Anda di halaman 1dari 12

Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

Lilis Lismayanti1, Kusman Ibrahim2, Lia Meilianingsih3


1
Stikes Tasikmalaya, 2Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran, 3Politeknik Kemenkes Bandung
3
Poltekkes Kemenkes Bandung
Email: lilismayanti@gmail.com

Abstrak

Filariasis merupakan penyakit yang kurang diperhatikan, karena penderita cenderung mengalami stigma negatif.
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman hidup orang terinfeksi filariasis. Penelitian menggunakan
metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Tujuh partisipan berpartisipasi dalam penelitian
ini. Analisis data menggunakan pendekatan Collaizi. Hasil penelitian mendapatkan lima tema dan 16 subtema.
Pertama, pengalaman pertama kali terinfeksi filariasis dengan subtema kaget, bingung, dan perasaan tidak menentu.
Kedua, pengalaman orang terinfeksi filariasis selama menjalani gejala klinisnya dengan subtema demam, nyeri,
bengkak, keterbatasan aktivitas, dan kelelahan. Ketiga, gangguan emosi dan psikologis dengan subtema malu,
jengkel, dan pasrah. Keempat, adanya beban sosial ekonomi dengan subtema menarik diri dari interaksi sosial dan
kesulitan ekonomi. Kelima, pengalaman orang terinfeksi filariasis dalam mengakses pelayanan kesehatan dengan
subtema penyakit yang tidak kunjung sembuh setelah beberapa kali berobat ke pelayanan kesehatan, mencari
alternatif pengobatan, pelayanan kesehatan yang kurang memuaskan dan harapan pelayanan kesehatan yang lebih
baik. Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan pelayanan keperawatan komunitas, baik pada
kelompok yang sakit, yang beresiko dan yang sehat, dengan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Kata kunci: Fenomenologi, filariasis, pengalaman hidup

The Live Experience of People with Filariasis

Abstract

Filariasis is a disease that is less noted, because people with filariasis tend to experience negative stigma. This
study aims to explore the lived experience of people infected with filariasis. This study is descriptive qualitative
with phenomenological approach. Seven (7) participants involved in this study. Data was analized using Collaizi’s
approach to analysis. The results of this study found 5 themes with 16 subthemes. First, the experience at first infected
with filariasis with subthemes: shock, confusion, and feeling uncertain. Second, filariasis infected people experience
during their clinical symptoms with subtheme: Fever, pain, swelling, lack of activity, and fatigue. Third, filariasis
infected people experience of emotional and psychological disturbance with subthemes: Shame, irritated, and
surrender. Fourth, Socioeconomic burden with subthemes: withdraw from social interaction and economic hardship.
Fifth, filariasis infected people experience in accessing health services with subthemes: Never recovered after several
times getting treatment by health professional, seeking alternative treatment, unsatisfactory with health services and
expectation of better health care. The results of this study can be used as a reference to improve community nursing
services, either at hospital group, risk and healthy people, with promotive, preventive, curative and rehabilitative.

Key words: Filariasis, lived experience, phenomenology

18 Volume 1 Nomor 1 April 2013


Lilis Lismayanti: Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

Pendahuluan 69 kasus, Kota Bekasi sebanyak 39 kasus,


kabupaten Tasikmalaya sebanyak 37 kasus,
Filariasis atau yang lebih dikenal dengan Bogor sebanyak 35 kasus, dan Kuningan
penyakit kaki gajah adalah penyakit yang sebanyak 25 kasus (Kementrian Kesehatan
disebabkan oleh infeksi parasit nematoda. Republik Indonesia, 2010).
Penyakit yang menjadi masalah kesehatan Kasus filariasis tersebar di 20 wilayah
masyarakat ini telah tersebar di seluruh dunia, kerja puskesmas di Tasikmalaya. Jumlah
terutama di negara tropis dan subtropis. kasus terbanyak terdapat di Puskesmas
Sudomtung pada jenis spesiesnya. Tamansari. Penderita filariasis di wilayah
Penyakit filariasis yang telah kronik, tersebut terdapat 19 kasus filariasis kronik dan
seringkali luput dari perhatian tenaga kerja 12 kasus diantaranya mengalami kecacatan
kesehatan. Hal demikian terjadi karena pada tungkai bawah sebelah kiri, enam kasus
penderita tidak berupaya untuk mencari mengalami kecacatan pada tungkai bawah
bantuan pelayanan kesehatan, tidak mau sebelah kanan, dan satu orang mengalami
keluar rumah, malu untuk bertemu orang lain, pembengkakan di seluruh tubuhnya. Kasus
takut dicemooh, dikucilkan, serta adanya penderita filariasis yang dilaporkan di
stigma dari masyarakat sebagai penyakit yang Kota Tasikmalaya tersebut hanya kasus
menjijikkan. Selain hal tersebut, penyakit kronik, sedangkan kasus positif yang belum
filariasis juga diyakini berhubungan dengan menunjukkan gejala spesifik belum termasuk
kekuatan gaib, sihir, atau supranatural. didalamnya (Dinas Kesehatan Provinsi Jabar,
Indonesia merupakan negara endemis 2005).
terbesar di Asia Tenggara untuk tiga spesies Penyakit filariasis dapat berupa filariasis
Filaria penyebab filariasis limfatik (Krentel, tanpa gejala dan dengan gejala peradangan.
dkk., 2006). Saat ini sekitar 495 negara Filariasis tanpa gejala umumnya terjadi di
diperkirakan mempunyai population at risk daerah endemik. Pada pemeriksaan fisik
1,3 milyar, 180 juta orang tinggal di daerah hanya ditemukan pembesaran kelenjar
endemi filariasis, lebih dari 120 juta orang limfe terutama di daerah inguinal. Pada
diantaranya sudah terinfeksi, 43 juta orang pemeriksaan darah ditemukan mikrofilaria
sudah menunjukkan gejala klinis berupa dalam jumlah besar dan eosinofilia. Filariasis
pembengkakkan anggota tubuh di kaki atau dengan peradangan dapat berupa demam,
lengan (lymphoedema) atau anggota tubuh menggigil, sakit kepala, muntah dan lemah
lainnya (World Health Organization [WHO], yang dapat berlangsung beberapa hari sampai
2011 & Hotez, dkk., 2007). beberapa minggu. Pada laki-laki umumnya
Kasus filariasis di Indonesia yang dilaporkan terdapat funikulitis disertai penebalan
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dan rasa nyeri, epididimitis, orkitis, dan
sampai tahun 2009 sebanyak 11.914 yang pembengkakan skrotum. Pada wanita
tersebar di 401 kabupaten atau kota. Jumlah dapat terjadi elephantiasis pada vagina dan
tersebut merupakan jumlah kumulatif dari payudara.
penderita lama yang baru ditemukan maupun Kecacatan fisik yang dialami oleh
penderita baru. Jumlah penderita filariasis penderita filariasis memberikan dampak
di Jawa Barat mengalami peningkatan pada mobilitas fisik, psikologis, sosial,
yang signifikan dalam kurun waktu tiga dan ekonomi. Kecacatan fisik sangat
tahun terakhir. Pada tahun 2006, penderita menghambat aktivitas sehari-hari penderita
filariasis ditemukan sebanyak 252 kasus, filariasis, hal demikian sesuai dengan hasil
sedangkan tahun 2007 jumlah temuan penelitian yang dilakukan oleh Omudu,
meningkat 13 kasus dari tahun sebelumnya. Agbo, Okafor, dan Chukwuemenam (2011)
Puncaknya pada tahun 2008 temuan jumlah dan Kanda (2004), bahwa pada episode akut
penderita filariasis melonjak tajam hingga filariasis membatasi kemampuan perempuan
404 kasus. Laporan Subdinas Penyehatan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga
Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa seperti memasak, menjaga, atau merawat
Barat tahun 2008, terdapat sembilan daerah anak-anak. Hasil penelitian yang dilakukan
endemis filariasis. Jumlah penderita terbesar Kumari, Harichandrakumar, Das, dan
ditemukan di kabupaten Bekasi sebanyak Krisnamoorthy (2005) dalam studi kasusnya

