Anda di halaman 1dari 14

TINJAUAN ISLAM TERHADAP TINDAKAN MEDIS BERUPA,

TRANSGENDER, TRANSFUSI DARAH, PENGGUNAAN PROTESA DAN


ORTESA

Disusun Oleh:
Ella Rusnida21117048
Es Jumiati 21117051
Geryl Genoneva Frans 21117055
Heni Bayu Putri 21117060

Kelas III B

Dosen Pembimbing : M. Sulaiman, S.PD.I, M.PD.I

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


PALEMBANG

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

TAHUN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas kelompok yang diberikan
oleh dosen mata kuliah AIK V yaitu Bapak M. Sulaiman, S.PD.I, M.PD.I
Dalam penyusunan makalah ini kami menggunakan metode pustaka.
Dimana pengumpulan data diperoleh dari berbagai macam sumber buku dan
jurnal, bahan untuk dijadikan suatu makalah. Kami mengucapkan terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu pembuatan makalah ini, kami akui
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami mengharapkan
kritik serta saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Aamiin.

Terimakasih

Palembang, 8 Oktober 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................

DAFTAR ISI ........................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................

A. Latar Belakang ..........................................................................................


B. Rumusan Masalah .....................................................................................
C. Tujuan Penulisan .......................................................................................

BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................

A. Pengertian Trangender ..............................................................................


B. Hukum Trangender dalam Islam ..............................................................
C. Pengertian Transfusi Darah .......................................................................
D. Hukum Transfusi Darah dalam Islam .......................................................
E. Pengertian Ortesa dan Protesa ...................................................................
F. Hukum Ortesa dan Protesa dalam Islam ...................................................

BAB III PENUTUP .............................................................................................

A. Kesimpulan ...............................................................................................
B. Saran ..........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ciri – ciri manusia adalah selalu ingin mengetahui rahasia alam,


memecahkan nya dan kemudian mencari teknologi untuk memanfaatkannya,
dengan tujuan memperbaiki kehidupan manusia. Semuanya di kembangkan
dengan menggunakan akal, atau rasio, yang merupakan salah satu keunggulan
manusia di banding makhluk hidup lainnya. Sampai sekarangpun ciri watak
manusia itu masih terus berlangsung. Satu demi satu di temukan teknologi baru
untuk memperbaiki kehidupan manusia agar lebih nyaman, lebih
menyenangkan, dan lebih memuaskan.

Akselerasi perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini, memiliki multi


implikasi yang sangat luas. Salah satu implikasinya ialah perlunya di rumuskan
pandangan islam tentang hal tersebut. Demikian ini maksudkan agar orang
mendapatkan pedoman agamis dalam memberikan respon terhadap implikasi
ilmu dan teknologi itu. Contoh hasil eklarasi perkembangan tersebut ialah di
temukannya teknologi trasplantasi, Transfusi darah, dan penggunaan protesa
dan ortesa yang mana terdapat banyak perbedaan pendapat pada para ulama
mengenai hukumnya.

Hal ini di sebabkan karena ketiganya merupakan persoalan konteporer


yang hukumnya sendiri tidak pernah di bicarakan dalam Al-Quran maupun
Hadist dan Ijtihad para ulama mutaqqadimin. Salah satu jalan yang dapat di
tempuh untuk menetapkan hukumnya adalah melalui Ijtihad. Oleh karena itu,
dalam makalah ini akan di bahas mengenai ketiga masalah tersebut dari segi
medis, melainkan juga dari segi ilmu agama islam.
B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian dari transgender?
2. Apa hukum transgender dalam Islam?
3. Apa pengertian dari transfusi darah?
4. Apa hukum transfusi darah dalam Islam?
5. Apa pengertian dari protesa dan ortesa?
6. Apa hukum penggunaan protesa dan ortesa dalam Islam?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian transgender.
2. Untuk mengetahui hukum transgender dalam Islam.
3. Untuk mengetahui pengertian transfusi darah.
4. Untuk mengetahui hukum transfusi darah dalam Islam.
5. Untuk mengetahui pengertian protesa dan ortesa.
6. Untuk mengetahui hukum penggunaan protesa dan ortesa dalam Islam.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Transgender
1. Pengertian Transgender

Transgender adalah kata sifat tentang, berkaitan, atau menetapkan


seseorang yang identitasnya tidak sesuai dengan pengertian tentang gender
lakilaki atau perempuan melainkan menggabungkan atau bergerak diantara
keduanya (Oxforef English Dictionary Definition of transgender).

