Anda di halaman 1dari 119

BAB 10

PUTUSNYA PERKAWINAN

Suatu perkawinan dapat putus dan berakhir karena


beberapa hal, yaitu karena terjadinya talak yang
dijatuhkan oleh suami terhadap istrinya, atau karena
perceraian yang terjadi antara keduanya, atau karena
sebab-sebab lain. Hal-hal yang menyebabkan putusnya
perkawinan itu akan dijelaskan berikut ini.

A. TALAK

1. Pengertian Talak

Talak terambil dari kata “ithlaq” menurut


Bahasa artinya “melepaskan atau
meninggalkan. Menurut istilah syara’, talak
yaitu:

‫َح ُّل َر ِبَط ِة الَّز َو اِج َو ِا ْن َه ا ُء اْلعاَل َقِة الَّز ْو ِج َّيِة‬

“Melepas tali perkawinan dan mengakhiri


hubungan suami istri”

Al-Jaziry mendefinisikan:

‫َالَّط اَل ُق ِاَز اَلُة الَّنَك ِح َاْو ُنْق َص اَن َح َّلِه ِبَلْف ٍظ َم ْخ ُصْو ٍص‬
Talak ialah menghilangkan ikatan
perkawinan atau mengurangi pelepasan
ikatannya dengan menggunakan kata-kata
tertentu.

Menurut Abu Zakaria AL-Anshari, talak


ialah:

‫َح ُّل َع ْق ِد الَّنَك اِح ِبَلْف ِظ الَّط لاَل ِق َو َن ْح ِو ه‬

Melepas tali akad nikah dengan kata talak


dan yang semacamnya.

Jadi, talak itu ialah menghilangkan


ikatan perkawinan sehingga setelah hilangnya
ikatan perkawinan itu istri tidak lagi halal bagi
suaminya, dan ini terjadi dalam hal talak
ba’in, sedangkan arti mengurangi pelepasan
ikatan perkawinan ialah berkurangnya hak
talak bagi suami yang mengakibatkan jumlah
talak manjadi hak suami dari tiga menjadi
dua, dari dua menjadi satu dan dari satu
menjadi hilang hak talak itu, yaitu terjadi
dalam talak raj’i.
2. Macam-macam Talak.

Ditinjau dari segi waktu dijatuhkannya


talak itu, mala talak dibagi menjadi tiga
macam, sebagai berikut:

a. Talak Sunni, yaitu talak yang dijatuhkan


sesuai dengan tuntunan sunah.
Dikatakan talak sunni jika memenuhi
empat syarat:

1. Istri yang ditalak sudah pernah


digauli, bila talak dijatuhkan terhadap
istri yang belum pernah digauli, tidak
termasuk talak sunni.

2. Istri dapat segera melakukan iddah


suci setelah ditalak, yaitu dalam
keadaan suci dari haid. Menurut
ulama Syafi’iyah, perhitungan iddah
bagi wanita berhaid ialah tiga kali
suci, bukan tiga kali haid. Talak
terhadap istri yang telah lepas haid
(menopause) atau belum pernah haid,
atau sedang hamil, atau talak karena
suami meminta tebusan (khulu’), atau
ketika istri dalam haid, semuanya
tidak temasuk dalam talak sunni.

3. Talak itu dijatuhkan ketika istri dalam


keadaan suci, baik di permulaan, di
pertengahan maupun di akhir suci,
kendati beberapa saat lalu datang
haid.

4. Suami tidak pernah menggauli istri


selama masa suci dimana talak itu
dijatuhkan. Talak yang dijatuhkan
oleh suami ketika istri dalam keadaan
suci dari haid tetapi pernah digauli,
tidak termasuk talak sunni.

b. Talak Bid’i, yaitu talak yang dijatuhkan


tidak sesuai atau bertentangan dengan
tuntunan sunnah, tidak memenuhi
ssyarat-syarat talak sunni. Termasuk
talak bid’i ialah:

1. Talak yang dijatuhkan terhadap istri


pada waktu haid (menstruasi), baik di
permulaan haid maupun di
pertengahannya.

2. Talak yang dijatuhkan terhadap istri


dalam keadaan suci tetapi pernah
digauli oleh suaminya dalam keadaan
suci dimaksud.

c. Talak la sunni wala bid’i, yaitu talak yang


tidak termasuk kategori talak sunni dan
tidak pula termasuk talak bid’i, yaitu:

1. Talak yang dijatuhkan terhadap istri


yang belum pernah digauli.

2. Talak yang dijatuhkan terhadap istri


yang belum pernah haid, atau istri
yang telah lepas haid.

3. Talak yang dijatuhkan terhadap istri


yang sedang hamil.

Ditinjau dari segi tegas dan tidaknya


kata-kata yang dipergunakan sebagai
ucapan talak, maka talak dibagi menjadi
dua macam, sebagai berikut:
a. Talak Sharih, yaitu talak dengan
mempergunakan kata-kata yang
jelas dan tegas, dapat dipahami
sebagai pernyataan talak atau cerai
seketika diucapkan, tidak mungkin
dipahami lagi.

Imam Syafi’i mengatakan


bahwa kata-kata yang dipergunakan
untuk talak sharih ada tiga, yaitu
talak, firaq, dan sarah, ketiga ayat
itu disebut dalam Al-Quran dan
Hadits.

Ahl al-Zhahiriyah berkata


bahwa talak tidak jatuh kecuali
dengan mempergunakan salah satu
dari tiga kata tersebut, karena syara’
telah mempergunakan kata-kata ini,
padahal talak adalah perbuatan
ibadah, karenanya diisyaratkan
mempergunakan kata-kata yang
telah ditetapkan oleh syara’.
Beberapa contoh talak sharih ialah
seperti suami berkata kepada
istrinya:

1. Engkau saya talak sekarang juga.


Engkau saya cerai sekarang juga.

2. Engkau saya firaq sekarang juga.


Engkau saya pisahkan sekarang
juga.

3. Engkau saya sarah sekarang juga.


Engkau saya lepas sekarang juga.

Apabila suami menjatuhkan


talak terhadap istrinya dengan talak
sharih maka menjadi jatuhlah talak
itu dengan sendirinya, sepanjang
ucapan itu dinyatakan dalam
keadaan sadar dan atas kemauan
sendiri.

b. Talak Kinayah, yaitu talak dengan


mempergunakan kata-kata sindiran,
atau samar-samar, seperti suami
berkata kepada istrinya:
1. Engkau sekarang telah jauh dari
diriku.
2. Selesaikan sendiri segala
urusanmu.
3. Janganlah engkau mendekati
aku lagi.
4. Keluarlah engkau dari rumah ini
sekarang juga.
5. Pergilah engkau dari tempat ini
sekarang juga.
6. Susullah keluargamu sekarang
juga.
7. Pulanglah ke rumah orang
tuamu sekarang.
8. Beriddahlah engkau dan
bersihkan kandungannmu itu.
9. Saya sekarang telah sendirian
dan hidup membujang.
10. Engkau sekarang telah bebas
merdeka, hidup sendirian.
Ucapan-ucapan tersebut
mengandung kemungkinan cerai dan
mengandung kemungkinan lain.

Tentang kedudukan talak


dengan kata-kata kinayah atau sindiran
ini sebagaimana dikemukakan oleh
Taqiyuddin Al-Husaini, bergantung
kepada niat suami. Artinya, jika suami
dengan kata-kata tersebut bermaksud
menjatuhkan talak, maka menjadi
jatuhlah talak itu, dan jika suami
dengan kata-kata itu tersebut tidak
bermaksud menjatuhkan talak maka
talak itu tidak jatuh.

Ditinjau dari segi ada atai tidak


adanya kemungkinan bekas suami
merujuk kembali bekas istri, maka talak
dibagi menjadi dua macam, sebagai
berikut:

a. Talak Raj’i, yaitu talak yang


dijatuhkan suami terhadap istrinya
yang pernah digauli, bukan karena
memperoleh ganti harta dari istri,
talak yang pertama kali dijatuhkan
atau yang kedua kalinya.

Dr. As-Siba’i mengatakan


bahwa talak raj’i adalah talak yang
untuk kembalinya bekas istri
kepada bekas suami tidak
memerlukan pembaruan akad
nikah, tidak memerlukan mahar,
serta tidak memerlukan
persaksian.

Setelah terjadi talak raj’i maka


istri wajib beriddah, hanya bila
kemudian suami hendak kembali
kepada bekas istri sebelum
berkahir masa iddah, maka hal itu
dapat dilakukan dengan
menyatakan rujuk, tetepi ika
dalam masa iddah tersebut bekas
suami tidak menyatakan rujuk
terhadap bekas istrinya, maka
dengan berakhirnya masa iddah
itu kedudukan talak menjadi talak
ba’in; kemudian jika sesudah
berakhirnya masa iddah itu suami
ingin kembali kepada bekas
istrinya maka wajib dilakukan
dengan akad nikah baru dan
dengan mahar yang baru pula.

Talak raj’i hanya terjadi pada


talak pertama dan kedua saja,
berdasarkan firman Allah dalam
surat Al-Baqarah ayat 229:

‫َالَّط اَل ُق َمَّر ٰت ۖ َف ِاْم َس اٌۢك َم ْع ُرْو ٍف َاْو َت ْس ْي ٌۢح‬


‫ِر‬ ‫ِب‬ ‫ِن‬
‫ِبِاْح َس اٍن‬

Talak (yang dapat dirujuk) dua


kali. Setelah itu noleh rujuk lagi
dengan cara yang makruf atau
menceraikan dengan cara yang
baik.

Ayat ini memberi makna


bahwa talak yang disyariatkan
Allah ialah talak yang dijatuhkan
oleh suami satu demi satu, tidak
sekaligus, dan bahwa suami boleh
memelihara kembali bekas istrinya
setelah talak pertama dengan cara
yang baik, demikian pula setelah
talak kedua. Arti kembali ialah
dengan merujuknya dan
mngembalikannya ke dalam ikatan
perkawinan dan berhak
mengumpuli dan mempergaulinya
dengan cara yang baik. Hak
merujuk hanya terdapat dalam
talak raj’i saja.

b. Talak ba’in, yaitu talak yang tidak


memberi hak merujuk bekas suami
terhadap bekas istrinya. Untuk
mengembalikan bekas istri ke
dalam ikatan perkawinan dengan
bekas suami harus melalui akad
nikah baru, lengkap dengan rukun
dan syarat-syaratnya.
Talak ba’in ada dua macam,
yaitu talak ba’in sughro dan talak
ba’in kubro.

- Talak ba’in shugro ialah talak


ba’in yang menghilangkan
pemilikan bekas suami
terhadap bekas istri tetapi
tidak menghilangkan
kehalalan bekas suami untuk
kawin kembali dengan bekas
istri. Artinya, bekas suami
boleh mengadakan akad
nikah baru dengan bekas istri,
baik dalam masa iddahnya
maupun sesudah berakhir
masa iddahnya. Termasuk
dalam talak ba’in shugro
ialah:

1) Talak sebelum
berkumpul
2) Talak dengan
penggantian harta atau
yang disebut khulu’

3) Talak karena aib (cacat


badan), karena salah
seorang dipenjara, talak
karena penganiayaan,
atau yang semacamnya.

- Talak ba’in kubro, yaitu talak


yang menghilangkan
pemilikan bekas suami
terhadap bekas istri serta
menghilangkan kehalalan
bekas suami unutk kawin
kembali dengan bekas
istrinya, kecuali setelah bekas
istri itu kawin dengan laki-laki
lain, telah berkumpul dengan
suami kedua itu serta telah
bercerai wajar dan telah
selesai menjalankan masa
iddahnya. Talak ba’in kubro
terjadi pada talak yang ketiga.
Hal ini sesuai dengan firman
Allah dalam surat Al-Baqarah
ayat 230:

‫َف ِاْن َطَّلَقَه ا َف اَل َت ِحُّل َلٗه ِم ْۢن َب ْع ُد َح ّٰت ى َت ْن ِكَح‬


‫َز ْو ًج ا َغْي َر ٗه‬

Kemudian jika suami


mentalaknya (sesudah talak
yang kedua), maka
perempuan itu tidak halal lagi
baginya, sampai dia kawin
dengan suami yang lain.

Ditinjau dari segi cara suami


menyampaikan talak terhadap
istrinya, talak ada beberapa
macam, yaitu sebagai berikut:

a. Talak dengan ucapan, yaitu


talak yang disampaikan oleh
suami dengan ucapan
dihadapan istrinya dan istri
mendengar secara langsung
ucapan suaminya itu.

b. Talak dengan tulisan, yaitu


talak yang disampaikan oleh
suami secara tertulis lalu
disampaikan kepada istrinya,
kemudian istri membacanya
dan memahami isi dan
maksudnya. Talak yang
dinyatakan secara tertulis
dapat dipandang jatuh (sah),
meski yang bersangkutan
dapat mengucapkannya.
Sebagaimana talak dengan
ucapan ada talak sharih dan
talak kinayah, maka talak
dengan tulisan demikian pula.
Talak sharih jatuh dengan
semata-mata pernyataan
talak, sedangkan talak
kinayah bergantung pada niat
suami.
c. Talak dengan isyarat, yaitu
talak yang dilakukan dalam
bentuk isyarat oleh suami
yang tuna wicara. Isyarat ,bagi
suami yang tuna wicara (bisu)
dapat dipandang sebagai alat
komunikasi untuk
memberikan pengertian dan
menyampaikan maksud dan
isi hati. Oleh karena itu,
isyarat baginya sama dengan
ucapan bagi yang dapat
berbicara dalam menjatuhkan
talak, sepanjang isyarat itulah
satu-satunya jalan untuk
menyampaikan maksud yang
terkandung dalam hatinya.