Volume 1 Nomor 1 April 2013 19


Lilis Lismayanti: Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

menyatakan bahwa dalam keadaan filariasis penderita filariasis sebesar 17,8% dari biaya
akut, mobilitas fisik terkena dampak yang total rumah tangga atau sekitar 32,2% dari
berat sehingga penderita sangat tergantung biaya yang diperlukan untuk makan satu
pada keluarga untuk perawatan dirinya. rumah tangga penderita filariasis .
Kecacatan yang irreversible merupakan Penelitian yang dilakukan Wynd, Melrose,
pemicu utama bagi penderita filariasis Durrheim, Caron, & Gaypong (2007)
terjadinya gangguan psikologis berupa penderita limfatik filariasis kronik mengalami
perasaan malu, kecemasan, depresi, bahkan disfungsi seksual dan menghadapi stigma
ada upaya untuk bunuh diri. Studi kasus yang sosial sebagai akibat dari kecacatan mereka.
dilakukan Bose (2011), penderita merasa Berdasarkan laporan hasil studi kasus Bose
tertekan dengan kondisi fisiknya karena (2011) menemukan penderita sangat tertekan
harus diamputasi, dan sebelum bertemu tentang kondisi adanya filariasis dan bahkan
dengan peneliti penderita pernah mencoba pernah ada upaya bunuh diri. Sejalan dengan
untuk bunuh diri. Dampak psikologis ini penelitian WHO dalam (Kanda, 2004) terkait
bertambah berat sesuai dengan tingkat dengan aspek sosial, beban psikologis juga
kecacatan fisiknya. Laporan studi kasus yang memengaruhi kehidupan pasien, biasanya
dilakukan Kumari, Harichandrakumar, Das, orang depresi, sikap pasif, putus asa, dan
dan Krishna Moorthy (2005) menemukan fatalisme, dalam beberapa kasus bahkan
bahwa ada partisipan yang mengalami mengarah pada upaya bunuh diri.
menggigil di kendaraan umum dan jatuh Penelitian Kanda (2004) didapatkan
dimana saja saat terjadi serangan akut. dari 316 responsden hanya dua orang yang
Kejadian tersebut berulang, sehingga mampu mengenali penyakitnya. Hampir
mengakibatkan kecemasan karena selalu setengah dari responsden mengandalkan
ada kekhawatiran bahwa serangan akan pengobatan tradisional, hanya 30,1% yang
terjadi lagi di depan banyak orang. Sebagian datang ke sarana kesehatan atau tenaga
besar penderita mengatakan bahkan berpikir kesehatan. Tindakan yang dilakukan oleh
untuk mengakhiri hidup mereka daripada responsden adalah menjaga kebersihan,
menanggung penderitaannya. rendam kaki dengan sabun, obat herbal,
Kecacatan akibat filariasis tidak hanya memakai kaos stocking, tetetapi ada juga
berdampak terhadap psikologisnya, tetetapi yang melakukan tindakan yang bertentangan
juga akan berdampak terhadap keadaan sosial seperti mencuci kaki dan merendam dengan
dan ekonomi penderita. Kecacatan fisik akan air dingin atau air seni, bukan menghindari air
menimbulkan perasaan malu, takut diketahui dingin atau mencuci kaki dengan air hangat,
orang lain, sehingga penderita menarik diri 90% melaporkan bahwa mereka setidaknya
dari lingkungannya; kemudian kehilangan percaya dengan kemampuan mereka untuk
pekerjaan, yang selanjutnya berdampak merawat kaki mereka. Lebih dari setengah
terhadap ekonominya. Hal ini sejalan responsden mengalami ketidaknyamanan
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh atau nyeri dan lebih dari sepertiga responsden
Wijesinghe, Wickremasinghe, Ekanayake, mengalami depresi. Rata-rata hari tidak sehat
dan Parera (2007), penderita dilaporkan dalam sebulan adalah tujuh hari, tidak ada
mengalami masalah berinteraksi dengan satupun dari reponden yang merasa sakit
masyarakat dan keluarga, dan mereka merasa lebih dari seminggu. Faktor kecemasan lebih
ditolak oleh masyarakat. signifikan daripada faktor yang lain.
Dampak ekonomi bukan hanya disebabkan Dampak kompleksitas yang diakibatkan
karena kehilangan pekerjaan, tetetapi juga oleh penyakit filariasis sehingga sangat
karena bertambahnya beban ekonomi memungkinkan terjadinya perbedaan
untuk perawatan. Laporan studi kasus yang persepsi orang terhadap pengalaman selama
dilakukan Kumari, dkk. (2005), penderita menghadapi penyakitnya, dengan kata
setiap episode akut kehilangan pekerjaan lain bahwa seseorang yang mempunyai
dan pendapatan, dan harus memenuhi pengalaman penyakit sama tidak menutup
pengeluaran untuk pengobatan, sedangkan kemungkinan akan menimbulkan persepsi
hasil penghitungan Gani yang dikutip dari yang berbeda-beda. Penelitian kuantitatif
(Sudomo, 2008) bahwa biaya perawatan tentang filariasis di Indonesia sudah

