Anda di halaman 1dari 38

Asuhan Keperawatan sepanjang rentang kehidupan: Pra-Sekolah, Usia

anak Sekolah dan Remaja

Makalah Disusun guna memenuhi tugas


Mata kuliah Keperawatan Kesehatan Jiwa I

Dosen Pengampu:
Ns. Evin Novianti SKp, M. Kep, Sp.Kep.J

Disusun oleh:
Nada Tasya Anggini 1810711056
Afdilla 1810711063

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL "VETERAN" JAKARTA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
2020
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang membahas
tentang “Asuhan Keperawatan sepanjang rentang kehidupan: Pra-Sekolah, Usia anak Sekolah
dan Remaja”

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Depok, 15 Maret 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................2
C. Tujuan Penulisan..................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................3
A. Anak Pra-sekolah.................................................................................3
B. Kesiapan Peningkatan Perkembangan.................................................6
C. Tindakan Keperawatan Anak prasekolah............................................7
D. Asuhan Keperawatan Sejahtera pada anak prasekolah........................8
E. Anak Usia Sekolah.............................................................................10
F. Kesiapan Peningkatan Perkembangan................................................13
G. Tindakan Keperawatan Anak usia sekolah.........................................14
H. Keperawatan Jiwa Pada Remaja.........................................................19
I. Kesiapan Peningkatan Perkembangan................................................25
J. Tindakan Keperawatan Pada Remaja.................................................26
K. Diagnosa keperawatan sejahtera, perilaku dan intervensi terpilih......30
BAB III SIMPULAN DAN SARAN............................................................34
A. Simpulan.............................................................................................34
B. Saran...................................................................................................34
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................35

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang langsung diberikan kepada klien pada berbagai tatanan pelayanan
kesehatan , dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia, dengan menggunakan
metodelogi proses keperawatan, berpedomen pada standar praktik keperawatan, dilandasi etik
dan etika keperawatan, dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan.
Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui
praktik keperawatan dengan sasaran keluarga. Asuhan ini bertujuan untuk menyelesaikan
masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan menggunakan pendidikan proses
keperawatan. Secara umum, tujuan keperawatan keluarga adalah ditingkatkannya
kemampuan keluarga dalam mengantasi masalah kesehatan keluarga secara mandiri.
Asuhan keperawatan keluarga pada anak prasekolah adalah suatu rangkaian kegiatan
yang diberikan kepada keluarga dengan anak usia prasekolah. Dimana, pada anak usia inilah
yang rentan dan memiliki masalah tertentu dalam menghadapi proses tumbuh kembangnya.
Peran keluarga sangat dibutuhkan sehingga proses tumbuh dan kembang anak dapat
mencapai hasil yang sesuai dengan yang diharapkan, terutama dalam pola hidup sehat.
Anak merupakan individu yang yang berada dalan satu rentang perubahan
perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak – anak merupakan masa
pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dar bayi ( 0-1 tahun ), usia bermain/ toddler
( 1-2, 5 tahun ), prasekolah ( 2,5 – 5 tahun ) usia sekolah ( 5-11 tahun), hingga remaja (11- 18
tahun )
Anak merupakan bagian atau anggota keluarga, sering dikatakan sebagai potret atau gambar
dari orang tuanya saat masih kecil. Namun tidaklah demikian, karena anak merupakan
individu tersendiri yang bertumbuh dan berkembang secara unik dan tidak dapat diulang
setelah usianya bertambah.
Keluarga dengan tahap anak prasekolah atau TK memerlukan perhatian yang khusus
terhadap perkembangan fisik, social , emosional dan kognitif anak. Begitu pula pada jenjang
usia sekolah dan Remaja disamping itu keluarga mempunyai tugas yaitu memenuhi
kebutuhan anak rumah rasa aman, membantu unutk bersosialisasi mempertahankan hubungan
yang sehat keluarga intern dan luar, pembagian tanggung jawab, dan kegiatan untuk
menstimulasi perkembangan anak.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana proses gangguan jiwa dalam perspektif keperawatan jiwa?
2. Bagaimana konsep stress di dalam keperawatan jiwa?
3. Apa saja rentang sehat sakit jiwa?
4. Bagaimana mekanisme koping?

1
1.3 TUJUAN
Makalah disusun guna memenuhi tugas mata kuliah keperawatan jiwa 1 serta untuk
mengetahui bagaimana proses Asuhan Keperawatan sepanjang rentang kehidupan: Pra-
Sekolah, Usia anak Sekolah dan Remaja.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. ANAK PRA SEKOLAH

Pengkajian Kekuatan

Seperti dalam Bab 5, bidang pengkajian umum meliputi perkembangan motorik,


perkembangan psikososial, perkembangan kognitif, pembelajaran peran dan bermain
Pengkajian dari tiap-tiap bidang ini menyediakan data untuk menyusunan diagnosa ke
perawatan sejahtera. Seperti dalam Bab 5, beberapa data usia khusus yang sesuai dan
diagnosa keperawatan akan tersedia, walaupun semua perilaku penting dihubungkan dengan
beragam tugas per kembangan tidak dituliskan. Beragam faktor mempengaruhi
perkembangan anak todler dan prasekolah. Penyediaan lingkungan yang aman, kesempatan
untuk memperoleh pengalaman baru yang akan meningkatkan keteram pilan motorik, dan
peningkatan interaksi sosial semuanya memberi kontribusi pada pertumbuhan dan
perkembangan kelompok anak ini. Pengkajian data dapat diperoleh dari observasi anak, mena
nyakan pada pengasuh, dan evaluasi lingkungan dimana anak tinggal dan/atau bermain.
Seperti dalam bab-bab lainnya, diagnosa keperawatan yang di tampilkan di sini berhadapan
dengan bagian pertama diagnosa (respons klien). Bagian kedua diagnosa (kondisi)
bergantung pada faktor kontribusi yang akan teridentifikasi dalam situasi klien khusus.

Perkembangan Motorik

Periode ini adalah salah satu aktivitas intens dan eksplorasi dunia kontinu. Bila aktivitas dasar
motorik kasar dari duduk, berdiri dan berjalan dikuasai, anak berkembang maju untuk
gerakan yang lebih aktif meliputi berlari, melompat, melempar dan menangkap. Sejalan
dengan perkembangan aktivitas motorik kasar anak, koordinasi motorik halus juga diperoleh
atau diperbaiki.Keberhasilan menyusun potongan gambar, penempatan bera gam bentuk
kotak dalam bentuk lubang yang sesuai, penulisan dengan krayon yang tergesa-gesa, dan
membalik-balikan halaman buku ketika seseorang membaca cerita merupakan contoh peng
gunaan keterampilan motorik halus. Pertanyaan pengkajian yang mungkin ditanyakan
perawat pada dirinya atau pada orang lain meliputi:

 Jenis aktivitas motorik apa yang ditunjukkan anak?


 Mainan apa yang dimiliki anak yang memudahkan aktivitas motorik halus?
 Aktivitas motorik kasar apakah yang telah dipelajari anak dan apakah ada kemajuan
dalam kompleksitas aktivitas ini?

Perkembangan Psikososial

Teori psikoanalisis menyatakan bahwa tingkat perkembangan kososial anak ditunjukkan pada
usia 1 hingga 3 tahun, dan anak belajar untuk mengendalikan kemampuan mereka untuk
menyembunyikan atau memperlihatkan. Tugas perkembangan autonomi berfokus pada usia
1-3 tahun dan mencakup dugaan pengendalian diri dan lingkungan seseorang (Erikson,

3
1963). Konflik dasar antara Kebutuhan untuk mandiri dan keinginan untuk tetap bergantung
terjadi selama waktu ini. Perkembangan fisik yang meningkat dan membolehkan latihan
berdandan juga merupakan metafora bagi perkembangan sosial dan kognitif yang terjadi
secara simultan. Dengan demikian, anak be Jajar untuk "mempertahankan" dan "melepaskan
dalam banyak bidang kehidupan. Karena anak belajar untuk mengekspresikan keinginan kata
tidak menjadi nyata pada kosakata mereka. Orang tua bisa menjadi jengkel pada sisi negatif
yang terlihat dalam kehi dupan anak. Untuk menguasai beberapa keamanan selama waktu
melepaskan" ini, anak terikat dalam perilaku ritual seperti nya nyian yang diulang,
melakukan tugas dengan cara yang sama, atau bermain dengan mainan tertentu. Pertanyaan
pengkajian bisa meliputi:

 Apakah anak sudah memulai latihan berkemih dan sebaik apa per kembangan anak?
 Jenis tingkah laku ritual apa yang ditunjukkan anak?
 Apakah anak menunjukkan tingkah laku autonomi seperti mengatakan "tidak" atau
berlari dari pengasuh ketika dipanggil?

Menurut teori psikoanalitik, usia 3-6 tahun bergerak menuju tingkat falik dengan memulai
ketertarikan pada perbedaan jenis kelamin dalam mengidentifikasi orangtua dengan jenis
kelamin yang sama Menurut Erikson (1963), tugas psikososial untuk usia prasekolah adalah
membangun rasa inisiatif. Selama fase ini, anak mengeksplorasi dunia sepenuhnya. Imajinasi
menjadi aktif dan bermain kan peranan yang besar dalam kehidupan anak. Selain itu, anak
belajar memperoleh kepuasan tanpa berbenturan dengan hak orang lain. Kata hati menjadi
ada dan belajar kebenaran dari kesalahan adalah tugas utama. Kebanyakan pembelajaran
berasal dari penga laman dengan orang tua dan anggota keluarga. Beberapa perta nyaan
pengkajian yang mungkin digunakan perawat meliputi:

 Bagaimana anak menunjukkan pengetahuan yang benar dari yang salah?


 Bagaimana anak menggunakan imajinasi? Apakah ia mempunyai teman bermain
imajinatif? Dapatkah anak mendeskripsikan benda yang di gambar?
 Bisakah anak bermain sendiri untuk waktu yang lama?

Perkembangan kognitif

Piaget (1975) menjelaskan perkembangan kognitif untuk anak usia 2-7 tahun pada fase
praoperasional. Istilah operasional menjelaskan kemampuan untuk memanipulasi objek yang
secara logis berhu bunga dengan objek lain. Fase ini dipisahkan menjadi dua tahapan:
prakonseptual (usia 2-4 tahun) dan pikiran intuitif (usia 4-7 tahun). Anak pada tahap
prakonseptual itu egosentrik dan menginter pretasi objek dan dunia menggunakan pandangan
pengalaman mereka sendiri. Mereka hanya dapat berhadapan dengan objek konkret,
mengabaikan hal-hal yang melebihi jangkauan yang dapat diobservasi. Ke arah akhir fase ini,
digunakan kemampuan untuk membuat hubungan sederhana antara ide-ide awal dan alasan
intuitif. Akan tetapi, pengukuran objek diperoleh hanya dari isyarat perseptual dan kesadaran
akan kesamaan di antara objek yang berukuran sama dengan beragam tinggi atau lebar adalah
tidak mungkin. Anak-anak juga mulai mengembangkan kesadaran sosial yang meliputi

4
pengakuan tentang sudut pandang orang lain. Perkembangan bahasa berjalan cepat dari umur
2-4 tahun. Anak anak suka mendengar dirinya sendiri berbicara. Sebelum usia 3 tahun,
kebanyakan bahasa berhubungan dengan diri, seperti "Saya ingin" "Saya mau." Alasan yang
berhubungan dengan objek ter tentu dan tidak ada jumlah pendorong akan menuju
generalisasi. Kadang-kadang sepanjang tahun kedua, anak mempunyai keter tarikan pada
"mengapa" benda bekerja. Bahasa terus berlanjut men jadi egosentrik sampai anak mencapai
usia sekolah. Respons bervariasi bergantung pada usia anak, tetapi beberapa pertanyaan
pengkajian yang dapat berguna meliputi :

 Apakah tahapan perkembangan bahasa anak? Apakah kebanyakan pernyataan dimulai


dengan "saya"?
 Apakah tahapan perkembangan bahasa anak? Apakah kebanyakan mengatakan
sesuatu yang "lucu"?
 Sebanyak apa anak berbicara? Apakah banyak pengulangan atauSering apa anak
menanyakan "mengapa"?
 Bagaimana anak berhadapan dengan benda tertentu yang nyata?

