Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keadaan gizi dan kesehatan masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi,
sedangkan tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas hidangan.
Kualitas hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh di
dalam susunan hidangan dan perbandingannya antara satu zat terhadap zat yang lain,
sedangkan kuantitas merupakan kuantum masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan
tubuh. Kecukupan kualitas dan kuantitas zat gizi di dalam suatu hidangan akan
menjadikan tubuh sehat atau disebut sehat gizi. Bila kualitas dan jumlahnya melebihi
kebutuhan tubuh dinamakan konsumsi berlebih, sebaliknya bila kualitas dan kuantitas
zat gizi dalam hidangan kurang baik maka dinamakan kurang gizi atau defisiensi.

Dewasa ini Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yakni masalah gizi kurang
dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang umumnya disebabkan oleh kemiskinan,
kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasi),
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan, dan
adanya daerah miskin gizi (iodium). Sebaliknya masalah gizi lebih disebabkan oleh
kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu yang disertai dengan minimnya
pengetahuan tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan. Dengan demikian,
sebaiknya masyarakat meningkatkan perhatian terhadap kesehatan guna mencegah
terjadinya gizi salah (malnutrisi) dan risiko untuk menjadi kurang gizi.
Berlandaskan oleh latar belakang di atas maka di dalam makalah ini akan dibahas
mengenai status gizi dan beberapa aspek yang berkaitan dengan status gizi.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan status gizi ?

2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi ?

3. Apa saja faktor lingkungan yang mempengaruhi ketersediaan pangan dan gizi ?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan status gizi.

2. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi.

3. Memahami faktor lingkungan yang mempengaruhi ketersediaan pangan dan gizi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Status Gizi


Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak
yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga
didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara
kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang
didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck, 2000: 1).

2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi


1. Faktor External
Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
a) Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga,
yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999).
b) Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan
perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang baik
(Suliha, 2001).
c) Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang
kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu.
Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga
(Markum, 1991)
d) Budaya
Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan
kebiasaan (Soetjiningsih, 1998).

3
2. Faktor Internal
Faktor Internal yang mempengaruhi status gizi antara lain :
a) Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang
tua dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
b) Kondisi Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia,
semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk.
Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada
periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat (Suhardjo,
et, all, 1986).
c) Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau
menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et, all, 1986).

2.3 Penilaian Status Gizi


Penilaian Status gizi adalah Ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam
bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel
tertentu, contoh gondok endemik merupakan keadaaan tidak seimbangnya pemasukan
dan pengeluaran yodium dalam tubuh.
Macam-macam penilaian status gizi

1. Penilaian status gizi secara langsung

Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian
yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik.

4
a. Antropometri
1) Pengertian
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut
pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi.
2) Penggunaan
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan
protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan
proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
3) Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI)
Salah satu contoh penilaian ststus gizi dengan antropometri adalah Indeks Massa
Tubuh. Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat
atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang
berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Berat badan kurang dapat
meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan
meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu,
mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia
harapan hidup yang lebih panjang.
Pedoman ini bertujuan memberikan penjelasan tentang cara-cara yang dianjurkan
untuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT dengan penerapan hidangan
sehari-hari yang lebih seimbang dan cara lain yang sehat.
Untuk memantau indeks masa tubuh orang dewasa digunakan timbangan berat
badan dan pengukur tinggi badan. Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa
berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil,
dan olahragawan.

5
Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:
Berat Badan (Kg)
IMT = Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)
Pada akhirnya diambil kesimpulan, batas ambang IMT untuk Indonesia adalah
sebagai berikut:
Kategori IMT

Kurus Kekurangan berat badan tingkat


berat

Kurus Kekurangan berat badan tingkat 17,0 18,4


sekali ringan

Normal Normal 18,5 25,0

Gemuk Kelebihan berat badan tingkat 25,1 27,0


ringan

Obes Kelebihan berat badan tingkat berat > 27,0

Untuk mengukur status gizi anak baru lahir adalah dengan menimbang berat
badannya yaitu : jika 2500 gram maka dikategorikan BBLR (Berat Badan Lahir
Rendah) jika 2500 3900 gram Normal dan jika 4000 gram dianggap gizi lebih.
Untuk Wanita hamil jika LILA (LLA) atau Lingkar lengan atas <>
b. Klinis
1) Pengertian
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi
masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang
dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan
epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau
pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.

