Anda di halaman 1dari 7

SOAL UJIAN SEMESTER

MATA KULIAH : Filsafat Bahasa

NAMA : SITI ZALEHA ( 2191210001)

KELAS : SASINDO A 2019

1. Jelaskan bagaimana konsep kajian filsafat bahasa!

Jawab : Konsep kajian filsafat bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Ilmu
ini menyelidiki kodrat dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia serta dasar-dasar
konseptual dan teoretis linguistik. Filsafat bahasa dibagi menjadi filsafat bahasa ideal dan filsafat
bahasa sehari-hari.

Filsafat bahasa ialah teori tentang bahasa yang berhasil dikemukakan oleh para filsuf, sementara
mereka itu dalam perjalanan memahami pengetahuan konseptual. Filsafat bahasa ialah usaha
para filsuf memahami keilmuan yang bersifat konseptual melalui pemahaman terhadap bahasa.

Dalam upaya mencari pemahaman ini, para filsuf telah juga mencoba mendalami hal-hal lain,
misalnya fisika, matematika, seni, sejarah, dan lain-lain. Cara bagaimana pengetahuan itu
diekspresikan dan dikomunikasikan di dalam bahasa, di dalam fisika, matematika dan lain-lain
itu diyakini oleh para filsuf berhubungan erat dengan hakikat pengetahuan atau dengan
pengetahuan konseptual itu sendiri. Jadi, dengan meneliti berbagai cabang ilmu itu, termasuk
bahasa, para filsuf berharap dapat membuat filsafat tentang pengetahuan manusia pada
umumnya.

Letak perbedaan antara filsafat bahasa dengan linguistik adalah bahwa linguistik bertujuan
mendapatkan kejelasan tentang bahasa. Linguistik mencari hakikat bahasa. Jadi, para sarjana
bahasa menganggap bahwa kejelasan tentang hakikat bahasa itulah tujuan akhir kegiatannya.
Sedangkan filsafat bahasa mencari hakikat ilmu pengetahuan atau hakikat pengetahuan
konseptual. Dalam usaha pencarian tersebut, para filsuf mempelajari bahasa bukan sebagai
tujuan akhir, melainkan sebagai objek pengantar yang pada akhirnya didapatlah kejelasan
tentang hakikat pengetahuan konseptual itu.

2. Jelaskan ruang lingkup kajian filsafat bahasa!


jawab : Ruang lingkup Filsafat Bahasa

Filsafat bahasa merupakan cabang filsafat khsus yang memiliki objekmaterial bahasa. Berbeda
dengan cabang-cabang serta bidang-bidang filsafat lainnya, filsafat bahasa dalam
perrkembangannya tidak mempunyai prinsipprinsipyang jelas dan terdifinisikan dengan baik
(Alston, 1964 :1). Hal ini disebabkan karena penganut-penganut filsafat Bahasa atau tokoh-tokoh
filsafat bahasa masing-masing mempunyai perhatian dan caranya sendiri-sendiri meskipun juga
terdapat persamaan diantara mereka, yaitu bahwa mereka kesemuanya menaruh perhatian
terhadap bahasa baik sebagai objek material dalam berfilsafat maupun bagaimana bahasa itu
berfungsi dalam kegiatan filsafat. Dalam sejarah perkembangannya aksentuasi filsuf bahasa
menunjukkan minat perhatian yang berbeda dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan
problema filosofis pada zamannya masing-masing. Namun demikian satu hal yang penting untuk
diketahui, bahwa betatapun terhadap berbagai macam perbedaan tentang perhatian filosof
terhadap bahasa, yang pasti terhadap hubungan yang sangat erat antara filsafat dengan bahasa
karena merupakan alat dasar dan utama dalam filsafat.

3. Buatlah contoh kajian post strukturialisme!

jawab : Post-Strukturalisme

contohnya : Makna kata panas tidak berasal dari unsur intrinsik kata tersebut, namun dari
hubungan kata tersebut, oposisi binernya, dengan kata dingin. Makna, pikiran, dan pada
hakikatnya dunia sosial dibentuk oleh struktur bahasa.

