Anda di halaman 1dari 18

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN I

“PERKEMBANGAN FISIK DAN KOGNITIF DI MASA KANAK-


KANAK PERTENGAHAN DAN AKHIR”

Dosen Pengampu : Titin Florentina P,M.Psi., Psikolog

Dususun Oleh :
Kelompok 1
A.Suci Paramitha (4518091132)
Qanitah Taufiqah Imran (4518091064)
Nurfadila Sapsuha (4518091021)
Resky Putri Pamawang (4518091125)
Natassya Dinda Novitasari (4518091065)
Ayesha Audreyhan (4518091146)
Muh. Arif Wira Wicaksana (4518091171)

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS BOSOWA
2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena telah melimpahkan rahmat-Nya
berupa kesempatan dan kesehatan sehingga kami mampu menyelesaikan makalah ini dengan
baik.
Terimakasih juga kami ucapakan kepada dosen dan teman-teman yang telah membantu
kami dalam menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul “Perkembangan fisik dan
kognitif di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir” ini dengan baik.
Kami sadar bahwa makalah ini memiliki banyak kekurangan, sehingga kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya
yang kebih baik lagi. Akhir kata mudah mudahan makalah ini mampu memberikan manfaat bagi
masyarakat, khususnya bagi para pembaca agar menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.....................................................................................................i
Daftar Isi..............................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan.............................................................................................
A.Latar Belakang...........................................................................................
B.Rumusan Masalah......................................................................................
C.Tujuan........................................................................................................
BAB II Pembahasan............................................................................................
A. Pertumbuhan dan Perkembangan Tubuh..................................................
B. Anak-anak dengan Kebutuhan Khusus.....................................................
C. Perubahan Kognitif (Teori Piaget)..............................................................
D. Perkembangan Bahasa (Membaca, Menulis)……………...…………......
BAB III Penutup..................................................................................................
A. Kesimpulan...............................................................................................

Daftar Pustaka.....................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, anak-anak tumbuh semakin tinggi,


semakin berat, dan semakin kuat. Mereka menjadi lebih cakap dalam keterampilan fisiknya;
dan mereka juga mengembangkan sejumlah keterampilan kognitif yang baru. Makalah ini
akan membahas perkembangan fisik dan kognitif di masa kanak-kanak pertengahan dan
akhir. Di masa kana-kanak pertengahan dan akhir, perkembangan tubuh dan keterampilan
motorik anak-anak masih terus berlangsung. Ketika memasuki sekolah dasar, anak-anak
lebih mampu mengendalikan tubuhnya, dapat duduk dan memperhatikan dalam waktu yang
lebih lama. Di masa ini, anak-anak perlu berolahraga secara teratur agar dapat tumbuh dan
berkembang dengan sehat.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan tubuh dalam perkembangan fisik dan
kognitif di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir?
2. Bagaimana perkembangan fisik dan kognitif di masa kanak-kanak pertengahan dan
akhir dengan kebutuhan khusus ?
3. Bagaimana perubahan kognitif (teori piaget) dalam perkembangan fisik dan kognitif
di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir?
4. Bagaimana perkembangan bahasa (membaca, menulis) dalam perkembangan fisik
dan kognitif di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan dan perkembangan tubuh dalam
perkembangan fisik dan kognitif di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir
2. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan fisik dan kognitif di masa kanak-kanak
pertengahan dan akhir dengan kebutuhan khusus
3. untuk mengetahui bagaimana perubahan kognitif (teori piaget) dalam perkembangan
fisik dan kognitif di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir
4. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan bahasa (membaca, menulis) dalam
perkembangan fisik dan kognitif di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir
BAB II
PEMBAHASAN

A. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TUBUH

Pertumbuhan di masa kanak-kanak awal dan pertengahan berlangsung secara lambat namun
konsisten. Masa ini merupakan periode tenang sebelum akhirnya mereka mengalami
pertumbuhan yang cepat (growth spurt) di masa remaja. Selama usia sekolah dasar, anak-anak
bertambah tinggi sekitar 2 hingga 3 inci setiap tahunnya. Ketika berusia 11 tahun, anak
perempuan biasanya memiliki ketinggian 4 kaki 101/4 inci, sementara anak laki-laki biasanya
memiliki ketinggian 4 kaki 9 inci. Di masa kanak-kanak pertengahan, dan akhir, anak-anak
mengalami penambahan berat tubuh sebesar 5 hingga 7 pon setiap tahunnya. Penambahan berat
ini terutama terkait dengan peningkatan ukuran kerangka dan sistem otot, maupun ukuran
beberapa organ tubuh.
Perubahan proporsi adalah perubahan fisik yang paling jelas terlihat di masa kanak-kanak,
pertengahan, dan akhir. Lingkar kepala, lingkar pinggang, dan panjang kaki berkurang
dibandingkan dengan ketinggian tubuh (Hockenberry & Wilson, 2009). Perubahan fisik yang
kurang terlihat secara jelas adalah tulang mengeras di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir
namun menjadikan tekanan dan tarikan yang lebih kuat daripada tulang orang dewasa.
Masa dan kekuatan otot meningkat secara bertahap di tahun-tahun ini, sementara “lemak
bayi” mulai berkurang. Gerakan-gerakan bebas dan benturan-benturan pada lutut di masa kanak-
kanak awal dapat menumbuhkan otot. Di masa ini, faktor herediter maupun olahraga dapat
melipatgandakan kekuatan mereka. Anak laki-laki biasanya juga lebih kuat dibandingkan anak
perempuan karena memiliki jumlah sel otot yang lebih banyak.

