Anda di halaman 1dari 6

Pembahasan Ruang Lingkup Kajian, landasan Hukum , Faedah dan Tujuan

Mempelajari Ilmu falak

Oleh Nadya Syavira Arani

Tujuan Mempelajari Ilmu Falak

a. Pengertian Ilmu Falak

Menurut bahasa, falak artinya orbit atau peredaran/lintasan benda-benda langit, sehingga ilmu falak
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit khususnya bumi, bulan dan
matahari pada orbitnya masing-masing dengan tujuan untuk diketahui posisi benda langit tersebut
antara satu dengan lainnya agar dapat diketahui waktu-waktu di permukaan bumi.[4]

Istilah ilmu falak dapat disejajarkan dengan istila Practical Astronomu (Astronomi Praktis) yang terdapat
dalam dunia astronomi. Dinamakan demikian karena hasil perhitungan dari ilmu ini dapat dipraktekan
atau dimanfaatkan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dinamakan juga Ilmu Hisab karena kegiatan
yang menonjol dari ilmu ini ialah menghitung kedudukan ketiga benda langit di atas.

Adapun Asronomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari benda-benda langit dengan tujuan untuk
mengetahuipengaruh benda-benda langit itu terhadap nasib seseorang di muka bumi. Astrologi inilah
yang dikenal dengan Ilmu Nujum[5].

b. Ruang Lingkup Pembahasan

Secara garis besar Ilmu Falak atau Ilmu Hisab dapat dikelompokkan pada dua macam, yaitu ‘ilmiy dan
amaly.

Ilmu Falak ‘Ilmiy adalah ilmu yang membahas teori dan konsep benda-benda langit, misalnya dari asal
muasal kejadiannya (cosmogony), bentuk dan tata himpunannya (cosmologi), jumlah anggotanya
(cosmografi), ukuran dan jaraknya (astrometrik), gerak dan daya tariknya (astromekanik), dan
kandungan unsur-unsurnya (astrofisika). Ilmu falak yang demikian ini disebut Theoritical Astronomy.

Sedangkan ilmu falak ‘amaly adalah ilmu yang melakukan perhitungan untuk mengetahui posisi dan
kedudukan benda langit antara satu dengan yang lainnya. Ilmu falak ‘amaly ini disebut Practical
Astronomy. Ilmu falak ‘amaly inilah yang oleh masyarakat umum dikenal dengan Ilmu Falak atau Ilmu
Hisab.

Meskipun objek pembahasan ilmu falak ‘amaly ini mengenai kedudukan benda-benda langit terutama
matahari beserta planet-planetnya (sistim tata surya), tetapi pembahasan dan kegiatan dalam ilmu falak
hanyalah terbatas pada pembahasan mengenai peredaran bumi, matahari dan bulan saja, karena
peredaran ketiga benda langit inilah yang mempunyai sangkut paut dengan pembahasan Ilmu Falak
untuk pelaksanaan ibadah.
Bahasan Ilmu Falak yang dipelajari dalam Islam adalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan ibadah,
sehingga pada umumnya Ilmu Falak ini mempelajari 4 bidang, yakni [6]:

1. Arah kiblat dan bayangan arah kiblat

2. Waktu-waktu sholat

3. Awal bulan hijriyyah

4. Gerhana matahari dan bulan.

Ilmu Falak membahas arah kiblat pada dasarnya adalah menghitung besaran sudut yang diapit oleh garis
meridian yang melewati suatu tempat yang dihitug arah kiblatnya dengan lingkaran besar yang melewati
tempat yang bersangkutan dan ka’bah, serta menghitung jam berapa matahari itu memotong jalur
menuju ka’bah.

Sedangkan ilmu falak membahas waktu-waktu sholat padaa dasarnya adalah menghitung tenggang
waktu antara ketika matahari berada di titik kulminasi atas dengan waktu ketka matahari berkedudukan
pada awal waktu-waktu sholat.

