Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH PENANGANAN LIMBAH INDUSTRI PANGAN

PADA TEMPE
METODE BIOFILTER AEROBIK-ANAEROBIK

Kelompok 7
Eka Dwi K. 240210160004
Riva Hadiyanti 240210160005
Elvira Dwi Marlina 240210160013
Eris Kurniasari 240210160035
Sukma Safitri 240210160041
Hendi Kuswendi 240210160049

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN
JATINANGOR
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
”Penanganan Limbah Industri Pada Tempe Metode Biofilter Aerobik-Anaerobik”
ini tepat pada waktunya. Secara garis besar, makalah ini berisi tentang karakteristik
dan metode penanganan atau pengolahan pada limbah industri buah dan sayuran.
Makalah ini disusun untuk menambah wawasan penulis dan pembaca.
Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena
itu, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam menyelesaikan makalah ini, terkhusus Yth. dosen Penanganan Limbah
Industri Pangan yang telah memberikan materi perkuliah, wawasan dan moral
untuk kami. Kami mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak demi
kemajuan bersama.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Jatinangor, 25 Mei 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................2


DAFTAR ISI ............................................................................................................3
BAB I .......................................................................................................................4
PENDAHULUAN ................................................................................................4
1.1 Latar Belakang ...............................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................................5
1.3 Tujuan .............................................................................................................6
BAB II ......................................................................................................................7
PEMBAHASAN ......................................................................................................7
2.1 Pengolahan Tempe .........................................................................................7
2.2 Karakteristik Limbah Tempe ..........................................................................8
2.2.1 Karakteristik Fisik Limbah Industri Tempe ....................................................8
2.2.2 Karakteristik Kimia Limbah Industri Tempe ................................................10
2.3. Pengolahan Limbah Tempe ............................................................................13
2.3.1 Teknologi Pengolahan Air Limbah Industri Tempe dengan Sistem Kombinasi
Biofilter Aerobik Anaerobik ...........................................................................13
Penguraian Limbah Secara Anaerob ...............................................................13
Proses Pengolahan Lanjut ...............................................................................18
BAB III ..................................................................................................................21
PENUTUP ..............................................................................................................21
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................21
3.2 Saran ..............................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................22

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tempe sudah diakui mempunyai peran yang besar dalam usaha
meningkatkan gizi masyarakat terutama bagi golongan menengah kebawah.
Industri tempe yang sebagian besar masih merupakan industri rumah tangga dan
dikerjakan secara tradisional, telah mampu menyerap banyak tenaga kerja. Pabrik
pembuatan tempe akan mudah dijumpai dihampir setiap kota di Indonesia
khususnya di Pulau Jawa. Indonesia dapat dipandang sebagai salah satu negara
yang kaya akan teknologi fermentasi secara tradisional, dan tempe merupakan salah
satu produk yang paling menonjol. Tempe cukup terjangkau oleh berbagai lapisan
masyarakat, karena menggunakan teknologi yang masih sederhana dan nilai gizi
yang tinggi serta harga yang relatif murah.
Sebagian besar pabrik tempe mengambil lokasi-lokasi disekitar sungai
ataupun selokan-selokan guna memudahkan proses pembuangan limbahnya, yang
akan sangat mencemari lingkungan perairan disekitarnya. Hal ini dapat terjadi
karena belum adanya upaya penanggulangan limbah.
Limbah adalah sampah cair dari suatu lingkungan masyarakat dan biasanya
terdiri dari air yang telah digunakan. Sebanyak 0,1% limbah dapat pula berupa
benda-benda padat yang terdiri dari zat organik dan anorganik. Limbah yang
dihasilkan suatu usaha dapat digolongkan menurut sifat fisiknya yang meliputi:
limbah cair, limbah padat dan limbah gas (Otto, 1986).
Zat organik dalam sampah terdiri dari bahan-bahan nitrogen, karbohidrat,
lemak, dan sabun. Mereka bersifat tidak tetap dan menjadi busuk, mengeluarkan
bau-bauan yang tidak sedap. Benda-benda anorganik pada umumnya tidak
merugikan (Mahida, 1992).
Umumnya limbah industri pangan tidak membahayakan kesehatan
masyarakat karena tidak terlibat langsung dalam perpindahan penyakit, tetapi
kandungan bahan organiknya yang tinggi dapat bertindak sebagai sumber makanan
bagi pertumbuhan mikroba. Jumlah makanan yang berlimpah akan menyebabkan
mikroorganisme mereduksi oksigen terlarut yang ada di dalam air dan berkembang
biak dengan cepat (Jenie & Rahayu, 1993).

