Anda di halaman 1dari 18

PEMBUATAN ESSENS ETIL ASETAT

DISUSUN OLEH:
Agus Wahyudianto

(13.004)

Dentonia Kharisma Aulia

(13.016)

Ilvi Lailatul Fitria

(13.025)

Whinny Wibawati Pertiwi (13.047)

AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN


MEI 2014

BAB I
PENDAHULIAN

1.1 Latar Belakang


Pada era globalisasi saat ini, sudah banyak masyarakat yang menggunakan bahan
perisa makanan sintesis baik nabati maupun hewani. Hal ini karena sifat dari perisa
makanan tersebut memiliki sifat fisik yang mirip atau bahkan menyerupai perisa
makanan secara alami. Meski masih banyak yang masih menggunakan perisa alami,
namun tidak sedikit masyarakat yang lebih memilih menggunakan perisa makanan
sintesis karena lebih mudah dalam penggunaannya (instan). Maka dari untuk memenuhi
penggunaan perisa sintesis, dilakukan proses sintesis kimia yang berasal dari bahan
kimia organik.
Sintesis kimia digunakan untuk membentuk suatu senyawa yang hampir menyerupai
dengan aslinya. Salah satu hasil dari sintesis kimia adalah perisa makanan atau yang
biasa disebut ester. Senyawa ester merupakan senyawa kimia yang sering digunakan
dalam industri kimia. Selain digunakan untuk perisa makanan ternyata senyawa ester
biasa digunakan sebagai pelarut (solvent) pada suatu industri. Salah satu senyawa ester
yang biasa dibuat dan digunakan dalam industri kimia adalah etil asetat.
Pada umumnya, etil asetat (EtOAc) ini digunakan pada industri pembuatan tinta, resin
sintetik, dan bahan adesif, karena sifat fisikanya yang mampu melarutkan beberapa
bahan kimia. Namun seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, etil asetat juga dapat
digunakan sebagai suatu perisa makanan, karena aromanya yang menyerupai arbei. Ada
beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membuat perisa makanan etil asetat. Salah
satunya, dalam praktek ini kami akan membuat perisa makanan sintesis etil asetat dari
etanol dan asam asetat dengan cara reaksi esterifikasi.

1.2 Tujuan
1. Mampu menggunakan peralatan destilasi refluk dan corong pisah
2. Mampu membuat etil asetat dari reaksi antara etanol dan asam asetat dengan
katalisator asam sulfat.
3. Mampu menghitung rendemen etil asetat

4. Mampu mengidentifikasi etil asetat yang dihasilkan

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Dasar teori


Reaksi esterifikasi merupakan reaksi pembentukan ester dengan reaksi langsung
antara suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol. Suatu reaksi pemadatan untuk

membentuk suatu ester disebut esterifikasi. Esterifikasi dapat dikatalis oleh kehadiran
ion H+. Asam belerang sering digunakan sebagai sebagai suatu katalisator untuk
reaksi ini. Pada skala industri, etil asetat di produksi dari reaksi esterifikasi antara
asam asetat (CH3COOH) dan etanol (C2H5OH) dengan bantuan katalis berupa asam
sulfat (H2SO4).
Alkil alkanoat/ Ester adalah sebuah asam karboksilat mengandung gugus -COOH,
dan pada sebuah ester hidrogen pada gugus ini digantikan dengan sebuahgugus
hidrokarbon dari berbagai jenis.Gugus ini bisa berupa gugus alkil sepertimetil atau
etil, atau gugus yang mengandung sebuah cincin benzen seperti fenil.
Ester dapat terhidrolisis dengan pengaruh asam membentuk alkohol danasam
karboksilat.Reaksi hidrolisis tersebut merupakan kebalikan daripengesteran.Disini
senyawa karbon mengikat gugus fungsi COOR adalah alkilalkanoat .Ester
diturunkan dari alkohol dan asam karboksilat. Untuk ester turunan dari asam
karboksilat paling sederhana, nama-nama tradisional digunakan, sepertiformate,
asetat,dan propionate.
Ester yang paling lazim adalah etil asetat, CH 3CO2CH2CH3, suatu pelarut cat dan
cat kuku maupun pelarut untuk perekat. Etil asetat dan ester lain dengan sepuluh
karbon atau kurang merupakan suatu cairan yang mudah menguap dengan bau enak
yang mirip dengan buah-buahan dan sering dijumpai dalam buah-buahan dan bungabungaan. Banyak ester, baik yang dari alam maupun dibuat oleh manusia, yang
digunakan sebagai bahan penyedap (flavoring agent).Bau dan citarasa dari buah-buahan
tertentu dapat disebabkan oleh beberapa ester. Misalnya etil asetat, n-butil asetat, dan
n-pentil asetat semuanya merupakan citarasa dari pisang-pisang.Ester yang terdapat
dari alam yang terbuat dari asam karbiksilat berantai-panjang dan alkohol berantaipanjang

