Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Keadaan gizi dan kesehatan masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi, Dewasa
ini negara-negara berkembang menghadapi masalah gizi ganda, yakni masalah gizi
kurang dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang umumnya disebabkan oleh
kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan
(sanitasi), kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan
kesehatan, dan adanya daerah miskin gizi (iodium). Sebaliknya masalah gizi lebih
disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu yang disertai
dengan minimnya pengetahuan tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan. Dengan
demikian, sebaiknya masyarakat meningkatkan perhatian terhadap kesehatan guna
mencegah terjadinya gizi salah (malnutrisi) dan risiko untuk menjadi kurang gizi.
Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk.
Mulai dari bayi dilahirkan, masalahnya sudah mulai muncul, yaitu dengan banyaknya
bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2.5 Kg). Masalah ini berlanjut dengan
tingginya masalah gizi kurang pada balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa sampai
dengan usia lanjut.
Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun
penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan
kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu
pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait.
Suatu penyakit timbul karena tidak seimbangnya berbagai faktor, baik dari sumber
penyakit (agens), pejamu (host) dan lingkungan (environment). Hal itu disebut juga
dengan istilah penyebab majemuk (multiple causation of diseases) sebagai lawan dari
peiiyebab tunggal (single causation).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian intervensi gizi ?
2. Apakah tujuan intervensi gizi ?
3. Apakah pengertian negara berkembang ?
4. Apa sajakah masalah gizi di negara berkembang dan intervensinya ?
5. Apa saja hambatan dan kendala dalam intervensi gizi tersebut ?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Definisi Dan Tujuan Intervensi Gizi

Secara etimologi, kata gizi berasal dari bahasa Arab ghidza, yang berarti
makanan. Menurut dialek Mesir, ghidza dibaca ghizi.
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara
normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan
pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan,
pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Gizi adalah proses makhluk hidup menggunakan makanan yang dikonsumsi secara
normal melalui proses digesti (penyerapan), absorpsi, transportasi, penyimpanan,
metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan. Sedangkan Intervensi gizi
merupakan suatu tindakan yang didalamnya mencakup perencanaan dan implementasi
untuk mengatasi masalah gizi yang sudah diidentifikasi.
Tujuan dari intervensi gizi yaitu mengatasi atau memperbaiki masalah gizi dengan
perencanaan dan implementasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang
dihadapi.Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami masalah
gizi :
1. Faktor Lingkungan
Lingkungan yang buruk seperti air minum yang tidak bersih, tidak adanya saluran
penampung air limbah, tidak menggunakan kloset yang baik, juga kepadatan
penduduk yang tinggi dapat menyebabkan penyebaran kuman pathogen. Lingkungan
yang mempunyai iklim tertentu berhubungan dengan jenis tumbuhan yang dapat
hidup sehingga berhubungan produksi tanaman.
2. Faktor Ekonomi
Di banyak negara yang secara ekonomis kurang berkembang, sebagian besar
penduduknya berukuran lebih pendek karena gizi yang tidak mencukupi dan pada
umunya masyarakat yang berpenghasilan rendah mempunyai ukuran badan yang
lebih kecil.
Masalah gizi di negara-negara miskin yang berhubungan dengan pangan adalah
mengenai kuantitas dan kualitas. Kuantitas menunjukkan penyediaan pangan yang
tidak mencukupi kebutuhan energi bagi tubuh. Kualitas berhubungan dengan
kebutuhan tubuh akan zat gizi khusus yang diperlukan untuk petumbuhan, perbaikan
jaringan, dan pemeliharaan tubuh dengan segala fungsinya.
3. Faktor Sosial-Budaya
Sifat yang diwariskan memegang kunci bagi ukuran akhir yang dapat dicapai oleh
anak. Keadaan gizi sebagian besar menentukan kesanggupan untuk mencapai ukuran
yang ditentukan oleh pewarisan sifat tersebut. Di negara-negara berkembang
memperlihatkan perbaikan gizi pada tahun-tahun terakhir mengakibatkan perubahan
tinggi badan yang jelas.
4. Faktor Biologis atau Keturunan
Sifat yang diwariskan memegang kunci bagi ukuran akhir yang dapat dicapai oleh
anak. Keadaan gizi sebagian besar menentukan kesanggupan untuk mencapai ukuran
yang ditentukan oleh pewarisan sifat tersebut. Di negara-negara berkembang
memperlihatkan perbaikan gizi pada tahun-tahun terakhir mengakibatkan perubahan
tinggi badan yang jelas.
B. Definisi Negara Berkembang
Negara berkembang atau sering disebut dengan negara-negara dunia ketiga yaitu negara-
negara yang baru saja meraih kemerdekaan dari negara-negara maju. Beberapa negara
yang tergolong dalam negara ini yaitu : negara-negara di Asia Tenggara (kecuali
Singapura), negara-negara di Amerika Latin, Afrika, negara-negara di Eropa Timur, dan
Asia (kecuali Jepang, Korea Selatan, Australia dan Singapura).

Penggunaan kata berkembang berbeda dengan kata tidak berkembang. Suatu negara
disebut tidak berkembang bila memang tidak memiliki potensi untuk berkembang,
misalnya negaranegara di gurun gersang yang tidak mempunyai sumber daya untuk
melakukan pembangunan. Kata berkembang berarti bahwa negara-negara tersebut
sedang mengalami suatu proses pembangunan menuju kemajuan.

Negara berkembang yaitu negara yang rakyatnya mempunyai tingkat kesejahteraan


atau kualitas hidup taraf sedang atau dalam perkembangan.

Secara umum, negara berkembang identik dengan kemiskinan. Seringkali dijumpai


pengemis dan gelandangan di kota-kota besar. Penduduk desa banyak yang mencoba
mencari kehidupan di kota, tetapi akhirnya justru menjadi gelandangan dan semakin
memadati kota. Beberapa negara berkembang justru mendekati sebagai negara
terbelakang (miskin). Secara umum, negara-negara berkembang mempunyai ciri
sebagai berikut.

