Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

KOROSI

DERET GALVANIS LOGAM-LOGAM

Oleh : Kelas 2B - D4 TKI / Kelompok 2

Auliyah Choirunnisa 1741420003

Aulia Sari Az Zahra 1741420064

Chrysan Hawa Nirwana 1741420009

Moch. Abdul Hakim 1741420086

Muhamad Andreyan Renaldo 1741420090

Rias Becik Sinawang 1741420054

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018
1.1 Tujuan Percobaan :
1. Memahami konsep tentang beda potensial oksidasi logam-logam
2. Memahami prinsip terjadinya korosi galvanis
1.2 Dasar Teori
Sel volta atau disebut juga dengan sel Galvani adalah sel elektrokimia yang dapat
menyebabkan terjadinya energi listrik dari suatu reaksi redoks yang spontan. reaksi redoks
spontan yang dapat mengakibatkan terjadinya energi listrik ini ditemukan oleh Luigi Galvani
dan Alessandro Guiseppe Volta. Sel Volta adalah rangkaian sel yang dapat menghasilkan arus
listrik. Dalam sel tersebut terjadi perubahan dari reaksi redoks menghasilkan arus listrik. Sel
volta terdiri atas elektroda tempat berlangsungnya reaksi oksidasi disebut anoda (electrode
negatif), dan tempat berlangsungnya reaksi reduksi disebut katoda (electrode positif).
[CITATION Pan11 \l 1057 ]. Potensial elektroda sel dapat ditentukan melalui persamaan :

E° sel = E° reduksi - E° oksidasi


E° sel = E° katode - E° anode
E° sel = E° besar - E° kecil
Di dalam prosesnya sel volta memiliki beberapa prinsip-prinsip yaitu:
• Di dalam sel volta reaksi kimianya mengandung arus listrik, reaksi terjadi secara spontan.
• Terjadi perubahan dari energi kimia menjadi energi listrik.
• Pada anode, terjadi reaksi oksidasi dan bermuatan negatif (-).
• Pada katode, terjadi reaksi reduksi dan bermuatan positif (+).
• Elektron mengalir dari anode menuju katode.
Deret volta adalah deret yang menyatakan unsur-unsur logam berdasarkan potensial
elektrode standarnya. Jadi, kegunaan deret volta ini adalah untuk sebagai acuan apakah logam
ini bisa bereaksi dengan ion logam lain. Konsep deret volta sama seperti reaksi pendesakan
antarhalogen [CITATION Had15 \l 1057 ]. Didalam prosesnya deret volta memiliki beberapa
sifat-sifat yaitu:

• Logam bagian kiri memiliki Eºsel bertanda negatif


• Logam bagian kanan memiliki Eºsel bertanda positif
• Semakin ke kiri kedudukan logam semakin reaktif (semakin mudah melepaskan elektron)
• Semakin ke kiri kedudukan logam semakin mudah mengalami korosi dan merupakan
reduktor yang semakin kuat
• Semakin ke kanan kedudukan logam semakin kurang reaktif (sukar melepaskan elektron)
• Semakin ke kanan kedudukan logam semakin kuat mencegah korosi dan merupakan
oksidator yang semakin kuat
• Logam sebelah kiri dapat mengusir atau mendesak atau mereduksi logam sebelah kanan
sehingga reaksi dapat berlangsung (spontan)
• Logam sebelah kanan tidak dapat mengusir atau mendesak atau mengoksidasi logam
sebelah kiri sehingga reaksi tidak dapat berlangsung (tidak spontan)
Untuk perhitungan potensial listrik standar dapat ditentukan dengan menggunakan
tabel potensial standar setengah sel. Langkah pertama adalah mengetahui logam apa yang
bereaksi dalam sel. Kemudian mencari potensial elektroda standar (E0) dalam volt, dari
masing-masing dua setengah reaksi.
Untuk potensial selnya, sel galvani menjadikan perubahan energi bebas reaksi spontan
menjadi energi listrik. Energi listrik ini berbanding lurus dengan beda potensial antara kedua
elektroda (voltase) atau disebut juga potensial sel (Esel) atau gaya electromotive (emf).
Untuk proses spontan E sel > 0, semakin positif E sel semakin banyak kerja yang bisa
dilakukan oleh sel. Satuan yang dgunakan 1 V = 1 J/C. Potensial sel sangat dipengaruhi oleh
suhu dan konsentrasi, oleh karena itu potensial sel standar diukur pada keadaan standar (298
K, 1 atm untuk gas, 1 M untuk larutan dan padatan murni untuk solid).
Elektroda terbagi menjadi dua jenis yaitu anoda dan katoda. Setengah reaksi oksidasi
terjadi di anoda. Elektron diberikan oleh senyawa teroksidasi (zat pereduksi) dan
meninggalkan sel melalui anoda. Setengah reaksi reduksi terjadi di katoda. Elektron diambil
oleh senyawa tereduksi (zat pengoksidasi) dan masuk sel melalui katoda.

