Anda di halaman 1dari 36

Referat

GLAUKOMA
Oleh :
Andra Hijratul Syafa, S. Ked

Pembimbing :
dr. Halimatussakdiah T, Sp. M
Pendahuluan

Glaukoma  glaukos  hijau kebiruan, yang


memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita
glaukoma

Glaukoma  penyakit mata yang ditandai oleh


meningkatnya tekanan intraokuler yang disertai oleh
pencekungan diskus optikus dan pengecilan lapang
pandang
Epidemiologi

± 2.3 juta penderita Glaukoma


sudut terbuka

Glaukoma akut terjadi pada 1 dari 1000 orang yang


berusia di atas 40 tahun dengan angka kejadian
yang bertambah sesuai usia. Perbandingan wanita
dan pria adalah 4:1. Pasien kemungkinan besar rabun
dekat karena mata rabun dekat berukuran kecil dan
struktur bilik mata anterior lebih padat
Anatomi
Mata
Aliran Aqueous Humor
GLAUKOMA
Peningkatan
tekanan intra okuler

Glaukoma

pengecilan
pencekungan
lapang
diskus optikus
pandang
Klasifikasi

Glaukoma Glaukoma Glaukoma Glaukoma


primer sudut primer sudut sekunder kongenital
terbuka tertutup •mata mengalami •timbul saat lahir
•penyebabnya tidak •sudut bilik mata kerusakan akibat atau dalam tahun
ditemukan depan yang infeksi, peradangan, pertama
•ditandai dengan tertutup tumor, katarak yang
sudut bilik mata •bersifat bilateral meluas, kecelakaan
depan yang atau trauma, serta
•herediter pembuluh darah
terbuka
yang tidak normal
(sering karena
diabetes melitus)
progresifitas gejala sudut bilik mata depan
yang tertutup, bersifat
Glaukoma Glaukoma kongenital
berjalan perlahan sekunder terjadi timbul saat lahir atau
bilateral dan herediter.
dan lambat Gejala yang dirasakan jika mata dalam tahun pertama
sehingga sering oleh pasien, seperti : mengalami dengan gejala klinis
tidak disadari oleh tajam penglihatan adanya mata berair
kurang (kabur kerusakan akibat berlebihan,
penderitanya, serta
gejalanya samar mendadak), mata infeksi, peningkatan diameter
seperti: sakit kepala
merah, bengkak, mata peradangan, kornea (buftalmos),
berair, kornea suram tumor, katarak kornea berawan
ringan tajam karena edema, bilik
yang meluas, karena edema epitel,
penglihatan tetap mata depan dangkal
kecelakaan atau terpisah atau
normal; hanya dan pupil lebar dan
robeknya membran
perasaan pedas tidak bereaksi terhadap trauma, serta descemet, fotofobia,
sinar, diskus optikus
atau kelilipan saja;
terlihat merah dan
pembuluh darah peningkatan tekanan
tekanan intra okuler bengkak, tekanan intra yang tidak normal intraokular,
terus -menerus okuler meningkat hingga (sering karena peningkatan
meningkat hingga terjadi kerusakan iskemik diabetes melitus). kedalaman kamera
merusak saraf pada iris yang disertai anterior,
penglihatan. edema kornea, melihat pencekungan diskus
halo (pelangi di sekitar optikus.
dapat dalam bentuk objek), nyeri hebat
primer dan sekunder periorbita, pusing,
bahkan mual-muntah
Patofisiologi

tekanan vena
episklera
kanal Schlemm

jalinan
trabekulum

Besarnya
aliran keluar
aquoeus
humor
melalui sudut
besarnya bilik mata
produksi depan
aquoeus
humor oleh
badan
siliar
Patofisiologi

tepi papil saraf


optik relatif lebih
kuat daripada
bagian tengah
menekan papil sehingga terjadi
saraf optik yang cekungan pada
merupakan papil saraf optik
tempat dengan
daya tahan paling
lemah pada bola
atrofi sel ganglion mata
difus (diskus
optikus) akibat
gangguan terjadi
pada cabang- Teori mekanik direk
cabang sirkulus
Zinn-Haller)

Teori iskemik indirek


PEMERIKSAAN GLAUKOMA
Pemeriksaan tekanan bola mata

Palpasi, Identasi Aplanasi Tonometri


kurang tepat tonometri tonometri udara (air
karena (tonometri (tonometri tonometri),
tergantung schiotz), goldmann), kurang tepat
faktor dengan mendatarkan karena
subjektif. memberi permukaan dipergunakan
beban pada kecil kornea. di ruang
permukaan terbuka
kornea
PEMERIKSAAN GLAUKOMA
Pemeriksaan kelainan papil saraf optik
PEMERIKSAAN GLAUKOMA
Pemeriksaan Sudut Bilik Mata
PEMERIKSAAN GLAUKOMA
Pemeriksaan Lapangan Pandang
TERAPI GLAUKOMA

Medikamentosa Operatif

Tujuan:
Turunkan TIO TIO aman
Cara penurunan TIO

1. Menurunkan Produksi AH
2. Menambah pembuangan AH
3. Merusak badan silier
4. Membuang AH ke lain tempat
(operasi filtrasi)
Supresi
Fasilitasi aliran
pembentukan Penurunan
keluar humor Sikloplegik
humor volume vitreus
aqueous
aqueous

