Anda di halaman 1dari 24

GEOTEKNIK TAMBANG

Pendahuluan
Lereng:
1. Lereng tambang aktif.
2. Lereng timbunan bijih/batubara (stockpile).
3. Lereng timbunan tanah penutup.
4. Lereng bangunan infrastruktur (jalan, sekitar bangunan, bendungan).

Tahapan analisis kestabilan lereng


1. Tahap perancangan.
2. Tahap penambangan.
3. Tahap paska tambang.

Mengapa perlu dianalisis?:


1. Menyangkut keselamatan kerja.
2. Keamanan peralatan & benda-benda.
3. Keberlangsungan produksi.

Rekayasa Geoteknik merupakan aplikasi rekayasa teknologi yang diterapkan


kepada bumi (Holtz, 1981). Pemahaman terhadap masing-masing material.

Perbedaan tanah & batuan dalam geoteknik


Tanah (Das, 2002) Batuan (Giani, 1992)
Lepasan aglomerasi mineral, material Kumpulan dari berbagai macam
organik, dan sedimen dengan cairan material yang kompak.
dan gas yang mengisi rongga.

Ilmu rekayasa geoteknik mulai berkembang pada awal abad ke-18 (Das, 2002).

Pendekatan untuk penelitian komposisi & perilaku material:


Soil bearing capacity (daya dukung tanah): konstruksi Menara Pisa yang miring.

1
Kemajuan awal: pengembangan terori tekanan tanah DPT.
Henry Gautier, French Royal Engineer (1717): kemiringan alami tanah yg
berbeda. Penyebutan kemiringan alami (angle of repose) (Das, 2002).

Charles Augustin Coulomb (1776)  prinsip-prinsip mektan  teori tekanan


tanah aktif & pasif DPT + teori gesekan & kohesi  bidang gelincir  failure
criterion (O’Kelly dkk., 2009).

Teori Coulomb + tegangan 2D Christian Otto Mohr  Teori Mohr Coulomb


(O’Kelly dkk., 2009).

Karl Terzaghi (1925)  Erdbaumechanik auf Bodenphysikalisher Grundlage


Insinyur Sipil & Geologi  Bapak Mektan dan Geotek  Tegangan efektif 
Kuat Geser Tanah.

Tanah & batuan  heterogen  anisotropik (sifat material tidak sama pada
semua arah)  HK. tegangan-regangan linier + koreksi empiris  keadaan
sebenarnya (Holtz & Kovacs, 1981).

Pengontrol perilaku tanah & batuan  bidang diskontinuitas, air, panas, getaran.
Hasil uji lapangan & lab  pendekatan karakteristik material
Rekayasa geotek yang baik  engineering judgement, dll.

Prinsip Dasar Analisis Kestabilan Lereng


Faktor-faktor yang mempengaruhi:
1. Gaya-gaya penahan. Gaya Penggerak (F) Gaya Penahan (F*)

2. Gaya-gaya penggerak.
Gaya Berat
Kondisi
1. Gaya penahan > gaya penggerak  lereng stabil (aman).
2. Gaya penahan < gaya penggerak  lereng tidak stabil (terjadi longsor).

Istilah utk menyatakan tingkat Kestabilan Lereng  Faktor Keamanan (Safety


Factor).

2
𝐺𝑎𝑦𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐹∗
FK = =
𝐺𝑎𝑦𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝐹
𝑀𝑜𝑚𝑒𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐹∗𝑥 𝑟
= =
𝑀𝑜𝑚𝑒𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝐹𝑥𝑟
𝐾𝑒𝑘𝑢𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐺𝑒𝑠𝑒𝑟 𝐹 ∗ /𝐴 𝜏∗
= = =
𝐺𝑎𝑦𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝐹/𝐴 𝜏

Kekuatan geser = c + 𝜎𝑛 tan Ф


𝑐.𝐴+ 𝜎𝑛 .𝐴.𝑡𝑎𝑛∅
FK =
𝑊𝑠𝑖𝑛𝜑𝐹
𝑐.𝐴+ 𝑊𝑐𝑜𝑠𝜑𝐹 .𝑡𝑎𝑛∅
=
𝑊𝑠𝑖𝑛𝜑𝐹

Keterangan:
1. Jika FK > 1 (gaya penahan > gaya penggerak), lereng stabil.
2. Jika FK = 1 (gaya penahan = gaya penggerak), lereng kritis.
3. Jika FK < 1 (gaya penahan > gaya penggerak), lereng tidak stabil.