Berbagai kebutuhan ekonomi itulah yang mendorong munculnya berbagai toko untuk menawarkan
berbagai keperluan manusia. Mulai dari toko kecil, swalayan, mall dan sebagainya berlomba-lomba
menawarkan berbagai macam produk. Jargon-jargon atau slogan-slogan tertentu dirancang untuk
menarik konsumen agar tertarik berbelanja ditempat tersebut. Jargon-jargon dan slogan tertentu dibuat
dengan tata bahasa yang menarik dan unik sehingga mewakili keistimewaan yang diberikan toko
tersebut dibanding yang lainnya. Toko satu dengan yang lainnya berlomba-lomba menyakinkan
konsumen untuk menjadi pelanggan lewat slogan atau jargon andalan mereka.
Tidak ada kalimat yang tidak mengandung makna dan tujuan didalamnya. Wacana yang dibuat tidak
sekedar sebagai pengundang konsumen, namun dibaliknya justru tersimpan tujuan utama yang
diinginkan oleh pemlik wacana tersebut. sejumlah keuntungan menjadi tujuan utama dibalik wacana
yang diunggulkan. Sehingga dapat dikatakan bahasa ini menjadi salah satu yang terpenting dalam
keberhasilan untu

Postrukturalisme terdiri atas kata post + struktur + isme yang berarti paham sesudah struktur.
Artinya, postrukturalisme merupakan sebuah teori pengkajian sastra yang lahir setelah teori
strukturalisme. Dalam sastra, teori ini berkembang pada tahun 1970-an. Teori ini merupakan
perkembangan terakhir teori sastra, khususnya teori-teori yang didasarkan atas relevansi struktur.

Teori postrukturalisme ini lahir didasarkan atas kelemahan-kelemahan yang terdapat pada teori
strukturalisme. Pada umunya terdapat beberapa kelemahan strukturalisme. Pertama, model
analisis strukturalisme, terutama pada awal perkembangannya dianggap terlalu kaku sebab
semata-mata didasarkan atas struktur dan sistem tertentu. Kedua, strukturalisme terlalu banyak
memberikan perhatian terhadap karya sastra sebagai kualitas otonom, dengan struktur dan
sistemnya, sehingga melupakan subjek manusianya, yaitu pengarang dan pembaca. Ketiga, hasil
analisis dengan demikian seolah-olah demi karya sastra itu sendiri, bukan untuk kepentingan
masyarakat secara luas.

Dasar teori-teori postrukturalisme adalah strukturalisme. Oleh karena itu, sebagaimana halnya
strukturalisme, postrukturalisme juga merupakan sebuah teori yang digunakan untuk mengkaji
makna yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Hanya saja, terdapat perbedaan pandangan
antara kelompok strukturalisme dan postrukturalisme dalam pencarian makna tersebut.

Pencarian makna oleh kelompok strukturalisme masih bertumpu pada struktur karya sastra.
Artinya, makna selalu dihasilkan dalam kaitannya dengan penanda, makna sebagai hasil
artikulasi lambang-lambang, makna sebagai hasil perbedaan antara dua penanda. Hal tersebut
berbeda dengan pengkajian makna menurut postrukturalisme. Menurut postrukturalisme,
mengkaji makna tidak hanya terbatas pada kekuatan struktur, tetapi dapat dikaitkan dengan
sesuatu yang berada di luar struktur.Artinya, makna tidak selalu hanya diwakili kata (penanda),
tetapi justru sering berada di luar bahasa atau kata.

Pemaknaan sebuah karya sastra jika hanya ditelaah berdasarkan penanda, bisa saja makna itu
hadir setelah penanda tersebut dibandingkan dengan penanda yang lain.Oleh karena itu, ketika
penanda tersebut berdiri sendiri, kemungkinan belum memiliki makna yang utuh dan baru
merujuk makna yang lengkap ketika dirangkai dengan penanda yang lain. Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa menelaah makna sebuah karya sastra akan dapat muncul jika dilihat
dari hubungan antarunsur pembentuknya dan dapat juga muncul kaitannya dengan unsur di luar
teks.