20 Volume 1 Nomor 1 April 2013


Lilis Lismayanti: Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

banyak dilakukan, sedangkan penelitian jengkel, dan pasrah. Keempat, adanya beban
kualitatif masih jarang dilakukan apalagi sosial ekonomi dengan subtema menarik diri
yang berhubungan dengan pengalaman dari interaksi sosial dan kesulitan ekonomi.
hidup orang terinfeksi filariasis, sehingga Kelima, pengalaman orang yang terinfeksi
masih sedikit diketahui tentang pengalaman filariasis dalam mengakses pelayanan
hidup orang terinfeksi filariasis di Indonesia kesehatan dengan subtema penyakit yang
khususnya di Tasikmalaya. tidak kunjung sembuh setelah beberapa kali
Penelitian ini dilakukan untuk meng- berobat ke pelayanan kesehatan, mencari
eksplorasi lebih dalam mengenai pengalaman alternatif pengobatan, pelayanan kesehatan
hidup orang yang pernah mengalami infeksi yang kurang memuaskan dan harapan
filariasis dalam menjalani kehidupan sehari- pelayanan kesehatan yang lebih baik.
hari dengan penyakitnya. Hasil penelitian
ini akan memberikan pemahaman yang Hasil penelitian yang berkenaan dengan
mendalam kepada perawat tentang kehidupan pengalaman orang terinfeksi filariasis ketika
orang terinfeksi filariasis, sehingga dapat pertama kali didiagnosis filariasis didapatkan
dijadikan acuan dalam memberikan asuhan tiga subtema, yaitu kaget, bingung, dan
keperawatan secara holistik. perasaan tidak menentu. Berikut ini ungkapan
dari partisipan dari setiap subtema :

Metode Penelitian a. Kaget


Tiga dari tujuh partisipan merasa kaget ketika
Rancangan penelitian menggunakan pene- pertama kali didiagnosis filariasis. Partisipan
litian kualitatif deskriptif dengan pendekatan yang didiagnosis filariasis mengungkapkan
fenomenologi. Penelitian ini dilakukan di hal tersebut tidak lama setelah munculnya
Kota Tasikmalaya. Sampel menggunakan gejala bengkak, berikut ini sebagian dari
purposive sampling jumlah partisipan ungkapan partisipan:
tujuh orang dengan pertimbangan telah “Ya pasti takut, kaget…,”(Partisipan 2)
saturasi. Kriteria partisipan adalah orang “Tentunya juga kaget, seperti kena
terinfeksi filariasis yang telah melewati petir…,” (tampak menutup matanya dan
stadium II, tinggal di Kota Tasikmalaya, menggelengkan kepala)(Partisipan 7)
telah mendapatkan pelayanan kesehatan “Kaget…kan ingin sembuh.” (Partisipan 4)
khususnya puskesmas setempat, mampu
menceritakan pengalamannya dan bersedia b. Bingung
menjadi partisipan. Peneliti merupakan Empat dari tujuh partisipan merasa bingung
instrumen utama dalam penelitian ini dan ketika pertama kali didiagnosis filariasis,
menggunakan alat bantu berupa panduan perasaan bingung terjadi karena mengetahui
wawancara, catatan lapangan, perekam bahwa penyakitnya tidak dapat disembuhkan
suara dan kamera. Data dikumpulkan dan harus menjalani penyakitnya dalam
dengan wawancara mendalam. Analisis data waktu yang tidak pasti. Berikut ini ungkapan
menggunakan pendekatan Collaizi. sebagian dari partisipan:
“Ya pasti takut,….,bingung…,” (partisipan
mengerutkan dahi). (Partisipan 2)
Hasil Penelitian “…Bingung, sedih, sudahlah campur aduk,
kan ingin sembuh…”(partisipan tertunduk).
Hasil penelitian mendapatkan lima tema dan (Partisipan 4)
16 subtema. Pertama, pengalaman pertama
kali terinfeksi filariasis dengan subtema Bingung diungkapkan partisipan 1 dan
kaget, bingung, dan perasaan tidak menentu. partisipan 3 saat menginjak dewasa ketika
Kedua, pengalaman orang terinfeksi filariasis mulai mengerti tentang kaki gajah. Berikut
selama menjalani gejala klinisnya dengan salah satu ungkapan dari partisipan:
subtema demam, nyeri, bengkak, keterbatasan “Saat itu tidak apa-apa, mungkin saat
aktivitas, dan kelelahan. Ketiga, gangguan itu saya masih kecil jadi belum tahu apa
emosi dan psikologis dengan subtema malu, maksudnya,... setelah remaja mengerti, baru

Volume 1 Nomor 1 April 2013 21


Lilis Lismayanti: Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

merasa bingung”. (Partisipan 1) (Partisipan 1)


c. Perasaan tidak menentu d. Keterbatasan aktivitas
Tiga dari tujuh partisipan ada yang merasakan Seluruh partisipan mengalami keterbatasan
perasaan tidak menentu ketika pertama kali aktivitas sebagai dampak dari gejala fisiknya.
didiagnosis filariasis, perasaan tidak menentu Keterbatasan aktivitas ini dikarenakan
ini diakibatkan karena ketidakpastian dengan kakinya yang bengkak, juga karena nyeri.
penyakitnya, berikut ungkapan salah satu Berikut adalah ungkapan sebagian partisipan:
partisipan: “Jangankan kerja yang berat, kalau
“Perasaan tidak menentu, pikiran tidak sholatpun kadang-kadang terbatas, duduk
pasti”. (tampak partisipan meremas-remas juga tidak dapat, nah ini kan kaku, saking
tangannya). (Partisipan 4) kerasnya.”. (Partisipan 2)

