Anda di halaman 1dari 8

C. Gangguan Keseimbangan Asam Basa 1.

Ketidakseimbangan Asam Basa Ketidakseimbangan asam basa adalah terganggunya homeostatis dari kadar ion hydrogen (H+) pada cairan tubuh (Price dan Wilson, 2006). Ketidakseimbangan asam basa adalah terdapat empat jenis yang meliputi asidosis respiratorik, alkalosis respiratorik, asidosis metabolik, dan alkalosis metabolik (Suzanne & Bare, 2002). Sebelum membicarakan gangguan keseimbangan asam basa maka yang perlu diketahui adalah a. pH pH adalah pencerminan rasio antara asam terhadap basa dalam cairan ekstrasel. pH dalam serum dapat diukur dengan menggunakan pH meter, atau dihitung dengan mengukur konsentrasi bikarbonat dan karbondioksida serum dan menempatkan nilai-nilainya ke dalam persamaan Handerson- Hasellbach yaitu pH= pK+log HCO3-/ CO2 dalam persamaan ini HCO3- adalah konsentrasi bikarbonat dalam serum, dan CO2 adalah konsentrasi CO2 yang larut dalam serum. pK mengacu pada logaritme negative konstanta disosiasi (nilai tetap untuk system bikarbonat-karbondioksida pada suhu tubuh normal). pK mencerminkan derajat disosiasi bikarbonat dan karbondioksida untuk menerima atau memberikan sebuah ion hydrogen. pK bernilai 6,1. Sedangkan pH mencerminkan konsentrasi ion hydrogen dalam larutan. Semakin besar konsentrasi ion hydrogen, maka akan semakin tinggi timgkat keasaaman suatu larutan dan semakin rendah pHnya. Dan sebaliknya

Semakin tinggi pHnya, maka akan semakin rendah konsentrasi ion hydrogen dan semakin basa larutannya (Corwin, 2001). b. Asam Asam adalah suatu substansi yang mengandung 1 atau lebih ion H+ yang dapat dilepaskan dalam larutan. Suatu asam dapat kuat atau lemah tergantung pada derajat penguraiannya untuk membebaskan ion H+. Asam kuat hampir terurai sempurna dalam larutan sehingga melpaskan ion H+ lebih banyak. Sedangkan asam lemah hanya terurai sebagian dalam larutan sehingga sedikit ion H+ yang dilepaskan (Price & Wilson, 2006). c. Basa Basa adalah substansi yang dapat menangkap atu bersenyawa dengan ion H+ sebuah larutan (akseptor proton). Basa kuat terurai dengan mudah dalam larutan dan bereaksi kuat dengan asam. Sedangkan basa lemah hanya sebagian yang terurai dalam larutan dan bereaksi kurang kuat dengan asam (Price & Wilson, 2006). d. Buffer Istilah buffer menjelaskan substansi kimia yang mengurangi perubahan pH dalam larutan yang disebabkan penambahan asam maupun basa. Pengertian buffer sendiri adalah campuran asam lemah dan garam basanya atau basa lemah dan garam asamnya (Price & Wilson, 2006). System buffer utam tubuh adalah sitem buffer bikarbonat asam karbonik yang nilai normalnya ada 20 bagian bikarbonat (HCO3-) untuk satu bagian asam karbonik (H2CO3). Jika rasio berubah maka nilai pH akan berubah.

Empat pasang atau sistem buffer utama dalam tubuh yang membantu memelihara pH agar tetap konstan adalah: 1) Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat (NaHCO3) dan H2CO3. 2) Sistem buffer fosfat monosodium-disodium (Na2HPO4 dan NaH2PO4) 3) Sistem buffer oksihaemoglobin-hemoglobin dalam eritrosit (HbO2- dan HHb) 4) Sistem buffer protein (Pr- dan HPr) Organ uang betanggung jawab dalam pengaturan keseimbangan asam basa adalah meliputi: 1) Ginjal Ginjal mengatur kadar bikarbonat dalam cairan ekstraseluler, ginjal mampu meregenerasi ion-ion bikarbonat dan juga mereabsorpsi ion-ion dari sel-sel tubulus ginjal.dalam kasus asidosis respiratorik dan asidosis metabolic, ginjal mengekresikan ion-ion hydrogen dan menyimpan ion-ion bikarbonat untuk mempertahankan keseimbangan. Ginjal jelas tidak dapat mengkompresi asidosis metabolik yang diakibatkan oleh gagal ginjal. Kompensasi ginjal untuk ketidakseimbangan secara relatif lambat (dalam beberapa jam atau hari). 2) Paru-paru Paru-paru dibawah kendali medulla otak, mengendalikan karbon dioksida, dan karena itu juga mengendalikan kandungan asam karbonik dari cairan ektraseluler. Paru-paru melakukan hal ini dengan menyesuaikan ventilasi sebagai respon terhadap respon jumlah karbon dioksida dalam darah. Kenaikan dari tekanan parsial karbondoksida dalam darah arteri (PaCO2)

merupakan simultan yang kuat untuk respirasi. Tentu saja tekanan parsial oksigen dalam arteri (PaO2) juga mempengaruhi respirasi.. meskipun demikian efek yang ditimbulkan tidak sejelas efek yang dihasilkan oleh PaCO2. Pada keadaan asidosis metabolic, frekuensi pernapasan meningkat sehingga menyebabkan eliminasi karbon dioksida yang lebih besar (untuk mengurangi kelebihan asam). Pada keadaan alkalosis metabolic, frekuensi pernapasan diturunkan, dan menyebabkan penahanan karbondioksida (unutk meningkatkan beban asam). 2. Asidosis Respiratorik Tugasnya icha 3. Alkalosis Respiratorik Tugasnya icha 4. Asidosis Metabolik a. pengertian asidosisi metabolik Asidosis metabolik adalah gangguan klinis yang ditandai oleh rendahnya pH (peningkatan konsentrasi hidrogen) dan rendahnya konsentrasi bikarbonat plasma (Suzanne & Bare, 2002). Asidosis metabolik adalah gangguan sitemik yang ditandai dengan penurunan primer kadar bikarbonat plasma sehingga menyebabkan penurunan pH menjadi 7,35 dan peningkatan H+, HCO3, ECF < 22 mEq/L). Kompensasi pernapasan kemudian segera dimulai untuk menurunkan PaCO2 melalui hiperventilasi sehingga asidosis metabolic jarang terjadi secara akut (Price & Wilson, 2006).

