Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

KEMOTERAPEUTIKA TENTANG GOLONGAN OBAT


ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL

Disusun Oleh :
1. Ayu Suci N.
2. Irma Triana
3. Nurul Aulia

SMK BHAKTI KENCANA


PANGANDARAN
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala berkat dan rahmat-Nya yang memberikan kesehatan dan nikmat kepada
penulis sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu
yang direncanakan.
Makalah berjudul “Makalah Kemoterapeutika Tentang Golongan Obat
Antibiotik Kloramfenikol.
Kami telah berupaya dengan semaksimal mungkin dalam penyelesaian
makalah ini, namun kami menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi
maupun tata bahasanya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari pembaca demi sempurnanya makalah ini. Kiranya isi
makalah ini bermanfaat dalam memperkaya khasanah ilmu pendidikan. Terima
kasih.

Pangandaran, 09 Januari 2018

Penulis,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................i


DAFTAR ISI .......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................1
A. Latar Belakang ........................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................2
A. Pengertian Kloramfenikol .......................................................................2
B. Rumus struktur Kloramfenikol ...............................................................2
C. Mekanisme kerja Kloramfenikol.............................................................3
D. Penggunaan untuk penyakit ....................................................................4
BAB III PENUTUP.............................................................................................6
A. Kesimpulan .............................................................................................6
B. Saran........................................................................................................6
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................7

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun unutk
seorang dokter ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat
untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain agar
mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala
penyakit.
Antiboitika ialah zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi, yang
dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain.
Antibiotik juga dapar dibuat secara sintesis. Antimikroba diartikan sebagai
obat pembasmi mikroba khususnya yang merugikan manusia.
Kloramfenikol merupakan antibiotik spektrum luas. Kloramfenikol
berhubungan dengan gangguan darah yang serius sebagai efek yang tidak
diinginkan sehingga harus disimpan untuk pengobatan infeksi berat, terutama
yang disebabkan oleh Hemofilus influenza dan demam tifoid. Suspensi lemak
sebaiknya disimpan dalam epidemik meningitis meningokokus.

B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Kloramfenikol ?
2. Rumus struktur Kloramfenikol ?
3. Mekanisme kerja Kloramfenikol ?
4. Penggunaan untuk penyakit ?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kloramfenikol.
Kloramfenikol adalah antibiotik yang dihasilkan oleh Streptomyces
venezuelae, oraganisme yang pertama kali diisolasi tahun 1947 dari sample
tanah yang dikumpulkan di Venezuela ( Bartz, 1948). Sewaktu struktur materi
kristalin yang relatif sederhana tersebut ditemukan antibiotik, antibiotik ini
lalu dibuat secara sinTetik. Pada akhir tahun 1947, sejumlah kecil
kloramfenikol yang tersedia digunakan untuk mengobati wabah tifus epidemik
yang tiba-tiba muncul di Bolivia, dengan hasil yang mencenangkan.
Selanjutnya obat ini diujikan pada kasus tifus scrub di semenanjung
Malaka dengan hasil yang sangat baik. Pada tahun 1948, kloramfenikol
tersedia untuk pemakaian kilinis umum. Namun, pada tahun 1950, terbukti
bahwa obat ini dapat menyebabkan kasus yang serius dan diskrasia darah yang
fatal. Oleh karena itu, penggunaan obat ini hanya dikhususkan untuk pasien
yang mengalami infeksi berat, seperti meningitis, tifus, dan demam tifoid,
yang tidak dapat menggunakan alternatif lain yang lebih aman karena
terjadinya resistensi atau alergi. Obat ini juga merupakan terapi yang efektif
untuk demam bercak Rocky Mountain.

B. Rumusa Struktur
Kloramfenikol [1-(p-nirofenil)-2-diklorasetamido-1,3-propandiol] berasal
dari Streptomyces venezuelae, Streptomyces phaeochromogenes, dan
Streptomyces omiyamensis.

struktur kimia kloramfenikol

2
Kloramfenikol berkhasiat untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh
Salmonella thypi dan Salmonella parathypi. Namun demikian, kloramfenikol
tidak aktif terhadap virus, jamur, dan protozoa.

C. Mekanisme kerja Kloramfenikol


Mekanisme kerja kloramfenikol menghambat sistesis portein pada bakteri
dan dalam jumlah terbatas, pada sel eukariot. Obat ini segera berpenetrasi ke
sel bakteri, kemungkinan melalui difusi terfasilitasi. Kloramfenikol terutama
bekerja dengan memikat subunit ribosom 50 S secara reversibel (di dekat
tempat kerja antibiotic makrlida dan klindamisin, yang dihambat secara
kompetitif oleh obat ini). Walaupun pengikatan tRNA pada bagian pengenalan
kodon ini ternyata menghalangi pengikatan ujung tRNA aminosil yang
mengandung asam amino ke tempat akseptor pada subunit ribosom 50 S.
interkasi antara pepdiltranferase dengan substrat asam aminonya tidak dapat
terjadi, sehingga pembentukan ikatan peptide terhambat.
Kloramfenikol juga dapat menghambat sistesis protein mitokondria pada
sel mamalia, kemungkinan karena ribosom mitokondria lebih menyerupai
ribosom bakteri (keduanya 70 S) dari pada ribosom sitoplasma 80 S pada sel
mamalia. Peptidiltransferase ribosom mitokondria, dan bukan ribosom
sitoplasma, rentan terhadap kerja penghambtan kloramfenikol. Sel
eritropoietik mamalia tampaknya terutama peka terhadap obat ini.
Kerja antimikroba.
Kloramfenikol memiliki aktivitas antimikroba berspektrum luas. Galur
dianggap peka apabila dapat dihambat oleh konsentrasi 8 µg/ml atau kurang,
kecuali N. gonnorhoeae, S. pneumoniae, dan H. influenza, yang memiliki
batas MIC yang lebih rendah. Kloramfenikol terutama bersifat bakteriostatik,
walupun dapat bersifat bakterisida terhadap spesies tertentu, seperti N.
gonnorhoeae, S. pneumoniae, dan H. influenza. Lebih dari 95% galur bakteri
gram-negatif berikut ini dihambat secara in vitro oleh kloramfenikol 8,0 µg/ml
atau kurang., yakni N. gonnorhoeae, S. pneumoniae, dan H. influenza.
Demikian juga, kebanyakan juga bakteri anaerob, termasuk kokus gram-
positif dan Clostridium spp, serta batang-batang negative termasuk B. fragilis

