Anda di halaman 1dari 14

Laporan Hasil Praktikum

KECEPATAN REAKSI

CINDY RESTU BHAKTI

H021 17 1514

LABORATORIUM KIMIA DASAR


UNIT PELAKSANA TEKNIS - MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Reaksi kimia berjalan pada tingkat yang berbeda. Beberapa diantaranya

berjalan sangat lambat, misalnya penghancuran kaleng aluminium oleh udara atau

penghancuran botol plastik oleh sinar matahari, yang memerlukan waktu

bertahun-tahun bahkan berabad-abad. Beberapa reaksi lain berjalan sangat cepat

misalnya nitrogliserin yang mudah meledak. Selain itu beberapa reaksi dapat berjalan

cepat atau lambat bergantung pada dakondisinya, misalnya besi mudah berkarat pada

kondisi lembab, tetapi di lingkungan yang kering, misalnya di gurun besi berkarat

cukup lambat (Azizah, 2004).

Laju atau kecepatan didefinisikan sebagai jumlah suatu perubahan tiap satuan

waktu. Satuan waktu dapat berupa detik, menit, jam, hari atau tahun. Sebagai contoh,

seseorang lari dengan kecepatan 10 km/jam. Artinya orang tersebut telah berpindah

tempat sejauh 10 km dalam waktu satu jam. Bagaimanakah cara menyatakan laju

dari suatu reaksi? Dalam reaksi kimia, perubahan yang dimaksud adalah perubahan

konsentrasi pereaksi atau produk. Seiring dengan bertambahnya waktu reaksi, maka

jumlah zat pereaksi akan makin sedikit, sedangkan produk makin banyak. Laju reaksi

dinyatakan sebagai laju berkurangnya pereaksi atau laju bertambahnya produk.

Satuan konsentrasi yang digunakan adalah molaritas (M) atau mol per liter

(mol. L-1). Satuan waktu yang digunakan biasanya detik. Sehingga laju reaksi

mempunyai satuan mol per liter per detik (mol. L-1. s atau M. s) (Azizah, 2004).

Berdasarkan latar belakang ini, maka dilakukan percobaan untuk mengetahui

faktor-faktor apa saja yang memengaruhi laju reaksi.


1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah mengetahui dan mempelajari pengaruh

konsentrasi dan suhu terhadap kecepatan reaksi.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah :

1. Menentukan pengaruh konsentrasi larutan H2SO4 terhadap kecepatan reaksi

2. Menentukan pengaruh konsentrasi larutan Na2S2O3 terhadap kecepatan reaksi

3. Menentukan pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi

1.3 Manfaat Percobaan

Penentuan persamaan laju reaksi bermanfaat untuk mengetahui sifat dari

reaksi tersebut, dan hal-hal yang memengaruhi kecepatan suatu reaksi, sehingga

dapat meramalkan dan menentukan kondisi reaksi yang tepat untuk suatu reaksi.

Dengan demikian, kita dapat mengendalikan suatu reaksi, baik menghambat maupun

mempercepatnya, dengan mengatur kondisinya dan jumlah pereaksinya.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada umumnya, tetapan kesetimbangan K ditentukan secara termodinamika.

Berdasarkan konsep ini, untuk suatu sistem homogen pada suatu temperatur tertentu

harga K sama dengan konsentrasi semua jenis produk pangkat koefisien dari

masing-masing dengan pereaksi pangkat koefisien masing-masing pada saat reaksi

setimbang. Dalam praktek, terkadang ini bisa memerlukan waktu yang relatif lama

kesetimbangannya (Patiha, 2013).

Reaksi kesetimbangan dapat juga dipelajari secara kinetika. Untuk beberapa

alasan cara ini bahkan lebih menguntungkan. Meski secara termodinamika reaksi

pembentukan suatu produk industri merupakan reaksi eksotermis, proses tetap

dilakukan pada temperatur tinggi karena (pertimbangan kinetika), walau hasilnya

relatif lebih sedikit, waktu yang diperlukan jauh lebih singkat. Konsep

termodinamika hanya menyatakan bahwa jika konsentrasi salah satu pereaksi

dilebihkan maka kesetimbangan akan bergeser ke arah produk, tetapi konsep kinetika

menyatakan pereaksi mana yang sebaiknya dilebihkan (Patiha, 2013).

Untuk reaksi order ke-nol, harga tetapan laju k yang diperoleh

(dengan metode diferensial) selalu berbeda dengan yang dari metode integral dan

telah memberikan faktor koreksi sehingga harganya sama (Patiha, 2013).

