Anda di halaman 1dari 69

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap orang pasti pernah mengalami nyeri sendi. Masyarakat sering keliru
menganggap semua nyeri sendi disebabkan oleh penyakit rematik atau asam urat.
Sebagian lagi berfikir hal tersebut disebabkan karena terlalu banyak beraktivitas.
Kedua penyakit ini memang dapat menyebabkan nyeri sendi, tetapi sebenarnya jarang
terjadi. Nyeri sendi pada lansia biasanya di sebabkan oleh beberapa faktor diantaranya
faktor genetik, usia, kurangnya olahraga/beraktivitas, pola makan yang tidak sehat
sehingga beresiko menimbulkan penyakit sendi serta adanya keterbatasan pergerakan
dan berkurangnya pemakaian sendi juga dapat memperparah kondisi tersebut. Nyeri
sendi merupakan salah satu jenis peradangan sendi yang paling sering terjadi dan
menjadi penyebab kecacatan terutama pada usia lanjut. Namun demikian ada banyak
hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah penyakit ini sejak dini yaitu salah satu
upaya untuk mengurangi nyeri pada persendian adalah dengan terapi non
farmakologis yaitu senam rematik. Oleh karena itu, pengetahuan dan sikap lansia
sangat penting untuk menanggapi dan mengatasi hal tersebut untuk menangani nyeri
sendi yaitu dengan cara memberikan pendidikan kesehatan pada lansia tentang senam
rematik. Dengan diberikan pendidikan kesehatan tetang senam rematik diharapkan
agar lansia mampu secara mandiri dalam melakukan penangan nyeri sendi dan dapat
mencapai tujuan hidup yang sehat. Fenomena yang sering terjadi di Posyandu
Rindang Banua Palangka Raya adalah lansia didapatkan banyak mengalami nyeri
sendi dan mereka belum tahu tentang senam rematik, senam lansia dilakukan
sebanyak 1 kali dalam sebulan dari bulan desember 2016 - maret 2017, yang
dilakukan oleh petugas kesehatan dari Puskesmmas Pahandut serta dosen dan
mahasiswa dari STIKes Eka Harap. Beberapa lansia juga mengeluh nyeri sendi serta
mereka menganggap bahwa nyeri sendi yang mereka alami merupakan hal biasa dan
tidak perlu dilakukan penanganan lebih lanjut.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) melaporkan bahwa 20%, penduduk dunia
terserang penyakit nyeri sendi. Dimana 20% mereka yang berusia 55 tahun (Wiyono,
2010). Prevalensi penyakit sendi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan pada tahun

1
2

2013 di Indonesia 11,9%, berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan tertinggi di Bali


(19,3%), diikuti Aceh (18,3%), Jawa Barat (17,5%) dan Papua (15,4%) (Riskesdas,
2013). Prevelansi penyakit sendi berdasarkan diagnosis dan gejala pada tahun 2013 di
Kalimantan Tengah sebanyak 21,8%. Di Palangka Raya prevalensi penyakit pada
persendian pada usia 45-54 tahun (24%), dan pada usia 55-69 tahun (27%). Pada
tahun 2013 penyakit persendian berada di urutan ke 3 kunjungan pasien ke
Puskesmas dan sekitar 40% dari golongan umur yang menderita penyakit persendian
yaitu umur 40 tahun keatas (Dinkes Kalteng, 2014). Pada Tahun 2017 data hasil
survei lansia dari Puskesmas Pahandut Palangka Raya yang didapatkan diposyandu
Rindang Banua sebanyak 31,25% lansia yang mengalami gangguan sendi. Jumlah
lansia di Posyandu Rindang Banua ada sebanyak 48 lansia, berdasarkan hasil
wawancara yang dilakukan pada tanggal 10 Januari 2017 terhadap 10 lansia di
Posyandu Lansia Rindang Banua, 8 lansia mengatakan nyeri bagian lutut dan
persendian dan lansia tersebut tidak mengetahui tentang cara penanganan nyeri sendi
dilakukan dengan senam rematik bukan hanya dengan meminum obat dan dari 10
lansia didapatkan 6 orang (60%) belum mengetahui tentang senam sedangkan 4 orang
(40%) sudah mengetahui tentang senam.
Nyeri sendi mempunyai dampak negatif yang besar pada aktivitas lansia yaitu
mempengaruhi kemampuan dalam bergerak serta dalam melakukan segala aktivitas
sehari-hari Nyeri sendi timbul secara mendadak dan penderita mengeluhkan adanya
nyeri, pembengkakkan pada sendi, warna kemerahan, dan terjadinya gangguan gerak.
Sehingga lansia sangat terganggu apabila lebih dari satu sendi yang terserang. Maka
diperlukan pengetahuan yang merupakan hasil tahu dan terjadi setelah melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu, sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui ata (penglihatan) dan telinga (penginderaan) Notoadmodjo (2007:
15). Sikap lansia tentang nyeri sendi yang merupakan respon tertutup seseorang
terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah meliobatkan faktor dan emosi yang
bersangkutan sehingga menjadi sebuah masalah. Apabila kedua hal tersebut tidak
berfungsi dengan baik maka akan menimbulkan dampak perubahan anatomis,
fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan mempengaruhi fungsi dan
kemampuan tubuh secara keseluruhan (Depkes RI, 2001). Dampak tersebut
cenderung akan semakin memburuk, dan serangan yang tidak diobati akan
3

berlangsung lebih lama, lebih sering, dan menyerang beberapa sendi. Sehingga sendi
yang terserang bisa mengalami kerusakan permanen seperti sendi bisa menjadi
bengkok atau cacat, Ariani (2014: 24).
Masalah usia lanjut dan nyeri sendi semakin menjadi perhatian dunia, hal ini
dilatar belakangi oleh meningkatnya usia harapan hidup. Keadaan ini menyebabkan
peningkatan penyakit menua salah satunya Nyeri sendi. Senam ini konsentrasinya
pada gerakan sendi sambil merenggangkan ototnya, karena otot-otot inilah yang
membantu sendi untuk menopang tubuh (Candra, 2008). Maka solusi yang baik bagi
tenaga kesehatan dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang senam rematik,
yang merupakan salah satu cara efektif untuk memperlambat nyeri sendi. Dengan
melakukan senam rematik diharapkan kualitas hidup lansia meningkat, sehingga
lansia dapat melakukan aktivitas fungsional dengan maksimal dan tidak menjadi
beban bagi orang lain. Pendidikan kesehatan senam rematik sangat berpengaruh
dalam pengetahuan tentang mengurangi nyeri sendi pada lansia dapat diperoleh dari
tenaga kesehatan seperti perawat. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik
untuk mengetahui Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Peningkatan
Pengetahuan Dan Sikap Lansia Tentang Senam Rematik Dalam Penanganan Nyeri
Sendi Pada Lansia Di Posyandu Rindang Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas
Pahandut Palangka Raya.

1.2 Rumusan Masalah


Salah satu penyebab nyeri sendi pada lansia di sebabkan oleh faktor genetik,
usia, kurangnya olahraga/beraktivitas, pola makan yang tidak sehat sehingga beresiko
menimbulkan penyakit sendi serta adanya keterbatasan pergerakan dan berkurangnya
pemakaian sendi juga dapat memperparah kondisi tersebut. Nyeri sendi merupakan
salah satu jenis peradangan sendi yang paling sering terjadi dan menjadi penyebab
kecacatan terutama pada usia lanjut. Namun demikian ada banyak hal yang bisa kita
lakukan untuk mencegah penyakit ini sejak dini yaitu salah satu upaya untuk
mengurangi nyeri pada persendian adalah dengan terapi non farmakologis dengan
senam rematik. Dengan diberikan pendidikan kesehatan tetang senam rematik
diharapkan agar lansia mampu secara mandiri dalam melakukan penangan nyeri
sendi, dan dapat mencapai tujuan hidup yang sehat. Sehingga, pengetahuan dan sikap
lansia sangat penting untuk menaggapi dan mengatasi hal tersebut. Berdasarkan latar
4

belakang masalah di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: “Adakah
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan Sikap
Lansia Tentang Senam Rematik Dalam Penanganan Nyeri Sendi Pada Lansia Di
Posyandu Rindang Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya?”

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan Sikap
Lansia Tentang Senam Rematik Dalam Penanganan Nyeri Sendi Pada Lansia Di
Posyandu Rindang Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya?

1.3.2 Tujuan Khusus


1) Mengidentifikasi pengetahuan lansia sebelum dilakukan Pendidikan Kesehatan
Senam Rematik Pada Lansia Yang Mengalami Nyeri Sendi Di Posyandu
Rindang Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya.
2) Mengidentifikasi pengetahuan lansia setelah dilakukan Pendidikan Kesehatan
Senam Rematik Pada Lansia Yang Mengalami Nyeri Sendi Di Posyandu
Rindang Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya
3) Mengidentifikasi sikap lansia sebelum dilakukan Pendidikan Kesehatan Senam
Rematik Pada Lansia Yang Mengalami Nyeri Sendi Di Posyandu Rindang
Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya.
4) Mengidentifikasi sikap lansia setelah dilakukan Pendidikan Kesehatan Senam
Rematik Pada Lansia Yang Mengalami Nyeri Sendi Di Posyandu Rindang
Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya.
5) Menganalisis Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Peningkatan
Pengetahuan Dan Sikap Lansia Tentang Senam Rematik Dalam Penanganan
Nyeri Sendi Pada Lansia Di Posyandu Rindang Banua Wilayah Kerja UPT
Puskesmas Pahandut Palangka Raya.
5

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Teoritis
Dengan diketahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang senam rematik
terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap lansia di Posyandu Rindang Banua
Palangka Raya diharapkan dapat menambah referesi mengenai ilmu keperawatan
komunitas terutama asuhan keperawata gerontik dan menambah wawasan secara
teoritis maupun ilmiah.
1.4.2 Praktis
1.4.2.1 Bagi Perkembangan IPTEK
Diharapkan dapat membantu dalam perkembangan ilmu, pengetahuan, dan
teknologi dalam bidang keperawatan s erta menambah pengetahuan bagi perawat dan
tenaga pendidik khususnya pendidikan asuhan keperawatan pada lansia dalam
peningkatan status kesehatan dan mencegah serta menanggulangi terjadinya nyeri
sendi pada lansia dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang senam rematik .
1.4.2.2 Bagi Mahasiswa
Dapat melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif,
acuan belajar bagi mahasiswa dalam mata kuliah keperawatan komunitas terutama
asuhan keperawatan gerontik, melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari
berbagai sumber, meningkatkan pengorgaisasian fakta/data secara jelas dan
sistematis, memperoleh kepuasan intelektual, dan memperluas cakrawala ilmu
pengetahuan, dan sebagai bahan acuan/penelitian selanjutnya.
1.4.2.3 Bagi Tempat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat membantu para tenaga kesehatan khususnnya
kader-kader yang berpartisipasi dalam pelayanan kesehatan pada lansia untuk
mengetahui cara penanganan dan pencegahan nyeri sendi pada lansia dengan
melakukan senam rematik dan sebagai alternatif pilihan bagi tenaga kesehatan untuk
memasukan senam rematik dalam materi penyuluhan serta melakukan gerakan-
gerakan senam rematik untuk dijadikan salah satu kegiatan senam pada lansia
khususnya di Posyandu Rindang Banua Palangka Raya.
1.4.2.4 Bagi Institusi Pendidikan Stikes Eka Harap
Bahan acuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan bagi anak didik dan
sebagai tambahan sumber buku bagi perpustakaan.
6

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Pendidikan Kesehatan


2.1.1 Pengertian Pendidikan Kesehatan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk
mempengaruhi orang lain sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh
pelaku pendidikan. Pengertian tersebut mengandung tiga unsur pendidikan yang
meliputi input (sasaran dan pelaku pendidikan), proses (upaya yang direncanakan),
dan output (perilaku yang diharapkan).
Pendidikan adalah upaya pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat
mau melakukan tindakan-tindakan (praktik) untuk memelihara (mengatasi masalah-
masalah), dan meningkatkan kesehatannya (Notoatmodja, 2010: 26).
Menurut Notoatmodjo (2010) pendidikan kesehatan adalah upaya persuasi atau
pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan-tindakan
untuk memelihara, dan meningkatkan taraf kesehatannya
Dari beberapa pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan
kesehatan adalah usaha yang ditujukan untuk mempengaruhi orang lain dan upaya
dalam memberikan pembelajaran kepada masyarakat agar terlaksananya perilaku
hidup sehat dalam upaya meningkatkan kesehatannya.

2.1.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan


Secara umum tujuan pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu
atau masyarakat di bidang kesehatan (WHO, 1954). Akan tetapi, perilaku mencakup
hal yang luas sehingga perilaku perlu dikategorikan secara mendasar sehingga
rumusan tujuan kesehatan dapat dirinci sebagai berikut (Maulana, 2009: 149).
1) Menjadikan kesehatan sebagai suatu yang bernilai di masyarakat. Oleh karena
itu, pendidik kesehatan bertanggung jawab mengarahkan cara-cara hidup sehat
menjadi kebiasaan hidup masyarakat sehari-hari.
2) Menolong individu agar mampu secara mandiri atau berkelompok mengadakan
kegiatan untuk mencapai tujuan hidup sehat.

6
7

3) Mendorong pengembangan dan penggunaan secara tepat sarana pelayanan


kesehatan yang ada. Adakalanya, pemanfaatan sarana pelayanan yang ada
dilakukan secara berlebihan atau justru sebaliknya, kondisi sakit, tetapi tidak
menggunakan sarana kesehatan yang ada dengan semestinya.

2.1.3 Sasaran Pendidikan Kesehatan


Menurut Notoadmojo (2010: 32) sasaran pendidikan kesehatan dibagi dalam 3
(tiga) kelompok, yaitu:
2.1.3.1 Sasaran primer (Primary Target)
Sasaran langsung pada masyarakat segala upaya pendidikan/promosi
kesehatan.Sasaran sekunder (Secondary Target), yang termasuk dalam sasaran ini
adalah para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat dan sebagainya. Disebut
sasaran sekunder, karena dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada
kelompok ini diharapkan untuk nantinya kelompok ini akan memberikan pendidikan
kesehatan kepada masyarakat di sekitarnya.
2.1.3.2 Sasaran tersier (Tersier Target)
Sasaran pada pembuat keputusan/penentu kebijakan baik di tingkat pusat
maupun di tingkat daerah, diharapkan dengan keputusan dari kelompok ini akan
berdampak kepada perilaku kelompok sasaran sekunder yang kemudian pada
kelompok primer. (Wahit, dan kawan-kawan 2007: 13-14).

