Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

AUTOEROTIC ASPHYXIA
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Program Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Disusun Oleh:
Ahmad Farid H

406137021

Giovanni Budianto

406147030

Izka Putri Rahmania

406138158

Ruth Mellissa Gouw

406148111

Ruth Mercylia

406138164

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
2015
1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan
bimbinganNya sehingga referat ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun
dalam rangka memenuhi tugas di bagian Ilmu Forensik di Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
periode 13 April 16 Mei 2015. Dengan bekal pengetahuan, pengarahan serta bimbingan yang
diperoleh sebelumnya dan selama menjalani kepaniteraan, penulis menyusun referat berjudul
Autoerotic Asphyxia.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya atas kerjasama dan
bantuan yang diberikan kepada penulis selama penyusunan makalah ini. Ucapan terimakasih penulis
hanturkan kepada :
1. dr. Ratna Relawati, Sp.F, M.Si, MED selaku Kepala SMF dan pembimbing referat di Rumah
Sakit Bhayangkara Semarang.
2. dr. Istiqomah, Sp.KF selaku pembimbing referat di Rumah Sakit Bhayangkara Semarang.
3. Seluruh staf pengajar di Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Forensik di Rumah Sakit
Bhayangkara Semarang.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan, maka penulis sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari semua pihak, supaya tutorial klinik ini dapat menjadi lebih baik dan dapat
berguna bagi semua yang membacanya.
Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila masih banyak kesalahan maupun kekurangan
dalam makalah ini.
Semarang, Mei 2015
Penulis

DAFTAR ISI

Daftar isi

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Perumusan Masalah

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

1.3.2 Tujuan Khusus

1.4 Manfaat
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2
3

2.1 Asfiksia autoerotik

2.2 Definisi asfiksia autoerotik

2.3 Etiopatogenesis asfiksia autoerotik

2.4 Tanda-tanda yang dapat ditemukan pada Asfiksia Seksual

2.5 Klasifikasi Autoerotic Asphyxiation

2.6 Gambaran Umum Postmortem Pada Asfiksia Autoerotik

2.7 Identifikasi Korban Gantung Diri Karena Pembunuhan

16

2.8 Identifikasi Korban karena bunuh diri

17

2.9 Aspek Medikolegal pada kematian autoerotic

19

2.10 Contoh Kasus

23

BAB III. PENUTUP

23

3.1 Kesimpulan

23

3.2 Saran

23

DAFTAR PUSTAKA

24

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asfiksia autoerotik merupakan salah satu fenomena yang sering dijelaskan dalam
literatur medis, terutama dalam bidang kedokteran forensik. Perilaku ini merupakan salah
satu gangguan mental non psikotik, dimana pelaku melakukan tindakan aneh yang tidak
biasa, yang diperlukan untuk memenuhi kepuasan seksual yang dilakukan terus-menerus dan
berulang kali tanpa sadar. DSM-IV memiliki kriteria untuk mendiagnosa kondisi di praktisi
yang masih hidup sama seperti memeriksa masokisme seksual: Perilaku yang dihasilkan dari
fantasi intens dan berulang atau dorongan seksual selama setidaknya enam bulan harus
menyebabkan stres klinis yang signifikan dan / atau penurunan nilai (sosial, pekerjaan,
lainnya)1
Asfiksia autoerotik dapat ditemukan pada semua ras di seluruh dunia dan di setiap
jenjang status sosial ekonomi. Hampir semua kasus yang dilaporkan dari kejadian tersebut
adalah laki-laki dan biasanya korban meninggal sebagian besar berusia di bawah empat puluh
tahun.Akan tetapi biasanya korban adalah remaja atau dewasa muda dengan kelompok usia
yang paling sering adalah usia 12 sampai 25 tahun. Laki-laki paling sering ditemukan,
terutama laki-laki kulit putih, sedangkan wanita lebih jarang. Di Amerika Serikat saja
didapatkan 250 sampai 500 kasus kematian autoerotik setiap tahunnya. Estimasi rasio
perbandingan pria-wanita adalah sekitar 25-50 : 1. Adapun kurangnya korban wanita
disebabkan karena wanita kurang aktif pada masalah seksual. Kebanyakan korban adalah
kaum homoseksual, seorang heteroseksual, penyendiri, biasanya berstatus lajang.2
Menurut hasil survey YPKN, terdapat 4000-5000 kaum homoseksual di Jakarta.
Sedangkan Gaya Nusantara memperkirakan 260.000 dari enam juta penduduk JawaTimur
adalah kaum homoseksual. Secara Nasional, sekitar 1% dari total penduduk Indonesia adalah
kaum homoseksual. Di Indonesia sendiri banyak berdiri organisasi-organisasi yang menaungi
kaum homoseksual. Manifestasi perilaku homoseksual modern cenderung merupakan gaya
hidup urban. Hal-hal tersebut diatas yang menyebabkan komunitas kaum homoseksual di
Indonesia

semakin

meningkat.

Meningkatkan

jumlah

kaum

homoseksual,

dapat

meningkatkan kelainan pemuasaan kebutuhan seksual.