disebut

lilin

(janganlah

dikacaukan

lilin

dengan

bermacam

hidrokarbon,seperti lilin parafin). Kebanyakan bahan yangdisebut lilin biasanya


adalah campuran dua ester atau lebih dan zat-zat lain. Campuran semacam itu merupakan
zat padat yang mudah meleleh, dan jangka leleh yang lebar

(40-90

C), bila

dicampur dengan pelarut organik tertentu dapatlah mudah dioleskan sebagai larutan

pelindung. Misalnya, carnauba wax digunakan secara meluas sebagai pemoles mobil
dan lantai
Ester dari asam karboksilat rendah berat molekulyang tidak berwarna,cairan
mudah menguap dengan bau yang menyenangkan, sedikit larut dalam air. Banyak
yang bertanggung jawab atas aroma dan rasa bunga dan buah-buahan misalnya, asetat
isopentyl hadir dalampisang, metil salisilat dalam wintergreen, dan etil butirat
dalam nanas. Ini dan lainnya ester volatile dengan bau khas digunakan dalam rasa
sintetis, parfum, dan kosmetik.Ester volatile tertentu digunakan sebagai pelarut untuk
lacquers, cat, danpernis; untuk tujuan ini, jumlah besar dan butil asetat etil asetat
diproduksi secara komersial. Wax disekresi oleh hewan dan tumbuhan ester terbentuk
dari rantai panjang asam karboksilat dan alkohol rantai panjang.
Adapun minyak dan lemak hewani dan nabati merupakan ester yang besar dan
rumit.Perbedaan antara sebuah lemak (seperti mentega) dengan sebuah minyak
(seperti miyak bunga matahari) hanya pada titik leleh campuran ester yang
dikandungnya. Jika titik leleh dibawah suhu kamar, maka ester akan berwujud cair
yakni minyak. Jika titik leleh diatas suhu kamar, ester akan berwujud padatan
yakni lemak.

2.2 Sifat Fisika dan Kimia Ester


Ester pada umumnya bersifat polar.Sifat kimia ini menyebabkan ester yang
jumlah atom karbonnya sedikit mudah larut dalam air.Kelarutan ester berkurang
dengan bertambahnya atom karbon. Ester merupakan senyawa polar yang
mempunyai dipol-dipol yang saling berinteraksi di mana interaksi ini menimbulkan
gaya antar molekul. Adanya gaya antar molekul menyebabkan ester memilki titik didih yang
lebih tinggi dari senyawa hidrokarbon lain yang memiliki bentuk molekul dan massa
atom relatifnya mirip. Namun dibandingkan dengansenyawa alkohol dan asam karboksilat
yang bentuk molekul dan molekulrelatifnya mirip titik didih ester lebih rendah.Hal ini
disebabkan ester tidak memiliki gugus OH- sehingga interaksi antar molekul ester
tidak membentuk ikatan hidrogen.Senyawa senyawa ester antara lain mempunyai
sifat-sifat sebagai berikut:

1.