Pendapatan per Kapita yang Rendah

Ciri utama negara berkembang adalah rendahnya pendapatan per kapita penduduknya.
Menurut Bank Dunia, negara berkembang yang berpendapatan menengah ke bawah
yaitu antara US$8763,465. Negara berkembang yang berpendapatan menengah tinggi,
yaitu antara US$3,46610,275. Berikut ini daftar pendapatan per kapita beberapa
negara berkembang, termasuk Indonesia.

Rendahnya Akumulasi Modal


Rendahnya tingkat pendapatan di negara berkembang menyebabkan masyarakat sulit
mengumpulkan tabungan. Padahal, akumulasi tabungan masyarakat merupakan sumber
modal bagi kegiatan investasi. Tidak mengherankan apabila kurangnya modal sering
menjadi hambatan bagi proses pembangunan di negara-negara berkembang. Sebagai
jalan keluarnya, negara berkembang meminjam modal dari negara maju. Hal ini
berakibat tingginya ketergantungan ekonomi terhadap negara maju.

Perekonomian Mengandalkan Sektor Primer


Perekonomian di negara berkembang masih mengandalkan sektor-sektor primer seperti
pertanian, kehutanan, pertambangan, dan perikanan. Sektor ini masih mengandalkan
kekayaan alam. Kegiatan di sektor industri pengolahan dan jasa masih sangat kurang.
Hal ini karena teknologi produksi yang dikuasai masih rendah dan hanya mengandalkan
caracara tradisional untuk mengolah sumber daya yang ada.

Masih Tingginya Tingkat Pengangguran


Kondisi perekonomian yang belum berkembang menyebabkan sempitnya lapangan
kerja sehingga tingkat pengangguran di negara berkembang cukup tinggi. Jenis
pengangguran yang ditemui di negara berkembang adalah setengah pengangguran dan
pengangguran terselubung.

Tingginya Laju Pertumbuhan Penduduk


Kondisi kependudukan di negara berkembang ditandai dengan tingkat kelahiran dan
tingkat kematian bayi yang tinggi. Tingginya tingkat kelahiran di negara-negara
berkembang mempengaruhi komposisi penduduk. Komposisi penduduk yang berusia
kurang dari 15 tahun relatif besar sehingga menjadi beban bagi penduduk produktif.

Rendahnya Tingkat Kesehatan dan Pendidikan


Tingkat kesehatan dan pendidikan di negara berkembang masih sangat rendah. Hal ini
terlihat dari terbatasnya fasilitas kesehatan dan pendidikan bagi pembangunan sumber
daya manusia. Pemerintah belum mampu menyediakan fasilitas pendidikan dan
kesehatan secara merata bagi seluruh masyarakat. Rendahnya tingkat pendapatan
masyarakat dan tingginya biaya pendidikan menyebabkan keluarga tidak mampu
menyekolahkan anak-anak mereka. Fasilitas kesehatan yang memadai baru bisa
dirasakan oleh masyarakat yang berpendapatan tinggi.

Budaya Masyarakat yang Belum Mendukung Kemajuan


Kualitas sumber daya manusia suatu negara tidak terbatas pada tingkat pendidikan saja,
tetapi juga meliputi kebudayaan mereka, sikap terhadap pekerjaan, dan keinginan untuk
memperbaiki diri. Budaya masyarakat di negara berkembang masih belum menunjang
ke arah kemajuan pembangunan. Misalnya, kurang profesional dalam bekerja, kurang
berdisiplin, korupsi dan senang mencari jalan termudah untuk meraih keinginan.

Rendahnya Penguasaan Teknologi


Tingkat penguasaan teknologi di negara berkembang masih rendah sehingga output
produk yang dihasilkan juga lebih rendah dibandingkan negara maju. Cara-cara atau
metode produksi masih bersifat tradisional. Teknologi pertanian merupakan warisan
dari nenek moyang. Misalnya, tanah dibajak dengan tenaga hewan, penanaman bibit
dan pemanenannya masih menggunakan tangan.

Berikut adalah 10 contoh negara yang sedang berkembang:


India

Indonesia

Bangladesh

Pakistan

Laos

Kenya

Nigeria

Ethiopia

Guatemala

El Salsavador

dan lain sebagainya

C. Masalah Gizi Di Negara Berkembang


1. Protein Energy Malnutrition(Kekurangan Energi Protein)
Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang
disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan
sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Pada umumnya KEP, disebabkan oleh :

Faktor kemiskinan

Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makanan pendamping ASI


(MP-ASI) dan pemberian makanan sesudah bayi disapih

Pengetahuan mengenai pemeliharaan lingkungan yang sehat.

Klasifikasi KEP menurut % Median WHO-NCHS:

KEP Ringan : BB/U 70 80 % Median WHO-NCHS

KEP Sedang: BB/U 60 70 % Median WHO-NCHS

KEP Berat : BB/U < 60 % Median WHO-NCHS


Dampak Kekurangan Energi Protein (KEP)
Pada anak-anak:

Menghambat pertumbuhan

Rentan terhadap penyakit infeksi

Mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan

Pada orang dewasa :

Menurunkan produktifitas kerja

Menurunkan derajat kesehatan

Rentan terhadap serangan penyakit

Dampak Kekurangan Energi Protein (KEP) ringan bila tidak ditangani maka
status gizi akan lebih buruk (marasmus, kwashiorkor, marasmic-
kwashiorkor). Sedangkan Kekurangan Energi Protein (KEP) Berat / gizi
buruk

Marasmus kekurangan energi

Kwashiorkor kekurangan protein

Marasmic -kwashiorkor Kekurangan energi dan protein

Tanda klinis marasmus :

Anak kurus, tinggal tulang terbungkus kulit

Wajah seperti Orang tua

Cengeng, rewel

Lapisan lemak bawah kulit sangat sedikit Kulit mudah diangkat, kulit
terlihat longgar, kulit paha berkeriput

Otot menyusut (wasted), lembek

Tulang rusuk tampak terlihat jelas

Terlihat tulang belakang lebih menonjol dan kulit di pantat berkeriput


Ubun-ubun besar cekung, tulang pipi dan dagu menonjol, mata besar dan
dalam

Tekanan Darah, detak jantung pernafasan berkurang.

