Anda di halaman 1dari 13

PEMBELAJARAN MENURUT PAULO FREIRE

PEMBELAJARAN MENURUT PAULO FREIRE


A. Sejarah Paulo Freire
Paulo Freire adalah seorang pendidik di negara Brazilia yang terkenal mengenai kritikannya terhadap
dampak yang ditimbulkan oleh pendidikan sekolah terhadap masyarakat luas. Freire dilahirkan dalam
keluarga kelas menengah di Recife, Brasil, pada tanggal 19 Septerber 1921. Namun ia mengalami langsung
kemiskinan dan kelaparan pada masa Depresi Besar 1929, suatu pengalaman yang membentuk
keprihatinannya terhadap kaum miskin dan ikut membangun pandangan dunia pendidikannya yang khas dan
menjadikannya seorang tokoh pendidikan Brasil dan teoretikus pendidikan yang berpengaruh di dunia. Dan
beliau meninggal di Sao Paulo, Brasil 2 Mei 1997 karena serangan jantung.
Freire mulai belajar di Universitas Recife pada 1943, sebagai seorang mahasiswa hukum, yang juga
belajar filsafat dan psikologi bahasa. Meskipun ia lulus sebagai ahli hukum, ia tidak pernah benar-benar
berpraktik dalam bidang tersebut. Namun, ia bekerja sebagai seorang guru di sekolah-sekolah menengah,
mengajar bahasa Portugis. Pada 1944, ia menikah dengan Elza Maia Costa de Oliveira, seorang rekan
gurunya. Mereka berdua bekerja bersama selama hidupnya sementara istrinya juga membesarkan kelima
anak mereka.
Penghargaan yang pernah didapatkan oleh Freire adalah: penghargaan Raja Baudouin (Belgia) untuk
Pembangunan Internasional; penghargaan bagi Pendidik Kristen Terkemuka bersama Elza, istrinya; dan
penghargaan UNESCO 1986 bagi Pendidikan untuk Perdamaian.
B.

Pemikiran Paulo Freire


Menurut Freire, pendidikan dapat dirancang untuk percaya pada kemampuan diri pribadi (self
affirmation) yang pada akhirnya menghasilkan kemerdekaan diri. Ia terkenal dengan gagasannya tentang
pendidikan penyadaran dan pendidikan dengan pengajuan masalah, sebuah gagasan yang berasal dari
kritikannya terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pendidikan sekolah terhadap masyarakat luas.
Menurut Freire, sebagian besar warga masyarakat masih bersikap masa bodoh terhadap
perkembangan lingkungannya. Kehidupan mereka masih dalam keadaan tertekan oleh tingkat sosialekonomi yang rendah. Kehadiran para peserta didik dan lulusan pendidikan sekolah di masyarakat menjadi
faktor yang menyebabkan makin timbulnya masyarakat yang tertekan ini. Dimana, seolah-olah terjadi pola
interaksi antara dua kelompok manusia di masyarakat, yaitu kelompok penekan dan kelompok yang merasa
tertekan.
Freire berasumsi, sepanjang dua kelompok tersebut masih tetap ada, maka mereka tidak mungkin
dapat berkembang secara demokratis, kreatif, dan dinamis. Karena, kelompok penekan mungkin tidak akan

mampu untuk meningkatkan kehidupan masyarakat apabila sebagian besar warganya masih merasa tertekan.
Pihak penekan juga akan mengalami kesulitan dalam menyadarkan masyarakat yang merasa tertekan untuk
dapat mengenali masalah yang dihadapi, berpikir kritis, dan memecahkan masalah yang timbul dalam
realitas kehidupan mereka. Sebaliknya, pada kelompok yang merasa tertekan, seakan-akan telah terbiasa
berada dalam penjara kehidupan yang statis dan masa bodoh. Mereka tidak mampu untuk mengenali dan
memecahkan masalah yang dihadapinya. Suasana kehidupan masyarakat yang merasa tertekan, yang pada
umumnya menderita kemiskinan dan keterlantaran pendidikan, serta berada dalam kebudayaan bisu.
Dalam Sudjana (1991) konsep mengenai penyadaran atau conscientization digunakan untuk
membangkitkan kesadaran diri warga masyarakat terhadap lingkungannya. Kesadaran ini ditumbuhkan
melalui gerakan pendidikan pembebasan. Dimana dalam gerakan pendidikan ini, warga masyarakat sebagai
peserta didik dipandang sebagai subjek yang aktif dan berpotensi, bukan sebuah objek yang hanya sebagai
penerima sesuatu secara pasif. Pendidikan pembebasan dilakukan dengan menghindarkan semua faktor yang
dapat menimbulkan adanya perbedaan antara pihak penekan dengan pihak yang merasa tertekan.
Sedangkan untuk gagasan pendidikan dengan pengajuan masalah atau problem possing education,
adalah sebuah gagasan yang dianjurkan dalam rangka mengatasi gaya belajar yang Freire anggap sebagai
pendidikan gaya bank.

