Anda di halaman 1dari 32

PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Pengantar Pendidikan

Oleh : Kelompok Anggota : II : Rizal Shobirin (06101011016) Ika Arrizka (06101011025) Yuyun Zulhiyati (06101011031) Nurul Yuliyanti (06101011033) Anita Nurfala (06101011036)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2010

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt., karena berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tanpa adanya halangan berarti dalam proses pengerjaannya sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Dalam hal ini penulis mengambil judul Pengertian dan Unsur-unsur Pendidikan. Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas akhir semester I mata kuliah Pengantar Pendidikan. Tentunya sebagai mahkluk sosial penulis tidak bisa melakukan hal kecil ini sendirian tanpa bantuan berbagai pihak. Dengan itu penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu, secara khusus penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada: 1) Bapak Romli Manarus, Drs., selaku dosen pengasuh mata kuliah Pengantar Pendidikan; 2) Kedua orang tua kami yang telah memberikan bantuan serta senantiasa memberikan doa restunya, baik secara moril maupun secara materil dalam setiap langkah kedepannya; 3) Seluruh sahabat-sahabat kami tercinta keluarga besar Bugafis 2010 yang selalu memberikan dukungan serta semangat yang tak kenal henti. Lebih lagi, selalu setia baik di saat senang maupun susah. Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang sekiranya membangun serta meningkatkan kualitas makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis, pada khususnya dan umumnya bagi semua pihak yang membaca makalah ini.

Gaung Telang, Desember 2010 Penulis

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ............................................................................ DAFTAR ISI ........................................................................................... i ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 Latar Belakang ................................................................. Rumusan Masalah ........................................................... Batasan Masalah .............................................................. Tujuan Penulisan .............................................................. Manfaat Penulisan............................................................ Subjek dan Prosedur Penulisan.......................................... 1 1 1 2 2 2

BAB II ISI 2.1 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3 2.2.4 Pengertian Pendidikan .................................................... Batasan Tentang Pendidikan ............................................ Tujuan dan Proses Pendidikan. ........................................ Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH) .................. Kemandirian Dalam Belajar ........................................... Unsur-unsur Pendidikan................................................... Peserta Didik..................................................................... Pendidik........................................................................... Interaksi Edukatif Peserta Didik dan Pendidik............... Materi/Isi Pendidikan........................................................ 3 3 4 6 9 9 10 10 11 11

2.2.5 2.3 2.3.1 2.3.2 2.3.3 2.3.4 2.3.5 2.3.6 2.3.7

Konteks yang Mempengaruhi Pendidikan........................ Pendidikan sebagai Sistem................................................ Pengertian Sistem.............................................................. Komponen dan Hubungan dalam Sistem.......................... Hubungan Sistem Pendidikan dengan Sistem Lain.......... Pemecahan Masalah Pendidikan Secara Sistematis.......... Keterkaitan antara Pengajaran dan Pendidikan................. Pendidikan Prajabatan dan Pendidikan dalam Jabatan...... Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal...................

11 12 12 12 13 13 16 17 18

BAB III PENUTUP 3.1 3.2 Kesimpulan ...................................................................... Saran.................................................................................. 20 20

DAFTAR PUSTAKA . ............................................................................

21

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan

merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia seutuhnya. Tugas mendidik hanya mungkin dilakukan dengan benar dan tepat sasaran, jika pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang siapa manusia itu sebenarnya serta mengetahui pengertian dan unsur-unsur pendidikan . Sebagai seorang calon pendidik kita pun harus melaksanakan tugas sebaik mungkin. Karena pendidikan merupakan modal utama bangsa untuk menyonsong masa depan dan generasi muda sekarang yang akan menjadi motor pengeraknya. Mengingat begitu pentingnya pendidikan, maka para pendidik diharapkan dapat menghindari kesalahan-kesalahan dalam proses pendidikan tersebut. Untuk dapat menghindari kesalahan-kesalahan dan dapat melaksanakan tugas dengan baik, maka kita harus mengetahui jawaban yang jelas dan benar tentang pendidikan itu sebenarnya. Jawaban yang benar tentang pendidikan dapat diperoleh melalui pemahaman terhadap unsur-unsur pendidikan, konsep dasar melandasinya, dan wujud pendidikan sebagai sistem.

1.2

Rumusan Masalah

1) Apa isi, posisi tujuan, dan keharusan adanya rumusan pendidikan? 2) Apa unsur-unsur pendidikan dan makna yang terkandung di dalamnya? 3) Bagaimana arti pendidikan sebagai sistem ? 1.3 Batasan Masalah Mengingat begitu luasnya permasalahan mengenai pembahasan tersebut, maka dalam hal ini penulis akan membatasi masalah, yaitu: 1) Pengertian Pendidikan; 2) Unsur-unsur Pendidikan; 3) Pendidikan sebagai Sistem.

1.4

Tujuan Penulisan

1) Penulis dapat menjelaskan tentang pengertian dan unsur-unsur pendidikan. 2) Penulis dapat menjelaskan tentang makna-makna yang terkandung dalam unsur-unsur pendidikan. 3) Penulis dapat menjelaskan tentang arti pendidikan dalam sistem. 1.5 Manfaat Penulisan Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut. 1) Manfaat untuk mahasiswa Penulis melakukan penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para mahasiswa, diantaranya dapat dijadikan sebagai salah satu solusi yang bisa menjembatani permasalahan keterbatasan buku sumber yang dimiliki, sehingga kelak dapat menambah wawasan mahasiswa dalam bidang pendidikan khususnya bagi calon-calon pendidik. 2) Manfaat untuk penulis Manfaat untuk penulis yaitu memperluas wawasan dan pengetahuan tentang pengertian dan unsur-unsur pendidikan serta sebagai bahan acuan dalam pembuatan makalah selanjutnya. 3) Manfaat untuk penulis selanjutnya Manfaat penulisan makalah ini untuk penulis selanjutnya adalah dapat digunakan sebagai contoh dalam pembuatan makalah yang akan datang.

1.6

Subjek dan Prosedur Penulisan Subjek penulisan yang di ambil adalah pengertian dan unsur-unsur pendidikan. Prosedur penulisan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

1) Menentukan bahasan yang akan dijadikan bahan penulisan. 2) Mengumpulkan informasi tentang pengertian dan unsur-unsur pendidikan. 3) Menyusun semua informasi yang diperoleh untuk menjawab rumusan masalah yang telah diuraikan.