Sebagian fuqaha
mensyaratkan bahwa untuk
sahnya talak dengan isyarat
bagi orang tuna wicara itu ia
adalah buta huruf. Jika yang
bersangkutan mengenal
tulisan dan dapat menulis,
maka talak baginya tidak
cukup dengan isyarat, karena
tulisan itu lebih dapat
menunjukkan maksud
ketimbang isyarat, dan tidak
beralih tulisan ke isyarat,
kecuali darurat, yakni tidak
dapat menulis.

d. Talak dengan utusan, yaitu


talak yang disampaikan oelh
suami kepada istrinya melalui
perantaraan orang lain
sebagai utusan untuk
menyampaikan maksud suami
itu kepada istrinya yang tidak
berada dihadapan suami
bahwa suami mentalak
istrinya. Dalam hal ini utusan
berkedudukan sebagai wakil
suami untuk menjatuhkan
talak suami dan
melaksanakan talak itu.

3. Rukun dan Syarat Talak

Rukun talak ialah unsur pokok yang


harus ada dalam talak dan terwujudnya talak
bergantung ada dan lengkapnya unsur-unsur
yang dimaksud. Rukun talak ada empat,
sebagai berikut:

a. Suami. Suami adalah yang memiliki hak


talak dan berhak menjatuhkannya, selain
suami tidak berhak menjatuhkannya.
Oleh karena talak itu bersifat
menghilangkan ikatan perkawinan, maka
talak tidak mungkin terwujud kecuali
setelah nyata adanya akad perkawinan
yang sah.

Abu Ya’la dan Al-Hakim meriwayatkan


hadits dari Jabir bahwa Rasulullah
bersabda :

‫َط َالَق اًال بَـْع َد ِنَك اِح َو َال ِع ْت َق ِاَال بَـْع َد ِم ْلٍك‬
Tidak ada talak kecuali setelah akad
perkawinan dan tidak ada pemerdekaan
kecuali setelah ada pemilikan.

Abu daud dan Al-Tirmidzi meriwayatkan


hadits dari Ami ibn Syu’aib bahwa
rasulullah bersabda:

‫َالَن َذ َر ِالْب ِن َاَد َم ِفْي َم ا َال يْم ِلُك َو َال ِع ْت َق ِفيَم ا َال يَم ِلُك‬
‫َو َال َط َالَق ِفْي َم ا َال يَم ِلُك‬

Tidak ada nazar bagi anak Adam


(manusia) tentang hal yang baik
dimiliki, tidak ada pemerdekaan budak
dalam hal tidak dimiliki, dan tidak ada
talak dalam hal yang tidak dimiliki.

Untuk sahnya talak, suami yang


menjatuhkan talak diisyaratkan:

1. Berakal. Suami yang gila tidak sah


menjatuhkan talak. Yang dimaksud
dengan gila dalam hal ini ialah
hilang akal atau rusak akal karena
sakit, termasuk ke dalamnya sakit
pitam, hilang akal karena sakit
panas atau sakit ingatan karena
rusak syaraf otaknya.

2. Baligh. Tidak dipandang jatuh talak


yang dinyatakan oleh orang yang
belum dewasa. Dalam hal ini ulama
Hanabilah mengatakan bahwa
talak oleh anak yang sudah
mumayyiz kendati umur anak itu
kurang dari 10 tahun asalkan ia
telah mengenal arti talak dan
mengetahui akibatnya, talak
dipandang jatuh.

3. Atas kemauan sendiri. Yang


dimaksud atas kemauan sendiri
disini ialah kehendak pada suami
diri suami untuk menjatuhkan talak
itu dan dijatuhkan atas pilihan
sendiri, bukan dipaksa orang lain.

Kehendak dan kesukarelaan


melakukan perbuatan menjadi
dasar taklif dan pertanggung
jawaban. Oleh karena itu, orang
yang dipaksa melakukan sesuatu
(dalam hal ini menjatuhkan talak)
tidak bertanggung jawab atas
perbuatannya. Hal ini sesuai
dengan sabda Rasulullah:

‫ِاَّن هَّللا َو َض َع َع ْن ُاَّم تِى َالْخ َط ا َو الَّن ْس‬


‫ِياَن َو َم ااْس َت ْك ِر ُهْو ا َع َلْيِه‬

Sungguh Allah melepaskan dari


umatku tanggung jawabdari dosa
silap, lupa dan sesuatu yang
dipaksakan kepadanya.

b. Istri. Masing-masing suami hanya berhak


menjatuhkan talak terhadap istrinya
sendiri. Tidak dipandang jatuh talak yang
dijatuhkan terhadap istri orang lain.

Untuk sahnya talak, bagi istri yang


ditalak diisyaratkan sebagai berikut:
1. Istri itu masih tetap berada dalam
perlindungan kekuasaan suami. Istri
yang menjalin masa iddah talak raj’i
dari suaminya oleh hukum Islam
dipandang masih berada dalam
perlindungan kekuasaan suami.
Karenanya bila dalam masa itu
suami menjatuhkan talak lagi,
dipandang jatuh talaknya sehingga
menambah jumlah talak yang
dijatuhkan dan mengurangi hak
talak yang dimiliki suami. Dalam hal
talak ba’in, bekas suami tidak
berhak menjatuhkan talak lagi
terhadap bekas istrinya meski dalam
masa iddahnya, karena dengan talak
ba’in itu bekas istri tidak lagi berada
dalam perlindungan kekuasaan
bekas suami.

2. Kedudukan istri yang ditalak itu


harus berdasarkan atas akad
perkawinan yang sah. Jika ia
menjadi istri dengan akad nikah
yang batil, seperti akad nikah
terhaddap wanita dalam masa
iddahnya, atau akad nikah dengan
perempuan saudara istrinya
(memadu antara dua perempuan
bersaudara), atau akad nikah
dengan anak tirinya padahal suami
pernah menggauli ibu anak tirinya
itu dan anak tiri itu berada dalam
pemeliharaannya, maka talak yang
demikian itu tidak dipandang ada.

c. Sighat Talak

Sighat talak ialah kata-kata yang


diucapkan oleh suami terhadp istrinya
yang menunjukkan talak, baik itu berupa
sharih (jelas) maupun kinayah (sindiran),
baik berupa ucapan/lisan, tulisan, isyarat,
bagi suami tuna wicara ataupun dengan
suruhan orang lain.
Talak tidak dipandang jatuh jika
pernuatan suami terhadap istrinya
menunjukkan kemarahannya, semisal
suami memarahi istri, memukulnya,
mengantarkannya ke rumah orang tuanya,
menyerahkan barang-barangnya, tanpa
disertai pernyataan talak, maka yang
demikian bukan talak. Demikian pula niat
talak atau masih berada dalam pikiran dan
angan-angan, tidak diucapkan, tidak
dipandang sebagai talak. Pembicaraan
suami tentang talak tetapi tidak ditujukan
terhadap istrinya juga tidak dipandang
sebagai talak.

d. Qashdu (Sengaja), artinya bahwa dengan


ucapan talak itu memang dimaksudkan
oleh yang mengucapkannya untuk talak,
bukan unutk maksud lain. Oleh karena itu,
salah ucap yang tidak dimaksud untuk
talak dipandang tidak jatuh talak, seperti
suami memberikan sebuah salak kepada
istrinyam, semestinya ia mengatakan
kepada istrinya itu kata-kata: “Ini sebuah
salak untukmu”, tetapi keliru ucapan,
berbunyi: “Ini sebuah talak untukmu”,
maka talak tidak dipandang jatuh.

4. Talak di Tangan Suami

Hukum Islam menetapkan hak talak bagi


suami dan suamilah yang memegang kendali
talak, karena suami dipandang telah mampu
memelihara kelangsungan hidup bersama.
Suami diberi beban membayar mahar dan
memikul nafkah istri dan anak-anaknya.
Demikian pula suami diwajibkan mejamin
nafkah istri selama ia menjalankan mas
iddahnya. Hal-hal tersebut menjadi pengikat
bagi suami untuk tidak menjatuhkan talak
dengan sesuka hati.

Pada umumnya, suami dengan


pertimbangan akal dan bakat
pembawaannya, lebih tabah menghadapi apa
yang kurang menyenangkan ketimbang istri.
Biasanya suami tidak cepa-cepat menjatuhkan
talak karena sesuatu yang menimbulkan
amarah emosinya, atau karena sesuatu
keburukan pada diri istri yang memberatkan
tanggung jawab suami. Hal ini berbeda
dengan istri, biasanya wanita itu lebih
menonjol sikap emosionalnya, kurang
menonjol sikap rohaniahnya, cepat marah,
kurang tahan menderita, mudah susah dan
gelisah, dan jika bercerai bekas istri tidak
menanggung beban materil terhadap bekas
suaminya, tidak wajib membayar mahar,
sehingga andaikata talak menjadi hak berada
di tangan istri, maka besar kemungkinan istri
akan lebih mudah menjatuhkan talak karena
sesuatu sebab yang kecil.

Al-Jurjawi mengemukakan bahwa wanita


itu biasanya lebih mudah goncang
pendapatnya menghadapi uji coba dan
kesulitan hidup, kurang teguh dalam
menghadapi ha-hal yang tidak disenangi.
Biasanya wanita lebih mudah gembira dan
mudah menjadi susah. Menjadikan hak talak
di tangan suami akan lebih melastarikan hisup
suami istri ketimbang hak talak itu di tangan
istri

Dalam pada itu suami sebagai penanggung


jawab kebutuhan materil rumah tangga dan
menjadi pemimpin keluarga. Pada umumnya,
istri lebih tamak harta, sehingga andaikata
hak talak diserahkan kepada kebijaksanaan
istri, maka istri akan lebih senang berganti
suami hanya untuk menjamin hidup yang
lebih baik dan nafkah yang lebih besar dari
suami yang kedua, dan masa iddah masih
memperoleh jaminan nafkah dari bekas suami
pertama.

Demikian pula halnya jika hak talak itu


berada di tangan suami dan istri secara sama,
artinya suami berhak menjatuhkan talak dan
demikian pula istri, maka persoalannya
menjadi lebih buruk dan lebih fatal, karena
jika terjadi perselisihan sedikit saja maka istri
akan cepat-cepat menjatuhkan talak. Oleh
karena itu, dijadikannya talak di tangan suami
mengandung hikmah yang besar. Kendati
talak di tangan suami saja masih banyak istri
yang mengadukan gugatan cerai lewat
Pengadilan Agama, apalagi kalua istri diberi
hak menjatuhkan talak, maka bencana
perceraian akan melanda dimana-mana.

Dalam hal kekuasaan talak di tangan suami


itu, istri tidak perlu berkecil hati dan khawatir
akan kesewang-wenangan suami, karena
hukum Islam memberi kesempatan istri untuk
meminta talak kepada suaminya dengan
mengembalikan mahar atau menyerahkan
sejumlah harta tertentu kepada suami
sebagai ganti rugi agar suami dapat
memperoleh istri yang lain, kemudian atas
dasar itu suami menjatuhkan talak. Inilah
yang disebut dengan istilah khulu’ (talak
tebus).

Juga hukum Islam tidak menutup


kemungkinan bagi istri untuk menyelamatkan
diri dari penderitaan yang menimpa dirinya
sehingga menimbulkan mudharat beginya bila
perkawinan dilanjutkan, seperti suami
menderita sakit yang wajib dijauhi, suami
berperangai buruk, atau sebab-sebab lain
semacam itu, sehingga istri selalu merasa
tersiksa hidup bersama suaminya, maka istri
boleh mengajukan gugatan cerai kepada
Pengadilan Agama, kemudian Hakim
menceraikan antara keduanya melalui
keputusan pengadilan.

5. Persaksian Talak

Kebanyakan fuqaha berpendapat bahwa


talak itu dapat terjadi tanpa persaksian, yakni
dipandang sah oleh hukum Islam suami
menjatuhkan talak terhadap istrinya tanpa
kehadiran dan kesaksian dua orang saksi,
karena talak itu menjadi hak suami sehingga
suami berhak sewaktu-waktu menggunakan
haknya itu tanpa harus menghadirkan dua
orang saksi, dan sahnya talak itu tidak
bergantung kepada kehadiran saksi.
Menurut ketentuan hukum Islam, talak
adalah termasuk salah satu hak suami, Allah
menjadikan hak talak di tangan suami, tidak
menjadikan hak talak itu di tangan orang lain,
baik itu orang lain itu istri, saksi ataupun
pengadilan. Firman Allah dalam surat Al-
Ahzab ayat 49 menyatakan sebagai berikut:

‫…ٰٓي َاُّيَه ا اَّلِذْي َن ٰا َم ُنْٓو ا ِاَذ ا َنَك ْح ُتُم اْلُمْؤ ِم ٰن ِت ُثَّم َط َّلْقُتُمْو ُهَّن‬

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu


menikahi permpuan-perempuan yang
beriman, kemudian kamu mentalak
(menceraikan) meraka….

Ayat ini menyatakan bahwa kaum laki-laki


itu menikahi wanita lalu wanita itu menjadi
istrinya yang berada dalam kekuasaannya,
berkewajiban memeliharanya, sekiranya
berkeberatan menunaikan kewajibannya itu
maka suami berhak melepaskannya, sehingga
aktivitas menikahi bermula dari pihak suami,
demikian pula inisiatif talak dan hak mentalak
berada ditangan suami. Firman Allah dalam
surat Al-Baqarah ayat 231 menyatakan:

… ‫َو ِاَذ ا َط َّلْقُتُم الِّن َس ۤا َء َف َب َلْغ َن َاَج َلُهَّن َفَاْمِس ُك ْو ُهَّن ِبَم ْع ُرْو ٍف‬

Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu


(dekat) sampai iddahnya, maka rujukilah
mereka dengan cara yang makruf, atau
ceraikanlah dengan cara yang makruf pula…

Ibnu Qayyim berkata bahwa talak itu


menjadi hak bagi orang yang menikahi,
karena itulah yang berhak menahan istri,
yakni merujuknya. Suami tidak memerlukan
persaksian untuk mempergunakan haknya.
Tidak ada riwayat dari Rasulullah dan para
sahabatnya sesuatu yang menjadi dalil dan
alasan disyari’atkannya persaksian talak.

