Anda di halaman 1dari 27

TUGAS MAKALAH

“Asesmen Kepribadian dan Asesmen Perilaku”

Mata Kuliah : Psikologi Klinis

Dosen Pengangampu : St. Syawaliah Gismin S.Psi.,M.Psi, Psikolog

OLEH :

KELOMPOK 3

RIFQAH AINUNNISA 4518091044

NADIA CITRA MAWARDANI 4518091049

ANDI NURAYU KHOFIFAH 4518091051

KELAS C

FAKULTAS
PSIKOLOGI

UNIVERSITAS BOSOWA

MAKASSAR

2020
DAFTAR ISI
Daftar Isi .............................................................................................................................. i
Kata Pengantar..................................................................................................................... ii
BAB I : Pendahuluan
A. Latar Belakang.......................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah....................................................................................................1
BAB II : Pembahasan
A. Tiga Tema Penting Asesmen ...................................................................................2
B. Tes Kepribadian Objektif...........................................................................................6
C. Tes Kepribadian Proyektif ........................................................................................15
D. Asesmen Perilaku ....................................................................................................19
BAB III : Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan .............................................................................................................. 22
B. Saran........................................................................................................................ 22
Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 23

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya
jualah penyusunan makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Tujuan penyusunan
makalah ini ialah membahas tentang Asesmen Kepribadian dan Asesmen Perilaku ini adalah
untuk memenuhi salah tugas mata kuliah Psikologi Klinis.

Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak sekali kekurangan
yang jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami selaku penyusun sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan tugas ini.

Kami berharap semoga makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi kita
semua dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kepribadian memiliki beragam definisi dari beberapa tokoh, tergantung bagaimana


mereka melihat sisi aspek individu. Beberapa tokoh yang mendefinisikan kepribadian antara
lain Mc. Clelland, menurutnya kepribadian adalah suatu konsep yang paling adekuat tentang
perilaku individu dalam berbagai situasi. Sedangkan Menninger mengartikan kepribadian yaitu
elemen yang dimiliki individu tersebut secara keseluruhan, misalnya tinggi, berat, cinta, benci,
tekanan darah. Sementara menurut Byrne, hal-hal yang tidak cocok dimasukkan ke dalam
ranah psikologi lain adalah ranah kepribadian. Di dalam kepribadian, terdapat beberapa istilah
yang harus diketahui, seperti personality traits, yakni sifat-sifat yang terkandung dalam
kepribadian dan membedakan satu individu dengan individu lainnya. Contohnya, A memiliki
sifat periang dan B memiliki sifat pemalu. Personality types adalah susunan sifat dan keadaan
yang digolongkan ke dalam kategori kepribadian dan termasuk di dalam taksonomi kepribadian.
Contohnya tipe kepribadian introvert dan kebalikannya, ekstrovert. Personality states adalah
kondisi id, ego, superego seseorang dalam situasi konflik. Asesmen kepribadian adalah suatu
pengukuran dan evaluasi aspek-aspek psikologis seseorang, termasuk di dalamnya sifat,
keadaan, nilai, sikap, identitas diri, gaya berpikir, perilaku individu, dan lain-lain.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja tiga tema penting yang harus ditetapkan dalam asesmen ?
2. Apa saja tes kepribadiaan objektif ?
3. Apa saja tes kepribadian proyektif ?
4. Apa saja Asesmen Perilaku ?

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. TIGA TEMA PENTING ASESMEN


1. Asesmen Multimetode

Tidak ada ukuran kepribadian perilaku yang sempurna. Sebagian memiliki realibilitas
dan validitas, serta kegunaan, yang sempurna, tetapi bahkan mereka pun memiliki
keterbatasan. Untuk alasan ini, penting bagi psikolog klinis untuk tidak menyadarkan diri secara
ekslusif pada sebuah metode penilaian tunggal tertentu. Sebaliknya, kepribadian dinilai dengan
menggunakan metode majemuk, termasuk berbagai jenis tes, data wawancara, observasi, atau
sumber-sumber lain. Masing-masing metode menawarkan sebuah perspektif unik tentang klien,
dan mereka sering berkonvergensi pada kesimpulan serupa. Sejauh kesimpulan itu didukung
oleh banyak tes dan bukan hanya satu, psikolog klinis dapat menyatakan kesimpulan tersebut
dengan penuh keyakinan.

Keunggulan asesmen multimetode berlaku bahkan di dalam lingkungan yang kurang


formal dan profesional. Simak sebuah situasi saat Anda sedang dalam proses mengenal
seseorang, misalnya di dalam sebuah kencan. “Penilaian” awal Anda tentang kepribadian Anda
mungkin terjadi pada kencan pertama, mungkin di sebuah restoran atau bioskop. Ketika
hubungan berlanjut, Anda akan berkesempatan untuk “menilai” kepribadian partner Anda
menggunakan “metode” lain, Anda akan melihat kepribadian dan perilakunya dengan keluarga,
dengan teman-teman, di pesta, di rumah, di tempat kerja, di sekolah dan sebagainya. Anda
mungkin mendapatkan kesan pertama yang kuat pada kencan pertama, tetapi Anda mungkin
tidak akan merasa bahwa Anda benar-benar mengenal dan memahami kepribadian partner
Anda sampai Anda telah “menilainya” dalam berbagai macam konteks, karena setiap situasi
akan mengungkapkan aspek kepribadian yang berbeda. Dalam pengertian yang lebih
profiesinal, hal yang sama berlaku bagi psikolog klinis yang “berusaha mengenal” seorang klien
melalui tes kepribadian: Masing-masing metode menawarkan sebuah perspektif unik, dan
meskipun sebagian mungkin lebih informatif dibandingkan yang lain, integrasi banyak
metodelah yang terbukti paling informatif.

2. Asesmen Berbasis Bukti

Gerakan menuju asesmen berbasis-terbukti, bersandar pada prinsip yang sama, yaitu
“apa yang berhasil” secara empiris, tidak jauh di belakangnya. Psikolog klimis yang
mempraktikkan penilaian berbasis-bukti hanya memilih metode-metode yang memiliki
psikometri yang kuat, termasuk realibilitas, validitas dan kegunaan klinis. Di samping itu,
mereka memilih tes-tes yang memiliki cukup data standar dan sensitif terhadap isu-isu
keragaman seperti umur, gender, ras dan etinisitas. Mereka biasanya menargetkan strategi
asesmennya pada diagnosis atau masalah tertentu, sehingga “apa yang bekerja” untuk menilai
gangguan pemusatan perhatian/ hiperaktivitas mungkin satu set penilaian yang berbeda
dengan “apa yang bekerja” untuk menilai gangguan panik, skizofrenia, bulmia, atau masalah
klinis yang lain (Hunsley & Mash, 2008b). Sebagai contoh, dua metode nanti dideskripsikan –
Strutured Clinical Interview for DSM-IV (SCID) dan inventori Depresi Beck-II diidentifikasi

2
secara spesifik sebagai instrumen-instrumen yang “sangat direkomendasikan” untuk
mendiagnosis depresi pada orang dewasa (Person & Fresco, 2008).

Salah satu tantangan terbesar di dalam perkembangan awal asesmen berbasis-bukti


(Hunslet & Mash, 2008b). Sebagian kekuatan dan kelemahan sebuah metode penilaian dapat
dinyatakan secara kuantitatif. Sebagai contoh, realibilitas tes-retes yang mengukur sejauh mana
metode yang dimaksud mendapatkan hasil serupa di titik-titik waktu yang berbeda, dinyatakan
sebagai sebuah koefisien korelasi yang berkisar antara-1 samapai +1. Di dalam sebuah buku
sejarah tentang asesmen berbasis-bukti – A Guide to Assessments That Work – para
penyuntingnya mendefinisikan realibilitas tes-retes yang “memadai” sebagai berikut: “Sebagian
besar bukti menunjukkan korelasi tes-retes paling sedikit 0,70” selama periode beberapa hari
sampai minggu” (Hunsley & Mash, 2008a, hlm. 8). Mereka juga mendefinisikan realibilitas tes-
retes yang “baik” sebesar 0,70 “selama periode beberapa bulan” dan realibilitas tes-retes yang
“sempurna” juga sebesar 0,70 selama “setahun atau lebih” (hlm. 8). Definisi-definisi ini tampak
cukup masuk akal, tetapi mereka juga menekankan bahwa kriteria apa pun yang dirancang
untuk menggambarkan tingkat bukti untuk alat asesmen akan memasukkan pengambilan
keputusan subjektif tertentu (misalnya, mengapa 0,70 bukan 0,60 atau 0,80? Mengapa periode
waktunya sepanjang itu, tidak lebih pendek atau lebih panjang?) bersama dengan data objektif.

Asesmen berbasis-bukti telah mencapai momentum di dalam konteks praktik berbasis-


bukti di bidang perawatan kesehatan secara lebih luas. Sebagian penganjurnya berharap
bahwa asesmen semacam ini tidak hanya akan memengaruhi para mahasiswa pascasarjana di
bidang psikologi klinis, tetapi juga para psikolog berpengalaman “yang menggunakan
instrumen-instrumen asesmen karena mereka telah mempelajarinya di sekolah pascasarjana,
bukan karena ada bukti kuat bahwa mereka bekerja. Sekarang, standar yang berbeda dan lebih
baik tersedia “(Nathan, 2008, hlm. xvii). Ada yang mengingatkan kita bahwa tidak setiap
keputusan di dalam sebuah asesmen klinis harusnya ditentukan sebelumnya oleh instruksi
buku petunjuk atau panduan. Sebagai contoh, di dalam sebuah diskusi tentang wawancara
klinis, Sommers-Flanagan dan Sommers-Flanagan (2009) mengatakan bahwa

Panduan ini tidak dapat menyentuh berbagai nuansa di dalam interaksi manusia
nuansa yang kadang-kadang membangkitkan kemarahan atau air mata dan
panduan ini tidak dapat membimbing klinisi secara memadai tentang kapan
harus mengungkapkan diri sendiri, kapan hanya mendengarkan, bagaimana
merespons pertanyaan klien, atau metode efektif apa yang digunakan untuk
membangun hubungan baik dengan seorang individu yang hidup, bernapas dan
unik secara kultural, yang mereka ingin bantu. (hlm. xi)

Tak pelak lagi, menyandarkan diri pada metode-metode asesmen dengan reliabilitas,
validitas dan kegunaan klinis yang kuat untuk masalah klinis tertentu adalah sebuah langkah
yang maju secara profesional, khususnya jika alternatif yang lain melibatkan oemilihan metode
berdasarkan familiaritas, popularitas, atau faktor-faktor yang tidak empiris. Psikolog klinis
kontemporer sekarang ini menghadapi tantangan untuk mengintegrasikan “apa yang bekerja”
secara empiris dengan pertimbangan klinis dan kebuthuan klien, ketika mereka membuat
keputusan tentang asesmen.

