decoded).

B. Tujuan Komunikasi Interpersonal

Arni Muhammad menyatakan bahwa komunikasi interpersonal mempunyai

beberapa tujuan, yaitu :[9]

1. Menemukan Diri Sendiri


Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan personal

atau pribadi. Bila kita terlibat dalam pertemuan interpersonal dengan

orang lain kita belajar banyak sekali tentang diri kita maupun orang lain.
Komunikasi interpersonal memberikan kesempatan kepada kita untuk

berbicara tentang apa yang kita sukai, atau mengenai diri kita. Adalah

sangat menarik dan mengasyikkan bila berdiskusi mengenai perasaan,

pikiran, dan tingkah laku kita sendiri. Dengan membicarakan diri kita

dengan orang lain, kita memberikan sumber balikan yang luar biasa pada

perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita.


2. Menemukan Dunia Luar
Hanya komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat

memahami lebih banyak tentang diri kita dan orang lain yang

berkomunikasi dengan kita. Banyak informasi yang kita ketahui

datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah

informasi yang datang kepada kita dari media massa hal itu

seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari atau didalami melalui

interaksi interpersonal.

3. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang Penuh Arti


Salah satu keinginan orang yang paling besar adalah membentuk

dan memelihara hubungan dengan orang lain. Banyak dari waktu

kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal diabadikan untuk

membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain.


4. Berubah Sikap Dan Tingkah Laku
Banyak waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah

laku orang lain dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh

menginginkan mereka memilih cara tertentu, misalnya mencoba diet

yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis membaca

buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa sesuatu itu benar
atau salah. Kita banyak menggunakan waktu waktu terlibat dalam

posisi interpersonal.
5. Untuk Bermain Dan Kesenangan
Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan

utama adalah mencari kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai

aktivitas kita pada waktu akhir pecan, berdiskusi mengenai olahraga,

menceritakan cerita dan cerita lucu pada umumnya hal itu adalah

merupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan waktu. Dengan

melakukan komunikasi interpersonal semacam itu dapat memberikan

keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan rileks

dari semua keseriusan di lingkungan kita.

6. Untuk Membantu
Ahli-ahli kejiwaan, ahli psikologi klinis dan terapi menggunakkan

komunikasi interpersonal dalam kegiatan profesional mereka untuk

mengarahkan kliennya. Kita semua juga berfungsi membantu orang lain

dalam interaksi interpersonal kita sehari-hari. Kita berkonsultasi

dengan seorang teman yang putus cinta, berkonsultasi dengan

mahasiswa tentang mata kuliah yang sebaiknya diambil dan lain

sebagainya.
Dapat disimpulkan bahwa ketika melakukan komunikasi

interpersonal, setiap individu dapat mempunyai tujuan yang berbeda-

beda, sesuai dengan kebutuhan masing-masing.


Komunikasi interpersonal yaitu kemampuan untuk berkomunikasi

dengan orang lain. Komunikasi ini terbagi menjadi dua jenis yaitu :
a. Komunikasi diadik (Dyadic communication)
Komunikasi diadik adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua

orang. Misalkan, anda berkomunikasi dengan seseorang yang anda


temui di jalan. atau sedang menelpon seseorang yang lokasinya jauh dari

saudara.
b.Komunikasi triadik (Triadic communication)
Komunikasi triadik adalah komunikasi antarpribadi yang pelaku

komunikasinya terdiri dari tiga orang, yaitu seorang komunikator

dan dua orang komunikan.


Apabila dibandingkan dengan komunikasi triadik, maka komunikasi

diadik lebih efektif, karena komunikator memusatkan perhatiannya kepada

seorang komunikan sepenuhnya, sehingga ia dapat menguasai frame of

reference komunikan sepenuhnya, juga umpan balik yang berlangsung,

kedua faktor yang sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya proses

komunikasi.
Komunikasi interpersonal memiliki beberapa ciri, yaitu : arus pesan

dua arah, suasana nonformal, umpan balik segera, peserta komunikasi

berada dalam jarak yang dekat, dan peserta komunikasi mengirim dan

menerima pesan secara simultan serta spontan, baik verbal maupun non

verbal.
Fungsi Komunikasi interpersonal adalah untuk mendapatkan

respon/ umpan balik. Hal ini sebagai salah satu tanda efektivitas proses

komunikasi. Bayangkan bagaimana kalau tidak ada umpan balik, saat

kalian berkomunikasi dengan orang lain. Bagaimana kalau kalian sms ke

orang lain tetapi tidak dibalas?. Selanjutnya, untuk melakukan antisipasi

setelah mengevaluasi respon/ umpan balik. Contohnya, setelah apa yang

akan kita lakukan, dan setelah mengetahui lawan bicara kita kurang

nyaman diajak berbincang.


