Anda di halaman 1dari 13

Trombolitik

2.2 Jenis dan Agen Trombolitik


Terapi trombolisis menggunakan obat yang disebut agen trombolitik seperti alteplase
(Activase), anistreplase (Eminase), streptokinase (Streptase, Kabikinase), Urokinase
(Abbokinase), dan aktivator plasminogen jaringan (TPA) untuk membubarkan gumpalan.
Obat ini diberikan sebagai suntikan, hanya di bawah pengawasan seorang dokter.

Agent trombolitikdibagi menjadi 2 kategori :


1. Fibrin selektif
Karakteristik :
Aktivasi plasminogen yang terikat pada fibrin
Penghancuran bekuan sangat cepat
2. Fibrin non selektif
Karakteristik :
Plasminogenosis dan fibrinogenosis sistemik
Penghancuranbekuanlebihlambat
Status penghancuransistemiklebihpanjang
2.3 Kriteriaseleksi yang digunakanuntukterapitrombolitik
2.3.1 Indikasi :
1.
2.
3.
4.
5.

Tidaklebihdari 12 jam setelahwaktuterapi : nyeri dada, semakin


cepatsemakinbaik
Elevasisegmen ST pada EKG atau onset barublokcabangberkas
kiri
Nyeri dada istemikdengandurasi 30 menit
Nyeri dada tidakresponterhadapnitrogliserin sub lingual atau
nifedipin
Tidakmengalamikondisi yang dapatmenjadipredisposisi
pendarahan

2.3.2 Kontraindikasi
Terapitrombolitik :Kontraindikasiabsolut
1.
2.
3.
4.

Sebelumnyamengalami stroke hemoragik; stroke lain atau


serebrovaskularyang terjadidalam 1tahun terakhir
Neoplasma intracranial
Perdarahan internal aktif (tidaktermasukmenstruasi)
Suspekdiseksi aorta

Terapitrombolitik :Kontraindikasirelative
1.

Hipertensiberat (tekanandarah >180/110)

2.

Riwayat CVA / kelainanintraserebral

3.

Trauma yang baruterjadi (dalam 2-4 minggu), termasukcedera

kepalaatauresusitasijantung> 10 menitatauoperasibesar< 3minggu


4.

Perdarahan internal dalam 2-4 mingguterakhir

5.

Penggunaan streptokinase sebelumnya (5 harisampai 2 tahun)


atauriwayatalergiterhadap streptokinase

6.

Pengunaanantikoagulan

7.

Kehamilan

8.

lukalambung

9.

Riwayathipertensikronik yang berat

2.4 Manajemen Farmakologi


Obat

Dosis

Tindakan

Pertimbangankhusus

Bekuanspesifik
t-PA
IV : 100 mg

Mengikat fibrin

Waktuparuh yang

(alteplas

lebih dari 90

padabekuan dan

pendek, sehingga

e)

menit dengan 15

mempromosikan heparin biasanya

mg pertama

aktivasi

diberikan lewatbolus

diberikan

plasminogen

dan kemudian

melaluibolus

menjadi plasmin

diikutidengan infuse.
Aspirin
dimulaidenganpemberia
nobatdandilanjutkan1ha

r-PA

10 U

Mengikat fibrin

ri
Heparin

(reteplas

diberikanlewatb

padabekuan dan

dimulaidenganpemberia

e)

olus, diulang

mempromosikan nobatdandilanjutkandal

dalam 30 menit

aktivasi

am 24 jam

plasminogen
TNKase

30-50 mg

menjadi plasmin
Mengikat fibrin

Heparin

(tenectep

berdasarkan

padabekuan dan

dimulaidenganpemberia

lase)

berat badan,

mempromosikan nobatdandilanjutkan q

diberikan

aktivasi

lewatbolus

plasminogen

hari

tunggal
Non-spesifik
SK
1,5 juta U

menjadi plasmin
Mengkatalispen

Dapatmenyebabkanreak

(streptok

diberikan lebih

gubahanplasmin

sialergidanhipotensi.

inase)

dari 60 menit

ogen menjadi

Heparin dapatdiberikan

plasmin, yang

IV atau SQ

menyebabkan

Aspirin

lisis dari fibrin.

dimulaidenganpemberia

Memiliki efek

nobatdandilanjutkan1ha

litik sistemik
Kombinasi
molekul
streptokinase
dan
plasminogen
yang
tindakannyaseru
pa dengan
streptokinase.
Memiliki efek
litik sistemik

ri
Dapatmenyebabkanreak

APSAC
(anitrepl
ase)

