Anda di halaman 1dari 17

JURNAL READING

ASUHAN KEBIDANAN HOLISTIK NEONATUS, BAYI,


BALITA DAN ANAK PRASEKOLAH DENGAN IKTERUS
FISIOLOGIS
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Asuhan Kebidanan Holistik Neonatus, Bayi,
Balita dan Anak Prasekolah

Oleh:

FEYLA ENGGAR W.N


NIM P01740523061

Pembimbing Akademik

Kurniyati, SST, M.Keb


NIP. 197204121992022001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN


JURUSAN KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES
BENGKULU
2023
HALAMAN PENGESAHAN

Jurnal Reading

“ASUHAN KEBIDANAN HOLISTIK NEONATUS, BAYI,


BALITA DAN ANAK PRASEKOLAH DENGAN IKTERUS
FISIOLOGIS”

Oleh:

FEYLA ENGGAR W.N


NIM P01740523061

Pembimbing Akademik

Kurniyati, SST, M.Keb


NIP. 197204121992022001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Bidan

Diah Eka Nugraheni, SST, M.Keb


NIP. 198012102002122002

1
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN..........................................................................ii
KATA PENGANTAR......................................................................................iii
DAFTAR ISI....................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
A. Judul Jurnal....................................................................................1
B. Abstrak...........................................................................................1
C. Pendahuluan/Latar Belakang/Tujuan.............................................1
D. Metodologi.....................................................................................2
E. Hasil dan Pembahasan...................................................................3
F. Kesimpulan dan Saran...................................................................4

BAB II TELAAH JURNAL...........................................................................5


A. Judul Jurnal....................................................................................5
B. Abstrak...........................................................................................5
C. Pendahuluan/Latar Belakang/Tujuan.............................................5
D. Metodologi.....................................................................................5
E. Hasil dan Pembahasan...................................................................5
F. Kesimpulan dan Saran...................................................................6
G. PICOT............................................................................................6
H. RAMMbo.......................................................................................6

BAB III TINJAUAN PUSTAKA...................................................................7

BAB IV PENUTUP.........................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................18

LAMPIRAN....................................................................................................20

2
BAB I
ISI JURNAL

A. Judul Jurnal
Efektifitas Pemberian ASI terhadap Penurunan Kadar Bilirubin

B. Abstrak Jurnal
Hiperbilirubinemia merupakan salah satu kegawatan yang sering terjadi
pada bayi baru lahir. Sebanyak 25-50% terjadi hiperbilirubinemia pada bayi
cukup bulan dan 80% pada bayi dengan berat lahir rendah. Hiperbilirubinemia
merupakan diagnosa awal sebelum terjadi kernikterus. Hiperbilirubinemia
adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek patologi, Untuk
mengendalikan kadar bilirubin pada bayi baru lahir dapat dilakukan pemberian
ASI sedini mungkin. Pemberian ASI pada bayi dianjurkan 2-3 jam sekali atau
8-12 kali dalam sehari. Dengan Pemberian ASI yang lebih sering mencegah
Bayi mengalami dehidrasi dan kekurangan asupan kalori . Terlambatnya bayi
mendapatkan nutrisi (ASI) mengakibatkan bilirubin direk yang sudah mencapai
usus tidak terikat oleh makanan dan tidak dikeluarkan melalui anus bersama
makanan. Di dalam usus, bilirubin direk ini diubah menjadi bilirubin indirek
yang akan diserap kembali ke dalam darah dan kondisi tersebut akan
mengakibatkan menetapnya kondisi hiperbilirubin. Penelitian bertujuan
mengetahui efektifitas pemberian ASI (tiap 2 jam) terhadap penurunan kadar
bilirubin pada bayi hiperbilirubinemia di RSU X Wilayah Kabupaten Pati.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif dengan kuasi
eksperimen pre-test dan post-test with control group design. Populasi dalam
penelitian ini adalah bayi cukup bulan yang mengalami hiperbilirubinemia
pada masa rawat September sampai Desember 2017 sejumlah 122 bayi. Teknik
pengambilan sampel menggunakan Teknik purposive Random Sampling
dengan jumlah 92 responden, dengan 46 responden mendapatkan ASI tiap 2
jam dan sebagai kontrolnya adalah bayi hiperbilirubinemia yang diberikan ASI
tiap 3 jam. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang didapatkan dari
rekam medis pasien. Hasil dan kesimpulan dalam penelitian menunjukan
bahwa rata rata penurunan kadar bilirubin bayi yang diberikan ASI tiap 2 jam
adalah 7,17 mg/dl. Pada bayi yang diberikan ASI tiap 3 jam, rata rata
penurunan kadar bilirubin bayi adalah 7,01 mg/dl, Hal tersebut menunjukkan
Pemberian ASI tiap 2 jam efektif dalam menurunkan kadar bilirubin bayi
dengan hiperbilirubinemia dengan p value 0,000 ( α : 0,05).