6
2) Penggunaan
Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical
surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis
umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Di samping itu digunakan untuk
mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fifik yaitu
tanda (sign) dan gejala (Symptom) atau riwayat penyakit.
c. Biokimia
1) Pengertian
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji
secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan
tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan
tubuh seperti hati dan otot.
2) Penggunaan
Metode ini digunakan untuk suata peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi
keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik,
maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan
kekurangan gizi yang spesifik.

d. Biofisik
1) Pengertian
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan
melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari
jaringan.
2) Penggunaan
Umumnya dapat digunaakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja
epidemik (epidemic of night blindnes). Cara yang digunakan adalah tes adaptasi
gelap.

7
2. Penilaian gizi secara tidak langsung

Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu : Survei Konsumsi
makanan, statistik vital dan faktor ekologi.
a. Survei Konsumsi Makanan
1) Pengertian
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak
langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
2) Penggunaan
Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang
konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini dapat
mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi.
b. Statistik Vital
1) Pengertian
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis dan
beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka
kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan.
2) Penggunaan
Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung
pengukuran status gizi masyarakat.
c. Faktor Ekologi
1) Pengertian
Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai
hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah
makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah,
irigasi dll.

8
2) Penggunaan
Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab
malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi
gizi.

2.4 Macam Klasifikasi Status Gizi


Tabel 2.1. Tabel Status Gizi

INDEKS STATUS GIZI AMBANG BATAS *)

Gizi Lebih > + 2 SD


Berat badan menurut Gizi Baik -2 SD sampai +2 SD
umur (BB/U) Gizi Kurang < -2 SD sampai -3SD
Gizi Buruk < 3 SD
Tinggi badan menurut Normal 2 SD
umur (TB/U) Pendek (stunted) < -2 SD
Berat badan menurut Gemuk > + 2 SD
tinggi badan (BB/TB) Normal -2 SD sampai + 2 SD
Kurus (wasted) < -2 SD sampai -3 SD
Kurus sekali < 3 SD
Sumber : Depkes RI, 2002.

Klasifikasi di atas berdasarkan parameter antropometri yang dibedakan atas:


1) Berat Badan / Umur
Status gizi ini diukur sesuai dengan berat badan terhadap umur dalam bulan yang
hasilnya kemudian dikategorikan sesuai dengan tabel 2.1.

9
2) Tinggi Badan / Umur
Status gizi ini diukur sesuai dengan tinggi badan terhadap umur dalam bulan yang
hasilnya kemudian dikategorikan sesuai dengan tabel 2.1.
3) Berat Badan / Tinggi Badan
Status gizi ini diukur sesuai dengan berat badan terhadap tinggi badan yang hasilnya
kemudian dikategorikan sesuai dengan tabel 2.1
4) Lingkar Lengan Atas / Umur
Lingkar lengan atas (LILA) hanya dikategorikan menjadi 2 kategori yaitu gizi kurang
dan gizi baik dengan batasan indeks sebesar 1,5 cm/tahun.
Menurut Depkes RI (2005) Parameter berat badan / tinggi badan berdasarkan
kategori Z-Score diklasifikasikan menjadi 4 yaitu:
1) Gizi Buruk ( Sangat Kurus) : < -3 SD
2) Gizi Kurang (Kurus) : -3SD s/d < - 2SD
3) Gizi Baik (Normal) : -2 SD s/d + 2SD
4) Gizi Lebih (Gemuk) : > + 2SD

2.5 Faktor - Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Status Gizi dan Produksi
Pangan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di luar diri host baik benda mati,
benda hidup, nyata atau abstrak, seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi
semua elemen-elemen termasuk host yang lain (Soemirat, 2005). Bengoa
mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi
beberapa faktor fisik, biologis, dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang
tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-
lain. Di samping itu, budaya juga berpengaruh seperti kebiasaan memasak, prioritas
makanan dalam keluarga, distribusi dan pantangan makan bagi golongan rawan gizi
(Supariasa, 2002).