Sementara di Indonesia masih kurangnya data tentang kematian yang disebabkan oleh
asfiksia autoerotik. Kasus kematian autoerotik yang paling sering ditemukan adalah asfiksia
4

sebagai akibat dari penggantungan, penjeratan, penggunaan alat yang membahayakan, atau
penyebab asfiksia lainnya. Penggantungan adalah metode yang paling umum diamati pada
kasus yang fatal. Indikasi kematian pada Asfiksia autoerotika ini harus didapatkan bagaimana
individu mengontrol tingkat hipoksia dan melarikan diri dari situasi itu dan harus ada bukti
aktivitas seksual. Seringkali tubuh dapat ditemukan baik telanjang, sebagian telanjang, atau
dengan penis yang diproyeksikan terbuka, mungkin dengan tangan menyentuh alat kelamin
seakan beku dalam tindakan masturbasi. Ejakulasi mungkin terjadi meskipun yang terakhir
dapat terjadi dalam jenis lain dari kematian. Dan kematian autoerotik biasanya disebabkan
oleh gagalnya penyelamatan diri sendiri pada saat korban melakukan perangsangan seksual
yang tidak lazim.
1.2 Perumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan asfiksia autoerotik ?
b. Bagaimana cara mengidentifikasi korban kematian karena asfiksia autoerotik ?
1.3 Tujuan
a. Mengetauhi tentang asfiksia autoerotik
b.
1.4

Mengetahui cara identifikasi korban kematian karena asfiksia autoerotik

Manfaat
Menambah pengetahuan dan wawasan tentang asfiksia autoerotik serta bagaimana cara
mengidentifikasi korban kematian karena asfiksia autoerotik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Asfiksia Autoerotik


Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen (O 2)

dan berlebihnya kadar karbon dioksida (CO2) secara bersamaan dalam darah dan jaringan
tubuh akibat gangguan pertukaran antara oksigen (udara) dalam alveoli paru-paru dengan
karbon dioksida dalam darah kapiler paru-paru. Kekurangan oksigen disebut hipoksia dan
kelebihan karbon dioksida disebut hiperkapnia.2
Autoerotisme adalah perilaku menstimulasi diri sendiri secara seksual. Istilah ini
pertama kali dipopulerkan oleh seksologis asal Inggris Havelock Ellis, yang mendefinisikan
autoerotisme sebagai Suatu fenomena munculnya rangsangan seksual secara spontan yang
dipicu oleh tidak adanya rangsangan dari luar baik secara langsung maupun tidak langsung
dari orang lain . Praktek autoerotik yang paling sering adalah masturbasi, dan kedua istilah
ini ( autoerotisme dan masturbasi ) sering dianggap sinonim, meski masturbasi dapat
dilakukan berpasangan.
Kematian autoerotik didefenisikan sebagai suatu kematian yang tidak disengaja
(Accidental) yang dilakukan bukan untuk menyakiti diri sendiri akan tetapi untuk mencapai
kepuasan seksual yang dilakukan oleh karena adanya suatu kelainan paraphilia baik letal
maupun non-letal, dilakukan dengan cara pengantungan, penjeratan, plastik-bag asphixation,
elektrofilia, dan anestesiofilia, dimana pada saat terjadi hipoksia dapat meningkatkan
kepuasan seksual pada korban. Beberapa respon fisiologis terhadap penurunan oksigen ke
tubuh dan otak dapat menyebabkan daya tarik aktivitas seksual yang berbahaya.Ketika arteri
karotis yang dikompresi, seperti dalam pencekikan atau menggantung, dapat menyebabkan
kekurangan oksigen ke otak atau hipoksia dan terjadi peningkatan karbon dioksida sehingga
menimbulkan perasaan pusing, kepala ringan, dan halusinasi pikiran, yang semuanya akan
meningkatkan sensasi masturbasi. Dan kematian autoerotik biasanya disebabkan oleh
gagalnya penyelamatan diri sendiri pada saat korban melakukan perangsangan seksual yang
tidak lazim ini. Pada hampir semua kasus, paling sering dialami oleh usia dewasa
pertengahan.
Korban biasanya menggunakan peralatan yang dapat menstimulasi rasa sakit, dengan
benda-benda pornografi dan adanya bukti trans fetihisme seperti menggunakan pakaian
6

wanita.Untuk menyingkirkan kemungkinan bunuh diri atau pembunuhan, penyidik harus


memeriksa tempat kejadian perkara dan menemukan bukti-bukti sebelum memastikan
kematian tersebuat adalah suatu kematian autoerotik. Lokasi yang dipilih pelaku biasanya
tempat yang sunyi, dan seringkali disertai bukti perilaku autoerotik yang berulang. Bekas tali,
utamanya pada kasus penjeratan leher, selalu ditemukan abrasi atau memar.
2.2

Epidemiologi Asfiksia Autoerotik


Asfiksia autoerotik dapat ditemukan pada semua ras di seluruh dunia dan di setiap