Pembelajaran Peran

Pembelajaran peran merupakan bagian terkecil pada bagian ini karena anak melihat dunia
semata dari sudut pandang pribadinya. Melalui bermain, anak-anak mungkin mengimitasi
peran yang me reka lihat dari orang dewasa, tetapi mereka tidak memiliki konsep dari peran
yang terlibat. Pertanyaan pengkajian bisa meliputi:

 Jenis imitasi peran apakah yang dilakukan anak?


 Bagaimana anak berinteraksi dengan temannya pada imitasi peran ini?

Bermain

Fantasi dan imajinasi mendominasi permainan yang digunakan selama periode ini. Antara
usia 1 dan 3 tahun, anak-anak berpar tisipasi dalam permainan paralel yang melibatkan apa
pun yang ada di sekitar anak, tetapi tidak berinteraksi dengan mereka dalam bentuk sosial.
Selain itu, kebanyakan indera digunakan dalam aktivitas bermain dan membentuk fondasi di
mana anak mendasari dunia mereka. Penggunaan sentuhan, penciuman, penglihatan dan
pendengaran membantu anak membangun kemampuan motorik halus dan menyediakan
masukan sensorik yang berhubungan dengan dunia. imitasi dan imajinasi memudahkan
pembelajaran identitas dengan model keluarga ketika anak mempraktikkan apa yang di lihat
dalam kehidupan seha kehidupan sehari-hari. Penggunaan mainan yang mirip dengan yang
digunakan orang dewasa seperti mainan alat-alat dapur, truk dan pemotong rumput akan
memudahkan proses ini. Permainan menjadi pekerjaan anak ketika ia mencari sesuatu untuk
memahami dunia. Pertanyaan pengkajian bisa meliputi:

 Indera apa yang digunakan ketika anak bermain? Apakah anak memiliki beragam
mainan untuk merangsang indra (seperti mainan yang berhubungan dengan musik)?
 Kesempatan apa yang dimiliki anak untuk bermain dengan air, sidik jari dll.?

5
 Dalam jenis permainan apa anak terlibat untuk mendorong perkem bangan
kemampuan berbahasa?
 Fantasi jenis apa, anak terlibat selama bermain?
 Apakah ia bermain secara teratur dengan anak-anak lain?
 Bagaimana anak berinteraksi dengan temannya selama bermain?

KESIAPAN PENINGKATAN PERKEMBANGAN ANAK PRA-


SEKOLAH

Kesiapan peningkatan perkembangan anak usia Prasekolah adalah anak usia 3-4 tahun yang
mulai berinisiatif, memberi gagasan dan ide melakukan kegiatan sendiri, dengan tujuan
tertentu. Dukungan dan pujian akan mengembangkan konsep diri positif. Jika anak ke
sekolah tidak mampu mencapai perkembangan nya maka anak pra sekolah akan
mengembangkan rasa bersalah (Keliat, dkk, 2015.)

Tanda dan Gejala


Subjektif :
1. Menyampaikan ide, gagasan, Inisiatif yang tinggi, dan fantasi
2. Sering bertanya dan mengungkapkan keinginan.
3. Menyebutkan nama dan jenis kelamin nya.
4. Senang, gembira, cemas ringan, marah, percaya diri dan berani.
Objektif :
1. Membaca, menyebut nama benda dan fungsinya.
2. Berjalan di papan Titian, berlari, bermain lompat tali, lomba karung, mengerjakan
pekerjaan rumah dan mengikuti kegiatan agama.
3. Menggambar, menulis, dan gunting pula.
4. Mudah bersosialisasi.

Tujuan dan Asuhan Keperawatan

1.Kognitif, anak mampu:


a. Berinisiatif untuk bermain pada alat alat rumah tangga.
b. Menciptakan kreativitas dan sedang berkhayal.
c. Memahami perbedaan benar dan salah.
d. Mengenal beberapa warna.
e. Merangkai kata dan kalimat.
f. Mengenal jenis kelamin.
2. Psikomotor, anak mampu:
a. Mempertahankan kesehatan fisik.
b. Melakukan kegiatan fisik sesuai usianya.
c. Membantu pekerjaan rumah tangga yang sederhana.
d. Melakukan permainan yang diajarkan.

6
e. Mencoba hal baru dan pantang menyerah.
3. Afektif, klien:
a. Senang bermain dengan teman sebaya.
b. Mampu mengekspresikan rasa senang, sedih, marah secara wajar.

Tindakan Keperawatan
Tindakan pada anak pra-sekolah

Tindakan keperawatan ners.


1. Latih anak kebersihan diri.
2. Bantu anak mengembangkan keterampilan motorik: bermain dengan melibatkan
aktivitas fisik, ciptakan lingkungan yang aman bagi anak, berikan kesempatan sukses.
3. Latih anak mengembangkan keterampilan bahasa: ajak anak berkomunikasi dengan
sopan Santun, beri contoh yang benar.
4. Latih anak mengembangkan keterampilan psikososial: motivasi anak untuk bermain
dengan teman sebaya dan mengikuti perlombaan.
5. Latih anak memahami identitas dan peran sesuai jenis kelamin: ajari anak mengenal
bagian tubuh dan fungsinya, ajari anak mengenal perbedaan jenis kelamin.
6. Bantu anak mengembangkan kecerdasan: bentuk anak Menggali kreativitas nya,
Bimbing anak mengembangkan keterampilan baru, latihan dak mengenal huruf,
angka, warna dan benda, serta latihan pembaca, menggambar dan berhitung.
7. Bantu anak mengenal dan memahami nilai moral: terapkan nilai agama dan budaya
positif pada anak, melatih kedisiplinan pada anak.
8. Beri pujian pada pencapaian anak terhadap tugas rumah/tugas sekolah.
9. Ajak anak berdiskusi tentang pengalaman yang menyenangkan, rencana/gagasan/ide.
10. Latih disiplin: waktu belajar, waktu bermain dan lain lain.

Tindakan pada Keluarga


Tindakan keperawatan ners: Keluarga diberikan kepada orang tua dan pengasuh (care giver)
dari anak pra sekolah, kegiatan nya yaitu.
1. Jelaskan perkembangan yang harus dicapai anak pra sekolah.
2. Melatih cara memfasilitasi Inisiatif anak pra sekolah, hindarkan menyalahkan tetapi
lebih kepada membimbing.
3. Sediakan permainan dan kegiatan yang mendorong Inisiatif.
4. Ajarkan cara mendorong Inisiatif bertanya ide atau gagasan atau keinginan anak,
5. Fasilitasi dan dampingi serta beri pujian. Menyepakati waktu penggunaan smartphone
dan media sosial.
6. Diskusikan tanda penyimpangan dan cara mengatasinya serta pelayanan kesehatan.

Tindakan pada kelompok


Tindakan keperawatan ners: Edukasi kelompok anak dan ibu/orang pengasuh di
sekolah/masyarakat
Tindakan keperawatan spesialis: Terapi kelompok terapeutik anak pra sekolah
a. Sesi 1: Stimulasi perkembangan aspek motorik

7
b. Sesi 2: Stimulasi perkembangan aspek kognitif dan bahasa
c. Sesi 3: Stimulasi perkembangan aspek emosional dan kepribadian
d. Sesi 4: Stimulasi perkembangan aspek moral dan spiritual
e. Sesi 5: Stimulasi perkembangan aspek psikososial
f. Sesi 6: Monitoring dan evaluasi pengalaman dan manfaat latihan

Penelitian terkait terapi kelompok terapeutik anak pra-sekolah yang dilakukan oleh
Damayanti, Keliat, Hastono, dan Daulima (2010) menunjukkan bahwa terapi kelompok
terapeutik anak pra-sekolah mampu meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotor ibu
serta perkembangan inisiatif anak pra-sekolah: Setyaningsih dan Keliat (2012) menunjukkan
bahwa terapi kelompok terapeutik anak pra-sekolah mampu meningkatkan kemampuan ibu
dalam menstimulasi perkembangan anak pra-sekolah dan peningkatan kemampuan inisiatif
anak pra-sekolah; Ricky, Keliat, dan Gayatri (2013) menunjukkan bahwa terapi kelompok
terapeutik anak pra-sekolah mampu meningkatkan secara bermakna pencapaian aspek
perkembangan dan perkembangan inisiatif pada anak pra-sekolah; Reknoningsih,
Mustikasari, dan Wardani (2014) menunjukkan bahwa terapi kelompok terapeutik anak pra-
sekolah mampu meningkatkan perkembangan inisiatif anak pra-sekolah dan kemampuan ibu
dalam melakukan stimulasi perkembangan; serta Khoirunnisa, Daulima, dan Mustikasari
(2017) menunjukkan bahwa terapi kelompok terapeutik anak pra-sekolah mampu
meningkatkan perkembangan inisiatif anak pra-sekolah dan kemampuan ibu, serta
kemampuan kader kesehatan jiwa dalam melakukan stimulasi perkembangan anak pra-
sekolah.

Diagnosa Keperawatan Perilaku Todler dan anak Intervensi Keperawatan


Sejahtera prasekolah

Penghalusan progresif Penggunaan keterampilan Diskusikan kemajuan


keterampilan motorik motorik yang berkelanjutan normal dengan pengasuh.
spt berjalan dan tahapan
awal berlari, menangkap, Diskusikan cara untuk
menyediakan lingkungan
melempar. aman dimana anak bisa lebih
aktif.
Keterampilan motorik halus
Diskusikan mainan yang
digunakan spt menyusun
sesuai usia dan aktivitas
potongan gambar, menulis
yang mendorong
dengan krayon secara asal,
perkembangan dan
dll.
perbaikan kemampuan
motorik kasar dan halus.
Memulai rasa autonomi Memulai latihan buang air. Jelaskan tugas
perkembangan dan alasan
Menggunakan kata tidak mengapa terjadi perilaku.
secara tidak berbeda.

8
Diskusikan cara utnuk
Belajar banyak cara mendisiplinkan dan
“memegang” dan mengatur batasan.
“melepaskan” spt meludah,
memegang dengan kuat, Dengarkan frustasi pengasuh
menjatuhkan, dll. dan bantu menyelesaikan
masalah cara menghadapi
Mengajak pengasuh anak yang negatif.
menjatuhkan dan
mengambilkan mainan

Mengajak bertingkah laku


ritual sesuatu hal harus
dikerjakan dengan cara yang
khusus, menggunakan
nyanyian berulang, dll.