Tipe komunikasi interpersonal, yang pertama adalah komunikasi

dua orang (mencakup segala jenis hubungan antarpribadi, antara satu

orang dengan orang lain, mulai dari hubungan yang paling singkat

(kontak) biasa, sampai hubungan yang bertahan lama dan mendalam).

Kedua, yaitu wawancara merupakan salah satu tipe komunikasi

interpersonal dimana dua orang terlibat dalam percakapan yang berupa

tanya jawab seperti saat orang melamar pekerjaan. Seorang HRD

mewawancari karyawan yang sedang melamar kerja. Dan yang ketiga,

Komunikasi kelompok kecil merupakan salah satu tipe komunikasi

interpersonal, dimana beberapa orang terlibat dalam suatu pembicaraan,

percakapan, diskusi, musyawarah, dan sebagainya.

C. Model Komunikasi Interpersonal


Menurut Coleman dan Hammen (dalam Jallaludin Rakhmat buku

Psikologi Komunikasi) , ada empat buah model komunikasi interpersonal,

yaitu :[10]
1. Model Pertukaran Sosial

Thibault dan Kelley mengemukakan bahwa Asumsi dasar yang

mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara

sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama

hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan

biaya.

Rakhmat menjelaskan dalam bukunya Psikologi Komunikasi,

ganjaran merupakan setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh

seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran dapat berupa uang,


penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai

suatu ganjaran itupun berbeda-beda tergantung waktu dan strata sosial

pelaku komunikasi. Sedangkan biaya dijelaskan sebagai akibat yang

dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya dapat berupa

waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri.

Sebagaimana ganjaran, biaya pun berubah-ubah sesuai dengan waktu

dan orang yang terlibat didalamnya.

Dengan kata lain, model pertukaran sosial dapat di ibaratkan sebagai

suatu transaksi dagang. Karena, orang berinteraksi dengan orang lainnya

hanya mengharapkan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya.

2. Model Peranan

Bila model pertukaran sosial memandang hubungan interpersonal

sebagai transaksi dagang, model peranan melihatnya sebagi panggung

sandiwara. Di sini setiap orang harus memainkan peranannya sesuai

dengan naskah yang telah dibuat masyarakat. Hubungan interpersonal

berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan ekspedisi

peranan dan tuntutan peranan.

Ekspedisi peranan mengacu pada kewajiban, tugas, dan hal yang

berkaitan dengan posisi tertentu dalam kelompok. Guru diharapakan

berperan sebagai pendidik yang bermoral dan menjadi contoh yang baik

bagi murid-muridnya. Jenderal diharapkan berperan sebagai Pembina

tentara yang berani dan tegas. Guru yang berbuat jahat, jenderal yang

takut kecoa, tidak memenuhi ekspektasi peranan.


Tuntutan peranan adalah dasakan soaial yang memaksa individu

untuk memenuhi peranan yang telah dibebankan kepadanya. Dalam

hubungan interpersonal, desakan halus atau kasar dikenakan pada orang

lain agar ia melaksanakan peranannya.

Keterampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan

tertentu, kadang disebut juga kompetensi sosial. Dibedakan menjadi

keterampilan kognitif menunjukkan kemampuan individu untuk

mempersepsi apa yang diharapkan orang lain dari dirinya dan

keterampilan tindakan merupakan kemampuan melaksanakan peranan

sesuai dengan harapan. Konfliik peranan terjadi bila individu tidak

sanggup mempertemukan berbagai tuntutan peranan.

3. Model Permainan

Eric Berne (1964,1972) dalam bukunya Games People Play,

mmengklasifikasikan model permainan ini dalam tiga kepribadian

manusia. Yaitu Orang Tua, Orang Dewasa dan Anak (Parent, Adult, Child).