jenjang status sosial ekonomi. Akan tetapi biasanya korban adalah remaja atau dewasa muda
dengan kelompok usia yang paling sering adalah usia 12 sampai 25 tahun dengan 71%
korban kurang dari 30 tahun. Korban yang paling sering ditemukan adalah laki-laki kulit
putih, sedangkan pada wanita kasusnya sangat sedikit. Asfiksia autoerotika menempati 31%
kematian akibat gantung dalam 10 tahun terakhir. Hal ini menunjukan bahwa insiden dari
kematian akibat asfiksia autoerotika meningkat.3
Di US dilaporkan 500-1000 kasus dalam 1 tahun terakhir mengalami kematian akibat
asfiksia autoerotika. Di Amerika Serikat saja didapatkan 250 sampai 500 kasus kematian
autoerotik setiap tahunnya. Estimasi rasio perbandingan pria-wanita adalah sekitar 25-50 :
1. Adapun kurangnya korban wanita disebabkan karena wanita kurang aktif pada masalah
seksual.Kebanyakan korban adalah seorang heteroseksual, penyendiri, biasanya berstatus
lajang.
Kebanyakan korban adalah kaum homoseksual, seorang heteroseksual, penyendiri,
biasanya berstatus lajang. Menurut hasil survey YPKN, terdapat 4000-5000 kaum
homoseksual di Jakarta sedangkan Gaya Nusantara memperkirakan 260.000 dari enam juta
penduduk JawaTimur adalah kaum homoseksual. Secara Nasional, sekitar 1% dari total
penduduk Indonesia adalah kaum homoseksual.
Hazelwood dan Dietz mempelajari 157 kasus asfiksia autoerotic yang diantaranya 132
(84.1% asfiksia tipikal) ; 18 (11.5% asfiksia atipikal) ; 5 (3.2%) asfiksia yang dulakukan
dengan partner. Blachard dan Huckers mengemukakan 117 pria mengalami kematian akibat
asfiksia autoerotika di Kanada dengan kisaran umur 10 56 tahun dengan rata-rata 26 tahun.
2.3 Etiopatogenesa4
Asfiksia sangat berhubungan erat dengan keadaan hipoksia. Beberapa mekanisme
yang dapat menyebabkan hipoksia adalah :
a. obstruksi leher,
b. kekurangan oksigen,
7

c. obstruksi jalan nafas,


d. kompresi dada.
Asfiksia seksual sering dihubungkan dengan kegiatan autoerotik. Pada saat para
praktisi melakukan kegiatan autoerotik, asfiksia partial dikatakan dapat menginduksi efek
euforia dimana pada saat terjadi hipoksia dapat meningkatkan kepuasan seksual pada praktisi.
Asfiksia seksual ini biasa dapat diinduksikan oleh
a. pencekikan,
b. penggantungan,
c. sufokasi kantung plastik,
d. kompresi dada, dan
e. penenggelaman.
Hal yang paling sering ditemukan untuk menginduksi pada kasus asfiksia seksual
adalah dengan penggantungan. Dimana hal ini dapat diketahui dengan mudah dengan
menemukan bekas jeratan berupa luka lecet pada bagian leher praktisi. Penggantungan adalah
cara yang paling cepat dalam menyebabkan hipoksia serebral. Hal ini juga dapat dengan
mudah menyebabkan penurunan kesadaran jika terjadi penekanan pada leher sehingga
mengakibatkan obstruksi arteri karotis dengan minimal penekanan sebesar kurang lebih 3,5
kg; dalam beberapa kasus terjadi dalam waktu yang kurang dari 15 detik; dan memungkinkan
untuk terjadinya hipoksia serebral transient yang disertai penurunan kesadaran. Pada metode
ini mengurangi self-control dan jika terjadi penurunan kesadaran yang signifikan, praktisi
benar-benar dalam keadaan tidak berdaya dan akan mengarah pada terjadinya hipoksia
serebral fatal bahkan kematian karena praktisi tidak mampu untuk melakukan penyelamatan
diri dari penggantungannya.

2.4

Tanda-tanda yang dapat ditemukan pada Asfiksia Seksual


Penyebab yang paling sering ditemui dari aktivitas autoerotik adalah asfiksia dengan

penggantungan atau pengikatan5 yang berakhir pada kematian.


Pada orang yang mengalami asfiksia, akan timbul gejala yang dibedakan dalam 4
fase2 yang meliputi:
-

Fase dispnea
Fase konvulsi
Fase apnea
Fase akhir
8

Pada fase dispnea terjadi penurunan kadar oksigen sel darah merah dan penimbunan
CO2 dalam plasma yang akan merangsang pusat pernapasan di medula oblongata. Hal ini
menyebabkan frekuensi pernapasan meningkat, nadi cepat, tekanan darah meningkat, dan
tampak tanda sianosis terutama pada muka dan tangan. Fase konvulsi mula-mula berupa
kejang klonik lalu menjadi tonik, dan akhirnya timbul spasme opistotonik akibat otak
kekurangan O2.
Fase pertama dan kedua berlangsung antara 3-4 menit. Setelah itu akan terjadi depresi
pusat pernapasan yang menyebabkan lemahnya pernapasan dan akhirnya berhenti. Di fase ini
juga terjadi kesadaran menurun dan relaksasi sfingter, di mana terjadi pengeluaran cairan
sperma, urin, dan tinja yang biasa ditemukan pada aktivitas autoerotik asfiksia.
Fase akhir akan terjadi paralisis pusat pernapasan setelah kontraksi otomatis otot
pernapasan kecil pada leher.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Patel Ankur P dkk. 6, didapatkan beberapa
penemuan hasil eksternal uji post-mortem dari kasus penggantungan yang sering dijumpai
pada aktivitas autoerotik asfiksia, yaitu:
-

Bekas jeratan
Kongesti pada muka
Air liur yang menetes
Bercak perdarahan sekitar jejas jerat
Adanya pengeluaran cairan sperma
Adanya pengeluaran feses/urin

Berdasarkan penelitian Patel Ankur P dkk. 6, 100% kasus asfiksia ditemukan tandatanda kardinal sebagai berikut:
-

Sianosis
Petekiae hemoragik/bintik perdarahan
Kongesti visceral dan darah yang gelap