Otak
Perkembangan teknik pencitraan-otak, seperti MRI (magnetic resonance imaging) telah
meningkatkan penelitian terhadap perubahan otak selama masa kanak-kanak pertengahan dan
akhir, dan bagaimana perubahan otak ini terkait dengan peningkatan perkembangan kognitif
(Diamond, 2009; Diamond,Casey, & Munakata, 2011). Volume total otak menjadi stabil di akhir
masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, namun perubahan signifikan dalam berbagai struktur
dan daerah otak tetap berlangsung. Secara khusus, jalur otak dan sirkuit yang melibatkan korteks
prefrontal, level tertinggi pada otak, terus meningkat di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir
(Durston & Casey, 2006). Kemajuan dalam korteks prefontal ini terkait dengan peningkatan
atensi penalaran, serta kendali kognitif pada anak (Crone dkk, 2009).
Ahli perkembangan neurosains, Mark Johnson dan koleganya (2009) baru-baru ini
menyatakan bahwa konteks prefrontal cenderung mengatur daerah otak lainnya selama
perkembangan. Sebagai bagian dari kepemimpinan dan peran pengaturan neural, konteks
prefrontal memberikan keuntungan bagi jaringan dan koneksi neural yang termasuk dalam
korteks prefrontal. Dalam pandangan Johnson, korteks prefrontal mengoordinasi koneksi neural
terbaik untuk mengatasi masalah yang ada.
Perubahan juga terjadi pada ketebalan korteks serebral (ketebalan kortikal) di masa kanak-
kanak pertengahan dan akhir (Gogtay & Thompson, 2010; Toga, Thompson, & Sowell, 2006).
Sebuah penelitian menggunakan hasil pemindaian otak untuk mengukur ketebalan kortikal pada
anak usia 5 hingga 11 tahun (Sowel dkk, 2004). Penebalan kortikal sepanjang periode dua tahun
diobservasi pada area lobus temporal dan frontal, yang berfungsi untuk bahasa, sehingga dapat
mencerminkan peningkatan kemampuan berbahasa seperti membaca.
Ketika anak-anak bertumbuh besar, aktivasi beberapa area otak meningkat, sementara yang
lain menurun (Diamond, Casey, & Munakata, 2011; Nelson, 2011). Suatu pergerakan aktivasi
yang terjadi ketika anak-anak berkembang adalah dari area yang menyebar dan luas, ke area
yang lebih fokus dan sempit (Turkeltaub dkk, 2003). Pergeseran ini dicirikan oleh pemotongan
sinaptik, dimana area otak yang tidak digunakan kehilangan koneksi sinaptik sedangkan area
yang digunakan menunjukkan peningkatan koneksi. Dalam sebuah penelitian terbaru, peneliti
menemukan lebih sedikit penyebaran serta lebih banyak aktivasi yang fokus dalam korteks
prefrontal dari usia 7 hingga 30 tahun (Durston dkk, 2006). Perubahan aktivasi dibarengi dengan
peningkatan efisiensi dalam kinerja kognitif, terutama dalam kendali kognitif, yang melibatkan
kendali fleksibel dan efektif dalam sejumlah area. Area-area ini meliputi pengendalian atensi,
mengurangi pemikiran yang mengganggu, melakukan tindakan motorik, dan fleksibel dalam
menentukan berbagai pilihan (Diamond, Casey, & Munakata, 2011).
Perkembangan Motorik
Di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, keterampilan motorik anak-anak menjadi lebih
halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan di masa kanak-kanak awal. Sebagai contoh, di usia 3
tahun, hanya satu dari seribu anak-anak yang dapat memukul bola tenis hingga melewati net;
namun di usia 10 atau 11 tahun, hampir semua anak dapat mempelajari olahraga ini, berlari,
memanjat, melompati tali, berenang, mengendarai sepeda, dan bermain sepatu es adalah
beberapa keterampilan fisik yang dapat dikuasai oleh anak-anak usia sekolah dasar.
Keterampilan motorik kasar ini melibatkan banyak aktivitas otot, dimana anak laki-laki biasanya
lebih unggul dibandingkan anak perempuan.
Meningkatnya myelinasi dari sistem saraf pusat dapat terlihat dalam peningkatan
keterampilan motorik halus dimasa kanak-kanak pertengahan dan akhir. Anak-anak lebih
tangkas dalam menggunakan tangannya. Anak-anak usia enam tahun dapat menggunakan palu,
menempel, mengikat tali sepatu, dan memancingkan pakaian. Di usia 7 tahun, tangan anak-anak
sudah lebih mantap. Di usia ini, anak-anak memilih menggunakan pensil dibandingkan krayon
untuk menulis. Huruf yang ditulis terbalik juga sudah lebih jarang terjadi. Tulisan tangan anak-
anak sudah lebih kecil. Di usia 8 hingga 10 tahun, tangan mereka dapat dipergunakan secara
mandiri dengan lebih tenang dan tepat. Koordinasi motorik halus sudah berkembang hingga
mencapai tahap dimana anak-anak sudah dapat menulis daripada sekedar mencetak kata-kata.
Ukuran tulisan kursif menjadi lebih kecil dan lebih mantap. Di usia 10 hingga 12 tahun, anak-
anak mulai memperlihatkan keterampilan manipulasi yang serupa dengan kemampuan orang
dewasa. Mereka dapat menguasai gerakan-gerakan yang kompleks, rumit, dan cepat, yang
dibutuhkan untuk menghasilkan atau untuk memainkan sebuah lagu dengan menggunakan
sebuah instrumen musik. Keterampilan motorik halus pada anak-anak perempuan biasanya lebih
unggul dibandingkan pada anak laki-laki.
Olahraga
Fisik anak-anak sekolah dasar masih jauh dari matang; oleh karena itu mereka harus aktif
(Graham, Holt/Hale, & Parker, 2010; Rink, 2009). Anak-anak ini menjadi lebih mudah lelah jika
harus duduk lama,dibandingkan jika mereka dibiarkan berlari, melompat, atau bersepeda.
Aktivitas fisik, seperti memukul bola, melompati tali, atau menjaga keseimbangan diatas balok,
merupakan sesuatu yang esensial bagi anak-anak ini agar dapat memperhalus keterampilan
mereka. Dengan demikian jelaslah bahwa olahraga berperan penting bagi pertumbuhan dan
perkembangan anak-anak (Fahey, Insel, & Roth, 2011).
Meningkatkan latihan pada anak-anak memberikan hasil yang positif. Sebuah penelitian
terbaru menemukan bahwa aktivitas fisik moderat selama 45 menit dan 15 menit aktivitas tinggi
setiap hari terkait dengan penurunan kemungkinan anak-anak menjadi kelebihan berat tubuh
(Wittmeier, Mollard, & Kriellaars, 2008). Orang tua dan sekolah berperan penting dalam tingkat
olahraga anak-anak (Fahey, Insel, & Roth, 2011). Tumbuh di keluarga yang berolahraga secara
teratur menjadikan model yang baik bagi anak-anak (Crawford dkk, 2010; Lopinzi & Trost,
2010). Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa para ibu cenderung lebih berperan dari
para ayah untuk membatasi gaya hidup “terlalu banyak duduk” anak-anaknya (Edwardson &
Gorely, 2010). Dalam penelitian ini, para ayah berperan dalam aktivitas fisik anak laki-lakinya,
seperti menunjukkan cara bermain basket. Studi terbaru lainnya menemukan bahwa aktivitas
fisik di sekolah berhasil meningkatkan kebugaran anak-anak dan menemukan kadar lemak
mereka (Krimler dkk, 2010).
Peneliti pun menemukan bahwa olahraga terkait dengan perkembangan kognitif anak-anak.
Sebagai contoh, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa latihan aerobik terkait dengan
peningkatan aktivitas kognitif yang penting, yaitu perencanaan, pada anak usia 9 tahun yang
kelebihan berat tubuh (Davis dkk, 2007). Dalam sebuah penelitian terbaru lainnya, dibandingkan
dengan anak yang kurang bugar, anak usia 9 tahun yang lebih bugar secara fisik (sebagaimana
dinilai dari uji aerobik) menunjukan performa kognitif yang lebih baik dalam hal pengendalian
kognitif. Yang mencakup penghambatan informasi yang tidak relevan untuk mendapatkan solusi
yang tepat (Hillman dkk., 2009).