Orang Tua adalah aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan

perilaku yang kita terima dari orang tua kita. Orang Dewasa adalah bagian

kepribadian yang mengolah informasi secara rasional, sesuai dengan

situaisi, dan biasanya berhubungan dengan masalah yang membutuhkan

pengambilan keputusan secara sadar. Anak adalah unsur yang diambil

dari perasaan dan penglaman kanak-kanak dan mengandung potensi

intuisi, spontanitas, kreativitas, dan kesenangan. Dan kita akan

memunculkan salah satu aspek kepribadian kita pada saat berkomunikasi


interpersonal, dan orang lain akan membalasnya dengan salah satu aspek

tersebut juga.

4. Model interaksional
Komunikasi interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama,

metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanan peranan, serta

permainan yang dilakukan. Dengan singkat, model interaksional

mencoba menggabungkan model pertukaran sosial, peranan dan

permainan. Model yang memandang bahwa hubungan interpersonal

sebagai suatu sistem, dan setiap sistem memiliki sifat-sifat struktural,

integratif, dan medan.

D. Efektifitas Komunikasi Interpersonal


Pengertian efektifitas secara umum menunjukkan sampai seberapa

jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal

tersebut sesuai dengan pengertian efektifitas menurut Hidayat, yang

menjelaskan bahwa efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan

seberapa jauh target tujuan (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai.
Efektifitas komunikasi interpersonal merupakan interaksi (face to

face) antara dua individu atau lebih untuk saling menukar informasi dan

saling mempengaruhi tingkah laku yang dapat menimbulkan umpan balik

secara langsung demi menunjang suatu tujuan.


Pada umumnya komunikasi interpersonal terjadi karena pada

hakikatnya setiap manusia suka berkomunikasi dengan manusia lain,

karena itu tiap-tiap orang selalu berusaha agar mereka lebih dekat

satu sama lain. Kegiatan komunikasi tersebut dilakukan sebagai

upaya memenuhi kebutuhan untuk bekerjasama dengan orang lain.


Tindakan kerjasama merupakan kesatuan dari komunikasi

interpersonal yang efektif.


Komunikasi interpersonal dikatakan lebih efektif dalam hal

membujuk lawan bicara karena tanpa menggunakan media dalam

penyampaian pesannya serta dapat langsung melihat reaksi dari lawan

bicara. Komunikasi interpersonal sering dilakukan oleh semua orang

dalam berhubungan dengan masyarakat luas.


Menurut Joseph A. Devito dalam bukunya The Interpersonal

Communication Book, efektifitas Komunikasi Interpersonal dimulai

dengan lima kualitas umum (sifat) yang dipertimbangkan

yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung

(supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).

[11]
1. Keterbukaan (Openness)
Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari

komunikasi interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif

harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah

berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat

hidupnya.memang ini mungkin menarik, tapi biasanya tidak membantu

komunikasi. Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri

mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan

pengungkapan diri ini patut.


Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan

komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang.

Orang yang diam, tidak kritis, dan tidak tanggap pada umumnya

merupakan peserta percakapan yang menjemukan. Kita ingin orang


bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan. Dan kita berhak

mengharapkan hal ini. Tidak ada yang lebih buruk daripada ketidak

acuhan, bahkan ketidaksependapatan jauh lebih menyenangkan. Kita

memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan

terhadap orang lain.


Aspek ketiga menyangkut kepemilikan perasaan dan pikiran.

Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan

pikiran yang anda lontarkan adalah memang milik anda dan anda

bertanggungjawab atasnya. Cara terbaik untuk menyatakan tanggung

jawab ini adalah dengan pesan yang menggunakan kata saya (kata ganti

orang pertama tunggal).


2. Empati (empathy)
Empati sebagai kemampuan seseorang untuk mengetahui apa

yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut

pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu. Bersimpati, di

pihak lain adalah merasakan bagi orang lain atau merasa ikut bersedih.

Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang

mengalaminya, berada di kapal yang sama dan merasakan perasaan

yang sama dengan cara yang sama. Orang yang empatik mampu

memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap

mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.

Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun

non verbal. Secara nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati

dengan memperlihatkan (1) keterlibatan aktif dengan orang itu melalui

ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai; (2) konsentrasi terpusat


meliputi kontak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan kedekatan

fisik; serta (3) sentuhan atau belaian yang sepantasnya.


3. Sikap mendukung (supportiveness) dan Umpan Balik
Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana

terdapat sikap mendukung (supportiveness). Komunikasi yang terbuka

dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak

mendukung. Dan umpan balik yang ditimbulkan harus terlihat komunikasi

yang diciptakan berhasil atau tidak, efektif atau tidak.