2.5 Klasifikasi Autoerotic Asphyxiation7,8,9


Kriteria diagnosis autoerotic asphyxiation oleh DSM IV-TR sama dengan kriteria
diagnosis sexual masochism. Perilaku fantasi atau hasrat seksual berulang dan intens yang
dialami selama 6 bulan atau lebih yang menyebabkan gangguan sosial, okupasi, dan lainnya.
Kematian autoerotisme dapat juga diklasifikasikan sebagai parafilia yang dilakukan
secara berlebihan yang dilakukan untuk mencapai kepuasan seksual. Parafilia sendiri

diartikan sebagai penyimpangan seksual yang ditandai oleh adanya suatu fantasi seksual yang
sering dan berulang, perilaku atau aktivitas seksual yang melibatkan :

Objek selain manusia


Menyakiti diri sendiri atau pasangannya
Anak-anak yang telah timbul selama 6 bulan
Yang menyebabkan ketidakmampuan dalam hal sosial, pekerjaan ataupun fungsi

penting lainnya. Parafilia dapat dibagi menjadi parafilia letal dan non-letal. Parafilia non-letal
dapat dijabarkan menjadi 8 tipe kelainan
1. Eksihibisme : perilaku berulang-ulang salah satu alat kelamin kepada seseorang yang
tidak dikenal atau bisa juga memperlihatkan alat kelamin di tempat umum atau dilihat
oleh orang yang tidak dikenal
2. Fetishisme : menggunakan suatu objek atau suatu benda untuk menimbulkan
rangsangan seksual. Partialisme mengacu pada fetishisme yang menggunakan salah
satu bagian dari tubuhnya (selain alat kelamin) untuk menimbulkan rangsangan
seksual.
3. Frotteurisme : perilaku berulang-ulang dengan menyentuh atau menggosokan pada
orang yang tidak menyetujui tindakan tersebut
4. Pedophilia : kelainan psikologi dimana orang dewasa mendapatkan kepuasan seksual
dengan melakukannya pada anak-anak atau dapat juga dikategorikan sebagai
kekerasan seksual pada anak
5. Masochisme : perilaku dimana ada keingingan untuk disakiti, dipukul atau apapun
yang dapat membuatnya menderita untuk mencapai kepuasan seksual
6. Sadisme : perilaku dimana timbul keinginan untuk menyakiti ataupun menimbulkan
rasa sakit pada orang lain untuk menimbulkan kepuasan seksual
7. Transvestite fetishisme : kebiasaan menggunakan pakaian dari lawan jenisnya
8. Voyeurisme : perilaku dimana suka melihat atau mengintip seseorang yang sedang
telanjang atau mengintip suatu aktivitas seksual
Parafilia letal merupakan penyebab paling sering pada kematian autoerotik, dan
dibagi menjadi :
Jenis parafilia
Sexual asphyxiophilia

Contoh dan variasi


Penjeratan leher
Ikatan yang kuat (membungkus badan seperti
kepompong)
Masker muka dengan memakai suatu bahan
kimia

10

Memakai penutup plastik


Penyumbatan mulut
Kompresi dada
Penenggelaman
Nitric oxide

Sexual anesthesiophilia

Ketamine
Ether
Chloroform dan zat-zat halusinogen
Bahan-bahan

yang

disemprotkan

seperti

bensin, methana, menghirup CO2


Amphetamine, cocaine, dll
Secara langsung dengan kabel dari peralatan

Sexual electrophilia

elektronik seperti televisi, lampu meja, ataupun


dari peralatan bertegangan rendah seperti
mainan anak-anak pada penis, rectum atau
puting susu
Memasukkan benda asing yang terlalu besar

Sexual masochisme

atau tidak bersih


Memasukkan barang-barang ke dalam mulut
Memasukkan sesuatu untuk menimbulkan
nyeri peritoneal misalnya dengan pisau
Tabel 1. Parafilia Lethal
Pada kematian autoerotik (parafilia letal), kematian yang terjdadi merupakan
kematian yang tidak disengaja (accidental death). Oleh karena itu kematian autoerotk dapat
didiagnosa apabula korban dalam keadaan sendiri, kematian yang tidak disengaja, dan
disebabkan oleh parafilia.
berdasarkan definisi di atas, maka klasifikasi autoerotik menjadi tipikal atau atipikal
tergantung pada ada tidaknya bukti adanya suatu kelainan parafilia dan atau peralatan bantu
yang digunakan. Pada kasus tipikal, vibrator ataupun benda lain yang berkenaan dengan alat
kelamin dapat ditemukanm tetapi tidak demikian pada kasus atipikal. Dalam hal ini, peralatan
digunakan baik secara aktif maupun pasif untuk meningkatkan imajinasi seksual, bukan
untuk fetishisme atau transvestitisme.
2.6

Gambaran Umum Postmortem Pada Asfiksia Autoerotik10


11

Dari semua cara kematian akibat asfiksia autoerotik yang paling sering ditemukan
adalah asfiksia sebagai akibat dari penggantungan (hanging).
Pada umumnya mirip dengan korban bunuh diri dengan cara penggantungan, namun
ada beberapa hal yang dapat membedakannya, yaitu:
No
1.

Karakteristik
Lokasi

Penjelasan
Daerah terpencil, atau terisolasi, yang
dimaksudkan untuk menjaga privasi.
Kamar yang terkunci dari dalam.

2.

Posisi Tubuh

Bukti adanya aktifitas seksual sendiri.


Tidak
pernah
didapatkan
free
hanging pada kematian autoerotik
asfiksia.

Tubuh

korban

biasanya

separuh menyentuh lantai, atau bahkan


3.

berdiri.
Benda-benda yang beresiko Peralatan
tinggi

atau

berpotensi

letal

benda-benda

yang

digunakan

dalam

aktivitas

autoerotik

meningkatkan

kepuasan

untuk
baik

fisik

maupun psikologik, dan berpotensi


menyababkan kematian.
4.