Ada dua tahapan dalam menelaah makna karya sastra dengan menggunakan teori
postrukturalisme seperti yang dikembangkan oleh Riffaterre dan Roland Barthes (dalam
Nyoman) sebagai berikut.

1. Mendaftar semua unsur (struktur) yang terdapat pada karya yang ditelaah dan meletakkan
semua unsur tersebut pada kedudukan yang sama. Setiap unsur dipahami secara terpisah. Dengan
demikian, tidak ada satu unsur pun yang dianggap tidak penting atau tidak mempunyai peranan.

2. Unsur-unsur yang telah dipahami dihubungkan dengan unsur lainnya dalam upaya untuk
mengetahui apakah unsur-unsur tersebut merupakan satu jaringan, baik jaringan antar semua
unsur (jaringan X) atau merupakan satu jaringan dengan unsur lain (jaringan X dengan Y).

Berdasarkan dua tahapan tersebut, jelaslah bahwa esensi pemaknaan sebuah karya sastra dapat
muncul dari hubungan antarstruktur dan unsur di luar struktur. Unsur di luar struktur yang
dimaksud seperti kode budaya dan juga hal-hal lainnya yang mempengaruhi penciptaan karya
sastra tersebut.

Selain menghubungkan dengan unsur di luar struktur, menurut postrukturalisme memahami


sebuah karya sastra itu bersifat bebas, boleh dari sisi mana saja, karena ia tidak terikat dengan
struktur. Dengan demikian, kajian posstrukturalisme ini juga akan melupakan struktur sebuah
karya sastra dengan melakukan dekonstruksi terhadap karya sastra tersebut. Oleh karena itu,
paham postrukturalisme ini sering juga disebut dengan pengkajian dekonstruksi. Artinya, sebuah
ragam penelitian sastra yang tidak menghiraukan struktur.
Karena tidak menghiraukan struktur, bahkan melupakan struktur dengan melakukan dekonstruksi
terhadap sebuah karya, maka ciri khas dari postrukturalisme adalah ketidakmantapan teks.
Artinya, makna karya ditentukan oleh apa yang dilakukan oleh teks, bukan apa yang
dimaksudkan oleh teks tersebut.Dengan demikian, terjadi pergeseran dari penerima menjadi
pencipta. Makna teks tidak diproduksi melalui kontemplasi pasif, tetapi partisipasi aktif. Karya
bukan milik pengarang, melainkan milik pembaca. Makna teks tergantung pada konteks,
interaksi pada pembaca, teks tidak tertutup, tetapi terbuka secara terus menerus berinteraksi ke
luar dirinya.

4.Carilah satu opini di media manapun kemudian analisis menggunakan teori filsafat bahasa!

jawab:Politik uang cikal bakal koropsi. Dari Rp20.000an lama-lama jadi miliaran… Ironi…

maksud kalimat di atas adalah: Bahwa dalam pelaksanaan pilpres sering terjadi

praktik money politic atau politik uang sehingga istilah serangan fajar ini masih

sering terjadi, guna mendapat simpati masyarakat dan mendapat suara. Hal ini

sudah merupakan bentuk penyuapan dan bentuk awal tindak korupsi. (jenis

ungkapan mengarahkan dan meyakinkan).

Kode Etik Bahasa Politik dalam Media Massa

Pemakaian bahasa politik dalam media massa harus sering dianggap sebagai

upaya untuk memberikan pemahaman mengenai politik dengan cara persuasive.

Dengan demikian sifat dasar bahasa politik terletak pada upaya untuk mempersuasi

orang lain, lewat pernyataan-pernyataan yang meyakinkan, tetapi bertanggung

jawab, baik melalui media tulis maupun elektronik.