Penentuan harga K dengan metode integral lebih banyak digunakan. Namun

sedikitnya ada 3 masalah yang bisa mengganggu. Pertama, terdapat sejumlah

persamaan integral yang cukup rumit dan berbeda tergantung pada order reaksi pada

kedua arah. Data harus dicobakan pada semua persamaan. Hukum lajunya adalah

persamaan yang memberikan kurva yang paling mendekati linear. Tentunya, ini tidak
praktis karena penentuannya bersifat trial and error. Kedua, yang bisa ditentukan

hanyalah tetapan laju reaksi maju kf. Wilkinson (1980) menyatakan bahwa harga

tetapan laju reaksi balik kb, hanya bisa ditentukan berdasar mekanisme reaksi yang

dipostulatkan akan berlangsung. Ini bertentangan dengan kebiasaan dalam kinetika

yakni bahwa mekanisme reaksi dideduksi berdasarkan hukum laju dan bukan

sebaliknya. Ketiga, persamaan integral ini juga masih menggunakan konsentrasi

kesetimbangan sehingga sekali lagi tidak praktis dan terkesan termodinamika untuk

kinetika (Patiha, 2013).

Bidang kimia yang mengkaji kecepatan, atau laju, terjadinya reaksi kimia

dinamakan kinematika kimia (chemical kinetics). Kata kinetik menyiratkan

gerakan atau perubahan; seperti yang diketahui bahwa energi kinetik adalah energi

yang tersedia karena gerakan suatu benda. Disini kinetika merujuk pada laju reaksi

(reaction rate), yaitu perubahan konsentrasi reaktan atau produk terhadap waktu

(M/s) (Chang, 2005).

Dalam kimia dikenal istilah laju reaksi. Persamaan reaksi terdiri atas reaktan

dan produk. Dalam hal ini jika diandaikan reaksi berjalan terus, maka secara logika

konsentrasi reaktan akan semakin berkurang, sedangkan konsentrasi produk akan

semakin bertambah. Karena dalam reaksi tidak ada jarak yang harus ditempuh, maka

konsentrasi reaktan berkurang setiap saat atau konsentrasi produk bertambah setiap

saat. Hal ini dapat dianalogikan sebagai jarak yang ditempuh. Dengan analogi

tersebut, maka laju reaksi dapat didefinisikan sebagai laju berkurangnya

konsentrasi reaktan tiap satuan waktu. Atau laju bertambahnya konsentrasi

produk tiap satuan waktu (Sudarlin, 2010).

Secara umum, setiap reaksi dapat digambarkan dengan persamaan :

Reaktan Produk
Persamaan ini memberitahukan bahwa, selama berlangsungnya suatu reaksi, molekul

reaktan bereaksi sedangkan molekul produk terbentuk. Sebagai hasilnya, untuk

mengamati jalannya laju reaksi dengan cara memantau menurunnya konsentrasi

rektan atau meningkatya konsentrasi produk. Menurunnya jumlah molekul reaktan

dan meningkat jumlah molekul produk seiring berjalannya wakru, secara umum akan

lebih mudah diamati apabila laju dinyatakan dalam perubahan konsentrasi terhadap

waktu (Chang, 2005).

Untuk reaksi yang lebih rumit, kita harus berhati-hati dalam menuliskan

rumus laju, misalnya reaksi (Chang, 2005) :

2A B

Gambar 2.1 jalanya reaksi A B pada selang waktu 10 detik

selama waktu 60 detik (Silberberg, 2010)

Perkembangan lebih lanjut dari teori laju reaksi didasarkan pada mekanika

statistik dari ekuilibrium antara reaktan dan transisi. Eyring mengenalkan mekanika

statistik ke dalam ekspresi dari persamaan laju didasarkan pada gagasan bahwa

permukaan energi potensial dapat dihitung dengan mekanika kuantum, dan gerak

dari kerangka nuklir selanjutnya dapat diperlakukan secara klasik dengan mekanika

statistic (Hettema, 2012).

Reaksi kimia dapat dipercepat atau diperlambat dengan cara memberi

perlakuan tertentu. Perlakuan tersebut yaitu (Sudarlin, 2010) :


1. Ukuran Partikel

Jika ukuran partikel semakin kecil, maka reaksi akan berjalan semakin cepat

akibat bertambahnya permukaan materi tersebut. Jika kalian mempunyai benda

berbentuk kubus dengan ukuran rusuk panjang, lebar, dan tinggi sama,

yaitu 1 cm (Sudarlin, 2010).