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan agar anak-anak lebih banyak
berolahraga :
1. Menawarkan lebih banyak program aktivitas fisik yang diberikan oleh sukarelawan
di sekolah.
2. Meningkatkan aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan kebugaran fisik
disekolah.
3. Memberi tugas kepada anak-anak untuk merencanakan aktivitas komunitas dan
sekeloh yang benar-benar menarik perhatian mereka.
4. Mendorong keluarga agar lebih banyak memberi perhatian pada aktivitas fisik dan
mendorong para orang tua untuk lebih banyak berolahraga.
Sehat, Sakit, dan Penyakit
Pada umumnya, kesehatan yang paling baik berlangsung di masa kanak-kanak
pertengahan dan akhir. Dibandingkan masa kanak-kanak lainnya ataupun masa remaja, masa
kanak-kanak pertengahan dan akhir merupakan periode di mana penyakit dan kematian jarang
dijumpai (Nyaronga & Wickrama, 2009).
Kecelakaan dan cedera di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, cedera merupakan
faktor utama yang menyebabkan kematian; penyebab cedera ataupun kematian yang paling
dijumpai diperiode ini adalah kecelakaan kendaraan bermotor, baik sebagai pejalan kaki atau
sebagai atau sebagai penumpang (Frisbie, Hummer, & McKinnon, 2009). Untuk alasan ini,
penggunaan sabuk pengaman berperan besar dalam mengurangi keparahan yang dialami. Cedera
lain yang cukup parah dapat diakibatkan karena bersepeda, menggunakan papan luncur, sepatu
roda, atau peralatan olahraga lainnya.
Kegemukan menjadi masalah kesehatan yang semakin tinggi pada anak-anak (Blake,
2011; Schiff, 2011). Jika dilihat dari perkembangan fisik dan kognitif di masa kanak-kanak awal,
bahwa kegemukan ditentukan dengan indeks masa tubuh (body mass index/BMI) yang dihitung
dengan memasukkan faktor tinggi badan dan berat btubuh anak-anak dengan atau diatas persentil
ke-97 digolongkan dalam kategori obesitas, pada atau diatas persentil ke-95 digolongkan dalam
kategori kegemukan, dan anak-anak pada atau diatas persentil ke-85 digolongkan beresiko
kegemukan. Selama tiga dekade terakhir, presentase anak-anak di AS yang beresiko kegemukan
meningkat dari 15 persen tahun 1970-an ke 30 persen saat ini, dan presentase anak-anak sudah
kegemukan telah meningkat tiga kali lipat selama jangka waktu tersebut (Paxson dkk, 2006).
Namun, baru-baru ini peningkatan obesitas pada anak-anak AS sudah mulai berhenti. Penelitian
berskala besar di AS mengungkapkan bahwa dengan kriteria obesitas diatas, obesitas anak
meningkat dari 7 persen ke 11 persen pada tahun 1980 ke 1994, namun relatif sama dari tahun
2002 (16 persen) ke 2006 (17 persen) (Odgen, Carroll, & Flegal, 2008).
Meningkatnya jumlah penderita obesitas menimbulkan kekhawatiran karena obesitas dapat
meningkatkan resiko terkena berbagai masalah medis maupun psikologis (Oliver dkk, 2010;
Raghuveer, 2010). Anak-anak yang kegemukan dapat terkena gangguan pernapasan, seperti
sesak ketika tidur (akibat hambatan pada saluran pernapasan atas), dan masalah pinggul
(Goodwin dkk, 2010). Anak-anak yang gemuk juga rentan untuk terkena tekanan darah tinggi,
peningkatan level kolestrol darah, dan diabetes (Amed dkk, 2010; Genovasi dkk, 2010; Vilkari
dkk, 2009). Ulasan penelitian terbaru menyimpulkan bahwa obesitas terkait dengan penghargaan
diri yang rendah pada anak-anak (Griffiths, Parsons, & Hill, 2010).