3
dihambat oleh obat ini pada konsentrasi tersebut. Beberapa kokus gram-positif
aerob, termasuk Streptococcus pyogenes, Streptococcus agalactiae
(streptokokus kelompok B), dan S. pneumonia peka terhadap 8 µg/ml. galur S.
aerus cenderung tidak begitu rentan, dengan MIC yang lebih besar dari 8
µg/ml. kloramfenikol aktif terhadap Mycoplasma, Chlamydia, dan Rickettsia..
Penggunaan terapeutik.
Terapi dengan kloramfenikol hanya boleh digunakan pada infeksi yang
manfaat obat tersebut lebih besar dibandingkan resiko toksiksitas
potensialnya. Jika tersedia obat antimikroba yang sama-sama efektif dan
secara potensial tidak begitu toksik dibandingkan kloramfenikol, maka
sebaiknya obat tesebut digunakan.

D. Penggunaan Kloramfenikol untuk penyakit

Nama generik : Klorafenikol

Nama dagang Indonesia : Combisetin (Combiphar), Farsycol (Ifars), Kalmicetine


(Kalbe Farma), Lanacetine (Landson)

Indikasi : Pengobatan tifus (demam tifoid) dan paratifoid, infeksi berat karena
Salmonella sp, H. influenza (terutama meningitis),
rickettzia, limfogranuloma, psitakosis, gastroenteristis,
bruselosis, disentri.

Kontraindikasi : Hipersensitif, anemia, kehamilan, menyusui, pasien porfiria

Bentuk sediaan : Kapsul 250 mg, 500 mg, suspensi 125 mg/5 ml, sirup 125 ml/5 ml,
serbuk injek. 1g/vail.

Dosis dan aturan pakai : Dewasa : 50 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.

Anak : 50-75 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.

Bayi < 2 minggu : 25 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi


tiap 6 jam. Berikan dosis lebih tinggi untuk infeksi lebih

4
berat. Setelah umur 2 minggu bayi dapat menerima dosis
sampai 50 mg/kgBB/ hari dalam 4 dosis tiap 6 jam.

Efek samping : Kelainan darah reversible dan ireversibel seperti anemia aplastik
anemia (dapat berlanjut menjadi leukemia), mual, muntah,
diare, neuritis perifer, neuritis optic, eritema multiforme,
stomatitis, glositis, hemoglobinuria nocturnal, reaksi
hipersensitivitas misalnya anafalitik dan urtikaria, sindrom
grey pada bayi premature dan bayi baru lahir, depresi
sumsum tulang

Resiko khusus : Anemia aplastik : jarang terjadi, terjadi hanya 1 pada 25.000-40.000
penggunaan klorafenikol, diperkirakan karena pengaruh
genetic dan terjadi tidak secara langsung pada saat
menggunakan kloramfenikol tetapi muncul setelah
beberapa minggu atau beberapa bulan setelah pemakaian

Gray-baby syndrome : terjadi pada bayi yang lahir premature dan pada bayi umur < 2
minggu dengan gangguan hepar dan ginjal. Klorafenikol
terakumulasi dalam darah pada bayi khususnya ketika
pemberian dalam dosis tinggi ini yang menyebabkan Gray-
baby syndrome.

5
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kloramfenikol merupakan antibiotic dengan spectrum luas, namun bersifat
toksik. Obat ini seyogyanya dicadangkan untuk infeksi berat akibat
haemophilus influenzae, deman tifoid, meningitis dan abses otak,
bakteremia dan infeksi berat lainnya. Karena toksisitasnya, obat ini tidak
cocok untuk penggunaan sistemik.
2. Kontraindikasi: wanita hamil, penyusui dan pasien porfiria
3. Efeks samping : kelainan darah yang reversible dan irevesibel seperti
anemia anemia aplastik ( dapat berlanjut mejadi leukemia), neuritis perifer,
neuritis optic, eritem multiforme, mual, muntah, diare, stomatitis, glositits,
hemoglobinuria nocturnal.

B. Saran
Demikian makalah yang dapat penulis uaraikan. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat untuk para pembaca sekalian. Terima kasih.

6
DAFTAR PUSTAKA

1. https://yosefw.wordpress.com/2007/12/30/penggunaan-antibiotik-
kloramfenikol-sebagai-terapi-penyakit-tifus-demam-tifoid/
2. http://andrianilusy.blogspot.co.id/2013/03/kloramfenikol.html
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Kloramfenikol
4. http://iienmareo.blogspot.co.id/2011/11/kloramfenikol.html