Mekanisme penyelamatan diri

Peralatan yang memungkinkan korban


untuk

menghentikan

beresiko
5.

Pengikatan

tinggi

yang

benda-benda
digunakan

( misalnya pisau ).
Menggunakan benda atau alat tertentu
yang

dapat

menimbulkan

fantasi

psikologik yang signifikan bagi korban.


Penting diperhatikan bahwa ikatan
yang dibuat dapat dengan mudah
6.

Perilaku Masokistik

dilepaskan sendiri.
Memberikan rasa sakit pada area
seksual atau area lainnya di tubuh,
indicator
sebelumnya

adanya

perilaku

serupa

menunjukkan

suatu
12

7.

perilaku autoerotik.
Korban dapat berpakaian fetihistik,

Pakaian

yaitu

mengenakan

kewanitaan.

barang-barang

Korban

dapat

pula

mengenakan pakaian wanita seutuhnya,


tanpa pakaian sama sekali, ataupun
tertutup sebagian.
8.

Lapisan pelindung

Untuk mencegah terlihat oleh orang


lain,

kerusakan

yang

diakibatkan

biasanya terjadi pada daerah yang


tertutup

oleh

pakaian,

dan

atau

penggunaan pelapis seperti syal, atau


handuk untuk mencegah abrasi atau
9.

Paraphernalia seksual

alur luka.
Benda yang ditemukan pada korban
atau

di

sekitar

korban

yang

berhubungan dengan fantasi seksual


(vibrator, cermin, foto, film, pakaian
10.

Aktifitas masturbasi

dalam wanita, dsb.)


Ada atau tidak adanya cairan semen di
lokasi

kejadian

indikator

bukanlah

suatu

suatu

kematian

autoerotik.Aktifitas

masturbasi

dianggap ada apabila ditemukan cairan


11.

Bukti
berulang

12.

aktifitas

semen pada tangan atau handuk.


autoerotik Bukti adanya aktifitas autoerotik
berulang.

Tidak ada perencanaan bunuh Korban


diri

diketahui

telah

membuat

rencana masa depan, misalnya akan


mengunjungi seseorang, traveling.
Tidak didapatkannya surat bunuh diri
bukan
kematian

merupakan

indikasi

autoerotik.

suatu
Apabila
13

didapatkan, maka harus dipastikan


bahwa surat tersebut ditulis pada waktu
yang berdekatan dengan saat kematian.
Tabel 2. Identifikasi Korban Asfiksia Autoerotik
Hanging adalah suatu keadaan dimana terjadi konstriksi dari leher oleh alat
penggantung yang ditimbulkan oleh berat badan seluruh atau sebagian. Alat penjerat sifatnya
pasif, sedangkan berat badan sifatnya aktif sehingga terjadi konstriksi pada leher. Penyebab
kematian akibat hanging adalah asfiksia, iskemik otak, reflek vagus dan kerusakan medulla
oblongata.1,3 Hal ini sangat penting diperhatikan oleh dokter, dan keadaannya bergantung
kepada beberapa kondisi :
a.

Jejas gantungnya jelas dan dalam jika tali yang digunakan kecil dibandingkan jika
menggunakan tali yang besar. Bila alat penggantung mempunyai permukaan yang
luas, yang berarti tekanan yang ditimbulkan tidak terlalu besar tetapi cukup menekan
pembuluh balik, maka muka korban tampak sembab, mata menonjol, wajah berwarna
merah kebiruan dan lidah atau air liur dapat keluar tergantung dari letak alat penjerat.
Jika permukaan alat penjerat kecil, yang berarti tekanan yang ditimbulkan besar dan
dapat menekan baik pembuluh balik maupun pembuluh nadi; maka korban tampak

b.

pucat dan tidak ada penonjolan dari mata.


Alur gantung : bentuk jejasnya berjalan miring (oblik atau berbentuk V) pada bagian
depan leher, dimulai pada leher bagian atas di antara kartilago tiroid dengan dagu, lalu
berjalan miring sejajar dengan garis rahang bawah menuju belakang telinga. Tanda ini

c.

semakin tidak jelas pada bagian belakang.


Tanda penggantungan atau jejas gantung yang sebenarnya luka lecet akibat tekanan
alat jerat yang berwarna merah kecoklatan atau coklat gelap dan kulit tampak kering,
keras dan berkilat. Pada perabaan, kulit terasa seperti perabaan kertas perkamen,
disebut tanda parchmentisasi, dan sering ditemukan adanya vesikel pada tepi jejas
jerat tersebut dan tidak jarang jejas jerat membentuk cetakan sesuai bentuk

d.

permukaan dari alat jerat.


Pada tempat dimana terdapat simpul tali yaitu pada kulit dibagian bawah telinga,

e.
f.

tampak daerah segitiga pada kulit dibawah telinga.