Pada umumnya mempunyai bau yang harum, menyerupai bau buah-buahan.

2.

Senyawa ester pada umumnya sedikit larut dalam air dan bersifat polar.

3.

Ester

lebih

mudah

menguap

dibandingkan

dengan

asam

atau

alcohol pembentuknya.
4.

Ester merupakan senyawa karbon yang netral.

5.

Ester dapat mengalami reaksi hidrolisis.

Contoh : R COOR1 + H2O R COOH + R1 OH


(Ester)

(Air)

(As.Alkanoat) (Alkohol)

6. Ester dapat direduksi dengan H2 menggunakan katalisator Ni dan dihasilkan dua


buah senyawa alkohol.
Contoh : R COOR1 + 2H2 R CH2 OH + R1 OH
Ester
7.

Alkohol

Alkohol

Ester khususnya minyak atau lemak bereaksi dengan basa membentuk


garam(sabun)

dan

gliserol.

Reaksi

ini

dikenal

dengan

reaksi

safonifikasi penyabunan.

2.3 Sifat-Sifat Fisik Ester Sederhana


1. Titik didih
Ester-ester yang kecil memiliki titik didih yang mirip dengan titik didih aldehid
dan keton yang sama jumlah atom karbonnya. Seperti halnya aldehid dan keton, ester
adalah molekul polar sehingga memiliki interaksi dipol-dipol serta gaya dispersi van
der Waals. Akan tetapi, ester tidak membentuk ikatan hidrogen, sehingga titik
didihnya tidak menyerupai titik didih asam yang memiliki atom karbon sama.
a. Ester dengan titik didih rendah (low boiling ester)
Ester ini didistilasi dalam labu distilasi, maka akan keluar sebagai distilat yang
cukup tinggi kemurniannya. Alkohol dan sisa asam tetap tinggal dalam labu distilasi.
Contoh : metal asetat, etil asetat, metal format.
b. Ester dengan titik didih sedang (medium boiling ester)

Ester di distilasi dalam sebuah labu distilasi maka ester akan keluar bersama
alkohol, air serta sisa asam, dimana campuran tersebut komposisinya mempunyai titik
didih yang hampir sama dan fraksi mol campuran dalam fase uap dan cair yang
sama. Contoh : tert butil asetat, etil propionat.
c. Ester dengan titik didih tinggi (high boiling ester)
Ester ini dipisahkan dengan penguapan dan penambahan benzene sehingga sisa
asam, alkohol, dan air menguap, sedang ester tetap tinggal dalam distilator.Contoh :
etil pelargonat, n-Oktil asetat. (Fessenden, 1982)
Ester merupakan senyawa yang penting dalam industri dan secara biologis.
Lemak adalah ester yang mempunyai rantai panjang asam karboksilat dengan
trihidroksi alkohol(gliserol). Bau yang enak dan buah-buahan adalah campuran yang
kompleks dari ester volatil.
Bau dari isopentenil asetat adalah mirip dengan aroma buah pisang ataupun buah
pir.Butil butanoat seperti aroma nanas, sedangkan propil 2-metilpropanoat memberi
aroma rum (minuman). Sedangkan berton-ton senyawa polimer p-dimetil terephtalat
disintesis setiap tahunnya untuk membuat produk dengan nama Dacron, yang
merupakan polimer dari ester.
Dalam kimia, ester adalah suatu senyawa organik yang terbentuk melalui
penggantian satu (atau lebih) atom hidrogen pada gugus hidroksil dengan suatu gugus
organik (biasa dilambangkan dengan R).Asam oksigen adalah suatu asam yang
molekulnya memiliki gugus -OH yang hidrogennya (H) dapat terdisosiasi menjadi
ion H+.
Ester dapat dibuat dari reaksi antara lain klorida asam dengan suatu alkohol
dalam media basa seperti piridin, dari reaksi asam anhidrida dengan suatu alkohol,
dan juga reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol menggunakan katalis
karboksilat dan alkohol direfluks secara bersama-sama dengan adanya asam sebagai
katalis.
Reaksi ini merupakan reaksi kesetimbangan, sehingga tidak mungkin
mendapatkan ester secara kuantitatif dalam setiap mol reaktannya.Kesetimbangan