4
Penanganan limbah sebelum dilepaskan ke alam harus diperhatikan sebab
dalam limbah dimungkinkan masih banyak senyawa–senyawa racun. Selain itu
mengandung pula zat–zat hidup khususnya bakteri, virus dan protozoa, dengan
demikian merupakan wadah yang baik untuk pembiakan jasad-jasad renik. Setiap
industri juga harus bertanggungjawab untuk mengembangkan program yang dapat
mengolah limbah dari industri tersebut agar tidak menimbulkan bahaya untuk
lingkungan sekitarnya.
Jika limbah tersebut langsung dibuang ke perairan maka dalam waktu yang
relatif singkat akan menimbulkan bau busuk dari gas H2S, amoniak ataupun fosfin
sebagai akibat dari terjadinya fermentasi limbah organik tersebut (Wardojo,1975).
Adanya proses pembusukan, akan menimbulkan bau yang tidak sedap, terutama
pada musim kemarau dengan debit air yang berkurang. Ketidakseimbangan
lingkungan baik fisik, kimia maupun biologis dari perairan yang setiap hari
menerima beban limbah dari proses produksi tempe ini, akan dapat mempengaruhi
kualitas air dan kehidupan organisme di perairan tersebut .
Saat ini sebagian besar industri tempe masih merupakan industri kecil skala
rumah tangga yang tidak dilengkapi dengan unit pengolah air limbah, sedangkan
industri tempe yang dikelola koperasi beberapa diantaranya telah memiliki unit
pengolah limbah. Unit pengolah limbah yang ada umumnya menggunakan sistem
anaerobik dengan efisiensi pengolahan 60-90%. Limbah yang dibuang ke peraian
kadar zat organiknya (BOD) masih terlampau tinggi yakni sekitar 400 – 1400 mg/l,
dengan sistem pengolah limbah yang ada. Untuk itu perlu dilakukan proses
pengolahan lanjut agar kandungan zat organik di dalam air limbah memenuhi
standar air buangan yang boleh dibuang ke saluran umum.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana diagram alir proses pembuatan tempe?
1. Bagaimana karakteristik limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan
tempe?
2. Bagaimana penanganan limbah dari industri tempe?
3. Bagaimana karakteristik limbah yang dihasilkan setelah dilakukan
penanganan limbah industri pengolahan tempe?

5
1.3 Tujuan
1. Mengetahui diagram alir proses pembuatan tempe
2. Mengetahui karakteristik limbah yang dihasilkan dari proses
pembuatan tempe
3. Mengetahui penanganan limbah dari industi tempe.
4. Mengetahui karakteristik limbah yang dihasilkan setelah dilakukan
penanganan limbah industri pengolahan tempe

6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengolahan Tempe


Berikut ini merupakan bagan proses pembuatan tempe dan limbah yang
dihasilkannya:

Gambar 1. Bagan Proses Pembuatan Tempe

Berdasarkan bagan diatas, hampir setiap tahapan proses yang berlangsung


menghasilkan air limbah. Berikut penjelasan secara singkat mengenai bagan proses
diatas:

7
1. Kedelai dimasak, setelah masak kedelai direndam 1 malam hingga lunak dan
terasa berlendir, kemudian kedelai dicuci hingga bersih.
2. Kedelai dipecah dengan mesin pemecah, hingga kedelai terbelah dua dan kulit
kedelai terpisah.
3. Kulit kedelai dipisahkan dengan cara hasil pemecahan kedelai dimasukkan ke
dalam air, sehingga kulit kedelai mengambang dan dapat dipisahkan.
4. Kedelai kupas dicuci kembali hingga bersih, kemudian peragian dengan cara
kedelai dicampurkan ragi yang telah dilarutkan dan didiamkan selama lebih
kurang 10 menit.
5. Kedelai yang telah mengandung ragi ditiriskan hingga hampir kering, kemudian
dibungkus dengan daun pisang. Setelah fermentasi selama 2 hari diperoleh
tempe (Said &Wahjono,1999).
Apabila limbah ini dibuang keperairan maka akan tercemar oleh bahan
organik dalam jumlah yang besar, sehingga kebutuhan oksigen untuk proses
penguraiannya lebih banyak dari pada pemasukan oksigen keperairan, dan
kandungan oksigen terlarut sangat rendah. Hal ini sangat membahayakan
kehidupan organisme perairan tersebut. Sisa bahan organik yang tidak terurai secara
aerob akan diuraikan oleh bakteri anaerob, sehingga akan tercium bau busuk.

2.2 Karakteristik Limbah Tempe


Hal yang perlu diperhatikan dari limbah industri tempe yakni karakteristik
fisik dan kimia. Karakteristik fisik meliputi Total Soluble Solid (TSS), Total
Dissolve Solid (TDS), suhu, warna dan bau. Sementara karakteristik kimia meliputi
bahan organik, bahan anorganik, gas, pH, BOD (Biological Oxygen Demand), COD
(Chemical Oxigen Demand) dan DO (Dissolve Oxygen).
2.2.1 Karakteristik Fisik Limbah Industri Tempe
Limbah cair yang dihasilkan berasal dari lokasi pemasakan kedelai,
pencucian kedelai, peralatan proses dan lantai. Menurut penelitian yang dilakukan
Wiryan, karakteristik fisik limbah tempe juga dapat diperjelas dengan tabel berikut
dimana yang telah dilakukan analis untuk mengetahui kandungan limbah tempe.