Dalam hal ini fuqaha Syi’ah Imamiyah


berbeda pendapat dengan fuqaha jumhur,
yaitu mereka (Syi’ah Imamiyah) berpendapat
bahwa persaksian dalam talak adalah syarat
sahnya talak. Alasan mereka ialah firman
Allah dalam surat At-Talak ayat 2:
‫َّو َاْش ُدْو ا َذ ْي ْد ِّم ْنُك َاِقْيُموا الَّش اَدَة هّٰلِل‬
‫َه‬ ‫َو َع ٍل ْم َو‬ ‫ِه‬

Dan persaksikanlah dengan dua orang orang


saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah
kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.

Al-Thabarani menuturkan bahwa zahir ayat


memerintahkan adanya persaksian untuk
taklak, dalam hal yang demikian juga
diriwayatkan oleh imam-imam ahlulbait
seluruhnya dan bahwa hal itu menunjuk wajib
serta menjadi syarat sahnya talak.

Diantara sahabat yang berpendapat


wajibnya persaksian dalam talak dan menjadi
syarat sahnya talak ialah Ali bin Abi Thalib dan
Imran bin Husein. Dari tabi’in ialah Al-Imam
Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash Shadiq, ‘Atho,
Ibnu Juraij dan Ibnu Sirin.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa


beliau berkata kepada orang yang bertanya
tentang talak: Apakah talakmu telah engkau
persaksikan di hadapan dua orang saksi yang
adil sebagaimana Allah memerintahkannya?
Orang itu menjawab: Tidak. Maka Ali bin Abi
Thalib berkata: Pergilah engkau, talakmu itu
bukan talak yang sebenarnya.

Dalam hal persaksian talak ini rupanya


Pemerintah Republik Indonesia cenderung
kepada keharusan adanya persaksian talak
dimaksud. Hal ini dapat dilihat pada pasal 39
Undang-undang No.1 tahun 1974 tetntang
perkawinan yang menyatakan bahwa
“perceraian hanya dapat dilakukan di depan
Sidang Pengadilan yang berwenang”,
kemudian pasal 14 Peraturan Pemerintah
No.9 tahun 1975 menyatakan bahwa “suami
yang telah melangsungkan perkawinan
menurut Agama Islam, yang akan
menceraikan istrinya, harus mengajukan surat
kepada Pengadilan di tempat tinggalnya, yang
berisi pemberitahuan bahwa dia bermaksud
menceraikan istrinya disertai dengan alasan-
alasan serta meminta kepada Pengadilan agar
diadakan sidang unutk keperluan itu.
Selanjutnya, pasal 16 Peraturan
Pemerintah ini menyatakan bahwa
Pengadilan hanya memutuskan untuk
mengadakan sidang Pengadilan untuk
menyaksikan perceraian yang dimaksud
dalam pasal apabila memang terdapat alasan-
alasan yang cukup sebagaimana dimaksud
dalam pasal 19 Peraturan Pemerintah ini, dan
Pengadilan berpendapat bahwa antara suami
istri bersangkutan tidak mungkin didamaikan
untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

6. Hukum Menjatuhkan Talak

Stabilitas rumah tangga dan kontinuitas


kehidupan suami istri adalah tujuan utama
adanya perkawinan dan hal ini sangat
diperhatikan oleh syari’at Islam. Akad
perkawinan dimaksudkan untuk selama
hidup, agar dengan demikian suami istri
menjadikan rumah tangga sebagai tempat
berteduh yang nyaman dan permanen agar
dalam perlindungan rumah tangganya itu
kedua suami istri dapat menciptakan iklim
rumah tangga yang memungkinkan
terwujudnya dan terpeliharanya anak
keturunan dengan sebaik-baiknya.

Untuk itu maka syari’at Islam menjadikan


pertalian suami istri dalam ikatan perkawinan
sebagai pertalian yang suci dan kokoh,
sebagaimana Al-Quran memberi istilah
pertalian itu dengan mitsaq ghalizh (janji
kukuh). Firman Allah dalam surat An-Nisa’
ayat 21 menyatakan:

‫َّو َاَخ ْذ َن ِم ْنُك ْم ِّمْي َث اًقا َغ ِلْي ًظ ا‬

Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil


dari kamu janji yang kuat.

Oleh karena itu suami istri wajib


memelihara terhubungnya tali pengikat
perkawinan itu, dan tidak sepantasnya
mereka berusaha merusak dan memutuskan
tali pengikat tersebut. Meskipun suami oleh
hukum Islam diberi menjatuhkan talak,
namun tidak dibenarkan suami menggunakan
hak itu dengan gegabah dan sesuka hati,
apalagi hanya menurutkan hawa nafsunya.

Menjatuhkan talak tanpa alasan dan sebab


yang dibenarkan adalah termasuk perbuatan
tercela, terkutuk dan dibenci oleh Allah.
Rasulullah bersabda:

‫َأْبَغ ُض َاْلَح اَل ِل ِع ْن َد ِهَّللَا َالَّط اَل ُق‬

Perkara halal yang paling dibenci Allah ialah


menjatuhkan talak.

Hadits ini menjadi dalil bahwa diantara


jalan halal itu ada yang dimurkai Allah jika
tidak dipergunakan sebagaimana mestinya
dan yang paling dimurkai pelakunya tanpa
alasan yang dibenarkan ialah perbuatan
menjatuhkan talak. Maka menjatuhkan talak
itu sama sekali tidak ada pahalanya dan tidak
dipandang sebagai perbuatan ibadah. Hadits
ini juga menjadi dalil bahwa suami wajib
selalu menjauhkan diri dari menjatuhkan
talak selagi masih ada jalan untuk
menghindarkannya. Suami hanya dibenarkan
menjatuhan talak jika terpaksa, tidak ada
jalan lain untuk menghindarinya, dan talak
itulah salah satunya jalan terciptanya
kemaslahatan.

Istri yang meminta talak kepada suaminya


tanpa sebab dan alasan yang dibenarkan
adalah perbuatan tercela, sebagai mana
sabda Rasulullah:

‫َاُّيَم ا اْم َر َأٍة َس َأَلْت َز ْو َج َه ا َطاَل ًق ا ِمْن َغ ْي ِر َب ْأٍس َف َح َر اُم‬


. ‫َع َلْي َه ا َر اِئَح ُة اْلَج َّنِة‬

Manakala istri menuntut cerai dari suaminya


tanpa alasan, maka haram baginya bau
surga.

Para fuqaha berbeda pendapat tentang


hukum asal menjatuhkan talak oleh suami.
Yang paling tepat diantara pendapat itu ialah
pendapat yang mengatakan bahwa suami
diharamkan menjatuhkan talak kecuali karena
darurat (terpaksa). Pendapat itu dikemukakan
oleh ulama Hanafiyah dan Hanabilah.
Alasannya ialah hadits yang menyatakan:
‫َلَع َن ُهللا ُك َّل َذ َّو اٍق ِم ْط اَل ٍق‬

Allah mengutuk suami tukang pencicip lagi


suka mentalak istri.

Mereka ini juga beralasan bahwa


menjatuhkan talak berarti mengkufuri nikmat
Allah, sebab perkawinan itu termasuk nikmat
dan anugerah Allah, padahal mengkufuri
nikmat Allah itu dilarang. Oleh karena itu,
menjatuhkan talak tidak boleh, kecuali karena
darurat (terpaksa).

Diantara darurat yang mebolehkan suami


menjatuhkan talak ialah keraguan suami
terhadap perilaku istri, tertanam tidak senang
di hati suami terhadap istri. Apabila tidak ada
hajat yang mengharuskan adanya talak,
menjadikan perbuatannya itu mengkufuri
nikmat Allah, maka talak dalam keadaan
demikian dilarang.

Syara’ menjadikan talak sebagai jalan yang


sah unutk bercerai suami istri, namun syara’
membenci terjadinya perbuatan ini dan tidak
direstui dijatuhkannya talalk tanpa sebab atau
alasan. Adapun sebab-sebab dan alasan-
alasan untuk jatuhnya talak itu adakalanya
menyebabkan kedudukan hukum talak
menjadi wajib, adakalanya menjadi haram,
adakalanya menjadi musibah dan adakalanya
menjadi sunat.

Talak menjadi wajib bagi suami atas


permintaan istri dalam hal suami tidak
mampu menunaikan hak-hak istri serta
menunaikan kewajibannya sebagai suami,
seperti suami tidak mampu mendatangi istri.
Dalam hal ini istri berhak menuntut talak dari
suaminya dan suaminya wajib memenuhi
tuntutan istri, jangan membiarkan istri
terkatung-katung ibarat orang yang
digantung, yakni tidak dilepaskan tetapi tidak
dijamin hak-haknya.

Ulama Hanabilah mewajibkan talak dalam


hal terjadi kasus syiqaq jika kedua hakam
berpendapat bahwa talak itualah satu-
satunya jalan untuk mengakhiri
persengkataan suami istri. Demikian pula
dalam kasus ila, yakni suami bersumpah tidak
akan mencampuri istrinya dan telah berlalu
masa empat bulan setelah sumpah tersebut si
suami tidak mencabut sumpahnya itu,
berdasarkan firman Allah dalam surat Al-
Baqarah ayat 226-227:

‫ِلَّلِذْي َن ُيْؤ ُلْو َن ِمْن ِّن َس ۤا ِٕىِه ْم َت َر ُّبُص َاْر َبَع ِة َاْش ُهٍۚر َف ِاْن َفۤا ُءْو َف ِاَّن‬
‫َو ِاْن َع َز ُموا الَّط اَل َق َفِاَّن َهّٰللا َس ِم ْيٌع َع ِلْي ٌم‬. ‫َهّٰللا َغ ُفْو ٌر َّر ِحْي ٌم‬

Kepada orang-orang yang meng-ila istrinya


diberi tanggguh empat bulan (lamanya).
Kemudian jika mereka kembali (kepada
istrinya) maka sungguh Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika
mereka berazam (bertetap hati) talak, maka
sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha
Tahu.

Meng-ila istri maksudnya bersumpah tidak


akan mencampuri istri. Dengan sumpah ini
seorang istri menderita karena tidak
disetubuhi dan tidak pula diceraikan. Setalah
empat bulan berselang sumpah suami tidak
hendak kembali kepada istrinya, maka
wajiblah ia menjatuhkan talaknya, agar
dengan demikian istri tidak terkatung-katung
seperti orang yang digantung, sedangkan jika
suami berkehendak kembali lagi, maka ia
wajib membayar kafarah sumpah.

Talak itu diharamkan jika dengan talak itu


kemudian suami berlaku serong, baik dengan
bekas istrinya ataupun dengan wanita lain,
suami diharamkan menjatuhkan talak jika hal
itu mengakibatkan terjatuhnya suami ke
dalam perbuatan haram.

Sayyid Sabiq mengemukakan bahwa talak


diharamkan jika tidak ada keperluan untuk
itu, karena talak yang demikian menimbulkan
mudharat, baik bagi suami maupun diri istri,
serta melenyapkan kemaslahatan kedua
suami istri itu tanpa alasan. Talak yang
demikian ini bertentangan dengan sabda
Rasulullah:
‫َال َض َر َر َو َال ِض َر اَر‬

Tidak boleh timbul mudharat dan tidak boleh


saling menimbulkan mudharat.

Dalam riwayat lain dikatan bahwa talak


tanpa sebab adalah makruh hukumnya,
berdasarkan hadits yang menetapkan bahwa
talak merupakan jalan yang halal yang paling
dibenci oleh Allah, yakni dibenci jika tidak ada
sebab yang dibenarkan, sedangkan Nabi
menamakannya halal (tidak haram), juga
karena talak itu menghilangkan perkawinan
yang di dalamnya terkandung kemaslahatan-
kemaslahatan yang disunatkan, sehingga talak
itu hukumnya makruh.

Talak itu mubah hukumnya (dibolehkan)


ketika ada keperluan untuk itu, yakni karena
jeleknya perilaku istri, bukannya sikap istri
terhadap suami, atau suami menderita
madharat lantaran tingkah laku istri, atau
suami tidak mencapai tujuan perkawinan dari
istri.
Talak disunatkan jika istri rusak moralnya,
berbuat zina, atau melanggar larangan-
larangan agama, atau meninggalkan
kewajiban-kewajiban agama seperti
meninggalkan shalat, puasa, istri tidak ‘afifah
(menjaga diri, berlaku terhormat). Dalam hal
ini ulama Hanabilah mempunyai dua
pendapat, pertama sunat hukumnya dan yang
kedua wajib hukumnya. Dinukilkan dari Imam
Ahmad bahwa mentalak istri yang demikian
ini adalah wajib, terutama jika istri berbuat
zina, atau meninggalkan shalat, atau
meinggalkan puasa. Menurut beliau, tidak
seyogyanya istri yang demikian dipelihara
terus, karena akan menurunkan maratabat
agama, mengganggu tempat tidur suami, dan
tidak terjamin keamanan anak yang
dilahirkan.

7. Hikmah Talak

Allah Yang Maha Bijaksana menghalalkan


talak tapi membencinya, kecuali untuk
kepentingan suami, istri atau keduanya, atau
untuk kepentingan keturunannya. Dalam
masalah ini mengandung dua hal yang
merupakan sebab terjadinya talak:

a. Kemandulan. Kalau seorang laki-laki


mandul, maka ia tidak akan mempunyai
anak padahal anak merupakan
keutamaan perkawinan. Dengan anak,
keturunan dunia menjadi makmur.
Begitu pula dengan perempuan, apabila
mandul, maka keberadaanya Bersama
suami akan mengeruhkan kejernihan
kehidupan. Maka talak mempunyai
faedah bagi suami bila istri mandul. Juga
berfaedah bagi istri jika suami mandul.
Sebab diantara tujuan yang mendorong
untuk kawin adalah terwujudnya
keturunan.