2.1.4 Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan


Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara
lain dimensi sasaran pendidikan, dimensi tempat pelaksanaan atau aplikasinya dan
dimensi tingkat pelayanan kesehatan (Fitriani, 2011: 40). Dilihat dari:
1) Dimensi sasaran, pendidikan kesehatan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
pertama, pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu. Kedua,
pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok. Ketiga, pendidikan
kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.
2) Dimensi tempat pelaksanaanya, pendidikan kesehatan dapat berlangsung di
berbagai tempat, dengan sendirinya sasarannya berbeda pula, misalnya:
(1) Pendidikan kesehatan disekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran murid.
8

(2) Pendidikan kesehatan di rumah sakit, dilakukan di rumah sakit dengan


sasaran pasien atau keluarga pasien, di puskesmas dan lain sebagainya.
(3) Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh atau
karyawan yang bersangkutan.
3) Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat dilakukan
berdasarkan lima tingkat pencegahan (five levels of prevention) menurut Leavel
dan Clark sebagai berikut:
(1) Health Promotion atau peningkatan kesehatan, yaitu peningkatan status
kesehatan masyarakat, dengan melalui beberapa kegiatan.
(1.1) Pendidikan kesehatan (Health Education).
(1.2) Penyuluhan kesehatan masyarakat (PKM) seperti: penyuluhan tentang
masalah gizi.
(1.3) Pengamatan tumbuh kembang anak (Growth and Development
Monitoring).
(1.4) Pengadaan rumah sehat.
(1.5) Konsultasi perkawinan (Marriage Counseling).
(1.6) Pendidikan sex (Sex Education).
(1.7) Pengendalian lingkungan.
(1.8) Program P2M (Pemberantasan Penyakit Menular) melalui kegiatan
imunisasi dan pemberantasan vector.
(1.9) Stimulasi dan bimbingan dini atau awal dalam kesehatan keluarga dan
asuhan keperawatan pada anak atau balita serta penyuluhan tentang
pencegahan terhadap kecelakaan.
(1.10) Program kesehatan lingkungan dengan tujuan menjaga lingkungan
hidup manusia agar aman dari bibit penyakit seperti bakteri, virus dan
jamur serta mencegah kemungkinan berkembangnya vector.
(1.11) Asuhan keperawatan pre natal dan pelayanan keluarga berencana
(KB).
(1.12) Perlindungan gigi (Dental prophylaxis).
(1.13) Penyuluhan untuk pencegahan keracunan.
(2) General and specific protection (perlindungan umum dan khusus), merupakan
usaha kesehatan untuk memberikan perlindungan secara khusus atau umum
9

kepada seseorang atau masyarakat. Hal ini karena kesadaran masyarakat


tentang pentingnya perlindungan umum dan khusus sebagai perlindungan
terhadap penyakit pada dirinya maupun pada anak-anaknya berupa:
(2.1) Imunisasi dan hygiene perseorangan (Personal Hygiene).
(2.2) Perlindungan diri dari kecelakaan (Accidental Safety).
(2.3) Perlindungan diri dari lingkungan (Protectif Self Environment).
(2.4) Kesehatan kerja (Occupational Health).
(2.5) Perlindungan diri dari carcinogen, toxin dan allergen.
(2.6) Pengendalian sumber-sumber pencemaran, dan lain-lain.
(3) Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini dan pengobatan segera
atau adekuat). Usaha ini dilakukan karena rendahnya pengetahuan dan
kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, maka sering sulit
mendeteksi penyakit-penyakit yang terjadi di dalam masyarakat. Bahkan
kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan diobati
penyakitnya. Hal ini akan menyebabkan masyarakat tidak memperoleh
pelayanan kesehatan yang layak. Bentuk usaha tersebut dapat dilakukan
melalui:
(3.1) Penemuan kasus secara dini (Early Case Finding).
(3.2) Pemeriksaan umum (General Check Up).
(3.3) Pemeriksaan missal (Mass Screening).
(3.4) Survey terhadap kontak, sekolah dan rumah (Contact Survey, School
Survey, Household Survey).
(3.5) Penanganan kasus (Case Holding) dan pengobatan adekuat (Adecuate
Treatment)
(4) Disability limitation atau pembatasan kecacatan. Kurangnya pengertian dan
kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit, maka sering
masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Dengan kata lain
mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap
penyakitnya. Pengobatan yang tidak lengkap dan sempurna dapat
mengakibatkan orang yang bersangkutan cacat atau ketidakmampuan. Oleh
karena itu, pendidikan kesehatan juga diperlukan pada tahap ini, dan dapat
berupa:
10

(4.1) Penyempurnaan dan intensifikasi terapi lanjutan.


(4.2) Pencegahan komplikasi.
(4.3) Perbaikan fasilitas kesehatan.
(4.4) Penurunan beban sosial penderita, dan lain-lain
(5) Rehabilitation atau rehabilitasi. Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu,
kadang-kadang orang menjadi cacat. Untuk memulihkan cacatnya tersebut
kadang-kadang diperlukan latihan-latihan tertentu. Oleh karena kurangnya
pengertian dan kesadaran orang tersebut, ia tidak atau segan melakukan
latihan-latihan yang dianjurkan. Di samping itu orang yang cacat setelah
sembuh dari penyakit, kadang-kadang malu untuk kembali ke masyarakat.
Sering terjadi pula masyarakat tidak mau menerima mereka sebagai anggota
masyarakat yang normal. Oleh sebab itu, jelas pendidikan kesehatan
diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat tersebut, tetapi juga perlu
pendidikan kesehatan kepada masyakarat. (Wahit, dan kawan-kawan 2007:
10-13)

2.1.5 Langkah-langkah Penyuluhan Kesehatan


Menurut Effendy (1998: 89) ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam
melaksanakan penyuluhan kesehatan masyarakat, yaitu:
1) Megkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
2) Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
3) Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu untuk ditangani melalui
penyuluhan kesehatan masyarakat
4) Menyusun perencanaan penyuluhan, seperti :
(4.1) Menetapkan tujuan
(4.2) Penentuan sasaran
(4.3) Menyusun materi atau isi penyuluhan
(4.4) Memilih metoda yang tepat
(4.5) Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
5) Pelaksanaan penyuluh
6) Penilaian hasil penyuluhan
7) Tindak lanjut dari penyuluhan
11

2.1.6 Metode Pendidikan Kesehatan


2.1.6.1 Metode pendidikan individual (perorangan). Bentuk dari metode individual
ada 2 (dua) bentuk:
1) Bimbingan dan penyuluhan (guidance an d counseling)
Dengan cara ini kontak antara klien dan petugas lebih efektif.
2) Wawancara (interview)
Cara ini merupakann bagian dari bimbingan dan penyuluhan. Wawancara antara
petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi.
2.1.6.2 Metode pendidikan kelompok
Metode pendidikan kelompok harus memperhatikan apakah kelompok itu
besar atau kecil, karena metodenya akan lain. Efektivitas metodenya pun akan
tergantung pada besarnya sasaran pendidikan.
1) Kelompok besar
Ceramah: metode yang cocok untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun
rendah. Seminar: hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan
menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli atau
beberapa tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di
masyarakat.
2) Kelompok kecil
(1) Diskusi kelompok
Dibuat sedemikian rupa sehingga saling berhadapan, pimpinan
diskusi/penyuluh duduk diantara peserta agar tidak ada kesan lebih tinggi, tiap
kelompok punya kebebasan mengeluarkan pendapat, pimpinan diskusi
memberikan pancingan, mengarahkan, dan mengatur sehingga diskusi berjalan
hidup dan tak ada dominasi dari salah satu peserta.
(2) Curah pendapat (Brain Storming)
Merupakan modifikasi diskusi kelompok, dimulai dengan memberikan suatu
masalah, kemudian peserta memberikan jawaban/tanggapan, jawaban/tanggapan
tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart/papan tulis, sebelu semuanya
mencurahkan pendapat tidak boleh ada komentar dari siapapun, baru setelah
semuanya mengemukakan pendapat, tiap anggota mengomentari, dan akhirnya
terjadi diskusi.
12

(3) Bola salju (Snow Balling)


Tiap orang di bagi menjadi pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang). Kemudian
dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5 menit tiap 2 pasang
bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari
kesimpulanya. Kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini
bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya akhirnya menjadi
diskusi seluruh kelas.
(4) Kelompok kecil-kecil (Buzz group)
Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil, kemudian dilontarkan
suatu permasalahan sama/tidak sama dengan kelompok lain, dan masing-masing
kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya kesimpulan dari tiap
kelompok tersebut dan dicari kesimpulannya.
(5) Memainkan peranan (Role play)
Beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peranan tertentu untuk
memainkan peranan tertentu, misalnya sebagai dokter Puskesmas, sebagai perawat
atau bidan, dll, sedangkan anggota lainnya sebagai pasien/anggota masyarakat.
Mereka memperagakan bagaimana interaksi/komunikasi sehari-hari dalam
melaksanakan tugas.
(6) Permainan simulasi (Simulation game)
Merupakan gambaran role play dan diskusi kelompok. Pesan-pesan di sajikan
dalam bentuk permainan seperti permainan monopoli. Cara memainkannya persis
seperti main monopoli dengan menggunakan dadu, gaco (petunjuk arah), dan papan
main. Beberapa orang menjadi pemain, dan sebagian lagi perperan sebagai nara
sumber.

2.1.7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendidikan Kesehatan


Ada 3 faktor utama yang mempengaruhi pendidikan kesehatan:
2.1.7.1 Faktor-faktor predisposisi
Pendidikan kesehatan ditujukan untuk mengugah kesadaran, memberikan dan
meningkatkan pengetahuan sasaran pendidikan kesehatan yang menyangkut tentang
pemeliharaan kesehatan, peningkatan kesehatan untuk individu, kelompok, keluarga
dan masyarakat.
13

2.1.7.2 Faktor-faktor enabiling/kemungkinan


Pendidikan kesehatan dipengaruhi faktor enabiling atau kemungkinan
diantaranya sarana dan praserana kesehatan bagi sarana pendidikan kesehatan.
Pendidikan kesehatan dilakukan dengan memberikan bimbingan pelatihan dan
bantuan lainnya yang dibutuhkan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
2.1.7.3 Faktor-faktor reinforcing
Faktor-faktor reinforcing ini antara lain tokoh agama, tokoh masyarakat dan
petugas kesehatan. Pemberian pelatihan pendidikan kesehatan ditujukan kepada tokoh
agama, tokoh masayarakat dan petugas kesehatan. Individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat akan menjadikan mereka teladan dalam bidang kesehatan. Perubahan
perilaku hidup sehat akan lebih mudah tercapai jika memberikan pendidikan
kesehatan adalah orang yang diyakini kebenaran atas perkataan, sikap dan
perilakunya.

2.1.8 Alat Bantu Pendidikan Kesehatan


Menurut Notoatmodjo (2003: 62) alat bantu pendidikan kesehatan adalah alat-
alat yang digunakan oleh pendidik dalam penyampaian bahan pendidikan yang biasa
dikenal sebagai alat peraga pengajaran yang berfungsi untuk membantu dan
memperagakan sesuatu di dalam proses pendidikan, yang kemudian dapat
memperoleh pengalaman atau pengetahuan melalui berbagai macam alat bantu
tersebut.
Menurut Notoatmodjo (2003: 65) pada garis besarnya hanya ada tiga macam
alat bantu pendidikan (alat peraga), yaitu:
1) Alat bantu lihat (visual aids)
2) Alat bantu dengar (audio aids)
3) Alat bantu lihat dengar yang lebih dikenal dengan Audio Visual Aids (AVA)
Disamping pembagian tersebut, alat peraga juga dapat dibedakan menurut
pembuatan dan penggunaannya, yaitu:
1) Alat peraga yang complicated (rumit)
2) Alat peraga yang sederhana, mudah dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang
mudah diperoleh.
14

2.1.9 Cara Penilaian/Pengukuran Pendidikan Kesehatan


2.1.9.1 Case Study X, O
Dimana, X: kegiatan program, O: pengamatan. Pada case study pengamatan
diadakan hanya sesudah program dilaksanakan terhadap suatu kelompok masyarakat.
Cara ini merupakan cara yang paling sederhana dan paling rendah ketepatannya.
Disini tidak ada pengumpulan data awal, tidak ada pengamatan sebelum program
dilancarakan, juga tidak ada pengamatan terhadap kelompok masyarakat lain yang
tidak terkena oleh program ini utnuk dipakai sebagai pembanding. N amun, demikian,
cara ini paling banyak dilakukan dalam penilaian program. Kelemahan, penilaian ini
adalah sulit untuk membuktikan bahwa perubahan memang disebabkan oleh program
yang dilaksanakan.
2.1.9.2 Pre test dan Post test, tanpa kontrol O1 X O2
Pada test ini, ada pengumpulan data awal, yaitu yang dilukiskan dengan
O1. Kemudian sesudah pelaksanaan program selesai, diadakan lagi pengamatan yang
dilukiskan O2. Jadi, dalam cara ini dilakukan dua pengamatan yaitu sebelum dan
sesudah program, pre-test dan post-test. Hasil kedua pengamatan ini lalu
dibandingkan. Cara ini lebih baik daripada case studi sebab ada pembanding, namun
cara masih mempunyai beberapa kelemahan yang disebabkan oleh hal-hal berikut:
1) Adanya pengaruh luar, selain intervensi yang diberikan.
2) Adanya pengaruh waktu, yang membuat orang menjadi lebih matang tanpa
bergantung pada intervensi yang diadakan.
3) Adanya pengamatan pada sebelum intervensi sendiri, hal ini bisa memengaruhi
orang untuk bertindak yang lebih baik tanpa terpengaruh program pada waktu
pengamatan kedua.
4) Kekeliruan-kekeliruan yang timbul waktu pengukuran pada post test, dapat
disebabkan oleh kelelahan si pengamat, alat yang kurang baik, dan sebagainya.
Jadi, masih dipertanyakan apakah benar perubahan yang terjadi pada pengamatan
yang kedua, yaitu O2 itu disebabkan oleh kegiatan program.
2.1.9.3 Mempergunakan kontrol

XO1X = program
O2O = pengamatan
15

Cara ini juga tidak ada pengumpulan data awal, program langsung dimulai.
Sesudah pelaksanaan program selesai, lalu diadakan pengamatan, baik terhadap
kelompok masyarakat yang menerima program pada O1, maupun terhadap kelompok
masyarakat yang tidak mendapat program pada O2, kelompok masyarakat yang tidak
mendapatkan program tersebut disebut kelompok kontrol. Jika pengamatan terhadap
kelompok yang mendapat program menunjukkan hasil yang lebih baik daripada hasil
pengamatan terhadap kelompok kontrol, berarti programnya berhasil baik. Hanya saja
kelemahannya tidak tahu apakah kedua kelompok tadi memang sama keadaannya
sebelum program dimulai.
2.1.9.4 Pre-test dan Post-test dengan kontrol

O1 O2
O3 O4
Dilakukan pengumpulan data awal, baik pada kelompok yang mendapat
program, yang selanjutnya disebut eksperimen maupun terhadap kelompok yang tidak
mendapat program, yang selanjutnnya disebut kelompok control, hal ini dilukiskan
pada O1 dan O2. Selanjutnya dilaksanakan program yang akan dinilai terhadap
eksperimen dilukiskan pada X. Sedangkan kelompok control tidak mendapat program
tersebut. Sesudah program selesai, diadakan pengamatan terhadap kelompok
eksperimen pada O2 dan juga terhadap kelompok kontrol 04. Kalau O2-O1 kita
umpamakan d, dan O4-O3 kita umpamakan d’, maka kalau d-d’ cukup besar, maka
program dikatakan berasil. Pada cara ini kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
ditentukan melalui random sampling, agar yakin bahwa pada awalnya kedua
kelompok mempunyai kondisi yang sama. Alat penilai, bisa dengan pengamatan
langsung (observasi), wawancara, dan sebagainya.Sumber data, berasal dari
dokumen-dokumen yang ada (data sekunder) atau bisa dari masyarakat langsung
(data primer).

