Anda di halaman 1dari 14

PENGAMATAN MORFOLOGI SERANGGA

(BELALANG DAN KUPU-KUPU)

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Genetika I


yang dibina Oleh Ibu Sofia Ery Rahayu, S.Pd, M.Si.

Disusun Oleh :
Kelompok 1
Offering GHL

Alifa Aulia Ainayya (160342606292)


Devi Ayu Mandasari (160342606249)
Dina Nur Rahmawati (160342606274)
Nina Bunga Anggraini (160342606206)
Saidatul Ahadah (160342606256)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2018
A. Judul
Pengamatan Morfologi serangga (Belalang dan Kupu-kupu)
B. Waktu
7 September 2018
C. Tujuan
Untuk mengamati dan mendeskripsikan morfologi serangga secara umum.
D. Dasar Teori

Serangga terdiri atas ratusan ribu jenis, bentuknya sangat bervariasi, ukurannya
bermacam-macam mulai dari yang mikroskopis sampai yang mikroskopis. Saat
ini sudah berhasil diidentifikasi dan diberi nama sekitar satu juta serangga
(Hidayat dkk, 2004). Salah satunya ialah belalang (Atractomorpha crenulata) dan
kupu-kupu. Belalang termasuk kelas Orthoptera dan kupu-kupu termasuk kelas
lepidoptera.
Golongan serangga (orthoptera) ini pada waktu istirahat berperilaku khas, yaitu
sayap belakangnya dilipat lurus di bawah sayap depan. Alat mulut nimfa dan
imagonya menggigit-mengunyah. Berikut morfologi dari belalang :

(Sumber : Lopes, 2014)


Kupu-kupu termasuk ordo lepidoptera. Lepidoptera berasal dar kata Lepidos
berarti "sisik" dan pteron artinya "sayap". Kedua pasang sayap golongan serangga
ini mirip membran yang penuh dengan sisik. Sisik-sisik ini sebenarnya merupakan
modifikasi dari rambut biasa. Bila sisik tersebut dipegang akan mudah menempel
pada tangan (Lopes, 2017).
Serangga dewasa dibedakan atas dua macam, yaitu kupu-kupu dan ngengat.
Kupu-kupu aktif pada siang hari sedangkan ngengat aktif pada malam hari.
Perkembangbiakan serangga ordo Lepidoptera adalah holometabola (telur →
larva → pupa → imago). Alat mulut larva bersifat menggigit-mengunyah,
sedangkan alat mulut. imagonya bertipe mengisap. Stadium serangga yang sering
merusak tanaman adalah larva, sedangkan imagonya hanya mengisap nektar
(madu) dari bunga-bungaan (Lopes, 2017). Berikut morfologi dari kupu-kupu :

Ditangkap belalang dan kupu-kupu, kemudian dimasukkan ke dalam toples


dan diberi kapas yang telah ditetesi klofoform secukupnya

(Sumber : Lopes, 2014)

E. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan pada praktikum adalah sebagai berikut.

Ditunggu sampai serangga tidak sadar


Alat Bahan

Mikroskop Stereo Belalang

Loupe Kupu-kupu

Pinset Kapas
Diamati serangga menggunakan mikroskop stereo
Jarum Pentul Kloroform

Toples / wadah

Diamati bagian-bagian tubuh serangga meliputi kepala, toraks, abdomen, dan


ekstrimitas

F. Prosedur Kerja

E.

Digambar bagian-bagian tubuh serangga meliputi kepala, toraks, abdomen,


dan ekstrimitas
G. Data dan Analisis
1. Pengamatan Morfologi Belalang
GAMBAR KETERANGAN
a. Mata majemuk; b. Gena; c. Frons; d.
Clypeus; e. Labrum; f. Maxilary palp;
g. Labial palp; h. Mandible.

Gambar 1. Kepala dan bagian-


bagiannya. Sumber : Dokumentasi
pribadi
Jumlah ruas antena adalah 13.

Gambar 2. Antena.
Sumber : Dokumentasi pribadi
a. Sayap; b. Kaki.

