Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah


melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “ Protista Mirip Hewan : Filum
Acetospora dan Filum Myxozoa”. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi
tugas mata kuliah Protista. Meskipun terdapat beberapa hambatan dalam proses
pengerjaan makalah ini, tetapi kami berhasil menyelesaikannya dengan tepat
waktu.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Sofia Ery Rahayu, S.Pd, M.Si selaku dosen mata Protista,


2. kedua orang tua kami yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual,
3. seluruh teman seperjuangan Biologi kelas H tahun 2015, yang banyak
membantu dan memberi masukan dalam pengerjakan makalah ini, dan
4. semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Penulis berharap adanya masukan yang bersifat membangun sehingga
makalah ini dapat lebih sempurna. Penulis juga berharap agar makalah ini
nantinya dapat berguna bagi semua kalangan.

Malang, 07 Februari 2016

Penulis

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 1


DAFTAR ISI

SAMPUL...............................................................................................……i
KATA PENGANTAR ................................................................................. 1
DAFTAR ISI.................................................................................................2
PENDAHULUAN
LatarBelakang…….……………………………………………..3
RumusanMasalah ……………………………………………… 5
Manfaat ......……………………………………………………..5
KAJIAN TEORI
Filum Acetospora…........................................... ...... .................. 6
Filum Myxozoa…………….........…. ...... ...... ........................... 8
PENUTUP
Kesimpulan .................................... ...... ..................................... 20
Saran.................................................................. ...... ...... ........... 20
DAFTAR RUJUKAN.................................................................................. 21

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 2


PENDAHULUAN
Latar Belakang

Protozoa merupakan sekolompok protista eukariotik yang berukuran


mikroskopis terdiri dari satu sel. Protozoa berasal dari bahasa Yunani yaitu protos
berarti pertama dan zoon berarti hewan sehingga protozoa adalah hewan yang
pertama kali dikenali. Meskipun protozoa merupakan organisme uniseluler namun
protozoa tidak menunjukkan perilaku organisme sederhana. Bahkan protozoa
sendiri lebih kompleks daripada sel dari organisme tingkat tinggi. Setiap individu
dari protozoa tersusun atas organel– organel sel yang lengkap dan sanggup
melakukan semua fungsi kehidupan.
Protozoa hidup di air atau setidaknya di tempat yang basah. Mereka
umumnya hidup bebas dan tedapat di lautan. Namun sebagian besar protozoa
hidup sebagai parasit pada binatang dan manusia. Spesies parasitik hidup pada
inang. Inang dapat berupa organisme sederhana seperti algae sampai vertebrata
kompleks termasuk mannusia. Beberapa spesies dapat hidup di dalam tanah atau
permukaan tumbuhan. Sesuai dengan sistem klasifikasi makhluk hidup protozoa
termasuk dalam protista yang menyerupai hewan atau biasa disebut protista mirip
hewan. Kelompok ini awal mulanya dibentuk untuk mengelompokan organisme
yang bukan termasuk tumbuhan dan bukan termasuk hewan. Oleh sebab itu
protozoa disebut organisme seperti hewan atau istilahnya animal like.
Ukuran protozoa beranekaragam yaitu mulai dari 10 mikron sampai ada
yang mencapai 6 mm meskipun jarang. Di perairan laut ataupun air tawar
protozoa berperan sebagai zooplankton. Makanan protozoa meliputi bakteri, jenis
protista lain, atau detritus ( materi organik dari organisme mati ). Protozoa hidup
soliter atau berkoloni. Apabila dalam keadaan lingkungan yang tidak
menguntungkan, protozoa membungkus diri membentuk kista untuk
mempertahankan diri. Apabila berada dalam lingkungan yang sesuai, hewan ini
akan aktif lagi. Cara hidup protozoa ada yang parasit, saprofit, dan ada yang hidup
bebas ( soliter ).
Protozoa berdasarkan alat geraknya dibedakan menjadi 4 filum yaitu
Sarcodina, Cilliata, Flagellata, dan Sarcodina. Pada tahun 1980 oleh Commitee on
Systematics and Evolution of the Society of Protozoologist, mengklasifikasikan