C. Kritikan Paulo Freire Terhadap Pendidikan Gaya Bank


Dalam sistem pendidikan yang diterapkan di Brazilia pada masa Freire, anak didik tidak dilihat
sebagai yang dinamis dan punya kreasi tetapi dilihat sebagai benda yang seperti wadah untuk menampung
sejumlah rumusan/dalil pengetahuan. Semakin banyak isi yang dimasukkan oleh gurunya dalam wadah
itu, maka semakin baiklah gurunya. Karena itu semakin patuh wadah itu semakin baiklah ia. Jadi,
murid/nara didik hanya menghafal seluruh yang diceritrakan oleh gurunya tanpa mengerti. Nara didik adalah
obyek dan bukan subyek. Pendidikan yang demikian itulah yang disebut oleh Freire sebagai pendidikan
gaya bank. Disebut pendidikan gaya bank sebab dalam proses belajar mengajar guru tidak memberikan
pengertian kepada nara didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk
disimpan yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan. Nara didik adalah
pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada akhirnya nara didik itu sendiri yang
disimpan sebab miskinnya daya cipta.
Dalam karyanya Pedagogia do oprimido (1970); serta buku yang membuatnya termashur,
Pedagogy of the Oppressed, yang terbit tahun 1972, Freire membongkar watak pasif dari praktek
pendidikan tradisional yang melanda dunia pendidikan. Dia menganggap bahwa pendidikan pasif
sebagaimana dipraktekan pada umumnya pada dasarnya adalah melanggengkan sistim relasi penindasan.
Freire mengejek sistem dan praktek pendidikan yang menindas tersebut, yang disebutnya sebagai

pendidikan gaya bank dimana guru bertindak sebagai penabung yang menabung informasi sementara
murid dijejali informasi untuk disimpan. Freire menyusun daftar antagonisme pendidikan gaya bank itu
sebagai berikut: (1) guru mengajar, murid belajar; (2) guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa; (3)
guru berpikir, murid dipikirkan; (4) guru bicara, murid mendengarkan; (5) guru mengatur, murid diatur; (6)
guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti; (7) guru bertindak, murid membayangkan
bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya; (8) guru memilih apa yang akan diajarkan, murid
menyesuaikan diri; (9) guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang
profesionalismenya, dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid- murid; (10) guru adalah subyek
proses belajar, murid obyeknya.
Karena itu pendidikan gaya bank menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan
terhadap sesamanya manusia. Pendidikan gaya bank itu ditolak dengan tegas oleh Paulo Freire.
Penolakannya itu lahir dari pemahamannya tentang manusia. Ia menolak pandangan yang melihat manusia
sebagai mahluk pasif yang tidak perlu membuat pilihan-pilihan atas tanggung jawab pribadi mengenai
pendidikannya sendiri. Bagi Freire manusia adalah mahluk yang berelasi dengan Tuhan, sesama dan alam.
Dalam relasi dengan alam, manusia tidak hanya berada di dunia tetapi juga bersama dengan dunia.
Kesadaran akan kebersamaan dengan dunia menyebabkan manusia berhubungan secara kritis dengan dunia.
Manusia tidak hanya bereaksi secara refleks seperti binatang, tetapi memilih, menguji, mengkaji dan
mengujinya lagi sebelum melakukan tindakan. Tuhan memberikan kemampuan bagi manusia untuk memilih
secara reflektif dan bebas. Dalam relasi seperti itu, manusia berkembang menjadi suatu pribadi yang lahir
dari dirinya sendiri. Bertolak dari pemahaman yang demikian itu, maka ia menawarkan sistem pendidikan
alternatif sebagai pengganti pendidikan gaya bank yang ditolaknya. Sistem pendidikan alternatif yang
ditawarkan Freire disebut pendidikan hadap-masalah.
D. Pendidikan Hadap Masalah
Pendidikan hadap-masalah sebagai pendidikan alternatif yang ditawarkan oleh Freire lahir dari
konsepsinya tentang manusia. Manusia sendirilah yang dijadikan sebagai titik tolak dalam pendidikan
hadap-masalah. Manusia tidak mengada secara terpisah dari dunia dan realitasnya, tetapi ia berada dalam
dunia dan bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan pada nara didik
supaya ada kesadaran akan realitas itu. Konsep pedagogis yang demikian didasarkan pada pemahaman
bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari
penindasan budaya, ekonomi dan politik. Kesadaran tumbuh dari pergumulan atas realitas yang dihadapi dan
diharapkan akan menghasilkan suatu tingkah laku kritis dalam diri nara didik.
Freire membagi empat tingkatan kesadaran manusia. Yang pertama adalah kesadaran intransitif ,
dimana seseorang hanya terikat pada kebutuhan jasmani, tidak sadar akan sejarah dan tenggelam dalam
masa kini yang menindas.

