Anda di halaman 1dari 14

RESUME MANAJEMEN KEPERAWATAN

“Konsep Kolaborasi”

Oleh :

REVINA AGUSTINA

(183110230)

3B

Dosen pembimbing :

Ns. Yessi Fadriyanti, S.Kep, M.Kep

POLTEKKES KEMENKES PADANG

PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG


2020
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadiran Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepada kami. Semoga sholawat beserta salam senantiasa tercurahkan
kepada nabibesar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya, dan juga kepada
para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Resume ini disusun sebagai salah satu
syarat untuk menyelesaikan tugas dari mata kuliah Manajemen Keperawatan.

Dalam menyelesaikan makalah kami banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan


serta arahan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu pada kesempatan ini kami ingin
menyampaikan ucapan terimakasih . Walaupun pelaksanaan penulisan makalah ini telah
dilakukan secara maksimal, namun makalah ini tidak luput dari kekurangan dan kekeliruan.
Karena itu kritikan dan saran yang bersifat membangun dalam penyempurnaan makalah ini
sangat di harapkan.

Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semua pihak terutama buat
kami sendiri. Akhirnya kepada Allah SWT saya berserah diri semoga makalah ini bernilai
sebagai amalan ibadah hendaknya Amin.

Padang, September 2020

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu
masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggota atau dengan
kelompok masyarakat lainnya. Konflik dapat terjadi disebabkan karena adanya
perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Nursalam (2012)
mengatakan bahwa konflik dapat dikategorikan sebagai suatu kejadian atau proses.
Sebagai suatu kejadian, konflik terjadi akibat ketidaksetujuan antara dua orang atau
organisasi yang merasa kepentingannya terancam. Sebagai proses, konflik
dimanifestasikan sebagai suatu rangkaian tindakan yang dilakukan oleh dua orang atau
kelompok, di mana setiap orang atau kelompok berusaha menghalangi atau mencegah
kepuasan dari pihak lawan.
Sumber konflik di organisasi dapat ditemukan pada kekuasaan, komunikasi, tujuan
seseorang dan organisasi, ketersediaan sarana, perilaku kompetisi dan kepribadian, serta
peran yang membingungkan.

1.2. Rumusan Masalah


1) Bagaimana konsep dari kolaborasi ?
2) Bagaimana konsep dari negosiasi ?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dari kolaborasi
2. Untuk mengetahui konsep dari negosiasi
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Kolaborasi
1. Definisi Kolaborasi
Kolaborasi adalah hubungan timbal balik dimana pemberi pelayanan memegang
tanggung jawab paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka kerja bidang
respektif mereka. Praktik keperawatan kolaboratif menekankan tanggung jawab
bersama dalam manajemen perawatan pasien, dengan proses pembuatan keputusan
bilateral didasarkan pada masing-masing pendidikan dan kemampuan praktisi
(Siegler & Whitney, 2000).
Kolaborasi adalah suatu hubungan yang kolegial dengan pemberi perawatan
kesehatan lain dalam pemberian perawatan pasien. Praktik kolaboratif membutuhkan
atau dapat mencakup diskusi diagnosis pasien dan kerjasama dalam penatalaksanaan
dan pemberian perawatan (Blais, 2006).
Kolaborasi menurut Asosiasi Perawat Amerika (ANA, 1992), adalah hubungan
kerja diantara tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada klien. Kegiatan
yang dilakukan meliputi diskusi tentang diagnosa, kerjasama dalam asuhan kesehatan
saling berkonsultasi atau komunikasi serta masing-masing bertanggung jawab pada
kepercayaannya (Sumijatun, 2010).