Memulai rasa inisiatif Mengeksplorasi dunia secara Jelaskan tugas


luas dan dengan antusias perkembangan normal.
yang besar.
Diskusikan cara
Menggunakan imajinasi menyediakan lingkungan
secara luas dalam bermain. aman selama waktu
eksplorasi luas.
Mulai membedakan yang
benar dari yang salah Diskusiakan mainan yang
sesuai usia dengan
pengasuh.
Peningkatan cepat dalam Menikmati mendengarkan Dorong anak untuk
keterampilan berbahasa dirinya berbicara. berbicara.

Meningkatkan kosakatanya. Jelaskan pada orang tua


bahwa perlu waktu untuk
Mulai meletakkan kalimat mengerti apa yang anak
secara bersamaan. katakan, bahwa yang anak
katakan merefleksikan apa
Bertanya “menagapa” secara yang mereka pikrikan
konstan. tentang diri mereka sendiri.

Interaksinya egosentrik.
Berpikir praoperasional Berhadapan dengan satu ide Mendiskusikan kemapuan
pada satu waktu tertentu. perseptual anak dengan
pengasuh.
Melihat benda konkret-tidak
melebihi apa yang dapat Jika anak rewel makan,
diobservasi. diskusikan cara untuk
memanipulasi jumlah
Dasarkan pertimbangan makanan atau cairan yang
pada apa yang dilihat, bukan membuat anak lebih siap
pada deduksi logis. untuk memakannya.

9
Memulai interaksi sosial Berpura-pura memasak, Diskusikan mainan yang
melalui imitasi menyapu lantai, menyetir sesuai usia anak dengan
mobil, dll. pengasuh.

Mungkin memiliki teman


khalayan. Jelaskan peranan teman
bermain khayalan kepada
Memulai kemampuan untuk pengasuh.
berbagi mainan.
Meningkatkan ekspresi diri Menggunakan mainan tiruan Diskusikan mainan yang
dalam aktivitas bermain dari benda-benda orang sesuai usia dengan
dewasa untuk bertindak pengasuh.
sebagai peran ibu atau ayah
(mis, setrika, kompor). Perkuat aktivitas kreativitas
anak dengan keduanya (anak
Menciptakan benda dari dan pengasuh).
konstruksi kertas, tanah liat
atau mainan lain yang Gali cara untuk
meberikan kreativitas. memungkinkan kreativitas
dengan pengasuh.

B. ANAK USIA SEKOLAH

Pengkajian Kekuatan

Bidang pengkajian umum yang sama seperti yang diuraikan dalam Bab 5 dan 6 akan
dipergunakan dalam bab ini, termasuk perkem bangan motorik, psikososial, kognitif dan
pembelajaran peran. Seperti sebelumnya diakui, jenis permainan yang melibatkan se orang
anak juga memberi petunjuk untuk perkembangan sosial. Pengkajian setiap bidang ini
memberi dasar untuk diagnosa keperawatan sejahtera. Dalam bab ini data spesifik sesuai
umur dan diagnosa keperawatan akan berlaku, meskipun semua perilaku penting yang
dikaitkan dengan berbagai tugas perkembangan tidak ditampilkan Seperti dalam bab-bab
sebelumnya, diagnosa keperawatan yang ditampilkan di sini berkaitan dengan bagian pertama
dari diagnosis (respons klien). Bagian kedua diagnosis (kondisi) bergantung pada khusus
faktor kontribusi yang akan diidentifikasi dalam situasi klien khusus.

Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik pada usia ini meluas sampai mempelajari cara bermain berbagai jenis
olahraga dan menekankan per kembangan keterampilan. Aktivitas motorik menjadi lebih
halus, lebih otomatis, dan lebih lancar daripada tahun sebelumnya. Anak tidak kikuk,
memiliki koordinasi yang diperlukan untuk terlibat dalam tim olahraga, dan dapat, pada
umumnya, mengakomodasi aktivitas fisik untuk memacu perkembangan. Anak ambil bagian
dalam aktivitas olahraga di dalam gedung. dapat mengKoordinasi mata-tangan berkembang
dan menjadi lebih halus selama periode ini. Anak-anak yang tidak menyukai olahraga
khususnya atletik, dapat mengembangkan hobi lain yang mening katkan aktivitas motorik

10
halus seperti menggunakan komputer, atau menyusun pesawat model, kereta api, dan
sejenisnya. Per tanyaan pengkajian yang berhubungan dengan perkembangan motorik
mungkin mencakup hal berikut:

 Jenis aktivitas apakah yang diikuti oleh anak yang membutuhkan kelompok otot
besar?
 Bagaimana perasaan anak tentang keterlibatan dalam olahraga?
 Apakah anak berpartisipasi dalam setiap aktivitas yang membutuhkan koordinasi
mata-tangan yang halus? Seberapa mampukah anak me lakukan aktivitas ini?

Perkembangan Psikososial

Dalam istilah Freudian, periode perkembangan psikososial ini digambarkan sebagai periode
laten. Tenaga disalurkan ke dalam pembelajaran keterampilan tertentu, bermain aktif, dan
memperoleh Pengetahuan. Erikson (1963) menguraikan hal ini sebagai suatu masa untuk
perkembangan kerajinan. Pada usia ini, anak belajar untuk bekerja dengan orang lain,
hubungan sosial menjadi me- nonjol, dan terjadi rasa persaingan. Aturan-aturan dipelajari dan
anak menginginkan dan mengembangkan keberhasilan. Banyak pembelajaran terjadi melalui
guru dan teman sebaya daripada terutama melalui keluarga. Pertanyaan pengkajian yang
dapat diajukan perawat pada diri mereka sendiri, anak itu, atau keluarga anak meliputi:

 Bagaimana prestasi anak di sekolah?


 Bagaimana anak bertindak di dalam situasi kompetisi?
 Apakah anak bekerja di dalam kelompok? Jika ya, bagaimana ia ber partisipasi secara
aktif atau sebagai anggota pasif?
 Jenis hubungan sosial apakah yang dimiliki anak?
 Dari mana anak itu memperoleh kesenangan?
 Dalam bidang apakah anak merasa berhasil?

Perkembangan Kognitif

Piaget (1975) menguraikan tahap ini sebagai masa operasional konkret. Proses berpikir
meningkat menjadi kompleks dan logis. Anak ini dapat memilah dan mengelola fakta-fakta.
Pemecahan masalah tetap konkret dan merefleksikan pengalaman anak itu sendiri. Akan
tetapi, pikiran menjadi kurang berpusat pada diri sendiri dan anak ini dapat
mempertimbangkan pandangan orang lain. Perawat dapat menggunakan pertanyaan berikut
untuk pengkajian:

 Jenis pemecahan masalah apakah yang dapat dikerjakan anak itu?


 Bagaimana anak menggunakan fakta untuk menguraikan suatu keja dian?
 Apakah anak dapat meripertimbangkan pandangan orang lain jika menguraikan suatu
konflik?
 Aktivitas sekolah apa yang diikuti anak dan apa nilai yang diperolehnya?

Pembelajaran Peran

11
Proses pembelajaran untuk melakukan suatu peran dimulai pada usia ini. Pada tahun awal (6-
8), anak-anak mempelajari bahwa ada banyak perspektif selain yang mereka miliki. Akan
tetapi, mereka tetap tidak dapat membayangkan bagaimana orang lain berpikir atai
bagaimana mereka akan bereaksi. Pada tahun pertengahan (8- 10), anak-anak dapat
mengenali bahwa beragam pandangan dapat bertentangan dan dapat mempertimbangkan
pandangan orang lain. Pada tahun terakhir (10-12), anak-anak dapat mempertimbangkan dua
pandangan secara simultan dan dapat memperkirakan reaksi an berikut dapat digunakan:
orang lain terhadap suatu pandangan tertentu. Pertanyaan pengkajian berikut dapat digunakan
:

 Bagaimana keinginan ana lain? a anak untuk mempertimbangkan pandangan orang


lain?
 Berapa banyak pandangan yang dapat dipertimbangkan anak itu pada waktu yang
bersamaan?
 Apa jenis perilaku peran yang ditunjukkan oleh anak itu?

Bermain

Bermain sering dipusatkan pada olahraga dan permainan kompe titif Memang, bermain
menjadi peristiwa di mana diperoleh tempat interaksi sosial. Anak suka menemukan teman
baru, terlibat dalam aktivitas kelompok seperti pramuka atau pertemuan kelompok anak, dan
sering kali bermain dalam kelompok kecil berjenis ke lamin sama yang kohesif. Pertanyaan
pengkajian dapat menjadi:

1) Dalam jenis aktivitas kelompok apakah anak itu terlibat?


2) Sebaik apakah anak berfungsi dalam suatu kelompok?
3) Semudah apakah anak memiliki teman baru?
4) Siapakah teman anak itu dan sepenting apakah mereka berperan dalam kehidupan
anak?

Adaptasi dengan Peristiwa Kehidupan

Perubahan ada dalam kehidupan setiap orang. Meskipun kebanyakan peristiwa kehidupan
berikut tidak unik untuk anak usia sekolah Pencakupan bahan ini di dalam bab anak usia
sekolah tampak sesuai. Perubahan kehidupan yang membutuhkan adaptasi bagi anak dapat
terjadi bila orang tua pindah, perlunya membuat teman baru, negosiasi dengan sistem sekolah
baru, atau menempati rumah baru. Perubahan dalam struktur keluarga seperti perceraian
orang tua atau perkawinan kembali adalah umum pada budaya saat ini. Pengkajian
kemampuan anak untuk mengatasi perubahan ini ada lah suatu tugas yang utama perawat.
Jika setiap perubahan kehidupan ini terjadi, perawat dapat mempertimbangkan perta nyaan
pengkajian berikut ini:

 Apa yang anak lakukan untuk mempertahankan teman lama?


 Usaha apakah yang dilakukan anak untuk membuat teman baru?
 Apakah anak membuat perubahan di dalam ruangannya untuk menam pilkan minat
dan hobinya?

12
 Jenis interaksi apakah yang anak miliki dengan anggota keluarga baru?
 Bagaimana penerimaan anak dengan anggota keluarga baru?

Perawatan anak yang dihospitalisasi meliputi usaha untuk mengu rangi regresi dalam tugas
perkembangan sebanyak mungkin Anak anak dengan penyakit akut atau kronik dapat
mengalami rawat inap (hospitalisasi) atau berhadapan dengan beragam pemberi pe rawatan
kesehatan. Semangat anak dengan kanker yang harus men jalani kemoterapi, perubahan citra
tubuh, dan prosedur yang me nyakitkan telah didokumentasikan oleh Hasse (1987).
Sebaliknya, anak yang dirawat inap harus berjuang untuk melawan ketakutan dengan jarum,
orang asing, dan perasaan terasing dan kesepian. Pertanyaan pengkajian untuk digunakan
dalam peristiwa ini meliputi:

 Adaptasi apa yang dibuat anak dengan penyakit kronik?


 Bagaimana anak menjelaskan penyakitnya kepada teman?
 Bagaimana anak bereakasi terhadap prosedur, tusukan jarum, dan seje nisnya?
 Bagaimana anak berespons pada hadirnya profesional pelayanan ke sehatan?