Retorika etis selalu memanifestasikan diri sebagai “Logika pertimbangan


nilai” yang baik. Logika pertimbangan nilai mewujutkan pertanyaan kunci: (1): nilainilai yang
tersembunyi apakah yang tertanam dalam suatu pesan? (2) Apakah nilainilai itu layak bagi sifat
keputusan yang dikandung oleh suatu pesan? (3) Apakahproses transaksi retoris menjadi efek
bagi seseorang, perilaku seseorang, danhubungan seseorang dengan orang lain dan masyarakat?
Karena diketahui bahwa

proses transaksi retoris menganut nilai-nilai yang dapat mengubah diri komunikan.

Pesan-pesan logika pertimbangan nilai, maka pesan-pesan yang disampaikan dapat

menjadi dasar yang ideal dalam mempersuasi orang lain.

5. Jelaskan secara singkat dan tokoh-tokoh dalam kajian filsafat bahasa!

jawab :

Aliran pemikiran Filsafat Bahasa Biasa muncul di Inggris pada awal abad ke-20 melalui
pemikiran filsafat Ludwig Wittgenstein. Filsafat Bahasa Biasa selanjutnya mengalami
perkembangan gagasan melalui pemikiran Gilbert Ryle, John Langshaw Austin, dan Peter
Frederick Strawson.Aliran Filsafat Bahasa Biasa ini terutama berkembang di Inggris dan
Amerika Serikat dengan beragam pemikiran filsafat.

Tokoh-tokoh dalam kajian fiksafat bahasa

-Ludwig Wittgenstein

Ludwig Wittgenstein merintis Filsafat Bahasa Biasa melalui pemikiran di dalam bukunya yang
berjudul Philosophical Investigations. Kemunculan pemikiran Wittgenstein mengenai Filsafat
Bahasa Biasa berasal dari inti pemikirannya tentang tata permainan bahasa. Dalam pemikiran ini,
penggunaan bahasa yang berubah-ubah dalam kehidupan sehari-hari merupakan hakikat bahasa
itu sendiri.

-Gilbert Ryle Sunting


Gilbert Ryle merupakan seorang filsuf yang berusaha mendukung Filsafat Bahasa Biasa. Teori
Deskripsi Kebodohan merupakan sumbangan pemikiran Filsafat Bahasa Biasa Gilbert Ryle
untuk bidang ilmu antropologi budaya. Selain itu, hasil pemikiran filosofisnya menjadi salah satu
kunci pemecahan permasalahan-permasalahan masa kini baik dalam lingkup filsafat maupun di
luar lingkup filsafat.

-J. L. Austin Sunting

John Langshaw Austin adalah salah satu filsuf Filsafat Bahasa Biasa yang menolak pemikiran
bahwa penggunaan bahasa mengharuskan penggunaan logika. Gagasannya ini disampaikan
dalam karyanya yang berjudul How to Do Things with Words yang diterbitkan pada tahun
1962.Austin merupakan seorang dosen dan filsuf di Universitas Oxford, Inggris. Buku How to
Do Things with Words berisi pemikirannya tentang teori tindak tutur. Buku ini menjadi materi
perkuliahan yang disampaikannya dalam mengajar mahasiswa di Universitas Harvard, Amerika
Serikat.

-John Searl Sunting

John Searl merupakan murid dari Austin. Pemikiran Austin dikembangkan oleh John Searl
dalam bukunya yang berjudul Speech Act dan diterbitkan pada tahun 1969. Teori tindak tutur
merupakan teori yang terbentuk akibat penolakan Austin dan Searl terhadap aliran filsafat
positivisme logis dalam penggunaan bahasa.

-P. F. Strawson Sunting

Peter Frederick Strawson merupakan salah satu filsuf Filsafat Bahasa Biasa yang menekankan
penggunaan bahasa dalam aspek pragmatik. Strawson menganggap bahasa biasa sebagai
landasan berfilsafat.Seperti Austin, Strawson juga menganut teori tindak tutur dalam penggunaan
bahasa.