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 3


protozoa menjadi 7 kelas baru. Kelas baru tersebut yaitu Sarcomastigophora,
Ciliophora, Acetospora, Apicomplexa, Microspora, Myxospora,dan Labyrinthomo
rpha. Pada klasifikasi yang baru ini, Sarcodina dan Mastigophora digabung
menjadi satu kelompok Sarcomastigophora, dan Sporozoa karena anggotanya
sangat beragam. Protozoa yang termasuk Sarcomastigophora adalah genera
Monosiga,Bodo,Leishmania, Trypanosoma, Giardia, Opalina, Amoeba,Entamoeb
a, dan Difflugia. Anggota kelompok Cilliophora dapat diklasifikasikan atau
dikelompokkan antara lain yaitu genera Didinium, Tetrahymena, Paramaecium,
dan Stentor. Protozoa kelompok Acetospora adalah genera Paramyxa.
Apicomplexaberanggotakangenera Eimeria, Toxoplasma,Babesia, Theileria.
Genera Metchnikovella termasuk kelompok Microspora. Genera
Myxidium dan Kudoa adalah contoh anggota kelompok Myxospora. Filum
Acetospora dan Myxozoa bersifat parasit obligat ekstraseluler. Filum Acetospora
bersifat parasit pada sel, jaringan, dan rongga tubuh hewan mullusca sedangkan
filum Myxozoa bersifat parasit pada ikan air tawat dan ikan air laut. Pentingnya
pengetahuan tentang protozoa khususnya filum Acetospora dan filum Myxozoa
tidak lepas dari sifatnya yang termasuk parasit obligat ekstraseluler. Oleh karena
itu dalam mkalah ini akan dibahas protista mirip hewan filum Acetospora dan
filum Myxozoa.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 4


Rumusan Masalah
Rumusan masalah ini diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana bentuk tubuh serta ciri – ciri dari filum Acetospora dan filum
Myxozoa ?
2. Bagaimana siklus hidup dari filum Acetospora dan filum Myxozoa ?
3. Bagaimana habitat dari filum Acetospora dan filum Myxozoa ?
4. Bagaimana pengaruh anggota filum Acetospora dan filum Myxozoa pada
makhluk hidup lain ?

Manfaat

Manfaat dari makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui bentuk tubuh serta ciri – ciri dari filum Acetospora dan filum
Myxozoa
2. Mengetahui siklus hidup dari filum Acetospora dan filum Myxozoa
3. Mengetahui habitat dari filum Acetospora dan filum Myxozoa ?
4. Mengetahui pengaruh anggota filum Acetospora dan filum Myxozoa pada
makhluk hidup lain ?

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 5


PEMBAHASAN

Makalah ini akan membahas mengenai protista mirip hewan khususnya


filum Acetospora dan filum Myxozoa. Kedua filum ini merupakan protista mirip
hewan yang bersifat parasit obligat ekstraseluler.

Filum Acetospora

Anggota filum Acetospora bersifat parasite obligat ekstraseluler , dengan


ciri yang yang kehilangan sumbat dikutub atau filamen ( Rahayu, 2014). Contoh
anggota filum ini yaitu Haplosporodium bersifat parasit dalam sel, jaringan, dan
rongga tubuh pada mollusca.

Haplosporodium sp

Gambar 1.1 Morfologi Haplosporodium

Acetospora merupakan protozoa dengan spora multiseluler dan satu atau


lebih sporoplasma tanpa kapsul atau filamen polar. Keseluruhan anggotanya
merupakan parasit. Contoh anggota filum ini yaitu Haplosporodium sp.
Haplosporodium sp merupakan acetospora bersifat parasit obligat dan merupakan
pathogen dalam tiram. Protista ini kebanyakan merupakan parsit pada tiram. Salah
satu spesiesnya yakni adalah Haplosporodium nelsoni. Parasit ini menyebabkan

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 6


penyakit MSX (multinucleate sphere X) pada Crassostrea virginica dan
Crassostrea gigas. Tiram yang terinfeksi oleh Haplosporodium nelsoni menjadi
kurus dan cangkang menjadi lunak. Penyakit ini sangat mematikan pada tiram dan
dipengaruhi oleh salinitas yang tinggi. Parasit ini menyerang epitel usus,
kemungkinan melalui mantel pada tiram. Setelah epitel ini hancur paeasit
kemudian didistribusikan pleh darah ke seluruh bagian tiram. Hal ini akan
menghambat perkembangan gonad. Infeksi ini biasanya meningkat pada saat
musim- musim dingin dan saat salinitas di bawah 15 ppt.