Secara matematika dapat dihitung bahwa luas permukaan kubus sebesar 6

kali luas sisinya. Karena kubus mempunyai 6 sisi yang sama, maka jumlah luas

permukaannya adalah 6 1 cm 1 cm = 6 cm2. Sekarang jika kubus tersebut

dipotong sehingga menjadi 8 buah kubus yang sama besar, maka keempat kubus akan

mempunyai panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 0,5 cm. Luas permukaan untuk

sebuah kubus menjadi 6 0,5 cm 0,5 cm = 1,5 cm2. Jumlah luas permukaan kubus

menjadi 8 1,5 cm2 = 12 cm2. Jadi, dengan memperkecil ukuran kubus, maka luas

permukaan total menjadi semakin banyak (Sudarlin, 2010).

Gambar 2.2 Luas permuakaan partikel kecil lebih besar

Jika ukuran partikel suatu benda semakin kecil, maka akan semakin banyak

jumlah total permukaan benda tersebut. Oleh karena itu, luas permukaan semakin

banyak maka kemungkinan terjadinya tumbukan antarpermukaan partikel akan

semakin sering. Hal ini dapat mempercepat terjadinya reaksi (Sudarlin, 2010).

2. Suhu

Kenaikkan suhu mempercepat reaksi karena dengan kenaikkan suhu gerakan

partikel semakin cepat. Energi kinetik partikel-partikel semakin bertambah sehingga


makin banyak terjadi tumbukan yang efektif. Dengan demikian, makin banyak

partikel-partikel yang bereaksi (Sudarlin, 2010).

Gambar 2.3 Gerakan partikel-partikel dalam

reaksi kimia pada suhu T1 dan T2

Beberapa hasil eksprimen menunjukkan bahwa kenaikan suhu 10oC, akan

menambah laju reaksi 2 kali lipat (Sudarlin, 2010).

3. Konsentrasi

Suatu larutan dengan konsentrasi tinggi tentu mengandung molekul-molekul

yang lebih rapat dibandingkan dengan konsentrasi larutan rendah. Larutan dengan

konsentrasi tinggi merupakan larutan pekat dan larutan dengan konsentrasi rendah

merupakan larutan encer (Sudarlin, 2010).

Pada larutan pekat, letak molekulnya rapat sehingga sering terjadi tumbukan

dibandingkan dengan larutan encer. Itulah sebabnya, jika konsentrasi larutan yang

direaksikan semakin besar, maka laju reaksinya juga semakin besar (Sudarlin, 2010).

Gambar 2.4 Partikel reaktan dalam

(a) konsentrasi rendah, (b) konsentrasi tinggi


4. Katalis

Katalisator merupakan zat yang mampu mempengaruhi laju reaksi. Dalam

kerjanya katalisator akan ikut bereaksi dengan zat-zat reaktan, tetapi diakhir proses

reaksi katalisator tersebut akan memisah kembali. Katalis ada dua macam, yaitu

katalis yang bersifat positif dan katalis negatif. Katalis bersifat positif dapat

mempercepat laju reaksi. Katalis bersifat negatif merupakan katalisator yang

memperlambat laju reaksi, katalisator ini dinamakan inhibitor (Sudarlin, 2010).

Adanya katalis positif dalam reaksi kimia mengakibatkan energi aktivasi

reaksi semakin kecil. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya reaksi semakin

besar. Bayangkan jika kalian ingin menuju suatu tempat yang dihalangi sebuah

gunung. Jalan yang satu harus mendaki gunung, sedangkan jalan yang lain melewati

terowongan yang menembus gunung, Jalan yang harus mendaki gunung

digambarkan sebagai jalan tanpa katalis, sedangkan jalan melalui terowongan adalah

jalan dengan katalis. Dalam hal ini terowongan merupakan suatu

katalis (Sudarlin, 2010).

Gambar 2.5 Diagram energi aktivasi dengan atau tanpa katalis


BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan H2SO4 0,1 M,

larutan Na2S2O3 0,1 M, akuades, tissue roll dan es batu.

3.2 Alat Percobaan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung reaksi, stopwatch,

kaki tiga, rak tabung, penjepit tabung, gelas piala, kawat kasa, lampu spirtus,

thermometer, bulb dan sikat tabung.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 PengaruhKonsentrasi Na2S2O3

Disediakan 10 buah tabung reaksi pada rak tabung, 5 buah tabung diisi dengan

5 mL H2SO4 (konsentrasi tetap), 5 buah tabung diisi dengan 5 mL, 4 mL, 3 mL, 2

mL, 1 mL Na2S2O3 0,1 M diencerkan hingga volume 5 mL dengan akuades.