KESIAPAN PENINGKATAN PERKEMBANGAN ANAK USIA


SEKOLAH
Kesiapan peningkatan perkembangan anak usia sekolah adalah anak usia 6-12 tahun.
Pekembangan kemampuan psikososial anak usia sekolah adalah kemam,puan menghasilkan
karya, berinteraksi dan berprestasi dalam belajar. Jika anak sekolah tidak mampu mencapai
perkembangan maka anak sekolah akan mengalami rendah diri/minder (Keliat, dkk. 2015).
Tanda dan Gejala
Subjektif:
1. Menyebutkan nama dan jenis kelamin
2. Menjelaskan nama dan fungsi benda
3. Membaca doa
4. Mengungkapkan perasaan marah, senang, takut dan sedih
5. Menyampaikan pendapat dan keinginan, puas dengan keberhasilan
6. Menceritakan kebaikan dan mengungkapkan kesalahan
Objektif :
1. Membaca, menulis, berhitung
2. Mempunyai prestasi akademik
3. Mempunyai teman sebaya

Tujuan Asuhan Keperawatan


1. Kognitif, anak mampu:
a. Mengembangkan kecerdasan
b. Memahami nilai-nilai moral d.

13
c. Mempelajari pelajaran sekolah
d. Menyelesaikan tugas sekolah
e. Beradaptasi
f. Memiliki rasa bersahabat dan bersaing
g. Senang berkelompok
2. Psikomotor, anak mampu:
a. Mempertahankan kesehatan fisik
b. Melakukan kegiatan fisik sesuai usianya
c. Melakukan hobi
d. Menyelesaikan kegiatan rumah tangga yang sederhana
3. Afektif, anak mampu:
a. Mengekspresikan perasaan
b. Mengungkapkan kesalahan
c. Merasakan bahagia terhadap kebaikan yang pernah dilakukan
d. Merasakan kepuasan terhadap keberhasilan yang dicapai

Tindakan Keperawatan
Tindakan pada anak sekolah
Tindakan keperawatan ners:
1. Bantu anak mengembangkan kecerdasan: Mendiskusikan kelebihan dan kemampuan
anak, menjelaskan dan melatih keterampilan, memberi bacaan dan permainan yang
meningkatkan kemampuan, melibatkan anak dalam pekerjaan rumah tangga
sederhana, latih anak sesuai dengan pelajaran di sekolah dan kembangkan hobi yang
dimiliki anak.
2. Bantu anak mengenal dan memahami nilai moral: Terapkan nilai agama dan budaya
positif pada anak.
3. Latih anak mengembangkan keterampilan sosial: Beri waktu anak untuk bermain di
luar rumah bersama teman dan kelompoknya, motivasi anak untuk mengikuti
perlombaan untuk belajar bersaing dan bersahabat latih anak berinteraksi dengan
orang lain.
4. Latih kedisiplinan pada anak, bimbing anak saat menonton televisi, membaca buku
cerita, bermain gadget, dan menilai manfaatnya.
5. Ajarkan kebersihan diri.
6. Beri pujian pada setiap pencapaian anak.

Tindakan pada keluarga


Tindakan keperawatan ners: Tindakan keperawatan ners pada keluarga diberikan kepada
orang tua dan pengasuh (care giver) dari anak sekolah, kegiatannya yaitu
1. Jelaskan perkembangan yang harus dicapai anak sekolah

14
2. Latih cara memfasilitasi anak sekolah untuk berkarya, produktif, kompeten, dan
berhasil dalam belajar
3. Ajarkan cara mendorong anak berkarya: mendiskusikan keberhasilan, jalan keluar
kegagalan, dampingi dan beri semangat, serta pujian
4. Ciptakan suasana keluarga yang mendukung anak berkarya dengan memberi motivasi
positif.
5. Latih keluarga mendampingi anak sekolah:
a. Belajar, mengerjakan tugas sekolah dengan gembira dan semangat
b. Memberi tugas rumah tangga yang disukai anak sekolah
c. Memfasilitasi bermain dengan kelompok sebaya
6. Menyepakati waktu penggunaan smartphone dan media sosial
7. Diskusikan tanda penyimpangan dan cara mengatasinya serta pelayanan kesehatan

Tindakan pada kelompok


1. Tindakan keperawatan ners: Edukasi kelompok anak sekolah dan kelompok orang tua
2. Tindakan keperawatan spesialis: Terapi kelompok terapeutik anak sekolah
a. Sesi 1: Stimulasi perkembangan aspek motorik
b. Sesi 2: Stimulasi perkembangan aspek kognitif dan bahasa
c. Sesi 3: Stimulasi perkembangan aspek emosional dan kepribadian
d. Sesi 4: Stimulasi perkembangan aspek moral dan spiritual
e. Sesi 5: Stimulasi perkembangan aspek psikososial
f. Sesi 6: Monitoring dan evaluasi pengalaman dan manfaat latihan

Penelitian terkait terapi kelompok terapeutik anak sekolah yang dilakukan oleh Walter,
Keliat, Hastono, dan Susanti (2010) menunjukkan bahwa terapi kelompok terapeutik anak
sekolah meningkatkan kemampuan kognitif, psikomotor, dan perkembangan berkarya pada
anak sekolah; Istiana, Keliat, dan Nuraini (2011) menunjukkan bahwa terapi kelompok
terapeutik anak sekolah meningkatkan perkembangan jiwa anak sekolah; Sunarto, Keliat, dan
Pujasari (2011) menunjukkan bahwa terapi kelompok terapeutik sekolah meningkatkan
pengetahuan, psikomotor, dan perkembangan berkarya pada kelompok anak, orang tua dan
guru; Gowi dan Keliat (2012) menunjukkan bahwa terapi kelompok terapeutik sekolah
meningkatkan perkembangan anak sekolah: Cleodora, Mustikasari, dan Gayatri (2016)
menunjukkan bahwa terapi kelompok terapeutik sekolah meningkatkan self-efficacy anak
sekolah dalam menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami: Kusumawati, Keliat, dan Putri
(2016) menunjukkan bahwa terapi kelompok terapeutik sekolah meningkatkan perkembangan
anak sekolah; Susanti, Hamid, dan Putri (2016) menunjukkan bahwa terapi kelompok
terapeutik sekolah meningkatkan pencapaian tugas perkembangan berkarya pada anak usia
sekolah; Wetik, Mustikasari, dan Putri (2016) menunjukkan bahwa terapi kelompok
terapeutik sekolah meningkatkan perkembangan anak sekolah; Noviyanti, Keliat, dan
Mustikasari (2018) menunjukkan bahwa terapi kelompok terapeutik sekolah meningkatkan
perkembangan berkarya dalam pencegahan perundungan; Nova, Keliat, dan Mustikasari
(2018) menunjukkan bahwa terapi kelompok terapeutik sekolah meningkatkan perkembangan
berkarya anak sekolah dengan pemberdayaan pelaku rawat, guru, dan kader kesehatan.

15
Diagnosa keperawatan terpilih, perilaku dan intervensi : anak usia sekolah

Diagnosa Keperawatan
Sejahtera Perilaku anak usia sekolah Intervensi keperawatan
Melanjutkan pemghalusan Koordinasi mata-tangan Perkuat aktivitas fisik anak.
keterampilan motorik berkembang.
Beri kesempatan bagi anak
Menyukai aktivitas fisik spt untuk meningkatkan
berlari, melompat, koordinasi mata-tangan.
memanjat, dll.
Diskusikan aktivitas yang
Bnelajar keterampilan fisik sesuai-usia dengan
spt naik sepeda, meluncur, pengasuh dan atau anak.
dll.

Memulai rasa rajin Berminat dalam Perkuat keberhasilan dengan


pembelajaran keterampilan anak dan/ atau pengasuh.
baru.
Diskusikan aktivitas yang
Terus bekerja sampai tugas mungkin dan cara untuk
selesai. memberi kesempatan untuk
terlibat dalam aktivitas
Berharap sukses di sekolah, tersebut dengan anak dan
permainan, dll. pengasuh.

Meminta persetujuan teman


sebaya.
Memulai pengenalan Terlibat dalam evaluasi diri. Dukung anak untuk
kompetensi pribadi melakukan evaluasi diri
Menyatakan apa yang ia yang realistik.
dapat lakukan dengan baik.
Perkuat kebanggaan anak.
Mengungkapkan
kebanggaan dalam Diskusikan cara untuk
kemampuan. memberikan kesempatan
melanjutkan keberhasilan
dengan anak dan pengasuh.
Keinginan untuk terlibat Berpartisipasi dalam Dukung anak untuk
dalam aktivitas sosial aktivitas kelompok. melanjutkan interaksi sosial.

Mencari persahabatan baru. Bantu anak menambah


perspektif baru melalui
Menghargai opini teman diskusi pandangan anak dan
sebaya. orang lain dengan dirinya.

Meminta persetujuan teman


sebaya.

16
Kesenangan dan kepuasan Mengungkapkan menikmati Perkuat kepuasaan anak.
terhadap keberhasilan aktivitas.
pribadi Diskusikan cara untuk
Menguraikan pencapaian menemukan kesempatan
pribadi. berhasil dengan anak dan
pengaush.
Menguasai keterampilan
baru. Dukung usaha anak untuk
belajar keterampilan baru.
Meningkatkan kemampuan Mulai menguraikan Sediakan anak mainan yang
untuk berpikir kompleks hubungan dengan benda- cocok untuk usianya yang
benda. mendorong berpikir
kompleks.
Mengenali bahwa perubahan
dalam bentuk tidak Perkuat pemikiran kompleks
menyebabkan perubahan isi. anak.

Kemapuan memikirkan Mampu berpikir melalui


akibat dari tindakannya. konsekuensi dari tindakan-
tindakan.

Gali konsekuensi perilaku


dengan anak dan dorong
pengasuh untuk melakukan
hal yang sama.
Pencapaian keberhasilan di Menguasai materi yang Perkuat keberhasilan anak.
sekolah sesuai dengan tingkat/ kelas
di sekolah. Beri anaka materi
pembelajaran yangs sesuai
Menerima penguatan positif untuk usia anak dan
dari guru. kemampuannya.

Menerima pengakuan untuk Diskusikan cara untuk


berpartisipasi baik dalam memberikan pengalaman
aktivitas kurikuler dan pembelajaran
ekstrakurikuler. ekstrakurikuler spt wisata ke
museum dan kebun binatang
dengan anak dan pengasuh.
Meningkatkan kemampuan Dapat menyatakan Perkuat pertimbangan anak
untuk mempertimbangkan pandangan orang lain. thd pandangan orang lain
pendangan allternatif dalam pembuat keputusan.
Menegnali bahwa
pandangan orang lain dapat Gali tindakan alternatif dan
bertentangan dengan konsekuensi tambahan
pandangannya sendiri. dengan anak.
Dapat memperkirakan
bagaimana orang lain akan
berespons thd
pandangannya.
Memulai permainan Bergabung dalam aktivitas Dukung aktivitas anak

17
kooperatif kelompok. dengan kelompok.

Belajar aturan kelompok Gali ganjaran yang anak


sebaya. peroleh dari kelompok.

Menangguhkan harapannya Diskusikan kemungkinan


sendiri daripada harapan konflik dengan anak dan
kelompok. pengasuh yang mungkin
timbul antara nilai/keluarga
dan nilai-nilai kelompok
sebaya dan sarankan cara
untuk mengatasi konflik.
Meningkatan interaksi sosial Berkontribusi pada interkasi Dukung interaksi sosial
kelompok ketika pembuatan anak dengan sebaya/teman,
keputusan. dll.