dapat diarahkan ke produk dengan mengambil produk airnya, atau dengan membuat
lebih kuantitas salah satu reaktan, biasanya reaktan yang harganya relatif murah.
Ada dua metode yang digunakan dalam esterifikasi yaitu proses batch dan proses
kontinyu. Proses esterifikasi berlangsung dibawah tekanan pada suhu 200-250C.
Pada reaksi kesetimbangan, air dipindahkan secara kontinyu untuk menghasilkan
ester.Henkel

telah

mengembangkan

esterifikasi

countercurrent

kontinyu

menggunakan kolom reaksi dodel plate. Teknologi ini didasarkan pada prinsip reaksi
esterifikasi dengan absorpsi simultan superheated metanol vapor dan desorpsi
metanolwater mixture.
Reaksi ini menggunakan tekanan sekitar 1000 Kpa dan suhu 240 C. Keuntungan
dari proses ini adalah kelebihan metanol dapat dijaga secara nyata pada rasio yang
rendah yaitu 1,5 : 1 molar metanol : asam lemak dibandingkan proses batch dimana
rasionya 3-4 : 1 molar. Metil ester yang melalui proses distilasi tidak memerlukan
proses pemurnian. Kelebihan metanol di rectified dan digunakan kembali. Esterifikasi
proses kontinyu lebih baik daripada proses batch. Dengan hasil yang sama, proses
kontinyu membutuhkan waktu yang lebih singkat dengan kelebihan metanol yang
lebih rendah.
Proses esterifikasi merupakan proses yang cenderung digunakan dalam produksi
ester dari asam lemak spesifik Laju reaksi esterifikasi sangat dipengaruhi oleh
struktur molekul reaktan dan radikal yang terbentuk dalam senyawa antara. Data
tentang laju reaksi serta mekanismenya disusun berdasarkan karakter kinetiknya,
sedangkan data tentang perkembangan reaksi dinyatakan sebagai konstanta
kesetimbangan. Secara umum laju reaksi esterifikasi mempunyai sifat sebagai
berikut:
1. Alkohol primer bereaksi paling cepat, disusul alkohol sekunder, dan paling lambat
alkohol tersier.
2. Ikatan rangkap memperlambat reaksi.
3. Asam aromatik (benzoat dan p-toluat) bereaksi lambat, tetapi mempunyai batas
konversi yang tinggi.

4. Makin panjang rantai alkohol, cenderung mempercepat reaksi atau tidak terlalu
berpengaruh terhadap laju reaksi.
Sistem pemroses yang dirancang untuk menyelesaikan reaksi esterifikasi
dikehendaki untuk sedapat mungkin mencapai 100%.Oleh karena itu reaksi
esterifikasi merupakan kesetimbangan, maka konversi sempurna tidak mungkin
tercapai, dan sesuai informasi yang ada konversi yang dapat dicapai hanya sampai
98%.Nilai konversi yang tinggi dapat dicapai dengan ekses reaktan yang besar. Proses
esterifikasi secara umum harus diketahui untuk.

4.4 Asam asetat


Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik
yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka
memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH 3COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni ( asam asetat glasial) adalah
cairan

higroskopis

tak

berwarna,

dan

memiliki

titik

beku

16.7C.

Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam
format. Larutan asam asetat yang larut dalam air merupakan sebuah asam lemah,
artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat
merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat
digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan
polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain.
Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di
rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam
setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta
ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri
petrokimia maupun dari sumber hayati.
Sifat-sifat dari Asam Asetat ialah :
1.