Tingkat kesadaran kedua yakni kesadaran semi intransitif atau kesadaran magis. Kesadaran ini terjadi
dalam masyarakat berbudaya bisu, dimana masyarakatnya tertutup. Ciri kesadaran ini adalah fatalistis.
Hidup berarti hidup di bawah kekuasaan orang lain atau hidup dalam ketergantungan.
Tingkat ketiga adalah kesadaran naif. Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk
mempertanyakan dan mengenali realitas, tetapi masih ditandai dengan sikap yang primitif dan naif, seperti:
mengindentifikasikan diri dengan elite, kembali ke masa lampau, mau menerima penjelasan yang sudah jadi,
sikap emosi kuat, banyak berpolemik dan berdebat tetapi bukan dialog.
Sedangkan tingkat kesadaran yang terakhir yakni kesadaran kritis transitif. Kesadaran kritis transitif
ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima
dan menolak. Pembicaraan bersifat dialog. Pada tingkat ini orang mampu merefleksi dan melihat hubungan
sebab akibat.
Bagi Freire pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis
transitif. Memang ia tidak bermaksud bahwa seseorang langsung mencapai tingkatan kesadaran tertinggi itu,
tetapi belajar adalah proses bergerak dari kesadaran nara didik pada masa kini ke tingkatan kesadaran yang
di atasnya.
Dalam proses belajar yang demikian kontradiksi guru murid (perbedaan guru sebagai yang menjadi
sumber segala pengetahuan dengan murid yang menjadi orang yang tidak tahu apa-apa) tidak ada. Nara
didik tidak dilihat dan ditempatkan sebagai obyek yang harus diajar dan menerima. Demikian pula
sebaliknya guru tidak berfungsi sebagai pengajar. Guru dan murid adalah sama-sama belajar dari masalah
yang dihadapi. Guru dan nara didik bersama-sama sebagai subyek dalam memecahkan permasalahan. Guru
bertindak dan berfungsi sebagai koordinator yang memperlancar percakapan dialogis. Ia adalah teman dalam
memecahkan permasalahan. Sementara itu, nara didik adalah partisipan aktif dalam dialog tersebut. Materi
dalam proses pendidikan yang demikian tidak diambil dari sejumlah rumusan baku atau dalil dalam buku
paket tetapi sejumlah permasalahan. Permasalahan itulah yang menjadi topik dalam diskusi dialogis itu yang
diangkat dari kenyataan hidup yang dialami oleh nara didik dalam konteksnya sehari-hari, misalnya dalam
pemberantasan buta huruf.
Pertama-tama peserta didik dan guru secara bersama-sama menemukan dan menyerap tema-tema
kunci yang menjadi situasi batas (permasalahan) nara didik. Tema-tema kunci tersebut kemudian
didiskusikan dengan memperhatikan berbagai kaitan dan dampaknya. Dengan proses demikian nara didik
mendalami situasinya dan mengucapkannya dalam bahasanya sendiri. Inilah yang disebut oleh Freire
menamai dunia dengan bahasa sendiri. Kata-kata sebagai hasil penamaan sendiri itu kemudian dieja dan
ditulis. Proses demikian semakin diperbanyak sehingga nara didik dapat merangkai kata-kata dari hasil
penamaannya sendiri.
E.

Pendidikan Pembebasan

Beberapa konsep Freire mengenai pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan adalah,
pendidikan ditujukan pada kaum tertindas dengan tidak berupaya menempatkan kaum tertindas dan penindas
pada dua kutub berseberangan dimana, pendidikan bukan dilaksanakan atas kemurah-hatian palsu kaum
penindas untuk mempertahankan status quo melalui penciptaan dan legitimasi kesenjangan. Pendidikan
kaum tertindas lebih diarahkan pada pembebasan perasaan/idealisme melalui persinggungannya dengan
keadaan nyata dan praksis. Penyadaran atas kemanusiaan secara utuh bukan diperoleh dari kaum penindas,
melainkan dari diri sendiri. Dari sini sang subjek-didik membebaskan dirinya, bukan untuk kemudian
menjelma sebagai kaum penindas baru, melainkan ikut membebaskan kaum penindas itu sendiri. Pendidikan
ini bukan bertujuan untuk menjadikan kaum tertindas menjadi lebih terpelajar, tetapi untuk membebaskan
dan mencapai kesejajaran pembagian pengetahuan.
Dalam Sudjana (1991), Freire menegaskan bahawa pendidikan yang tidak mampu membangkitkan
diri pada peserta didik dan masyarakat adalah tidak manusiawi dan karena itu, tidak usah diberi hak hidup.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pembangunan tidak akan terwujud melalui pendidikan yang tidak
membangkitkan kesadaran peserta didik dan masyarakat terhadap dunia dan lingkungannya.
Melalui pendidikan pembebasan, penduduk yang tuna aksara telah dapat diserahkan pada kesadaran
baru tentang dirinya. Mereka dirangsang mampu menenali keadaan lingkungannya secara kritis dan
kemudian mampu menentukan langkah-langkah yang akan ditempuh untuk mengubah lingkungannya.
Bila pembebasan sudah tercapai, pendidikan Freire adalah suatu kampanye dialogis sebagai suatu
usaha pemanusiaan secara terus-menerus. Pendidikan bukan menuntut ilmu, tetapi bertukar pikiran dan
saling mendapatkan ilmu (kemanusiaan) yang merupakan hak bagi semua orang tanpa kecuali. Kesadaran
dan kebersamaan adalah kata-kata kunci dari pendidikan yang membebaskan dan kemudian memanusiakan.
F. Daftar Rujukan

kih, Mansour. 2011. Paulo Freire Tanpa Mitos: Sebuah Pengantar, (Online), (http://Paulo-Freire-Tanpa-MitosSebuah-Pengantar_iBlog.mht, diakses 26 Februari 2012).