Infeksi oleh H. nelsoni berlangsung antara pertengahan Mei dan akhir


Oktober. Kematian dari infeksi baru terjadi sepanjang musim panas dan
puncaknya pada bulan Juli atau Agustus. MSX pertama kali terdeteksi dua dekade
lalu di Sungai Damariscotta, jantung industri tiram Maine.

Haplosporodium nelsoni menyerang dalam tubuh hewan tiram. Tahap


plasmodium H. nelsoni terjadi intercellular dalam jaringan ikat dan epitel. Spora
H. nelsoni terjadi secara eksklusif menyerang epitel tubulus pencernaan. Sporulasi
H. nelsoni langka menginfeksi tiram dewasa, tetapi sering juga ditemukan pada
tiram remaja. MSX tidak berbahaya bagi manusia. MSX dalam jumlah kecil tidak
terlau berpengaruh dalam infeksi. Prevalence: bervariasi tergantung salinitas,
tetapi prevalensi of 50-90% tidak jarang ditemukan pada salinities diatas 15
ppt. Prevalensi adalah presentase ikan yang terinfeksi dibandingkan dengan
keseluruhan jumlah ikan. Infeksi biasanya fatal dengan kematian terjadi dalam 1-3
bulan setelah infeksi. Tanda-tanda inang yang terinfeksi parasit ini adalah kelenjar
pencernaan pucat, tampak kurus, tidak ada pertumbuhan cangkang baru.

Siklus hidupnya tidak diketahui tetapi kemungkinan menggunakan inang


antara dalam daur hidupnya.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 7


o
o

Filum Myxozoa

 Klasifikasi
Dunia : Protozoa
Filum : Myxozoa
Kelas : Myxosporea
Ordo : Bivalvulida
Sub ordo : Platysporina
Family : Myxobolidae
Genus : Myxobolus

Myxozoa berbentuk spora parasit yang berasal dari air tawar dan ikan
laut(Lom, Dyková, 1992, Kent et al., 2001; Feist & Longshaw,2006). Myxozoa
sebelumnya diklasifikasikan sebagai protozoa, meskipun termasuk kedalam
organisme multiseluler dan spesialisasi fungsional dari sel menyusun spora
dianggap melebihi tingkat protozoa (Lom & Dyková, 1992).
Filum Myxozoa ialah perpaduan dari dua bahasa Yunani yaitu myxo artinya
lendir dan Zoa yang artinya hewan, sehinga anggota Myxozoa merupakan parasit
intraseluler invertebrata, terutama ikan akan tetapi dapat terjadi juga pada amfibi
dan reptil tertentu.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 8


Filum Myxozoa bersifat parasit dari sel primer yang di maksud tersebut
adalah mycozoa sebuah parasit metazoa mikroskopis dengan tubuh sangat
sederhana . Perubahan dari myxospora, akan terlihat pada tahap dalam tubuh
inang (ikan) , biasanya antara seper seratus hingga seper duaratus milimeter.
Mula-mula myxozoa tersusun dari beberapa sel, yang bermodifikasi menjadi
katup-katup cangkang , kapsul polar pada myxozoa mirip dengan nematocyst
ditandai adanya filamen polar spiral yang dapat dipanjangkan , dan serbuk infektif
amoeboid.
Myxozoa merupakan protozoa yang bersifat parasit pada hewan berdarah
dingin. Myxozoa memiliki spora multiseluler dengan satu kapsul polar atau lebih
dan sporoplasma, kista terbentuk di dalam organ dalam inangnya.
Klasifikasi taksonomi menjadikan Myxozoans dalam kelompok yang disebut
Sporozoa, kelas dalam Protozoa (Kudo 1966). Grell (1973) mengungkapkan
tampak bingung untuk berurusan dengan Myxozoans (dia menyebutnya
(Myxosporidia) dan menempatkan mereka bersama-sama dengan Microsporidia di
kelas pasti dari Protozoa disebut "Cnidosporidia".
Setelah munculnya sistem 5 kingdom, kelompok sporozoan klasik naik
status filum-tingkat dalam kingdom baru. Dalam sistem itu, Margulis dan
Schwartz (1988), Sleigh et al. (1984), dan Weiser (1985) menyatakan menaikkan
status Cnidosporidia filum-tingkat. Kemudian, bukti dari biologi sel,
pengembangan, dan ultrastruktur menunjukkan bahwa kelompok Cnidosporidian
yang sangat berbeda dan tidak membentuk pengelompokan alam.
Asosiasi Myxozoans dengan kingdom hewan pertama kali diusulkan oleh
Weill (1938, dikutip dalam Lom 1990), namun mulai memasuki arus utama
biologi sistematis dengan Lom (1990) yang mendukung hipotesis Weill, bahwa
kesamaan struktural yang luar biasa antara kapsul kutub Myxozoa dan
Nematocysts dari Cnidaria menyarankan bahwa Myxozoa berevolusi dari
kelompok hewan. Secara khusus, Weill (1938, dikutip dalam Lom 1990)
mengusulkan bahwa Myxozoa berevolusi dari Narcomedusae yang menyerupai
larva Myxozoa dalam bentuk dan gaya hidup yaitu beberapa Narcomedusae juga
parasit. Lom (1990) lebih lanjut menyatakan bahwa Myxozoa memiliki tingkat