Pengalaman orang terinfeksi Filariasis e. Kecapean
selama menjalani gejala fisiknya ditemukan Empat dari tujuh partisipan mengatakan
lima tema, yaitu demam, nyeri, bengkak, bahwa kambuhnya penyakit terjadi apabila
keterbatasan aktivitas, dan kecapean. telah kecapean. Berikut ini adalah ungkapan
sebagian partisipan:
a. Demam “Agak cape kerja di rumah juga sama,
Semua partisipan pernah mengalami demam suka kambuh. Dulu waktu masih ini masih
selama menjalani penyakitnya, berikut ini suka digendong, malamnya suka kambuh.”
sebagian dari ungkapan partisipan: (Partispan 6)
“…seperti ini demam seperti bisul yang
belum pecah,”. (Partisipan 1) Hasil penelitian berkenaan dengan
“Kalau sedang kambuh segala macam, pengalaman penderita filariasis terkait aspek
demam dulu”. (Partisipan 3) emosi dan psikologis, didapatkan tiga tema
yaitu malu, jengkel, dan pasrah.
b. Nyeri
Seluruh partisipan mengalami gejala fisik a. Malu
berupa nyeri, keluhan nyeri diungkapkan oleh Dua dari tujuh partisipan hanya mengatakan
partisipan dengan bahasa yang berbeda -beda malu karena kakinya yang bengkak dan
sesuai dengan tingkat dan karekteristik nyeri berbeda dari yang lainnya, berikut ungkapan
yang dirasakannya. Berikut ini ungkapan dari partisipan :
sebagian partisipan tentang nyeri: “Tidak gimana-gimana, ah malu saja,”
“ Nah ini sebelah sini, nyeri seperti diremas– (Partisipan 1)
remas,” (partisipan menunjukkan daerah “Cuma malu saja sayanya.”. (Partisipan 7)
yang nyeri sambil meringis) (Partisipan 1)
“...awalnya nyeri seperti ditusuk, ini sebelah Perasaan malu akan berkurang karena
kanan,..” (partisipan menunjukkan kakinya partisipan sudah mampu beradaptasi dengan
yang dirasakan nyeri) (Partisipan 2) kondisi yang berbeda dengan orang lain,
berikut ungkapan partisipan:
c. Bengkak "…soalnya malu…ah sekarang mah PD
Gejala bengkak dialami oleh semua (percaya diri) aja”. (Partisipan 5)
partisipan, ada partisipan yang merasakan
bengkak dengan disertai benjolan, bernanah, Tiga dari tujuh partisipan merasa malu,
mengeras, dan ada juga hanya gejala bengkak perasaan malu akan semakin meningkat
yang muncul. Berikut ini ungkapan sebagian dengan semakin besarnya ukuran bengkak,
partisipan: berikut ini ungkapan partisipan:
“…jadi ininya bengkak sebelah, kemudian “Entah kalau seperti kaki gajah mah,
menonjol, dan pecah sebelah sininya…” kayanya malu membukanya juga. Ini kan
(partisipan menunjukkan kakinya yang masih membentuk”. (Partisipan 2)
bengkak dan ada luka yang masih basah).

22 Volume 1 Nomor 1 April 2013


Lilis Lismayanti: Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

b. Jengkel Kesulitan ekonomi dirasakan oleh lima dari


Dua dari tujuh partisipan merasa jengkel, tujuh partisipan, berikut ungkapan salah satu
hal ini terjadi karena merasa malu dengan partisipan:
kecacatannya dan karena penyakitnya yang “Yang membuat saya sedih waktu saya
tidak kunjung sembuh, berikut ungkapan mencari pekerjaan, tidak ada yang mau
partisipan: menerima, karena fisik saya tidak normal,
“Ah saya sudah nasib saya, malu pasti saya sudah melamar kesana kemari, sudahlah
malu dong neng. Diantara keluarga, hanya akhirnya saya putus asa. Ya…akhirnya
saya yang punya cacat begini..sampai suka bekerja seperti ini, jadi buruh lepas… ah,
jengkel, nangis sudah cape…”. (Partisipan 3) yang pasti mah keuangannya yang tidak
memungkinkan…”. (Partisipan 5)
c. Pasrah
Keadaan fisik yang diakibatkan oleh penyakit Hasil Penelitian yang berkenaan dengan
filariasis membuat partisipan menjadi malu pengalaman penderita filariasis dalam
dan jengkel. Pada keadaan penyakit yang mengakses pelayanan kesehatan didapatka
tidak kunjung sembuh, akhirnya partisipan tiga tema, yaitu bosan dengan penyakit yang
pasrah. Hal ini dikemukan oleh enam dari tidak kunjung sembuh setelah beberapa kali
tujuh partisipan. Berikut sebagian ungkapan ke pelayanan kesehatan akhirnya mencari
dari partisipan: alternatif pengobatan tradisional dan dukun,
“…tetapi saya tidak menjadi kebencian, pelayanan yang kurang memuaskan, dan
berserah diri saja kepada Alloh sudah takdir harapan pelayanan yang lebih baik. Lebih
harus begini……sudah gimana-gimana, jelasnya peneliti paparkan sebagai berikut :
ah saya sudahlah pasrah saja menghadapi
kehidupan seperti ini…”. (Partisipan 3) a. Bosan dengan penyakit yang tidak kunjung
“Kalau sekarang mau bagaimana juga sembuh setelah beberapa kali ke pelayanan
silahkan, sudah pasrah. Sudah terlalu lama”. kesehatan akhirnya mencari alternatif
(Partisipan 4) pengobatan tradisional dan dukun
Enam dari tujuh partisipan melakukan
Hasil penelitian berkenaan dengan pengobatan ke pelayanan kesehatan, karena
pengalaman penderita filariasis selama men- tidak kunjung sembuh partisipan datang
jalani beban sosial ekonomi didapatkan dua ke dukun. Berikut ungkapan salah satu
tema yaitu menarik diri dari interaksi sosial, partisipan :
kesulitan ekonomi. Lebih jelasnya peneliti “Pokoknya mulai dari obat warung,
dideskripsikan sebagai berikut: puskesmas, rumah sakit sudah dikunjungi,
yang belum mah dokter spesialis, waktu
a. Menarik diri dari interaksi sosial itu mah belum ada dokter spesialis kulit…
Respons masyarakat yang kurang baik dan ke kampung atau dukun, sama pengobatan
perasaan malu karena keadaan fisik yang tradisional juga pernah.” (Partisipan 5)
berbeda dengan yang lain membuat partisipan
menarik diri dari interaksi sosial. Berikut b. Pelayanan kesehatan yang kurang
sebagian ungkapan partisipan: memuaskan.
“Dulu tuh saya suka pengajian, tiap minggu Empat dari tujuh partisipan merasakan
tidak kelewat… nah waktu saya kambuh, pelayanan kesehatan yang diberikan kurang
ibu-ibu pengajian nengok…saya mendengar memuaskan, berikut ungkapan partisipan:
dengan telinga sendiri ada yang bilang “Ah acuh tak acuh saja, kurang memper-
begini, jangan ke dalam ah, jijik….lagian hatikan”. (Partisipan 3)
menular… sampai sekarang mulai dari sakit “Biasa-biasa. Kurang memuaskan.Maklum ke
tidak pernah ngaji lagi, habis malu, kan yang tidak ada biaya, ditambah keadaannya
bilangnya begitu”. (Partisipan 7) begini. Kurang memuaskan… dalam
pemeriksaan, cuma diperiksa saja, dilihat,
b. Kesulitan ekonomi dikasih rujukan saja ke Bandung. Tidak