2. Manfaat Kolaborasi
Kolaborasi dilakukan dengan beberapa alasan sebagai manfaat dari kolaborasi
yaitu antara lain:
a. Sebagai pendekatan dalam pemberian asuhan keperawatan klien, dengan tujuan
memberikan kualitas pelayanan yang terbaik bagi klien.
b. Sebagai penyelesaian konflik untuk menemukan penyelesaian masalah atau isu.
c. Memberikan model yang baik riset kesehatan.
3. Komponen Kompetensi Sebagai Dasar Kolaborasi
Gambaran penting untuk kolaborasi mencakup, keterampilan komunikasi yang
efektif, saling menghargai, rasa percaya, memberi dan menerima umpan balik,
pengambilan keputusan, dan manajemen konflik (Blais, 2006).
a. Keterampilan Komunikasi Yang Efektif
Komunikasi sangat penting dalam meningkatkan kolaborasi karena memfasilitasi
berbagai pengertian individu (Kemenkes, 2012). Chittiy, 2001 dalam Marquis
(2010) mendefenisikan komunikasi adalah sebagai pertukaran kompleks antara
pikiran, gagasan, atau informasi, pada dua level verbal dan nonverbal. Komunikasi
yang efektif adalah kemampuan dalam menyampaikan pesan dan informasi dengan
baik, menjadi pendengar yang baik dan keterampilan menggunakan berbagai
media. Thomas Leech, menyatakan bahwa untuk membangun komunikasi yang
efektif, harus menguasai empat keterampilan dasar dalam komunikasi, yaitu:
membaca, menulis, mendengar dan berbicara (Nurhasanah, 2010).
b. Saling Menghargai dan Rasa Percaya
Saling menghargai terjadi saat dua orang atau lebih menunjukkan atau merasa
terhormat atau berharga terhadap satu sama lain. Dan rasa percaya terjadi saat
seseorang percaya terhadap tindakan orang lain. Saling menghargai maupun rasa
percaya menyiratkan suatu proses dan hasil yang dilakukan bersama. Tanpa adanya
saling menghargai maka kerja sama tidak akan terjadi. Yang dimaksud dengan
pentingnya menghargai satu sama lain yaitu:
1) Dapat mengurangi perbedaan status professional.
2) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja.
3) Meningkatkan pembagian informasi diantara profesi.
4) Menerima konstribusi profesi lain.
5) Sebagai advokasi evaluasi kritis kritis penampilan kerja diantara anggota tim.
6) Mempermudah pengambilan keputusan bersama.
7) Meningkatkan tanggung jawab dan tanggung gugat dalam bekerja.
c. Memberi dan Menerima Umpan Balik
Salah satu yang dihadapi para professional adalah memberi dan menerima umpan
balik pada saat yang tepat, relevan, dan membantu untuk dan dari satu sama lain, dan
klien mereka. Umpan balik yang positif dicirikan dengan gaya komunikasi yang
hangat, perhatian, dan penuh penghargaan.
d. Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan ditingkat tim mencakup pembagian tanggung jawab
untuk hasil. Jelasnya, untuk menciptakan suatu solusi, tim tersebut harus mengikuti
tiap langkah proses pengambilan keputusan yang dimulai dengan defenisi masalah
yang jelas.
e. Manajemen Konflik
Konflik peran dapat terjadi, dalam situasi apapun di tempat individu bekerjasama.
Konflik peran muncul saat seseorang diharapkan melaksanakan peran yang
bertentangan atau tidak sesuai dengan harapan.