Gambar 3. Thorax.
Sumber : Dokumentasi pribadi
a. Spirakel; b. Abdominal segmen.
a

Gambar 4. Abdomen.
Sumber : Dokumentasi pribadi
a. Femur; b.Tibia; c. Tarsus.
c

a b

Gambar 5. Kaki.
Sumber : Dokumentasi pribadi

2. Pengamatan Morfologi Kupu-kupu


Gambar 6. Kepala. a. Vortex; b. Probosis; c. Kaki pendek; d. Faset
mata; e. Compound eyes (mata majemuk letak
dorsoventral). Antena tipe filiform. Ruas antena 9 ruas.
Sumber : dokumentasi pribadi
Gambar 7. a. Kepala; b. Tarsus; c. Abdomen; d. Antena. Tipe mulut:
penghisap. Sumber : dokumentasi pribadi

8 Gambar 8. Sayap. Jumlah sayap sepasang, bentuk sayap seperti


perisai, venasi tidak terlihat (tertutup sisik), warna sayap
kecoklatan, pangkal sayap tebal dan ujung sayap tipis.
Sumber : dokumentasi pribadi

Pengamatan morfologi serangga secara umum dilakukan dengan


menangkap belalang dan kupu-kupu terlebih dahulu. Kemudian belalang dan
kupu-kupu yang didapat dimasukkan ke dalam toples dan diberi kapas yang
telah ditetesi kloroform secukupnya. Selanjutnya serangga tersebut direntangkan
di atas papan perentang serangga untuk diamati morfologinya dibawah mikroskop
stereo. Hasil pengamatan yang didapat sebagai berikut :

1. Pada belalang
a. Kepala dan bagian-bagian yang dapat teramati yaitu bagian mata
majemuk, gena, frons, clypeus, labrum, maxilary palp, labial palp dan
mandibula.
b. Antena. Jumlah ruas antena adalah 13
c. Thorax bagian-bagiannya yaitu adanya perlekatan kaki depan dan
perlekatan sayap
d. Abdomen bagian-bagiannya spirakel dan abdominal segmen
e. Kaki bagian-bagiannya yaitu femur, tibia dan tarsus
2. Pada Kupu-kupu
a. Kepala dan bagian-bagiannya vortex, probosis, kaki pendek, faset
mata, compound eyes (mata majemuk letak dorsoventral) dan antena
tipe filiform.
b. Bagian tubuhnya secara utuh terdiri atas kepala, tarsus, abdomen,
antena. Tipe mulutnya penghisap.
c. Sayap. Jumlah sayap sepasang, bentuk sayap seperti perisai, venasi
tidak terlihat (tertutup sisik ), warna sayap kecoklatan, pangkal sayap
tebal dan ujung sayap tipis.