10
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi persediaan pangan dan asupan
gizi seseorang adalah lingkungan fisik, biologis, budaya, sosial, ekonomi, dan politik
(Achmadi, 2009).
1. Kondisi fisik yang dapat mempengaruhi terhadap status pangan dan gizi suatu
daerah adalah cuaca, iklim, kondisi tanah, sistem bercocok tanam, dan kesehatan
lingkungan (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2005).
2. Faktor lingkungan biologi misalnya adanya rekayasa genetika terhadap tanaman
dan produk pangan. Kondisi ini berpengaruh terhadap pangan dan gizi. Selain itu
adanya interaksi sinergis antara malnutrisi dengan penyakit infeksi yaitu infeksi akan
mempengaruhi status gizi dan mempercepat malnutrisi (Anonim, 2009). Ketiga,
3. Lingkungan ekonomi. Kondisi ekonomi seseorang sangat menentukan dalam
penyediaan pangan dan kualitas gizi. Apabila tingkat perekonomian seseorang baik
maka status gizinya akan baik. Golongan ekonomi yang rendah lebih banyak
menderita gizi kurang dibandingkan golongan menengah ke atas.
4. Faktor lingkungan budaya. Dalam hal sikap terhadap makanan, masih banyak
terdapat pantangan, takhayul, tabu dalam masyarakat yang menyebabkan konsumsi
makanan menjadi rendah. Di samping itu jarak kelahiran anak yang terlalu dekat dan
jumlah anak yang terlalu banyak akan mempengaruhi asupan zat gizi dalam keluarga.
Kelima,
5. Lingkungan sosial. Kondisi lingkungan sosial berkaitan dengan kondisi ekonomi di
suatu daerah dan menentukan pola konsumsi pangan dan gizi yang dilakukan oleh
masyarakat. Misalnya kondisi sosial di pedesaan dan perkotaan yang memiliki pola
konsumsi pangan dan gizi yang berbeda. Selain status gizi juga dipengaruhi oleh
kepadatan penduduk, ketegangan dan tekanan sosial dalam masyarakat. Keenam,
lingkungan politik. Ideologi politik suatu negara akan mempengaruhi kebijakan
dalam hal produksi, distribusi, dan ketersediaan pangan (Supariasa, 2002).
Dengan demikian faktor lingkungan mempengaruhi persediaan pangan dan
asupan zat-zat gizi. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk

11
mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan
program intervensi gizi (Supariasa, 2002).

2.6 Permasalahan Gizi Masyarakat

Permasalahan Gizi Masyarakat dapat dilihat pada bagan berikut :


UNICEF (1988) telah mengembangkan kerangka konsep makro (lihat skema.)
sebagai salah satu strategi untuk menanggulangi masalah kurang gizi. Dalam
kerangka tersebut ditunjukkan bahwa masalah gizi kurang dapat disebabkan oleh:

1. Penyebab langsung
Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang.
Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi
juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit,
pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak
memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan
mudah terserang penyakit.
2. Penyebab tidak langsung
Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu :
a) Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan
mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam
jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya.
b) Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan mayarakat diharapkan
dapat menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh
kembang dengan baik baik fisik, mental dan sosial.
c) Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistim pelayanan kesehatan
yang ada diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih dan sarana pelayanan
kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan.