Kita melihat, banyak diantara orang


yang mandul meskipun dulunya penuh
dengan cinta kasih dan penuh dengan
faktor penyebab kebahagiaan dan
kekayaan memperkuat hubungan
mereka berdua namun kenikmatan
berupa anak tidak pernah mereka
rasakan. Padahal kamu tahu bahwa
diantara kesempurnaan kebahagiaan
dunia adalah keturunan, bahkan
keturunan merupakan terpenting bagi
suami istri, sebagaimana firman Allah:

(٤٦:‫َاْلَم اُل َو اْلَب ُنْو َن ِز ْي َن ُة اْلَح ٰي وِة الُّد ْن َي ۚا )…الكهفي‬

Harta dan anak-anak adalah perhiasan


kehidupan dunia….

b. Terjadinya perbedaan dan


pertentangan kemarahan, dan segala
yang mengingkari cinta diantara suami
istri. Kalah cinta kasih sudah hilang
akan berubahlah pilar-pilar
perkawinan. Mereka jatuh je lembah
kehidupan yang susah dan pemikiran
yang bimbang karena pada dasarnya
persatuan dan kekompakan dalam
segala hal merupakan kunci kesuksesan
dan kebahagiaan serta sumber segala
kesenangan. Lain halnya kalau ada
tabiat yang berbeda dan hati yang tidak
Bersatu, maka talak akan
menghilangkan kesengsaraan bagi
kedua belah pihak.

Kita mendengar dan menyaksikan


seseorang dari orang-orang tidak
mungkin talak disebabkan oelah
larangan agama atau bukan. Kita
menyaksikan pula orang yang
meninggalkan negerinya padahal dia
mulia di sana. Kita menyaksikan orang
atau aliran lain karena lari dari
kehidupan perkawinan yang sangat
sulit. Banyak pula terjadi perselisihan
antara suami istri hinggga berkobar-
kobarlah api pertengkaran dan
percekcokan antara keduanya hingga
rusaklah aturan keluargaan semua
berada dalam kejahatan.

Ketika terjadi pertentangan dan


pertengkaran antara suami istri, maka
akan menimbulkan bahaya besar bagi
anak-anak. Mereka akan berada dalam
kegoncangan, sebab kalau condong
kepada ibu mereka takut untuk
condong kepada bapak, begitu juga
sebaliknya. Keadaan seperti ini akan
menanamkan bibit cinta dan benci
sekaligus sehingga rusaklah akhlak dan
adab mereka. Inilah asal mula penyakit
dan penyebab kecelakaan.

Bangsa-bangsa maju dengan sinar


ilmu pengetahuan serta pemeluk
agama lain telah mengakui adanya
hikmah yang nyata ini, lantas
menetapkan adanya kebijaksanaan
talak di dalam pengadilan. Negara maju
yang pertama mengakui adalah
Amerika Serikat. Betapa agung agama
Islam dan betapa Maha Bijaksananya
Tuhan.

B. PERCERAIAN
Suatu perkawinan menjadi putus antara lain
karena perceraian. Dalam hukum Islam, perceraian
terjadi karena terjadinya khulu’, zhihar, ila’ dan
li’an. Berikut penjelasannya masing-masingnya:

1. Khulu’ dan Hikmahnya

Menurut para fuqaha, khulu’ kadang


dimaksudkan makna yang umum, yakni
perceraian dengan disertai sejumlah harta
sebagai ‘iwadh uang diberikan oleh istri
kepada suami untuk menebus diri agar
terlepas dari ikatan perkawinan, baik dengan
kala khulu’, mubara’ah maupun talak. Kadang
dimaksudkan makna yang khusus, yaitu talak
atas dasar ‘iwadh sebagai tebusan dari istri
dengan kata-kata khulu’ (pelepasan) atau
yang semakna seperti mubara’ah
(pembebasan).

Hukum Islam memberi jalan kepada


istri yang menghendaki perceraian dengan
mengajukan khulu’, sebagaimana hukum
Islam memberi jalan kepada suami untuk
menceraikan istrinya dengan jalan talak.

Dasar hukum disyari’atkannya khulu’


ialah firman Allah dalam surat Al-Baqarah
ayat 229:

‫َو اَل َيِحُّل َلُك ْم َاْن َت ْأُخ ُذ ْو ا ِمَّمٓا ٰا َت ْي ُتُمْو ُهَّن َش ْئًـا ِآاَّل َاْن َّي َخ اَف ٓا َااَّل‬
‫ُيِقْي َم ا ُحُدْو َد ِهّٰللاۗ َف ِاْن ِخ ْفُتْم َااَّل ُيِقْي َم ا ُحُدْو َد ِهّٰللاۙ َف اَل ُج َن اَح‬
‫َع َلْي ِه َم ا ِفْي َم ا اْف َت َد ْت ِبٖه ۗ ِتْلَك ُحُدْو ُد ِهّٰللا َف اَل َت ْع َت ُدْو َه اۚ َو َم ْن‬
‫ّٰظ‬ ‫ٰۤل‬
‫َّي َت َع َّد ُحُدْو َد ِهّٰللا َفُاو ِٕىَك ُه ُم ال ِلُمْو َن‬

Tidak halal bagi kamu mengambil kembali


sesuatu yang telah kamu berikan kepada
mereka (istri) kecuali kalau keduanya
khawatir tidak akan dapat menjalankan
hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir
bahwa keduanya tidak dapat menjalankan
hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa
atas keduanya tentang bayaran yang
diberikan oleh istri unutk menebus dirinya.
Itulah hukum-hukum Allah maka janganlah
kamu melanggarnya. Barang siapa yang
melanggar hukum-hukum Allah, mereka
itulah orang-orang yang aniaya.

Sebagai dasar hukum dari hadits,


sebagaimana dikemukakan oleh Al-
Shan’ani bahwa istri Tsabit bin Qais nin
Syams bernama Jamilah datang
menghadap Rasulullah mengadukan
perihal dirinya sehubungan dengan
suaminya, sebagai berikut:

‫َي اَر ُسْو َل اﷲ َث اِب ُت ْبُن قَـْي ٍس َم ا َأَع ْي َب َع َلْيِه فِى ُخ ُلِق‬
‫ْل‬ ‫َأ‬
‫َو َال ِدْي ِن َو َلِكْن ْك َر ُه ا ُكْف َر فِى ْاِلْس َال ِم‬

Ya Rasulullah, terhadap Tsabit bin Qais


saya tidak mencelanya tentang budi
pekerti dan agamanya namun saya
membenci kekufuran (terhadap suami)
dalam Islam.

Terhadap pengaduan Jamilah ini


Rasulullah bersabda kepadanya:

‫َأُتِر ْي ِدَن َع َلْيِه َح ِديْـَقَت ُه؟‬


Bersediakah engkau mengembalikan kebun
kepadanya (Tsabit)?.

Jamilah menjawab: Ya (bersedia).


Kemudian Rasulullah memanggil Tsabit lalu
bersabda kepadanya:

‫ِاْق ِبِل ْالَح ِديْـَقَة َو َط ِّل َقَه ا َت ْط ِلْيقًة‬

Terimalah kebun itu dan ceraikanlah ia


(istrimu) satu talak.

Firman Allah dan hadits Rasulullah


tersebut diatas menjadi dalil
disyari’atkannya khulu’ dan sahnya terjadi
khulu’ antara suami istri.

Para fuqaha berselisih pendapat


tentang apakah untuk sahnya khulu’ itu
disyari’atkan istri harus nusyuz atau tidak?
Menurut zhahir hadits, demikian pula
golongan Zahiriyah dan pendapat Ibnul
Mundzir, bahwa untuk sahnya khulu’
haruslah istri nusyus, berdasarkan hadits
tersebut bahwa istri pewaris meminta cerai
berarti dalam keadaan nusyuz. Juga
berdasarkan firman Allah dalam surat Al-
Baqarah ayat 229:

‫ِآاَّل َاْن َّي َخ اَف ٓا َااَّل ُيِقْي َم ا ُحُدْو َد ِهّٰللا‬

Kecuali jika keduanya khawatir tidak akan


dapat menjalankan hukum-hukum Allah.

Demikian pula firman Allah dalam surat


An-Nisa’ ayat 19:

‫ِآاَّل َاْن َّي ْأِتْي َن ِبَفاِح َش ٍة ُّمَب ِّي َن ٍة‬

Kecuali jika mereka (istri-istri) melakukan


perbuatan keji yang nyata.

Al-Syafi’i, Abu Hanifah dan kebanyakan


ahli ilmu berpendapat bahwa khulu’ itu sah
dilakukan meski istri tidak dalam keadaan
nusyuz, dan khulu’ itu sah dengan saling
kerelaan antara suami istri kendati
keduanya dalam keadaan biasa dan baik-
baik saja. ‘Iwadh sebagai tebusan itu halal
bagi suami, berdasarkan firman Allah
dalam surat An-Nisa’ ayat 4:
‫َف ِاْن ِط ْب َن َلُك ْم َع ْن َش ْي ٍء ِّم ْن ُه َن ْف ًس ا َفُك ُلْو ُه َهِنْۤي ًٔـا َّم ِر ْۤي ًٔـا‬

Kemudian jika mereka (istri-istri)


menyerahkan kepadanya sebagian dari
maskawin itu dengan senang hati maka
makanlah (ambillah) pemberian itu
(sebagai makanan) yang sedap lagi baik
akibatnya.

Mereka menyatakan bahwa dalam


hadits Tsabit tersebut tidak ada petunjuk
yang mensyaratkan nusyuz itu, sedangkan
ayat dimaksud hanya mengandung
kemungkinan belaka, yaitu dugaan dan
perkiraan yang mungkin akan terjadi di
masa akan datang. Hadits Tsabit itu juga
menjadi petunjuk bahwa yang diambil oleh
suami dari istrinya sebagai ‘iwadh
(tebusan) itu ialah apa yang telah
diberikannya, tanpa meminta imbalan apa-
apa.

Adanya Lembaga-lembaga ta’liq talak


yang diucapkan oleh suami setelah akad
nikah dengan menggantungkan talak itu
atas pengaduan istri jika suami melalaikan
kewajibannya, disertai sejumlah uang
sebagai ‘iwadh yang relative kecil adalah
dimaksudkan untuk melindungi istri untuk
melakukan khulu’ jika keadaan
memerlukan.

Sebagaimana talak itu status


hukumnya boleh jadi menjadi wajib,
adakalanya menjadi haram, adakalanya
menjadi makruh, adakalanya menjadi
sunnat dan adakalanya menjadi mubah,
sesuai dengan kondisinya, maka demikian
pula hukum melakukan khulu’.

Khulu’ itu wajib dilakukan ketika


permintaan istri karena suami tidak mau
memberi nafkah atau menggauli istri,
sedangkan istri menjadi tersiksa. Khulu’ itu
hukumnya haram jika dimaksudkan untuk
menyengsarakan istri dan anak-anaknya.
Khulu’ itu dibolehkan (mubah) ketika ada
keperluan yang membolehkan istri
menempuh jalan ini. Khulu’ menjadi
makruh hukumnya jika tidak ada ada
keperluan untuk itu, dan menjadi sunnat
hukumnya jika dimaksudkan untuk
mencapai kemaslahatan yang lebih
memadai bagi keduanya.

Hukum asal khulu’, ada yang


berpendapat dilarang (haram) ada yang
mengatakan makruh, dan ada yang
mengatakan haram kecuali karena darurat.
Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa
hukum asal melekukan khulu’ itu makruh,
hanya dia menjadi sunnat hukumya bila
istri ternyata tidak baik dalam bergaul
terhadap suaminya. Khulu’ itu tidak dapat
menjadi haram dan tidak dapat pula
menjadi wajib.

Perbedaan khulu’ dan talak dalam hal


waktu dijatuhkannya ialah bahwa khulu’
boleh terjadi di waktu mana tidak boleh
terjadi talak, sehingga khulu’ boleh terjadi
ketika istri sedang haid, nifas, atau dalam
keadaan suci yang telah digauli. Dalam hal
ini Imam Malik berpendapat bahwa tidak
sah terjadi khulu’ pada waktu tidak boleh
terjadi talak.

Tentang status perceraian karena


khulu’ dapat dikemukakan bahwa bila
seorang suami telah melakukan khulu’
terhadap istrinya, maka dengan khulu’ itu
bekas istri menguasai dirinya secara penuh,
suami tidak berhak merujuknya kembali,
segala urusan bekas istri berada di
tangannya sendiri, sebab ia telah
menyerahkan sejumlah harta kepada suami
guna pelepasan dirinya itu. Oleh karena itu,
status perceraian karena khulu’ adalah
sebagai talak ba’in bagi istri, sehingga
meski kemudian suami bersedia
mengembalikan ‘iwadh yang telah
diterimakan kepadanya itu, namun suami
tetap tidak berhak merujuk bekas istrinya,
dan meskipun bekas istri rela untuk
menerima kembali ‘iwadh yang dimaksud.
Bila bekas istri bersedia, maka bekas suami
yang telah mengkhulu’ itu boleh
mengadakan akad nikah baru dengan bekas
istrinya itu dengan rukun dan syarat
sebagai lazimnya akad nikah.

Mengenai hikmah khulu’, Al-Jurjawi


menuturkan.

Khulu’ sendiri sebenarnya dibenci oleh


syari’at yang mulia seperti halnya talak.
Semua akal dan perasaan sehat menolak
khulu’, hanya saja Allah Yang Maha
Bijaksana memperbolehkannnya untuk
menolak bahaya ketika tidak mampu
menegakkan hukum-hukum Allah.

Penjelasannya, kalau terjadi peselisihan


antara suami istri, maka perselisihan itu
menyebabkan masing-masing ingin
berpisah dari yang lain. Mungkin istri sudah
tidak kuat lagi bergaul dengan suaminya
dan ingin berpisah. Maka tiada jalan
penyelamat kecuali dengan khulu’, yaitu
dengan membayar sejumlah uang agar
suami mentalaknya sehingga dia selamat
dari beban perkawinan, kalau suaminya
mau mengabulkan permintaan istri
tersebut.