alik, Halim. 2011. Teori Belajar Andragogi dan Penerapannya, (Online),


(http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/23/teori-belajar-andragogi-dan-penerapannya, diakses 2 Februari
2012).

djana, H.D. 1991. Pendidikan Luar Sekolah Wawasan Sejarah Perkembangan Falsafah dan Teori Pendukung
Asas. Bandung: Penerbit Nusantara Press.

afiI, Agus. 2006. Freire: Pendidikan yang Membebaskan, (Online), (http://www.mailarchive.com/majelismuda@yahoogroups.com/msg01014.html, diakses 2 Februari 2012).

Paulo Freire dan Pemikirannya


A. Biografi Paulo Freire

Membaca pemikiran Paulo Freire tidak bisa dipisahkan dari sejarah hidupnya di
masa kecil. Maka, dengan mengetahui biografi hidupnya akan semakin memperjelas
pembacaan terhadap alur pemikiran Paulo Freire.
Paulo Freire adalah seorang tokoh pendidikan Brasil dan teoretikus pendidikan yang
berpengaruh di dunia. Paulo Freire juga adalah tokoh pendidikan yang sangat kontroversial. Ia
menggugat sistem pendidikan yang telah mapan dalam masyarakat Brasil. Freire dilahirkan di
Recife, sebuah kota pelabuhan

bagian selatan Brasil pada 19 September 1921. Recife

merupakan sebuah kota yang terbelakang dan miskin. 1 [1]


Ayahnya bernama Joaquim Temistocles Freire, berprofesi sebagai polisi
militer di

Pernambuco yang berasal dari Rio Grande de Norte. Ayahnya adalah

seorang pengikut aliran kebatinan, tanpa menjadi anggota dari agama resmi. Baik
budi, cakap, dan mampu untuk mencintai.
Ibunya, Edeltrus Neves Freire, berasal dari Pernambuco, beragama Katolik,
lembut, baik budi, dan adil. Merekalah yang dengan contoh dan cinta mengajarkan
kepada Paulo Freire untuk menghargai dialog dan menghormati pendapat orang lain.
Pada tahun 1929 krisis ekonomi melanda Brasil. Orang tuanya, yang termasuk
kelas menengah

terkena imbas krisis itu dan mengalami kejatuhan fi nancial yang

sangat hebat. Akibat kondisi seperti itu, Freire terpaksa belajar mengerti apa artinya
menjadi lapar bagi seorang anak sekolah. Sehingga pada umur 11 tahun, karena
pengalaman yang mendalam akan kelaparan, bertekad
untuk mengabdikan kehidupannya pada perjuangan melawan kelaparan, agar anakanak lain jangan sampai mengalami kesengsaraan yang tengah dialaminya. 2 [2]
Pada tahun 1943, Freire mulai belajar di Universitas Recife, sebagai seorang mahasiswa
hukum, tetapi ia juga belajar filsafat dan psikologi bahasa. Meskipun ia lulus sebagai ahli
hukum, ia tidak pernah benar-benar berpraktik dalam bidang tersebut. Sebagai buktinya, ia
pernah berkarier dalam waktu pendek sebagai seorang pengacara. Sebaliknya, ia bekerja

1[1] Denis Colins. Paulo Freire His Life, Works and Thought. (New York: Paulist Press, 1977). p.
5.
2[2]Sumaryo. Pendidikan Yang Membebaskan dalam Martin Sardy, Mencari Identitas
Pendidikan. (Bandung: Alumni, 1981). p. 29.

sebagai seorang guru di sekolah-sekolah menengah, mengajar bahasa Portugis selama 6


tahun (1941-1947).3[3]
Sekitar tahun 1944, ia menikah dengan seorang guru bernama Elza Maia Costa
Olievera, seorang

rekan

gurunya.