3
C. Pendahuluan/Latar Belakang/Tujuan
Hiperbilirubinemia merupakan salah satu kegawatan yang sering terjadi
pada bayi baru lahir. Sebanyak 25-50% terjadi hiperbilirubinemia pada bayi
cukup bulan dan 80% pada bayi dengan berat lahir rendah. Hiperbilirubinemia
merupakan diagnosa awal sebelum terjadi kernikterus. Hiperbilirubinemia
adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek patologi, Untuk
mengendalikan kadar bilirubin pada bayi baru lahir dapat dilakukan pemberian
ASI sedini mungkin. Pemberian ASI pada bayi dianjurkan 2-3 jam sekali atau
8-12 kali dalam sehari. Dengan Pemberian ASI yang lebih sering mencegah
Bayi mengalami dehidrasi dan kekurangan asupan kalori. Terlambatnya bayi
mendapatkan nutrisi (ASI) mengakibatkan bilirubin direk yang sudah mencapai
usus tidak terikat oleh makanan dan tidak dikeluarkan melalui anus bersama
makanan. Di dalam usus, bilirubin direk ini diubah menjadi bilirubin indirek
yang akan diserap kembali ke dalam darah dan kondisi tersebut akan
mengakibatkan menetapnya kondisi hiperbilirubin.

Bilirubin adalah hasil pemecahan sel darah merah. Hemoglobin (Hb) yang
berada didalam sel darah merah akan dipecah menjadi bilirubin. Satu gram Hb
akan menghasilkan 35 mg bilirubin. Bilirubin ini dinamakan bilirubin Indirek
yang larut dalam lemak dan akan diangkut ke hati terikat oleh albumin. Di
dalam hati bilirubin di konjugasi oleh enzim glukoronid transferase menjadi
bilirubin direk yang larut dalam air untuk kemudian disalurkan melalui saluran
empedu didalam dan diluar hati ke usus. Didalam usus bilirubin direk ini akan
terikat oleh makanan dan dikeluarkan sebagai sterkobilin bersama tinja.
Apabila tidak ada makanan didalam usus, bilirubin direk ini akan diubah oleh
enzim didalam usus yang juga terdapat didalam air susu ibu (ASI) yaitu beta
glukoronidase menjadi bilirubin indirek yang akan diserap kembali didalam
usus kedalam aliran darah. Bilirubin ini akan diikat oleh albumin dan kembali
kedalam hati [1]

Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek


patologi. Hiperbilirubinemia dapat juga diartikan sebagai ikterus. Ikterus akan
menjadi kernikterus bila kadar bilirubin tidak dikendalikan. Kernikterus adalah
ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada bayi cukup bulan dengan
ikterus berat (bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl). Kondisi ini disertai
penyakit hemolitik berat dan pada autopotopsy ditemukan bercak bilirubin
pada otak Kadar bilirubin yang berlebihan akan bersifat toksik dan merusak
jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang
bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Efek patologis
bilirubin yang berlebihan pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus
sawar darah otak. Bilirubin indirek akan mudah melewati sawar otak apabila

4
bayi terdapat keadaan berat badan lahir rendah, hipoksia, dan hipoglikemi.
Kondisi Kernikterus secara klinis dapat berupa kelainan syaraf spastic yang
terjadi secara kronik. Kerusakan syaraf tersebut terjadi akibat pengendalian
yang kurang dalam menangani ikterus pada bayi baru lahir. Untuk
mengendalikan kadar bilirubin pada bayi baru lahir dapat dilakukan pemberian
ASI sedini mungkin. Bayi yang diberi minum lebih awal dengan efektif.
Pemberian kolostrum dapat mengurangi kejadian hiperbilirubin fisiologis.
Keefektifan ini meliputi frekuensi, durasi, serta tata cara pemberian ASI yang
benar. Pemberian ASI pada bayi dianjurkan 2-3 jam sekali atau 8-12 kali dalam
sehari untuk beberapa hari pertam. Pemberian ASI tersebut untuk
mengantisipasi menurunnya asupan kalori pada hari hari awal kehidupan bayi.
Dehidrasi pada bayi di awal kehidupan karena belum terpenuhinya kebutuhan
nutrisi (ASI) dapat menyebabkan dehidrasi dan dapat menyebabkan terjadinya
ikterus. Suplementasi dengan air atau dektrosa tidak akan mencegah dan
mengobati hiperbilirubin [2]

