Anda di halaman 1dari 2

Biografi Erik Erikson Lahir pada tanggal 15 Juni 1902, di Selatan Jerman, Erikson dibesarkan oleh ibu dan

ayah tirinya, namun ia tetap tidak tahu pasti identitas ayah kandungnya. Untuk mencari tempatnya dalam hidup, Erikson memberanikan diri pergi darii rumah selama masa remaja akhirnya dan hidup sebagai seniman serta penyair yang berkelana. Setelah hampir tujuh tahun mengembara dn mencari, ia pulang ke rumah dalam keadaan bingung, lelah, depresi, dan tidak mampu menggambar atau melukis. Saat itu, kejadian tak disengaja mengubah hidupnya: ia menerima surat dari temannya Peter Blos yang mengundangnya untuk mengajar anak-anak di sekolah baru di Wina. Salah satu pendiri sekolah tersebut adalah Anna Freud, yang tidak hanya menjadi atasan Erikson, namun juga psikoanalisisnya. Selama di Wina, Erikson bertemu, dan dengan izin Anna Freud, menikahi Joan Serson yang seorang penari, seniman, dan guru kelahiran Kanada yang juga dibawah penanganan psikoanalisis. Joan Serson menjadi editor yang diperhitungkan dan mengarang beberapa buku bersama Erikson. Kelurga Erikson terdiri atas empat orang anak, yaitu anak-anak laki-laki bernama Kai, Jon, serta Neil dan seorang anak perempuan bernama Sue. Erikson mempunyai dua prinsip yaitu jangan berbohong pada orang-orang yang kau sayangi dan jangan mengadu domba anggota keluarga. Tapi ia melanggarnya, ia berbohong pada ke-3 anaknya dan mengatakan bahwa adik mereka meninggal. Pada tahun 1993 ia mengubah namanya dari Homburger menjadi Erikson. Hal ini menjadi titik balik krusial dalam hidupnya, karena hal ini merepresentasikan penarikan dirinya dari seoranng yahudi. Di Amerika, Erikson melanjutkan polanya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pertama, ia menetap di daerah Boston. Dimana ia mendirikan praktik psikoanalisis yang dimodifikasi. Selama di Callifornia, Erikson perlahan-lahan mengembangkan teori kepribadian yang terpisah, namun tidak bertentangan dengan teori Freud. Pada tahun 1960 ia kembali ke Havard, dan selama sepuluh tahun berikutnya ia menjabat sebagai professor di bidang perkembangan manusia. Setelah pensiun, Erikson melanjutkan karir aktifnya menulis, memberikan kuliah dan menemui beberapa pasien. Dia meninggal tanggal 12 mei 1994, diusia 91 tahun. EGO DALAM TEORI PASCA ALIRAN FREUD Erikson menyatakan bahwa ego kita adalah kekuatan positif yang menciptakan jati diri, rasa saya. Selama masa kanak-kanak ego lemah, lentur dan rapuh, namun mulai berbentuk dan memiliki kekuatan saat remaja. Erikson melihat ego sebagai agen pengatur setengah tidak sadar yang mempersatukan pengalaman-pengalaman sekarang dengan jati diri di masa lampau, dan

juga dengan gambaran diri yan diharapkan. Ia mendifinisikan ego sebagai kemampuan seseorang untuk menyatukan pengalaman-penglaman dan tindakan-tindakan dengan cara yang adaptif. Erikson (1968) memperkenalkan tiga aspek ego yang saling berhubungan : ego ubuh, ego ideal dan ego identitas. Ego tubuh mengacu pada pengalaman-pengalaman pada tubuh kita, yaitu cara memandang fisik diri kita sebagai sesuatu yang berbeda dengan orang lain. Ego ideal mewakili gambaran yang kita miliki terhadap diri kita sendiri dibandingkan dengan apa dicapai diri ideal. Ego ini bertanggungjawab atas kepuasan atau ketidakpuasan diri, tidak hanya dari fisik, namun juga dari keselurahan jati diri pribadi. Ego identitas adalah gambaran yang kita miliki terhadap diri kita sendiri dalam ragam peran social yang kita mainkan. a. Pengaruh masyarakat Walaupun kapasitas bawaan lahir penting dalam perkembangan kepribadian, ego muncul dan sebagian besar terbentuk oleh masyarakaat. Bagi erikson ego ada sebagai potensi ketika lahir, namun harus muncul dari dalam lingkungan budaya. b. Prinsip Epiginetik Erikson percaya bahwa ego berkembang melalui beragam tahap kehidupan menurut prinsip epigenetic, istilah yang dipinjam dari embriologi. Ego mengikui perkembangan epigenetic dengan tiap tahapan berkembang pada waktu yang seharusnya. Satu tahapan muncul dari dan dibangun berdasarkan tahapan sebelumnya, namun tidak menggantikan tahapan sebelumnya.