Transgender adalah merupakan ketidaksamaan identitas gender


seseorang terhadap jenis kelamin yang ditunjuk kepada dirinya. “Seseorang
yang ditunjuk sebagai seks tertentu, umumnya setelah kelahiran berdasarkan
kondisi kelamin, narnun merasa bahwa hal tersebut adalah salah dan tidak
mendeskripsikan diri mereka secara sempurna”. “Tidak mengidentifikasi
[diri mereka] atau tidak berpenampilan sebagai seks (serta gender yang
diasumsikan) yang ditunjuk saat lahir. Transgender bukan merupakan
orientasi seksual. Orang yang transgender dapat mengidentiflkasi dirinya
sebagai seorang Heteroseksual, homoseksual, biseksual. maupun aseksual,
yang termasuk kelompok transgender antara lain:

a. Transeksual : individu yang merasa terperangkap dalam tubuh yang


salah.
b. Transvestite : individu yang melakukan cross-dressing saat melakukan
hubungan seksual dengan tujuan mendapatkan kenyamanan pstkologis
dengan melakukan hal tersebut.
c. Drag-queens : aktor profesional yang menggunakan pakaian wanita yang
gemerlap untuk alasan tertentu. (biasanya mereka merupakan pria gay)
d. Female impersonators : aktor profesional yang berpakaian seperti wanita
untuk alasan hiburan.
Tanda-tanda transgender atau transeksual yang bisa dilacak melalui tes
DSM, antara lain:

a. Perasaan tidak nyaman dan tidak puas dengan keadaan anatomi seksnya.
b. Berharap dapat berganti dari satu fase ke fase yang lain, seperti dari laki-
laki ingin menjadi perempuan.
c. Mengalami guncangan yang terus menerus untuk sekurangnya selama
duatahun dan bukan hanya ketika dating stress.
d. Adanya penampilan fisik interseks atau genetik yang tidak normal.
e. Dan dapat ditemukannya kelainan mental semisal schizophrenia yaitu
semacam reaksi psikotis dicirikan diantaranya dengan gejala
pengurungan diri, gangguan pada kehidupan emosional dan afektif serta
tingkah laku negativisme.

2. Hukum Transgender dalam Islam

Al Qur‟an dan hadist tidak secara spesifik dan tidak secara ekslusif
mengatur tentang hokum pergantian jenis kelamin, namun demikian secara
umum di dalam Al Qur‟an dan hadist terdapat beberapa ayat yang
memperingatkan manusia untuk tidak melakukan pergantian atau
perubahan terhadap jasmani yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya.

Di dalam QS Adz Dzariyaat (49) ayat 49: disebutkan bahw, “Dan


segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat
kebesaran Allah”. Dari QS Ar‟Ruum (21) ayat 21 dan QS Adz Dzariyaat
(49) ayat 49, maka dapat dikatakan bahwa perkawinan menurut Al-Qur‟an
adalah perkawinan antara orang-orang yang berbeda jenis kelamin atau yang
berpasang-pasangan satu dengan yang lain, yang dimaksud dengan
berpasang-pasangan dalam hal ini adalah pasangan dari yang berbeda
jenisnya yaitu laki-laki dan perempuan, bukan laki-laki dan laki-laki atau
perempuan dan perempuan.

Di dalam hadits HR Abu Sa‟id disebutkan bahwa, “Sesungguhnya,


apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih dan sayang) dan
isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih dan sayang), maka Allah
akan memandang keduanya dengan pandangan kasih dan sayang. Dan
apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih dan
sayang) maka berjatuhanlah dosadosa dari segala jemari keduanya”.