Menurut Sunar dkk (2009) ASI merupakan nutrisi terbaik bagi bayi karena
dalam ASI mengandung antibody, protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin.
Sebagian bahan yang terkandung dalam ASI yaitu beta glukoronidase akan
memecah bilirubin menjadi bentuk yang larut dalam lemak sehingga bilirubin
indirek akan meningkat dan kemudian akan direabsorbsi oleh usus. Pemberian
ASI ini akan meningkatkan motilitas usus dan juga menyebabkan bakteri
introduksi ke usus. [3]

Dari hasil study pendahuluan pada 10 pasien hiperbilirubin diruang


Perinatal RS X Kabupaten Pati ditemukan adanya fenomena bahwa bayi
dengan bilirubin mengalami ikterik. Hal ini terjadi karena kurangnya asupan
ASI dari ibunya. Banyak ibu yang produksi ASI nya belum keluar atau
produksi ASI nya masih sedikit. Hal ini tentu mengakibatkan bayi kurang
asupan ASI sehingga terjadi ikterik. Empat dari Sepuluh pasien hiperbilirubin
mengalami penurunan kadar bilirubin setelah diberi ASI 2 jam sekali dan
dilakukan fototerapi selama 2x24 Jam. Empat pasien yang lain mengalami
penurunan kadar bilirubin setelah diberikan ASI 3 jam sekali dan dilakukan
fototerapi selama 2x24 Jam. Sedangkan dua yang lainnya tidak mengalami
penurunan kadar bilirubin karena adanya penyebab yang lain.

D. Metodologi
Penelitian bertujuan mengetahui efektifitas pemberian ASI (tiap 2 jam)
terhadap penurunan kadar bilirubin pada bayi hiperbilirubinemia di RSU X
Wilayah Kabupaten Pati. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
komparatif dengan kuasi eksperimen pre-test dan post-test with control group

5
design. Populasi dalam penelitian ini adalah bayi cukup bulan yang mengalami
hiperbilirubinemia pada masa rawat September sampai Desember 2017
sejumlah 122 bayi. Teknik pengambilan sampel menggunakan Teknik
purposive Random Sampling dengan jumlah 92 responden, dengan 46
responden mendapatkan ASI tiap 2 jam dan sebagai kontrolnya adalah bayi
hiperbilirubinemia yang diberikan ASI tiap 3 jam. Penelitian ini menggunakan
data sekunder yang didapatkan dari rekam medis pasien.

Analisa data dilakukan terhadap variabel kadar bilirubin sebagai variabel


terikat dan pemberian ASI (metode 2 jam dan 3 jam ) sebagai variabel bebas.
Analisa data dilakukan secara analisis univariat maupun analisis bivariat.
Analisa bivariat menggunakan uji Paired-sample T Test dan Independen
sample T Test untuk membandingkan metode 2 jam dan 3 jam.

E. Hasil dan Pembahasan


Penelitian ini membuktikan dan menjawab pertanyaan penelitian yaitu
apakah ada pemberian ASI tiap 2 jam (12 x / hari) lebih efektif dibandingkan
dengan pemberian ASI tiap 3 jam (8 x/ hari) untuk menurunkan kadar bilirubin
bayi dengan hiperbilirubinemia di RS X Kabupaten Pati.