3. Asesmen yang Kompeten Secara Kultural

3
Kompetensi kultural esensial di semua kegiatan psikolog klinis, khususnya asesmen
kepribadian. Setiap budaya memiliki persepsinya sendiri tentang “normal” dan juga variasi-
variasinya sendiri tentang “abnormal”. Sebuah asesmen kepribadian yang dilaksanakan tanpa
pengetahuan atau sensitivitas tentang hal-hal yang spesifik secara kultural akan
membahayakan; faktanya, ini disebut "malpraktik budaya" oleh sebagain pihak (misalnya,
Dana, 2005). Bahaya utamanya terletak pada kemungkinan patologi yang berlebihan-artinya,
menganggap abnormal hal yang normal secara kultural. Dengan kata lain, psikolog klinis harus
mengapresiasi makna sebuah perilaku, pikiran atau perasaan di dalam konteks budaya klien,
yang mungkin berbeda dengan konteks budaya psikolog itu sendiri. Sebagai contoh patologi
yang berlebihan, simak Duron, secorang klien Afrika Amerika berumur 45 tahun yang didesak
oleh istri dan anak-anaknya untuk mencari psikoterapi.

Pada formulir yang diisi Duron di ruang tunggu Dr. Platt, seorang psikolog klinis, ia
menyebutkan bahwa dirinya sedang berkutat dengan gejala-gejala depresi dan pemakaian
alkohol yang berlebihan. Akan tetapi, sela- ma Duron dan Dr. Platt berbicara selama sesi
pertama, Dr. Platt dibuat kaget oleh apa yang dianggapnya kecurigaan berlebihan. la melihat
bahwa Duron enggan untuk mengungkapkan detail tentang dirinya sendiri, mengajukan ba-
nyak pertanyaan tentang kerahasiaan, dan menanyakan, "Mengapa Anda me- rasa perlu tahu
tentang itu? Beberapa kali dalam merespons pertanyaan-perta- nyaan wawancara. Duron tidak
menjadwalkan pertemuan kedua ketika pertemuan pertama berakhir, dan Dr. Platt
menginterpretasikannya sebagai tanda ketidakpercayaan. Pada akhir sesi tersebut, Dr. Platt
yakin bahwa masalah utama Duron bukan depresi atau penyalahgunaan alkohol tetapi
paranoia. Ia kemudian memberikan tes-tes kepribadian pada Duron dan menginterpretasikan
hasilnya untuk mendukung hipotesisnya bahwa Duron mengalami paranoid.

Kesalahan Dr. Platt selama proses asesmen ini jelas karena ketidaktahuannya tentang
nor- ma-norma budaya Afrika Amerika, khususnya kaitannya dengan mencari pela- yanan
psikologis dari terapis kulit putih. Di dalam situasi ini, orang-orang Afrika Amerika sering
memperlihatkan sikap berjaga-jaga akibat prasangka, penindasan dan pengkhianatan rasial
formal maupun nonformal selama ber- tahun-tahun (Boyd-Franklin, 1989; Hines & Boyd-
Franklin, 2005; Maultsby, 1982). Melalui ketidaksensitifan kultural dan etnosentrisme Dr. Platt,
ia keliru menilai perilaku Duron sebagai paranoid secara patologis, padahal pada kenya-
taannya perilaku Duron masuk akal berdasarkan latar belakang budayanya.

“Standar Spesifik-Budaya untuk Tes Kepribadian”

Claudia adalah seorang perempuan Kuba-Amerika yang baru saja mengerjakan


tes Inventori Kepri- badian Multifase Minnesota-2 (MMPI-2), sebuah tes kepribadian
pensil dan kertas pilihan ganda yang sangat populer untuk orang dewasa. MMPI-2
menghasilkan beragam skor pada variabel-variabel seperti depresi, kecemasan,
paranoia, skizofrenia, ma- niak dan yang lainnya. Untuk memberi skor poda tes Claudia,
klinis psikologisnya akan membanding- kan respons Claudia dengan sekelompok grup
suodsas "standar" yang telah menjalani tes untuk publikasi dan yang memberikan skor
dasar untuk panduan MMPI-2. Apakah karakteristik budaya yang se- harusnya dimiliki
oleh kelompok standar tersebut? Dengan kata lain, secara spesifik, dengan skor siapa

4
seharusnya skor Claudia dibandingkan? Kemungkinannya berkisar mulai dari kelompok
yang sangat luas ke kelompok yang sangat spesifik. Yang paling luas, kelompok
normatifnya dapat berupa campuran budaya yang mewakili populasi Amerika Serikat,
dan skor- skor Claudia dapat dibandingkan dengan skor-skor kelompok secara
keseluruhan. Di lain pihak, sebuah kelompok standar yang didefinisikan secara sempit
dapat digunakan, misalnya Kuba-Amerika atau perempuan. Faktanya, kita dapat
mengombinosikon variabel-variabel ini dan mempertimbangkan kelompok yang bahkan
lebih spesifik secara kultural: perempuan Kuba Amerika.

Terdapat keuntungan untuk mengabaikan standar spesifik-budaya dan,


sebaliknya, membandingkan skor Claudia dengan skor seluruh sampel standar (yang,
untuk MMPI-2, terdiri atas 2.600 orang dewasa). Sampel standar lengkapnya, menurut
definisi, lebih besar dibandingkan himpunan budaya yang mana pun, Hanya seba- pian
kecil di antara 2.600 orang dewasa itu yang merupakan perempuan Kuba-Amerika, dan
kelompok sekecil itu secara statistik mungkin tidak mewakili perempuan Kuba Amerika
secara lebih umum. Para pengembang tes dan peneliti akan berusaha menetapkan
kelompok standar yang cukup besar untuk masing-masing budaya, tetapi ini akan
sangat mahal dan makan banyak waktu, khususnya jika banyak variabel budaya
dipertimbangkan secara kombinasi (perempuan Kuba Amerika yang seumur dan
seagama dengan Claudia, misalnya).

Di lain pihak, akan ada keuntungannya untuk membandingkan skor Claudia


dengan standar spesifik-budaya. Dengan melakukannya kita akan dapat memastikan
bahwa respons Claudia dievaluasi secara sensitif-budaya. Kita dapat mengurangi
peluang patologi yang berlebihan terhadap skor-skornya, sebuah risiko yang terlibat
dalam membandingkan skor-skor tersebut dengan standar yang tidak merefleksikan
latar belakang dan nilai- nilai budayanya. Membandingkan skor Claudia hanya dengan
skor orang-orang lain seperti dirinya akan menceguh pertimbangan etnasentris terhadap
kesehatan mental Claudia berdasarkan standar yang ditetapkan oleh orang- orang lain
yang berbeda dengannya secara budaya (Wood, Garb, Nezworski, 2007).

Di dalam praktik nyata, psikolog klinis membandingkan data tes klien dengan
kelompok standar heterogen yang luas dan kelompok normatif homogen yang lebih
spesifik. Panduan MMPI-2, sebagai contoh, tidak memasukkan norma-norma spesifik-
etnisitas, tetapi memasukkan norma spesifik-gender, dan bertahun-tahun sejak MMPI-2
di- publikasikan, banyak peneliti telah menetapkan dan memublikasikan informasi
standar yang lebih spesifik secara kultural untuk digunakan oleh para psikolog klinis
(misalnya, Butcher, Cheung & Lim, 2003; Dana, 1995; Garrido & Velasquez, Garrido,
Kwan & Maestas, 2008, McNulky, Graham, Ben-Porath & Stein, 1997, Castellanos, &
Burton, 2004). Bahkan, kelompok budaya sespesifik Old Older Amish memiliki
seperangkat standar MMPI-2nya sendiri (Knabb, Vogt & Newgren, 2011). Salah satu
solusi untuk kesu-litan ini adalah dengan mempertimbangkan data standar baik yang
luas maupun spesifik-budaya. Keduanya da-pat memberikan perbandingan yang
bermakna untuk respons seorang klien terhadap sebuah tes kepribadian.

5
Dalam kasus Duron, sumber bias kulturalnya adalah klinisi itu sendiri. Selama asesmen
kepribadian, bias tersebut sebenarnya mungkin saja berasal dari sejumlah sumber lain,
termasuk tes dan metode penyampaian pelayanan (Dana, 2005). Sebagai contoh, sebuah tes
akan terbias jika menggunakan bahasa atau struktur yang spesifik-budaya dan tidak dapat
diterapkan secara univer- sal. Tes juga dapat memasukkan norma-norma yang tidak cukup
inklusif secara kultural, yang mengakibatkan pembandingan skor klien dengan skor kelompok
rujukan yang tidak tepat (seperti pada “standar spesifik-budaya untuk Tes Kepribadian”). Di
samping itu, metode penyampaian pelayanannya (intinya, cara klinisi menggunakan tes) dapat
terbias dengan memasukkan interaksi interpersonal atau pendekatan waktu dan tugas yang
tidak konsisten dengan budaya tertentu. Apakah bias tersebut berasal dari klinisi, tes, atau
metode penyampaian pelayanannya, psikolog klinis bertang- gung jawab untuk mengenali dan
meminimalkannya agar dapat melaksanakan asesmen yang kompeten secara kultural.

B. TES KEPRIBADIAN OBJEKTIF

Secara umum, tes kepribadian dapat diletakkan di salah satu di antara dua kate- gori:
objektif dan proyektif. Tes kepribadian objektif termasuk item-item tes yang tidak ambigu,
menawarkan rentang respons terbatas kepada klien, dan skor diberikan secara objektif. Yang
paling sering, tes-tes kepribadian objektif yang digunakan psikolog klien adalah kuesioner yang
dikerjakan klien dengan pensil dan kertas (atau di beberapa kasus, di komputer). Mereka
biasanya melibatkan serangkaian pernyataan atau pertanyaan singkat dan langsung dan opsi-
opsi jawaban benar/salah atau pilihan ganda, yaitu klien menyebutkan sejauh mana pertanyaan
atau pertanyaan itu berlaku pada dirinya (Morey & Hopwood, 2008). Sebaliknya, tes
kepribadian proyektif menggunakan stimulus ambigu dan rentang jawaban terbuka dari klien.
Mereka didasarkan pada asumsi bahwa klien meng- ungkapkan kepribadian mereka melalui
cara mereka memaknai objek atau situasi yang kabur (Smith & Archer, 2008). Tes kepribadian
proyektif akan dibahas secara lebih rinci di bagian berikutnya. Untuk sekarang, mari kita bahas
beberapa tes kepribadian yang paling lazim dipakai dan paling terkemuka.