8
Tabel 1. Tabel Karakteristik Fisik Limbah Cair pada Industri Pembuatan
Tempe
Rata-rata Rata-rata
Baku Limbah Limbah
No. Parameter Satuan Mutu Air Cair dari Cair dari
Limbah Rebusan Rendaman
Kedelai Kedelai
o
1. Suhu C 45 75 32
TDS (Total
2. mg/L 5.000 25.060 25.254
Dissolve Solid)
TSS (Total Soluble
3. mg/L 500 4.012 4.551
Solid)
4. pH - 5-9 6 4,16
(Sumber: Kepmen LH No. KEP-51/MENLH/10/1995)
Keterangan: Tercetak tebal berarti melampaui standar baku mutu limbah cair
Limbah cair tersebut memiliki warna putih keruh yang berasal dari
pembuangan air rendaman dan pengelupasan kulit kedelai yang masih banyak
mengandung pati, juga berasal dari air bekas pencucian peralatan proses produksi,
peralatan dapur dan peralatan lainnya. Sementara bau yang timbul disebabkan
karena adanya aktivitas mikroorganisme yang menguraikan zat organik atau dari
reaksi kimia yang terjadi dan menghasilkan gas tertentu (Wignyanto,et all, 2009).
Selain ketiga hal di atas, yang termasuk ke dalam karakteristik fisika limbah
cair adalah suhu. Berdasarkan Tabel 1, suhu limbah cair yang berasal dari rebusan
kedelai mencapai 75oC. Apabila setiap hari perairan memperoleh pasokan limbah
cair dengan suhu yang tinggi maka akan membahayakan kehidupan organisme air.
Suhu yang optimum untuk kehidupan dalam air adalah 25 – 30o C. Air sungai yang
suhunya naik akan mengganggu kehidupan hewan maupun tanaman air karena
kadar oksigen terlarut akan turun bersamaan dengan kenaikan suhu. Tumbuhan air
akan terhenti pertumbuhannya pada suhu air dibawah 10oC atau diatas 40oC
(Wardhana, 2004).
Berdasarkan Tabel 1, limbah cair dari proses perebusan dan perendaman
kedelai, mempunyai nilai TDS dan TSS yang jauh melewati standar baku mutu
limbah cair. Pada limbah cair terdapat padatan organik dan non-organik yang
mengendap dan tersuspensi sehingga dapat mengendap dan menyebabkan
pendangkalan. Padatan tersuspensi yang dihasilkan meliputi kulit (ampas tempe),
selaput lendir dan bahan organik lainnya. Pengaruh padatan tersuspensi (TSS)
maupun padatan terlarut (TDS) sangat beragam, tergantung dari sifat kimia alamiah
9
bahan tersuspensi tersebut. Pengaruh yang berbahaya pada ikan, zooplankton
maupun makhluk hidup yang lain pada prinsipnya adalah terjadinya penyumbatan
insang oleh partikel partikel yang menyebabkan afiksiasi. Di samping itu juga
adanya pengaruh pada perilaku ikan dan yang paling sering terjadi adalah
penolakan terhadap air yang keruh, adanya hambatan makan serta peningkatan
pencarian tempat berlindung. Pola yang ditemukan pada sungai yang menerima
sebagian besar padatan tersuspensi, secara umum adalah berkurangnya jumlah
spesies dan jumlah individu makhluk hidup (Connel dan Miller, 1995).
2.2.2 Karakteristik Kimia Limbah Industri Tempe
Bahan-bahan organik yang terkandung di dalam limbah industri tempe pada
umumnya sangat tinggi. Senyawa-senyawa organik di dalam limbah yang berupa
air buangan tersebut dapat berupa protein, karbohidrat, lemak dan minyak. Di
antara senyawa-senyawa tersebut, protein merupakan yang jumlahnya paling besar
mencapai 40% - 60%, 25 - 50% karbohidrat dan 10% lemak. Semakin lama jumlah
dan jenis bahan organik ini semakin banyak, dalam hal ini akan menyulitkan
pengelolaan limbah, karena beberapa zat sulit diuraikan oleh mikroorganisme di
dalam air limbah tempe tersebut. Untuk menentukan besarnya kandungan bahan
organik digunakan beberapa teknik pengujian seperti BOD dan COD (Said
&Wahjono, 1999).
Biological Oxygen Demand (BOD) adalah kebutuhan oksigen yang terlarut
dalam air buangan yang dipergunakan untuk menguraikan senyawa organik dengan
bantuan mikroorganisme pada kondisi tertentu. Pada umumnya proses penguraian
terjadi secara baik yaitu pada temperatur 20°C dan waktu 5 hari, karena dalam
waktu 5 hari sebgian besar bahan organik sudah dapat terurai. Sementara Chemical
Oxygen Demand (COD) adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oksidator
untuk mengoksidasi bahan organik dan juga bahan anorganik (Said &Wahjono,
1999).
Air limbah industri tempe kualitasnya bergantung dari proses yang
digunakan. Apabila air prosesnya baik, maka kandungan bahan organik pada air
buangannya pada umumnya rendah. Limbah dari proses pembuatan tempe ini
termasuk dalam limbah yang biodegradable yaitu merupakan limbah atau bahan
buangan yang dapat dihancurkan oleh mikroorganisme. Senyawa organik yang
terkandung didalamnya akan dihancurkan oleh bakteri meskipun prosesnya lambat