Contoh percobaan, setengah sel oksidasi: anoda berupa batang logam Zn dicelupkan
dalam ZnSO4. Setengah sel reduksi: katoda berupa batang logam Cu dicelupkan dalam
CuSO4. Terbentuk muatan relatif pada kedua elektroda dimana anoda bermuatan negatif dan
katoda bermuatan positif. Kedua sel juga dihubungkan oleh jembatan garam yaitu tabung
berbentuk U terbalik berisi pasta elektrolit yang tidak bereaksi dengan sel redoks gunanya
untuk menyeimbangkan muatan ion (kation dan anion). Dimungkinkan menggunakan
elektroda inaktif yang tidak ikut bereaksi dalam sel volta ini.
Untuk notasi sel volta dinotasikan dengan cara yang telah disepakati (untuk sel
Zn/Cu2+) Zn(s)|Zn2+(aq)║Cu2+(aq)|Cu(s). Bagian anoda (setengah sel oksidasi) dituliskan
disebelah kiri bagian katoda. Garis lurus menunjukkan batas fasa yaitu adanya fasa yang
berbeda (aqueous vs solid) jika fasanya sama maka digunakan tanda koma. Untuk elektroda
yang tidak bereaksi ditulis dalam notasi diujung kiri dan ujung kanan.

1.3 Alat dan Bahan


•Alat
- Beaker glass 250 mL
- Avometer (Volt meter)
- Batang Pengaduk
- Neraca Analitik
- Spatula
- Kaca Arloji
• Bahan
- Garam Dapur (NaCL)
- Air
- Logam dari Berbagai jenis :
a. Timah Putih
b. Seng
c. Kuningan
d. Batang Tembaga
e. Lempeng Tembaga
f. Nikel
g. Alumunium
h. Besi
i. Batang Karbon

1.4 Skema Kerja

Menyiapkan semua alat dan bahan.

Mengisi gelas kimia dengan air setengah penuh.

Memasukkan sedikit garam dapur, aduk sampai larut.


Memasukkan dua batang logam dari yang berbeda ke dalam larutan,
masing-masing berada pada sisi yang berlawanan.

Mengukur beda potensialnya menggunakan voltmeter.

Mencatat hasil pengukuran dengan posisi pengukuran yang sesuai.

Mengganti salah satu batang logam dengan jenis logam yang lain.

Mencatat hasil pengukuran.

Mengulangi langkah 4-7 sampai semua jenis logam (termasuk karbon)


lengkap berpasangan.

1.5 Data Pengamatan

No Katoda Anoda Beda Potensial (V)


1 Karbon Kuningan 0,507
2 Tembaga Seng 0,540
3 Besi Alumunium 0,305
4 Batang Tembaga Nikel 0,720
5 Besi Seng 0,135
6 Karbon Nikel 0,376
7 Nikel Alumunium 0,451
8 Kuningan Batang Tembaga 0,333
PEMBAHASAN DERET GALVANIS LOGAM
Oleh Muhamad Andreyan R
1741420090/2B-D4 TKI

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk memahami konsep tentang perbedaan
potensial oksidasi pada setiap logam, dan memahami prinsip terjadinya korosi. Logam –
logam yang digunakan dalam praktikum ini yaitu alumunium, seng, timah, batang tembaga,
lempengan tembaga, kuningan besi, nikel, dan karbon. Kemudian bahan – bahan tersebut
akan diurutkan berdasarkan kereaktifannya. Untuk melakukan praktikum ini, alat yang akan
digunakan untuk mengukur beda potensial antara dua macam logam yaitu voltmeter digital,
dimana akan tedapat dua kutub yaitu kutup positif (merah) dan kutub negative (hitam).