Nama Sistematis

2.

Nama Alternatif

cuka

: Asam etanoat, asam asetat


: Asam metanakarboksilat, hidrogen asetat, asam

3.

Rumus Molekul

: CH3COOH

4.

Massa Molar

: 60,05 gr/mol

5.

Titik lebur

: 16,5 C

2.5Etanol
Etanol disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut atau alkohol saja
adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tidak berwarna dan
merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari hari.
Etanol adalah suatu obat rekreasi yang paling tua. Etanol banyak digunakan sebagai
pelarut sebagai bahan bahan kimia yang di tunjukan untuk konsumsi dan kegunaan
manusia. Contohnya adalah pada parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat
obatan. Dalam kimia etanol adalah pelarut yang penting sekaligus sebagai stok
umpan untuk sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya ethanol telah lama di
gunakan sebagai bahan bakar. Sifat fisika dan kimia etanol sebagai berikut. Etil asetat
juga mempunyai Rumus molekul etanol C2H5OH atau rumus empiris C2H6O. Sifatsifat fisik Etanol antara lain :
1.

Massa molekul relatif

: 46,07 gr/mol.

2.

Titik beku

: -114,1oC.

3.

Titik didih normal

: 78,32oC.

Etanol termasuk dalam alkohol primer, yang berarti bahwa karbon yang berikatan
dengan gugus Hidroksil paling tidak memiliki 2 Hidrogen atom yang terikat
dengannya juga. Reaksi kimia yang dijalankan oleh ethanol kebanyakan pada fungsi
gugus Hidroksil.
2.6 Etil Asetat
Etil asetat merupakan salah satu jenis pelarut yang memiliki rumus molekul
CH3COOC2H5. Produk turunan dari asam asetat ini memiliki banyak kegunaan serta
pasar yang cukup luas seperti pengaroma buah dan pemberi rasa seperti untuk es
krim, kue, kopi, teh atau juga untuk parfum,digunakan pada industri tinta cetak, cat

dan tiner, lem, PVC film, polimer cair dalam industri kertas, serta banyak industri
penyerap lainnya seperti industri farmasi, dan sebagainya.
Etil asetat disintesis melalui reaksi esterifikasi fischer dari asam asetat dan
ethanol, biasanya disertai katalis asam seperti asam sulfat.
Katalis
Reaksinya :
Etanol + Asam Asetat

Etil Asetat + Air

C2H5OH + CH3COOH

CH3COOC2H5 + H2O

Reaksi di atas merupakan reaksi reversibel dan menghasilkan suatu


kesetimbangan kimia.Etil asetat dapat dihidrolisis pada keadaan asam atau basa
menghasilkan asam asetat dan ethanol kembali. Katalis asam sulfat dapat
menghambat hidrolisis karena berlangsungnya reaksi kebalikan hidrolisis yaitu
esterifikasi fischer.
Etil asetat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1.Tidak beracun dan tidak terhigrokopis.
2.Merupakan pelarut polar menengah yang volatil (mudah menguap).
3.Dapat melarutkan air hingga 3%, dan larut dalam air hingga kelarutan 8%
padasuhu kamar.
4. Merupakan penerima ikatan hidrogen yang lemah dan bukan suatu donor ikatan
hidrogen karena tidak adanya proton yang bersifat asam (yaitu hidrogen yang
terikat pada atom elektronegatif seperti flor, oksigen, dan nitrogen.
5.Kelarutannya meningkat pada suhu yang lebih tinggi. Namun demikian, senyawa
ini tidak stabil dalam air yang mengandung basa atau asam.
2.7 Perhitungan bahan yang digunakan
C2H5OH

CH3COOH

Mula-mula :