1. Inventori Kepribadian Multifase Minnesota-2

Inventori Kepribadian Multifase Minnesota-2 (MMPI-2) adalah tes kepribadi- an yang


paling populer dan sekaligus paling baik secara psikometri yang digu- nakan oleh para psikolog
klinis (Butcher & Beutler, 2003; Camara, Nathan & Puente, 2000; Frauenhoffer, Ross, Gfeller,
Searight & Piotrowski, 1998). Tes ini digunakan di banyak negara dan budaya di seluruh dunia
dan telah diterjemah- kan ke dalam berlusin-lusin bahasa (Butcher, Mosch, Tsai & Nezami,
2006; Gra- ham, 2012). Format MMPI-2 sederhana: Klien membaca 567 kalimat yang men-
deskripsikan tentang diri sendiri dan, dengan menggunakan lembar jawaban pensil-dan-kertas,
menandai setiap kalimat sebagai benar atau salah seperti yang berlaku pada dirinya. Item-
itemnya mencakup berbagai macam perilaku, perasaan dan sikap.

MMPI-2 adalah revisi MMPI asli, yang dipublikasikan pada 1943. Ketika Starke
Hathaway dan J. C. McKinley, para penulis MMPI asli, memulai pekerjaan mereka pada 1930-
an, mereka mencari sebuah cara objektif untuk mengukur psi- kopatologi. Banyak kuesioner
semacam ini telah tersedia pada masa itu, tetapi tak satu pun yang didasarkan pada sebuah

6
fondasi empiris yang solid seperti MMPI. Ketika menciptakan sebuah tes kepribadian, relatif
mudah bagi seorang penulis untuk menciptakan daftar item-item yang seharusnya, secara
teoretis, me- munculkan respons-respons yang berbeda dari orang-orang "normal" dan "abnor-
mal" dari beragam kategori. Hathaway dan McKinley memilih untuk mengambil tantangan yang
lebih besar: menciptakan sebuah daftar item-item yang secara em- piris memunculkan respons-
respons yang berbeda dari anggota di dalam kelom- pok normal dan abnormal ini (Ben-Porath
& Archer, 2008; Graham, 2012).

Hathaway dan McKinley berhasil dalam menciptakan daftar item-item semacam iu


dengan menggunakan sebuah metode konstruksi tes yang disebut penguncian kriteria empiris.
Secara esensial, metode ini melibatkan identifikasi kelompok-kelompok yang berbeda, meminta
mereka semua untuk merespons item-item tes yang sama, dan membandingkan respons
antarkelompok. Jika sebuah item memunculkan respons yang berbeda dari sebuah kelompok
diban- dingkan dari kelompok lain, maka ia adalah item yang layak dan seharusnya dimasukkan
pada versi final tes tersebut. Jika kelompok menjawab sebuah kelom- pok dengan cara yang
sama, item tersebut dibuang karena tidak membantu mengategorikan seorang klien di dalam
salah satu kelompok. Jika penguncian kriteria empiris digunakan, tidak masalah apakah sebuah
item seharusnya, secara teoretis, membedakan dua kelompok; yang penting adalah apakah
sebuah item, secara aktual, membedakan dua kelompok.Sebagai contoh, simak simulasi item,
"Saya memiliki penglihatan berbagai hal yang tidak nyata dan yang tidak dapat dilihat oleh
orang lain". Secara teoretis, kita mungkin berharap para penderita skizofrenia akan jauh lebih
sering mendukung item ini dibandingkan orang yang non-skizofrenia. Menurut metode
penguncian kriteria empiris, ek- spektasi teoretis ini tidak cukup. Metode ini harus didukung oleh
bukti bahwa penderita skizofrenia, secara faktual, mendukung item ini jauh lebih sering di-
bandingkan non-penderita skizofrenia. Menurut metode penguncian kriteria empiris, hanya jika
kedua kelompok benar-benar berbeda dalam merespons item tersebut maka item itu
seharusnya dimasukkan ke dalam versi final tes tersebut.

Bagi Hathaway dan McKinley, kelompok-kelompok yang berbeda yang mengevaluasi item-
item potensial yang terdiri atas orang-orang yang pernan didiagnosis dengan gangguan mental
tertentu (misalnya, kelompok depresi, paranoid, skizofrenia, kecemasan, sosiopati dan
hipokondriakal) dan sebuah kelompok "orang-orang normal" yang sama sekali tidak memiliki
diagnosis kesehatan mental. Meskipun mereka memulai prosesnya dengan lebih dari 1.000
item potensial, hanya 550 yang dipertahankan setelah metode penguncian kriteria empiris
diselesaikan. Item-item tersebut muncul di dalam tes dengan urutan acak, tetapi untuk maksud
pemberian skor, mereka diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok yang berkaitan dengan
10 patologi spesifik. Masing-masing dari kesepuluh kelompok item itu merepresentasikan
sebuah skala klinis, dan semakin tinggi skor klien pada skala tertentu, semakin besar
kemungkinan bah- wa ia akan memperlihatkan bentuk psikopatologi tersebut. Kesepuluh skala
klinis itu tetap sama di dalam MMPI-2 dan dideskripsikan di dalam Tabel 10.1 di bawah ini (Ben-
Porath & Archer, 2008).

Tabel 10.1

7
No
Nama Skala Singkatan Deskripsi skor skala yang Tinggi
Skala

Masalah-masalah somatic, kekhawatiran tentang


1 Hipokondriasis Hs tubuh berlebihan, lemah, penyakitan, mengeluh
dan merengek.
Depresi, tidak bahagia, rasa percaya diri rendah,
2 Depresi D
pesimistis.
Reaksi medis yang kabur terhadap stress, gejala-
3 Histeria Hy gejala somatic, pengingkaran akan konflik dan
kemarahan.
Psychopathic Antisosial, pemberontak, menyalahkan orang lain,
Deviate pertimbangan yang buruk atas konsekuensi
4 Pd
(penyimpangan tindakan.
penyakit jiwa)
Maskulinitas- Penolakan atas peran gender tradisional, laki-laki
5 Mf
Feminitas feminism, perempuan maskulin.
Curiga, berhati-hati, terlalu sensitive, percaya
6 Paranoia Pa
bahwa oranglain bermaksud mencelakai
7 Psikastenia Pt Cemas, gugup, tenang, khawatir, obsesif
Psikosis, tak terorganisasi, atau aneh, tidak
8 Skizofrenia Sc
kovensional, halusinasi,delusi, terisolasi
Maniak, euphoria dan elasi yang berlebihan,
9 Maniak Ma berenergi, ovaraktif, gerakan dan pembicaraan
yang terakselerasi, flight of ideas
Social Tertutup, pemalu, menahan diri, lebih nyaman
10 Si
introversion sendirian dibandingan bersama oranglain
Sebagaimana nama skala-skala yang dideskripsikan pada table diatas mungkin tampak
tidak familier, tetapi mereka sebenarnya merujuk pada isu isu klinis yang familier dan lazim.
Istilah-istilah yang tidak familer lazim digunakan pada saat MMPI dibuat untuk pertama kalinya,
dan mereka masih tetap diperertahankan di dalam MMPI-2 untuk menjaga kontinuitas,
meskipun sebagian sudah ketinggalan zaman. Sebagai contoh, Skala 4, ”Penyimpangan
Penyakit jiwa” mungkin sekarang akan disebut ”Antisosial”. Dan nama untuk Skala 7,
"Psikastenia", adalah kata yang sudah usang yang kira-kira ekuivalen dengan "kecemasan”.
Fitur penting lain yg dikenalkankan oleh MMPI (dan dipertahankan di dalam MIMPI-2)
adalah cara menilai sikap dalam menghadapi tes. Hathaway dan McKinley menyadari bahwa
instrumen laporan-diri rentan terhadap upaya tidak tulus dari klien. Sebagian klien mungkin
secara tak sengaja membesar-besarkan gejala mereka (”pura-pura buruk”) agar tampak lebih
menderita dibandingkan yang sesungguhnya; yang lain mungkin sengaja meminimalkan gejala-
gejala mereka (”pura-pura baik”) agar tampak lebih sehat dibandingkan yang sebenamya. Klien