Metode Rancangan Lereng

Masalah Kestabilan Lereng (Suyartono, 2013):


 Tambang terbuka (open pit & open cut).
 Penimbunan material buangan (tailing disposal).
 Penimbunan bijih (stockyard).
 Bendungan.
 Infrastruktur.
 Lereng sekitar fasilitas (ex: perumahan).

3
Jenis lereng berdasarkan material penyusun:
 Lereng tanah. Parameter Material
 Lereng batuan. Jenis Penyebab Longsor

Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng (Moshab, 1997):


1. Geometri lereng.
2. Karakteristik fisik dan mekanik material.
3. Air (hidrologi & hidrogeologi).
4. Struktur bidang lemah batuan (lokasi, arah, frekuensi, karakteristik mekanik).
5. Tegangan alamiah dalam massa batuan.
6. Konsentrasi tegangan lokal.
7. Getaran (alamiah: gempa; manusia: peledakan, lalu lalang alat-alat berat.
8. Iklim.
9. Hasil perbuatan pekerja tambang.
10. Pengaruh termik (what is this????).

Internal Force

Alami Seimbang

Eksternal Force

Pengangkatan
Degradasi
Penurunan

Gangguan Penggalian Tidak Perpindahan


Seimbang
Penimbunan
Pengurangan
Erosi Beban

Gerakan
Massa

Keseimbangan
Baru

4
Sifat-sifat fisik & mekanik
1. Sudut gesek dalam atau angle of friction ∅.
2. Kohesi (c).
3. Kuat tekan.
4. Kuat tarik.
5. Modulus elastisitas.
6. Nisbah Poisson.
7. Bobot isi 𝛾.

Analisis kemantapan lereng harus diketahui


1. Sistem tegangan tanah dan batuan.
2. Sifat fisik & mekanik material.
3. Posisi lereng.
4. Kedalaman lereng.

Penggalian/Penimbunan  Analisis perilakau tanah & batuan  Geometri lereng

3 pendekatan utama analisis kestabilan lereng:


1. Mekbat.
2. Mektan.
3. Kombinasi mekbat & mektan.

Beberapa metode analisis kemantapan lereng:


1. Metode analitik.
2. Metode grafik.
3. Metode stereonet.
4. Metode kesetimbangan batas.
5. Metode numerik (elemen hingga, elemen diskrit, elemen batas).
6. Metode probabilistik.
7. Teori blok.
8. Sistem pakar / pemodelan fisik (laboratorium).

5
Tahap-tahap studi kemantapan lereng secara umum:
1. Studi topografi & geologi umum.
2. Studi struktur massa batuan.
3. Studi karakteristik fisik & geomekanik.
4. Studi kondisi hidrologi & hidrogeologi.
5. Permodelan perhitungan kemantapan lereng.
6. Perbaikan kemantapan lereng (perkuatan lereng & pemantauan kemantapan
lereng).

Permasalahan  Keputusan

Klasifikasi Gerakan Massa Tanah dan Batuan


Gerakan tanah adalah berpindahnya massa tanah dan batuan pada arah
tegak, mendatar, atau miring dari kedudukannya semula (M.M. Purbo
Hadiwidjoyo, 1992). Klasifikasi jenis gerakan tanah & batuan:
1. Longsoran (Sliding)
Tanah & batuan yang bergerak seakan-akan meluncur ke bawah tiba-
tiba. Coates (1970) & Jansen (1984)  membuat daftar faktor penting 
disetujui 28 penulis  elemen penyusun longsoran & gerakan yang
dikategorikan longsoran:
a. Longsoran mewakili 1 kategori & arah umum pergerakan tanah &
batuan.
b. Gravitasi = gaya utama.
c. Gerakan harus cukup cepat.
d. Gerakan dapat berupa keruntuhan (falling), longsoran/luncuran (sliding),
aliran (flow).
e. Bidang atau daerah gerakan ≠ patahan.
f. Gerakan mengarah ke bawah, menghasilkan bidang bebas, ≠ subsidence.
g. Material yang tetap di t4, memiliki batas yang jelas, melibatkan bagian
terbatas punggung lereng.

