Anda di halaman 1dari 52

PENGARU KANGAROO MOTHER CARE TERHADAP

PENINGKATAN SUHU TUBUH DAN PENINGKATAN


BERAT BADAN PADA BBLR DIRUMAH SAKIT
MITRA MEDIKA BATANGHARI
PROVINSI JAMBI

PROPOSAL SKRIPSI

NAMA MAHASISWA : Sunarsih Tirta Mahani

NIM : 181012114201116

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS


KEPERAWATAN INSTITUT KESEHATAN
PRIMA NUSANTARA BUKITTINGGI
TAHUN 2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kehadiran Allah swt. atas karunia-Nya berupa

kesehatan, kesempatan, dan nikmat yang begitu besar bagi umatnya, sehingga

peneliti dapat menyelesaikan proposal yang berjudul “Pengaruh Kangaroo Mother

Care Terhadap Peningkatan Suhu Tubuh Dan Peningkatan Berat Badan Pada

BBLR Di Rumah Sakit Mitra Medika Batanghari, Provinsi Jambi Tahun

2020”. Selawat beriringkan salam tidak lupa kepada junjungan kita Nabi Muhammad

SAW yang telah memberikan petunjuk untuk keselamatan umat di dunia dan di

akhirat.

Dalam penyusunan proposal ini banyak peneliti mengucapkan terima kasih

telah mendapatkan bimbingan Ibu Ns. Vera Kurnia, M.Kep selaku pembimbing I,

dan bantuan dari berbagai pihak dalam penyusunan proposal ini. Selanjutnya

perkenankanlah peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang

terhormat :

1. Ibu Dr. Hj. Evi Susanti, S.ST., M.Biomed, selaku Rektor IKes Prima

Nusantara Bukit Tinggi.

2. Bapak Ns.Fauzi Ashra, S.Kep, M.Kep selaku Wakil Rektor I IKes Prima

Nusantara Bukit Tinggi.

3. Bapak Yuhendri Putra, S.Si, M.Biomed selaku Wakil Rektor II IKes Prima

Nusantara Bukit Tinggi.

4. Bapak Dr. Hendri Joni, M.h, Ketua Institut Kesehatan Prima Nusantara Bukit

Tinggi.

ii
11

5. Ibu Kepala Rumah Sakit Mitra Medika, Kabupaten Batanghari-Jambi.


6. Ibu Ns. Elfira Husna, M.Kep, Ketua Prodi Sarjana Ilmu Keperawatan Institut

Kesehatan Prima Nusantara Bukit Tinggi.

7. Bapak Ns. Fauzi ashra, M.Kep, Sebagai Penguji I

8. Ibu Ns. Hidayati, M.Kep sebagai Penguji II

9. Bapak/Ibu Staf dan Dosen pengajar IKes Prima Nusantara Bukit Tinggi.

10. Kepada kedua orang tua, Suami, serta seluruh keluarga yang telah

memberikan kasih sayang, nasehat, semangat dan do’a.

11. Rekan-rekan senasib sepenanggungan mahasiswa Program Studi Ilmu

Keperawatan Institut Kesehatan Prima Nusantara Bukit Tinggi yang telah

memberikan perhatian dan masukan bagi peneliti

Semoga segala kebaikannya mendapat imbalan pahala dari Allah swt.

Akhir kata semoga Proposal yang sederhana dapat bermanfaat bagi

perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan, Amin

Bukittinggi, Mei 2020

Sunarsih Tirta Mahari

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDULi
KATA PENGANTARii
DAFTAR ISIiv

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang1
B. Rumusan Masalah7
C. Tujuan Penelitian7
D. Manfaat Peneliti8
E. Ruang Lingkup Peneliti9
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR )10
B. Berat Bayi Lahir12
C. Suhu Tubuh13
D. Metode Kangaroo Mother Care 19
E. Kerangka Teori23
BAB III : KERANGKA KONSEPTUAL
A. Kerangka Konseptual Peelitian25
B. Defenisi Operasional26
C. Hipotesis Penelitian28
BAB IV : METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian29
B. Populasi dan Sampel29
C. Tempat dan waktu penelitian 31
D. Etika Penelitian 31
E. Alat Pengumpulan Data33
F. Prosedur Pengumpulan Data33
G. Pengolahan Data dan Analisa data35
DAFTAR PUSTAKA38

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berat Badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan lahir

kurang dari 2500 gram, dalam literatur lainnya dinyatakan bahwa bayi yang lahir

dengan berat badan rendah tidak melihat usia kehamilannya tetapi tingkat

kematangan organ (maturita) yang akan menentukan kualitas hidup selanjutnya,

ini akan berdampak pada angka morbiditas dan mortalitas (Primadi, 2013).

Target Sustainable development Goals (SDG’s) Pada tahun 2030,

mengakhiri kematian yang dapat dicegah pada bayi baru lahir dan balita, dimana

setiap negara menargetkan untuk mengurangi kematian neonatal setidaknya

menjadi kurang dari 12 per 1000 kelahiran dan kematian balita menjadi serendah

25 per 1000 kelahiran. Di seluruh dunia, lebih dari separuh kelahiran tahun baru

diperkirakan berlangsung di delapan negara, yakni 67.385 kelahiran di India,

46.299 kelahiran di Cina, 26.039 kelahiran di Nigeria, 16.787 kelahiran di

Pakistan, 10.452 kelahiran di Amerika Serikat, 10.247 di Republik Demokratik

Kongo, dan 8.493 bayi lahir di Etiopia, kelahiran di Indonesia sebanyak 13.020

(Kemkes, 2020)

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Rumah Sakit Mitra Medika

Batanghari Propinsi Jambi terjadi penurunan kejadian BBLR yaitu pada tahun

2018 terdapat 93 (35%) kasus, 7 (37%) kasus yang meninggal dan 2 (12%) kasus

1
2

yang dirawat. Pada tahun 2019 terjadi peningkatan kejadian BBLR yaitu 174

(65%) kasus, yang meninggal 12 (63%) dan 14 (88%) yang dirawat dan pada

tahun 2020 4 bulan terakhir Januari – April sebanyak 28 kasus, 4 yang meninggal

dan 4 yang dirawat. Dari data tersebut menunjukkan bahwa banyaknya ibu yang

melahirkan bayi mengalami Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) kemudian bayi

dirawat di ruang perinatologi untuk mendapatkan perawatan khusus agar bisa

menjaga kestabilan suhu dan meningkatkan berat badan bayi yang sesuai standar

dengan menggunakan alat, diruangan tersebut belum menerap Kangaroo Mother

Care hanya masih mengandalkan alat menstabilkan suhu tubuh dan menstabilkan

berat badan bayi.

Bayi baru lahir kehilangan panas empat kali lebih besar dari pada orang

dewasa, sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan suhu. Masalah pada bayi

dengan berat lahir rendah (BBLR) terutama pada prematur terjadi karena

ketidakmatangan sistem organ pada bayi tersebut. Bayi berat lahir rendah

mempunyai kecenderungan ke arah peningkatan terjadinya infeksi dan mudah

terserang komplikasi. Masalah pada BBLR yang sering terjadi adalah gangguan

pada sistem pernafasan, susunan saraf pusat, kardiovaskular, hematologi, gastro

intestinal, ginjal, termoregulasi (Profil Kesehatan Indonesia, 2018).

Bayi yang mengalami kehilangan panas (hipotermia) berisiko tinggi untuk

jatuh sakit atau meninggal. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan hipotermi

diantaranya adalah kesalahan perawatan bayi segera setelah lahir, bayi dipisahkan

dengan ibunya setelah lahir, BBLR, kondisi ruang yang dingin, prosedur

penghangatan yang adekuat, dan asfiksia serta hipoksia. Hal inilah yang
3

menyebabkan BBLR metode dalam rangka menstabilkan suhu tubuhnya untuk

memperpanjang kesempatan hidup.