8
yang lain mungkin merespons secara acak tanpa memperhatikan item-itemnya sama sekali.
MMPI dan MMPI-2 mencakup sejumlah item yang dirancang untuk ”menangkap” sikap
pengerjaan tes ini. Ketika responsrespons terhadap item-item ini dikelompokkan, mereka
merupakan Skala validitas tes ini. Skala validitas memberikan informasi kepada psikolog klinis
tentang pendekatan terhadap tes dan memungkinkan psikolog untuk menentukan apakah tes
tersebut valid dan jenis-jenis penyesuaian apa yang mungkin tepat selama proses interpretasi
skala-skala klinis. MMPI dan MMPI-2 mengandung tiga Skala validitas Spesifik: L (Lying, yang
menyiratkan ”pura-pura baik”), K (Defensiveness, juga menyiratkan ”pura-pura baik”), dan F
(Infrequency, menyiratkan ”pura-pura buruk”).
Sebagai contoh pentingnya Skala validitas, sirnak Tammy, seorang perempuan 24
tahun sebuah pada percobaan perampokan bersenjata. Pengacaranya berargumentasi bahwa
Tammy sakit mental serius dan bahwa, sebagai akibatnya, ia seharusnya dinyatakan tidak
bersalah berdasarkan alasan ketidakwarasan (not guilty by reason of insanity [NGRI]) dan
ditempatkan di sebuah pusat perawatan psikiatri, bukan dipenjara. Hakim di dalam kasus
Tammy memerintahkan Tammy untuk menjalani pemeriksaan psikologi, dan Dr. Reed, psikolog
klinis di dalam kasus ini, menggunakan MMPI-2, selain tes-tes lainnya. Dr. Reed menemukan
bahwa banyak di antara Skala klinis MMPI-2 Tammy, khususnya skala 2 (Depresi) dan Skala 8
(Skizofrenia), sangat tinggi. Secara terpisah, informasi Ini menunjukkan bahwa Tammy
mengalami psikopatologi signifikan. Akan tetapi, skala validitas MMPI-2 Tammy (khususnya
skala F-nya) menyiratkan dengan kuat bahwa ia ”pura-pura buruk” pada tes itu; artinya, ia
melebih-lebihkan gejala-gejalanya sebagai upaya untuk tampak lebih patologis daripada yang
sebenarnya. (Psikolog klinis sering menggunakan istilah kepura-puraan untuk mendeskripsikan
tipe perilaku yang disengaja ini.) Dengan informasi ini, Dr. Reed dapat menentukan bahwa
hasil-hasil MMPI-2 Tammy secara keseluruhan invalid atau dapat menginterpretasikan skala-
skala klinis dengan pengetahuan bahwa Tammy cenderung membesar-besarkan masalahnya.
Popularitas MMPI meningkat pesat dari 1940-an sampai 1980-an dan akhimya
digantikan oleh MMPI-2 pada 1989. Proses revisinya mempunyai beberapa kelemahan yang
menjadikan semakin problematik untuk MMPI asli. Yang paling menonjol di antaranya adalah
sampel standar MMPI asli yang tidak memadai. Kelompok ”normal” yang dibandingkan dengan
kelompok-kelompok klinis terdiri atas 724 individu dari Minnesota pada 1940-an. (Tepatnya,
mereka adalah para pengunjung rumah sakit University of Minnesota.) Kelompok ini didominasi
oleh orang-orang desa dan kulit putih, mereka sama sekali bukan perwakilan populasi Amerika
Serikat yang memadai. Jadi, untuk MMPI 2, data standarnya didapatkan dari kelompok yang
jauh lebih be-sar dan beragam secara demografis. Secara keseluruhan, kelompok standar
MMPI-Z terdiri atas 2.600 orang dari tujuh negara bagian yang sangat mendekati data Sensus
Amerika Serikat dari tahun 1980-an dalam hal umur, etnisitas dan status perkawinan (Butcher,
2011; Greene & Clopton, 2004). Penyempurnaan lain termasuk dibuang atau direvisinya
beberapa item tes dengan kata-kata yang sudah usang atau ganjil. Para penulis MMPI-2
berusaha mempertahankan versi revisinya semirip mungkin dengan MMPI asli untuk
mengambil manfaat dari familiaritas tes bagi banyak psikolog klinis dan kepustakaan tentang
MMPI yang sangat besar yang telah terakumulasi.
Tidak lama setelah MMPI-2 dipublikasikan, sebuah versi alternatif MMPI diterbitkan bagi
klien-klien yang lebih muda. Sementara MMPI-2 hanya COCOk bagi orang dewasa (18 tahun
ke atas), Inventori Kepribadian Multifase Minnesota-Dewasa (MMPI-D) dirancang bagi klien

9
yang berumur 14 sampai 18 tahun. Tes ini dipublikasikan pada 1992 dan sangat mirip dengan
administrasir format, pemberian skor, dan interpretasi untuk MMPI-Z. MMPI-A adalah tes pensil-
dan-kertas benar/ salah yang tediri atas 478 item. Sebagian itemnya sama dengan MMPI-2,
dan sebagian adalah item-item asli yang menarget masalah lazim bagi remaja seperti sekolah,
keluarga, penggunaan narkoba, dan hubungan dengan teman sebaya. MMPI-A menghasilkan
skala validitas dan skala klinis yang sama seperti MMPI-2. Tes ini distandarkan pada 2.500
remaja yang dipilih agar sesuai dengan data Sensus Amerika Serikat 1980 pada banyak
variabel demografis yang penting (Archer, 1997; Baer 8: Rinaldo, 2004; Ben-Porath & Archer,
2008).
MMPI-2 dan MMPI-A menghasilkan 10 skor skala klinis yang sama seperti yang
dihasilkan MMPI asli. Setelah mempertimbangkan skor validitas, psikolog klinis
menginterpretasikan MMPI-2 atau MMPI-A dengan mempertimbangkan skor-skor skala klinis
yang paling terelevasi di atas tingkat normal. Pada sebagian kasus, sebuah skala tunggal akan
menonjol; pada kasus-kasus lain, dua atau tiga skor skala klinis mungkin ditinggikan. Sebagai
jalan pintas, psikolog ldjnis sering menggunakan angka-angka skala yang ditinggikan tersebut
(”jenis kode”) untuk merujuk profil seorang klien, seperti misalnya, ”profil MMPI-Anya 3 / 6” atau
”MMPI-2-nya 2 / 4/ 8”. Setelah skala klinis teridentifikasi, psikolog klinis menengok ke literatur
empiris yang mendeskripsikan klien-klien dengan berbagai pola peningkatan. Banyak buku dan
program komputer, banyak di antaranya ditulis oleh individu-individu yang terlibat di dalam
pembuatan MMPI, MMPI-2, atau MMPI-A, memasok psikolog dengan informasi interpretasi
semacam ini. Di samping kesepuluh skala klinis tersebut. Sejumlah skala tambahan -yang
dikenal sebagai skala tambahan dan skala isi - telah kembangkan untuk mengukur aspek-aspek
kepribadian dan patologi lain yang sering kali lebih spesifik (Butcher, 2011; Butcher 8: Beutler,
2003).
MMPI-2 didukung kuat oleh penelitian tentang karakteristik psikometrinya. Ribuan studi
menelaah aspek tertentu dari rehabilitas atau validitas tes-tes MMPI, dan hasilnya secara
konsisten adalah positif. Pendek kata, MMPI-Z ditetapkan sebagai sebuah tes kepribadian dan
psikopatologi yang reliabel dan valid, yang menyebabkan penggunaan yang lebih luas oleh
psikolog klinis (Greene & Clopton, 2004). Meskipun dasar penelitiannya tidak seekstensif
MMPI-2, kesimpulan serupa telah dicapai untuk MMPI-A (Archer, 1997; Baer &: Rinaldo, 2004).
Pada akhir 2008, sebuah versi baru MMPI-2 yang lebih pendek diluncurkan. Bentuk
Restrukturisasi MMPI-2 (MMPI-2 Restructured Form) (MMPI-2-RF; Ben Porath & Tellegen,
2008) hanya berisi 388 dari 567 item pada MMPI-2. Skala klinisnya, yang disebut Skala Klinis
Restrukturisasi, mendekati kesepuluh skala klinis di dalam bentuk-bentuk MMPI lainnya, tetapi
berbeda dalam beberapa hal penting. Masing-masing skala terdiri atas lebih sedikit item, dan
masing-masing skala lebih homogen atau ”lebih ketat”. Dengan kata lain, masing-masing skala
lebih sedikit tumpang-tindih dengan skala-skala lain karena dibuangnya item-item antarskala
yang tumpang-tindih. Banyak tumpang-tindih yang berasal dari item-item yang menangkap
konsep demoralisasi, yang oleh para pengembang MMPI-2-RF diyakini meluas di banyak
bentuk psikopatologi. Jadi, demoralisasi mendapatkan skalanya sendiri di dalam MMPI-2-RF,
dan skala-skala klinis lainnya sedikit lebih dirampingkan dan berbeda satu sama lain. (Dua di
antara 10 skala aslinya, Skala 5 [Maskulinitas-Femininitas] dan Skalao [Introversi Sosial])
dibuang dari MMPI-2-RF). MMPI-2-RF juga memasukkan skala-skala Urutan-yang-Lebih-tinggi
yang baru, yang berkorespondensi dengan kode-kode dua-poin yang sama dari MMPI-3, tetapi

10
diukur sebagai skala tunggal, dan skala PSY-5 baru, yang berkaitan dengan gangguan
kepribadian (Ben-Porath 8: Archer, 2008; Groth-Marnat, 2009). Sepertinya terlalu dini untuk
mengetahui bagaimana MMPI-2-RF akan diterima oleh para psikolog klinis dan faktanya,
MMPI-2-RF memiliki sejumlah kritikus (Butcher, 2010, 2011; Butcher &: Wllliams, 2009)-tetapi
dikenalkannya MMPI-2-RF jelas menyodorkan alternatif yang menarik.
MMPI-2 dan MMPI-A saat ini digunakan untuk beragam maksud di beragam lingkungan.
Mereka dianggap sebagai tes karakteristik kepribadian dan psikopatologi yang komprehensif,
dan mereka sangat membantu dalam membentuk diagnosis Diagnostic and Statistical Manual
of Mental Disorders (DSM) dan menyarankan penempatan (misalnya, rawat-inap vs rawat-jalan)
serta penanganan. Mereka juga digunakan di banyak bidang spesialisasi psikologis, termasuk
lingkungan forensik dan tes anggota (Butcher, 2011).
Sebuah penggunaan MMPI-2 yang tidak lazim namun menarik dideskripsikan oleh
Stephen Finn dan rekan-rekan sejawatnya: Asesmen Terapeutik (The rapeutic Assessment)
(TA). Seperti disiratkan oleh namanya, TA melibatkan penggunaan tes psikologi-termasuk
umpan-balik tentang hasilnyasebagai sebuah intervensi terapeutik. Pada awal karierya, Finn
melihat bahwa klien-klien yang dinilainya sering tampak mendapatkan manfaat dari sesi umpan-
balik, yaitu ketika ia menjelaskan hasil-tes mereka. Terlepas dari fakta bahwa efek itu tidalk
disengaja, Finn menekuni metode-metode tertentu untuk memaksimalkannya.
Secara khusus ia fokus pada MMPI-2 dan menekankan sesi umpan-balik yang berupa
diskusi interaktif antara klien dan klinisi dan bukan sebuah kuliah satu-arah. TA bekerja sangat
efektif jika asesmennya sukarela (tidak diharuskan) dan jika klien dapat mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tertentu kepada klinisi untuk dijawab selama sesi umpan-balik (Finn &
Kamphus, 2006; Firm & Toni sager, 1992; Newman & Greenway, 1997). Secara lebih luas,
gagasan asesmen psikologi sebagai sebuah alat terapeutik itu sendiri telah mengakumulasikan
dukungan empiris yang signifikan (Hanson 8: Poston, 2011; Poston & Hanson, 2010) dan
bahkan telah diperluas ke penilaian-penilaian yang dilaksanakan lewat komputer atau
smartphone (R.E. Smith dkk., 2011).
Tes MMPI-2 dan MMPI-A bukan tanpa keterbatasan. Mereka telah dikritik karena terlalu
panjang, membutuhkan kemampuan membaca, dan perhatian jangka panjang melebihi
kemampuan sebagian klien, dan rentan terhadap ”pura-pura” oleh klien-klien canggih yang
dapat mengecoh skala validitas. Kritik terakhir terhadap tes MMPI fokus pada penekanan
mereka pada bentuk-bentuk psikopatologi sebagai faktor yang menyusun kepribadian. Artinya,
skala klinis tes MMPI mendeskripsikan kepribadian seorang klien dengan mendeskripsikan
sejauh mana mereka memiliki berbagai patologi (depresi, skizofrenia, dan lainlain) dan bukan
menekankan aspek-aspek kepribadian lainnya, seperti ciri-ciri sifat normal atau berbagai
kekuatan.
Psikolog klinis menggunakan banyak tes kepribadian objektif lain yang serupa dengan
tes-tes MMPI dalam beberapa hal tetapi juga berbeda dalam beberapa hal penting lainnya.
Contohnya termasuk Inventori Millon Multiaksial Klinia III, yang menekankan gangguan-
gangguan Aksis II; Inventori Kepribadian NEO-Revisi, yang menekankan ciri-ciri sifat
kepribadian normal; dan Inventori Psikologis California-III, yang menekankan aspek-aspek
positif kepribadian.
2. Inventori multiaksial Klinis Millon-III