30 U melalui
bolus lambat
selama 2-5
menit

sialergidanhipotensi
Waktuparuh lama, jadi
heparin
biasanyadimulai 4-6
jam setelah APSAC
Aspirin
dimulaidenganpemberia
nobatdandilanjutkan1ha
ri

Obat-obat Trombolitik
14 April 2012 Prima Almazini

Terapi trombolitik

Obat-obat trombolitik digunakan untuk melarutkan gumpalan darah (trombi). Gumpalan


darah dapat terbentuk pada semua pembuluh darah, namun ketika terbentuk di pembuluh

darah koroner, serebral atau pulmonal, akan mengancam hidup, trombi koroner dapat
menyebabkan infark miokard, trombi pembuluh darah serebral dapat menyebabkan stroke,
tromboemboli pulmoner dapat menyebabkan gagal jantung dan gagal napas. Oleh karena itu,
penting untuk mendiagnosis cepat dan menangani gumpalan darah.
Mekanisme Thrombolisis
Obat trombolitik melarutkan gumpalan darah dengan mengaktifkan plasminogen yang
membentuk produk yang disebut plasmin. Plasmin adalah enzim penghancur protein yang
dapat memutuskan ikatan antara molekul fibrin, yang menyusun gumpalan darah. Karena
mekanisme ini, obat trombolitik disebut juga aktivator plasminogen dan obat fibrinolitik.
Ada tiga kelas utama obat fibrinolitik, yaitu Aktivator Plasminogen Jaringan (tPA),
Streptokinase (SK), dan Urokinase (UK). Meskipun obat-obat ini dapat melarutkan gumpalan
darah namun berbeda dalam mekanismenya.

Gambar di atas menggambarkan mekanisme fibrinolitik tPA dan SK. Turunan tPA adalah obat
trombolitik yang paling sering digunakan terutama untuk gumpalan darah di koroner dan
pembuluh darah serebral, karena kekhususannya mengaktifkan plasminogen yang terikat di
fibrin. Mekanisme tPA menghancurkan gumpalan yaitu tPA terikat ke fibrin di permukaan
gumpalan darah, mengaktivasi plasminogen yang terikat ke fibrin. Plasmin dilepaskan dari
plasminogen yang terikat fibrin, kemudian molekul fibrin dihancurkan oleh plasmin dan
gumpalan terlarut.
Plasmin adalah protease yang dapat menghancurkan molekul fibrin, sehingga dapat
melarutkan gumpalan. Namun, penting dicatat bahwa plasmin juga menghancurkan protein
sistemik lain termasuk fibrinogen. Namun karena spesifitas fibrin yang dihancurkan oleh tPA,
pelarutan gumpalan dari fibrinogen sirkulasi lebih sedikit daripada SK dan UK. Meskipun
tPA cenderung selektif untuk plasminogen yang terikat pada fibrin, tPA mengaktifkan
plasminogen sirkulasi dengan melepaskan plasmin yang menyebabkan penghancuran
fibrinogen sirkulasi dan menimbulkan keadaan fibrinolitik sistemik. Dalam keadaan normal,
2-antiplasmin yang bersirkulasi dalam darah menginaktifkan plasmin tetapi dosis terapetik
tPA dan SK menyebabkan pembentukan plasmin berkurang untuk mengatasi konsentrasi 2antiplasmin yang bersirkulasi. Secara ringkas, meskipun tPA relatif selektif bekerja pada
fibrin gumpalan darah, tetapi dapat memicu keadaan lisis sistemik dan perdarahan yang tidak
diharapkan.
SK bukan protease dan tidak memiliki aktivitas enzimatik, namun membentuk kompleks
dengan plasminogen yang melepaskan plasmin. Berbeda dengan tPA, SK tidak terikat
terutama pada fibrin gumpalan darah dan oleh karena itu terikat secara seimbang pada
plasminogen yang bersirkulasi maupun yang tidak bersirkulasi. Oleh karena itu, SK
memproduksi fibrigenolisis dan fibrinolisis gumpalan signifikan. Karena alasan ini, tPA lebih
disukai sebagai agen trombolitik daripada SK, terutama untuk melarutkan gumpalan di
koroner dan pembuluh darah serebral. Karena SK dibuat dari streptococci, pasien yang