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 9


tertinggi diferensiasi selular di antara salah satu kelompok protista. Karakteristik
ini juga konsisten dengan asal-usul non protista.
Smothers et al (1994), menegaskan bukti struktural dengan bukti molekuler
bahwa Myxozoa adalah metazoans. Siddall et al (1995), menyajikan bukti yang
meyakinkan bahwa Myxozoa adalah hewan Coelenterate. Myxozoa mempunyai
Spora multisel , bentuk kapsul dengan satu atau lebih polar, parasit pada ikan dan
invertebrata. Contoh: Ceratomyxa, Myxidium.

 Morfologi (Myxozoa)

PC: kapsul polar, SP: sporoplasma, SV: sel valve, SL: garis jahitan,
L: panjang spora, W: lebar spora, T: ketebalan spora, PCL: panjang kapsul polar,
PCW: lebar kapsul polar.
Gambar .2. Diagram bivalvulid (A:tampak bagian depan, B: tampak samping) dan
multivalvulid (C & E : tampak bagian atas, D: tampak samping) spora myxospora.

Spora parasit berbentuk bulat dengan bagian anterior meruncing, berukuran


10-20 mm dan mempunyai dua buah kapsul polar dibagian anterior spora. Parasit
ini membentuk pansporoblast yang menghasilkan dua buah spora. Spora
Myxospora terdiri dari katup sel, sporoplasma, dan kapsul polar terdapat lingkaran
filamen polar (Gambar.2). Jumlah katup dan kapsul polar, susunan kapsul polar,
dan ornamen spora memungkinkan diagnosis tingkat –genus myxospora.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 10


Identifikasi pada tingkat – spesies didasarkan pada bentuk spora. Deskripsi
spesies myxospora harus mengikuti pedoman dari Lom & Arthur (1989). Untuk
bivalvulid, panjang spora dan lebar spora dapat dilihat dari garis depan, sedangkan
ketebalan spora dapat dilihat dari tampilan samping,panjang dan lebar dari kapsul
polar dapat diukur (Gambar. 2). Harus diperhatikan agar tidak terjadi kebingungan
ketebalan serta lebar spora, karena multivalvulas adalah radial yang simetris.

 Habitat
Habitat dari filum mycozoa sebagai parasit pada insang, termasuk kulit pada
ikan. Parasit ini berbentuk kista (mengandung spora-spora ) dan akan pecah
apabila matang. Spora-spora akan dilepaskan ke dalam air.
 Daur Hidup

A: filamen polar diekstrusi untuk melabuhkan spora ke epitel usus, diikuti oleh
pembukaan katup sel dari myxospore. B: Gametogony. C: sporogoni dari fase
actinosporean. D: Mature tahap actinospore berkembang di pansporocyst, dan
actinospores dilepaskan ke dalam air. E: Setelah kontak actinospores dengan
kulit atau insang host ikan, filamen polar mengintruksi untuk berlabuh spora
pada kulit atau insang, memfasilitasi invasi dari sporoplasma ke ikan.
F: Sebelum Sporogonic melakukan penggandaan dari sel kedalam sel induk.
G: sporogoni dari fase myxosporean.
Gambar. 3. Diagram dari siklus hidup myxosporean bergantian ikan dan
Annelida host.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 11