Mengembangkan hubungan Diskusikan dengan anak


intim dengan teman sesama cara untuk bekerja dengan
jenis. kelompok untuk
memperoleh tujuan yang
bermanfaat.

Diagnosa keperawatan sejahtera, perilaku dan intervensi : Adaptasi terhadap peristiwa


kehidupan

Diagnosa keperawatan Perilaku anak usia sekolah Intervensi keperawatan


sejahtera
Memulai adaptasi terhadap Membuat teman baru. Gali cara untuk menambah
sekolah baru teman baru.
Memilih aktivitas
ekstrakulikuler. Perkuat pencarian aktivitas
baru.
Menyatakan bahwa “saat ini
menjadi lebih enak berada di Gapa yang anak pikirkan
sekolah” sebagai kekuatan dan
kelemahan dari sekolah
baru.
Menggabungkan anggota Memasukkan saudara baru Berikan kesempatan bagi
keluarga baru ke dalam dalam aktivitas bermain. anak untuk mendiskusikan
sistem sosial pribadi perasaan tentang perubahan.
Mencari bantuan dari orang
tua baru. Perkuat penerimaan
perubahan.
Ingin membuat perubahan
dalam jadwalnya sendiri Gali cara yang dilanjutkan
untuk mengizinkan danak untuk memasukkan
kunjungan denga orang tua anggota keluarga baru

18
lama. kedalam aktivitas.
Memulai adaptasi thd Menguraikan gejala Gali cara penyakit
penyakit kronik penyakit. mempengaruhi gaya hidup.

Mengetahui bagaimana Beri informasi tentang


memperoleh bantuan jika medikasi, tanda dan gejala
diperlukan. oenyakit, dll. Sesuai
kebutuhan.
Mengetahui jenis dan
jumlah medikasi nika Perkuat informasi yang
diberikan. akurat.

Mengenali kapan ia perlu


bantuan (spt tanda dan
gejala rekasi insulin).
Mengaatasi rasa takut thd Menguraikan perasaan Jujur dengan anak.
hospitalisasi tentang hospitalisasi atau
melakukannya dalam Nyaman melalui kontak fisik
permainan. jika diperlukan.

Menerima pengobatan. Beri kesempatan pada anak


untuk mengungkapkan
Mengizinkan orang tua pergi perasaan.
untuk jangka waktu singkat
tanpa menangis. Tinggal bersama anak
selama prosedur.
Memulai hubungan dengan
perawat dan staf rumah sakit Beri kesempatan bagi
lainnya. pengasuh untuk
mendiskusikan perasaan.
Menggabungkan perubahan Anak dapat menguraikan Perkuat pengetahuan.
fisik ke dalam gaya hidup perubahan fisik.
Gali cara anak dapat
Anak dan pengasuh berpartisipasi dalam
merencakan aktivitas yang aktivitas sekolah meskipun
sesuai untuk kemampuan jika dibatasi.
dan/atau keterbatasan anak.
Diskusikan aktivitas
pengganti.

C. REMAJA

KEPERAWATAN JIWA PADA REMAJA


DEFINISI
Istilah adolescent atau masa remaja berasal dari kata adolescere yang berarti "tumbuh" atau
"tumbuh menjadi dewasa". Istilah adoles cent, seperti yang digunakan saat ini, mencakup arti

19
yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Stuart dan
Sundeen, 1995).
LANDASAN TEORETIS KEPERAWATAN JIWA PADA REMAJA
Menurut Wilson dan Kneisl (1988), dua teori yang menjadi dasar utama untuk memahami
tentang perkembangan remaja ialah teori perkembangan dan teori interaksi humanistik. Stuart
dan sundeen (1995) mengemukakan teori biologis, teori psikoanalisis, teori embangan
intelektual, teori budaya, dan teori multidimensional.

a. Teori Perkembangan, Teori perkembangan memungkinka perawat untuk


mengidentifikasi penyimpangan yang terjadi pada proses tumbuh kembang remaja.
Teori Sigmund Freud, Erik Erikson, dan Sullivan memberikan penghayatan kepada
kita tentang perjuangan remaja dalam mencapai kedewasaan. Proses perkembangan
identitas diri remaja memerlukan self image (citra diri)juga hubungan antar peran
yang akan datang dengan pengalaman masa lalu. Untuk mendapatkan kesamaan dan
kesinambungan, pada umumnya remaja harus mengulangi penyelesaian krisis masa
lalu dengan mengintegrasikan elemen masa lalu dan membina identitas akhir. Periode
krisis yang perlu ditinjau kembali ialah:
1. Rasa percaya, remaja perlu mencari ide dan objek untuk tempat melimpahkan rasa
percaya (sense of trust). Konflik yang tidak terselesaikan pada tahap pertama ini
membuat remaja merasa ditinggalkan, biasanya dimanifestasikan melalui perilaku
makan yang berlebihan, serta ucapan kasar dan bermusuhan.
2. Rasa otonomi, remaja belajar bertindak dan membuat keputusan san secara mandiri.
Konflik masa lalu yang tidak terselesaikan membuat remaja takut mengikuti kegiatan
yang akan membuat dia ragu akan kemampuannya.
3. Rasa inisiatif, dimana anak tidak lagi mementingkan bagaima na berjalan, tetapi apa
yang dapat dilakukan dengan kemam puan tersebut. Pada tahapan ini, mereka
mengujicobakan apa yang mungkin dilakukan, dan bukan apa yang dapat dilakukan.
Konflik masa ini akan terbawa pada saat remaja, yaitu ketidak siapan untuk
mengambil inisiatif.
4. 4.Rasa industri, menuntut remaja untuk memilih karir yang tidak saja menjamin
secara finansial, tetapi juga memberikan kepua san karena penampilan kerja yang
baik.

b. Teori Interaksi Humanistik, perawat perlu mengintegrasikan prinsip-prinsip interaksi


humanistik dalam pengkajian dan asuhan keperawatan untuk mengembangkan
hubungan rasa percaya dengan remaja. Perawat perlu memperhatikan dampak tahapan
perkembangan, faktor sosial budaya, pengaruh keluarga, dan konflik psikodinamika
yang dimanifestasikan melalui perilaku remaja.

REMAJA DAN PERKEMBANGAN

20
Masa remaja merupakan masa "belajar" untuk tumbuh dan berkembang dari anak menjadi
dewasa. Masa belajar ini disertai dengan tugas-tugas, yang dalam istilah psikologi dikenal
dengan istilah tugas perkembangan. Sama halnya dengan di sekolah, tugas perkembangan ini
juga harus diselesaikan oleh seorang remaja dengan baik dan tepat waktu untuk dapat naik ke
kelas berikutnya. Istilah tugas perkembangan digunakan untuk menggambarkan harapan
masyarakat terhadap suatu individu untuk melaksanakan tugas tertentu pada masa usia
tertentu sehingga individu itu dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat. Setiap fase
perkembangan, yaitu sejak seorang bayi lahir, tumbuh menjadi dewasa sampai akhirnya mati,
mempunyai tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Misalnya, balita berusia dua
tahun diharapkan Sudah dapat berbicara dan berkomunikasi secara sederhana dengan Mang-
orang di sekelilingnya. Hal yang sama juga berlaku bagi remaja. Tugas-tugas perkembangan
yang harus diselesaikan oleh remaja tidak sedikit. tugas perkembangan seorang remaja adalah
sebagai berikut :

1. Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih
efektif. Walaupun kedengarannya sederhana dan mudah diucapkan, menerima
keadaan fisik diri sendiri sering kali menjadi masalah yang cukup besar bagi remaja.
Banyak di antara kita yang sulit menerima kenyataan bahwa kita berkulit gelap atau
tidak tinggi dan langsing teman sebaya. Perasaan tidak puas ini kemudian membuat
kita selalu dilanda perasaan minder sehingga malas bergaul apalagi pergi ke pesta.
Perasaan ini menutupi kenyataan, misalnya bahwa kita sebetulnya punya sepasang
mata yang indah. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya fokuskan perhatian ke kelebihan
kita dan jadikan itu sebagai daya tarik. Selain itu, hilangkan dari pikiran apa yang
selama ini selalu ditanamkan oleh lingkungan kita, bahwa cewek harus cantik, putih,
tinggi, dan langsing untuk dapat disebut sebagai cewek sejati, sedangkan cowok harus
berbadan kekar, berbulu, dan bersuara dalam untuk bisa dikatakan jantan. Apabila
remaja memang tidak mempunyai gen untuk dapat berpenampilan seperti itu, mereka
cenderung gelisah dan tidak puas dengan dirinya sehingga lupa bahwa mereka punya
banyak potensi diri.

2. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
Usaha untuk mencapai kemandirian emosional bisa membuat remaja melawan
keinginan atau bertentangan pendapat dengan orang tuanya. Dengan ciri khas remaja
yang penuh gejolak dan emosional, pertentangan pendapat ini sering kali membuat
remaja menjadi pemberontak di rumah. Apabila masalah ini tidak terselesaikan,
terutama apabila orangtua bersikap otoriter, remaja cenderung untuk mencari jalan
keluar di luar rumah, yaitu dengan cara bergabung dengan teman-teman sebaya yang
senasib. Sebetulnya, curhat dengan teman sebaya tidak ada salahnya, selama teman
sebaya itu bisa membantu mendapatkan solusi yang baik. Namun, sering kali karena
yang dihadapi adalah remaja seusia ng punya masalah yang kurang lebih sama dan
sama-sama belum berhasil mengerjakan tugas perkembangan yang sama, bisa jadi
solusi yang ditawarkan kurang bijaksana. Karena itu, kita perlu selalu ingat bahwa
untuk melepaskan diri secara emosional dari orangtua pun, bisa dilakukan dengan
meminta dukungan orangtua ataupun orang dewasa yang ada di sekitar kita. Tentunya

21
bukan dengan cara meminta mereka untuk memecahkan masalah kita, tapi lebih
kepada memahami keinginan kita untuk dipahami sebagai individu yang beranjak
dewasa dan tidak ingin terlalu tergantung lagu kepada mereka.

3. Mencapai suatu hubungan dan pergaulan yang lebih matang antara lawan jenis yang
sebaya sehingga remaja akan mampu bergaul secara baik dengan kedua jenis kelamin,
baik laki-laki maupun perempuan. Kemampuan untuk mencapai tugas perkembangan
ini juga dipengaruhi oleh banyaknya interaksi yang dialami seorang remaja dengan
orang-orang dari kedua jenis kelamin. Tapi, hal ini sama sekali tidak berarti bahwa
seseorang bersekolah di sekolah khusus cowok atau khusus cewek, kemampuannya
untuk bergaul secara matang dengan jenis kelamin lain akan terganggu karena
pergaulan tidak terbatas di sekolah saja. Ketika pulang, di rumah dan di lingkungan
sekitar juga terdapat kenalan pria dan wanita. Kemampuan untuk berinteraksi dengan
seimbang itu hanya dapat terganggu apabila seseorang memang menciptakan batasan
untuk bergaul.
4. Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminin. Peran sosial yang dimaksud di
sini adalah seperti yang diharapkan masyarakat, dan bergeser sesuai dengan peralihan
zaman. Apabila pada zaman dahulu secara sosial dianggap baik bila laki-laki mencari
nafkah diluar rumah sedangkan perempuan mengurus rumah tangga, dengan
timbulnya kesadaran akan kesetaraan gender sekarang ini tidak harus demikian.
Sehingga yang paling penting untuk dipahami adalah sebagai anggota dari satu jenis
kelamin, kita jangan sampai kemu dian merasa berhak untuk mensubordinasi atau
memperlakukan anggota jenis kelamin lain secara buruk atau semena-mena, baik di
publik (masyarakat) maupun domestik (rumah tangga).