Suhu bayi yang rendah mengakibatkan proses metabolik dan fisiologi

melambat. Kecepatan pernafasan dan denyut jantung sangat melambat, tekanan

darah rendah dan kesadaran menghilang. Bila keadaan ini terus berlanjut dan tidak

mendapatkan penanganan maka dapat menimbulkan kematian pada bayi baru

lahir. Masalah ini diharapkan dapat teratasi dengan meluaskan pelaksanaan

Kangaroo Mother Care (Kangaroo Mother Care ). Kangaroo Mother Care

diperkenalkan pertama kali oleh Rey dan Martinez dua orang neonatology dari

Bogota Colombia Amerika Selatan pada tahun 1983. Penelitian obsevasional

menunjukkan bahwa Kangaroo Mother Care dapat menurunkan mortalitas dan

morbiditas pada bayi prematur atau BBLR. Roy dan Martinez yang pertama kali

melaporkan adanya peningkatan pada angka kelangsungan hidup di RS, dari 30%

ke 70% untuk bayi dengan berat 1000 gr sampai dengan 1500 gr (Mustya,2017).

Kangaroo Mother Care adalah metode perawatan dini pada bayi untuk

meningkatkan berat badan dan meningkatkan kestabilan suhu tubuh pada bayi,

dengan cara ini detak jantung bayi stabil dan pernapasannya lebih teratur,

sehingga penyebaran oksigen ke seluruh tubuhnya pun lebih baik. Selain itu, cara

ini mencegah bayi kedinginan. Bayi lebih tenang, lebih jarang menangis, dan

kenaikan berat badannya menjadi lebih cepat dan dengan sentuhan kulit ke kulit

antara ibu dan bayi baru lahir dalam posisi seperti Kangaroo Mother Care mampu

memenuhi kebutuhan asasi bayi baru lahir prematur dengan menyediakan situasi

dan kondisi yang mirip dengan rahim ibu. Sehingga memberi peluang untuk dapat
4

beradaptasi baik dengan dunia luar. Di samping efek sentuhan kulit, metode

tersebut akan membuat bayi lebih tahan sakit daripada dengan digendong

memakai jarit. Berat badannya pun akan cepat naik (Sudarti, 2013).

Penelitian yang telah dilakukan oleh Mustya (2017) mengatakan bahwa

Tingkat suhu tubuh responden sebelum dilakukan metode KMC didapatkan hasil

32ºC–36,4ºC (hipotermia ringan). Tingkat suhu tubuh responden sesudah

dilakukan metode KMC didapatkan hasil 36,5ºC – 37,5ºC (normal). Metode

kangguru ini memiliki pengaruh terhadap suhu tubuh pada BBL yang dibuktikan

dengan hasil uji statistik non parametrik dengan teknik Wilcoxon didapatkan hasil

Asymp.Sig. (2-tailed) 0,025. Dapat disimpulkan bahwa nilai Asymp.Sig. (2-tailed)

< 0,05 yang berarti ada pengaruh metode KMC terhadap suhu tubuh pada BBL di

RSU PKU Muhammadiyah Bantul tahun 2017.

Menurut Penilitian Astuti (2015) diketahui bahwa dari 28 responden (14

sampel eksperimen dan 14 sampel kontrol) diperoleh hasil yang signifikan dan

penerapan Kangaroo Mother Care dibuktikan dengan nilai t hitung > t tabel, dan

nilai p<0,05, peningkatan rerata bayi berat lahir rendah ( BBLR ) pada bayi yang

diberikan Kangaroo Mother Care sebesar 1257,50 gram dan yang tidak diberikan

Kangaroo Mother Care sebesar1071,43 gram, dengan selisih 186,07 gram, hal ini

menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan berat badan pada bayi yang

diberikan perlakuan Kangaroo Mother Care yaitu dan yang tidak diberikan

perlakuan Kangaroo Mother Care , dibuktikan dengan nilai t hitung > t table, dan

nilai p<0,05.
5

Untuk itu diperlukan perhatian khusus dalam memberikan pelayanan

kesehatan neonatus terutama pada hari-hari pertama kehidupannya yang sangat

rentan karena banyak perubahan yang terjadi pada bayi dalam menyesuaikan diri

dari kehidupan di dalam rahim kekehidupan di luar rahim. Mengingat secara

fisiologis bayi belum mampu menyesuaikan dengan lingkungan baru setelah

dilahirkan, dukungan lingkungan agar bayi tetap terjaga kehangatannya sangat

diperlukan. KMC telah tercantum pada petunjuk pelaksanaan nasional untuk

perawatan BBLR dan bayi premature, dan telah sukses diterapkan di beberapa

negara. Hal tersebut Depkes (2009) sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia No: 203/Menkes/SK/III/2008 tentang pembentukan kelompok

kerja (pokja) nasional Kangaroo Mother Care (Kangaroo Mother Care ). Upaya

mem perkenalkan Kangaroo Mother Care sebagai salah satu teknologi tepat guna

untuk menurunkan kematian neonatus, dan penelitian merupakan salah satu

langkah nyata (Sundari, 2018)

Meskipun sudah ada beberapa penelitian yang mendukung penggunaan

perawatan kangguru di unit neonatal, sebagian telah dilakukan dalam kaitan

dengan bayi yang sehat dan cukup bulan. Namun demikian, perawatan kulit ke

kulit harus dilihat sebagai metode efektif untuk mencegah kehilangan panas pada

bayi-bayi yang baru lahir baik bayi yang cukup bulan maupun bayi yang tidak

cukup bulan. Jika ibu sedang dalam kondisi tidak sehat, dalam masa

penyembuhan setelah operasi atau ide melakukannya tidak muncul dari ibu,

perawatan kulit ke kulit dengan ayah akan sama efektifnya untuk meningkatkan

suhu tubuh atau mencegah hipotermi (Merizka, 2017).


6

Perawat memberikan pendidikan kesehatan sebelum Kangaroo Mother Care

dimulai dan setelah proses Kangaroo Mother Care , ibu dan bayi dibiarkan saja

dalam ruangan tanpa memperhatikan respon psikologis ibu maupun respon bayi

selama proses Kangaroo Mother Care berlangsung. Tanggapan masyarakat dari

segi psikologis orang tua yang memiliki BBLR khususnya ibu merasa sangat

khawatir dengan kondisi kesehatan anaknya dan merasa tidak mampu

memberikan yang adekuat oleh karena itu diperlukan Kangaroo Mother Care ini

sehingga dapat mempercepat bonding attachment, menambah kepercayaan diri

untuk merawat bayinya yang kecil, meningkatkan produksi ASI, menurunkan

biaya perawatan di RS, menghilang perasaan terpisah serta ketidakmampuan dan

orang tua merasakan kepuasan karena sudah berpartisipasi dalam merawat

bayinya.

Survei awal yang dilakukan pada tanggal 12 Mei 2020 dengan

mewawancarai 2 ibu dengan bayi BBLR di Rumah Sakit Mitra Medika

Batanghari diruangan perawatan bahwa ibu merasakan kekhawatiran kepada

bayinya dengan kondisi kesehatan anaknya dan merasa tidak mampu memberikan

yang adekuat diberikan alat khusus untuk menstabilkan suhu tubuh dan pemberian

asi karena keadaan ibu yang belum memungkinkan menjelang masa pemulihan

dikarenakan ruangan terpisah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang dapat

dirumuskan “apakah ada pengaruh Kangaroo Mother Care terhadap peningkatan


7

suhu tubuh dan peningkatan berat badan pada BBLR di Rumah Sakit Mitra

Medika Batanghari, Provinsi Jambi tahun 2020 “?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh Kangaroo Mother Care terhadap peningkatan

suhu tubuh dan berat badan pada BBLR di Rumah Sakit Mitra Medika

Batanghari, Provinsi Jambi tahun 2020.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui Peningkatan subu tubuh sebelum diberi Kangaroo

Mother Care pada BBLR di Rumah Sakit Mitra Medika Batanghari,

Provinsi Jambi tahun 2020.

b. Untuk mengetahui Peningkatan subu tubuh sesudah diberi Kangaroo

Mother Care pada BBLR di Rumah Sakit Mitra Medika Batanghari,

Provinsi Jambi tahun 2020

c. Untuk mengetahui berat badan sebelum diberi Kangaroo Mother Care

pada BBLR di Rumah Sakit Mitra Medika Batanghari, Provinsi Jambi

tahun 2020.

d. Untuk mengetahui peningkatan berat badan setelah diberi Kangaroo

Mother Care pada BBLR di Rumah Sakit Mitra Medika Batanghari,

Provinsi Jambi tahun 2020.

e. Untuk mengetahui pengaruh Kangaroo Mother Care terhadap

peningkatan suhu tubuh dan berat badan pada BBLR di Rumah Sakit

Mitra Medika Batanghari, Provinsi Jambi tahun 2020.


