Anda di halaman 1dari 10

ACARA V

Pengenalan Cabutan dan Puteran

ABSTRAK

Teknik pemindahan tanaman dapat dilakukan dengan 3 teknik yaitu dengan


sistem cabutan, puteran, dan stump. Cara cabutan dilakukan dimana bibit yang sudah
tumbuh dipindahkan ke dalam polybag yang telah disediakan tanpa menyertakan tanah
yang melingkupi tanaman tersebut. Sedangkan pemindahan tanaman dengan cara
puteran bibit dipindahkan dengan menyertakan tanah yang melingkupi tanaman
tersebut dari tempat semula. Sedangkan cara stump dilakukan dengan mengambil bibit
dari persemaian dalam hal ini bibit yang diambil merupakan bibit kadaluwarsa,
kemudian bagian atas batang dipotong sehingga hanya menyisakan batang bagian
bawah dan akar. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui cabutan dan puteran sebagai
salah satu bibit generatif dan mengetahui pemindahan cabutan dan puteran. Dengan
kegiatan ini, mahasiswa lebih dapat mengenal dan mengetahui apa yang dimaksud
dengan cabutan dan puteran sebagai salah satu bibit generatif Selain itu, mahasiswa
juga mampu mengenai teknik daam pemindahan bibit cabutan dan puteran. Bahan
yang digunakan adalah anakan permudaan alam yang diambil dari Arboretum Fakultas
Kehutanan UGM, yakni Pterygota alata dan Calliandra calothyrsus. Hasil dari
kegiatan ini menjelaskan bahwa teknik pemindahan dengan putaan lebih efektif karena
lebih mudah beradaptasi.
Kata kunci : putaran, cabutan, bipa, kaliandra

A. PENDAHULUAN

Latar belakang

Silvikultur merupakan cara-cara mempermudaan hutan secara alami dan


buatan, serta pemeliharaan tegakan sepanjang hidupnya. Termasuk kedalam
sivikultur ialah pengetian tentang persyaratan tapak atau tempat tumbuh pohon
perilakunnya terhadap berbagai intensitas cahaya matahari, kemampuannya untuk
tumbuh secara murni atau campuran, dan hal-hal lain yang mempengaruhi
pertumbuhan pohon. Jadi sangatlah penting untuk mengetahui silvikultur masing-
masing jenis pohon, sebelum kita dapat mengelolah suatu hutan dengan baik.

Bibit diperoleh dengan cara generatif dan vegetative. Bibit yang telah
diperoleh ini harus dipindahkan ke dalam bedeng semai untuk mendapatkan
perlakuan yang lebih intensif. Secara umum teknik pemindahan tanaman dapat

1
dilakukan dengan 3 teknik yaitu dengan sistem cabutan, puteran, dan stump. Cara
cabutan dilakukan dimana bibit yang sudah tumbuh dipindahkan ke dalam polybag
yang telah disediakan tanpa menyertakan tanah yang melingkupi tanaman tersebut.
Sedangkan pemindahan tanaman dengan cara puteran bibit dipindahkan dengan
menyertakan tanah yang melingkupi tanaman tersebut dari tempat semula.
Sedangkan cara stump dilakukan dengan mengambil bibit dari persemaian dalam
hal ini bibit yang diambil merupakan bibit kadaluwarsa, kemudian bagian atas
batang dipotong sehingga hanya menyisakan batang bagian bawah dan akar.
Keunggulan dengan teknik stump adalah dalam pengangkutannya lebih mudah,
bisa disimpan, dan penyimpanannya mudah serta persentase tanaman tinggi.

Selain itu juga pemindahan anakan dan penanaman ini juga berguna untuk
melihat dan mengamati daya survive atau daya tahan hidup suatu anakan tanaman
di suatu lahan. Hal ini bergantung pada dimana bibit atau anakan itu ditanam.
Apakah suatu anakan ditanam di tempat terbuka atau justru tempat tertutup. Pada
dewasa ini, masih banyak dari para silvikulturis yang tidak mengetahui teknik
pemindahan bibit sehingga saat bibit ditanam, bibit justru sudah mati. Oleh karena
untuk mengurangi resiko yang lebih, praktikum silvikultur mengenai pengenalan
cabutan dan putaran.