5. Berperilaku sosial yang bertanggung jawab. Idealnya, seseorang tentu diharapkan


untuk berpartisipasi demi kebaikan atau perbaikan di lingkungan sosialnya, namun
bila hal itu belum bisa dijalankan minimal yang harus dilakukan adalah tidak menjadi
beban bagi masyarakat atau lingkungan sosialnya. Karena itulah, remaja yang terlibat
tawuran sampai menghancurkan fasilitas umum tentu tidak dapat dianggap telah
melampaui tugas perkembangan yang satu ini dengan sukses.

6. Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang mempunyai


konsekuensi ekonomi dan finansial. Setelah melepas kan diri dari ketergantungan
emosional dengan orangtua atau orang dewasa lain, tugas yang menanti remaja adalah
juga melepaskan diri dari ketergantungan finansial dari mereka. Karena itulah, bella
jar bekerja juga merupakan hal yang perlu dilakukan oleh remaja, betapapun kecil
penghasilan yang diperoleh. Dengan demikian, diharapkan pada saatnya nanti kita
bisa siap terjun dan bekerja di masyarakat

7. Mempersiapkan perkawinan dan membentuk keluarga. Dengan dilaluinya tugas


perkembangan yang telah disebutkan tadi yaitu yang berkaitan dengan kemampuan

22
untuk bergaul dengan sesama maupun lawan jenis, diharapkan pergaulan ini akan
dapat membawa ke langkah selanjutnya yaitu untuk memilih pasangan hidup yang
sesuai dan mulai mempersiapkan diri membentuk keluarga.

8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan un tuk berperilaku
sesuai dengan norma yang ada di masyarakat. Ke keberhasilan remaja melaksanakan
tugas perkembangan ini ditandai dengan, misalnya, kesuksesannya meredam serta
mengendalikan gejolak emosi maupun seksualnya sehingga dapat hidup sesuai
dengan norma dan etika yang berlaku. Untuk dapat memperoleh konsep diri yang
memegang seperangkat nilai ini, remaja dapat me miliki role model atau seseorang
yang dijadikan tokoh idola yang tingkah lakunya kemudian diteladani (Stuart dan
Sundeen, 1995).

Tugas-tugas perkembangan ini harus dicapai sebelum seorang remaja melangkah ke tahapan
perkembangan selanjutnya. Apabila remaja tadi gagal dalam memenuhi tugas
perkembangannya secara tepat waktu, maka ia akan sulit untuk memenuhi tugas
perkembangan fase selanjutnya. Atau apabila ia gagal melaksanakan tugas perkembangannya
pada waktu yang tepat, maka ia akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya di waktu
yang lain atau melaksanakan tugas perkembangan pada tahapan yang lebih lanjut.

PERIOD OF STORM AND STRESS

Banyak alasan mengapa masa remaja menjadi sorotan yang dak lekang waktu. Psikologi
sendiri memandang periode ini sebagai periode yang penuh gejolak dengan menamakannya
period of storm and stress . Arnett menarik tiga tantangan tipikal yang secara general biasa
dihadapi oleh remaja; (1) konflik dengan orangtua, (2) perubahan mood yang cepat, dan (3)
perilaku berisiko (dalam Laugesen, 2003). Peran teman sebaya yang mulai menggeser peran
orangtua sebagai kelompok referensi tidak jarang membuat tegang hubungan remaja dan
orang tua.

Teman sebaya menjadi ukuran bahkan pedoman dalam remaja bersikap dan berperilaku.
Meskipun demikian, studi Stenberg menemukan bahwa teman sebaya memang memiliki
peran yang penting bagi remaja, namun pengaruh teman sebaya cenderung pada hal-hal yang
berhubungan dengan gaya berpakaian, musik dan sebagainya. Sementara untuk nilai nilai
fundamental, remaja cenderung tetap mengacu pada nilai yang dipegang orangtua termasuk
dalam pemilihan teman sebaya, biasanya juga mereka yang memiliki nilai-nilai sejenis
(dalam Perkins, 2000). Benarkah demikian? Agaknya para orangtua harus berbesar hati dan
membuka diri agar tidak tertipu oleh model rambut, model pakaian,musik yang berdebum di
kamar remaja, juga gaya bahasa yang tidak jarang membuat telinga terasa penuh.
Kedekatanlah yang bisa membuka mata dan hati untuk melihat lebih jernih nilai-nilai yang
sebenarnya dipegang remaja. Bukankah penemuan Stenberg menjadi angin segar dan harapan

23
yang menggembirakan di mana orangtua atau keluarga tetap menjadi model utama. Hanya
penampilan tentu tidak selalu sama, era digital bukankah membawa berjuta pilihan? Tidak
hanya bagi remaja, tetapi juga orangtua. Mood yang naik turun juga sering terdengar dari
celetukan remaja. "Bete niiih." Ada dua mekanisme di mana mood mempengaruhi memori
kita: (1) mood-dependent memory, suatu informasi atau realita yang menimbulkan mood
tertentu, atau (2) mood congruence effects, kecenderungan untuk menyimpan atau mengingat
informasi positif kala mood sedang baik, dan sebaliknya informasi negatif lebih tertangkap
atau diingat ketika mood sedang jelek (Byrne & Baron, 2000). Bisa dibayangkan bagaimana
perubahan mood yang cepat pada remaja terkait dengan kecemasan yang mungkin terbentuk.

EMPAT MODEL KOGNITIF BAGI KECEMASAN REMAJA

Laugesen (2003) dalam studinya tentang empat model kognitif yang digagas oleh Dugas,
Gagnon, Ladouceur, dan Freeston (1998) menemukan bahwa empat model kognitif tersebut
efektif bagi pencegahan dan perlakuan terhadap kecemasan pada remaja. Kecemasan
merupakan fenomena kognitif, fokus pada hasil negatif, dan ketidakjelasan hasil di depan.
Hal ini didasari dari definisi Vasey & Daleiden (dalam Laugesen, 2003) berikut: "Worry in
childhood and adolescence has been defined as primarily an anticipatory cognitive process
involving repetitive, primarily verbal thoughts related to possible threatening outcomes and
their potential consequences.
Empat model kognitif itu ialah:
1. tidak toleran (intoleransi) terhadap ketidakpastian,
2. keyakinan positif tentang kecemasan,
3. orientasi negatif terhadap masalah,
4. penghindaran kognitif.

Pengkajian Kekuatan

Bidang pengkajian umum perkembangan psikososial, kognitif, dan pembelajaran peran


digunakan dalam bab ini. Contoh diagnosa keperawatan sejahtera akan diberikan, meskipun
semua perilaku penting yang berhubungan dengan beragam tugas perkembangan tidak
dikhususkan. Seperti halnya dalam bab-bab lain, diagnosa keperawatan yang ditampilkan di
sini berhadapan dengan bagian pertama dari diagnosis (respons klien). Bagian kedua
diagnosis (kondisi) ber gantung pada faktor kontribusi yang akan diidentifikasi di dalam
situasi klien yang khusus.

Perkembangan Psikososial

Dalam istilah psikoanalitik, fase genital terjadi selama masa remaja dan merupakan sumber
utama ketegangan seksual. Tenaga difokuskan pada hubungan dengan teman lama dan baru.
Pengalaman dengan hubungan ini memberi persiapan untuk perkawinan. Rasa identitas
(Erikson, 1963) pasti dikembangkan Masa remaja adalah suatu masa peralihan yang

24
melibatkan perubahan fisik dan biologis nyata. Perjuangan konsep diri dan citra tubuh
(bagaimana sese orang tampak bagi orang lain, khususnya sebaya) dan kebutuhan untuk
mengembangkan beberapa rencana hidup mengontribusi peralihan di dalam diri ini.
Kebutuhan untuk hubungan yang intim adalah kuat dan percaya kepada persetujuan sebaya
adalah do minan. Keputusan tentang pilihan pekerjaan juga terjadi selama waktu ini.
Pertanyaan pengkajian yang perawat dapat tanyakan kepada mereka sendiri, klien, atau orang
lain di lingkungan klien meliputi:

 Bagaimana perasaan klien tentang dirinya?


 Jenis hubungan apakah yang dimiliki remaja itu dengan orang lain?
 Sesama jenis? Lawan jenis?
 Bagaimana perasaan klien tentang perubahan fisik yang terjadi selama pubertas?
 Apakah remaja itu mulai berpikir tentang pekerjaan apa yang akan di ambilnya?
 Opini siapakah yang dihargai klien? Jika opini ini bertentangan dengan kewenangan
orang tua, apakah yang dilakukan oleh remaja itu?

Perkembangan Kognitif

Remaja dapat berpikir secara abstrak. Berpikir menjadi lebih flek sibel (tidak kaku) dan
adaptable (dapat disesuaikan). Akibatnya, remaja dapat mengambil kesimpulan dari
pengamatan, membuat hipotesis, dan mengujinya. Piaget (1975) menyebutnya sebagai ta hap
operasi formal. Pertanyaan pengkajian dapat meliputi:

 Seberapa fleksibel remaja itu? Dapatkah ia melihat pandangan orang lain?

 Pencapaian apakah yang telah didapat remaja di sekolah?


 Dapatkah remaja menangani konsep abstrak?
 Seberapa akurat remaja jika membuat kesimpulan?

Pembelajaran Peran

Kesadaran tentang dampak sosial dari peran membuat remaja mempertimbangkan peran-
peran yang dipandang dari sudut peran sosial. Adat sosial dari kelompok sebaya mempunyai
pengaruh utama pada remaja, seringkali menimbulkan keisengan dan peri laku khas pada satu
kelompok tertentu. Mereka yang tidak cocok dengan adat sosial dikeluarkan dari kelompok
itu. Sebagai per siapan untuk perkawinan, hubungan sosial menjadi lebih intim dan seringkali
berubah dari interaksi kelompok ke suatu hubungan dengan satu individu. Minat waktu luang
berada pada rentang dari minat di dalam kelompok sebaya yang sejenis sampai kepada ke
kelompok yang mencakup kedua jenis. Pertanyaan pengkajian dapat mencakup:

 keisengan atau perilaku sosial jenis apakah yang ditiru remaja itu dari kelompok
sebayanya?
 Hubungan sosial apa yang dimiliki remaja itu? Dengan orang lain sesama jenis?
Dengan anggota yang berlawanan jenis?

25
 Apakah mayoritas hubungan dengan satu anggota yang berlawanan jenis, dengan
kelompok sebaya, atau dengan anggota sesama jenis?
 Bagaimana waktu luangnya dihabiskan? Hobi apakah yang dimiliki remaja itu?