F. Kesimpulan dan Saran


Pemberian ASI efektif menurunkan kadar bilirubin pada bayi dengan
hiperbilirubinemia (p value; 0,000; α 0,05). Tidak ada perbedaan yang
sifgnifikan rata rata penurunan kadar bilirubin antara bayi yang diberikan ASI
tiap 2 jam maupun tiap 3 jam. (p value; 0,786; α 0,05). Pemberian ASI tiap 2
jam menunjukkan penurunan kadar bilirubin yang lebih besar (7,179 gr/dl)
dibandingkan dengan pemberian ASI tiap 3 jam ( 7,019 gr/dl)

6
BAB II
TELAAH JURNAL

A. Judul Jurnal
Efektifitas Pemberian ASI terhadap Penurunan Kadar Bilirubin

B. Abstrak
Hiperbilirubinemia merupakan salah satu kegawatan yang sering terjadi
pada bayi baru lahir. Sebanyak 25-50% terjadi hiperbilirubinemia pada bayi
cukup bulan dan 80% pada bayi dengan berat lahir rendah.
Hiperbilirubinemia merupakan diagnosa awal sebelum terjadi kernikterus.
Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek
patologi, Untuk mengendalikan kadar bilirubin pada bayi baru lahir dapat
dilakukan pemberian ASI sedini mungkin. Pemberian ASI pada bayi
dianjurkan 2-3 jam sekali atau 8-12 kali dalam sehari. Dengan Pemberian ASI
yang lebih sering mencegah Bayi mengalami dehidrasi dan kekurangan
asupan kalori . Terlambatnya bayi mendapatkan nutrisi (ASI) mengakibatkan
bilirubin direk yang sudah mencapai usus tidak terikat oleh makanan dan
tidak dikeluarkan melalui anus bersama makanan. Di dalam usus, bilirubin
direk ini diubah menjadi bilirubin indirek yang akan diserap kembali ke
dalam darah dan kondisi tersebut akan mengakibatkan menetapnya kondisi
hiperbilirubin. Penelitian bertujuan mengetahui efektifitas pemberian ASI
(tiap 2 jam) terhadap penurunan kadar bilirubin pada bayi hiperbilirubinemia
di RSU X Wilayah Kabupaten Pati. Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif komparatif dengan kuasi eksperimen pre-test dan post-test with
control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah bayi cukup bulan
yang mengalami hiperbilirubinemia pada masa rawat September sampai
Desember 2017 sejumlah 122 bayi. Teknik pengambilan sampel
menggunakan Teknik purposive Random Sampling dengan jumlah 92
responden, dengan 46 responden mendapatkan ASI tiap 2 jam dan sebagai
kontrolnya adalah bayi hiperbilirubinemia yang diberikan ASI tiap 3 jam.
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang didapatkan dari rekam medis
pasien. Hasil dan kesimpulan dalam penelitian menunjukan bahwa rata rata
penurunan kadar bilirubin bayi yang diberikan ASI tiap 2 jam adalah 7,17
mg/dl. Pada bayi yang diberikan ASI tiap 3 jam, rata rata penurunan kadar
bilirubin bayi adalah 7,01 mg/dl, Hal tersebut menunjukkan Pemberian ASI
tiap 2 jam efektif dalam menurunkan kadar bilirubin bayi dengan
hiperbilirubinemia dengan p value 0,000 ( α : 0,05).

7
C. Pendahuluan
Hiperbilirubinemia merupakan salah satu kegawatan yang sering terjadi
pada bayi baru lahir. Sebanyak 25-50% terjadi hiperbilirubinemia pada bayi
cukup bulan dan 80% pada bayi dengan berat lahir rendah.
Hiperbilirubinemia merupakan diagnosa awal sebelum terjadi kernikterus.
Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek
patologi, Untuk mengendalikan kadar bilirubin pada bayi baru lahir dapat
dilakukan pemberian ASI sedini mungkin. Pemberian ASI pada bayi
dianjurkan 2-3 jam sekali atau 8-12 kali dalam sehari. Dengan Pemberian ASI
yang lebih sering mencegah Bayi mengalami dehidrasi dan kekurangan
asupan kalori . Terlambatnya bayi mendapatkan nutrisi (ASI) mengakibatkan
bilirubin direk yang sudah mencapai usus tidak terikat oleh makanan dan
tidak dikeluarkan melalui anus bersama makanan. Di dalam usus, bilirubin
direk ini diubah menjadi bilirubin indirek yang akan diserap kembali ke
dalam darah dan kondisi tersebut akan mengakibatkan menetapnya kondisi
hiperbilirubin.

D. Metodologi
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif dengan kuasi
eksperimen pre-test dan post-test with control group design. Populasi dalam
penelitian ini adalah bayi cukup bulan yang mengalami hiperbilirubinemia
pada masa rawat September sampai Desember 2017 sejumlah 122 bayi.
Teknik pengambilan sampel menggunakan Teknik purposive Random
Sampling dengan jumlah 92 responden, dengan 46 responden mendapatkan
ASI tiap 2 jam dan sebagai kontrolnya adalah bayi hiperbilirubinemia yang
diberikan ASI tiap 3 jam. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang
didapatkan dari rekam medis pasien.