6
h. Material yang tetap di tempat meliputi sebagian dari regolith (bahan induk
atau bahan utama dalam pembentukan tanah) &/ bedrock.
i. Not included frozen ground.
Talus Cone terbentuk akibat longsoran secara berkala (ex: Isfjord, Norwegia).
Faktor-faktor klasifikasi longsoran:
a. Jenis material.
b. Morfologi material.
c. Karakteristik geomekanik.
d. Kecepatan & lamanya gerakan.
e. Bentuk permukaan longsoran (bidang, baji, busur).
f. Volum.
g. Umur longsoran.
h. Penyebab longsoran.
i. Mekanisme longsoran.
Longsoran atau luncuran  pada bidang rapuh  ≥ 1 bidang luncuran 
Gerakan rotasi / translasi.
Rotasi  longsoran busur / lingkaran
Translasi  longsoran bidang
Rotasi + Translasi  Longsoran bidang + busur  Ex: Desa Sukasari, Bogor
Timur (22-11-1992), korban 9 org; Desa Cikalong, Tasikmalaya (11-11-
1992), korban 56 org; Banjarnegara (Desember 2014), puluhan korban.

2. Runtuhan (Falling)
Gerakan ibarat jatuh bebas, seperti massa batuan pada dinding yang
curam (≈tegak) yang tiba-tiba jatuh.
Bidang diskontinuitas  lereng relatif tegak
Bidang diskontinuitas  rayapan lapisan lunak (ex: marl) or gulingan blok.
Ex: Pennington Pint (15-02-2009) dalam British Geological Survey, 2009.

7
3. Nendatan (Slump)
Massa tanah & batuan yang belum terlepas dari ikatannya, gerakan
tersendat-sendat, menuruni lereng dalam jarak pendek, bidang lengkung,
ekstrem lambat – agak cepat (moderate), seakan-akan gumpalan-gumpalan
besar.
>1 bidang longsor -------- sejajar atau searah 1 sama lain.
Ex: North Dakota, Amerika (Schwert, 1988)

4. Amblesan (Subsidence)
Penurunan muka tanah secara alami karena konsolidasi lapisan tanah
dangkal & lunak atau karena penurunan tekanan airtanah pada sistem
akuifer di bawahnya (keg. manusia & pengambilan airtanah). Permukaan
tanah & batuan tiba-tiba bergerak turun dengan kecepatan lambat sampai
agak cepat.
Ex: Ridgeway Mine, New South Wales; underground mining (Rolinator,
2006).

5. Rayapan (Creep)
Merupakan gerakan kontinu, relatif lambat, tidak jelas bidang
rayapannya. Gerakan massa tanah dan batuan secara perlahan-lahan.
Ex: Pangadegang, Cianjur Selatan, mencakup ±100 km; Ciamis Utara;
Banjarnegara dalam M.M. Purbo Hadiwidjoyo, 1992.

6. Aliran (Flow)
Gerakan massa tanah dan batuan yang sudah bercampur dengan air &
tertransportasi ke tempat lain, juga dipicu longsoran sebelumnya.
Kecepatan bisa sangat tinggi.

7. Gerakan Kompleks (Complex Movement)


Gabungan lebih gerakan tanah dan batuan yang sulit diindentifikasi
sebagai salah satu jenis gerakan yang telah disebutkan sebelumnya.

8
Pemicu dan Pemacu Gerakan Massa Tanah
Pemicu (KBBI, 2004)  hal* yg menggerakkan sesuatu yg berakibat
membahayakan.
Pemacu (KBBI, 2004)  hal* yg diberikan pd sesuatu sehingga menyebabkan
perubahan.
Pemicu  Gempa bumi  Contoh: Cianjur Selatan, Jabar (13 Desember 1924)
Pemicu  Hujan  Contoh: Jalan antara Sibolga & Medan (Januari, 1993).
Pemacu  Contoh: pemotongan kaki lereng (toe) utk jalan atau perumahan.

Klasifikasi penyebab gerakan massa tanah & batuan (Terzaghi, 1967 & Brunsden
(1984).
No Penyebab Eksternal Penyebab Internal
1 Perubahan geometri lereng
 Pemotongan kaki lereng. Longsoran progresif (mengikuti
 Erosi. ekspansi lateral, perekahan
 Perub. Sudut kemiringan. [fissuring], erosi).
 Panjang.
2 Pembebasan beban
 Erosi. Pelapukan.
 Penggalian.
3 Pembebanan
 Penambahan material.
 Penambahan tinggi.
4 Shock & vibration (buatan, gempa,
Erosi seepage (solution, piping).
dll).
5 Penurunan muka air.
6 Perub. Kelakuan air (hujan, tekanan
pori, dll).