8

D. Manfaat Peneliti

1. Bagi petugas kesehatan di Rumah Sakit Mitra Medika Batanghari

Provinsi Jambi

Sebagai bahan masukan sehingga dapat dijadikan acuan bahwa

Kangaroo Mother Care dapat dijadikan alternatif dalam pengingkatan suhu

tubuh dan peningkatan berat badan pada BBLR di Rumah Sakit Mitra Medika

Batanghari Provinsi Jambi Tahun 2020.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai acuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman

tantang Kangaroo Mother Care terhadap peningkatan suhu tubuh dan

peningkatan berat badan pada BBLR di Rumah Sakit Mitra Medika

Batanghari Provinsi Jambi Tahun 2020.

3. Bagi Peneliti

Sebagai referensi untuk meningkatkan dan mengembangkan

pengetahuan mahasiswa terutama tentang pengaruh Kangaroo Mother Care

terhadap peningkatan suhu tubuh dan peningkatan berat badan pada BBLR di

Rumah Sakit Mitra Medika Batanghari Provinsi Jambi Tahun 2020.

E. Ruang Lingkup Peneliti

Peneliti ini adalah Pengaruh Kangaroo Mother Care terhadap Peningkatan

Suhu Tubuh dan Berat Badan pada BBLR di Rumah Sakit Mitra Medika

Batanghari Provinsi Jambi Tahun 2020. Penelitian ini akan dilakukan di Rumah

Sakit Mitra Medika Batanghari Provinsi Jambi tahun 2020. Jenis penelitian ini
9

yaitu penelitian menggunakan rancangan penelitian quasi experimental dengan

rancangan One Group Pretest-Posttest Design, desain penelitian ini melakukan

observasi sebelum dan sesudah diberikan perlakuan pada suatu kelompok.

Penilitian ini menguji perubahan-perubahan yang terjadi pada kelompok setelah

adanya eksperimen (perlakuan). Populasi yang akan diteliti adalah semua ibu yang

melahirkan bayi pada BBLR di Rumah Sakit Mitra Medika Batanghari Provinsi

Jambi tahun 2020. Pengambilan sampel akan dilakukan dalam penelitian ini

denga purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan

tertentu, pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dengan instrumen

observasi yaitu dengan mengkaji suhu tubuh dan berat badan pre dan post pada

BBLR.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR )

1. Pengertian BBLR

Berat Badan Lahir Rendah atau BBLR adalah berat saat lahir kurang

dari 2500 gram (World Health Organization, 2012). Berat Badan Lahir

Rendah atau BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari

atau sama dengan 2500 gram dengan usia kehamilan <37 minggu (Nurlaila,

2019)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Berat Badan Lahir Rendah

(BBLR) adalah bayi yang kurang berat badan dari <2500 gram Berat badan

lahir adalah berat badan yang ditimbang dalam 1 jam setelah bayi lahir. Bayi

berat lahir rendah terjadi karena kehamilan prematur, bayi kecil masa

kehamilan dan kombinasi keduanya.

2. Etiologi

Penyebab berat bayi lahir rendah dilihat dari faktor ibu menurut

Maryanti, 2011 :

a. Penyakit : Kelahiran bayi BBLR juga dipengaruhi oleh penyakit selama

kehamilan misalnya: perdarahan antepartum, trauma fisik, dan psikologis,

DM, toksemia, gravidarum dan nefritis akut.

10
11

b. Usia Ibu : Angka kejadian prematuritas tinggi ialah pada usia<20 tahun,

dan multi gravida yang jarak kelahiran terlalu dekat. Kejadian terendah

ialah pada usia antara 26-35 tahun.

c. Keadaan Sosial Ekonomi : Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap

timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial

ekonomi rendah. Hal ini disebabkan karena gizi yang kurang baik dan

pengawasan antenatal yang kurang.

d. Sebab lainnya: ibu seorang perokok, ibu peminum alcohol dan pecandu

obat narkotik.

3. Penatalaksanaan

Menurut Sudart (2010) cara menghangatkan dan mempertahankan suhu

tubuh ada 5 yaitu:

a. Kontak kulit dengan kulit : Tindakan ini dapat dilakukan pada semua bayi,

tujuannya untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat,

menghangatkan hipotermi (32-36,4̊C).

b. Kangaroo mother care : Tindakan ini bertujuan untuk menstabilkan bayi

dengan berat badan kurang dari 2500 gr terutama direkomendasikan untuk

perawatan bekelanjutan bayi dengan berat badan kurang dari 1800 gr.

Metode ini tidak dianjurkan untuk bayi yang sedang sakit berat seperti

sepsis dan gangguan nafas berat, serta tidak dianjurkan untuk ibu yang

menderita sakit berat yang tidak dapat merawat bayinya.

c. Pemancar panas : Tindakan ini untuk bayi sakit atau bayi dengan berat

badan 1500 gr atau lebih. Pemancar panas dapat dilakukan saat


12

pemeriksaan awal bayi selama dilakukan tindakan atau menghangatkan

kembali bayi hipotermi.

d. Inkubator : Penghangatan berkelanjutan bayi dengan berat kurang dari

1500 gr yang tidak dapat diberikan metode kangaroo mother care.

e. Ruangan yang hangat : Untuk merawat bayi dengan berat kurang dari

2500 gr yang tidak memerlukan tindakan diagnostik atau prosedur

pengobatan, serta tidak untuk bayi dengan sakit berat seperti sepsis dan

gangguan nafas berat.

B. Berat Bayi Lahir

1. Pengertian Berat Bayi Lahir

Berat bayi lahir adalah berat badan bayi yang di timbang dalam waktu 1

jam pertama setelah lahir, bayi lahir dengan umur kehamilan 37 minggi

sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram, cukup bulan,

lahir langsung menangis dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan)

yang berat (Dwienda, 2014).

2. Klasifikasi Berat Bayi Lahir

Menurut Jitowiyono (2010) bayi dengan BBLR dapat dibagi menjadi 2

golongan, yaitu Prematur murni dan Dismaturitas

1) Prematur murni adalah neonatus dengan usia kehamilan kurang dari 37

minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk

masa kehamilan, atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai masa

kehamilan.
13

2) Dismaturitas atau Kecil untuk masa kehamilan adalah bayi lahir dengan

berat badan kurang dari berat badan sesungguhnya untuk masa

kehamilan.

C. Suhu Tubuh

1. Pengertian suhu tubuh

Suhu adalah pengukuran keseimbangan antara panas yang dihasilkan

oleh tubuh dan panas yang hilang dari tubuh. Suhu tubuh mencerminkan

keseimbangan antara produksi dan pengeluaran panas dari tubuh yang diukur

dalam unit panas yang disebut derajat. Suhu tubuh berubah disiang hari, suhu

tubuh biasanya lebih tinggi pada sore hari dari pada dini hari. Bila anda

sangat aktif, suhu tubuh dapat lebih tinggi dari normal. Peningkatan suhu

tubuh diatas normal (diatas 37˚C) dapat berarti terjadi infeksi di suatu tempat

(Kozier, 2011).

Ada dua jenis suhu tubuh, yaitu suhu inti dan suhu permukaan. Suhu

inti merupakan suhu jaringan tubuh bagian dalam, seperti rongga abdomen

dan rongga pelvis. Suhu inti ini relatif konstan. Suhu tubuh inti yang normal

berada dalam satu rentang suhu. Suhu permukaan merupakan suhu pada kulit,

jaringan sub kutan, dan lemak. Berbeda dengan suhu inti, Suhu permukaan

akan meningkat atau menurun sebagai respon terhadap lingkungan (Kozier,

2011).