E. Hasil dan Pembahasan/Diskusi


Penelitian ini membuktikan dan menjawab pertanyaan penelitian yaitu
apakah ada pemberian ASI tiap 2 jam (12 x / hari) lebih efektif dibandingkan
dengan pemberian ASI tiap 3 jam (8 x/ hari) untuk menurunkan kadar
bilirubin bayi dengan hiperbilirubinemia di RS X Kabupaten Pati.

F. Kesimpulan dan Saran


Hasil dan kesimpulan dalam penelitian menunjukan bahwa rata rata
penurunan kadar bilirubin bayi yang diberikan ASI tiap 2 jam adalah 7,17
mg/dl. Pada bayi yang diberikan ASI tiap 3 jam, rata rata penurunan kadar
bilirubin bayi adalah 7,01 mg/dl, Hal tersebut menunjukkan Pemberian ASI
tiap 2 jam efektif dalam menurunkan kadar bilirubin bayi dengan
hiperbilirubinemia dengan p value 0,000 ( α : 0,05)

8
G. PICOT
Populasi Seluruh bayi usia 3-6 hari

Intervensi Kelompok intervensi berjumlah 46 bayi diberi ASI setiap


2 jam sekali dan kelompok control diberi ASI setiap 3
jam sekali

Comparatif Tidak ada

Outcome Penelitian bertujuan mengetahui efektifitas pemberian


ASI (tiap 2 jam) terhadap penurunan kadar bilirubin pada
bayi hiperbilirubinemia di RSU X Wilayah Kabupaten
Pati tahun 2018

Time Tahun 2018

H. RAMMbo
Representatif Ya

Alokasifair Ya

Maintenance Ya
fair

Measurement Tidak dijelaskan


Blinded
Objective

9
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Ikterus Fisiologis


Ikterus adalah menguningnya sklera, kulit, atau jaringan lain akibat
penimbunan bilirubin dalam tubuh atau akumulasi bilirubin dalam darah lebih
dari 5 mg/dl dalam 24 jam, yang menandakan terjadinya gangguan fungsional
dari hepar, sistem billiary, atau sistem hematologi. Ikterus dapat terjadi baik
karena peningkatan billirubin indirek (unconjugated) dan direk (conjugated)
(Rukiyah dan Yulianti, 2013).
Kadar bilirubin serum pada bayi cukup bulan tidak lebih dari 12 ml/dl
dan BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) 10 mg/dl dan akan abnormal
pada hari ke 14 (Sembiring, 2017). Ikterus fisiologis timbul pada hari kedua
dan hari ketiga dan menghilang pada minggu pertama, selambat-
lambatnya adalah 10 hari pertama setelah lahir. Kadar bilirubin indirek tidak
melebihi 10 mg % pada neonatus yang cukup bulan dan 12,5 mg % untuk
neonatus yang kurang bulan, kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak
melebihi 5 mg% setiap hari, kadar bilirubin direk tidak melebihi 1 mg%
(Hidayat, 2011).
Walaupun pada bayi dalam umur 10 hari pertama terjadi destruksi eritorit
dalam jumlah yang besar, namun tidak akan terjadi Ikterus bila fungsi hati
sudah matang, aliran bilirubin dari usus kembali ke hati juga merupakan factor
penyebab timbulnya Ikterus fisiologis (Oswari Hanifah, 2017 ). Factor lain
yang mempengaruhi terhadap terjadinya peningkatan bilirubin adalah
hipoksia, minum air susu ibu (ASI), penyakit membrane hialin (HMD),
hipoglikemia, asidosis, hipotermia dan hipoprotemia, keadaan tersebut juga
merupakan predisposisi untuk terjadinya kren Ikterus walau kadar bilirubin
tidak terlalu tinggi. ( Bijanti Retno,2010).