9
Penyebab utama longsoran lereng di daerah tropis
 Air (tekanan air dalam rekahan, alterasi mineral).
 Erosi dr lapisan lunak.
 Pelapukan pd kekar.

3 faktor penyebab longsoran:


 Geometrik.
 Hidraulik.
 Mekanik (termasuk termik).

Longsoran yg sering terjadi pada Lereng Tambang


1. Longsoran Busur (Circular Failure)
 Lereng tanah & batuan lapuk atau terkekarkan, lereng timbunan.
 Menyerupai busur (penampang melintang).
2. Longsoran Bidang (Plane Failure)
 Jarang terjadi.
 Jika terjadi longsoran, secara volum > yg lain.
 Disebabkan struktur geologi, ex: kekar (joint), patahan (fault).
3. Longsoran Baji (Wedge Failure)
 Sering terjadi di lapangan.
 Disebabkan struktur geologi, i.e. perpotongan dua struktur geologi
4. Longsoran Guling (Toppling Failure)
 Umumnya pd lereng terjal, batuan keras.
 Struktur bidang lemanya berbentuk kolom.
 Kemiringan bidang-bidang lemah berlawanan arah dg kemiringan lereng.
Circular Plane Wedge Toppling

10
Macam-macam metode analisis kestabilan lereng
Software & Metode  prinsip-prinsip  keunggulan & keterbatasan.
Pendekatan penyelesaian masalah geomekanika:
1. Tanah & batuan dianggap sebuah massa kontinu atau menerus (Metode
Kontinum) yg tdd:
 Metode beda hingga (Finite-difference methode).
 Metode elemen hingga (Fininte-element methode).
2. Tanah & batuan dianggap suatu benda tidak kontinu / tidak menerus
(Metode Diskontinu), ex: metode elemen diskret.
3. Metode campuran hybrid.

Rancangan Lereng Tambang


1. Rancangan Teknik Secara Umum
Geologi & Geoteknik  Lereng tambang, timbunan, infrastuktur 
penyesuaian thd kondisi lapangan.
Proses merancang  Metodologi Penyelesaian Masalah (Bienawski, 1984).
Unsur penting penyelesaian masalah & pembuatan keputusan lereng tak stabil:
 Penilaian situasi (kategori lokasi)
- Identifikasi masalah.
- Membuat prioritas.
- Membuat tahap* perencanaan  rencana  rancangan akhir
 Analisis masalah (identifikasi mekanisme keruntuhan & analisis)
- Gambaran permasalahan.
- Identifikasi penyebab.
- Evaluasi penyebab.
- Penentuan penyebab sebenarnya.
 Analisis keputusan (perancangan lereng)
- Menjelaskan sasaran.
- Memperkirakan/mengevaluasi alternatif.
- Memperkirakan resiko yg akan terjadi.
- Membuat keputusan (menyelesaikan perancangan)

11
 Analisis masalah yang mungkin terjadi
- Dilakukan setelah diambil keputusan desain / rancangan lereng.
- Identifikasi masalah  identifikasi penyebab  tindakan pencegahan.

2. Rancangan Lereng Tambang


Metode perancangan  heuristic’s atau rules of thumb (The Institution of
Engineers Australia, 1990)
Konsep perancangan lereng tambang  geoteknik & geologi  heuristic’s.

Heuristic’s adalah metode pemecahan masalah yg tdk sepenuhnya bergantung


pd algoritma, but lbh tergantung pd pertimbangan induktif dr pengalaman
akan masalah serupa di masa lalu (Macquarie Dictionary, 1995).
Pertimbangan induktif adalah proses menemukan penjelasan suatu fakta dg
perkiraan bobot fakta yg diperoleh dr pengamatan (Macquarie Dictionary,
1995).

Algoritma adalah logika, metode, tahapan sistematis pemecahan masalah


(Utami, 2005).

Pengamatan kuantitatif  sebag kecil contoh tanah & batuan  desain


lereng optimum  aman & ekonomis.