10
dan sering disertakan dengan keluarnya bau busuk. Konsentrasi amoniak sebesar
0,037 mg/L sudah dapat menimbulkan bau amoniak yang menyengat. Dalam
limbah domestik, sebagian besar nitrogen organik akan diubah menjadi amoniak
pada pembusukan anaerobik dan menjadi nitrat atau nitrit pada pembusukan aerob,
(Said & wahjono,1999).
Umumnya konsentrasi ion hidrogen buangan industri tempe cenderung
bersifat asam, sehingga air limbah dan bahan buangan yang dibuang ke perairan
akan mengubah pH air, dan dapat mengganggu kehidupan organisme air, pH air
normal yang memenuhi syarat untuk kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5
- 7,5 (Wardhana, 2004). Sementara berdasarkan Tabel 1, nilai rata-rata pH limbah
cair dari rebusan kedelai adalah 6 dan untuk nilai rata-rata pH limbah cair dari
rendaman kedelai adalah 4,16.
Adapun gas-gas yang biasa ditemukan dalam limbah tempe adalah gas
nitrogen (N2), oksigen (O2), hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3), karbondioksida
(CO2) dan metana (CH4). Gas-gas tersebut berasal dari dekomposisi bahan-bahan
organik yang terdapat di dalam air limbah tempe.
Selain itu Menurut penelitian yang dilakukan Wiryan, karakteristik kimia
limbah tempe juga dapat diperjelas dengan tabel berikut dimana yang telah
dilakukan analis untuk mengetahui kandungan limbah tempe.
Tabel 2. Tabel Karakteristik Kimia Limbah Cair pada Industri Pembuatan
Tempe
Rata-rata Rata-rata
Baku Mutu Limbah Limbah
No. Parameter Satuan Air Cair dari Cair dari
Limbah Rebusan Rendaman
Kedelai Kedelai
NH3N (Amoniak
1. mg/L 20 16,5 26,7
bebas)
2. NO3N (Nitrat) mg/L 50 12,52 14,08
DO (Dissolve
3. mg/L - ttd ttd
Oxygen)
BOD (Biological
4. mg/L 300 1.302,03 31.380,87
Oxygen Demand)
COD (Chemical
5. mg/L 600 4.188,27 35.398,87
Oxygen Demand)
(Sumber: Kepmen LH No. KEP-51/MENLH/10/1995)
Keterangan: Tercetak tebal berarti melampaui standar baku mutu limbah cair,
sementara ttd berarti tidak terdeteksi

11
Berdasarkan Tabel 2. tersebut diatas dapat dinyatakan bahwa baik limbah
cair yang berasal dari air rebusan maupun air rendaman kedelai berpotensi untuk
mencemari lingkungan perairan disekitarnya. Terdapat hubungan timbal balik
antara oksigen terlarut dengan laju pernapasan mahkluk hidup. Meningkatnya suhu
akan menyebabkan peningkatan laju pernapasan makhluk hidup dan penurunan
oksigen terlarut dalam air. Laju penurunan oksigen terlarut (DO) yang disebabkan
oleh limbah organik akan lebih cepat karena laju peningkatan pernapasan makhluk
hidup yang lebih tinggi (Connel dan Miller, 1995).
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa limbah tempe ini termasuk
dalam limbah yang biodegradable. Bahan buangan biodegradable merupakan
nutrien bagi tumbuhan air (Prawiro, 1988). Kandungan bahan buangan
biodegradable yang tinggi pada perairan dapat menimbulkan eutrofikasi sehingga
menyebabkan terjadinya blooming population beberapa tumbuhan air seperti alga,
phytoplankton maupun eceng gondok (Eichhornia crassipes solm) (Wardhana,
2004). Terjadinya peningkatan eutrofikasi mengakibatkan daerah yang kekurangan
oksigen terlarut akan semakin meluas. Hal ini dapat menurunkan jumlah habitat
yang sesuai untuk ikan dan dapat menyebabkan penurunan jumlah ikan secara
keseluruhan (Connel dan Miller, 1995).
Jika dilihat pada tabel 2 diatas nilai Biological Oxygen Demand (BOD atau
kebutuhan oksigen biologis) dari limbah cair ini sangat tinggi sehingga jumlah
oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme di dalam perairan untuk
mendegradasi limbah tersebut sangat besar. Bahan organik akan diuraikan oleh
mikroorganisme menjadi gas CO2, H2O dan gas NH3. Gas NH3 inilah yang
menimbulkan bau busuk. Demikian juga dengan angka Chemical Oxigen Demand
(COD atau kebutuhan oksigen kimiawi) sangat tinggi sehingga akan membutuhkan
oksigen yang sangat besar agar limbah cair tersebut dapat teroksidasi melalui reaksi
kimia. Dalam hal ini limbah organik akan dioksidasi oleh kalium bikromat
(K2Cr2O7) menjadi gas CO2 dan H2O serta ion Chrom (Wardhana, 2004).
Berdasarkan Tabel 1 dan Tabel 2, limbah cair pada industri pembuatan
tempe masih belum sepenuhnya memenuhi standar baku mutu, sehingga perlu
dilakukan pengolahan limbah agar aman dibuang ke perairan.