B. ANAK-ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


CAKUPAN KEBUTUHAN KHUSUS
Sekitar 14 persen anak-anak dari usia 3 hinga 21 tahun di AS menerima pendidikan khusus
atau pelayanan khusus (Pusat Nasional Statistik Pendidikan AS, 2008a). Siswa penderita
kesulitan belajar adalah kelompok terbesar siswa kebutuhan khusus yang diberikan pendidikan
khusus, diikuti oleh anak-anak penderita kesulitan berbicara atau berbahasa, retardasi mental,
dan gangguan emosi yang serius.
Kesulitan Belajar
Seorang anak dengan kesulitan belajar (learning disability) memiliki kesulitan dalam belajar
yang meliputi pemahaman atau menggunakan bahasa lisan maupun tulisan, dan kesulitan
tersebut terlihat dalam hal mendengar, berpikir, membaca, menulis, dan mengeja. Kesulitan
belajar juga dapat mencakup kesulitan mengerjakan soal matematika. Agar dkilarifikasikan
sebagai kesulitan bealajar, masalah dalam belajar ini terutama bukanlah akibat dari keterbatasan
visual, pendegaran, atau motoric retardasi mental, gangguan emosi, atau karena keterbatasan
lingkungan, budaya, atau ekonomi.
Ada Tiga macam kesulitan yaitu:
1. Disleksia (dyslexia) yaitu kategori bagi individ-individu yang memiliki gangguan parah dalam
hal membaca dan mengeja (ise & Schulte-korne, 2010)
2. Disgrafia (dysgraphia) yaitu kesulitan belajar yang mencakup kesulitan dalam hal menulis
tangan. Anak anak dengan digrafia sangat lamban menulis, hasil tulisannya sangat sulit dibaca,
dan sering membuat kesalahan ejaan karena tak mampu menyesuaikan bunyi dengan huruf.
3. Diskalkulia (dyscalculia) dikenal sebagai gangguan perkembangan aritmatika, yaitu kesulitan
belajar yang terkait dengan perhitungan .