Pinggiran berbatas tegas dan tidak terdapat tanda-tanda abrasi disekitarnya.
Jumlah tanda penjeratan. Kadang-kadang pada leher terlihat 2 buah atau lebih bekas
penjeratan. Hal ini menunjukkan bahwa tali dijeratkan ke leher sebanyak 2 kali.
Karena asfiksia merupakan mekanisme kematian dari hanging, maka secara

menyeluruh untuk semua kasus akan ditemukan tanda-tanda umum yang hampir sama,yaitu:
14

a. Pada pemeriksaan luar didapatkan :


1) Muka dan ujung-ujung ekstremitas sianotik (warna biru keunguan) yang
disebabkan tubuh mayat lebih membutuhkan HbCO2 daripada HbO2.
2) Mata menonjol keluar; oleh karena pecahnya oleh bendungan kepala, dimana
vena-vena terhambat sedang arteri tidak.
3) Lidah menjulur; tergantung dari letak jerat. Bila tepat di kartilago tiroid lidah
akan terjulur sedang jika di atasnya lidah tidak akan terjulur.
4) Air liur mengalir dari sudut bibir di bagian yang berlawanan dengan simpul
tali. Keadaan ini menunjukkan tanda pasti penggantungan ante-mortem.
5) Kedalaman dari bekas penjeratan menunjukkan lamanya tubuh tergantung.
Jika korban lama tergantung, ukuran leher menjadi semakin panjang.
6) Tardieus spot pada konjungtiva bulbi dan palpebra. Tardieus spot merupakan
bintik-bintik perdarahan (petekie) akibat pelebaran kapiler darah setempat.
7) Lebam mayat cepat timbul, luas, dan lebih gelap karena terhambatnya
pembekuan darah dan meningkatnya fragilitas/permeabilitas kapiler. Hal ini
akibat meningkatnya kadar CO2 sehingga darah dalam keadaan lebih cair.
Lebam mayat lebih gelap karena meningkatnya kadar HbCO2dan aktivitas
fibrinolisin dalam darah sehingga darah sukar membeku dan mudah mengalir.
Tingginya fibrinolisin ini sangat berhubungan dengan cepatnya proses
kematian.Lebam mayat dan bintik-bintik perdarahan terutama pada bagian
akral dari ekstremitas, sangat tergantung dari lamanya korban dalam posisi
tergantung
8) Buih halus keluar dari hidung dan mulut. Busa halus ini disebabkan adanya
fenomena kocokan pada pernapasan kuat.
9) Keluarnya mani, darah (sisa haid), urin dan feses akibat kontraksi otot polos
pada saat stadium konvulsi pada puncak asfiksia.Hal ini bukan merupakan
tanda khas dari penggantungan dan keadaan ini tidak selalu menyertai
penggantungan.
b. Pada pemeriksaan dalam didapatkan :
1) Organ dalam tubuh lebih gelap dan lebih berat serta pada pengirisan banyak
mengeluarkan darah
2) Tanda bendungan pembuluh darah otak
3) Darah termasuk dalam jantung berwarna gelap dan lebih cair karena
fibrinolisin darah yang meningkat pasca kematian.
4) Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikardium pada bagian
belakang jantung daerah aurikuloventrikular, subpleura viseralis paru terutama

15

di lobus bawah pars diafragmatika da fisura interlobaris, kulit kepala sebelah


dalam terutama daerah otot temporal, mukosa epiglottis dan daerah subglotis.
5) Buih halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan aktivitas
pernafasan disertai sekresi selaput lender saluran nafas bagian atas. Keluar
masuknya udara yang cepat dalam saluran yang sempit akan menimbulkan
busa yang kadang bercampur darah akibat pecahnya kapiler.
6) Edema paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan dengan hipoksia.
7) Jaringan yang berada dibawah jeratan berwarna putih, berkilat dan perabaan
seperti perkamen karena kekurangan darah, terutama jika mayat tergantung
cukup lama. Pada jaringan dibawahnya mungkin tidak terdapat cedera lainnya.
8) Platisma atau otot lain disekitarnya mungkin memar atau ruptur pada beberapa
keadaan. Kerusakan otot ini lebih banyak terjadi pada kasus penggantungan
yang disertai dengan tindak kekerasan.
9) Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami laserasi ataupun
ruptur. Resapan darah hanya terjadi didalam dinding pembuluh darah.
10) Fraktur tulang hyoid jarang terjadi. Fraktur ini biasanya terdapat pada
penggantungan yang korbannya dijatuhkan dengan tali penggantung yang
panjang dimana tulang hyoid mengalami benturan dengan tulang vertebra.
Adanya efusi darah disekitar fraktur menunjukkan bahwa penggantungannya
ante-mortem.
11) Fraktur kartilago tiroid jarang terjadi. Pada korban diatas 40 tahun, patah
tulang ini darap terjadi bukan karena tekanan alat penjerat tetapi karena
terjadinya traksi pada penggantungan.
12) Fraktur 2 buah tulang vertebra servikalis bagian atas. Fraktur ini sering terjadi
pada korban hukuman gantung.
13) Darah dalam jantung bewarna gelap dan lebih encer.
2.7 Identifikasi Korban Gantung Diri Karena Pembunuhan1,2
Pembunuhan yang dilakukan dengan metode menggantung korban, biasanya
dilakukan bila korbannya anak-anak atau orang dewasa yang kondisinya lemah baik oleh
karena penyakit atau dibawah pengaruh obat, alcohol, atau korban sedang tidur. Sering
ditemukan kejadian penggantungan tetapi bukan kasus bunuh diri, namun kejadian diatur
sedemikian rupa hingga menyerupai kasus penggantungan bunuh diri. Beberapa tanda yang
mengarah pada gantung diri karena pembunuhan:
a. Tidak mengenal batas usia, karena tindakan pembunuhan dilakukan oleh musuh
atau lawan dari korban dan tidak bergantung pada usia