Suhu tubuh anak yang normal (dalam keadaan sehat) adalah berkisar

36- 37˚C. Suhu tubuh ini bervariasi dengan kisaran 0,5-1,0˚C. Penting diingat

bahwa suhu tubuh dapat meningkat karena beberapa faktor, seperti aktivitas
14

fisik, emosi, makan, dan ovulasi. Faktor ekstrinsik seperti memakai pakaian

tebal, pajanan terhadap suhu lingkungan yang tinggi, serta meningkatkan

kelembaban dapat juga meningkatkan suhu tubuh. Faktor-faktor ini sangat

penting pada anak-anak karena area luas permukaan tubuh relatif per unit

volumenya lebih kecil dari pada orang dewasa, oleh karena itu, permukaan

tubuh yang ada untuk mendinginkan menjadi lebih sedikit. Suhu inti tubuh

normal pada anak-anak dapat mencapai 38˚C (100,4˚F) (Sodikin, 2012).

2. Tingkatan suhu tubuh manusia menurut Sodikin (2012) :

a. Tingkatan suhu keadaan kolaps (hipotermi, suhu dibawah 25˚C).

b. Subnormal (35˚C dan dibawahnya).

c. Batas normal (35,8 ˚C - 37˚C).

d. Pireksia (37,8˚C- (rendah) – 39,5 ˚C (tinggi).

e. Hiperpireksia 39,5 ˚C atau diatasnya

3. Suhu tubuh pada anak sehat menurut Sodikin (2012) :

Tabel 2.1
Suhu tubuh anak sehat
Umur Suhu ˚C Suhu ˚F
3 bulan 37,5 99,4
1 tahun 37,7 99,7
3 tahun 37,2 99,6
5 tahun 37 98,6
7 tahun 36,8 98,3
9 tahun 36,7 98,1
15 tahun 36,6 97,8
Sumber : Sodikin, 2012

4. Cara mengukur suhu tubuh.

a. Oral : Pada usia 5 sampai 6 tahun, anak dapat memahami bagaimana

menahan thermometer dengan aman di dalam mulutnya. Bila anak


15

mempunyai sesuatu untuk dimakan atau diminum, tunggu 15 menit

sebelum anda mengukur suhu oral.

1) Beritahu anak mengapa anda ingin mengukur suhunya.

2) Cuci tangan anda.

3) Siapkan termometer dan jam.

4) Lihat termometer untuk memastikan pembacaannya berada dibawah

35,6˚C.

5) Tempatkan termometer di dalam mulut, jauh dibelakang, dibawah

lidah. Beritahu anak untuk tetap menutup mulutnya, bernafas melalui

hidung dan tidak bicara.

6) Pastikan anak untuk tidak menggigit thermometer.

7) Perhatikan waktunya.

8) Beritahu anak bahwa termometer harus tetapdi dalam mulut selama 2

sampai 3 menit. Bacakan cerita atau tonton TV bersama anak.

9) Angkat termometer dan baca.

10) Puji anak atas kerjasamanya.

11) Catat pembacaan termometer dan waktunya.

12) Bersihkan termometer dengan air dan sabun.


16

b. Rektal : Perhatikan bahwa suhu rektal tidak boleh diukur jika anak

mengalami diare atau kurang dari 1 tahun. Dalam mengukur suhu tubuh

anak, gunakan prosedur berikut :

1) Beri tahu anak bahwa anda akan mengukur suhunya.

2) Cuci tangan anda.

3) Siapkan thermometer dan jam (bersihkan popok bila perlu).

4) Lihat termometer untuk memastikan bahwa pembacaanya kurang

dari 35,6˚C.

5) Ukur 2,5cm pada termometer atau 1/6 dari panjang termometer.

6) Tempatkan anak pada posisi telungkep atau terlentang dengan kedua

kaki diangkat.

7) Celupkan ujung perak termometer kedalam pelumas seperti jeli

petroleum (Vaseline)

8) Masukan ujung perak termometer ke dalam anus anak.

9) Jangan memasukan termometer lebih dari 2,5 cm.

10) Lihat jam.

11) Pertahankan thermometer pada tempatnya selama 2 sampai 3menit.

Pegang anak agar tidak memutar tubuhnya.

12) Angkat termometer dan baca.

13) Puji anak atas kerjasamanya.

14) Cuci tangan anda dengan sabun dan air. Hitung sampai 10 saat

mencuci kemudian bilas dengan air bersih dan keringkan dengan

popok bersih atau handuk kecil.


17

15) Bersihkan termometer dengan air dingin air dingin dan sabun.

16) Catat hasil pembacaan termometer dan waktunya.

c. Aksila : Pengukuran suhu aksila (ketiak) merupakan pengukuran suhu

yang paling aman untuk memeriksa apakah anak menderita demam.

1) Beritahu anak bahwa anda akan mengukur suhunya.

2) Cuci tangan anda.

3) Siapkan termometer untuk memastikan bahwa pembacaannya berada

di bawah 35,6˚C.

4) Tempatkan termometer di bawah lengan anak. Ujung termometer

perak harus ditengah ketiak anak.

5) Tahan lengan anak dengan kuat pada tubuhnya.

6) Lihat jam.

7) Temometer harus pada tempatnya selama 3 sampai 4 menit. Untuk

membantu agar waktu tampak lebih cepat, bacakan cerita atau

menonton televisi bersama anak. Pastikan bahwa anda memegang

termometer dengan aman

8) Angkat termometer dan baca.

9) Puji anak atas kerjasamanya.

10) Catat pembacaan thermometer dan waktunya.

11) Bersihkan termometer dengan air dingin dan sabun (Sari, 2018).
18

6. Proses kehilangan panas

Panas akan keluar dari tubuh melalui proses radiasi, konduksi, konveksi

dan evaporasi (Rantasari, 2019) :

a. Radiasi adalah cara untuk mentransfer panas dari permukaan suatu objek

ke pemukaan objek yang lain tanpa kontak diantara keduanya. Satu objek

lebih panas dari objek yang lain, maka ia akan kehilangan panasnya

melalui radiasi. Misalnya, seseorang yang berdiri didepan kulkas yang

terbuka, maka akan kehilangan panas tubuhnya melalui radiasi

b. Konduksi adalah proses perpindahan panas dari satu molekul ke molekul

yang lain yang suhunya lebih rendah. Perpindahan panas secara konduksi

tidak dapat terjadi tanpa adanya kontak langsung antara molekul tersebut

dan biasanya menyebabkan kehilangan panas yang sangat sedikit, kecuali

misalnya ketika tubuh direndam dalam air yang dingin. Jumlah

perpindahan panas bergantung pada perbedaan suhu dan jumlah serta

lama kontak antara molekul.

c. Konveksi merupakan penyebaran panas melalui aliran udara. Tubuh

biasanya memiliki sedikit udara hangat di sekelilingnya. Udara hangat ini

naik dan diganti oleh udara yang lebih dingin, sehingga individu akan

selalu kehilangan sedikit panas lewat konveksi.

d. Evaporasi adalah proses evaporasi kelembaban yang konitnu dari saluran

pernafasan, mukosa mulut, dan kulit. Kehilangan air yang terus menerus

dan tidak terdeteksi ini disebut kehilangan air yang tidak disadari

(insensible water loss), dan kehilangan panas yang terjadi bersamaan


19

dengan proses itu disebut sebagai kehilangan panas yang tidak disadari

(insensible heat loss), Sepuluh persen dari kehilangan panas basal adalah

insensible heat loss. Ketika suhu tubuh meningkat, vaporasi

menyebabkan kehilangan panas yang lebih besar.