Menurut Hiroshi Yokoyama, Daniel Grabner dan Sho Shirakashi dalam Jurnal
Transmission Biology Of The Myxozoa (2012) mengungkapkan.
Siklus hidup myxozoan pertama ditemukan untuk meneliti
M. Cerebral oleh wolf & Markiw pada tahun 1984 dan kemudian
dikonfirmasi oleh banyak para peneliti lain, yang melaporkan
siklus hidup yang sama untuk lebih dari 30 spesies myxospora.
Siklus hidup ini melibatkan invertebrata Annelida (terutama
Oligochaeta untuk spesies air tawar dan polychaetes untuk spesies
laut) dan sejumlah vertebrata yang khususnya ikan (Gambar. 3).
Pada akhir-akhir ini, tahap spora myxosporea (=myxospores)
berkembang. Myxospores tertelan oleh Annelida, dimana filamen
polar mengekstrusikan jangkar spora pada epitel usus. Pembukaan
katup sel memungkinkan protoplasma untuk menembus ke dalam
epitel. Selanjutnya, parasit mengalami reproduksi dan
perkembangan di dalam jaringan usus, dan pada akhirnya
memproduksi umumnya delapan actinosporean tahapan spora
(=actinospores) dalam pansporocyst.
Setelah actinospores matang dilepaskan dari rumah mereka,
mereka mengapung berkoloni di air (El-Matbouli & Hoffmann,
1998). Setelah kontak dengan kulit atau insang ikan, sporoplasms
menembus epitel, diikuti dengan perkembangan pada tahap
myxosporean. Tropozoit Myxospora ditandai oleh sel didalam sel
inang, di mana sel anak (Sekunder) berkembang di sel induk
(primer). Pada sebelum tahap sporogonic berkembang biak,
berpindah melalui sistem saraf atau peredaran darah, dan
berkembang menjadi tahap sporogonic. Di bagian akhir tempat
infeksi, mereka menghasilkan spora matang dalam mono atau
pseudoplasmodium diprotik, atau polysporin plasmodia (El-
Matobouli & Hoffmann, 1995).
Jadi kesimpulannya, spora berasal dari ikan mati yang terinfeksi, tetapi
untuk menjadi spora yang infektif parasit harus berada di dalam lumpur kolam
terlebih dahulu selama 4 sampai 5 bulan. Penyebaran infeksi melalui oligochaeta

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 12


sebagai inang perantara. Pada ikan Brown trout serangan parasit tidak bersifat
pathogen tetapi pada ikan salmonida lainnya sangat pathogen. Pada inang yang
rentang trophozoit ditemukan pada tulang rawan kepala 20 hari setelah terinfeksi.
Trophozoit akan tumbuh dan menghasilkan pansporoblast. Spora dapat keluar dari
tubuh inang bersamaan dengan penguraian organ pada inang yang mati.

 Tanda-tanda Serangan

Gambar.4. Ikan yang terserang parasit myxozoa.


Dalam filum myxozoa dapat terlihat kasat mata, diantaranya tanda-tanda
klinis pada ikan yang terserang oleh parasit ini adalah mempunyai ekor yang khas
dan mudah dikenali, yaitu ekor ikan menjadi berwarna gelap sehingga disebut
“black tail”, tejadi deformasi tulang sehingga ikan bengkok-bengkok bentuk
tubuh, kepala atau rahangnya, dan ikan memperlihatkan abnormalitas tingkah laku
yaitu berenang berputar-putar seperti sedang mengejar ekornya sendiri
(Gambar.3). Gejala abnormalitas tersebut dinamakan whirling.
.
 Pencegahan
Dalam mengatasi wabah parasit ini, ada banyak hal yang dapat kita lakukan.
Infeksi parasit ini dapat dicegah dengan meniadakan ikan yang rentan dan
melarang import ikan dari daerah dimana penyakit tersebut berada atau ikan yang
telah terinfeksi, serta tidak menggunakan air yang telah terkontaminasi.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 13


 Pengobatan
Myxobolus sp sebagai endo parasit seperti halnya endo parasit lainnya, belum
ada cara-cara pengobatan secara kimiawi yang dapat dianjurkan, namun untuk
mengurangi kerugian yang diderita sangatlah dianjurkan langkah-langkah sebagai
berikut :

1. Semua fish-fry yang sudah mempunyai gejala sakit diambil.


2. Padat penebaran segera dikurangi dengan jalan memindahkan ke kolam
lain.
3. Memberi pakan yang cukup dan tepat.
4. Bekas kolam yang pernah ada serangan myxobolus dikeringkan dan diberi
kapur.