memiliki riwayat infeksi streptococci membutuhkan dosis SK yang lebih tinggi untuk
memproduksi trombolisis.
Penting dicatat bahwa efektivitas obat trombolitik bergantung pada umur gumpalan.
Gumpalan yang lebih lama memiliki fibrin yang berhubungan silang dan lebih padat. Oleh
karena itu, gumpalan lebih sulit dilarutkan. Untuk mengobati infark miokardial akut, obat
trombolitik idealnya diberikan dalam 2 jam pertama. Lebih dari itu, efektivitasnya berkurang
dan dosis yang lebih tinggi dibutuhkan untuk mencapai lisis yang diharapkan.
Obat Thrombolitik Spesifik
Aktivator Plasminogen Jaringan
Kelompok obat trombolitik digunakan pada infark miokardial akut, stroke thrombotik
serebrovaskular dan embolisme pulmoner. Untuk infark miokardial akut, aktivator
plasminogen jaringan secara umum lebih disukai dari streptokinase.
Alteplase (Activase; rtPA) adalah bentuk rekombinan dari tPA manusia. Alteplase memiliki
waktu paruh pendek (5 menit) dan oleh karena itu diberikan secara bolus intravena diikuti
dengan infus.
Retaplase (Retavase) dibuat secara genetik, turunan yang lebih kecil dari tPA rekombinan
yang telah ditingkatkan potensinya dan bekerja lebih cepat dari rTPA. Retaplase biasanya
diberikan sebagai injeksi bolus IV. Retaplase digunakan pada infark miokardial akut dan
embolisme paru.
Tenecteplase (TNK-tPA) memiliki waktu paruh yang lebih panjang dan afinitas ikatan yang
lebih besar untuk fibrin daripada rTPA. Karena kwatu paruh yang lebih panjang, dapat
diberikan secara IV bolus. TNK-TPA hanya digunakan pada infark miokardial akut.
Streptokinase
Streptokinase dan anistreplase digunakan pada infark miokardial akut, thrombosis vena dan
aterial, dan embolisme paru. Ikatan ini antigenik karena diturunkan dari bakteri streptokokus.
Streptokinase alami (SK) bekerja kurang spesifik sehingga kurang diminati sebagai obat
trombolitik daripada tPA karena menyebabkan banyak fibrigenolisis.
Anistreplase (Eminase) adalah kompleks SK dan plasminogen. Anistreplase lebih memiliki
spesifitas bekerja pada fibrin dan aktivitas yang lebih lama daripada SK alami. Namun,
menyebabkan fibrigenolisis.
Urokinase
Urokinase (Abbokinase; UK) aktivator plasminogen tipe urine (uPA) karena dibentuk di
ginjal dan ditemukan di urine. Urokinase jarang digunakan karena seperti SK, UK
menyebabkan fibrigenolisis. Satu kelebihan UK dari SK adalah nonantigenik.

Efek samping dan Kontraindikasi


Efek samping dari semua obat trombolitik adalah komplikasi perdarahan yang disebabkan
fibrigenolisis sistemik dan lisis sumbatan hemostatik normal. Perdarahan sering terjadi pada
tempat kateterisasi, meskipun perdarahan gastrointestinal dan otak pun dapat terjadi. Oleh
karena itu, pasien yang pernah mengalami trauma atau yang memiliki riwayat stroke
perdarahan serebral biasanya tidak diberi trombolitik. Retrombolisis biasanya terjadi
mengikuti trombolisis dan oleh karena itu antikoagulan seperti heparin biasanya diberikan
bersamaan dan dilanjutkan setelah trombolitik untuk beberapa waktu.

terapi trombolitik
1.