BAB II ISI

2.1 PENGERTIAN PENDIDIKAN

2.1.1 Batasan Tentang Pendidikan Pendidikan, seperti sifat sasarannya yaitu manusia, mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu, maka tidak semua batasan pun yang cukup memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap. Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam dan kandungannya berbeda dari yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya.

Di bawah ini dikemukakan beberapa batasan pendidikan yang berbeda berdasarkan fungsinya.

a. Pendidikan sebagai Proses Transpormasi Budaya.

Sebagai proses transportasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi lain. Seperti bayi lahir sudah berada di dalam suatu budaya lingkungan budaya tertentu. Di dalam lingkungan masyarakat dimana seorang bayi dilahirkan telah terdapat kebiasaan-kebiasaan tertentu, larangan-larangan dan anjurananjuran, dan ajakan tertentu seperti yang dikehendaki oleh masyarakat. Hal-hal tersebut mengenai banyak hal bahasa, seperti menerima tamu, makanan, istirahat, bekerja, perkawian, bercocok tanam, dan seterusnya.

Nilai-nilai kebudayaan tersebut mengalami proses transpormasi darigenerasi tu kegenerasi muda. Ada tiga bentuk transpormasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab dan lain-lain, yang kerang cocok diperbaiki, misalnya tata cara pesta perkawinan, dan yang tidak cocok diganti misalnya

pendidikan seks yang dahulu ditabukan diganti dengan pendidikan seks melalui pendidikan formal.

Disini tampak bahwa proses pewarisan budaya tidak semata-mata mengekalkan budaya secara estafet. Pendidikan justru mempunyai tugas menyiapkan peserta didik untuk hari esok. Suatu masa dengan pendididkan yang menuntut banyak persyaratan baru yang tidak pernah diduga sebelumnya, dan malah sebagian besar masih berupa teka-teki. Dengan menyadari bahwa sistem pendidikan itu merupakan subsistem dari sistem pembangunan nasional maka misi pendidikan sebagai transpormasi budaya harus sinkron dengan beberapa penyataan GBHN yang memberikan tekanan pada upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan, yaitu sebagai berikut (BP.7.Pusat,1990:109-110). 1) Kebudayaan nasional yang berlandaskan pancasila adalh perwujudan cipta, rasa dan karsa bangsa indonesia. 2) Kebudayaan nasionalyang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa harus terus dipelihara, dibina dan dikembangkan sehingga mampu menjadi penggerak bagi perwujudan cita-cita bangsa di masa depan. 3) Perlu ditumbuhkan kemampuan masyarakat untuk mengangakat nilai-nilai sosial budaya daerah yang luhur serta menyerap nilai-nilai dari luar yang positif dan yang diperlukan bagi pembaruan dalam proses pembangunan. 4) Perlu terus diciptakan suasana yang mendorong tumbuh dan berkembangnya disiplin nasional serta sikap budaya yang ampu menjawab tantangan

5) pembangunan dengan dikembangkan pranata sosial yang dapta mendukung proses pemantapan budaya bangsa. 6) Usaha pembaruan bangsa perlu dilanjutkan dalam segala bidang ekonomi, dan soaial budaya.

b. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi

Sebagai proses pembentukan pribadi,pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistemtis dan sistemik terarah pada terbentuknya kepribadian peserta didik.

Oleh karena proses pendidikan berlangsung melaui tahap-tahap bersinambungan (prosedural) dan sitemmik oleh karena berlangsung dalam semua situasi kondisi, disemua lingkungan yang saling mengisi (lingkuungan rumah, sekolah, dan masyarakat).pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningakatkan kecerrdasaan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, dan mandiri sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembanguan bangsa.

Defenisi tersebut menggambarkan terbentuknya manusia yang utuh sebagai tujuan pendidikan. Pendidikan memperhatikan kesatuan aspak jasmani dan rohani, aspek diri (individualitas) danaspek sosial, aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, serta segi serba keterhubungan manusia dengan dirinya (konsentris), dengan lingkungan sosial dan alamnya (horizontal), dan dengan Tuhanya (vertikal).

2.1.2 Tujuan dan Proses Pendidikan

a. Tujuan Pendidikan.

Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

Tujuan pendidikan bersifat abstrak karena memuat nilai-nilai yang sifatnya abstrak. Tujuan demikian bersifat umum, ideal, dan kandungannya sangat luas sehingga sangat sulit untuk dilaksanakan di dalam praktek. Sedangkan pendidikan harus berupa tindakan yang ditujukan kepada peserta didik dalam kondisi tertentu, tempat tertentu, dan dalam waktu tertentu dengan menggunakan alat tertentu.

Ada berapa hal yang menyebabkan mengapa tujuan khusus itu diperlukan antara lain: 1) Pengkhususan tujuan memungkinkan dilaksanakannya tujuan umum melalui proses pendidikan. 2) kekhususan dari peserta didik, yaitu yang berkenaan dengan jenis kelamin, pembawaan dan minatnya, kemampuan orang tuanya, lingkungan masyarakatnya. 3) Kepribadian yang menjadi sasaran untuk dibentuk atau dikembangkan bersifat kompleks sehingga perlu dirinci dan dikhususkan, aspek apa yang dikembangkan. 4) Adanya tahap-tahap pengembangan pendidikan.jika proses dari satu tahap pendidikan tercapai disebut satu tujuan sementara telah tercapai. Misalnya: tujuan SD, tujuan SMP, dan seterusnya. 5) Adanya kekhususan masing-masing lembaga penyelenggara pendidikan seperti pendidikan, kesehatan, pertanian dan laian-lain ataupun jalur pendidikan seperti jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan diluar sekolah. 6) Adanya tuntutan persyaratan pekerjaan di lapangan yang harus dipenuhi oleh peserta didik sebagai pilihan. 7) Diperlukannya tekniktertentu yang menunjang pencapaian tujuan leih lanjut misalnya membaca dan menulis dalam waktu yang relatif pendek. 8) Adanya kondisi situasional, yaitu peristiwa-peristiwa yang secara kebetulan muncul tanpa direncanakan. 9) Kemampuan yang ada pada pendidik