1 mol

2 mol

Bereaksi

1 mol

1 mol

CH3COOC2H5 + H2O

1 mol

Sisa

1 mol

Etanol yang dibutuhkan

Mol

1 mol =

massa
Mr atau Ar
massa
46,07 gram/mol

massa = 46,07 gram

Volume C2H5OH=

massa
massa jenis

46,07 gram
gram
0,816
ml

56,45 ml 57 ml etanol

Asam asetat yang dibutuhkan

Mol

2 mol =

massa
Mr atau Ar
massa
60,05 gram/mol

massa = 120,1 gram

Volume CH3COOH =

massa
massa jenis

120,1 gram
gram
1,05
ml

114,38 ml

115 ml asam asetat

2.8 Metode pembuatan etil asetat

1 mol

2.8.1 Destilasi refluk


Refluks, salah satu metode dalam ilmu kimia untuk men-sintesis suatu senyawa,
baikorganik maupun anorganik.Umumnya digunakan untuk mensistesis senyawasenyawa yangmudah menguap atau volatile.Pada kondisi ini jika dilakukan
pemanasan biasa maka pelarutakan menguap sebelum reaksi berjalan sampai selesai.
(Anonim, 2011)
Prinsip dari metode refluks adalah pelarut volatil yang digunakan akan
menguappada suhu tinggi, namun akan didinginkan dengan kondensor sehingga
pelarut yang tadinyadalam bentuk uap akan mengembun pada kondensor dan turun
lagi ke dalam wadah reaksisehingga pelarut akan tetap ada selama reaksi
berlangsung. Kondensor yang digunakanadalah pendingin bola, bukan pendingin
Liebig, tujuannya untuk menghalangi uap pelaruttetap ada. Apabila menggunakan
Liebig, kemungkinan senyawa yang akan disintesis tidakada hasilnya, karena
kesemuanya sudah menguap. (Anonim, 2011)
Distilasi (penyulingan) adalah proses pemisahan komponen dari suatu
campuranyang berupa larutan cair-cair dimana karakteristik dari campuran tersebut
adalah mampu-campur dan mudah menguap. Selain itu komponen-komponen
tersebut mempunyaiperbedaan tekanan uap dan hasil dari pemisahannya menjadi
komponen-komponennyaatau

kelompok-kelompok

komponen.

Karena

adanya

perbedaan tekanan uap, maka dapatdikatakan pula proses penyulingan merupakan


proses pemisahan komponen-komponennyaberdasarkan perbedaan titik didihnya.
(Rahayu, 2009)

Gambar destilasi refluk


2.8.2 Proses destilasi
Setelah proses refluks selesai, larutan lalu didinginkan beberapa menit
dankemudian dilanjutkan dengan proses distilasi. Proses distilasi ini digunakan
untukmemisahkan antara senyawa etil asetat yang merupakan produk utama dengan
airatau dengan kata lain untuk mendapatkan etil asetat murni.
2.8.3 Proses penetralan
Hasil distilat dari destilasi refluk kemudian dinetralkan dengan Ca(HCO3) 5%
dengan meneteskannya beberapa tetes sampai larutan menjadi netral (kertas
lakmusmenjadi biru).
2.8.4 Proses pemisahan
Tahap selanjutnya adalah penambahan larutan kalsium klorida (CaCl2) kedalam
larutan yang diperoleh. Kemudian dimasukkan ke corong pisah untukmemisahkan
antara senyawa etil asetat dengan senyawa lain.

Gambar corong pisah

2.8.5 Menghitung rendemen


Menghitung rendemen etil asetat bertujuan untuk membandingkan rendemen etil
asetat yang didapatkan dengan rendemen etil asetat secara teoritis.
2.8.6 Uji identifikasi etil asetat
Pada uji idenyifikasi minyak atsiri digunakan minyak atsiri diteteskan pada
kertas, amati perubahan yang gterjadi. Jika pada kertas tidak meninggalkan bercak
noda, maka kemurnian minyak atsiri sangat tinggi karena minyak atsiri menguap
secara sempurna sehingga tidak meninggalkan bercak.
2.8.7

Uji alkohol

Etil asetat dilarutkan dalam alkohol jika mudah larut dalam alkohol.
2.8.8

Uji Senyawa Ester

Dilalkukan reaksi esterfikasi untuk mengetahui adanya senyawa ester dalam etil
asetat dengan menambahkan asam asetat glacial dan H2SO4.