 CONTOH SPESIES MYXOZOA


Hoferellus cyprini
o Klasifikasi Dan Morfologi

Filum : Myxozoa

Kelas : Myxosporea

Ordo : Bivalvulida

Subordo : Variisporina

Famili : Sphaerosporidae

Genus : Hoferellus

Spesies : Hoferellus cyprini (Doflein, 1898)

Spora Hoferellus cyprini sama dengan deskripsi Mitraspora cyprinid


secara morfologinya (Fujita, 1912). Oleh karena itu, sebagian penulis
menganggap M. cyprini sebagai sinonim dari Hoferellus cyprini (Doflein, 1898).
Genus Hoferellus saat ini diklasifikasikan dalam keluarga Sphaerosporidae
(Lom 1990). Anggota family ini ditandai dengan memiliki 2 kapsul kutub di
bagian anterior dari spora. Spora adalah bulat, bulat segitiga, atau memanjang dan

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 14


beberapa spesies memiliki caudal apendages. Hoferellus cyprini dewasa memiliki
panjang antara 20-30 mikron.

o Siklus Hidup(Hoferellus cyprini)

Siklus hidup Hoferellus cyprini awalnya dipelajari oleh Plehn (1924). Dalam
penelitiannya ditemukan bahwa tahun perkembangan siklus dengan produksi
spora matang pada perantara akhir musim dingin. Selain formasi plasmodial dan
spora pada lumen tubulus ginjal, Hoferellus cyprini dianggap intraseluler pada sel-
sel epitel tubulus untuk menjadi tahap perkembangan awal. Pada sekitar bulan
April, spora terbentuk dalam plasmodia pada ureter atau tubulus ginjal.

Pada bulan Oktober hingga November, trophozoites (sekitar 10 nm)


berkembang biak dalam sel epitel tubulus ginjal. Parasit berkembang ke
plasmodium multiseluler (beberapa puluh mm), di mana sel tersier dan quartenery
dibedakan. Plasmodium dilepaskan ke lumen, dan spora terbentuk pada musim
semi berikutnya, ketika suhu air meningkat (Yokoyama et al, 1990a.). Spora yang
dilepaskan di luar inang , dan dicerna oleh Oligochaeta untuk perkembangan
actinosporean (Yokoyama et al, 1993., Trouillier et al., 1996).

Pada negara empat musim, musim gugur merupakan tahap perkembangan


awal Hoferellus cyprini pada sinsitium sel terbentuk dari epitel tubulus ginjal.
Lom dan Dyková berpendapat bahwa setiap trofozoit intraseluler sekunder, tersier
dan kuartener sel terbentuk oleh pembelahan internal. Pada permukaan tropozoid
terdapat sel-sel sparoblast terdapat dua kapsoid spora pada bagian ujungnya.

Hoferellus cyprini merupakan jenis parasit yang habitatnya di perairan


tawar. Beberapa jenis ikan yang terserang parasit Hoferellus cyprini adalah ikan
jenis Carrasius dan Cyprinidae. Predileksi dari parasit ini, biasanya Hoferellus
cyprini menginfaksi ikan pada bagian tubulus ginjal. Sehingga hal ini mampu
menyebabkan tubuh ikan yang sakit sering pada bagian lateral perut membengkak
ke arah satu sisi. Selain itu adalah ginjal seperti tertekan kearah sisi kanan atau
kiri tubuh ikan.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 15


o Agen Penyebab

Penyakit myxozoa pada ikan, termasuk Hoferellus cyprini dapat


menginfeksi ikan melalui agen penyebab atau vektor. Terutama jika ikan
sebelumnya dipelihara di kolam, penetasan, atau ditangkap di alam. Infeksi dapat
ditularkan melalui cacing Oligochaete, ikan, siput, atau tanaman air. Hal ini
karena cacing Oligochaete sering berperan sebagai makanan ikan, dan ini juga
dapat menjadi sumber infeksi.

o Gejala Klinis

Penyakit ini ditandai dengan distensi abdomen. Tubuh ikan yang sakit
sering pada bagian lateral perut membengkak ke arah satu sisi. Selain itu adalah
ginjal seperti tertekan kearah sisi kanan atau kiri tubuh ikan. Pada infeksi H.
cyprini, trophozoites menempel pada epitel ginjal dan tubulus ginjal ikan mas.
Hal ini menyebabakan terjadinya hiperplasia dan pembentukan syncytia,
occluding lumen tubulus. Pada infeksi berat, terjadi peradangan kronis dan
fibroplasia, dan bias berakhir pada kematian ikan.