16

b. Tanda jejas jeratan, berupa lingkaran tidak terputus, mendatar, dan letaknya di
bagian tengah leher, karena usaha pelaku pembunuhan untuk membuat simpul tali
c. Simpul tali biasanya lebih dari satu pada bagian depan leher dan simpul tali
tersebut terikat kuat
d. Macam simpul pada jerat di leher
Simpul hidup : Umumnya pada kasus bunuh diri.
Simpul mati : Bila dilonggarkan maksimal, apakah dapat melewati kepala.
Bila dapat biasanya bunuh diri.
e. Arah serabut tali penggantung: arah serabut tali tidak menuju korban mengarah
pada dibunuh terlebih dulu
f. Sebelumnya korban tidak mempunyai riwayat untuk bunuh diri
g. Cedera berupa luka-luka pada tubuh korban biasanya mengarah kepada
pembunuhan
h. Tangan yang dalam keadaan terikat mengarahkan dugaan pada kasus pembunuhan
i. Pada kasus pembunuhan, mayat ditemukan tergantung pada tempat yang sulit
dicapai oleh korban dan alat yang digunakan untuk mencapai tempat tersebut
tidak ditemukan
j. Bila sebaliknya pada ruangan ditemukan terkunci dari luar, maka penggantungan
adalah kasus pembunuhan
k. Tanda-tanda perlawanan hampir selalu ada kecuali jika korban sedang tidur, tidak
sadar atau masih anak-anak.
2.8

Identifikasi Korban karena bunuh diri1,2


Pemeriksaan post-mortal pada kasus gantung diri atau penggantungan dipengaruhi

oleh mekanisme kematiannya; mekanisme kematian yang berbeda akan memberikan


gambaran post-mortal yang berbeda.
Pemeriksaan tempat kejadian :
a. Keadaan di TKP (tempat kejadian perkara) pada kasus bunuh diri, keadaanya
tenang, di ruang atau tempat tersembunyi atau pada tempat yang sudah tidak
digunakan
b. Pakaian korban : Pada kasus bunuh diri biasa ditemukan pakaian korban cukup
rapih, sering didapatkan surat peninggalan dan tidak jarang diberikan alas sapu
tangan sebelum alat jerat dikalungkan ke leher. Adanya alat penumpu seperti
bangku dan sebagainya Jumlah lilitan : Semakin banyak jumlah lilitan, dugaan
bunuh diri makin besar
c. Arah serabut tali penggantung: arah serabut tali menuju korban mengarah ke
bunuh diri.

17

d. Distribusi lebam mayat. Diperiksa apakah sesuai dengan posisi korban yang
tergantung atau tidak.
e. Macam simpul pada jerat di leher
Simpul mati : Bila dilonggarkan maksimal, apakah dapat melewati kepala.
Bila dapat biasanya bunuh diri,. Bila tidak, curiga pembunuhan.
f. Jarak ujung jari kaki dengan lantai. Pada kasus bunuh diri, posisi korban yang
tergantung lebih mendekati lantai, berbeda dengan pembunuhan dimana jarak
antara kaki dan lantai cukup lebar.
g. Tidak adanya tanda-tanda perlawanan.
Pembunuhan

Bunuh diri

Alat penjerat:
Simpul
Jumlah lilitan
Arah
Jarak titik tumpu

Biasa simpul mati


Hanya Satu
Mendatar
Dekat

Simpul hidup
Satu atau lebih
Serong ke atas
Jauh

simpul
Korban:
Jejas jerat
Luka perlawanan
Luka-luka lain

Berjalan mendatar
Meninggi ke arah simpul
Ada
Tidak ada
Ada, sering di daerah Biasanya tidak ada,

Jarak dari lantai

leher

mungkin terdapat luka

Jauh

percobaan lain
Dekat, dapat tidak
tergantung (menyentuh
tanah)

TKP:
Lokasi
Kondisi
Pakaian
Alat

Bervariasi
Tidak teratur
Tak teratur, robek
Dari si pembunuh

Tersembunyi
Teratur
Rapi dan baik
Berasal dari yang ada di

Surat

Tidak ada

TKP
Ada

peninggalan
Ruangan

Tak teratur, terkunci dari Terkunci dari dalam

luar
Tabel 3. Identifikasi korban pembunuhan atau bunuh diri
2.9

Aspek Medikolegal pada kematian autoerotic


Asfiksia autoerotik tidak selalu karena kecelakaan dapat juga akibat penganiayaan

seksual. Di sini lah dapat dilihat fungsinya dari satu perundangan yang ditetapkan. Pada buku

18

kedua KUHP Bab XIX tentang kejahatan terhadap nyawa. Berikut merupakan pasal-pasal
yang terkandung dalam bab XIX KUHP.

Pasal 338
Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena

pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 339
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang

dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau


untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap
tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan
hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling
lama dua puluh tahun

Pasal 340
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa

orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana rnati atau pidana
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.

Pasal 345
Barang siapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri, menolongnya dalam

perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun kalau orang itu jadi bunuh diri. Pada kasus penggantungan, dokter
forensik dipanggil untuk membuat pemeriksaan lengkap sesuai dengan Pasal 133 KUHAP
yang menyatakan dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban
baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana,

ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran

kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.