3. Rancangan Metode Pengamatan


R. B. Peck (1969)  teori praktik mektan  perancangan pengamatan
(observation on) atau learn as you go.
Needed:
 Eksplorasi  keadaan alam, pola, sifat endapan.
 Most probable condition + penyimpangannya + penilaian geologi.
 Hipotesis perilaku material kondisi sebelumnya  hasil komputasi 
rancangan.
 Kuantitas objek & perhitungan nilai.

12
 Data subsurface  kuantitas sama  most unfavorable conditions 
nilai.
 Observasi  penyimpangan  melanjutkan / memperbarui rancangan.
 Pengamatan kuantitas objek  pengukuran  kondisi aktual  evaluasi.
 Modif rancangan ≈ kondisi aktual.

Perutukan:
 Runtuhan dalam waktu singkat.
 Kemampuan memprediksi pelaksanaan konstruksi sipil.

Metodologi analisis kestabilan lereng tambang terbuka


PENGUMPULAN ATAU PEMBUATAN DATA TOPOGRAFI
Peta, Foto Udara, Pengamatan Lapangan

PENGUMPULAN ATAU PEMBUATAN DATA GEOLOGI, GEOMEKANIKA,


HIDROGEOLOGI
Peta, Foto Udara, Pengamatan Lapangan, Litologi Lubang Bor, Hasil Uji Laboratorium

ANALISIS AWAL

LERENG TANPA BIDANG LERENG DENGAN BIDANG


DISKONTINU YANG POTENSIAL DISKONTINU YANG POTENSIAL
MENYEBABKAN LONGSOR MENYEBABKAN LONGSOR

PEMETAAN STRUKTUR GEOLOGI


RINCI
PENENTUAN KARAKTERISTIK
BIDANG DISKONTINU
Karakteristik Geser dan Normal, Kohesi,
Sudut Gesek Dalam

PENENTUAN KARAKTERISTIK
MATERIAL
Mekanik: Kekuatan, Modulus, Nisbah
Poison, Klasifikasi Batuan, Hidrolika

PEMILIHAN METODE ANALISIS


Metode Kesetimbangan Batas, Metode
Elemen Hingga, Metode Elemen “Distinct”

B A

13
B A

ANALISIS
DG 1 Tidak
METODE YG
SESUAI

Ya
PENENTUAN HUKUM PERILAKU
MATERIAL BILA MENGGUNAKAN
METODE NUMERIK
Elastis Linier, Elastoplastis, Viskoelastis

PENENTUAN GEOMETRI LERENG


Pertimbangan Operasional

ANALISIS KEMANTAPAN LERENG

LERENG Ya
MANTAP

Tidak

Ya GEOMETRI
LERENG MASIH
DAPAT DIUBAH

KETIDAKMANTAPAN LERENG YANG KETIDAKMANTAPAN LERENG YANG


TIDAK DAPAT DICEGAH TIDAK DAPAT DICEGAH
Prediksi untuk Menerima Longsoran Tanpa Prediksi untuk Menerima Longsoran Tanpa
Membahayakan Manusia & Peralatan Membahayakan Manusia & Peralatan

Pemantauan

HASIL
Tidak PEMANTAUAN = /
MENDEKATI HASIL
PERHITUNGAN

Ya
HASIL ANALISIS
DITERIMA
14
Penyelidikan Lapangan
Pengumpulan data  penyelidikan lapangan  kondisi aktual massa tanah &
batuan
1. Pemetaan Topografi
Bahasa Yunani, topos  tempat, graphi  menggambar.
Peta topografi  memetakan tempat2 di perm bumi yg berketinggian sama
(diukur dr perm laut) menjadi bentuk garis2 kontur, 1 grs kontur mewakili 1
ketinggian.
2 unsur utama  ukuran relief (brdskrkn variasi elevasi axis)
 ukuran perm. bidang datar
Informasi yg didapat:
 Sudut kemiringan
 Elevasi
 DAS
 Vegetasi scr umum
 Pola urbanisasi
Scr umum, peta topo adlh peta ketinggian titik atau kawasan yg dinyatakan
dlm bntk angka ketinggian atau kontur ketinggian dr perm laut rata2.
Skala peta pertambangan  Lampiran XIII-b Keputusan Menteri ESDM
No. 1453 K/29/MEM/2000  1:2000
Skala peta perencanaan tambang detail  1:1000
2. Pemetaan Geologi
Peta geologi  bentuk ungkapan data & informasi geologi suatu daerah /
wilayah / kawasan dg tingkat kualitas yg bergantung pd skala peta.
Informasi  sebaran, jenis, sifat batuan
 umur
 stratigrafi
 struktur
 tektonika
 fisiografi
 potensi sumber daya mineral & energi