Pembahsan awal bulan dalam ilmu falak adala menghitung waktu terjadinya ijtima’(konjungsi) yakni
posisi matahari dan bulan berada pada satu bujur astronomi, serta menghitung posisi bulan ketika
matahari terbenam pada hari terjadinya konjungsi itu.

Pembahasan gerhana adalah menghitung waktu terjadinya kontak antara matahari dan bulan, yakni
kapan bulan mulai menutupi matahari matahari dan lepas darinya pada gerhana gerhana matahari,
serta kapan pula bulan mulai masuk pada umbra bayangan bumi serta keluar darinya pada gerhana
bulan.

c. Manfa’at Ilmu Falak

Dengan mempelari ilmu falak atau ilmu hisab, kita dapat memastikan ke arah mana kiblat suatu tempat
di permukaan bumi. Kita juga dapat memastikan waktu shalat telah tiba atau matahari sudah terbenam
untuk berbuka puasa. Dengan ilmu ini pula orang yang melakukan rukyatul hilal dapat mengarahkan
pandangannya dengan tepat ke posisi hilal, bahkan kita juga dapat mengetahui akan terjadinya peristiwa
gerhana matahari atau gerhana bulan berpuluh bahkan beratus tahun yang akan datang.

Dengan demikian, ilmu falak atau ilmu hisab dapat menumbuhkan keyakinan dalam melakukan ibadah,
sehingga ibadahnya lebih khusyu’. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah
mereka yang selalu memperhatikan matahari dan bulan untuk mengiungat Allah” (HR. Thabrani)

d. Hukum Mempelajarai Ilmu Falak

Mengingat betapa besar manfaat ilmu falak sebagaimana diterangkan di atas, lebih-lebih kalau dikaitkan
dengan pelaksanaan ibadah, maka mempelajari ilmu falak atau ilmu hisab itu hukumnya wajib,
sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Husain :
“Mempelajari ilmu falak itu wajib, bahkan diperintahkan untuk mempelajarinya, karena ilmu falak itu
mencakup pengetahuan tentang kiblat dan hal-hal yang berhubungan dengan penanggalan, misalnya
puasa. Lebih-lebih pada masa sekarang ini, karena ketidaktahuannya para hakim (akan ilmu falak), sikap
mempermudah serta kecerobohan mereka, sehingga mereka menerima kesaksian (hilal) seseorang yang
mestinya tidak dapat diterima”.

Para ulama, misalnya Ibnu Hajar dan ar-Ramli berkata bahwa bagi orang yang hidup dalam kesendirian,
maka mempelajari ilmu falak itu fardlu ‘ain baginya. Sedangkan bagi masyarakat banyak hukumnya
fardlu kifayah.

e. Analisis

Pengetahuan pada hakikatnya adalah merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek
tertentu, termasuk ke dalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang
diketahui oleh manusia disamping sebagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama. Pengetahuan
merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tak langsung memperkaya kehidupa
kita. Sukar untuk dibayangka bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tidak ada,
sebab pengetahuan itu merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyan yang muncul dalam
kehidupan.

Tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertayaan tertentu yang diajukan. Oleh sebab itu
agar kita dapat memanfaatkan segenap pengetahuan kita secara maksimal maka harus kita ketahui
jawaban apa saja yang mungkin bisa diberikan oleh suatu pengetahuan tertentu. Atau dengan kata lain,
perlu kita ketahui pada pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus kita ajukan.

Secara ontologis ilmu membatasi diri pada pengkajian objek yag berada pada lingkup pengalama
manusia, sedangkan agama memasuki pula pada daerah penjajahan yang bersifat transendental yang
berada diluar pengalaman kita.

Bagaimana cara kita menyusun pengetahuan yang benar, masalah inilah yang dalam filsafati disebut
sebagai epistemologi, dan landasan epistemologi ilmu disebut metoda ilmiah. Dengan kata lain metoda
ilmia adalah cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun penetahuan yang benar. Setiap jenis
pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagimana (epistemologi) dan
untuk apa(aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan itu saling berkaitan.