2.2 Konsep Dasar Pengetahuan


2.2.1 Definisi Pengetahuan
Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia, sementara orang
lain tinggal menerimanya. Pengetahun adalah sebagai suatu pembentukan yang terus
16

menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami organisasi karena adanya
pemahaman-pemahaman baru (Budiman, 2013: 3).
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui indera yang dimilikinya. Dengan sendirinya, pada waktu
penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh
intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan
seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan
(mata).
Pengetahuan juga merupakan pedoman dalam membentuk tindakan seseorang
(overt behavior). Berdasarkan pengalaman dan penelitian, diperoleh bahwa perilaku
yang didasari oleh pengetahuan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari
pengetahuan.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa
pengetahuan merupakan sesuatu yang didapat melalui proses penginderaan yang
dibentuk secara terus menerus dan setiap saat mengalami organisasi karena adanya
pemahaman-pemahaman baru, dan merupakan pedoman dalam membentuk tindakan.

2.2.2 Tingkat Pengetahuan


Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang
berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan yaitu :
2.2.2.1 Tahu (Know)
Tahu berarti mengingat suatu materi yang telah dipelajari atau rangsangan
yang telah diterima sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari
dan diterima sebelumnya. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
Kata kerja untuk mengukur bahwa seseorang itu tahu adalah ia dapat menyebutkan,
menguraikan, mendefinisikan, dan menyatakan.
2.2.2.2 Memahami (Comprehension)
Memahami berarti kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek
yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang
yang paham harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, dan
meramalkan. Misalnya orang yang memahami cara pemberantasan penyakit demam
17

berdarah, bukan hanya sekedar menyebutkan 3 M (mengubur, menutup, dan


menguras), tetapi harus dapat menjelaskan mengapa harus menutup, menguras, dan
sebagainya.
2.2.2.3 Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud
dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada
situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai
penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, dan prinip dalam konteks atau situasi
nyata. Misalnya seseorang yang telah paham tentang penggunaan rumus statistik
dalam penghitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus
pemecahan masalah (problem solving cycle) di dalam masalah kesehatan dari kasus
yang diberikan.
2.2.2.4 Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang
terdapat dalam sutau masalah atau objek yang diketahui, tetapi masih dalam satu
struktur organisasi dan ada kaitannya satu sama lain. Indikasi bahwa pengetahuan
seseorang sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah
dapat membedakan, memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram dan bagan.
Misalnya dapat membuat diagram (flow chart) siklus hidup cacing kremi.
2.2.2.5 Sintesis (Synthesis)
Sintesis merupakan kemampuan seseorang untuk merangkum, meletakkan,
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru
atau kemampuan menyusun formulasi baru dari formulasi yang sudah ada. Seseorang
yang dikatakan memiliki tingkat pengetahuan sintesis yatu dapat menyusun,
merencanakan, meringkas, dan dapat menyesuaikan terhadap suatu teori atau
rumusan yang telah ada. Misalnya dapat meringkas dengan kata-kata atau kalimat
sendiri tentang hal-hal yang telah dibaca atau didengar.
2.2.2.6 Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Evaluasi dilakukan dengan
menggunakan kriteria sendiri atau kriteria yang telah ada.
18

2.2.3 Jenis Pengetahuan


Pemahaman masyarakat mengenai pengetahuan dalam konteks kesehatan
sangat beraneka ragam. Pengetahuan merupakan bagian dari perilaku kesehatan. Jenis
pengetahuan diantaranya sebagai berikut (Budiman, 2013: 4).
2.2.3.1 Pengetahuan implisit
Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk
pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak bersifat nyata, seperti
keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip-prinsip. Pengetahuan seseorang biasanya
sulit untuk distransfer ke orang lain baik secara tertulis ataupun lisan. Pengetahuan
implisit sering kali kebiasaan dan budaya bahkan bisa tidak disadari.
2.2.3.2 Pengetahuan eksplisit
Pengetahuan esksplisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan atau
disimpan dalam wujud nyata, kebiasanya dalam wujud perilaku kesehatan.
Pengetahuannya dideskripsikan dalam tindakan yang berhubungan dengan kesehatan.
Jadi jenis pengetahuan ada yang sulit ditransfer seperti keyakinan pribadi dan
prinsip sedangkan yang dapat dibagikan seperti yang sudah digambarkan atau
dituliskan dalam buku dan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk bertindak terutama
yang berhubungan dengan kesehatan.

2.2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan


Dalam proses memperoleh pengetahuan, ada beberapa faktor yang
memengaruhi yaitu (Budiman, 2013: 6).
2.2.4.1 Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan di dalam dan di luar sekolah (baik formal maupun non-formal),
berlangsung seumur hidup. Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan
tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui
upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin
tinggi pendidikan seseorang, makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi.
Dengan pendidikan tinggi, maka seseorang akan cenderung untuk mendapatakan
informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak informasi
yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan.
19

Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapakan


seseorang dengan pendidikan tinggi, orang tersebut akan semakin luas pula
pengetahuannya. Namun, perlu ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan rendah
tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula.
Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan
tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan nonformal, pengetahuan seseorang
tentang sesuatu objek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif.
Kedua aspek inilah yang akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap objek
tertentu. Semakin banyak objek positif dari objek yang diketahui, makan akan
menumbuhkan sikap positif terhadap objek tersebut.
2.2.4.2 Paparan media massa (akses informasi)
Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan
memberikan pengetahuan yang jelas. Melalui berbagai media baik cetak maupun
elektronik, berbagai informasi yang dapat diterima oleh masyarakat sehingga
seseorang lebih sering terpapar media massa (TV, Radio, majalah, panflet, dan lain-
lain) akan memperoleh informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang
tidak pernah terpapar media massa. Ini berarti paparan media massa mempengaruhi
tingkat pengetahuan yang dimiliki sesorang.
2.2.4.3 Budaya
Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang karena
informasi-informasi baru akan di saring kira-kira sesuai atau tidaknya dengan
kebudayaan yang ada dan agama yang dianut.
2.2.4.4 Sosial ekonomi
Lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang,
sedangkan ekonomi dikaitkan dengan daya pendidikan yang ditempuh sesorang
sehingga memperluas pengetahuan seseorang.
2.2.4.5 Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu. Baik
lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses
masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut.
Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik maupun tidak, yang akan
direspons sebagai pengetahuan oleh setiap individu.
20

2.2.4.6 Pengalaman
Pengalama di sini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu,
maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan luas sedangkan umur semakin
bertambah tua.
2.2.4.7 Usia
Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin
bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya
sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya,
individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial, serta lebih
banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia
tua. Selain itu, orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu
untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan
verbal, dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini. Dua sikap tradisional
mengenai jalannya perkembangan selama hidup adalah sebagai berikut.
(1) Semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak informasi yang dijumpai dan
semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah pengetahuannya.
(2) Tidak dapat mengejarkan kepandaian baru kepada orang yang sudah tua karena
telah mengalami menuduran baik fisik maupun mental. Dapat diperkirakan
bahwa IQ akan menurun sejalan dengan bertambahnya usia, khususnya pada
beberapa kemampuan yang lain, seperti kosakata dan pengetahuan umum.
Beberapa teori yang berpendapat ternyata IQ seseorang akan menurun cukup
cepat sejalan bertambahnya usia.

2.2.5 Macam Pengetahuan


2.2.5.1 Pengetahuan fisis didapatkan dari abstraksi seseorang terhadap objek secara
langsung.
2.2.5.2 Pengetahuan metamastis-logis didapatkan dari abstraksi seseorang terhadap
reaksi dari fungsi objek secara tidak langsung.
2.2.5.3 Pengetahuan sosial didapatkan dari interaksi seseorang dengan masyarakat,
lingkungan dan budaya yang ada.
21

2.2.6 Sumber Pengetahuan


Proses terjadinya pengetahuan di lihat dari sifatnya yaitu apriori dan
apostreriori. Pengetahuan apriori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya
pengalaman yang baik, pengalaman indra maupun batin. Pengetahuan apostreiori
adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman (Rahman,2003).

2.2.7 Pengukuran Tingkat Pengetahuan


Pengukuran pengetahuan dapat juga diperoleh dari kuesioner atau angket yang
menanyakan isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.
Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan
dengan tingkat pengetahuan tersebut di atas. Sedangkan kualitas pengetahuan pada
masing-masing tingkat pengetahuan dapat dilakukan dengan rumus dan skoring di
bawah ini:
𝑠𝑝
𝑁= 𝑋100%
𝑠𝑚
Keterangan.
N = nilai pengetahuan
sp = skor yang didapat
sm = skor tertinggi maksimum
Selanjutnya, persentase jawaban dapat diinterpretasikan dalam kalimat
kualitatif dengan acuan sebagai berikut:
1. Tingkat pengetahuan baik bila skor atau nilai 76-100%.
2. Tingkat pengetahuan cukup bila skor atau nilai 56-75%.
3. Tingkat pengetahuan kurang baik bila skor atau nilai < 55%.
(Nursalam, 2011: 120).

2.3 Konsep Dasar Sikap


2.3.1 Definisi Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Menifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat
tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku tertutup (Soekidjo N,
2003: 72).
22

Sikap adalah suatu bentuk evaluasi/reaksi terhadap suatu objek, memihak/tidak


memihak yang merupakan keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran
(kognisi) dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di
lingkungan sekitarnya (Saifudin A, 2005).
Sikap merupakan kesiapan atau ketersediaan untuk bertindak dan bukan
merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap bukan suatu tindakan atau aktifitas,
akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku (Notoadmojo, 2003: 86).

2.3.2 Ciri-Ciri Sikap


2.3.2.1 Sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan
pengalaman dan latihan sepanjang perkembangan individu dalam hubungan
dengan objek.
2.3.2.2 Sikap dapat berubah-ubah dalam situasi tertentu, untuk itu sehingga dapat
dipelajari.
2.3.2.3 Sikap dapat tertuju pada satu objek ataupun dapat tertuju pada sekumpulan
atau banyak objek.
2.3.2.4 Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah
yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-
pengetahuan yang dimiliki orang (Sunaryo, 2004).

2.3.3 Tingkatan Sikap


Menurut Sunaryo (2004: 200) sikap memiliki 4 tingkat, dari yang terendah
hingga yang tertinggi, yaitu:
2.3.3.1 Menerima (Receiving)
Menerima berarti mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan/objek.
Pada tingkat ini, individu ingin dan memperhatikan rangsangan (stimulus) yang
diberikan. Contoh: Sikap seorang ibu terhadap KB dapat dilihat dari kesediaan dan
perhatian ibu tersebut untuk menghadiri penyuluhan tentang KB.
2.3.3.2 Merespons (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas
yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena suatu usaha untuk menjawab
23

pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar
atau salah, adalah berarti bahwa orang lain menerima ide tersebut.
2.3.3.3 Menghargai (valving)
Pada tingkat ini, sikap individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan suatu masalah. Contoh: seorang ibu mengajak orang lain untuk pergi
menimbangkan putranya ke Posyandu atau mendiskusikan tentang manfaat masalah.
2.3.3.4 Bertanggung jawab (responsible)
Merupakan sikap paling tinggi, pada tingkat ini sikap individu akan
bertanggung jawab dan siap menanggung segala risiko atas segala sesuatu yang telah
dipilihnya meskipun mendapat tantangan dari keluarga. Pengukuran sikap dapat
dilakukan secara langsung (langsung ditanya) dan tidak langsung. Contoh: seseorang
ibu yakin bahwa KB sangat bermanfaat bagi kesehatannya sehingga ia tetap tetap
menjadi akseptor KB, walapun mendapat tentangan dari orang lain.