Pada percobaan ini larutan yang digunakan adalah larutan garam NaCL. Larutan
Garam pada percobaan ini memiliki fungsi sebagai larutan elektrolit. Pada percobaan awal
katoda yang digunakan adalah batang karbon. Percobaan ini dilakukan sebagai pembanding
untuk percobaan selanjutnya dengan logam lain sebagai katoda. Semua bahan yang
direaksikan atau bahan yang menjadi anoda dapat menghasilkan arus listrik. Hal ini
disebabkan karena karbon merupakan inert sehingga tidak ikut bereaksi dalam proses
tersebut.
Pada percobaan ini yang bertindak sebagai katoda adalah Tembaga, Besi, Batang
Tembaga, Batang Karbon, Nikel, dan Kuningan. Logam yang dapat bertindak sebagai anoda
adalah Kuningan, Seng, Alumunium, Nikel, dan Batang Tembaga. Logam yang bertindak
sebagai katoda akan mengalami reaksi reduksi, sedangkan Logam yang bertindak sebagai
anoda akan mengalami reaksi reduksi. Pada data pengamatan yang didapat menunjukkan
beda potensial antar logam berbeda- beda, didataptkan beda potensial tertinggi 0.720 volt
yaitu antara tembaga dengan nikel. Sedangkan beda potensial terkecil 0.062 yaitu antara
kuningan dengan batang tembaga.
Elektron mengalir dari anoda ke penjepit buaya ( kawat penghanatar), dan dengan
terbentuknya ion-ion dari anoda ini memasuki larutan dan berdifusi menjauhi anoda. Ion
negatif berdifusi lewat larutan garam NaCL menuju ke anoda. Electron yang dilepaskan oleh
anoda memasuki kawat penyambung dan menyebabkan elektron-elektron pada ujung lain
berkumpul pada permukaan katoda.
Jadi, sementara reaksi itu berjalan, terdapat gerakan keseluruhan dari ion negatif
menuju anoda dan gerakan keseluruhan ion positif menuju katoda. Jalan untuk aliran ion
secara terarah lewat larutan ini dapat dibayangkan sebagai rangkaian dalam, dan jalan untuk
aliran electron lewat kawat penghantar dibayangkan sebagai rangkaian luar (Keenan:1980).
Pada praktikum ini juga dapat diketahui prinsip terjadinya korosi galvanis. Korosi
galvanis dapat terjadi apabila dua logam yang tidak sama dihubungkan (memiliki perbedaan
beda potensial) dan berada di lingkungan korosif. Dalam hal ini lingkungan korosif adalah
larutan elektrolit (larutan garam). Prinsip korosi galvanis sama dengan prinsip elektrokimia
yaitu terdapat elektroda dan menghasilkan arus listrik. Logam yang berfungsi sebagai anoda
adalah logam sebelum dihubungkan bersifat lebih reaktif atau mempunya potensial korosi
lebih negatif.
Dari hasil percobaan pertama terdapat penyimpangan antar Karbon-Kuningan dengan
Karbon-Nikel. Berdasarkan literatur seharusnya Karbon-Kuningan yang memiliki beda
potensial lebih besar daripada Karbon-Nikel. Hal ini mungkin disebabkan karena masih
terdapat pengotor pada anoda seng ataupun alumuniumn sehingga logam tersebut telah
terkorosi dan mempengaruhi pengukuran beda potensial sel.
1.6 Kesimpulan
• Pada Sel galvani terjadi reaksi spontan sehingga reaksi menimbulkan arus
listrik.
• Korosi galvanis dapat terjadi apabila dua logam yang berbeda dihubungkan di
lingkungan yang sama (lingkungan korosif).

1.7 Daftar Pustaka

• Andriani, D. (2011, Juni 25). Sel Elektrokimia. Dipetik Oktober 15, 2018, dari
Pembelajaran Kimia: https://dessykimiapasca.wordpress.com/kimia-xii/sel-elektrokimia/sel-
volta-sel-galvani/

• Haditane, A. F. (2015, Desember 13). Deret Volta. Dipetik Oktober 15, 2018, dari
Chemistry: https://amaldoft.wordpress.com/2015/12/13/deret-volta-redoks-dan-elektrokimia/

• Hitung, R. (2014, Juni 20). Potensial Elektrode dan Deret Volta. Dipetik Oktober 15, 2018,
dari Rumus Hitung.com: http://rumushitung.com/2014/06/20/potensial-elektrode-dan-deret-
volta/

• Pangganti, E. (2011, September 28). Sel Volta. Dipetik Oktober 15, 2018, dari Esdi Kimia:
https://esdikimia.wordpress.com/2011/09/28/sel-volta/
• Oxtoby, David W.dkk.1999.Prinsip-Prinsip Kimia Modern edisi keempat jilid 1.jakarta:
Erlangga