12
2.3 Pengolahan Limbah Tempe
2.3.1 Teknologi Pengolahan Air Limbah Industi Tempe dengan Sistem
Kombinasi Biofilter Anaerob –Aerob
Berdasarkan karakteristik limbah yang dihasilkan, limbah industri tempe ini
dapat menimbulkan pencemaran yang cukup berat karena mengandung polutan
organik yang cukup tinggi. Dari beberapa hasil penelitian, konsentrasi COD
(Chemical Oxygen Demand) di dalam air limbah industri tahu-tempe cukup tinggi
yakni berkisar antara 7.000 - 10.000 ppm, serta mempunyai keasaman yang rendah
yakni pH 4-5. Dengan kondisi seperti di atas, air limbah industri tahu-tempe
merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan yang sangat potensial.
Saat ini pengelolaan air limbah industri tahu-tempe umumnya dilakukan
dengan cara membuat bak penampung air limbah sehingga terjadi proses anaerob.
Dengan adanya proses biologis anaerob tersebut maka kandungan polutan organik
yang ada di dalam air limbah dapat diturunkan. Tetapi dengan proses tersebut
efisiesi pengolahan hanya berkisar antara 50 % - 70 % saja. Dengan demikian jika
konsentrasi COD dalam air limbah 7000 ppm, maka kadar COD yang keluar masih
cukup tinggi yakni sekitar 2100 ppm, sehinga hal ini masih menjadi sumber
pencemaran lingkungan. Suatu alternatif pengolahan limbah yang cukup sederhana
adalah pengolahan secara biologis, yakni dengan kombinasi proses biologis
"Anaerob-Aerob". Sistem ini cocok diterapkan pada pengolahan limbah yang
banyak mengandung bahan-bahan organik. Limbah industri tahu/tempe merupakan
salah satu jenis limbah yang banyak mengandung bahan-bahan organik.Secara
umum proses pengolahannya dibagi menjadi dua tahap yakni pertama proses
penguraian anaerob (Anaerobic digesting), dan yang kedua proses pengolahan
lanjut dengan sistem biofilter anaerob-aerob. Secara garis besar proses pengolahan
limbah tempe ditunjukan seperti pada gambar 1.
1. Penguraian Limbah Secara Anaerob
1.1 Pengolahan Limbah Awal (Perlakuan Tahap Awal)
Air limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan/pengrajin tempe
dikumpulkan melalui saluran air limbah, kemudian dialirkan ke bak kontrol untuk
memisahkan kotoran padat. Selanjutnya, sambil di bubuhi dengan larutan kapur
atau larutan NaOH air limbah dialirkan ke bak pengurai anaerob. Di dalam bak
pengurai anaerob tersebut polutan organik yang ada di dalam air limbah akan

13
diuraikan oleh mikroorganisme secara anaerob, menghasilkan gas methan yang
dapat digunakan sebagai bahan bakar. Dengan proses tahap pertama konsentrasi
COD dalam air limbah dapat diturukkan sampai kira-kira 600 ppm (efisiensi
pengolahan 90 %). Air olahan tahap awal ini selanjutnya diolah dengan proses
pengolahan lanjut dengan sistem biofilter aerob.
Gambar 1.Diagram proses pengolahan air limbah industri tempe dengan
sistem biofilter anaerob aerob :

Sumber: (Said &Wahjono, 1999).


Dalam proses pengolahan limbah tempe ini dapat pula dilakukan secara
aerobik, namun proses anaerobik mempunyai keunggulan dibandingkan dengan
peoses aerobik sehingga sering diaplikasikan dalam penanganan limbah tempe.
Menurut Lettingan et al, (1980);Sahm(1984); Sterritt dan Lester (1988);
Switzenbaum (1983), keunggulan proses anaerobik dibandingkan proses aerobik
adalah sebagai berikut: proses anaerobik dapat segera menggunakan CO2 yang ada
sebagai penerima elektron. Proses tersebut tidak membutuhkan oksigen dan
pemakaian oksigen dalam proses penguraian limbah akan menambah biaya
pengoperasian.
 Penguraian anaerobik menghasilkan lebih sedikit lumpur (3-20 kali lebih
sedikit dari pada proses aerobik), energi yang dihasilkan bakteri anaerobik
relatif rendah. Sebagian besar energi didapat dari pemecahan substrat yang
ditemukan dalam hasil akhir, yaitu CH4. Dibawah kondisi aerobik 50% dari
karbon organik dirubah menjadi biomassa, sedangkan dalam proses
anaerobik hanya 5% dari karbon organik yang dirubah menjadi biomassa.
Dengan proses anaerobik satu metrik ton COD tinggal 20 - 150 kg biomassa,

14
sedangkan proses aerobik masih tersisa 400 - 600 kg biomassa (Speece, 1983;
Switzenbaum, 1983).
 Proses anaerobik menghasilkan gas yang bermanfaat, metan. Gas metan
mengandung sekitar 90% energi dengan nilai kalori 9.000 kkal/m3, dan dapat
dibakar ditempat proses penguraian atau untuk menghasilkan listrik. Sedikit
energi terbuang menjadi panas (3-5%). Produksi metan menurunkan BOD
dalam penguraian lumpur limbah.
 Energi untuk penguraian limbah kecil.
 Penguraian anaerobik cocok untuk limbah industri dengan konsentrasi
polutan organik yang tinggi.
 Memungkinkan untuk diterapkan pada proses penguraian limbah dalam
jumlah besar.
1.2 Proses Penguraian Senyawa Organik Secara Anaerob
Secara garis besar penguraian senyawa organik secara anaerob dapat di bagi
menjadi dua yakni penguraian satu tahap dan penguraian dua tahap.
1.2.1 Penguraian satu tahap
Penguraian anaerobik membutuhkan tangki fermentasi yang besar,
memiliki pencampur mekanik yang besar, pemanasan, pengumpul gas,
penambahan lumpur, dan keluaran supernatan. Penguraian lumpur dan
pengendapan terjadi secara simultan dalam tangki. Stratifikasi lumpur dan
membentuk lapisan berikut dari bawah ke atas : lumpur hasil penguraian, lumpur
pengurai aktif, lapisan supernatan (jernih), lapisan buih (skum), dan ruang gas. Hal
ini secara umum ditunjukkan seperti pada gambar 3 di bawah ini.