Di dalam HR Abu Dawud disebutkan bahwa, “Kawinlah dengan


wanita yang mencitaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan
membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak”. Pandangan Islam
terhadap kasus operasi pergantian jenis kelamin bagi penderita transseksual
haram hukumnya. Operasi ubah jenis kelamin bagi penderita transseksual
cenderung mengarah kepada keinginan duniawi dan cenderung keinginan
pribadi yang disertai nafsu belaka tanpa melihat masfadat/kerusakannya
akan lebih besar daripada maslahat/manfaatnya.

Penderita transseksual adalah orang-orang yang mengalami gangguan


kejiwaan (perkembangan psikologik). Berkenaan dengan itu, maka upaya
penyembuhan bagi penderita transseksual adalah melalui terapi kejiwaan.

B. Transfusi Darah
1. Pengertian transfusi darah

Kata transfusi darah berasal dari bahasa Inggris “Blood Transfution”


yang artinya memasukkan darah orang lain ke dalam pembuluh darah orang
yang akan ditolong. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan jiwa seseorang
karena kehabisan darah. Menurut Asy-Syekh Husnain Muhammad
Makhluuf merumuskan definisinya sebagai berikut:

“Transfusi darah adalah memanfaatkan darah manusia, dengan cara


memindahkannya dari (tubuh) orang yang sehat kepada orang yang
membutuhkannya, untuk mempertahankan hidupnya. “

Lalu Dr.Ahmad Sofian mengartikan tranfusi darah dengan istilah


“pindah-tuang darah” sebagaimana rumusan definisinya yang berbunyi:
”pengertian pindah-tuang darah adalah memasukkan darah orang lain ke
dalam pembuluh darah orang yang akan ditolong”.
Darah yang dibutuhkan untuk keperluan transfusi adakalanya secara
langsung dari donor dan adakalanya melalui Palang Merah Indonesia (PMI)
atau Bank Darah. Darah yang disimpan pada Bank darah sewaktu-waktu
dapat digunakan untuk kepentingan orang yang memerlukan atas saran dan
pertimbangan dokter ahli, hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan
antara golongan darah donor dan golongan darah penerimanya. Oleh karena
itu, darah donor dan penerimanya harus dites kecocokannya sebelum
dilakukan transfusi. Adapun jenis-jenis darah yang dimiliki manusia yaitu
golongan AB, A, B, dan O.

Golongan-golongan yang dipandang sebagai donor darah adalah


sebagai berikut:

a. Golongan AB dapat memberi darah pada AB


b. Golongan A dapat memberi darah pada A dan AB
c. Golongan B dapat memberi darah pada B dan AB
d. Golongan O dapat memberi darah kesemua golongan darah

Adapun golongan darah dilihat dari segi resipien atau penerima adalah
sebagai berikut:

a. Golongan AB dapat menerima dari semua golongan


b. Golongan A dapat menerima golongan A dan O
c. Golongan B dapat menerima golongan B dan O
d. Golongan O hanya dapat menerima golongan darah O

Namun sebaiknya transfusi dilakukan dengan golongan darah yang


sama dan hanya dalam keadaan terpaksa dapat diberikan darah dari
golongan yang lain. Dengan demikian donor darah adalah berarti seseorang
yang menyumbangkan darah kepada orang lain dengan tujuan untuk
menyelamatkan jiwa orang yang membutuhkan darah tersebut.

Sejarah singkat transfusi darah diawali pada tahun 1665 oleh Dr.
Richard seorang ahli anatomi tubuh dari Inggris yang berhasil
mentransfusikan darah seekor anjing pada anjing yang lain. Selanjutnya dua
tahun kemudian Jean Babtiste Denis seorang dokter, filsuf dan astronom
dari Prancis berusaha melakukan transfusi darah pertama kali pada manusia.
Ia mentransfusikan darah anak kambing ke dalam tubuh pasiennya yang
berumur 15 tahun namun gagal anak tersebut meninggal dan dia dikenai
tuduhan pembunuhan.