Umumnya ada 4 jenjang tujuan didalamnya terdapat tujuan antara, yaitu: tujuan umum, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional. a) Tujuan umum pendidikan nasional indonesia ialah manusia pancasila. b) Tujuan institusional yaitu tujuan yang menjadi tugas dari lembaga pendidikan tertentu untuk mencapainya. c) Tujuan kurikuler, yaitu tujuan bidang studi atau tujuan mata pelajar. d) Tujaun instruksional, yaitu materi kurikulum yang berupa bidang studi-bidang studi terdiri dari pokok-pokok bahasan dan sub-subpokok bahasan. Tujuan pokok bahasan dan sub pokok bahasan disebut tujuan instruksional.

b. Proses Pendidikan

Proses pendidikan merupakan kegiatan memebolisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengolaannya. Kedua segi tersebut satu sama lain saling bergantungan. Walaupun komponen-komponennya cukupbaik, sepertin tersedianya sarana dan prasarana serta biaya yang cukup, jika tidak ditunjang dengan pengolaan yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Demikan pula jika pengolaan baik tetapi di dalam kondisi serba kekuranagan,akan mengakibatkan hasil yang tidak optimal.

Yang menjadi tujuan utama pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal. Sebab berkembangnya tingkah laku peserta didik sebagai tujuan belajar hanya dimungkinkan karena adanya pengalaman belajar yang optimal itu. Disini jelas bahwa pendayagunaan teknologi pendidikan memegang peranan penting. Pengelolaan pendidikan harus memperhitungkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu setiap guru wajib mengikuti dngan seksama inovasi-inovasi pendidikan terutama yang diseminasikan secara meluas oleh pemerintah seperti PPSI, belajar tuntas (mastery learning), pendekatan CBSA dan keterampilan proses, muatan lokal dalam kurikulum, dan lain-lainnya agar dapat mengambil manfaatnya.

2.1.3 Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)

Konsep ini akan dikemukakan secara rinci karena mndasari arah baru dunia pendidikan. Ide dan konsep pendidikan sepanjang hayat (PSH) atau pendidikan seumur hidup yang secara operasional sering pula disebut pendidikan sepanajang raga bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai konsep yang lebih ilmiah dan sekaligus sebagai gerakan global yang merambah keberbagai negara memang baru mulai dirasakan pada tahun 70-an. Pada zaman nabi Muhammad saw. 14 abad yang lampau, ide dan konsep itu telahdisirkan atau dibentuk

dalam suatu imbauan; tuntutlah ilmu mulai sejak di buaian hingga keliang lahat. Dalam kenyataan hidup sehari-hari.

PSH bertumpuh pada keyakinan bahwa pendidikan itu tidak identik dengan persekolahan, PSH merupakan sesuatu proses bersinambungan yang berlangsung sepanjang hidup. Ide tentang PSH yang hampir tenggelam, yang dicetuskan 14 abad yang lalu, kemudian dibangkitkan kembali oleh Comenius 3 abad yang lalu (di abad 16) dan Jhon Dewey 40 tahun yang lalu (yaitu tahun 50-an). Tokoh pendidikan Johan Amos Comenius (1592-1671) mencetuskan konsep pendidikan bahwa tujuan pendidikan adalah

untukmembuat persiapan yang berguna di akhirat nanti. Sepanjang hidup manusia adalah proses penyiapan diri untuk kehidupan di akhirat. Dunia ini adalahbuku yang paling besar dan paling lengkap yang tidak akan habis dikaji untuk dipahami dan diambil manfaatnya sepanjang hayat.

Selanjutnya PSH didefinisikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan. Pengorganisasiannya dan penstrukturan ini diperluas mengikuti seluruh rentangan usia, dari usia yang paling muda ke usia palaing tua. (Cropley; 67).

Rasional

Mengapa PSH diperlukan? Di dalam tulisan cropley dengan memperhatikan masukan dari sebagian pemerhati pendidikan mengemukakan beberapa alasan, antara lain: keadilan, ekonomi (biaya pendidikan), perubahaan perencanaan, perkembangan teknologi, vaktor vokasional, kebutuhan orang dewasa, dan kebutuhan anak-anak masa awal. (Cropley: 32-44).

Alasan keadilan

Terselenggaranya

PSH

secara

meluas

dikalangan

dapat

menciptakan

iklimlingkungan yang memungkinkan terwujudkan keadilan sosial. Masyarakat luas dengan

berbagai stratanya merasakan adanya persamaan kesempatan memperoleh pendidikan. Selanjutnya berarti pula persamaan sosia, ekonomi dan politik. Hinsen menunjukan konteks yang lebihluas yaitu dengan terselenggaranya PSH yang lebih baik akan membuka peluang bagi perkembangan nasional yang mencapai tingkat persamaan nasional. (Cropley: 33). Dalam hubungan ini Bowle mengemukakan statement bahwa PSH pada prinsipnya dapat mengeliminasi peranan sekolah sebagai alat untuk melestariakan ketidakadilan sosial. (Cropley: 33).

Alasan Ekonomi

Persoalan PSH dikaitkan dengan biaya penyelenggaraan pendidikan, produktivitas kerja, dan peningkatan GNP. Di negara sedang berkembang biaya untuk perluasan pendidikan danmeningkatkan kualitas pendidikan hampie-hampir tak tertanggulangi. Di suatu sisi tantangan untuk mengejar keterlambatan pembanguan dirasakan, sedangkan di sisi lain keterbatasan biaya dirasakan menjadi penghambat. Tidak terkecuali di negara yang sudah maju teknologinya, yaitu dengan munculnya kebutuhan untuk memacukualitas pendidikan dan jenis-jenis pendidikan. Beberapa negara maju merasakan beratnya beban biaya penyelenggaraan pendidikanitu. Beberapa alternatif dilakukan untuk mengatasi masalah pembiayaan itu, anatara lain dengan cara memperbesar daya serap sekolah misalnya dengan sistem double shift, memperpendek masa pendidikan, meningkatkan daya penggunaan teknologi pendidikan, mendiseminasikan inovasi-inovasi pendidikan, dan sebagainya. Dalam hubungannya dengan masalah tersebut PSH yang secara radiakal mendasarkan diri pada konsep baru dan pemerosesan pendidikan memiliki implikasi pembiayaan pendidikan yang lebih luas dan lebih longgar. (Cropley: 35).