DEFENISI

Tromboembolisme ( oklusi suatu arteri atau vena karena thrombus atau emboli )
menyebabkan iskemia ( kurang aliran darah ) yang mengakibatkan jaringan
nekrosis (mati) di bagian distal dari area obstruksi. Perlu kira-kira 1 sampai 2
minggu untuk bekuan darah dapat berdisintegrasi dengan mekanisme fibrolitik
natural. Jika trombus atau emboli baru dapat dilarutkan lebih cepat maka
jaringan nekrosis yang terjadi hanya minimal dan aliran darah dapat kembali
berfungsi lebih cepat. Inilah dasar dari terapi trombolitik.
Terapi trombolitik adalah terapi klinis yang ditujukan untuk reperfusi jaringan
miokardium dengan memperbaiki aliran darah pada pembuluh darah yang
tersumbat. Bekuan darah yang terdapat dalam pembuluh darah akan
mengganggu aliran darah ke bagian tubuh yang dialiri oleh pembuluh darah. Hal
ini dapat menyebabkan suatu kerusakan serius pada bagian-bagian tubuh. Jika
bekuan terdapat pada arteri yang memasok darah ke jantung, maka dapat
menyebabkan serangan jantung. Jika bekuan terdapat pada aliran darah ke otak,
maka dapat terjadi stroke. Terapi trombolitik digunakan untuk melarutkan
bekuan darah yang akan mengancam kehidupan jika tidak segera diatasi.
Istilah Sindrom Koroner Akut (SKA) banyak digunakan saat ini
untukmenggambarkan kejadian kegawatan pada pembuluh darah koroner. SKA
merupakan satu sindrom yang terdiri dari beberapa penyakitkoroner yaitu,
angina tak stabil (unstable angina), infark miokard non-elevasi ST, infark miokard
dengan elevasi ST, maupun angina pektorispasca infark atau pasca tindakan
intervensi koroner perkutan. Alasan rasional menyatukan semua penyakit itu
dalam satu sindrom adalah karena mekanisme patofisiologi yang sama. Semua
disebabkan oleh terlepasnya plak yang merangsang terjadinya agregasi

trombosit dan trombosis, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan stenosis


berta atau oklusi pada arteri koroner dengan
atau tanpa emboli. Sedangkan letak perbedaan antara angina tak stabil, infark
Non-elevasi ST dan dengan elevasi ST adalah dari jenis trombus
yangmenyertainya. Angina tak stabil dengan trombus mural, Non-elevasiST
dengan thrombus inkomplet/nonklusif, sedangkan pada elevasi STadalah trombus
komplet/oklusif.

2.

AGENT TROMBOLITIK

Terapi trombolisis menggunakan obat yang disebut agen trombolitik


seperti alteplase ( Activase ), anistreplase (Eminase), streptokinase (Streptase,
Kabikinase), urokinase ( Abbokinase ), dan aktivator plasminogen jaringan (TPA)
untuk membubarkan gumpalan. Obat ini diberikan sebagai suntikan, hanya di
bawah pengawasan seorang dokter.
Agent trombolitik dibagia menjadi 2 kategori :
a)

Fibrin selektif
Karakteristik :

Aktivasi plasminogen yang terikat pada fibrin

Penghancuran bekuan sangat cepat

Jenis :

Tissue Type Plasminogen Activator (t PA )

Serine protease yang diproduksi oleh sel endothelial pembuluh darah

Mengkonversi plasminogen menjadi plasmin setelah terikat pada bekuan


mengandung fibrin

Dosis : 15 mg bolus dilanjutkan 50 mg atau 0,75 mg/kgBB selama 30 menit


atau 35 mg atau 0,5 mg/kgBB selama 60 menit dengan total maximum dosis 100
mg

Waktu paruh : t PA = 3 5 menit, r PA = 15 menit


Efek samping : dapat terjadi reoklusi. Diperlukan infus antikoagulasi
sistemik/heparin

Reaksi alergi dan hipotensi ditemukan

Recombinant Tissue Plasminogen Activator ( rt PA )

Dosis standar dipercepat dengan cara melalui bolus 15 mg, 50 mg atau 0,75
mg / kgBB lebih dari 30 menit, dan 35 mg atau 0,50 mg / kgBB lebih dari 60
menit untuk dosis total maksimum 100 mg.

Direkomendasikan untuk pasien yang berat badannya kurang dari 65 kg.

Waktu paruhnya adalah 5 menit.

Recombinant Plasminogen Activator ( reteplase, r PA )

Recombinant Tissue Plasminogen Activator ( r PA ) atau Retaplase adalah obat


trombolitik yang digunakan untuk memecah gumpalan darah. Obat ini bekerja
dengan cara mengaktifkan zat kimia yang membantu menghancurkan gumpalan
darah.
Indikasi penggunaan reteplase adalah untuk meningkatkan fungsi jantung dan
mencegah gagal jantung kongestif (CHF) atau kematian pada orang yang
mengalami serangan jantung.