Tanda Klinis Kwashiorkor:

Oedema (terutama kaki bagian bawah)

Bentuk muka bulat seperti bulan (moon face)

Rambut tipis, warna coklat kemerahan (pirang/abu-abu dan mudah


lepas/mudah dicabut tanpa rasa sakit

Kulit kering, hiperpigmentasi dan bersisik,

Crazy pavement dermatosis(bercak-bercak putih/merah muda dengan tepi


hitam dan ditemukan pada bagian tubuh yang sering mendapat tekanan)

Hepatomegali (Pembengkakan hati)

Tanda klinis marasmic-kwashiorkor:

Gabungan dari tanda marasmus dan kwashiorkor

Gangguan pertumbuhan

Crazy pavement dermatosi

Rambut tipis, pirang dan mudah dicabut

Muka seperti orang tua

Oedema hanya pada anggota gerak bagian bawah

2. Obesity (Obesitas)
Kegemukan atau obesitas adalah suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak
tubuh yang terakumulasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak
merugikan bagi kesehatan, yang kemudian menurunkan harapan hidup
dan/atau meningkatkan masalah kesehatan. Seseorang dianggap menderita
kegemukan (obese) bila indeks massa tubuh (IMT), yaitu ukuran yang
diperoleh dari hasil pembagian berat badan dalam kilogram dengan kuadrat
tinggi badan dalam meter, lebih dari 30 kg/m2.
Kegemukan meningkatkan peluang terjadinya berbagai macam penyakit,
khususnya penyakit jantung, diabetes tipe 2, apnea tidur obstruktif, kanker
tertentu, osteoartritis dan asma. Kegemukan sangat sering disebabkan oleh
kombinasi antara asupan energi makanan yang berlebihan, kurangnya aktivitas
fisik, dan kerentanan genetik, meskipun sebagian kecil kasus terutama
disebabkan oleh gen, gangguan endokrin, obat-obatan atau penyakit psikiatri.
Hanya sedikit bukti yang mendukung pandangan bahwa orang yang gemuk
makan sedikit namun berat badannya bertambah karena metabolisme tubuh
yang lambat; rata-rata orang gemuk mengeluarkan energi yang lebih besar
dibandingkan orang yang kurus karena dibutuhkan energi untuk manjaga
massa tubuh yang lebih besar.
Pengaturan diet dan aktivitas fisik masih menjadi tata laksana utama
kegemukan. Kualitas asupan dapat diperbaiki dengan mengurangi konsumsi
makanan padat energi contohnya makanan yang tinggi lemak dan gula, serta
dengan meningkatkan asupan serat. Obat-obatan anti-kegemukan dapat
dikonsumsi untuk mengurangi selera makan atau menghambat penyerapan
lemak, disertai dengan asupan diet yang tepat. Apabila diet, olahraga, dan
obat-obatan belum efektif, maka balon lambung dapat membantu mengurangi
berat badan, atau operasi dapat dilakukan untuk mengurangi volume lambung
dan/atau panjang usus sehingga dapat memberikan rasa kenyang yang lebih
dini dan menurunkan kemampuan penyerapan nutrisi dari makanan.
Kegemukan adalah penyebab kematian yang dapat dicegah paling utama di
dunia, dengan prevalensi pada orang dewasa dan anak yang semakin
meningkat, sehingga pihak berwenang menganggap kegemukan sebagai salah
satu masalah kesehatan masyarakat paling serius pada abad 21. Kegemukan
umumnya merupakan stigma di dunia modern (khususnya di Dunia barat),
meskipun pada suatu waktu dalam sejarah, kegemukan secara luas dianggap
sebagai simbol kekayaan dan kesuburan, dan masih dianggap demikian di
beberapa bagian di dunia hingga sekarang.
Pada tahun 2013, orang dengan kegemukan di dunia berjumlah 2,1 miliar dan
Indonesia masuk urutan 10 besar dengan orang kegemukan berjumlah 40 juta
orang atau setara seluruh penduduk Jawa Barat. Tidak seperti halnya di negara
maju yang gemuk kebanyakan adalah laki-laki, maka di Indonesia yang gemuk
kebanyakan adalah perempuan.

3. Micronutrient Deficiency (Defisiensi Mikronutrient)

Mikronutrien adalah zat gizi (nutrien) yang diperlukan oleh tubuh manusia
selama hidupnya dalam jumlah kecil untuk melaksanakan fungsi-fungsi
fisiologis, tetapi tidak dapat dihasilkan sendiri oleh tubuh. Mikronutrien terdiri
dari vitamin dan mineral yang tidak dapat dibuat oleh tubuh tetapi dapat
diperoleh dari makanan.
Mikronutrien diperlukan tubuh terus-menerus dalam jumlah kecil biasanya
kurang dari 100 mikrogram per hari. Berbeda dengan makronutrien (seperti
karbohidrat, protein, lemak) yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah besar.
Meskipun diperlukan dalam jumlah kecil, namun keberadaanya dalam tubuh
sangat esensial. Kekurangan mikronutien tertentu dalam tubuh dapat berakibat
ancaman serius bagi kesehatan. Defisiensi atau kekurangan vitamin A
misalnya dapat menyebabkan kebutaan dan menghambat pertumbuhan

Peran Mikronutrien dalam Metabolisme

Vitamin B1 (Tiamin) Berperan Penting dalam Metabolisme Karbohidrat.