o Pengendalian

Sinar ultraviolet dan ozonisasi efektif untuk membunuh Actinosporeans di


air. Anggota Myxosporea sangat resisten terhadap desinfektan. Sebagai
pencegahan terhadap parasit kelas Myxosporea membutuhkan klorin 1.600 ppm
untuk perendaman selama 24 jam, atau 5.000 ppm selama 10 menit, untuk efektif
untuk membunuh spora infektif.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 16


Myxoma cerebralis

o Klasifikasi dan Morfologi

Klasifikasi Myxobolus cerebralis menurut Hofer,1903 adalah sebagai


berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Cnidaria
Class : Myxosporea
Ordo : Bivalvulida
Ordo : Myxosporida
Familia : Myxobolidae
Genus : Myxobollus
Spesies : Myxobollus cerebralis
Myxoma cerebralis adalah parasit myxosporean dari salmon atau di ikan
air tawar dan air laut yang menyebabkan penyakit whirling di ikan dalam populasi
ikan liar. Myxoma cerebralis ditemukan memerlukan oligochaete tubificid
(sejenis cacing tersegmentasi) untuk melengkapi siklus hidupnya. Parasit
menginfeksi inangnya dengan sel setelah menusuk mereka dengan filamen polar
dikeluarkan dari kapsul seperti nematocyst.

Spora ini berbentuk lonjong atau oval dan kelihatan mendatar. Ujung
anterior memiliki dua kapsul polar (Markecick, 1951). Menurut Landsberg (1985)
bila dipandang dari depan ujung anterior hampir sama lebarnya dengan ujung
posterior. Dinding katup tidak begitu jelas. Memiliki dua kapsulpolar yang
berukuran sama, berpasangan berbentk labu, dengan ujung-ujung anerior yang
ramping bertemu pada ujung anterior spora. Kapsul polar terletak pada sudut
sumbu longitudinal dengan ujung-ujung posterior disebelah luar (Molnar et al.,
2002).
o Siklus hidup
Myxobolus cerebralis memiliki siklus hidup dua inang yang melibatkan
ikan salmonid dan oligochaete tubificid. Sejauh ini, satu-satunya rentan
menyerang terhadap infeksi M. Cerebralis adalah Tubifex. Pertama, myxospores
yang dicerna oleh cacing tubificid . Dalam lumen usus cacing, spora mengusir

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 17


kapsul kutub mereka dan menempel pada epitel usus oleh filamen polar.
Kemudian memperbanyak sel, menghasilkan banyak sel amoeboid oleh proses fisi
sel aseksual disebut merogony. Sebagai hasil dari proses penggandaan, ruang
antar sel epitel dalam lebih dari 10 segmen cacing lainnya dapat menjadi
terinfeksi.
Sekitar 60-90 hari postinfection, tahap sel seksual parasit menjalani
sporogenesis, dan berkembang menjadi pansporocysts, masing-masing berisi
delapan spora triactinomyxon-tahap. Spora ini dilepaskan dari anus oligochaete ke
dalam air. Atau, ikan dapat terinfeksi dengan memakan sebuah oligochaete
terinfeksi. Tubificids terinfeksi dapat melepaskan triactinomyxons setidaknya
Spora triactinomyxon dilakukan oleh arus air, di mana mereka dapat menginfeksi
salmonid melalui kulit. Penetrasi ikan oleh spora ini hanya memakan waktu
beberapa detik. Dalam waktu lima menit, kantung dari sel germinal yang disebut
sporoplasm telah memasuki epidermis ikan, dan dalam beberapa jam, sporoplasm
terbagi menjadi sel-sel individual yang akan menyebar melalui ikan.
Dalam ikan, baik intraseluler dan ekstraseluler tahap mereproduksi dalam
tulang rawan sebesar endogeny aseksual, berarti sel-sel baru tumbuh dari dalam
sel-sel lama. Tahap akhir dalam ikan adalah penciptaan myxospore, yang dibentuk
oleh sporogoni. Mereka dilepaskan ke lingkungan saat ikan terurai atau dimakan.
Beberapa penelitian terbaru menunjukkan beberapa ikan mungkin mengusir
myxospores layak saat masih hidup.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 18