Alasan faktor sosial yang berhubungan dengan perubahan peranan keluarga, remaja, dan emansipasi wanita dalam kaitanya dengan perkembangan iptek.

Perkembangan iptek yang demikian pesat yang telah melanda Negara maju dan Negara-negara yang sedang berkembang memberiakan dampak yang besar terhadap terjadinya perubahan-perubahan kehidupan social ekonomi dan nilai budaya. Seperti

berubahnya corak pekerjaan, status dan peran adolesen versus kelompok dewasa, hubungan sosial dengan atasannya, khususnya bertambah usia harapan hidup dan menurunya jumlah kematian bayi, dan yang tidak kalah pentingnya ialah berubahnya sistem dan peranan lembaga pendidikan.

Fungsi pendidikan yang seharusnya diperankan oleh keluarga, dan juga fungsi lainnya seperti fungsi ekonomi, rekreasi dan lain-lain, lebih banyak diambil alih oleh lembaga-lembaga, organisasi-organisasi di luar lingkungan keluarga, khususnya oleh sekolah. Dengan diambil aliihnya sebagian tugas pendidikan oleh sekolah, banyak orang tua yang mengira bahwa seluruh tugas pendidikan sudah ditangani oleh sekolah secara tuntas, sehingga orang tua hanya menunggu hasilnya. Sebaliknya, sekolah menganggap bahwa pendidikan afektif sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua. Ketidaksinkronan konsep pendidikan di lingkungan keluarga dengan pendidikan di sekolah tersebut dapat di isi dengan penyelenggaraan pendidikan sepanjang hidup (PSH) yang sifatnya menembus batas-batas kelembagaan.

Alasan perkembanga iptek

Urauan sebelumnya telah menjelaskan betapa luasnya pengaruh pengembanagan iptek dalam semuasektor pembangunan. Meskipun diakui bahwa pengaruh tersebut dalam dunia pendidikan belum sejauh yang terjadi pada dunia pertanian, industri, transportasi dan komunikasi, namun investasinya dalam dunia pendidikan telah mengejala dalam banyak hal. Di kawasan asean inovasi pendidikan sudah banyak yang didesiminasikan sejak tahun 70-an, seperti SD Pamong, SMP Terbuka, belajar jarak jauh, danlin-lain. Di segi lain muncul pendekatan-pendekatan baru dan perubahan orientasi dalam proses belajar mengajar,

Konsep pengembangan tingkah laku, perubahan peran guru dan siswa, munculnya berbagai tenaga kependidikan nonguru, pendayagunaan sumber belajar yang semakin bervariasi dan lain-lain.Kesemuanya itu mengandung potensi yang kaya bagi

terselenggaranya pendidikan sepanjang hidup.

Alasan sifat pekerjaan.

Kenyataan menunjukan bahwa perkemabangan iptek di suatu sisi dalam sekala besar menyita pekerjaan tangan diganti dengan mesin, tetapi tak dapat dipungkiri di sisi lain juga memberikan andil kepada munculnya pekerjaan-pekerjaan baru yang menyerap banyak tenaga kerja dan munculnya cara-cara baru dalam memproses pekerjaan. Akibatnya pekerjaan menuntut persyaratan kerja yang selalu saja berubah. Drastisnya banyak perubahan-perubahan yang dimaksud tidak antargenerasi tetapi di dalam satu generasi pun perubahan itu banyak terjadi.

Kondisi seperti digambarkan itu mengandung implikasi bahwa PSH merupakan alternative yang dapat mengantisipasi pemecahan maslah-masalah yang dihadapi oleh pekerja di masa depan.

Implikasi pendidikan sepanjang hayat

Dengan diterimanya konsep PSH sebagai konsep dasar pendidikan maka berarti sifat kodrati pendidikan, yaitu upaya memperolaeh bekal untuk mengatasi masalah hidup sepanjang hiduplebih menembus dan menjiwai penyelenggaraan semua sistem pendidikan yang ada, yang sudah melembaga atau belum.

Ciri-ciri yang dimaksud: a) PSH menghilangkan tembok pemisah antara sekolah dengan lingkungan kehidupan nyata di luar sekolah. b) PSH menempatkan kegiatan belajar sebagai bagian integral dari proses hidup yang berkesinambungan. c) PSH lebih mengutamakan pembekalan sikap dan metode daripada isi pendidikan.

d) PSH menempatkan peserta didik sebagai individu yang menjadi pelaku utama didalam proses pendidikan, yang mengarah pada pendidikan diri sendiri (self education), autodidak yang aktif kreatif, tekun, bebas, dan bertanggung jawab, tabah, dan tahan bantingan dan yang sejalan dengan penciptaan masyarakat gemar belajar (learning society)

Di samping cirri-ciri tersebut yang menjadi alasan mengapa PSH perlu digalakanb adalah juga: a) Pada hakikatnya belajar berlangsung sepanjang hidup. b) Sekolah tradisional tidak dapat memberikan bekal kerja yang coraknya semakin tak menentuh dan cepat berubah. c) Pendidikan masa balita mempunyai peranan penting sebagai pondasi pembentukan kepribadian dan bagi aktualisasi diri. Sekolah tidak dapat mengisi pendidikan dimasa balita itu. d) Sekolah tradisional mengganggu pemerataan keadilan untuk memperolah kesempatan berpendidikan. e) Biaya penyelenggaraan sekolah tradisional sangat mahal.

2.1.4

Kemandirian dalam Belajar

a. Arti dan Prinsip yang Melandasi

kemandirian dalam belajar diartiakan sebagai aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggung jawab sendiri dari pembelajar. Konsep kemndirian dalam belajar betumpu pada prinsip bahawa individu yang belajar hanya akan sampai kepada perolehan hasil belajar, mulai keterampilan, pengembangan penalaran, pembentukan sikap sampai kepada penemuan diri sendiri, apabila ia mengalami sendiri dalam proses perolehan hasil belajar tersebut.

b. Alasan yang Menopang

serempak dengan perkembangan iptek ada beberapa alasan yang memperkuat konsep kemandirian dalam belajar. Conny Semiawan, dan kawan-kawan (Conny S.,1988: 14-16) mengemukakan alasan sebagai berikut: 1) perkembangan iptek berlangsung semakin pesat sehingga tidak mungkin lagi para pendidik (khususnya guru) mengajarkan konsep dan fakta kepada peserta didik. 2) Penemuan iptek tidak mutlak benar 100%, sifatnya relatif. Untuk mnghadapi kondisi seperti itu perlu ditanamkan sikap ilmiah kepada peserta didik seperti keberanian bertanya, berpikir kritis dan analitis dalam menemukan sebab-sebab, dan pemecahan terhadap masalah. 3) Para ahli psikologi umumnya sependapat, bahwa peserta didik mampu memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertaidengan contih-contoh kongkret dan wajar sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi dengan mengalami atau mempraktekan sendiri. 4) Dalam proses pendidakan dan pembelajaran konsep seyogianya tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan penanaman nilai-nilai ke dalam diri peserta didik.