Tiamin memiliki peran sentral dalam metabolisme penghasil energi, dan
khususnyametabolisme karbohidrat. Tiamin difosfat adalah koenzim untuk tiga
kompleks multi-enzimyang mengatalisis reaksi dekarboksilasi oksidatif:
piruvat dehidrogenase dalam metabolismekarbohidrat; a-ketoglutarat
dehidrogenase dalam siklus asam sitrat; dan asam ketodehidrogenase rantai
bercabang pada metabolisme leusin, isoleusin, dan valin.Peran tiamin difosfat
dalam piruvat dehidrogenase memiliki arti bahwa padadefisiensi tiamin terjadi
gangguan perubahan piruvat menjadi asetil KoA. Pada orang dengandiet
karbohidrat yang relatif tinggi, hal ini menyebabkan meningkatnya kadar
laktat dan piruvat plasma, yang dapat menyebabkan asidosis laktat yang
mengancam jiwa.

Vitamin B2 (Riboflavin) Berperan Penting dalam Metabolisme Penghasil-


EnergiRiboflavin meyediakan gugus-gugus reaktif koenzim flavin
mononukleotida (FMN)dan flavin adenin dinukleotida (FAD). Kedua koenzim
ini bekerja sebagai pembawa hidrogendalam sistem oksidatif mitokondriayang
penting. NAD, bekerja sehubungan dengandehidrogenase spesifik, biasanya
menerima hidrogen yang dipindahkan dari berbagai zatmakanan dan kemudian
menghantarkan hidrogen pada FMN atau FAD; akhirnya hidrogendilepaskan
sebagai ion ke dalam matriks mitokondria untuk dioksidasi oleh oksigen.
Niasin Niasin, yang disebut juga asam nikotinat, bekerja di dalam tubuh
sebagai koenzimdalam bentuk nikotinamida adenin dinukleotida (NAD), dan
nikotinamida adenindinukleotida fosfat (NADP). Koenzim-koenzim ini adalah
akseptor hidrogen; koenzim ini berikatan dengan atom hidrogen melalui
banyak jenis dehidrogenase pada saat dikeluarkandari zat makanan.

Vitamin B6 (Piridoksin) Penting dalam Metabolisme Asam Amino dan


GlikogenTerdapat enam senyawa yang memiliki aktifitas vitamin B6;
piridoksin, piridoksal, piridoksamin dan turunan 5-fosfatnya. Koenzim aktif
adalah piridoksal 5-fosfat. Sekitar 80%vitamin B6 total dalam tubuh adalah
piridoksal fosfat di otot, sebagian besar berkaitandengan glikogen fosforilase.
Bentuk ini tidak dapat digunakan pada keadaan defisiensi, tetapidibebaskan
jika terjadi kelaparan, saat cadangan glikogen terkuras, dan kemudian
dapatdigunakan, terutama di hati dan ginjal untuk memenuhi peningkatan
kebutuhanglukoneogenesis dari asam amino.

Asam PantotenatAsam pantotenat terutama diubah menjadi koenzim A di


tubuh, yang mempunyai banyak peran metabolisme dalam sel. Dua peran
tersebut diantaranya, yaitu (1) konversiasam piruvatdekarboksilasi menjadi
asetil KoA sebelum masuk ke dalam siklus asam sitrat,dan (2) degradasi
molekul asam lemak menjadi banyak molekul asetil KoA.

Daftar Mikronutrien

Vitamin Mikronutrien berupa vitamin yaitu: Vitamin A (retinol), Vitamin B


kompleks: vitamin B1 (thiamin), vitamin B2 (riboflavin), vitamin B3 (niacin),
vitamin B5 (asam pantotenat), Kelompok Vitamin B6: piridoksin, piridoksal,
dan piridoksamin, vitamin B7 (biotin), vitamin B8 (asam adenilat), vitamin B9
(asam folat), vitamin B12 (kobalamin), Kolin, Inositol, Vitamin C (asam
askorbat), Vitamin D, Vitamin E (tokoferol), Vitamin K, Biotin, Karotenoid:
alfa karoten, beta karoten, kriptosantin, lutein, likopen, zeaksantin

Makromineral Mikronutrien berupa makromineral yaitu: kalsium, klor,


magnesium, fosfat, kalium, natrium, besi.

Mineral Kelumit (Trace Mineral) Mikronutrien berupa mineral kelumit


yaitu: boron, kobal, klor, krom, tembaga, fluor, yodium, besi, mangan,
molibden, selenium, seng. Mikronutrien berupa asam organik yaitu: asam
asetat, asam sitrat, asam laktat, asam malat, kolin, taurin.
NAMA KEKURANGAN/
GEJALA DAN TANDA KLINIS
PENYAKIT DEFISIENSI
Buta senja
1 Vitamin A Mata kabur atau buta
(xeroftalmia)
Badan bengkak, tampak rewel, gelisah,
2 Beri-beri Vitamin B1
pembesaran jantung kanan
Retak pada sudut mulut, lidah merah jambu
3 Ariboflavinosis Vitamin B2
dan licin
Cengeng, mudah kaget, kejang, anemia (kurang
4 Defisiensi B6 Vitamin B6
darah), luka di mulut
Gejala 3 D (dermatitis /gangguan kulit, diare,
5 Defisiensi Niasin Niasin deementia), Nafsu makan menurun, sakit di ldah
dan mulut, insominia, diare, rasa bingung.
Defisiensi Asam
6 Asam folat Anemia, diare
folat
Anemia, sel darah membesar, lidah halus dan
7 Defisiensi B12 Vitamin B12
mengkilap, rasa mual, muntah, diare, konstipasi.
Cengeng, mudah mara, nyeri tungkai bawah,
8 Defisiensi C Vitamin C pseudoparalisis (lemah) tungkai bawah,
perdarahan kulit
Pembekakan persendian tulang, deformitas
Rakitis dan
9 Vitamin D tulang, pertumbuhan gigi melambat, hipotoni,
Osteomalasia
anemia
Perdarahan, berak darah, perdarahan hidung
10 Defisiensi K Vitamin K
dsb
Nama penyakit Kekurangan/Defisiensi Gejala dan tanda klinis
Anemia Defisiensi
1 Zat besi pucat, lemah, rewel
Besi
Mudah terserang penyakit, pertumbuhan
2 Defisiensi Seng Seng
lambat, nafsu makan berkurang, dermatitis
Pertumbuhan otak terganggu, rambut jarana
3 Defisiensi tembaga tembaga dan mudah patah, kerusakan pembuluh darah
nadi, kelainan tulang
4 Hipokalemi kalium Lemah otot, gangguan jantung
5 Defisiensi klor klor Rasa lemah, cengeng
6 Defisiensi Fluor Fluor Resiko karies dentis (kerusakan gigi)
Pertumbuhan kurang, sindroma like
7 Defisiensi krom krom
diabetes melitus
8 Hipomagnesemia magnesium Defisiensi hormon paratiroid
9 Defisiensi Fosfor Fosfor Nafsu makan menurun, lemas
Pembesaran kelenjar gondok, gangguan
10 Defisiensi Iodium Iodium
fungsI mental, perkembangan fisik