Pernikahan inilah yang memantapkan pergeseran

interesnya dari bidang hukum ke bidang pendidikan, sebagaimana diakuinya sendiri, . . .


precisely after my marriage when I started to have a systematic interest in educational
problems.3 Mereka berdua bekerja bersama selama hidupnya sementara istrinya juga
membesarkan kelima anak mereka.
Pada 1946, Freire diangkat menjadi Direktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
dari Dinas Sosial di Negara bagian Pernambuco (yang ibu kotanya adalah Recife). Selama
bekerja itu, terutama ketika bekerja di antara orang-orang miskin yang buta huruf, Freire
mulai merangkul bentuk pengajaran yang non-ortodoks yang belakangan dianggap sebagai
teologi pembebasan.
Tahun 1959, Freire menyerahkan disertasi doktoral di Universitas Recife dengan judul
Educacao e Atualidade Brasileira (Pendidikan dan Keadaan Masa Kini di Brasil). Di kemudian
hari, ia bahkan diangkat sebagai guru besar bidang sejarah dan filsafat pendidikan di
universitas tersebut.
Pada 1961-1964, ia diangkat sebagai Direktur Pertama dari Departemen Perluasan
Kebudaya Universitas Recife. Dan pada 1962, ia mendapatkan kesempatan pertama untuk
menerapkan secara luas teori-teorinya. Saat itu, 300 orang buruh kebun tebu diajar untuk
membaca dan menulis hanya dalam 45 hari. Sebagai tanggapan terhadap eksperimen ini,
pemerintah Brasil menyetujui dibentuknya ribuan lingkaran budaya di seluruh negeri.
Karena keberhasilannya dalam program pemberantasan buta huruf di daerah Angicos,
Rio Grande do Norte, ia diangkat sebagai Presiden dari Komisi Nasional untuk Kebudayaan
Populer.
Pada tahun 1964, terjadi kudeta militer di Brasil, yang mengakhiri upaya itu. 4[4] Rezim
yang berkuasa saat itu menganggap Freire seorang tokoh yang berbahaya, karena itu mereka
menahannya selama 70 hari sebelum akhirnya mempersilahkan Freire untuk meninggalkan
negeri itu. Ia memulai masa 15 tahun pembuangannya dan tinggal untuk sementara waktu di
Bolivia.5[5] Dari Bolivia ia pindah ke Chili dan berkerja selama 5 tahun untuk organisasi
internasional Christian Democratic Agrarian Reform Movement. Dalam masa 5 tahun ini, ia
dianggap sangat berjasa menghantar Chili menjadi 1 dari 5 negara terbaik di dunia yang
diakui UNESCO sukses dalam memberantas buta huruf. Pada tahun 1969, ia sempat menjadi
visiting professor di Universitas Harvard.
Antara tahun 1969-1979, ia pindah ke Jenewa dan menjadi penasihat khusus bidang
pendidikan bagi Dewan Gereja Dunia. Pada masa itu Freire bertindak sebagai penasihat untuk
3[3] Denis Colins. Paulo Freire His Life, Works and Thought.... p. 6.
4[4] Paulo Freire. Pendidikan Kaum Tertindas. (Jakarta: LP3S, 1972). p. xii.
5[5] Paulo Freire dan Antonio Faundez. Belajar Bertanya. Pendidikan Yang Membebaskan.
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995). p. 6.

pembaruan pendidikan di bekas koloni-koloni Portugis di Afrika, khususnya Guinea Bissau dan
Mozambik. Pada akhir tahun 1960-an inilah ia menulis salah satu bukunya yang paling
terkenal, Pedagogy of the Oppressed.
Pada tahun 1979, Freire kembali ke Brasil dan menempati posisi penting di Universitas
Sao Paulo. Freire bergabung dengan Partai Buruh Brasil (PT) di kota So Paulo, dan bertindak
sebagai penyedia untuk proyek melek huruf dewasa dari tahun 1980-1986. Ketika PT menang
dalam pemilu-pemilu munisipal pada 1986, Freire diangkat menjadi Sekretaris Pendidikan
untuk So Paulo.
Dan pada tahun 1986 juga, istrinya Elza meninggal dunia. Kemudian Freire menikahi
Maria Arajo Freire dan melanjutkan pekerjaan pendidikannya sendiri yang radikal.
Tahun 1988, ia ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan untuk kota Sao Paulo, sebuah posisi
yang memberinya tanggung jawab untuk mereformasi dua pertiga dari seluruh sekolah negeri
yang ada.
Pada 1991, didirikanlah Institut Paulo Freire di So Paulo untuk memperluas dan
menguraikan teori-teorinya tentang pendidikan rakyat. Institut ini menyimpan semua arsip
Freire.
Freire meninggal pada 2 Mei 1997, dalam usia 75, akibat penyakit jantung. Selama
hidupnya, ia menerima beberapa gelar doktor honoris causa dari berbagai universitas di
seluruh dunia. Ia juga menerima beberapa penghargaan, di antaranya:
1. UNESCOs Peace Prize tahun 1987.
2. Dari The Association of Christian Educators of the United States sebagai The Outstanding
Christian Educator pada tahun 1985.
3.

Penghargaan Raja Baudouin (Belgia) untuk Pembangunan Internasional

B. Karya-karya Paulo Freire


Di Indonesia, penyebaran pemikiran Freire dapat dilihat dari begitu banyaknya karyanya
yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, terutama setelah tumbangnya Orde Baru.