Konsep dasar kemndirian dalam belajar sebagaimana dikemukakan ini membawa implikasi kepada konsep pembelajaran, peranan pendidik khususnya guru, dan peranan peserta didik.

Belajar diartiakan sebagai aktivitas pengembanagan diri melalui pengalaman bertumpu pada kemampuan diri belajar di bawah bimbingan pengajar. Mengajar diartikan sebagai aktivitas mengarahkan, memberikan kemudahan bagaimana cara menemukan sesuatu (bukan memberi sesuatu) berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh pengajar.

2.2 UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN

Proses pendidikan melibatakan banyak hal, yaitu: 1) Subjek yang dibimbing (peserta didik)

2) Orang yang membimbing (pendidik) 3) Interksi antara peserta didik dengan pendidik (intraksi edukatif) 4) Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan) 5) Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan) 6) Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode) 7) Tempat di mana pristiwa bimbinganberlangsung (lingkungan pendidkan)

2.2.1 Peserta Didik

Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebut demikian oleh karena peserta didik (tanpa pandang usia) adalah subjek atau pribadi yang otnom, yang ingin diakui keberadaannya. Selaku pribadiyang memiliki ciri khas dan otonomi, ia ingin mengembangkan diri (mendidik diri) secara terus-menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai sepanjang hidupnya.

Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik adalah: a) individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas,sehingga merupakan insan yang unik. b) Individu yang sedang berkembang.

c) Individuyang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi. d) Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.

2.2.2

Pendidik

Yang dimaksud dengan pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Hal yang penting untuk diperhatiaknialah persoalan kewibawaan. a. apa yang dimaksud kewibawaan? Kewibawaan merupakan suatu pancaran batin yang dapat menimbulkan pada pihak lain sikap untuk mengakui, menerima, dan menuruti dengan penuh pengertian atas kekuasaan tersebut.

b. Bagaimana kewibawaan timbul? Kewibawaan mendidik hanya dimiliki oleh mereka yang sudah dewasa. Yang dimaksud adalah kedewassan rohani yang ditopang kedewasan jasmani. Kedewasan jasmani tercapai bila individu telah mencapai puncak perkembangan jasmani yang optimal; jadi telah mencapai proporsi yang sudah mantap. Kedewasaan rohani tercapai bila individu telah memiliki cita-cita hidup dan pandangan hidup yang tetap. Cita-cita dan pandanagan hidup ini dijalannya kedalam dirinya dan selanjutnya berusaha untuk direalisir dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan.

c. Bagaimana memelihara kewibawaan? Ibarat cahaya lampu bagaimana pun juga suatu kewibawaan dapat memudar jika tidak dirawat dan dibina. Ada 3 sendi kewibawan yang menurut M.J Langeveld harus dibina (Langeveld,1995:42-44) yaitu kepercayaan, kasih sayang, dan kemampuan.

Kepercayaan Pendidik harus percaya bahwa dirinya bisa mendidik dan juga harus percaya bahwa peserta didik dapat dididik.

Kasih sayang Kasih sayang mengandung dua makna yakni penyerahan diri kepada yang disayangi danpengendalian terhadap yang disayangi. Dengan adanya sifat penyerahan diri maka pada pendidiktimbul kesediaan untuk berkorban yang dalam bentuk konkretnya berupa pengabdian dalam kerja. Pengendalain terhadap yang disayangi dimaksudkan agar peserta didik tidak berbuat sesuatu yang merugikan dirinya.

Kemampuan Kemampuan mendidik dapat dikembangkan melalui beberapa car, anatara lain pengkajiaan terhadap ilmu pengetahuan kependidikan, mengambil manfaat dari pengalaman kerja, dan lain-lain.

2.2.3 Interaksi Edukatif antara Peserta Didik dan Pendidik

interaksi edukatif paad dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanipulasikan isi, metode, beserta alat-alat pendidikan.

2.2.4

Materi/Isi Pendidikan

Dalam sistem pendidikan persekolahan, materi sudah diramu dalam kurikulum yang akan disajiakan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi inti maupun muatan lokal. Materi ini bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan persatuan bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya adalah mengembangkan kebhinnekaan kekayaan budaya sesuai dengan kodndisi lingkungan. Dengan demikian jiwa dann semangat bhinneka tunggal ika dapat ditumbuhkembangkan.

2.2.5 Konteks yang Mempengaruhi Pendidikan a. Alat dan Metode

alat dan metode pendidikan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan evektivitasnya. Alat dan metode diartiakan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakandengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat pendidikan dibedakan atas yang preventif dan yang kuratif. 1) Yang bersifat preventif, yaitu yang bermaksud mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki misalnya larangan, pembatasan, peringatan bahkan juga hukuman. 2) Yang bersifat kuratif, yaitu yang bermaksud memperbaiaki, misalnya ajakan, contoh, nasihat, dorongan, pemberiankepercayaan, saran, penjelasan, bahkan juga hukuman.