2. Hukum transfusi darah dalam Islam

Transfusi darah merupakan salah satu bentuk upaya penyembuhan


manusia ketika diserang penyakit karena manusia tidak boleh berputus asa
pada penyakit yang menimpanya. Menyumbangkan darah kepada orang lain
yang amat membutuhkannya menurut kesepakatan para ahli fikih termasuk
dalam kerangka tujuan syariat Islam, yaitu menghindarkan salah satu bentuk
kemudaratan yang akan menimpa diri seseorang. Sebagai sesuatu hal yang
tidak dikenal dalam kajian klasik Islam pembahasan tentang transfusi darah
dapat ditemukan landasan ushul fiqhnya dari zaman klasik. pada umumnya
pembicaraan tentang transfusi darah mencapai kesimpulan dibolehkan
dilaksanakannya namun berbeda pendapat pada kasus-kasus yang muncul.
Di antara landasan hukumnya adalah:

a. Al-Qur‟an

”Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,


daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah. tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia
tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada
dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”(Q.S Al-Baqarah 173)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-


syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id,
dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah
sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila
kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan
janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka
menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat
aniaya (kepada mereka). dan tolongmenolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (Q.S Al-Maidah 2)

b. Al-Hadits

” Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar An Namari telah


menceritakan kepada kami Syu'bah dari Ziyad bin 'Ilaqah dari Usamah bin
Syarik ia berkata, "Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dan para sahabatnya, dan seolah-olah di atas kepala mereka
terdapat burung. Aku kemudian mengucapkan salam dan duduk, lalu ada
seorang Arab badui datang dari arah ini dan ini, mereka lalu berkata,
"Wahai Rasulullah, apakah boleh kami berobat?" Beliau menjawab:
"Berobatlah, sesungguhnya Allah 'azza wajalla tidak menciptakan penyakit
melainkan menciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu pikun."
(H.R Abu Dawud)

C. Ortesa dan Protesa


1. Pengertian protesa dan ortesa
 Orthosis/Orthose/ortesa adalah segala alat yang ditambahkan ke tubuh
atau alat bantu penyangga tubuh atau anggota gerak tubuh yang layu,
lumpuh atau cacat untuk menstabilkan atau immobilize bagian tubuh,
mencegah kecacatan, melindungi dari luka, atau membantu fungsi dari
anggota tubuh.
 Protese/ protesa/ prosthesis : alat bantu pengganti anggota gerak tubuh
yang hilang sebab amputasi atau cacat bawaan. Sering di sebut kaki
palsu, atau tangan palsu.

2. Fungsi
Prostesis dan ortosis akan dianggap berfungsi apabila memiliki
parameter diantaranya sebagai berikut:
 Stabil
Prostesis dan ortosis di gunakan setiap harinya sebagai perangkat
untuk meningkatkan kemampuan ambulasi. Dalam keadaan diam berdiri
maupun bergerak, badan ditopang oleh prostesis dan ortosis. Prostesis dan
ortosis yang stabil menghasilkan keamanan bagi penggunanya karena
menghindari dari jatuh yang dapat menimbulkan masalah baru.
 Selaras
Berbekal pengetahuan biomekanik yang mantap, prostetis dan ortotis
kami dapat menghasilkan komposisi yang selaras antara soket dengan
komponen sehingga meminimalisir deviasi dalam melakukan ambulasi.
Dengan berkurangnya deviasi yang sering muncul terutama pada pasien
amputasi berarti memaksimalkan penampilan berjalan pengguna prosthesis
dan ortosis yang artinya meminimalisir kerusakan-kerusakan berantai pada
anatomi tubuh akibat kebiasan jalan yang buruk.
 Seimbang
Pengukuran tinggi yang akurat pada titik-titik krusial anatomi tubuh
pasien wajib dilakukan pada awal pemeriksaan oleh prostetis dan ortotis di
klinik DARE Foundation. Hasilnya adalah kenyamanan pada saat duduk,
diam berdiri, ambulasi dan juga meminimalisir deviasi pada saat berjalan
sehingga dapat menimbulkan rasa percaya diri kembali pada pasien
pengguna prostesis dan ortosis.