12
Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan
ketrampilan keluarga. Makin tinggi tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan,
makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik pola pengasuhan maka
akan makin banyak keluarga yang memanfaatkan pelayanan kesehatan.
3. Pokok masalah di masyarakat
Kurangnya pemberdayaan keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumber daya
masyarakat berkaitan dengan berbagai faktor langsung maupun tidak langsung.
4. Akar masalah
Kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga serta kurangnya pemanfaatan
sumber daya masyarakat terkait dengan meningkatnya pengangguran, inflasi dan
kemiskinan yang disebabkan oleh krisis ekonomi, politik dan keresahan sosial yang
menimpa Indonesia sejak tahun 1997. Keadaan tersebut teleh memicu munculnya
kasus-kasus gizi buruk akibat kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga yang tidak
memadai.
Masalah gizi terbagi menjadi masalah gizi makro dan mikro. Masalah gizi
makro adalah masalah yang utamanya disebabkan kekurangan atau
ketidakseimbangan asupan energi dan protein. Manifestasi dari masalah gizi makro
bila terjadi pada wanita usia subur dan ibu hamil yang Kurang Energi Kronis (KEK)
adalah berat badan bayi baru lahir yang rendah (BBLR). Bila terjadi pada anak balita
akan mengakibatkan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor dan
selanjutnya akan terjadi gangguan pertumbuhan pada anak usia sekolah. Anak balita
yang sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan
antara berat badan menurut umur atau berat badan menurut tinggi, apabila sesuai
dengan standar anak disebut Gizi Baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut Gizi
Kurang, sedangkan jika jauh di bawah standar disebut Gizi Buruk. Bila gizi buruk
disertai dengan tandatanda klinis seperti ; wajah sangat kurus, muka seperti orang tua,
perut cekung, kulit keriput disebut Marasmus, dan bila ada bengkak terutama pada
kaki, wajah membulat dan sembab disebut Kwashiorkor. Marasmus dan Kwashiorkor

13
atau Marasmus Kwashiorkor dikenal di masyarakat sebagai busung lapar. Gizi
mikro (khususnya Kurang Vitamin A, Anemia Gizi Besi, dan Gangguan Akibat
Kurang Yodium).
Menurut Hadi (2005), Indonesia mengalami beban ganda masalah gizi yaitu
masih banyak masyarakat yang kekurangan gizi, tapi di sisi lain terjadi gizi lebih.

2.7 Solusi Permasalahan Gizi Masyarakat


Menurut Hadi (2005), solusi yang bisa kita lakukan adalah berperan bersama-sama.
Peran Pemerintah dan Wakil Rakyat (DPRD/DPR). Kabupaten Kota daerah
membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat, misalnya kebijakan yang mempunyai
filosofi yang baik menolong bayi dan keluarga miskin agar tidak kekurangan gizi
dengan memberikan Makanan Pendamping (MP) ASI.
Peran Perguruan Tinggi. Peran perguruan tinggi juga sangat penting dalam
memberikan kritik maupun saran bagi pemerintah agar supaya pembangunan
kesehatan tidak menyimpang dan tuntutan masalah yang riil berada di tengah-tengah
masyarakat, mengambil peranan dalam mendefinisikan ulang kompetensi ahli gizi
Indonesia dan memformulasikannya dalam bentuk kurikulum pendidikan tinggi yang
dapat memenuhi tuntutan zaman.
Menurut Azwar (2004). Solusi yang bisa dilakukan adalah :
1. Upaya perbaikan gizi akan lebih efektif jika merupakan bagian dari kebijakan
penangulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. Membiarkan penduduk
menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian tujuan
pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Berbagai pihak terkait
perlu memahami problem masalah gizi dan dampak yang ditimbulkan begitu
juga sebaliknya, bagaimana pembangunan berbagai sektor memberi dampak
kepada perbaikan status gizi. Oleh karena itu tujuan pembangunan beserta
target yang ditetapkan di bidang perbaikan gizi memerlukan keterlibatan
seluruh sektor terkait.

