Anda di halaman 1dari 5

LEGAL OPINION

Nama : Talitha Fildzah Setiawan

NIM : 21040704187

Fakultas : Ilmu Hukum

KASUS PENCURIAN HAK MASYARAKAT DI ERA PANDEMI COVID-19

(Korupsi Bantuan Sosial)

A. Pendahuluan
Pandemi covid-19 merupakan musibah tersebar yang dialami seluruh
negeri, salah satunya di Indonesia. Upaya pemerintah dalam melindungi
masyarakat melalui pengadaan bantuan sosial (Bansos) di tengah wabah covid-
19 ini dijadikan ladang kekayaan sepihak oleh mantan Menteri Sosial, Juliari
Batubara dengan dugaan menerima suap melalui Pejabat Pembuat Komitmen
Kementerian Sosial, dalam bentuk setoran ata fee sebesar Rp10.000 (Sepuluh
Ribu Rupiah) dan Uang Operasional sebesar Rp1.000 (Seribu Rupiah) dari
setiap paket bantuan sosial.
Juliari Batubara telah mencuri dana yang seharunya menjadi hak
masyarakat dengan total Rp17.000.000.000 (tujuh belah milyar rupiah) dalam
program bansos covid-19. KPK menjerat Juliari Batubara dengan pasal 12
huruf a atau Pasal 12 huruf b atau dengan pasal 11 undang – undang Nomor 31
Tahun 1999 sebagaimana telah diubah menjadi Undang-undang Nomor 20
Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Korupsi (yang selanjutnya disebut
dengan UU Tipikor) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
B. Kualifikasi Hukum
Terkait perkara ini, ada beberapa Undang-undang yang dilanggar, yaitu :
1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
a. Pasal 11
“Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan
paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak
Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri
atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal
diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan
karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan
jabatannya atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah
atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya”.1
b. Pasal 12
“Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara
paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun
dan pidana denda paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah);” 2
c. Pasal 12A
1) Ketentuan mengenai pidana penjara dan pidana denda
sebagaimana dimaksud Pasal 5, Pasal 6, Pasl 7, Pasal 8, Pasal9,
Pasal 10, Pasal 11 dan Pasal 12 tidak berlaku bagi tindak pidana
korupsi yang nilainya kurang dari Rp5.000.000,00
2) Bagi pelaku tindak pidana korupsi yang nilainya kurang dari Rp
5.000.000,00 (lima juta rupiah) sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan
pidana denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah).3
d. Pasal 12B
1) Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggaran
negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan
jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya,
dengan ketentuan sebagai berikut :
a. yang nilainya Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih,
pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap
dilakukan oleh penerima gratifikasi;

1
Pasal 11 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
2 Pasal 12 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
3 Pasal 12A Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
b. yang nilainya kurang dari Rp10.000.000,00 (sepuluh juta
rupiah), pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan
oleh penuntut umum.
2) Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggaran negara
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pidana penjara
seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun
dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda paling
sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).4
2. Pasal 55 KUHP
1. Dipidana sebagai pelaku tindak pidana:
a. mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut
serta melakukan perbuatan;
b. mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan
menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan,
ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan,
sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya
melakukan perbuatan.
2. Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan
sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya5

C. Pertanyaan Hukum
a. Dapatkah tersangka Juliari Batubara dapat dikenakan pasal 2 ayat (1) dan
pasal 3 UU Tipikor ?
D. Analisis Pendapat Hukum
Terjadinya tindakan pencurian hak masyarakat yang dilakukan Juliari
Batubara dan rekanya dengan saling suap-menyuap yang dilakukan dengan
sesama dan penggelapan dana publik (pencurian) sering disebut sebagai inti
atau bentuk dasar dari tindak pidana korupsi. Korupsi yang dapat diartikan
sebagai bejatnya moral, perbuatan yang tidak wajar. Akibat adanya tindakan
pencurian hak masyarakat ini menimbulkan ancaman terhadap stabilitas

4 Pasal 12B Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
5 Pasal 55 Kitab Undang-undang Hukum Pidana
ekonomi dan nilai keadilan, hak ekonomi, sosial dan budaya, termasuk hak
sipil dan politik6. Lebih parahnya lagi terjadinya kasus yang menyita hak
masyarakat dengan ladasan kepentingan untuk mendapatkan keuntungan
sepihak.
Pada kasus ini Mantan Mensos dan rekan yang menjadikan tim suksesnya
atas penyelewengan jabatan dengan mencuri hak masyarakat berupa dana
bantuan sosial dengan kriteria yang berusaha menjadikan ladang kekayaan
sepihak. Hal ini dapat dikenakan pasal 2 ayat (1) dan pasal 3 UU Tipikor,
dengan alasan :
a. Bahwa pada pasal 2 ayat 1 UU Tipikor dikatakan bahwa : "Setiap orang
yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan
penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan
paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling
banyak Rp 1 miliar.” Hal ini menjukkan bahwa konstitusi Indonesia
mengancam seberat beratnya atas terjadinya pencurian atas penyelewengan
jabatan yang dilakukan oleh para pihak yang tidak bertanggungjawab.
Dengan demikian, hukuman mati adalah salah satu jalan yang terbaik untuk
pengancaman tindakan korupsi.7
b. Bahwa pada pasal 3 UU Tipikor dikatakan bahwa : “Setiap orang yang
dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang
ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan
keuangan Negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana
penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 tahun dan
paling lama 20 tahun dan atau denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling
banyak Rp 1 miliar”. Hal ini menunjukkan sama halnya dengan pasal 2 ayat
1 untuk mengancam koruptor agar tidak menyelewengkan jabatannya agar

6
Lihat peter Eigen, 2002, corruption in a global wolrd, SAIS Review Vol XXIX No 1 (Winter Spring), hlm
46-50
7 Pasal 2 ayat 1 UU Tipikor
memunculkan rasa ketakutan dan kekhawatiran terhadap pejabat
pemerintah.8

Namun, pada akhirnya KPK dengan menunjukkan penyelidikan atas kasus


yang sangat merugikan masyarakat dan negara ini belum bisa dikenankan
hukuman mati. Hal ini dikarenakan kasus tersebut masih dalam ranah
penyuapan.

E. Kesimpulan
korupsi bansos telah mencuri hak-hak masyarakat dan sudah sepantasnya
pelakunya dihukum yang seberat-beratnya. Pemulihan hak-hak
masyarakat melalui penggabungan gugatan rugi 18 warga pada mantan
Menteri Sosial JBP sudah selayaknya menjadi harapan masyarakat sebagai
Korban Korupsi yang paling menderita dari dampak korupsi. Di sisi lain bagi
para pelaku usaha, kasus ini dapat menjadi pembelajaran bahwa praktik bisnis
yang sehat, bersih dan berintegritas walaupun dengan kondisi peluang bisnis
yang sangat berat untuk survive di masa-masa pandemi ini tetap dan harus
menjadi ikhtiar bersama. Karena bagaimanapun pelaku usaha juga merupakan
masyarakat. Jika praktek-praktek suap terus dipelihara, yang akan berdampak
pada biaya ekonomi yang tinggi pada akhirnya pelaku usaha sebagai
masyarakat juga yang akan terdampak.

8 Pasal 3 UU Tipikor