Gambar.6.Siklus Hidup Myxobolus cerebralis

o Gejala Infeksi
Ikan yang terserang akan menampkkan gejala klinis, timbulnya bintil-
bintil berwarna kemerah-merahan. Bintil ini sebenarnya merupakan kumpulan
dari ribuan spora. Bintil ini sering menyebabkan tutup insang ikan selalu terbuka.
Terdapat pembengkakan (bisul) disekitar punggung, apabila bisul tersebut pecah
akan mengeluarkan cairan keruh berwarna kuning. Penyakit Myxosporeasis ini
sangat berbahaya, sebab dapat mengakibatkan kematian hingga 80%. Penyakit ini
menimpa ikan remaja dan menyebabkan deformasi tulang dan kerusakan saraf.
Ikan yang terserang penyakit ini terlihat seperti tidak berenang normal, sulit
mencari makan, dan lebih rentan terhadap predator. Tingkat kematian yang tinggi
untuk bibit, hingga 90% dari populasi yang terinfeksi, dan parasit ini berada di
tulang rawan dan tulang mereka. Mereka bertindak sebagai reservoir untuk parasit
yang dilepaskan ke dalam air setelah kematian ikan.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 19


PENUTUP

Kesimpulan

Protozoa kelompok Acetospora dan Myxozoa adalah genera Paramyxa.


Filum Acetospora anggotanya bersifat parasite obligat ekstraseluler,
dengan ciri spora yang kehilangan sumbat di kutub atau filamen kutubnya. Contoh
dari anggota filum ini adalah Haplosporodium yang bersifat parasit dalam sel,
jaringan, dan rongga tubuh hewan molluska.
Filum Myxozoa umumnya disebut sebagai myxosporeans, semua anggota
dari filum ini bersifat parasite obligat ekstraseluler pada ikan air tawar dn ikan
akir laut. Parasit tersebut memiliki spora satu sampai enam filamen kutub yang
berbentuk gulungan. Contoh dari filum ini adalah Myxosoma cerebralis dan
Hoferellus cyprini yang bersifat parasit dalam tubuh ikan.

Saran

Dari hasil pembahasan tentang filum Acetospora yang parasite terhadap


Mollusca dan filum Myxozoayang parasite terhadap ikan air tawar dan ikan air
laut dapat ditularkan oleh vector dan dapat menyebabkan kematian atau infeksi
pada inangnya. Oleh karena itu disarankan penanggulangannya dengan cara
Semua fish-fry yang sudah mempunyai gejala sakit diambil, memindahkan ke
kolam lain, bekas kolam yang pernah ada serangan myxobolus dikeringkan dan
diberi kapur.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 20


DAFTAR RUJUKAN

Desser, S.S. 1995. The demise of a phylum of protists: Myxozoa and other parasitic
Cnidaria. Journal of Parasitology. 81: 961-967
Handajani, Hany dan Sri Samsundari. 2005. Parasit dan Penyakit Ikan. UMM Press.
Malang.
Molnár, K. – Csaba, Gy. – Kovács-Gayer, Éva: Study of The Postulated Identity of
Hoferellus cyprini (Doflein, 1898) and Mitraspora cyprini Fujita, 1912, Acta
Veterinaria Hungarica, 1986. 34. (3–4.) 177–181.
Molnar, et.all. 1989. Hoferellosis in Goldfish Carassius auratus and Gibel Carp
Carassius auratus gibelio. Diseases Of Aquatic Organisms Journal. Vol. 7: 89-
95, 198.
Molnar, Kalman. 2007. Site preference of myxozoans in the kidneys of Hungarian
fishes. Diseases Of Aquatic Organisms Journal. Vol. 78: 45–53, 2007.
Rahayu, Shofia Ery.2014.Protista Mirip Hewan. Malang : Universitas Negeri Malang.
T. Tyml, I. Fiala and J. Lom. 2007. New data on Soricimyxum fegati (Myxozoa)
including analysis of its phylogenetic position inferred from the SSU rRNA gene
sequence. Folia Parasitologica 54: 272-276. Universitas Samratulangi 2007.
Lernea SP http : // www.google.co.id. [ 20 Nopember 2007 ].
Universitas Samratulangi 2007. Lernea SP http : // www.google.co.id. [ 20 Nopember
2007 ].
Yokoyama, Hiroshi, Daniel Grabner dan Sho Shirakashi. 2012. Health and Environment
in Aquaculture. Journal Transmission Biology of the Myxozoa. 3–20.

Protista—Filum Acetospora dan Filum Myxozoa Page 21