15
Penyajian  gambar & warna + simbol + corak (Keputusan ESDM No.
1452 K/10/MEM/2000)
Peta Geologi SNI No. 13-4691-1998  simbol peta
 istilah
 keterangan peta
 penyajian peta
 penerbitan
 spesifikasi
 ukuran lembar peta
Istilah geologi dalam penggunaan peta geologi untuk studi inventarisasi
sumber daya mineral & batubara:
 Skala peta
Perbandingan jarak pd peta dg jarak sebenarnya yg dinyatakan dg
angka, garis, atau gabungan keduanya.
Skala yg umum 1:10.000 (SNI 19-6502.1-2000)
 Peta topografi
Peta ketinggian titik atau kawasan dlm bntk angka ketinggian atau
kontur ketinggian yg diukur trhdp ketinggian perm laut rata2.
 Peta geologi sistematik
Peta yg menyajikan data geologi pada peta topografi atau batimetri dg
nama & nomor lembar peta, mengacu pd SK Ketua Bakosurtanal
No.019.2.2/1/1975 atau SK penggantinya.
 Peta geologi tematik
Peta yg menyajikan informasi geologi dan/atau potensi sumber daya
mineral dan/atau energi utk 7an ttu.
 Pemetaan gelogi
Pekerjaan atau kegiatan pengumpulan data geologi, baik di darat
maupun laut, dg berbagai metode.
 Sumber daya geologi
Sumber daya mineral, energi, airtanah, bentangalam, kerawanan bencana
alam geologi.

16
Data geologi yg diperlukan dalam analisis kestabilan lereng tambang:
 Sebaran batuan.
 Tipe mineral pembentuk material lereng.
 Bidang-bidang diskontinuitas & perlapisan pd lereng.
Kondisi geologi harus selalu diamati & dikaji selama pekerjaan
berlangsung.
Pertimbangan kemungkinan adanya perubahan (modifikasi) rancangan lereng
apabila kondisi aktual di lapangan berbeda dg kondisi geologi asumsi (data
awal)
3. Pengeboran Geoteknik
Dilakukan utk mengetahui strata atau perlapisan tanah dan batuan di bwh
perm bumi, jenis, serta kondisi tanah & batuan pd daerah yg akan diteliti.
Hasil pengeboran  bor-log.
Informasi bor-log:
 Elevasi permukaan tanah
Hitungan kedalaman mengambil contoh (sampel) tanah, SPT, MAT, dsb.
 Kedalaman lubang bor
Mengetahui pergantian jenis tanah & batuan, posisi atau elevasi
pengambilan contoh tanah & batuan, SPT, mendeskripsikan anomali
geologi atau munculnya struktur geologi yg kompleks.
 Deskripsi tanah & batuan
Dilakukan scr visual dr contoh (sampel). Akurasi  professionalisme
 Titik pengambilan contoh tanah & batuan
Dilakukan dg interval ttu. Diikat dg elevasi muka tanah titik bor.
 Contoh yg diperoleh (core recovery)
Panjang contoh tanah & batuan yg diperoleh dg suatu metode yg teruji.
Panjang sample recovery tdk selalu = panjang tabung
 Simbol tanah & batuan
Membedakan jenis tanah & batuan.

17
 Penetrasi
Nilai SPT terkoreksi (N60) = jmlh pukulan utk menembus lapisan tanah /
batuan setebal 30 cm.
Mencerminkan tingkat kekerasan suatu lapisan tanah / batuan.
Faktor-faktor yg mempengaruhi pemilihan metode pengeboran:
 Genesa endapan.
Contoh:
- Endapan alluvial, pengambilan contoh dg bor Bangka, diambil
menggunakan bailer (timah aluvial di Bangka, Billiton, Singkep).
- Endapan primer, pengeboran inti (diamond drilling), contoh yg
diperoleh berupa core dan sludge. UDS dlm core barrel, sludge dlm
sludge tank.
 Kedalaman.
 Tipe batuan.