D. Metode Kangaroo Mother Care

1. Pengertian Kangaroo Mother Care

Perawatan metode kangguru merupakan alternatif metode perawatan

bayi baru lahir. Metode ini adalah salah satu teknik yang tepat dan sederhana,

serta murah dan sangat dianjurkan untuk perawatan pada bayi BBLR. Metode

ini tidak hanya menggantikan inkubator, tetapi juga dapat memberikan

manfaat lebih yang tidak didapat dari pemberian inkubator. Pemberian

metode kangguru ini dirasa sangat efektif untuk memenuhi kebutuhan bayi

yang sangat mendasar seperti kehangatan, air susu ibu, perlindungan dari

infeksi, stimulasi, keselamatan dan kasih sayang (Maryunani, 2013).

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui manfaat dari

pemberian metode kangguru, sejak tahun 1996 Indonesia telah melakukan

penerapan metode ini dibeberapa provinsi, diantaranya (Maryunani, 2013):

a. Penelitian telah dilakukan di Jawa Barat dengan membandingkan hasil

dari pemberian metode kangaroo pada bayi BBLR kurang dari 2500

gram dengan pemberian buli-buli atau botol air panas, dibendong di

bawah lampu panas ataupun boks bayi yang dihangatkan. Hasil yang

diperoleh dari pemberian metode kangguru menunjukkan hasil yang


20

lebih baik. Metode kangguru nyatanya lebih baik dalam usaha

meningkatkan suhu tubuh serta pempertahankan suhu tubuh optimal bayi.

b. Studi mengenai penerimaan wanita terhadap pelaksanaan metode

kangguru telah dilakukan di Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara.

Hasilnya, secara budayapelaksanaan metode kangguru ini dapat diterima,

pemberian metode ini juga memberi hasil yang cukup baik bagi bayi

BBLR karena sangat berpengaruh pada perkembangan suhu tubuh dan

kenaikan berat badan bayi.

2. Jenis Perawatan Metode Kangguru

Pemberian metode kangguru terdapat dua jenis, perawatan metode

kangguru intermitten dan kontinyu:

a. Perawatan Metode Kangguru Intermitten

Metode ini biasanya dilakukan pada fasilitas unit perawatan khusus

dan intensif. Metode ini tidak diberikan secara terus menerus sepanjang

waktu, hanya diberikan ketika ibu mengunjungi bayi yang masih berada

dalam inkubator dengan durasi minimal satu jam secara terus menerus

dalam satu hari.

Metode ini dapat dimulai pada bayi yang sakit, yang berada dalam

proses penyembuhan tetapi masih memerlukan pengobatan medis (seperti

infus, tambahan oksigen dengan konsentrasi rendah) (Maryunani, 2013)

b. Perawatan Metode Kangguru Kontinyu

Metode kontinyu ini bisa dilakukan di unit rawat gabung atau

ruangan yang diperuntukan untuk perawatan kangguru ataupun dilakukan


21

di rumah. Pada metode kontinyu ini dapat dilakukan sepanjang waktu.

Perawatan kontinyu dapat diterapkan apabila kondisi bayi dalam kondisi

stabil yakni bayi dapat bernafas secara alami atau spontan tanpa oksigen

bantuan (Maryunani, 2013).

c. Lama dan jangka waktu penerapan Kangaroo Mother Care

Secara bertahap lama waktu penerapan metode kangguru

ditingkatkan dari:

1) Mulai dari perawatan belum menggunakan perawatan metode

kangguru

2) Dilanjutkan dengan pemberian perawatan metode kangguru

intermitten

3) Kemudian diikuti dengan perawatan metode kangguru kontinyu

(Maryunani, 2013)

Pelaksanaan metode kangguru yang singkat kurang dari 60 menit

dapat membuat bayi stress. Strategi yang dapat dilakukan untuk

menghindari hal tersebut antara lain:

1) Jika bayi masih berada di fasilitas pelayanan kesehatan, maka lebih

baik bayi diletakkan di inkubator.

2) Apabila bayi telah dilakukan pemulangan, anggota keluarga lain dapat

menggantikan ibu dalam melaksanakan perawatan metode kangguru

(Maryunani, 2013).

Pemberian metode kangguru dapat dihentikan, apabila :

1) Berat badan bayi minimal >2500 gram


22

2) Bayi mampu menetek dengan kuat seperti bayi besar dan sehat

3) Suhu tubuh bayi stabil 37̊C (Maryunani, 2013).

d. Tujuan Perawatan Metode Kangguru

Tujuan dari pemberian metode kangaroo mother care adalah untuk

menjaga agar bayi tetap hangat. Metode ini dapat dimulai segera setelah

bayi lahir atau setelah bayi stabil. Metode ini dapat dilakukan di rumah

sakit maupun di rumah. Pemberian metode ini dapat terus dilakukan

meskipun bayi belum bisa menyusui (Sudarti, 2010).

e. Pelaksanaan Perawatan Metode Kangguru

Pelaksanaan metode kangguru adalah skin to skin atau kulit dengan

kulit antara bagian depan tubuh bayi dengan dada dan perut ibu dalam baju

kangguru. adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

Tahap persiapan.

a. Jelaskan prosedur dan demonstrasikan kepada keluarga bagaiman

cara perawatan Kangaroo Mother Care

b. Persiapan alat: Pakaian yang dibuat model Thari memanjang, kain

model kantong, kain segitiga, kain panjang batik dibuat gendongan

yang nyaman dipakai untuk bayi

Tahap pelaksanaan :

1. Cuci tangan sebelum menggendong

2. Pakaian bayi dalam gendongan Kangaroo Mother Care pakai popok,

kaos kaki

3. Masukkan ke dalam gendongan Kangaroo Mother Care


23

4. Bayi diletakkan tegak lurus di dada ibu

5. Kulit bayi menempel pada kulit ibu

6. Letakkan antara kulit dada ibu dan bayi seluas-luasnya

7. Pertahankan posisi bayi dengan kain gendongan

8. Sebaiknya ibu atau bapak memakai baju longgar dan berkancing

depan dan tidak menggunakan pakain dalam (BH atau kaos dalam

laki-laki. Kalau perlu ikat bagian bawah agar bayi tidak Jatuh

9. Kepala bayi sedikit tengadah supaya bayi dapat bernafas dengan baik

dan ibu dapat memandang atau menatap mata bayi

10. Atur posisi menggendong agar nyaman dan tidak jatuh, ikatan

gendongan harus kuat untuk menghindari bayi jatuh ketika ibu selesai

duduk kemudian berdiri.

11. Saat tidur sebaiknya posisi kepala lebih tinggi

12. Menganjurkan ibu tetap menyusui setiap 1-2 sekali

E. Kerangka Teori

Kerangka teori ini merupakan kerangka untuk menjawab penilitian.

Kerangka teori adalah kesimpulan dari tinjauan pustaka yang berisi tentang

konsep-konsep teori yangberhubungan dengan penelitian yang dilaksanakan

(Notoatmodjo, 2010). Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka kerangka teori

yang mendasari penelitan ini adalah sebagai berikut


24

Ibu yang melahirkan bayi


BBLR

a. Kontak Kulit kekulit


a. Penyakit,
b. Usia Ibu b. Kangaroo Mother Care
c. Keadaan Sosial
Ekonomi rendah.
d. Sebab lainnya: ibu
seorang perokok, Pencegahan a. Pemancar Panas
ibu peminum
alcohol dan pecandu d. Ruangan yang hangat
obat narkotik.
e. Inkubator

Bayi<2500
Tingkatan suhu tubuh
a. Tingkatan suhu keadaan kolaps
(hipotermi, suhu dibawah
25˚C).Subnormal (35˚C dan
dibawahnya).
Berat Badan Bayi Suhu Tubuh b. Batas normal (35,8 ˚C - 37˚C).
Lahir c. Pireksia (37,8˚C- (rendah) – 39,5
˚C (tinggi).
d. Hiperpireksia 39,5 ˚C atau
1) Prematur Murni Cara Mengukur diatasnya.
daerah Aksila
2) Dismaturia
Kangaroo Mother
Care

Skema 2.1. Kerangka Teori


(Maryunani, 2011, Kozier, 2011, Sudarti, 2010,Sodikin 2013)
25
BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

A. Kerangka Konseptual Penelitian

Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan

bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis

beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah, dan dalam penelitian ini

kerangka konsep yang akan mengarahkan peneliti dalam melakukan penelitian

(Hidayat, 2010). Menurut Sugiyono (2011) Variabel bebas (independent) adalah

variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau

timbulnya variabel terikat (dependent). Variabel terikat (dependent) merupakan

variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas

(independent). Dalam penelitian ini penulis mengelompokan menjadi dua variabel

yaitu:

1. Variabel Independent

Variabel independen adalah sebagai berikut :

a. Penerapan Kangaroo Mother Care

2. Variabel Dependent

Variabel dependent di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Peningkatan suhu tubuh pada BBLR

b. Peningkatan berat badan pada BBLR

26
27

Variabel Independen Variabel Dependen

Kangaroo Mother Peningkatan suhu tubuh dan


Care Berat Badan pada BBLR

(Skema 3.1 Kerangka Konsep)

B. Defenisi Operasional

Defenisi operasional adalah mendefenisikan variable secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk

melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau

fenomena (Hidayat, 2012).