Metode Ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut dengan ilmu. Jadi
ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan bisa
disebut ilmu, sebab ilmu merupakan cara medapatkanya harus memenuhi syarat-syara tertentu. Syarat-
syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut degan ilmu, tercantum dalam apa yang
dinamakan dengan metoda ilmiah. Metoda menurut Senn, merupakan suatu prosedur atau cara
mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis.[7] Metodologi merupakan
suatu pengkajian dalam memepelajari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode tersebut. Jadi
metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metose ilmiah.
Metode ini secara falsafati termasuk dalam apa yang dinamakan epistemologi. Epistemologi merupakan
suatu pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan : apakah sumber-sumber
pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang ingkup pengetahuan? Apakah manusia
dimungkinkan untuk medapatkan pengetahuan? Samapai tahap mana pengetahuan yang mungkin
untuk ditangkap manusia.[8]

Fiqih pada dasarnya berbicara tentang niat (motive), cara (metoda) dan tujuan suatu perbuatan
manusia, baik individu maupun kolektif, yang berhubungan dengan hukum. Identitas fiqih tercermin di
dalam : keadilannya, kerahmatannya, kemaslahatannya, dan hikamha yang terkandung di dalamnya
untuk kegahagiaan dunia dan akhirat dengan tujuan untuk akhir untuk mencapai keridhoan Alloh SWT.
Allah lah yang menciptakan hukum untuk kesejahteran hidup manusia, baik hukum-hukum dalam
semesta(sunnatullah) maupun hukum diantara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam[9].

Fiqih pada awal perkembangannya didefinisikan dengan : mengetahui, memahami dan mendalami
ajaran agama secara keseluruhan, termasuk perintah Allah untuk merenungkan, memikirkan dan
meneliti kejadian alam semesta, serta larangan Allah untuk merusak alam ini.

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah ilmu dibagi ke dalam bidang-bidang tetentu , fiqh diartikan
dalam pengertian yag snagat sempit, yaitu mengetahui hukum syara yang amaliah, yang diambil dari
dalil-dalil yang terperinci. Termasuk di dalamnya tentang rukun suatu perbuatan dan syarat syahnya.
Hukum taklifi seperti, wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram, hukum wadli yang meliputi sebab,
syarat dan mani, (halangan-halangan hukum). Karena sangat banyaknya aturan fiqh, keudian dibagi dan
disistimatisir dalam bidang-bidang tertentu : seperti bidang ibadah mahdloh, ghoer mahdloh,
selanjutnya ibadah ghoer mahdloh lebih rinci lagi, seperti : hukum pernikahan, hukum perdata, pidana,
tatanegara, hubungan internsional, hukum-hukum dagang. Materi fiqh ini bersifat ijtihadiyah yang
bersumber kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Seseorang yang ingin mengkaji ajaran Islam secara baik,
benar, dan mendalam tidak dapat meghindarkan diri dari keharusan mempelaari Al-Qur’an dan hadits
Nabi. Dinytakan demikian karena Al-Qur’an dan hadits Nabi merupakan sumber ajaran Islam[10]

Ilmu Falak sebagai sebuah disiplin ilmu, bisa dilihat dari dua sisi, sisi pertama ilmu falak sebagai sebuah
ilmu pengetahuan, yang secara epistemologi menggunakan metoda ilmiah dalam penyusunan, dengan
kata lain metoda ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun penetahuan yang benar. Di
sisi lain ilmu falak sebagai sebuah ilmu rumpun syari’ah, dimana dalam pembahasannya, menyangkut
masalah-masalah hukum yang ada kaitannya dengan peribadatan umat muslim, seperti waktu-waktu
sholat, waktu pelaksanaan puasa wajib, waktu pelaksanaan haji dan lain-lain, yang bersumber dari Al-
Qur’an dan As-Sunah

Para ulama berbeda pendapat tentang definisi As-Sunah menurut syara karena perbedaan disipilin ilmu
mereka dan perbedaan objek pembahasannya[11] diantaranya adalah :

