Anda di halaman 1dari 16

ANATOMI AL-QURAN

Oleh: Imam Muhsin

Bagian-bagian al-Quran
Al-Qur'an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat). Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang dengan 286 ayat adalah surat Al Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat Al Kautsar dan AlAr. Surat-surat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku' yang membahas tema atau topik tertentu.

Juz dan manzil


Al-Qur'an juga terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan Al-Qur'an dalam 30 hari (satu bulan). Pembagian lain yakni manzil, memecah Al-Qur'an menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.

Macam-macam Surat
Dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada di dalam Al-Quran terbagi menjadi empat bagian, yaitu: As Sabuththiwaal (tujuh surat yang panjang). Yaitu Surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa, Al-Araaf, Al-Anaam, Al Maa-idah dan Yunus. Al Miuun (seratus ayat lebih), seperti Hud, Yusuf, Mu'min dan sebagainya. Al Matsaani (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti AlAnfaal, Al-Hijr dan sebagainya. Al Mufashshal (surat-surat pendek), seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan sebagainya. Dinamakan demkian karena banyaknya fashal (pemisah) antar surat dengan basmalah.

Definisi Surat
Dalam leksikologi Arab, kata surat (jamak: suwar) mengandung banyak arti, yaitu: bangunan yang menjulang tinggi ke langit, kedudukan/tempat, dan keutamaan. Juga bisa berarti pagar (dari kata .) Secara terminologis, surat berarti: sekelompok ayat-ayat al-Quran yang mempunyai permulaan dan penutup serta berdiri sendiri.

Definisi Ayat
Secara etimologis, ayat memiliki banyak arti, antara lain: tanda (QS. al-Hijr: 77; al-Nahl: 11, 13, 65, 67, dan 69; al-Baqarah, 248); mukjizat (QS. al-Baqarah: 211); ibrah atau pelajaran (QS. Hud: 102, 103 dan alFurqan: 37); sesuatu yang menakjubkan (QS. al-Mukmin: 50); bukti atau dalil (QS. al-Rum: 20, 21, 23, dan 24). Secara terminologis, para ulama memberi batasan ayat sebagai sekelompok kata yang mempunyai permulaan dan akhir yang berada dalam suatu surat al-Quran.

PENAMAAN SURAT
Surat-surat al-Quran memiliki nama-nama tersendiri. Sebuah surat boleh jadi mempunyai satu atau beberapa nama. Surat al-Tawbah misalnya, disebut juga dengan surat al-Baraah, dan al-Buhus. Nama-nama surat diambil dari kata yang mencolok atau tidak lazim di dalamnya. Biasanya kata ini muncul hampir di awal surat, tetapi tidak mesti demikian. Surat 16 misalnya, diberi nama dengan surat al-Nahl (lebah) tetapi disebutkan pada ayat 68, dan ayat ini merupakan satu-satunya bagian dari al-Quran yang berbicara tentang al-Nahl. Sebagian ulama mengasumsikan bahwa nama-nama surat al-Quran berasal dari petunjuk Rasul (tawqifi). Sedangkan sebagian lagi percaya bahwa penamaan surat tersebut berdasarkan ijtihad sahabat yang diambil dari pokok pembicaraan dalam surat itu.

Jumlah Surat
Pendapat yang paling umum diterima, jumlah surat alQuran seperti dalam mushaf Usmani adalah 114 surat. Tetapi menurut riwayat dari Mujahid surat al-Quran adalah 113 surat dengan menggabungkan surat al-Anfal dengan surat al-Tawbah menjadi satu surat. Hasan, ketika ditanya apakah surat al-Baraah dan surat al-Anfal itu satu surat atau dua surat, menjawab satu surat. Ibnu Masud dalam mushafnya terdapat 112 surat. Ini karena ia tidak memasukkan dua surat terakhir (muawidzatani). Sementara sebagian ulama Syiah menetapkan jumlah surat al-Quran sebanyak 116. Hal ini karena mereka memasukan surat qunut yang dinamai surat al-khaf dan alhafd yang ditulis oleh Ubay di kulit al-Quran.

Jumlah Ayat
Secara umum para ulama menghitung ayat al-Quran tidak kurang dari 6200 ayat. Secara rinci mereka berbeda pendapat. Orang-orang Madinah menyuguhkan dua pendapat.
Pendapat pertama mengatakan bahwa seluruh ayat al-Quran berjumlah 6217 ayat. Sedangkan pendapat yang kedua menyatakan bahwa seluruhnya berjumlah 6214 ayat.

Orang-orang Mekah menghitung ayat al-Quran secara keseluruhan sebanyak 6220 ayat. Orang-orang Kufah menyatakan 6226 ayat. Orang-orang Basrah menyatakan jumlah ayat al-Quran seluruhnya adalah 6205 ayat. Pendapat yang beredar di masyarakat awam bahwa ayat alQuran seluruhnya berjumlah 6666 ayat tampaknya kurang dapat diterima.
Angka ini barangkali lebih bernuansa mitos atau keramat dibanding dengan realita konkrit.