Beberapa karya Paulo Freire yaitu:


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pedagorgy of the Oppressed


Pedagogy of the City
Pedagogy of Hope
Pedagogy of the Heart
Pedagogy of Freedom
Pedagogy of Indignation

Buku-bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia antara lain:


Pendidikan yang Membebaskan, Belajar Bertanya, Politik Pendidikan, Kebudayaan Kekuasaan
dan Pembebasan, Pendidikan Kaum Tertindas, Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan,
Dialog Bareng Paulo Freire, Sekolah Kapitalisme yang Licik, dan Pendidikan Sebagai Proses,
Surat Menyurat Pedagogis Dengan Para Pendidik Guinea Bissau.
C. Konsep Pendidikan Menurut Paulo Freire
Secara filosofis, pemikiran Freire banyak

dipengaruhi

oleh

aliran

pemikiran

Fenomenologi, Personalisme, Eksistensialisme, dan Marxisme. 6[6] Sebagai tokoh pendidikan,


ia dikenal sebagai salah satu tokoh utama Rekonstruksionisme. 7[7] Keyakinan utama seorang
rekonstruksionis ialah istilah yang sering digunakan oleh Freire adalah tulisan Tom Heaney,
Issues in Freirean Pedagogy, Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan . . . hold the goal of
building an ideal and just social order. Efforts are directed toward establishment of a practical
utopia where persons are liberated to be and become all intended to be. 8[8]
George R. Knight mendaftarkan beberapa prinsip utama dari Rekonstruksionisme, 9[9]
1.

yang intinya adalah:


Peradaban dunia sedang berada dalam krisis di mana solusi efektifnya adalah penciptaan

2.

suatu tatanan sosial yang menyeluruh.


Pendidikan adalah salah satu agen utama untuk melakukan rekonstruksi terhadap tatanan
sosial. Oleh karenanya, seorang pendidik Rekonstruksionis harus secara aktif mendidik demi

perubahan sosial.
3. Metode pengajaran harus didasarkan pada prinsip-prinsip demokratis yang bertujuan untuk
mengenali dan menjawab tantangan sosial yang ada.
Dari ketiga prinsip ini dapat diketahui bahwa di dalam Rekonstruksionisme peranan
pendidikan sekolah bukanlah sebagai transmitor (penyampai) kebudayaan yang bersifat pasif,
sebagaimana diyakini oleh aliran-aliran yang lebih tradisional, tetapi sebagai agen yang
menjadi pionir yang aktif dalam melakukan reformasi sosial. Hal ini terlihat secara jelas dalam
pemikiran Freire.
Ada beberapa tema sentral dalam konsep pendidikan pembebasan dalam
pemikiran Paulo Freire, yaitu Humanisasi, pendidikan hadap masalah (problem-posing
education), konsientisasi, dialog. Masalah sentral bagi manusia adalah humanisasi.
Humanisasi merupakan sesuatu hal yang wajib diperjuangkan, karena sejarah
menunjukkan humanisasi dehumansisi merupakan alternative yang real.
6[6] Robert W. Pazmio. Foundational Issues in Christian Education: An Introduction in Evangelical
Perspective (Grand Rapids: Baker, 1988). P. 68.

7[7] Ozmon & Craver. Philosophical Foundations of Educations. (Colombus: Merril, 1986) 135-163.
8[8] Robert W. Pazmio, Foundational Issues... p. 109.
9[9] George R. Knight. Philosophy of Education. (Michigan: Andrew University Press, 1989). P. 116119.

Dehumanisasi tidak hanya mewarnai mereka yang kemanusiaannya dirampas,


tetapi juga mereka yang merampasnya. Dalam perjuangan humanisasi itu manusia
tertindas tidak boleh berbalik menjadi penindas. Pembebasan sejati terjadi kalau
tangan-tangan yang terangkat mengemis itu diubah menjadi tangan-tangan yang
mampu mengubah dunia. Kaum tertindas mampu memahami penindasan yang
mengerikan, karena merekalah yang menanggung dan mengalami beban penindasan.
Merekalah yang lebih memahami keharusan pembebasan.
Paulo Freire menyebutkan bahwa pendidikan lama itu adalah pendidikan dengan
sistem

bank.

Dalam

pendidikan

itu

guru

merupakan

subyek

yang

memiliki

pengetahuan yang diisikan kepada murid. Murid adalah wadah atau suatu tempat
deposit belaka. Dalam proses belajar itu murid hanya sebagai objek belaka. Sangat
jelas dalam pendidikan semacam itu, bagi Freire, tidak terjadi komunikasi yang
sebenarnya antara guru dan murid. Praktik pendidikan semacam itu mencerminkan
penindasan yang terjadi di masyarakat sekaligus memperkuat struktur-struktur yang
menindas.
Untuk mengganti sistem pendidikan seperti itu, Freire mempunyai alternative
yaitu sistem baru yang dinamakan "problem-posing education" atau "pendidikan
hadap masalah" yang memungkinkan konsientisasi. Dalam konsientisasi, guru dan
murid bersama-sama menjadi subyek yang disatukan oleh obyek yang sama. Tidak
ada lagi yang berpikir memikirkan dan yang tinggal menelan, tetapi mereka berpikir
bersama. Guru dan murid harus secara serempak menjadi murid dan guru. Dialog
menjadi unsur sangat penting dalam pendidikan.
Skema sistem pendidikan Paulo Freire

