Anda di halaman 1dari 6

TUGAS PRAKTIKUM ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN

MODUL III

PENGUKURAN KAPASITAS LAPANG DAN PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN

Nama : Fardan Muhammad Rizqin Januar Fadhillah

NIM : 11520026

Hari Ke-1 Hari Ke-2

Gambar 1. Kondisi Sampel Tanah Pada Hari


Pertama (dokumentasi pribadi) Gambar 2. Kondisi Sampel Tanah J+24
(dokumentasi pribadi)

Suhu : 26°C Suhu : 25°C


Kelembaban : 90% Kelembaban : 74,3%
Intensitas Cahaya : 65535 Intensitas Cahaya : 7978
Tabel 1. Hasil pengamatan dan perhitungan sampel tanah yang digunakan

Kode Volume tanah per Berat Berat Berat setelah 24 Kadar air Jumlah air yang Jumlah air yang
No. Koordinat Polybag
sampel polybag awal basah jam tanah dibutuhkan hilang
1 737,08 gr 850,48 gr 15,3 % 29,48 gr
C1 175 𝜋 𝑐𝑚3 821 gr 150 mL
2 711,57 gr 805,12 gr 24,12 gr
C2 175 𝜋 𝑐𝑚3 781 gr 13,1 % 150 mL
3 150 mL 32,62 gr
686,05 gr 764 gr
C3 175 𝜋 𝑐𝑚3 796,62 gr 16,1 %
S06°56.3
4 175 mL 30,07 gr
89’ dan 830,64 gr 21,8 %
K-1 A1 175 𝜋 𝑐𝑚3 1012,07 gr 982 gr
E107°45.
5 982’ 16,17 gr
153 mL
A2 175 𝜋 𝑐𝑚3 725,74 gr 890,17 gr 874 gr 22,6 %

6 867,49 gr 14,1 % 160 mL 47,49 gr


B1 175 𝜋 𝑐𝑚3 759,76 gr 820 gr
7 773,94 gr 56,94 gr
B2 175 𝜋 𝑐𝑚3 657,70 gr 717 gr 17,6 % 140 mL

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑠𝑎ℎ (𝑔𝑟)−𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 (𝑔𝑟)


Catatan: rumus yang digunakan: 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑖𝑟 𝑡𝑎𝑛𝑎ℎ =
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 (𝑔𝑟)

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑖𝑟 ℎ𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑏(𝑔𝑟) − 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔(𝑔𝑟)

Pengamatan dan pengambilan sampel tanah dilakukan pada hari Rabu tanggal 16 Februari 2022 pada pukul 09.30 WIB. Lokasi
pengambilan sampel tanah berada pada koordinat S 06°56.389’ dan E 107°45.982’, yakni area persawahan dan perkebunan jln.GKPN,
Cibeusi, Jatinangor. Keadaan lokasi pada saat proses pengambilan sampel sangat cerah dengan intensitas cahaya yang tinggi
mengakibatkan permukaan sekitar cukup kering. Tanah yang diambil pun dalam keadaan berbongkah-bongkah dengan tekstur cukup kasar
menandakan kurangnya air yang ada dan akibat intensitas cahaya yang tinggi menyebabkan tanah cepat kering.
Gambar 3. Rona Lingkungan Lokasi Pengambilan Sampel Tanah
(dokumentasi pribadi)

Perkolasi merupakan aktivitas air yang bergerak di dalam lapisan suatu tanah ke lapisan yang lebih dalam lagi akibat gaya gravitasi.
Peristiwa perkolasi pada umumnya terjadi saat air hujan turun atau saat proses irigasi suatu lahan dimana air masuk melalui permukaan
tanah kemudian bergerak ke lapisan penampang dan lebih dalam lagi. Air hasil aktivitas ini yang terjangkau oleh akar tanaman akan
memasuki area yang disebut zona peralihan dimana pada zona ini gaya gravitasi semakin kuat. Efektifitas proses perkolasi ini ditentukan
oleh sifat-sifat suatu tanah (Yusrial et al., 2006). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dan data yang didapat, perkolasi dapat
ditentukan menggunakan rumus:

𝑃𝑒𝑟𝑘𝑜𝑙𝑎𝑠𝑖 = 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑝𝑜𝑙𝑦𝑏𝑎𝑔 𝐴 (𝑔) − 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑝𝑜𝑙𝑦𝑏𝑎𝑔 𝐵 (𝑔)

Dari Tabel 1, dapat diketahui rata-rata berat kering polybag A dan B


𝐴1+𝐴2 830,64 𝑔𝑟 + 725,74 𝑔𝑟
Rata-rata berat polybag A = = = 778,19 𝑔𝑟
2 2
𝐵1+𝐵2 759,76 𝑔𝑟 + 657,70 𝑔𝑟
Rata-rata berat polybag B = 2
= 2
= 708,73 𝑔𝑟

Sehingga didapat besar Perlokasi = 778,19 gr – 708,73 gr = 69,46 gr

Kondisi lokasi sampel dengan intensitas cahaya matahari yang tinggi berdampak pada sampel tanah yang digunakan. Tanah menjadi
cukup kering, keras, dan kasar. Intara et al., (2011) menjelaskan bahwa tanah dengan kondisi seperti ini akan memiliki laju perlokasi yang tinggi
dan mengakibatkan penggunaan air yang cukup boros sehingga jumlah zat hara pada tanah pun akan semakin berkurang. Dari data dan hasil
perhitungan yang ada, air hasil proses perlokasi hanya memenuhi kurang dari 30% dari total kebutuhan air. Dapat disimpulkan sampel tanah yang
digunakan berada dalam kondisi kurang mampu mempertahankan air di dalam tanah. Hal ini didukung pula dengan data Tabel 1 dimana kadar air
yang diperoleh dari tiap polybag sangat rendah sehingga didapat kesimpulan kembali bahwa keberadaan zat hara maupun bahan organk pada tanah
yang digunakan sangat sedikit.

Evaporasi merupakan kondisi dimana air dari daun atau tajuk mengalami penguapan akibat proses metabolisme tanaman ataupun
proses diluar itu. Dalam arti lain, evaporasi merupakan gerak air dari lapisan tanah menuju permukaan tanah lalu berakhir di atmosfer
(Fibriana et al., 2018). Secara umum Maigiska et al., (2018) menjelaskan pula bahwa proses evaporasi merupakan penguapan air baik dari
permukaan ari langsung, permukaan tanah, ataupun pada permukaan tanaman sebagai persipitasi. Oleh karena evaporasi dapat berasal dari
tanah, maka selayaknya perkolasi, kondisi dan sfiat tanah akan mempengaruhi aktivitas ini. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dan
data yang didapat, evaporasi dapat ditentukan menggunakan rumus:

𝐸𝑣𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑠𝑖 = 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑝 𝑝𝑜𝑙𝑦𝑏𝑎𝑔 𝐴 (𝑔) − 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑝𝑜𝑙𝑦𝑏𝑎𝑔 𝐴 (𝑔)

Dari Tabel 1, dapat diketahui rata-rata berat lembab polybag A dan B


𝐴1+𝐴2 1012,07 𝑔𝑟 + 890,17 𝑔𝑟
Rata-rata berat lembab polybag A = = = 951,12 𝑔𝑟
2 2
𝐴1+𝐴2 830,64 𝑔𝑟 + 725,74 𝑔𝑟
Rata-rata berat kering polybag A = = = 778,19 𝑔𝑟
2 2