BAB III
ALAT DAN BAHAN

3.1 Alat

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pemanas
Penangas air
Kondensor
Selang air
Labu dasar
Termometer
Erlenmeyer
Penyumbat karet
Klem statsis

10. Magnetik stirer


11. Timbangan
12. Gelas ukur
13. Picnometer
14. Corong pisah
15. Pipet volume
16. Bola hisap
17. pH meter

3.2 Bahan
1. Asam asetat
2. Etanol
3. CaCl2
H2SO4(p)
4.
5. Ca(HCO3)
6. Na(HCO3)
7. Aquadest

3.3 Prosedur kerja


Pembuatan etil asetat
1. Ambil asam asetat 115 ml, etanol 57 ml kemudian masukkan kedalam labu
dasar bulat beserta magnetic stirrer, tambahkan H2SO4 sebanyak 8 ml secara
2.
3.
4.
5.
6.

perlahan
Rangkai peralatan destilasi refluk
Mulailah proses dengan mengalirkan air pendingin kondensor
Memulai proses pemanasan
Biarkan berjalan proses berjalan selama 2 jam
Setelah proses refluks selesai tunggu suhu mulai turun dan keluarkan produk

dari dalam labu


7. Pisahkan produk bawah (sisa pelarut) dan produk atas berupa essens dengan
ekstraksi cair-cair menggunakan corong pisah.
8. Lakukan pencucian dengan air 50C sebanyak 20% massa hingga 3 kali
kemudian pisahkan air dari ester.

9. Tambahkan larutan Ca(HCO3) pada ester di corong pisah sebagai penetral


kemudian pisahkan antara larutan kalsium karbonat dari ester.
10. Produk essens yang diperoleh ditambahkan CaCl2 untuk menyerap sisa air
dalam campuran
11. Kemudian dilakukan penyaringan CaCl2 dengan kertas saring
12. Menganalisa produk

3.4 Menghitung rendemen


1.
2.
3.
4.
5.

Hitung massa bahan yang digunakan (gram)


Timbang botol kosong untuk wadah etil asetat
Timbang botol dan etil asetat yang telah dimasukkan dalam botol
Hitung massa etil asetat
Hitung rendemen etil asetat
massa etilasetat yang dipero leh
x 100
Rendemen =
massa bahan yang digunakan

3.5 Uji penegasan etil asetat


o Uji identifikasi awal etil asetat
1. Teteskan 1 tetes etil asetat pada sepotong kertas
2. Amati perubahan yang terjadi
3. Apabila minyak menguap sempurna tanpa meninggalkan bercak/ noda
pada kertas maka senyawa tersebut (+) etil asetat (essens)

o Uji alkohol
1. Masukkan 1 ml minyak atsiri kedalam 1 ml alkohol 90%
2. Amati, etil asetat larut atau tidak
3. apabila larut, berarti senyawa tersebut (+) etil asetat (essens)

o Uji senyawa ester


1. Masukan 1 ml etil asetat kedalam tabung reaksi

2. Tambahkan 1 ml asam asetat glacial


3. Kemudian ditambahkan 3 tetes H2SO4(e) (sebagai katalis) lalu
dihomogenkan
4. Setelah itu di didihkan selama 10 menit, lalu diamati apabila terbentuk
2 lapisan atau berbau berarti ester
o Uji densitas
1. keringkan botol timbang kemudian timbang botol kosong
2. botol timbang kosong diisi dengan ester 3 ml kemudian timbang
3. hitung massa ester dan hitung densitasnya