D. Tujuan Pendidikan

Menurut Freire, tujuan utama dari pendidikan adalah membuka mata peserta didik guna
menyadari realitas ketertindasannya untuk kemudian bertindak melakukan transformasi
sosial. Kegiatan untuk menyadarkan peserta didik tentang realita ketertindasannya ini ia
sebut sebagai konsientasi. Konsientasi adalah pemahaman mengenai keadaan nyata yang
sedang dialami peserta didik. Lebih lanjut, Daniel Schipani menjelaskan bahwa konsientasi
dalam pemahaman Freire adalah:
. . . denotes an integrated process of liberative learning and teaching as well as
personal and societal transformation. Conscientization thus names the process of emerging
critical consciousness whereby people become aware of the historical forces that shape their
lives as well as their potential for freedom and creativity; the term also connotes the actual

movement

toward

liberation

and

human

emergence

in

persons,

communities,

and

societies.10[10]
Konsientasi bertujuan untuk membongkar apa yang disebut oleh Freire sebagai
kebudayaan diam.11[11] Diam atau bisu dalam konteks yang dimaksud Freire bukan karena
protes atas perlakuan yang tidak adil. Itu juga bukan strategi untuk menahan intervensi
penguasa dari luar. Tetapi, budaya bisu yang terjadi adalah karena bisu dan bukan membisu.
Mereka dalam budaya bisu memang tidak tahu apa-apa. Mereka tidak memiliki kesadaran
bahwa mereka bisu dan dibisukan. Karena itu, menurut Freire untuk menguasai realitas hidup
ini termasuk menyadari kebisuan itu, maka bahasa harus dikuasai. Menguasai bahasa berarti
mempunyai kesadaran kritis dalam mengungkapkan realitas.
Untuk itu, pendidikan yang dapat membebaskan dan memberdayakan adalah pendidikan
yang melaluinya nara didik dapat mendengar suaranya yang asli. Pendidikan yang relevan
dalam

masyarakat

berbudaya

bisu

adalah

mengajar

untuk

memampukan

mereka

mendengarkan suaranya sendiri dan bukan suara dari luar termasuk suara sang pendidik.
Dalam konteks yang demikian itulah Freire bergumul. Ia terpanggil untuk membebaskan
masyarakatnya yang tertindas dan yang telah dibisukan. Pendidikan gaya bank dilihatnya
sebagai salah satu sumber yang mengokohkan penindasan dan kebisuan itu. Karena itulah, ia
menawarkan

pendidikan

hadap-masalah

sebagai

jalan

membangkitkan

kesadaran

masyarakat bisu.
Salah satu kritikan Freire adalah pendidikan yang berupaya membebaskan kaum
tertindas untuk menjadi penindas baru. Bagi Freire pembebasan kaum tertindas tidak
dimaksudkan supaya ia bangkit menjadi penindas yang baru, tetapi supaya sekaligus
membebaskan para penindas dari kepenindasannya. 12[12]
E. Materi Ajar dan Metode Pengajaran
Materi dalam proses pendidikan yang demikian tidak diambil dari sejumlah rumusan
baku atau dalil dalam buku paket tetapi sejumlah permasalahan. Permasalahan itulah yang
menjadi topik dalam diskusi dialogis, yang diangkat dari kenyataan hidup yang dialami oleh
nara didik dalam konteksnya sehari-hari, misalnya dalam pemberantasan buta huruf.
Pertama-tama peserta didik dan guru secara bersama-sama menemukan dan menyerap
tema-tema kunci yang menjadi situasi batas (permasalahan) nara didik. Tema-tema kunci
tersebut kemudian didiskusikan dengan memperhatikan berbagai kaitan dan dampaknya.
Dengan proses demikian, nara didik mendalami situasinya dan mengucapkannya dalam
bahasanya sendiri. Inilah yang disebut oleh Freire menamai dunia dengan bahasa sendiri.
Kata-kata sebagai hasil penamaan sendiri itu kemudian dieja dan ditulis. Proses demikian

10[10] Daniel Schipani. Liberation Theology and Religious Education dalam Theologies of Religious
Education (ed. Randolph Crumph Miller; Birmingham: Religious Education, 1996). p 307-308.

