Anda di halaman 1dari 5

BAB II

LANDASAN TEORI
A. Pengertian Konseling Kelompok
Corey & Corey (2006) menjelaskan bahwa seorang ahli dalam konseling
kelompok mencoba membantu peserta untuk menyelesaikan kembali permasalahan hidup
yang umum dan sulit seperti: permasalahan pribadi, sosial, belajar/akademik, dan karir.
Konseling kelompok lebih memberikan perhatian secara umum pada permasalahanpermasalahan jangka pendek dan tidak terlalu memberikan perhatian pada treatmen
gangguan perilaku dan psikologis. Konseling kelompok memfokuskan diri pada proses
interpersonal dan strategi penyelesaian masalah yang berkaitan dengan pemikiran,
perasaan, dan perilaku yang disadari. Metode yang digunakan adalah dukungan dan
umpan balik interaktif dalam sebuah kerangka berpikir here and now (di sini dan saat
ini).
Gazda (1978) berpendapat bahwa konseling kelompok adalah suatu proses antara
pribadi yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari. Proses itu
mengandung ciri-ciri terapeutik seperti 4 pengungkapan pikiran dan perasaan secara
leluasa, orientasi pada kenyataan, keterbukaan diri mengenai seluruh perasaan mendalam
yang dialami, saling percaya, saling perhatian, saling pengertian dan saling mendukung.
Semua ciri terapeutik tersebut diciptakan dan dibina dalam sebuah kelompok kecil
dengan cara mengemukakan kesulitan dan empati pribadi kepada sesama anggota
kelompok dan kepada konselor. Para konseli adalah orang-orang yang pada dasarnya
tergolong orang normal, yang menghadapi berbagai masalah yang tidak memerlukan
perubahan secara klinis dalam struktur kepribadian untuk mengatasinya. Para konseli
dapat memanfaatkan suasana komunikasi antarpribadi dalam kelompok untuk
meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap nilai-nilai kehidupan dan segala
tujuan hidup, serta untuk belajar dan/atau menghilangkan suatu sikap dan perilaku
tertentu.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konseling kempok adalah
suatu proses interpersonal dan strategi yang mencoba membantu peserta menyelesaikan
permasalahan pribadi, sosial/akademik, dan karir dan mengandung ciri-ciri terapeutik
yang dilaksanakan dalam suatu kelompok kecil.

B. Tujuan Konseling Kelompok


Menurut Ohlsen, Dinkmeyer, Muro, serta Corey (dalam Winkel, 1997) tujuan
konseling kelompok adalah sebagai berikut.
1. Masing-masing konseli mampu menemukan dirinya dan memahami dirinya sendiri
dengan lebih baik. Berdasarkan pemahaman diri tersebut, konseli rela menerima dirinya
sendiri dan lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif kepribadiannya.
2. Para konseli mengembangkan kemampuan berkomunikasi antara satu individu dengan
individu yang lain, sehingga mereka dapat saling memberikan bantuan dalam
menyelesaikan

tugas-tugas

perkembangan

yang

khas

pada

setiap

fase-fase

perkembangannya.
3. Para konseli memperoleh kemampuan mengatur dirinya sendiri dan mengarahkan
hidupnya sendiri, dimulai dari hubungan antarpribadi di dalam kelompok dan dilanjutkan
kemudian dalam kehidupan sehari-hari di luar lingkungan kelompoknya.
4. Para konseli menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu
menghayati/ memahami perasaan orang lain. Kepekaan dan pemahaman ini akan
membuat para konseli lebih sensitif terhadap kebutuhan psikologis diri sendiri dan orang
lain.
5. Masing-masing konseli menetapkan suatu sasaran/target yang ingin dicapai, yang
diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang lebih konstruktif.
6. Para konseli lebih menyadari dan menghayati makna dari kehidupan manusia sebagai
kehidupan bersama, yang mengandung tuntutan menerima orang lain dan harapan akan
diterima oleh orang lain.
7. Masing-masing konseli semakin menyadari bahwa hal-hal yang memprihatinkan bagi
dirinya kerap menimbulkan rasa prihatin dalam hati orang lain. Dengan demikian, konseli
tidak akan merasa terisolir lagi, seolaholah hanya dirinyalah yang mengalami masalah
tersebut.
8. Para konseli belajar berkomunikasi dengan seluruh anggota kelompok secara terbuka,
dengan saling menghargai dan saling menaruh perhatian. Pengalaman berkomunikasi
tersebut akan membawa dampak positif dalam kehidupannya dengan orang lain di
sekitarnya.
C. Jenis-jenis Kelompok dalam Konseling Kelompok
1. Kelompok pertemuan (encaounter group). Membantu orangoranga yang sehat dalam
mengembangkan kontak yang lebih baik dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain.
Biasanya terdiri dari peserta yang belum saling mengenal. Inti kegiatan, peserta

didororng membicarakan perasaan dan pendapatnya, harus jujur dan terbuka,


menghindari alasan rasional untuk kelemahannya.
2. Kelompok T (Training group) Bertujuan untuk memperbaiki interpersonal skills,
belajar mengamati proses yang terjadi pada dirinya, mampu menerapkan dinamika
kelompok dan hubungan antar pribadi dalam suasana hidup dan bekerja.
3. Kelompok berstruktur Digunakan untuk membahas dan melatihkan keterampilan social
tertentu.