Mengapa berbeda?
Karena perbedaan penetapan basmalah sebagai ayat dari surat-surat al-Quran atau tidak. Seperti yang dinyatakan oleh Hamka, ada dua pendapat tentang basmalah ini, yaitu:
Sebagian besar sahabat dan ulama salaf berpendapat bahwa basmalah adalah ayat pertama dari setiap surat. Dari golongan sahabat antara lain: Ibnu Abbas, Ali bin Abi Thalib, Abdullah ibn Umar dan Abu Hurairah. Dari golongan ulama salaf antara lain: Ibnu Katsir, al-Kasai, al-Syafii, al-Tsauri dan Ahmad. Sedangkan sebagian lagi menyatakan bahwa basmalah bukan ayat pertama dari setiap surat, tetapi hanya sebagai pemisah antara satu surat dengan surat lainnya. Di antara mereka yang berpendapat seperti ini adalah Imam Malik dan al-Auzai.

Karena perbedaan penentuan fashilah dan ras al-ayat.


Fashilah adalah istilah yang diberikan kepada kalimat yang mengakhiri ayat dan merupakan akhir ayat. Sedangkan ras al-ayat adalah akhir ayat yang padanya diletakkan tanda fashal (pemisah) antara ayat yang satu dengan ayat yang lain. Fashilah ini terkadang berupa ras al-ayat dan terkadang tidak. Dengan demikian, setiap ras al-ayat adalah fashilah dan tidak setiap fashilah adalah ras al-ayat.

SUSUNAN SURAT
Para ulama berbeda pendapat tentang susunan surat-surat al-Quran. Ada tiga pendapat yang muncul tetang persoalan ini, yaitu: Pertama, susunan surat-surat al-Quran seluruhnya berdasarkan petunjuk Rasul (tawqifi). Kedua, susunan surat-surat al-Quran adalah ijtihad para sahabat; dan Ketiga, susunan surat-surat al-Quran sebagian bersifat tawqifi dan sebagian lagi adalah ijtihad sahabat.

SUSUNAN SURAT: Tawqifi


Pendapat ini didukung oleh ulama-ulama seperti Abu Jafar bin Nuhas, Ibnu al-Hasr dan Abu Bakar al-Anbari. Alasan yang mendukung pendapat ini adalah riwayat Abu Syaibah bahwa Nabi pernah membaca beberapa surat al-mufashshal dalam satu rakaat menurut susunan mushaf al-Quran. Di samping itu juga pernyataan Ibnu Masud yang diriwayatkan oleh alBukhari bahwa ia pernah menyebutkan surat Makiyah, surat Bani Israil, al-Kahfi, Maryam, Thaha dan al-Anbiya yang pertama kali ia pelajarisecara beruntut seperti urutan sekarang ini. Al-Zarqani menambahkan alasan golongan ini dengan mengatakan bahwa para sahabat telah sepakat terhadap mushaf Usman dan tidak ada seorang pun dari sahabat yang berkeberatan atau menyangkalnya. Kesepakatan ini tak terjadi kecuali karena pengumpulan ini sifatnya tawqifi. Sebab bila seandainya berdasarkan ijtihad maka para sahabat tentu akan berpegang teguh pada pendapat mereka yang berlainan.

SUSUNAN SURAT: Ijtihadi


Pendapat ini dinisbahkan kepada Imam Malik. Al-Zarqani menyebut bahwa pendapat ini adalah pendapat jumhur ulama dan termasuk di dalamnya seperti al-Qadhi dan Abu Bakar. Argumen pendapat ini adalah adanya beberapa mushaf pribadi beberapa orang sahabat yang sistematika surat tersebut saling berbeda satu sama lain. Mushaf Ibnu Masud misalnya, dimulai dengan surat al-fatihah, al-Baqarah, an-Nisak, Ali Imran dan seterusnya. Demikian juga dengan mushaf Ubay. Mushaf Ali disusun berasarkan urutan turunnya ayat, karenanya dimulai dengan surat alAlaq, kemudian al-Mudaststir, Nun, al-Qalam dan seterusnya. Ketika Usman ditanya oleh para sahabat, kenapa ia mengambil kebijaksanaan untuk menggabungkan surat al-Anfal dengan surat alBaraah menjadi satu dengan tidak meletakkan basmalah di antara kedua surat tersebut, ia menjawab bahwa itu hanya perkiraannya karena kisah yang terdapat dalam surat al-Anfal serupa dengan kisah dalam surat al-Baraah. Dan Rasulullah sampai akhir hayatnya tidak menjelaskan bahwa surat al-Baraah merupakan bagian dari surat alAnfal.

SUSUNAN SURAT: Tawqifi & Ijtihadi


Pendapat ini beralasan dengan adanya beberapa hadis yang menunjukkan bahwa sebagian surat-surat al-Quran tertibnya berdasarkan petunjuk Rasul dan juga pada sisi lain terdapatnya beberapa mushaf sahabat yang susunan surat-suratnya berlainan. Abu Muhammad Ibnu Athiyah mengatakan bahwa sebagian besar surat-surat al-Quran diketahui susunannya pada masa nabi seperti alSabu al-Thiwal dan Mufasshal, sedangkan sebagian lain adalah berdasarkan ijtihad para sahabat Nabi. Dari ketiga pendapat yang dikemukakan di atas, Manna al-Qaththan cenderung pada pendapat yang pertama, karena menurutnya pendapat ini lebih kuat dari pendapat lainnya. Terhadap argumen pendapat kedua ia mengatakan bahwa adanya beberapa mushaf pribadi sebagian sahabat yang berbeda itu merupakan hasil ikhtiar mereka sendiri sebelum al-Quran dikumpulkan .

Sekian
Selamat belajar Tetap Semangat!