Karena istri punya hak maskawin


dengan ganti menyerahkan dirinya kepada
suami, maka sekarang haknya yang
digunakan untuk menebus dirinya
mengambil hak dari suami kepada suami.
Allah mengingkari perbuatan itu dengan
firman-Nya:

‫َو َك ْي َف َت ْأُخ ُذ ْو َن ٗه َو َقْد َاْف ٰض ى َب ْع ُض ُك ْم ِاٰل ى َب ْع ٍض َّو َاَخ ْذ َن‬


(٢١:‫ِم ْنُك ْم ِّمْي َث اًقا َغ ِلْي ًظ ا) النسآء‬

Bagaimana kamu akan mengambilnya


kembali padahal sebagian kamu telah
bergaul (bercampur) dengan yang lain
sebagai suami istri. Dan mereka (istri-
istrimu) telah mengambil dari kamu
perjanjian yang kuat.
Hikmah yang terkandung di dalamnya
sebagaimana telah disebutkan adalah
untuk menolak bahaya, yaitu apabila
perpecahan antara suami istri telah
memuncak dan dikhawatirkan keduanya
tidak dapat menjaga syarat-syarat dalam
kehidupan suami istri, maka khulu’ dengan
cara-cara yang telah ditetapkan oleh Allah
Yang Maha Bijaksana merupakan penolak
terjadinya permusuhan dan untuk
menegakkan hukum-hukum Allah. Oleh
Karena itu, Allah berfirman:

‫َف ِاْن ِخ ْفُتْم َااَّل ُيِقْي َم ا ُحُدْو َد ِهّٰللاۙ َف اَل ُج َن اَح َع َلْي ِه َم ا ِفْي َم ا اْف َت َد ْت‬
(٢٢٩:‫ِبٖه ۗ ِتْلَك ُحُدْو ُد ِهّٰللا َف اَل َت ْع َت ُدْو َه ا) البقرة‬

Jika kamu khawatir bahwa keduanya


(suami istri) tidak dapat ,menjalankan
hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa
atas keduanya tentang bayaran yang
diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.
Itulah hukum-hukum Allah. Maka
janganlah kamu melanggarnya.
2. Zhihar dan Hikmahnya.

Menurut bahasa Arab, kata zhihar


terambil dari kata zhahrun yang bermakna
pungung. Dalam kaitannya dengan
hubungan suami istri, zhihar adalah ucapan
suami kepada istrinya yang berisi
menyerupakan punggung istri dengan
punggung ibu suami, seperti ucapan suami
kepada istrinya: “Engkau bagiku adalah
seperti punggung ibuku”.

Ucapan zhihar di masa jahiliyah


dipergunakan oleh suami yang bermaksud
mengharamkan menyetubuhi istri dan
berakibat menjadi haramnya istri itu bagi
suami dan laki-laki selainnya, untuk selama-
lamanya.

Syari’at Islam datang untuk


memperbaiki masyarakat, mendidiknya dan
mensterilkannya menuju kemaslahatan
hidup. Hukum Islam menjadikan ucapan
zhihar itu berakibat hukum yang bersifat
duniawi dan ukhrawi. Akibat hukum zhihar
yang bersifat duniawi ialah menjadi
haramnya suami menggauli istrinya yang
dizhihar sampai suami melaksanakan
kaffarah zhihar sebagai pendidikan baginya
agar tidak mengulang perkataan dan
sikapnya yang buruk itu. Sedangkan yang
bersifat ukhrawi ialah bahwa zhihar itu
perbuatan dosa, orang yang
mengucapkannya berarti berbuat dosa, dan
untuk membersihkannya wajib bartaubat
dan memohon ampunan Allah.

Sebagai dasar hukum adanya


pengaturan zhihar ialah firman Allah surat
Al-Mujadilah ayat 2-4 dan surat Al-Ahzab
ayat 4.

Firman Allah dalam surat Al Mujadilah


ayat 2-4:

‫َاَّلِذْي َن ُيٰظ ِه ُرْو َن ِم ْنُك ْم ِّمْن ِّن َس ۤا ِٕىِه ْم َّما ُهَّن ُاَّم ٰه ِتِه ْۗم ِاْن ُاَّم ٰه ُتُهْم‬
‫ّٰۤل‬
‫ِااَّل ا ِٔـْي َو َلْد َن ُهْۗم َو ِاَّنُهْم َلَي ُقْو ُلْو َن ُم ْن َك ًر ا ِّم َن اْلَق ْو ِل َو ُز ْو ًر ۗا‬
‫َو ِاَّن َهّٰللا َلَع ُفٌّو َغ ُفْو ٌر‬
Orang-orang yang menzhihar di diantara
kamu terhadap istrinya (perbuatan mereka
itu tidak benar, karena) tiadalah mereka
itu ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tiada
lain hanyalah wanita yang melahirkan
mereka. Dan sesungguhnya mereka
sungguh-sungguh mengucapkan suatu
perkataan yang munkar dan dusta. Dan
sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi
Maha Pengampun.

‫َو اَّلِذْي َن ُيٰظ ِه ُرْو َن ِمْن ِّن َس ۤا ِٕىِه ْم ُثَّم َي ُعْو ُدْو َن ِلَم ا َق اُلْو ا َفَت ْح ِر ْي ُر‬
‫َر َقَب ٍة ِّمْن َق ْب ِل َاْن َّي َت َم ۤا َّس ۗا ٰذ ِلُك ْم ُتْو َع ُظ ْو َن ِب ٖۗه َو ُهّٰللا ِبَم ا‬
‫ َفَم ْن َّلْم َي ِج ْد َف ِص َي اُم َش ْه َر ْي ِن ُم َتَت اِبَع ْي ِن ِمْن‬. ‫َت ْع َم ُلْو َن َخ ِبْيٌر‬
‫َق ْب ِل َاْن َّي َت َم ۤا َّس ۗا َفَم ْن َّلْم َي ْس َت ِط ْع َف ِاْط َع اُم ِس ِّت ْي َن ِمْس ِكْي ًن ۗا ٰذ ِل َك‬
‫ِلُتْؤ ِم ُنْو ا ِباِهّٰلل َو َر ُسْو ِلٖۗه َو ِتْلَك ُحُدْو ُد ِهّٰللاۗ َو ِلْلٰك ِفِر ْي َن َع َذ اٌب َاِلْي ٌم‬

Orang-orang yang menzhihar istri mereka,


kemudian mereka hendak menarik kembali
apa yang mereka ucapkan, maka (wajib
atasnya) memerdekakan seorang budak
sebelum kedua suami istri itu bercampur.
Demikianlah yang diajarkan kepadamu,
dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak
mendapatkan (budak), maka (wajib
atasnya) memberi makan enam puluh
orang miskin. Demikianlah supaya kamu
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan
itulah hukum-hukum Allah, dan bagi
orang-orang kafir ada siksaan yang sangat
pedih.

Sebab turunnya ayat zhihar ini ialah


kasus soal wanita yang bernama Khaulah
binti Tsa’labah yang dizhiharkan oleh
suaminya Aus bin Shomit, yaitu dengan
mengatakan kepada istrinya: “Kamu bagiku
sudah seperti punggung ibuku”, dengan
maksud ia tidak boleh menggauli istrinya
sebagaimana tidak boleh menggauli
ibunya. Menurut adat jahiliyah, kalimat
zhihar seperti sudah sama dengan
mentalak istri. Kemudian Khaulah
mengadukan halnya kepada Rasulullah dan
beliau menjawab bahwa hal ini belum ada
keputusan Allah.
Pada riwayat lain beliau mengatakan:
“Engkau telah diharamkan bersetubuh
dengannya”. Lalu Khaulah berkata:
“Suamiku belum menyebut kata-kata
talak”. Berulang kali Khaulah mendesak
kepada Rasulullah supaya menetapkan
suatu keputusan dalam hal ini, sehingga
kemudian turunlah ayat 1 Al-Mujadilah dan
ayat-ayat berikutnya.

Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat


4 menyatakan:

‫َم ا َج َع َل ُهّٰللا ِلَر ُج ٍل ِّمْن َق ْلَب ْي ِن ِفْي َج ْو ِفٖه ۚ َو َم ا َج َع َل َاْز َو اَج ُك ُم‬
‫اّٰل ِٕۤـ ْي ُتٰظ ِه ُرْو َن ِم ْن ُهَّن ُاَّم ٰه ِتُك ْم ۚ َو َم ا َج َع َل َاْد ِع َي ۤا َء ُك ْم َاْب َن ۤا َء ُكْۗم‬
‫ٰذ ِلُك ْم َق ْو ُلُك ْم ِبَاْف َو اِه ُك ْم ۗ َو ُهّٰللا َي ُقْو ُل اْلَح َّق َو ُه َو َي ْهِدى الَّس ِبْي َل‬

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi


seseorang dua buah hati dalam rongganya.
Dia tidak menjadikan istri-istri yang kamu
zhihar itu sebagai ibumu. Dan Dia tidak
menjadikan anak-anak angkatmu sebagai
anak-anak kandungmu. Yang demikian itu
hanyalah perkataan di mulut saja. Dan
Allah mengatakan yang sebenarnya dan
Dia menunjukkan jalan (yang benar).

Menurut istilah hukum Islam, zhihar


dapat dirumuskan dengan: “ucapan kasar
yang dilontarkan oleh suami kepada
istrinya dengan menyerupakan istri itu
dengan ibu atau mahram suami sehingga
dengan ucapan itu dimaksudkan untuk
mengharamkan istri bagi suaminya”.

Apabila suami menyatakan zhihar


terhadap isrtinya maka berlakulah
ketentuan sebagai berikut:

a. Bila suami menyesali ucapannya dan


berpendapat bahwa hidup kembali
dengan istrinya itu akan mendatangkan
manfaat serta akan terbina hubungan
normal dan baik, maka hendaknya
suami mencabut kembali zhiharnya itu
seraya mengembalikan istrinya ke
pangkuannya, saling memafkan atas
apa yang telah terjadi, saling berjanji
akan memperbaiki hubungan
selanjutnya. Dalam pada itu sebelum
suami menggauli istrinya maka
diwajibkan membayar kaffarah zhihar
berupa:

1. Memerdekakan seorang budak


sahaya yang beriman. Kalau suami
tidak kuasa mewujudkannya atau
tidak menemukannya, maka
dilakukan dengan:

2. Berpuasa dua bulan berturut-turut,


yaitu 60 hari, tanpa diselingi
berbuka satu hari pun dalam 60
hari itu. Kalau suami ternyata tidak
mampu berpuasa berturut-turut,
maka dapat diganti dengan:

3. Memberi makan secukupnya


kepada 60 orang miskin.

b. Bila suami berpendapat bahwa


memperbaiki hubungan suami istri
tidak akan memungkinkan, dan
menurut pertimbangannya bahwa
bercerai itulah jalan yang paling baik,
maka hendaklah suami menjatuhkan
talak kepada istrinya, agar dengan
demikian tidak menyiksa istrinya lebih
lama lagi. Kedudukan perceraian dalam
kasus zhihar adalah termasuk ba’in,
artinya bekas suami tidak berhak
merujuk bekas istrinya, dia hanya
dapat kembali menjadi suami istri
dengan akad perkawinan baru.

c. Bila setelah suami menzhiharnya


merasa tidak aman dari perbuatan
suaminya, hendaklah istri mengadukan
halnya kepada hakim, lalu hakim
memisah tempat suami dengan istrinya
sementara menunggu penyelesaian
kasus zhihar ini, sedangkan jika istri
merasa aman dari tindakan suami
terhadapnya, dan terjamin suami
mematuhi hukum-hukum Alllah, maka
tidak ada halangan istri tetap serumah
dengan suaminya.

d. Kalau ternyata suami tidak mencabut


kembali zhiharnya dan tidak mau
menceraikan istrinya, berarti ada unsur
kesengajaan suami menelantarkan
istrinya dan melanggar hukum Allah,
mereka setelah berlalu masa empat
bulan atau 120 hari sejak zhihar
diucapkan, maka hakim menceraikan
antara keduanya, dan menjadi ba’inlah
perceraian mereka ini.

Dalam masalah zhihar ada dua hikmah


yang terkandung:

1. Hikmah sebagai hukuman, yaitu


karena dia mewajibkan atas dirinya
sendiri suatu yang tidak berlaku
pada orang lain, dan membawa
kepada dosa dari penginggalan
kaum Jahiliyah tanpa ada
ketentuan hukum yang
mewajibkan.

2. Hikmah kafarat (denda). Sangsi itu


ada dua bentuk: Bisa jadi sangsi
berupa harta dan bisa jadi berupa
sangsi badan. Memerdekakan
budak dan memberi makan 60
orang miskin adalah sangsi harta
yang di dalamnya mengandung
kesengsaraan pada jiwa hingga
akhirnya enggan untuk mengulangi
perbuatannya lagi. Sementara itu,
puasa dua bulan (60 hari) berturut-
turut tanpa berhenti adalah
mengandung kesengsaraan juga,
yaitu sangsi badan pada satu sisi
dan ibadah pada sisi lain.

Hikmah yang dimaksud dari itu


semua adalah untuk mengingatkan
dan mendidik agar jangan
melakukan zhihar lagi. Di samping
itu, untuk menentang kebiasaan
kaum jahiliyah yang mereka itu
menzhihar istri-istri mereka secara
terus-menerus. Islam datang
dengan membawa rahmat dan
kasih sayang, maka pikirkanlah
betapa nikmat Allah Yang Maha
Tinggi.

3. Ila dan Hikmahnya

Kata “ila” menurut Bahasa merupakan


masdr dari kata “ala-ykli-laan” sewazan
dengan a’tha yu’thi itha’an, yang artinya
sumpah.

Menurut istilah hukum Islam, Ila’ ialah


“sumpah suami dengan menyebut nama
Allah atau sifat-Nya yang tertuju kepada
istrinya untuk tidak mendekati istrinya itu,
baik secara mutlak maupun dibatasi
dengan ucapan selamanya, atau dibatasi
empat bulan atau lebih”.

Beberapa contoh ila’ adalah ucapan


suami kepada istri sebagai berikut:
a. Demi Allah, saya tidak akan menggauli
istriku

b. Demi kekuasaan Allah, saya tidak akan


mencampuri istriku selama lima bulan

c. Demi Allah, saya tidak akan mendekati


istriku selamanya.