4. Upaya Meningkatkan Kolaborasi


Ada 10 pelajaran untuk meningkatkan kolaborasi yang dapat dilakukan dalam praktik
sehari-hari sebagai upaya dalam meningkatkan kolaborasi, yaitu : ( Andi Parellangi,
2010)
a. Pelajaran 1
Mengenal diri sendiri (know thyself). Ada banyak realitas yang muncul secara
bersamaan. Realitas setiap orang didasarkan pada pengembangan persepsi diri.
Diperlukan untuk percaya diri dan orang lain yang mengetahui model mental diri
sendiri (bias,nilai nilai dan tujuan)
b. Pelajaran 2
Belajar untuk menghargai dan mengelola keragaman (Learn to value and manage
diversity). Perbedaan adalah aset penting untuk proses kolaboratif yang efektif
dan hasil.
c. Pelajaran 3
Mengembangakan keterampilan resolusi konflik yang konstruktif (Develop
Construktif conflict resolution sklills). Dalam paradigma kolaboratif, konflik
dpandang alami sebagai kesempatan untuk memperdala pemahaman dan
kesepakatan.
d. Pelajaran 4
Gunakan kekuatan anda untuk menciptakan situasi “menang-menang” ( Use Your
Power to Create win-win Situation )berbagai kekuasaan dan mengakui kekuatan
dasar seseorang adalah bagian dari kolaborasi yng efektif.
e. Pelajaran 5
Menguasi keterampilan interpersonal dan proses (Master Interpersonal and
Process Skills ). Kompetensi klinis, kerjasama, dan fleksibilitas yang paling
sering diidentifikasi sebagai atribut penting untuk praktik kolaboratif efektif.
f. Pelajaran 6
Menyadari bahwa kolaborasi adalah sebuah perjalanan (Recognize that
Collaboration is a jouney) . keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk
kolaborasi efektif membutuhkan waktu dan latihan. Resolusi konflik, keunggulan
klinik, menghargai penyelidkan, dan pengetahuan tentang proses kelompok
adalah keterampilan belajar seumur hidup.
g. Pelajaran 7
Pengaruh semua forum multidisiplin (Leverage all multidisiplinary forums).
Menjadi baik hadir secara fisik dan mental daam tim forum, dapat memberikan
kesempatan untuk menilai bagaimana dan kapan menawarkan komunikasi
kolaboratif untuk membangun kemitraan.
h. Pelajaran 8
Menghargai bahwa kolaborasi dapat terjadi secara spontan ( Appreciate that
collaboration can occur spontaneously). Kolaborasi adalah suatu kondisi yang
saling yang mapan yang bisa terjadi secara spontan jika faktor-faktor yang tepat
di tempat.
i. Pelajaran 9
Keseimbangan otonomi dan persatuan dalam hubungan kolaboratif (Balance
autonomy and unity in collaboration relationship) belajar dari keberhasilan dan
kegagalan kolaborasi anda. Menjadi bagian dari sebuah tim yang ekslusif sama
buruknya dengan bekerja dalam isolasi. Bersedia mencari umpan balik dan
mengakui kesalahan untuk keseimbangan dinamis.
j. Pelajaran 10
Mengingat bahwa kolaborasi tidak diperlukan untuk semua keputusan
(Remember that collaboration is not required for all decisions). Kolaborasi
bukanlah obat mujarab, yang diperlukan dalam situasi (Gardaner, 2005)
5. Proses Kolaboratif
Proses kolaboratif dengan sifat interaksi antara perawat dengan dokter
menentukan kualitas praktik kolaborasi. ANA, 1998 dalam Siegler & Whitney (2000)
menjabarkan kolaborasi sebagai hubungan rekan yang sejati, dimana masing-masing
pihak menghargai kekuasaan pihak lain dengan mengenal dan menerima lingkup
kegiatan dan tanggung jawab masing-masing dan adanya tujuan bersama. Sifat
kolaborasi tersebut terdapat beberapa indikator yaitu kontrol kekuasaan, lingkup
praktik, kepentingan bersama dan tujuan bersama.
a. Kontrol Kekuasaan
Kontrol kekuasaan dapat terbina apabila dokter dan perawat mendapat kesempatan
yang sama mendiskusikan pasien tertentu. Kemitraan terbentuk apabila interaksi yang
diawali sama banyaknya dengan yang diterima dimana terdapat beberapa kategori
antara lain: menanyakan informasi, memberikan informasi, menanyakan dan memberi
pendapat, memberi pengarahan atau perintah, pengambilan keputusan, memberi
pendidikan, memberi dukungan/persetujuan, menyatakan tidak setuju, orientasi dan
humor.
b. Lingkungan Praktik
Menunjukkan kegiatan dan tanggung jawab masing-masing pihak. Perawat dan dokter
memiliki bidang praktik yang berbeda dengan peraturan masingmasing tetapi tugas-
tugas tertentu dibina yang sama.
c. Kepentingan Bersama
Kepentingan bersama merupakan tingkat ketegasan masing-masing (usaha untuk
memuaskan kepentingan sendiri) dan faktor kerjasama (usaha untuk memuaskan
pihak lain).
d. Tujuan Bersama
Tujuan bersama pada proses ini bersifat lebih terorientasi pada pasien dan dapat
membantu menentukan bidang tanggung jawab yang berkaitan dengan prognosis
pasien.
B. Konsep Negosiasi
1. Pengertian
Negosiasi pada umumnya sama dengan kolaborasi. Pada organisasi, negosiasi
juga diartikan sebagai suatu pendekatan yang kompetitif (Marquis dan Huston, 1998).
Negosiasi sering dirancang sebagai suatu strategi menyelesaikan konflik dengan
pendekatan kompromi. Selama negosiasi berlangsung, berbagai pihak yang terlibat
menyerah dan lebih menekankan untuk mengakomodasi perbedaan-perbedaan antara
keduanya.
Smeltzer (1991) dalam Nursalam (2012) mengidentifikasi dua tipe dasar
negosiasi, yakni kooperatif (setiap orang menang), dan kompetitif (hanya satu orang
yang menang). Satu hal yang penting dalam negosiasi adalah apakah ada salah satu
atau kedua pihak menghendaki adanya perubahan hubungan yang berlangsung dengan
meningkatkan hubungan yang lebih baik. Jika kedua pihak menghendaki adanya
perbaikan hubungan, maka akan muncul tipe kooperatif. Namun, jika hanya salah satu
pihak yang menghendaki perbaikan hubungan, maka yang muncul adalah tipe
kompetitif. Meskipun dalam negosiasi ada pihak yang menang dan kalah, sebagai
negosiator penting untuk memaksimalkan kemenangan kedua pihak untuk mencapai
tujuan bersama, meminimalkan kekalahan dengan membuat pihak yang kalah tetap
dapat tujuan bersama, dan membuat kedua belah pihak merasa puas terhadap hasil
negosiasi.
Terdapat tiga kriteria yang harus dipenuhi sebelum manajer setuju untuk memulai
proses negosiasi, yaitu: masalah harus dapat dinegosiasikan, negosiator harus tertarik
terhadap “take and give” selama proses negosiasi, dan mereka harus saling percaya
(Smeltzer, 1991 dalam Nursalam, 2012).