4. Sikap positif (positiveness)
Kita mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi

interpersonal dengan sedikitnya dua cara: (1) menyatakan sikap positif

dan (2) secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita

berinteraksi. Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari

komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika

seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri.


Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya

sangat penting untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih

menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang yang tidak

menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan terhadap

situasi atau suasana interaksi.


5. Kesetaraan (Equality)
Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah

seorang mungkin lebih pandai, lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau

lebih atletis daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-

benar setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan ini,

komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara.

Artinya,, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak


sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak

mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu

hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan,


Ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk

memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan

untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak mengharuskan kita

menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan

nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau

menurut istilah kesetaraan meminta kita untuk memberikan penghargaan

positif tak bersyarat kepada orang lain.


Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal

atau hubungan emosional yang baik. Kegagalan komunikasi terjadi

apabila isi pesan kita pahami, tetapi hubungan diantara komunikan

menjadi rusak. Bila seseorang berkumpul dalam satu kelompok yang

memiliki kesamaan dengan dirinya, maka seseorang tersebut akan

merasa gembira, dan terbuka. Sebaliknya bila ia berkumpul dengan

orang-orang yang ia benci, maka itu akan membuatnya merasa tegang,

resah, dan tidak enak. Dengan demikian seseorang tersebut akan

menutup diri dan menghindari komunikasi atau ingin segera mengakhiri

komunikasi tersebut.
Komunikasi interpersonal dikatakan efektif apabila memenuhi tiga

syarat :
1. Pesan yang dapat diterima dan dipahami oleh komunikan sebagaimana

dimaksud oleh komunikator.


2. Ditindak lanjuti dengan perbuatan secara sukarela.
3. Meningkatkan kualitas hubungan antar pribadi.
Komunikasi interpersonal yang efektif berfungsi untuk :
1. Membentuk dan menjaga hubungan baik antar individu.
2. Menyampaikan pengetahuan atau informasi.
3. Mengubah sikap dan perilaku
4. Pemecahan masalah hubungan antar manusia
5. Citra diri menjadi lebih baik
6. Jalan menuju sukses

Komunikasi interpersonal tatap muka mempunyai banyak kelebihan,

yaitu :
1. Feedback antara komunikator dan komunikan akan diterima secara cepat

dan dapat melihat pula reaksi yang menjadi komunikasi non verbal dari

komunikan itu sendiri.


2. Terdapat kedekatan emosional karena intensitas dalam berkomunikasi.
3. Bisa mengurangi noise (gangguan) dalam berkomunikasi karena terjadi

secara langsung dan bila ada gangguan langsung bisa dikonfirmasi.


4. Dapat menyampaikan suatu pesan dengan hanya komunikasi non verbal

tanpa komunikasi verbal.


5. Tidak memerlukan biaya dalam melakukannya karena dilakukan secara

langsung dan continue , sehingga mengobrol dalam jangka waktu yang

lama tidak mengeluarkan biaya.


6. Emosi atau perasaan antara komunikator dan komunikan lebih terlibat dan

mengurangi kebohongan karena mimik wajah akan terlihat langsung oleh

lawan bicaranya.
Selain mempunyai kelebihan, komunikasi interpersonal tatap muka

juga mempunyai kelemahan, yaitu :


1. Mengenai efisiensi waktu, yang dimaksudkan disini adalah efisiensi waktu

untuk bertemu. Setiap orang mempunyai kesibukan masing-masing

sehingga untuk melakukan komunikasi tatap muka diperlukan waktu yang

tepat agar keduanya dapat bertemu dan melakukan komunikasi

interpersonal tatap muka.


2. Tidak dapat berkomunikasi dengan orang yang ada di tempat yang

berbeda karena jangkauan tatap muka ini sangat terbatas sehingga

memerlukan media untuk menghubungkan antara satu sama lain agar

dapat berkomunikasi. Jadi dalam tatap muka ini yang menjadi kendala

adalah waktu dan jangkauannya yang terbatas.