11
Inventori Multiaksial Klinis Millon-III (Millon Clinical Multiaxial Inventory-III) (MCMI-III)
mirip dengan MMPI-2 dalam banyak hal: ini adalah sebuah tes kepribadian komprehensif dalam
format laporan-diri, pensil-dan-kertas, benar/ salah. Perbedaan utama di antara kedua tes itu
adalah penekanan MCMI-III pada gangguan-gangguan kepribadian. Meskipun ia menggunakan
skala-skala untuk banyak sindrom klinis yang berkaitan dengan gangguan Aksis I, seperti
depresi, kecemasan dan stres pascatrauma, MCMI-III terkenal karena banyaknya skala yang
berkaitan dengan gangguan kepribadian pada Aksis II DSM. Faktanya, MCMI-III menggunakan
skala klinis terpisah yang berkorespondensi dengan kesepuluh gangguan kepribadian terkini
(misalnya, Antisosial, Ambang, Narsisistik, Paranoid). Tes ini juga memasukkan skala klinis
untuk bentuk-bentuk patologi kepribadian lain yang telah dipertimbangkan untuk dimasukkan
sebagai gangguan di dalam DSM tetapi saat ini telah dihilangkan (misalnya, Pembelaan-Diri,
Negativistik/Pasif-Agresif, Depresif; Craig, 2008; Retzlaff & Dunn, 2003).

MCMI dibuat untuk pertama kalinya pada 1977 oleh Theodore Millon. seorang ilmuwan
yang diakui secara luas di bidang gangguan kepribadian. Versi yang sekarang, MCMI-lII,
dipublikasikan pada 1994 agar berkorespondensi dengan publikasi DSM-IV. MCMI-III terdiri
atas 175 item benar/salah. Selain skala klinisnya, juga memasukkan ”indeks modifikasi”, yang
fungsinya serupa dengan skala validitas tes MMPI dengan menilai sikap pengerjaan-tes klien.
Data rehabilitas dan validitas untuk MCMI-III kuat, yang menunjukkan bahwa tes ini adalah
pilihan yang baik bagi psikolog klinis yang mencari penilaian kepribadian yang luas dengan
penekanan pada gangguan kepribadian Aksis II (Craig, 2008, Meagher, Grossman 8: Millon,
2004). (Tautan Web 10.2 Theodora Millon.)

3. lnventori Kepribadian NEO-Revisi

Seperti dikatakan di atas, MMPI menekankan aspek-aspek patologis kepribadian


dengan menghasilkan skor yang menunjukkan sejauh mana klien mengalami gelaja untuk
berbagai gangguan. Para penulis Inventori Kepribadian NEO-Revisi (NEO Personality
Inventory-Revised) (NEO-PI-R), Paul Costa dan Robet McCrae berusaha mencipatakan
sebuah ukuran kepribadian yang menilai karakteristik kepribadian ”normal”. Kelima karakteristik
yang diukur oleh tes mereka muncul dari berdekade-dekade penelitian tentang kepribadian
normal yang sebagian besar bersifat analisis-faktor. Singkatnya, para penulis NEO-PI-R (Yang
juga mengemukakan model lima faktor kepribadian atau "Big Five‘" yang berkoresponsdensi)
berpendapat bahwa banyak kata yang ditawarkan oleh bahasa kita untuk mendeskripsikan ciri-
ciri sifar kepribadian yang “dikelompokkan” menjadi lima ciri-sifat fundamental kepribadian yang
mengarakterisasikan setiap orang dengan derajat bervariasi. Ciri-ciri sifat ini- Neurotisisme,
Ekstraversi, Keterbukaan, Keramahan dan Kehati-hatian adalah kelima skala utama yang
dihasilkab oleh NEO-PI-R dan dideskripsikan di dalam tabel 10.2. NEO-PI-R juga menghasilkan
30 skor "aspek" (6 aspek di dalam masing-masing dari kelima ranah) untuk menawarkan
deskripsi yang lebih spesifik tentang komponen-komponen di dalam masing-masing ciri sifat
(Costa & McCrae, 1992, 2008).

Dalam kaitannya dengan format, NEO-PI-R sebanding dengan tesr-tes kepribadian


objektif lain yang dideskripsikan dalam makalah ini. Formatnya adalah kuesioner dengan 240
item, pensil-dan-kertas, laporan-diri. Item-itemnya berupa pernyataan-pernyataan pendek
dengan respons pilihan-ganda yang berkisar mulai dari ”sangat setuju” sampai ”sangat tidak

12
setuju”. Inventori Kepribadian NEO yang pertama dipublikasikan pada 1985, dan edjsi yang
sekarang, NEO-PI-R, muncul pada 1992. Sebuah bentuk pendek tes ini (dengan 60 item),
Inventori Lima Faktor Neo (NEO Five Factor Inventory) (NEO-FFI) juga tersedia tetapi
menghasilkan profil yang tidak terlalu rinci. Data psikometri NEO-PI-R menunjukkan bahwa ia
memiliki rehabilitas dan validitas yang sangat kuat (Costa & McCrae, 1992).

Tabel 10.2 Ciri-ciri Sifat Kepribadian Normal yang Dinilai oleh NEO-PI-R

Ciri-Sifat/Skala Deskripsi Skor Yang Deskripsi Skor yang


Tinggi Rendah
Neurotisme Rentan dalam gangguan Stabil secara emosional,
emosional, perasaan bahkan keras, merasa aman
negative, kecemasan, bahkan di dalam kondisi
kesedihan yang penuh tekanan
Ekstraversi Supel, banyak bicara, Tertutup, pendiam, pemalu,
ramah, lebih suka Bersama lebih suka sendiri.
orang lain
Keterbukaan Ingin tahu tentang ide-ide Konvensional, konservatif,
dan nilai-nilai baru, imajinatif, tradisional, lebih menyukai
tidak konvensional. ide-ide dan nilai-nilai baru.
Keramahan Simpati, kooperatif, Keras kepala, kompetitif,
akomodatif, lebih suka egosentris, tidak kooperatif,
menghindari konflik. tidak simpati.
Kehati-hatian Teratur, bertujuan, disiplin, Santai, sopan, tidak teratur,
metodis, cendrung membuat gegabah, teledor.
dan menjalankan rencana.
NEO-PI-R dikritik karena kurangnya validitas ukuran. Tidak seperti tes MMP dan MCM-III,
NEO-PI-R kekurangan pengukuran substantif pendekatan pelaksana tes untuk tes tersebut,
sehingga menyebabkannya agak rentan terhadap "penipuan“ atau kekurangperhatian oleh
klien. Klinisi juga telah memberikan komentar tentang batasan manfaat klinis tes, khususnya
mengenai dosis. Meskipun NEO-PI-R dapat mengindikasikan bahwa seorang individu memiliki
skor pada lima pembawaan kepribadian fundamental yang sangat tinggi atau rendah, skor
ekstrem tersebut tidak dengan segera menerjemahkannya menjadi gangguan-gangguan mental
spesifik yang dapat didiagnosis. Namun, dewasa ini penelitian menunjukkan bahwa gangguan-
gangguan, khususnya gangguan kepribadian, sangat terkait dengan kombinasi tertentu skor

13
tinggi pada skala NEO-PI-R, yang mendukung manfaat klinis NEO-PI-R bagi kebanyakan ahli
psikologi (Costa dan McCrae, 2008; Costa dan Widiger, 2001)

4. Inventori Psikologis California-III.

Inventori Psikologis California-III (California Psychological Inventory-III) (CPI-III)


selangkah lebih maju dibandingkan NEO-PI-R dalam hal tidak menekankan patologi sebagai
karakteristik penentu kepribadian. Sementara tes-tes MMPI menekankan patologi dan NEO-PI-
R menekankan ciri-ciri sifat normal, CPI-III menekankan atribut-atribut positif kepribadian. CPI-
III, yang dipublikasikan pada 1996, dirancang untuk menilai kekuatan, aset, dan sumber daya
internal klien (Donnay & Elliott, 2003). CPI-III adalah sebuah kuesioner laporan-diri pensil-dan-
kertas yang terdiri atas 434 item benar / salah. (CPI-HI juga meluncur dengan nama CPI-434,
yang mengacu pada jumlah total item. juga ada versi lebih pendek, yang disebut CPI-260). Tes
ini menghasilkan skor-skor pada 20 skala, yang nama-namanya merefleksikan sifat positif tes
ini, antara lain: Kebebasan, Penerimaan-Diri, Empati, Toleransi, Tanggung Jawab dan
Fleksibilitas. Karena lebih menekankan kekuatan daripada defisiensi, CPI-III dinilai negatif oleh
para klinisi yang mencoba mendiagnosis berbagai gangguan, tetapi dinilai positif oleh mereka
yang mencoba memahami rentang kemampuan dan talenta klien yang luas.