Tujuan

Praktikum silvikultur mengenai cabutan dan puteran ini bertujuan untuk


mengetahui cabutan dan puteran sebagai salah satu bibit generatif. Selain itu,
praktikum ini juga bertujuan untuk mengetahui pemindahan cabutan dan puteran.

Manfaat

Dengan praktikum ini, mahasiswa lebih dapat mengenal dan mengetahui


apa yang dimaksud dengan cabutan dan puteran sebagai salah satu bibit generative.
Selain itu, mahasiswa juga mampu mengenai teknik daam pemindahan bibit
cabutan dan puteran.

B. TINJAUAN PUSTAKA

2
Sistem silvikultur adalah proses penanaman, pemeliharaan, penebangan,
penggantian komposisi tegakan hutan untuk menghasilkan produksi kayu atau
hasil hutan lainnya. Penerapan sistem silvikultur yang sesuai dapat meningkatkan
nilai hutan, baik kuantitas maupun kualitas (Mawazin, 2013).

Bahan tanaman atau yang sering disebut dengan bahan pertanaman dapat
dikelompokkan dalam dua macam, yaitu: 1) Berasal dari bahan generatif dan 2)
Berasal dari bahan vegetatif, yang termasuk dalam bahan generatif adalah ; benih,
semai, wildling (tukulan alam) dan stump; sedangkan yang berasal dari bahan
vegetatif misalnya stek (batang, pucuk, daun, dan akar), cangkokan, okulasi, dan
sambungan (bisa merupakan campuran generatif dan vegetatif) (Suginingsih,
2005).

Menurut Rayan (2009), Ada beberapa cara pemindahan bibit dari


persemaian yaitu :

1. Sistem cabut, yakni bibit yang telah tumbuh di persemaian dan cukup
umur dicabut dengan hati-hati. Namun, sebelum dilakukan pencabutan
bedeng persemaian harus dibasahi dengan air untuk memudahkan
pencabutan dan tidak merusak akar.
2. Sistem putaran, yaitu bibit diambil beserta tanahnya. Namun, sebelum
bibit diambil tanah dibasahi dengan air telebih dahulu.
Pengembangan atau perbanyakan tanaman yang dilakukan secara vegetatif
adalah perbanyakan tanaman yang dilakukan tanpa melalui proses perkawinan,
tetapi dengan mengambil bagian tanaman seperti daun, batang, umbi dan lain-lain.
Pembiakan vegetatif sangat diperlukan karena bibit hasil pengembangan secara
vegetatif merupakan duplikat induknya, sehingga mempunyai struktur genetik
yang sama serta cepat berbunga dan berbuah (Adinugraha, dkk., 2012).
Stump merupakan bahan tanaman yang dibuat dari anakan tanaman
dimana semua daun-daun dan akar sekundernya dibuang, kecuali akar tunggang
dan batang dipotong sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Pemotongan daun
dilakukan dengan tujuan untuk menghindari penguapan yang berlebihan,