Dalam komunikasi interpersonal terdapat beberapa hambatan yang

ada, hambatan-hambatan tersebut antara lain sebgai berikut :


1. Bahasa : Dalam komunikasi peranan bahasa sangat penting karena

bahasa merupakan salah satu alat bahasa verbal yang digunakan dalam

berkomunikasi. Bila dalam suatu komunikasi ada kesalahpahaman yang

terjadi yang disebabkan oleh bahasa itu akan menjadi hambatan dalam

komunikasi .
2. Budaya : Budaya juga sangat penting dan berpengaruh. Bila dalam

komunikasi ada perbedaan latar budaya dan tidak terdapat titik temu antar

satu dengan yang lain hal ini dapat menjadi bomerang dalam proses

komunikasi sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman antar personal

yang dapat membuat perpecahan.


3. Tujuan yang tidak jelas : Dalam komunikasi harus ada kejelasan dalam

berhubungan agar ada tujuan yang pasti, apabila tidak ada tujuan yang

jelas akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya miss komunikasi

yang dapat memecahkan hubungan antar sahabat ataupun hubungan

antar personal yang lainya.


4. Salah paham : Terkadang di dalam suatu komunikasi terjadi salah paham

dalam interpretasi, respon, dan asumsi. Dan ini membuat suatu

kesalahpahaman dalam berkomunikasi sehingga dari kesaahpahaman ini


bisa terjadi perusakan suatu komunikasi. Selain itu apabila

kesalahpahaman terus berlanjut dalam suatu hubungan komunikasi.

Hubungan komunikasi antar personal tersebut bisa pecah atau ada

pemutusan hubungan.
5. Menganggap enteng lawan bicara : Dalam suatu komunikasi atau

hubungan kita harus bisa menghormati antar personal agar tercipta suatu

hubungan yang harmonis. Tapi apabila tidak ada rasa saling

menghormatimaka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya

pemutusan hubungan.
6. Mendominasi pembicaraan : Komunikasi dua arah akan berhasil bila kita

saling mengisi dan melengkapi. Bila ada seorang yang lebih mendominasi

suatu pembicaraan komunikasi tersebut tidak akan efektif dan tidak akan

berjalan dengan lancar.

BAB III

PEMBAHASAN

A. Studi Kasus Mengenai Komunikasi Interpersonal

Pak Edi Bramantyo seorang manajer pada sebuah perusahaan yang

ternama. Beliau memiliki kompetensi yang unggul di bidang tugasnya. Namun

satu hal yang selalu dikeluhkan oleh stafnya, beliau memiliki kemampuan

komunikasi interpersonal yang kurang memadai. Kemampuan komunikasi

interpersonal Pak Bram yang buruk, membuat hubungan Pak Bram dengan

rekan sejawat dan stafnya kurang harmonis. Kemampuan komunikasi

interpersonal yang buruk tersebut terlihat pada sikap beliau yang sering tidak

mampu mengendalikan emosi ketika berdiskusi atau berbicara, beliau sering


meremehkan orang lain, dan beliau sering bersikap sinis ketika berkomunikasi.

Saat Pak Bram memberikan perintah tugas kepada karyawan, terkadang

karyawan sulit memahami isi dari perintah tersebut yang menyebabkan hasilnya

tidak sesuai dengan harapan. Karyawan menjadi salah menafsirkan apa yang

diperintah atasan, dan atasan pun yaitu Pak Bram hanya bisa memerintah bukan

mengajarkan atau mengayomi para karyawannya. Karyawan pun hanya bicara

secukupnya sesuai yang diperintahkan. Terlebih lagi, Pak Bram kurang dekat

dengan para karyawan sehingga para karyawan tertutup oleh beliau yang selalu

emosional.

(Artikel : Selasa, 05 Agustus 2014. Rita Dwi Lindawati (Pusdiklat Bea dan Cukai)

(http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/148-artikel-bea-dan-

cukai/19683-komunikasi-intrapersonal-sebagai-pondasi-komunikasi-

interpersonal)

Dari kasus permasalahan yang terjadi diatas, analisis permasalahan

tersebut dan coba kaitkan dengan materi komunikasi interpersonal? serta

efektifitasnya?

B. Analisis Kasus

Berdasarkan pembahasan di atas, kita dapat menganalisa permasalahan

yang timbul pada kasus Pak Bram. Meskipun beliau memiliki pengetahuan teknik

komunikasi efektif yang cukup, tetapi ternyata kepribadian beliau yang buruk

temperamen, sombong, sinis, merupakan salah satu faktor internal yang

berpengaruh pada proses komunikasi. Kepribadian berpengaruh terhadap

proses ideasi seseorang (pemikiran, perencanaan dan pengorganisasian) pesan

yang akan disampaikan kepada lawan bicara. Kepribadian yang buruk akan
berpengaruh terhadap proses ideasi yang pada akhirnya akan menghasilkan

pesan yang buruk pula.