2.3.4 Fungsi Sikap


Sikap mempunyai beberapa fungsi, yaitu:

2.3.4.1 Fungsi Instrumental atau fungsi Penyesuaian


Fungsi ini berkaitan dengan sarana dan tujuan. Orang memandang sejauh
mana obyek sikap dapat digunakan sebagai sarana atau alat dalam rangka mencapai
tujuan. Bila obyek sikap dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya, maka
orang akan bersifat positif terhadap obyek tersebut. Sebaliknya bila obyek sikap
menghambat pencapaian tujuan, maka orang akan bersikap negatif terhadap obyek
sikap yang bersangkutan.
2.3.4.2 Fungsi Pertahanan Ego
Fungsi ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk
mempertahankan ego.
2.3.4.3 Fungsi Ekspresi Nilai
Sikap yang ada pada diri sseorang merupakan jalan bagi individu untuk
mengekspresikan nilai yang ada pada dirinya.
2.3.4.4 Fungsi Pengetahuan
Individu mempunyai dorongan untuk ingin mengerti dengan pengalaman-
pengalamannya.
24

2.3.5 Komponen Sikap


Sikap terdiri dari 3 komponen yang saling menunjang (Azwar, 2011), yaitu:
2.3.5.1 Komponen Kognitif
Merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap,
komponen kognitif berisi kepercayaan yang dimiliki individu mengenai sesuatu.
2.3.5.2 Komponen Afektif
Merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional
inilah yang biasanya sebagai komponen sikap dan aspek yang paling bertahan
terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin dapat mengubah sikap seseorang.
2.3.5.3 Komponen Konatif
Merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai sikap yang
dimiliki oleh seseorang. Aspek ini berisi tendensi atau kecenderungan untuk
bertindak atau beraksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.

2.3.6 Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap


2.3.6.1 Pengalaman Pribadi
Pengalaman pribadi dapat menjadi dasar pembentukan sikap apabila
pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang kuat. Sikap akan lebih mudah
terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan
faktor emosional
2.3.6.2 Pengaruh Orang Lain
Individu pada umumnya cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau
searah dengan sikap seseorang yang dianggap penting.
2.3.6.3 Pengaruh Budaya
Kebudayaan dapat memberi corak pengalaman individu-individu masyarakat.
Sebagai akibatnya, tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh
sikap kita terhadap berbagai masalah.
2.3.6.4 Media Masa
Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media komunikasi lainnya.
2.3.6.5 Lembaga Pendidikan dan Lembaga Keagamaan
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat
menentukan sistem kepercayaan. Hal tersebut kemudian berpengaruh terhadap sikap.
25

2.3.7 Pengukuran Sikap


Pengukuran sikap menggunakan skala likert, skala ini digunakan untuk
mengukur sikap, pendapat, persepsi seseorang tentang gejala atau masalah yang ada
di masyarakat atau yang dialaminya (Hidayat, 2010: 103). Skala yang digunakan
untuk mengukur ranah afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek diantaranya
menggunakan skala sikap. Skala sikap dinyatakan dalam bentuk penyataan untuk
dinilai oleh responden, apakah pernyataan tersebut didukung atau ditolak melalui
rentang nilai tertentu. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua
kategori, yakni penyataan yang positif dan pernyataan negatif. Skala sikap yang
digunakan adalah skala likert. Dalam skala likert, pernyataan-pernyataan yang
diajukan baik pernyataan positif maupun negatif dinilai oleh suatu subjek dengan
sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
Skala Likert merupakan skala yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap,
pendapat dan persepsi seseorang tentang suatu gejala atau fenomena tertentu. Ada dua
bentuk skala likert yaitu pernyataan positif yang diberi skor 4, 3, 2, dan 1. Sedangkan
pernyataan negatif diberi skor 1, 2, 3, dan 4 dengan makna kuantitatif dari skor adalah
sebagai berikut (Budiman dan Agus, 2013: 16):
1) Pernyataan Positif
(1) Sangat Setuju :4
(2) Setuju :3
(3) Tidak Setuju :2
(4) Sangat Tidak Setuju : 1
2) Pernyataan Negatif
(1) Sangat Setuju :1
(2) Setuju :2
(3) Tidak Setuju :3
(4) Sangat Tidak Setuju : 4
Cara interprestasi dapat berdasarkan prestasi sebagaimana sebagai berikut:
STS TS S SS

73 146 219 292


Angka: 0-25% : Sangat Tidak Setuju
26

Angka: 26-50% : Tidak Setuju


Angka: 51-75% : Setuju
Angka: 76-100% : Sangat Setuju (Hidayat, 2010: 103).

2.4 Konsep Dasar Lanjut Usia


2.4.1 Definisi
Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang
yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bias dihindari oleh siapapun. Usia tua
adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu periode dimana
seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau
beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat (Hurlock, 2000 cit Murwani, 2011:
4).
Menurut Undang-Undang RI nomor 13 tahun 1998, Depkes (2001) dalam
Murwani (2011: 4) yang dimaksud dengan usia lanjut adalah seorang laki-laki atau
perempuan yang berusia 60 tahun atau lebih, baik secara fisik masih berkemampuan
(potensial) maupun karena sesuatu hal tidak lagi mampu berperan aktif dalam
pembangunan (tidak potensial).
Kelompok usia lanjut adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas
(Hardywinoto & Setiabudi, 2005 cit Murwani, 2011 : 5)

2.4.2 Batasan Lanjut Usia


Berikut ini dikemukakan pendapat para ahli mengenai batasan lanjut usia
(Widuri, 2010: 20):
2.4.2.1 Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), ada empat tahap, yakni :
1) Usia pertengahan (middle age) dari usia 45 – 59 tahun.
2) Lanjut usia (elderly) dari usia 60 – 74 tahun.
3) Lanjut usia tua (old) dari usia 75 - 90 tahun
4) Usia sangat tua (very old) dari usia di atas 90 tahun.
2.4.2.2 Menurut Depkes RI (Murwani, 2011 : 7) membagi lansia sebagai berikut :
1) Kelompok menjelang usia lanjut (45 – 54 tahun) sebagai masa virilitas.
2) Kelompok usia lanjut (55 – 64 tahun) sebagai masa presenium
3) Kelompok usia lanjut ( > 65 tahun) sebagai masa senium.
27

2.4.2.3 Menurut Masadani (dalam Nugroho, 2008 cit Widuri, 2010: 20), lanut usia
merupakan kelanjutan usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi empat
bagian, yaitu :
1) Fase iuventus, antara usia 25 – 40 tahun.
2) Fase verilitas, antara usia 40 – 50 tahun.
3) Fase presenium, antara usia 55 – 65 tahun.
4) Fase senium, antara usia 65 tahun hingga tutup usia.
2.4.2.4 Menurut Hurlock (1979), perbedaan lanjut usia terbagi dalam dua tahap,
yakni:
1) Early old age (usia 60 – 70 tahun)
2) Advanced old age (usia 70 tahun ke atas).

2.4.3 Proses Menua


Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan- lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang diderita (Nugroho cit Murwani, 2011 : 9). Menua bukanlah suatu
penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh mrnghadapi
rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh (Nugroho cit Murwani, 2011 : 9).
Proses menua yang terjadi pada usia lanjut secara linier dapat digambarkan melalui
tiga tahap, yaitu antara lain :
1) Kelemahan (imparment).
2) Keterbatasan fungsional (functional limitation).
3) Keterhambatan (handicap).

2.4.4 Macam- macam Proses Menua (Murwani, 2011 : 11)


2.4.4.1 Penuaan Primer: perubahan pada tingkat sel dimana sel yang mempunyai inti
DNA atau RNA pada proses penuaan DNA tidak mampu membuat protein
dan RNA tidak lagi mampu mengambil oksigen, sehingga membrane sel
menjadi kisut dan akibat kurang mampunya membuat protein maka akan
terjadi penurunan imunologi dan mudah terjadi infeksi.
28

2.4.4.2 Penuaan sekunder: proses penuaan akibat dari faktir lingkungan, fisik, psikis,
dan social. Stres fisik, psikis, gaya hidup, dan diit dapat mempercepat proses
menjadi tua.

2.4.5 Perubahan Fisik dan Fungsi Pada Lanjut Usia


Mengutip dari (Nugroho cit Widuri, 2010: 25–34) berikut ini adalah
perubahan–perubahan yang dapat terjadi pada setiap individu.
2.4.5.1 Sel
1) Jumlah sel menurun/lebih sedikit.
2) Ukuran sel lebih besar.
3) Jumlah cairan tubuh dan cairan intraselular berkurang.
4) Proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati menurun.
5) Jumlah sel otak menurun.
6) Mekanisme perbaikan sel terganggu.
7) Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5 - 10%.
8) Lekukan otak akan menjadi lebih dangkal dan melebar.
2.4.5.2 Sistem Persarafan
1) Menurunnya hubungan persarafan.
2) Berat otak menurun 10 – 20% (sel saraf otak setiap orang berkurang setiap
harinya).
3) Respons dan waktu untuk bereaksi lambat, khususnya terhadap stres.
4) Saraf panca indra mengecil.
5) Penglihatan berkurang, pendengaran menghilang, saraf penciuman dan perasa
mengecil, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dan rendahnya ketahanan
terhadap dingin.
6) Kurang sensitif terhadap sentuhna.
7) Defisit memori.
2.4.5.3 Sistem Pendengaran
1) Gangguan pendengaran. Hilangnya daya pendengaran pada telinga dalam,
terutama terhdapa bunyi suara atau nada yang tinggi, suara yang tidak jelas,
sulit mengerti kata- kata, 50% terjadi pada usia di atas umur 65 tahun.
2) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.
29

3) Terjadi pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya keratin.


4) Fungsi pendengaran semakin menurun pada lanjut usia yang mengalami
ketegangan/stres.
5) Tinitis (bising yang bersifat mendengung, bisa bernada tinggi atau rendah,
bisa terus menerus atau intermiten).
6) Vertigo (perasaan tidak stabil yang terasa seperti bergoyang atau berputar).
2.4.5.4 Sistem Penglihatan.
1) Sfingter pupil timbul sklerosis dan repson terhadap sinar menghilang.
2) Kornea lebih membentuk sferis (bola).
3) Lensa menjadi lebih suram (kekeruhan pada lensa), menjadi katarak, jelas
menyebabkan gangguan penglihatan.
4) Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptaasi terhadap kegelapan
lebih lambat, susah melihat dalam gelap.
5) Penurunan/hilangnya daya akomodasi, dengan manifestasi presbiopoa,
seseorang sulit melihat dengan yang dipengaruhi berkurangnya elastisitas
lensa.
6) Lapang pandang menurun luas pandangan berkurang.
7) Daya membedakan warna menurun, terutama warna biru atau hijau pada
skala.
2.4.5.5 Sistem Kardiovaskular
1) Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
2) Elastisitas dinding aorta menurun.
3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun.
4) Curah jantung menurun (isi semenit jantung menurun).
5) Kehilangan elastisitas pembuluh darah, efektivitas pembuluh darah perifer
untuk oksigenasi berkurang, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk
berdiri) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg
(mengakibatkan pusing mendadak).
6) Kinerja jantung lebih rentan terhadap kondisi dehidrasi dan perdarahan.
7) Tekanan darah meninggi resistensi pembuluh darah perifer meningkat.
30

2.4.5.6 Sistem Pengaturan Suhu Tubuh


Pada pengaturan suhu tubuh, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu
thermostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi berbagai faktor
yang mempengaruhinya. Kondisi yang sering ditemui pada lanjut usia adalah:
1) Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologis ± 350 C ini akibat
metabolisme yang menurun.
2) Pada kondisi ini, lanjut usia akan merasa kedinginan dan dapat pula
menggigil, pucat dan gelisah.
3) Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang
banyak sehingga terjadi penurunan aktivitas otot.
2.4.5.7 Sistem Pernapasan
1) Otot pernapasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan,
dan menjadi kaku.
2) Aktivitas silia menurun.
3) Paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik napas lebih
berat, kapasitas pernapasan maksimum menurun dengan kedalaman bernapas
menurun.
4) Ukuran alveoli melebar (membesar secara progresif) dan jumlah berkurang.
5) Berkurangnya elastisitas bronkus.
6) Oksigen (O2) pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.
7) Karbondioksia (CO2) pada arteri tidak berganti. Pertukaran gas terganggu.
8) Refleks dan kemampuan untuk batuk berkurang.
9) Sensitivitas terhadap hipoksia dan hiperkarbia menurun sering terjadi
emfisema senilis.
10) Kemampuan pegas dinding dada dan kekuatan otot pernapasan menurun
seiring pertambahan usia.
2.4.5.8 Sistem Pencernaan
1) Kehilangan gigi, penyebab utama periodontal disease yang biasa terjadi
setelah umur 30 tahun.
2) Indra pengecap menurun, adanya iritasi selaput lender yang kronis, atrofi
indra pengecap (± 80%), hilangnya sensitivitas saraf pengecap di lidah,
terutama rasa manis dan asin, dan pahit.
31

3) Esophagus melebar.
4) Rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun), asam lambung menurun,
motilitas dan waktu pengosongan lambung menurun.
5) Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
6) Fungsi absorbsi melemah.
7) Hati semakin mengecil dan tempat penyimpanan menurun, aliran darah
berkurang.
2.4.5.9 Sistem Reproduksi
1) Wanita
(1) Vagina mengalami kontraktur dan mengecil.
(2) Ovari menciut, uterus mengalami atrofi.
(3) Atrofi payudara.
(4) Atrofi vulva.
(5) Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi
berkurang, sifatnya menjadi alkali dan terjadi perubahan warna.
2) Pria
(1) Testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun ada penurunan
secara berangsur- angsur.
(2) Dorongan seksual menetap sampai usia di atas 70 tahun, asal kondisi
kesehatannya baik, yaitu: kehidupan seksual dapat diupayakan sampai
masa lanjut usia, hubungan seksual secara teratur membantu
mempertahankan kemampuan seksual, tidak perlu cemas karena prosesnya
alamiah, sebanyak ± 75% pria di atas usia 65 tahun mengalami
pembesaran prostat.
2.4.5.10 Sistem Genitourina
1) Mengecilnya nefron akibat atrofi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%
sehingga fungsi tubulus berkurang.
2) Renal plasma flow (RPF) dan Glomeruluar filtratioj rate (GFR) atau klirens
kreatinin menurun secara linier sejak usia 30 tahun. Jumlah darah yang
difiltrasi oleh ginjal berkurang.
3) Vesika urinaria, otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml
atau menyebabkan frekuensi buang air seni meningkat. Pada pris lanjut usia,
32

vesika urinaria sulit dikosongkan sehingga mengakibatkan retensi urine


meningkat.
4) Kurang lebih 75% pria di atas di atas 65 tahun mengalami pembesaran prostat.
2.4.5.11 Sistem endokrin
1) Hormon estrogen, progesterone, dan testoteron mengalami penurunan.
2) Produk hampir semua hormon menurun.
3) Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah.
4) Pada hipofisis, pertumbuhan hormon ada, tetapi lebih rendah dan hanya di
dalam pembuluh darah, berkurangnya produksi ACTH, TSH, FSH, dan LH.
5) Aktivitas tiroid, BMR (basal metabolic rate) dan daya pertukaran zat
menurun.
2.4.5.12 Sistem Integumen
1) Jaringan kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
2) Permukaan kulit cenderung kusam, kasar, dan bersisik (karena kehilangan
proses keratinasi serta perubahan ukuran dari bentuk sel epidermis).
3) Timbul bercak pigmentasi akibat proses melanogenesis yang tidak merata
pada permukaan kulit sehingga tampak bintik-bintik atau noda coklat.
4) Terjadi perubahan pada daerah sekitar mata, timbulnya kerut-kerut halus di
ujung mata akibat lapisan kulit menipis.
5) Respons terhadap trauma menurun.
6) Kulit kepala dan rambut menipis dan berwarna kelabu.
7) Berkurangnya elastisitas akibat menurunnya cairan dan vaskularisasi.
8) Kuku jari menjadi keras dan rapuh.
9) Jumlah dan fungsi kelenjar keringat berkurang.
2.4.5.13 Sistem Muskuloskeletal
1) Tulang kehilangan densitas (cairan) dan semakin rapuh.
2) Gangguan tulang, yakni mudah mengalami demineralisasi.
3) Kekuatan dan stabilitas tulang menurun, terutama vertebra, pergelangan, dan
paha, insiden osteoporosis dan fraktur meningkat pada area tulang tersebut.
4) Diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek (tingginya berkurang).
5) Persendian membesar dan menjadi kaku.
33

6) Atrofi serabut otot, otot mengecil sehingga pergerakan menjadi lamban, otot
kram, dan menjadi tremor.
7) Komposisi otot berubah sepanjang waktu (myofibril digantikan oleh lemak,
kolagen, dan jaringan parut).
8) Aliran darah ke otot berkurang sejalan dengan proses menua.