Pengeboran inti  Pengambilan contoh inti (core sampling)  dibelah 2 


assay (pengujian) & dokumentasi geologi.
Lubang bor  dialiri fluida sludge  pengeluaran cutting.
Ketelitian drill core  core recovery
Ketelitian cutting relatif rendah  kadar (salting) & posisi kedalaman (lifting
capacity)
Beberapa kesalahan pengeboran:
- Inklinasi (kemiringan) lubang bor yg tidak sesuai kemiringan lapisan.
- Core recovery kurang baik.
- Interval pengambilan contoh kurang sesuai.
- Kesalahan preparasi contoh.
- Penanganan core kurang baik.

18
Pengujian sifat fisik & mekanik tanah & batuan (International Society for
Rock Mechanics/ISRM, 1981):
 Uji Sifat Fisik Dasar
Kepadatan atau densitas (asli, jenuh, kering)
Berat jenis (asli, semu)
Kadar air
Derajat kejenuhan
Porositas
Angka pori
 Uji Kuat Tarik Langsung
Tensil strength scr tidak langsung
 Uniaxial Compressive Strength Test
Kuat tekan batuan trhdp gaya aksial
Modulus Elastisitas
Nisbah Poisson
 Uji Triaksial
Kuat tekan batuan dr 3 arah
Selubung kekuatan batuan
Kohesi
Sudut gesek dalam
 Uji Geser Langsung
Kuat geser batuan trhdp gaya lateral
Kohesi
Sudut gesek dalam dr bidang pecah krn geseran
 Uji Point Load Strength Index
Kekuatan batuan thdp beban terkonsentrasi
 Uji Kecepatan Rambat Gelombang Ultrasonik
Kecepatan rambat gel.utrasonik (primer & sekunder).
Modulus Elastisitas dinamik
Nisbah Poisson dinamik

19
4. Pengukuran Bidang Diskontinu (Metode Scanline)
 Jarak Antar Kekar
Jarak pisah antar bidang diskontinu  jarak tegak lurus antar 2 bidang
diskontinu berurutan sepanjang sebuah garis pengamatan (scanline).
Dinyatakan sebagai intact length.
Scanline min  50 X jarak rata2 diskontinuiti yg hendak diukur.
Scanline min (ISRM, 1981)  10 X jarak rata2 diskontinuiti  7-an.

Klasifikasi jarak kekar (Attewell, 1993)


Jarak
Deskripsi Jarak Struktur Bidang Diskontinu
(mm)
Spasi sangat lebar Perlapisan sangat tebal >2000
600-
Spasi lebar Perlapisan tebal
2000
Spasi cukup lebar Perlapisan sedang (medium) 200-600
Spasi rapat Perlapisan tipis 60-200
Perlapisan sangat tipis 20-60
Laminasi tebal (batuan sedimen) 6-20
Spasi sangat rapat Laminasi sempit (batuan metamorf & beku) 6-20
Berlapis memiliki cleavage, struktur perlapisan
6-20
seperti aliran/flow (flow banded), metamorfik, dll
Perlapisan tipis (batuan sedimen) < 20
Spasi sangat rapat Sangat berfoliasi, memiliki cleavage & struktur
sekali (ekstrem) perlapisan, seperti aliran/flow (flow banded), <6
batuan metamorf, beku, dll

 Prosedur Normal untuk Garis Pengukuran Kekar (Kramadibata, 1996)


𝛼 = arah s = shear
𝛽 = dip f = lereng

Muka Lereng 𝛼𝑓
𝛽𝑠 𝛽𝑓 Arah Penggalian
𝛼𝑠

Garis Pengukuran Kekar

20
Pengukuran jarak antar kekar menggunakan metode scanline

Trace Length
𝑑12 𝑑23 𝑑34 𝑑45 𝑑56 𝑑67

A 1 2 3 4 5 6 7 B

d1

𝜃2 𝜃 𝜃
A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1 1 B

J1

5. Pengujian Mekanika Batuan In-Situ


7-an:
- Mendapatakan karakteristik massa batuan di tempat asalnya + pengaruh-
pengaruh cacat geologi (melewati maupun di dekat lokasi pengujian.
- Lebih representatif & lebih menggambarkan keadaan massa batuan
sebenarnya karena volum batuan besar.
Massa Batuan

Massa batuan: batuan utuh + diskontinuitas


Sifat2 massa batuan: sifat2 batuan utuh + diskontinuitas
Massa Batuan Batuan Utuh
Tegangan

Tegangan

Regangan Regangan

Modulus deformasi massa batuan < modulus elastisitas batuan utuh.