Tabel 3.1
Defenisi operasional

N Defenisi Cara ukur Hasih Skala


Variabel Alat ukur
O operasional ukur ukur
1 1. Dependen - Suhu adalah Menggunakan Mengguna 36-
Suhu pengukuran Termometer kan 37˚C
tubuh keseimbangan suhu aksila termomete
antara panas r suhu
yang dihasilkan aksila
oleh tubuh dan
panas yang
hilang dari
tubuh. Derajat
hipotermia
diklasifikasikan
sebagai ringan
(suhu tubuh 32-
35˚C)
- Berat bayi lahir Timbangan Mengguna >2500 Rasio
Berat adalah berat Bayi kan gram
Badan badan bayi yang timbangan
BBLR di timbang bayi
dalam waktu 1
jam pertama
setelah lahir.
28

2 2. Independen Perawatan kain, dan baju Lembar


Meto metode kangguru untuk observasi
de Kangaroo merupakan Kangaroo
Mother Care alternatif metode Mother Care ,
perawatan bayi air savlon, air
baru lahir. sabun, aquades,
Metode ini adalah tissue, kapas,
salah satu teknik DTT.
yang tepat dan
sederhana, serta
murah dan sangat
dianjurkan untuk
perawatan pada
bayi BBLR.
(Maryunani,
2013).

Pemberian metode kangguru ini dirasa sangat efektif untuk memenuhi

kebutuhan bayi yang sangat mendasar seperti kehangatan, air susu ibu,

perlindungan dari infeksi, stimulasi, keselamatan dan kasih sayang

(Maryunani, 2013).

Cara Kangaroo Mother Care

a. Informent consent, menjelaskan pelaksanaan Kangaroo Mother Care

b. Cuci tangan sebelum menggendong

c. Pakaian bayi dala gendongan Kangaroo Mother Care pakai popok,

kaos kasi

d. Masukkan kedalam gendongan Kangaroo Mother Care

e. Kulit bayi menempel kekulit ibu

f. Letakkan antara kulit dada ibu dan bayi seluas-luasnya

g. Pertahankan posisi bayi dengan kain gendongan


29

h. Sebaiknya ibu atau bapak memakai baju konggar dan berkancing depan

dan tidak menggunakan pakaian dalam (BH atau Kaos dalam laki-laki)

kalau perlu ikat bagian bawah agar bayi tidak jatuh

i. Kepala bayi sedikit mengadahsupaya bayi dapat bernafas dengan baik

dan ibu dapat memandang atau menatap mata bayi

j. Atur posisi menggendong agar nyaman dan tidak jatuh ketika ibu

selesai duduk kemudian berdiri

k. Saat tidur sebaiknya posisi kepala lebih tinggi

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis Merupakan suatu simpulan sementara atau jawaban sementara

dari suatu penelitian. Hipotesis dari penelitian ini adalah :

Ha : Ada pengaruh sebelum dan sesudah Melakukan Metode Kaguru Terhadap

Penigkatan Suhu dan Berat Badan pada BBLR

Ho : Tidak Ada Pengaruh sebelum dan sesuda melakukan Kangaroo Mother Care

Terhadap Penigkatan Suhu dan Berat Badan pada BBLR


30
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah pre eksperiment yaitu menggunakan seluruh objek

dalam kelompok utuh untuk diberi perlakuan. Penelitian ini menggunakan dengan

pendekatan One-grup pretest and post test design yaitu mengungkapkan

hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek. Kelompok

diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah

intervensi (Nursalam, 2011).

Rancangan One-grup pretest and post test design


Subjek Pre test Intervensi Post test
K O1 X O2

Keterangan:
K = Subjek bayi BBLR
O1 = Pengukuran Suhu dan Berat badan sebelum melakukan Kangaroo

Mother Care

X = Intervensi Kangaroo Mother Care

O2 = Pengukuran Suhu dan Berat badan setelah melakukan Kangaroo

Mother Care

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang telah diteliti.

Populasi dapat berupa orang, benda, gejala atau wilayah yang ingin diketahui

oleh peneliti (Kartika, 2017). Populasi telah diteliti adalah semua ibu pasien

31
yang memiliki bayi yang BBLR diruangan Perinatologi di Rumah Sakit Mitra

Medika Batanghari, Provinsi Jambi Tahun 2020.

32
33

2. Sampel

Sampel sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap

mewakili seluruh populasi Pengambilan sampel dilakukan dalam penelitian

ini purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan

tertentu Jumlah anggota sampling antara 16 responden. Besar rumus sampel

menggunakan rumus Federer. (Notoatmodjo, 2012):

(n-1) (t1)≥15
Keterangan : t = banyaknya kelompok perlakuan

n = jumlah sampel

(n-1 (2-1)≥ 15

= (n-1) 1 ≥ 15=

n ≥ 15+1 = n = ≥16

Berdasarkan rumus di atas, didapatkan jumlah subyek atau sampel

minimal yang dibutuhkan adalah 16 orang.

Adapun kriteria inklusi dan ekslusi sebagai berikut:

Kriteria inklusi subyek penelitian ini adalah:

1. Klien yang suhu tubuh 32-35˚C dan Berat Badan <2500 gram Berat bayi lahir

adalah berat badan bayi yang di timbang dalam waktu 1 jam pertama setelah

lahir

2. Ibu Klien bersedia menjadi responden secara tertulis

Kriteria Eksklusi subyek penelitian ini:

13) Pasien tidak kooperatif

14) Klien yang tidak bersedia menjadi responden secara tertulis


34

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan diruangan Perinatologi di Rumah Sakit

Mitra Medika Batanghari, Provinsi Jambi Tahun 2020. Waktu penelitian pada

bulan September 2020.

D. Etika Penelitian

Meurut Kartika (2017) Komite Nasional Etika Penelitian telah membagi

empat etika yang harus ada dalam melakukan penelitian kesehatan yaitu:

2. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity).

Peneliti telah mempertimbangkan hak-hak subyek untuk mendapatkan

informasi yang terbuka berkaitan dengan jalannya penelitian serta

berpartisipasi dalam kegiatan penelitian (autonomy). Beberapa tindakan yang

terkait dengan prinsip menghormati harkat dan martabat manusia adalah

peneliti mempersiapkan formulir persetujuan subyek (informed consent).

3. Menghormati privasi dan kerahasiaan subyek penelitian (respect forprivacy

and confidentiality).

Setiap manusia memiliki hak-hak dasar individu termasuk privasi dan

kebebasan individu. Pada dasarnya penelitian akan memberikan akibat

terbukanya informasi individu termasuk informasi yang bersifat pribadi.

Sedangkan, tidak semua orang menginginkan informasinya diketahui

olehorang lain, sehingga peneliti perlu memperhatikan hak-hak dasar individu

tersebut. Dalam aplikasinya, peneliti tidak boleh menampilkan informasi

mengenai identitas baik nama maupun alamat asal subyek dalam kuesioner

untuk menjaga anonimitas dan kerahasiaan identitas subyek. Peneliti dapat


35

menggunakan koding (inisial atau identification number) sebagai pengganti

identitas responden.