Kesadaran anggota kelompk terhadap berbagai permasalahan hidup dan

melatih bagaimana cara menanggulanginya.


4. Kelompok membantu diri sendiri (self help group). Upaya orangorang awam dalam
berusaha menanggulangi persoalan yang dihadapinya yanpa meminta bantuan kepada
lembaga atau perorangan yang membeikan layanan professional.
D. Tahapan Konseling Kelompok
Menurut Prayitno (1995) tahap pelaksanaan konseling kelompok adalah sebagai berikut
1. Tahap Pembentukan
Tahap ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap memasukkan diri
ke dalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini pada umumnya para anggota saling
memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan ataupun harapan-harapan yang
ingin dicapai baik oleh masing-masing, sebagian, maupun seluruh anggota. Memberikan
penjelasan tentang bimbingan kelompok sehingga masing-masing anggota akan tahu apa
arti dari bimbingan kelompok dan mengapa bimbingan kelompok harus dilaksanakan
serta menjelaskan aturan main yang akan diterapkan dalam bimbingan kelompok ini. Jika
ada masalah dalam proses pelaksanaannya, mereka akan mengerti bagaimana cara
menyelesaikannya. Asas kerahasiaan juga disampaikan kepada seluruh anggota agar
orang lain tidak mengetahui permasalahan yang terjadi pada mereka.
2. Tahap Peralihan
Tahap kedua merupakan jembatan antara tahap pertama dan ketiga. Ada kalanya
jembatan ditempuh dengan amat mudah dan lancar, artinya para anggota kelompok dapat
segera memasuki kegiatan tahap ketiga dengan penuh kemauan dan kesukarelaan. Ada
kalanya juga jembatan itu ditempuh dengan susah payah, artinya para anggota kelompok
enggan memasuki tahap kegiatan keompok yang sebenarnya, yaitu tahap ketiga. Dalam

keadaan seperti ini pemimpin kelompok, dengan gaya kepemimpinannya yang khas,
membawa para anggota meniti jembatan itu dengan selamat.
Adapun yang dilaksanakan dalam tahap ini yaitu: 1) Menjelaskan kegiaatan yang
akan ditempuh pada tahap berikutnya; 2) menawarkan atau mengamati apakah para
anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya; 3) membahas suasana
yang terjadi; 4) meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota; 5) Bila perlu kembali
kepada beberapa aspek tahap pertama.
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin, yaitu:
1. Menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka
2.

Tidak mempergunakan cara-cara yang bersifat langsung atau mengambil alih


kekuasaannya.
3. Mendorong dibahasnya suasana perasaan.
4. Membuka diri, sebagai contoh dan penuh empati.
3. Tahap Kegiatan
Tahap ini merupakan inti dari kegiatan kelompok, maka aspek-aspek yang menjadi isi
dan pengiringnya cukup banyak, dan masing-masing aspek tersebut perlu mendapat
perhatian yang seksama dari pemimpin kelompok. ada beberapa yang harus dilakukan
oleh pemimpin dalam tahap ini, yaitu sebagai pengatur proses kegiatan yang sabar dan
terbuka, aktif akan tetapi tidak banyak bicara, dan memberikan dorongan dan penguatan
serta penuh empati.
Tahap ini ada berbagai kegiatan yang dilaksanakan, yaitu:
1. Masing-masing anggota secara bebas mengemukakan masalah atau topik bahasan.
2. Menetapkan masalah atau topik yang akan dibahas terlebih dahulu.
3. Anggota membahas masing-masing topik secara mendalam dan tuntas.
4. Kegiatan selingan.
4. Tahap Pengakhiran
Pada tahap pengakhiran bimbingan kelompok, pokok perhatian utama bukanlah pada
berapa kali kelompok itu harus bertemu, tetapi pada hasil yang telah dicapai oleh
kelompok itu. Kegiatan kelompok sebelumnya dan hasil-hasil yang dicapai seyogyanya
mendorong kelompok itu harus melakukan kegiatan sehingga tujuan bersama tercapai
secara penuh. Dalam hal ini ada kelompok yang menetapkan sendiri kapan kelompok itu

akan berhenti melakukan kegiatan, dan kemudian bertemu kembali untuk melakukan
kegiatan. Ada beberapa hal yang dilakukan pada tahap ini, yaitu:
1. Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri.
2. Pemimpin dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan hasil-hasil kegiatan.
3. Membahas kegiatan lanjutan.
4. Mengemukakan pesan dan harapan.