2. Langkah-langkah Sebelum Negoisasi


Langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum melaksanakan negosiasi adalah
sebagai berikut. (Nursalam. 2015)
a. Mengumpulkan informasi tentang masalah sebanyak mungkin. Oleh karena
pengetahuan adalah kekuatan, semakin banyak informasi yang didapat, maka semakin
besar kemungkinan untuk menawarkan negosiasi.
b. Di mana manajer harus memulai. Oleh karena tugas manajer adalah melakukan
kompromi, maka mereka harus memilih tujuan yang utama. Tujuan tersebut sebagai
masukan dari tingkat bawah.
c. Memilih alternatif yang terbaik terhadap sarana dan prasarana. Efisiensi dan
efektivitas penggunaan waktu, anggaran, dan pegawai yang terlibat perlu juga
diperhatikan oleh manajer.
d. Mempunyai agenda yang disembunyikan. Agenda tersebut adalah agenda negosiasi
alternatif yang akan ditawarkan jika negosiasi tidak dapat disepakati.

3. Strategi Negosiasi
Ada beberapa strategi dan cara yang perlu dilaksanakan dalam menciptakan
kondisi yang persuasif, asertif, dan komunikasi terbuka selama negosiasi berjalan.
a. Pilih fakta-fakta yang rasional dan berdasarkan hasil penelitian.
b. Dengarkan dengan saksama, dan perhatikan respons nonverbal yang nampak.
c. Berpikirlah positif dan selalu terbuka untuk menerima semua alternatif informasi
yang disampaikan.
d. Upayakan untuk memahami pandangan apa yang disampaikan lawan bicara Anda.
Konsentrasi dan perhatikan, tidak hanya memberikan persetujuan.
e. Selalu diskusikan tentang konflik yang terjadi. Hindarkan masalah-masalah pribadi
pada saat negosiasi.
f. Hindari menyalahkan orang lain atas konflik yang terjadi.
g. Jujur.
h. Usahakan bersikap bahwa anda memerlukan penyelesaian yang terbaik.
i. Jangan langsung menyetujui solusi yang ditawarkan, tetapi berpikir, dan mintalah
waktu untuk menjawabnya.
j. Jika kedua belah pihak menjadi marah atau lelah selama negosiasi berlangsung,
istirahatlah sebentar.
k. Dengarkan dan tanyakan tentang pendapat yang belum begitu Anda pahami.
l. Bersabarlah (Smeltzer, 1991).
4. Syarat Negosiasi Yang Efektif
a. Para pihak bersedia bernegosiasi secara sukarela berdasarkan kesadaran yang
penuh ( willingness)
b. Para pihak memiliki kesiapanuntuk melakukan negosiasi ( preparedness )
c. Para pihka memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan ( authoritative )
d. Para pihak memiliki kekuatan yang relatif seimbang ( relative equal bargaining
power )
e. Para pihak memiliki kemauan menyelesaikan masalah ( sense problem solving )

5. 12 Aturan Penting Dari Negosiasi


a. Sejajarkan yourself with orang yang berbagi nilai nilai anda
b. Pelajari semua anda tentang pihak lain
c. Yakinkan pihak lain anda memiliki pilihan
d. Atur batasmu sebelum ber negosiasi
e. Membentuk iklim kerjasama , tidak bertentangan
f. Dalam mengahadapi intimidasi, tidak menunjukan fear
g. Belajarlah untuk mendengarkan
h. Jadilah nyaman
i. Hindari berbelit-belit
j. Minimalkan konsensi pihak lain
k. Jangan masukan argumen kalah akhir
l. Mengembangkan hubungan, bukan kompetensi yang harus dimiliki perawat