CPI-III konsisten dengan gerakan yang semakin marak saat ini di bidang kesehatan
mental yang mengarah pada psikologi positif, yang menekankan pada aspek-aspek psikologis
yang kuat dan sehat dari perilaku manusia, bukan aspek-aspek patologis (Donnay & Elliott,
2003; Seligman & Csikszentmihalyi, 2000). Di bidang penilaian, psikologi positif sering kali
berbentuk penilaian berbasis-kekuatan, dan klinisi mengupayakan sebuah pandangan
komprehensif tentang kliennya mengenai ”apa yang kuat” di samping ”apa yang salah” (Rashid
8: Ostermann, 2009, hlm. 490). Seperti nama skala-skala CPI-III, nama-nama alat-alat penilaian
berbasis-kekuatan merefleksikan atribut positif yang mereka fokuskan: Kepuasan dengan Skala
Kehidupan, Skala Sikap Kasih Sayang, Skala Pemberian Maaf, Kuesioner Kebahagiaan
Autentik, Kuesioner Kebahagiaan Secara Umum, Kuesioner Rasa Syukur, dan, mungkin yang
paling luas digunakan, nilai dalam Tindakan Inventori Kekuatan (Peterson & Seligman, 2004).

5. Inventori Depresi Beck-ll

Tes-tes objektif yang komprehensif -seperti MMPI, MCMI-III, NEO-PI-R dan CPI-III
memberikan ikhtisar yang luas kepada psikolog klinis tentang kepribadian dan memberikan skor
pada variabel yang sangat beragam.

Akan tetapi, kadang-kadang psikolog klinis lebih menyukai ukuran-ukuran objektif non-
komprehensif yang lebih tertarget, seperti depresi, kecemasan dan gangguan makan. Inventori
Depresi Beck-II (BDI-II) adalah sebuah contoh yang disegani dan djgunakan secara luas untuk
tipe tes ini. (Tes ini muncul di bagian tentang tes kepribadian objektif ini meskipun hanya
menilai satu karakteristik saja dan bukan kepribadian secara lebih lengkap.) (Tautan Web 10.4
Situs BDI-II.)

BDI-II adalah sebuah tes laporan-diri pensil-dan-kertas yang menilai gejala-gejala


depresi pada orang dewasa dan remaja. BDI asli diciptakan oleh Aaron Beck, seorang tokoh di
bidang terapi kognitif untuk depresi dan gangguan-gangguan lain pada 1960-an; revisi terkini

14
dipublikasikan pada 1996. BDI-II singkat hanya 21 item, penyelesaiannya biasanya
membutuhkan waktu 5 sampai 10 menit saja. Masing-masing item berupa satu set dengan
empat pertanyaan tentang gejala depresi tertentu, yang diurutkan dengan tingkat keparahan
yang semakin meningkat. Klien memilih salah satu kalimat di dalam masing-masing set yang
paling menggambarkan pengalaman pribadinya selama 2 minggu sebelumnya (periode waktu
yang dipilih agar tepat dengan kriteria DSM-IV). Kedua puluh satu skor item dijumlahkan untuk
menghasilkan sebuah skor total, yang merefleksikan tingkat depresi klien secara keseluruhan
(Brantley, Dutton & Wood, 2004; Quilty, Zhang & Bagby, 2010). Seperti di dalam simulasi
contoh item BDI-II, perhatikan set pertanyaan-pertanyaan yang salah satunya harus dipilih oleh
klien berikut ini:

 Saya tidak pernah memikirkan tentang kematian. (0 poin)


 Saya kadang-kadang memikirkan tentang kematian. (1 poin)
 Saya sering memikirkan tentang kematian. (2 poin)
 Saya terus-menerus memikirkan tentang kematian. (3 poin)

BDI-II tidak memiliki skala validitas, dan cakupannya tentunya juga jauh leblh terbatas
dibandingkan tes-tes objektif lain yang didiskusikan di makalah ini Akan tetapi, rehabilitas dan
validitasnya kuat (Brantley dkk., 2004) dan ia sering menjadi pilihan psikolog yang mencari
jawaban cepat, yang baik secara empiris atas pertanyaan penilaian tentang depresi.

C. TES KEPRIBADIAN PROYEKTIF

Tes kepribadian objektif didasarkan pada asumsi bahwa kepribadian sebaiknya dinilai
dengan meminta orang secara langsung untuk mendeskripsikan dirinya sendiri. Tes
kepribadian proyektif didasarkan pada asumsi yang berbeda secara fundamental: Orang-
orang akan ”memproyeksikan” kepribadiannya jika disodori dengan stimulus ambigu dan tidak
terstruktur dan kesempatan yang tidak dibatasi untuk merespons. Bayangkan sekelompok
orang yang berbaring di lantai, mamandang sederet awan yang bentuknya kabur, yang sama, di
angkasa. Menurut para pendukung tes kepribadian proyektif, bagaimana setiap orang
memahami barisan awan tersebut menyiratkan tentang kepribadian orang itu. Sejauh analogi
ini, tes kepribadian proyektif serupa dengan deretan awan yang diperlihatkan psikolog kepada
klien. Klien diberi kebebasan untuk memahami stimulus tersebut dengan cara apa pun yang
dipilihnya, mereka tidak dibatasi oleh pilihan-ganda atau pilihan benar/salah. Respons klien
dapat dibandingkan dengan respons orang-orang lain di dalam kelompok standar, dan psikolog
kemudian akan membentuk hipotesis tentang kepribadian klien berdasarkan respons mereka.

Kurangnya objektivitas, khususnya di dalam pemberian skor dan interpretasi, menyoroti


kelemahan yang paling sering dikutip tentang tes kepribadian proyektif. Para kritikus tes
proyektif menekankan bahwa tes proyektif terlalu inferensial untuk dapat dinilai kuat secara
empiris; artinya, mereka terlalu menganndalkan pada cara unik seorang psikolog dalam
memberi skor dan menginterpretasikan respons seorang klien (Hunsley, Lee & Wood, 2003). Di
dalam sebuah tes objektif respons seorang klien haruslah berupa ”benar” atau ”salah”, skornya

15
telah distandarkan dan konsisten. Akan tetapi, di dalam tes proyektif yang masing-masing
kliennya menghasilkan respons yang unik, pemberian skor bisa bervariasi di antara berbagai
psikolog. Di samping itu, setelah item-item diskor, proses melekatkan skor-skor tersebut,
menurut banyak orang, jauh kurang sistematis dan lebih idiosinkratik di dalam tes proyektif.
Bahkan, mau tidak mau, popularitas tes proyektif semakin menurun dalam beberapa dekade
terakhir. Ini memuaskan para kritikus yang mengklaim bahwa reliabilitas dan validitas mereka
tidak cukup bagi psikolog untuk memakainya atau bagi program-program pascasarjana untuk
mengajarkannya (misalnya, Lilienfeld, Wood & Garb, 2000) .

Akan tetapi, para ahli lain di bidang tes kepribadian proyektif berargumentasi dengan
gigih untuk membela penggunaannya (Meyer & Viglione, 2008). Mereka menunjuk pada aset-
aset unik tes proyektif, seperti misalnya fakta bahwa mereka tidak terlalu ”mudah ditipu” seperti
tes objektif: “Mengingat penelitian tentang kemampuan manusia untuk menciptakan wajah
palsu kesehatan mental, penilaian kepribadian yang menggunakan metode-metode [proyektif]
memberikan sarana kepada psikolog untuk menunjukkan masalah-masalah emosional
seseorang yang sesungguhnya” (Fowler & Groat, 2008, hlm. 491). Mereka juga menunjuk pada
data empiris, misalnya tinjauan 184 studi meta-analisis tentang karakteristik psikometri tes
kepribadian yang menemukan rehabilitas dan validitas metode-metode proyektif yang lazim
digunakan seperti Metode Bercak Tinta Rorschach dan Tes Apersepsi Tematik (TAT), jika
diskor secara sistematis dan akurat, kira-kira setara dengan rehabilitas dan validitas tes
kepribadian objektif yang lazim digunakan (Meyer, 2004). Akan tetapi, para kritikus
mengemukakan keraguan serius tentang metode-metode dan data yang digunakan untuk
mendukung kesimpulan ini. Maka kontroversi terus berlanjut. Meskipun tes kepribadian tidak
sepopuler dulu, dan sebagian pencela mengutuk kaiannya yang masih berlanjut, berbagai
survei terhadap para psikoIog menunjukkan bahwa sebagian, termasuk Rorschach, TAT, dan
tes melengkapi kalimat, teyap menjadi bagian yang sangat signifikan dari psikologi klinis
kontemporer misalnya, Watkins, Campbell, Nieberding & Hallmark, 1995).

1. Metode Bercak Tinta Rorschach

Pada 1921, Hermann Rorschach menciptakan Metode Bercak Tinta Rorschach.


Rorschach adalah seorang psikiater Swiss yang, saat masih anak-anak, memainkan sebuah
permainan yang para partisipannya melihat bercak tinta yang tidak jelas bentuknya dan
mengatakan apa yang mereka lihat di dalam bercak-bercak tersebut. Setelah dewasa, ia
memutuskan untuk menerapkan metode serupa pada pasien-pasiennya, dengan hipotesis
bahwa respons mereka akan mengungkapkan karakteristik kepribadian mereka (Weiner, 2004).

Untuk tesnya, Rorschach menciptakan 10 bercak tinta, 5 hanya dengan tinta hitam dan
5 lainnya dengan banyak warna. Pemberian tes berlangsung dalam dua fase. Di dalam fase
”respons” atau ”asosiasi bebas”, psikolog
menyodorkan kartu bercak tinta satu per satu dan
bertanya ”Ini apa”? dan menuliskan kata demi kata
respons-respons klien. Setelah klien merespons
kesepuluh kartu, fase ”penyelidikan” dimulai, psikolog
membacakan respons klien keras-keras dan meminta
klien untuk mendeskripsikan di mana tepatnya lokasi

16
masing-masingmasing respons dan apa fitur-fitur bercak tinta yang menyebabkan klien
menawarkan respons tersebut. Sebuah simulasi bercak tinta Rorschach tampak pada gambar
disamping.

Ketika Rorschach memublikasikan bercak tintanya pada 1921, mereka tidak disertai
oleh metode pemberian skor. Rorschach wafat sekitar setahun kemudian, dan tanpa
kehadirannya, banyak sistem skor dibuat dan digunakan secara independen di Amerika Serikat
dan Eropa. Akhirnya, John Exner menggabungkan berbagai aspek dari banyak sistem
penskoran untuk menciptakan Sistem Komprehensif, yang telah menjadi metode skor
Rorschach yang paling lazim digunakan (Exner, 1986; Wood, Nezworski, Lilienfeld & Garb,
2003). Sistem Komprehensif Exner mencakup data standar yang dikumpulkan dari ribuan anak
dan orang dewasa jadi, Rorschach dapat digunakan pada klien di hampir seluruh rentan
kehidupan.