b. Etiologi Etiologi asidosis metabolik dapat dibagi menjadi dua bentuk berdasarakan pada nilai-nilai gap anion yaitu: 1) Asidosis metabolic gap anion tinggi Terjadi akibat penumpukan berlebih asam terikat. Hal ini terjadi dalam kasus: a) Syok b) Ketoasidosis diabetic c) Kelaparan d) Intoksikasi alcohol e) Menelan substansi toksik f) Overdosisi salisilat, methanol, atau formaldehid g) Kegagalan ekresi urea h) Gagal ginjal akut atau kronis. 2) Asidosis metabolic gap anion normal Terjadi akibat krhilangan langsung bikarbonat. Hal ini terjadi pada kasus: a) Kehilangan melaui saluran cerna Diare, ileostomi, fistula pancreas, biliaris, atau usus halus,

uterosigmoidestomi b) Kehilangan melalui ginjal Asidosis tubukus proksimal ginjal, hipoaldosteronisme, inhibitor karbonik anhidrase. c) Peningkatan beban asam

Ammonium klorida, cairan hiperalimentasi d) Lain-lain Pemberian IV larutan salin secara cepat, pemberian nutrisi parenteral tanpa bikarbonat atau zat terlarut yang menghasilkan bikarbonat. c. Manifestasi klinis 1) Gangguan neurologis : kelelahan, sakit kepala, kelam pikir, mengantuk, Mual dan muntah 2) Peningkatan frekuensi napas, kusmaul menunjukkan adanya hiperventilasi kompensatorik 3) Gangguan fungsi tulang: mekanisme osteodistropi ginjal 4) Apabila pH dibawah 7 maka akan ditemukan: Penuruan TD, kulit dingin dan kusam, vasodilatasi perifer, penurunan curah jantung, disritmia 5) HCO3 serum turun sampai dibawah 15 mEq/L d. Pemeriksaan diagnosis 1) analisis gas darah memperlihatkan penurunan kadar bikarbonat kurang dari 22 miliekuivalen per liter 2) kompensasi respiratori, maka kadar karbon dioksida akan menurun, yang mencerminkan kenyataan bahwa paru meningkatkan kecepatan

pernapasan untuk mengeluarkan lebih banyak asam. Tekanan parsial karbon dioksida akan kurang dari 35 mmhg.respiratori akan cepat dan dangkal 3) Kompensasi respirasi berhasil, maka ph plasma akan rendah tetapi dalam rentang normal 4) Ph urin akan basa apabila funggsi ginjal normal, karena ginjal akan berusaha mengekskresikan lebih banyak asam untuk memulihkan ph ke

tingkat normal 5) Apabila asidosis metobolik disebabkan oleh ketoasidosis diabetes maka terdapat: peningkatan glukosa darah dan urin serta ketonuria dan penurunan ph urin e. Pentalaksanaan 1) Secara spesifik didasarkan pada pengobatan penyebab gangguan 2) Mungkin diperlukan pemberian natrium bikarbonat untuk meningkatkan ph secara cepat apabila pasien beresiko meninggal.

5. Alkalosis Metabolik Alkalosis metabolik adalah peningkatan ph arteri akibat gangguan non respiratori a. Etiologi Pengeluaran asam yang berlebihan, asupan basahmeningkat, dehiodrasi dan perubahan kadar elektrolit ekstrasel, yang menyebabkan pergeseran dalam elektrolit plasma, pengeluaran asam, peningkatan kadar bikarbonat, penurunan volume cairan ekstrasel dan perubahan kadar elektrolit ekstrasel b. Gambaran klinis 1) kelainan neurologis muncul secara lambat, dan mugkin berupa konfusi,reflek yang hiper aktif,spasme dan tetani 2) ph yang lebih dari 7,55 dapat terjadi distermmia dan koma akibat perubahan depolarisasi neuron dan sel otot jantung

c.

Diagnostik 1) analisis gas darah memperlihatkan peningkatan kadar bikarbonat di atas 88 miliekuivalen poer liter

2) kompensasi resiratori, maka kadar karbon dioksida akan meningkat yang mencerminkan kenyataan bahwa paru memperlambat kecepatan pernapasan untuk menahan lebih banyak asam, dan ph akan kembali ke normal. 3) Kompensasi respirasi berhasil, maka ph plasma akan meningkat tetapi dalam rentang normal 4) Ph urin akan basa apabila funggsi ginjal normal, karena ginjal akan berusaha mengekskresikan lebih sedikit dan lebih banyak basa untuk mengembalikan ph ke tingkat normal d. Penatalaksanaan 1) Apabila penyebabnya adalah defisiensi klorida atau kalium maka ion ion tersebut harus diganti 2) Apabila penyebabnya adalah penurunan volume cairan ekstrasel maka diperlukan penggantiannya dengan larutan salin ( garam fisiologis)