Single-chain urokinase plasminogen activator ( scu-PA atau prourokinase)

b). Non selektif


Karakteristik :

Plasminogenolosis dan fibrinogenolisis sistemik

Penghancuran bekuan lebih lambat

Status penghancuran sistemik lebih panjang

Jenis- Jenis :
Streptokinase ( SK )
-

Agen trombolitik yang dihasilkan dari

hemolitik streptokokus, yang bila

dikombinasikan dengan plasminogen akan berfungsi sebagai katalis dalam


konversi plasminogen menjadi plasmin.
-

Dapat diberikan IV atau IC

Dosis : 1,5 juta U dalam 30 60 menit

Dapat menyebabkan respon alergi, pruritus, demam, mual, urtikaria, sakit


kepala dan malaise

Efek samping : hipotensi

Observasi : 12 jam
Anisolated Plasminogen Streptokinase Activator ( APSAC )
-

Bentuk kimiawi dari SK

APSAC memiliki waktu paruh relatif lama dan hasil yang dinyatakan dalam
fibrinogenolysis.

APSAC diberikan lewat bolus 30 U selama 2-5 menit

Karena APSAC adalah bentuk SK, ia memiliki sifat antigenik yang sama SK.

Gejala alergi terjadi pada pasien yang menerima APSAC.

Hipotensi dapat terjadi pada pasien dan akan lebih parah jika obat diberikan
Semua jenis dari agen trombolitik disertai dengan pemberian antiplatelet :
heparin atau
Aspirin

3.

INDIKASI

Kriteria seleksi yang digunakan untuk terapi trombolitik

Tidak lebih dari 12 jam setelah waktu terapi : nyeri dada, semakin cepat
semakin baik

Elevasi segmen ST pada EKG atau onset baru blok cabang berkas kiri

Nyeri dada istemik dengan durasi 30 menit

Nyeri dada tidak respon terhadap nitrogliserin sub lingual atau nifedipin

Tidak mengalami kondisi yang dapat menjadi predisposisi pendarahan

Indikasi
Kelas I

Usia pasien < 75 tahun dengan ST elevasi lebih dari 0,1 mV, waktu untuk
terapi < 12 jam
Pasien dengan blok cabang-ikat dan adanya riwayat AMI
Kelas IIa

Usia pasien > 75 tahun dengan ST elevasi lebih dari 0,1 mV, waktu untuk terapi
< 12 jam

Kelas IIb

Pasien dengan ST elevasi lebih dari 0,1 mV, waktu untuk terapi lebih dari 12
24 jam

Pasien dengan tekanan darah sistolik > 180 mmHg atau diastolic > 110 mmHg
berhubungan dengan MI
Kelas III

Pasien dengan ST elevasi, waktu untuk terapi > 24 jam dan nyeri istemik
tertangani

Pasien dengan ST depresi

4.

KONTRAINDIKASI

Terapi trombolitik : Kontra indikasi absolut


1.

Sebelumnya mengalami stroke hemoragik; stroke lain atau serebrovaskular


yang terjadi dalam 1tahun terakhir

2.

Neoplasma intrakranial

3.

Perdarahan internal aktif (tidak termasuk menstruasi)

4.

Suspek diseksi aorta

Terapi trombolitik : Kontraindikasi relatif


1.

Hipertensi berat (tekanan darah >180/110)

2.

Riwayat CVA / kelainan intraserebral

3.
4.
5.

Trauma yang baru terjadi (dalam 2-4 minggu), termasuk cedera kepala atau
resusitasi jantung > 10 menit atau operasi besar < 3minggu
Perdarahan internal dalam 2-4 minggu terakhir
Penggunaan streptokinase sebelumnya (5 hari sampai 2 tahun) atau riwayat
alergi terhadap streptokinase

6.

Pengunaan antikoagulan

7.

Kehamilan

8.

Tukak lambung

9.

Riwayat hipertensi kronik yang berat

5. MANAJEMEN FARMAKOLOGI

Obat

Dosis

Tindakan

Pertimbangan khusus

Mengikat
fibrin
pada bekuan dan
mempromosikan
aktivasi
plasminogen
menjadi plasmin

Waktu
paruh
yang
pendek, sehingga heparin
biasanya diberikan lewat
bolus
dan
kemudian
diikuti dengan infuse.