3
sedangkan pemotongan akar dilakukan untuk merangsang pertumbuhan akar baru
yang lebih banyak (Sari, 2001).
Cara penanganan tanaman bahan stump hampir sama dengan sistem
cabutan hal yang membedakannya adalah bahan stump dilakukan pemotongan
pada batang atau bisa dikatakan 30 % akar dan 80 % batang. Dalam proses
penanaman bahan stump diusahakan proses penanamannya lebih cepat sebelum
kadar kelembaban tanaman tersebut turun atau dengan kata lain sebelum akarnya
kering, karena hal tersebut sanggat menentukan tumbuh dan tidaknya tanaman.
Oleh karenanya dalam melakukan perbanyakan tanaman sistem stump diusahakan
proses pencabutan, penanganan, dan penanaman harus hati-hati dan harus sesuai
prosedur yang telah ditetapkan. (Indriyanto, 2008)
Menurut Hardiwinoto (2005) bibit yang telah ditanam di lapangan perlu
diberi perlakuan pemeliharaan dengan menjaga kelembaban tanah (penggunaan
mulsa) dan membersihkan taanh di sekitarnya. Penanaman semai dapat dilakukan
dengan bermacam – macam cara, ada 2 jenis yang terkenal yaitu:
1. Compresision method, yaitu pada tanah berpasir
2. Dug hole method yang terdiri atas:
 Center hole method, yaitu cara penanaman bibit yang bibitnya diletakkan di
tengah (tengah – tengah lubang).
 Side hole method, yaitu cara penanaman bibit dengan meletakkan bibit di
tepi lubang.
 Wedge method, yaitu cara penanaman bibit dengan bagian akarnya
diletakkan pada dasar lubang yang berbentuk W.

C. METODE

Waktu dan tempat

Praktikum silvikultur acara V mengenai pengenalan cabutan dan puteran


dilakukan di Laboratorium Intensif Klebengan pada hari Sabtu tanggal 23
September 2017.

4
Alat dan bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah anakan permudaan alam
yang diambil dari Arboretum Fakultas Kehutanan UGM, yakni Pterygota alata
dan Calliandra calothyrsus. Sedangkan alat yang dipakai dalam praktikum kali ini
adalah kertas gambar, alat tulis, caliper, penggaris, gunting, cetok, dan kamera.
Cara kerja

Praktikum silvikultur dilakukan dengan beberapa langkah kerja. Pertama


anakan permudaan alam dari Pterygota alata dan Calliandra calothyrsus diambil
di Arboretum Fakultas Kehutanan UGM. Untuk sistem cabutan, anakan diambil
atau dicabut dari tempat semula tanpa menyertaka tanah yang melingkupi tanaman
tersebut. Sedangkan untuk sistem puteran, anakan diambil atau dicabut dari tempat
semula dengan menyertakan tanah yang melingkupi tanaman. Kemudian, anakan
ini dibawa Laboratorium Silvikultur Intensif Klebengan untuk ditanam.
Penanaman dilakukan di dua tempat berbeda. Ada anakan yang ditanam di tempat
terbuka dan ad anakan yang ditanam ditempat tertutup. Keduanya diamati setelah
beberapa hari untuk memperoleh anakan mana yang tumbuh paling optimal.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Pengamatan
Tabel 1. Data pertumbuhan tanaman metode cabutan di luar

Tinggi Minggu ke- (cm)


Jenis Tanaman Keterangan
0 1 2 3 4 5 6
Calliandra
25 27 29 30,2 31,7 32,8 34 Hidup
calothyrsus

Calliandra
28 28,5 29,5 30,7 31,5 33 34 Hidup
calothyrsus

Pterygota alata 22 22,5 24 24,9 25,8 27,5 29 Hidup

5
Pterygota alata 25 27,5 27,6 - - - - Mati

Pterygota alata 28 - - - - - - Mati

Tabel 2. Data pertumbuhan tanaman metode cabutan di dalam sungkup

Tinggi Minggu ke- (cm)


Jenis Tanaman Keterangan
0 1 2 3 4 5 6
Calliandra
55 57 59 - - - - Mati
calothyrsus
Calliandra
48,5 48,5 49,5 50,7 51,5 53 54 Hidup
calothyrsus
Calliandra
37 38,5 39 40,2 40,9 41,4 41,8 Hidup
calothyrsus
Pterygota alata 42 42,5 43 44,6 45 45,9 51 Hidup
Pterygota alata 37 37,3 38 38,6 39,4 40,6 41 Hidup