10
B. Etiologi
Etiologi peningkatan bilirubin umum terjadi pada setiap bayi baru lahir
karena hemolisis yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah lebih banyak
dan berumur lebih pendek. Fungsi hepar yang belum sempurna sehingga
penurunan bilirubin oleh hepatosit dan konjugasi. Kejadian ikterus atau
hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir disebabkan oleh disfungsi hati pada
bayi baru lahir sehingga organ hatipada bayi tidak dapat berfungsi maksimal
dalam melarutkan bilirubin ke dalam air yang selanjutkan disalurkan ke
empedu dan diekskresikanke dalam usus menjadi urobilinogen. Hal tersebut
meyebabkan kadar bilirubin meningkat dalam plasma sehingga terjadi ikterus
pada bayi baru lahir (Anggraini, 2016). Secara garis besar etiologi itu dapat
dibagi sebagai berikut :
a. Ikterus akibat air susu ibu (ASI) merupakan hiperbilirubinemia tidak
terkonjugasi yang mencapai puncaknya terlambat (biasanya menjelang
hari ke 5-6). Dapat dibedakan dari penyebab lain dengan reduksi kadar
bilirubin yang cepat bila disubstitusi dengan susu formula selama 1-2
hari. Hal ini untuk membedakan ikterus pada bayi yang disusui ASI
selama minggu pertama kehidupan. Sebagian bahan yang terkandung
dalam ASI (beta glucoronidase) akan memecah bilirubin menjadi
bentuk yang larut dalam lemak sehingga bilirubin indirek akan
meningkat dan kemudian akan diresorbsi oleh usus. Bayi yang
mendapat ASI bila dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu
formula, mempunyai kadar bilirubin yang lebih tinggi berkaitan
dengan penurunan asupan pada beberapa hari pertama kehidupan.
Pengobatannya bukan dengan menghentikan pemberian ASI
melainkan dengan meningkatkan frekuensi pemberian (Sembiring Br
J,2019).

11
C. Patofisiologi
Sel-sel darah merah yang telah tua dan rusak akan dipecah menjadi
bilirubin, yang oleh hati akan dimetabolisme dan dibuang melalui feses.
Didalam usus juga terdapat banyak bakteri yang mampu mengubah bilirubin
sehingga mudah dikeluarkan oleh feses. Hal ini terjadi secara normal pada
orang dewasa. Pada bayi baru lahir, jumlah bakteri pemetabolisme bilirubin
ini masih belum mencukupi sehingga ditemukan bilirubin yang masih beredar
dalam tubuh tidak dibuang bersama feses. Begitu pula dalam usus bayi
terdapat enzim glukorinil transferase yang mampu mengubah bilirubin dan
menyerap kembali bilirubin kedalam darah sehingga makin memperparah
akumulasi bilirubin dalam badannya. Akibatnya pigmen tersebut akan
disimpan dibawah kulit, sehingga kulit bayi menjadi kuning. Biasanya dimulai
dari wajah, dada, tungkai dan kaki menjadi kuning.
Biasanya hiperbilirubinemia dan sakit kuning akan menghilang setelah
minggu pertama. Kadar bilirubin yang sangat tinggi biasanya disebabkan
pembentukan yang berlebihan atau gangguan pembuangan bilirubin. Kadang
pada bayi cukup umur yang diberi susu ASI, kadar bilirubin meningkat secara
progresif pada minggu pertama, keadaan ini disebut jaundice ASI.
Penyebabnya tidak diketahui dan hal ini tidak berbahaya, jika kadar bilirubin
sangat tinggi mungkin perlu dilakukan terapi yaitu terapi sinar dan transfusi
tukar. ( Widagdo, 2012 ).

D. Gejala Klinik
Ikterus ini memiliki tanda-tanda berikut :
1. Timbul pada hari ke dua dan ketiga setelah bayi lahir
2. Kadar biliburin Indirect tidak lebih dari 10 mg% pada neonatus cukup
bulan dan 12,5 mg% pada neonatus kurang bulan
3. Kecepatan peningkatan kadar biliburin tidak lebih dari 5 mg% per hari
4. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama
5. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis
6. Kadar bilirubin direct tidak lebih dari 1 mg%

12
E. Komplikasi
Kern ikterus adalah suatu kerusakan otak akibat adanya bilirubin indirect
pada otak.Kern ikterus ditandai dengan kadar bilirubin darah yang tinggi (>20
mg% pada bayi cukup bulan atau >18 mg% pada bayi berat lahir rendah)
disertai dengan gejala kerusakan otak berupa mata berputar,letargi,kejang,tak
mau mengisap,tonus otot meningkat ,leher kaku dan sianosis,serta dapat juga
diikuti dengan gangguan berbicara dan retardasi mental di kemudian hari
(Dewi,2012).