Bekuan spesifik
tPA IV : 100 mg lebih
( alteplase
dari
90
menit
dengan
15
mg
pertama diberikan
melalui bolus

Aspirin dimulai dengan


pemberian
obat
dan
dilanjutkan q hari

r-PA
( reteplase )

10
U
diberikan
lewat
bolus,
diulang dalam 30
menit

Mengikat
fibrin Heparin dimulai dengan
pada bekuan dan pemberian
obat
dan
mempromosikan
dilanjutkan dalam 24 jam
aktivasi
plasminogen
menjadi plasmin

TNKase
(tenecteplase)

30-50
mg
berdasarkan berat
badan,
diberikan
lewat
bolus
tunggal

Mengikat
fibrin Heparin dimulai dengan
pada bekuan dan pemberian
obat
dan
mempromosikan
dilanjutkan q hari
aktivasi
plasminogen
menjadi plasmin

Non-spesifik
SK
(streptokinase
)

APSAC

1,5
juta
U Mengkatalis
diberikan lebih dari pengubahan
60 menit
plasminogen
menjadi
plasmin,
yang
menyebabkan lisis
dari
fibrin.
Memiliki efek litik
sistemik

Dapat
menyebabkan
reaksi
alergi
dan
hipotensi.
Heparin dapat diberikan IV
atau SQ
Aspirin dimulai dengan
pemberian
obat
dan
dilanjutkan q hari

30 U melalui bolus Kombinasi molekul Dapat

menyebabkan

(anitreplase)

lambat selama 2-5 streptokinase dan


menit
plasminogen yang
tindakannya
serupa
dengan
streptokinase.
Memiliki efek litik
sistemik

reaksi alergi dan hipotensi


Waktu paruh lama, jadi
heparin biasanya dimulai
4-6 jam setelah APSAC
Aspirin dimulai dengan
pemberian
obat
dan
dilanjutkan q hari

6. PENATALAKSANAAN PRE DAN POST TROMBOLISIS


Praprosedur
1.

Kaji tingkat pengertian dan tingkat ansietas

2.

Libatkan keluarga atau orang terdekat dalam perawatan dan instruksi

3.
4.

Beri penguatan penjelasan dokter tentang tujuan prosedur, hasil yang


diinginkan, dan risiko yang berhubungan
Gambarkan prosedur yang akan dilakukan :

Intrakoroner : sama dengan kateterisasi jantung, dapat berakhir dalam 1 sampai


2 jam. Sensasi yang dapat terjadi : tekanan selama pemasangan kateter, tak ada
ketidaknyamanan dalam penginfusan.

Intravena : biasanya di bagian kedaruratan atau UPK, penginfusan diberikan


lebih dari 3 jam
5.

Jelaskan dan tinjau kembali tindakan intraprosedur dan pascaprosedur

6.

Pemantauan di UPK

7.

Hak-hak berkunjung

8.

Peralatan yang digunakan (alat pemantauan jantung, pemberian oksigen,


terapi IV)

9.

Jelaskan perlunya tirah baring selama dan setelah pemberian dan perlunya
sering mengambil contoh darah untuk memantau masa pembekuan

10.

Instruksikan pada pasien untuk segera memberi informasi pada perawat bila
terasa nyeri dada.

Post prosedur

Komplikasi umum dari trombolisis adalah pendarahan, tidak hanya sebagai hasil
terapi trombolitik itu sendiri, tetapi juga karena pasien secara rutin mendapat
terapi antikoagulan selama beberapa hari untuk meminimalisir kemungkinan
retrombosis. Perawat juga harus secara berkala memanatau manifestasi klinis
dari pendarahan. Pendarahan gusi dan kebocoran vena biasa terjadi. Pendarahan
serius dapat terjadi seperti pendarahan intrakranial dan pendarahan internal.
Sebagai tambahan untuk keakuratan pengkajian pasien untuk membuktikan
pendarahan, penatalaksanaan keperawatannya termasuk tindakan preventif
untuk meminimalisir potensial pendarahan. Contohnya penanganan pasien yang
terbatas, infeksi dapat dihindari jika memungkinkan, dan tambahan tekanan
dapat diberikan untuk memastikn hemosatatis dari venipuncture dan tempat
kebocoran arteri. Jalur intra vena dipasang sebelum pemberian terapi lisis dan
penguncian heparin dapat digunakan untuk penatalaksanaan selama
pengambilan spesimen labor. Antasid dapat diberikan khususnya jika pasien
mengalami ketidaknyaman di bagian gastrointestinal.