Tabel 3. Data pertumbuhan tanaman metode puteran diluar


Tinggi Minggu ke- (cm)
Jenis Tanaman Keterangan
0 1 2 3 4 5 6
Calliandra
59 59,6 60 60,2 60,7 61,2 61,8 Hidup
calothyrsus
Calliandra
29 29,5 30,1 30,7 31,5 33 34 Hidup
calothyrsus
Pterygota alata 60 60,6 61 61,2 61,7 62 62,4 Hidup
Pterygota alata 55 55,3 56 56,1 56,4 57 57,5 Hidup
Pterygota alata 60 60,3 61 61,2 61,9 62,6 63 Hidup

Tabel 4. Persentase tanaman yang hidup setelah 1,5 bulan


Jumlah Jumlah %
Metode Jenis Tanaman Awal Akhir hidup

6
Calliandra
Cabutan di luar calothyrsus 2 2 100
Pterygota alata 3 1 33.3333
Calliandra
Cabutan di dalam sungkup calothyrsus 3 2 66.6667
Pterygota alata 2 2 100
Calliandra
Puteran di luar calothyrsus 2 2 100
Pterygota alata 3 3 100
Calliandra
Puteran di dalam sungkup calothyrsus 3 2 66.6667
Pterygota alata 2 2 100

Pembahasan
Bibit dapat diperoleh dari berbagai macam. Pada dasarnya, bibit ini
dibedakan menjadi dua, yakni bibit generatif dan bibit vegetatif. Bibit yang telah
siap disemaikan harus dipindah ke bedeng semai. Pemindahan bibit yang berasal
dari pembiakan generatif dikenal dengan 3 teknik yaitu cabutan, puteran, dan
stump. Akan tetapi, pada percobaan kali ini hanya digunakan dua teknik yaitu
cabutan dan puteran untuk melihat hasil yang lebih baik dari kedua teknik tersebut.
Teknik cabutan dilakukan dengan mengambil atau mencabut semai dari tempat
semula tanpa menyertakan tanah yang melingkupi tanaman tersebut. Sedangkan
dengan teknik puteran dilakukan membuat lingkaran disekitar tanaman yang akan
dipindahkan dengan tujuan agar tanah yang terdapat di sekitar akar ikut terangkat.
Teknik ketiga yaitu stump. Stump dilakukan dengan mengambil semai dari tempat
semula (bibit kadaluarsa) kemudian bagian atas batang dipotong sehingga hanya
tersisa bagian batang bawah dan akar.
Kelebihan pemindahan bibit yang berasal dari pembiakan generatif dengan
cabutan dan puteran antara lain bibit yang digunakan mudah diperoleh karena
tersedia di alam dan tidak memerlukan proses perkecambahan, waktu pembibitan
lebih singkat, bibit yang dicabut sudah bersimbiosis dengan mikroorganisme atau
mikoriza dari pohon induk sehingga dapat menjamin pertumbuhan yang baik.
Akan tetapi kekurangan dari metode cabutan yaitu dapat menyebabkan rusaknya
struktur akar apabila dilakukan dengan sembarang sehingga kemampuan tanaman
tersebut untuk bertahan hidup terganggu. Sedangkan kelemahan dari metode