4. Keadilan dan inklusivitas (respect for justice and inclusiveness).

Prinsip keadilan memiliki konotasi keterbukaan dan adil. Untuk

memenuhi prinsip keterbukaan, penelitian dilakukan secara jujur, hati-hati,

profesional, berperikemanusiaan, dan memperhatikan faktor-faktor ketepatan,

keseksamaan, kecermatan, intimitas, psikologis serta perasaan religius subyek

penelitian. Lingkungan penelitian dikondisikan agar memenuhi prinsip

keterbukaan yaitu kejelasan prosedur penelitian. Keadilan memiliki

bermacam-macam teori, namun yang terpenting adalah bagaimanakah

keuntungan dan beban harus didistribusikan diantara anggota kelompok

masyarakat. Prinsip keadilan menekankan sejauh mana kebijakan penelitian

membagikan keuntungan dan beban secara merata atau menurut kebutuhan,

kemampuan, kontribusi dan pilihan bebas masyarakat.

5. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing harms

and benefits)

Peneliti telah melaksanakan penelitian sesuai dengan prosedur

penelitian guna mendapatkan hasil yang bermanfaat semaksimal mungkin

bagi subyek penelitian dan dapat digeneralisasikan di tingkat populasi

(beneficence) Peneliti meminimalisasi dampak yang merugikan bagi subyek

(nonmaleficence).
36

E. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data atau Instrument penelitian yang akan digunakan

dalam penelitian ini adalah menggunakan Termometer, Timbangan Berat Badan

Bayi Lahir serta lembar observasi yang berisi pengkajian suhu dan berat badan

bayi lahir sebelum dan sesudah intervensi. Instrumen pengukuran yang digunakan

untuk pengumpulan data berupa termometer suhu aksila, kain, dan baju untuk

Kangaroo Mother Care , air savlon, air sabun, aquades, tissue, kapas, DTT. Selain

itu juga menggunakan status pasien, lembar isian data sempel, lembar kesediaan

menjadi responden dan lembar observasi untuk mencatat hasil pengukuran suhu

badan bayi.

F. Prosedur Pengumpulan Data

a) Data primer

Data yang diperoleh langsung dari ibu responden, yaitu ibu yang

memiliki bayi BBLR yang akan dilakukan Kangaroo Mother Care .

b) Data sekunder

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti dengan

tahap pertama mengumpulkan ibu responden dalam suatu tempat untuk

selanjutnya dilakukan Kangaroo Mother Care , kemudian peneliti

mengajarkan prosedur Kangaroo Mother Care , lalu melakukan pengukuran

suhu tubuh pada responden sebelum diberikan metode Kangaroo Mother Care

yang dicatat di lembar observasi, setelah itu melakukan pemberian metode

Kangaroo Mother Care sebanyak satu kali dalam sehari dengan kurun waktu

15 menit sampai 30 menit terhadap responden. Setelah selesai melakukan


37

Kangaroo Mother Care , kembali melakukan pengukuran suhu tubuh terhadap

responden lalu dicatat di lembar observasi untuk mengetahui ada tidaknya

pengaruh Kangaroo Mother Care pada BBL.

c) Langkah-langkah pengumpulan data

1) Mengurus izin pengambilan data dan penelitian dari kampus kemudian

diberikan KeDinas Kesbangpol dan Rumah Sakit Mitra Medika

BatangHari Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.

2) Menemui reponden yang memenuhi kriteria inklusi dan mengambil

data responden di Rumah Sakit Mitra Medika BatangHari Kabupaten

Batanghari, Provinsi Jambi diruangan Perinatologi.

3) Setelah itu peneliti memperkenalkan diri, maksud dan tujuan penelitian.

Peneliti meminta ibu responden menandatangani lembar informed

consent bagi responden yang bersedia.

4) Setelah klien bersedia menjadi responden kemudian melakukan kontrak

waktu dengan ibu responden yang akan dilakukan tindakan sebelum

dan sesudah melakukan Kangaroo Mother Care pada responden

tersebut.

5) Peneliti ini dibantu oleh 2 orang perawat yang bekerja di ruangan

perinatologi dan telah dijelaskan tentang Kangaroo Mother Care

tersebut.

6) melakukan pemberian Kangaroo Mother Care sebanyak satu kali dalam

sehari
38

7) Intervensi Kangaroo Mother Care dengan kurun waktu 15 menit

sampai 30 menit terhadap responden

8) Setelah selesai melakukan Kangaroo Mother Care , kembali melakukan

pengukuran suhu tubuh terhadap responden dilakukan 1 menit setelah

diberikan intervensi lalu dicatat di lembar observasi untuk mengetahui

ada tidaknya pengaruh Kangaroo Mother Care pada BBL

G. Pengolahan Data dan Analisa Data

15) Pengolahan data

Data yang dikumpulkan dari hasil dokumentasi dari pengukuran

kemudian diolah dengan tahap-tahap sebagai berikut:

b. Editing

Langkah ini dilakukan dengan maksud mengantisipasi kesalahan dari

data yang dikumpulkan, juga memonitor jangan sampai terjadi

kekosongan dari data yang dibutuhkan.

c. Coding

Coding Merupakan usaha untuk mengelompokkan data menurut

variabel penelitian. Coding dilakukan untuk mempermudah dalam proses

tabulasi dan analisa data selanjutnya.

d. Proccesing

Proccesing Merupakan pemprosesan data yang dilakukan dengan

cara meng-entry data dari lembar observasi ke paket program computer.

e. Cleaning
39

Cleaning Merupakan pengecekan kembali data yang sudah di entry

dengan missing data, variasi data dan konsistensi data.

f. Tabulating

Kegiatan memasukkan data hasil penelitian kedalam tabel

kemudian diolah dengan bantuan komputer

2. Analisa Data

Analisa data merupakan analisis terhadap data yang berhasil

dikumpulkan oleh peneliti melalui perangkat metodelogi tertentu. Dalam

penelitian ini, data yang sudah terkumpul selanjutnya diolah dan dianalisis

dengan teknik statistik. Proses pemasukan data dan pengolahan data

menggunakan aplikasi perangkat lunak komputer.

a. Analisa Univariat

Analisa Univariat merupakan proses analisis data pada tiap

variabelnya. Pada penelitian ini analisis univariat dilakukan terhadap

variabel dari hasil penelitian, analisa ini akan menghasilkan distribusi dan

frekuensi dari tiap variabel yang diteliti.

b. Analisa Bivariat

Setelah data-data tersebut ditabulasi, maka dilakukan interpretasi

terhadap data yang terkumpul dengan menggunakan komputerisasi.

Untuk melihat pengaruh sebelum dan sesudah melakukan intervensi

Kangaroo Mother Care terhadap suhu tubuh dan berat badan bayi BBLR

dilakukan dengan Paired t test (uji T dependen). Sebelum dilakukan

Paired t test data terlebih dahulu dilakukan uji normalitasnya. Uji


40

normalitas menggunakan uji saphiro-wilk karena termasuk penelitian uji

parametrik yang memiliki sampel kecil. Dan jika data tidak terdistribusi

dengan normal maka menggunakan uji nonparametrik yaitu rumus

statistik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji wilcoxon dengan

tingkat signifikasi <0,05. Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah

ada pengaruh Kangaroo Mother Care terhadap peningkaan suhu tubuh

dan berat badan bayi pada BBLR (Nursalam, 2011).


41

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, 215. Pengaruh penerapan Kangaroo Mother Care dengan peningkatan


berat badan bayi lahir rendah (BBLR) di RSU PKU Muhammadiyah
Gombong. Jurnal Involusi Kebidanan

Brunner dan Suddart.2010.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8.