Dasar hukum pengaturan ila’ ialah


firman Allah surat Al-Baqarah ayat 226-
227:

‫ِلَّلِذْي َن ُيْؤ ُلْو َن ِمْن ِّن َس ۤا ِٕىِه ْم َت َر ُّبُص َاْر َبَع ِة َاْش ُهٍۚر َف ِاْن َف ۤا ُءْو‬
‫ َو ِاْن َع َز ُم وا الَّط اَل َق َف ِاَّن َهّٰللا َس ِم ْيٌع‬.‫َف ِاَّن َهّٰللا َغ ُفْو ٌر َّر ِحْي ٌم‬
‫َع ِلْي ٌم‬

Kepada orang-orang yang meng-ila’


istrinya diberi tangguh empat bulan
(lamanya). Kemudian jika mereka kembali
(kepada istrinya), maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Dan jika mereka ber’azam
(bertetap hati untuk) talak, maka
sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi
Maha Tahu.
Allah menentukan batas waktu empat
bulan bagi suami yang meng-ila’ istrinya
mengandung hikmah pengajaran bagi
suami maupun bagi istri. Suami
menyatakan ila’ kepada istrinya pastilah
karena sesuatu kebencian yang timbul
antara keduanya.

Bagi suami yang meng-ila’ istrinya lalu


diwajibkan menjauhinya selama empat
bulan itu menimbulkan kerinduan terhadap
istri, lalu menyesali sikapnya yang sudah
lalu, memperbaiki diri sebagai bekal sikap
yang sudah lalu; memperbaiki diri sebagai
bekal sikap yang lebih baik ketimbang
masa-masa sebelumnya. Dalam hal ini jika
kemudian suami berbaik kembali kepada
istrinya diwajibkan membayar kaffarah
sumpah karena telah mempergunakan
nama Allah untuk keperluan dirinya.
Kaffarah sumpah itu berupa:

a. Menjamu/menjamin makan 10 orang


miskin, atau
b. Memberi pakaian kepada 10 orang
miskin,
c. Memerdekakan seorang budak.

Kalau tidak melakukan salah satu dari


tiga hal tersebut, maka kaffarahnya ialah
berpusa selama tiga hari berturut-turut,
berdasarkan firman Allah dalam surat Al-
Ma’idah ayat 89:

‫اَل ُيَؤ اِخ ُذ ُك ُم ُهّٰللا ِبالَّلْغ ِو ِفْٓي َاْيَماِنُك ْم َو ٰل ِكْن ُّيَؤ اِخ ُذ ُك ْم ِبَم ا َع َّقْد ُّت ُم‬
‫اَاْلْي َم اَۚن َفَكَّفاَر ُتٓٗه ِاْط َع اُم َع َش َر ِة َم ٰس ِكْي َن ِمْن َاْو َس ِط َم ا‬
‫ُتْط ِعُمْو َن َاْه ِلْي ُك ْم َاْو ِكْس َو ُتُهْم َاْو َت ْح ِر ْيُر َر َق َب ٍةۗ َفَم ْن َّلْم َي ِج ْد‬
‫َف ِص َي اُم َث ٰل َث ِة َاَّياٍم ۗ ٰذ ِلَك َكَّفاَر ُة َاْيَماِنُك ْم ِاَذ ا َح َلْفُتْم ۗ َو اْح َفُظ ْٓو ا‬
‫َاْي َم اَن ُك ْم ۗ َك ٰذ ِلَك ُيَب ِّيُن ُهّٰللا َلُك ْم ٰا ٰي ِتٖه َلَع َّلُك ْم َت ْشُك ُرْو َن‬

Allah tidak menghukum kamu disebabkan


sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud
(untuk sumpah), tetapi Dia menghukum
kamu disebabkan sumpah-sumpah yang
kamu sengaja, maka kaffarah melanggar
sumpah itu adalah memberi makan 10
orang miskni, yakni dari makanan yang
biasa kamu berikan kepada keluargamu,
atau memberi pakaian kepada mereka,
atau memedekakan seorang budak.
Barangsiapa yang tidak sanggup
melakukan demikian maka kaffaratnya
ialah puasa selama tiga hari. Yang kamu
bersumpah, dan jagalah sumpahmu.
Demikian Allah menerangkan kepadamu
hukum-hukumnya agar kamu bersyukur.

Bila setelah menunggu empat bulan


kebencian hati suami tidak berubah atau
teroengaruh atau melunak serta tetap
melunak tidak mempedulikan istrinya,
maka suami dapat menjatuhkan talak.

Bagi istri yang di-ila’ oleh suaminya,


pengucilan oleh suaminya selama empat
bulan itu menjadi sarana Pendidikan
baginya, memberi kesempatan memikirkan
sikap non simpatiknya yang telah lalu,
menyadari kekurangannya dalam melayani
suami selama ini, mencari sebab musabab
suami sampai bersikap benci kepadanya
menjadi obat mujarab untuk memperbaiki
sikap masa-masa selanjutnya.

Setelah berlalu empat bulan terhitung


sejak suami menyatakan sumpah ila’ itu
ternyata suami tidak mencabut kembali
sumpahnya, berarti selama waktu itu tidak
ada perubahan ke arah perbaikan, maka
berarti suami menghendaki perceraian.
Dengan berlalunya masa empat bulan
tersebut terjadilah perceraian antara
keduanya, baik dengan jalan suami
menjatuhkan talak terhadap istrinya, atau
istri mengadukan hal kepada hakim, lalu
hakim menetapkan terjadinya perceraian
itu.

Hikmah diberlakukan masa 4 bulan


mempunyai beberapa hikmah:

a. Dalam masa 4 bulan memungkinkan


jiwa untuk mengembalikan diri dari
menggauli istri. Begitu juga sang istri,
dia tidak mampu lagi untuk bertahan
lebih dari masa itu dalam menggauli
suami.

b. Dalam masa itu ada kesempatan untuk


menjaga kehormatan diri. Lebih dari
masa itu mungkin saja keduanya tidak
lagi mampu menjaga kehormatannya
inilah hikmah yang tegas.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata:


Ila’nya orang jahiliyah itu lamanya setahun,
dua tahun, bahkan lebih. Maka Allah
memberikan batasan waktu selama 4
bulan. Barangsiapa yang ila’nya kurang dari
4 bulan maka itu bukan ila’.

4. Li’an dan Hikmahnya

Kata “li’an” terambil dari kata al-la’nu,


nu, yang artinya jauh dan laknat atau
kutukan. Disebut demikian karena suami
yang saling berli’an itu berakibat saling
dijauhkan oleh hukum dan diharamkan
berkumpul sebagai suami istri untuk
selama-lamanya, atau karena yang
bersumpah li’an itu dalam kesaksiannya
yang kelima menyatakan bersedia
menerima laknat (kutuk) Allah jika
pernyataannya tidak benar.

Menurut istilah hukum Islam, li’an ialah


sumpah yang diucapkan suami ketika ia
menuduh istrinya berbuat zina dengan
empat kali kesaksian bahwa ia termasuk
orang yang benar dalam tuduhannya,
kemudian pada sumpah kesaksian kelima
disertai persyaratan bahwa ia bersedia
menerima laknat Allah jika ia berdusta
dalam tuduhannya itu.

Dasar hukum pengaturan li’an bagi


suami yang menuduh istrinya berbuat zina
ialah firman Allah surat An-Nur ayat 6-7:

‫َو اَّلِذْي َن َي ْر ُمْو َن َاْز َو اَج ُهْم َو َلْم َي ُك ْن َّلُهْم ُشَه َد ۤا ُء ِآاَّل َاْنُفُسُهْم‬
. ‫َفَش َه اَد ُة َاَح ِدِه ْم َاْر َب ُع َشٰه ٰد ٍۢت ِباِهّٰللۙ ِاَّن ٗه َلِمَن الّٰص ِد ِقْي َن‬
‫َو اْلَخ اِمَس ُة َاَّن َلْع َنَت ِهّٰللا َع َلْيِه ِاْن َك اَن ِمَن اْلٰك ِذ ِبْي َن‬

Orang-orang yang menuduh istrinya


(berzina) padahal mereka tidak
mempunyai saksi-saksi selain diri mereka
sendiri, maka persaksian orang itu ialah
empat kali bersumpah dengan nama Allah,
bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-
orang yang benar. Dan (sumpah) yang
kelima, bahwa laknat Allah akan
ditimpakan kepadanya jika ia termasuk
orang-orang yang berdusta.

Terhadap tuduhan suami itu, istri dapat


menyangkalnya dengan sumpah kesaksian
sebanyak empat kali bahwa suami itu
berdusta dalam tuduhannya, dan pada
sumpah kesaksiannya yang kelima disertai
pernyataan bahwa ia bersedia menerima
marah dari Allah jika suami benar dlam
tuduhannya. Hal ini sesuai dengan firman
Allah dalam surat An-Nur ayat 8-9:

‫َو َي ْد َر ُؤ ا َع ْن َه ا اْلَع َذ اَب َاْن َت ْش َه َد َاْر َب َع َش ٰه ٰد ٍۢت ِباِهّٰلل ِاَّن ٗه َلِمَن‬


‫ َو اْلَخ اِمَس َة َاَّن َغ َض َب ِهّٰللا َع َلْي َه ٓا ِاْن َك اَن ِمَن‬. ‫اْلٰك ِذ ِبْي َن‬
‫الّٰص ِد ِقْي َن‬
Istrinya itu dapat dihindarkan dari
hukuman oleh sumpahnya sebanyak empat
kali atas nama Allah bahwa suaminya itu
sungguh-sungguh termasuk orang-orang
yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima,
bahwa murka Allah (akan ditimpakan) atas
dirinya jika suaminya itu termasuk orang-
oarng yang benar.

Dengan terjadinya sumpah li’an ini


maka terjadilah perceraian antar suami istri
tersebut dan antara keduanya tidak boleh
terjadi perkawinan kembali untuk selama-
lamanya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa


Nabi bersabda:

‫ا ًد َب أ نِاَعَم تَ َي ال َاَّقَر فَــت َاذِ ا نَا ِنعَ َلتْم ُاَل‬

Dua suami istri yang telah saling berli’an


itu setelah bercerai tidak boleh berkumpul
untuk selamanya.
Menurut Al-Juwairi, dalam sumpah
li’an terkandung beberapa hikmah antara
lain:

a. Suatu pernikahan dan fungsi wanita


sebagai istri bagi suami tidak akan
sempurna kecuali dengan adanya
keserasian dan saling menyayangi
antara keduanya. Tetapi apabila sudah
terdapat tuduhan zina dan melukai istri
dengan kekejian, maka dada mereka
akan sempit dan hilanglah kepercayaan
dari istri sehingga mereka berdua
hidup dalam kedengkian yang tentu
akan membawa akibat jelek.

b. Melarang dan memperingatkan suami-


istri agar jangan melakukan perlakuan
buruk yang akan mengurangi
kemuliaan itu.

c. Menjaga kehormatannya dari kehinaan


pelacuran yang tidak pernah hilang
pengaruhnya siang dan malam.
C. SEBAB-SEBAB YANG LAIN

1. Putusnya Perkawinan Sebab Syiqaq

Syiqaq adalah krisis memuncak yang


terjadi antara suami istri sedemikian rupa,
sehingga antar suami istri terjadi
pertentangan pendapat dan pertengkaran,
menjadi dua pihak yang tidak mungkin
dipertemukan dan kedua belah pihak tidak
dapat mengatasinya.

Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat


35 menyatakan:

‫َو ِاْن ِخ ْفُتْم ِش َقاَق َبْيِنِه َم ا َف اْب َع ُثْو ا َح َك ًما ِّمْن َاْه ِلٖه َو َح َك ًما ِّمْن‬
‫َاْه ِلَه اۚ ِاْن ُّي ِر ْيَد آ ِاْص اَل ًح ا ُّيَو ِّفِق ُهّٰللا َب ْي َن ُهَم اۗ ِاَّن َهّٰللا َك اَن‬
‫َع ِلْيًما َخ ِبْيًر ا‬

Dan jika kamu khawatirkan ada syiqaq


(persengketaan) antara keduanya, maka
kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-
laki dan seorang hakam dari keluarga
perempuan. Jika kedua hakam itu
bermaksud mengadakan perbaikan,
niscaya Allah memberi taufik kepada suami
istri itu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Menurut firman Allah tersebut, jika


terjadi kasus syiqaq antar suami istri, maka
diutusn seorang hakam dari pihak suami
dan seorang hakam dari pihak istri untuk
mengadakan penelitian dan penyelidikan
tentang sabab musabab terjadi syiqaq
dimaksud serta berusaha
mendamaikannya, atau mengambil
prakarsa putusnya perkawinan kalau
sekiranya jalan inilah yang sebaik-baiknya.

Terhadap kasus syiqaq ini, bertugas


menyelidiki dan mencari hakikat
permasalahannya, sebab musabab
timbulnya persengketaan, berusaha
seberapa mungkin untuk mendamaikan
kembali agar suami istri kembali hidup
Bersama dengan sebaik-baiknya, kemudian
jika jalan perdamaian itu tidak mungkin
ditempuh, maka kedua hakam berhak
mengambil inisiatif untuk menceraikannya,
kemudia atas dasar prakarsa hakam ini
maka hakim dengan keputusannya
menetapkan perceraian tersebut.

Kedudukan cerai sebab kasus syiqaq


adalah bersifat ba’in. Artinya antara bekas
suami istri hanya dapat kembali sebagai
suami istri dengan akad nikah yang baru.

2. Putusnya Perkawinan sebab Pembatalan

Jika suatu akad perkawinan telah


dilaksanakan dan dalam pelaksanaannya
ternyata terdapat larangan perkawinan
antar suami istri semisal karena pertalian
darah, pertalian susuan, pertalian
semenda, atau terdapat hal-hal yang
bertentangan dengan ketentuan hukum
seperti tidak terpenuhinya hukum atau
syaratnya, maka perkawinan menjadi batal
demi hukum melalui proses pengadilan,
hakim membatalkan perkawinan dimaksud.