7
putaran yaitu sulit dalam membawa bibit karena harus menyertakan tanah disekitar
akar dan memerlukan wadah yang cukup besar untuk mengindari kerusakan bibit.
Dalam pengumpulan bibit penting diperhatikan jenis bibit yang akan diambil,
pemilihan pohon induk, serta waktu pengambilan bibit. Sedangkan teknik
pengambilan bibit yang perlu diperhatikan adalah ukuran bibit, cara mencabut,
pengangkutan bibit, pengguntingan, penyapihan, dan pemeliharaan.
Pada praktikum dengan dua teknik pemindahan tanaman pada anakan bipa
dan kaliandra yaitu dengan cara cabutan dan puteran. Jumlah seluruh ada 3 anakan
bipa dan 2 anakan kaliandra untuk pengujian cabutan, sedangkan untuk pengujian
puteran dengan 7 anakan bipa dan 3 anakan kaliandra. Pengamatan dilakukan
dengan mengukur tinggi dan panjang akar. Pengamatan dilakukan sampai 1,5
bulan setelah penanaman. Pada dasarnya, teknik putaran menghasilkan semai
dengan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan cabutan. Hal ini terjadi
karena pada teknik putaran, semai akan mudah beradaptasi karena masih ada tanah
lama yang ia jadikan tapak.
Bedasarkan data yang diperoleh, diperoleh bahwa data pertumbuhan
tanaman metode cabutan diluar pertambahan tinggi yang cukup besar terlihat pada
Caliandra calothyrsus. Sedangkan, Caliandra calothyrsus yang berada pada
sungkupan justru mati. Hal ini dapat terjadi karena tanaman kehabisan makanan di
dalam sungkupan saat berada di lahan yang sebelumnya. Angka harapan hidup
terbesar ada pada puteran yang berada di luar sungkupan. Harapan hidup kedua
jenis ini mencapai 100%. Hal ini menandakan bahwa metode yang paling efektif
digunakan untuk menmindahkan suatu bibit adalah putaran.

E. PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa
Bibit generatif merupakan bibit yang dihasilkan dari perbanyakan melalui biji. Bibit
yang berasal dari perbanyakan secara generatif dapat berupa cabutan, puteran,
maupun stump. Teknik pemindahan bibit yang berasal dari pembiakan generatif
dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu cabutan, puteran, dan stump. Cabutan

8
dilakukan dengan mengambil atau mencabut semai dari tempat semula tanpa
menyertakan tanah yang melingkupi tanaman tersebut. Sedangkan puteran
pengambilan semai dilakukan dengan menyertakan tanah yang melingkupi tanaman
tersebut dari tempat semula. Metode yang paling efektif digunakan untuk
menmindahkan suatu bibit adalah putaran.

Saran

Saran untuk praktikum ini yaitu alat dan bahan untuk praktikum silvikultur
acara media dan ukuran kontainer lebih disiapkan sehingga tidak terlewatkan
dalam pelaksanaan praktikum. Waktu untuk praktikum lebih diperhatikan agar
tidak membuang banyak waktu. Selain itu, perlu adanya kisi-kisi pembahasan agar
memudahkan praktikan mengerjakan laporan dan mempermudah co-ass
mengoreksi laporan praktikan. Kegiatan praktikum silvikultur ke depan sebaiknya
diperjelas data mana yang diambil sehingga praktikan tidak bingung.

9
DAFTAR PUSTAKA

Adinugraha, H.A., Pudjiono, S. dan Herawan, T., 2012. Teknik Perbanyakan Vegetatif
Jenis Tanaman Acacia Mangium. INFO TEKNIS. Balai Besar Penelitian
Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Vol. 5 No. 2, September 2012.
Hardiwinoto, S., Priyanto, D.A., Sukirno, dan Widyanto, A. 2005. Buku Ajar Mata
Kuliah Silvikultur. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan UGM.
Indriyanto. 2008. Pengantar Budidaya Hutan. Bumi Aksara. Jakarta
Mawazin dan Atok Subiakto. 2013. Keanekaragaman dan Komposisi Jenis Permudaan
Alam Hutan Rawa Gambut Bekas Tebangan di Riau..Jurnal Rehabilitasi Hutan.
Vol 1:59-73

Rayan. 2009. Teknik Persemaian dalam Rangka Pengadaan Bibit Untuk Penanaman.
Peneliti pada Balai Litbang Kehutanan. Kalimantan.
Sari, N.T., 2001. Pengaruh Penahan Kelembaban Dan Lama Penyimpanan Terhadap
Pertumbuhan Stump Jati (Tectona grandis L.f). Skripsi Jurusan Manajemen
Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Suginingsih, dkk. 2005. Buku Ajar Silvika. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.

10