Yang dimaksud komunikasi interpersonal merupakan proses penyampaian

informasi, pikiran dan sikap tertentu antara dua orang atau lebih yang terjadi

pergantian pesan baik sebagai komunikan maupun komunikator dengan tujuan

untuk mencapai saling pengertian, umpan balik mengenai masalah yang akan

dibicarakan yang akhirnya diharapkan terjadi perubahan perilaku. Dikaitkan

dengan kasus diatas, Pak Bram dan karyawan terjadi kesalahan komunikasi

(miss communication). Pak Bram sebagai komunikator hanya memberi perintah

dan hanya berbicara secukupnya tanpa melihat reaksi dan umpan balik

karyawan selaku komunikan. Karyawan selaku komunikan salah mentafsir apa

yang diperintahkan Pak Bram yang membuat terjadinya kesalahpahaman. Dasar

dari komunikasi interpersonal adalah melihat efek yang ditimbulkan setelah

melakukan komunikasi. Efektif atau tidaknya komunikasi dilihat dari hasil yang

ditimbulkan, apakah dapat merubah perilaku komunikan kearah positif atau gagal

komunikasi dan buruknya reaksi komunikan.

Apa yang kita sampaikan harus benar-benar dimengerti oleh lawan

bicara kita, sehingga masalah komunikasi yang efektif antar sesama

manusia memberikan peranan yang sangat penting dalam kehidupan

sehari-hari.

Komunikasi yang efektif juga perlu dilandasi dengan niat yang tulus

dari komunikator, serta sikap berpikir positif terhadap lawan bicara serta

menggunakan bahasa yang nyaman dan mudah dicerna oleh komunikan.

Seorang komunikator yang dalam hal ini adalah atasan harus bisa

menempatkan komunikan sesuai dengan tingkat intelektual komunikan atau


karyawan agar tercipta kesamaan persepsi dalam menafsirkan pesan

sehingga tidak tercipta missunderstanding (salah pengertian). Komunikasi yang

efektif ditandai dengan hubungan interpersonal atau hubungan emosional yang

baik. Jadi Pak Bram harus selalu berkaca akan kepribadiannya, dan meredakan

emosinya untuk kelangsungan komunikasi interpersonal pada karyawan

tersebut. Pak Bram seharusnya memberikan pesan yang membuat perilaku

karyawan berubah, seperti memberi motivasi kepada karyawan ke arah lebih

baik dan selalu memberi semangat dalam melaksanakan semua pekerjaan.

Jika dilihat dalam teori, hambatan dalam melakukan komunikasi

interpersonal yaitu budaya, bahasa, tujuan yang tidak jelas, menganggap enteng

lawan bicara, salah paham dan mendominasi pembicaraan. Dari kasus Pak

Bram tersebut, hambatan yang terjadi yaitu Pak Bram menganggap enteng

karyawannya dengan emosi dalam berbicara dan bertindak sinis, salah paham

antara atasan dan bawahan, serta mendominasi pembicaraan yang selalu

memberikan perintah kepada karyawan tanpa membiarkan karyawan

memberikan umpan dan kejelasan perintah tersebut.

Dikaitkan dengan efektifitas komunikasi interpersonal dapat dilihat dari :

1. Keterbukaan (openness), dapat dilihat dari kesediaan atasan dalam

menyampaikan pesan secara jujur dan terbuka kepada karyawan baik perintah

tugas, teguran, motivasi, saling keterbukaan dan lain-lain.

2. Empati (empathy), dapat dilihat dari ketanggapan karyawan dalam menanggapi

atasan, dengan atasan membaca mimik dan gerak-gerik karyawan.

3. Sikap positif (positivenness), yang dilihat dari proses kinerja karyawan dimana

atasan menghargai setiap pendapat dari karyawan.


4. Kesetaraan (equality), yang dilihat dari terjalinnya komunikasi antar karyawan

dan atasan dengan tidak mebeda-bedakan antar satu dengan yang lain. Atasan

tidak boleh berbicara semaunya dan sesukanya, karena dalam hal komunikasi

semuanya setara dan harus menghormati pendengar (komunikan) guna

mendapatkan umpan yang baik.