2.5 Konsep Dasar Nyeri Sendi


2.5.1 Definisi Nyeri Sendi
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Nyeri adalah alas an
seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan.nyeri terjadi bersamaan
banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau
pengobatan (Brunner & Suddarth, 2002: 212).
Sendi adalah pertemuan antara dua tulang atau lebih, sendi memberikan adanya
segmentasi pada rangka manusia dan memberikan kemungkinan variasi pergerakan
diantara segmen-segmen serta kemungkinan variasi pertumbuhan (Brunner &
Sudarth, 2009: 126).
Nyeri sendi adalah suatu peradangan sendi yang ditandai dengan
pembengkakan sendi, warna kemerahan, panas, nyeri dan terjadinya gangguan gerak.
Pada keadaan ini lansia sangat terganggu, apabila lebih dari satu sendi yang terserang
(Handono, 2013).
2.5.2 Etiologi
Penyebab utama penyakit nyeri sendi masih belum diketahui secara pasti.
Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, hormonal dan faktor
sistem reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti
bakteri, mikroplasma dan virus. Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai
penyebab nyeri sendi yaitu:
2.5.2.1 Mekanisme Imunitas
Penderita nyeri sendi mempunyai auto anti body di dalam serumnya yang di
kenal sebagai faktor rematoid anti bodynya adalah suatu faktor antigama globulin
(IgM) yang bereaksi terhadap perubahan IgG titer yang lebih besar 1:100, Biasanaya
di kaitkan dengan vaskulitis dan prognosis yang buruk.
34

2.5.2.2 Faktor Metabolik


Faktor metabolik dalam tubuh erat hubungannya dengan proses autoimun.
2.5.2.3 Faktor Genetik dan Faktor Pemicu Lingkungan
Penyakit nyeri sendi terdapat kaitannya dengan pertanda genetik. Juga dengan
masalah lingkungan, Persoalan perumahan dan penataan yang buruk dan lembab juga
memicu pennyebab nyeri sendi.
2.5.2.4 Faktor Usia
Degenerasi dari organ tubuh menyebabkan usia lanjut rentan terhadap
penyakit baik yang bersifat akut maupun kronik (Brunner & Sudarth, 2009).

2.5.3 Jenis-Jenis Nyeri Sendi


Ditinjau dari lokasi patologis maka jenis rematik tersebut dapat dibedakan
dalam dua kelompok besar yaitu rematik artikular dan rematik non artikular. Rematik
artikular atau arthritis (radang sendi) merupakan gangguan rematik yang berlokasi
pada persendian diantarannya meliputi arthritis rheumatoid, osteoarthritis dan gout
arthritis. Rematik non artikular atau ekstra artikular yaitu gangguan rematik yang
disebabkan oleh proses diluar persendian diantaranya bursitis, fibrositis dan sciatica.
Rematik dapat dikelompokan dalam beberapa golongan yaitu:
2.5.3.1 Osteoartritis
Osteoartritis adalah gangguan yang berkembang secara lamabat, tidak simetris
dan noninflamasi yang terjadi pada sendi yang dapat digerakkan khususnya pada
sendi yang menahan berat tubuh. Osteoartritis ditandai oleh degenerasi kartilago
sendi dan oleh pembentukan pembentukan tulang baru pada bagian pinggir sendi
(Stockslager, 2008).
2.5.3.2 Artritis Reumatoid
Arthritis reumatoid adalah kumpulan gejala (syndrom) yang berjalan secara
kronik dengan ciri: radang non spesifik sendi perifer. Penyebab dari Reumatik hingga
saat ini masih belum terungkap (Yuli,R, 2014).
2.5.3.3 Olimialgia Reumatik
Penyakit ini merupakan suatu sindrom yang terdiri dari rasa nyeri dan
kekakuan yang terutama mengenai otot ekstremitas proksimal, leher, bahu dan
35

panggul. Terutama mengenai usia pertengahan atau usia lanjut sekitar 50 tahun ke
atas.
2.5.3.4 Artritis Gout (Pirai)
Artritis gout adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran khusus,
yaitu artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari pada wanita. Pada
pria sering mengenai usia pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya mendekati
masa menopause.

2.5.4 Patofisiologi
Nyeri merupakan campuran reaksi fisik, emosi dan perilaku. Cara yang paling
baik untuk memahami pengalaman nyeri, akan membantu untuk menjelaskan tiga
komponen fisiologi berikut:
2.5.4.1 Resepsi
Semua kerusakan selular, yang disebabkan oleh stimulus termal, mekanik,
kimiawi atau stimulus listrik, menyebabkan pelepasan substansi yang menghasilkan
nyeri. Pemaparan terhadap panas atau dingin tekanan friksi dan zat-zat kimia
menyebabkan pelepasan substansi, seperti histamin, bradikinin dan kalium yang
brgabung dengan lokasi reseptor di nosiseptor. Impuls saraf yang dihasilkan stimulus
nyeri, menyebar disepanjang serabut saraf perifer aferen. Dua tipe saraf perifer
mengonduksi stimulus nyeri.
2.5.4.2 Persepsi
Persepsi merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri. Stimulus nyeri
ditransmisikan naik ke medula spinalis ke talamus dan otak tengah. Dari talamus,
serabut mentransmisikan pesan nyeri ke berbagai area otak, termasuk korteks sensori
dan korteks asosiasi.
Pada saat individu menjadi sadar akan nyeri, maka akan terjadi reaksi yang
kompleks. Faktor-faktor psikologis dan kognitif berinteraksi dengan faktor-faktor
neurofisiologis dalam mempersepsikan nyeri.
2.5.4.3 Reaksi
1) Respons Fisiologis
Pada saat impuls nyeri naik ke medula spinalis menuju ke batang otak dan
talamus sistem saraf otonom menjadi terstimulasi sebagai bagian dari respon stres.
36

Neri dengan intensitas ringan hingga sedang dan nyeri yang superfisial menimbulkan
reaksi “flight atau fight” yang merupakan sindrom adaptasi umum.
2) Respons Perilaku
Pada saat nyeri dirasakan, pada saat itu juga dimulai suatu siklus, yang apabila
tidak diobati atau tidak dilakukan upaya untuk menghilangkannya, dapat mengubah
kualitas kehidupan individu secara bermakna. Antisipasi terhadap nyeri
memungkinkan individu untuk belajar tentang nyeri dan upaya untuk
menghilangkannya. Dengan intruksi dan dukungan yang adekuat, klien belajar untuk
memahami nyeri dan mengontrol ansietas sebelum nyeri terjadi. Perawat berperan
penting dalam membantu klien selama fase antisipatori. Penjelasan yang benar
membantu klien memahami dan mengontrol ansietas yang mereka alami.
Nyeri mengancam kesejahteraan fisik dan fisiologis. Klien mungkin memilih
untuk tidak mengekspresika nyeri apabila mereka yakin bahwa ekspresi tersebut akan
membuat orang lain merasa tidak nyaman atau hal itu akan merupakan tanda bahwa
mereka kehilangan kontrol diri. Klien yang memiliki toleransi tinggi terhadap nyeri
mampu menahan nyeri tanpa bantuan.
Pada sendi sinovial yang normal, kartilago artikuler membungkus ujung tulang
pada sendi dan menghasilkan permukaan yang licin serta ulet untuk gerakan.
Membran sinovial melapisi dinding dalam kapsula fibrosa dan mensekresikan cairan
kedalam ruang antara tulang. Cairan sinovial ini berfungsi sebagai peredam kejut
(shock absorber) dan pelumas yang memungkinkan sendi untuk bergerak secara
bebas dalam arah yang tepat.
Sendi merupakan bagian tubuh yang sering terkena inflamasi dan degenerasi
yang terlihat pada penyakit nyeri sendi. Meskipun memiliki keaneka ragaman mulai
dari kelainan yang terbatas pada satu sendi hingga kelainan multi sistem yang
sistemik, semua penyakit reumatik meliputi inflamasi dan degenerasi dalam derajat
tertentu yang biasa terjadi sekaligus. Inflamasi akan terlihat pada persendian yang
mengalami pembengkakan. Pada penyakit reumatik inflamatori, inflamasi merupakan
proses primer dan degenerasi yang merupakan proses sekunder yang timbul akibat
pembentukan pannus (proliferasi jaringan sinovial). Inflamasi merupakan akibat dari
respon imun. Sebaliknya pada penyakit nyeri sendi degeneratif dapat terjadi proses
inflamasi yang sekunder, pembengkakan ini biasanya lebih ringan serta
37

menggambarkan suatu proses reaktif, dan lebih besar kemungkinannya untuk terlihat
pada penyakit yang lanjut. Pembengkakan dapat berhubungan dengan pelepasan
proteoglikan tulang rawan yang bebas dari karilago artikuler yang mengalami
degenerasi kendati faktor-faktor imunologi dapat pula terlibat. Nyeri yang dirasakan
bersifat persisten yaitu rasa nyeri yang hilang timbul. Rasa nyeri akan menambahkan
keluhan mudah lelah karena memerlukan energi fisik dan emosional yang ekstra
untuk mengatasi nyeri tersebut (Smeltzer, 2009).

2.5.5 Manifestasi Klinis


Rasa nyeri merupakan gejala penyakit reumatik yang paling sering
menyebabkan seseorang mencari pertolongan medis. Gejala yang sering lainnya
mencakup pembengkakan sendi, gerakan yang terbatas, kekakuan, kelemahan dan
perasaan mudah lelah. Ketebatasan fungsi sendi dapat terjadi, sekalipun dalam
stadium penyakit yang dinisebelum terjadi perubahan tulang dan dan ketika terdapat
reaksi inflamasiyang akut pada sendi-sendi tersebut. Persendian yang teraba panas,
membengkak serta nyeri tidak mudah digerakkan, dan pasien cenderung menjaga atau
melindungi sendi tersebut dengan imobilisasi. Imobilisasi yang lama dapat
menimbulkan kontraktur sehingga terjadi deformitas jaringan lunak. Deformitas dapat
disebabkan oleh ketidaksejajaran sendi yang terjadi akibat pembengkakan, destruksi
sendi yang progresif atau subluksasio yang terjadi ketika sebuah tulang tergeser
terhadap lainnya dan menghilangkan rongga sendi (Smeltzer, 2009).

2.5.6 Penatalaksanaan
Penanganan medis bergantung pada tahap penyakit saat diagnosis dibuat dan
termasuk kedalam kelompok yang mana sesuai dengan kondisi tersebut.
2.5.4.1 Pendidikan pada pasien mengenal penyakitnya dan penatalaksanaan yang
akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik dan terjamin ketaatan pasien
untuk tetap berobat dalam jangka waktu yang lama.
2.5.4.2 OAINS (Obat Anti Inflamasi Non Steroid) diberikan sejak dini untuk
mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang sering dijumpai.
2.5.4.3 DMARD (Desease Modifying Antirheumatoid Drugs) digunakan untuk
melindungi rawan sendi dan tulang dari proses destruksi akibat athritis
38

reumatoid. Keputusan penggunaannya tergantung pertimbangan risiko


manfaat oleh dokter.
2.5.4.4 Rehabilitasi bertujuan untuk meningkatkan kualitas harapan hidup pasien.
Caranya antara lain dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat, latihan,
pemanasan, dan sebagainya. Fisioterapi dimulai segera setelah rasa sakit pada
sendi berkurang atau minimal.
2.5.4.5 Pembedahan
Jika berbagai cara pengobatan telah dilakukan dan tidak berhasil serta terdapat
alasan yang cukup kuat. Dapat dilakukan pengobatan pembedahan. Jenis pengobatan
ini pada pasien arthritis reumatoid umumnya bersifat orthopedic, misalnya
sinovectomi, artrodesis, memperbaiki deviasi ulnar. Untuk menilai kemajuan
pengobata dipakai parameter:
1) Lamanya morning stiffness.
2) Banyaknya sendi yang nyeri bila digerakkan atau berjalan.
3) Kekuatan menggengga.
4) Waktu yang diperlukan untuk berjalan 10-15 meter.
5) Peningkatan LED.
6) Jumlah obat-obatan yang digunakan
(Yuli, R. 2014).
2.5.4.6 Non-Farmakologis
1) Bimbingan Antisipasi
Memodifikasi secara langsung cemas yang berhubungan dengan nyeri,
menghilangkan nyeri dan menambah efek tindakan untuk menghilangkan nyeri yang
lain. Cemas yang sedang akan bermanfaat jika klien mengantisipasi pengalaman
nyeri.
2) Distraksi
Sistem aktivasi retikular menghambat stimulus yang menyakitkan jika
seseorang menerima masukan sensori yang menyenangkan menyebabkan pelepasan
endorfin. Individu yang merasa bosan atau diisolasi hanya memikirkan nyeri yang
dirasakan sehingga ia mempersepsikan nyeri tersebut dengan lebih akut. Distraksi
mengalihkan perhatian klien ke hal yang lain dan dengan demikian menurunkan
kewaspadaan trerhadap nyeri bahkan meningkatkan toleransi terhadap nyeri.
39

3) Hipnosis Diri
Hipnosis dapat membantu menurunkan persepsi nyeri melalui pengaruh
sugesti positif untuk pendekatan kesehatan holistik, hipnosis diri menggunakan
sugesti diri dan kesan tentang perasaan yang nyaman dan damai.
4) Relaksasi dan Teknik Imajinasi
Klien dapat merubah persepsi kognitif dan motivasi afektif. Latihan relaksasi
progresif meliputi latihan kombinasi pernapasan yang terkontrol dan rangkaian
kontraksi serta relaksasi kelompok otot. Klien mulai latihan berbafas dengan perlahan
dan menggunakan diafragma, sehingga memungkinkan abdomen terangkat perlahan
dan dada mengembang penuh. Saat klien melakukan pola pernapasan yang teratur,
perawat mengarahkan klien untuk melokalisasi setiap daerah yang mengalami
ketegangan otot, berpikir bagaimana rasanya, menenangkan otot sepenuhnya dan
kemudian merelaksasikan otot-otot tersebut.
5) Senam Rematik.