Interv
D. Intervensi Masalah Gizi Di Negara Berkembang
1. Suplementasi makanan dan fortifikasi
Suplementasi makanan adalah produk yang digunakan untuk
melengkapi makanan, mengandung satu atau lebih bahan berikut antara lain
vitamin, mineral, tumbuhan, atau bahan yang digunakan untuk meningkatkan
Angka Kecukupan Gizi (AKG) atau konsentrat, metabolit, konstituent, ekstrak
atau kombinasi dari beberapa bahan tersebut. Suplementasi makanan dapat
berupa padat meliputi tablet, tablet hisap, tablet evervesen, tablet kunyah,
serbuk, kapsul, kapsul lunak, granula, pastiles atau produk cair berupa tetes,
sirup, atau larutan.
Fortifikasi pangan adalah penambahan satu atau lebih zat gizi (nutrien)
kepangan. Tujuan utama adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat
gizi yang ditambahkan untuk meningkatkan status gizi populasi. harus
diperhatikan bahwa peran pokok dari fortifikasi pangan adalah pencegahan
detisiensi: dengan demikian menghindari terjadinya gangguan yang membawa
kepada penderitaan manusia dan kerugian sosio ekonomis. Namun demikian,
fortitkasi pangan juga digunakan untuk menghapus dan mengendalikan
defisiensi zat gizi dan gangguan yang diakibatkannya.
2. Pendidikan gizi

Pendidikan adalah segala tindakan dan usaha dengan maksud untuk merubah
pikiran serta sikap manusia sesuai dengan tujuan pendidikan tersebut. Usaha
pendidikan gizi menjadi lebih efisien dan efektif bila mengikuti langkah yang
tertib dan tersusun. Tujuan pendidikan gizi yaitu menanamkan pengertian
kepada seseorang (=sasaran pendidikan), sehingga pengertian terwujud
dalam sikap serta perbuatan dan kemudian menjadi kebiasaan yang baik dalam
hal makanan, dalam arti : dapat memilih makanan yang sebaliknya di makan
sehari-hari, demi untuk kesehatannya sesuai dengan tingkat sosial
ekonominya. Dalam proses pendidikan yaitu membangun perhatian sasaran
pendidikan dengan mengetahui kebutuhannya sehingga lebih mudah
pendekatan terhadap sasaran pendidikan sebagai batu loncatan untuk menarik
perhatian.

Dalam lapangan Ilmu gizi yang bertindak untuk pendidikan, adalah :


1) Petugas dalam Lapangan Kesehatan, Misalnya dokter, perawat, dan
sebagainya.
2) Petugas dalam lapangan pengajaran/pendidikan, guru, dosen dan
sebagainya.
3) Orang yang populer, seperti pejabat pemerintah, tokoh masyarakat dan
sebagainya.

Sasaran Pendidikan dalam lapangan ilmu gizi, dapat bersifat :


1) Perorangan, Misalnya pasien, ibu hamil, dan sebagainya.
2) Kelompok, Misalnya murid dalam kelas, mahasiswa dalam ruang kuliah,
dan sebagainya.
3) Umum, Misalnya pengunjung pameran, hadirin dalam suatu pertemuan dan
sebagainya.

Daftar lingkungan untuk melakukan pendidikan gizi :


1) Tempat, misalnya poliklinik, RS, pratek dokter, dan sebagainya.
2) Waktu, bersifat 1 kali penerangan/ceramah, dan sebagainya.
3) Media Pendidikan, dapat dilakukan secara lisan atau menggunakan alat
-alat.
4) Jarak dapat bersifat dekat ( berhadapan muka) atau jauh.
5) Keuangan, dapat bersifat sangat terbatas, mencukupi atau berlimpah-limpah
dan sebagainya.

Persiapan usaha pendidikan dimulai dari penyelidikan terhadap faktor


pendidikan, sasaran pendidikan serta faktor lingkungan; kemudian melakukan
perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan terakhirnya perencaan kembali.

Sasaran pendidikan Gizi yang pokok di antaranya :


1. Para Ibu RT sebagai titik pusat dari segala kegiatan kehidupan keluarga
2. Para Remaja sebagai masa depan bangsa
3. Para (calon) dokter, pejabat penting, tokoh masyarakat dan sebagainya yang
merupakan titik tolak yang potensial besar.