Pada pasal 133 KUHAP (ayat 2 dan 3) menyatakan permintaan keterangan ahli
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu
disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau
pemeriksaan bedah mayat; dan mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan
terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi
cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. Pernyataan ini
menjadi dasar pembuatan visum et repertum (laporan bertulis) pada kasus tindak pidana
19

Salah satu pemeriksaan yang dilakukan pada korban mati akibat penggantungan
adalah otopsi. Hal ini dapat membantu dokter forensik untuk mengetahui mekanisme
kematian sehingga dapat membantu penyidik mengetahui cara kematian korban. Sesuai
dengan Pasal KUHP 222 yang menyatakan barang siapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan
pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima
ratus rupiah.6
Pada persidangan kasuspidana, dokter forensic akan dipanggil sebagai saksi ahli.
Sesuai dengan Pasal 179 ayat 1 KUHAP yang menyatakan setiap orang yang diminta
pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahlilainnya wajib
memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2.10

Contoh kasus10
Seorang pria berusia 35 tahun ditemukan tewas di kamar tidurnya, tergantung dari

langit-langit dengan sabuk karate dan diselimuti oleh handuk biru melingkari lehernya.
Terdapat cermin di depannya dan sedikit ke samping terdapat komputer (Gambar 1). Pria ini
sepenuhnya tanpa busana (telanjang) dan sudah dalam tahap awal pembusukan. Ketika
penyidik mengaktifkan komputer tersebut, ditemukan pada layar slideshow gambar-gambar
porno. Di belakangnya ditemukan tabung parfum logam terbungkus oleh kaus kaki yang
kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik. Ditemukan jejak feses pada kantong plastik.
Baju-bajunya terletak rapi ditempatnya, rumah itu bersih dan tidak ada jejak
pelanggaran. Otopsi dilakukan pada hari berikutnya dan menemukan berikut: disekitar leher
tampak tanda pengikat agak miring mengarah ke superior dari depan ke belakang. Tanda
yang lebih jelas terlihat di posterior, dengan panjang maksimum sekitar 2,1 cm dan lebar
maksimum sekitar 0,4 cm.
Tanda pengikat berwarna pucat merah (jejas tali), seperti perkamen dan tidak
berhubungan dengan perdarahan otot serviks, memar atau perdarahan di bawah kulit, tulang
hyoid atau fraktur tulang rawan laring. Perdarahan petekie terdapat di konjungtiva mata
kanan, epicranium dan di permukaan paru-paru. Kedua paru-paru terjadi kongesti. Pada hati
terjadi sklerosis insipien ringan, dan pada rongganya berisi cairan, darah kehitaman. Sfingter
anal melebar, mendatar, dengan fisura anal dengan berbagai tingkat dan inkontinensia.

20

Subjek tampak memiliki kehidupan yang normal, tanpa fetishisms yang diketahui atau
kecenderungan homoseksual. Penyebab kematiannya dalam hal ini adalah insufisiensi
pernapasan akut karena asfiksia mekanik dengan menggantung.

Gambar. 4. Investigasi kejadian kriminal: A. Pandangan umum dari TKP; B. Detil belt yang terhubung ke langit-langit; C. Slideshow gambar erotis terlihat pada monitor
PC; D. Detil parfum botol terbungkus kantong plastik; E. Detil - bantalan pelindung;
F - Detil - kaki menyentuh lantai.

21

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Kematian autoerotik didefinisikan sebagai suatu kematian yang tidak disengaja

(Accidental) yang dilakukan bukan untuk menyakiti diri sendiri akan tetapi untuk mencapai
kepuasan seksual yang dilakukan oleh karena adanya suatu kelainan paraphilia baik letal
maupun non-letal, dilakukan dengan cara pengantungan, penjeratan, plastik-bag asphixation,
elektrofilia, dan anestesiofilia, dimana pada saat terjadi hipoksia dapat meningkatkan
kepuasan seksual pada korban.
Kematian akibat asfiksia autoerotik yang paling sering adalah akibat strangulasi,
sehingga pada pemeriksaan post mortem didapatkan tanda-tanda mati lemas dan tanda-tanda
strangulasi.
3.2

Saran
Dari uraian di atas, jika mendapatkan kasus korban gantung diri, di harapkan dokter

dapat gambaran post mertem pada asfiksia autoerotik dan dapat membedakan korban gantung
karena pembunuhan, bunuh diri, atau karena kegiatan autoerotik (asfiksia autoerotik ).

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Dahlan S. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum.
UNDIP. 2007
2. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Munim TWA, Sidhi, Hertian S et al. Ilmu
kedokteran forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 1997
3. Idries M. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta. Binarupa Aksara. 2002.
Memchoubi. Autoerotic Hanging Brought As a Case Of Suicidal Hanging. 2004
4. Knight B. Fatal masochism-accid ent or suicide? Med Sci Law 1979; 19: 118-20
5. Atanasijevic T, Jovanovic AA, Nikolic S, Popovic V, Jaovic-Gaic M. Psychiatria
Danubina Vol 21 No 2: Accidental death due to complete autoerotic asphyxia
associated with transvestic fetishism and anal self-stimulation - case report. Institute
of Forensic Medicine, School of Medicine. 2009;249.
6. Patel-Ankur P, Bhoot-Rajesh R, Patel-Dhaval J, Patel KA. International journal of
medical toxicology and forensic medicine. Study of violent asphyxial death. India.
2013;54-6
7. Payne-James J, et all. Simpsons forensic medicine 13 th edition. London:Hodder &
Stoughton, 2011.
8. Saukko P, Knight B. Knights forensic pathology. 3 rd edition. New York:Oxford
University press, 2004.
9. Rao NG. Textbook of Forensic medicine & toxicology. 2 nd edition. St. Louis:Jaypee
brothers medical publishers, 2010.
10. Capatina C, hostius S, Dragoteanu C, Curca GC. Autoerotic asphyxial hanging-case
presentation. Rom J Leg Med. 2009;194-5
11. Resnik HL. Erotised Repetitive Hangings: A Form Of Self-Destructive Behavior.
Am J Psychother 1972; 26: 4-21.

23