Jika seorang psikolog klinis menggunakan Sistem Komprehensif Exner, setiap respons
Rorschach disandikan dengan banyak cara. Pemberian skor sebuah respons Rorschach sangat
berkaitan dengan proses klien dalam memahami bercak itu sebagai isi persepsi klien tersebut.
Dengan kata lain, bagaimana klien memersepsikan bercak tidak kurang penting dibandingkan
apa yang dilihatnya. Sebagian kecil contoh dari banyak variabel yang diperiksa oleh Sistem
Komprehensif termasuk yang berikut:

o Lokasi. Apakah respons itu melibatkan bercak tinta secara keseluruhan,


sebagian besar dari bercak tinta itu, atau sebuah detail kecil?
o Determinasi. Apakah aspek bercak tinta-bentuk, warna, gelap-terang, dan lain-
lain yang menyebabkan klien membuat respons tertentu?
o Kualitas Bentuk. Apakah respons itu dapat diidentifikasi dengan mudah dan
konvensional? Atau apakah respons itu unik atau terdistorsi?
o Papuler. Masing-masing kartu memiliki satu atau dua respons yang relatif sering
terjadi. Seberapa sering klien menawarkan respons-respons populer ini?
o Isi apakah jenis objek-objek yang muncul dengan frekuensi yang tidak lazim di
dalam respons klien? Orang, binatang, makanan, pakaian, ledakan, bagian-
bagian tubuh, alam atau kategori-kategori item lain?

Setelah masing-masing respons diskor, skor-skor kemudian digabungkan menjadi


berbagai indeks, dan skor serta indeks tersebut kemudian diinterpretasikan. Meskipun strategi
interpretasinya sedikit bervariasi dan sebagian mungkin lebih berbasis empiris dibandingkan
yang lain, salah satu aturan mudahnya adalah bahwa cara klien memahami bercak tinta paralel
dengan cara klien memahami dunia. Simak, sebagai contoh, variabel Kualitas Bentuk yang
dideskripsikan di atas. Klien-klien yang secara konsisten menawarkan persepsi bercak tinta
yang atipikal dan terdistorsi diduga melakukan hal serupa di dalam hidupnya salah
memersepsikan situasi, menggunakan pertimbangan yang terdistori, atau memahami berbagai
hal dengan cara yang tidak konvensional. Atau simak variasi Lokasi. Seorang klien yang
responsnya hampir selalu memasukkan bercak tinta secara keseluruhan mungkin cenderung
fokus pada ”gambaran besar” kehidupan daripada ”menguraikannya” menjadi bagian-bagian
kecil atau memperhatikan detail, sementara seorang klien yang responsnya selalu melibatkan

17
bagian-bagian yang sangat kecil dari bercak tinta mungkin cenderung terlalu fokus pada detail
"gambaran besar” di dalam hidupannya sehari-hari.

Secara bersama-sama, begitu banyaknya variabel yang dihasilkan oleh Sistem


Komprehensif menunjukkan banyaknya aspek kepribadian. Akan tetapi, bagi sebagian orang,
landasan psikometri yang mendasari Rorschach menimbulkan keraguan pada kesimpulan klinis
yang dapat ditawarakannya. Para pendukung Rorschach menegaskan bahwa data rehabilitas
tentang skor, khususnya rehabilitas tes-retes, cukup kuat menurut beberapa studi dan bahwa
validitas Rorschach telah terukur di tingkat yang sebanding dengan tes MMPI (misalnya, Meyer,
2004; Rose, Kaser-Boyd & Maloney, 2001). Akan tetapi, banyak kritikus Rorschach telah
menunjuk beberapa kelemahan: Banyak studi telah menemukan data reliabilitas dan validitas
yang lemah; pedoman pemberian skor dan interpretasinya kompleks, dan para psikoIog tidak
selalu mengikuti mereka seperti seharusnya, hasil seringkali tidak dapat membedakan mereka
yang memiliki gangguan tertentu dengan merema yang tidak memiliki gangguan; disamping itu,
standar untuk Rorschach mungkin tidak memadai untuk sebagian populasi (sebagaimana
dirangkum oleh Wood dkk., 2003; lihat Wood dkk., 2010). Kontroversi tentang status ilmiah
Rorschach telah semakin memanas selama beberapa tahun terakhir, dan meskipun tetap
digunakan secara luas dan disegani oleh banyak psikologi klinis saat ini, tetapi masa depan
jangka panjang Rorschach sangat tergantung pada bagaimana kontraversi tersebut diatasi.

2. Tes Apersepsi Tematik

Tes apersepsi tematik atau teater yang dipublikasikan oleh Henry Murray dan
Cristiana Morgan serupa dengan Rorschach arti bahwa tes ini menyadaro klien dengan
serangkaian kartu, masing-masing menampilkan sebuah stimulus ambigu. Akan tetapi berbeda
dengan kartu kartu Rorschach, kartu kartu TAT menampilkan adegan-adegan interpersonal,
bukan bercak tinta. Tugas klien adalah mengarang sebuah cerita untuk masing-masing adegan
dalam kartu. Mereka diminta tidak hanya mempertimbangkan apa yang sedang terjadi di dalam
adegan itu saat ini tetapi juga apa yang terjadi sebelumnya dan apa yang mungkin terjadi
setelahnya. Mereka juga diminta untuk mendeskripsikan apa yang mungkin sedang dipikirkan
dan dirasakan oleh tokoh-tokohnya.

TAT terdiri atas 31 kartu, tetap psikolog biasanya memilih bagian kartu-kartunya sendiri
seringkali sekitar 10 untuk diberikan pada klien tertentu. Selama klien bercerita dengan suara
keras dan psikolog menuliskan ceritanya, psikologi dapat melontarkan berbagai pertanyaan,
selama klien bercerita untuk memunculkan lebih banyak informasi dan juga dapat
mengingatkan klien tentang instruksi awalnya. Henry Murray (1943) menawarkan sebuah
sistem pemberian skor untuk teater yang menekankan bahwa kebutuhan tokoh-tokoh
utamanya, tekanan dari lingkungan dan variabel-variabel lain, yang lain telah menawarkan
sistem sistem pemberian skor formal tambahan titik saat ini, TAT sering dianalisis tanpa
pemberian skor formal sama sekali, kebanyakan psikolog klinis dewasa tampaknya
mengandalkan inferensi impresionisme sendiri yang menghasilkan penggunaan TAT yang aneh
dan tidak konsisten. Jadi interpretasi TAT seringkali lebih bersifat seni daripada ilmu
pengetahuan. Cerita seorang klien dapat diinterpretasikan dengan cara tertentu oleh seorang
psikolog tetapi dengan cara yang sangat berbeda oleh psikolog lain.

18
Sebagai hasil prosedur pemberian skor dan interpretasi non empiris ini bukan tes yang
lebih disukai di kalangan psikologi klinis yang bersikeras pada metode metode assesmen yang
didukung oleh data psikometri yang kuat. Validitas dan reliabilitas data kurang kuat
dibandingkan tes tes kepribadian lain sebagian besar karena pemberian skor
penginterpretasian dan administrasinya tidak seragam di kalangan para psikologi. Sendiri
mengatakan bahwa kesimpulan kesimpulan yang dicapai oleh sebuah analisis cerita teater
harus dianggap sebagai penuntun atau hipotesis kerja yang baik yang akan di isi dengan
metode metode lain bukan sebagai fakta-fakta yang terbukti. dicapai oleh sebuah analisis cerita
teater harus dianggap sebagai penuntun atau hipotesis kerja yang baik yang akan di isi dengan
metode metode lain bukan sebagai fakta-fakta yang terbukti.

3. Tes Melengkapi Kalimat

Tes melengkapi kalimat di dalam tes melengkapi kalimat, stimulus ambigunya bukan
bercak-bercak tinta atau adegan-adegan interpersonal. sebaliknya, mereka berupa awal
kalimat. Asumsinya adalah bahwa kepribadian seorang klien diungkapkan oleh cerita penutup
yang mereka tambahkan dan kalimat-kalimat yang mereka ciptakan. Meskipun ada banyak tes
proyektif yang menggunakan format melengkapi kalimat, tes KALIMAT TIDAK LENGKAP
ROTTER. RISB sejauh ini adalah yang paling luas dikenal dan paling lazim digunakan. RISB
yang pertama kali dipublikasikan pada (1950) dengan edisi revisi termasuk termasuk versi
(SMA, Perguruan Tinggi dan dewasa yang muncul pada tahun 1992). RISB mencakup 40 induk
kalimat tertulis yang mengacu pada beragam aspek kehidupan klien. Masing-masing induk
kalimat diikuti oleh ruang kosong untuk dilengkapi oleh klien. Simulasi induk kalimat yang
berupa dengan yang ada di dalam RISB termasuk:

 Saya menikmati
 Yang sangat membuat buat saya gusar
 Saya merasa sangat gugup
 Saat paling membanggakan saya
 Kelemahan terbesar saya

Seperti TAT, RISB memiliki sebuah sistem pemberian skor normal Tetapi pada psikologi
klinis mungkin tidak menggunakannya secara reguler, dan ketika menggunakannya, pemberian
skornya sangat tergantung pada pertimbangan klinis psikolog yang bersangkutan. Dengan
demikian, kedudukan ilmu nya dipertanyakan akan tetapi RISB dapat menjadikan lebih rinci
atau lebih lengkap. sebagai contoh seorang psikolog klinis mungkin menyimpulkan bahwa
seorang klien depresi setelah klaim tersebut mendapatkan skor yang sangat tinggi pada skala
depresi namun skor skala itu saja tidak menawarkan penjelasan apapun tentang aspek aspek
kualitatif depresi atau depresinya tentang apa. Jika klien mencapai item-item yang disimpulkan
di atas dengan mengatakan bahwa “Saya menikmati….. hanya sedikit sekali sekarang setelah
pasangan hidup saya meninggal”, “Membuat saya sangat gusar……bahwa hidup begitu tidak
adil”, dan “Saya merasa sangat gugup……..ketika yang memikirkan tentang hidup sendiri”,
psikolog klinis tersebut dapat menghipotesis kan bahwa depresi client sangat berkaitan dengan
hilangnya hubungan signifikan ini.