15
Gambar 3 : Penguraian anerob satu tahap(Said & wahjono,1999).
1.2.2 Penguraian dua tahap
Secara sederhana proses penguraian anaerob dua tahap dapat ditunjukkan
seperti gambar di bawah ini:

Gambar 4 : Penguraian anerob dua tahap (Said & wahjono,1999).


Berdasarkan gambar di atas, dalam proses ini membutuhkan dua tangki
pengurai (reaktor) yakni pada tangki tahap I berfungsi mencampur secara terus-
menerus dan pemanasan untuk stabilisasi lumpur, sedangkan tangki tahap II lagi
untuk pemekatan dan penyimpanan sebelum dibuang ke pembuangan. Proses ini
dapat menguraikan senyawa organik dalam jumlah yang lebih besar dan lebih cepat.
1.3 Proses Mikrobiologi di Dalam Penguraian Anaerob
Kumpulan mikroorganisme, umumnya bakteri, terlibat dalam transformasi
senyawa komplek organik menjadi metan. Lebih jauh lagi, terdapat interaksi
sinergis antara bermacam-macam kelompok bakteri yang berperan dalam
penguraian limbah. Keseluruhan reaksi dapat digambarkan sebagai berikut
(Polprasert, 1989):
Senyawa Organik  CH4 + CO2 + H2 + NH3 + H2S
Meskipun beberapa jamur (fungi) dan protozoa dapat ditemukan dalam
penguraian anaerobik, bakteri bakteri tetap merupakan mikroorganisme yang paling
dominan bekerja didalam proses penguraian anaerobik. Sejumlah besar bakteri
anaerobik dan fakultatif (seperti : Bacteroides, Bifidobacterium, Clostridium,
Lactobacillus, Streptococcus) terlibat dalam proses hidrolisis dan fermentasi

16
senyawa organik. Proses penguraian senyawa organik secara anaerobik secara garis
besar ditunjukkan seperti pada gambar 7.
Ada empat grup bakteri yang terlibat dalam transformasi material komplek
menjadi molekul yang sederhana seperti metan dan karbon dioksida. Kelompok
bakteri ini bekerja secara sinergis. Bakteri yang terlibat yaitu bakteri hidrolitik,
asidogenik fermentatif, asetogenik, dan metanogen. (Archer dan Kirsop, 1991;
Barnes dan Fitzgerald, 1987; Sahm, 1984; Sterritt dan Lester, 1988; Zeikus, 1980)
a) Kelompok Bakteri Hidrolitik
Kelompok bakteri anaerobik memecah molekul organik komplek (protein,
cellulose, lignin, lipids) menjadi molekul monomer yang terlarut seperti asam
amino, glukosa, asam lemak, dan gliserol. Molekul monomer ini dapat langsung
dimanfaatkan oleh kelompok bakteri berikutnya. Hidrolisis molekul komplek
dikatalisasi oleh enzim ekstra seluler seperti sellulase, protease, dan lipase.
Walaupun demikian proses penguraian anaerobik sangat lambat dan menjadi
terbatas dalam penguraian limbah sellulolitik yang mengandung lignin (Polprasert,
1989; Speece, 1983).
b) Kelompok Bakteri Asidogenik Fermentatif
Bakteri asidogenik (pembentuk asam) seperti Clostridium merubah gula,
asam amino, dan asam lemak menjadi asam organik (seperti asam asetat, propionik,
formik, lactik, butirik, atau suksinik), alkohol dan keton (seperti etanil, metanol,
gliserol, aseton), asetat, CO2 dan H2. Asetat adalah produk utama dalam fermentasi
karbohidrat. Hasil dari fermentasi ini bervariasi tergantung jenis bakteri dan kondisi
kultur seperti temperatur, pH, potensial redok.
c) Kelompok Bakteri Asetogenik
Bakteri asetogenik (bakteri yang memproduksi asetat dan H 2)
seperti Syntrobacter wolinii dan Syntrophomonas wolfei (McInernay et al., 1981)
merubah asam lemak (seperti asam propionat, asam butirat) dan alkohol menjadi
asetat, hidrogen, dan karbon dioksida, yang digunakan oleh bakteri pembentuk
metan (metanogen). Bakteri asetogenik tumbuh jauh lebih cepat dari pada bakteri
metanogenik. Kecepatan pertumbuhan bakteri asetogenik (m mak) mendekati 1 per
jam sedangkan bakteri metanogenik 0,04 per jam (Hammer, 1986).