Sehingga didapat besar Evaporasi = 951,12 gr – 778,19 gr = 172,93 gr


Aktivitas evaporasi terjadi pada saat sampel tanah dipindahkan ke tempat yang lebih lembab dan tidak terkena cahaya matahari
langsung. Air yang menguap akibat evaporasi dapat diketahui setelah 1 hari disimpan. Dikarenakan lokasi penyimpanan yang jauh lebih
lembab dari lokasi pengambilan serta intensitas cahaya yang jauh lebih rendah mengakibatkan kondisi tanah berada pada kondisi jauh
lebih lembab. Menurut Modaish et al., (1985) semakin lembab suatu lokasi maka akan semakin memperlambat laju evaporasi. Berdasarkan
data pada Tabel 1 dapat diperhatikan tiap polybag hanya kehilangan air dalam jumlah yang relatif sediki apabila dibandingkan dengan
berat totalnya. Oleh karena evaporasi yang terjadi lambat maka dapat diketahui zat hara ataupun bahan organik dari tanah yang digunakan
berkurang dalam jumlah sedikit pula, namun perlu diingat bahwa kadar air tanah yang digunakan sudah sedikit (dari pembahasan
perkolasi) dari awal sehingga kehilangan zat hara ataupun bahan organik akibat evaporasi tetap dapat mengurangi kualitas tanah.

Kebutuhan air tanaman merupakan kebutuhan air secara total yang dibutuhkan oleh suatu tanah pada suatu lahan tanaman terutama
jaringan irigasi yang akan diolah sehingga dapat diketahui jumlah yang efektif bagi pertumbuhan tanaman dan pengelolaan tanah.
Kebutuhan air pada suatu lahan dapat berbeda-beda tergantung jenis tanaman dan kondisi tanah yang ada. Kebutuhan air dipengaruhi oleh
aktivitas perlokasi dan evaporasi pada suatu lahan tanah (Maigiska et al., 2018). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dan data yang
didapat, kebutuhan air dapat ditentukan menggunakan rumus:

𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑖𝑟 = 𝑒𝑣𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑠𝑖 + 𝑝𝑒𝑟𝑘𝑜𝑙𝑎𝑠𝑖

Dari perhitungan sebelumnya didapat perlokasi sebesar 69,46 gr dan evaporasi sebesar 172,93 gr, maka banyaknya kebutuhan air yang
diperlukan adalah sebanyak 172,93 gr + 69,46 gr = 242,39 gr.
Kebutuhan air perlu dipenuhi agar kualitas tanah dapat diperbaiki. Mengingat dari pembahasan sebelumnya diketahui sampel tanah yang
digunakan hanya memiliki kadar air yang sedikit sehingga kandungan zat hara ataupun bahan organiknya pun sedikit. Dengan memenuhi
kebutuhan air maka potensi zat hara ataupun bahan organik dapat ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA

Fibriana, R., Ginting, Y. S., Ferdiansyah, E., & Mubarak, S. (2018). Analisis Besar Atau Laju Evapotranspirasi pada Daerah Terbuka.
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi Dan Ilmu Pertanian, 2(2), 130. https://doi.org/10.31289/agr.v2i2.1626
Intara, Yazid., Sapei, Asep., Erizal., Sembiring, Namaken. 2011. Pengaruh Pemberian Bahan Organik Pada Tanah dan LempungBerliat
Terhadap Kemampuan Mengikat Air. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (130-135) ISSN 0853-4217. Bogor, Dep.Agroteknologi Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Maigiska, N., Nurhayati, & Umar. (2018). Analisis Kebutuhan Air Tanaman Untuk Kebun Campuran Pada Daerah Tangkapan Air Pari Pati
Di Daerah Rawa Punggur Besar. JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang, 5(3), 1–7.
Modaish, A.S; Horton, R and Kirkham. 1985. Soil Water Evaporation Suppression by Sand Mulches. Parlindungan Lumbanraja. Jurusan
Ilmu Tanah;Fakultas Pertanian; Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung.
Yusrial, Kusnadi, H., & Kurnia, U. (2006). Penetapan Perkolasi Di Laboratorium. Sifat Fisik Tanah Dan Metode Analisisnya, 213–238.
https://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/buku/buku sifat fisik tanah/19perkolasi.pdf

Anda mungkin juga menyukai