14
2. Dibutuhkan adanya kebijakan khusus untuk mempercepat laju percepatan
peningkatan status gizi. Dengan peningkatan status gizi masyarakat
diharapkan kecerdasan, ketahanan fisik dan produktivitas kerja meningkat,
sehingga hambatan peningkatan ekonomi dapat diminimalkan.
3. Pelaksanaan program gizi hendaknya berdasarkan kajian best practice
(efektif dan efisien) dan lokal spesifik. Intervensi yang dipilih dengan
mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti: target yang spesifik tetapi
membawa manfaat yang besar, waktu yang tepat misalnya pemberian Yodium
pada wanita hamil di daerah endemis berat GAKY dapat mencegah cacat
permanen baik pada fisik maupun intelektual bagi bayi yang dilahirkan. Pada
keluarga miskin upaya pemenuhan gizi diupayakan melalui pembiayaan
publik.
4. Pengambil keputusan di setiap tingkat menggunakan informasi yang akurat
dan evidence base dalam menentukan kebijakannya. Diperlukan sistem
informasi yang baik, tepat waktu dan akurat. Disamping pelaksanaan
monitoring dan evaluasi yang baik dan kajian-kajian intervensi melalui
kaidah-kaidah yang dapat dipertanggung jawabkan.
5. Mengembangkan kemampuan (capacity building) dalam upaya
penanggulangan masalah gizi, baik kemampuan teknis maupun kemampuan
manajemen. Gizi bukan satu-satunya faktor yang berperan untuk
pembangunan sumber daya manusia, oleh karena itu diperlukan beberapa
aspek yang saling mendukung sehingga terjadi integrasi yang saling sinergi,
misalnya kesehatan, pertanian, pendidikan diintegrasikan dalam suatu
kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
6. Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk
melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan
dengan swasta, LSM dan masyarakat.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi yang
diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan. Status gizi juga didefinisikan
sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan
masukan nutrien.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi adalah faktor external
faktor eksternal. faktor external meliputi pendapatan, pendidikan, pekerjaan dan
budaya sedangkan factor internal meliputi usia kondisi fisik infeksi.
Dan Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi persediaan pangan dan
asupan gizi seseorang adalah lingkungan fisik, biologis, budaya, sosial, ekonomi, dan
politik.

3.2 Saran
Dalam hal ini sesungguhnya bahwa untuk keberhasilan dalam pemenuhan
nutrisi di masyarakat umumnya sangat tergantung dengan factor ekologi yang
dihadapi dalam suatu kalangan masyarakat. Sebab faktor tersebut berhubungan
dengan segala sesuatu yang ada di luar diri host baik benda mati, benda hidup, nyata
atau abstrak, seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen-elemen
termasuk host yang lain sehingga kiita sebagai masyarkat hedaknya mampu
menyediakan penyedian pangan semaksimal mungkin demi pencapaian status gizi yg
optimal.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. http://hasanah619.wordpress.com/2010/01/04/pengukuran-faktor-ekologi/
(Diakses tanggal : 20 Maret 2012, pukul 21.20 WIB)

2. http://aniamaharani.multiply.com/journal/item/21/FAKTOR-
FAKTOR_LINGKUNGAN_YANG_MEMPENGARUHI_STATUS_GIZI_KETERS
EDIAAN_DAN_PRODUKSI_PANGAN?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fi
tem
(Diakses tanggal : 20 Maret 2012, pukul 21.35 WIB)

3. http://statusgizi.blogspot.com/2009/06/konsep-masalah-gizi.html
(Diakses tanggal : 20 Maret 2012, pukul 21.38 WIB)

4. http://ajago.blogspot.com/2007/12/gizi-kesehatan-masyarakat.html

(Diakses tanggal : 21 Maret 2012, pukul 12.30 WIB)

5. http://creasoft.wordpress.com/2010/01/01/status-gizi/
(Diakses tanggal : 20 Maret 2012, pukul 21.22 WIB)

6. http://arda.students-blog.undip.ac.id/2009/10/27/faktor-faktor-lingkungan-yang-
mempengaruhi-pangan-dan-gizi/
(Diakses tanggal : 20 Maret 2012, pukul 21.55 WIB)

7. http://ras-eko.blogspot.com/2011/10/status-gizi.html

(Diakses tanggal : 20 Maret 2012, pukul 22.10 WIB)

17