H. Pembahasan
Belalang adalah serangga herbivor yang termasuk dalam Ordo Orthoptera
dengan jumlah spesies 20.000 (Borror, 2005). Menurut Rowell (1987), belalang
dapat ditemukan hampir di semua ekosistem terestrial. Sebagian besar spesies
belalang berada di ekosistem hutan.
Kupu-kupu adalah serangga yang termasuk dalam ordo Lepidoptera,
artinya serangga yang hampir seluruh permukaan tubuhnya tertutupi oleh
lembaran-lembaran sisik yang memberi corak dan warna sayap kupu-kupu
(Scoble, 1995).
Tubuh beruas-ruas dan ruas tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3
daerah yaitu kepala (caput), dada (toraks), dan perut (abdomen). Pada kepala
terdapat mata, antenna, dan mulut. Dada merupakan bagian tengah tubuh serangga
dan pada bagian ini terdapat kaki-kaki dan sayap-sayap (bila ada). Abdomen
merupakan bagian tubuh posterior yang terdiri atas ruas-ruas dan terdapat
tympanum dan alat genetalia (Hidayat dkk, 2004).
Pada bagian kepala (caput) terdapat mulut, mata, dan antena. Bagian-
bagian mulut serangga dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe umum, yaitu
mandibulata (pengunyah) dan haustelata (penghisap), tipe alat mulut pengunyah,
mandibel bergerak secara transversal yaitu dari sisi ke sisi, dan serangga tersebut
biasanya mampu menggigit dan mengunyah makanannya (Trisyono, 2004). Pada
kupu-kupu yang kami amati ditemukan tipe ulut berupa heustelata (penghisap)
berupa proboscis, sedangkan pada belalalang memeilki tipe mandibulata
(pengunyah).
Ada tiga tipe kepala serangga yaitu hypognathous, acrididae, dan
carabidae. Hypognathous apabila alat mulutnya menghadap ke bawah. Acrididae
prognathous apabila alat mulutnya menghadap ke depan. Carabidae dan
ephistognathous apabila alat mulutnya menghadap ke belakang (Trisyono, 2004).
Sehingga pada belalang dan kupu-kupu memiliki tipe kapala Hypognathous, alat
mulutnya menghadap ke bawah.
Sebagian besar serangga memiliki sepasang mata majemuk yang relatif
besar, terletak secara dorsolateral pada kepala. Permukaan masing-masing mata
majemuk terdiri atas sejumlah daerah sirkuler atau heksagonal disebut facet.
Masing-masing facet merupakan lensa dari mata tunggal atau ommatidium
(Hidayat dkk, 2004). Mata majemuk berfungsi sebagai pendeteksi warna dan
bentuk, sedangkan mata oseli atau biasa disebut mata tunggal berfungsi sebagai
pendeteksi intensitas cahaya (Trisyono, 2004). Pada serangga belelelng dan kupu-
kupu yang kami amati ditemukan mata majemuk.
Antena merupakan alat tambahan yang beruas ruas dan berpori. Antena
belakang berbentuk benang dan tersusun atas sejumlah besar segmen. Pada antena
terdapat rambut-rambut sensori yang kemungkinan berfungsi sebagai indera
pembau (Jumar, 2000). Menurut Trisyono (2004) bagian-bagian antena adalah
antenifer, soket, scape, pedicel, meriston, dan flagelum. Antena pada kupu-kupu
yang kita amati ditemukan antenanya memeilki tipe foliform dengan ruas
sebanyak 9 ruas.
Menurut Jumar (2000) berdasarkan bentuknya antena serangga dapat
dibedakan menjadi 14 tipe yaitu:
1) Filiform: menyerupai benag, tiap-tiap segmen yang membentuk antena
ukurannya sama, misalnya antena pada Valanga sp. (Orthoptera).
2) Moniliform: seperti manik-manik, ruas-ruas antena berukuran sama dan
berbentuk bulat, misalnya Rhysodidae.
3) Setaseous: seperti rambut kaku (Seta), makin ke ujung ruas-ruas antena
maakin ramping, misalnya Isoptera.
4) Clavate: seperti moniliform tapi agak membesar kebagian ujungnya,
misalnya Coccinellidae.
5) Capitate: seperti clavate tetapi perbesaran ruas-ruas terakhir tiba-tiba
membesar, misalnya Nitidulidae.
6) Serate: tiap-tiap segmennya berbentuk seperti gigi, misalnya Elateridae.
7) Geniculate: segmen pertama berukuran panjang diikuti oleh satu segmen
yang lebih kecil yang membentuk sudut dengan segmen pertama, misalnya
Formicidae.
8) Pectinate: setiap segmen memanjang ke arah samping seperti sisir,
misalnya Pyrochoroidae.
9) Bipectinate: setiap segmen memiliki satu pasang rambut.
10) Stylate: segmen terakhir runcing dan agak panjang, misalnya Asilidae.
11) Aristate: seakan-akan dari segmen antena keluar lagi antena, misalnya
Muscidae.
12) Plumose: setiap segmen berambut lebat dan panjang, misalnya nyamuk
jantan.
13) Lamellate: segmen paling ujung membesar dan menjadi lempengan,
misalnya Scarabaidae.
14) Flabellate: semua segmen setelah pedicel bentuknya seperti lempengan,
misalnya Rhipiceridae.
Toraks adalah bagian yang menghubungkan antara caput dan abdomen.
Toraks juga merupakan daerah lokomotor pada serangga dewasa karena pada
torak terdapat tiga pasang kaki dan dua atau satu pasang sayap (kecuali ordo
Thysanura tidak bersayap). Torak bagian dorsal disebut notum (Jumar, 2000).
Dada (toraks) terdiri atas 3 segmen yaitu protoraks (anterior): adalah
bagian depan dari thoraks dan sebagai tempat atau dudukan bagi sepasang tungkai
depan, mesotoraks (tengah) bagian tengah dari toraks dan sebagai tempat atau
dudukan bagi sepasang tungkai tengah dan sepasang sayap depan dan metatoraks
(posterior) bagian belakang dari thorax dan sebagai tempat atau dudukan bagi
sepasang tungkai belakang dan sepasang sayap belakang. Tiap-tiap segmen
tertutup oleh eksokeleton, di bagian dorsal disebut tergum, disisi lateral disebut
pleura, dan di bagan ventral disebut sternum (Jumar, 2000)
Abdomen serangga berjumlah 11 ruas, tetapi ruas ke 11 biasanya banyak
tereduksi dan yang terlihat hanya berupa embelan, dengan demikian ruas abdomen
tidak lebih dari 10 ruas. Masing-maing ruas abdomen secara umum terdiri dari
dua sklerit, sklerit dorsal disebut tergit dan sklerit ventral yang lebih kecil disebut
sternit (Hidayat dkk, 2004).
Sayap adalah eksistensi atau perluasan kutikula yang dibentuk oleh
epidermis. Sayap terdiri dari membran ganda yang mengandung pembuluh darah
dari kutikula yang lebih tebal yang berfungsi untuk memperkuat sayap. Meskipun
pembuluh darah ini bervariasi dalam polanya, mereka bersifat konstan dalam
sebuah family, genus atau spesies dan berfungsi sebagai salah satu sarana
klasifikasi dan identifikasi (Hickman, 2001).
Sebagian serangga mempunyai dua pasang sayap, satu pasang berada pada
mesotoraks dan satu pasang lainnya terdapat pada metatoraks. Beberapa serangga
ada yang hanya mempunyai satu pasang sayap yaitu pada mesotoraks. Protoraks
tidak pernah mempunyai sayap. Dasar sayap berupa membran tetapi berisi sklerit-
sklerit yang berguna untuk gerakan sayap. Sebagian besar otot yang
menggerakkan sayap melekat pada sklerit yang terdapat pada dinding toraks yang
langsung berhubunggan dengan sayap. Gerakan sayap karena adanya perubahan
bentuk toraks, hanya otot yang melekat kepada sayap secara langsung adalah
terikat pada satu sklereit yang terdapat pada dasar sayap yang berupa membran.
Sebagian besar sayap serangga berupa membran dan mungkin mempunyai rambut
halus atau sisik. Pada beberapa serangga, sayap depan lebih tebal seperti kulit atau
keras seperti perisai (Hidayat dkk, 2004).