2.6 Konsep Dasar Senam Rematik


2.6.1 Pengertian senam rematik
Senam adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta terencana
yang dilakukan secara tersendiri atau berkelompok (Santosa,2009).
Senam rematik adalah suatu gerakan yang dilakukan secara teratur dan
terorganisasi bagi penderita rematik yang bertujuan untuk mengurangi nyeri
(Wahyuni, 2008). Senam Rematik juga merupakan latihan rentang gerak dengan
teknik relaksasi napas dalam sebelum dan sesudah latihan untuk mengurangi nyeri
pada sendi.

2.6.2 Tujuan Senam Rematik


2.6.2.1 Mengurangi nyeri pada penderita rematik
2.6.2.2 Menjaga kesehatan jasmani menjadi lebih baik.
2.6.2.3 Mengurangi nyeri sendi, melancarkan peredaran pembuluh darah ekstermitas,
dan merilekskan ekstermitas.
40

2.6.3 Manfaat Senam Rematik


1) Tulang menjadi lebih lentur.
2) Otot-otot akan menjadi tetap kencang.
3) Memperlancar peredaran darah.
4) Memperlancar cairan getah bening.
5) Menjaga kadar lemak tetap normal.
6) Jantung menjadi lebih sehat.
7) Tidak mudah mengalami cedera.
8) Kecepatan reaksi menjadi lebih baik.

2.6.4 Waktu Pelaksanaan Senam Rematik


Menurut Wahyuni (2008) latihan rematik ini juga ditujukan bagi mereka yang
sehat dan klien rematik yang berada dalam kondisi normal atau fase tenang. Senam
rematik merupakan jenis senam ringan yang berfungsi mengatasi keluhan yang biasa
muncul pada penyakit rematik, misalnya kekakuan dan nyeri sendi, kelemahan dan
ketegangan otot. Senam rematik hanyalah satu upaya untuk mencegah dan
meringankan gejala-gejala rematik. Senam ini adalah salah satu modal untuk
memandu mencegah dan memberikan terapi terhadap gejala rematik atau gejala
osteoartritis. Latihan ini juga ditujukan bagi mereka yang sehat dan pasien rematik
yang berada dalam kondisi normal atau fase tenang. Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam melakukan senam rematik, antara lain:
2.6.4.1 Senam rematik dapat dilakukan dalam posisi apapun, baik berdiri maupun
duduk.Tetapi jika sendi-sendi besar seperti sendi panggul atau sendi lutut
tubuh tak cukup kuat menahan berat badan, senam dapat dilakukan dengan
duduk. Hal ini berprinsip bahwa latihan fisik apapun harus dilaksanakan
sesuai kemampuan dan tidak boleh dipaksakan.
2.6.4.2 Begitu halnya ketika melaksanakan senam rematik sebaiknya tidak
dipaksakan agar rasa nyeri tidak bertambah.

2.6.5 Gerakan Senam Rematik


Gerakan-gerakan senam rematik dimaksudkan untuk meningkatkan
kemampuan gerak, fungsi, kekuatan dan daya tahan otot, sendi dan rasa posisi sendi.
41

Senam rematik ini konsentrasinya pada gerakan sendi sambil meregangkan dan
menguatkan otot, karena otot-otot inilah yang membantu sendi untuk menopang
tubuh (wahyuni, 2008).
Gerakan senam rematik dimulai darilatihan pernapasan, latihan pemanasan
(Warming Up), latihan gerak sendi dan di akhiri dengan pendinginan (Cooling
Down). Gerakan senam rematik yang mempunyai pengaruh dalam penurunan
terhadap nyeri sendi yaitu terutama pada latihan gerak sendi. Berbagai gerakan senam
rematik tersebut menyebabkan gerak sendi tidak terbatas lagi, nyeri atau kekakuan,
mencegah kerusakan tulang rawan sendi, dan memperkuat otot-otot di sekitar sendi.
Senam rematik dilakukan rutin 3-5 kali seminggu.

2.6.5.1 Latihan Pernapasan


Duduklah dengan nyaman dan tegakkan punggung. Tarik napas melalui
hidung hingga tulang rusuk terasa terangkat dan hembuskan napas melalui mulut
seperti meniup lilin (untuk mengeceknya: letakkan tangan pada bagian dada). Latihan
ini sangat berguna untuk mengurangi rasa nyeri saat rematik datang. Lakukan secara
berulang, minimal 4 set dengan istirahat antar set 1-2 menit.

Gambar 2.1 Latihan Pernapasan Pada Lansia (Arifin, 2006: 8)

2.6.5.2 Latihan Pemanasan (Warming Up)


Sebelum berlatih, dianjurkan untuk melakukan pemanasan selama 5-10 menit.
Pemanasan ini dapat dilakukan dengan berjalan atau bersepeda santai, atau dengan
peregangan ringan. Latihan pemanasan bertujuan untuk mempersiapkan tubuh secara
fisiologis dan psikologis untuk mulai melakukan latihan, meningkatkan suhu tubuh
42

secara bertahap melakukan gerakan-gerakan otot besar, mulai dari kepala, bahu,
tubuh bagian atas sampai tubuh bagian bawah.

2.6.5.3 Latihan Persendian


Beberapa contoh latihan berikut sangat cocok untuk melatih beberapa titik
persendian.
1) Kepala dan Leher
(1) Menarik kepala kearah belakang, ditahan, dan kemudian menunduk
sampai dagu menyentuh dada. Lakukan dengan perlahan-lahan, jangan
dihentakkan.
(2) Putar kepala dengan melihat kearah bahu kanan, ditahan dan kemudian
kearah bahu kiri.

Gambar 2.2 Latihan Gerakan Kepala Pada Lansia (Arifin, 2006: 9)

(3) Miringkan kepala kearah bahu kanan, ditahan kemudian kearah bahu
kiri.

Gambar 2.3 Latihan Gerakan Leher Pada Lansia (Arifin, 2006: 9)


43

2) Sendi Bahu dan Lengan


(1) Angkat kedua bahu ke atas mendekati telinga, kemudian turunkan
kembali perlahan.
(2) Satukan kedua telapak tangan dan renggangkan kedepan lurus dengan
bahu. Pertahankan bahu tetap lurus dan kedua telapak tangan tetap
bersatu. Kemudian angkat kedua lengan keatas kepala. Perhatikan
lengan harus tetap lurus, jangan sampai bengkok.

Gambar 2.4 Latihan Sendi Bahu Pada Lansia (Arifin, 2006: 10)

(3) Satu tangan letakkan di leher bagian belakang, kemudian gerakkan kea
rah punggung sejauh mungkin yang dapat dicapai. Lakukan bergantian
tanngan kanan dan kiri.
(4) Letakkan salah satu tangan dipunggung kemudian cobalah meraih sejauh
mungkin. Lakukan bergantian tangan kanan dan kiri.
44

Gambar 2.5 Latihan Sendi Lengan Pada Lansia (Arifin, 2006: 10)

3) Sendi Pinggul
(1) Latihan ini dapat dilakukan dengan berdiri tegak dan memegang
sandaran kursi (atau sandaran lain) atau dengan posis tiduran.
Tekuklah salah satu lutut sampai pada dada dimana kaki lain tetap lurus
dan tahan beberapa saat. Lakukan untuk kaki kiri dan kanan secara
bergantian.
(2) Renggangkanlah kaki kesamping kiri sejauh mungkin, lalu kembali dan
kemudia kaki kanan dengan cara yang sama.

Gambar 2.6 Latihan Sendi Pinggul Pada Lansia (Arifin, 2006: 16)

4) Sendi Pergelangan Kaki


Duduklah dengan kedua kaki lurus kedepan. Usahakan lutut tidak bengkok.
(1) Pertahankanlah kaki tetap lurus tanpa membengkokkan lutut, kemudian
tarik/tegangkan telapak kaki kea rah badan dan kemudian lepaskan
kembali.
45

(2) Tekuk dan regangkan jari-jari tanpa menggerakkan/membengkokkan


lutut.
(3) Pertahankan lutut tetap lurus, putar telapak kaki ke dalam sehingga
permmukaannya saling bertemu, kemudian kembali ke posisi semula.

Gambar 2.7 Latihan Sendi Pergelangan Kaki Pada Lansia (Arifin,


2006: 17)
46

5) Pergelangan Tangan
(1) Kepalkan tangan sekuatnya. Kemudian tekuk jari–jari tangan, putar
pergelangan tangan searah jarum jam dan kemudian berlawanan dengan
jarum jam. Kemudian luruskan kembali jari-jari tangan.

Gambar 2.8 Latihan Sendi Pergelangan Tangan Pada Lansia (Arifin, 2006: 13)

6) Ruas Jari
(1) Balikkan telapak tangan. Tariklah ibu jari melintasi permukaan telapak
tangan untuk menyentuh jari kelingking, kemudian tarik kembali.
Lannjutkan dengan menyentuh jari-jari denngan ibu jari. Ulangi hingga 5
kali

Gambar 2.9 Latihan Ruas Jari Pada Lansia (Arifin, 2006: 13)

2.6.5.4 Pendinginan (Cooling Down)


Peregangan Latihan ini dilakukan untuk meningkatkan fleksibilitas sendi dan
otot. Untuk sesi ini, dapat menggunakan iringan musik lembut untuk membangun
suasana rileks.
1) Diawali pernapasan sambil menundukkan kepala dan kembali tegak.
Mendorong tangan dengan ayunan badan bagian atas ke sisi kanan dan kiri.
2) Mengambil napas dari hidung dan membuang napas dari mulut diulang
sebanyak 4 kali.
47

3) Mengambil napas turun ke posisi menekuk lutut akan terasa peregangan otot
punggung dan kontraksi otot perut serta relaksasi tubuh bagian atas. Lalu
kembali ke posisi awal.
4) Peregangan dinamis
Mengayunkan tangan ke depan dan ke belakang sebanyak 6 kali.
5) Diakhiri dengan gerakan pernapasan.

Gambar 2.10 Gerakkan Pendinginan Pada Lansia (Wratsongko, 2015:


31)
48

2.7 Kerangka Konseptual


Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan
bagaimana seseorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis
beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah (hidayat, 2010).

Variabel Dependent

Pre test Tingkatan pengetahuan Kategori :


tentang senam rematik. 1. Baik: 76-
Variabel 1. Tahu (know) 100%
Independent 2. Memahami 2. Cukup:56-
(comprehension) 75%
Pendidikan 3. Aplikasi (Application) 3. Kurang :
kesehatan tentang <55%
senam rematik.
Pernyataan
1. Pengertian senam 4. Analisis(Analysi
rematik 5. Sintesis (Syntesis)
2. Tujuan Senam Pernyataan
6. Evaluasi
Rematik Positif dan
(Evaluation)
3. Kegunaan Senam Negatif:
Rematik
1. Sangat
4. Cara dan gerakan Variabel Dependent
dalam melakukan Setuju: 76-
senam rematik 100%
Sikap lansia tentang senam 2. Setuju: 51-
rematik 75%
Post test 3. Tidak
Setuju: 26-
50%
4. Sangat Tidak
Setuju: 0-
Keterangan gambar: 25%
: Di Teliti
: Tidak Di Teliti
: Berpengaruh
: Berhubungan

Bagan 2.1 Kerangka Konsep Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap


Peningkatan Pengetahuan Dan Sikap Lansia Tentang Senam Rematik
Dalam Penanganan Nyeri Sendi Pada Lansia Di Posyandu Rindang
Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya Tahun
2017.
49

2.8 Hipotesis Penelitian


Hipotesis penelitian adalah suatu asumsi pernyataan tentang hubungan antara dua
atau lebih variabel yang diharapkan bisa menjawab pertanyaan dalam penelitian
(Nursalam,2013: 56). Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian yaitu:
Hipotesis Nol (H0) sering juga disebut hipotesis statistik, yaitu diuji dengan
perhitungan statistik. Hipotesis nol menyatakan tidak adanya hubungan variabel X
terhadap variabel Y. Hipotesis kerja (H1) menyatakan adanya hubungan antara
variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua variabel. Untuk menngetahui
signifikasi (p) dari suatu hasil statistik digunakan level 0,05. Jika p < 0,05 hipotesis
diterima dan jika p > 0,05 hipotesis ditolak (Arikunto, 2010:89).
Hipotesis alternatif dalam penelitian ini adalah:
H0 : Tidak ada Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Peningkatan Pengetahuan
Dan Sikap Lansia Tentang Senam Rematik Dalam Penanganan Nyeri Sendi
Pada Lansia Di Posyandu Rindang Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas
Pahandut Palangka Raya Tahun 2017.
H1 : Ada Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan
Sikap Lansia Tentang Senam Rematik Dalam Penanganan Nyeri Sendi Pada
Lansia Di Posyandu Rindang Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut
Palangka Raya Tahun 2017.
50

2.9 Penelitian Terkait


Tabel 2.1 Suhendriyo (2014) “Pengaruh Senam Rematik Terhadap Pengurangan Rasa Nyeri Pada Penderita Osteoartritis Lutut Di
Karangasem Surakarta 2014”.