21
 Block Shear Test (Uji Geser)
Dilakukan di sepanjang perm.diskontinuitas.
Mendapatkan shear strength (kuat geser) & shear zone (deformasi daerah
geser).
Detailed design lereng alami, buatan & penggalian batuan di tambang.
𝜏 = 𝜎𝑛 . tan∅ + c
Ket:
𝜏 = kuat geser
𝜎𝑛 = tegangan normal di atas bidang geser
∅ = sudut gesek dalam
c = kohesi batuan
 Rock Loading Test (Jacking Test)
FEM & DEM  parameter deformasi (modulus deformasi) & parameter
kekuatan.
Modulus deformasi massa batuan  Rock Loading Test.
Kekuatan massa batuan  In-situ Triaxial Compression Test.
Deformability massa batuan in-situ  mendongkrak batuan
Pengujian di bawah tanah di dalam sebuah lubang bukaan (test adit).
Jack  menekan atap & lantai lubang.
Hasil pengujian  deformasi atap & lantai  diukur dg dial gauge &
extensometer.
5 kali pembebanan / 5 siklus  kurva tegangan (MPa)-deformasi (cm)
1−𝑣 ∆𝐹
E=( ) (∆𝑑/𝑑)
2𝑟

Ket:
E = Modulus deformasi atau elastisitas
v = Poisson’s ratio
a = Jari-jari plat distribusi
∆F = Penambahan beban (increment of load)
∆d = Penambahan perpindahan (increment of displacement), jika
pengukuran dilakukan di tengah-tengah plat.

22
 In-Situ Triaxial Compression Test
7an: mendapatkan karakteristik deformasi & kekuatan batuan kondisi
pembebanan triaksial pd lubang bukaan bawah tanah.
taken away = diambil
slit = celah
while lifting a core pack = sambil mengangkat paket inti
is conducted in the field = dilakukan di lapangan
hydraulic jack = dongkrak hidrolik

Hasil pengujian di terowongan, vertikal = 0,6 MPa, horizontal = 0,8 MPa.


Siklus Interval Tegangan Interval Perpindahan Ev Modulus EA Modulus
No. Vertikal (MPa) (mm) (MPa) (MPa)
1 0.05 – 0.30 0.00 – 0.22 1130
0.30 – 0.05 0.22 – 0.00 1600
2 0.05 – 0.10 0.07 – 0.31 1450
0.40 – 0.005 0.31 – 0.06 1400
3 0.05 – 0.40 0.06 – 0.30 1450
40.0 – 0.05 0.30 – 0.06 1450
4 0.05 – 0.40 0.06 – 0.27 1660
0.40 – 0.05 0.27 – 0.04 1520
5 0.05 – 0.60 0.04 – 0.64 1440
0.60 – 0.05 0.64 – 0.24 1370
6 0.05 – 0.60 0.24 – 0.72 1440
0.60 – 0.05 0.72 – 0.34 1440
7 0.05 – 0.60 0.34 – 0.68 1610
0.60 – 0.05 0.68 – 0.52 (3750)
Ket:
Ev = modulus pembebanan statik yg menaik.
EA = modulus pembebanan statik yg menurun.
6. Pengujian Metode Geofisika
 Metode Gravitasi
Parameter yg diperoleh: densitas setiap lapisan batuan.

23
Penggunaan:
- Batuan dasar
- Struktur geologi
- Void in rock mass
- Shaft terpendam

Variasi medan gravitasi akibat variasi rapat massa batuan, 1 ttk ke ttk
lain.
Perb. rapat massa material thd lingk  struktur bwh perm  analisis
kemantapan  perencanaan lereng tambang
 Metode Magnetik
Variasi intensitas medan magnetik akibat variasi distribusi benda
termagnetisasi
Penyebab anomali:
- Distribusi mineral feromagnetik (tertarik kuat oleh magnet).
- Distribusi mineral paramagnetik (tertarik lemah oleh magnet).
- Distribusi mineral diamagnetik (tidak tertarik oleh magnet).

Variasi intensitas medan magnet  distribusi bahan magnetik.


 Metode Seismik

 Metode Geolistrik (Resistivitas)

 Metode Elektromagnetik

 Metode GPR (Ground Penetrating Radar)

24