F. Tata Laksana
Ikterus yang berhubungan dengan pemberian ASI disebabkan oleh
peningkatan bilirubin indirek. Ada 2 jenis ikterus yang berhubungan dengan
pemberian ASI, yaitu: a. Jenis pertama: ikterus yang timbul dini (hari kedua
atau ketiga) dan disebabkan oleh asupan makanan yang kurang karena
produksi ASI masih kurang pada hari pertama. b. Jenis kedua: ikterus yang
timbul pada akhir minggu pertama, bersifatfamilial disebabkan oleh zat yang
ada di dalam ASI. Iketrus karena ASI pertama kali didiskripsikan pada tahun
1963. Karakteristik ikterus karena ASI adalah kadar bilirubin indirek yang
masih meningkat setelah 4-8 hari pertama, berlangsung lebih lama dari ikerus
fisiologis yaitu sampai 3-12 minggu dan tidak ada penyebab lainnya yang
dapat menyebabkan ikterus. Ikterus karena ASI berhubungan dengan
pemberian ASI dari seorang ibu tertentu dan biasanya akan timbul ikterus
pada setiap bayi yang disusukannya. Selain itu, ikterus karena ASI juga
bergantung kepada kemampuan bayi mengkonjugasi bilirubin indirek
(misalnya bayi prematur akan lebih besar kemungkinan terjadi ikterus). Untuk
mengurangi terjadinya ikterus dini perlu tindakan sebagai berikut :
a. Bayi Dalam Waktu 30 Menit Diletakkan Ke Dada Ibunya Selama 30-60
Menit
b. Posisi Dan Perlekatan Bayi Pada Payudara Harus Benar
c. Berikan kolostrum karena dapat membantu untuk membersihkan
mekonium dengan segera. Mekonium yang mengandung bilirubin

13
tinggi bila tidak segera dikeluarkan, bilirubinnya dapat diabsorbsi
kembali sehingga meningkatkan kadar bilirubin dalam darah.
d. Bayi Disusukan Sesuai Kemauannya Tetapi Paling Kurang 8 Kali
Sehari atau setiap 2 jam sekali.
e. Jangan Diberikan Air Putih, Air Gula Atau Apapun Lainnya Sebelum
Asi Keluar Karena Akan Mengurangi Asupan Susu.
f. Monitor Kecukupan Produksi Asi Dengan Melihat Buang Air Kecil
Bayi Paling Kurang 6-7 kali sehari dan buang air besar paling kurang 3-
4 kali sehari ( Widagdo, 2012 )

G. Karakteristik Ikterus Fisiologis


Ikterus Fisiologis mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a. Timbul pada hari ke 2-3 dan hilang pada umur 4-5 hari. Kadar bilirubin
indirek (larut dalam lemak) tidak melewati 12 mg/dl pada neonatus
cukup bulan dan 15 mg/dL pada kurang bulan.
b. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg/dL per hari.
c. Kadar bilirubin direk (larut dalam air) kurang dari 1mg/dL.
d. Gejala ikterus akan hilang pada sepuluh hari pertama kehidupan.
e. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis tertentu.
(Magdalena C,2020).

14
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dalam jurnal ini telah merangkum hasil penelitian yang dapat

menjadi referensi pembaca khususnya mengenai Efektifitas Pemberian

ASI terhadap Penurunan Kadar Bilirubin.

15
DAFTAR PUSTAKA

Budi Artha, K. (2017). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI

Ekslusif Oleh Ibu Menyusui yang Bekerja Sebagai Tenaga Kesehatan. Jurnal

Ilmu Kesehatan 2, 159–174.

Dasnur, D., & Sari, I. M. (2018). Hubungan frekuensi pemberian Asi Terhadap

Kejadian Ikterus Fisiologis Pada Bayi Baru Lahir Di Semen Padang Hospital

Tahun 2017. Jurnal Kesehatan.

Marni, S., & R. (2012). Asuhan Neonatus Bayi, Balita & Anak Prasekolah.

Noorbaya, S. (2019). Panduan Belajar Asuhan Neonates, Bayi, Balita Dan

Anak Prasekolah. Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Rana, R. (2018). Waktu pemberian asi dan kejadian ikterus neonatorum. Jurnal

Informasi Kesehatan Indonesia, 4 (1), 43–52.

16

Anda mungkin juga menyukai