I. Kesimpulan
Dengan demikian, maka di ambil kesimpulan praktikum bahwa:
1. Belalang adalah serangga yang termasuk dalam ordo Orthoptera karena
memiliki sayap lurus. Kupu-kupu adalah serangga yang termasuk dalam ordo
Lepidoptera, artinya serangga yang hampir seluruh permukaan tubuhnya
tertutupi oleh lembaran-lembaran sisik yang memberi corak dan warna sayap
kupu-kupu.
2. Tubuh beruas-ruas dan ruas tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 daerah
yaitu kepala (caput), dada (toraks), dan perut (abdomen).
3. Antena merupakan alat tambahan yang beruas ruas dan berpori. Antena
belakang berbentuk benang dan tersusun atas sejumlah besar segmen. Pada
antena terdapat rambut-rambut sensori yang kemungkinan berfungsi sebagai
indera pembau
4. Sayap adalah eksistensi atau perluasan kutikula yang dibentuk oleh
epidermis.

J. Diskusi
1. Jelaskan variasi bentuk kaki, sayap, tipe mulut, serta alat-alat yang lain
sehubungan dengan cara hidupnya, dari serangga yang diamati!
Jawaban:
a. Belalang
Variasi bentuk kaki : Saltatorial
Sayap : Lurus
Tipe mulut : Menggigit-Mengunyah
Posisi kepala : Hyponagthus
Tipe antena : Filiform
b. Kupu-kupu
Variasi bentuk kaki : Korbikulum
Sayap : Satu pasang terdapat pada mesotoraks dan satu
pasang lainnya terdapat pada metatoraks
Tipe mulut : Mengisap
Posisi kepala : Prognathus
2. Deskripsikan ciri-ciri khusus yang dimiliki serangga yang diamati!
Jawaban:
a. Belalang
Ciri-ciri khusus:
1) Sayap lurus
2) Jumlah ruas antena adalah 13
3) Tipe antenna setaceus
4) Tipe kaki Saltatorial
b. Kupu-kupu
Ciri-ciri khusus:
1) Motif sayap dengan warna kecoklatan
2) Satu pasang terdapat pada mesotoraks dan satu pasang lainnya
terdapat pada metatoraks
3) Antena tipe filiform
4) Ruas antena 9 ruas

LAMPIRAN

Gambar 1. Sayap Belalang


Gambar 2. Abdomen belalang

Gambar 3. Tubuh Kupu-kupu


DAFTAR RUJUKAN

Borror, D. J., Triplehor, N., and Johnson, N. F. 2005. Study of Insect.Ed-7. Amerika:
Thomson Brook/ Cole.
Hickman, C.P., Roberts, L. S., Larson, A. 2001. Integrated Principles of Zoology 10th
edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Hidayat, O., Sutarno, N., Suhara, dan Sanjaya, Y. 2004. Dasar-dasar Entomologi.
Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Hidayat, O., Sutarno, N., Suhara., Sanjaya, Y. 2004. Dasar-Dasar Entomologi.


Bandung: Universitas Pendidikan Indonsia
Jumar, 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta.
Lopes.2017. Panduan Bergambar Pengenalan Ordo serangga hama.Kupang : Politeknik
Pertanian Negeri Kupang

Rowell, C.H.F. 1987. The biogeography of Costa Rican acridid grassoppers in


relation to their putative phylogenetic origins and ecology. Pp. 470-482 in
Baccetti, B. (eds). Evolutionary biology of Orthopteroid insects, Chichester.
Scoble MJ. 1995. The Lepidoptera: Form, Function and Adversity. New York:
Oxford, University Press.
Trisyono, Suputa Y. Andi. 2004. Buku Ajar Entomologi Dasar. Yogyakarta: UGM.