Penyebab utama kesulitan belajar belum dapat di tentukan . peneliti juga menggunakan
teknik pencitraan otak, seperti pencitraan resonasi magnetic, untuk mengungkapkan area-area
otak yang terkait dengan kesulitan belajar. Peneliti mengindifikasikan bahwa tidak mungkin
kesulitan belajar terletak pada satu area spesifik pada otak. Kemungkinannya, kesulitan belajar
adalah karena masalah dalam mengintegrasikan informasi dari beberapa area otak atau gangguan
kecil pada struktur dan fungsi otak.
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (Adhd)
Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) merupakan sebuah gangguan dimana anak-
anak secara konsisten memperlihatkan satu atau beberapa dari sejumlah karakteristik ini selama
periode waktu tertentu seperti kurang perhatian, hiperaktif, implush. Anak-anak yang kurang
perhatian ini kesulitan untuk memberikan perhatian terhadap apa pun dan mudah bosan jika
harus menghadapi sebuah tugas selama beberapa menit atau bahkan dalam beberapa detik. Anak-
anak yang hiperaktif memperlihatkan level aktivitas yang tinggi dan hampir selalu bergerak.
Sedangkan Anak-anak yang implush kesulitan mengekang reaksi-reaksinya dan tidak berpikir
secara baik sebelum bertindak.
Secara substansial terjadi peningkatan jumlah anak-anak yang didiagnostik ADHD dan telah
ditangani dalam decade terakhir. Gangguan tersebut terjadi empat hingga Sembilan kali lebih
banyak pada anak laki-laki dibandingkan pada anak perempuan. Meskipun demikian terjadi
kontrovesi mengenai meningkatnya jumlah anak-anak yang di diagnosis sebagai ADHD.
Beberapa ahli menyatakan bahwa peniongkatasn jumlah tersebut terutama berkaitan dengan
meningkatnya kesadaran akan gangguan ini. Para ahli lain menyatakan bahwa banyak anak-anak
di diagnosis secara tidak benar hingga saat ini para ahli mengetahui penyebab pasti ADHD.
Meskipun demikian, terdapat jumlah factor yang diduga menyebabkan ADHD. Beberapa anak
cenderung mewarisi adhd dari orang tuanya. Anak-anak lain mungkin menderita adhd akibat
kerusakan pada otak mereka selama perkembambangan pra dan pasca kelahiran. Kemungkinan
contributor awal ADHD adalah paparan rokok dan alcohol selama perkembangan prakelahiran
dan berat tubuh di bawah normal saat lahir.
Sama halnya dengan kesulitan belajar, perkembangan teknik pencitraan otak menghasilkan
pemahaman yang lebih baik terhadap pencitraan otak menghasilkan pemahaman yang lebih baik
terhadap adhd. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa ketebalan puncak koteks
serebral terjadi tiga tahun lebih lambat(10,5 tahun) pada anak-anak dengan adhd dibandingkan
dengan anak-anak tanpa adhd (memuncak pada usia 7,5 tahun). Keterlambatan ini lebih terlihat
pada area prefontal otak yang terutama penting untuk perhatian dan perencanaan. Peneliti juga
mengekplorasi peran sebagai neurotransmitter, seperti serotonin dan dopamine, dalam adhd.
Pengobatan menggunakan stimulan seperti Ritalin dan Adderall (yang efek sampingnya lebih
kecil dari Ritalin) terbukti efektif untuk meningkatkan atensi beberapa anak adhd, namun
biasanya tidak meningkatkan atensi mereka hingga tingkat yang sama dengan anak tanpa adhd.
Ringkasan meta asnalisis baru-baru ini menyimpulkan bahwa pengobatan manajemen perilaku
efektif mengurangi dampak adhd. Peneliti sering kali menemukan bahwa kombinasi pengobatan
dan amajemen perilaku dapat memperbaiki perilaku anak adhd daripada hanya hanya pengobatan
saja atau menejemen perilaku saja6yh n, meskipun tidak untuk semua kasus.
Gangguan Emosi Dan Perilaku .
Kadang kadang sebagian besar anak anak sulit diatur secara emosi selama masa sekolahnya.
Sebagian kecil dari mereka sangat serius masalahnya dan berlangsung terus menerus sehingga
mereka di katakan memiliki gangguan emosi atau perilaku.
Gangguan emosi dan perilaku terdiri dari masalah yang serius dan terus menerus tentang
relasi, agresi, depresi, dan ketakutan yang dikaitkan dengan masalah pribadi atau sekolah, dan
juga karakteristik sosioemosi yang tidak pantas lainnya. Sekitar 8 persen anak-anak yang
mengalami keterbatasan dan membutuhkan rencana pendidikan khusus berada pada golongan
ini. Anak laki-laki tiga kali lebih banyak yang menderita gangguan ini di bandingkan anak
perempuan.
Gangguan Spektrum Autisme
Gangguan spectrum autism (autism spectrum disoders/ASD), disebut sjuga gangguan
perkembangan yang tersebar luar, berkisar dari gangguan parah yang disebut sebagai autistic
hingga yang ringan disebut sindrom asperget. . gangguan spectrum autisme dicirikan dengan
masalah dalam interaksi sosial, masalah berkomunikasi secara verbal, dan nonveebal dan
perilaku berulang.
Anak-anak penderita gangguan ini juga menunjukan respon yang tidak biasa terhadappaparan
indra sensoris ( institute nasional kesehatan jiwa AS 2008). Retardasi mental terjadi pada
beberapa anak penderita autis, namun ada pula yang memiliki kecerdasan rata-rata atau bahkan
di atas rata-rata. Gangguasn spektrum autisme sering kali dapat dideteksi ketika anak berusia 1
hingga 3 bulan. Perkiraan terbaru gangguan spectrum autism mengindetifikasikan bahwa
gangguan tersebut meningkat kasusknya dan semakin dapat dideteksi atau diketahui jenisnya.
Gangguan Autistik
Autistic disorder merupakan perkembangan gangguan spectrum autisme yang parah yang
terjadi pada tiga tahun pertama kehidupan dan mencakup defisiensi dalam relasi sosial,
abnormalitas dalam komunikasi, serta perilaku dengan pola terbatas, berulang, dan streotip.
Sindrom Asperger
Asperger syndrome merupakan gangguan autism yang relative ringan, di mana penderitanya
bisanya memiliki bahasa verbal yang baik, sedikit masalah bahasa nonverbal, serta relasi dan
minat yang terbatas . anak-anak dengan sindrom Asperger sering kali melakukan rutinitas
berulang secara obsesif dan terlalu memikirkan suatu subjek tertentu.

Isu-Isu Pendidikan
Sampai dengan tahun 1970-an, hampir semua sekolah menolak menerima anak kebutuhan
khusus atau tidak dapat melayani mereka secara penuh. Pada tahun 1975, Paihlic Law 94-142,
yaitu Educationt for All Handicapred Chitdren At, mewajibkan agar semua anak kebutuhan
khusus diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang memadai. Pada tahun 1990 Public
Law 94-143 disusun kembali ndividuals weth Disabelities Educatin ACT( IDEA). IDEA
diamandemenkan ada tahun 1997, kemudian disahkan kembuall pada tahun 2004, dan diberi
nama baru yaitu individual with Disabilities Esducation Improment Act .
IDEA mewajibkan pelayanan kepada semua anak kebutuhan khusas (Friend 2011; Gargiulo,
2009). Pelayanan ini mencakup evaluasi dan syarat-syarat, perencanaan pendidikan yang sesuai
dan pendidikan individual atau individuaticed education plan( IEP)i, serta pendidikan dalam
lingkungan yang tidak terlalu membatasi atau leat restrictive environment (LRE)
Rencana pendidikan individual (individualized education plan/IEP) adalah scbuah
pernyataan tertulis yang menguraikan sebuah program yang khusus dirancang untuk siswa
kebutuhan khusus. Lingkungan yang tidak terlalu membatasi (least restrctive enviromental/LRE)
adalah sebuah setting pendidikan yang sedapat mungkin di buat menyerupai setting bagi anak-
anak pada umumnya. Ketentuan dari IDEA menjadi dasar resmi terhadap usaha-usaha untuk
mendidik anak-anak yang mengalami kesulitan untuk belajar di kelas biasa. Istilah inkulsi
(inculasion) berarti mendidik seorang anak yang memiliki kebutuhan khusus di kelas biasa
secara penuh (Hick & Thomas, 2009; Valle & Connor, 2011).
Banyak perubahan resmi yang dilakukan dengan mempertimbangkan anak-anak dengan
kebutuhan khusus ini bersifat sangat positif (Carter, Prayer, & Dyches, 2009; Rosenberg,
Westling, & McLeskey, 2011). Dibandingkan dengan beberapa dekade yang lalu, kini lebih
banyak anak-anak yang memperoleh layanan khusus yang baik. Bagi sebagian besar anak,
inklusi ke dalam kelas biasa, yang disertai dengan modifikasi atau layanan tambahan, adalah
kondisi yang sesuai. Meskipun demikian, beberapa ahli di bidang pendidikan khusus menyatakan
bahwa dalam beberapa kasus usaha untuk mendidik anak-anak kebutuhan khusus ini menjadi
terlalu ekstrem. Sebagai contoh, James Kaufman dan koleganya (Kaufman, McGee &
Brightman, 2004) menyatakan bahwa inklusi tersebut terlalu sering diartikan sebagai membuat
penyesuaian ke dalam kelas biasa yang tidak selalu menghubungkan anak-anak dengan
kebutuhan khusus. Mereka menganjurkan pendekatan yang lebih individual yang tidak selalu
melibatkan inklusi sepenuhnya
Namun memungkinkan adanya pilihan-pilihan seperti pendidikan khusus di luar kelas biasa.
Kauffaman dan koleganya (2004, hal 620). Mengakui bahwa anak" dengan kebutuhan khusus
"memang membutuhkan layanan dari para profesional khusus yang terlatih" dan "memang
membutuhkan alternatif atau adaptasi kurikulum sehingga dimungkinkan bagi proses pelajaran
mereka. Meskipun demikian " kita tidak akan melihat keunggulan anak-anak berkebutuhan
khusus bila kita berpura-pura bahwa mereka tidak berbeda dari anak-anak lain. Kit melakukan
kekeliruan yang sama ketika kita beranggapan bahwa mereka tidak diharapkan untuk melakukan
usaha ekstra ketika mempelajari sesuatu atau mempelajari sesuatu dengan cara yang berbeda.
"Seperti pendidikan pada umumnya, pendidikan khusus seharusnya mendatang para siswa
berkebutuhan khusus "untuk menjadi yang terbaik sesuai keinginan mereka".