KESIAPAN PENINGKATAN PERKEMBANGAN REMAJA

Kesiapan peningkatan perkembangan remaja adalah remaja usia 12-18 tahun Perkembangan
kemampuan psikososial remaja dalam mencapai identitas di meliputi peran, tujuan pribadi,
keunikan, dan ciri khas diri. Persahabatan dan setia kawan berkembang pada usia remaja.
Bila hal ini tidak tercapai maka remaja akan mengalami kebingungan peran yang berdampak
pada rapuhnya kepribadian sehingga akan terjadi gangguan konsep diri (Keliat, dkk., 2015).

Tanda dan Gejala


Subjektif:
1. Remaja dapat menilai secara objektif kelebihan dan kekurangan
2. Memiliki sahabat
3. Merasa tertarik pada lawan jenis
4. Mengembangkan bakat yang disukai
Objektif:
1. Bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan
2. Menemukan identitas diri yang objektif
3. Memiliki cita-cita masa depan
4. Mempunyai prestasi akademik
5. Mempunyai teman sebaya

Tujuan Asuhan Keperawatan

1.Kognitif, remaja mampu:


a. Mengetahui aspek positif dan kekurangan diri
b. Mengetahui identitas diri, tujuan dan cita-cita masa depan
c. Memahami norma dan peraturan yang berlaku
d. Berprestasi dalam bidang akademik
2. Psikomotor, remaja mampu:
a. Mengembangkan kemampuan diri
b. Meraih prestasi pada kegiatan positif
c. Beraktivitas dengan aktif
3. Afektif, remaja mampu:
a. Menyampaikan pendapat dengan asertif
b. Mengendalikan emosi

Tindakan Keperawatan
Tindakan pada remaja
Tindakan keperawatan ners

26
1. Diskusikan kemampuan, karya dan prestasi yang positif dan yang kurang Berikan
pujian dan diskusikan cara mempertahankan dan meningkatkannya.
2. Diskusikan identitas diri yang dimiliki secara fisik, psikologis (kebahagiaan, cita-cita,
prestasi) dan sosial (keluarga, sahabat).
3. Diskusikan norma dan peraturan yang berlaku dalam keluarga, sekolah, dan tempat
umum.
4. Diskusikan bahaya pergaulan bebas, narkoba, bullying gadget dan cara-cara
menghindarinya.
5. Motivasi mengembangkan hal-hal positif dalam kehidupan sebagai identitas diri
remaja.
6. Berikan pujian pada tiap keberhasilan yang diraih remaja.

Tindakan pada keluarga


Tindakan keperawatan ners: Tindakan keperawatan ners pada keluarga diberikan kepada
orang tua dan pengasuh (care giver) dari remaja, kegiatannya yaitu:
1. Jelaskan perkembangan yang harus dicapai remaja.
2. Latih cara memfasilitasi remaja untuk mengembangkan identitas dan kekhasannya.
3. Latih keluarga mendampingi remaja:
a. Diskusi tentang keberhasilan yang dicapai dan memberi pujian
b. Mendorong pengembangan bakat yang menjadi identitas dari remaja
c. Memfasilitasi persahabatan dengan teman sebaya
d. Menjadi teman diskusi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi
e. Menyediakan waktu bersama keluarga, kelompok sosial dan kegiatan sosial
lainnya
f. Perhatikan dan mendampingi agar terhindar dari pergaulan bebas, narkoba,
dan kekerasan
g. Menyepakati waktu penggunaan smartphone dan media sosial dengan
bijaksana dan terhindar dari ketergantungan gadget
4. Ciptakan suasana keluarga yang melibatkan remaja.
5. Diskusikan penyimpangan dan cara mengatasinya serta pelayanan kesehatan.

Tindakan pada kelompok


1. Tindakan keperawatan ners: Edukasi kelompok remaja dan kelompok orangtua.
2. Tindakan keperawatan spesialis: Terapi kelompok terapeutik remaja
a. Sesi 1: Stimulasi perkembangan aspek biologis dan psikoseksual
b. Sesi 2: Stimulasi perkembangan aspek kognitif dan bahasa
c. Sesi 3: Stimulasi perkembangan aspek moral dan spiritual
d. Sesi 4: Stimulasi perkembangan aspek emosional dan psikososial
e. Sesi 5: Stimulasi perkembangan aspek bakat dan kreativitas
f. Sesi 6: Monitoring dan evaluasi pengalaman dan manfaat latihan

Penelitian terkait terapi kelompok terapeutik remaja yang dilakukan oleh Bahari, Keliat,
Gayatri, dan Daulima (2010) menunjukkan bahwa terapi kelompok terapeutik remaja
meningkatkan perkembangan identitas diri remaja; Dinarwiyata, Mustikasari, dan Setiawan

27
(2014) menunjukkan bahwa terapi kelompok terapeutik remaja mampu mengendalikan emosi
marah pada remaja; Fernandes, Keliat, dan Daulima (2014) menunjukkan bahwa terapi
kelompok terapeutik remaja meningkatkan kemampuan remaja dalam menstimulasi aspek
perkembangan identitas diri; serta Hasanah, Hamid, dan Daulima (2015) menunjukkan bahwa
terapi kelompok terapeutik remaja meningkatkan aspek dan tugas perkembangan identitas
diri remaja.

PROSES KEPERAWATAN JIWA PADA REMAJA

Sebagaimana halnya dengan asuhan keperawatan jiwa pada proses keperawatan pada anak
remaja, proses keperawaratan juga diterapkan dalam asuhan keperawatan bagi remaja.
1. Pengkajian
Pengumpulan data tentang status kesehatan remaja meliputi observasi dan interpretasi pola
perilaku, yang mencakup informasi sebagai berikut :
a). Pertumbuhan dan perkembangan
b). Keadaan biofisik (penyakit, kecelakaan)
c). Keadaan emosi (status mental, termasuk proses berpikir dan pikiran tentang bunuh diri
atau membunuh orang lain)
d) Latar belakang sosial budaya, ekonomi, agama
e) Penampilan kegiatan kehidupan sehari-hari (rumah, sekolah)
f). Pola penyelesaian masalah (pertahanan ego seperti denial, acting out, menarik diri)
g) Pola interaksi (keluarga, teman sebaya)
h) Persepsi remaja tentang dan kepuasan terhadap keadaan kesehatannya.
i). Tujuan kesehatan remaja
j). Lingkungan (fisik, emosi, ekologi)
k).Sumber materi dan narasumber yang tersedia bagi remaja (sahabat, sekolah, dan
keterlibatannya dalam kegiatan di masyarakat).
Data yang dikumpulkan mencakup semua aspek kehidupan remaja baik pada Masa lalu
maupun sekarang yang diperoleh dari remaja itu sendiri ri, keluarganya, atau orang lain.
Permasalahan yang biasanya dihadapi oleh remaja berkaitan dengan citra diri, identitas diri,
kemandirian, sek sualitas, peran sosial, dan perilaku seksual yang menimbulkan perilaku
adaptif dan maladaptif. Dalam berkomunikasi dengan remaja, perawat harus mengerti
bahwa :
1. Perasaan dan konflik cenderung diekspresikan melalui perilaku kasar daripada secara
verbal
2. Remaja mempunyai bahasa mereka sendiri
3. Kata-kata kotor sering diucapkan oleh remaja, terutama remaja yang sangat terganggu
4. Banyak data yang dapat diperoleh hanya dengan mengamati perilaku remaja, cara
berpakaian, dan lingkungannya.
Perawat yang mempelajari keterampilan wawancara dan menunggu nakan pesan nonverbal
dapat memanfaatkan keterampilannya dalam berkomunikasi dengan remaja secara wajar.
Dalam usahanya menye suaikan diri dengan perubahan fisik yang pesat, remaja mengalami
ketegangan karena konflik antara kebutuhan akan rasa tergantung dan keinginan untuk

28
mandiri. Menurut para remaja, kemandirian berarti melepaskan diri dari kendali orang tua,
tanpa menyadari bahwa ke mandirian terjadi melalui suatu proses belajar yang terjadi secara
bertahap.

2. PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI

Masalah utama yang biasa dialami remaja berkaitan dengan perilaku seksual, keinginan untuk
bunuh diri, keinginan untuk lari dari rumah, perilaku antisosial, perilaku mengancam,
keterlibatan dengan obat terlarang, hypochondriasis, masalah uang/makan, dan takut sekolah.
Untuk mencegah kesan remaja memihak kepada orangtuanya,

Tinjauan terhadap rencana asuhan keperawatan perlu dilakukan secara berkala untuk
memperbarui situasi, catatan perkembangan, dan mempertimbangkan masalah baru. Sangat
penting untuk mengkaji dan mengevaluasi proses keperawatan pada remaja. Implementasi
kegiatan perawat meliputi:
a. Pendidikan pada remaja dan orang tua, perawat adalah tenaga kesehatan yang paling tepat
untuk memberikan informasi menge nai kesehatan berkaitan dengan penggunaan obat
terlarang, masalah seks, pencegahan bunuh diri, dan tindakan kejahatan, begitu pula
informasi mengenai fungsi emosi yang sehat. Dengan mengetahui perilaku remaja dan
memahami konflik yang dialami mereka, orang tua, guru, dan masyarakat akan lebih suportif
dalam menghadap remaja, bahkan dapat membantu mengembangkan fungsi mandiri remaja.
Dengan meningkatkan kemandirian remaja dan mengu rangi pertentangan kekuasaan antara
remaja dan orang tua mereka, akan menimbulkan perubahan hubungan yang positif.
b. Terapi keluarga, terapi keluarga khususnya diperlukan bagi remaja dengan gangguan
kronis dalam interaksi keluarga yang mengakibatkan gangguan perkembangan pada remaja.
Oleh karena itu, perawat perlu mengkaji tingkat fungsi keluarga dan perbedaan yang terdapat
di dalamnya untuk menentukan cara terbaik bagi perawat berinteraksi dan membantu
keluarga. Pertemuan pertama antara keluarga dengan terapis. Kemudian pertemuan
selanjutnya, remaja dengan terapis. Pada akhirnya saat semua telah jelas, maka keluarga
dipertemukan dengan remaja.
C. Terapi kelompok, terapi kelompok memanfaatkan kecenderungan remaja untuk mendapat
dukungan dari teman sebaya. Konflik antara keinginan untuk mandiri dan tetap tergantung
serta konflik ber kaitan dengan tokoh otoriter.
d. Terapi individu, terapi individu dilakukan oleh perawat spesialis jiwa yang berpengalaman
dan mendapat pendidikan formal yang memadai. Terapi individu terdiri atas terapi perilaku
dan terapi penghayatan. Hal-hal yang perlu diperhatikan perawat ketika ber komunikasi
dengan remaja antara lain penggunaan teknik berdiam diri, menjaga kerahasiaan, negativistic,
resistent, berdebat, sikap menguji perawat, membawa teman untuk terapi, dan minta perha
tian khusus.

3. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN

a. Remaja yang Bekerja, perkembangan pengetahuan remaja yang normal sangat dibutuhkan
untuk membedakan antara tingkah laku pada usia yang diharapkan dan respon yang

29
maladaptif. Ketika sepakat dengan remaja, sebaiknya perawat mengawali pertemuan
langsung dengan remaja. Sebagian besar remaja menunjukkan bah wa perawat akan
bekerjasama dengan orangtua. Pertemuan kelu arga dapat digunakan untuk diagnosa evaluasi,
menolong keterbu kaan saat interaksi dengan keluarga, dan sangat membantu untuk
membangun dukungan keluarga.
b. Pendidikan Kesehatan, perawat jiwa mempunyai posisi yang sangat penting untuk
mendidik remaja, keluarga, dan masyarakat. Informasi kesehatan dasar yang harus diberikan
seperti obat obatan terlarang, seks dan kontrasepsi, pencegahan bunuh diri. dan pencegahan
kekerasan. Perawat dapat memberikan informasi tentang fungsi kesehatan emosional. Melalui
pendidikan keluarga dan masyarakat tentang tingkah laku remaja yang normal dan dengan
interpretasi yang mendasari konflik, orangtua, pengajar, dan anggota masyarakat lainnya
disiapkan menjadi lebih baik untuk mendukung remaja dan mengembalikan fungsi kesehatan
mandiri.
c. Komunikasi dengan Remaja, ada beberapa poin penting yang ha rus diperhatikan saat
berkomunikasi dengan remaja, yaitu:
1) Silence/diam, diam atau mendengarkan seringkali efektif untukorang dewasa, tetapi
menakutkan bagi remaja, terutama saat memulai treatment atau evaluasi. Kecemasan ini
seringkali refleksi dari perasaan remaja tentang empati dan identitas diri yang rendah. Secara
singkat, diam dapat kreatif dan produktif ketika remaja menolak di-treatment, ketika remaja
sanggup toleransi tanpa kecemasan, yang mengindikasikan pertumbuhan dalam rasa percaya
diri dan menerima perasaannya.
2) Confidentiality/kerahasiaan, kerahasiaan ditekankan untuk be berapa, terutama untuk
remaja yang takut bila perawat melapor kan ke orangtuanya. Perawat berjanji untuk tidak
mengatakan apapun kepada orangtua apabila tidak diizinkan, terkecuali saat perawat
membutuhkan kontak dengan orangtua jika remaja me nyatakan keinginan bunuh diri atau
yang berhubungan dengan pembunuhan atau penggunaan obat terlarang.
3) Negativism, perasaan negatif seringkali diekspresikan remaja, terutama pada permulaan
karena mereka takut akan damna yang muncul dari treatment.
4) Resistance Perlawanan, seringkali remaja mulai menguin perawat untuk melihat apakah
mereka menjadi figure authoritarian Remaja yang suka melawan dapat menyangkal
membutuhkan terapi atau pertolongan. Apabila remaja tampak cemas, sangat baik memberi
dukungan dan simpati., tunjukkan bahwa perawat tertarik untuk mengetahui remaja dan
kemudian berdiskusi saat kondisi netral atau stabil.
5) Arguing/Menentang, remaja selalu menentang dan mereka jarang mengakui/mendengar
pendapat orang. Apabila per awat mengakui memiliki area ketidaktahuan, sangat baik un tuk
remaja, dimana mereka takut membutuhkan untuk menjadi lebih baik.
6) Testing, remaja membutuhkan dan menginginkan batas. Mereka bingung dan tidak dapat
membuat batas untuk dirinya sendiri. Mereka mencoba melalui trial and error untuk
menemukan konsep diri.
7) Dreams and artistic creations, remaja seringkali kreatif dan sangat pandai belajar dari
pelajaran mereka di tempat bekerja.Selama diskusinya relevan, dapat menjadi sumber yang
baik un tuk mengeksplorasi perasaan mereka.

30
8) Bringing friends, remaja yang membawa teman ke pertemuan dapat menghindari terapi.
Ada beberapa keuntungan sharing pengalaman dengan peer group, sejak kecemasannya
berkurang.
D.Keadaan memalukan saat terapi, keadaan memalukan ini dapat terjadi di beberapa usia
kelompok, tetapi lebih menonjol pada remaja ja terutama selama fase awal terapi.
E. Permintaan untuk lebih diperhatikan, beberapa remaja dapat mengembangkan
ketergantungan kepada terapis. Fokusnya untuk mengeksplorasi perasaan empati, deprivasi,
dan incompleteness bahwa mereka bertanggung jawab atas permintaan.
F. Orangtua Remaja, jika kelompok atau treatment individu sangat selektif untuk remaja,
perawat tetap harus mengomunikasikannya dengan keluarga. Orang tua tidak dapat
membantu treatment jika mereka tidak mengerti dan tidak mengetahuinya. Perawat dapat
bekerja dengan orangtua tanpa membuka rahasia. Tidak semua orangtua membutuhkan
treatment. Ini sangat menolong bagi orang

Diagnosa keperawatan sejahtera, perilaku dan intervensi terpilih : remaja

Diagnosa keperawatan
sejahtera Perilaku remaja Intervensi keperawatan
Memulai rasa identitas Menyesuaikan diri dengan Jelaskan kebutuhan untuk
pribadi norma kelompok sebaya; identitas pribadi kepada
tidak sesuai dengan norma pengasuh.
orang dewasa.
Bantu remaja menyatakan
Menemukan dukungan di nilai pribadi.
dalam kelompok sebaya.
Dorong remaja untuk
Mencoba perilaku baru mengkaji nilai pribadi
dengan kelompok sebaya. dibanding dengan nilai
kelompok sebaya.
Meningkatkan minat pada Mulai mendiskusikan Gali harapan dengan remaja.
lawan jenis perilaku anggota yang
berlawanan jenis. Sarankan pada remaja
situasi dimana berkencan
Menguraikan harapan dapat dimulai di lingkungan
hubungan dengan sebaya yang aman.
yang berlawanan jenis.

Mulai aktivitas berkencan.


Menggabungkan perubahan Kesadaran perubahan seks Biarkan remaja menyatakan
seks sekunder ke dalam dapat menghasilkan perasaan tentang perubahan
citra tubuh kesenangan dan seksual.
ketidaksenangan.
Dorong pengasuh untuk
Perhatian terhadap menjaga komunikasi terbuka
penampilan. dengan remaja.

Eksperimen dengan beragam Perbaiki kesalahan konsepsi


jenis pakaian, gaya rambut, atau mitos tentang

31
dll. seksualitas dan reproduksi
dengan remaja.
Perasaan seksual.
Memulai perumusan tujuan Menguraikan kekuatan dan Gali minat pekerjaan
okupasional kelemahan diri snediri, yang remaja.
mengarah pada minat thd
pekerjaan tertentu. Sediakan remaja sumber
tentang pekerjaan tertentu.
Mencari sumber untuk
belajar lebih banyak tentang Perkuat perkembangan
pekerjaan. tujuan pribadi remaja.

Mulai menguraikan tujuan


pribadi.
Memulai pemisahan dari Kelompok sebaya Gali konflik antara nilai
autoritas keluarga mendominasi minat, waktu, pribadi dan keluarga dengan
gaya berpakaian, dan norma remaja dan/atau keluarga.
perilaku.
Yakinkan remaja dan/atau
Mempertanyakan nilai pengasuh bahwa hal ini
keluarga. adalah proses normal.

Dapat Dorong remaja untuk


melawan/berargumentasi mengatasi masalah dan
dengan orang tua. menyelesaikan konflik.

Menceritakan rahasia lebih Gali cara untuk memenuhi


sedikit dengan orang tua. kebutuhan privasi dengan
remaja dan/atau pengasuh.
Mengungkapkan kebutuhan
untuk privasi dan autonomi.
Meningkatkan Memperhatikan opini orang Dengar perhatian remaja.
pertimbangan tentang lain.
pendapat orang kain Dorong remaja untuk
Dapat membedakan antara membandingkan pendapat
pikiran sendiri dan orang sendiri dan orang lain untuk
lain. memperjelas harapan dan
meningkatkan kemapuan
Dapat menguraikan pendapat membedakan nilai sendiri
orang lain secara akurat. dan orang lain.
Meningkatkan kemampuan Dapat menguraikan secara Dorong remaja untuk
untuk pemikiran abstrak logis suatu masalah dan mengatasi masalah untuk
sampai pada suatu menyelesaikan konflik.
pemecahan.
Dorong remaja untuk
Menggunakan fakta untuk mempertimbangkan
mempertahankan posisinya. konsekuensi perilaku.

Dapat memperkirakan Perkuat kemapuan


kejadian yang akan datang pembautan keputusan

32
dan juga saat ini. remaja.

Dapat menganilisis dan


mensintesis materi.
Mengembangkan hubungan Mengembangkan hubungan Dorong remaja untuk
berpotensi jangka panjang satu dengan satu sebaya mengembangkan hubungan
sesama jenis. untuk memperoleh
dukungan dan dorongan
Mengurangi aktivitas yang bermanfaat.
kelompok dan meningkatkan
aktivitas satu dengan satu.

Mencoba peran dan perilaku


baru dengan satu orang.
Mengembangkan hubungan Menggali minat umum dari Dorong remaja untuk
dengan sabaya lawan jenis sebaya yang berlawanan menemukan minat yang
jenis. bermanfaat dengan sebaya
lawan jenis.
Terlibat dalam permulaan
kencan dalam kelompok Dorong remaja untuk mulai
campuran. berkencan untuk belajar
lebih banyak tentang diri
Terlibat dalam kencan ganda dan orang lain dari lawan
atau kencan satu pasangan. jenis sebagai dasar untuk
hubungan di masa depan.
Terlibat dalam banyak
percakapan pertelepon
dengan sebaya berlawanan
jenis.
Meningkatkan minat Minat khusus menjadi lebih Dorong remaja untuk
pribadi dan hobi penting dan mengambil mengidentifikasi dan
sejumlah waktu yang lebih mengembangkan minat
banyak. pribadi.

Minat dapat mengarahkan Perkuat pencapaian remaja


tindakan kearah pekerjaan dalam bidang yang diminati.
tertentu atau aktivitas
sukarela.

33
BAB III
PENUTUP

Setelah menguraikan berbagai hal asuhan keperawatan mulai dari pengkajian perencanaan,
palaksanaan dan evaluasi maka penulis dapat memberikan kesimpulan dan saran.

A. Kesimpulan
Dengan adanya pengkajian maka dapat pula dilakukan pengumpulan data, kemidian
data tersebut dianalisa dan dikelompokan untuk menegakan diagnosa keperawatan
Perencanaan merupakan penyusunan rencana tindakan sesuai masalah yang
ditemukan pada saat melakukan pengkajian. Rencana tindakan dilakukan unutk mengurangi
gejala dan keluhan pada pasien dan dapat memberikan rasa aman dan nyaman.
Implementasi adallah pelaksanaan t8indakan keperawatan secara nyata pada pasien,
dengan perencanaan yang telah dibuat.
Evaluasi keperawatan dilakukan sejauh mana criteria dan tujuan yang telah dapat
dicapai. Adanya kerjasama keluarga, perawat dan tenaga medis lainnya ternyata tindakan
keperawtan dapat dilakukan dengan utjuan dan criteria yang ada pada perencanaan dapat
dicapai.

B. Saran
Kepada teman – teman apabila melakukan perawatan keluarga dapat berpedoman
pada proses keperawatan. Dengan memeperhatikan aspek bio, psiko, dan spiritual.

34
DAFTAR PUSTAKA

Muhith, A. (2015). Pendidikan Keperawatan Jiwa( Teori dan Aplikasi). Yogyakarta: Andi.

Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC; 2013.

Stolte, M. Karen. 2003. Diagnosa Keperawatan Sejahtera (Weallness. Nursing Diagnosis). Jakarta :
EGC.

35