3. Hukum penggunaan protesa dan ortesa dalam Islam

Ketika ada orang mengalami patah kaki sehinga tidak bisa berjalan
kecuali dengan tongkat, maka tidak ada larangan baginya untuk membuat
kaki palsu. Tentu kaki palsu akan sangat bermanfaat, agar dia bisa berjalan
sebagai mana umumnya orang normal. Membuat kaki palsu ini tentu tidak
termasuk larangan karna dianggap telah mengubah ciptaan Allah. Justru
sebaliknya hukumnya sangatbaik dan dianjurkan karena prinsipnya
membantu orang yang cacat/tidak bisa jalan. Begitu juga menambahkan alat
bantu dengar bagi mereka yang punya kelainan dalam pendengaran, tentu
hukumnya tidak dimasukkan dalam larangan mengubah ciptaan Allah.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Transgender adalah kata lain dari takhannuts dan tarajjul, ransgender tidak
bisa mengubah status kelamin, transgender hukumnya haram dan mendapat
laknat. Wallahu a’lam.
2. Transfusi darah adalah proses mentransfer darah atau darah berbasis produk
dari satu orang ke dalam sistem peredaran darah orang lain. Transfusi darah
dapat menyelamatkan jiwa dalam beberapa situasi, seperti kehilangan darah
besar karena trauma, atau dapat digunakan untuk menggantikan darah yang
hilang selama operasi. Transfusi darah di perbolehkan asal dengan
ketentuanketentuan sesuai syariat Islam.
3. Orthosis/Orthose/ ortesa adalah segala alat yang ditambahkan ke tubuh atau
alat bantu penyangga tubuh atau anggota gerak tubuh yang layu, lumpuh
atau cacat untuk menstabilkan atau immobilize bagian tubuh, mencegah
kecacatan, melindungi dari luka, atau membantu fungsi dari anggota tubuh.
Dan Protese/ protesa/ prosthesis adalah alat bantu pengganti anggota gerak
tubuh yang hilang sebab amputasi atau cacat bawaan. Sering di sebut kaki
palsu, atau tangan palsu.

B. Saran

Diharapkan para mahasiswa kebidanan bukan hanya mengetahui


masalah dalam dunia kesehatan dari segi medis, tetapi juga dari segi agama
Islam.
DAFTAR PUSAKA

Asy-Syaukani, Lutfi. 1998.Poltik, HAM, dan Isu-isu Teknologi dalam Fiqih


Kontemporer, Bandung: Pustaka Hidayah.

Hasan,Ali.2000.Masail Fiqhi Yah Al-Haditsah Pada Masalah Masalah


Kontenporer Hukum Islam.Jakarta :PT Raja Gravindo Persada.

Mahfudh, Sahal. 2004. Solusi Problematika Aktual Hukum Islam. Surabaya:


LTN NU dan Diantama.

Masyhuri, A. Aziz. 2004.Masalah Keagamaan: Hasil Muktamar dan Munas


Ulama’Nahdlatul Ulama’ 1928-2000, Cet. I, Jakarta :Qultum Media.

Masyhuri. 2004.Sistl em Pengambilan Putusan Hukum dan Hirarki


Himpunan Keputusan Bahtsul Masail, Jakarta: Qultum Media.

Petrus Yoyo Karyadi. 2002. Euthanasia dalam Perspektif Hak Asasi


Manusia, Yogyakarta: Media Presindo.

Qardhawi,yusuf.1995.Fatwa Fatwa Kontemporer.Jakarta :Gema Insani


ekspres.
Qardhawi. 2002.Fatwa Fatwa Kontemporer Jilid III.Jakarta:Pustaka Al
kautsar. http://azharku.wordpress.com

Breda, Hadisty 2015. Makalah transplantasi organ menurut pandangan


Islam : http://www.academia.edu