17
d) Kelompok Bakteri Metanogen
Penguraian senyawa organik oleh bakteri anaerobik dilingkungan alam
melepas 500 - 800 juta ton metan ke atmosfir tiap tahun dan ini mewakili 0,5%
bahan organik yang dihasilkan oleh proses fotosintesis (Kirsop, 1984; Sahm, 1984).
Bakteri metanogen terjadi secara alami didalam sedimen yang dalam atau dalam
pencernaan herbivora. Kelompok ini dapat berupa kelompok bakteri gram positip
dan gram negatif dengan variasi yang banyak dalam bentuk. Mikroorganime
metanogen tumbuh secara lambat dalam air limbah dan waktu tumbuh berkisar 3
hari pada suhu 35o C sampai dengan 50 hari pada suhu 10o C.
2 Proses Pengolahan Lanjut
Proses pengolahan lanjut ini dilakukan dengan sistem biofilter anaerob-
aerob. Metode ini dipilih karena mempunyai beberapa keuntungan dalam proses
pengolahan air limbah, antara lain: pengelolaannya sangat mudah, biaya operasinya
rendah, dibandingkan dengan proses lumpur aktif, Lumpur yang dihasilkan relatif
sedikit, dapat menghilangkan nitrogen dan phospor yang dapat menyebabkan
euthropikasi, suplai udara untuk aerasi relatif kecil, dapat digunakan untuk air
limbah dengan beban BOD yang cukup besar, dan dapat menghilangan padatan
tersuspensi (SS) dengan baik.
Pengolahan air limbah dengan proses biofilter anaerob-aerob terdiri dari
beberapa bagian yakni bak pengendap awal, biofilter anaerob (anoxic), biofilter
aerob, bak pengendap akhir, dan jika perlu dilengkapi dengan bak kontaktor khlor.
Air limbah yang berasal dari proses penguraian anaerob (pengolahan tahap perama)
dialirkan ke bak pengendap awal, untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan
kotoran lainnya. Selain sebagai bak pengendapan, juga berfungsi sebagai bak
pengontrol aliran, serta bak pengurai senyawa organik yang berbentuk padatan,
sludge digestion (pengurai lumpur) dan penampung lumpur.
Air limpasan dari bak pengendap awal selanjutnya dialirkan ke bak
kontaktor anaerob dengan arah aliran dari atas ke dan bawah ke atas. Di dalam bak
kontaktor anaerob tersebut diisi dengan media dari bahan plastik atau kerikil/batu
split. Jumlah bak kontaktor anaerob ini bisa dibuat lebih dari satu sesuai dengan
kualitas dan jumlah air baku yang akan diolah. Penguraian zat-zat organik yang ada
dalam air limbah dilakukan oleh bakteri anaerobik atau facultatif aerobic. Setelah
beberapa hari operasi, pada permukaan media filter akan tumbuh lapisan film

18
mikro-organisme. Mikroorganisme inilah yang akan menguraikan zat organik yang
belum sempat terurai pada bak pengendap.
Air limpasan dari bak kontaktor anaerob dialirkan ke bak kontaktor aerob.
Di dalam bak kontaktor aerob ini diisi dengan media dari bahan kerikil, plastik
(polyethylene), batu apung atau bahan serat, sambil diaerasi atau dihembus dengan
udara sehingga mikro organisme yang ada akan menguraikan zat organik yang ada
dalam air limbah serta tumbuh dan menempel pada permukaan media. Dengan
demikian air limbah akan kontak dengan mikro-orgainisme yang tersuspensi dalam
air maupun yang menempel pada permukaan media yang mana hal tersebut dapat
meningkatkan efisiensi penguraian zat organik, deterjen serta mempercepat proses
nitrifikasi, sehingga efisiensi penghilangan ammonia menjadi lebih besar. Proses
ini sering di namakan Aerasi Kontak (Contact Aeration). Dari bak aerasi, air
dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini lumpur aktif yang mengandung
massa mikroorganisme diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi
dengan pompa sirkulasi lumpur. Sedangkan air limpasan (over flow) dialirkan ke
bak khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor ini air limbah dikontakkan dengan
senyawa khlor untuk membunuh mikroorganisme patogen. Air olahan, yakni air
yang keluar setelah proses khlorinasi dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran
umum. Dengan kombinasi proses anaerob dan aerob tersebut selain dapat
menurunkan zat organik (BOD, COD), ammonia, deterjen, padatan tersuspensi
(SS), phospat dan lainnya. Dengan adanya proses pengolahan lanjut tersebut
konsentrasi COD dalam air olahan yang dihasilkan relatif rendah yakni sekitar 60
ppm.
Proses pengolahan lanjut dengan sistem Biofilter Anaerob-Aerob ini mempunyai
beberapa keuntungan yakni :
 Adanya air buangan yang melalui media kerikil yang terdapat pada biofilter
mengakibatkan timbulnya lapisan lendir yang menyelimuti kerikil atau yang
disebut juga biological film. Air limbah yang masih mengandung zat
organik yang belum teruraikan pada bak pengendap bila melalui lapisan
lendir ini akan mengalami proses penguraian secara biologis. Efisiensi
biofilter tergantung dari luas kontak antara air limbah dengan mikro-
organisme yang menempel pada permukaan media filter tersebut. Makin
luas bidang kontaknya maka efisiensi penurunan konsentrasi zat organiknya