Penyekat β Analog
adrenergik : timolol prostaglandin :
maleat, betaxolol, larutan Glycerin
levobunolol bimatoprost,
metipranolol , latanoprost , (glycerol) oral
carteolol , gel timolol travoprost,
maleat
unoprostone

sikloplegik :
Obat
agonis
adrenergic-α2 : parasimpa-
isosorbide cyclopento-
Apraclonidine tomimetik oral late dan
atropine

penghambat urea
agonis anhidrase
intravena
adrenergik-α : karbonat :
Brimonidine Dorzolamide, atau manitol
brinzolamide intravena.
Obat topikal

1. Beta bloker: Timolol , betaxolol produksi HA turun

2. Kholinergik: Pilokarpin  outflow trab naik

3. Prostaglandin: Latanoprost, Travaprost


 outflow uveosklera naik, 1 X/hr

4. Agonis adrenergik : Brimonidine


 prod HA turun
 Outflow uveosklera naik
 Neuroprotektor (?)
OBAT ORAL & SISTEMIK

 Asetazolamid  Tablet atau Injeksi


 Menurunkan produksi HA

 Mannitol  Infus  Menarik air dari badan


kaca

 Gliserol  Oral  Menarik air dari badan


kaca
Operatif

Membantu ↓TIO bila


obat tidak memadai,
namun tidak dapat
membalikkan
kehilangan penglihatan.
• trabeculoplasty  membantu cairan
Operasi Laser mengalir keluar dari mata.

Bedah • Trabeculectomy  Jika obat tetes mata


dan operasi laser tidak efektif dalam
konvensional mengontrol tekanan mata

• drainage valve implant surgery 


Drainase menjadi pilihan bagi orang-orang
dengan glaukoma tidak terkendali,
implant glaukoma sekunder atau untuk anak-
anak dengan glaukoma
Komplikasi
Jika tidak diobati,  kehilangan
penglihatan progresif, biasanya
dalam tahap:
 Blind spot pada pengelihatan
perifer.
 Tunnel vision.
 Kebutaan total.
Gejala Klinis pada Glaukoma Absolut :
Kornea terlihat keruh,
 bilik mata dangkal,
Papil atrofi dengan ekskavasi glaukomatosa
Mata keras seperti batu dengan rasa sakit
 ketajaman visus 0
Prognosis

 Prognosis sangat tergantung pada


penemuan dan pengobatan dini . Bila
tidak mendapat pengobatan yang
tepat dan cepat, maka kebutaan akan
terjadi dalam waktu yang pendek sekali.
Pengawasan dan pengamatan mata
yang tidak mendapat serangan
diperlukan karena dapat memberikan
keadaan yang sama seperti mata yang
dalam serangan.
 Pada kasus glaukoma yang tidak ditatalaksana,
waktu rerata untuk berkembang menjadi
glaukoma stadium lanjut bergantung pada
besarnya nilai TIO:
 TIO 21 – 25 mmHg  14.4 tahun
 TIO 26 – 30 mmHg  6.5 tahun
 TIO >30 mmHg  2.9 tahun

Jay JL Murdoch Jr. The rate of visual field loss in untreated primary open
angle glaucoma. Br J Ophthalmol.1993;77:176-8
1. Membuat kanal/jalur keluar baru  trabekulektomi
tradisional, pemasangan implan glaukoma Ex-PRESS,
aqueous drainage devices (ahmed, baervelt
glaucoma implant

2. Meningkatkan jalur keluaran konvensional


(trabekular)  Fugo blade goniotomy, trabeculotomi,
kanaloplasti, excimer laser trabeculostomy, dan
trabecular microbypass stent

3. Meningkatkan aliran uveoskleral  SOLX Gold Shunt


Prognosis

hilangnya penglihatan sentral ireversibel


paskaoperasi pada pasien glaukoma
stadium lanjut yang terjadi sebesar 0 – 7%

Gessesse GW, Damji KF : Advanced Glaucoma:


Management Pearls. Middle East Afr J Ophthamol 2013 apr-
jun;20(2): 131 -141
Prognosis

Trabekulektomi merupakan salah satu


pembedahan filtrasi yang sering dikerjakan
pada pasien glaukoma. Sayyad
melaporkan angka qualified success 94,7%
dan complete success 85% pada pasien
glaukoma sudut terbuka pasca operasi
trabekulektomi. Secara umum target TIO
yang diharapkan adalah 20-30% dibawah
normal
Mean IOP (+ standard deviation) decreased from 38.12 (+13.9
mmHg) before surgery to 16.33 (+ 5.96 mmHg) at 1 year in POAG,
and from 43.7 (+14.33) to 16.0 (+4.47) in PACG.
The mean number of medications decreased from 2.70 (+ 0.47) to
1.33 (+0.92) in POAG and from 2.65 (+ 0.48) to 1.30 (+0.79) in PACG.

Total complete success and qualified success of trabeculectomy in


POAG and PACG was 69.7% and 85% respectively.

Trabeculectomy has good long-term success rate in controlling IOP


for POAG and PACG patients.

KEBERHASILAN TRABEKULEKTOMI JANGKA PANJANG PADA GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERBUKA


DAN GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERTUTUP Ratna Suryaningrum IGA, Andika Prahasta G
Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Pusat Mata
Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo, 2016
Paska bedah Pantau TIO dengan rutin untuk
menghindari lonjakan TIO yang terlalu tinggi atau
komplikasi yang terkait dengan hipotoni. Tindakan
releasable atau laserable suture lakukan dibawah 2
minggu paska bedah. Pemberian steroid sebaiknya
selama paling sedikit adalah 6 minggu Awasi ada
tidaknya infeksi paska tindakan
Terimakasih