Volume 1 Nomor 1 April 2013 23


Lilis Lismayanti: Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

dijelaskan harus diperiksa gimana-gimana- Hasil penelitian pengalaman orang


nya,... diperiksa langsung dikasih rujukan, terinfeksi filariasis selama menjalani gejala
jadi tidak dikasih obat. Di puskesmas begitu, klinis didapatkan lima subtema yaitu demam,
di rumah sakit juga sama.”. (Partispan 4) nyeri, bengkak, keterbatasan aktivitas, dan
kelelahan.
c. Harapan pelayanan kesehatan yang lebih Demam, nyeri, dan bengkak merupakan
baik manifestasi peradangan yang terjadi
Seluruh partisipan mempunyai harapan dikarenakan invasi parasit yang memasuki
terhadap pelayanan kesehatan yang lebih baik, sirkulasi darah. Antigen parasit cacing dewasa
berikut ini ungkapan sebagian partisipan: dapat mengaktifkan sel T, sehingga sel T
“Ya, pelayanannya harus ditingkatkan saja,” dapat melepaskan sitokinin yang selanjutnya
(Partisipan 4) menstimuli sumsum tulang sehingga terjadi
“Lebih baik saja, terus kalau berobat tuh eosinofilia yang dapat meningkatkan
dijelaskan harus bagaimana-bagaimananya, mediator proinflamatori. Sitokinin juga
supaya tidak bingung di rumahnya.” akan merangsang meningkatkan produksi
(Partisipan 6) Immunoglobulin E (Ig E). Ig E yang terbentuk
berikatan dengan parasit dan melepaskan
mediator inflamasi sehingga timbul demam
Pembahasan dan nyeri.
Invasi parasit yang memasuki sirkulasi,
Hasil penelitian tentang pengalaman orang lalu menuju pembuluh limfa dan nodus
terinfeksi filariasis ketika pertama kali limfa. Kerusakan pada pembuluh limfa
didiagnosis menderita filariasis didapatkan dapat disebabkan oleh cacing dewasa
bahwa terdapat respons psikologis berupa ataupun oleh respons imun terhadap cacing
kaget, bingung dan perasaan tidak menentu. dewasa yang hidup didalamnya, kemudian
Kaget merupakan respons yang muncul dan menginduksi terjadinya proliferasi sel
dirasakan oleh partisipan yang didiagnosis endotel dan dilatasi limfatik. Respons imun
tidak lama dari mulai munculnya bengkak. terhadap cacing dewasa dapat menyebabkan
Perasaan kaget merupakan respons psikologis granuloma inflamatorik. Kedua respons ini
terhadap ketidaksiapan dalam menghadapi menyebabkan terjadinya obstruksi limfatik
sesuatu atau tidak menerima terhadap dan pada akhirnya terjadilah bengkak atau
kenyataan yang terjadi. kaki gajah.
Perasaan bingung dikarenakan adanya Gejala fisik nyeri, demam dan bengkak
pemahaman yang terbatas dari partisipan banyak diungkapkan oleh para ahli dan
tentang penyakit filariasis. Pemahaman peneliti, diantaranya yang diungkapkan
partisipan tentang dampak yang diakibatkan oleh Widoyono (2008) bahwa gejala timbul
oleh penyakit filariasis seperti tidak dapat akibat manifestasi kronik penyakit. Pada
disembuhkan, menular, adanya respons fase akut bersifat tidak khas, yaitu demam
negatif dari masyarakat, maka akan berulang-ulang, kemudian gejala lebih
meningkatkan perasaan bingung. Perasaan sering apabila partisipan bekerja terlalu
tidak menentu merupakan manifestasi berat, dapat timbul benjolan dan terasa nyeri
dari ketidakpastian masa depan yang pada lipat paha atau ketiak dengan tidak ada
berhubungan dengan penyakitnya. Secara luka di badan. Selanjutnya menurut Marty
eksplisit ditemukan juga ungkapan cemas (2011) lymphedema biasanya terjadi setelah
dari partisipan. Fenomena ini sesuai dengan serangan akut berulang kali.
hasil penelitian Kumari, dkk. (2005) Keterbatasan aktivitas dapat diakibatkan
dalam studi kasusnya menyatakan keadaan karena adanya perasaan nyeri yang tidak
kecacatan yang kronik dan ketidakpastian dapat ditolelir dan karena ektremitas yang
proses penyembuhan membuat pikiran membesar sehingga menimbulkan perasan
terganggu, mereka mengalami kecemasan berat, susah menggerakkan anggota tubuh
atau depresi, bingung, ‘linglung’, dan tidak yang akan mengurangi kemampuan untuk
mampu berkonsentrasi yang pada akhirnya melakukan aktivitas. Hasil penelitian diatas
menyebabkan kehilangan minat. didukung oleh penelitian Wijesinghe, dkk.