Untuk memilih dan menggunakan alat pendidikan yang efektif ada beberapa hal yang perlu diperhatiakan,yaitu: a) Kesesuaiannya dengan tujuanyang diinginkan.

b) Kesesuaiannya dengan peserta didik. c) Kesesuaiannya dengan pendidik sebagai si pemakai. d) Kesesuaiannya dengan situasi dan kondisi saat digunakan alat tersebut.

b. Tempat Peristiwa Bimbingan Berlangsung (lingkungan pendidikan) lingkungan pendidikan biasa disebut tri pusat pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

2.3 PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

2.3.1 Pengertian Sistem Banyak definisi yang digunkan untuk menjelaskan arti kata sistem, di antaranya sebagai berikut : a. Sistem adalah suatu kebulatn keseluruhan yang kompleks atau terorganisir , suatu atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu

himpunan

kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh. (Tatang M. Amirin, 1992:10) b. Sistem merupakan himpunan komponen yang saling berkaitan yang bersama-sama

berfungsi untuk mencapai suatu tujuan. (Tatang M.Amirin 1992:10) c. Sistem merupakan sehimpunan komponen atau subsistem yang terorganisasikan dan berkaitan sesuia dengan rencana untuk mencapai suatu tujuan tertentu. (Tatang M.Amirin 1992:10) Sekalipun demikian, definisi yang berbeda-beda mengenai sistem mengandung unsure persamaan yang dapat dipandang sebagai cirri umum dari system, yaitu mencakup hal-hal sebagai berikut : Sistem merupakan suatu kesatuan yang berstruktur Kesatuan tersebut terdiri dari sejumlah komponen yang saling berpengaruh Masing-masing komponen mempunyai fungsi tertentu dan secara bersama-sama melaksanakan fungsi struktur, yaitu mencapai tujuan system. Dengan demikian, system dapat diartikan sebagai suatu kesatuan integral dari sejumlah komponen. Komponen-komponen tersebut satu sama lain saling berpengaruh

dengan fungsinya masing-masing, tetapi secara fungsi komp[onen-komponen itu terarah padaa pencapaian satu tujuan (yaitu tujuan dari sistem).

2.3.2 Komponen dan Saling Hubungan antara Komponen dalam Sistem Pendidikan Toffler (1970) menganalogikan sekolah dengan sebuah pabrik. Memang sebenarnya usah pendidikan itu tidak dapat disamakan dengan pabrik. Tetapi jika dilihat dari segi mekanismenya, ada persamaan antara keduanya. Misalnya pabrk ingin memproduksi gula, maka ia akan membutuhkan bahan mentah tebu (raw input) dan untuk memproses gula sebagai keluaran (out put) diperlukan mesin penggilingan besrta perngkat lainnya (saran dan prasarana) yand ditangani dan dikelola oleh pekerja. Di samping itu, juga dilakukan pencatatan dan pendataan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan produksi (administrasi). Saran dan prasarana, ketenagaan, program, dan administrasi yang diperlukan untuk pemrosessan bahan mentah seperti dikemukakan di atas merupakan masukan instrumental (instrumental input). Segenap lingkungan yang berpengaruh terhadap pemrosesan masukan bahan mentah disebut masukan lingkungan (environmental input). Dari uraian tersebut terlihat bahwa komponen-komponen yang menunjang system pabrik meliputi : a. Masukan mentah (raw input) b. Masukan instrumental (instrumental input) c. Masukan lingkungan (environmental input) INSTRUMENTAL INPUT

RAW INPUT

PROSES

OUTPU T

ENVIRONMENTAL INPUT

2.3.3 Hubungan Sistem Pendidikan dengan Sistem lain dan Perubahan Kedudukan dari Sistem Suatu komponen dapat berubah status menjadi sistem,apabila komponen tersebut dilihat secra tersendiri dan ternyata terdiri dari sejumlah sub-sistem. Jadi system pendidikan dapat dilihat dalam ruang linkup makro dan ruang linkup mikro. Sebagai subsistem, bidang ekonomi, pendidikan, dan politik masing-masing sebagai suatu system. Pendidikan nonformal, pendidikan formal, dan pendidikan informal merupakan subsistem dari bidang pendidikan sebagai system dan seterusnya. Pada gambra di bawah ini, pendidikan formal sebagai subsistem (komponen) dari sistem pendidikan dapat merupakan sebuah system yang memiliki subsistem/komponen-komponen : sekolah dasar, sekolah menengah, dan pendidikan tinggi.

PENDIDIKAN FORMAL

SEKOLAH DASAR

PERGURUAN TINGGI

SM
adminis trasi

ketena gaan

kurik ulum

2.3.4 Pemecahan Masalah Pendidikan Secara Sistematik a. Cara Memandang Sistem

Perubahan cara memandang suatu system dari komponen menjadi system ataupun sebaliknya suatu sistem menjadi komponen dari system yang lebih besar, tidak lain daripada perubahan cara memandang ruang lingkup suatu system atau dengan kata lain ruang lingkup suatu permasalahan. Jika sebuah komponen suatu system dipisahkan dari komponen-komponen yang lain, dan dikaji secara tersendiri, maksudnya tidak lain ialah agar komponen tersebut dapat dianalisis secara lebih mendalam. Bagian-bagianya (subkomponennya) dapat dianalisis fungsinya secara lebih khusus dan mendalam, demikian pula hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain dapat dipahami lebih seksama, sehingga dapat ditemukan cara-cara pemecahan masalah secara lebih baik. Selanjutnya, memandang suatu system dalam konteks ruang lingkup yang lebih besar (suprasistem) mempunyai manfaat agar kita memandang suatu persoalan tidak lepas dari halhal yang melatarbelakangi atau yang mewadahinya. Sebab dibalik sebuah system sebagai produk budi daya atau rekayasa, sperti system pendidikan, tentu terdapat konsep dan citacita.

b. Masalah Berjenjang Suatu masalah satu sama lain saling berkaitan, dalam hubungan : - sebab akibat - altenatif masalah - latar belakang masalah c. Analisis Sistem dalam Pendidikan Penggunaan analisis system dalam pendidikan dimaksudkan untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan dengan cara yang efisien dan efektif. Prinsip utama dari penggunaan analisis system ialah : Bahwa kita dipersyaratkan untuk berpikir secara sistematik, artinya kita harus memperhitungkan segenap komponen yang terlibat dalam masalah pendidikan yang akan dipecahkan. Cara demikian, memungkinkan kita untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan setelah melihat suatu alternatif sebagai satu-satunya yang dapat digunakan. Jika seorang guru mendapati muridnya sering absen belajar, tidak sepantasnya terus langsung menetapkan sebuah cara pemecahan , misalnya dengan menghukumnya, dengan dalih karena murid tersebut pemalas. Cara