Dicampurkan isi tabung dari 5 sediaan pertama ke dalam sediaan kedua. Dinyalakan

stopwatch ketika kedua sediaan bercampur dan dihentikan setelah terjadi reaksi

(keruh). Sebaiknya stopwatch dimatikan saat belum terlalu keruh. Dicatat waktu

yang digunakan dan ditentukan nilai m, k, dan dibuat persamaan kecepatan

reaksinya.

3.3.2 PengaruhKonsentrasiH2SO4

Disediakan 10 buah tabung reaksi pada rak tabung, 5 buah tabung diisi dengan

5 mL Na2S2O3 (konsentrasi tetap), 5 buah tabung diisi dengan 5 mL, 4 mL, 3 mL, 2

mL, 1 mL H2SO40,1 M diencerkan hingga volume 5 mL dengan akuades.


Dicampurkan isi tabung dari 5 sediaan pertama ke dalam sediaan kedua. Dinyalakan

stopwatch ketika kedua sediaan bercampur dan dihentikan setelah terjadi reaksi

(keruh). Sebaiknya stopwatch dimatikan saat belum terlalu keruh. Dicatat waktu

yang digunakan dan ditentukan nilai m, k, dan dibuat persamaan kecepatan

reaksinya.

3.3.3 Pengaruh Suhu

Disiapkan 6 buah tabung reaksi pada rak tabung. Tiga buah tabung reaksi diisi

dengan H2SO4 dan tiga buah diisi dengan Na2S2O3.Dimasukkan air dingin (air es) ke

dalam gelas piala. Dimasukkan sepasang tabung yang sudah berisi H2SO4 dan

Na2S2O3 ke dalam gelas piala tersebut sehingga suhunya merata beserta larutannya.

Diambil satu tabung yang berisi H2SO4 dan 1 tabung yang berisi Na2S2O3 yang

berada dalam gelas piala. Di campur larutan tersebut dan nyalakan stopwatch.

Tabung yang berisi H2SO4 danNa2S2O3, tetap berada dalam gelas piala. Dimatikan

stopwatch bila terjadi reaksi (keruh). Dicatat waktu yang digunakan dan suhu reaksi.

Dilakukan kembali langkah tersebut pada interval suhu yang berbeda.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa :

1. Semakin besar konsentrasi larutan, maka semakin cepat reaksi berlangsung

sehingga konsentrasi berbanding lurus dengan laju reaksi.

2. Laju reaksi dapat dipercepat atau diperlambat dengan mengubah suhunya. Jika

suhu reaksi dinaikkan maka laju reaksi juga semakin besar.

5.2 Saran

Untuk percobaan selanjutnya, sebaiknya pihak laboratorium lebih bisa

mengefisienkan waktu dalam melakukan praktikum agar waktu yang dihabiskan di

dalam laboratorium tidak terlalu lama.

Saya berharap agar kebersihan di dalam laboratorium selalu dijaga agar hati

menjadi nyaman ketika melaksanakan praktikum.

Cara asisten memberikan penjelasan sudah baik, semoga kedepannya dapat lebih

memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, U., 2004, Laju Reaksi, Erlangga, Jakarta.

Chang, R., 2005, Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti, Edisi Ketiga, Jilid kedua,
Erlangga, Jakarta.

Hettema, H., 2012, The Unity of Chemistry and Physics : Absolute Reaction Rate
Theory, International Jurnal for Phylosophy of Chemistry, 18 (2) : 145-147.

Patiha, 2013; Penentuan Tetapan Laju Reaksi Balik Dan Tetapan Kesetimbangan
Dengan Pendekatan Reaksi Searah Dan Hukum Laju Reaksi Maju, Jurnal
Penelitian Kimia, 9 (2), hal 22-32.

Sudarlin, 2010, Kimia Dasar Untuk Fisika, Omah Ilmu, Yogyakarta.

Silberberg, 2010, Principles of General Chemistry, Second Edition, Mc Graw Hill,


New York.

Wahyuningrum, R., Cahyono, E., dan Siadi, K., 2012, Kinetika Reaksi Siklisasi-
Asetil Asisitronelal Menjadi Isopule Gilasetatter Katalis Zr4+- Zeolit Beta,
Indonesian Journal Of Chemical Science, 1(2) : 15-21.
LEMBAR PENGESAHAN

IKATAN KIMIA

Disusun dan diajukan oleh :

CINDY RESTU BHAKTI

H021 17 1514

Loporan ini telah diperiksa dan disetujui oleh :

Makassar, 19 Oktober 2017


Asisten,

MURTINA
NIM : H31113509