24 Volume 1 Nomor 1 April 2013


Lilis Lismayanti: Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

(2007) bahwa mayoritas (95%) pasien bahwa tingkat stigmatisasi pada limpatik
filariasis mengalami dampak pada tungkai filariasis tampaknya akan secara langsung
dan ada hubungan yang signifikan dengan berhubungan dengan adanya keparahan yang
kesulitan dalam berjalan (p-=0,023). Pada terlihat pada penyakitnya. Perasaan malu
anggota badan yang bengkak memengaruhi juga dikemukakan oleh Urrahman (2011) dan
kerja (52%). Hasil penelitian inipun sejalan Kanda (2004), manifestasi klinis filariasis
dengan penelitian Kumari, dkk. (2005) akut seperti pembesaran kaki, lengan,
dalam keadaan akut, yang paling parah payudara serta alat kelamin dapat memberikan
terkena dampak adalah mobilitas, penderita gambaran yang menakutkan. Manifestasi
tidak dapat berjalan atau bergerak dan hanya klinis tersebut akan menimbulkan perasaan
terbatas di tempat tidur. Penderita sangat malu, rendah diri, depresi, menyendiri, dan
tergantung pada keluarga untuk perawatan menolak diri. Pada studi kualitatif yang
dirinya, begitu pula hasil penelitian yang dilakukan oleh Perera, Whitehead, Molyneux,
dilakukan oleh Omudu, dkk. (2011) dan Weerarooriya, dan Gunatilleke (2007) bahwa
Kanda (2004) bahwa pada episode akut orang dengan limpatik filariasis mengalami
membatasi kemampuan perempuan untuk tanggapan negatif dari orang lain terhadap
melakukan pekerjaan rumah tangga seperti anggota tubuh yang cacat.
memasak, membersihkan rumah, mencuci Gejala klinis yang irreversible membuat
dan membawa anak-anak. penderita menjadi jengkel. Perasaan jengkel
Serangan berulang pada partisipan terjadi merupakan manifestasi dari keputusasaan,
karena kecapean atau setelah bekerja berat. penolakan dan ungkapan perasaan marah.
Terjadi karena dengan kecapean atau kerja Kanda (2004) mengemukakan bahwa
berat dapat meningkatkan respons imun, penyakit dengan jangka waktu yang singkat
yang dapat meningkatkan pelepasan mediator dan tidak mengancam kehidupannya akan
inflamasi sehingga gejala nyeri dan demam menimbulkan sedikit perubahan perilaku,
sering terjadi berulang kali. Faktor pencetus sedangkan penyakit berat yang mengancam
kambuhnya gejala filariasis sesuai dengan kehidupannya dapat menimbulkan perubahan
yang dikemukakan oleh Widoyono (2008) emosi dan perilaku yang lebih luas seperti
dan Oemiyati (1990) bahwa gejala lebih cemas, shock, penolakan, marah, dan menarik
sering bila penderita bekerja terlalu berat. diri.
Selain itu, hasil penelitian dengan pendekatan Menghadapi penyakit yang tidak kunjung
studi kasus yang dilakukan Kumari, dkk. sembuh pada akhirnya partisipan merasa
(2005), ditemukan partisipan yang takut pasrah menerima kenyataan penyakitnya.
untuk bepergian kemanapun tanpa ditemani Pasrah memiliki makna berserah diri kepada
karena takut dengan serangan–serangan yang Allah tanpa ada upaya lagi untuk melakukan
terjadi secara mendadak setelah kecapaian. pengobatan, hal ini juga memiliki makna
Hasil penelitian tentang pengalaman bahwa partisipan telah bosan dan putus
penderita filariasis terkait aspek emosi dan asa dengan upaya yang telah dilakukan.
psikologis didapatkan tiga subtema yaitu Menurut World Health Organization (WHO)
malu, jengkel, pasrah. dalam (Kanda, 2004) terkait dengan aspek
Gangguan fisik dan penderita filariasis mem- sosial, beban psikologis juga memengaruhi
punyai dampak yang sangat besar terhadap kehidupan pasien, biasanya orang depresi,
psikologis penderita yang dapat mengganggu sikap pasif, putus asa, dan tidak percaya diri,
pembentukan konsep dirinya. Manifestasi dalam beberapa kasus bahkan mengarah ke
klinis filariasis seperti pembesaran kaki bunuh diri.
akan menimbulkan perasaan malu, beratnya Hasil penelitian tentang pengalaman orang
kecacatan akan sangat memengaruhi beban terinfeksi Filariasis selama menjalani beban
psikologis penderita. Adanya stigma men- sosial ekonomi didapatkan dua subtema
jijikkan akan meningkatkan perasaan yaitu menarik diri dari interaksi sosial dan
malu pada partisipan, yang sangat kesulitan ekonomi.
berhubungan dengan tingkat kecacatan,
seperti yang dikemukakan oleh Alonso a. Menarik diri dari interaksi sosial
dan Alvar (2010) dan Wynd, dkk. (2001) Munculnya manifestasi klinis bengkak akan