demikian sangat tidak bijaksana karena tidak didasarkan kepada cara pemecahan yang sistematik. Seorang guru harus menempuh cara pendekatan yang sistematik (menyeluruh) dan berusaha melacak semua hal yang diperkirakan menjadi penyebab masalah. Berdasarkan pelacakan yang saksama terhadap hal-hal yang mungkin menjadi penyebab, ditemukanlah bahwa murid tersebut banyak absen karena diberikan tugas oleh pamannnya tempat menumpang untuk membantu menyiapkan kedai nasi sehingga waktu belajar tersita. Jika demikian maka pemecahannya akan menjadi lain. Tidak harus menghukumnya akan tetapi dengan pendekatan kepada pamannya agar diberikan waktu untuk belajar. Dengan demikian ,jika tujuan system tidak tercapai sepenuhnya, maka dapat diusahakan : a. Menemukan komponen yang mengandung kelemahan. b.Menemukan hubungan antarkomponen yang mengandung kelemahan; dan c. Memperbaiki komponen dan ataupun hubungan antarkomponen yang lemah tersebut. Di sini dapat ditemukan alternatif pemecahan. Jadi tidak usah komponen dan hubungan antarkomponen secara keseluruhan harus diganti dengan yang baru. Di sinilah arti efisiensi dan efektifitas analisis system. Hal ini tidak berarti bahwa perbaikan system pendidikan selalu bersifat parsial, sperti yang dijelaskan. Penggunaan analisis system dalam pendidikan tidak saja berguna untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan dalam ruang lingkup mikro tetapi juga makro.

d. Saling Hubungan Antarkomponen Komponen-komponen yang baik menunjang terbentuknya suatu system yang baik. Tetapi komponen yang baik saja belum menjamin tercapainya tujuan system secara optimal, manakala komponen tersebut tidak berhubungan secraa fungsional dengan komponen yang lain. Hubungan fungsional antarkomponen ini berupa hubungan yang bersifat dinamis antarkomponen-komponen dan gerak fungsi dari seluruh komponen terarah kepada tujuan system. Tanpa ada hubungan yng fungsional antarkomponen, suatu komponen yang baik kondisinya praktis tidak mempunyai arti dalam pencapaian tujuan sistem. Dilihat dari segi pencapaian tujuan, padaa prinsipnya setiap system dibangun dengan maksud untuk pencapaian tujuan secara optimal. Jika optimasi pencapaiaan tujuan tetap

dipertahankan, akan tetapi masih terdapat komponen yang kualitasnya kurang baik ataupun komponen yang berubah, logikanya harus ada komponen lain yang dapat mengimbangi atau menutup kekurangan dengan menggantikan fungsi dari komponen yang pertama tadi. Jika tidak, maka target tujuan tidak tercapai. Misalnya, dalam system pengajaran, kekurangan pada komponen peralatan pengajaran tidak mengganggu pencapaaian target tujuan system jika dapat diimbangi oleh komponen guru yang mahir dalam mengajar. Demikianlah pula sebaliknya guru yang kurang terampil dalam mengajar dapat ditunjang alat bantu mengajar yang memadai.

e. Hubungan Sistem dengan Suprasistem Telah dijelaskan bahwa di dalm suatu system,komponen-komponen saling berhubungan. Dalam ruang lingkup yang besar (ruang lingkup makro) terlihat pula system yang satu saling berhubungan dengan system yang lain. Hal ini wajar, oleh karena pada dasraanya setiap system itu hanya merupakan satu aspek dari kehidupan. Sedangkan segenap segi kehidupan itu kita butuhkan, sehingga semuanya memerlukan pembinaan dan pengembangan. Antara system tersebut terdapat hubungan fungsional yng bersifat saling menunjang. Berdasarkan itu pula maka system pendidikan hanya dapat terbina dan berkembang dengan baik apabila strategi pengembangannya mengindahkan pengembangan yang terjadi pada system-sistem yang lain. System-sistem tersebut secra keseluruhan membentuk suprasistem. Jelasnya pembangunan system pendidikan nasional (system) hanya akan berhasil jika mengacu kepada pembangunan nasional secra keseluruhan (suprasistem).

2.3.5 Keterkaitan Antara Pengajaran dan Pendidikan Istilah pengajaran dapat dibedakan dari pendidikan, tetapi sulit dipisahkan. Jika dikatakn anak diajar menulis yang baik lebih terasa sebagai pengajaran. Tetapi jika anak dikembangkan kegemarannya untuk menulis yang baik maka lebih mirip pendidikan. Contoh di atas menunjukkan bahwa terhadap sesuatu objek kegiatan (menulis, menyusun jadwal, mengkaji agama )dapat dipilih sisi pengajaran dan sisi pendidikannya.

Pengajaran (Instruction)

- Lebih menekankan pada penguasaan wawasan dan pengetahuan tentang bidang/program tertentu seperti pertanianm kesehatan dan lain-lain. - Makan waktu relatif pendek - Metode lebih bersifat rasional, teknis praktis

Pendidikan (Education) Lebih menekankan pada pembentukan manusianya (penanaman sikap dan nilai-nilai)

- Makan waktu relatif panjang - Metode lebih bersifat psikologis dan pendekatan manusiawi

Kesimpulan yang dapat ditarik dari persoalan pengajaran dan pendidikan adalah sebagai berikut : a. Pengajaran dan pendidikan dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain . Masing-masing saling mengisi. b. Pembedaan dilakukan hanya untuk kepentingan analisis agar masing-masing dapat dipahami lebih baik. c. Pendidikan modern lebih cenderung mengutamakan pendidikan, sebab pendidikan membentuk wadah, sedang pengajaran mengusahakan isinya. Wadah harus menetap meskipun isi bervariasi dan berubah.