Populasi Penelitian Tindakan yang diberikan Hasil Penelitian Uji Statistik


Seluruh lansia di Responden diberikan Hasil penelitian pada pos test dan pre test Jenis Penelitian ini adalah penelitian
Karangan Surakarta. perlakuan terhadap pada Kelompok kotrol Rerata nyeri pada pre eksperimen dengan uji analisis
Sampelnya adalah pengurangan rasa nyeri test adalah 4.44 dan pada post test adalah wilcoxon.
pasien penderita antara pre test dan post test 2.98 menunjukkan bahwa nilai Z hitung = -
osteoartritris lutut. pada kelompok kontrol 2.807 dan diperoleh nilai p = 0.005 .
maupun pada kelompok Hasil penelitian pada Kelompok pre test dan
perlakuan. pot test pada Kelompok perlakuan
menunjukkan bahwa rerata nyeri pada pre
test adalah 5.1 dan pada post test adalah 3.51
menunjukkan bahwa nilai Z hitung = -2.809
dan diperoleh nilai p = 0.005 .
Ada pengaruh senam rematik terhadap
pengurangan rasa nyeri pada penderita
osteoartritis lutut di karangan Surakarta.

5oi5
0

50
51

Tabel 2.1 Ryan Rahmanda Putra dan Dr. Noortje Anita Kumaat, M.Kes (2016) “Pengaruh Senam Bugar Lansia Terhadap Nyeri
Persendian Pada Posyandu Lansia Karang Werdha Kedurus Surabaya”.
Populasi Penelitian Tindakan yang diberikan Hasil Penelitian Uji Statistik
Populasi pada penelitian ini Responden diberikan pre test skala nyeri pada lansia dengan nyeri Jenis Penelitian ini adalah
adalah keseluruhan lansia baik dan pos test dari angket persendian sebelum diberikan perlakuan penelitian eksperimental dan
pria maupun wanita di Posyandu kemudian mendapatkan senam bugar lansia sebanyak 8 orang design one group pre- test dan
Lansia Karang Werdha Kedurus treatment berupa senam bugar sampel (53,33%) dengan skala nyeri 1-3 post test design Metode analisis
Surabaya. Sampel pada lansia selama 16 kali (nyeri ringan), sebanyak 4 orang sampel data yang digunakan pada
penelitian ini adalah lansia baik pertemuan durasi seminggu 3 (26,67%) dengan skala nyeri 4-6 (nyeri penelitian ini adalah
pria maupun wanita di Posyandu kali dengan waktu latihan sedang), dan sebanyak 3 orang sampel menggunakan uji skala nyeri
Lansia Karang Werdha Kedurus bertambah setiap minggunya, (20,00%) dengan skala nyeri 7-9 (sangat Numeric Rating Scale dan
Surabaya. Jumlah Sampel 15 setelah itu diambil data akhir nyeri). Skala nyeri sesudah dilakukan WOMAC.
orang pemilihan dengan teknik untuk mengetahui perubahan terapi senam lansia sebanyak 10 orang
purposive sampling rasa nyeri persendian setelah sampel (66,67%) dengan skala 1-3 (nyeri
dilakukan treatment. ringan) dan sebanyak 5 orang sampel
(33,33%) skala nyeri 4-6 (nyeri sedang).
Terdapat pengaruh pemberian senam bugar
lansia terhadap pengurangan nyeri
persendian yang dirasakan lansia pada
Posyandu Lansia Karang Werdha Kedurus
Surabaya karena nilai t hitung 6,325 > t
tabel 1,76131.

51
52

BAB 3
METEOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Desain penelitian adalah suatu strategi penelitian dalam mengidentifikasi
permasalahan sebelum perencanaan akhir pengumpulan data dan digunakan untuk
mengidentifikasi struktur penelitian yang akan dilaksanakan (Nursalam, 2013: 157).
Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian pra eksperimental dengan
pendekatan One group pra post test design yaitu jenis penelitian yang
mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok
subjek. Kelompok subjek observasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian
diobservasi lagi setelah intervensi. Dengan studi ini akan diperoleh prevalensi atau
efek suatu fenomena yaitu variabel dependen, dihubungkan dengan penyebab yaitu
variabel dependen (Nursalam, 2013: 165). Pada penelitian ini, peneliti memberikan
kuesioner tingkat pengetahuan dan sikap tentang senam rematik dan melakukan
penyuluhan tentang tentang senam rematik. Sebelum (pre test) dan sesudah (post test)
dinilai pengaruhnya terhadap tingkat pengetahuan dan sikap tentang senam rematik
dalam penanganan nyeri sendi.
Tabel. 3.1 One Group Pra Post Test Design Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan Sikap Lansia Tentang Senam
Rematik Dalam Penanganan Nyeri Sendi Pada Lansia Di Posyandu
Rindang Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya
Tahun 2017.
Subjek Pra Perlakuan Pasca-tes
K O I OI
Waktu 1 Waktu 2 Waktu 3
Keterangan
K : Subjek
O : Observasi sebelum diberikan pendidikan kesehatan
I : Intervensi (pemberian pendidikan kesehatan)
OI : Observasi setelah diberikan pendidikan kesehatan

52
53

3.2 Kerangka Kerja


Kerangka kerja merupakan tahap yang penting dalam suatu penelitian yaitu
menyusun kerangka konsep. Kerangka konsep adalah abstraksi dari suatu realitas
agar dapat dikomunikasikan dan memmbentuk suatu teori yang menjelaskan
keterkaitan antar variabel baik variabel yang diteliti maupun yang tidak diteliti
Nursalam, 2013: 55). Kerangka kerja meliputi populasi, sampel, dan teknik sampling
penelitian, teknik pengumpulan data, dan analisa data (Hidayat, 2008: 31).
Kerangka kerja merupakan bagan kerja terhadap ranncangan kegiatan penelitian
yang akan dilakukan yaitu meliputi siapa yang akan diteliti (subyek penelitian),
variabel yang akan diteliti, dan variabel yang mempengaruhi dalam penelitian,
Hidayat (2009).
54

Kerangka kerja yang di gunakan pada penelitian disajikan pada gambar di bawah
ini :
Populasi
Semua lansia di Posyandu Rindang Banua

Sampel
Lansia yang mengalami nyeri sendi

Teknik Sampling
Menggunakan metode Teknik sampling Nonprobability Sampling
(Consecutive Sampling)

Informed Consent (lembar persetujuan responden)

Variabel independent: Variabel dependent:


Pendidikan kesehatan 1. Peningkatan pengetahuan
tentang senam rematik lansia tentang senam rematik
2. Sikap lansia tentang senam
rematik.

Di berikan kuesioner
(Pre test)

Dilakukan intervensi Penyuluhan


tentang senam rematik

Di berikan kuisioner (Post Tes)

Pengumpulan data
Hasil pengisian kuesioner

Pengolahan Data
Editing, coding, scoring, tabulating

Uji Statistik
Uji Wilcoxon

Hasil dan kesimpulan

Bagan 3.1 Kerangka Kerja Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Peningkatan


Pengetahuan Dan Sikap Lansia Tentang Senam Rematik Dalam
Penanganan Nyeri Sendi Pada Lansia Di Posyandu Rindang Banua
Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya Tahun 2017.
55

3.3 Identifikasi Variabel


Identifikasi variabel merupakan bagian penelitian dengan cara menentukan
berbagai variabel yang ada dalam penelitian seperti variabel independen, dependen,
moderator, kontrol dan intervening (Hidayat, 2010: 86).
3.3.1 Variabel Penelitian
Variable adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda
terhadap suatu (benda, manusia, dan lain-lain) (Nursalam, 2011:97). Berdasarkan
hubungan fungsional ataupun perannya variable dibedakan menjadi dua yaitu:
3.3.2 Variabel Independen (bebas)
Variabel yang mempengaruhi atau nilainya menentukan variabel lain. Suatu
kegiatan stimulus yang dimanipulasi oleh peneliti menciptakan suatu dampak pada
pariabel dependen. Variabel bebas biasanya dimanipulasi, diamati, dan diukur untuk
diketahui hubungan atau pengaruhnya terhadap variabel lain (Nursalam, 2014). Pada
penelitian ini variabel Independennya adalah pendidikan kesehatan tentang Senam
rematik.
3.3.3 Variabel Dependen (terikat)
Variabel yang dipengaruhi nilainya ditentukan oleh variabel lain. Variabel
respons akan muncul sebagai akibat dari manipulasi variabael-variabel lain. Dalam
ilmu perilaku, variabel terkait adalah aspek tingkah laku yang diamati dari suatu
organisme yang dikenai stimulus. Dengan kata lain, variabel berikut adalah faktor
yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya hubungan atau pengaruh
dari variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah Peningkatan
pengetahuan dan sikap lansia tentang senam rematik (Nursalam, 2014).

3.4 Definisi Operasional


Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari
sesuatu yang didefiniskan tersebut. Karakteristik yang dapat diamati (diukur) itulah
yang merupakan kunci definisi operasional. Dapat diamati artinya memungkinkan
peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu
objek atau fenomena yang kemudian dapat diulangi lagi oleh orang lain (Nursalam,
2013: 181).
56

3.4.1. Definisi Operasionnal


Tabel 3.2 Definisi Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Lansia Tentang Senam Rematik Dalam
Penanganan Nyeri Sendi Pada Lansia Di Posyandu Rindang Banua Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya
Tahun 2017.

No. Variabel Definisi Operasional Parameter Alat ukur Skala Hasil Ukur
1 Independen: Pendidikan kesehatan Pendidikan - - -
Pendidikan adalah suatu kegiatan Kesehatan Meliputi:
kesehatan memberikan informasi 1) Pengertian senam
tentang senam mengenai senam rematik
rematik rematik dengan 2) Tujuan senam
harapan informasi rematik
yang diberikan dapat 3) Kegunaan senam
menambah rematik
pengetahuan lansia. 4) Cara dan Gerakan
senam rematik

2 dependent: Kemampuan yang Peningkatan Kuesioner Nominal Penilaian pengetahuan


Pengetahuan diperoleh sesorang pengetahuan tentang benar, nilai=1
lansia tentang melalui informasi senam rematik salah, nilai= 0
senam rematik yang diterima. meliputi: rumus perhitungan:
𝑠𝑝
1) Tahu (know) N = 𝑠𝑚x 100%
2) Memahami Keterangan:
(comprehension) N: nilai pengetahuan
3) Aplikasi Sp: skor yang didapat
(application). Sm: skor tertinggi maksimum
Kategori penilaian:
a. baik (76-100%)
b. cukup (56-75%)
c. kurang (<55%)

56
57

No. Variabel Definisi Operasional Parameter Alat ukur Skala Hasil Ukur
3. dependent: Sikap merupakan Sikap lansia tentang Kuesioner Ordinal Pernyataan Positif:
Sikap lansia reaksi atau respon senam rematik 1. Sangat setuju = 4
tentang sena seseorang yang masih meliputi: 2. Setuju = 3
rematik tertutup terhadap 1) Pernyataan Positif 3. Tidak setuju = 2
suatu stimulus atau 2) Pernyataan negatif 4. Sangat tidak setuju = 1
objek. Pernyataan negatif:
1. Sangat setuju = 1
2. Setuju = 2
3. Tidak setuju = 3
4. Sangat tidak setuju = 4
Rumus:
𝑆𝑝
𝑁 = 𝑆𝑚 x100%
Keterangan
N : Nilai
Sp : Skor yang didapat
Sm : Skor tertinggi maksimum
Kategori:
1. Nilai Sikap Positif: Nilai 60-
100%
2. Nilai Sikap Negatif : Nilai 1-59%

57
58

3.5 Populasi, Sampel, dan Sampling


3.5.1 Populasi
Populasi dalam penelitian adalah subjek (misalnya manusia, klien) yang
memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2011:89)
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang
mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Hidayat, 2010:68). Populasi lansia di
Posyandu Rindang Banua wilayah kerja UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya
3.5.1.1 Populasi Target
Populasi target adalah populasi yang memenuhi kriteria sampling dan menjadi
sasaran akhir penelitian (Nursalam, 2011:89). Populasi target dalam penelitian ini
adalah semua lansia yang mengalami nyeri sendi di Posyandu Rindang Banua
wilayah kerja Puskesmas Pahandut Palangka Raya. Pada penelitian ini jumlah
populasi targetnya adalah 60 orang.
3.5.1.2 Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau adalah populasi yang memenuhi kriteria penelitian dan
biasanya dapat dijangkau oleh peneliti dari kelompoknya (Nursalam, 2011:89). Untuk
populasi terjangkau yang ada dalam penelitian ini adalah lansia yang mengalami
nyeri sendi yang memenuhi kriteria inklusi di Posyandu Rindang Banua wilayah kerja
Puskesmas Pahandut Palangka Raya. Pada penelitian ini jumlah populasi targetnya
adalah 48 orang.
1) Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi
target yang terjangkau dan akan diteliti (Nursalam, 2011:92). Dalam penelitian ini
kriteria inklusi yaitu:
(1) Lansia yang mengalami nyeri sendi
(2) Seluruh lansia yang ada diposyandu rindang banua dan belum mengetahui
tentang senam rematik.
(3) Lansia yang mampu berkomunikasi deng.an baik
(4) Lansia yang bersedia menjadi responden.
(5) Lansia yang bisa membaca dan menulis.
59

2) Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang
memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab (Nursalam, 2011: 92).
Dalam penelitian ini kriteria eksklusi yaitu:
(1) Lansia yang tidak bersedia menjadi responden
(2) Lansia yang tidak bisa membaca dan menulis

3.5.2 Sampel
Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai
subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2011:91). Sampel dalam penelitian ini
adalah lansia yang mengalami nyeri sendi di Posyandu Rindang Banua wilayah kerja
Puskesmas Pahandut Palangka Raya.
Rumus yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan rumus:
N
𝑁=
1 + N(d)2
Keterangan:
N : Jumlah sampel
N : Jumlah populasi
d : Tingkat signifikansi (d=0,05)

3.5.3 Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili
populasi (Nursalam, 2011:93). Sampel dalam penelitian ini diambil dengan
menggunakan teknik Nonprobability Sampling (Consecutive Sampling).
Nonprobability Sampling (Non Random Sampling) pengambilan sampel bukan secara
acak atau nonrandom adalah penngambilan sampel yang tidak didasarkan atas
kemungkinan yang dapat diperhitungkan, tetapi semata-mata. Hanya berdasarkan
kepada segi-segi kepraktisan belaka (Notoatmodjo, 2012: 124). Tehnik sampling
yang digunakan consecutive sampling ini merupakan jenis non probability terbaik,
dan seringkali merupakan cara yang paling mudah. Pada Consecutive Sampling,
setiap pasien yang memenuhi kriteria penelitian dimasukan dalam penelitian sampai
kurun waktu tertentu, sehingga jumlah pasien yang diperlukan terpenuhi.
60

3.6 Waktu dan Tempat Penelitian


Survei pendahuluan dilakukan di Posyandu Rindang Banua wilayah kerja UPT
Puskesmas Pahandut Palanngka Raya dan penelitian ini menggunakan waktu kurang
lebih 1 bulan di di Posyandu Rindang Banua wilayah kerja Puskesmas Pahandut
Palangka Raya.