3. Makanan formulasi
Makanan formulasi adalah proses untuk mengembangkan gizi makanan untuk
kelompok yang berisiko terkena masalah gizi
Adapun manfaar dari makanan formulasi yaitu :
1. Untuk meningkatkan kandungan gizi mikro
2. Meningkatkan kebutuhan energi
3. Memberikan protein secara adekuat
4. Tersedianya dan tinnginya kualitas protein
5. Adekuat kebutuhan lemak
6. Mudah disiapkan
7. Terjangkau
8. Risiko kontaminasi rendah

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam food formulasi:


1. Kandungan gizi, kandungan makro dan mikro nutrient harus tercukupi
2. bahan baku murah, tersedia di pasaran, perhatikan asek tradisi masyarakat
tentang makanan
3. Proses, extracting and mixing
4. Daya terima konsumen,
5. Distribusi, promosi, harga
6. Efektifitas dan pembelian

Contoh formulasi makanan :


1. Blended foods
Pencampuran antara serealdan bahan-bahan lain yg ditambahkan seperti :
kacang, susu, gula, minyak, vitamin atau premix. Namun, untuk premix ini
cenderung berharga mahal.
Kriteria blended food yang baik adalah :
a. Rasanya lezat
b. Shelflife
c. Persiapannya mudah , dimasak mencakup waktu 5-10 menit
d. Have moisture content <10% dan serat <5%

nilai nutrisi :
Per 100 gram energy 400 kkal, protein 15%, fat 6%

Contoh produk blenden food adalah


1. Corn-soya blend (CSB), maize, soya flour, soya oil, vitamin/premix
2. Indiamix , 75% wheat and 25% soya , 55% wheat 25% soya 20% sugar
3. Famix (ethiopia)
4. Tenamix (tanzania)
Untuk kelompok balita, dibuat formulasi makanan yang TETP , contoh
produknya adalah
1. Rice-mongo Blend (RMB)
2. Banana-peanut
3. Soy-sesame nutrient cube
4. Squash nutient cube

Makanan formulasi untuk yang undernourished, mempunyai minimal energi


dan kandungan zat gizi sbb:
1. Energy 350 kkal
2. Protein 14% dari energi
3. Lemak 22% dari energi
4. KH 64% dari energi

Syarat :
1. Minimum Bulk
2. Penampilannya menarik
3. Rasa yang lezat
4. Berasal dari makanan lokal
5. Ketersediaan bahan
6. Biaya pembuatan rendah
7. Mudah untuk para ibu membuatnya sendiri

4. Subsidi harga pangan


Subsidi pangan adalah subsidi dari pemerintah yang dibayarkan kepada
masyarakat agar dapat memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa,
sehingga harga jualnya dapat dijangkau masyarakat.

Selain itu, subsidi pertanian tetap menjadi topik yang kontroversial dari sisi asal
muasalnya maupun kompleksitasnya karena seringkali melibatkan perusahaan
agribisnis besar yang memiliki kepentingan secara politik dan ekonomi.

Terdapat beberapa dampak nyata dari subsidi pertanian di negara maju terhadap
negara berkembang. Subsidi pertanian menurunkan harga pangan, yang berarti
petani yang tidak disubsidi di negara berkembang tidak dapat bersaing, dan
efeknya adalah bertambahnya jumlah kemiskinan di kalangan petani yang tidak
mampu bersaing dengan harga pangan yang murah. Diperkirakan dampak
subsidi ini terhadap negara berkembang setara dengan kehilangan pendapatan
sebesar US$ 24 miliar yang bisa didapatkan negara berkembang dari sektor
pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian. Dan lebih dari US$ 40 miliar
gagal didapatkan karena berkurangnya ekspor hasil pertanian. Subsidi pertanian
di negara maju memiliki dampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi sektor
pertanian dan perdagangan di negara miskin dan berkembang dan memiliki
dampak yang tidak langsung terhadap berkurangnya investasi di pedesaan.
Haiti adalah contoh nyata negara berkembang yang terpengaruh secara negatif
dari keberadaan subsidi pertanian di negara maju. Haiti memiliki kemampuan
memproduksi beras dan pernah swasembada. Namun kini Haiti tidak
memproduksi cukup beras untuk penduduknya. 60 persen bahan pangan di
negara tersebut adalah hasil impor. Setelah liberalisasi ekonomi dan turunnya
tarif impor, beras yang diproduksi di dalam negeri tidak mampu bersaing
dengan beras murah bersubsidi dan diproduksi secara efisien karena mekanisasi
pertanian, yang diimpor dari Amerika Serikat. Sedangkan petani Haiti tidak
menerima subsidi sama sekali. Tarif impor turun sebanyak 50% sejak 1995 dan
negara ini mengimpor 80 persen beras yang dikonsumsinya.

USDA mencatat bahwa sejak tahun 1980, produksi beras Haiti tidak berubah,
sedangkan konsumsi meningkat 8 kali lipat sejak tahun tersebut. Haiti
merupakan salah satu importir beras terbesar dari Amerika Serikat. Dengan
ketidakmampuan bersaing, para petani Haiti menyerah dan banyak yang
bermigrasi ke perkotaan untuk mencari pekerjaan lain.

Hal tersebut berdampak pada asupan nutrisi masyarakat. Sebagai contoh harga
bahan pangan berkalori tinggi yang disubsidi seperti serealia dan kentang
diperkirakan menjadi penyebab obesitas di Amerika Serikat karena harganya
yang murah. Gula dari tebu dan bit gula telah diganti dengan pemanis yang
lebih murah seperti sirup jagung sehingga makanan yang manis pun menjadi
lebih murah. Bahkan 63% subsidi yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat
dinikmati oleh industri daging dan peternakan susu. Harga jagung yang rendah
membuat sapi pedaging diberikan pakan berbahan dasar jagung. Sapi yang
diberikan pakan jagung akan memiliki daging dengan kandungan lemak yang
lebih tinggi.

5. Integrated program
a. Penyediaan air bersih
Air merupakan zat yang memiliki peranan sangat penting bagi
kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Manusia akan
lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan
makanan. Di dalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari
air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air,
untuk anak-anak sekitar 65 % dan untuk bayi sekitar 80%. Air
dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan antara
lain: diminum, masak, mandi, mencuci dan pertanian.

Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang


memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara
berkembang termasuk Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter
per hari. Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting
adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan
minum air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak
menimbulkan penyakit bagi manusia.

Air Bersih dan Sehat

Air minum harus steril (steril = tidak mengandung hama penyakit


apapun). Sumber-sumber air minum pada umumnya dan di daerah
pedesaan khususnya tidak terlindung sehingga air tersebut tidak atau
kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan
terlebih dahulu.

Pengolahan air untuk diminum dapat dikerjakan dengan 2 cara, berikut:

1. Menggodok atau mendidihkan air, sehingga semua kumankuman


mati. Cara ini membutuhkan waktu yang lama dan tidak dapat dilakukan
secara besar-besaran.

2. Dengan menggunakan zat-zat kimia seperti gas chloor, kaporit, dan


lain-lain. Cara ini dapat dilakukan secara besarbesaran, cepat dan
murah.

Agar air minum tidak menyebabkan penyakit, maka air tersebut


hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan,
setidaknya diusahakan mendekati persyaratan tersebut. Air yang sehat
harus mempunyai persyaratan sebagai berikut:

1. Syarat fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak
berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya sehingga
dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang memenuhi
persyaratan fisik ini tidak sukar.

2. Syarat bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri,
terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum
terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel
(contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat
kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat
kesehatan.

3. Syarat kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu didalam
jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat
kimia didalam air akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia.
Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan maka air minum
yang berasal dari mata air dan sumur dalam adalah dapat diterima
sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga persyaratan tersebut diatas
asalkan tidak tercemar oleh kotoran-kotoran terutama kotoran manusia
dan binatang. Oleh karena itu mata air atau sumur yang ada di pedesaan
harus mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak dicemari
oleh penduduk yang menggunakan air tersebut.

b. Penyetaraan gender
Kesetaraan gender, dikenal juga sebagai keadilan gender, adalah pandangan
bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak
didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka. Ini adalah salah satu
tujuan dari Deklarasi Universal Hak asasi Manusia, PBB yang berusaha untuk
menciptakan kesetaraan dalam bidang sosial dan hukum, seperti dalam
aktivitas demokrasi dan memastikan akses pekerjaan yang setara dan upah
yang sama. Dalam prakteknya, tujuan dari kesetaraan gender adalah agar tiap
orang memperoleh perlakuan yang sama dan adil dalam masyarakat, tidak
hanya dalam bidang politik, di tempat kerja, atau bidang yang terkait dengan
kebijakan tertentu.

c. Penanggulangan kemiskinan
Salah satu penghambat pembangaunan ekonomi adalah kemiskinan. Ia
merupakan tolak ukur bagi sebuah negara apakah pembangunan yang tengah
berlangsung dapat di nikmati oleh segenap warga negaranya tanpa memandang
hal-hal yang bersifat atributif. Dengan kata lain, pembangunan yang
berlangsung benar-benar merata dalam masyarakat.
Kemiskinan bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, sebab ia merupakan
akibat dari tidak tercapainya pembangunan ekonomi yang berlangsung. Dalam
hal ini, kemiskinan akan makin bertambah seiring tidak terjadinya pemerataan
pembangunan.
Di Indonesia beberapa program yang tengah digalakkan oleh
pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan antara lain dengan memfokuskan
arah pembangunan pada tahun 2008 pada pengentasan kemiskinan. Fokus
program tersebut meliputi 5 hal antara lain pertama menjaga stabilitas harga
bahan kebutuhan pokok; kedua mendorong pertumbuhan yang berpihak pada
rakyat miskin; ketiga menyempurnakan dan memperluas cakupan program
pembangunan berbasis masyarakat; keempat meningkatkan akses masyarakat
miskin kepada pelayanan dasar; dan kelima membangun dan menyempurnakan
sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.
Dari 5 fokus program pemerintah tersebut, diharapkan jumlah rakyat miskin
yang ada dapat tertanggulangi sedikit demi sedikit.
Beberapa langkah teknis yang digalakkan pemerintah terkait 5 program
tersebut seperti :
Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Fokus program ini bertujuan
menjamin daya beli masyarakat miskin/keluarga miskin untuk memenuhi
kebutuhan pokok terutama beras dan kebutuhan pokok utama selain beras.
Program yang berkaitan dengan fokus ini seperti :
Penyediaan cadangan beras pemerintah 1 juta ton
Stabilisasi/kepastian harga komoditas primer

E. Hambatan Dan Kendala Intervensi Gizi


Untuk mengatasi masalah gizi, diperlukan aksi lintas sektoral Asupan makanan yang
tidak memadai dan penyakit yang merupakan penyebab langsung masalah gizi ibu dan
anak adalah karena praktek pemberian makan bayi dan anak yang tidak tepat dan,
penyakit dan infeksi yang berulang terjadi, perilaku kebersihan dan pengasuhan yang
buruk. Pada gilirannya, semua ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti kurangnya
pendidikan dan pengetahuan pengasuh anak, penggunaan air yang tidak bersih,
lingkungan yang tidak sehat, keterbatasan akses ke pangan dan pendapatan yang rendah.

Intervensi gizi merupakan bagian dari program terpadu pengembangan anak usia dini
Misalnya, penambahan zat gizi mikro pada makanan anak-anak atau pemberian
makanan yang diperkaya dengan vitamin dan mineral, dan pemberian konseling kepada
ibu dan bapak tentang praktek pemberian makan harus berjalan seiring dengan
pengajaran orang tua tentang perilaku kesehatan dan kebersihan secara optimal, kegiatan
untuk meningkatkan keterampilan orangtua, dan intervensi psikososial untuk
mempromosikan perkembangan psikologis anak.

Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 menunjukan angka nasional 37,2 persen, bervariasi
dari yang terendah di Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Kalimantan
Timur (<30%) sampai yang tertinggi (>50%) di Nusa Tenggara Timur. Tidak berubahnya
prevalensi status gizi, kemungkinan besar belum meratanya pemantauan pertumbuhan,
dan terlihat kecenderungan proporsi balita yang tidak pernah ditimbang enam bulan
terakhir semakin meningkat dari 25,5 persen (2007) menjadi 34,3 persen (2013).

Intervensi yang terkait dengan praktek- praktek pemberian makanan anak dan gizi ibu
merupakan kunci untuk menangani gizi kurang pada anak-anak adalah 1000 hari
pertumbuhan yang menentukan (Bhutta,2013): konseling gizi bagi ibu hamil dan ibu
anak-anak muda, praktek pemberian makan bayi dan anak yang tepat: inisiasi pemberian
ASI dalam jam pertama kelahiran, pemberian ASI eksklusif kepada bayi usia kurang dari
enam bulan, dan pengenalan makanan pendamping ASI sesuai dengan praktek-praktek
yang direkomendasikan pada usia 6 bulan, dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai
usia minimal dua tahun Gizi mikro bagi perempuan hamil dan bagi anak,perilaku
kebersihan yang baik dalam kehamilan, masa bayi and usia dini pemberantasan penyakit
cacingan bagi ibu dan anak-anak usia 1-5 tahun, pengobatan anak yang sangat kurus,
dengan menggunakan makanan terapetik siap pakai, pemberian makanan tambahan bagi
ibu hamil yang kekurangan energi dan protein bagi ibu hamil kurang makan. oleh karena
itu diperlukan bantuan dari pihak-pihak pemerintah terutaa petugas kesehatan gizi.
Ada tiga hambatan utama terhadap peningkatan gizi dan perkembangan anak. Pertama,
masalah air bersih yang masih belum teratasi sampai sekarang. Kedua, banyak pihak
menghubungkan gizi kurang dengan kurangnya pangan dan percaya bahwa penyediaan
pangan merupakan jawabannya. Ketersediaan pangan bukan penyebab utama gizi
kurang di Indonesia, meskipun kurangnya akses ke pangan karena kemiskinan
merupakan salah satu penyebab.

Ketiga, pengetahuan yang tidak memadai dan praktek-praktek yang tidak tepat
merupakan hambatan signifikan terhadap peningkatan gizi. Pada umumnya, orang tidak
menyadari pentingnya gizi selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan sebagia
contoh: perempuan tidak menyadari pentingnya gizi mereka sendiri, masyarakat dan
petugas kesehatan perlu memahami pentingnya ASI eksklusif dan praktek-praktek
pemberian makan bayi dan anak yang tepat, dan memberikan dukungan kepada para ibu,
keluarga seringkali tidak memiliki pengetahuan tentang gizi dan perilaku kesehatan,
penyedia layanan kesehatan dan petugas masyarakat tidak memberikan konseling gizi
yang memadai, pengambil keputusan lokal seringkali tidak memiliki pengetahuan yang
memadai tentang apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan untuk meningkatkan gizi.

BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Secara etimologi, kata gizi berasal dari bahasa Arab ghidza, yang berarti
makanan. Menurut dialek Mesir, ghidza dibaca ghizi. Gizi adalah suatu proses
organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses
digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat
yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi
normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. Sedangkan Negara berkembang
yaitu negara yang rakyatnya mempunyai tingkat kesejahteraan atau kualitas hidup taraf
sedang atau dalam perkembangan. Masalah-masalah gizi yang sering terjadi dinegara
berkembang diantaranya yaitu Kekurangan Energi Protein (KEP), Obesitas, dan Defisiensi
micronutrien. Adapun intervensi yang dilakukan yaitu Suplementasi Makanan, Pendidikan
Gizi, Fortifikasi, Makanan formulasi, Subsidi harga pangan,Integrated program. Kendala
dan hambatan yang dialami dalam intervensi gizi antara lain : Kurangnya air bersih,
kurangnya bahan pangan dan pengetahuan masyarakat yang masih terbatas tentang
pentingnya gizi.

2. SARAN

Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan
baik itu dari segi penulisan maupun isi makalah. Oleh karena itu, saran dan kritik dari
pembaca akan sangat membantu kami sebagai bahan referensi agar kedepannya dapat
menjadi bahan pertimbangan kami dalam membuat makalah.

Tugas Dasar Gizi

MAKALAH INTERVENSI GIZI DI NEGARA


BERKEMBANG
Disusun oleh :

KELOMPOK 3

1. Petronella .K

2. Herman Arjuna

3. Sri Wani

4. Islamiati

5. Sri Andriani

6. Mutmainna

7. Jamaluddin

8. Maryam Desilia

9. Cici Yunita

Program Studi Kesehatan Masyarakat


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Mandala Waluya
Kendari
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa juga
kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang telah
membantu dalam menyumbangkan materi maupun pikiran untuk
penyusunan makalah ini.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami


yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu
kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Kendari, 5 Mei 2017

Penulis
DAFTAR ISI

SAMPUL.........................................................................................................
KATA PENGANTAR.....................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................

BAB I (PENDAHULUAN)

A. LATAR BELAKANG.......................................................................
B. RUMUSAN MASALAH.....................................................................

BAB II (KAJIAN PUSTAKA)

A. DEFINISI DAN TUJUAN INTERVENSI GIZI..............................


B. DEFINISI NEGARA BERKEMBANG............................................
C. MASALAH GIZI DI NEGARA BERKEMBANG..........................
D. INTERVENSI GIZI DI NEGARA BERKEMBANG......................
E. HAMBATAN DAN KENDALA INTERVENSI GIZI.....................

BAB III (PENUTUP)

A. KESIMPULAN...................................................................................
B. SARAN.................................................................................................