Mengenai hal ihwal pembatalan


perkawinan ini, berdasarkan Undang-
undang Nomor 1 tahun 1974 tentang
perkawinan Bab IV pasal 22 sampai 28
memuat ketentuan yang isi pokoknya
sebagai berikut:

a. Perkawinan dapat dibatalkan, apabila


para pihak tidak memenuhi syarat-
syarat untuk melangsungkan
perkawinan, salah satu pihak masih
terkait oleh perkawinan yang
mendahuluinya, perkawinan
dilangsungkan di muka Pegawai
Pencatat Perkawinan yang tidak
berwenang, wali nikah tidak sah, tanpa
hadirnya dua saksi, perkawinan
dilakukan di bawah ancaman yang
melanggar hukum, terjadi salah sangka
mengenai diri suami atau istri.

b. Yang dapat mengajukan pembatalan


perkawinan ialah para keluarga dalam
garis lurus ke atas dari suami atau istri,
pejabat yang berwenang, pejabat yang
ditunjuk, orang yang masih ada
perikatan perkawinan dengan salah
satu dari kedua belah pihak, jaksa, dan
suami atau istri.

c. Permohonan pembatalan perkawinan


diajukan ke Pengadilan dalam daerah
hukum di mana perkawinan
dilangsungkan, atau di tempat tinggal
kedua suami istri, suami atau istri.

d. Batalnya perkawinan dimulai setelah


keputusan Pengadilan mempunyai
kekuatan hukum yang tetap, dan
berlaku sejak saat berlangsungnya akad
perkawinan. Keputusan tidak berlaku
surut terhadap:

1. Anak-anak yang dilahirkan dari


perkawinan tersebut.
2. Suami atau istri yang bertindak
dengan I’itkad baik, kecuali
terhadap harta bersama.
3. Orang-orang ketiga lainnya
sepanjang mereka memperoleh
hak-hak dengan I’tikad baik
sebelum keputusan tentang
pembatalan mempunyai kekuatan
yang tetap.

3. Putusnya Perkawinan sebab Fasakh

Hukum Islam mewajibkan suami untuk


menunaikan hak-hak istri dan memelihara
istri dengan sebaik-baiknya, tidak boleh
menganiaya istrinya dan menimbulkan
kemadharatan terhadapnya. Suami
dilarang menyengsarakan kehidupan istri
dan menyia-nyiakan haknya. Firman Allah
surat Al-Baqarah ayat 231 menyatakan:

‫َفَاْم ِس ُك ْو ُهَّن ِبَم ْع ُرْو ٍف َاْو َس ِّر ُحْو ُهَّن ِبَم ْع ُرْو ٍۗف َو اَل‬
‫ُتْمِس ُك ْو ُهَّن ِض َر اًر ا ِّلَت ْع َت ُدْو ا‬

Maka peliharalah (rujukilah) mereka (istri-


istri) dengan cara yang ma’ruf (baik) atau
lepaskanlah (ceraikanlah) mereka (istr-istri)
dengan yang ma’ruf (baik) pula. Janganlah
kamu pelihara (rujuki) mereka untuk
memberi kemadharatan, karena dengan
demikian kamu menganiaya mereka.

Hukum Islam tidak menghendaki


adanya kemadharatan dan melarang saling
menimbulkan kemadharatan. Dalam suatu
hadits dinyatakan bahwa Rasulullah
bersabda:

‫َال َض َر َر َو َال ِض َر اَر‬

Tidak boleh ada kemadharatan dan tidak


boleh saling menimbulkan kemadharatan

Menurut kaidah Hukum Islam, bahwa


setiap kemadharatan itu wajib dihilangkan,
sebagaimana kaidah fiqhiyah menyatakan:

‫الَّضَر ُر ُيَز اُل‬

Kemadharatan itu wajib dihilangkan.

Berdasarkan firman Allah, hadits dan


kaidah tersebut para fuqaha’ menetapkan
bahwa jika dalam kehidupan suami-istri
terjadi keadaan, sifat atau sikap yang
meinmbulkan pada salah satu pihak yang
menderita madharat dapat mengambil
prakarsa untuk putusnya perkawinann,
kemudian hakim memfasakhkan
perkawinann atas dasar pengaduan pihak
yang menderita tersebut.

Dengan keputusan Pengadilan atas


dasar pengaduan karena kesengsaraan
yang menimpa atau kemadharatan yang
diderita, maka perkawinan dapat
difasakhkan. Beberapa alasan fasakh, yaitu:

a. Tidak adanya nafkah bagi istri

Imam Malik, Asy Syafi’I dan Ahmad


berpendapat bahwa hakim boleh
menetapkan putusnya perkawinan
kerana suami tidak memberi nafkah
kepada istri, baik karena memang tidak
ada lagi nafkah itu atau suami menolak
memberi nafkah. Tidak memberi
nafkah istri dan menelantarkan istri
tanpa diberi nafkah serta tidak dicerai
adalah perbuatan yang menyakitkan
hati dan meyengsarakannya, berarti
menimbulkan kemadharatan, maka
hakim harus berusaha menghilangkan
perbuatan yang menyakitkan hati dan
menyengsarakan itu.

b. Terjadinya cacat atau penyakit.

Jika terjadi cacat atau penyakit


pada salah satu pihak baik suami
maupun istri sedemikian rupa sehingga
mengganggu kelestarian hubungan
suami istri sebagaimana mestinya, atau
menimbulkan penderitaan batin pihak
yang satunya, atau membahayakan
hidupnya, atau mengancam jiwanya,
maka yang bersangkutan berhak
mengadukan halnya kepada hakim,
kemudian pengadilan memfasakhkan
perkawinan mereka.

Cacat atau penyakit dimaksud


meliputi cacat jiwa, seperti gila, cacat
mental seperti penjudi, pemabuk, cacat
tubuh seperti penyakit lepra, dan cacat
kelamin seperti penyakit pada alat
kelamin, terpotongnya alat kelamin,
lemah syahwat, dan lain sebagainya
sehingga mengganggu dan
menghalangi hubungan sebagai suami
istri.

c. Penderitaan yang menimpa istri

Istri yang menderita fisik atau


batin karena tingkah suaminya, semisal
suaminya menyakiti badan istri dan
menyengsarakannya, suami pergi
menghilang tidak diketahui
keberadaannya, suami dihukum
penjara dan lain sebagainya, sehingga
istri menderita lahir batin, maka dalam
hal ini istri berhak mengadukan halnya
kepada hakim, kemudian pengadilan
memutuskan perkawinannya.

4. Putusnya Perkawinan sebab Meninggal


Dunia
Jika salah seorang dari suami atau istri
meninggal dunia, atau kedua suami istri itu
bersama-sama meninggal dunia, semisal
suami istri bersama-sama dalam kapal yang
kemudian tenggelam bersama ke dalam
laut, terbakarnya rumah yang menjadi
tempet tinggal bersama, terjatuhnya kapal
terbang yang ditumpangi bersama suami
istri dan lain sebagainya, maka akan
menjadi putuslah perkawinan mereka.

Dimaksudkan dengan mati yang


menjadi sebuah putusnya perkawinan
dalam hal ini meliputi baik mati secara fisik,
yakni memang dengan kematian itu
diketahui jenazahnya, sehingga kematian
secara biologis, maupun kematian secara
yuridis, yaitu dalam kasus suami yang
mafqud (hilang tidak diketahui apakah ia
masih hidup atau sudah meninggal), lalu
melalui proses pengadilan hakim dapat
menetapkan kematian suami tersebut.
Mengenai putusnya perkawinan,
Undang-undang No.1 tahun 1974 Bab VII
pasal 38 dikenal adanya tiga macam cara
putusnya perkawinan, yaitu :kematian,
perceraian dan keputusan pengadilan.

Pasal 39 UU No.1 tahun 1974


menegaskan bahwa perceraian hanya
dapat dilakukan dengan sidang pengadilan
setelah pengadilan yang bersangkutan
berusaha dan tidak berhasil mendamaikan
antara kedua belah pihak, dan untuk
melakukan perceraian harus ada alasan
yang cukup sehingga dapat dijadikan
landasan yang wajar bahwa antara suami
dan istri tidak ada harapan lagi untuk hidup
bersama sebagai suami istri.

Alasan dimaksud dalam pasal 39 UU


No.1 tahun 1974 inin diperinci lebih lanjut
dalam pasal 19 Peraturan Pemerintah No.9
tahun 1975, yaitu ada enam alasan untuk
perceraian, sebagai berikut:
a. Salah satu pihak berbuat zina, atau
menjadi pemabuk, penjudi, dan lain
sebaginya yang sukar disembuhkan.

b. Salah satu pihak meinggalkan yang lain


selama dua tahun berturut-turut tanpa
izin pihak lain dan tanpa alasan yang
sah atau karena hal lain di luar
kemampuannya.

c. Salah satu pihak mendapat hukuman


penjara 5 tahun atau hukuman yang
lebih berat setelah perkawinan
berlangsung.

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman


atau penganiayaan berat yang
membahayakan pihak lain.

e. Salah satu pihak medapat cacat badan


atau penyakit dengan akibat tidak
dapat menjalankan kewajibannya
sebagai suami/istri.
f. Antara suami dan istri terus-menerus
terjadi perselisihan dan pertengkaran
dan tidak ada harapan akan hidup
rukun lagi dalam rumah tangga.

Tentang cara mengajukan, memeriksa


dan menyelesaikan gugatan perceraian
oleh pengadilan, diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah No.9 tahun 1975
pasal 20 sampai dengan 36.

Bagi warga negara Republik Indonesia


yang melaksanakan perkawinan menurut
agama Islam, terdapat kemungkinan cara
perceraian atas pengaduan pihak istri
karena suami melanggar ta’lik talak yang
dinyatakan oleh suami segera setelah
terjadi akad perkawinan, yaitu pernyataan
suami bahwa sewaktu-waktu suami:

a. Meninggalkan pergi istrinya dalam


masa enam bulan berturut-turut.
b. Atau suami tidak memenuhi
kewajibannya sebagai suami memberi
nafkah kepada istrinya dalam masa tiga
bulan berturut-turut.
c. Atau suami menyakiti istrinya dengan
memukul.
d. Atau suami menambang istrinya dalam
masa tiga bulan berturut-turut.

Lalu istri tidak rela dan mengadukan


halnya kepada pengadilan berhak
mengusut hal tersebut, dan pengaduannya
dibenarkan serta diterima oleh pengadilan
itu, serta istri membayar sejumlah uang
sebagai ‘iwadh (pergantian atau tebusan),
maka jatuhlah talak satu suami kepada
istrnya itu.

Ta’lik talak dikembangkan sebagai jalan


bagi istri untuk memutuskan perkawinan
lewat pengadilan dengan alasan-alasan
sebagaimana dinyatakan oleh suaminya itu.

Tentang putusnya perkawinan,


Kompilasi Hukum Islam secara rinci
menjelaskan sebagai berikut:
PUTUSNYA PERKAWINAN

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 113

Perkawinan dapat putus karena: a.


kematian, b. perceraian, c. atas putusan
pengadilan

Pasal 114

Putusnya perkawinan yang disebabkan


karena perceraian dapat terjadi karena
talak atau berdasarkan gugatan perceraian.

Pasal 115

Perceraian hanya dapat dilakukan di depan


sidang Pengadilan Agama setelah
Pengadian Agama tersebut berusaha dan
tidak berhasil mendamaikan kedua belah
pihak.

Pasal 116
Perceraian dapat terjadi karena alasan atau
alasa-alasan:

a. Salah satu pihak berbuat zina, atau


menjadi pemabuk, penjudi, dan lain
sebaginya yang sukar disembuhkan.

b. Salah satu pihak meinggalkan yang lain


selama dua tahun berturut-turut tanpa
izin pihak lain dan tanpa alasan yang
sah atau karena hal lain di luar
kemampuannya.

c. Salah satu pihak mendapat hukuman


penjara 5 (lima) tahun atau hukuman
yang lebih berat setelah perkawinan
berlangsung.

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman


atau penganiayaan berat yang
membahayakan pihak lain.

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan


atau penyakit dengan akibat tidak
dapat menjalankan kewajibannya
sebagai suami/istri.

f. Antara suami dan istri terus-menerus


terjadi perselisihan dan pertengkaran
dan tidak ada harapan akan hidup
rukun lagi dalam rumah tangga.

g. Suami melanggar ta’lik talak.

h. Peralihan agama atau murtad yang


menyebabkan terjadinya
ketidakrukunan dalam rumah tangga.

Pasal 117

Talak adalah ikrar suami dihadapan siang


Pengadilan Agama yang menjadi salah satu
sebab putusnya perkawinan, dengan cara
sebagaimana dimaksud dalam pasal 129,
130 dan 131.

Pasal 118

Talak Raj’i adalah talak kesatu atau kedua,


di mana suami berhak rujuk selam istri
dalam masa iddah.
Pasal 119

1. Talak Ba’in Shugra adalah hak talak


tidak boleh dirujuk tapi boleh akad
nikah baru dengan bekas suaminya
meskipun dalam masa iddah.

2. Talak Ba’in Shugra sebagaimana


tersebut pada ayat (1) adalah:

a. Talak yang terjadi qabla-dhukul;

b. Talak dengan tebusan taau kulu’;

c. Talak yang dijatuhkan oleh


Pengadilan Agama.

Pasal 120

Talak Ba’in Kubra adalah talak yang terjadi


untuk ketiga kalinya. Talak jenis ini tidak
dapat dirujuk dan tidak dapat dinikahkan
kembali, kecuali apabila pernikahan itu
dilakukan setelah bekas istri menikah
dengan orang lain dan kemudian terjadi
perceraian ba’da al-dukhul dan habis masa
iddahnya.
Pasal 121

Talak sunni yang dibolehkan, yaitu talak


yang dijatuhkan terhadap istri yang sedang
suci dan tidak dicampuri dalam waktu suci
tersebut.

Pasal 122

Talak bid’i adalah talak yang dilarang, yaitu


tlak yang dijatuhkan pada waktu istri dalam
keadaan haid, atau istri dalam keadaan suci
tapi sudah dicampuri pada waktu suci
tersebut.