Volume 1 Nomor 1 April 2013 25


Lilis Lismayanti: Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

menimbulkan perasaan malu pada partisipan. akut kehilangan pekerjaan dan pendapatan,
Semakin parah tingkat kecacatan, maka dan harus memenuhi pengeluaran untuk
akan meningkat pula stigmatisasi sosial pengobatan. Hasil penelitian Coreil, Mayard,
bahwa penyakit filariasis adalah penyakit Louis, dan Adis (1998) dicatat bahwa selama
yang menakutkan dan menjijikan. Perasaan sakit akan menurunkan mobilitas, sehingga
malu dan stigma yang ada di masyarakat, mereka tidak mempunyai kemampuan
menyebabkan muncul upaya partisipan untuk menjual hasil kebunnya ke pasar,
untuk menyembunyikan kecacatannya, salah sehingga akan menurunkan penghasilannya,
satunya dengan menarik diri dari interaksi sedangkan menurut Gyapong, Gyapong,
sosial. Sejalan dengan yang dikemukakan Weis, dan Tanner (2000) dan Suma, Shenoy,
oleh Urrahman (2011) dan Kanda (2004) dan Kumaraswami (2003) ketika penyakit
bahwa manifestasi klinis filariasis akut seperti berkembang maka individu yang terkena
pembesaran kaki, lengan, payudara serta alat filariasis dan mengalami kecacatan semakin
kelamin dapat memberikan gambaran yang menurunkan kontribusi mereka terhadap
menakutkan. Manifestasi klinis tersebut tenaga kerja, sehingga akan menjadi beban
akan menimbulkan perasaan malu, rendah ekonomi rumah tangga yang lebih lanjut.
diri, depresi, menyendiri, menolak diri. Hasil Penelitian yang berkenaan dengan
Penyakit dengan jangka waktu yang singkat pengalaman penderita filariasis dalam
dan tidak mengancam kehidupannya akan mengakses pelayanan kesehatan didapatkan
menimbulkan sedikit perubahan perilaku, tiga subtema, yaitu bosan dengan penyakit
sedangkan penyakit berat, yang mengancam yang tidak kunjung sembuh setelah beberapa
kehidupannya dapat menimbulkan perubahan kali ke pelayanan kesehatan akhirnya mencari
emosi dan perilaku yang lebih luas seperti alternatif pengobatan tradisional dan dukun,
ansietas, shock, penolakan, marah, dan pelayanan yang kurang memuaskan, dan
menarik diri. harapan pelayanan yang lebih baik.
Pola pencarian pengobatan sangat
b. Kesulitan ekonomi dipengaruhi oleh norma dan budaya yang
Upaya menarik diri partisipan akan melekat pada individu dan keluarga, selain
kehilangan kesempatan untuk bekerja, itu juga dipengaruhi oleh pemahaman yang
sehingga akan menurunkan pendapatannya kurang dari partisipan tentang pengobatan
dan akhirnya terjadi kesulitan ekonomi. filariasis. Asumsi yang melekat pada partisi-
Kesulitan ekonomi ini bukan hanya merupakan pan bahwa pengobatan yang baik adalah
dampak dari menarik diri dari interaksi apabila setelah habis makan obat langsung
sosial, tetetapi juga karena adanya stigma sembuh, sehingga ketika setelah berobat
sehingga partisipan akan sulit untuk mencari tidak merasakan perubahan, maka partisipan
pekerjaan bahkan ada juga partisipan yang dan atau keluarga memutuskan untuk mencari
dikeluarkan dari pekerjaannya. Selain itu pengobatan yang lainnya baik ke pelayanan
dapat menurunkan produktifitas karena kesehatan lagi maupun untuk pengobatan
keterbatasan kemampuan untuk melakukan alternatif lainnya.
aktivitas yang akan berdampak terhadap kondisi Persepsi yang salah tentang pengobatan
ekonominya. Kondisi ekonomi ini diperparah filariasis, mungkin dikarenakan hanya dua
dengan kebutuhan partisipan untuk biaya dari tujuh partisipan yang telah mendapatkan
pengobatan, sehingga kondisi ekonomi ini kunjungan dari tenaga kesehatan, itupun
semakin sulit. mereka belum mendapatkan informasi
Hasil penelitian di atas sesuai dengan yang lengkap tentang filariasis, baik
hasil penelitian yang dilakukan Kumari, tentang penyakitnya, pengobatan maupun
dkk. (2005) dalam studi kasusnya bahwa perawatannya, padahal orang yang terinfeksi
dalam keadaan akut yang paling parah filariasis sangat memerlukan perawatan
terkena dampak adalah mobilitas, penderita yang berkelanjutan, agar dapat menghadapi
tidak dapat berjalan atau bergerak dan hidupnya secara optimal. Selain itu,
hanya terbatas di tempat tidur. Penderita filariasis merupakan penyakit yang berbasis
sangat tergantung pada keluarga untuk lingkungan, artinya masyarakat yang berada
perawatan dirinya. Penderita setiap episode disekitarnya mempunyai risiko terjadi fila-

26 Volume 1 Nomor 1 April 2013


Lilis Lismayanti: Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

riasis, sehingga tugas tenaga kesehatan bukan dalam mengakses pelayanan yang lebih baik.
hanya berfokus pada yang sakit, tetetapi juga Harapan partisipan untuk mendapatkan
bagi yang berisiko dan juga yang sehat. pelayanan kesehatan yang lebih baik
Fenomena diatas dikemukakan oleh Kanda menunjukkan bahwa pelayanan yang baik,
(2004), bahwa perawatan lymphedema yang sesuai dengan harapan partisipan selama
memerlukan upaya intensif berkelanjutan, ini belum terwujudkan. Temuan ini sejalan
sangat penting untuk memahami latar dengan penelitian yang dilakukan oleh
belakang dan persepsi penyakit sebelum Person, dkk. (2006) bahwa partisipan ingin
memperkenalkan pencegahan dan rejimen mengetahui dan dapat melakukan bagaimana
pengobatan. Hasil penelitiannya menunjukan cara merawatnya dan kemana harus mencari
bahwa partisipan banyak yang lebih suka pelayanan kesehatan.
mengunjungi dukun dan menggunakan obat
herbal. Pengetahuan partisipan tentang
penyakit ini lebih berkaitan dengan dimensi Simpulan
budaya dan spiritual tradisional.
Kurangnya informasi yang diberikan di Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat
pelayanan kesehatan membuat partisipan disimpulkan bahwa pengalaman hidup orang
menjadi kurang puas dengan pelayanan terinfeksi filariasis di Kota Tasikmalaya,
kesehatan, karena pemahaman partisipan berkaitan lima tema yaitu emosi, persepsi,
yang kurang tentang filariasis mulai dari gejala klinis, ekonomi dan sosial serta
konsep penyakit sampai dengan bagaimana pengalam dalam mengakses pelayanan
cara pengobatan dan penatalaksanaan di kesehatan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan
rumah, sehingga partisipan tidak melakukan acuan untuk meningkatkan pelayanan
pengobatan yang tidak teratur. Di samping keperawatan komunitas, baik secara fisik,
kurangnya informasi, kurang puasnya psikologis, sosial dan ekonomi. Implikasi
partisipan terhadap pelayanan kesehatan dari penelitian ini diperlukan pengobatan
karena ada kecenderungan perbedaan yang efektif untuk mengurangi keluhan fisik.
pelayanan yang diberikan dikarenakan Pencegahan filariasis juga merupakan hal
melihat fisik yang begitu berbeda dengan yang sangat penting untuk mengurangi risiko
yang lainnya. Pada penelitian ini partisipan penularan, selain itu, proses rehabilitatif
mengungkapkan bahwa pelayanan dari juga penting untuk mengurangi kecacatan
pihak rumah sakit ataupun puskesmas kurang dan membantu adaptasi penderita dalam
memuaskan mungkin karena tidak mampu dan kehidupannya secara biologis, psikologis,
keadaannya seperti ini (cacat). Naeem (2011) sosial dan spiritual.
mengemukakan dalam artikelnya bahwa
peningkatan kualitas pelayanan dari petugas
kesehatan merupakan salah satu cara yang Daftar Pustaka
sangat penting dalam upaya pemberantasan
dan penanganan penyakit filariasis. Alonso, L. M. & Alvar, J. (2010). Stigmatizing
Penanganan filariasis memang merupakan neglected tropical disease: A systematic
tantangan bagi seluruh tenaga kesehatan di review. Social Medicine, 5 (4). Diakses dari
http:www.socialmedicine.info.
Indonesia. Pencegahan filariasis sangat penting
untuk mencegah terjadinya kecacatan akibat Bose, K. (2011). Control of lymphatic
filariasis. Disisi lain, penanganan rehabilitatif Filariasis through patient empowerment.
juga tidak kalah pentingnya, terutama untuk Wounds International. Diakses dari http://
meminimalkan kecacatan yang telah diderita www.woundsinternational.com.
akibat filariasis dan membatu adaptasi
Coreil, J., Mayard, G., Louis, C. J., &
penderita filariasis dalam kehidupan sehari- Addis, D. (1998). Filarial elephantiasis
hari. among Haitian women: Social context and
Ketidakpuasan dalam mendapatkan behavioral factors in treatment. Trop Med Int
pelayanan kesehatan akan melahirkan harapan Health, 3(6), 467–473. Diakses dari www.