19
D. ASESMEN PERILAKU

Kebanyakan psikologi klinis akan menganggap sebuah ukuran objektif dan proyektif
yang dideskripsikan, sejauh ini teknik tradisional memiliki beberapa asumsi dasar yang sama:

 Kepribadian adalah sebuah konsep internal yang stabil. Dengan kata lain, perilaku
terutama ditentukan oleh karakteristik atau disposisi “di dalam diri” orang itu.
 Menilai kepribadian membutuhkan derajat inferensi yang tinggi. Artinya, psikologi
klinis menggunakan data yang disediakan oleh tes tes kepribadian (misalnya, skala-
skala MMPI-2 respon Rorshcah) untuk deduksi atau memberikan spekulasi tentang
perilaku perilaku bermasalah yang secara actual dialami klien.
 Perilaku klien adalah isyarat bagi isu atau masalah yang mendasari, yang
tersimpan dalam dalam, yang kadang-kadang mengambil bentuk diagnosis DSM.

Asesmen Perilaku menantang semua asumsi ini dan menawarkan pendekatan


asesmen yang berbeda secara fundamental Menurut asesmen perilaku, perilaku klien bukan
isyarat dari isu atau masalah yang mendasarinya sebaliknya perilaku itulah masalahnya. Cara
lain untuk mengatakan ini adalah bahwa perilaku yang diperlihatkan oleh seorang klien adalah
sampel dari masalah itu sendiri bukan isyarat perilaku yang lebih dalam, yang mendasarinya.
Sebagai contoh apabila seorang anak 9 tahun sering bertengkar dengan guru di sekolah maka
bertengkar dengan guru itulah masalahnya tidak perlu dan tidak bijaksana menurut para penilai
perilaku, untuk memahami pertengkaran baik sebagai gejala dari sebuah isu yang lebih
mendalam, misalnya gangguan mengembangkan oposisional. Jadi untuk menilai masalahnya,
teknik-teknik penilaian seharusnya melibatkan sesedikit mungkin inferensi. Alih-alih bercak tinta
atau kuesioner yang mungkin akan menjagamu masa lalu secara tidak langsung penilai
behavioral akan memiliki cara paling langsung untuk mengukur perilaku bermasalah Zach.
Observasi di kelasnya. Dengan menolak bahwa zat yang mempunyai gangguan internal atau
ciri sifat tertentu yang mendasari pertengkarannya penilai perilaku mendemonstrasikan
penolakan mereka terhadap ide yang lebih fundamental bahwa karakteristik kepribadian internal
yang menetap menyebabkan semua perilaku. Namun demikian penilaian perilaku berpendapat
bahwa faktor-faktor situasional eksternal menentukan perilaku kita. Dengan demikian penilaian
perilaku adalah sebuah pendekatan yang secara unik bersifat empiris yang mampu
memanfaatkannya penggunaan ukuran-ukuran yang valid dan sensitif tentang perilaku dan
peristiwa kontemporer yang didefinisikan dengan baik untuk menangkap interaksi perilaku
lingkungan.

1. Metode Asesmen Perilaku

Teknik paling esensial di dalam asesmen perilaku adalah observasi perilaku atau
observasi sistematis langsung terhadap perilaku seorang klien di lingkungan alamiah. Langkah
pertama di dalam observasi perilaku melibatkan Identifikasi dan pendefinisian perilaku yang
bermasalah secara operasional. Ini terjadi melalui wawancara, daftar perilaku konsultasi
dengan mereka yang telah mengamati klien (anggota keluarga mereka bekerja, guru dan lain-
lain disebut atau pemantauan diri sendiri atau klien). Begitu perilaku target diidentifikasi dan
didefinisikan, observasi sistematis terjadi, proses ini biasanya melibatkan selling atau
menghitung jumlah frekuensi durasi atau intensitas perilaku target selama periode periode

20
waktu yang ditetapkan titik pertama secara garis besar dan setelah itu dengan interval interval
reguler untuk mengukur kemajuan dibandingkan garis dasar tersebut. Observasi langsung
semacam itu dapat menyediakan penilaian perilaku bermasalah yang jauh lebih akurat
dibandingkan sekadar meminta klien untuk mengingat atau merangkumnya secara verbal
selama wawancara atau pada sebuah kuesioner. Jika observasi di lingkungan alamnya tidak
mungkin dilakukan penilaian perilaku dapat diukur mengatur sebuah observasi Analog dan
mereka berusaha mereplikasi lingkungan dunia nyata di klinik dan mengobservasi respon
respon klien di sana.

Observasi perilaku biasanya juga termasuk mencatat kejadian kejadian yang terjadi tepat
sebelum dan setelah perilaku target. Tergantung kliennya, perilaku target dan lingkungannya
pencatatan dapat dilakukan oleh individu-individu dengan jumlah berapapun termasuk guru
orang tua teman atau anggota keluarga atau kelainan. Mendokumentasikan kejadian-kejadian
ini memungkinkan psikolog klinis untuk memahami fungsionalitas sebuah perilaku tertentu atau
bagaimana hubungan perilaku tersebut dengan lingkungan dan kemungkinan disekitarnya.
Sebagai contoh mari kita simak kembali Zach yang berumur 9 tahun jika psikologi klinis Dr.Daiz
melaksanakan observasi perilaku di kelas atau di ikuti oleh konsekuensi tertentu misalnya
perhatian dari guru atau dikeluarkan dari kelas. kejadian-kejadian di sekitar perilaku
kemungkinan “jika….maka….yang telah ia pelajari tentang hasil tindakannya dapat memberikan
informasi penting tentang fungsionalitas perilaku target.

2. Teknologi Dalam Asesmen Perilaku

Khususnya selama beberapa tahun terakhir, komputer dan bentuk-bentuk teknologi lain
telah digunakan secara produktif oleh para penilai perilaku. di dalam deskripsi di atas tentang
observasi perilaku terhadap Dr Davis mungkin dalam menggunakan komputer laptop atau
smartphone untuk mencatat observasinya. Banyak program software telah muncul, yang
memungkinkan untuk mencatat banyak variabel sekaligus, membuat grafik dan melakukan
analisis statistik secara instan berbagai pola perilaku dan fitur-fitur canggih yang menghemat
waktu lainnya. Faktanya, kelainan sendiri bisa mendapatkan manfaat dan penggunaan
teknologi dalam penilaian perilaku, Sebagai contoh, klien sering melakukan pemantauan diri
baik sebagai cara untuk menetapkan perilaku target atau mengukur perubahannya dari waktu
ke waktu. pantauan diri secara tradisional telah dilakukan dengan catatan harian pensil dan
kertas, tetapi komputer dan smartphone menawarkan sebuah metode yang lebih nyaman untuk
digunakan. kebanyakan perangkat memiliki fitur menghitung waktu dan alarm yang dapat
mengingatkan kepatuhan klien dengan jadwal pemantauan dirinya.

21
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Teknik-teknik asesmen kepribadian yang secara tradisional digunakan oleh para psikologi
klinis pada umumnya dapat dibagi menjadi tes objektif dan tes proyektif. Tes kepribadian
objektif biasanya adalah kuesioner pensil dan kertas yang menampilkan stimulus tidak ambigu
kisaran jawaban yang terbatas dan dengan format laporan diri. Sebagian tes ini menilai sikap
orang yang mengerjakan tes maupun variabel yang relevan secara klinis yang membantu di
dalam interpretasi hasil tes. Contoh-contoh tes kepribadian objektif termasuk MMPI-2 yang
fokus pada berbagai tipe-tipe psikopatologi. MCMI-III yang fokus pada gangguan gangguan
kepribadian NEO-PI-R yang fokus pada ciri-ciri sifat kepribadian normal; CPI-III yang lebih fokus
pada kekuatan dari pada gangguan dan BDI-II yang relatif singkat dan lebih tertarget yang
hanya menilai depresi saja titik tes kepribadian proyektif melibatkan stimulus ambigu dan
kisaran respon tak terbatas dan oleh banyak pihak dianggap kurang kuat secara psikometri
dibandingkan tes objektif. Contoh tes kepribadian proyektif termasuk teknik bercak tinta cat
teater yaitu klien merespon adegan-adegan interpersonal bukan bercak tinta dan tes
melengkapi kalimat, yaitu klien mengisi bagian akhir induk kalimat yang tidak selesai, berbeda
dengan asesmen klinis tradisional yang melibatkan pendekatan yang lebih langsung dan kurang
inferensial pada masalah klien. Penilai perilaku menerapkan teknik-teknik seperti observasi
perilaku dan pantauan diri oleh klien dengan keyakinan bahwa perilaku bermasalah itu Itulah isu
klinisnya dan bukan sebagai isyarat isu yang mendasari, yang lebih dalam. Terlepas dari teknik-
teknik yang digunakan ketika menilai kepribadian atau perilaku psikologi klinis seharusnya
menggunakan multi metode mempertimbangkan metode-metode penilaian berbasis bukti untuk
masalah masalah klien tertentu dan mengupayakan kompetensi kultural.

B. Saran

Dalam melakukan asesmen kepribadian dan asesmen perilaku harus memperhatikan


tehnik-tehnik yang telah di tetapkan sesuai dengan kenyamanan klien seperti zaman sekarang
teknologi dapat di manfaatkan sebagai media dalam melakukan asesmen sehingga psikolog
dapat menggunakan dan memanfaatkan teknologi yang ada pada saat ini, selain itu psikolog
juga harus memperhatikan alat tes apa yang di gunakan dalam asesmen kepribadian maupun
perilaku dengan berpatokan pada masalah dan kenyamanan yang di rasakan oleh klien.

Menyadari bahwa penyusun masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penyusun
akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber –
sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.
Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi
terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di jelaskan. Demikian makalah yang
penyusun buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang
ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada penyusuApabila ada terdapat kesalahan
mohon dapat memaafkan dan memakluminya, karena penyusun adalah hamba Allah yang tak
luput dari salah khilaf, Alfa dan lupa.

22
Menyadari bahwa penyusun masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penyusun
akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber –
sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan. Untuk saran bisa
berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan
dari bahasan makalah yang telah di jelaskan. Demikian makalah yang penyusun buat, semoga
dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan
sampaikan kepada penyusuApabila ada terdapat kesalahan mohon dapat memaafkan dan
memakluminya, karena penyusun adalah hamba Allah yang tak luput dari salah khilaf, Alfa dan
lupa.

23
DAFTAR PUSTAKA

Gregory, RJ. 2013. Tes Psikologi: Sejarah, Prinsip dan Aplikasi. Jakarta:Erlangga.

Pomerantz M. Andrew .(2014). Psikologi Klinis Ilmu Pengetahuan, Praktik, dan Budaya
Edisi 3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yadnyawati Ida Ayu G. (2019). Tes Kepribadian Remaja di Era Mellineal (Asesmen untuk
Bimbingan Konseling). Bandung : Jurnal Proceeding.

24