Pasal 123

Perceraian itu terjadi terhitung pada saat


perceraian itu dinyatakan di depan sidang
Pengadilan.

Pasal 124

Khulu’ harus berdasarkan atas perceraian


sesuai dengan ketentuan pasal 116.

Pasal 125
Li’ah menyebabkan putusnya perkawinan
antara suami istri untuk selama-lamanya.

Pasal 126

Li’ah terjadi karena suami menuduh istri


mberbuaut zina dan atau mengingkari anak
dalam kandungan atau yang sudah lahir
dari istrinya, sedangkan istri menolak
tuduhan san atau pengingkaran tersebut.

Pasal 127

Tata cara Li’an diatur sebagai berikut:

a. Suami bersumpah empat kali dengan


kata tuduhan zina dan atau
pengingkaran anak tersebut, diikuti
sumpah kelima dengan kata-kata:
“Laknat Allah atas sirinya apabila
tuduhan dan atau pengingkaran
tersebut dusta”.

b. Istri menolak tuduhan dan atau


pengingkaran tersebut dengan sumpah
empat kali dengan kata ‘tuduhan dan
atau pengingkran tersebut tidak
benar”, diikuti sumpah kelima dengan
kata-kata “murka Allah atas dirinya bila
tuduhan dan atau pengingkaran
tersebut benar”.

c. Tata cara huruf a dan b tersebut


mertupakan satu kesatuan yang tak
terpisahkan.

d. Apabila tata cara huruf a tidak diikuti


dengan tata cara huruf b maka
diangggap tidak terjadi li’an.

Pasal 128

Li’an hanya sah apabila dilakukan di


hadapan sidang Pengadilan Agama.

Bagian Kedua

Tata Cara Perceraian

Pasal 129

Seorang suami yang akan menjatuhkan


talak kepada istrinya mengajukan
permohonan, baik lisan maupun tertulis
kepada Pengadilan Agama yang
memwilayahi tempat tinggal istri disertai
dengan alasan serta meminta agar
diadakan sidang untuk keperluan itu.

Pasal 130

Pengadilan Agama dapat mengabulkan


atau menolak permohonan tersebut, dan
terhadap keputusan tersebut dapat
diminta upaya hukum banding dan kasasi.

Pasal 131

1. Pengadilan Agama yang bersangkutan


mempelajari permohonan dimaksud
pasal 129 dan dalam waktu selambat-
lambatnya tiga puluh hari memanggil
pemohon dan istrinya untuk menerima
penjelasan tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan maksud
menjatuhkan talak.
2. Setelah Pengadilan Agama tidak
berhasil menasihati kedua belah pihak
dan ternyata cukup alasan untuk
menjatuhkan talak serta yang
bersangkutan tidak mungkin lagi hidup
rukun dalam rumah tangga, Pengadilan
Agama menjatuhkan keputusannya
tentang izin bagi suami untuk
mengikrarkan talak.

3. Setelah keputusan mempunyai


kekuatan hukum tetap, suami
mengikrarkan talaknya di depan sidang
Pangadilan Agama, di hadiri oleh istri
atau kuasanya.

4. Bila suami tidak mengucapkan ikrar


talak dalam tempo 6 (enam) bulan
terhitung sejak putusan Pengadilan
Agama tentang izin ikrar talak baginya
mempunyai kekuatan hukum yang
tetap, maka hak suami unutk
mengikrarkan talak gugur dan ikatan
perkawinan tetap utuh.
5. Setelah sidang penyaksian ikrar talak
Pengadilan Agama memmbuat
penetapan tentang terjadinya talak
rangkap empat yang merupakan bukti
perceraian bagi bekas suami dan istri.
Helai pertama beserta surat ikrar talak
dikirimkan kepada Pegawai Pencatat
Nikah yang memwilayahi tempat
tinggal suami untuk diadakan
pencatatan, helai kedua dan ketiga
masing-masing diberikan kepada
mantan suami istri, dan helai keempat
disimpan oleh Pengadilan Agama.

Pasal 132

1. Gugatan perceraian diajukan oleh istri


atau kuasanya kepada Pengadilan
Agama, yang daerah hukumnya
memwilayahi tempat tinggal penggugat
kecuali istri meninggalkan kediaman
bersama tanpa izin suami.
2. Dalam hal tergugat bertempat
kediaman di luar negeri, Ketua
Pengadilan Agama memberitahu
gugatan tersebut kepada tergugat
melalui Perwakilan Republik Indonesia
setempat.

Pasal 133

1. Gugatan perceraian karena alasan


tersebut dalam pasal 116 huruf b,
dapat diajukan setelah lapau 2 (dua)
tahunterhitung sejak tergugat
meninggalkan rumah.

2. Gugatan dapat diterima apabila


tergugat menyatakan atau
menunjukkan sikap tidak mau lagi
kembali ke rumah kediaman bersama.

Pasal 134

Gugatan perceraian karena alasan tersebut


dalam pasal 116 huruf f, dapat diterima
apabila telah cukup jelas bagi Pengadilan
Agama mengenai sebab-sebab perselisihan
dan pertengkaran itu dan setelah
mendengar pihak keluarga serta orang-
orang yang dekat dengan suami istri
tersebut.

Pasal 135

Gugatan perceraian karena alasan suami


mendapat hukuman penjara 5 (lima tahun)
atau hukuman yang lebih berat sebagai
dimaksud dalam pasal 116 huruf c, maka
untuk mendapatkan putusan perceraian
sebagai bukti penggugat cukup
menyampaikan Salinan putusan Pengadilan
yang memutuskan perkara disertai
keterangan yang menyatakan bahwa
putusan itu telah mempunyai kekuatan
hukum tetap.

Pasal 136

1. Selama berlangsungnya gugatan


perceraian atau permohonan
penggugat atau tergugat berdasarkan
pertimbangan bahaya yang mungkin
ditimbulkan, Pengadilan Agama dapat
mengizinkan suami istri tersebut untuk
tidak tinggal dalam satu rumah.

2. Selama berlangsungnya gugatan


perceraian atau permohonan
penggugat atau tergugat, Pengadilan
Agama dapat:

a. Menentukan nafkah yang harus


ditangggung oleh suami.

b. Menentukan hal-hal yang perlu


untuk menjamin terpeliharanya
barang-barang yang menjadi hak
bersama suami istri atau barang-
barang yang menjadi hak suami
atau barang-barang yang menjadi
hak istri.

Pasal 137

Gugatan perceraian gugur apabila suami


atau istri meninggal sebelum adanya
putusan Pengadilan Agama mengenai
gugatan perceraian itu.

Pasal 138

1. Setiap kali diadakan sidang Pengadilan


Agama yang memeriksa gugatan
perceraian, baik penggugat maupun
tergugat, atau kuasa mereka akan
dipanggil untuk menghadiri sidang
tersebut.

2. Panggilan untuk menghadiri sidang


sebagaimana tersebut dalam ayat (1)
dilakukan oleh petugas yang ditunjuk
oleh Ketua Pengadilan Agama.

3. Panggilan disampaikan kepada pribadi


yang bersangkutan. Apabila yang
bersangkutan tidak dapat dijumpai,
panggilan disampaikan melalui Lurah
atau yang sederajat.

4. Panggilan sebagai tersebut dalam ayat


(1) dilakukan dan disampaikan secara
patut dan sudah diterima oleh
penggugat maupun tergugat atau
kuasa mereka selambat-lambatnya 3
(tiga) hari sebelum sidang dibuka.

5. Panggilan kepada tergugat dilampiri


dengan Salinan surat gugatan.

Pasal 139

1. Apabila tempat kediaman tergugat


tidak jelas atau tergugat tidak
mempunyai tempat kediaman tetap,
panggilan dilakukan dengan cara
menempelkan gugatan pada papan
pengumuman di Pengadilan Agama
dan mengumumkannya melalui satu
atau beberapa surat kabar atau mass
media lain yang ditetapkan oleh
Pengadilan Agama.

2. Pengumuman melalui surat kabar atau


surat-surat kabar atau mass media
tersebut dalam ayat (1) dilakukan
sebanyak 2 (dua) kali dengan tenggang
waktu satu bukan antara pengumuman
pertama dan kedua.

3. Tenggang waktu antara panggilan


terakhir sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dengan persidangan
ditetapkan sekurang-kurangnya 3 (tiga)
bulan.

4. Dalam hasil sudah dilakukan


sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
dan tergugat atau kuasanya tetap tidak
hadir, gugatan diterima tanpa hadirnya
tergugat, kecuali apabila gugatan itu
tanpa hak atau tidak beralasan.

Pasal 140

Apabila tertugat berada dalam keadaan


sebagaimana dimaksud dalam pasal 132
ayat (2), panggilan disampaikan melalui
perwakilan Republik Indonesia setempat.

Pasal 141
1. Pemeriksaan gugatan perceraian
dilakukan oleh Hakim selambat-
lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah
diterimanya berkas atau surat gugatan
perceraian.

2. Dalam menetapkan waktu sidang


gugatan perceraian perlu diperhatikan
tetntang waktu pemanggilan dan
diterimanya penggilan tersebut oleh
penggugat atau tergugat atau kuasa
mereka.

3. Apabila tergugat dalam keadaan


seperti tersebut dalam pasal 116 huruf
b, sidang pemeriksaan gugatan
perceraian ditetapkan sekurang-
kurangnya 6 (enam) bulan terhitung
sejak dimasukkannya gugatan
perceraian pada Kepanitraan
Pengadilan Agama.

Pasal 142
1. Pada sidang pemeriksaan gugatan
perceraian, suami istri datang sendiri
atau mewakilkan kepada kuasanya.

2. Kepentingan pemeriksaan Hakim dapat


memerintahkan yang bersangkutan
untuk hadir sendiri.

Pasal 143

1. Dalam pemeriksaan gugatan, Hakim


berusaha mendamaikan kedua belah
pihak,

2. Semala perkara belum diputuskan,


usaha mendamaikan dapat dilakukan
setiap sidang permeriksaan.

Pasal 144

Apabila terjadi perdamaian maka tidak


dapat diajukan gugatan perceraian baru
berdasarkan alasan atau alasan-alasan yang
ada sebelum perdamaian dan diketahui
oleh penggugat pada waktu dicapainya
perdamaian.
Pasal 145

Apabila tidak dapat dicapai perdamaian,


pemeriksaan gugatan perceraian dilakukan
dalam sidang tertutup.

Pasal 146

1. Putusan mengenai gugatan perceraian


dilakukan dalam sidang terbuka

2. Suatu perceraian diangggap terjadi


neserta akibat-akibat terhitung sejak
jatuhnya putusan Pengadilan Agama
yang telah mempunyai kekuatan
hukum yang tetap.

Pasal 147

1. Setelah perkaran itu diputuskan maka


Panitera Pengadilan Agama
menyampaikan Salinan surat putusan
tersebut kepada mantan suami istri
atau kuasa dengan menarik Kutipan
Akta Nikah dari masing-masing yang
bersangkutan.
2. Panitera Pengadilan Agama
berkewajiban mengirimkan satu helai
Salinan putusan Pengadilan Agama
yang telah mempunyai kekuatan
hukum yang tetap tanpa bermaterai
kepada Pegawai Pncatat Nikah yang
memwilayahi tempat tingal istri untuk
diadakan pencatatan.

3. Panitera Pengadilan Agama


mengirimkan Surat Keterangan kepad
masing-masing suami istri atau
kuasanya bahwa putusan tersebut ayat
(1) telah mempunyai kekuatan hukum
yang tetap dan merupakan bukti
perceraian bagi suami dan bekas istri.

4. Penitera Pengadilan Agama membuat


catatan dalam ruang yang tersedia
pada kutipan Akta Nikah yang
bersangkutan bahwa meraka telah
bercerai.
Catatan tersebut berisi tempat
terjadinya perceraian, tanggal
perceraian, nomor dan tanggal surat
putusan serta tanda tangan Panitera.

5. Apabila Pegawai Pencata Nikah yang


memwilayahi tempat tinggal istri
berbeda dengan Pegawai Pencatat
Nikah tempat pernikahan mereka
dilangsungkan, maka satu helai Salinan
putusan Pengadilan Agama
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
dikirimkan kepada Pegawai Pencatat
Nikah yang memwilayahi tempat
perkawinan dilangsungkan, dan bagi
perkawinan yang dilangsungkan di luar
negeri, salinan itu disampaikan kepada
Pegawai Pencatat Nikah di Jakarta.

6. Kelalaian mengirimkan Salinan putusan


tersebut dalam ayat (1) menjadi
tanggung jawab Panitera yang
bersangkutan, apabila yang demikian
itu mengakibatkan kerugian bagi bekas
suami atau istri atau keduanya.

Pasal 148

1. Seorang istri yang mengajukan gugatan


perceraian dengan jalan khulu’,
menyampaikan permohonannya
kepada Pengadilan Agama yang
memwilayahi tempat tinggalnya
disertai alasan atau alasan-alasannya.

2. Pengadilan Agama selambat-lambatnya


satu bulan memanggil istri dan
suaminya untuk didengar
keterangannnya masing-masing.

3. Dalam persidangan tersebut


Pengadilan Agama memberikan
penjelasan tetnang akibat khulu’, dan
memberikan nasihat-nasihatnya.

4. Setelah kedua belah pihak sepakat


tentang besarnya iwadh atau tebusan,
maka Pengadilan Agama memberikan
penetapan tentang izin bagi suami
untuk mengikrarkan talaknya di depan
sidang Pengadilan Agama.

Terhadap penetapan itu tidak dapat


dilakukan upaya banding dan kasasi.

5. Penyelesaian selanjutnya ditempuh


sebagaimana yang diatur dalam pasal
131 ayat (5).

6. Dalam hal tidak tercapai kesepakatan


tentang besarnya tebusan atau ‘iwadh,
Pengadilan Agama memeriksa dan
memutuskan sebagai perkara biasa.

Anda mungkin juga menyukai