Anda di halaman 1dari 1

Anjing Tersayang

Karya Indra Tranggono

Kamu tak akan takut melihatku, hingga kamu tak perlu menghardikku atau memukulku. Aku sama sekali
tidak layak mengancam siapa pun. Termasuk kamu. Bukan hanya karena wajahku yang sama sekali tidak
menyeramkan, tapi juga potongan tubuhku yang lebih pantas dianggap sebagai segumpal daging bernyawa.
Kalau toh aku sesekali menyalak, itu hanya karena aku ingin tetap dianggap anjing.

Aku tak pernah mengutuk ibuku dan ayahku, sepasang pejantan yang memberiku jalan hidup dunia, hanya
karena aku tidak lahir sebagai bulldog, herder atau dauberman yang makanan dan 0b4tnya jauh lebih mahal
dari biaya hidup kalian bangsa manusia. Mereka pun punya dokter sendiri, dokter spesialis, yang ongkosnya
tinggi, lebih tinggi dari dokter untuk manusia jelata. Mereka juga punya salon sendiri, punya bedak sendiri,
punya sampo sendiri, punya sabun mandi sendiri, punya sisir sendiri.
Tapi, demi Tuhan, aku tak pernah iri. Itulah keberuntungan mereka karena bisa menjadi kelangenan atau
penjaga keselamatan manusia. Sedangkan aku, tak pernah diperhitungkan. Bahkan oleh para pemburu
anjing kampung yang rutin menyetor daging kepada penjual ‘tongseng jamu’ (mereka tak berani terang-
terangan menjual tongseng daging anjing, namun berlindung dibalik tongseng jamu).

Dibanding hidup manusia yang susah, nasibku jauh lebih baik. Bukankah menjadi binatang piaraan Tuan
Konglo yang kaya raya merupakan keberuntungan tak tenilai? Aku tahu persis alasan Tuan Konglo
memeliharaku. Bukankah dia bisa membeli anjing yang lebih bermartabat dibanding aku ? Rupanya ada
kisah khusus tentang diriku. Menurut obrolan Bibi Tintin, pembantu Tuan Konglo, dulu aku
terserempet mobil Tuan Konglo. Untuk menebus rasa bersalahnya, Tuanku memelihara aku.

“Gembong! Jaga rumah ya. Kalau ada orang mencurigakan, langsung serang. Gigimu masih tajam, kan?”
Tuan Konglo menyodorkan daging sapi. Kujawab dengan gonggongan kecil. Tanda aku sangat setuju.
Tuanku aku sangat setuju. Tuanku senang. Ia mengelus-elus buluku. Aku pun merasa tersanjung.

Aku sering berpikir. Tidak enak jadi orang kaya. Selalu panik. Selalu merasa terancam. Contohnya ya Tuanku
ini. Ke mana-mana bawa p!st0l. Mendengar suara angin menggesek dedaunan saja, ia sudah tergeragap
karena merasa ada orang yang akan merampok. Sepuluh satuan pengaman disiapkan. Termasuk, aku,
anjing kesayangannya.

Tugasku gampang. Hanya mencurigai siapa saja. Tapi membedakan orang baik dan orang jahat, ternyata
susah. Aku sering pusing. Celakanya aku tak bisa dengan gampang mendapatkan p!l pengusir pusing bagi
anjing.

Siapa Tuanku, aku sesungguhnya tak perlu mempersoalkan. Dia orang baik, setidaknya bagiku. Tapi aku
sering mendengar gunjingan tetangga. Kata mereka Tuanku itu kaya karena k0rupsl, mencuri duit Negara.
Berulang kali, kata mereka, tuanku berhasil membobol bank. Anehnya, bisik mereka, Pak Konglo itu tidak
pernah tertangkap. Katanya punya ajian ‘belut putih’, hingga selalu bisa lolos dari sergapan penegak hukum.

Benarkah tuanku itu sakti ? Aku tak peduli. Aku hanya sering melihat, dirumahnya sering datang orang-orang
berbaju seragam. Mereka bicara ramah sambil menyebut kalau aku tidak salah dengan pasal-pasal hukum.
Aku tidak paham. Dan aku tidak pernah peduli. Aku hanya sering melihat tuanku memberi segepok uang
kepada tamu-tamunya. Untuk apa uang itu? Jangan tanya aku. Kewajibanku hanya curiga dan
menggonggong. Lalu segumpal daging lezat tersedia di depanku. Sederhana bukan?

Berpikir sederhana ternyata tidak gampang. Acuh tak acuh bukan pekerjaan mudah. Suatu hari, aku iseng-
iseng melihat televisi. Mataku disergap peristiwa yang sulit kupercaya : Tuanku digelandang polisi. Mbak
penyiar yang cantik itu mengatakan bahwa Tuan Konglo terlibat dalam skandal k0rupsl pembangunan
kompleks perumahan rakyat. Katanya, tuanku menggelapkan duit hampir Rp 1 triliun. Aku tidak percaya.
Namun, dialog malam itu, bagai aliran listrik berkekuatan sangat besar menyambar kepalaku.