3.7 Pengumpulan Data dan Analisa Data


3.7.1 Proses Pengumpulan Data
Merupakan cara peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian, sebelum
melakukan pengumpulan data perlu dilihat ukur pengumpulan data agar dapat
memperkuat hasil penelitian (A.Aziz Alimul Hidayat, 2007: 86). Proses pengumpulan
data adalah cara peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Data yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunnder (Hidayat,
2007:111).
3.7.1.1 Data Primer
Adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya dan diperoleh dari
jawaban atas pertanyaan yang disediakan melalui pengisian kuesioner oleh
responden.
3.7.1.2 Data Sekunder
Adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objjek penelitian,
penelitian mendapatkan data yang dikumpulka dengan berbagaui cara seperti data
gambaran umum lokasi penelitian keadaan geografi, demografi, pelayanan kesehatan,
laporan, jurnal, dan lain-lain.data sekunder dari penelitian ini diperoleh dari data
perawat Puskesmas Pahandut Palanngka Raya jumlah lansia yang mengalami nyeri
sendi atau gangguan otot dan rangka di Posyandu Rindang Banua Palangka Raya.
Sebelum melakukan pengumpulan data terlebih dahulu peneliti mengajukan ijin zurat
survei data dari STIKes Eka Harap Palangka Raya yang ditunjukkan ke Dinkes Kota
Palangka Raya, kemudian dilanjutkan ke UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya
untuk meminta data jumlah lansia yang mengalami yeri sendi atau gangguan otot dan
rangka di Posyandu Rindang Banua.
61

Adapun langkah-langkah pegumpulan data sebagai berikut:


1) Langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian yaitu mengurus surat pada
isntansi yang berwenang.
2) Penelitian menyampaikan permohonan untuk menjadi responden dan bila
menyetujui untuk menjadi responden, maka lansia mengisi lembar persetujuan
dan permohonan sebagai responden (Informed Consent).
3) Kuesioner diberikan kepada responden yaitu lansia yang mengalami nyeri
sendi dan seluruh lansia yang ada di Posyanndu Rindang Banua Palangka
Raya.
4) Memberikan penjelasan cara pengisian kuesioner dan mendampingi selama
penngisian.

3.7.2 Instrumen Pengumpulan Data


Alat penngumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
menggunakan kuesioner. Menurut (Nursalam, 2013: 109), kuesioner merupakan
serangkaiann atau daftar pertanyaan yang disusun sistematis, kuesioner diisi oleh
responnden, setelah diisi, kuesioner dikembalikan kepada peneliti.
Kuesioner merupakan alat ukur berupa kuesioner dengan bebrapa daftar
pertanyaan (Hidayat, 2007). Responden memberikan tanda check list (√) pada kolum
pilihan jawaban yang telah disediakan dalam kuesioner.

3.7.3 Uji Validitas dan Rehabilitas


3.7.3.1 Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat validitas atau
keaslian suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas
tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang
rendah (Arikunto, 2006 dalam Budiman, 2013 : 22). Uji validitas dilakukan untuk
menguji validitas setiap pertanyaan angket. Teknik uji yang digunakan adalah
korelasi Pearson Product Moment. Jika pertanyaan tidak valid, maka pertanyaan
tersebut tidak dapat digunakan. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah valid kemudian
baru secara bersama-sama diukur reliabilitasnya.
62

1) Pada kotak Descriptives for → pilih kotak kecil scale if item deleted kemudian
→ continue dan OK.
2) Out-put validitas dan reliabilitas.
3) Pada kolom corrected item-total correction bandingkan dengan tabel r.
Apabila lebih besar dari nilai tabel r, maka item dinyatakan valid. Apabila
nilai corrected item-total correction ada yang lebih kecil dari nilai r tabel
maka item tidak valid dan sebaiknya dikeluarkan dari instrumen penelitian.
Pada nilai yang bersifat marginal dapat dilakukan perbaikan pernyataan pada
item kuisioner.
Langkah-langkah mencari nilai r table dan t table dengan mempergunakan SPSS
(Susilo, 2014 : 159).
1) Nilai t table dicari dengan langkah: menentukan df (derajat bebas) = N
(jumlah item instrumen penelitian riset) – 2.
2) Buka SPSS → klik data view isikan nilai df dengan N – 2 lalu → transform
selanjutnya pilih compute variable.
3) Isikan pada kolom target variable t_0.05 pada level signifikansi 95%.
Kemudian pada kotak Numeric expression, ketik rumus IDF.T (0,95,df) →
OK.
4) Maka didapat nilai t tabel.
5) Selanjutnya untuk mencari r table, ulangi lagi dengan transform dan
compute variabel. Pada kotak target variable → ketik r_0.05 sedangkan
pada kotak numeric expression ketik rumus t_0,05/SQRT(df+t_0.05*2).
6) Luaran nilai r yang dipergunakan sebagai cut of point uji validitas pada
kuisioner.
Hasil uji akan dibandingkan antara harga r hitung dan r tabel dengan taraf
signifikan 0,05. Apabila hasil r hitung > r tabel maka pertanyaan dinyatakan
valid untuk digunakan penelitian.
3.7.3.2 Uji Rehabilitas
Reliabilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur
dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil
pengukuran tersebut tetap konsisten atau sama bila dilakukan pengukuran dua kali
63

atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama
(Budiman, 2013 : 22).
Pertanyaan yang sudah valid dilakukan uji reliabilitas dengan cara
membandingkan r tabel dengan r hasil. Jika nilai r hasil adalah alpha yang terletak di
awal output dengan tingkat kemaknaan 5% (0,05) maka setiap pertanyaan dikatakan
valid, jika r alpha lebih besar dari konstanta maka pertanyaan tersebut reliabel
(Budiman, 2013 : 22). Nilai reliabilitas dapat dilihat pada tabel luaran reliability
statistics pada nilai Alpha Cronbach’s (Susilo, 2014 : 167).
Menurut Budi (2006), tingkat reliabilitas dengan metode Alpha Cronbach
diukur berdasarkan skala Alpha 0 sampai 1. Apabila skala alpha tersebut
dikelompokkan ke dalam 5 kelas dengan range yang sama, maka ukuran kemantapan
alpha dapat dipresentasikan ke dalam tabel berikut.
Tabel 3.3 Tingkat Reliabilitas berdasarkan Nilai Cronbach atau α

Alpha Tingkat Reliabilitas


0,00 – 0,20 Kurang reliabel
> 0,20 – 0,40 Agak reliabel
> 0,40 – 0,60 Reliabel
> 0,60 – 0,80 Cukup reliabel
> 0,80 – 1,00 Sangat reliabel

3.7.4 Analisa Data


Analisa data merupakan bagian yang sangat penting untuk mencapai tujuan
pokok penelitian, yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang
mengungkap fenomena (Hidayat, 2009: 117). Analisa data dapat dibagi dalam analisa
univariat, bivariat dan multivariate.
3.7.4.1 Analisa Univariat
Analisa univariat digunakan untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi
dari semua variabel yang diteliti baik variabel independen maupun dependen. Analisa
univariat yaitu dilakukan terhadap tiap variabel (umur, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, dan pekerjaan). Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan
distribusi dan persentase dari tiap variabel. Dengan menggunakan bantuan program
SPSS (Notoatmodjo, 2010: 88).
64

3.7.4.2 Analisa Bivariat


Analisa bivariat adalah analisa yang dilakukan terhadap dua variabel yang
diduga saling berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2010). Untuk melihat
probabilitas yang dipakai adalah p= <0.05 pengolahan data meliputi proses editing
data, pengkodean data, entri data, dan analisa data. Pengolahan data menggunakan
program SPSS for windows.
3.7.4.3 Uji Statistik
Pada penelitian ini setelah data terkumpul, kemudian dilakukan tabulasin data,
dan analisa data dengan menggunakan uji statistik Wilcoxon dengan derajat
kemaknaan p ≤ 0.05 (Sugiyono, 2005). Teknik ini merupakan penyempurnaan dari uji
tanda (sign test). Kalau dalam uji tanda besarnya selisih nilai angka antara positif dan
negatif tidak diperhitungkan. Sedangkan dalam uji tanda, teknik ini digunakan untuk
menguji signifikasi komparatif dua sampel yang berkorelasi bila datanya berbentuk
ordinal (berjenjang) (Sugiyono, 2007). Uji perangkat bertanda Wilcoxon digunakan
untuk menganalisa hasil-hasil pengamatan yang berpasangan dari dua data apakah
berbeda atau tidak.
Uji ini dilakukan untuk mengetahui perubahan tingkat pengetahuan antara
sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang senam rematik dengan sesudah
dilakukan pendidikan kesehatan tentang senam rematik. Jika hasil analisis penelitian
didapatkan p ≤ 0.05 maka H1 diterima artinya ada Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Terhadap Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Lansia Tentang Senam Rematik Dalam
Penanganan Nyeri Sendi Pada Lansia Di Posyandu Rindang Banua Wilayah Kerja
UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya.
Setelah data dari hasil pengumpulan data maka selanjutnya dilakukan
pengolahan data.

3.7.5 Pengolahan data


Tahapan pengolahan data melalui beberapa proses yakni sebagai berikut:
3.7.5.1 Editing data
Tahap ini merupakan kegiatan penyuntingan data yang telah terkumpul
dengan cara memeriksa kelengkapan data dan kesalahan pengisian kuesioner untuk
memastikan data yang diperoleh telah lengkap dapat dibaca dengan baik, relevan, dan
konsisten. Dalam penelitian ini peneliti melakukan pengeditan data dengan mengecek
65

kelengkapan data yang diisi responden, jika tidak lengkap peneliti mengembalikan
kepada responden agar dapat dilengkapi.
3.7.5.2 Coding data
Setelah melakukan proses editing kemudian dilakukan pengkodean pada
jawaban dari setiap pertanyaan terhadap setiap variabel sebelum diolah dengan
komputer, dengan tujuan untuk memudahkan dalam melakukan analisa data.
3.7.5.3 Skoring
Skoring adalah menentukan skor atau nilai untuk setiap item pertanyaan,
dengan cara menentukan nilai terendah dan tertinggi, tetapkan jumlah kuesioner dan
bobot masing-masing kuesioner.
3.7.5.4 Tabulating
Tabulasi adalah proses penyusunan data kedalam bentuk tabel, pada tahap ini
data dianggap telah selesai diproses sehingga harus segera disusun ke dalam suatu
format yang telah dirancang.

3.8 Etika Penelitian


3.8.1 Lembar Persetujuan (informed consent)
Informed consent diberikan sebelum melakukan penelitian. Informed consent
ini merupakan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Pemberian informed
consent ini bertujuan agar subjek mengerti maksud dan tujuan peneliti dan
mengetahui dampaknya. Jika subjek bersedia, maka mereka harus menandatangani
lembar persetujuan. Jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati
hak pasien (Hidayat, 2010:93)

3.8.2 Tanpa Nama (Anonymity)


Anonymity, berarti tidak perlu mencantumkan nama pada lembar pengumpulan
data (kuesioner). Peneliti hanya menulis kode pada lembar pengumpulan atau hasil
penelitian yang akan disajikan (Hidayat, 2010:94).

3.8.3 Kerahasiaan (Confidentiality)


Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan
hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi
66

yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data
tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset (Hidayat, 2010:95).
1

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, A. 2006. Buku Kesehatan Usila. Surabaya: Pusat Penelitian Dan


Pengembangan Pelayanan Dan Teknologi Kesehatan.

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka


Cipta.

Budiman dan Agus Riyanto. 2013. Kapita Selekta Kuesioner Pengetahuan dan Sikap
dalam Penelitian. Jakarta: Salemba Medika.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah.
Jakarta: Salemba Medika.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2009. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa
Data. Jakarta: Salemba Medika.

Kushariyadi. 2012. Asuhan Keperawatan pada Lanjut Usia. Jakarta: Salemba Medika.

Maryam, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba
Medika.

Maulana, Heri D. J. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta: EGC.

Naga, Sholeh S. 2012. Buku Panduan Lengkap Ilmu Penyakit Dalam. Yogyakarta:
DIVA Press.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. Jakarta:


Rineka Cipta.

Nursalam. 2013. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis Edisi


3. Jakarta: Salemba Medika.
2

Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta.

Perry & Potter. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.

Setiawati & Dermawan. 2008. Proses Pembelajaran Dalam Pendidikan Kesehatan.


Jakarta: TIM.

Sunaryo, dkk. 2016. Asuhan Keperawatan Gerontik. Edisi 1. Yogyakarta: ANDI

Susilo, Wihelmus Harry dkk. 2014. Bistatistika Lanjut dan Aplikasi Riset. Jakarta :
Trans Info Media.

Wratsongko,Madyo. 2015. Sehat Tanpa Obat Kimia dengan BEST. Jakarta: Mizania.

Https://id.scribd.com/mobile/doc/196775707/MATERI-SENAM-REMATIK.
Diakses tanggal 13 Februari 2017.

Handono. (2013). Teori dan Konsep Nyeri Sendi. http://Digilib.Unimus.ac.id. Diakses


tanggal 13 Februari 2017.

Suhendriyo. (2014). “Pengaruh Senam Rematik Terhadap Pengurangan Rasa Nyeri


Pada Penderita Osteoarthritis Lutut di Karangasem Surakarta”. Jurnal
Terpadu Ilmu Kesehatan. Volume 3 (1): hal. 1-6.
3