C. PERUBAHAN KOGNITIF (TEORI KOGNITIF PIAGET)


Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Menurut Piaget (1952), cara berpikir anak-anak prasekolah tergolong praoperasional. Anak-
anak prasekolah dapat membentuk konsep-konsep yang stabil; mereka juga mulai mampu
bernalar, namun cara berpikir mereka dihambat oleh egosentrisme dan sistem keyakinan yang
magis.
Tahap Operasional Konkret
Piaget menyatakan bahwa tahap operasional konkret berlangsung pada usia sekitar 7 hingga
11 tahun. Pada tahap ini, anak-anak dapat melakukan operasi konkret; mereka juga dapat
bernalar secara logis sejauh penalaran itu dapat diaplikasikan pada contoh-contoh yang spesifik
atau konkret. Ingatlah bahwa operasi adalah kegiatan mental dua-arah; dan operas-operasi
konkret adalah operasi yang diaplikasikan pada objek-objek yang riil atau konkret.
Bagaimana karakteristik lain dari anak-anak yang telah mencapai tahap operasi-konkret?
Salah satu keterampilan yang penting adalah kemampuan mengklasifikasikan atau membagi
benda-benda ke dalam perangkat-perangkat atau subperangkat yang berbeda, dan
memperhitungkan keterkaitannya.
Anak-anak yang telah mencapai tahap operasi-konkret juga mampu melakukan serition
(mengurutkan secara seri), yakni kemampuan mengurutkan stimuli menurut satu dimensi
kuantitatif (misalnya: panjang).

Mengevaluasi Tahap Operasi Konkret Piaget


Apakah gambaran Piaget mengenai operasi konkret anak telah diuji melalui riset? Menurut
Piaget, terdapat berbagai aspek dari sebuah tahapan yang seharusnya muncul di saat yang sama.
Meskipun demikian, pada kenyataannya, beberapa kemampuan operasi konkret tidak muncul
secara sinkron. Sebagai contoh, anak-anak tidak belajar melakukan konservasi pada saat yang
sama ketika mereka belajar melakukan klasifikasi-silang.
Disamping itu, pendidikan dan budaya memberikan dampak yang lebih kuat terhadap
perkembangan anak-anak dibandingkan yang diyakini oleh Piaget. Beberapa anak yang berada di
tahap praoperasional dapat dilatih untuk bernalar di tahap operasi-konkret. Usia dimana anak-
anak memperoleh keterampilan konservasi berkaitan dengan sejauh mana praktik-praktik budaya
memungkinkan berkembangnya keterampilan-keterampilan ini.
Dengan demikian, meskipun Piaget adlah pakar di bidang psikologi perkembangan,
kesimpulannya mengenai tahap operasi-konkret mendapatkan tantangan.
Neo-Piaget menyatakan bahwa beberapa hal pada teori Piaget benar, namun membutuhkan
beberapa revisi. Para ahli neo-piaget ini lebih banyak menekankan bagaimana anak-anak
menggunakan atensi, memori, dan strategi untuk memproses informasi. Secara khusus mereka
berkeyakinan bahwa gambaran yang tepat mengenai pemikiran anak membutuhkan perhatian
terhadap strategi-strategi yang digunakan anak-anak, kecepatan mereka dalam memroses
informasi, tugas khusus yang dilakukan, dan pembagian masalah ke dalam lankah-langkah yang
lebih kecil dan tepat. Ini semua adalah isu-isu yang ada dalam pendekatan pemrosesan informasi,
dan akan mendiskusikannya kelak.