2.3.6

Pendidikan Prajabatan (Preservice Education) dan Pendidikan dalam Jabatan

(Inservice Education) sebagai Sebuah Sistem Pendidikan prajabatan berfungsi memberikan bekal secara formal kepada calon pekerja dalam bidang tertentu dalam periode waktu tertentu seperti STM tiga tahun, diploma III matematika tiga tahun, ataupun strata I jurusan matematika empat tahun untuk dibekali menjadi pekerja di bidang teknik guru matematika pada SMP ataupun guru matematika pada SLTA. Sedangkan pendidikan dalam jabatan bermaksud memberikan bekal tambahan kepada orang-orang yang telah bekerja berupa penataran, kursus-kursus, dan lain-lain. Tenggang waktunya sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan, serempak dengan kemajuan zaman dan perkembangan masyarakat, khususnya dunia kerja yang semakin hari semakin berkembang

dan semakin bervariasi. Sehubungan dengan itu, terjadi pergeseran cara memandang kedua macam pendidikan tersebut. Dahulu pada masa diman pekerjaan lebih bersifat statis dan kurang bervariasi, ada kecenderungan pendidikan prajabatan diutamakan sedangkan pendidikan dalam jabatan tidak dipandang sebagi suatu yang penting selaku sarana penyiapan tenaga kerja maupun selaku upaya pengembangan diri sebagai anggota masyarakat yang senantiasa ditantang oleh kemajuan. Ada kecenderungan pendidikan prajabatan menyediakan tenggang waktu yang cukup lama dengan maksud agar calon-calon pekerja yang dididik dapat diberikan bekal semantap-mantapnya sebelum terjun ke lapangan kerja. Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa semakin hari porsi pendidikan dalam jabatan semakin bertambah besar sehingga relaatif hampir sama dengan porsi pendidikan prajabatan. Di samping itu, kedudukannya juga menjadi bertambah penting. Dengan kata lain pendidikan prajabatan dan pendidikan dalam jabatan merupakan dua macam paket program pendidikan yang terikat dalam suatu system pendidikan yang terpadu.

2.3.7 Pendidikan Formal, Non-Formal, dan Informal sebagai Sebuah Sistem Pendidikan formal (PF) yang sering disebut pendidikan persekolahan, berupa rangkaian jenjang pendidikan yang telah baku. Mulai dari jenjang sekolah dasar (SD) sampai dengan perguruan tinggi (PT). sementara itu pendidikan taman kanak-kanak masih dipandang sebagai pengelompokan belajar yang menjembatani anak dalam suasana hidup dalam keluarga dan di sekolah dasar. Biasa juga disebut pendidikan prasekolah dasar. Menurut UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan setiap warga Negara diwajibkan mengikuti pendidikan formal minimal samapi tamat SMP. Bagi warga Negara yang tidak sempat mengikuti ataupun menyelesaikan pendidikan pada jenjang tertentu dalam pendidikan formal (putus sekolah) disediakan pendidikan nonformal, untuk memperoleh bekal guna terjun ke masyarakat. Hal-hal yang menjadi faktor pendorong perkembangan pendidikan nonformal ialah : - Semakin banyaknya jumlah angkatan muda yang tidak dapat melanjutkan sekolah. Sedangkan mereka terdorong untuk memasuki lapangan kerja dengan harus memiliki

keterampilan tertentu yang dipersyaratkan oleh lapngan kerja.

- Lapangan kerja, khususnya sektor swasta, mengalami perkembangan cukup pesat dan lebih pesat ketimbang peerkembangan sector pemerintah. Masing-masing lapangan kerja tersebut menuntut persyaratan-persyaratan khusus, yang lazimnya belum dipersiapkan oleh pendidikan formal.

Dari uraian tersebut semakin terlihat betapa eratnya kerja sama antara pendidikan formal dan pendidikan nonformal, yang satu sama lainnya bersifat komplementer sebagai sebuah system yang terpadu. Selanjutnya juga pendidikan informal sebagai suatu fase pendidikan yang berada di samping dan di dalam pendidikan formal dan pendidikan nonformal sangat menunjang keduanya. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal, nonformal, dan informal ketiganya hanya dapat dibedakan tetapi sulit dipisah-pisahkan karena keberhasilan pendidikan daalam arti terwujudnya keluaran pendidikan yang berupa sumber daya manusia sangat tergantung kepada sejaauh mana ketiga sub-sistem tersebut berperanan.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa: 1) Pendidikan merupakan wahana penting untuk membangun mahasiswa. Pada gilirannya manusia hasil pendidikan itu menjadi sumberdaya pembangunan. Karena itu, pendidik dalam melaksanakan tugasnya diharapkan tidak membuat kesalahan-kesalahan dalam prosesnya. Sebab kesalahan mendidik dapat berakibat fatal bagi generasi yang akan datang. 2) Kesalahan dalam mendidik hanya dapat dihindari jika pendidik memahami apa hakikat pendidikan itu. Gambaran yang jelas dan benar tentang pendidikan dapat diperoleh melalui pengkajian terhadap arti dan tugas pendidikan, konsep-konsep mendasarinya, unsurunsurnya, dan kepaduan antara unsur tersebut. 3.2 Saran Setelah penulis membahas dan mengkaji tentang pengertian dan unsur-unsur pendidikan, penulis mendapatkan banyak manfaat dari hasil pembahasan tersebut diantaranya pengetahuan tentang hakikat suatu pendidikan dan tentunya unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Adapun saran yang ingin disampaikan penulis dari pembahasan materi ini diantaranya: 1) Dengan mengetahui pengertian dan unsur-unsur pendidikan ini, minimal kita bisa menerapkanya dalam pendidikan di negeri ini dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk pendidikan kita kedepannya. 2) Kepada pihak fakultas agar bisa menambah buku-buku penunjang yang dapat dimanfaatkan oleh para mahasiswa, untuk menambah wawasannya dalam bidang pendidikan khususnya bagi calon-calon pendidik. 3) Untuk para penulis yang akan datang hendaknya memilih objek penulisan yang lebih menarik.

DAFTAR PUSTAKA

Anglin G.J.. 1991. Insructional technologi Past, Present, and Future.USA: Libraries Unlimited Inc. Conney, Semiawan.1988.Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: PT.Gramedia. Innotech. 1976. System Approach. Manila, (modele 16) Mardiatmadja, B.S.. 1986. Tantangan Dunia Pendidikan. Yogyakarta: Kasinus. Tatang, M. Amirin. 1992. Pokok-Pokok Teori Sistem. Jakarta: Rajawali Pers. Shane, H.G.. 1984. Arti Pendidikan Bag i Masa Depan. Penterjemah: Dr. M. Ansyur. Pustekom Dikbud. Jakarta: CV Rajawali. Winkel, W.S. 1983. Psikologi Pendidikan Dan Belajar. Jakarta. PT Gramedia. Tirtaraharja, Umar. 1990. Dasar-Dasar Kependidikan. Ujung Pandang: FIP-IKIP. Conry, Setiawan.1988. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: PT Gramedia.