Jakarta : EGC

Dwienda, 2014. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi/Balita dan Anak
Prasekolah Untuk Para Bidan. Yogyakarta : Deepublish

Fatimah, 2018. Pengaruh Penerapan KMC terhadap Peningkatan Berat Badan


pada Bayi Berat Lahir Rendah di RSUD Ulin Banjarmasin. Banjarmasin:
Jurnalof Midwifery and Reproduction Vol 2 no 1 ( september 2018 )

Hartini, 2011. Pengaruh Kangaroo Mother Care terhadap suhu tubuh bayi yang
mengalami demam di RS Telogorejo dan RB mardi Rahayu
Semarang.Tesis: Depok

Heriyeni, 2018. Pengaruh metode kangguru terhadap stabiltas suhu tubuh bayi di
Ruang Perinatologi Rumah Sakit Daerah Bengkalis.bengkalis : Jurnal
Menara Ilmu

Hidayat, 2012.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi. Konsep dan


Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Hidayat, 2012. Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan. Edisi 2. Jakarta:


Salemba Medika

Jitowinoyo Sugeng, Weni Kristiyanasari. (2011). Asuhan Keperawatan Neonatus


dan Anak. Yogyakarta: Nuha Medika

Kartika, 2017. Buku Ajar Dasar Dasar Riset Keperawatan Dan Pengolahan Data
Statistik. Jakarta : Trans Info Media

Lydia, 2019. pengaruh Perawatan Metode Kangguru Terhadap Kestabilan Suhu


Tubuh Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)Di Ruangan Perinatologi
Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi. Jurnal Human Care: Bukittinggi
42

Maryunani,dkk.2015. Asuhan Bayi Dengan Berat Badan Bayi Lahir Rendah


(BBLR). Jakarta : Trans Info Media

Mori, R., Khanna, R., Pledge, D. & Nakayama, T. (2010). Meta-analysis of


physiological effects of skin-to-skin contact for newborns and mothers.
UKPediatrics international, 52, 161–170.

Mustya, 2017. pengaruh metode KMC terhadap suhu tubuh pada BBL di RSU
PKU Muhammadiyah Bantul tahun 2017. Yogyakarta : Naskah Publikasi

Nelson, 2010. Patofisiologi Berat Badan Lahir Rendah. Jakarta: EGC

Notoatmodjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:


RinekaCipta

Notoatmodjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:


RinekaCipta

Nurlaila, 2019. Buku Panduan Kangaroo Mother Care . Yogyakarta : PT.Lautika


Nauvalitera

Nursalam, 2011. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


keperawatan. Edisi2. Jakarta : Salemba Medika

Proverawati, 2010. BBLR Plus Asuhan Keperawatan Dan Materi Pijat Bayi.
Yogyakarta : Nuha Medika.

Ratnasari, 2019. Mengenal HIPOTERMIA- Panduan Pertolongan Pertama Pada


Hipotermia. Semarang : Menoreh Pustaka Ilmu

Riskesdas, 2018. Hasil Utama RISKESDAS 2018- Badan penelitian dan


pengembangan kesehatan. Siwabessy- 02112018

Sudarti. 2012. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi dan Balita. yogyakarta : Nuha
Medika
43

FORMAT BIMBINGAN PROPOSAL /HASIL SKRIPSI


PRODI..................IKES PRIMA NUSANTARA BUKITTINGGI

Nama Mahasiswa :
NIM :
Judul Skripsi :

Nama Pembimbing :

Tanggal Bimbingan Materi Bimbingan Tandatangan Pembimbing


Selasa, 12 Mei 2020 Acc Judul

Rabu, 20 Mei 2020 1. Revisi BAB I, lanjut BAB


II
2. Sesuaikan. Sistematika
penulisan dengan buku
panduan

Rabu, 10 Juni 2020 1. BAB I Masukan penelitian


orang lain
2. BAB I dan BAB II
gunakan referensi minimal
2010

Minggu, 14 Juni 2020 1. Revisi BAB I dan BAB II


2. Lanjut BAB III dan BAB
IV
3. Lampirkan daftar pustaka
dan instrumen penelitian

Jum’at, 03 Juli 2020 1. Acc BAB II


2. BAB III dan BAB IV
sesuaikan dengan buku
panduan

Senin, 14 September 1. Untuk definisi operasional


2020 pada variabel dependen
antara suhu tubuh dan
44

berat badan dipisahkan


2. Untuk variabel independen
untuk skala ukur metode
kangguru ditulis –saja
(kosongkan)

DATA DEMOGRAFI

PENGARUH Kangaroo Mother Care TERHADAP PENINGKATAN SUHU


TUBUH DAN PENINGKATAN BERAT BADAN PADA BBLR DIRUAH
SAKIT MITRA MEDIKA BATANGHARI-JAMBI 2020

Petunjuk : Jawaban akan diisi oleh peneliti berdasarkan hasil


wawancara
dengan responden ditulis pada tempat yang disediakan
DATA DEMOGRAFI BAYI
1. Usia bayi :
2. Jenis kelamin :
3. Perempuan :
4. Laki-laki :

DATA DEMOGRAFI ORANGTUA


1. Usia ibu :.........Tahun
2. Usia bapak :.........Tahun
3. Anak keberapa :..........
Perawat utama bayi
Orangtua : ya =1
Nenek/ Pengasuh/babysister : tidak =0

4. Pendidikan :
5. Pekerjaan :
6. Pengalaman mempunyai bayi sebelumnya :

Jenis persalinan
1. SC
2. Normal pervaginam
45

LEMBAR OBSERVASI

PENGARUH Kangaroo Mother Care TERHADAP PENINGKATAN


SUHU TUBUH DAN PENINGKATAN BERAT BADAN PADA BBLR
DIRUAH
SAKIT MITRA MEDIKA BATANGHARI-JAMBI 2020

Petunjuk : Jawaban akan diisi oleh peneliti


Pengukuran suhu tubuh dan berat badan Sebelum dan Sesudah Intervensi
Sebelum Intervensi Sesudah Intervensi
Kes Kes
No Jam Suhu dan Berat Badan Suhu dan Berat Badan
Pagi Sore Pagi Sore
1 09.00 S : S : S : S : S : S :
wib BB : BB : BB : BB : BB : BB :
2 17.00 S : S : S : S : S : S :
wib BB : BB : BB : BB : BB : BB :
1 09.00 S : S : S : S : S : S :
wib BB : BB : BB : BB : BB : BB :
2 17.00 S : S : S : S : S : S :
wib BB : BB : BB : BB : BB : BB :
1 09.00 S : S : S : S : S : S :
wib BB : BB : BB : BB : BB : BB :
2 17.00 S : S : S : S : S : S :
wib BB : BB : BB : BB : BB : BB :
43

Lembar Observasi Metode Kangguru

Daftar Tilik tahap – tahap pelaksanaan Kangaroo Mother Care (Hartini,


2011)
Tujuan : Meningkatkan SuhuTubuh dan Berat Badan

Tahap persiapan Ya Tidak


a. Jelaskan prosedur dan demonstrasikan kepada
keluarga bagaiman cara perawatan Kangaroo Mother Care
b. Persiapan alat: Pakaian yang dibuat model Thari memanjang, kain
model kantong, kain segitiga, kain panjang batik dibuat
gendongan yang nyaman dipakai untuk bayi

Tahap pelaksanaan :
a. Cuci tangan sebelum menggendong
b. Pakaian bayi dalam gendongan Kangaroo Mother Care pakai
popok, kaos kaki
c. Masukkan ke dalam gendonganKangaroo Mother Care
d. Bayi diletakkan tegak lurus di dadaibu
e. Kulit bayi menempel pada kulit ibu
f. Letakkan antara kulit dada ibu dan bayi seluas-luasnya
g. Pertahankan posisi bayi dengan kaingendongan
h. Sebaiknya ibu atau bapak memakai baju longgar dan berkancing
depan dan tidak menggunakan pakain dalam (BH atau kaos
dalam laki-laki. Kalau perlu ikat bagian bawah agar bayi tidak
Jatuh
i. Kepala bayi sedikit tengadah supaya bayi dapat bernafas dengan
baik dan ibu dapat memandang atau menatap mata bayi
j. Atur posisi menggendong agar nyaman dan tidak jatuh, ikatan
gendongan harus kuat untuk menghindari bayi jatuh ketika ibu
selesai duduk kemudian berdiri.
k. Saat tidur sebaiknya posisi kepala lebih tinggi
l. Menganjurkan ibu tetap menyusui setiap 1-2 sekali
47