Pemrosesan Informasi
Selama masa ini, sebagian besar anak memperlihatkan kemajuan yang dramatis dalam
mempertahankan dan mengendalikan ataensi. Mereka lebih banyak menaruh perhatian pada
stimuli yang relevan dengan tugas dibandingkan stimuli yang menonjol. Perubahan-perubahan
lain dalam pemrosesan informasi selama masa kanak-kanak pertengahan dan akhir ini mencakup
memori, pemikiran, dan metakognisi.
a) Memori

Memori jangka pendek memperlihatkan peringkatan yang cukup berrarti di masa kanak-
kanak awal. Meskipun demikian setelah berusia 7 tahun, peningkatan ini tidak berlangsung
banyak.
Memori jangka panjang, ingatan yang relatif permanen dan merupakan tipe ingatan yang
tidak terbatas, meningkat seiring dengan bertambahnya usia di masa kanak-kanak pertengahan
dan akhir. Dalam beberapa hal, kemajuan dalam ingatan ini mencerminkan meningkatnya
pengetahuan anak-anak dan meningkatnya kemampuan mereka dalam menggunakan strategi-
strategi.
Pengetahuan dan keahlian para ahli memiliki pengetahuan yang luas mengenai bidang
tertentu; pengetahuan ini memengaruhi apa yang mereka perhatikan serta bagaimana mereka
mengorganisasi, menyajikan, dan menginterprestasikan informasi. Hal ini memengaruhi
kemampuan mereka untuk mengingat, bernalar, dan memecahkan masalah.
Strategi apa yang telah kita ketahui tentang memori jangka panjang adalah bahwa memori
jangka panjang tergantung pada aktivitas belajar yang dilakukan individu ketika mempelajari dan
mengingat informasi. Berikut adalah beberapa strategi yang efektif digunakan oleh orang dewasa
dalam meningkatkan keterampilan memori anak:

 Mendorong anak-anak untuk melakukan pencitraan bayangan. Pencitraan bayangan


dapat membantu mengingat gambar-gambar, bahkan untuk anak-anak kecil sekalipun.
 Memotivasi anak-anak untuk mengingat sesuatu dengan memahami alih-alih
mengingatnya. Anak-anak akan mengingat informasi secara lebih baik untuk waktu yang
lama jika mereka memahami informasi daripada hanya berlatih dan menghafalnya.
 Ulangi dengan variasi terhadap informasi instruksi serta kaitkan sedari awal dan
lakukan sering kali. Ini adalah rekomendasi ahli perkembangan memori, Patricia Bauer
(2009b), untuk menigkatkan konsolidasi dan rekonsolidasi anak-anak terhadap informasi
yang mereka pelajari.
 Menambahkan bahasa yang relevan dengan memori ketika memberi instruksi pada anak-
anak. Para guru berbeda dalam menggunakan bahasa yang relevan dengan memori ketika
mendorong siswanya mengingat sebuah informasi.

Fuzzy Trace Theory Charles Brainerd & Valerie Reyna menyatakan bahwa fuzzy trace
dapat menjelaskan kemajuan dalam memori. Fuzzy trace theory menyatakan bahwa memori
dapat dipahami dengan baik jika kita mempertimbangkan dua tipe representasi memori: (1) jejak
ingatan verbatim dan (2) intisari.
b) Berpikir

Tiga aspek penting dari berpikir adalah mampu berpikir secara kritis, kreatif, dan ilmiah.

 Berpikir kritis berpikir kritis mencakup kegiatan berpikir secara reflektif dan produktif
serta mengevaluasi fakta.
 Berpikir kreatif adalah kemampuan untuk berpikir dengan cara-cara yang baru dan tidak
biasa, serta menemukan solusi-solusi yang unik terhadap masalah yang dihadapi.

Berpikir ilmiah penalaran ilmiah sering bertujuan mengidentifikasi hubungan sebab-akibat.


Terdapat perbedaan penting antara penalaran anak-anak dan penalaran ilmuan. Sebagai contoh,
anak-anak kesulitan mendesain eksperimen yang dapat memebedakan berbagai alternatif
penyebab. Anak-anak cenderung bias dalam eksperimen, sehingga menganggap eksperimen itu
mendukung apapun hipotesis yang telah dibuat sebelumnya. Terkadang anak-anak melihat hasil
sebagai pendukung hipotesis awal, bahkan ketika hasil sangat bertentangan dengan
D. PERKEMBANGAN BAHASA
Anak berusia dibawah tiga tahun memperlihatkan perkembangan yang agak cepat dari yang
awalnya hanya mampu menghasilkan ungkapan dua kata, menjadi mampu menggabungkan tiga,
empat, dan lima kata. Antara usia 2 hingga 3 tahun, mereka mulai berkembang dari yang semula
hanya mampu mengucapkan kalimat sederhana yang terdiri dari proposisi tunggal, menjadi mampu
mengucapkan kalimat-kalimat kompleks.
Memahami Fonologi dan Morfologi

Selama masa prasekolah, kebanyakan anak-anak secara bertahap menjadi lebih sensitive
terhadap bunyi dari kata-kata yang diucapkan dan menjadi semakin mampu menghasilkan semua
bunyi dari bahasa mereka. Ketika anak berusia 3 tahun, mereka dapat mengucapkan semua bunyi
vocal dan sebagian besar konsonan.
Ketika pemahaman anak-anak sudah melampaui ungkapan yang terdiri dari dua kata, mereka
mendemonstrasikan pengetahuan mengenai morfologi. Anak-anak mulai menggunakan akhiran
kata kerja yang tepat. Mereka menggunakan preposisi.
Beberapa bukti terbaik yang memperlihatkan perubahan anak-anak dalam menggunakan
aturan-aturan morfologi adalah dalam overgeneralisasi mereka terhadap aturan, seperti ketika
seorang anak prasekolah mengatakan “foot” dan bukan “feet” atau “goed” bukan “went”.
Perubahan Dalam Sintaksis dan Semantik