Volume 1 Nomor 1 April 2013 27


Lilis Lismayanti: Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9657509. experts. Tropical Medicine and International


Health, 10(6), 567–573. Diakses dari www.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. (2005). ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15941420.
Kartu pengobatan keluarga dan monitoring
efek samping pengobatan Filariasis. Marty, A. M. (2011). Dermatologic
Bandung: P2 Filariasis . manifestations of filariasis. Diakses dari
http://emedicine.medscape.com/article
Gyapong, M., Gyapong, J., Weiss, M., &
Tanner, M. (2000). The burden of hydrocele Naeem, Z. (2011). Fighting stigma: Lymphatic
on men in Northern Ghana. Acta Trop, 77(3), filariasis. The Journal Global Health, 881.
287–294. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih. Diakses dari: www.ghjjournal.org.
gov/pubmed.
Omudu,Agbo, E., Okafor, & Chukwuemenam,
Hotez, P. J., Molyneux, D. H., Fenwick, A., F. (2011). Gender dimensions of knowledge,
Kumaresan, J., Sachs, S. E., & Sachs, physical and psycho-social burden due to
J.D.(2007). Control of neglected tropical lymphatic filariasis in Benue State, Nogeria.
diseases. The New England Journal of Journal of Parasitology and Vector Biolog,
Medicine, 10 (27), 1018–1027. 3(2), 22–28. Diakses dari http://www.
academicjournals.org/JPVB. ISSN 2141–
Kanda, K. (2004). The quality of life among 2510.
lymphedema patients due to lymphatic
filariasis in three rural towns in Haiti Florida. Perera, M., Whitehead, M., Molyneux, D.,
(Unpublished M.Sc. Thesis Univerversity of Weerarooriya, M., & Gunatilleke, G. (2007).
Shouth Florida ). Diakses dari http://etd.fcla. Neglected patients with a neglected diseses?
edu/SF/SFE0000407/Kanda_thesis_final.pdf A qualitative study of lymphatic Filariasis.
Flos Negtected Tropical Disease, 1(2) . e128.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. doi:10.1371/journal.pntd.0000128.
(2010). Profil kesehatan Indonesia tahun
2009. Jakarta: Kementrian Kesehatan Person, B., Addiss, D.G., Bartholomew,
Republik Indonesia. ISBN 978-602-8937- L.K., Meijer, C., Pou, V., & Borne, B.
18–4 (2006). Health-seeking behaviors and self-
care practices of dominican women with
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. lymphoedema og The Leg: Implications
(2005). Pedoman pemberantasan filariasis for lymphoedema management programs.
: Lampiran II keputusan menteri kesehatan Filaria Journal, 5(13). doi:10.1186/1475-
Nomor:1582/Menkes/SK/XI/2005. Diakses 2883-5-13.
dari http://www.hukor.depkes.go.id
Sudomo, M. (2008). Penyakit parasitik
Krentel, A., Fischer, P., Manoempil, P., Supali, yang kurang diperhatikan di Indonesia
T., Servais, G., & Ruckert, P. (2006). Using Orasi pengukuhan profesor riset bidang
knowledge, attitudes and practice (KAP) entomologi dan moluska. Badan Penelitian
surveys on lymphatic Filariasis to prepare dan Pengembangan Kesehatan Departemen
a health promotion campaign for mass drug Kesehatan Republik Indonesia. Diakses dari
administration in Alor District, Indonesia. http://www.litbang.depkes.go.id.
Tropical Medicine and International Health.
2(2), 1731–1740. doi: 10.1111/j.1365- Suma, T.K., Shenoy, R.K., Kumaraswami, V.
3156.2006.01720.x (2003). A qualitative study of the perceptions.
practices and socio-psychological suffering
Kumari, A. K., Harichandrakumar, K. T., Das, related to chronic brugian filariasis in Kerala,
L. K., & Krishnamoorthy, K. (2005). Physical Southern India. Ann Trop Med Parasitol,
and psychosocial burden due to lymphatic 97(8). 839–845. Diakses dari: www.ncbi.
Filariasis as perceived by patient and medical nlm.nih.gov/pubmed.

28 Volume 1 Nomor 1 April 2013


Lilis Lismayanti: Pengalaman Hidup Orang Terinfeksi Filariasis

Urrahman, Z. (2011). Gambaran konsep diri Lanka . Filaria Journal , 8. doi:10.1186/1475–


penderita filariasis limfatik (elephantiasis) di 2883-6-4.
Kota Tangerang Selatan. Skripsi yang tidak
dipublikasikan, Universitas Islam Negeri Wynd, S., Melrose, W.D., Durrheim,D.
Jakarta. N., Carron, J., Gyapong,M. (2007).
Understanding the community impact
WHO, (2011). Programme vector borne of lymphatic filariasis: Review of the
diseases control. Jakarta: World Health sociocultural literature. Bulletin of the World
Organization. Health Organization ,85(6). 493–498. doi;
10.2471/BLT.06.031047.
Widoyono, (2008). Penyakit tropis:
Epidemiologi, penularan, pencegahan & Wynd, S., Carron, J., Selve, B., Leggat, P.A.,
pemberantasannya. Jakarta: Erlangga. Melrose, W., & Durrheim, D.N. (2007).
Qualitative analysis of the impact of a
Wijesinghe, RS., Wickremasinghe, A. W., lymphatic filariasis elimination programme
Ekanayake, S., & Perera, M.S.A. (2007). using mass drug administration on Miasma.
Physical disability and psychosocial impact Filaria Journal, 6(1). doi:10.1186/1475–
due to chronic filarial lymphoedema in Sri 2883-6-1.

Volume 1 Nomor 1 April 2013 29