1. Menurut ulama hadits As-Sunah adalah sesuatu yang yang disandarkan kepada Nabi saw, sahabat,
tabi’in, baik berupa ucapan, perbuatan, pengakuan, maupun sifatnya.
2. Menurut uama ushul, As-Sunah adalah semua yang dikaitkan dengan Nabi saw, selain Al-Qur’an
bak berupa ucapan, peruatan ataupun pengakuannya yang berkaitan dengan dalil syar’i, sebab yang
menjadi objek pembahasan mereka adalah dalil-dalil syara.

3. Menurut ulama fiqih As-Sunah adalah suatu yang telah terbukti dari Nabi saw, bukan termasuk
pengertian fardu atau wajib dalam agama, dan bukan pula bersifat taklif atau pembenaran, melainkan
berupa anjuran. Sebab yang menjadi objek pembahsan mereka adalah :

a. Menyelidiki hukum-hukum syara, seperti fardu, wajib, mandub, haram, makruh.

b. Memberi pengertian kepada setiap individu tentang setiap hukum.

4. Menurut ulama dakwah, As-Sunah adalah lwan dari al Bid’ah, sebab pembahasan mereka adalah
memperhatikan perintah dn larangan syara.

2. Cara Mendalami Ilmu Falak menurut As-Sunah

Sejauh yang penulis sudah baca, tidak ada teks hadits (sunah) yang menjelaskan secara detail tentang
tujuan dan cara mendalami ilmu falak, tetapi jika seseorang yang ingin mengkaji dan mempelajari ilmu
falak secara baik, benar, dan mendalam tidak dapat meghindarkan diri dari keharusan mempelaari Al-
Qur’an dan hadits Nabi. Dinyatakan demikian karena Al-Qur’an dan hadits Nabi merupakan sumber
ajaran Islam, dan merupakan landasan teologi dari ilmu falak ini

Untuk mempelajari ilmu falak pada pada dasarnya hampir sama dengan ilmu-ilmu pengethuan lain,
harus ada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikuasai. Kompetensi adalah sekumpulan
pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai sebagai kinerja yang berpengaruh terhadap peran,
perbuatan, prestasi, serta pekerjaan seseorang. Dengan demikian, kompetensi dapat diukur dengan
stadar umum serta dapat ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan[12].

C. KESIMPULAN

Mempelajari suatu disiplin ilmu tentu ada suatu tujuan, begitu juga ketika kita mempelajari ilmu falak
mempunyai suat tujuan ang sangat jelas, selain hukumnya Wajib Kifayah,berdasarkan kaidah Ushul “
Tidak sempurna suatu kewajiban jika tidak ada sesuatu, maka sesuatu tersebut, menjadi wajib
hukumnya”, juga ada maksud lain, yaitu dengan mempelari ilmu falak atau ilmu hisab, kita dapat
memastikan ke arah mana kiblat suatu tempat di permukaan bumi. Kita juga dapat memastikan waktu
shalat telah tiba atau matahari sudah terbenam untuk berbuka puasa. Dengan ilmu ini pula orang yang
melakukan rukyatul hilal dapat mengarahkan pandangannya dengan tepat ke posisi hilal, bahkan kita
juga dapat mengetahui akan terjadinya peristiwa gerhana matahari atau gerhana bulan berpuluh
bahkan beratus tahun yang akan datang.

Dengan demikian, ilmu falak atau ilmu hisab dapat menumbuhkan keyakinan dalam melakukan ibadah,
sehingga ibadahnya lebih khusyu.
Adapun cara memperdalamnya, hampir sama dengan ilmu pengetauan lain yaitu harus mengusai
standar kompetensi dan kompetensi dari ilmu falak, sedangkan peran As-Sunah dalam ilmu falak ini
sebagai landasan teologi yang melandasi semua bagian-bagian dari bahasan ilmu falak.

Anda mungkin juga menyukai