6. Kunci Sukses dalam Melakukan Negosiasi


Adapun kunci sukses dalam melakukan negosiasi yang dikemukakan oleh Nursalam
(2015), yaitu :

a. Lakukan
1) Jelaskan tujuan negosiasi, bukan posisinya. Pastikan bahwa Anda mengetahui
keinginan orang lain.
2) Perlakukan orang lain sebagai teman dalam penyelesaian masalah, bukan sebagai
musuh. Hadapi masalah yang ada, bukan orangnya.
3) Ingat, bahwa setiap orang mengharapkan penyelesaian yang dapat diterima, jika
Anda dapat menyajikan sesuatu dengan baik dan menarik.
4) Dengarkan baik-baik apa yang dikatakan dan apa yang tidak. Perhatikan gerakan
tubuhnya.
5) Lakukan sesuatu yang sederhana, tidak berbelit-belit.
6) Antisipasi penolakan.
7) Tahu apa yang dapat Anda berikan.
8) Tunjukkan beberapa alternatif pilihan.
9) Tunjukkan keterbukaan dan ketaatan jika orang lain sepakat terhadap pendapat
Anda.
10) Bersikaplah asertif, bukan agresif.
11) Hati-hati, Anda mempunyai suatu kekuasaan untuk memutuskan.
12) Pergunakan gerakan tubuh, jika Anda menyetujui atau tidak terhadap suatu
pendapat.
13) Konsisten terhadap apa yang Anda anggap benar

b. Hindari
1) Sikap yang tidak baik, seperti sinis, kasar, dan menyepelekan.
2) Trik yang tidak baik, seperti manipulasi.
3) Distorsi.
4) Tergesa-gesa dalam proses negosiasi.
5) Tidak berurutan.
6) Membuat hanya satu pilihan.
7) Memaksakan kehendak
8) Berusaha menekankan pada satu pendapat.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kolaborasi adalah hubungan kerja sama antara perawat dan dokter dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada klien yang didasarkan pada pendidikan dan
kemampuan praktisi yang memiliki tanggung jawab dalam pelayanan kesehatan
khususnya pelayanan keperawatan.
Negosiasi pada umumnya sama dengan kolaborasi. Pada organisasi, negosiasi juga
diartikan sebagai suatu pendekatan yang kompetitif (Marquis dan Huston, 1998).
Negosiasi sering dirancang sebagai suatu strategi menyelesaikan konflik dengan
pendekatan kompromi. Selama negosiasi berlangsung, berbagai pihak yang terlibat
menyerah dan lebih menekankan untuk mengakomodasi perbedaan-perbedaan antara
keduanya.

B. Saran
Sebagai mahasiwa perawat kita berharap dapat mengaplikasikan apa yang telah kita
pelajari tentang konsep Kolaborasi dan Negosiasi diatas.
Jika ada kesalahan didalam makalah ini mohon maaf penulis masih dalam proses
pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Andi Parellangi.2010. Home Care Nursing Aplikasi Praktik Berbasis Evidence – Based.
Penerbit Andi
Blais, K. K. 2006. Praktik Keperawatan Profesional : Konsep dan Prespektif. Jakarta: EGC.
Bowditch, L.J., dan A.F. Buono. 1994. A Primer on Organizing Behavior. New York: Wiley
Handoko, T. Hani. 2009. Manajemen. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta
Marquis, B.L., dan C.J. Huston. 1998. Management Decision Making 124 Case Studies. Edisi 3.
New York: Lippincott-Raven
Marquis, B.L., dan C.J. Huston. 2010. Kepemimpinan dan manajemen keperawatan: Teori dan
Aplikasi. Jakarta. Edisi 4. EGC.
Nursalam. 2012. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional. Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.
Siegler, E.L. dan Whitney, F.W. 2000. Kolaborasi perawat – dokter. Jakarta: EGC.
Sumijatun. 2010. Konsep Dasar Menuju Keperawatan Profesional. Jakarta : CV. Trans Info
Media
Swanburg, R.C, 2000. Pengantar Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan Untuk
Perawat Klinis. Jakarta :EGC

Anda mungkin juga menyukai