19
(BOD) makin besar. Selain menghilangkan atau mengurangi konsentrasi
BOD dan COD, cara ini dapat juga mengurangi konsentrasi padatan
tersuspensi atau suspended solids (SS) , deterjen (MBAS), ammonium dan
posphor.
 Biofilter juga berfungsi sebagai media penyaring air limbah yang melalui
media ini. Sebagai akibatnya, air limbah yang mengandung suspended
solids dan bakteri E.coli setelah melalui filter ini akan berkurang
konsentrasinya. Efesiensi penyaringan akan sangat besar karena dengan
adanya biofilter up flow yakni penyaringan dengan sistem aliran dari bawah
ke atas akan mengurangi kecepatan partikel yang terdapat pada air buangan
dan partikel yang tidak terbawa aliran ke atas akan mengendapkan di dasar
bak filter. Sistem biofilter anaerob-aerb ini sangat sederhana, operasinya
mudah dan tanpa memakai bahan kimia serta tanpa membutuhkan energi.
Poses ini cocok digunakan untuk mengolah air limbah dengan kapasitas
yang tidak terlalu besar.
 Dengan kombinasi proses "Anaerob-Aerob", efisiensi penghilangan
senyawa phospor menjadi lebih besar bila dibandingankan dengan proses
anaerob atau proses aerob saja. Phenomena proses penghilangan phosphor
oleh mikroorganisne pada proses pengolahan anaerob-aerab dapat
diterangkan seperti pada gambar 5. Selama berada pada kondisi anaerob,
senyawa phospor anorganik yang ada dalam sel-sel mikrooragnisme akan
keluar sebagai akibat hidrolosa senyawa phospor. Sedangkan energi yang
dihasilkan digunakan untuk menyerap BOD (senyawa organik) yang ada di
dalam air limbah. Efisiensi penghilangan BOD akan berjalan baik apabila
perbandingan antara BOD dan phospor (P) lebih besar 10. (Metcalf and
Eddy, 1991). Selama berada pada kondisi aerob, senyawa phospor terlarut
akan diserap oleh bakteria/ mikroorganisme dan akan sintesa menjadi
polyphospat dengan menggunakan energi yang dihasik oleh proses oksidasi
senywa organik (BOD). Dengan demikian dengan kombinasi proses
anaerob-aerob dapat menghilangkan BOD maupun phospor dengan baik.
Proses ini dapat digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban
organik yang cukup besar.

20
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Limbah industri tempe mengandung bahan organik yang tinggi, konsentrasi
COD (Chemical Oxygen Demand) di dalam air limbah industri tempe cukup tinggi
yaitu berkisar antara 7.000 - 10.000 ppm dan keasaman yang rendah pH 4-5.
Sehingga, digunakan proses pengolahan dengan metode biofilter anaerob-aerob.
Secara umum proses pengolahannya dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama
adalah proses penguraian anaerob (Anaerobic digesting) dan tahap yang kedua
adalah proses pengolahan lanjut dengan sistem biofilter anaerob-aerob.
Beberapa keunggulan proses pengolahan air limbah dengan biofilter anaerob-aerob
antara lain:
1. Pengoperasiannya sangat mudah dan biaya operasinya rendah
2. Lumpur yang dihasilkan relatif sedikit
3. Dapat menghilangkan nitrogen dan fospor yang dapat menyebabkan eutrofikasi,
suplai udara untuk aerasi relatif kecil
4. Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar dan
dapat menghilangan padatan tersuspensi (SS) dengan baik

3.1 Saran
Diperlukan penanganan limbah industri tempe yang tepat, agar tidak
mencemari perairan dan mengganggu atau bahkan merusak ekosistem tempat
pembuangan limbah tersebut. Selain itu, alangkah lebih baik jika hasil samping
penanganan/pengolahan limbah berupa pupuk organik yang bermanfaat untuk
tanaman, sehingga masyarakat mendapatkan manfaat dengan adanya industri
tersebut

21
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1989. Tahu Tempe, Pembuatan, Pengawetan dan Pemanfaatan Limbah.


Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan IPB. Bogor.

Connell, D.W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi lingkungan. UI
Press. Jakarta.

Guideline for Agricultural Waste Management

Jenie, B. S. L. & W. P. Rahayu. (1993). Penanganan Limbah Industri Pangan.


Kanisius. Yogyakarta

Karyadi, D. 1985. Prospek Pengembangan Tempe Dalam Upaya Peningkatan


Status Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Mahida , U N. 1992. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. CV


Rajawali. Jakarta.

Otto. (1986). Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. CV.Rajawali.


Jakarta.

Parker, Rick. (2003). Introduction to Food Science. Delmar, a Division of


Thomson Learning, Inc. United States of America.

Prawiro, R. 1988. Ekologi Lingkungan Pencemaran. Satya Wacana. Semarang .

Rosalina R .2008. Pengaruh Konsentrasi Dan Frekuensi Penyiraman Air Limbah


Tempe Sebagai Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tomat
(Lycopersicum Esculentum Mill.). Universitas Islam Negeri Malang.
Malang.

Said, N I & Wahjono H.D.1999. Teknologi Pengolahan Limbah Tahu Tempe


Dengan Proses Biofilter Anaerob dan Aerob. Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi. Jakarta.

Wardoyo, S.T.H. 1975. Pengelolaan Kualitas Air. IPB. Bogor.

Wardhana, W.A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit Andi.


Yogyakarta.
22
Wiryani E.____.Analisa Kandungan Limbah Cair Pabrik Tempe. Universitas
Dipenogoro. Semarang.

Wignyanto, Hidayat N, & Ariningrum A. 2009. Bioremediasi Limbah Cair Sentra


Industri Tempe Sanan Serta Perencenaan unit Pengolahan (Kajian
Pengaturan Kecepatan Aerasi Dan Waktu Inkubasi). Universitas Brawijaya.
Malang.

23