Anak-anak prasekolah juga mempelajari dan menerapkan aturan sintaksis.Mereka


memperlihatkan kemajuan dalam menguasai aturan-aturan kompleks yang berkaitan dengan cara
mengurutkan kata-kata. Ambil saja contoh pertanyaan seperti “where is daddy going?” atau “what
is that boy doing?”. Agar dapat mengajukan pertanyaan –pertanyaan ini secara tepat, seorang
anak harus mengetahui perbedaan penting antara pertanyaan dengan menggunakan wh dan
pertanyaan yang bersifat afirmatif.
Masa kanak-kanak awal juga diatandai oleh adanya pemahaman mengenai semantic.
Perkembangan perbendaharaan-kata terjadi secara dramatis. Beberapa ahli menyimpulkan bahwa
antara usia 18 bulan hingga 6 tahun, anak kecil belajar mengenai sebuah kata barusetiap jam
(kecuali ketika tidur). Ketika mereka memasuki kelas satu sekolah dasar, diperkirakan anak-anak
sudah mengenal 14.000 kata.
Kemajuan Dalam Pragmatik

Seiring dengan bertambahnya usia, anak-anak menjadi lebih mampu membicarakan hal-hal
yang tidak terlihat dihadapannya (misalnya rumah nenek) dan yang bukan terjadi sekarang
(misalnya yang terjadi kemaren atau apa yang akan terjadi esok). Seorang anak prasekolah
mampu mengatakan kepada anda jenis makan siang yang ia inginkan di hari berikutnya. Ketika
berusia 4 sampai 5 tahun, anak-anak belajar mengubah gaya bicara mereka agar sesuai dengan
situasinya. Sebagai contoh, anak usia 4 tahun bahkan berbicara dengan gaya berbeda kepada anak
usia 2 tahun dibandingkan dengan teman sebayanya; mereka akan menggunakan gaya yang
berbeda terhadap orang dewasa, yaitu dengan kalimat yang lebih sopan dan formal.

Literasi Anak-anak Kecil


Kepedulian terhadap kemampuan anak-anak AS dalam bidang membaca dan menulis telah
menggiring para ahli untuk melakukan pemeriksaan secara cermat kepada anak-anak usia
prasekolah dan taman kanak-kanak. Dengan harapan agar orientasi yang positif terhadap
membaca dan menulis dapat dikembangkan di awal kehidupan. Para orang tua dan guru perlu
memberikan dukungan terhadap anak-anak agar dapat mengembangkan kemampuan literasinya.
Anak-anak harus menjadi partisipan yang aktif dan larut dalam berbagai pengalaman mendengar,
berbicara, membaca, dan menulis yang menarik. Suatu studi terbaru mengungkap bahwa anak-
anak yang ibunya berpendidikan lebih memiliki tingkat literasi yang tinggi dari pada anak-anak
yang ibunya kurang berpendidikan. Penelitian terbaru lainnya menemukan bahwa pengalaman
literasi (misalnya, seberapa sering seorang anak dibacakan cerita).Kualitas keterlibatan ibu
kepadaanaknya(misadilnya usaha-usaha kognitif menstimulasi anak).
Tiga studi longitudinal berikut mengindikasikan pentingnya keterampilan berbahasa dan kesiapan
memasuki sekolah bagi anak-anak :

 Kesadaran fonologis, nama huruf dan pengetahuan mengenai bunyi, serta kecepatan
memberi nama pada anak usia taman kanak-kanak berkaitan dengan keberhasilan
membaca di tingkat pertama dan kedua.
 Lingkungan rumah di masa kanak-kanak awal mempengaruhi keterampilan berbahasa.
Sehingga dapat memprediksi kesiapan anak-anak dalam memasuki sekolah.
 Jumlah huruf yang diketahui oleh anak-anak di masa taman kanak-kanak sangat berkorelasi
dengan prestasi membaca disekolah menegah atas.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

1. Pada Masa Pertengahan dan Akhir Masa Anak-anak, terjadi pada usia 6 sampai 12 tahun,
yang mana pada masa tersebut keadaan fisik dan psikis pada anak juga akan berubah.
Perubahan tersebut meliputi :
a. Perkembangan Fisik, meliputi : Keadaan Berat dan Tinggi Badan, dan
Perkembangan Motorik
b. Perkembangan Kognitif, meliputi : Perkembangan Kognitif Menurut Teori
Piaget, Perkembangan Memori, Perkembangan Pemikiran Kritis, Perkembangan
Intelegensi, Perkembnagan Kecerdasaan Emosional, Perkembangan Kecerdasaan
Spiritual, Perkembangan Kreativitas, Perkembnagan Bahasa.
c. Perkembangan Psikososial, meliputi : Perkembangan Pemahaman Diri,
Perkembangan Hubungan dengan Teman Sebaya, dan Pembentukan Kelompok.
2. Tugas yang diemban pada Masa Pertengahan dan Akhir Masa Anak-anak yaitu :
Masa Usia Pertengahan :
a. Mencapai tanggung jawab sosial dan dewasa sebagai warga Negara.
b. Membantu anak-anak remaja belajar untuk menjadi orang dewasa yang
bertanggung jawab dan bahagia.
c. Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang untuk orang dewasa.
d. Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai suatu individu.
e. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahanfisiologis yang
terjadi pada tahap ini
f. Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier pekerjaan
g. Menyesuaikan diri dengan orang tua yang semakin tua.
Akhir masa kanak-kanak mempunyai tugas, yaitu:
a. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan
yang umum.
b. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang
tumbuh.
c. Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya.
d. Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat.
e. Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis, dan
berhitung.
f. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-
hari.
g. Mengembangkan hati nurani, pengertian, pengertian moral dan tata dan tingkatan
nilai.
h. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga atau
mencapai kebebasan pribadi.