11[11] Aloys Maryoto. Pendidikan Sebagai Proses Penyadaran Menurut Paulo Freire dalam
Fenomena. (Edisi 2/Th.V/1994). p. 18.
12[12]Cf. J.B. Banawiratma, Iman. Pendidikan dan Perubahan Sosial. (Yogyakarta: Kanisius, 1991). p.
73.

semakin diperbanyak sehingga nara didik dapat merangkai kata-kata dari hasil penamaannya
sendiri.
Pendidikan hadap-masalah sebagai pendidikan alternatif yang ditawarkan oleh Freire
lahir dari konsepsinya tentang manusia. Manusia sendirilah yang dijadikan sebagai titik tolak
dalam pendidikan hadap-masalah. Manusia tidak mengada secara terpisah dari dunia dan
realitasnya, tetapi ia berada dalam dunia dan bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas
itulah yang harus diperhadapkan pada nara didik supaya ada kesadaran akan realitas itu.
Konsep pedagogis yang demikian didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai
potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya,
ekonomi dan politik.13[13]
Dalam pendidikan "hadap masalah" itu guru belajar dari murid dan murid belajar
dari guru. Bagi Freire dialog adalah salah satu unsur penting dalam pendidikan kaum
tertindas. Inti dialog adalah kata. Kata mempunyai dua dimensi refl eksi dan aksi
yang berada dalam interaksi yang radikal. Tanpa refl eksi hanya akan terjadi
aktivisme, dan tanpa aksi hanya akan terjadi verbalisme. Dengan adanya aksi dan
refleksi, kata menjadi benar-benar kata yang sejati. Kata sejati adalah kata yang
memungkinkan mengubah dunia. Dialog adalah pertemuan antara kata dengan
tujuan "memberi nama kepada dunia". Dialog mengandaikan kerendahan hati, yaitu
kemauan untuk belajar dari orang lain meskipun menurut perasaan kebudayaan lebih
rendah, memperlakukan orang lain sederajat, keyakinan bahwa orang lain dapat
mengajar kita. Artinya bahwa tindakan dialogik selalu bersifat kooperatif. Itu berarti
adanya

kesatuan

antara

bawahan

dan

atasan

dalam

usaha

memacu

proses

perubahan.
Kesadaran tumbuh dari pergumulan atas realitas yang dihadapi dan diharapkan akan
menghasilkan suatu tingkah laku kritis dalam diri nara didik. Freire membagi empat tingkatan
kesadaran manusia, yaitu:14[14]
1. Kesadaran intransitif.
Dimana seseorang hanya terikat pada kebutuhan jasmani, tidak sadar akan sejarah dan
2.

tenggelam dalam masa kini yang menindas.


Kesadaran semi intransitif atau kesadaran magis.
Kesadaran ini terjadi dalam masyarakat berbudaya bisu, dimana masyarakatnya tertutup.
Ciri kesadaran ini adalah fatalistis. Hidup berarti hidup di bawah kekuasaan orang lain atau

3.

hidup dalam ketergantungan.


Kesadaran Naif.
Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk mempertanyakan dan mengenali
realitas,

tetapi

masih

ditandai

dengan

sikap

yang

primitif

dan

naif,

seperti:

13[13] Daniel S. Schipani. Religious Education Encounters Liberation Theology (Alabama:


Religious Education Press, 1988), p. 13.
14[14] L. Subagi. Kritik Atas: Konsientisasi dan Pendidikan. Teropong Paulo Freire dan Ivan
Illich; dalam Martin Sardy (ed.), Pendidikan Manusia. (Bandung: Alumni, 1985), p. 104-105.

mengindentifikasikan diri dengan elite, kembali ke masa lampau, mau menerima penjelasan
yang sudah jadi, sikap emosi kuat, banyak berpolemik dan berdebat tetapi bukan dialog. 15[15]
4. Kesadaran kritis transitif.
Kesadaran kritis transitif ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah,
percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. Pembicaraan bersifat dialog.
Pada tingkat ini orang mampu merefleksi dan melihat hubungan sebab akibat.
Bagi Freire pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menumbuhkan
kesadaran kritis transitif. Memang ia tidak bermaksud bahwa seseorang langsung mencapai
tingkatan kesadaran tertinggi itu, tetapi belajar adalah proses bergerak dari kesadaran nara
didik pada masa kini ke tingkatan kesadaran yang di atasnya.

F. Hubungan antar Guru dan Murid yang Baik


Nara didik tidak dilihat dan ditempatkan sebagai obyek yang harus diajar dan menerima.
Demikian pula sebaliknya guru tidak berfungsi sebagai pengajar. Guru dan murid adalah
sama-sama belajar dari masalah yang dihadapi. Guru dan nara didik bersama-sama sebagai
subyek dalam memecahkan permasalahan. Guru bertindak dan berfungsi sebagai koordinator
yang memperlancar percakapan dialogis. Ia adalah teman dalam memecahkan permasalahan.
Sementara itu, nara didik adalah partisipan aktif dalam dialog tersebut.
Guru menjadi rekan murid yang melibatkan diri dan merangsang daya pemikiran
kritis

para

murid.

Dengan

demikian

kedua

belah

pihak

bersama-sama

mengembangkan kemampuan untuk mengerti secara kritis dirinya sendiri dan dunia
tempat mereka berada. Pengetahuan adalah keterlibatan.

15[15] Paulo Freire. Education For Critical Consciousness. (New York: The Seabury Press,
1973 ), p. 18.