5. Umpan balik (feed back), yang dapat dilihat dari kemampuan seorang atasan

untuk menyatakan pikiran yang telah dikemukakan begitu juga dengan

kemampuan karyawan menafsirkan pesan yang telah disampaikan oleh atasan.

Karyawan diberi kesempatan untuk memberikan umpan balik dari apa yang

disampaikan atasan agar karyawan dapat benar mentafsirnya dan mengerjakan

tugas yang diperintahkan atasan, begitupun atasan harus menerima pertanyaan

atau umpan balik karyawan agar terlihat pesan yang disampaikan dimengerti

atau tidak.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Komunikasi interpersonal merupakan proses penyampaian informasi,

pikiran dan sikap tertentu antara dua orang atau lebih yang terjadi

pergantian pesan baik sebagai komunikan maupun komunikator dengan

tujuan untuk mencapai saling pengertian, mengenai masalah yang akan

dibicarakan yang akhirnya diharapkan terjadi perubahan perilaku.


Komunikasi interpersonal memiliki beberapa komponen yaitu Sumber /

komunikator, encoding, pesan, saluran, komunikan, decoding, respon,

gangguan, dan konteks komunikasi.


Tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan diri sendiri,

menemukan dunia luar, membangun dan memelihara hubungan yang

harmonis, mempengaruhi sikap dan tngkah laku, mencari kesenangan

atau sekedar menghabiskan waktu, dan memberikan bantuan (konseling).


Model komunikasi interpersonal adalah model pertukaran sosial, model

peranan, model permainan, dan model interaksional.


Komunikasi interpersonal dikatakan lebih efektif dalam hal membujuk

lawan bicara karena tanpa menggunakan media dalam penyampaian

pesannya serta dapat langsung melihat reaksi dari lawan bicara.

Komunikasi interpersonal sering dilakukan oleh semua orang dalam

berhubungan dengan masyarakat luas.


Efektifitas komunikasi interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum

(sifat) yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati

(empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif

(positiveness), dan kesetaraan (equality).


Dalam komunikasi interpersonal memiliki beberapa hambatan yaitu

bahasa, budaya, tujuan yang tidak jelas, salah paham, mengangap enteng

lawan bicara, dan mendominasi pembicaraan.

B. Saran

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar dua orang atau

sekelompok kecil yang saling memberikan ide, pengertian, wawasan, ataupun

pendapat yang mengharapkan adanya reaksi atau umpan balik positif dari

penerima pesan. Diharapkan dengan kehidupan sehari-hari melakukan

komunikasi, kejelasan, keterbukaan, dan bahasa yang sopan santun harus


ditingkatkan untuk menjalin komunikasi baik antar teman, sahabat, orang tua,

rekan kerja, dan lain halnya.

Dengan keterbatasan yang ada baik dari segi waktu maupun wawasan

penyusun yang masih minim kemungkinan pada makalah ini ditemukan berbagai

kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu dengan lapang dada penyusun

berharap serta bersedia menerima kritik dan saran dari teman-teman, yang

membangun guna untuk menambah wawasan penyusun.

[1] http://fatmigz.blogspot.com/2012/09/komonikasi-interpersonal.html (Diakses tanggal 8 Februari 2015)


[2] Muhammad, Arni. Komunikasi Organisasi. Jakarta : Bumi Aksara. 2005. p.159.
[3] Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2000. p.73.
[4] Effendy, Onong Uchjana. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT.Citra Aditya Bakti. 2003.
p.30.
[5] http://fhitrysikumbang.blogspot.com/2013/04/komunikasi-interpersonal.html (Diakses tanggal 8 Februari
2015)
[6] M. Ghojali Bagus A.P, S.Psi. Buku Ajar Psikologi Komunikasi. Fakultas Psikologi Unair. Surabaya. 2010.
[7] Judy Pearson DKK. Human Communication, McGrawhill company. New York : McGraw-Hill Company
Inc., 2003 Hal.25.
[8] Suranto. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : Graha Ilmu. 2011. p.9.
[9] Muhammad, Arni. Lock cit. p.168.
[10] Jalaluddin Rakhmat. Psikologi Komunikasi, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001, p. 121124.
[11] http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/komunikasi-interpersonal-definisi.html (Diakses tanggal 9
Februari 2015)